• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR P"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT MELALUI METODE KOOPERATIF

TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS VII SMPN 1 WATOPUTE

Oleh: Taswan, S.Pdi

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan motivasi dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam materi sifat wajib bagi Allah SWT melalui metode Kooperatif tipe jigsaw pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute Semester I tahun pelajaran 2015/2016.

Penelitian ini dilakukan kepada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute semester I tahun pelajaran 2015/2016 dengan jumlah siswa 17 yang beragama Islam.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas, pengumpulan data melalui obserIIIasi, wawancara dan tes atau penugasan, sedangkan analisis data dilakukan dengan model interaktif. Sedangkan aktifitas dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui metode Kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar pendidikan agama Islam materi sifat wajib bagi Allah SWT pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute Semester I tahun pelajaran 2015/2016. Motivasi belajar siswa dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan: aspek tekun (nilai rata-rata meningkat 0,7; persentase naik 15,3%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi), aspek tidak mudah menyerah (nilai rata-rata naik 1,1; prosentase naik 22,4%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi); aspek minat besar (nilai rata-rata, meningkat 1,5; persentase naik 29,4%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi), aspek teguh pendapat (nilai rata-rata, meningkat 1,0; persentase naik 21,2%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi), dan aspek memecahkan masalah (nilai rata-rata naik 0,5; prosentase naik 10,6%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi). Hasil belajar siswa dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu dari 3 siswa (18%) yang mendapat nilai tuntas menjadi 17 siswa (100%). Terjadi peningkatan sebanyak 14 siswa (82%) dan nilai rata-rata kelas dari 58,4 menjadi 86,9, meningkat sebesar 28,5.

(2)

Latar Belakang Masalah

Mengajarkan agama kepada siswa mempunyai karakteristik dan tingkat kesulitan yang berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Karenanya, pendidikan agama bukan saja menekankan penguasaan materi (IQ) semata, namun yang lebih penting adalah menanamkan aspek kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan emosional (EQ) secara simultan. Oleh karena itu, guru Pendidikan Agama harus mampu merumuskan strategi dan model pembelajaran yang efektif sehingga mampu membentuk kesalihan individu maupun sosial. Berdasarkan hasil pengamatan guru agama Islam pada Kelas VII SMPN 1 Watopute pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pokok bahasan sifat wajib bagi Allah SWT masih diperlukan adanya peningkatan penguasaan materi (IQ), kecerdasan spiritual (SC), dan kecerdasan emosional (EQ) dalam memahami sifat wajib bagi Allah SWT. Hal ini terlihat dari hasil ulangan harian pada pokok bahasan sifat wajib bagi Allah SWT sebagian besar nilai yang diperoleh siswa belum memuaskan yaitu dengan nilai rata-rata 58,4 (di bawah KKM 70).

Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar belum berhasil secara optimal, oleh karena perlu adanya peningkatan melalui beberapa cara dalam rangka peningkatan motivasi dan hasil belajar. Upaya peningkatan hasil belajar siswa tidak lepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru yang kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai siswa. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh hasil belajar yang maksimal.

Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Sehingga kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup. Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.

Telah diketahui bahwa keunggulan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompokknya yang lain. Meningkatkan kerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan

Hal tersebut di atas, mendasari perlunya diadakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan dan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Isalam Materi Sifat Wajib bagi Allah SWT Melalui Metode Kooperatif Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute semester I tahun pelajaran 2015/2016”

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian : Apakah melalui metode Kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar pendidikan agama Islam pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute semester I tahun pelajaran 2015/2016?

Tujuan Penelitian

(3)

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian bagi siswa, Penelitian ini dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan agama islam. Selain itu, melalui penggunaan metode Kooperatif tipe jigsaw siswa termotivasi dalam mengikuti pembelajaran pendidikan agama islam khususnya materi sifat wajib bagi Allah SWT. Menghilangkan anggapan bahwa belajar pendidikan agama itu sulit dan membosankan.

Bagi Guru, penelitian ini dapat membantu guru memperbaiki metode pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam, sebagai masukan untuk meningkatkan minat dan perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam dan dapat meningkatkan rasa percaya diri guru dalam proses pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam di Kelas VII SD.

Bagi Sekolah dan Pendidikan secara umum penelitian ini memberikan sumbangan positif tentang metode pembelajaran pendidikan agama Islam di Kelas VII SD, menanggulangi kesulitan pembelajaran pendidikan agama Islam di Kelas VII dan menciptakan kerjasama yang kondusif antara guru pendidikan agama Islam sebagai peneliti dengan sekolah untuk kemajuan sekolah dalam pelajaran pendidikan agama Islam.

KAJIAN TEORI Motivasi Belajar

Menurut Mc. Donald, yang dikutip Oemar Hamalik (2003:158) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.

Dalam A.M. Sardiman (2005:75) motivasi belajar dapat juga diartikan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelak perasaan tidak suka itu.

Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. Masih dalam artikel Siti Sumarni (2005: 45), motivasi secara harafiah yaitu sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan secara psikologi, berarti usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. (KBBI, 2001:756).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.

Pengertian belajar menurut Morgan, mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Wisnubrata, 1983:3). Sedangkan menurut Moh. Surya (1981:32),

belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.

(4)

menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Ada beberapa ciri motivasi yang ada pada diri seseorang adalah sebagai berikut: “Tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara terus menerus dalam waktu lama, ulet menghadapi kesulitan dan tidak muda putus asa, tak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, menunjukan minat yang besar terhadap masalah-masalah belajar, lebih suka belajar sendiri, tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, dan senang mencari dan memecahkan masalah.”

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004:22). Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004:22).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 2004:39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark (1981:21) menyatakan bahwa hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran (Sudjana, 2004:39).

"Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan lingkungannya" (Ali Muhammad, 2004:14). Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri indiIIIidu maka belajar tidak dikatakan berhasil.

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kamampuan siswa dan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).

Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan. Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif.

Pendidikan Agama Islam di SD

Menurut Drs. Ahmad D. Marimba (1962:77) : Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain sering kali beliau mengatakan kepribadian yang memiliki nalai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.

(5)

dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri 2). Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda. 3). Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan memelihara keutuhan dankesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (surviral) suatu masyarakat dan peradaban. Dengan kata lain, tanpa nilai-nilai keutuhan (integrity) dan kesatuan(integration) suatu masyarakat, maka kelanjutan hidupersebut tidak akan dapat terpelihara dengan baik yang akhirnya akan berkesudahan dengan kehancuran masyarakat itu sendiri.

Menurut Syaibani (2001:87), tujuan pendidikan Islam adalah: 1) Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat. 2) Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat. 3) Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.

Sifat wajib bagi Allah SWT

Allah Swt. adalah zat Yang Mahakuasa atas segala hal. Tiada tuhan yang wajib kita sembah, kecuali Allah Swt. Sudah merupakan sebuah kewajiban bahwa setiap muslim harus percaya sifat kesempurnaan Allah Swt. Sifat kesempurnaan Allah Swt. itu sifatnya tak terhingga. Bagaimana cara kita mengenal dan mempercayai kesempurnaan yang tak terhingga itu yang dimiliki oleh Allah Swt.?

(6)

Penerapan Metode Kooperatif tipe jigsaw pada pembelajaran PAI Materi Sifat wajib bagi Allah SWT

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistim pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda (heterogen). Sistim penilaian dilakukan terhadap kelompok dan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok dan ketrampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok” (Wina Sanjaya, 2006:240).

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat 3 karakteristik yaitu: (1) kelompok kecil, (2) belajar bersama, dan (c) pengalaman belajar. Esensi kooperatif learning adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Keadaan ini mendukung siswa dalam kelompoknya belajar bekerja sama dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai suksesnya tugas-tugas dalam kelompok.

Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Johnson (1991 : 27) yang menyatakan bahwa “Pembelajaran Kooperatif Jigsaw ialah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok”.

Pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa dibagi menjadi dua anggota kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli, yang dapat diuraikan sebagai berikut:a) Kelompok kooperatif awal (kelompok asal). Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang terdiri dari 3-5 anggota. Setiap anggota diberi nomor kepala, kelompok harus heterogen terutama di kemampuan akademik. B) Kelompok Ahli, anggotanya adalah nomor kepala yang sama pada kelompok asal.

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini berbeda dengan kelompok kooperatif lainnya, karena setiap siswa bekerja sama pada dua kelompok secara bergantian, dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

1. Siswa dibagi dalam kelompok kecil yang disebut kelompok inti, beranggotakan 4 orang. Setiap siswa diberi nomor kepala misalnya A, B, C, D.

2. Guru membagi wacana / tugas sesuai dengan materi mengenal sifat wajib Allah SWT yang sedang diajarkan. Masing-masing siswa dalam kelompok asal mendapat wacana / tugas yang berbeda, nomor kepala yang sama mendapat tugas yang sama pada masing-masing kelompok.

3. Guru mengumpulkan masing-masing siswa yang memiliki wacana/ tugas yang sama dalam satu kelompok sehingga jumlah kelompok ahli sama dengan jumlah wacana atau tugas yang telah dipersiapkan oleh guru.

4. Dalam kelompok ahli ini siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

5. Semua anggota kelompok ahli diberi tugas untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana / tugas yang telah dipahami kepada kelompok kooperatif (kelompok inti). Poin a dan b dilakukan dalam waktu 30 menit.

6. Apabila tugas telah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali ke kelompok kooperatif asal.

7. Masing-masing siswa diberi kesempatan secara bergiliran untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok asli. Poin c dan d dilakukan dalam waktu 20 menit.

(7)

Kerangka Berpikir

Kondisi awal guru belum menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran pendidikan agama Islam materi sifat wajib bagi Allah SWT, maka motivasi dan hasil belajar pendidikan agama Islam masih rendah.

Untuk memperbaiki dan meningkatkan motivasi dan hasil belajar sifat wajib bagi Allah SWT perlu adanya tindakan yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw. Siklus I menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw tanpa bimbingan guru dan siklus II menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw dengan bimbingan guru. Dengan tindakan yang berbeda dari siklus I ke siklus II diharapkan motivasi dan hasil belajar PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT meningkat.

Kondisi akhir diduga dengan menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute Semester I tahun pelajaran 2015/2016.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: metode kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar pendidikan agama islam materi sifat wajib bagi Allah SWT pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute semester I tahun pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu bulan Agustus 2011 sampai dengan bulan Oktober 2011. Penelitian dilaksanakan di Kelas VII SMPN 1 Watopute, Kecamatan watopute.

Subjek penelitian adalah motivasi dan hasil belajar PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute, dengan jumlah siswa 17 anak.

Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini ada dua yaitu data yang berasal dari subyek penelitian (primer) dan dari bukan subyek (skunder).

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa teknik tes, dan teknik non tes. Sedangkan alat pengumpulan data meliputi dokumen, tes dan pengamatan. Dokumen digunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar kondisi awal siswa yaitu berupa daftar nilai/laporan penilaian, pengolahan dan analisis hasil belajar siswa. Tes digunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa yang berupa butir soal. Pengamatan menggunakan lembar penilaian yaitu untuk mengetahui motivasi siswa dalam pembelajaran PAI berupa: a) Tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara terus menerus dalam waktu lama, b) ulet menghadapi kesulitan dan tidak mudah putus asa, tak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin,c) menunjukkan minat yang besar terhadap masalah-masalah belajar, lebih suka belajar sendiri, d) dapat mempertahankan pendapatnya, e) senang mencari dan memecahkan masalah.

(8)

Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap pengamatan/observasi dan refleksi.

Peningkatan motivasi indikatornya adalah adanya peningkatan motivasi dari rendah menjadi tinggi. Peningkatan hasil belajar PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT indikatornya adalah nilai ulangan harian yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kondisi Awal

Hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebelum diadakan penelitian dapat dilihat pada tabel dan gambar grafik berikut.

Tabel 1

Nilai Ulangan Harian Kondisi Awal

No Uraian Nilai Ulangan Harian

1 Nilai terendah 45

2 Nilai tertinggi 70

3 Nilai rerata 58,4

4 Rentang nilai 25

< 60 60 - 69 70 - 79 80 - 89 90 - 100 0

1 2 3 4 5 6 7 8

Nilai Siswa Pra Siklus

Gambar 1

(9)

18%

82%

nilai ketuntasan Pra Siklus

tuntas belum tuntas

Gambar 2

Grafik Nilai Ketuntasan Belajar Kondisi Awal

Berdasarkan Tabel dan Gambar grafik diatas tentang hasil nilai ulangan harian Pendidikan Agama Islam sebelum diadakan penelitian pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute tahun pelajaran 2015/2016 ada 14 siswa (82%) yang dinyatakan belum tuntas, dengan nilai siswa terendah 45, nilai tertinggi 70 dan nilai rata-rata kelas 58,4.

Deskripsi Siklus I

Siklus I menggunakan metode Kooperatif tipe jigsaw tanpa bimbingan guru. Pembelajaran dilaksanakan dengan buku siswa, dan sumber bacaan siswa selama 2x35 menit (2x pertemuan), dengan standar kompetensi: Mengenal sifat wajib Allah SWT. Kompetensi dasar: menyebutkan dan mengartikan lima sifat wajib Allah SWT, sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Materi yang disampaikan pada siklus I ini adalah materi mengenal lima sifat wajib Allah SWT.

Hasil observasi tentang motivasi belajar siswa pada pembelajaran PAI Siklus I dapat dilihat pada tabel dan gambar grafik berikut.

Tabel 2

Nilai Motivasi Belajar Siklus I N

o Aspek-aspek

Jumla h Skor

Rata-rata

Persentas e

Kategor i

1

Tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara terus menerus dalam waktu lama.

57 3,4 67,1 Tinggi

2

Ulet menghadapi kesulitan dan tidak mudah putus asa, tak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin.

59 3,5 69,4 Tinggi

3

Menunjukkan minat yang besar terhadap masalah-masalah belajar, lebih suka belajar sendiri

55 3,2 64,7 Tinggi

4 Dapat mempertahankan pendapatnya

59 3,5 69,4 Tinggi

(10)

2.9 3.0 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9

Motivasi Siswa Siklus I

Gambar 3

Grafik Motivasi Belajar Siklus I

Berdasarkan Tabel dan Gambar grafik diatas tentang hasil pengamatan motivasi belajar PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT siklus I pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute semester I tahun pelajaran 2015/2016, yang meliputi aspek a) Tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara terus menerus dalam waktu lama, b) ulet menghadapi kesulitan dan tidak mudah putus asa, tak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin,c) menunjukkan minat yang besar terhadap masalah-masalah belajar, lebih suka belajar sendiri, d) dapat mempertahankan pendapatnya, e) senang mencari dan memecahkan masalah, diperoleh skor rata-rata motivasi kategori tinggi.

Hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel dan gambar grafik berikut. Tabel 3

Nilai Ulangan Harian Siklus I

No Uraian Nilai Ulangan Harian

1 Nilai terendah 55

2 Nilai tertinggi 85

3 Nilai rerata 73,6

(11)

< 60 60 - 69 70 - 79 80 - 89 90 - 100 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Nilai Siswa Siklus I

Gambar 4

Grafik Nilai Ulangan Harian Siklus I

76% 24%

nilai ketuntasan Siklus I

tuntas belum tuntas

Gambar 5

Grafik Nilai Ketuntasan Belajar Siklus I

Berdasarkan Tabel dan Gambar grafik diatas diketahui hasil nilai ulangan harian PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT siklus I pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute tahun pelajaran 2015/2016 masih ada 4 siswa (24%) yang dinyatakan belum tuntas, dengan nilai siswa terendah 55, nilai tertinggi 85 dan nilai rata kelas 73,6.

Deskripsi Siklus II

(12)

Hasil observasi tentang motivasi belajar siswa dalam pembelajaran PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT pada Siklus II dapat dilihat pada tabel dan gambar grafik berikut.

Tabel 6

Nilai Motivasi Belajar Siklus II N

o Aspek-aspek

Jumla h Skor

Rata-rata

Persentas

e Kategori

1

Tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara terus menerus dalam waktu lama.

70 4,1 82,4 Amat

tinggi

2

Ulet menghadapi kesulitan dan tidak mudah putus asa, tak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin.

78 4,6 91,8 Amat

tinggi

3

Menunjukkan minat yang besar terhadap masalah-masalah belajar, lebih suka belajar sendiri

80 4,7 94,1 Amat

tinggi

4 Dapat mempertahankan pendapatnya 77 4,5 90,6 tinggiAmat 5 Senang mencari dan memecahkan masalah. 75 4,4 88,2 tinggiAmat

3.8 3.9 4.0 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8

Motivasi Siswa Siklus II

Gambar 7

Grafik Motivasi Belajar Siklus II

(13)

tugas-tugas rutin,c) menunjukkan minat yang besar terhadap masalah-masalah belajar, lebih suka belajar sendiri, d) dapat mempertahankan pendapatnya, e) senang mencari dan memecahkan masalah, diperoleh skor rata-rata motivasi dalam kategori amat tinggi.

Hasil belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel dan gambar grafik berikut.

Tabel 5

Nilai Ulangan Harian Siklus II

No Uraian Nilai Ulangan Harian

1 Nilai terendah 70

2 Nilai tertinggi 100

3 Nilai rerata 86,9

4 Rentang nilai 30

< 60 60 - 69 70 - 79 80 - 89 90 - 100 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Nilai Siswa Siklus II

Gambar 8

Grafik Nilai Ulangan Harian Siklus II

100%

(14)

Gambar 9

Grafik Nilai Ketuntasan Belajar Siklus II

Berdasarkan Tabel dan Gambar grafik diatas diketahui hasil nilai ulangan harian PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT siklus II pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute tahun pelajaran 2015/2016 Semua siswa yang berjumlah 17 anak (100%) dinyatakan tuntas, dengan nilai siswa terendah 70, nilai tertinggi 100 dan nilai rata kelas 86,9.

Pembahasan

Hasil pembahasan dalam penelitian ini ada 3 hal, meliputi tindakan, motivasi, dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam tentang sifat wajib bagi Allah SWT.

Tabel 6 Tindakan per Siklus

No Kondisi Awal Siklus I Siklus II

1 Belum

menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw.

Menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw tanpa bimbingan guru

Menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw dengan bimbingan guru

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada kondisi awal, pelaksanaan pembelajaran PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute semester I tahun pelajaran 2015/2016 belum menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw. Pada siklus I menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw tanpa bimbingan guru. Dilanjutkan siklus II menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw dengan bimbingan guru. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengkombinasikan penggunaan metode agar siswa lebih paham.

Tabel 7

Motivasi Belajar Siswa per Siklus N

o

Kondisi Awal

(15)
(16)

menyerah (nilai rata-rata naik 1,1; prosentase naik 22,4%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi); aspek minat besar (nilai rata-rata, meningkat 1,5; persentase naik 29,4%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi), aspek teguh pendapat (nilai rata-rata, meningkat 1,0; persentase naik 21,2%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi), dan aspek memecahkan masalah (nilai rata-rata naik 0,5; prosentase naik 10,6%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi).

Tabel 8

Hasil Belajar Siswa per Siklus No Kondisi

Awal

Siklus I Siklus II Refleksi 1 Ulangan

Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu dari 3 siswa (18%) yang mendapat nilai tuntas menjadi 17 siswa (100%). Terjadi peningkatan sebanyak 14 siswa (82%) dan nilai rata-rata kelas dari 58,4 menjadi 86,9, meningkat sebesar 28,5.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui metode kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar pendidikan agama Islam materi sifat wajib bagi Allah SWT pada siswa Kelas VII SMPN 1 Watopute semester I tahun pelajaran 2015/2016. Motivasi belajar PAI materi sifat wajib bagi Allah SWT dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan: aspek tekun (nilai rata-rata meningkat 0,7; persentase naik 15,3%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi), aspek tidak mudah menyerah (nilai rata-rata naik 1,1; prosentase naik 22,4%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi); aspek minat besar (nilai rata-rata, meningkat 1,5; persentase naik 29,4%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi), aspek teguh pendapat (nilai rata-rata, meningkat 1,0; persentase naik 21,2%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi), dan aspek memecahkan masalah (nilai rata-rata naik 0,5; prosentase naik 10,6%; dari kategori tinggi menjadi amat tinggi). Hasil belajar siswa dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu dari 3 siswa (18%) yang mendapat nilai tuntas menjadi 17 siswa (100%). Terjadi peningkatan sebanyak 14 siswa (82%) dan nilai rata-rata kelas dari 58,4 menjadi 86,9, meningkat sebesar 28,5.

(17)

Implikasi hasil penelitian ini adalah: a) membantu siswa yang lambat dalam memahami pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya tentang sifat wajib bagi Allah SWT, b) memberikan pengaruh yang positif baik dalam pendidikan dan sosial pada guru dan pada siswa, c) merupakan cara praktis untuk membantu siswa dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya tentang sifat wajib bagi Allah SWT.

Saran

Saran bagi Guru: pergunakan metode yang bervariasi dan sesuai dengan memperhatikan materi dan kondisi siswa dan gunakan alat peraga yang mudah diterapkan kepada siswa, sederhana tetapi dapat meningkatkan motivasi siswa. Mengingatkan siswa tentang pentingnya pendidikan bagi kehidupan. Mengajar dan mendidik siswa secara professional. Saran bagi Kepala Sekolah: Berikan dorongan dan motivasi kepada guru untuk selalu melakukan Penelitian Tindakan Kelas. Lengkapi sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : Al-Ma’arif, 1962. Ali Muhammad Syaikh Quthb, 2005. Amal Shaleh Pengantar ke Surga dan Penyelamat dari

Neraka, Jakarta Timur : Pustaka al-Kautsar

Alwi Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Clark. 1981. Pengertian definisi hasil belajar.

http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/03/pengertian-definisi-hasil- belajar.html

Hasan Langgulung. 1980. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif

Johnson DW & Johnson, R, T. 1991. Learning Together and Alone. Allin and Bacon : Massa Chussett

Moh. Surya.1981. Pengantar Psikologi Pendidikan. Bandung : FIP IKIP Bandung Oemar Hamalik. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo

Wina, Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Sardiman, A.M, 2005, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Sudjana, Nana. 2004. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensido Offset.

(18)

Gambar

Gambar 1Grafik Nilai Ulangan Harian Kondisi Awal
Gambar 2Grafik Nilai Ketuntasan Belajar Kondisi Awal
Gambar 3Grafik Motivasi Belajar Siklus I
Gambar 4Grafik Nilai Ulangan Harian Siklus I
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian pada 8 Puskesmas Rawat Inap dan Rawat Jalan di Kabupaten Minahasa Utara didapatkan bahwa kinerja layanan puskesmas berdasarkan indeks kepuasan masyarakat pada

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran ARIAS terintegrasi dengan pembelajaran aktif learning

Diklat Kuliah Kecerdasan Buatan , Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia.. Sistem Pendukung

belajar IPA yang diperoleh pada saat posttest dibandingkan dengan hasil pretes, yaitu Nilai rata-rata posttest pada siklus I yaitu 71,4 dengan persentase siswa

Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga atau anggota masyarakat

Koordinating atau pengkoordinasian merupakan satu dari beberapa fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan

menyadari sesuatu (peristiwa) yang ada dibelakang ilmu pengetahuan itu sendiri atau sesuatu tentang ilmu itu sendiri (Ilmu dalam hal ini diartikan sebagai hasil..

Berdasarkan Gambar 2 dan Tabel 2 diatas nampak bahwa akibat adanya paparan profilin pada kultur sel lemak menyebabkan terjadinya perbedaan yang signifikan antara