• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA ASEAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA ASEAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA-ASEAN

DALAM KERJA SAMA PERDAGANGAN ACFTA TAHUN 2010

ANDIK SETYA NURYAHYA

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan menjelaskan hubungan ekonomi dan politik Cina dengan ASEAN dalam kerangka kerjasama perdagangan bebas ACFTA dimana kerjasama tersebut akan berlaku penuh di tahun 2010 untuk negara ASEAN 6 yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darusalam, Thailand dan berlaku pada tahun 2015 bagi Negara-negara di kawasan ASEAN yang tergolong Negara di bawah Negara berkembang yakni kamboja, laos, Vietnam dan Myanmar. Penelitian ini akan menjelaskan bagaimana kerjasama dalam bidang ekonomi dan politik yang di jalankan oleh Cina dalam kerangka kerjasama ACFTA dimana kerjasama tersebut selain mengandung unsur dalam bidang ekonomi juga membawa tujuan dalam bidang politik yang ingin di capai oleh Cina.

Dari hasil penelitian menggunakan sudut pandang konsep kerjasama internasional dapat dijelaskan bahwa kerjasama internasional di lakukan Negara bertujuan untuk mencapai kesejahteraan bagi masyarakatnya. Dalam kerjasama internasional juga di bagi kedalam beberapa bidang kerjasama seperti bidang ekonomi, bidang politik dan keamanan serta bidang sosial dan budaya. Selain itu juga terdapat beberapa alasan Negara dalam membentuk dan melakukan kerjasama yakni untuk meningkatkan ekonomi Negara lewat pembukaan pasar dan investasi, meningkatkan efisiensi lewat pemenuhan bahan baku produksi yang di dapat dari Negara lain, kerjasama dilakukan juga karena terdapat ancaman yang mengancam keamanan bersama serta kerjasama dilakukan sebagai bentuk pengurangan terhadap kerugian negatif yang di timbulkan akibat tindakan individual Negara dimana tindakan tersebut akan berdampak terhadap Negara lain. Dari beberapa alasan di atas dapat di jelaskan kerjasama ekonomi Cina dalam kerangka ACFTA berkaitan dengan trade dan investasi guna meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan ekonomi sedangkan kerjasama politik Cina lebih di arahkan untuk menghadapi ancaman bersama di kawasan dan pengurangan terhadap tindakan individual Negara ASEAN yang akan berdampak pada Cina.

(2)

PENDAHULUAN

Setelah berakhirnya perang dingin dengan kemenangan Amerika Serikat dari kubu blok barat dunia internasionalpun secara bertahap juga ikut mengalami perubahan yang secara signifikan membawa dunia ke era globalisasi seperti pada saat ini.1 Fenomena globalisasi tersebut merupakan sebuah fenomena sosial yang salah satunya di tandai dengan adanya kerjasama global yang intens antara aktor internasional baik itu dalam bentuk kerjasama antar Negara maupun kerjasama bukan antara Negara yang di lakukan dalam berbagai macam bidang seperti politik, sosial dan budaya, ekonomi serta lingkungan. Kerjasama yang di lakukan antar aktor Negara maupun aktor non Negara tersebut menjadikan batas-batas Negara tidak lagi menjadi penghalang untuk di lakukannya kerjasama. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat seperti pada saat ini telah mendukung kemudahan dalam bekerjasama antar Negara dan membuat kesalingtergantungan antar Negara dalam kerjasama tersebut.

Perkembangan global yang telah menjadikan Negara saling tergantung satu sama lain lewat kerjasama internasional juga di lakukan oleh Cina yang notabene merupakan bagian dari aktor global yang mengalami perkembangan ekonomi paling stabil dunia. Saat ini pertumbuhan ekonomi Negara Cina adalah yang paling cepat di dunia. Dari tahun 1979 dan utamanya setelah Cina masuk sebagai anggota dari WTO pada tahun 2001 sampai 2007 yang mana membuat gross domestic product (GDP) Cina mulai tumbuh dengan rata-rata di atas 9 persen pertahun dengan GDP nyata pada tahun 2007 sebesar 11,4 persen.2 Kombinasi dan besarnya surplus perdagangan, arus investasi asing langsung (foreign direct investment), dan pembelian mata uang asing dalam jumlah yang sangat besar, telah membantu dalam menjadikan Cina sebagai Negara pemegang cadangan devisa terbesar di dunia, yakni sebesar 1,9 triliun dolar pada akhir September 2008.3 Perkembangan ekonomi Cina yang pesat ini menuntut Cina juga untuk memenuhi kebutuhan akan industrinya dan sumber daya alam yang mana mengharuskan Cina untuk menjalin kerja sama dengan aktor lainnya seperti ASEAN.

ASEAN merupakan organisasi geopolitik dan ekonomi dari Negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Pembentukan organisasi regional ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama multilateral antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Perkembangan global mengharuskan ASEAN untuk melakukan kerja sama ekonomi internasional, melalui pembentukan kawasan perdagangan bebas ASEAN melakukan kerja sama

1 F. Kratochwil, E. D Mansfield, “International Organization A Reader : International

Institutions Two Approach”,1994, hal. 45

2 http://www.tradingeconomics.com/china/gdp diakses pada 1 juni 2014

3 Wayne M. Morrison, CRS Report for Congress-China’s Economic Conditions, 20 november

(3)

ekonomi dengan beberapa Negara mitra seperti Jepang, Cina, Korea, Australia, Selandia Baru dan India. Dari beberapa mitra ASEAN, Cina merupakan Negara yang mengalami pertumbuhan paling cepat yang mampu menjadi penggerak perekonomian dunia. Hubungan antara ASEAN dan Cina dalam hal perdagangan bebas tercermin dalam bentuk ACFTA.

Kerja sama ACFTA adalah suatu bentuk kerja sama dalam bidang ekonomi antara Negara Cina dengan Negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam ASEAN. ACFTA mencakup 1,9 milyar konsumen dengan pertumbuhan PDB regional yang berada pada posisi ke tiga di dunia setelah Uni Eropa dan NAFTA, dan juga merupakan sebuah formalisasi dari proses integrasi perekomian di kawasan yang telah berlangsung cukup lama dimana Cina adalah adalah mitra partner kerjasama penting bagi ASEAN dan begitu juga sebaliknya. Implementasi pada ACFTA ini dilaksanakan mulai tahun 2005 dengan memulai penurunan tarif atau bea masuk bagi barang dari Cina ataupun ASEAN dan di harapkan pada tahun 2010 tarif atau bea masuk sudah berada pada tahap nol untuk produk yang umum dan pada tahun 2018 pada produk yang di anggap sensitive. 4

Dalam kerja sama ACFTA antara Cina dan ASEAN pastinya akan mengalami kekurangan dan kelebihan dari masing-masing pihak. Bagi ASEAN, ACFTA berguna untuk menekan dan mengurangi ancaman pertumbuhan perekonomian Cina yang pada saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Melalui ACFTA, ASEAN memiliki akses untuk dapat masuk ke pasar domestik Cina yang begitu besar dan luas.5 Dengan jumlah penduduk terbesar di dunia Cina merupakan mitra dagang yang cukup penting dan mengimpor 12 persen volume produk Negara di ASEAN pada tahun 2008. Ini tentu saja membuat nilai ekspor ASEAN dengan Cina mencapai 11 persen dari keseluruhan ekspor ASEAN dan di sisi lain ASEAN menjadi sasaran bagi 10 persen total volume ekspor dari Cina.6 Berdasarkan uraian tersebut, maka muncul pertanyaan Bagaimana kerjasama yang dilakukan oleh Cina di bidang ekonomi dan politik dalam kerjasama ACFTA tahun 2010 dengan ASEAN?

LANDASAN TEORI

Dalam dunia hubungan internasional banyak di pelajari teori dan konsep yang berkaitan dengan pengaturan hubungan antara Negara dalam melakukan hubungannya dengan Negara lain salah satunya adalah tentang konsep kerjasama yang mengatur tentang hubungan antara dua Negara atau lebih dalam melakukan hubungan pada lingkup internasionalnya. Suatu bentuk kerjasama juga dapat di jalankan dalam berbagai bentuk seperti dalam bentuk perundingan bilamana karena belum terjadinya kesesuaian masalah dan tujuan daripada dilakukannya

4 http://unpad.ac.id/yogix/2010/03/12/Bagaimana-Mekanisme-Acfta-2010/ di akses pada tanggal 1

juni 2014

5

http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/158-agustus-2011/1188-keuntungan-yang-diperoleh-dari-acfta-lebih-besar-dibandingkan-dengan-kerugiannya.html diakses pada tanggal 1 juni 2014

6

(4)

kerjasama dan kerjasama yang terjadi tanpa perundingan bilamana sudah terdapat kesamaan pandangan di antara anggotanya. 7

Terdapat banyak definisi daripada kerjasama itu sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainya akan tetapi memiliki inti yang sama di dalamnya. Kerjasama dapat di artikan sebagai suatu bentuk daripada hubungan yang berdasar pada asas hukum yang ada dan terjadi karena kesadaran pelakunya dan bukan didasarkan karena paksaan atau kekerasan seperti halnya dalam suatu organisasi internasional. Selain itu kerjasama juga dapat di lakukan tanpa media perundingan apabila di antara para aktor pelakunya sudah memiliki kesamaan pandangan.8

Selain itu kerjasama juga dapat di definisikan sebagai serangkaian hubungan timbal balik antara aktor yang tidak di dasarkan pada paksaan maupun kekerasan dan berdasar pada hukum yang berlaku seperti kerjasama yang terdapat pada sebuah organisasi internasional PBB ataupun Uni Afrika. Sehingga dapat di simpulkan inti dari konsep kerjasama berdasar pada pemenuhan kepentingan pribadi, dimana hasil akhir yang menguntungkan kedua belah pihak dapat di realisasikan melalui kerja sama daripada dengan usaha pribadi ataupun dengan cara persaingan.9

Bentuk kerjasama dalam lingkup internasional juga dilakukan oleh Negara dibawah naungan organisasi ataupun lembaga internasional. Kerjasama dalam lingkup internasional biasanya lebih komplek karena melibatkan berbagai macam aspek di dalamnya yang harus di perhatikan dan dipenuhi oleh kedua belah pihak yang akan melakukan kerjasama. Kerjasama internasional ini di definisikan sebagai salah satu usaha yang dilakukan oleh Negara-negara untuk menyamakan kepentingan-kepentingan yang sama dan merupakan suatu perwujudatan daripada kondisi masyarakat yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Kerjasama internasional biasanya berlangsung pada situasi yang bersifat desentralisasi di mana suatu kerjasama tersebut melibatkan institusi-intitusi dan jaringan kultur yang dipisahkan secara geografis oleh batas wilayah suatu Negara sehingga penyamaan pemikiran untuk pemecahan masalah dalam kerjasama tersebut sangat diutamakan agar tidak menimbulkan kebuntuan dalam kerjasama yang di jalin.10

Kerjasama internasional menurut Drs Teuku May Rudi di definisikan sebagai suatu bentuk pola kerjasama yang melewati garis batas suatu Negara dengan berdasarkan pada struktur yang jelas dan lengkap serta diharapkan akan terus berlangsung secara berkesinambungan dan melembaga guna untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama di antara kedua belah pihak baik antara

7 Dougherty, James E. & Robert L. Pfaltzgraff “Contending Theories in International

Relations”1997, hal. 418.

8 Ibid. hal 419 9 Ibid

10 Sjamsumar Dam dan Riswandi, “Kerjasama ASEAN, Latar Belakang, Perkembangan dan

(5)

pemerintah dengan pemerintah maupun antar kelompok bukan dalam lingkup pemerintah pada Negara yang berbeda. 11

Tujuan daripada suatu kerjasama internasional adalah untuk menambah kesejahteraan bersama antar anggotanya dikarenakan memang setiap kerjasama yang dijalin dan di bentuk oleh suatu Negara biasanya memang memiliki tujuan guna mempercepat peningkatan kesejahteraan dan penyelesaian masalah di antara keduanya. Menurut K.J Holsti proses terjadinya suatu bentuk kerjasama adalah di dasarkan pada perpaduan dari berbagai macam permasalahan nasional, regional maupun global yang menarik perhatian lebih dari satu Negara dalam lingkup internasional. Selain itu kerjasama juga merupakan suatu pandangan tentang kebijakan dari suatu Negara tertentu yang berguna bagi tercapainya kepentingan dari Negara lain dalam bentuk persetujuan antara dua Negara atau lebih yang memiliki kepentingan yang berbeda dan di dasari pada aturan resmi yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. 12

Berdasarkan pada bidangnya kerjasama antar Negara dibagi menjadi beberapa bagian seperti kerjasama dalam bidang ekonomi, kerjasama dalam bidang politik dan keamanan, kerjasama dalam bidang sosial.

Kerjasama dalam bidang ekonomi adalah merupakan suatu komponen dalam kerjasama internasional yang membutuhkan suatu kondisi dimana kerjasama tersebut mendukung daripada proses dalam perdagangan dan integrasi keuangan dalam ranah internasional dengan melakukan penerapan suatu perilaku yang mengarah pada tujuan pencapaian keuntungan dalam bidang ekonomi baik dalam jangka menengah ataupun jangka panjang. Kerjasama tersebut biasanya di cirikan dengan trade dan investasi dalam suatu bentuk kerjasama. Organisasi dalam kerjasama dalam bidang ekonomi ini seperti APEC, MEE dan lain sebagainya.13

Kerjasama dalam bidang sosial merupakan kerjasama yang di lakukan oleh sekelompok Negara yang bertujuan untuk memberi dampak dan manfaat dalam bidang sosial kemasyarakatan dan bertujuan untuk mencapai kepentingan sosial daripada Negara yang melakukan kerjasama tersebut. bentuk kerjasama sosial ini seperti misalnya badan-badan sosial yang ada dalam PBB seperti WHO, ILO, UNICEF dan sebagainya.14

Kerjasama dalam bidang politik dan keamanan merupakan kerjasama yang di lakukan oleh sekelompok Negara yang di jadikan tujuan untuk mencapai tujuan daripada kepentingan kemanan dan politik bersama ataupun individual daripada Negara-negara tersebut. kerjasama ini bisa berbentuk hubungan politik maupun berupa kebijakan politik lokal maupun internasional baik dalam bidang ekonomi,

11 Rudi, T.May. “Teori, Etika dan Kebijakan Hubungan Internasional”. 1993. Hal.3 12 K.J Holsti, “International Politics, a Framework for Analysis”1995. Hal. 652-653

13 O’farrill Enrique, Fierro Juan, Eugenia Maria, Perez Eugenio, Vallejos Marcela, “ Economic

Cooperation” 1999, hal. 15

14 Fehr Ernst & Gintis Herbert, “Human Motivation and Social Cooperation : Experimental and

(6)

security, sosial antara Negara yang digunakan untuk mencapai kepentingannya dan untuk menghadapi ancaman dari luar. Bentuk kerjasama dalam bidang politik seperti SEATO, ANZUS, NATO, CENTO dan lain sebagainya. 15

Selain itu kerjasama internasional yang terbentuk juga memiliki alasan masing-masing dari suatu Negara anggota kerjasama. Menurut K.J Holsti terdapat beberapa alasan umum yang melatarbelakangi Negara melakukan kerjasama dengan Negara lain yakni: 16

1. Kerjasama dilakukan Negara guna meningkatkan ekonominya, dimana dengan adanya kerjasama dengan Negara lain Negara tersebut akan dapat mengurangi biaya produksi yang harus di tanggung dalam memenuhi kebutuhan produk yang di produksi untuk rakyatnya karena keterbatasan yang dimiliki Negara tersebut. Selain itu kerjasama juga akan menciptakan peluang pembukaan pasar dan investasi yang akan membantu ekonomi Negara.

2. Kerjasama dilakukan Negara untuk meningkatkan efisiensi yang berkaitan dengan pemenuhan bahan baku produksi yang di dapat dari Negara lain

3. Kerjasama dilakukan karena adanya permasalahan yang mengancam keamanan bersama

4. Kerjasama dilakukan karena sebagai bentuk pengurangan terhadap kerugian negatif yang timbul akibat tindakan individual Negara dimana kerugian negatif tersebut akan berdampak terhadap Negara lain.

PEMBAHASAN

Hubungan Kerjasama Ekonomi Cina

Impor Bahan Baku Produksi

Salah satu bentuk hubungan kerjasama dalam kerjasama internasional dalam yaitu dalam hal ekonomi yang berarti semua apapun yang di lakukan oleh Negara dalam hubungannya dengan lingkup internasional mengandung ranah dan tujuan yang berhubungan dengan bidang ekonomi dan pemenuhan kebutuhan ekonomi Negara. Seperti yang kita tahu ACFTA merupakan kerja sama yang terbentuk atas inisiatif dari Cina untuk bergabung dan melakukan free trade dengan Negara-negara kawasan Asia Tenggara. Kerjasama tersebut salah satunya di dorong karena pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat dan secara terus menerus dan berkelanjutan membuat Cina harus memperoleh pasokan energi dan bahan mentah serta SDA yang lainnya untuk kebutuhan industrinya. Dalam hal ini Negara-negara di kawasan ASEAN yang kaya akan sumber daya alam di pandang

15 Pamuji Nanang Mugasejati, “Konsep Legalisasi dalam Politik Kerjasama Internasional”,

2006, hal. 122-125

(7)

oleh Cina sangat penting untuk memberikan pasokan bahan mentah dan energi bagi Cina.

Salah satu alasan yang membuat Cina menjalin dan secara berkelanjutan meningkatkan kerjasama dengan Negara-negara anggota ASEAN adalah karena sebagian besar Negara-negara di kawasan ASEAN memiliki cadangan bahan mentah sumber daya alam yang melimpah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi Cina guna untuk menunjang proses industrialisasinya.17 Dengan berjalannya pembangunan ekonomi di Cina yang semakin cepat maka kebutuhan akan energi berupa sumber daya minyak semakin meningkat juga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka dari itu Cina menghentikan kebijakan lamanya tentang larangan untuk mengimpor minyak yang di mulai pada tahun 1986.

Untuk pemenuhan kebutuhan energi ini Cina juga mengambil dari beberapa Negara kawasan ASEAN. Pada beberapa Negara di kawasan tersebut seperti Indonesia. Thailand, Malaysia dan Vietnam memiliki bahan-bahan mentah yang di butuhakan oleh Cina seperti minyak bumi , karet, agrikultur dan timah. Bagi Cina terdapat beberapa Negara di kawasan ASEAN yang memiliki potensi besar dalam hal pemasok kebutuhan minyak di Cina dan di anggap penting karena pasokan minyaknya dapat memenuhi kecukupan dalam bidang energi seperti Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Vietnam. Negara-negara tersebut tidak dapat terlepas dari Cina baik untuk eksplorasi minyak di Negara mereka masing-masing ataupun kerja sama bersama dalam melakukan eksplorasi minyak.

Untuk dapat mencukupi kebutuhan pasokan di bidang pangan yang besar maka Cina harus menemukan cara bagaimana untuk memenuhi kebutuhan dan memberi makan terhadap 20 persen (1.3 milyar jiwa) dari jumlah penduduk dunia yang semuanya berada di Cina, sementara hanya tersedia lahan sebanyak 7 persen di Cina yang dapat di tanami.18 Oleh karena itu kedekatannya dengan Negara-negara di kawasan ASEAN yang memiliki sumber daya alam yang melimpah baik dalam bidang agrikultur dan pertanian dan kerjasama yang di lakukan dengan Negara-negara tersebut utamanya dalam bidang ekonomi seperti ACFTA dengan berkurangnya hambatan tarif dalam perdagangan bebasnya maka akan dapat menjadi solusi dalam memenuhi kebutuhan akan pasokan pangan bagi Cina. Ketersediaan bahan mentah di Negara-negara ASEAN ini menjadikan kawasan tersebut orientasi daripada kerjasama ekonomi yang selalu di kembangkan dan di tingkatkan oleh Cina terhadap ASEAN. Dalam hal ini berarti Cina ingin memperoleh akses yang sebesar besarnya dan juga dalam jangka panjang terhadap komoditas-komoditas tersebut yang yang di gunakan untuk pemenuhan akan kebutuhan industrialisasinya sehingga dapat memperkuat ekonomi Cina. Selain itu dengan potensi penduduk yang besar di mana dua puluh persen penduduk dunia menetap di Negara Cina memang membutuhkan pasokan dalam bidang pangan dan pertanian sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan yang besar di

(8)

Cina yang mana semua bahan sumber daya alam tersebut di peroleh dari kerjasamanya dengan ASEAN.

Selain dari impor bahan mentah untuk pemenuhan kebutuhan produk industrialisasi Cina juga melakukan impor roduk di bidang manufaktur dari Negara yang lebih maju di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia guna untuk menunjang efisiensi dari pada proses produksi dalam industrialisasi Cina. berikut daftar tabel ekspor dan impor yang di lakukan dengan Negara kawasan ASEAN Sehingga dengan keberadaan bahan baku untuk proses produksi yang melimpah yang di datangkan dari kawasan ASEAN akan menekan biaya produksi terkait kelangkaan bahan baku yang tidak dimiliki oleh Cina. Selain itu pasokan produk manufaktur yang di impor oleh Cina dari Negara maju di kawasan ASEAN juga akan berdampak pada efisiensi percepatan proses industrialisasi di bidang teknologi yang di gunakan untuk proses industrialisasi.

Ekspor Produk Guna Memperluas Pasar

Selain daripada pemenuhan kebutuhan dalam bidang sumber daya alam pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat juga berimplikasi terhadap perluasan akses pasar yang ingin di capai oleh Cina guna untuk memasarkan hasil-hasil dari produksinya. Selain karena faktor sumber daya alam yang melimpah kawasan Asia Tenggara juga memiliki potensi lain yang menjadi daya tarik bagi Cina untuk melakukan kerjasama sama. Potensi daya tarik tersebut yakni kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan yang potensial untuk memasarkan produk-produk hasil industrialisasi Cina. Produk-produk hasil industrialisasi Cina seperti produk manufaktur juga dibutuhkan di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina meskipun di sisi lain Cina juga mengimpor produk manufaktur dari beberapa Negara tersebut.19

Jika Negara-negara di kawasana ASEAN memiliki sumber daya alam yang melimpah di mana hal tersebut menjadi keuntungan bagi Negara-negara di kawasan ASEAN dalam melakukan kerja sama dengan Cina, maka bagi Cina potensi pasarlah yang salah satunya juga membuat Cina tertarik dengan kawasan ASEAN ini. Meskipun dalam jumlah total penduduk yang hanya setengah dari total penduduk Cina yang berjumlah 1.3 milyar jiwa, akan tetapi potensi penduduk 500 juta jiwa dari total ke sepuluh Negara kawasan ASEAN tersebut juga tidak dapat di kesampingkan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi Cina. Bagi Cina kawasan Asia Tenggara menjadi pilihan untuk melakukan kerjasama karena selain menyediakan bahan baku sumber daya alam untuk industrialisasinya kawasan Asia Tenggara juga menyediakan pasar untuk kebutuhan ekspor produk manufaktur dari Cina. Kemajuan ekonomi di Cina mengharuskan Negara tersebut mencari kawasan yang potensial akan sumber daya alam untuk pemenuhan bahan baku industrialisasinya dan juga pasar untuk memasarkan produk hasil dari industrialisasi di Cina dan kawasan ASEAN memiliki kemampuan untuk mendukung kebutuhan Cina tersebut.20

(9)

Perluasan akses pasar yang di lakukan oleh Cina ini lebih di karenakan pertumbuhan GDP Cina terus meningkat pasca membuka diri dan mengadakan reformasi ekonomi tahun 1978 pada masa pemerintahan Deng Xiaoping dan mencapai puncaknya pada tahun 1992. Menurut data dari bank dunia presentase ekspor Cina ke seluruh dunia juga terus meningkat hingga 6,4 persen pada tahun 2005 dan 7,7 persen pada tahun 2007 dari jumlah total ekspor komoditas manufaktur yang ada di dunia. Hal tersebut mengindikasikan kemampuan Cina dalam mengekspor komoditas ke seluruh dunia.21

Dari struktrur ekspor Cina terhadap dunia tersebut dapat di lihat bahwa Cina bukan lagi Negara pengekspor produk-produk hasil pertanian seperti Negara berkembang lainnya. Pada awal tahun 1980 an ekspor Cina masih di dominasi oleh hasil pertanian akan tetapi pada tahun 2000 struktur ekspor Cina menjadi terbalik dan lebih banyak di bidang manufaktur. Pada saat kerjasama free trade dengan ASEAN dalam ACFTA dapat di lihat antara tahun 2000 sampai 2010 ekspor dari Cina masih di dominasi oleh produk manufaktur yang berupa barang-barang elektronik dan peralatan mesin di mana ini mengindikasikan proses industrialisasi besar-besaran di Cina.22

Dengan adanya ACFTA peningkatan ekspor Cina semakin besar karena Negara-negara di ASEAN yang memiliki total jumlah penduduk lima ratus juta jiwa menjadi pasar yang potensial bagi produk dari Cina. Beberapa contoh berikut merupakan peningkatan ekspor Cina ke Negara di ASEAN yakni seperti di Indonesia peningkatan ekspor minyak dan gas ke Indonesia dari Cina juga terjadi pada tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 61.4 persen sedangkan peningkatan ekspor ke Indonesia di bidang bukan minyak dan gas juga mengalami peningkatan dari 37.34 persen menjadi 47.24 persen pada tahun 2005-2009 dan di tahun 2010 peningkatan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 96 persen.23 Di Thailand ekspor Cina juga mengalami peningkatan yang signifikan seperti pada tahun 2010 terjadi peningkan ekspor Cina sebesar 46 persen pada bidang produk-produk manufaktur lebih besar dari tahun sebelumnya yakni tahun 2009 sebesar 39 persen.24

Peningkatan ekspor juga terjadi antara Cina dengan Malaysia dalam kerjasama ACFTA. Ekspor Cina ke Malaysia mengalami peningkatan sebesar 45 persen di mulai dari tahun 2005 di bidang manufaktur juga seperti mesin listrik dan perlengkapannya, perlengkapan telekomunikasi, perekam suara dan televise. Begitu juga di Filipina terjadi peningkatan perdagangan bilateral di antara keduanya pada tahun 2007 dan 2008 dari 7.5 milyar dolar menjadi 28.6 milyar dolar. Ekspor Cina yang utama ke Filipina yakni dalam bidang manufaktur seperti mesin listrik dan perlengkapannya, besi dan baja, bahan mineral tambang dan 21 Wibowo I “Belajar Dari Cina Bagaimana Cina Merebut Peluang Dalam Era

Globalisasi”,2007, Hal. 31

22 Ibid hal.32

23 Keith E. Flick & Kalyan M. Kemburi “ASEAN-China Free Trade Area: Challenges,

Opportunities and the Road Ahead”.2012. S. Rajaratnam School of International Studies.Singapore. hal. 30

(10)

pakaian.25 Ekspor Cina di kamboja mengalami peningkatan antara tahun 2007 sampai dengan tiga bulan di awal tahun 2010 dari 739 juta dolar menjadi 843 juta dolar dalam bidang manufaktur. Sedangkan dengan Singapura ekspor Cina juga mengalami peningkatan akan tetapi juga terjadi peningkatan di bidang impor dalam produk-produk elektronik

Maka dari itu dengan pertumbuhan ekonomi Cina yang meningkat pesat dan juga perkembangan ekspornya ke seluruh dunia yang juga besar menimbulkan konsekuensi bagi Cina untuk mencari tempat perluasan akses pasarnya guna untuk memasarkan produk industrialisasinya yang di dominasi sebagian besar oleh produk dalam bidang manufaktur. Maka ASEAN dengan 500 juta populasinya menjadi tempat yang tepat untuk perluasan akses pasar Cina tersebut karena dapat menimbulkan komplementarias atau saling melengkapi di antara keduanya di mana ASEAN memiliki sumber daya alam yang di butuhkan Cina dan ASEAN juga membutuhkan produk manufaktur dari Cina.

Investasi Asing Guna Menunjang Ekonomi Cina

Hubungan Kerjasama ekonomi dari kerjasama free trade antara ASEAN dan Cina selain sebagai pemenuhan kebutuhan bahan baku material dan juga perluasan pasar juga dalam bidang investasi asing. Karena investasi asing adalah salah satu jalan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi Cina itu sendiri baik itu investasi ke luar maupun investasi yang masuk ke Cina. Kerjasama ACFTA yang di ikuti oleh Cina juga mengikutsertakan free trade dalam bidang investasi yang akan berlaku pada agustus tahun 2009 sebagaimana yang tercatat dalam perjanjian ACFTA yang telah di sepakati antara kedua belah pihak. Dalam beberapa dekade terjadi peningkatan investasi dari Cina ke ASEAN secara bertahap.

Investasi asing dari Cina ke ASEAN sebesar 0.76 milyar dolar pada tahun 2000 sebelum terjadinya kerjasama ACFTA di antara kedua belah pihak dan meningkat menjadi 10.8 milyar dolar pada tahun 2008 setelah di berlakukannya ACFTA di kedua belah pihak. Begitu juga dengan investasi dalam bidang non-financial yang di lakukan oleh Cina sebesar 1.2 milyar dolar terhadap ASEAN pada pertengahan 2010 sedangkan FDI dari ASEAN ke Cina sebesar 3.1 milyar dolar.26 Pada dasarnya FDI yang di lakukan oleh Cina itu sendiri adalah sebagai salah satu Cara untuk menghilangkan gambaran buruk dari Cina yang terkenal akan produk “made in Cina”. Selain itu FDI yang di lakukan oleh Cina juga sebagai langkah Cina yang ingin mempromosikan ekspor, pencarian sumber daya alam untuk menunjang produksi, pencarian terhadap teknologi guna menunjang industri dalam negeri. Pada tahun 2008 lebih dari delapan ribu lima ratus investor Cina dan dua belas ribu perusahaan Cina melakukan investasi di seratus tujuh puluh empat Negara di seluruh dunia. 27

Sedangkan di ASEAN dengan adanya ACFTA di bidang investasi pada tahun 2009 FDI di antara keduanya mengalami peningkatan yang cukup 25 Ibid hal. 52

(11)

signifikan. FDI ASEAN ke Cina pada tahun 2003-2009 meningkat dari 2.93 milyar dolar menjadi 4.68 milyar dolar, sedangkan FDI dari Cina ke ASEAN juga mengalami peningkatan 230 juta dolar menjadi 3 milyar dolar. Pada bulan juni tahun 2010 total FDI ke Cina sebesar 60 milyar dolar, sedangkan FDI dari Cina ke ASEAN sebesar 9.6 milyar dolar. 28 Dengan banyaknya investasi yang mengalir baik kedalam maupun keluar maka secara tidak langsung akan dapat meningkatkan ekonomi Cina itu sendiri guna menunjang kesejahteraan penduduk negaranya. Investasi yang masuk ke dalam Cina akan merangsang sektor-sektor produkttif dalam negeri Cina dimana dengan tetap beroprasinya sektor produktif juga akan menunjang proses industrialisasi di Cina dimana hasil akhir dari proses industrialisasi tersebut adalah peningkatan dalam bidang ekonomi Cina. Seperti di sebutkan di atas bahwa investasi asing yang mengalir ke Cina maupun yang di lakukan oleh Cina terhadap Negara-negara di kawasan ASEAN seperti dalam hal mempromosikan ekspor barang-barang produk dari Cina di mana hal tersebut di lakukan untuk mencari pasar yang potensial di kawasan ASEAN, pencarian sumber daya alam serta teknologi yang mana semua hal tersebut juga akan menunjang efisiensi dari proses industrialisasi di Cina sehingga pemenuhan kebutuhan barang-barang produk bagi rakyat Cina juga akan terpenuhi secara tidak langsung karena ketersediaan bahan baku yang melimpah dan teknologi untuk memproduksinya.

Hubungan Kerjasama Politik Cina

Mengimbangi Pengaruh Jepang dan Amerika di Kawasan ASEAN

Salah satu alasan Negara melakukan kerjasama internasional adalah untuk menghadapi masalah yang mengancam keamanan bersama baik dalam bidang ekonomi, security, cultural hal tersebut juga menjadi tujuan Cina dalam membentuk dan melakukan kerjasama dengan ASEAN. Kerjasama tersebut salah satunya di wujudkan oleh Cina dengan menjalin kerjasama regional dalam bidang ekonomi seperti ACFTA. Selain itu kerjasama yang di lakukan antara Cina dengan kawasan ASEAN adalah untuk mengimbangi dominasi Jepang dan Amerika di kawasan Asia Tenggara. Seperti yang di ketahui belum adanya bentuk kerjasama resmi yang ada di kawasan Asia Timur menandakan masih buruknya hubungan antar Negara di kawasan tersebut terutama hubungan antara Cina dengan Jepang. Terlepas dari konflik di masa lalu selama perang dunia dua kawasan Asia Tenggara saat ini memandang Jepang sebagai sesuatu yang positif karena Jepang saat ini merupakan salah satu investor utama di di kawasan ASEAN juga menjadi mitra dialog penuh ASEAN. Begitu juga dengan hubungannya dengan Cina yang terus berkembang dengan semakin terbukanya orientasi politik dan ekonomi Cina yang semakin bersahabat dari Negara yang tadinya di pandang sebagai ancaman bagi ASEAN terkait dengan perkembangan komunismenya di Asia Tenggara.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan persepsi Cina terhadap Jepang di mana Jepang di anggap oleh Cina belum mau mengakui kesalahan yang di lakukannya pada saat perang dunia ke dua dengan menduduki Cina pada saat itu.

(12)

Hal tersebut terlihat dalam penulisan buku tentang sejarah di Jepang yang mana cenderung membenarkan tindakan yang di lakukan oleh Jepang pada saat perang dunia ke dua terhadap Korea, Cina dan Asia Tenggara serta kunjungan yang dilakukan berulang kali oleh perdanan menteri Jepang ke kuil Yasukuni tempat korban perang dunia ke dua di makamkan termasuk pemimpin militer yang dijatuhi hukuman sebagai penjahat perang pada saat itu di mana hal tersebut berakibat dari pembekuan kontak antar pejabat tinggi Cina dan Jepang dari tahun 2001-2006 pada masa pemerintahan Junichiro Koizumi.29

Berkaca dari masa lalu yang pahit bagi Cina maka dari itu Cina membulatkan tekad untuk tidak akan mau menerima kepemimpinan Jepang di Asia Timur. Akan tetapi Cina juga mengkhawatirkan tentang mulainya ketergantungan Negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara yang menggantungkan diri mereka terhadap ekonomi Jepang, sehingga dengan adanya hal tersebut secara tidak langsung Negara-negara di ASEAN tidak dapat menolak kepemimpinan Jepang di kawasan mereka. Oleh karena itu Cina akan berupaya menentang Asia Tenggara yang di rangkul oleh Jepang karena bagi Cina hal tersebut merupakan ancaman terhadap Cina itu sendiri. Di sisi lain sebenarnya Cina juga menyadari akan peran dan kontribusi Jepang dalam pembangunan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Dari hal ini mengapa Cina mendekatkan diri kepada kawasan Asia Tenggara. secara politis dan ekonomi Cina tidak menginginkan Jepang memonopoli kawasan Asia Tenggara dengan kata lain Cina ingin membantu Negara di kawasan Asia Tenggara untuk untuk lepas dari ketergantungan terhadap Jepang. 30

Pembentukan kerjasama regional antara Cina dan ASEAN yang tercermin dalam ACFTA merupakan salah satu usaha politik Cina untuk mengimbangi dan mengurangi pengaruh ekonomi Jepang di kawasan ASEAN. hal tersebut dibuktikan dengan keagresifan Cina dalam mengajukan proposal kerjasama pembentukan ACFTA tersebut kepada ASEAN pada tahun 2002 yang hasilnya adalah pembentukan regional Free Trade Area antara Cina dengan ASEAN yang pertama kali di bentuk di kawasan Asia. Dengan keberhasilan Cina membentuk kawasan FTA regional dengan ASEAN maka dari itu Jepang juga mengajukan hal yang sama satu tahun sesudah pengajuan kerjasama FTA yang di lakukan oleh Cina yaitu pada tahun 2003. Dari hal ini dapat terlihat dengan adanya usaha dari Cina untuk mengimbangi dan mengurangi pengaruh Jepang di kawasan Asia Tenggara.31

Sedangkan dalam usahanya mengimbangi pengaruh Amerika di kawasan Asia Tenggara Cina juga menjadikan kerjasama ACFTA sebagai suatu kebijakan luar negeri dalam bidang ekonomi untuk lebih mendekatkan diri dengan kawasan ASEAN.dengan terbentuknya blok FTA regional maka secara tidak langsung hubungan di antara Negara anggota dari FTA tersebut akan lebih dekat. Para pengamat juga menyimpulkan Cina memiliki strategi terhadap kawasan Asia

29Sungkar, Y, “Strategi ASEAN Dalam Perluasan ASEAN+3”,2005, hal.101 30 Ibid, hal. 102

(13)

Tenggara di mana pengaruh dari Cina akan dengan mudah di perluas dengan isu tentang Cina yang ingin mendekat dengan kawasan tersebut di motivasi karena Cina ingin lingkungan yang stabil, damai dan sejahtera untuk perkembangan daripada ekonominya akan tetapi di sisi lain hal tersebut di lihat sebagai usaha dari Cina untuk mengurangi pengaruh Amerika di kawasan dengan secara pelan-pelan menjadikan Cina sebagai pusat dari ekonomi dan security di kawasan Asia Tenggara.32 Usaha dari Cina untuk mengimbangi dan mengurangi pengaruh Amerika dan jepang di kawasan Asia Tenggara lewat kerjasama ekonomi yang dibentuk antara Cina-ASEAN memberikan cukup hasil yang signifikan dilihat dari data perdagangan dengan kedua Negara tersebut yang dari tahun ke tahun semakin mengalami penurunan di sisi Amerika dan Jepang dan peningkatan di sisi Cina.

Tabel.6

ASEAN Trade with Selected Major Partners for 1995, 2000, and 2005 as a Percent of Total Trade

Sumber: China-Shouteast Asia Relations: Trends, Issues, and Implications for The United States

Dari data di atas dapat di lihat perkembangan perdagangan antara ASEAN dengan Negara lain seperti Amerika, Cina dan Jepang dari tahun ke tahun. Di mana perdagangan antara ASEAN dengan Cina terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan perdagangan antara ASEAN dengan Jepang dan Amerika mengalami penurunan secara signifikan. Kenaikan perdagangan antara Cina dan ASEAN terjadi secara lebih besar pada tahun 2004 di mana pada waktu itu kesepakatan tentang pembentukan blok FTA antara ASEAN dan Cina disepakati. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kerjasama antara Cina dengan ASEAN yang terjalin mengurangi pengaruh dari Jepang dan Amerika di kawasan Asia Tenggara.

Kerjasama Terkait Batas Wilayah Laut Cina Selatan

(14)

Salah satu alasan lain negara melakukan kerjasama adalah untuk mengurangi kerugian negatif yang di timbulkan dari tindakan individual Negara yang mana tindakan tersebut juga akan berdampak terhadap Negara lain. Dalam hal ini Cina melakukan kerjasama dalam bidang politik dan keamanan dengan ASEAN salah satunya untuk mencegah tindakan individual dari beberapa Negara di kawasan ASEAN yang sedang berkonflik dengan Cina terkait batas wilayah di perairan laut Cina selatan agar tidak bertindak secara individual sehingga tindakan tersebut dapat merugikan Cina terkait konflik laut Cina selatan. Melalui pembentukan kerjasama regional blok FTA Cina mencoba untuk lebih mendekatkan diri kepada ASEAN dalam bidang ekonomi akan tetapi juga dalam bidang politik dan keamanan. Hal tersebut sekilas dapat terlihat dari proposal kerjasama dalam bidang security yang di ajukan oleh Cina pada tahun 2011 dalam Cina-ASEAN Amity and exchange year dengan tema “Cina-ASEAN mutually beneficial and win-win partners” dimana ACFTA berperan penting dalam membantu merealisasikan maksud dan tujuan Cina tersebut.33

Dengan tujuan untuk mempromosikan perdamaian dan juga persahabatan serta lingkungan kawasan yang harmonis di kawasan laut Cina selatan yang selama ini menjadi pemicu permasalahan security antara Cina dengan beberapa Negara kawasan ASEAN maka dari itu Cina dengan kesadaran diri melakukan penandatangan dan kerjasama Declaration on the Conducts of Parties in the South China Sea (DOC) yang di tandatangani pada bulan November tahun 2002 di Phnom Penh dan setelah melewati daripada beberapa perundingan dengan ASEAN maka Cina mau mengadopsi dan menerapkan DOC pada 21 july 2011 di bali.34 Konflik pada laut Cina selatan melibatkan enam Negara di kawasan ASEAN yaitu Cina, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei Darussalam dimana setiap Negara tersebut memiliki alasan masing-masing terhadap klaim atas potensi dari laut Cina selatan itu sendiri.35 Dalam mengklaim wilayah laut Cina selatan Cina menggunakan fakta sejarah dari penemuan situs, dokumen-dokumen kuno, peta-peta dan penggunaan gugus-gugus pulau oleh nelayannya yang sejak 2000 tahun lalu telah mencari ikan di kawasan tersebut. Semua usaha keras yang telah di lakukan Cina tersebut untuk menunjukkan laut Cina selatan merupakan bagian dari Cina.

Selain dengan usaha yang di lakukan Cina di atas dalam sengketa laut Cina selatan dengan menunjukkan bukti-bukti sejarah Cina juga mendekati Negara-negara yang berkonflik dengannya terkait laut Cina selatan dengan jalan mengajak untuk bekerjasama organisasi yang menaungi Negara-negara yang terlibat konflik tersebut dengan Cina dalam suatu kerjasama Ekonomi seperti ACFTA maupun keamanan. Seperti pada bulan agustus tahun 2004 yang pada saat itu juga berlangsung kerjasama di bidang ekonomi dengan kawasan ASEAN, Cina mencoba untuk mengajak salah satu Negara yang berkonflik terkait perbatasan di laut Cina selatan yakni Filipina untuk mengadakan eksplorasi bersama guna

33 Jianren Liu “Early Review of ACFTA : Achievements, Problems and Its Implication on

Sino-ASEAN Relations” 2012, Hal. 16

34Ibid

(15)

mengurangi ketegangan di antara kedua Negara tersebut. Hal tersebut di sambut baik oleh Filipina dengan beberapa alasan diantaranya adalah dalam hal pemenuhan kebutuhan sumber daya alam minyak bumi yang mana dengan semakin berkembangnya era kemajuan global maka kebutuhan akan minyak bumi akan semakin meningkat. Hal tersebut yang mendasari Filipina mau bekerjasama dengan Cina untuk melakukan eksplorasi bersama.36

Selain daripada Filipina usaha Cina ini juga di lakukan dengan Vietnam yang mana Negara kawasan ASEAN tersebut juga berkonflik dengan Cina terkait laut Cina selatan. Pada maret 2005 ke tiga perusahaan minyak dari masing-masing Negara yakni Filipina, Cina dan Vietnam melakukan kerjasama dan menandatangani suatu perjanjian triparty di manila dimana perjanjian tersebut ditujukan untuk penelitian seismik eksplorasi minyak bersama di laut Cina selatan dengan jangka waktu tiga tahun dan mencakup area seluas seratus empat puluh tiga ribu kilometer persegi. Kerjasama yang di lakukan tersebut menegaskan bahawa penandatanganan yang di lakukan tidak akan berdampak pada pengurangan wilayah laut Cina selatan yang sedang mereka persengketakan dan mengacu pada suatu wilayah kerjasama yang damai dan stabil. 37

Dari beberapa usaha yang di lakukan Cina di atas terkait sengketa batas wilayah di perairan laut Cina selatan yang terjadi antara Cina dan beberapa Negara di kawasan ASEAN, Cina lebih memilih jalan kerjasama dalam mendekati dan meredam konflik dari Negara-negara ASEAN yang berkonflik dengannya. Cina lebih memilih mendekati dan mengajak Negara yang berkonflik tersebut dengan melakukan kerjasama ekonomi dalam kerangka kerjasama ACFTA agar dapat meredam tindakan individual dari Negara kawasan ASEAN tersebut yang mana akan merugikan Cina karena Cina tidak berkonflik dengan satu Negara melainkan dengan beberapa Negara sekaligus dimana hal tersebut sangat tidak menguntungkan bagi Cina.

KESIMPULAN

Perkembangan regionalisme pasca perang dingin dan kebangkitan ekonomi Cina setelah lebih terbuka terhadap dunia internasional yang di tandai dengan melesatnya pertumbuhan ekonomi Cina yang menempati posisi ke dua dunia setelah Amerika menggeser Negara tetangga satu kawasan yakni jepang menuntut Cina untuk melakukan kerjasama dengan Negara lain baik secara regional ataupun global untuk memenuhi semua kebutuhan negaranya agar keberlangsungan perkembangan ekonominya tetap berjalan dan agar dapat tetap bisa mempertahankan posisi ekonomi terbesar ke dua dunia tak lain di di lakukan lewat kerjasama internasional dengan Negara lain. Kerjasama internasional yang merupakan suatu bentuk kerjasama yang di lakukan oleh aktor-aktor internasional yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama dalam lingkup 36 Ralf Emmers, “ Maritime Disputes in The South China Sea: Strategic and Diplomatic Status

Quo, Institute for Defence and Strategic Studies” working paper no.87

(16)

internasional di bagi dalam beberapa bidang yakni ekonomi, politik, keamanan serta budaya.

Hubungannya kerjasama Cina dengan ASEAN dalam ACFTA yang dilakukan oleh Cina merupakan suatu bentuk kerjasama regional ekonomi politik yang di lakukan Cina dengan kawasan Asia Tenggara di mana kerjasama Cina tersebut dapat di jelaskan menggunakan konsep kerjasama internasional. Hubungan kerjasama ekonomi Cina dalam kerjasama ACFTA merupakan hubungan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dalam bidang ekonomi di mana kebangkitan Cina tersebut memberi dampak pada Cina untuk memenuhi kebutuhan ekonominya yang tidak dapat di penuhi di dalam negeri Cina itu sendiri seperti pemenuhan bahan mentah untuk industrialisasinya lewat impor, perluasan pasar untuk produk hasil industrialisasi Cina keluar Negara lewat ekspor serta investasi asing yang bersifat ke dalam maupun keluar yang di lakukan Cina guna menunjang perekonomiannya. Sedangkan hubungan kerjasama politik yang di lakukan oleh Cina dalam ACFTA dapat di lihat dari ACFTA itu sendiri yang merupakan suatu bentuk kerjasama yang bersifat ekonomi politik dari Cina di kawasan ASEAN dimana kerjasama tersebut memiliki tujuan politik dan keamanan di dalamnya yaitu di lihat dari adanya keinginan untuk membentuk kerjasama ACFTA sebagai langkah untuk menyaingi dan untuk mengurangi pengaruh Jepang dan Amerika di kawasan Asia Tenggara lewat kerjasama ACFTA yang di bentuk dalam lingkup regional juga untuk meredam sengketa di wilayah laut Cina selatan sebagai usaha untuk meredam tindakan individual Negara kawasan ASEAN yang akan berdampak pada Cina.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Dougherty, James E. & Robert L. Pfaltzgraff. 1997.“Contending Theories. New York: Harper and Row Publisher.

Elisabeth, A, 2009. “Menuju Pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN : Isu-Isu Strategis”, LIPI, Jakarta.

(17)

Hocking Brian & Smith Michael, 1996. “World Politic: An Introduction to International Relation”, Routledge Press

Inayati, RS. 2006. ASEAN-CHINA FTA : Akselerasi Menuju East Asia Community (EAC), Jakarta, LIPI Press.

Kartasasmita, Koesnadi. 1983. Organisasi Dan Administrasi Internasional. Bandung: Fisip UNPAD Press.

Keith E. Flick & Kalyan M. Kemburi, 2012. “ASEAN-China Free Trade Area: Challenges, Opportunities and the Road Ahead”, S. Rajaratnam School of International Studies.Singapore.

Luhulima, CPF, Anwar,DF, Bhakti, IN, Sungkar, Y & Inayati, RS, 2008. “Masyarakat Asia Tenggara Menuju Komunitas ASEAN 2015”, Jakarta, Pustaka Pelajar.

Prabowo , D & Wardoyo, S, 1997. “AFTA Suatu Pengantar”, BPFE, Yogyakarta.

Pambudi, D & Chandra, AC, 2006. “Garuda Terbelit Naga” Institute for Global Justice, Jakarta.

Rudi, T.May. 1993.”Teori Etika dan Kebijakan Hubungan Internasional”. Bandung: PT.Refika Aditama

Sjamsumar Dam dan Riswandi, 1955. “Kerjasama ASEAN, Latar Belakang, Perkembangan dan Masa Depan”, Jakarta : Ghalia Indonesia.

Sungkar, Y, 2005.”Strategi ASEAN Dalam Perluasan ASEAN+3”, Jakarta, LIPI Press.

Weather , DE, E mmers, R, Pangestu, M, & Sebastian, LC, 2005. “International Relations in Southeast Asia The Struggle For Autonomy”, oxford. Rowman and littlefield Publisher inc.

Wibowo I, 2007. “Belajar Dari Cina Bagaimana Cina Merebut Peluang Dalam Era Globalisasi”, Kompas Media Nusantara, Jakarta.

Wibowo, I & Hadi. S (eds) 2009. “Merangkul Cina”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Wuyandari,G, 2000. “Menuju ASEAN Vision 2020: Tantangan dan Inisiaif”, Jakarta, PPW-LIPI.

(18)

JURNAL

ASEAN Statistical Year Book, 2010. ASEAN Secretariat, Jakarta.

Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN Kementrian Luar Negeri RI 2010, ASEAN Selayang Pandang, edk 19, Kemlu, Jakarta.

“Economic Review”, 2009.No. 218. Desember.

Fehr Ernst & Gintis Herbert, 2006. “Human Motivation and Social Cooperation : Experimental and Analytical Foundations”, 1Institute for Empirical Research in Economics, University of Zurich, Blumlisalpstrasse 10, CH –Zurich, Switzerland.

Harini Setyasih,2008. “Kepentingan Nasional Cina Dalam Konflik Laut Cina Selatan”. Jurnal Mengajar Hubungan Internasional.

Jianren Liu, 2012. “Early Review of ACFTA : Achievements, Problems and Its Implication on Sino-ASEAN Relations”.

Kratochwil. F, E. D Mansfield, 1994. “International Organization A Reader International Institutions Two Approach”.

Leong, HK & Ku, SCY (eds.), 2005. “China and Southeast Asia Global Changes and Regional Challenges, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS)”,Singapore.

Morrison M. Wayne, 2012. ”Chinas’s Economi Conditions”, Congressional Research Service.

O’farrill Enrique, Fierro Juan, Eugenia Maria, Perez Eugenio, Vallejos Marcela, 1999. “ Economic Cooperation” Desember, AGCL Cooperation Chilena.

Pamuji Nanang Mugasejati, 2006. “Konsep Legalisasi dalam Politik Kerjasama Internasional” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Volume 10, Nomor 2, November.

Ralf Emmers, “Maritime Disputes in The South China Sea: Strategic and Diplomatic Status Quo, Institute for Defence and Strategic Studies” working paper no.87.

Singh, DA, 1997. ”Asean Economic Co-operation Transition and Transformation”, Institude of Southeast Asian Studies Singapura.

(19)

Wang Gungwu, 2005. “China and Southeast Asia: The Context of a New Beginning,” in David Shambaugh, ed., Power Shift: China and Asia’s New Dynamics, Berkeley, CA.

Zhang Haibing, 2005. “Zhongguo-Dongmeng Quyu jingji Hezuo De Xinjinzhan Yu Wenti” [“Progress and Problems in China-ASEAN Regional Economic Cooperation”], Guoji wenti luntan [International Review], No. 38, Spring.

INTERNET

ASEAN secretariat 1977, “Join Communiqué The Second ASEAN Heads of Government Meeting”, http://www.aseansec.org/5095.htm, di akses pada tanggal 1 juni 2014

ASEAN Secretariat, “ASEAN Free Trade Area (AFTA)”, 1999, www.aseansec.org/19585.htm di akses pada tanggal 02 Maret 2015

Central Intelligence Agency 2011, The World Factbook, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/ch.html diakses pada tanggal 8 februari 2015.

http://www.tradingeconomics.com/china/gdp diakses pada 1 juni 2014.

http://www.anneahira.com/sejarah-asean.htm diakses pada tanggal 1 juni 2014.

http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/158-agustus-2011/1188 keuntungan-yang-diperoleh-dari-acfta-lebih-besar-dibandingkan-dengan

kerugiannya.html di akses pada tanggal 1 juni 2014.

http://unpad.ac.id/yogix/2010/03/12/Bagaimana-Mekanisme-Acfta-2010/ di akses pada tanggal 1 juni 2014.

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan jenis dan kombinasi tanaman yang tepat menjadi penting untuk mendukung optimalisasi lahan. Tujuan penelitian tahun pertama adalah untuk mendapatkan varietas

2011.Model – Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru .Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.. Kurniawan, Deni.dkk.2012.Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi

Bedasarkan pengertian dan analisis tentang motivasi yang telah dibahas di atas maka pada pokoknya motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis: (1) motivasi intrinsik

Proses thresholding selanjutnya adalah melewatkan warna yang masuk kedalam range hue warna yang ditentukan sesuai dengan nilai pada tabel 1 dan memblok semua warna

Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dengan pendekatan metode Balance Scorecard adalah : 1) Perspektif

Sebelumnya data yang diterima oleh receiver 2.4 Ghz di olah pada mikrokontroler Arduino untuk dikelompokan menjadi sebuah data perintah navigasi robot melalui

[r]

Berdasarkan gambar tersebut secara umum, penggunaan elemen bara api dengan berbagai variasi diameter kawat nikelin yang diuji mampu meningkatkan efisiensi dibandingkan