RPJMD
Kabupaten Bantul
2011-2015
HALAMAN JUDUL ... i
LEGAL DRAFTING ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ... I-1 1.2. Landasan Hukum ... I-2 1.3. Hubungan RPJMD Kabupaten Bantul Dengan
Dokumen Perencanaan Lainnya ... I-5 1.4. Sistematika Penulisan ... I-7 1.5. Maksud dan Tujuan ... I-9
BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1. Aspek Geografi dan Demografi ... II-1 2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah ... II-1 2.1.1.1. Letak dan Batas Wilayah Administrasi ... II-1 2.1.1.2. Letak dan Kondisi Geografis ... II-3 2.1.1.3. Kondisi Topografi ... II-3 2.1.1.4. Kondisi Geologi ... II-6 2.1.1.5. Kondisi Hidrologi ... II-7 2.1.1.6. Kondisi Klimatologi ... II-9 2.1.1.7. Penggunaan Lahan ... II-9 2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah ... II-12 2.1.3. Wilayah Rawan Bencana ... II-12 2.1.4. Demografi ... II-14 2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat ... II-18 2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi ... II-18 2.2.1.1. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... II-18 2.2.1.2. PDRB Perkapita ... II-24 2.2.1.3. Laju Inflasi ... II-25 2.2.1.4. Koefisien Gini ... II-25 2.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial ... II-26 2.2.2.1. Pendidikan ... II-26 2.2.2.2. Kesehatan ... II-28 2.2.2.3. Kemiskinan ... II-32 2.2.2.4. Kesempatan Kerja (Rasio Penduduk Yang Bekerja) ... II-34 2.2.2.5. Kriminalitas (Angka Kriminalitas Yang Tertangani) ... II-37 2.2.3. Fokus Seni Budaya dan Olahraga ... II-37 2.3. Aspek Pelayanan Umum ... II-41 2.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib ... II-42
2.3.1.2. Kesehatan ... II-47 2.3.1.3. Pekerjaan Umum ... II-55 2.3.1.4. Perumahan ... II-60 2.3.1.5. Penataan Ruang ... II-62 2.3.1.6. Perencanaan Pembangunan ... II-64 2.3.1.7. Perhubungan ... II-65 2.3.1.8. Lingkungan Hidup ... II-73 2.3.1.9. Pertanahan ... II-77 2.3.1.10. Kependudukan dan Catatan Sipil ... II-79 2.3.1.11. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ... II-81 2.3.1.12. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera ... II-84 2.3.1.13. Sosial ... II-87 2.3.1.14. Ketenagakerjaan ... II-89 2.3.1.15. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah ... II-92 2.3.1.16. Penanaman Modal ... II-94 2.3.1.17. Kebudayaan ... II-96 2.3.1.18. Kepemudaan dan Olah Raga ... II-97 2.3.1.19. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri ... II-100 2.3.1.20. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum,
Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah,
Kepegawaian dan Persandian ... II-100 2.3.1.21. Ketahanan Pangan ... II-107 2.3.1.22. Pemberdayaan Masyarakat ... II-108 2.3.1.23. Statistik ... II-112 2.3.1.24. Kearsipan ... II-113 2.3.1.25. Komunikasi dan Informatika ... II-115 2.3.1.26. Perpustakaan ... II-117 2.3.2. Fokus Layanan Urusan Pilihan ... II-118 2.3.2.1. Pertanian ... II-118 2.3.2.2. Kehutanan ... II-121 2.3.2.3. Energi dan Sumberdaya Mineral ... II-122 2.3.2.4. Pariwisata ... II-122 2.3.2.5. Kelautan dan Perikanan ... II-123 2.3.2.6. Perdagangan ... II-125 2.3.2.7. Perindustrian ... II-126 2.3.2.8. Ketransmigrasian ... II-126 2.4. Aspek daya Saing Daerah ... II-127 2.4.1. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah ... II-127 2.4.1.1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum,
Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Derah,
Kepegawaian dan Persandian ... II-127 2.4.1.2. Pertanian ... II-129 2.4.2. Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur ... II-130 2.4.2.1. Perhubungan ... II-130 2.4.2.2. Penataan Ruang (Penataan Wilayah) ... II-130
Administrasi Keuangan Daerah,
Kepegawaian dan Persandian ... II-131 2.4.2.4. Komunikasi dan Informatika (Fasilitas Listrik dan Telepon) ... II-132 2.4.3. Fokus Iklim Berinvestasi ... II-133 2.4.3.1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum,
Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah,
Kepegawaian dan Persandian (Keamanan dan Ketertiban) ... II-134 2.4.4. Fokus Sumber Daya Manusia ... II-137 2.4.4.1. Ketenaga Kerjaan ... II-137
BAB III. GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Kinerja Keuangan Masa Lalu ... III-1 3.1.1. Kinerja Pelaksanaan APBD ... III-1 3.1.2. Neraca Daerah ... III-5 3.2. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu ... III-7 3.2.1. Proporsi Penggunaan Anggaran ... III-8 3.2.2. Analisis Pembiayaan ... III-12 3.3. Kerangka pendanaan ... III-14 3.3.1. Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah ... III-14 3.3.2. Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah ... III-15 3.3.3. Proyeksi Pengeluaran Periodik dan Mengikat
serta Prioritas Utama ... III-16 3.3.4. Penghitungan Kerangka Pendanaan ... III-17
BAB IV. ANALISIS ISU – ISU STRATEGIS
4.1. Permasalahan Pembangunan ... IV-1 4.1.1. Permasalahan Pembangunan Urusan Wajib ... IV-1 4.1.2. Permasalahan Pembangunan Urusan Pilihan ... IV-9 4.2. Isu-Isu Strategis ... IV-12 4.2.1. Isu strategis Pembangunan di Luar Kabupaten Bantul ... IV-13 4.2.1.1. Lingkungan Internasional ... IV-13 4.2.1.2. Lingkungan Nasional ... IV-14 4.2.1.3. Kondisi Lingkungan Regional Daerah Istimewa Yogyakarta ... IV-17 4.2.2. Telahaan RPJPD Kabupaten Bantul ... IV-20 4.2.3. Isu strategis Pembangunan Kabupaten Bantul ... IV-23
BAB V. PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
5.1. Visi ... V-1 5.2. Misi ... V-3 5.3. Tujuan dan Sasaran ... V-3 5.4. Hubungan Prioritas Pembangunan Kabupaten Bantul
BAB VII. KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH ... VII-1
BAB VIII. INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS
YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN ... VIII-1
BAB IX. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH ... IX-1
BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN
10.1. Program Transisi ... X-1 10.2. Kaidah Pelaksanaan ... X-2
NO HALAMAN
2.1. Jumlah Desa, Dukuh, dan Luas Kecamatan di Kabupaten Bantul Tahun 2013 ... II-2 2.2. Kelas Ketinggian dan Luas Wilayah Kabupaten Bantul Tahun 2013... II-4 2.3. Luas Wilayah Kabupaten Bantul Menurut Ketinggian dari Permukaan Laut
Kabupaten Bantul Tahun 2013 ... II-5 2.4. Luas Wilayah Berdasarkan Kemiringan Tanah di Kabupaten Bantul Tahun 2013 .... II-5 2.5. Hubungan Formasi Geologi Dengan Luas Penyebarannya Dikabupaten Bantul ... II-6 2.6. Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bantul Tahun 2012 ... II-8 2.7. Data Curah Hujan 2008-2012 di Kabupaten Bantul ... II-9 2.8. Kawasa rawan bencana di Kabupaten Bantul Menurut Perda Kabupaten
Bantul Nomor 4 Tahun 2011 Tentang RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010–2030 II-13 2.9. Kepadatan Penduduk Agraris per Kecamatan di Kabupaten Bantul
Tahun 2011-2012 ... II-16 2.10. Total Population / Proyeksi Jumlah Penduduk Pada Skenario Rendah,
Sedang, Tinggi ... II-17 2.11. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2008 – 2012
Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Bantul ... II-19 2.12. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2008 – 2012
Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Bantul ... II-20 2.13. Perkembangan PDRB Per-Kapita Menurut Harga Berlaku
dan Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Bantul Tahun 2008-2012 ... II-24 2.14. Angka Melek Huruf di Kabupaten Bantul Tahun 2008 – 2012 ... II-27 2.15. Angka Rata – Rata Lama Sekolah Kabupaten Bantul 2008 – 2012 ... II-27 2.16. Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun 2008 – 2012
Kabupaten Bantul ... II-27 2.17. Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2008 – 2012
Kabupaten Bantul ... II-28 2.18. Perkembangan Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Tahun 2008 – 2012
Kabupaten Bantul ... II-29 2.19. Perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 2008 – 2012
Kabupaten Bantul ... II-30 2.20. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2008 – 2012 Kabupaten Bantul,
Provinsi Daerah DIY, dan Nasional ... II-30 2.21. Persentase Balita Gizi Buruk Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-31 2.22. Persentase KK Miskin dan Jiwa Miskin Tahun 2010 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-32 2.23. Persentase Jiwa dan Keluarga Miskin Kabupaten Bantul Tahun 2012 ... II-33 2.24. Rasio Penduduk Yang Bekerja Dengan Angkatan Kerja Tahun 2008 – 2012
Kabupaten Bantul ... II-35 2.25. Jumlah Angkatan Kerja di Kabupaten Bantul Tahun 2011 – 2012 ... II-36 2.26. Jumlah Angkatan kerja Menurut Jenis Kelamin Kabupaten Bantul
2.28. Capaian Pembangunan Seni, Budaya, dan Olahraga Tahun 2012 ... II-38 2.29. Lembaga Budaya di Kabupaten Bantul Tahun 2012 ... II-38 2.30. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) ... II-42 2.31. Ketersediaan Sekolah Tahun 2008 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-43 2.32. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2012
Menurut Kecamatan Kabupaten Bantul ... II-43 2.33. Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2008 sd 2012
Kabupaten Bantul ... II-44 2.34. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) ... II-44 2.35. Ketersediaan Sekolah Tahun 2008 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-44 2.36. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2012
Menurut Kecamatan Kabupaten Bantul ... II-45 2.37. Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Menengah Tahun 2008 sd 2012
Kabupaten Bantul ... II-45 2.38. Banyaknya sekolah Kabupaten Bantul ... II-46 2.39. Jumlah Posyandu dan Balita Tahun 2008 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-47 2.40. Jumlah Posyandu dan Balita per Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul ... II-48 2.41. Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Kabupaten Bantul ... II-49 2.42. Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Bantul Tahun 2009-2012 ... II-49 2.43. Jumlah Dokter Kabupaten Bantul Tahun 2011-2012 ... II-50 2.44. Jumlah Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Pemerintah
Tahun 2011–2012 ... II-50 2.45. Jumlah dan Persentase Komplikasi Kebidanan yang ditangani
Tahun 2009 – 2012 ... II-51 2.46. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki
Kompetensi Kebidanan Tahun 2009 – 2011 ... II-52 2.47. Cakupan Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) ... II-52 2.48. Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun 2008 s/d 2012
Kabupaten Bantul ... II-55 2.49. Target dan Capaian DI yang Terlayani Air Irigasi Tahun 2008-2012 ... II-56 2.50. Target dan Capaian Saluran Irigasi dalam Kondisi Baik Tahun 2008-2012 ... II-56 2.51. Rasio Tempat Ibadah Tahun 2010 - 2012 Kabupaten Bantul ... II-57 2.52. Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun 2011-2012 Kabupaten Bantul ... II-57 2.53. Tempat Pemakaman Umum Per-Satuan Penduduk Menurut Kecamatan
Tahun 2012 Kabupaten Bantul ... II-58 2.54. Rasio TPS per Satuan Penduduk Tahun 2010-2012 ... II-58 2.55. Rasio Rumah Layak Huni Tahun 2011-2012 ... II-59 2.56. Data Banjir Genangan Akibat Curah Hujan Tinggi tahun 2008-2012 ... II-60 2.57. Persentase Penduduk Berakses Air Bersih di Kabupaten Bantul... II-60 2.58. Jumlah KK Yang Belum Berlistrik Tahun 2012 ... II-61 2.59. Banyaknya Pelanggan Listrik dan Daya Terpasang di Kabupaten Bantul
Tahun 2010-2012 ... II-61 2.60. Jumlah Rumah Layak Huni Tahun 2011-2012 ... II-62 2.61. Produk Perencanaan Tata Ruang ... II-63 2.62. Jumlah Penumpang Angkutan Umum Kabupaten Bantul ... II-65
Kabupaten Bantul ... II-66 2.64. Jumlah Ijin Trayek Tahun 2008 s.d 2012 Kabupaten Bantul ... II-67 2.65. Jumlah Ijin Trayek Menurut Kecamatan Tahun 2012 ... II-67 2.66. Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Tahun 2008 s.d 2012 ... II-68 2.67. Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012
Kabupaten Bantul ... II-68 2.68. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus Kabupaten Bantul ... II-69 2.69. Jumlah angkutan umum yang beroperasi di Kabupaten Bantul
Tahun 2008 s.d 2012 ... II-70 2.70. Kepemilikan KIR Angkutan Umum di Kabupaten Bantul Tahun 2008 s.d 2012 ... II-70 2.71. Fasilitas Perhubungan Terpasang di Kabupaten Bantul ... II-73 2.72. Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun 2011-2012
Kabupaten Bantul ... II-74 2.73. Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapat Air Minum PDAM
di Kabupaten Bantul ... II-74 2.74. Luas Lahan Bersertifikat Tahun Tahun 2010 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-77 2.75. Persentase Jumlah Izin lokasi tahun 2010-2012 di Kabupaten Bantul ... II-78 2.76. Estimasi Penduduk Kabupaten Bantul Tahun 2012 per Kelompok Umur ... II-80 2.77. Kepadatan Penduduk Geografis per Kecamatan Tahun 2012... II-81 2.78. Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun 2009 – 2011 Kabupaten Bantul ... II-82 2.79. Data Pilah PNS Kabupaten Bantul Tahun 2009 – 2012 ... II-82 2.80. Rasio KDRT Tahun 2010– 2012 Kabupaten Bantul ... II-82 2.81. Perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender Kabupaten Bantul ... II-83 2.82. Jumlah dan Rasio Pekerja Anak di Kabupaten Bantul Menurut Kabupaten 2011 ... II-83 2.83. Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Kabupaten Bantul ... II-84 2.84. Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Kabupaten Bantul ... II-84 2.85. Rasio Akseptor KB Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-85 2.86. Rasio Akseptor KB Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul ... II-86 2.87. Realisasi Pencapaian Sasaran SPM Cakupan Sasaran PUS Peserta KB Aktif ... II-86 2.88. Tahapan Keluarga Sejahtera di Kabupaten Bantul 2010 – 2012 ... II-87 2.89. Sarana Sosial Panti Asuhan dan Panti Jompo Kabupaten Bantul
2.104. Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-101 2.105. Data Kepala Keluarga Miskin Kabupaten Bantul
Berdasarkan Jenis KelaminTahun 2012 ... II-102 2.106. Jumlah Keluarga Miskin Kabupaten Bantul Tahun 2007-2011 ... II-102 2.107. Persentase KK Miskin dan Jiwa Miskin Tahun 2011 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-103 2.108. Kegiatan Penegakan PERDA Di Kabupaten Bantul ... II-104 2.109. Persentase Penegakan PERDA Kabupaten Bantul... II-105 2.110. Rasio Petugas Satpol PP terhadap Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul ... II-105 2.111. Penyelesaian Pelanggaran K3 Kabupaten Bantul ... II-105 2.112. Jumlah Petugas Linmas Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-106 2.113. Ketersediaan Energi dan Protein (KEP) untuk Dikonsumsi di Kabupaten Bantul
Tahun 2008-2012 ... II-107 2.114. Perkembangan Cadangan Pangan Masyarakat di Kabupaten Bantul
Tahun 2005-2009 ... II-107 2.115. Perkembangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) di Kabupaten Bantul
Tahun 2008-2012 ... II-108 2.116. Kelompok Binaan LPM Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-108 2.117. Kelompok Binaan PKK Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-109 2.118. Jumlah LSM Aktif Tahun 2009 sd 2012 Kabupaten Bantul ... II-111 2.119. LPM Berprestasi Kabupaten Bantul Tahun 2011 – 2012 ... II-111 2.120. Persentase PKK Aktif Menurut Kabupaten Bantul Tahun 2011 ... II-111 2.121. Jumlah Posyandu Kabupaten Bantul Tahun 2011 ... II-112 2.122. Persentase Posyandu Aktif Kabupaten Bantul Tahun 2010-2011 ... II-112 2.123. Jumlah dan Jabatan Fungsional Arsiparis 2012 ... II-114 2.124. Jumlah Jaringan Komunikasi 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-115 2.125. Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-116 2.126. Jumlah Penyiaran Radio/TV Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-116 2.127. Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-118 2.128. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi Sawah,
Padi Ladang, Jagung, Kacang Tanah, Kedelai Tahun 2008-2012 ... II-118 2.129. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Bawang Merah, Cabai Merah,
Cabai Rawit, Kacang Panjang dan Jamur Tahun 2008-2012 ... II-119 2.130. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tembakau, Mete, Tebu, dan Kelapa
Tahun 2008-2012 ... II-120 2.131. Produksi Daging, Telur, dan Susu Tahun 2008-2012 ... II-120 2.132. Luas Lahan Kritis Tahun 2011-2012 ... II-121 2.133. Pengadaan Bibit Jati dan Buah Tahun 2012 ... II-121 2.134. Target dan Capaian Reklamasi Lahan Bekas Tambang ... II-122 2.135. Tingkat Kerusakan Akibat Penggalian dan Penambangan ... II-122 2.136. Jumlah Kunjungan Wisatawan dan PAD Sektor Pariwisata Tahun 2008-2012... II-123 2.137. Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB Tahun 2008 – 2012 ... II-123 2.138. Produksi Perikanan Budidaya menurut Jenis Ikan tahun 2008-2012 ... II-124 2.139. Produksi Benih Ikan dari UPR dan BBI Tahun 2008-2012 ... II-124 2.140. Produksi Perikanan Tangkap, Jumlah Nelayan dan KUB,
dan Sarpras Lainnya Tahun 2008-2012 ... II-125 2.141. Perkembangan Ekspor Tahun 2018 -2012 ... II-126
2.143. Pengeluaran Riil per Kapita yang disesuaikan di DIY, 2008-2012 ... II-128 2.144. Pengeluaran Rata-Rata per Kapita Sebulan menurut Golongan Pengeluaran di DIY Tahun 2008-2012 ... II-128 2.145. Produktivitas Per-Sektor Kabupaten Bantul ... II-129 2.146. Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun 2008 – 2012* Daerah Istimewa Yogyakarta ... II-129 2.147. Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Kabupaten Bantul ... II-130 2.148. Data Banjir Genangan Akibat Curah Hujan Tinggidi Kabupaten Bantul
Tahun 2008-2012 ... II-130 2.149. Luas Wilayah Perkotaan ... II-131 2.150. Jenis, Kelas, dan Jumlah Restoran Kabupaten Bantul ... II-131 2.151. Jenis, Kelas, dan Jumlah Penginapan/Hotel Kabupaten Bantul ... II-132 2.152. Banyaknya Daya Terpasang di Kabupaten Bantul Tahun 2010-2012 ... II-132 2.153. Rumah tangga miskin yang memakai listrik tahun 2012... II-133 2.154. Persentase Rumah Tangga yang menggunakan Listrik di Kabupaten Bantul
Tahun 2010-2012 ... II-133 2.155. Angka Kriminalitas Tahun 2009 – 2012 Kabupaten Bantul ... II-134 2.156. Jumlah Demonstrasi Kabupaten Bantul ... II-134 2.157. Perkembangan Kontribusi PAD terhadap Pendapatan DaerahTahun 2008-2012 ... II-136 2.158. Jumlah Perda Yang Mendukung Iklim Usaha Kabupaten Bantul ... II-137 2.159. Desa Tertinggal di Kabupaten Bantul 2012 ... II-137 2.160. Jumlah Lulusan S1/S2/S3 Pegawai Kabupaten Bantul ... II-138 3.1. Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah
Tahun 2008 s.d Tahun 2012 ... III-2 3.2. Kontribusi Dana Perimbangan dan PAD Terhadap Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2008-2012 ... III-3 3.3. Proporsi Realisasi dan Rata-Rata Pertumbuhan Belanja
Tahun Anggaran 2008-2012 ... III-4 3.4. Neraca Kabupaten Bantul 31 Desember 2009 s.d 2012 ... III-6 3.5. Analisis Rasio Keuangan Kabupaten Bantul ... III-7 3.6. Proporsi Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Kabupaten Bantul
Tahun 2008 s.d Tahun 2012 ... III-9 3.7. Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kabupaten Bantul
Tahun 2010 s.d Tahun 2012 ... III-10 3.8. Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur
Kabupaten Bantul ... III-10 3.9. Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Bantul
2010-2012 ... III-11 3.10. Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Bantul ... III-12 3.11. Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Bantul Tahun 2008-2012 ... III-12 3.12. Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Kabupaten Bantul Tahun 2009-2012 ... III-13 3.13. Realisasi dan Proyeksi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2011-2015 ... III-15 3.14. Proyeksi dan Realisasi Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran
Kabupaten Bantul 2011-2015 ... III-16 3.15. Realisasi dan Proyeksi Kapasitas Kemampuan Keuangan Daerah ... III-16 3.16. Realisasi dan Proyeksi Pengeluaran Periodik, Wajib dan Mengikat
Tahun Anggaran 2011-2015 ... III-18 3.18. Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Keuangan Daerah
Tahun Anggaran 2011-2015 ... III-19 4.1. Tahapan dan Skala prioritas RPJMD ke II (2011-2015) ... IV-20 5.1. Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Kabupaten Bantul ... V-8 5.2. Rumusan Sasaran dan Indikator Kinerja... V-12 6.1. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 1 Kabupaten Bantul ... VI-2 6.2. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 2 Kabupaten Bantul ... VI-5 6.3. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 3 Kabupaten Bantul ... VI-8 6.4. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 4 Kabupaten Bantul ... VI-13 7.1. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Misi 1
Kabupaten Bantul ... VII-2 7.2. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Misi 2
Kabupaten Bantul
VII-11
7.3. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Misi 3
Kabupaten Bantul ... VII-29 7.4. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Misi 4
Kabupaten Bantul ... VII-56 8.1. Indikasi Rencana Program Prioritas Yang Disertai Kebutuhan Pendanaan
Kabupaten Bantul ... VIII-2 9.1. Tabel Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja
Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Bantul ... IX-2
NO HALAMAN
1.1. Hubungan RPJMD Kabupaten Bantul Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya ... I-6 2.1. Peta Batas Wilayah Kabupaten Bantul ... II-1 2.2. Hubungan Jenis Tanah Dengan Luas Penyebaran di Kabupaten Bantul
Tahun 2012... II-7 2.3. Peta Penggunaan Lahan ... II-11 2.4. Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per-Kecamatan di Kabupaten Bantul ... II-14 2.5. Kepadatan Penduduk Geografis ... II-15 2.6. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bantul, Provinsi DIY dan Nasional
2008-2012 (%) ... II-21 2.7. Pertumbuhan Ekonomi Empat Sektor Tertinggi Pada Tahun 2012,
Periode 2008-2912 (%) ... II-22 2.8. Pergeseran Struktur Ekonomi Kabupaten Bantul Tahun 2010 – 2012 ... II-23 2.9. Pertumbuhan PDRB Per-Kapita Kabupaten Bantul ADHB dan ADHK
Tahun 2000, Periode 2008-2012 ... II-24 2.10. Perkembangan Inflasi di Kabupaten Bantul Tahun 2008-2012 ... II-25 2.11. Koefisien Gini di Kabupaten Bantul Tahun 2008 – 2012 ... II-26 2.12. Persentase Penduduk Diatas Garis Kemiskinan Kabupaten Bantul
Tahun 2010-2012 ... II-32 2.13. Jiwa Miskin di Kabupaten Bantul Tahun 2012 ... II-34 2.14. Jiwa Miskin Dan Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Bantul Tahun 2012 ... II-34 2.15. Angka Kesembuhan TB di Kabupaten Bantul Tahun 2008 – 2012 ... II-53 2.16. Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Bantul Tahun 2008-2012 ... II-79 2.17. Angkatan Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2012 ... II-90 2.18. Peta Penganggur Kabupaten Bantul Tahun 2012 ... II-91
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan dokumen
perencanaan yang memuat visi, misi, dan program Kepala Daerah yang dituangkan
ke dalam strategi, arah kebijakan, dan program pembangunan daerah. Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2011–2015 ini merupakan
penjabaran lima tahun kedua dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Kabupaten Bantul 2006–2025 sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Daerah
Nomor 12 Tahun 2010 tentang perubahan atas Perda Nomor 14 Tahun 2005
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Bantul Tahun
2006-2025. Di samping itu RPJMD tersebut juga memperhatikan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional dan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Tahun 2009-2013.
Selain sebagai petunjuk dan penentu arah kebijakan, dokumen ini juga berguna
sebagai dasar penilaian kinerja bupati dalam melaksanakan pemerintahan,
pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat selama masa jabatannya dan
menjadi tolok ukur keberhasilan bupati dalam laporan penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang nantinya diserahkan kepada Menteri Dalam Negeri
melalui Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan laporan keterangan
pertanggungjawaban bupati yang nantinya diserahkan kepada DPRD Kabupaten
Bantul.
Pelaksanaan pembangunan Kabupaten Bantul sejak tahun 2011 berpedoman
kepada RPJMD yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor
1 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten
Bantul Tahun 2011–2015. Dalam perjalanan pembangunan jangka menengah yang
menginjak tahun ke-3 ini, dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, maka dipandang perlu untuk melakukan
perubahan yang tahapan dan tatacaranya berpedoman kepada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan Pasal 282 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan,
Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah, perubahan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila:
a) Hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan, tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan daerah
yang diatur dalam Peraturan Menteri ini;
b) Hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang
dirumuskan, tidak sesuai dengan Peraturan Menteri ini;
c) Terjadi perubahan yang mendasar; dan/atau
d) Merugikan kepentingan nasional.
Hal mendasar dari hasil evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kabupaten Bantul, diketahui bahwa proses perumusan tidak sesuai
dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan, serta substansi
yang dirumuskan tidak sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun
2010. Berdasarkan hal tersebut, maka perubahan RPJMD Kabupatan Bantul Tahun
2011-2015 memenuhi syarat sebagaimana diatur diatas.
Lebih lanjut, mengingat bahwa operasionalisasi RPJMD dilaksanakan melalui
Renstra SKPD maka penyusunan perubahan RPJMD juga diikuti dengan perubahan
Renstra SKPD. Hal ini sejalan dengan Pasal 25 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 54 Tahun 2010 menyebutkan bahwa penyusunan Renstra-SKPD
berpedoman pada RPJMD dan bersifat indikatif dimana penyusunan Renstra SKPD
dilakukan bersamaan dengan RPJMD.
1.2 LANDASAN HUKUM
Penyusunan peraturan perundang-undangan memiliki landasan sebagai berikut:
1) Landasan idiil Pancasila;
2) Landasan konstitusional Undang-Undang Dasar (UUD) 1945;
3) Landasan operasional:
Dalam penyusunan RPJMD ini, sejumlah peraturan digunakan sebagai rujukan,
yaitu:
a) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah
Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta (Berita Negara
Republik Indonesia tanggal 6 Agustus 1950);
b) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara
c) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
d) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
e) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
f) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan pengelolaan dan
Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4406);
g) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
h) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali dan
terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
i) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4438);
j) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pembangunan Jangka Panjang
Nasional Tahun 2005–2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
k) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4723);
l) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia tahun 2007 nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
m) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2009, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
n) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang Penetapan Mulai
Berlakunya Undang-undang 1950 Nomor 12, 13, 14 dan 15 (Berita Negara
Republik Indonesia tanggal 14 Agustus 1950);
o) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
p) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Tatacara Penyusunan, Pengendalian,
Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4815);
q) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
r) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 42,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4828);
s) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan
Pengelolaan Bantuan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 43,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4829);
t) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang dan
Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
u) Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2010 tentang Rencana Jangka Menengah
Nasional;
v) Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan
Kemiskinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
w) Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan
Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010;
x) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
y) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 517);
z) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2009
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Tahun 2009-2013 (Lembaran Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2009 Nomor 4);
aa) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 10 Tahun 2007 tentang
Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah
Kabupaten Bantul Tahun 2007 Seri D Nomor 8);
bb) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 13 Tahun 2007 tentang Penetapan
Urusan Pemerintahan Wajib dan Pilihan Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah
Kabupaten Bantul Tahun 2007 Seri D Nomor 11);
cc) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 24 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Pelaksanaan Musyawarah
Perencanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun
2008 Seri D Nomor 2);
dd) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 12 Tahun 2010 tentang Perubahan
Perda No 14 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Kabupaten Bantul Tahun 2006–2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul
Tahun 2010 Seri D Nomor 12); dan
ee) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 1 Tahun 2011 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2011–2015
((Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Seri D Nomor 01 Tahun 2011).
1.3 HUBUNGAN RPJMD KABUPATEN BANTUL DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA
Dokumen RPJMD Kabupaten Bantul disusun dengan mengacu, merujuk,
mempedomani, dan memperhatikan dokumen perencanaan lainnya seperti RPJM
Nasional, RPJMD Provinsi, RPJPD Kabupaten Bantul, Rencana Tata Ruang Nasional,
Rencana Tata Ruang Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bantul.
Hal ini dimaksudkan agar proses penyusunan dokumen RPJMD dapat menghasilkan
dokumen perencanaan yang sinergis dan terpadu baik dalam aspek kewilayahan
maupun aspek sektoral dengan harapan agar dalam implementasinya diperoleh
hasil yang tepat dan terarah. Keterkaitan antara RPJMD Kabupaten Bantul dengan
dokumen lainnya selengkapnya disajikan dalam Gambar 1.
Dokumen RPJMD ini harus dijabarkan ke dalam dokumen Renstra Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD), yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan program
prioritas kepala daerah. Untuk tataran operasional setiap tahun maka RPJMD
menjadi acuan bagi Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), sedangkan Renstra
SKPD dijabarkan ke Rencana Kerja (Renja) SKPD. Dalam kaitannya dengan
pengembangan ekonomi lokal, maka penyusunan rencana kerja SKPD perlu juga
memperhatikan dokumen Renstra PEL Bantul Tahun 2011-2014.
Gambar 1.1
Hubungan RPJMD Kabupaten Bantul Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya
R RPPJJPP N NAASS//PPRROOPP
& & R RTTRR NNAASS
R RPPJJMM N NAASS//PPRROOPP
& & R RTTRR PPRROOPP
R RKKPP N NAASS//PPRROOPP
P
Peeddoommaann DDiijjaabbaarrkkaann
P Peeddoommaann P Peeddoommaann
P Peeddoommaann
P Peeddoommaann D Diijjaabbaarrkkaann P
Peeddoommaann
A Accuuaann
R RPPJJPP D DAAEERRAAHH
R RPPJJMM D DAAEERRAAHH
R REENNSSTTRRAA
S SKKPPDD
R RAAPPBBDD
R RKKAA S SKKPPDD
A APPBBDD
R RIINNCCIIAANN
A APPBBDD R
RKKPP D DAAEERRAAHH
R
REENNJJAA
S SKKPPDD R
RTTRRWW K KAABB..
M Meemmppeerrhhaattiikkaann A
Accuuaann PPUUSSAATT//
P PRROOVVIINNSSII
D DAAEERRAAHH U
UUU..NNoo..1177//0033 K KNN U
UUU..NNoo..2255//0044 S SPPPPNN
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2011-2015 Kabupaten
Bantul ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang penyusunan RPJMD, dasar hokum
penyusunan, hubungan RPJMD dengan dokumen perencanaan lainnya,
sistematika penulisan, serta maksud dan tujuan penyusunan.
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
Gambaran umum kondisi daerah akan menjelaskan tentang kondisi
geografi dan demografi serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan
pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota. Adapun indikator
capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang penting dianalisis
meliputi 3 (tiga) aspek utama, yaitu:
1.Aspek Geografi dan Demografi, mencakup uraian tentang karakteristik
lokasi dan wilayah, potensi pengembangan wilayah, wilayah rawan
bencana, dan demografi;
2.Aspek Kesejahteraan Masyarakat, meliputi kesejahteraan dan
pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan
olahraga.;
3.Aspek Pelayanan Umum, yaitu meliputi Pelayanan publik atau
pelayanan umum yang merupakan segala bentuk jasa pelayanan, baik
dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi
tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam upaya pemenuhan
kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan. Aspek Pelayanan Umum terdiri dari Fokus Layanan Urusan
Wajib dan Fokus Layanan Urusan Pilihan; dan
4.Aspek Daya Saing, terdiri dari kemampuan ekonomi daerah, fasilitas
wilayah atau infrastruktur, iklim berinvestasi dan sumber daya
manusia.
BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN
Bab ini menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis
terhadap pengelolaan keuangan daerah sebagaimana telah dilakukan
pada tahap perumusan ke dalam sub-bab Kinerja Keuangan Masa Lalu,
Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu, dan Kerangka Pendanaan.
BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
Memuat isu-isu strategis pembangunan 5 (lima) tahun yang merupakan
hasil analisis atau telaahan terhadap permasalahan pembangunan
daerah, isu/kebijakan internasional, nasional, regional dan daerah.
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
Bab ini dimulai dengan penjelasan visi dan diturunkan (diderivasi)
menjadi misi kemudian dilanjutkan dengan menjabarkan tujuan dan
sasaran masing-masing misi.
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
Dalam bagian ini diuraikan strategi yang dipilih dalam mencapai tujuan
dan sasaran serta arah kebijakan dari setiap strategi terpilih.
BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH
Dalam bagian ini diuraikan hubungan antara kebijakan umum yang
berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih
dengan target capaian indikator kinerja, serta penjelasan tentang
hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator
kinerja yang dipilih.
BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
Dalam bagian ini diuraikan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD
terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD. Pada
periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator
kinerja pada awal periode perencanaan.
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran
tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan
wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan.
BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN
Bab ini memuat penjelasan pedoman penyusunan RKPD dan RAPBD tahun
pertama dibawah kepemimpinan Kepala daerah dan wakil kepala daerah
terpilih hasil pemilihan umum kepala daerah pada periode berikutnya
untuk menjaga kesinambungan pembangunan dan mengisi kekosongan
RKPD setelah RPJMD berakhir.
1.5 MAKSUD DAN TUJUAN
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bantul Tahun
2011-2015 disusun untuk menterjemahkan visi, misi dan program prioritas kepala
daerah, yang digunakan sebagai acuan resmi bagi Pemerintah Daerah, DPRD dan
swasta, dan masyarakat dalam pembangunan daerah yang sekaligus merupakan
acuan penentuan pilihan-pilihan program kegiatan tahunan daerah yang akan
dibahas dalam rangkaian forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah
secara berjenjang. Oleh karena itu, isi dan substansinya mencakup visi, misi, tujuan,
sasaran, indikator, strategi, kebijakan, program, dan pagu indikatif dalam kurun
waktu lima tahun.
Berdasarkan pertimbangan diatas, maka RPJMD Kabupaten Bantul disusun dengan
tujuan sebagai berikut:
1) Menjabarkan gambaran tentang kondisi umum daerah dalam konstelasi
regional dan nasional, sekaligus menjelaskan arah dan tujuan yang ingin
dicapai pada kurun waktu tertentu dalam rangka mewujudkan visi dan misi
daerah;
2) Sebagai acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah dan DPRD dalam
menentukan prioritas program dan kegiatan tahunan yang memberi ruang
pada aspek pengurangan risiko bencana, pelestarian lingkungan, ilmu dan
teknologi, serta responsif gender yang akan dibiayai;
3) Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD untuk
memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan
operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahun ke depan; dan
4) Sebagai tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja setiap
BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1 Aspek Geografi dan Demografi
2.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah
2.1.1.1 Letak dan Batas Wilayah Administrasi
Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07º44'04"-08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34"-110º31'08" Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Bantul merupakan salah satu wilayah paling selatan di Daerah Istimewa Yogyakarta,
dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman
Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
Sebelah Barat : Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Sleman
Sebelah Timur :KabupatenGunungkidul
Sumber : Bappeda Kabupaten Bantul , 2013
Gambar 2. 1
Peta Batas Wilayah Kabupaten Bantul
Dilihat dari bentang alamnya, wilayah Kabupaten Bantul terdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak pada bagian timur dan barat, serta kawasan pantai di sebelah selatan. Kondisi bentang alam
tersebut relatif membujur dari utara ke selatan.
Luas wilayah Kabupaten Bantul adalah 506,85 Km2 dan secara administratif terdiri
dari 17 kecamatan yang dibagi menjadi 75 desa dan 933 pedukuhan. Kecamatan Dlingo adalah kecamatan yang mempunyai wilayah paling luas, yaitu 55,87 km2
sementara Kecamatan Srandakan adalah kecamatan dengan wilayah paling sempit, yaitu 18,32 Km2. Sedangkan jumlah desa dan pedukuhan yang terbanyak terdapat di
Kecamatan Imogiri dengan 8 desa dan 72 pedukuhan.Desa-desa di Kabupaten
Bantul dibagi lagi berdasarkan statusnya menjadi desa pedesaan (rural area) dan desa perkotaan (urban area). Secara umum jumlah desa yang termasuk dalam wilayah perkotaan sebanyak 41 desa, sedangkan desa yang termasuk dalam wilayah perdesaan sebanyak 34 desa. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa Kecamatan Dlingo mempunyai wilayah paling luas, yaitu 55,87 km2, sedangkan
jumlah desa dan pedukuhan yang terbanyak terdapat di Kecamatan Imogiri dengan 8 desa dan 72 pedukuhan.
Tabel 2. 1
Jumlah Desa, Dukuh, dan Luas Kecamatan di Kabupaten Bantul Tahun 2013
No Kecamatan Perkotaan Desa Perdesaan (kmLuas 2) % Luas
1 Srandakan Poncosari (24 dusun ) Trimurti (19 dusun) 18,32 3,61
2 Sanden
Sri Gading(20 dusun) Gadingsari (18 dusun)
23,16 4,57
Gadingharjo (6 dusun) Murtigading (18dusun)
3 Kretek
Tirtohargo (6 dusun) Donotirto (13dusun)
26,77 5,28
Parangtritis (11 dusun) Tirtosari(7 dusun) Tirtomulyo (15 dusun)
4 Pundong Seloharjo (16 dusun) Srihardono (17 dusun) 23,68 4,67
Panjang Rejo(16 dusun)
5 Bambanglipuro Sumber Mulyo(16 dusun) Sidomulyo (15 dusun) 22,70 4,48
Mulyodadi (14dusun)
6 Pandak
Caturharjo (14dusun) Wijirejo (10dusun)
24,30 4,79
Triharjo (10dusun) Gilangharjo (15dusun)
7 Pajangan Guwosari (15 dusun) Triwidadi (22 dusun) 33,25 6,56
Sendangsari (18 dusun)
8 Bantul
Sabdodadi (5 dusun) Palbapang (10 dusun)
21,95 4,33
Ringinharjo (6 dusun) Bantul (12 dusun) Trirenggo (17 dusun)
9 Jetis Patalan (20 dusun) Trimulyo (12 dusun) 24,47 4,83
Canden (15 dusun ) Sumber Agung (17 dusun)
10 Imogiri
Selopamioro(18 dusun ) Kebonagung (5)
54,49 10,75 Sriharjo (13 dusun) Karangtalun (5 dusun )
Karangtengah (6 dusun ) Imogiri (4 dusun) Wukirsari (16 dusun ) Girirejo (5 dusun )
11 Dlingo
Mangunan (6 dusun) Dlingo (10 dusun )
55,87 11,02 Muntuk (11 dusun)
Temuwuh (12 dusun) Jatimulyo (10 dusun ) Terong (9 dusun)
12 Banguntapan
Tamanan (9 dusun) Baturetno (8 dusun)
28,48 5,62
Jagalan (2 dusun) Banguntapan 11 dusun)
No Kecamatan Desa Luas (km2) % Luas
Perkotaan Perdesaan
13 Pleret
Bawuran (7 dusun) Wonokromo (12 dusun)
22,97 4,53
Wonolelo (8 dusun) Pleret (11) Segoroyoso (9 dusun)
14 Piyungan Sitimulyo (21 dusun) Srimulyo (22 dusun) 32,54 6,42
Srimartani (17 dusun)
15 Sewon Pendowoharjo(16 dusun) Bangunharjo(17 dusun) 27,16 5,36
Timbulharjo (16 dusun) Panggungharjo(14 dusun)
16 Kasihan
Tamantirto (10 dusun) Tirtonirmolo (12 dusun)
32,38 6,39
Ngestiharjo (12 dusun) Bangunjiwo (19 dusun)
17 Sedayu Argodadi (14 dusun) Argosari (13 dusun) 34,36 6,78
Argomulyo (14 dusun) Argorejo (13 dusun)
Jumlah 41 34 506,85 100,00
Sumber : Bagian Tata Pemerintahan Kabupaten Bantul, 2013
2.1.1.2 Letak dan Kondisi Geografis
Kabupaten Bantul merupakan salah satu bagian wilayah Indonesia yang rawan
bencana khususnya gempa bumi karena terletak pada pertemuan lempeng(vault) Eurasia dan lempeng Indonesia-Australia. Posisi Kabupaten Bantul yang berada pada lintasan patahan/sesar Opak yang masih aktif menjadikan wilayah Kabupaten Bantul kawasan rawan bencana gempa bumi tektonik yang potensial tsunami. Wilayah Kabupaten Bantul dilewati oleh tiga sungai utama dan tiga sungai lainnya yaitu :
1.Sungai Oya (Kecamatan Dlingo, Imogiri) dengan panjang sungai 37,21 km; 2.Sungai Progo (Kecamatan Sedayu, Pajangan, Pandak dan Srandakan) dengan
panjang sungai 26,33 km;
3.Sungai Opak (Kecamatan Piyungan, Banguntapan, Pleret, Jetis, Imogiri, Pundong, Kretek) dengan panjang sungai 36,69 km;
4.Sungai Winongo (Kecamatan Sewon, Bantul, Jetis, Pundong, Kretek) dengan panjang sungai 23,00 km;
5.Sungai Bedog (Kecamatan Kasihan, Pajangan, Bantul, Pandak) dengan panjang sungai 23,38 km;
6.Sungai Code (Kecamatan Banguntapan, Pleret, Sewon, Jetis) dengan panjang sungai 9,21 km.
2.1.1.3 Kondisi Topografi
Secara topografis, Kabupaten Bantul terbagi menjadi daerah dataran, daerah perbukitan serta daerah pantai.Secara garis besar, satuan fisiografi Kabupaten Bantul sebagian besar berada pada dataran aluvial (Fluvio Volcanic Plain), perbukitan di sisi barat dan timur serta fisiografi pantai. Adapun pembagian satuan fisiografi yang lebih rinci di Kabupaten Bantul adalah sebagai berikut:
a. Daerah di bagian Timur merupakan jalur perbukitan berlereng terjal dengan kemiringan lereng dominan curam (>70%) dan ketinggian mencapai 400 meter dari permukaan air laut, Daerah ini terbentuk oleh formasi Nglanggran dan Wonosari,
b. Daerah di bagian Selatan ditempati oleh gisik dan gumuk-gumuk pasir (fluviomarine) dengan kemiringan lereng datar-landai, Daerah ini
terbentuk oleh material lepas dengan ukuran pasir kerakal,
c. Daerah di bagian tengah merupakan dataran aluvial (Fluvio Volcanic Plain), yang dipengaruhi oleh Graben Bantul dan terendapi oleh material
vulkanik dari endapan vulkanik Merapi,
d. Daerah di bagian Barat merupakan perbukitan rendah dengan kemiringan lereng landai-curam dan ketinggian mencapai 150 meter dari permukaan air laut, Daerah ini terbentuk oleh formasi Sentolo.
Apabila dilihat per wilayah kecamatan terlihat bahwa wilayah kecamatan yang paling luas memiliki lahan miring terletak di Kecamatan Dlingo dan Imogiri, sedangkan wilayah kecamatan yang didominasi oleh lahan datar terletak di Kecamatan Sewon dan Banguntapan.
Tabel 2.2.
Kelas Ketinggian dan Luas Wilayah Kabupaten Bantul Tahun 2013
No Kelas Ketinggian (dpl) m Luas (ha) (%)
1 0 – 7 3.228 6,37
2 7 – 25 8.948 17,65
3 25 – 100 27.709 54,67
4 100 - 500 10.800 21,31
5 > 500 - -
Jumlah 50.685 100
Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul , 2013
Ketinggian tempat di Kabupaten Bantul dibagi menjadi empat kelas. Hubungan kelas ketinggian dengan luas sebarannya dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan Tabel 2.3. Dari kedua tabel tersebut dapat diketahui bahwa kelas ketinggian Kabupaten Bantul yang memiliki penyebaran paling luas terletak pada elevasi antara 25-100 meter (27.709 ha atau 54,67%) yang terletak pada bagian utara, bagian tengah, dan bagian Tenggara Kabupaten Bantul. Wilayah yang mempunyai elevasi rendah (elevasi kurang dari 7 meter) seluas 3.228 Ha (6,37%) terdapat di Kecamatan Kretek, Sanden, dan Srandakan. Wilayah dengan elevasi rendah umumnya berbatasan
meter dari permukaan laut, mencakup areal seluas 4.161 ha atau 8,2% dari seluruh luas Kabupaten Bantul.
Tabel 2. 3.
Luas Wilayah Kabupaten Bantul Menurut Ketinggian dari Permukaan Laut Kabupaten Bantul Tahun 2013
No, Kecamatan 0 – 7mLuas (Ha) dan Ketinggian tempat (dpl)7 – 25m 25–100m 100-500m >500m Jumlah
1. Srandakan 1.058 776 - - - 1.834
2. Sanden 1.246 1.081 - - - 2.327
3. Kretek 924 1.335 190 101 - 2.550
4. Pundong - 1.938 239 199 - 2.376
5. Bambanglipuro - 1.494 788 - - 2.282
6. Pandak - 1.312 1.117 - - 2.429
7. Pajangan - 221 2.646 452 - 3.319
8. Bantul - - 2.199 - - 2.199
9. Jetis - - 2.549 11 - 2.560
10. Dlingo - - 815 4.819 - 5.634
11. Banguntapan - - 2.154 475 - 2.629
12. Pleret - - 1.783 345 - 2.128
13. Piyungan - - 1.965 1.347 - 3.312
14. Sewon - - 2.676 - - 2.676
15. Kasihan - - 2.608 630 - 3.238
16. Sedayu - - 3.262 149 - 3.411
17. Imogiri - 791 2.718 2.272 - 5.781
T O T A L 3.228 8.948 27.709 10.800 - 50.685
Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul , 2013
Kemiringan lahan wilayah Kabupaten Bantul sebagian besar berupa daerah dataran yang tersebar di wilayah selatan, tengah, dan utara Kabupaten Bantul dengan kemiringan kurang dari 2%dan luas sebesar 31.421 ha (61,99%). Wilayah timur dan
barat umumnya berupa daerah dengan kemiringan 2,1 - 40,0% dan luas sebesar 15.255 ha (30,09%). Sebagian kecil wilayah timur dan barat seluas4.009 ha (7,9%) mempunyai kemiringan lereng di atas 40,1%. Wilayah yang memiliki lahan miring paling luas terletak di Kecamatan Dlingo dan Banguntapan, sedangkan wilayah kecamatan yang didominasi oleh lahan datar terletak di Kecamatan Kasihan dan Pleret.
Tabel 2. 4
Luas Wilayah Berdasarkan Kemiringan Tanahdi Kabupaten Bantul Tahun 2013
No, Kecamatan Luas kemiringan tanah/lereng (ha) Jumlah 0 – 2% 2 - 8% 8-15% 15–25%25–40% >40%
1, Srandakan 1.680 154 - - - - 1.834
2, Sanden 2.100 227 - - - - 2.327
3, Kretek 1.756 288 - 27 11 468 2.550
4, Pundong 1.395 171 - 90 108 612 2.376
5, Bambanglipuro 2.210 72 - - - - 2.282
6, Pandak 2.123 306 - - - - 2.429
7, Pajangan 815 661 990 162 394 247 3.269
No, Kecamatan Luas kemiringan tanah/lereng (ha) Jumlah 0 – 2% 2 - 8% 8-15% 15–25%25–40% >40%
8, Bantul 2.184 - - 15 - - 2.199
9, Jetis 2.305 81 - 144 - 30 2.560
10, Dlingo 1.768 585 279 900 954 1.295 5.781
11, Banguntapan 72 1.993 268 572 1.433 1.296 5.634
12, Pleret 2.629 - - - 2.629
13, Piyungan 704 431 365 55 547 26 2.128
14, Sewon 2.187 702 - - 423 - 3.312
15, Kasihan 2.668 - - 8 - - 2.676
16, Sedayu 2.312 - 598 182 161 35 3.288
17, Imogiri 2.513 227 300 138 233 - 3.411
T o t a l 31.421 5.898 2.800 2.293 4.264 4.009 50.685
Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, 2013
2.1.1.4 Kondisi Geologi
Formasi adalah suatu susunan batuan yang mempunyai keseragaman ciri-ciri geologis yang nyata, baik terdiri dari satu macam jenis batuan, maupun perulangan dari dua jenis batuan atau lebih yang terletak di permukaan bumi atau dibawah permukaan. Geologi menunjukkan kelompok-kelompok bantuan yang berguna sebagai indikator terdapatnya suatu bahan tambang.
Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten Bantul secara umum terdiri dari tiga jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan endapan. Berdasarkan sifat-sifat batuannya dapat dirinci menjadi beberapa formasi.
Tabel 2. 5.
Hubungan Formasi Geologi Dengan Luas Penyebarannya Dikabupaten Bantul
No Formasi Geologi Jenis Batuan Luas (Ha) %
1. F. Yogyakarta Pasir vulkanik klastik, lanau, gravel 23.316 46 2. F. Semilir-Nglanggran Breksi, batupasir, tuff 12.164 24 3. F. Sentolo Batu gamping berlapis, napal, tuff 9.123 18 4. F. Wonosari Batugamping karang lagoon 4.055 8
5. F. Sambipitu Konglomerat, batupasir 1.520 3
6. F. Gumuk Pasir Pasir tersortasi 507 1
J u m l a h 50.685 100
Sumber: BappedaKabupaten Bantul,2013
Wilayah Kabupaten Bantul mempunyai tujuh jenis tanah yaitu tanah Renzina, Alluvial, Grumusol, Latosol, Mediteran, Regosol, dan Lithosol. Jenis tanah Regosol
merupakan jenis tanah yang dominan di wilayah Kabupaten Bantul. Tanah Regosol adalah tanah yang berasal dari material gunung berapi, bertekstur (mempunyai butiran) kasar bercampur dengan pasir, dengan solum tebal dan memiliki tingkat kesuburan rendah. Jenis tanah ini tersebar pada Kecamatan Kasihan, Sewon,
Pajangan, Kasihan, dan Pandak. Tanah Mediteran berasal dari batugamping karang, batugamping berlapis, dan batupasir, tersebar di Kecamatan Dlingo dan sedikit di Sedayu. Tanah Latosolberasal dari batuan induk breksi, tersebar di Kecamatan Dlingo, Imogiri, Pundong, Kretek, Piyungan, dan Pleret. Tanah Grumusol berasal dari batuan induk batu gamping berlapis, napal, dan tuff, terdapat di Kecamatan Sedayu, Pajangan, Kasihan, Pandak, Sanden, Bambanglipuro, dan Srandakan.
Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, 2013
Gambar 2. 2
Hubungan Jenis Tanah Dengan Luas Penyebaran di Kabupaten Bantul Tahun 2012
2.1.1.5 Kondisi Hidrologi
Di wilayah Kabupaten Bantul terdapat 3 (tiga) DAS (Daerah Aliran Sungai) yaitu DAS Progo, DAS Opak, dan DAS Oyo. DAS Oyo mempunyai 5 (lima) sub-DAS yaitu sub-DAS Oyo, Plilan, Celeng, Kedungmiri dan Dlingo. Untuk DAS Opak mempunyai 11 (sebelas) sub-DAS yaitu sub-DAS Opak, Buntung, Code, Gadjahwong, Gawe, Kuning, Bulus, Belik, Tambakbayan, Winongo Kecil dan Winongo. DAS Progo
mempunyai 3 (tiga) sub-DAS yaitu sub-DAS Progo, Bedog dan Timoho. Secara keseluruhan DAS di wilayah Kabupaten Bantul menempati lahan seluas 50.685,05 ha. Meliputi DAS Opak dengan luas 24.667,85 ha, DAS Progo luas 14.456,36 ha, DAS Oyo luas 9.915,30 ha dan Gumuk pasir pantai luas 1.645,54 ha. Sungai-sungai tersebut merupakan sungai yang berair sepanjang tahun (permanen), meskipun untuk sungai yang kecil pada musim kemarau debit airnya relatif sedikit.
Salah satu fungsi dari masing-masing DAS adalah untuk mengairi areal pertanian. Di samping itu air sungai juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2% 2%
15%
13%
3% 51%
14%
Renzina
Aluvial
Grumusol
Latosol
Mediteran
Regosol
Lithosol
Tabel 2. 6.
Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bantul Tahun 2012
NO DAS SUBDAS LUAS (Ha) SUB LUAS
DAS(Ha)
LUAS LAHAN
YANG DIAIRI
(Ha)
SUB LUAS ONCORAN
(SAWAH-Ha)
1 PROGO
Progo 3,952.79 1,459.20
Bedog 7,111.44 1,108.36
Timoho 3,392.12 894.89
14,456.36 3,462.45
2 OPAK
Opak 7,044.72 2,059.02
Buntung 888.43 251.28
Code 144.50 754.13
Gadjahwong 1,966.03 867.73
Gawe 981.80 199.34
Kuning 282.83 165.23
Bulus 1,927.40 1,247.36
Belik 532.60 354.65
Tambakbayan 958.61 611.29
Winongo Kecil 4,346.25 2,700.72
Winongo 5,594.68 2,753.70
24,667.85 11,964.45
3 OYO
Oyo 3,923.72 103.97
Plilan 791.35 337.00
Celeng 2,526.90 176.53
Kedungmiri 916.15 88.65
Dlingo 1,757.18
-9,915.30 706.15
4 GUMUK PASIR PANTAI 1,645.54
-1,645.54
JUMLAH 50,685.05 50,685.05 16,133.05 16,133.05
2.1.1.6 Kondisi Klimatologi
Tabel 2.7
Data Curah Hujan 2008-2012 di Kabupaten Bantul
No. Bulan 2008 2009 2010 2011 2012
MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH
1 Januari 649 31 188 17 181 17 178 15 182 18
2 Februari 365 29 194 12 193 13 317 8 128 9
3 Maret 350 31 109 10 136 10 146 15 153 12
4 April 163 21 129 10 143 12 111 13 127 11
5 Mei 20 7 0 0 39 6 135 4 21 3
6 Juni 4 1 45 16 41 4 43 4 31 3
7 Juli 0 0 0 2 1 3 6 2 4 2
8 Agustus 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 September 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Oktober 162 19 0 0 0 0 7 2 0 0
11 November 372 27 196 8 167 9 527 16 233 7
12 Desember 276 27 225 10 211 13 396 14 211 14 Jumlah 2361 193 1086 85 1111 87 1865 91 1090 79
Rata-rata 197 16 91 7 93 7 155 8 91 7
Sumber: Dipertahut, 2013
Keterangan:
- Bulan basah: curah hujan lebih dari 100 mm - Bulan lembab: curah hujan antara 60-100 mm - Bulan kering: curah hujan kurang dari 60 mm
Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Bantul dapat dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen. Pada musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian Barat Laut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di Tenggara.Data curah hujan disajikan sebagai perbandingan adalah data pada Tahun 2008-2012 .
2.1.1.7 Penggunaan Lahan
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bantul Tahun 2010 - 2030 rencana pola ruang Kabupaten Bantul terdiri atas:
1. Kawasan Lindung Kabupaten
Rencana pengembangan Kawasan Lindung Kabupaten meliputi :
a. Kawasan hutan lindung
Penyebaran kawasan hutan lindung meliputi Desa Dlingo, Desa Mangunan, Desa Muntuk, Desa Jatimulyo, Desa Temuwuh, Desa Terong Kecamatan Dlingo, Desa Wonolelo Kecamatan Pleret, Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri, dan Desa Srimulyo Kecamatan Piyungan.
b. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya yaitu kawasan resapan air.
c. Kawasan perlindungan setempat
Kawasan perlindungan setempat adalah kawasan sempadan sungai, kawasan sempadan pantai, kawasan sekitar mata air, dan ruang terbuka
hijau perkotaan kabupaten.
d. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya e. Kawasan rawan bencana
Kawasan rawan bencana meliputi kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan longsor, kawasan rawan banjir, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan kekeringan.
2. Kawasan budidaya Kabupaten
Rencana pengembangan kawasan budidaya Kabupaten terdiri atas: a. Kawasan peruntukan hutan rakyat
Kawasan peruntukan kehutanan (hutan rakyat) direncanakan seluas kurang lebih 8.545 Hektar atau 16,86% dari luas wilayah Kabupaten Bantul. b. Kawasan peruntukan pertanian
Kawasan peruntukan pertanian meliputi kawasan pertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan kering, dan kawasan peternakan. Kawasan pertanian lahan basah di Kabupaten direncanakan seluas kurang lebih
13.324 Hektar atau 26,29%. Kawasan pertanian lahan kering di Kabupaten direncanakan seluas kurang lebih 5.247 Hektar atau 10,35% dari luas wilayah Kabupaten Bantul. Kawasan peternakan di Kabupaten direncanakan sebagai berikut:
1) Peternakan itik di Kecamatan Kretek, Kecamatan Bantul, dan Kecamatan Sanden;
2) Peternakan sapi perah di Kecamatan Srandakan, Kecamatan Banguntapan, Kecamatan Jetis, dan Kecamatan Sedayu;
3) Peternakan sapi potong tersebar di hampir seluruh kecamatan; 4) Peternakan babi di Kecamatan Srandakan dan Kecamatan Kasihan; 5) Peternakan kambing tersebar di hampir seluruh kecamatan;
6) Peternakan kerbau di Kecamatan Sanden dan Kecamatan Banguntapan; 7) Peternakan kelinci di Kecamatan Sanden
e. Kawasan peruntukan industri f. Kawasan peruntukan pariwisata g. Kawasan peruntukan permukiman h. Kawasan peruntukan lainnya
Berdasarkan kondisi lahan di Kabupaten Bantul terdapat luas lahan 506,85 Km2
yang terbagi dalam beberapa klasifikasi penggunaan lahan yang terdiri dari pekarangan, sawah, tegal, dan kebun campur. Penggunaan lahan adalah informasi yang menggambarkan sebaran pemanfaatan lahan yang ada di Kabupaten Bantul. Pada peta penggunaan lahan pada Gambar 2.3 terlihat bahwa penggunaan lahan terbesar adalah untuk kebun campur sebesar 32,55% dan sawah sebesar 31,22%, sedangkan yang terkecil adalah tambak sebesar 0,06%. Pemanfaatan kebun campur terbesar ada di Kecamatan Pajangan yaitu seluas 2.295,00 Ha, sedangkan persawahan terluas terdapat di Kecamatan Sewon dengan luas 1.408,11 Ha.
Sementara itu, pemanfaatan tambak hanya berada di wilayah Kecamatan Srandakan seluas 30 Ha.
Sumber: Bappeda Kabupaten Bantul, 2013 (data diolah)
Gambar 2. 3. Peta Penggunaan Lahan
2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah
Secara geografis dan administratif Kabupaten Bantul memiliki potensi pengembangan, hal ini berdasarkan:
Batas wilayah yang tidak berbatas secara fisik, meski terdapat ring road namun perkembangan saat ini telah melewati batas tersebut,
Topografi kawasan yang relatif datar,
Tidak terdapat kendala terhadap kawasan resapan air,
Banyaknya daerah wisata yang belum tergarap secara optimal untuk pengembangan sektor hotel dan restoran.
Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bantul Tahun 2010 – 2030, potensi pengembangan kawasan di Kabupaten Bantul dilakukan dengan penetapan kawasan strategis kabupaten yang meliputi kawasan strategis ekonomi, kawasan strategis sosio - kultural, dan pengembangan kawasan strategis lingkungan hidup. Kawasan strategis ekonomi kabupaten meliputi:
1. Kawasan Strategis Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY); 2. Kawasan Strategis Bantul Kota Mandiri (BKM);
3. Kawasan Strategis Pantai Selatan,Pengembangan Pesisir dan Pengelolaan Hasil Laut Pantai Depok, Pantai Samas, Pantai Kuwaru, dan Pantai Pandansimo;
4. Kawasan Strategis Industri Sedayu; dan 5. Kawasan Strategis Industri Piyungan.
Sedangkan kawasan strategis sosio – kultural kabupaten meliputiKawasan Strategis Desa Wisata dan Kerajinan Gabusan – Manding – Tembi (GMT) dan Kasongan –
Jipangan – Gendeng – Lemahdadi (Kajigelem). Dan kawasan strategis lingkungan hidup kabupaten meliputi:
1. Kawasan Strategis Agrowisata di Kecamatan Dlingo dan Agropolitandi Kecamatan Sanden, Kecamatan Kretek, Kecamatan Pundong, Kecamatan Imogiri, dan Kecamatan Dlingo; dan
2. Kawasan Strategis Gumuk Pasir Parangtritis yang berfungsi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian.
2.1.3 Wilayah Rawan Bencana
Wilayah Kabupaten Bantul memiliki potensi rawan bencana alam seperti: rawan banjir, bencana tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan kekeringan. Gempa bumi dahsyat yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 berdampak hampir di seluruh
mengikuti bencana gempa bumi tahun 2006 dan terjadi di kawasan pantai selatan Kabupaten Bantul yang meliputi Kecamatan Kretek, Sanden, dan Srandakan. Kekeringan di Kabupaten Bantul hampir terjadi setiap tahun dan terjadi di Kecamatan Dlingo, Piyungan, Pajangan, Pleret, Imogiri, dan Pundong.
Tabel 2.8.
Kawasarawan bencana di Kabupaten BantulMenurut Perda Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011Tentang RTRW Kabupaten Bantul
Tahun 2010–2030
NO JENIS BENCANA LOKASI YANG BERPOTENSI
1. Kawasan rawan gempa bumi Di seluruh kecamatan
2. Kawasan rawan longsor Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan, Pundong.
3. Kawasan rawan banjir Kretek, Srandakan, Sanden, Pandak, Jetis, Pundong, Pleret.
4. Kawasan rawan gelombang pasang
Kretek, Srandakan,Sanden, sebagian Pandak, sebagian Pundong, sebagian Imogiri, sebagian Jetis, sebagian Bambanglipuro.
5. Kawasan rawan kekeringan
Dlingo, sebagian Piyungan, sebagian Pajangan, sebagian Pleret, sebagian Imogiri, sebagian Pundong, sebagian Sedayu, sebagian Kasihan, dan sebagian Kretek.
Sumber : Bappeda, 2013
Upaya penanggulangan bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa ataupun kerugian yang lebih besar dilakukan dengan penghijauan di kawasan rawan longsor dan sekitar pantai, pembangunan talud, drainase, pembangunan prasarana air bersih, droping air, dan sebagainya.
Selain itu, pembangunan berbasis pengurangan risiko bencana mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan tinggi bencana gempa bumi tidak dibangun untuk permukiman dan fasilitas umum,
1. Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan sedang, permukiman haruslah
mempunyai struktur bangunan yang kuat, begitu pula sekolah, puskesmas, tempat ibadah dan toko-toko,
2. Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan gempa, disiapkan sekolah siaga bencana, desa siaga bencana, bahkan kantor siaga bencana.
2.1.4 Demografi
Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) Tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Bantul tercatat sejumlah 911.503 jiwa. Berdasarkan estimasi, jumlah penduduk Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 ini mencapai 930.276 jiwa.Adapun jumlah penduduk laki-laki dan perempuan Kabupaten Bantul Tahun 2012 hampir sama. Guna melakukan kebijakan yang berprespektif gender maka sangat diperlukan
pengetahuan mengenai persebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin. Kebijakan pada persebaran penduduk yang seimbang antara laki-laki dan perempuan sudah seharusnya berbeda dengan persebaran yang didominasi salah satunya. Dengan demikian kebijakan yang diambil lebih efektif. Dari tabel dibawah terlihat bahwa perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan Kabupaten Bantul Tahun 2012 hampir sama.
Sumber: BPS, 2013 (Estimasi penduduk dengan laju pertumbuhan SP2000-SP2010, angka sementara)
Gambar 2. 4.
Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan di Kabupaten Bantul
Kepadatan penduduk geografis menunjukkan jumlah penduduk pada suatu daerah setiap kilometer persegi. Selain itu, kepadatan penduduk geografis menunjukkan penyebaran penduduk dan tingkat kepadatan penduduk di suatu daerah.
Pada Gambar 2.5terlihat bahwa penyebaran penduduk di Kabupaten Bantul tidak merata, daerah yang mempunyai kepadatan penduduk geografis tinggi terletak di wilayah Kabupaten Bantul yang berbatasan dengan kota Yogyakarta yang meliputi kecamatan Banguntapan (4.383 jiwa/km2), Sewon (3.937 jiwa/km2), dan Kasihan
(3.533 jiwa/km2), sedangkan kepadatan penduduk geografis terendah terletak di
Kecamatan Dlingo (641 jiwa/km2). Kepadatan penduduk geografis Kabupaten
Bantul Tahun 2012 mencapai 1,835jiwa per km2.
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000
Srandakan Kretek Bambanglipuro Bantul Imogiri Pleret Banguntapan Kasihan Sedayu
Perempuan