• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi Berita Layanan Publik Dalam Program “Sumut Dalam Berita” Televisi Republik Indonesia (Tvri) Sumatera Utara Periode Januari - Maret 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Konstruksi Berita Layanan Publik Dalam Program “Sumut Dalam Berita” Televisi Republik Indonesia (Tvri) Sumatera Utara Periode Januari - Maret 2016"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Paradigma Konstruktivis

Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kontruktivis. Paradigma konstruktivis hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan. Paradigma ini menyatakan bahwa (1) dasar untuk menjelaskan kehidupan, peristiwa sosial dan manusia bukan ilmu dalam kerangka positivistik, tetapi justru dalam arti common sense. Menurut mereka, pengetahuan dan pemikiran awam berisikan arti dan makna yang diberikan individu terhadap pengalaman dan kehidupannya sehari-hari, dan hal tersebutlah yang menjadi awal penelitian ilmu-ilmu sosial; (2) pendekatan yang digunakan adalah induktif, berjalan dari yang spesifik menuju yang umum, dari yang konkrit menuju yang abstrak; (3) ilmu bersifat idiografis bukan nomotetis, karena ilmu mengungkap bahwa realitas tertampilkan dalam simbol-simbol melalui bentuk-bentuk deskriptif; (4) pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui indra karena pemahaman mengenai makna dan interpretasi adalah jauh lebih penting; dan (5) ilmu tidak bebas nilai. Kondisi bebas nilai tidak menjadi sesuatu yang dianggap penting dan tidak pula mungkin dicapai (Sarantakos dalam Hayuningrat, 2010).

(2)

realitas dalam tayangan Sumut Dalam Berita yang dirancang oleh redaksi merupakan realitas yang sudah dikonstruksikan dan bukan realitas yang sebenarnya.

2.2 Penelitian Sejenis Terdahulu

1) Haposan Simamora dari Universitas Diponegoro tahun 2010 melakukan penelitian mengenai „Konstruksi Pemberitaan LPP TVRI Jateng Tentang

Pemilihan Walikota Semarang 2010.‟ Penelitian yang menggunakan

analisis framing model Gamson dan Modigliani ini menunjukkan bahwa LPP TVRI Jateng dalam menampilkan berita menjelang pemilihan walikota Semarang tahun 2010, masih cenderung merepresentasikan institusi, seperti KPU dan Panwas sehingga terkesan berfungsi sebagai media promosi instansi bersangkutan. Disisi lain LPP TVRI kurang tertarik dengan berita-berita yang terkait dengan “rekam jejak” para calon walikota dan wakilnya.

2) Alem Febri Sonni dari Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2003 melakukan penelitian berjudul „Analisis Kebijaksanaan Redaksi Televisi

(3)

tayangan TVRI Makassar adalah rendahnya kualitas sumber daya wartawan yang dimiliki TVRI Makassar.

3) Eva-Karin Olsson dari National Center for Crisis Management Research and Training (CRISMART), Swedish National Defence College, Sweden. Penelitian tahun 2009 ini berjudul “Media Crisis Management in

Traditional and Digital Newsrooms” yang membandingkan bagaimana

reaksi dua model redaksi pemberitaan yaitu redaksi tradisional dan redaksi digital dalam menghadapi peristiwa-peristiwa krisis. Hasilnya adalah redaksi tradisional dengan rutinitas harian yang sudah berjalan otomatis terbukti lebih efektif dalam menghadapi peliputan situasi-situasi krisis. Hal ini disebabkan oleh struktur redaksi yang terpusat dan satu komando membuat respon yang lebih baik terhadap peristiwa krisis. Selain itu, pengalaman juga menjadi penentu dimana redaksi tradisional memiliki „guru‟ dari kasus-kasus sebelumnya, sehingga menjadi dasar bagi mereka

untuk mengambil keputusan.

2.3 Uraian Teori

2.3.1 Teori Konstruksi Realitas Media

(4)

Realitas sosial memiliki makna manakala dikonstruksi dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu secara objektif. Realitas sosial adalah pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang di masyarakat seperti konsep, kesadaran umum, wacana publik sebagai hasil konstruksi sosial.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam bukunya berjudul

The Social Construction of Reality : A Treatise in the Sociological of

Knowledge mengatakan bahwa realitas sosial adalah proses dialektika yang berlangsung dalam proses simultan : 1) eksternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia, 2) objektivasi, yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusinalisasi, (3) internalisasi, yaitu proses di mana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya (Bungin, 2007 : 83).

(5)

realitas objektif dan simbolis ke dalam individu melalui proses internalisasi (Subiakto dalam Bungin, 2007 : 89).

Eksternalisasi terjadi pada tahap yang sangat mendasar dalam satu pola perilaku interaksi antara individu dengan produk-produk sosial masyarakatnya. Maksud dari proses ini adalah ketika sebuah produk sosial telah menjadi sebuah bagian penting dalam masyarakat yang setiap saat dibutukan oleh individu, maka produk sosial itu menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang untuk melihat dunia luar. Dengan demikian, tahap eksternalisasi ini berlangsung ketika produk sosial tercipta di dalam masyarakat, kemudian individu mengeksteranlisasikan (penyesuaian diri) ke dalam dunia sosiokulturalnya sebagai bagian dari produk manusia.

(6)

Internalisasi digambarkan sebagai pemahaman atau penafsiran yang langsung dari suatu peristiwa objektif sebagai pengungkapan suatu makna, artinya sebagai manifestasi dari proses-proses subjektif orang lain yang dengan demikian menjadi bermakna secara subjektif bagi individu itu sendiri. Dengan demikian, internalisasi dalam arti umum merupakan dasar bagi pemahaman mengenai „sesama saya‟,

yaitu pemahaman individu dan orang lain serta pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial (Bungin, 2007 : 94).

2.3.2 Jurnalistik dan Berita

Jurnalistik berasal dari kata journal yang berarti catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari. Journal berasal dari bahasa Latin diurnalis yang artinya harian atau tiap hari. Kata tersebutlah yang melahirkan kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik.

MacDougall (dalam Kusumaningrat & Kusumaningrat, 2014: 15) menyebutkan bahwa jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkan peristiwa. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism : What Newspeople Should Know and The Public Should Expect (2001) menyebutkan terdapat 9 elemen dalam jurnalisme :

(7)

3) Esensi dari jurnalistik adalah disiplin verifikasi

4) Jurnalis harus menjaga independensi dari apa yang diliputnya 5) Jurnalis harus menjadi monitor yang independen atas kekuasaan 6) Jurnalistik harus menyediakan forum bagi kritik dan komentar

publik

7) Jurnalistik harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan

8) Jurnalis harus menjaga beritanya komprehensif dan proporsional 9) Jurnalis harus menggunakan hati nurani

Dari segi jurnalistik, terutama dalam hal pemberitaan sistem pers Indonesia selama ini memiliki kemiripan dengan sistem pers Barat, misalnya dalam hal memilih dan menyajikan berita, terutama dengan maksud menarik perhatian khalayak. Secara khusus bisa dikatakan sistem pers Indonesia mirip dengan sistem pers Belanda dengan organisasi politik yang banyak, yang masing-masing memiliki atau sekurang-kurangnya mempengaruhi surat kabar (media massa).

(8)

Definisi lain diungkapkan oleh Doug Newson dan James A Wollert dalam Media Writing : News for the Mass Media yang menyebut berita adalah apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat (dalam Sumadiria, 2005 : 64).

Data dan informasi merupakan bahan mentah bagi aktivitas jurnalisme untuk menghasilkan sebuah berita. Namun di era informasi saat ini, konten berita berdasarkan data dan informasi sederhana saja tidak akan cukup. Ketika era informasi terus berubah, begitupun dengan jurnalis dan eksekutif editorial harus bekerja dengan „pengetahuan‟.

Pengetahuan adalah hasil penyaringan atas informasi dan meletakkannya dalam konteks dan bentuk yang lebih berguna (Quinn, 2002 : 3).

Melihat perkembangan informasi saat ini, maka ketersediaan data sebagai bahan mentah jurnalistik menjadi melimpah. Akhirnya „manajemen pengetahuan‟ menjadi sangat penting bagi media massa

karena media massa harus menjadi organisasi yang berdasar pada informasi. Manajemen pengetahuan meliputi bagaimana menyimpan, memindahkan dan membagi informasi dalam bentuk yang berguna baik sekarang maupun di kemudian hari.

Steve Yelvington (Quinn, 2002) menyatakan bahwa tantangan media massa saat ini adalah pergeseran yang sangat radikal dari kelangkaan informasi menjadi melimpahnya informasi. Artinya, peran baru jurnalis adalah menjadi pemandu daripada sekedar gatekeeper.

(9)

paham menentukan informasi yang memiliki „nilai berita‟ yang layak

dijadikan sebuah berita.

2.3.3 Nilai Berita (Nilai Berita)

Editor Daily Telegraph, Max Hastings (Brighton & Foy, 2007) pernah menyatakan bahwa : “pembaca (khalayak) tidak mempunyai ide

yang rasional mengenai apa yang mereka lakukan atau yang tidak mereka inginkan dalam surat kabar mereka, mereka wakilkan dengan mempekerjakan editor untuk memutuskan bagi mereka”. Artinya

keputusan untuk menentukan apa yang diberikan pada khalayak sepenuhnya ditentukan oleh pihak di dalam media massa.

Konsep mengenai nilai berita pertama kali merujuk pada sejumlah kriteria yang disampaikan oleh Johan Galtung dan Mari Ruge. Keduanya berpendapat bahwa penyiaran perlu menciptakan hubungan kultural dengan khalayaknya, jika tidak penyiaran hanya menjadi suatu bentuk „noise‟ yang tidak berarti (Brighton & Foy, 2007: 7).

Kriteria Galtung dan Ruge yang diperkenalkan tahun 1965 antara lain :

1. Relevance : apakah dampak terhadap khalayak potensial 2. Timeliness : apakah terjadi akhir-akhir ini?

3. Simplification : apakah dapat dijelaskan secara sederhana dan lugas?

(10)

5. Unexpectedness : apakah kejadian tersebut tidak biasa dan tidak dapat direncanakan?

6. Continuity : apakah kejadian tersebut mrupakan perkembangn baru dari peristiwa yang sudah ada sebelumnya?

7. Composition : apakah sesuai dengan media informasi tersebut dimuat

8. Elite peoples : apakah subjek berita merupakan sosok terkenal? 9. Elite nations : apakah memperngaruhi negara kita atau negara

yang dianggap penting?

10. Negativity : apakah berita buruk selalu menjadi berita bagus bagi jurnalis?

Konsep ini diperkaya kembali oleh Galtung dan Ruge yang kemudian menambahkan sejumlah kriteria baru bagi konsep awal nilai berita (Brighton & Foy, 2007: 7) :

1. Frequency : rentang waktu yang dibutuhkan bagi sebuah peristiwa untuk terbuka

2. Amplitude : hingga sejauh mana ambang sebuah peristiwa luar biasa dan tidak terduga

3. Clarity : semakin sedikit ambiguitas sebuah kejadian atau isu, maka akan semakin diperhatikan oleh khalayak

4. Meaningfulness : relevansi kultural dan harmoni serta disharmoni sosial sebuah peristiwa

(11)

6. Continuum : satu kali sebuah peristiwa menjadi berita, maka hal tersebut sudah mendapatkan momentumnya

7. Composition : relevansi secara internal antara item berita dengan program atau media publikasinya.

Selanjutnya Denis MacShane (Brighton & Foy, 2007: 8), seorang reporter BBC mencoba menyusun beberapa kriteria yang bisa dipakai untuk menentukan apakah sebuah peristiwa layak dijadikan sebuah berita berdasarkan pemahamannya sebagai jurnalis: 1) konflik; 2) kesulitan dan bahaya terhadap masyarakat; 3) keluarbiasaan (keganjilan dan kebaruan); 4) skandal; 5) individualisme. Selanjutnya tahun 2001, konsep Galtung dan Ruge kembali disempurnakan oleh Tony Harcup dan Deirdre O‟Neill yang menyusun kriteria : 1) elit

penguasa; 2) selebriti; 3) hiburan; 4) kejutan; 5) berita baik; 6) berita buruk; 7) besarnya peristiwa; 8) relevansi; 9) keberlanjutan 10) media agenda. Harisson akhirnya merangkum pendapat sejumlah ahli tersebut mengenai nilai berita : 1) ketersediaan gambar atau video (untuk televisi); 2) dramatis, sensasional; 3) nilai kebaruan, 4) kesederhanaan laporan; 5) skala besar; 6) unsur negatif (kekerasan, konfrontasi,

malapetaka); 7) tak terduga; 8) atau yang diharapkan; 9) relevansi / makna; 10) peristiwa serupa; 11) program seimbang, 12) orang/negara elit, 13) daya tarik kemanusiaan.

(12)

membedakan istilah nilai berita „formal‟ dan nilai berita „ideologis‟.

Nilai berita formal versi Hall adalah (Brighton & Foy, 2007: 10) : 1) Linkage, apakah peristiwa berkaitan atau bisa dikaitkan dengan

peristiwa sebelumnya?

2) Recency, apakah peristiwa terjadi akhir-akhir ini?

3) Newsworthiness of event/person, haruslah memicu pertanyaan-pertanyaan baru dan keingintahuan

Sedangkan terkait dengan nilai berita ideologis, Hall mengkontraskan struktur dasar sebuah berita dan peristiwa yang dilaporkan dengan „struktur dalam‟ yang tersembunyi. Struktur dalam

merupakan manifestasi dari nilai-nilai atau ideologi yang dianut atau disepakati. Ini melibatkan apa yang disebutnya dengan „konsensus

pengetahuan‟ dunia yang memberikan kerangka bagi sebuah berita.

Terkait dengan pembahasan akan nilai-nilai ideologis yang menentukan berita, juga muncul pendapat Young yang mengungkapkan adanya teori manipulatif. Ini mengacu pada manipulasi agenda media secara sadar yang dilakukan oleh pemilik media massa atau kekuatan kapitalisme pasar. Namun Hall tidak sependapat dengan pandangan Young yang melihat „konsensus pengetahuan‟ sebagai hasil konspirasi praktisi

media massa dengan para jurnalisnya.

Hall pun menambahkan penguatan pada sistem nilai berita : 1. Tekanan waktu di ruang redaksi, mengarah pada meningkatnya

(13)

2. Gagasan mengenai ketidakberpihakan, keseimbangan dan objektivitas, mengarah pada semakin besarnya ketergantungan akan „narasumber kredibel‟ yang dalam prakteknya hanya

memperkuat kekuatan yang sedang berkuasa.

Pandangan lain yang juga cukup berpengaruh disampaikan oleh Herbert Gans dalam bukunya Deciding What‟s News tahun 1979 yang menyebutkan aspek-aspek yang menentukan dan proses seleksi isu dan peristiwa (Brighton & Foy, 2007: 11) :

1. Keputusan jurnalistik (journalistic judgement)

2. Permintaan organisasi (organisational requirements) : faktor rating dan share yang mempengaruhi pengiklan, struktur dan hierarki organisasi yang berpengaruh pada pemilihan berita.

3. Teori cermin (mirror theory) : gagasan bahwa jurnalisme dan jurnalis menjadi cermin bagi alam

4. Determinasi eksternal (external determination) : melibatkan faktor-faktor seperti teknologi, ekonomi, ideologi, budaya, penonton dan narasumber.

2.3.4 Konten Lokal (Local Content)

(14)

Berdasarkan hukum yang berlaku secara internasional, pluralisme menjadi salah satu aspek penting dalam kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat. Dengan demikian, konten lokal dalam penyiaran yang mendukung keberagaman berekspresi akan menjadi konsisten dengan kebebasan berekspresi. Setidaknya terdapat beberapa hal mengenai konten lokal dalam penyiaran (Bhattacharjee, 2001) :

a. Bertujuan untuk mendukung pluralisme

Aturan konten lokal yang dijadikan sebagai alat kontrol pemerintah yang justru melemahkan keberagaman adalah tidak sah, apalagi bila dirancang untuk kepentingan media milik negara atau milik swasta yang cenderung membela pemerintah, juga untuk menjauhkan media asing yang kritis terhadap pemerintah dan pengusaha elit tertentu. Aturan ini juga tidak sah bila dijadikan alat untuk menekan satu ras, etnis, agama, bahasa atau kelompok-kelompok tertentu pada suatu negara.

b. Diterapkan melalui hukum yang layak

Aturan konten lokal harus diatur dalam regulasi sebagai bagian dari aturan penyiaran. Regulator penyiaran pun harus adil dan bebas kepentingan dalam melakukan pengawasan dan menegakkan peraturan.

c. Realistis dan praktis, disesuaikan dengan sektor penyiaran tertentu

(15)

Kriteria-kriteria secara khusus bisa diterapkan sesuai dengan jenis-jenis media penyiaran misalnya televisi dan radio; atau jenis-jenis program seperti drama, film, dokumenter, program pendidikan, program anak dan musik; atau menyesuaikan jenis produksi misalnya produksi sendiri atau produksi independen.

d. Diimplementasian secara progresif

Penerapan aturan konten lokal dilakukan secara bertahap dan meningkat untuk memberi waktu bagi media penyiaran menyesuaikan diri dengan aturan tersebut. Bila dipaksakan secara tegas justru akan melemahkan aturan itu sendiri, kelangsungan hidup sektor penyiaran dan pluralisme.

Banyak negara yang telah menerapkan aturan yang melindungi dan mendukung sektor penyiaran lokal dan program lokal. Pada negara-negara tersebut, kontrol secara lokal dan kepemilikan lokal sama pentingnya dengan produksi siaran secara lokal untuk mendukung pluralisme dan melindungi identitas, kesatuan serta kedaulatan bangsa.

Konten lokal secara umum didefinisikan sebagai program yang dirancang dalam kontrol kreatif nasional sebuah negara (Bhattacharjee, 2001). Beberapa negara seperti Australia, Kanada maupun Afrika Selatan menerapkan definisi yang berbeda-beda namun cukup mendetail mengenai konten lokal. Misalnya di Australia diatur bahwa „produser program haruslah seseorang warga negara Australia‟,

(16)

Australia‟ dan sebagainya. Aturan mengenai kuota konten lokal dalam

penyiaran pun bervariasi pada masing-masing negara.

2.3.5 Theories of Influences on Mass Media Content

Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese dalam Mediating The Message : Theories of Influences on Mass Media Content (1996) menyebutkan terdapat sejumlah tingkatan faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan di ruang redaksi dalam menentukan isi media, yaitu : level individual, level rutinitas media, level organisasi, level ekstramedia dan level ideologi.

Gambar 2.1

Theories of Influences on Mass Media Content

Sumber : Shoemaker & Reese, 1996: 60

(17)

latar belakang, pengalaman, sikap, nilai, agama, aturan, etika dan kekuasaan komunikator dalam isi media (Shoemaker & Reese, 1996 : 72).

Sementara itu pada tingkatan rutinitas media, ada tiga sumber utama rutinitas yang menjadi semacam „paksaan‟ bagi media dalam

(18)

jurnalis mendapatkan gambar dan keterangan dari narasumber (Shoemaker & Reese, 1996 : 105-123).

Tingkatan ketiga adalah pengaruh yang diberikan oleh organisasi media. Misalnya struktur organisasi media, tidak hanya struktur di dalam redaksi melainkan juga pada tingkatan yang lebih tinggi bahkan hingga tingkat kepemilikan media. Kepemilikan pun akan berimbas pada orientasi media, sebagian media bertujuan mencari keuntungan, namun sebagian media lain ingin menghasilkan karya-karya berkualitas, pengakuan secara profesional atau bertujuan melayani kebutuhan publik. Sosiolog media seperti Herbert Gans dan Leon Sigal (dalam Shoemaker & Reese, 1996 : 139) menyatakan sangat sulit untuk mempertemukan permintaan audiens dan pendapatan dari iklan dengan kualitas sebuah peliputan. Dalam kasus lain bahkan seringkali ditemukan peliputan peristiwa besar menjadi terhambat dan tidak maksimal karena keterbatasan dana.

(19)

narasumber resmi memiliki hal-hal penting untuk disampaikan dan media massa cenderung untuk menerima apa yang disampaikan narasumber tersebut (Shoemaker & Reese, 1996: 172).

Tingkatan kelima adalah level ideologi. Pada level ini akan timbul pertanyaan kepentingan siapa yang terkait dengan rutinitas dan kerja media massa, kekuasaan dalam masyarakat dan bagaimana kekuasaan tersebut berperan dalam media massa (Shoemaker & Reese, 1996: 215).

2.3.6 Ruang Publik (Public Sphere)

Pada dasarnya public sphere merefleksikan bahwa media massa benar-benar menjadi a social institution yang mampu memfasilitasi pembentukan opini dengan menjadi wadah independen untuk perdebatan publik, dimana media tidak terkontrol oleh negara dan pasar (capital owner).

Konsep mengenai public sphere (ruang publik) berasal dari pemikiran Jurgen Habermas tahun 1962. Konsep ini merujuk pada gagasan yang dikembangkan Habermas terhadap penggambaran

bourgeois public sphere di Inggris pada abad ke-17. Public sphere

(20)

Hal ini muncul karena adanya perubahan kultur warga dalam menanggapi regulasi maupun realitas politik abad ke-18, seiring dengan semakin baiknya intelektualitas warga. Warga menjadi melek media, memiliki akses terhadap karya-karya bermutu, kemudahan dalam mendapatkan buku-buku sastra dan juga konsumsi terhadap jurnalisme yang lebih kritis melalui berita yang dipublikasikan. Ruang publik ini terpisah dari domain otoritas kekuasaan yang ada saat itu di Eropa. Ruang publik bahkan saat itu diartikan sebagai kekuatan baru dalam menyeimbangkan dan mengkritisi kebijakan yang merupakan produk otoritas yang berkuasa (Nasrullah, 2012: 35).

Bila awalnya ruang publik secara historis muncul di tengah-tengah masyarakat Eropa, akan tetapi ruang publik baru yang dikupas oleh Habermas tidak hanya terjadi di warung kafe sebagaimana terjadi di Inggris dan salon di Perancis, melainkan juga terjadi di ruang-ruang baca maupun tempat-tempat pertemuan khusus dengan keterlibatan warga yang jauh lebih berbeda secara komposisi, adanya debat yang tidak berhenti pada debat kusir dan juga orientasi dari topik-topik yang diangkat sebagai fokus debat.

Habermas memunculkan apa yang disebutnya sebagai „institutional criteria‟ yang dimaksudkan untuk memperjelas konsep

(21)

berkuasa, tetapi adanya kesempatan yang sama dalam mengungkapkan atau mengkritisi sebuah realitas. Kriteria ini bukan pula upaya untuk menciptakan publik yang setara di kafe, salon atau di antara anggota perkumpulan. Ruang publik lebih menekankan adanya ide-ide yang terlembagakan dan mendapatkan klaim secara objektif sehingga bisa diterima oleh publik secara luas, yang jika tidak terealisasikan minimal ide tersebut melekat secara sadar di benak publik.

Kriteria kedua adalah fokus pada domain of common concern. Realitas historis menunjukkan bahwa beberapa domain hanya dikuasai penafsirannya oleh otoritas yang berkuasa dan atau oleh kalangan gereja. Padahal domain tersebut bisa dibincangkan dengan melibatkan publik secara lebih luas. Filsafat, seni dan sastra yang diklaim hanya boleh diinterpretasikan dan menjadi kewenangan eksklusif dalam publisitas oleh kalangan gerejawi menjadi sesuatu yang bisa diakses oleh publik. Karya-karya tersebut bukan lagi berada dalam kebutuhan untuk bisa diakses, melainkan sudah menjadi komoditas yang diperdagangkan oleh industri. Distribusi karya-karya tersebutlah yang menjadi bahan diskusi kritis di ruang publik. Interpretasi menjadi lebi beragam dan bisa berasal dari siapa saja dalam anggota ruang publik tersebut.

(22)

mutlak anggota ruang publik, melainkan ketika disebarkan melalui media maka publik dapat pula mengaksesnya. Isu-isu yang diangkat sebagai bahan diskusi juga menjadi lebih umum karena setiap orang bisa mengakses sumber-sumber yang terkait dengan isu tersebut. Setiap orang di ruang publik pada dasarnya menemukan dirinya bukan sebagai publik itu sendiri, melainkan seolah-olah menjadi juru bicara dan bahkan sebagai guru dari apa yang dikatakan sebagai publik itu sendiri. Habermas menyebutnya sebagai perwakilan atau bentuk baru representasi borjuis.

Jika ditarik kesimpulan sederhana, ruang publik Habermas merupakan ruang yang bekerja dengan memakai landasan wacana moral praktis yang melibatkan interaksi secara rasional maupun kritis dibangun dengan tujuan untuk mencari pemecahan masalah-masalah politik. Walau karya Habermas fokus pada ruang publik masyarakat borjuis, namun melalui batu loncatan inilah ruang publik bisa dipahami sebagai ruang yang menyediakan dan melibatkan publik secara lebih luas dalam mendiskusikan realitas yang ada.

(23)

memposisikan wanita di dalam ruang intim (intimate sphere) rumah dan keluarga. Semua ini terkait dengan konsep manusia dalam ruang publik yang sedemikian reduktif dan restriktifnya karena terbatas kepada kaum borjuis, yaitu pria kulit putih pemilik properti.

Konsep manusia juga “dimonopoli” oleh sosok kaum borjuis karena mereka secara sepihak memandang diri mereka sebagai subyek alami dari humanitas. Kepentingan mereka dalam mempertahankan ranah pertukaran komoditas dan kerja sosial dengan demikian sesungguhnya hanyalah mencerminkan kepentingan partikular yang hanya dapat berlaku melalui penggunaan kekuatan kepada orang-orang Jadi diskusi yang diselenggarakan di ruang publik justru hanya merepresentasikan kepentingan parsial kaum borjuis.

(24)

dalam terang ideal tersebut, harapan akan transformasi ke arah yang lebih progresif dan mendekati harapan normatif juga selalu dinyalakan.

Dalam kebebasan seperti sekarang ini, di mana orang sudah diberikan bahkan dijamin haknya oleh undang-undang untuk menyampaikan pendapatnya secara bebas tentu secara tidak langsung telah memberi kontribusi bagi terwujudnya public sphere. Hanya saja, untuk mengorganisasi, memobilisasi dan mensosialisasi opini tersebut menjadi sebuah opini kolektif dan memiliki kekuatan real untuk memonitor sekaligus mengkritisi kebijakan negara membutuhkan mediator yang juga dapat dijamin independensinya dari himpitan pasar dan negara. Mediator tersebut secara strategis akan menempatkan media, baik cetak maupun elektronik menjadi pilihan bagi proses pembentukan opini kolektif tersebut. Televisi, misalnya, diharapkan mampu menempatkan diri sebagai salah satu elemen utama bagi tegaknya public sphere dalam proses penyelenggaraan wacana publik. Namun, di tengah arus neoliberalisme yang mengarah pada pemusatan modal dan kepemilikan media, berbagai kalangan mulai pesimis terhadap potensi dan prospek media massa komersial sebagai public sphere (Hidayat dalam Adhrianti, 2005).

(25)

bertukar pendapat sekaligus memungkinkan untuk meminta pertang gungjawaban aparat negara. Dalam ruang ini pula justifikasi rasional tentang pikiran dan tindakan tidak hanya diharapkan tapi juga merupakan tuntutan. Ini merupakan institusi utama untuk membangun kesepakatan.

2.3.7 Penyiaran Publik

British Broadcasting Company (BBC) merupakan bentuk penyiaran publik pertama kali di dunia dan menjadi panutan bagi lembaga penyiaran publik lain di seluruh dunia. Kebutuhan akan kehadiran lembaga penyiaran publik bertolak dari keprihatinan penggunaan media massa sebagai alat propaganda negara selama Perang Dunia Pertama. Direktur Jenderal BBC yang pertama, John Reith menyatakan bahwa penyiaran harus berjalan sebagai pelayanan publik dengan standar tinggi dan kepedulian akan tanggung jawab sosial (Debrett, 2010 : 34).

(26)

Sebaliknya pemaknaan terhadap penyiaran publik di sejumlah negara barat adalah penyiaran yang dimiliki oleh negara namun dengan pengelolaan yang bebas dari campur tangan negara atau pemerintah. Jadi penyiaran publik memiliki otonomi relatif dari intervensi pemerintah. Pendanaan untuk pengelolaannya berasal dari pemerintah, tetapi stasiun penyiaran tidak bertanggungjawab secara langsung kepada pemerintah melainkan kepada publik. Misalnya BBC di Inggris, NHK di Jepang atau ABC di Australia yang meniru model BBC.

Di tempat lain semisal AS, penyiaran publik adalah penyiaran komunitas. Penyiaran publik dibangun oleh dan dikelola oleh warga komunitas sebagai bentuk alternatif terhadap penyiran komersial yang cenderung mengabaikan warga komunitas dan minoritas. Bisa jadi pemerintah memberi subsidi untuk operasionalnya, namun keredaksiannya independen bebas dari campur tangan pemerintah (Putra, 2006: 98).

McQuail (2010 : 178) mendefiniskan lembaga penyiaran publik mengacu pada sistem penyiaran yang didirikan berdasarkan hukum dan biasanya didanai oleh publik, memberikan keleluasaan pada operasional dan keredaksian namun harus melayani kebutuhan publik.

(27)

produk pengiklan. Di samping itu penyiaran komersial cenderung menyajikan informasi yang sudah terdistorsi kepentingan pemiliknya. Penyiaran publik hadir sebagai alternatif untuk memecahkan persoalan dikotomi antara negara dan modal.

Tidak ada teori yang berlaku umum terkait penyiaran publik. Setidaknya tujuan penyiaran publik selalu dikaitkan dengan kepentingan publik (McQuail, 2010) antara lain :

1) universality of geographic coverage, artinya jangkauan siaran dapat diterima publik dalam wilayah geografi yang luas.

2) diversity in providing for all main tastes, interests and needs as well as matching the full range of opinions and beliefs, artinya konten siaran memiliki keberagaman yang dapat memenuhi banyak kepentingan, tidak hanya menyediakan informasi bagi segelintir pihak saja.

3) providing for special minorities, artinya memberikan perhatian yang cukup pada kepentingan kelompok-kelompok minoritas dalam masyarakat.

4) having concern for the national culture, language and identity,

artinya penyiaran mengutamakan kebudayaan nasional, bahasa dan identitas nasional.

(28)

6) providing balanced and impartial information on issues of conflict,

artinya prinsip netralitas diutamakan, seimbang dan tidak memihak dalam menyoroti isu-isu dan konflik.

7) having a specific concern for „quality‟ as defined in different ways, artinya kualitas menjadi perhatian utama dalam penyajian isi siaran 8) putting public interest before financial objectives, artinya

kepentingan publik diutamakan di atas kebutuhan finansial.

Tak jauh berbeda, dalam International Standards and Principles

yang umumnya berlaku di Eropa, terdapat sejumlah karakteristik atau standar yang dimiliki oleh lembaga penyiaran publik, yaitu :

1. Universality, artinya siaran oleh lembaga penyiaran publik tersedia dan bisa diakses oleh khalayak di wilayah yang menjadi jangkauan siaran.

2. Diversity, artinya program penyiaran haruslah beragam termasuk kualitas isi siaran, nilai-nilai edukasi dan informasi berbagai macam isu bagi khalayak.

3. Independence from both the State and commercial interests, artinya setiap program siaran disusun oleh lembaga penyiaran publik berdasarkan sisi profesionalitas dan hak publik untuk mengetahui, serta bebas dari tekanan kepentingan negara dan komersil.

(29)

5. Concern for national identitity and culture, artinya lembaga penyiaran publik berperan membangun rasa nasionalisme, identitas bangsa dan budaya.

6. Financed directly by the public, artinya pembiayaan berasal dari publik.

Menurut Hermens Tahir (dalam Adhrianti, 2005) televisi publik mengacu kepada sistem benefolent, dalam arti merupakan suatu organisasi nirlaba yang dibentuk oleh publik, dimiliki oleh publik dan dikontrol oleh publik.

Ketentuan siaran televisi publik bervariasi dari satu negara ke negara lain, misalnya Hermens mengambil Resolusi Eropa 1996 :

1) Televisi publik mendukung terwujudnya masyarakat informasi, sebagai agen pemersatu pluralisme berbagai kelompok dalam masyarakat untuk pembentukan opini publik.

2) Televisi publik menyiarkan program siaran yang bermutu untuk segala lapisan masyarakat.

3) Televisi publik mampu menciptakan standar kualitas program sebagai tuntutan bagi khalayak.

4) Televisi publik mampu melayani kepentingan kelompok penduduk minoritas.

(30)

6) Televisi publik berperan penting untuk mendorong pelaksanaan debat publik dalam rangka mewujudkan demokrasi

7) Televisi publik menjamin bahwa masyarakat memperoleh akses layanan yang menjadi kegemaran sebagian besar masyarakat.

Partisipasi publik menjadi ciri utama lembaga penyiaran publik yang membedakannya dari jenis lembaga penyiaran yang lain, agar tidak terjebak pilihan yang semu antara dua model “the falancy of the

two model choice” : sistem yang dirancang untuk memaksimalkan

keuntungan dan sistem yang terang-terangan berisi propaganda pemerintah. Effendi Gazali dkk (2002:113) menyatakan terdapat empat implikasi utama bagi hadirnya lembaga penyiaran publik :

a. Akses Publik

Lembaga penyiaran publik bersedia mendirikan stasiun atau bersiaran di daerah-daerah yang umumnya tidak ingin didatangi atau dijadikan wilayah siaran lembaga penyiaran komersial, karena di daerah tersebut dianggap tidak memiliki potensi keuntungan ekonomis.

b. Dana Publik

(31)

program iklan dan sponsor, asalkan kriterianya telah mendapat semacam supervisi dari publik, lalu ditindaklanjuti dengan akuntabilitas publik.

c. Partisipasi Publik

Lembaga penyiaran publik diharapkan bekerja sama seluas-luasnya, mengundang serta menyambut keterlibatan publik, khususnya melalui sebuah lembaga supervisi penyiaran publik pada tingkat-tingkat yang relevan dengan keberadaan lembaga tersebut (misal nasional atau daerah).

d. Akuntabilitas Publik

Ada dua poin utama, pertama lembaga penyiaran publik harus mempertanggungjawabkan segala programnya dengan ukuran moral dan tata nilai publik yang dilayaninya (moral accountability). Kedua, diwajibkan membuat laporan kebutuhan maupun proses penggunaan uang kepada publik (finacial accountability).

(32)

bentuk partisipasi. Sedangkan partisipasi lewat media, berkaitan dengan peluang untuk ikut ambil bagian dalam perdebatan publik dan ekspresi diri dalam ruang publik hingga memasuki ranah yang memampukan dan mempermudah proses partisipasi dalam ruang lingkup yang lebih luas (macro participation). Partisipasi ini menekankan pentingnya dialog dan deliberasi serta memusatkan pada pengambilan keputusan kolektif yang disandarkan pada argumen rasional ala Habermas. (Nico Carpentier dalam Effendy, 2014).

2.3.8 Kebijakan Redaksi

Sudirman Tebba (dalam Nurhasanah, 2011) menyatakan bahwa kebijakan redaksi merupakan pertimbangan suatu lembaga media massa untuk memberikan atau menyiarkan suatu berita. Kebijakan redaksi juga merupakan sikap redaksi suatu lembaga media massa terhadap masalah aktual yang sedang berkembang. Kebijakan redaksi menjadi prinsip sekaligus pedoman dalam memilih dan menyusun serta menolak atau mengizinkan pemuatan sebuah berita.

(33)

Tebba juga menambahkan terdapat sejumlah dasar pertimbangan bagi media untuk menyiarkan atau tidaknya suatu peristiwa, diantaranya :

a) Ideologi. Pertimbangan ideologi media massa biasanya ditentukan oleh latar belakang pendiri atau pemilik media massa tersebut, baik latar belakang agama ataupun nilai-nilai yang dihayati seperti nilai kemanusiaan, kebangsaan dan sebagainya.

b) Politik. Kehidupan pers merupakan salah satu indikator demokrasi. Oleh sebab itu pers tidak pernah terlepas dari masalah politik. Apalagi bila pemilik atau pemimpin media massa memiliki kedekatan atau bahkan aktif dalam kegiatan politik praktis.

c) Bisnis. Pemilik media massa lebih melihat kepada pertimbangan pasar sebagai sasaran, sehingga isi media diarahkan sesuai segmentasi audiens agar lebih diminati.

(34)

Media-media besar di dunia terutama sejumlah televisi publik, menyusun kebijakan yang sangat ketat terkait isi medianya. Seperti misalnya BBC (British Broadcasting Company) Inggris dan ABC (Australian Broadcasting Corporation) Australia. Pandangan-pandangan dasar BBC yang pada akhirnya mempengaruhi konten siarannya adalah: 1) “Public fundings makes us different, artinya BBC bukan hanya sekedar lembanga penyiaran, namun memiliki tujuan melayani masyarakat; 2) “The best in business”, artinya BBC memiliki standar untuk menghasilkan penyiaran terbaik di seluruh dunia karena terbebas dari kepentingan-kepentingan seperti iklan dan tekanan lain yang bisa membatasi; 3) ”Part of the British way of life”, artinya BBC melayani kepentingan nasional secara menyeluruh; 4) “Defending a great heritage”, artinya BBC menjadi penjaga warisan penting penyiaran

(Küng-Shankleman, 2003, 78-82).

Begitupun dengan ABC Australia, yang memiliki kebijakan redaksi yang disusun secara mendetail dalam 13 prinsip dan standar, yaitu : 1) independensi, integritas dan tanggungjawab; 2) akurasi; 3) koreksi dan klarifikasi; 4) imparsialitas dan perbedaan perspektif; 5) keadilan dan kejujuran; 6) privasi; 7) bahaya dan pelanggaran; 8) anak dan orang muda; 9) akses dan partisipasi publik; 10) pemberitahuan mengenai program dan aktivitas ABC; 11) larangan iklan dan

(35)

terperinci untuk menjaga standar penyiaran ABC sebagai lembaga penyiaran publik di Australia (ABC, 2011: 3-21).

TVRI juga memiliki seperangkat kebijakan terkait keberadaannya sebagai lembaga penyiaran publik yang disusun oleh Dewan Pengawas TVRI. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk menjadi pedoman dalam mengelola dan melaksanakan transformasi TVRI berdasarkan visi, misi dan nilai-nilai dasar yang telah diterapkan. Berdasarkan ketentuan isi siaran, pembuatan program siaran baik untuk siaran lokal, nasional, regional maupun siaran internasional TVRI harus berdasarkan (LPP TVRI, 2012: 20) :

a) Pembuatan program siaran wajib memperhatikan aspek-aspek sosial, budaya dan kepublikan dari setiap program acara siaran; b) Pembuatan program siaran wajib memperhatikan faktor sensitivitas

terhadap isu SARA dan potensi konflik, sekaligus melindungi dan memajukan hak asasi manusia, kesejahteraan dan kedamaian yang mendasarkan pada kearifan lokal dalam rangka mendorong solidaritas sosial dan memperkuat modal sosial (social capital). c) Pembuatan program siaran didasarkan pada hasil riset penonton/

pengguna layanan, segmentasi program siaran/ layanan;

(36)

acara (program promotion), kualitas audio-video serta perkembangan teknologi.

Secara lebih khusus, kebijakan TVRI sebagai lembaga penyiaran publik juga mengatur masalah muatan atau isi siaran (LPP TVRI, 2012: 21), yaitu :

a) Mempertimbangkan faktor-faktor budaya, norma, nilai-nilai dan mencerminkan terwujudnya nilai-nilai demokrasi, untuk dapat diambil manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan publik dalam kerangka menciptakan ketahanan budaya;

b) Menggunakan etika profesi dan standar mutu tinggi sesuai dengan prinsip penyiaran publik;

c) Memproduksi dan menyiarkan berita yang aktual dan akurat dengan mengedepankan kebenaran dan menjunjung tinggi objektivitas;

d) Mencerminkan eksplorasi dan keberagaman budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan nasional;

e) Memberikan ruang dan kesempatan yang sama kepada seluruh lapisan dan golongan masyarakat, termasuk kelompok masyarakat di daerah tertinggal (terisolir);

f) Menyediakan akses penyiaran secara interaktif bagi publik termasuk mengembangkan citizen journalism;

(37)

seperti : anak-anak, remaja dan manula serta perempuan terkait dengan pengarusutamaan gender;

h) Mewujudkan rasa optimisme dan cinta tanah air serta mengingkatkan citra positif bangsa Indonesia di tingkat internasional.

2.3.9 Publik

Publik dapat didefinisikan sebagai bentuk umum dari warga yang bebas dalam sebuah masyarakat tertentu atau dalam wilayah geografi yang lebih kecil (McQuail, 2010 : 567). Konotasi konsep ini sangat dipengaruhi oleh teori-teori demokrasi, terutama berkaitan dengan kebebasan dan persamaan hak. Anggota publik dalam konteks demokrasi murni, bebas untuk berasosiasi, berinteraksi, berorganisasi dan berekspresi untuk semua isu dan akuntabilitas pemerintah semua tertuju pada „publik secara umum‟ berdasarkan prosedur yang disetujui

bersama.

Konsep mengenai publik seringkali dikaitkan dengan beberapa ragam pemikiran seperti (Grossberg, Warterlla, Whitney & Wise dalam Adiputra, 2008 : 199-200) :

 Publik sebagai bukan privat, yang bermakna terbuka, dapat

diobservasi dan diakses oleh pihak lain.

 Publik sebentuk seluruh warga negara yang umum, relevan dan

(38)

 Publik sebagai sesuatu yang komunal, dimiliki dan menjadi dasar

aturan, seperti dalam kata penyiaran publik dan fasilitas publik.

2.3.10 Pelayanan Publik

Undang-undang No 25 Tahun 2009 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik diselenggarakan oleh institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik dan badan hukum lain yang dibentuk sematamata untuk kegiatan pelayanan publik.

Pelayanan publik diselenggarakan berdasar asas kepentingan umum, kepastian hukum, kesamaan hak, keseimbangan hak dan kewajiban, keprofesionalan, partisipatif, persamaan perlakuan / tidak diskriminatif, keterbukaan, akuntabilitas, fasilitas dan perlakukan khusus bagi kelompok rentan, ketepatan waktu dan kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan. Ruang lingkup pelayanan publik meliputi pelayanan barang publik dan jasa publik serta pelayanan administratif yang diatur dalam perundang-undangan.

(39)

lembaga negara, pimpinan kementerian, pimpinan lembaga pemerintah non kementerian, pimpinan lembaga komisi negara atau yang sejenis dan pimpinan lembaga lainnya; 2) gubernur pada tingkat propinsi; 3) bupati pada tingkat kabupaten; dan walikota pada tingkat kota. Pembina mempunyai tugas melakukan pembinaan, pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas dari penanggung jawab. Sementara penanggung jawab adalah pimpinan kesekretariatan lembaga yang ditunjuk oleh pembina. Menteri yang bertanggungjawab akan pelayanan publik ada Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara.

Gambar

Gambar 2.1 Theories of Influences on Mass Media Content
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan

Menurut Undang-Undang No.25 Tahun 2009, pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan

25 tahun 2009, yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan

Undang Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan penduduk atas barang, jasa,

Menurut Bab I pasal 1 ayat 1 UU No 25/2009 yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah: kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan

Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga

25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik mendefinisikan pelayanan publik sebagai berikut, pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan

Dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dijelaskan bahwa arti dari pelayanan publik adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan