BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survey bersifat analitik menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian yang bersifat cross sectional. Penelitian cross sectional dimaksudkan bahwa pengambilan dan analisis data antara variabel bebas atau varaiabel independen yakni stres kerja, dengan variabel terikat atau variabel dependen yakni prestasi kerja pada perawat di Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar dilakukan pada waktu yang bersamaan.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian mengenai stress kerja pada perawat di rumah sakit tersebut.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan September 2016 sampai April 2017.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
29
3.3.2 Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan caratotal population, dimana jumlah sampel adalah semua total jumlah populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di ruangan ICU dan IGD yang berjumlah 24 orang.
3.4 Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Data Pimer
Untuk memperoleh data primer yang diperlukan, teknik yang digunakan adalah pengisian kuesioner melalui wawancara langsung oleh peneliti kepada responden penelitian. Kuesioner adalah suatu cara pengumpulan data dengan memberikan daftar pertanyaan kepada responden secara langsung dengan harapan responden akan memberi respon jawaban yang sebenar-benarnya atas pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar serta studi kepustakaan dan studi literatur yang terkait dengan rumusan permasalahan yang sedang diteliti dalam penelitian yang sedang dilaksanakan.
3.5 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional
3.5.1 Variabel Penelitian
3.5.2 Defenisi Operasional
Defenisi operasional mengenai masing-masing variabel penelitian adalah sebagai berikut :
1. Stres Kerja adalah suatu tekanan dan ketidakmampuan perawat dalam menghadapi situasi dan kondisi kerja di ruang IGD dan ICU yang terjadi karena perawat di ruang IGD dan ICU dihadapkan pada pasien dengan kondisi jiwa yang terancam, sehingga membutuhkan perhatian, pengetahuan dan keterampilan khusus untuk dapat memberikan tindakan dengan cepat dan tepat, dan seringnya terjadi mis komunikasi dengan keluarga pasien karena keluarga pasien merasa kurang puas dengan pelayanan dan perlakuan perawat dalam melaksanakan tindakan keperawatan.
2. Prestasi Kerja adalah hasil yang dicapai oleh perawat dengan penilaian kinerja perawat yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar berdasarkan aspek penilaian pengetahuan keterampilan , penampilan, sikap, dan kesehatan perawat yang dievaluasi setiap bulan nya.
3.6 Metode Pengukuran
31
ICU pada shift pagi dan shift sore sebagai bahan untuk pengisian kuisioner yang telah disiapkan.
Kuisioner stres kerja terdiri dari 15 pernyataan. Pilihan jawaban yang diberikan adalah tidak pernah diberi skor 1, kadang-kadang diberi skor 2, sering diberi skor 3, selalu diberi skor 4. Menurut Wahyuni (2011) berdasarkan rumus statistika p= rentang/banyak kelas. Rentang merupakan pengurangan nilai tertinggi dengan nilai terendah, nilai terendah yang mungkin diperoleh oleh setiap responden adalah 15 dan nilai tertinggi adalah 60. Rentang kelas sebesar 45 (60-15) dan banyak kelas yang diinginkan adalah 3 yaitu dengan skala ukur stres kerja ringan (15-30), stres kerja sedang (31-45), stres kerja berat (46-60).
Penilaian Tidak Pernah merasakan stress kerja untuk mengisi kuisioner stress kerja dilakukan dengan cara responden tidak pernah merasakan gejala stress dalam bekerja , penilaian kadang-kadang dilakukan dengan cara responden merasakan gejala stress kerja dalam 2-3 hari kerja dalam seminggu, penilaian sering dilakukan dengan cara responden merasakan gejala stress kerja dalam 4-5 hari kerja, sedangkan penilaian untuk selalu dilakukan dengan cara responden selalu merasakan stress kerja selama bekerja.
banyak kelas yang diiginkan adalah 3 yaitu, kinerja baik (61-80), kinerja cukup (41-60), kinerja kurang (20-40).
Penilaian Tidak pernah untuk mengisi kuisioner prestasi kerja dilakukan dengan cara cara responden tidak pernah melakukan standar tindakan keperawatan selama bekerja, penilaian kadang-kadang dilakukan dengan cara responden melakukan standar tindakan keperawatan dalam 2-3 hari kerja dalam seminggu, penilaian sering dilakukan dengan cara responden melakukan standar tindakan keperawatan dalam 4-5 hari kerja, dan penilaian selalu dilakukan dengan cara responden selalu melakukan standar keperawatan selama bekerja.
Penilaian kuisioner tersebut dilakukan secara menyeluruh kepada kepala perawat di ruang ICU dan IGD dan juga kepada perawat pelaksana di ruang IGD dan ICU di Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar.
3.7 Metode Pengolahan dan Analisa Data
3.7.1 Metode Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dengan tahapan sebagai berikut :
1. Editing (Pemeriksaan Data)
33
2. Coding (Pemberian Kode)
Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual.
3. Entry (Memasukkan Data)
Data yang akan dimasukkan yakni jawaban-jawaban dari masing-masing pertanyaan yang diajukan pada responden dalam bentuk “kode” (angka atau
huruf) yang dimasukkan dalam program atau software statistik komputer. Dalam penelitian ini program statisitik komputer yang dipakai ialah program SPSS (Statistical Product Service Solution).
4. Cleaning (Pembersihan Data)
Cleaning atau pembersihan data yang artinya semua data dari setiap sumber data yang telah selesai dimasukkan, perlu diperiksa kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi kembali.
5. Scoring (Pemberian Skors)
Scoring atau pemberian skors ialah pemberian nilai yang dilakukan oleh peneliti terhadap isian kuisinoner yang diisi oleh responden, pemberian skors terhadap isian kuesioner dilakukan untuk menyesuiakan dengan statistik uji yang akan dipakai dalam penelitian.
3.7.2 Metode Analisa Data
1. Analisa univariat, yaitu analisis yang menggambarkan secara tunggal variabel-variabel penelitian baik independen maupun dependen dalam bentuk distribusi frekuensi dan hitungan persentasenya.
2. Analisa bivariat, yaitu analisis yang digunakan untuk melihat ada tidaknya pengaruh stre kerja dengan prestasi kerjapada perawat di Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar tahun 2016 dengan menggunakan analisisUji Korelasi Spearman pada tingkat kepercayaan 95% dengan asumsi bahwa data yang dianalisis berupa data kategorik.Hasilanalsis data ini selanjutnyadisajikandalamtabeldistribusifrekuensi. Data yang telah di analisis pada penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel dilengkapi dengan narasi untuk mengetahui gambaran dari masing-masing variabel secara lengkap
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar
Kota Pematangsiantar adalah salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara dan kota terbesar kedua setelah kota Medan. Kota Pematangsiantar memiliki luas wilayah79.791 km2, terdiri dari 8 kecamatan dan 43 kelurahan. Secara geografis
KotaPematangsiantar diapit Kabupaten Simalungun. Kota ini juga menghubungkan jalan darat ke kabupaten-kabupaten lainnya seperti Toba Samosir, Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan. Kota Pematangsiantar hanya berjarak 128 km dari Kota Medan dan 52 km dari Prapat sehingga sering menjadi kota perlintasan.
Rumah Sakit Vita Insani didirikan pada tanggal 14 agustus 1982 sebagai salah satu rumah sakit swasta yang turut berperan penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Rumah Sakit Vita Insani yang terletak di pusat Kota Pematangsiantar yaitu Jalan Merdeka No. 329 merupakan lokasi sangat strategis, sangat mudah dijangkau dari segala arah. Untuk mencapai Rumah Sakit Vita Insani bisa melalui beberapa alternatif rute perjalanan yaitu dari Perdagangan, Tanah Jawa, Prapat, Raya dan Tebing Tinggi dan rute-rute tersebut bisa dilalui dengan jalan darat. Rumah Sakit Vita Insani mempunyai gedung yang nyaman dengan luas wilayah 7.995 m2 dan luas bangunan 7.476 m2 yang didukung oleh 44
mulai menerima pasien rujukan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang mulai berlaku pada tanggal 02 Februari 2015. Oleh karena itu pasien yang mendatangi rumah sakit ini pun mulai bertambah setiap harinya.
4.1.2 Visi Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar
Visi Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar adalah menjadi rumah sakit yang disenangi masyarakat.
4.1.3 Misi Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar
Misi Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar adalah:
1. Menciptakan budaya senyum bagi seluruh pegawai Rumah Sakit Vita Insani.
2. Menyediakan peralatan modern dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.
3. Meningkatkan mutu pelayanan dan manajemen Rumah Sakit Vita Insani. 4. Meningkatkan peran Rumah Sakit Vita Insani dalam memberikan pelayanan
yang cepat dan akurat.
5. Mengembangkan sistem pembayaran pelayanan kesehatan dalam bentuk tarif yang terjangkau untuk masing-masing jenis pelayanan.
6. Menciptakan lingkungan rumah sakit yang bersih, indah dan asri.
4.1.4 Fasilitas atau Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar
37
12 buah pada kelas super VIP dan VIP, 15 buah pada kelas I, 28 buah pada kelas II, 57 buah pada kelas III, 6 buah pada ruang ICU, dan 10 buah pada kamar bayi.
Fasilitas pendukung rumah sakit berupa sarana air bersih yang didapatkan dari dua sumber yaitu dari sumur bor dan PDAM. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Rumah Sakit Vita Insani menggunakan PLN dan apabila PLN padam, telah disediakan genset dengan kapasitas 350 KVA sebanyak 1 unit.
4.1.5 Tenaga Kerja di Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar
Jumlah tenaga kerja di Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar adalah sebanyak 372 orang dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Tenaga Kerja di Rumah Sakit Vita Insani
4.1.6 Struktur Organisasi Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar
samalain. Struktur organisasi Rumah Sakit Vita Insani pematangsiantar dapat
dilihat pada gambar berikut :
:
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar
39
4.1.7 Jajaran Direksi Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar
Memasuki Era Globalisasi, pembenahan setiap bidang terus dilakukan. Pengembangan areal dan penambahan serta penggantian peralatan medis yang kian canggih akan terus diupayakan demi untuk kesejahteraan umat manusia, khususnya di Pematang Siantar/ Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Susunan pemilik PT. VITA INSANI SENTRA MEDIKA RUPS tanggal 20 Mei 2006 telah menetapkan :
Komisaris Utama : Dr.Ir. Marasi Sibarani, Msc Komisaris : H. Dr. Soedirman, SpB, Fina CS
Dr. TH. Simatupang, SpB Mhd. Yodi Erdianto, SE Dr. Namso Saragih, SpPD Direktur PT. VISM : Dr. med. Sarmedi Purba, SpOG Direktur RSVI : Dr. Alpin Hoza
4.1.8 Staff Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar
Tenaga perawat tetap yang menjadi ujung tombak pelayanan sebanyak 213 orang. Latarbelakang pendidikannya pun sangat bervariasi, sebagian besar alumni Akademi Perawatan dan Akademi Kebidanan, namun ada juga yang memiliki kualifikasi Strata 1 Keperawatan.Mereka dibagi dalam tiga shift, pagi (pukul 08.00-14.00), siang (pukul 14.00-20.00) dan malam (pukul 20.00-08.00). Biasanya mereka diberi kesempatan off day (tidak masuk kerja) selama 4 hari setelah menjalani shift malam.
Tenaga-tenaga nonmedis lainnya dikoordinir di Bagian Umum, Bagian Keuangan dan Program serta Marketing. Mereka antara lain mengurusi soal kepegawaian, tata usaha, resepsionis, rekam medik, dapur dan gizi, wasri dan teknik, sanitasi, perlengkapan, keamanan, supir, hukum, perpustakaan, supir, bendahara, akuntansi, penagihan, kasir, pengawas internal, penyusunan program dan penyusunan anggaran. Selain itu para petugas medis dan nonmedis ditempatkan ke beberapa instalasi seperti UGD, ICU, kamar bedah, radiologi, farmasi, gizi, fisioterapi, laboratorium klinik, pemeliharaan dan IPAL (instalasi pengolahan limbah).
41
Manajamen membentuk tim seleksi yang sifatnya temporer saat rekrutmen saja. Tim terdiri dari dokter senior, perawat senior, karyawan senior dan unsur direksi. Fit and proper test bukan hanya menyangkut kemampuan akademik dan profesi, tapi juga menyangkut sikap (attitude) yang bagi RSVI merupakan komponen sangat penting dalam pelayanan. Seleksi ketat ini berdampak terhadap makin berkualitasnya karyawan RSVI baik dalam sikap maupun kinerjanya.
4.2 Gambaran Umum Karakteristik Responden
4.2.1 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia
Berdasarkan data-data kuesioner yang telah disebarkan oleh peneliti kepada 24 orang responden, diperoleh data mengenai gambaran umum responden penelitian. Jumlah dan persentase gambaran umum responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini:
Tabel 4.2 Distribusi Frekusnesi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia (Tahun) Jumlah F
20-30 18 75 %
31-40 5 21%
41-50 1 4%
Total 24 100%
orang responden atau 4 %. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan perawat di rumah sakit ini berusia 20 tahun sampai 30 tahun karena pada usia tersebut adalah usia pekerja aktif untuk memulai menuai hasil dari apa yang dikerjakan sejak pertama kali mereka menyelesaikan jenjang pendidikan mereka dan usia tersebut juga merupakan usia paling aktif dalam melakukan sosialisasi dan komunikasi.
Pembagian rentang usia responden dilakukan berdasarkan keterangan yang didapatkan melalui kuisioner yang telah didapatkan dari hasil penelitian. Responden paling rentan mengalami stres kerja berdasarkan usia adalah berada pada usia antara usia 20-30 tahun. Hal itu disebabkan karena pada saat usia tersebut terjadinya kestabilan emosi dalam menghadapi tuntutan pekerjaan.
4.2.2 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan data-data kuesioner yang telah disebarkan oleh peneliti kepada 24 orang responden, diperoleh data mengenai gambaran umum responden penelitian. Jumlah dan persentase gambaran umum responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini:
Tabel 4.3 Distribusi Frekuens Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah F
Laki-laki 10 41,7%
Perempuan 14 58,3%
Total 24 100%
43
perempuan sebesar 14 orang responden atau 58,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa perawat pada Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar lebih banyak didominasi oleh perempuan.
4.2.3 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Berdasarkan data-data kuesioner yang telah disebarkan oleh peneliti kepada 24 orang responden, diperoleh data mengenai gambaran umum responden penelitian. Jumlah dan persentase gambaran umum responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini:
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan
Jumlah F
Diploma 22 91,7%
Sarjana 2 8,3%
Total 24 100%
Berdasarkan karakteristik responden berdasarkan pekerjaan pada Tabel 4.4diketahui bahwa yang berpendidikan diploma sebesar 22 orang responden atau sebesar 91,7 %, sedangkan yang sarjana sebesar 2 orang responden atau 8,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan diploma lebih besar presentasenya dibandingkan yang berpendidikan sarjana di rumah sakit ini.
4.2.4 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Lama Bekerja
penelitian. Jumlah dan persentase gambaran umum responden berdasarkan lama bekerja dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini:
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja (Tahun)
Lama Bekerja Jumlah F
<=5 16 66,7 %
6-10 4 16,7 %
11-15 3 12,5%
>15 1 4,1%
Total 24 100 %
Berdasarkan karakteristik responden berdasarkan pekerjaan pada Tabel 4.5diketahui bahwa yang lama bekerja kurang sama dengan 5 tahun sebesar 15 orang responden atau sebesar 66,7 %, yang lama bekerja 6-10 tahun 4 orang responden atau 16,7 %, yang lama bekerja 11-15 tahun 3 orang responden atau sebesar 12,5 %, sedangkan yang lama bekerja lebih dari 15 tahun 1 orang atau sebesar 4,2 %. Hal ini menunjukkan bahwa perawat yang bekerja di rumah sakit ini masih banyak yang dikatakan baru atau sama dengan 5 tahun masa kerjanya.
4.2.5 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jabatan/Bidang
45
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan/Bidang
Berdasarkan karakteristik responden berdasarkan pekerjaan pada Tabel 4.6 diketahui bahwa kepala ruangan IGD dan ICU sebesar 2 orang responden atau sebesar 8,3 %, perawat pelaksana IGD sebesar 14 orang responden atau 54,2 %, sedangkan perawat pelaksana ICU 8 orang responden atau sebesar 37,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak perawat yang berada di ruangan IGD.
4.3 Hasil Analisis Univariat
4.3.1 Stres Kerja
Tingkat stres kerja pada perawat Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar tahun 2016 dapat dilihat pada tabel berikut:
Berdasarkan tabel 4.7 hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat yang bekerja di ruang IGD dan ICU Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar, 3 orang perawat (12,5%) mengalami stres kerja ringan, 15 perawat (62,5%) mengalami stres kerja sedang dan 6 perawat (25%) mengalami stres kerja berat.
4.3.2 Prestasi Kerja
Tingkat prestasi kerja pada perawat Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar tahun 2016 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8 Distribusi Prestasi Kerja pada Perawat Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar
Tingkat Prestasi Kerja N %
Kurang 8 33,0
Cukup 12 50,0
Baik 4 17,0
Total 24 100
Berdasarkan tabel 4.8 hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki prestasi cukup yaitu 12 orang (50,0%), prestasi baik 4 orang (16,7%), dan prestasi kurang 8 orang (33,0%) .
4.4 Hasil Analisis Bivariat
4.4.1 Hasil Tabulasi Silang antara Stres Kerja dengan Prestasi Kerja
Perawat di Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar Tahun 2016
47
orang perawat (12,5 %) yang mengalami stress kerja ringan diantaranya 2 orang (8,3%) memiliki prestasi kerja kurang dan 1 orang (4%) memiliki prestasi kerja cukup, selanjutnya dari 15 orang perawat (62,5%) yang mengalami stress kerja sedang diantaranya 4 orang (17%) memiliki prestasi kerja kurang, 9 orang (37,5%) memiliki prestasi kerja cukup dan 2 orang (8,3%) memiliki prestasi kerja baik, dan dari 6 orang perawat (25%) yang mengalami stress kerja berat diantaranya 2 orang (8,3%) memiliki prestasi kurang, 2 orang (8,3%) memiliki prestasi kerja cukup, dan 2 orang (8,3%) memiliki prestasi kerja baik.
Tabel 4.9 Tabulasi Silang antara Stres Kerja dengan Prestasi Kerja Perawat di Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar Tahun 2016
Stres Kerja Prestasi Kerja Perawat Jumlah
Kurang Cukup Baik
Perawat dikatakan mengalami stress kerja sedang karena perawat sering mengalami keluhan seperti menagalmi sakit kepala, merasa otot kaku saat atau setelah bekerja,sering mengalami tekanan akibat pekerjaan,sering mengalami ketidak cocokan dengan rekan kerja dan kurang mampu memahami tuntutan keluarga pasien. Hal ini didapat berdasarkan penilaian kuisioner stress kerja perawat.
yang kadang-kadang tidak menilai kondisi pasien , kurang mampu memenuhi kebutuhan pasien/keluarga, kurang mampu membuat prioritas masalah dan rencana perawatan, kurang mampu melaksanakan asuhan keperawatan dan kurang mampu berpenampilan professional dalam bekerja.
4.4. 2 Hubungan Stres Kerja dengan Prestasi Kerja Perawat di Rumah
Sakit Vita Insani Pematangsiantar Tahun 2016
Uji statistik yang digunakan untuk melihat adanya hubungan stress kerja perawat dengan prestasi kerja perawat adalah korelasi spearman yang dapat menjelaskan hubungan, tingkat atau kuatnya hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Hasil uji statistik antara koefisien korelasi stress kerja dengan prestasi kerja perawat diperoleh (p= 0,712) yang artinya memiliki hubungan yang kuatdan nilai signifikan (r = 0,024) yang berarti lebih kecil dari α = 0,05 yang berarti hipotesa diterima.
Tabel 4.10 Uji Korelasi Spearman antara Hubungan Stres Kerja dengan Prestasi Kerja Perawat di Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar Tahun 2016
Variabel Prestasi Kerja
Signifikan (p) Koefisien Korelasi (r)
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Stres Kerja
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas perawat mengalami stres kerja sedang sebanyak 15 perawat (62,5%) yang memberikan gambaran bahwa masih adanya faktor yang mempengaruhi stres kerja pada perawat antara lain lingkungan kerja , beban kerja , keterampilan khusus dan kesuiltan menjalin hubungan komunikasi dengan rekan kerja lain ataupun dengan keluarga pasien yang dirasakan perawat di ruang IGD dan ICU Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar.
Menurut Jacker (2005) penyebab stres dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, faktor eksternal terdiri dari lingkungan dan sosial, sedangkan faktor internal terdiri dari keturunan, kepribadian, sistem kepercayaan dan pengalaman.
Hasil penelitian sebelumnya yang dikemukakan oleh Febriani (2009) juga mengatakan bahwa semakin banyak jumlah pasien yang dirawat dan semakin beragamnya penyakit serta tingkat kebutuhan juga bisa memicu terjadinya stres.
Sesuai dengan hasil survey Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) tahun 2006 dalam Febrianti (2009) yang melaporkan bahwa sekitar setengah (50,9%) perawat Indonesia yang bekerja di empat provinsi mengalami stres kerja, dengan keluhan yang sering dialami pusing,lelah ,tidak bisa beristirahat karena adanya tuntutan beban kerja yang tinggi , dibutuhkan keterampilan khusus dlam menggunakan alat kesehatan , serta kondisi mental dalam menghadapi kondisi jiwa yang terancam .
5.2 Prestasi Kerja
51
penyebab atau gejala , perawat membuat rencana perawatan pasien berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien, perawat mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan untuk mengatasi kondisi pasien dan perawat mengevaluasi kondisi pasien secara terus-menerus.
PPNI (2000 dikutip dari Nursalam,2008) yang mengatakan bahwa penilaian kualitas pelayanan keperawatan kepada pasien di dalam melaksanakan asuhan keperawatan maka digunakan standar praktik keperawatanyang merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang menjadi standar instrumen dalam penelitian prestasi kerja perawat yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
5.3 Hubungan Stres Kerja dengan Prestasi Kerja Perawat
Berdasarkan hasil uji korelasi spearman yang dilakukandidapat hasil yang signifikan untuk terjadinya hubungan r= 0,712) yang berarti kuat dengan hasil p = 0,024 sehingga ada hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan prestasi kerja perawat pelaksana di IGD dan ICU Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar.
kehilangankemampuan untuk mengendalikannya, menjadi tidak mampu mengambil keputusan, dan perilakunya menjadi tidak menentu (Gitosudarmo, 2000).
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai hubungan stres kerja perawat dengan prestasi kerja pada perawat di Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar tahun 2016 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Perawat di Ruang IGD dan ICU Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar mengalami tingkat stres kerja kategori stres sedang yaitu sebanyak 15 orang (62,5%)..
2. Perawat di Ruang IGD dan ICU Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar memiliki tingkat prestasi kerja kategori prestasi cukup yaitu sebanyak 9 orang (37,5 %).
3. Ada hubungan streskerja dengan prestasi kerja pada perawat di Rumah Sakit Vita Insani P.Siantar yaitu r = 0,712 (kuat) dengan (p = 0,024).
6.2 Saran
Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, saran yang dapat diberikan ialah :
bertukar pikiran dan meningkatkan sikap saling terbuka antar rekan kerja untuk meningkatkan kerjasama tim dalam bekerja.
2. Disarankan kepada pihak rumah sakit untuk memberikan motivasi pada perawat agar perawat tidak merasa tertekan dan adanya variasi dalam hidup.