PERANCANGAN SISTEM INFORMASI INVENTORI
BARANG DI BANK SAMPAH GARUT
TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Kelulusan Mata Kuliah Tugas Akhir
Oleh:
BUDY MOCHAMAD NOVIANDI NPM. 0806023
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT
LEMBAR PENGESAHAN
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI INVENTORI BARANG DI BANK SAMPAH GARUT
Oleh:
BUDY MOCHAMAD NOVIANDI NPM. 0806023 Menyetujui : Pembimbing I Pembimbing II Dini Destiani, MT. NIDN : ……… Partono, M.Kom NIP: 197910172005011002 Mengetahui :
Ketua Jurusan Teknik Informatika
Eri Satria, M.Si NIDN : 0029127501
BUDY MOCHAMAD NOVIANDI, 0806023
Perancangan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut Dibawah bimbingan Ibu Dini Destiani, MT. sebagai Dosen Pembimbing I dan Bapak Partono, M.Kom sebagai Dosen Pembimbing II.
60 Halaman + ix / 28 Gambar / 46 Tabel / 10 Daftar Pustaka (1999-2012) / 4 Lampiran
ABSTRAK
Bank Sampah Garut adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pemanfaatan pengelolaan sampah yang berasal dari limbah rumah tangga, kantor, dan lembaga pendidikan (sekolah). Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh Bank Sampah Garut yaitu informasi mengenai inventori barang. Dewasa ini jumlah dari nasabah Bank Sampah Garut meningkat cukup pesat, peningkatan jumlah nasabah tersebut dikarenakan jumlah Bank Sampah Unit Sekolah yang semakin banyak, sedangkan pemrosesan masih manual hal tersebut secara otomatis tentu akan membuat barang yang akan masuk bertambah banyak, hal penyimpanan barang karena daya tampung gudang yang tetapberpotensi membuat barang yang disimpan melebihi dari daya tamping gudang. Tujuan penelitian ini sendiri adalah membuat sebuah perancangan sistem informasi inventori barang yang terkomputerisasi di Bank Sampah Garut.
Perancangan sistem informasi inventori ini meliputi tahap Analisis dan desain sistem dengan menggunakan metodologi berorientasi objek dari Ali Bahrami (1999) yaitu metode Unified Approach. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kebutuhan dari Bang Sampah Garut ialah sebuah sistem pemrosesan data barang, sistem pembuatan laporan barang masuk, barang keluar, dan laporan penjualan barang, serta penjadwalan pengambilan tabungan ke bang sampah unit sekolah yang semuanya telah terotomatisasi dalam sebuah system aplikasi komputer.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan sistem informasi inventori barang di Bank Sampah Garut dapat mempermudah pengaksesan data barang, dan pembuatan laporan barang masuk dan keluar barang, serta laporan penjualan barang di Bank Sampah Garut, juga membantu mengontrol kapasitas gudang dalam hal daya tampung barang dengan adanya proses pembuatan penjadwalan pengambilan tabungan.
Kata Kunci: Sistem Informasi Inventori; Bank Sampah Garut; Metode Berotientasi Objek; Metode Unified Approach.
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini. Shalawat serta salam tak lupa penyusun curahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.
Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan Mata Kuliah Tugas Akhir di Jurusan Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STTG). Adapun judul dari laporan Tugas Akhir ini adalah : ” PERANCANGAN SISTEM INFORMASI INVENTORI BARANG DI BANK SAMPAH GARUT”
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini penyusun banyak sekali mendapatkan bantuan, dorongan, bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak, oleh karena itu rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penyusun sampaikan kepada yang terhormat :
1. Bapak dan Ibu tercinta, serta seluruh keluarga, serta orang-orang terdekat yang telah memberikan do’a dan dorongan baik secara moril, materil maupun spiritual selama penyusunan Tugas Akhir ini.
2. Bapak Prof. Dr. H.M. Ali Ramdhani, MT selaku Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut.
3. Bapak Eri Satria, M.Si dan Bapak Rinda Cahyana, MT., selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Teknik Informatika.
4. Ibu Dini Destiani, MT., selaku Dosen Pembimbing I dalam penyusunan Tugas Akhir ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bimbingannya yang penuh kesabaran kepada penulis selama penyusunan Laporan ini.
5. Bapak Partono, M,Kom., selaku Dosen Pembimbing II dalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan dan kepercayaannya kepada penulis.
ii
7. Rekan-rekan seberjuangan Teknik Informatika Angkatan 2008.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak memeberikan inspirasi dalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang selalu penulis nantikan. Akhirnya penulis berharap semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Garut, Nopember 2012
iii DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vi DAFTAR TABEL ... ix BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Identifikasi Masalah ... 3 1.3. Kerangka Pemikiran ... 4 1.4. Sistematika Penulisan ... 5
BAB I I LANDASAN TEORI ... 6
2.1. Konsep Sistem Informasi ... 6
2.1.1. Definisi Sistem ... 6
2.1.2. Definisi Informasi ... 6
2.1.3. Definisi Sistem Informasi ... 7
2.2. Persediaan (Inventory) ... 8
2.3. Bank Sampah Garut ... 9
2.3.1. Pengertian Bank Sampah Garut ... 9
2.3.2. Bank Sampah Unit Sekolah ... 10
2.4. Pengembangan Sistem Berorentasi Objek ... 10
2.4.1. Tahap Analisis Kesenjangan ... 10
2.4.2. Tahap Analisis Sistem ... 11
2.4.2.1 Identifikasi Aktor (Identify the user/actors) ... 11
2.4.2.2 Pengembangan Diagram Aktifitas (Develop use case, activity diagrams) ... 12
iv
Halaman 2.4.2.3 Pengembangan Diagram Interaksi (Develop interaction
diagrams) ... 16
2.4.2.4 Identifikasi Kelas-kelas, relasi, atribut dan method (Identify classes, relationships, attributes, and methods) ... 18
2.4.2.5 Pemeriksaan (Refine and iterate) ... 26
2.4.3. Tahap Perancangan ... 26
2.5. Pemodelan ... 27
2.5.1. Work Breakdown Structure ... 27
2.5.2. Activity Sequencing ... 27
2.5.3. Flowchart Diagram ... 28
2.5.4. Unified Modeling Language. ... 29
BAB III KERANGKA KERJA KONSEPTUAL ... 30
3.1. Metodologi Penelitian ... 30
3.1.1. Work breakdown structure ... 30
3.1.2. Activity Sequence ... 31
3.2. Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut. ... 32
3.3. Sumber Daya Yang Dibutuhkan ... 36
BAB IV HASIL PEMBAHASAN ... 37
4.1. Spesifikasi Kebutuhan Sistem (SRS) ... 37
4.1.1. Analisis Sistem Berjalan ... 37
4.2. Analisis Sistem Masa Depan ... 39
4.2.1. Identifikasi Aktor ... 42
4.2.2. Activity Diagram dan Use Case Proses Bisnis Masa Depan ... 43
4.2.2.1 Activity Aiagram ... 43
4.2.2.2 Mengembangkan Use Case ... 51
4.2.3. Pengembangan Diagram Interaksi ... 58
v
Halaman
4.2.3.2 Collaboration Diagram ... 63
4.2.4. Pengembangan Class Diagram ... 67
4.2.4.1 Identifikasi Class ... 67
4.2.4.2 Identifikasi Relationship ... 83
4.2.4.3 Identifikasi Atribut dan Method ... 85
4.2.5. Pemeriksaan ... 86
4.3. Perancangan Sistem Masa Depan ... 86
4.3.1. Perancangan Kelas, Asosiasi, Metode Dan Atribut ... 86
4.3.2. Perancangan Layer Akses dan Layer Antarmuka ... 87
4.3.2.1 Perancangan Layer Akses ... 87
4.3.2.2 Perancangan Layer Antarmuka ... 88
4.4. Pengujian ... 89
4.4.1. Usability Testing... 90
4.4.2. User Satisfaction Testing ... 91
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 94
DAFTAR PUSTAKA ... xi LAMPIRAN
vi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Alur Aktivitas Proyek Tugas Akhir ... 4
Gambar 2.1 Bagan Bank Sampah ... 9
Gambar 2.2 Contoh Activity Diagram (Bahrami, 1999) ... 13
Gambar 2. 2 Use case Diagram (Bahrami, 1999) ... 15
Gambar 2.3 Contoh Sequence Diagram (Bahrami, 1999) ... 16
Gambar 2.4 Collaboration Diagram (Bahrami, 1999) ... 18
Gambar 2.5 Contoh Class Diagram (Munawar, 2005... 21
Gambar 2.6 Asosiasi (Assosiation) (Munawar, 2005) ... 22
Gambar 2.7 Constraint pada sebuah Asosiasi (Munawar, 2005) ... 22
Gambar 2.8 Association Class (Munawar, 2005) ... 23
Gambar 2.9 Asosiasi dengan Multiplisitas (Munawar, 2005)... 24
Gambar 2.10 Contoh Generalisasi (Nugroho, 2005) ... 24
Gambar 2.11 Agregasi Bertingkat (Multilevel Agregation), (Nugroho, 2005) ... 25
Gambar 2.12 Dependency (Munawar, 2005) ... 26
Gambar 2.13 Work Breakdown Structure (Dawson, 2004) ... 27
Gambar 2. 14 Activity sequencing (Dawson, 2004 ... 28
Gambar 3.1 Work breakdown structure ... 30
Gambar 3.2 activity sequence ... 31
Gambar 4.1. Proses Bisnis Sistem Berjalan ... 37
Gambar 4.2. Proses Bisnis Sistem Masa Depan ... 40
Gambar 4.3 Activity Diagram Aplikasi Sistem Inventori Barang ... 44
Gambar 4.4 Activity Diagram Login ... 45
Gambar 4.5 Activity Diagram Admin ... 46
Gambar 4.6 Activity Diagram Membuat Penjadwalan pengambilan tabungan .... 47
Gambar 4.7 Activity Diagram Kelola Data Barang ... 48
Gambar 4.8 Activity Diagram Pembuatan Laporan ... 49
Gambar 4.9 Activity Diagram Logout ... 50
vii
Halaman
Gambar 4.10 Use Case Diagram login ... 52
Gambar 4.12 Use Case Diagram Admin ... 53
Gambar 4.13 Use Case Diagram Penjadwalan Pengambilan Tabungan ... 54
Gambar 4.14 Use Case Diagram Kelola data barang ... 55
Gambar 4.15 Use Case Diagram Pembuatan laporan ... 56
Gambar 4.16 Use Case Diagram logout ... 57
Gambar 4.17 Sequence Diagram Pembuatan laporan sistem inventori barang di Bank Sampah Garut ... 59
Gambar 4.18 Sequence Diagram login ... 60
Gambar 4.19 Sequence Diagram Admin ... 60
Gambar 4.20 Sequence Diagram Penjadwalan pengambilan tabungan ... 61
Gambar 4.21 Sequence Diagram Kelola data barang ... 61
Gambar 4.22 Sequence Diagram Pembuatan Laporan ... 62
Gambar 4.23 Sequence Diagram Pembuatan Laporan ... 62
Gambar 4.24 Colaboration Diagram Sistem inventori barang Bank Sampah Garut ... 63
Gambar 4.25 Colaboration Diagram Login ... 64
Gambar 4.26 Colaboration Diagram Admin ... 64
Gambar 4.27 Colaboration Diagram Penjadwalan Pengambilan Tabungan... 65
Gambar 4.28 Collaboration Diagram Kekola data barang ... 65
Gambar 4.29 Collaboration Diagram Pemnuatan laporan ... 66
Gambar 4.30 Collaboration Diagram Logout ... 66
Gambar 4.31 Class Pada Sistem Informasi Inventori Barang ... 82
Gambar 4.32 A-Part-Of Relationship pada Sistem Invntori Barang ... 84
Gambar 4.33 A-Part-Of Relationship pada Sistem Invntori Barang ... 84
Gambar 4.34 Tahap Perancangan Kelas Bisnis ... 86
Gambar 4.35 Tahap Perancangan Kelas Bisnis dan Kelas akses ... 87
Gambar 4.36 Layer Akses, Layer Antar Muka Dan Layer Bisnis. ... 89
Gambar 4. 37 Form Kuisioner Kepuasan Pengguna ... 91
ix
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Notasi Activity Diagram ... 14
Tabel 2.3 Notasi Use Case Diagram... 15
Tabel 2.5 Notasi Sequence Diagram ... 17
Tabel 2.6 Notasi Collaboration Diagram ... 18
Tabel 2.7 Notasi pada Class Diagram ... 19
Tabel 2.8 Notasi pada Class Diagram (Lanjutan) ... 20
Tabel 2.9 Notasi Multiplisitas ... 23
Tabel 2.10 Notasi Diagram Flowchart... 28
Tabel 2.11 Notasi Diagram Flowchart. (Lanjutan) ... 29
Tabel 3.1 Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut ... 32
Tabel 3.2 Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut (Lanjutan) ... 33
Tabel 3.3 Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut (Lanjutan) ... 34
Tabel 3.4 Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut (Lanjutan) ... 34
Tabel 3.5 Sumber Daya Informasi yang Digunakan ... 36
Tabel 4.1 Identifikasi Aktor ... 42
Tabel 4.2 Identifikasi Aktor (Lanjutan) ... 43
Tabel 4.3 keterangan Use Case Diagram login ... 52
Tabel 4.4 keterangan Use Case Diagram Admin ... 53
Tabel 4.4 keterangan Use Case Diagram Penjadwalan Pengambilan Tabungan . 54 Tabel 4.5 keterangan Use Case Diagram Kelola data barang ... 55
Tabel 4.6 keterangan Use Case Diagram Pembuatan laporan ... 56
Tabel 4.7 keterangan Use Case Diagram Kelola data barang (Lanjutan) ... 57
Tabel 4.8 keterangan Use Case Diagram Pembuatan laporan ... 57
x
Halaman
Tabel 4.10 Hasil Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Login. ... 68 Tabel 4.11 Hasil Eliminasi Fuzzyt Class Berdasarkan Use case Diagram Login. 68 Tabel 4.12 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Admin .... 70 Tabel 4.13 Hasil Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram
Admin. ... 71 Tabel 4.14 Hasil Eliminasi Fuzzyt Class Berdasarkan Use case Diagram Login. 71 Tabel 4.15 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Pembuatan
Penjadwalan Pengambilan Tabungan ... 72 Tabel 4.15 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Pembuatan
Penjadwalan Pengambilan Tabungan (Lanjutan)... 72 Tabel 4.17 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Pembuatan
Penjadwalan Pengambilan Tabungan ... 73 Tabel 4.18 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Pembuatan
Penjadwalan Pengambilan TabunganTabel ... 74 Tabel 4.19 Eliminasi Fuzzy Class Berdasarkan Use case Diagram Pembuatan
Penjadwalan Pengambilan Tabungan ... 74 Tabel 4.19 Eliminasi Fuzzy Class Berdasarkan Use case Diagram Pembuatan
Penjadwalan Pengambilan TabunganTabel ... 74 Tabel 4.21 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Kelola data
barang ... 76 Tabel 4.22 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Kelola data
barang (Lanjutan) ... 76 Tabel 4.23 Hasil Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram
Kelola data barang... 76 Tabel 4.24 Hasil Eliminasi Fuzzy Class Berdasarkan Use case Diagram Kelola
data barang ... 78 Tabel 4.25 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Laporan. 79
xi
Halaman
Tabel 4.26 Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Laporan
(Lanjutan) ... 79
Tabel 4.27 Hasil Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Laporan ... 80
Tabel 4.28 Hasil Eliminasi Irrelevant Class Berdasarkan Use case Diagram Laporan (Lanjutan)... 80
Tabel 4.26 Eliminasi Fuzzy Class Berdasarkan Use case Diagram Laporan44 ... 81
Tabel 4.27 Hubungan Kelas/ Class Relationship ... 83
Tabel 4.28 Identifikasi Atribut dan Method ... 85
Tabel 4.29 Rencana Pengujian Proses Login ... 90
Tabel 4. 30 Lanjutan Kasus dan Hasil Pengujian ... 90
Tabel 4. 31 Lanjutan Kasus dan Hasil Pengujian (Lanjutan) ... 90
Tabel 4. 32 Hasil Penilaian Kepuasan Pengguna ... 92
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seiring dengan pesatnya kemajuan Teknologi Informasi dewasa ini, informasi merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan suatu pekerjaan dan kegiatan usaha. Teknologi Informasi merupakan sarana yang sangat penting dan menunjang bagi suatu organisasi, lembaga, atau perusahaan baik negeri maupun swasta dalam skala kecil, sedang, ataupun besar, sehingga dengan informasi dapat diharapkan mempermudah pekerjaan dan tujuan dapat tercapai secara maksimal.
Informasi merupakan unsur yang mengkaitkan fungsi–fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengoprasian, dan pengendalian perusahaan. Tanpa informasi suatu perusahaan tidak akan bisa menjalankan kegiatan operasional perusahaan dengan baik. Oleh sebab itu untuk menunjang pelaksanaan informasi baik sebuah organisasi, lembaga atau perusahaan yang baik dan teratur, maka diperlukan suatu sistem yang terkomputerisasi.
Bank Sampah Garut merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pemanfaatan pengelolaan sampah yang berasal dari limbah rumah tangga, kantor, dan lembaga pendidikan (sekolah). adapun sampah yang diolah adalah berupa sampah anorganik seperti, sampah plastik, kertas, logam, dll. Sampah-sampah dapat diolah menjadi aneka kerajinan, ataupun di jual kepihak lain untuk kemudian dijadikan bahan baku untuk di daur ulang menjadi barang pakai kembali. adapaun bahan baku sampah yang diperoleh merupakan tabungan dari unit Bank Sampah Sekolah, yaitu sekolah-sekolah yang menjadi sentra pemilahan sampah di kawasan Kabupaten Garut yang telah bekerja sama dengan bank sampah dan membentuk Unit Bank Sampah Sekolah.
Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh Bank Sampah Garut yaitu informasi mengenai inventori barang. Dewasa ini jumlah dari nasabah Bank Sampah Garut meningkat cukup pesat, peningkatan jumlah nasabah tersebut dikarenakan jumlah Bank Sampah Unit Sekolah yang semakin banyak, hal
2
tersebut secara otomatis tentu akan membuat barang yang akan masuk bertambah banyak. Bank Sampah Garut awalnya menjadwalkan penarikan sampah setiap seminggu sekali ketiap Bank Sampah Unit Sekolah, tentunya akan mendapatkan permasalahan baru dalam hal penyimpanan barang karena daya tamping gudang yang tetap, dan barang yang akan di daur ulang oleh bagian produksi maupun barang yang akan dijual kepihak lain masih relative tetap, hal tersebut tentunya akan berpotensi membuat barang yang disimpan melebihi dari daya tamping gudang. Selain itu administrasi transaksi barang yang masuk kegudang saat ini masih menyatu dengan pencatatan transaksi penarikan tabungan sampah ke Bank Sampah Unit Sekolah. Begitu juga dalam pencatatan data barang keluar, baik itu sampah yang akan di daur ulang sendiri oleh Bagian Produksi di Bank Sampah Garut, maupun barang yang dijual ke pihak lain, keduanya belum memiliki sistem inventori yang terpisah.
Hal–hal tersebut diatas, dapat dihindarkan apabila terdapat suatu sistem persediaan barang yang lebih baik dan dapat menghasilkan sebuah pola penjadwalan pengambilan setoran tabungan yang tepat. Hal ini perlu dilakukan agar dapat menyajikan informasi daya tampung barang di gudang dengan lengkap dan dapat mengakses data dan informasi secara cepat, efisien, dan akurat. Kecepatan dan ketepatan dalam mendapatkan suatu informasi dapat didukung oleh sistem komputerisasi yang dapat memudahkan dalam pengumpulan, pengolahan, dan penyimpanan data.
Sistem informasi inventori barang ini sangat penting untuk mendukung kegiatan operasional suatu perusahaan. Sistem Informasi yang dibutuhkan perusahaan khususnya tentang inventory barang dengan aplikasi komputer, diharapkan dapat mempercepat dalam menyelesaikan pekerjaan perusahaan dan dihasilkan data yang akurat dengan waktu yang lebih cepat.
3 1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah di kemukakan, maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Sistem yang ada saat ini kurang mendukung untuk perkembangan Bank Sampah Garut di masa depan karena sistem yang ada saat ini masih menggunakan cara yang manual.
2. Pencatatan Barang yang masuk masih menyatu dengan pencatatan transaksi Tabungan.
3. Belum adanya pemisahan pencatatan data barang yang di daur ulang sendiri oleh Bank Sampah Garut dengan barang yang dijual ke pihak lain.
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah merancang sistem informasi inventory barang pada Bank Sampah Garut.
1.4 Batasan Masalah
Untuk menghindari melebarnya pembahasan dalam penyusunan laporan proyek TA ini, maka masalah dibatasi pada beberapa hal berikiut :
a. Sistem yang dirancang adalah mengenai sistem informasi inventory barang di Bank Sampah Garut.
b. Perancangan sistem meliputi tahap Analisis dan desain sistem dengan menggunakan metodologi berorientasi objek dari Ali Bahrami (1999) yaitu metode Unified Approach
c. Pemodelan menggunakan Work Breakdown Structure (WBS) dan Activity Sequencing dari C. W. Dawson (2005), Flowchart Diagram, dan Unified Modeling Language (UML).
4 1.5. Kerangka Pemikiran
Pencapaian tujuan dari proyek tugas akhir ini di lakukan dalam beberapa tahapan, berikut adalah skema dari tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam tugas akhir : Mulai Rumusan Masalah Landasan Teori Metodologi Penelitian Hasil dan Pembahasan Kesimpulan dan Saran Selesai Tujuan Work Breakdown Structure Activiry Sequence Dan Detail
Gambar 1.1 Alur Aktivitas Proyek Tugas Akhir1
Secara garis besar penjelasan dari Gambar 3.1 yaitu dimulai dari rumusan masalah yang muncul dari sistem yang sedang berjalan, dan rumusan masalah dijadikan acuan untuk tujuan proyek tugas akhir. Setalah tujuan ditetapkan maka
5
tahap selanjutnya adalah melakukan studi literatur yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang muncul dari proyek TA.
1.6. Sistematika Penulisan
Sistematika laporan proyek TA ini dibagi menjadi 5 (lima) bab yang masing-masing bab mendefenisikan dan menjelaskan tujuannya. Adapun tujuan sistematika ini diharapkan dapat menghasilkan laporan proyek TA yang baik dan mudah dimengerti. Berikut penjelasan dari masing-masing bab :
BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar bekalang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan, serta sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menerangkan tentang konsep – konsep yang mendukung tentang pembahasan proyek TA.
BAB III KERANGKA KERJA KONSEPTUAL
Pada bab ini membahas tentang work breakdown structure, activity sequence, dan detail aktivitas.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menyatakan hasil pelaksanaan dari tahap proyek TA dan penejelasan hasilnya.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini menyatakan poin-poin penting pencapaian dan temuan dalam proyek TA, serta saran terkait hal penting yang tidak berhasil dicapai dalam proyek TA bagi penelitian berikutnya.
6
BAB I I
LANDASAN TEORI
2.1. Konsep Sistem Informasi 2.1.1.Definisi Sistem
Sistem didefinisikan sebagai suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu (Jogianto, 1999).
Dengan kata lain sistem bekerja dalam sebuah jaringan kerja dari suatu prosedur yang saling berhubungan satu dengan lainnya untuk menyelesainkan tujuan dan sasaran yang dimaksud. Definisi lainnya mengenai sistem menurut Amsyah (2005), bahwa sistem adalah elemen-elemen yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan atau organisasi. Contoh sistem tata surya, sistem irigasi, dan sistem informasi.
berdasarkan beberapa definisi mengenai sistem diatas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan elemen-elemen yang berinteraksi dan saling berhubungan untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran dan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2.1.2. Definisi Informasi
Informasi merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan di dalam suatu organisasi ataupun instansi berdasarkan kebutuhan manajemen masing-masing. Informasi didefinisikan sebagai berikut :
“Data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu”. (Amsyah, 2005)
Informasi dapat dedefinisikan sebagai sekumpulan data yang telah diproses sehingga mempunyai arti tertentu bagi penerimanya. Sumber dari informasi ialah data, sementara data itu sendiri adalah fakta yang menggambarkan suatu kejadian, sementara kejadian itu merupakan suatu kejadian atau peristiwa
7
yang terjadi pada waktu tertentu, tentunya informasi dan data saling berkaitan. Pengertian informasi dalam menurut Amsyah (2005), diartikan sebagai berikut:
“Informasi adalah data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu “
Informasi merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan di dalam suatu organisasi ataupun instansi berdasarkan kebutuhan manajemen masing-masing. Informasi didefinisikan sebagai berikut :
“Data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu”. (Kadir, 2003)
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah sekumpulan data yang telah diproses atau diolah menjadi suatu informasi yang berguna dan bermanfaat bagi penerimanya.
2.1.3. Definisi Sistem Informasi
Sistem Informasi dikemukakan oleh Henry C. Lucas dalam Jogianto (2005), bahwa suatu sistem informasi adalah suatu kegiatan dari prosedur-prosedur yang diorganisasikan, bilamana dieksekusi akan menyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan pengendalian dalam. organisasi.
Sistem informasi juga didefenisikan oleh Robert A. Leitch dan K. Roscoe Davis dalam Jogianto (2005) sebagai berikut :
“Konsep dari sistem informasi adalah suatu sistem dalam orang yang memperhatikan kebutuhan pengolahan transaksi harian, yang mendukung operasi bersifat manajerial dan kegiatan strategis dari suatu organisasi dengan pihak-pihak tertentu, dengan menghasilkan laporan-laporan yang diperlukan”.
Sistem informasi dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan. Sistem ini menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan informasi yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau peralatan sistem lainnya. Definisi sistem informasi juga bisa didefinisikan kerangka kerja yang mengkoordinasikan sumber
8
daya (manusia, komputer) untuk mengubah masukan (input) menjadi keluaran (informasi), guna mencapai sasaran-sasaran perusahaan (Kadir, 2003)
Penggunaan sistem informasi atau teknologi informasi dalam suatu organisasi, lembaga, atau perusahaan ditujukan agar proses bisnis yang berjalan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Suatu aplikasi sistem informasi dipercaya dapat memberikan kemudahan kepada pengguna system itu sendiri.
2.2. Persediaan (Inventory)
Persediaan dapat diartikan sebagai sumber daya menggangur yang menunggus proses lebih lanjut berapa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pada setiap rumah tangga (Nasution, 2003).
Persediaan terdiri dari beberapa tipe (Nasution, 2003):
1. Persediaan bahan baku adalah item yang dibeli dari para supplier untuk digunakan sebagai input dalam proses produksi. Bahan baku ini akan ditransformasikan menjadi produk akhir.
2. Persediaan barang dalam proses atau barang setengah jadi adalah persediaan yang telah mengalami proses produksi akan tetapi masih diperlukan proses lagi untuk mencapai produk jadi. Contohnya roti yang siap dipanggang pada perusahaan roti.
3. Persediaan barang jadi adalah persediaan produk akhir yang siap untuk dijual, didistribusiakan ataupun disimpan. Contohnya roti yang telah dikemas.
Fungsi dari Persediaan sendiri bisa ditimbulkan karena tidak sinkronnya permintaan dengan penyediaan dan waktu yang digunakan untuk memproses bahan baku menjadi produk yang siap digunakan atau dijual (Yamit, 2012).
Persediaan atau inventori menurut Yamit (2012), dikategorikan kedalam beberapa kelompok Sebagai berikut:
9 1. Persediaan pengaman ( safety stock )
Disebut sebagai buffer stock, sebagai antisipasi unsur ketidakpastian permin-taan dan menghindari kemungkinan terjadinya stock out.
2. Persediaan antisipasi ( anticipation stock )
Disebut sebagai stabilization stock, dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan.
3. Persediaan dalam Pengiriman ( Transit Stock )
Disebut juga sebagai work-inprocess, merupakan persediaan yang masih dalam proses pengiriman atau masih menunggu proses selanjutnya.
2.3. Bank Sampah Garut
2.3.1. Pengertian Bank Sampah Garut
Bank Sampah Garut adalah institusi yang didirikan masyarakat Kabupaten Garut yang bertujuan mengurangi timbunan sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), untuk di daur ulang menjadi bahan setengah jadi yang nantinya akan dijual (Andri, 2011).
10 2.3.2. Bank Sampah Unit Sekolah
Bank Sampah Unit Sekolah adalah badan usaha milik siswa yang bertujuan mengurangi timbunan sampah sekolah untuk diolah dan dimanfaatkan sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi.
Konsep Bank sampah sekolah yang di maksudkan yakni mengelola secara mandiri sampah untuk di daur ulang menjadi barang setengah jadi yang nantinya akan dijual (Andri, 2011).
2.4. Pengembangan Sistem Berorentasi Objek
Analisis sistem adalah penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh kedalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasikan dan mengevalusai permasalahan-permasalahan, kesempatan-kesempatan, hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikan (Jogianto, 1999).
2.4.1. Tahap Analisis Kesenjangan
Tahap analisis kesenjangan atau Sistem Requirement specification (SRS) pada penelitian ini digunakan sebagai gambaran bagaimana mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Adapun penjelasan mengenai SRS (Nugroho, 2005), pada penelitian ini ada beberapa aktifitas yang digunakan yaitu: 1. Wawancara, penjelasan mengenai wawancara berguna untuk melakukan pencarian yang berkaitan dengan sistem yang sedang berjalan. Berikut ini penjelasan mengenai wawancara menurut Nugroho (2005), Teknik wawancara adalah teknik yang paling utama dalam perancangan sistem. Dengan teknik wawancara yang baik, sebagian besar kebutuhan pengguna umumnya sudah dapat teridentifikasi. Rancanglah wawancara dengan seksama agar proses wawancaara tidak bertele-tele dan menangkap semua kebutuhan serta harapan pengguna.
2. Mempelajari sistem yang sedang berjalan. Jika proyek adalah proyek pengembangan sistem tentunya para analis sistem perlu mempelajari kinerja sistem saat ini dengan cara menelaah dokumen-dokumen sistem
11
yang ada, mengenali struktur organisasi perusahaan. Siapa yang bertanggung jawab terhadap suatu proses tertentu, bagaimana deskripsi kerja tiap personal dalam perusahaan, dan sebagainnya.
2.4.2. Tahap Analisis Sistem
Analisis Sistem Masa Depan dari UA digunakan untuk memberi gambaran bagaimana sistem masa depan yang akan disesuaikan dengan kebutuhan hasil wawancara. Analisis Sistem Masa Depan atau dalam UA dikenal dengan istilah Object Oriented Analysis (OOA) terdapat beberapa tahapan yang dilakukan yaitu identifikasi aktor, pengembangan diagram aktifitas dan use case, pengembangan diagram interaksi, identifikasi kelas, relasi, atribut dan method, dan yang terakhir proses pemeriksaan (Bahrami, 1999).
2.4.2.1 Identifikasi Aktor (Identify the user/actors)
Tahapan identifikasi aktor ini dilakukan proses menganalisis aktor yang akan berinteraksi dengan sistem. Mengidentifikasi aktor merupakan hal penting dalam proses analisis sistem. Istilah aktor menunjukan sekumpulan pengguna yang beraktivitas pada sistem. Satu pengguna mungkin saja melakukan satu atu lebih aktivitas pada sistem. Dalam mengidentifikasi aktor mesti dipahami pula bagaimana aktor tersebut berinterakasi dengan sistem. (Bahrami, 1999)
Sedangkan definsi aktor pada Whitten (2004) Aktor adalah sesuatu yang perlu berinteraksi dengan sistem untuk pertukaran informasi. Pelaku menginisiasi kegiatan sistem, yakni sebuah use case, dengan maksud melengkapi beberapa tugas bisnis yang menghasilkan sesuatu yang dapat diukur.
1. Primary Business Actor (Pelaku Bisnis Utama) Stakeholder yang terutama mendapatkan keuntungan dari pelaksanaan use case dengan menerima nilai yang terukur atau terobservasi. Pelaku bisnis utama kemungkinan tidak menginisiasi kejadian bisnis. Sebagai contoh, dalam kejadian bisnis dari seorang karyawan yang menerima gaji (nilai terukur) dari sistem penggajian setiap hari jumat, karyawan tidak menginisiasi kejadian itu, tetapi merupakan penerima utama dari sesuatu yang bernilai.
12
2. Primary System Actor (Pelaku Sistem Utama) Stakeholder yang secara langsung berhadapan dengan sistem untuk menginisiasi atau memicu kegiatan atau sistem. Pelaku sistem utama dapat berinteraksi dengan para pelaku bisnis utama untuk menggunakan sistem aktual. Mereka memfasilitasi kejadian dengan menggunakan sistem secara langsung demi mencapai keuntungan para pelaku bisnis utama. Contohnya operator telepon yang memberikan bantuan kepada pelanggan dan kasir Bank yang memproses transaksi Bank. Pelaku bisnis utama dan pelaku sistem utama kemungkinan memiliki persamaan, yaitu sama-sama pelaku bisnis yang berhadapan langsung dengan sistem, misalnya seorang yang melayani jasa penyewaan mobil via website.
3. External Server Actor (Pelaku Server Eksternal) Stakeholder yang melayani kebutuhan pengguna use case (misalnya biro kredit yang memiliki kuasa atas perubahan kartu kredit)
4. External Receiving Actor (Pelaku Penerima Eksternal) Stakeholder yang bukan pelaku utama, tapi menerima nilai yang terukur atau teramati (output) dari use case (misalnya gudang menerima paket permintaan untuk menyiapkan pengiriman sesudah seorang pelanggan memesannya).
2.4.2.2 Pengembangan Diagram Aktifitas (Develop use case, activity diagrams)
Pengembangan Diagram Aktifitas adalah melakukan proses penggambaran alur kerja sistem menggunakan diagram aktifitas dan proses penggambaran interaksi antara pengguna dengan menggunakan diagram use case.
a. Activity Diagrams
Activity diagram menjelaskan alur kerja suatu sistem. Activity diagrams mirip dengan state diagrams karena sejumlah aktifitas menggambarkan keadaan suatu proses dengan memperlihatkan urutan aktifitas yang dijalankan baik berupa pilihan maupun paralel. Diagram ini juga berguna untuk menganalisis sebuah use case dengan menggambarkan aksi-aksi yang diperlukan dan kapan aksi-aksi
13
tersebut dijalankan. Menurut Ali Bahrami activity diagram didefinisikan sebagai berikut:
“An activity diagram is a variation or special case of the state machine, in which the states are activities representing the performance of operations and the transitions are triggered by the completion of the operations”. (Bahrami, 1999)
Berikut adalah sebuah contoh activity diagram yang menggambarkan sebuah sistem processing mortgage request :
14 Berikut adalah notasi activity diagram
Tabel 2.1 Notasi Activity Diagram1
Simbol Keterangan
Titik Awal Titik Akhir Activity
Pilihan Untuk mengambil Keputusan
Fork; Digunakan untuk menunjukkan kegiatan yang dilakukan secara parallel / menggabungkan dua kegiatan peralel menjadi satu.
Rake; Menunjukkan adanya dekomposisi
Tanda Waktu Tanda pengiriman Tanda penerimaan
Aliran akhir (Flow Final) Sumber : http://resource.visual-paradigm.com/
b. Use Case Diagram
Use case diagrams memperlihatkan hubungan diantara aktor dan use case. Aktor merepresentasikan seorang user atau subsistem lain yang akan berinteraksi dengan sistem. Sedangkan use case merupakan urutan kejadian yang menggambarkan interaksi antara user dengan sistem. Fungsionalitas sistem didefinisikan ke dalam use case dari sudut eksternal sistem yang berguna untuk uji kelayakan system. Setiap use case merepresentasikan apa yang akan dilakukan oleh aktor (Bahrami, 1999).
obj ec...
15
Gambar 2. 2 Use case Diagram (Bahrami, 1999)4
Komponen notasi dasar yang dipunyai oleh use-case diagram adalah actor, use-case, dan association. Berikut adalah notasi yang terdapat pada use-case diagram :
Tabel 2.3 Notasi Use Case Diagram2
Actor
Actor adalah pengguna sistem. Actor tidak terbatas hanya manusia saja, jika sebuah sistem
berkomunikasi dengan aplikasi lain dan membutuhkan input atau memberikan output. Use Case Use case digambarkan sebagai lingkaran elips
dengan nama use case dituliskan didalam elips tersebut.
Association
Asosiasi digunakan untuk menghubungkan actor dengan use case. Asosiasi digambarkan dengan sebuah garis yang menghubungkan antara Actor dengan Use Case.
Sumber: (http://resource.visual-paradigm.com/)
uc Notasi UseCase
16
2.4.2.3 Pengembangan Diagram Interaksi (Develop interaction diagrams) Pada tahap ini dilakukan pembuatan diagram interaksi yang digunakan diantaranya yaitu sequence diagram dan Colaboration Diagram, dalam diagram ini digambarkan interaksi antar objek dalam sistem melalui pesan yang dikirimkan dari objek yang satu ke objek yang lain.
a. Sequence Diagram
Diagram ini menjelaskan bagaimana objek berinteraksi dengan lainnya dengan cara mengirim dan menerima pesan. Sequence diagrams memiliki dua sumbu: sumbu vertikal dan sumbu horizontal. Sumbu vertikal putus-putus merepresentasikan “lifetime” objek dan sumbu horizontal menunjukan sekumpulan objek. Diagram ini juga menyatakan interaksi khusus diantara objek yang terjadi pada beberapa tempat selama fungsi tertentu dijalankan. Komunikasi diantara objek direpresentasikan dengan garis horizontal disertai dengan nama operasinya.
Gambar 2.3 Contoh Sequence Diagram (Bahrami, 1999) 5
Sequence diagram mendokumentasikan komunikasi/interaksi antar kelas-kelas. Diagram ini menunjukkan sejumlah objek dan message (pesan) yang diletakkan diantara objek-objek didalam use case. Perlu diingat bahwa di dalam diagram ini, kelas-kelas dan aktor-aktor diletakkan dibagian atas diagram dengan urutan dari kiri ke kanan dengan garis lifeline yang diletakkan secara vertikal terhadap kelas dan aktor.
Cal l er Exchange Rece i ver T al k
OffHo ok Di al T one Di al Numbe r Ri ngT one OffHo ok OnHo ok
17
Tabel 2.5 Notasi Sequence Diagram3
Object
Object merupakan instance dari sebuah class dan dituliskan tersusun secara horizontal. Digambarkan sebagai sebuah class (kotak) dengan nama objek didalamnya yang diawali dengan sebuah titik koma.
Actor
Actor juga dapat berkomunikasi dengan objek, maka actor juga dapat diurutkan sebagai kolom. Simbol Actor sama dengan simbol pada Actor Use Case Diagram.
Lifeline Lifeline mengindikasikan keberadaan sebuah objek dalam basis waktu. Notasi untuk Lifeline adalah garis putus-putus vertikal yang ditarik dari sebuah objek.
Activation
Activation dinotasikan sebagai sebuah kotak segi empat yang digambar pada sebuah lifeline. Activation mengindikasikan sebuah objek yang akan melakukan sebuah aksi.
Message Message, digambarkan dengan anak panah horizontal antara Activation. Message mengindikasikan komunikasi antara objek-objek
Sumber : http://resource.visual-paradigm.com/
b. Colaboration Diagram
Secara fungsional diagram ini hampir mirip dengan sequence diagrams. Collaboration diagrams memfokuskan pada interaksi dan hubungan diantara sekumpulan objek yang berkolaborasi. Hubungan-hubungan tersebut memperlihatkan objek aktual dan relasi yang terjadi diantara mereka yang digambarkan dengan sebuah garis. Di atas garis terdapat alur pesan yang dikirim ke objek yang berhubungan tersebut.
18
Tabel 2.6 Notasi Collaboration Diagram4
Object Object merupakan instance dari sebuah class. Digambarkan sebagai sebuah class (kotak) dengan nama objek didalamnya yang diawali dengan sebuah titik koma.
Actor Actor juga dapat berkomunikasi dengan objek, maka actor juga dapat disertakan ke dalam collaboration diagram. Simbol Actor sama dengan simbol pada Actor Use Case Diagram.
Message Message, digambarkan dengan anak panah yang mengarah antar objek dan diberi label urutan nomor yang mengindikasikan urutan komunikasi terjadi antar objek.
Sumber : http://resource.visual-paradigm.com/
Berikut adalah sebuah contoh collaboration diagram:
Gambar 2.4 Collaboration Diagram (Bahrami, 1999) 6
2.4.2.4 Identifikasi Kelas-kelas, relasi, atribut dan method (Identify classes, relationships, attributes, and methods)
Pada tahap ini dilakukan proses mengidentifikasi kelas, relasi, atribut dan method dalam sistem berdasarkan proses sebelumnya. Class menggambarkan
19
keadaan (atribut/properti) suatu sistem, sekaligus menawarkan layanan untuk memanipulasi keadaan tersebut (metoda/fungsi). Class diagram juga menggambarkan struktur dan deskripsi class, package dan object beserta hubungan satu sama lain seperti containment, pewarisan, asosiasi, dan lain-lain. (Nugroho, 2005)
Sebuah Class memiliki tiga area pokok, (Nugroho, 2005): 1. Nama, merupakan nama dari sebuah kelas
2. Atribut, merupakan properti dari sebuah kelas. Atribut melambangkan batas nilai yang mungkin ada pada objek dari class
3. Method, adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh sebuah class atau yang dapat dilakukan oleh class lain terhadap sebuah class.
Class dalam kategorinya dibagi 3 bagian, yaitu (Bahrami, 1999): 1. Class Irrelevant
2. Class Fuzzy 3. Class Relevant
Untuk dapat mengidentifikasi class maka tahap-tahapnya adalah sebagai berikut (Bahrami, 1999):
1. Melakukan eliminasi irrelevant class dari list candidate class.
2. Melakukan eliminasi class yang merupakan redundant class. Class ini termasuk pada kategori fuzzy class
3. Melakukan eliminasi attributes class. Attributes class ini pun termasuk kategori fuzzy class.
Berikut adalah notasi – notasi yang ada pada class diagram : Tabel 2.7 Notasi pada Class Diagram5 Class Class adalah blok - blok pembangun pada
pemrogramman berorientasi objek. Sebuah class digambarkan sebuah kotak yang terbagi atas 3 bagian.Bagian atas adalah bagian nama dari class. Bagian tengah mendefinisikan properti/atribut
class. Bagian akhir mendefinisikan method dari
20
Tabel 2.8 Notasi pada Class Diagram (Lanjutan)6
Sebuah asosiasi merupakan sebuah relationship paling umum antara 2 class, dan dilambangkan oleh sebuah garis yang menghubungkan antara 2 class. Garis ini bisa melambangkan tipe-tipe relationship dan juga dapat menampilkan hukum-hukum multiplisitas pada sebuah relationship (Contoh: One-to-one, one-to-many, many-to-many).
Jika sebuah class tidak bisa berdiri sendiri dan harus merupakan bagian dari class yang lain, maka class tersebut memiliki relasi Composition terhadap class tempat dia bergantung tersebut. Sebuah relationship composition digambarkan sebagai garis dengan ujung berbentuk jajaran genjang berisi/solid.
Kadangkala sebuah class menggunakan class yang lain. Hal ini disebut dependency. Umumnya penggunaan dependency digunakan untuk menunjukkan operasi pada suatu class yang menggunakan class yang lain. Sebuah dependency dilambangkan sebagai sebuah panah bertitik-titik.
Aggregation mengindikasikan keseluruhan bagian relationship dan biasanya disebut sebagai relasi “mempunyai sebuah” atau “bagian dari”. Sebuah aggregation digambarkan sebagai sebuah garis dengan sebuah jajaran genjang yang tidak berisi/tidak solid.
Sebuah relasi generalization sepadan dengan sebuah relasi inheritance pada konsep berorientasi objek.
Sumber : http://resource.visual-paradigm.com/
Diagram kelas memodelkan struktur kelas dan isinya. Kelas terdiri dari Nama Kelas, Atribut dan Operasi.
21
Gambar 2.5 Contoh Class Diagram (Munawar, 2005)7
Keterangan:
1. Class Name: bagian yang paling atas berisi nama kelas, nama kelas diambil dari domain permasalahan dan harus sejelas mungkin. Oleh karena itu, nama kelas haruslah berupa kata benda.
2. Attribut: kelas memiliki attribut yang menggambarkan karakteristik dari objek. Attribut kelas yang benar adalah yang dapat mencakup informasi yang dilukiskan dan mengenali instance tertentu dari kelas. Tipe attribut dapat berupa primitive attribut atau tipe lainnya.
3. Method/Operations: operations digunakan untuk memanipulasi attribut atau menjalankan aksi-aksi.
Class diagram terdiri dari beberapa relationship, diantaranya:
a. Asosiasi (Association)
Asosiasi didefinisikan sebagai penghubung objek-objek pada kelas yang sama. Suatu bentuk asosiasi adalah agregasi yang menampilkan hubungan suatu objek dengan bagian-bagiannya.
Kita menggunakan pemahaman asosiasi adalah pada saat beberapa kelas saling terhubung satu sama lain secara konseptual. Sebagai contoh, misalkan seorang pegawai bekerja pada sebuah perusahaan. Maka “bekerja” merupakan sebuah asosiasi antara kelas pegawai dan kelas perusahaan. Selanjutnya bisa kita simpulkan bahwa sebuah asosiasi bisa merupakan sebuah bentuk kata kerja yang merelasikan kelas yang satu dengan kelas yang lainnya.
22
Gambar 2.6 Asosiasi (Assosiation) (Munawar, 2005) 8
b. Batasan (Constraints)
Constraints adalah batasan-batasan asosiasi fungsional antar entitas dalam model objek. Kata entitas termasuk didalamnya adalah objek-objek, kelas-kelas, link, serta asosiasi-asosiasi. Berikut adalah contoh constraint dimana petugas loket akan melayani para pelanggan telepon yang ingin melakukan segala urusan yang berhubungan dengan masalah telepon, tapi untuk dapat dilayani maka para pelanggan harus antri, maka “antri” kita jadikan constraint pada asosiasi tersebut.
Gambar 2.7 Constraint pada sebuah Asosiasi (Munawar, 2005)9
c. Associations Class
Sebuah asosiasi dapat memiliki atribut dan operasi seperti halnya sebuah class. Sebuah association class sebenarnya diperlukan apabila salah satu dari kelas yang terhubung mempunyai sebuah atau beberapa atribut yang tidak layak dimiliki oleh kelas tersebut, karena secara logis atribut tersebut lebih layak dimiliki oleh asosiasi yang menghubungkan kedua kelas tersebut.
Akan lebih mudah dipahami jika kita menganalogikan hal ini dengan diagram ERD, dimana sesuai dengan hukum-hukum tertentu maka jika ada sebuah relasi binary atau trenary maka harus dibuatkan sebuah entitas tambahan yang merupakan entitas transaksi untuk menampung record-record transaksi yang terjadi antar entitas murni. Entitas transaksi yang tercipta tersebut mirip sekali dengan association class. Berikut adalah contoh sebuah association class.
23
Gambar 2.8 Association Class (Munawar, 2005) 10
Seperti yang dilihat pada gambar diatas, association class divisualisasikan sama halnya seperti class biasa, hanya saja untuk menghubungkan ke garis asosiasi digunakan garis putus-putus.
d. Multiplisitas (Multiplicity)
Multiplicity atau multiplisitas adalah jumlah banyaknya objek sebuah class yang berelasi dengan sebuah objek lain pada class lain yang berasosiasi dengan class tersebut. Untuk menyatakan multiplisitas anda dapat meletakkannya diatas garis asosiasi berdekatan dengan class yang sesuai.
Ada banyak multiplisitas yang mungkin untuk dipakai. Tabel berikut menjabarkan multiplisitas yang dapat digunakan.
Tabel 2.9 Notasi Multiplisitas7
Multiplisitas Arti
* Banyak
0 Nol
1 Satu
0..* Nol atau banyak 1..* Satu atau banyak 0..1 Nol atau satu
1..1 Hanya satu
24
Gambar 2.9 Asosiasi dengan Multiplisitas (Munawar, 2005) 11
e. Generalisasi dan Pewarisan (Generalization & Inheritance)
“Generalisasi adalah suatu cara yang sangat berdaya guna untuk berbagi apa yang dimiliki suatu kelas (objek) bagi kelas-kelas (objek-objek) yang lain”. (Nugroho, 2005).
Generalisasi adalah relasi ke atas beberapa sub kelas diatasnya yang ditunjukan dengan tanda segitiga.
Gambar 2.10 Contoh Generalisasi (Nugroho, 2005) 12
Sebuah class (child class atau subclass) dapat mewarisi atribut-atribut dan operasi-operasi dari class lainnya (parent class atau super class) dimana parent class bersifat lebih umum daripada child class. Generalisasi pada konsep Object Oriented digunakan untuk menjelaskan hubungan kesamaan diantara class. Dengan menggunakan generalisasi bisa dibangun struktur logis yang bisa menampilkan derajat kesamaan atau perbedaan diantara class-class. Manfaat lain dari struktur hirarkis juga memungkinkan untuk penambahan subclass (child class) baru tanpa harus merubah struktur yang sudah ada.
25
Inheritance adalah sebuah mekanisme pengimplementasian generalisasi dan spesialisasi. Aturan inheritance dapat secara umum bisa diklasifikasikan sebagai berikut (Nugroho, 2005) :
o Subclass selalu mewarisi semua sifat dari superclass-nya.
o Definisi subclass selalu mencakup paling tidak satu detil yang tidak diturunkan dari superclass-nya.
f. Agregasi (Agregation)
Agregasi adalah sebuah hubungan dimana satu kelas “whole” yang lebih besar berisi satu atau lebih kelas “part” yang lebih kecil. Atau kelas “part” yang lebih kecil adalah bagian dari kelas “whole” yang lebih besar. (Nugroho, 2005)
Agregasi disimbolkan dengan jajaran genjang yang diletakkan pada class yang mengandung objek. (Nugroho, 2005)
Gambar 2.11 Agregasi Bertingkat (Multilevel Agregation), (Nugroho, 2005) 13
g. Dependency Class
Pada penggunaan relasi kadangkala satu class menggunakan class yang lain, hal ini disebut dependency. Umumnya penggunaan dependency digunakan untuk menunjukkan operasi pada suatu class yang menggunakan class yang lain. Notasi untuk dependency pada UML dapat menggunakan garis putus-putus dan tanda panah pada ujungnya. (Munawar, 2005)
26
Gambar 2.12 Dependency (Munawar, 2005) 14
2.4.2.5 Pemeriksaan (Refine and iterate)
Pada tahap ini dilakukan proses pemeriksaan terhadap hasil akhir tahap analisis. Bila terdapat kesalahan maka kembali ke tahap awal analisis bila hasilnya benar maka akan dijadikan input pada tahap perancangan.
2.4.3. Tahap Perancangan
Perancangan sistem masa depan sebagai acuan bagaimana kita melakukan perancangan terhadap sistem masa depan yang akan dibangun. Adapun tahapan perancangan yang digunakan yaitu berdasarkan tahapan Object Oriented Desain (OOD) dari UA (Bahrami, 1999). Perancangan sistem masa depan merupakan tahapan setelah melakukan proses analisis. Dalam perancangan terdapat beberapa tahapan yang dilakukan yaitu perancangan kelas, metode, atribut, dan asosiasi, menyaring UML Class Diagram, perancangan layer akses dan layer antarmuka, dan terakhir yaitu proses pengujian.
Berikut ini penjelasan dari masing-masing tahapannya: a. Perancangan kelas, asosiasi, metode dan atribut
Pada tahap ini dilakukan perancangan dan pemeriksaan atribut, method dan visibilitasnya terhadap kelas-kelas yang telah teridentifikasi.
b. Menyaring UML Class Diagram
Proses menyaring atau memeriksa diagram kelas mulai dari nama kelas, asosiasi, atribut serta method-nya. Tahap ini difokuskan pada penggambaran method yang ada dengan diagram aktifitas.
c. Perancangan Layer Akses dan Layer Antarmuka
Proses merancang layer akses dan layer antar muka berdasarkan pada class diagram yang telah dirancang sebelumnya.
27 2.5. Pemodelan
Terdapat beberapa pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini, tujuannya yaitu supaya proses komunikasi antar perancang, pemrogram serta calon pengguna menjadi mulus, berikut ini penjelasan beberapa pemodelan yang digunakan:
2.5.1. Work Breakdown Structure
Work Breakdown Structure (WBS) digunakan untuk menggambarkan alur proyek dari awal sampai selesai (Dawson, 2005). Penggunaan WBS yaitu dimulai dengan menyusun tahapan proses sampai penelitian yang akan dilakukan terdefinisikan.
Berikut contoh dari Work Breakdown Structure (WBS)
Gambar 2.13 Work Breakdown Structure (Dawson, 2004) 15
2.5.2. Activity Sequencing
Activity sequencing digunakan untuk menggambarkan tahapan aktifitas serta keterkaitan tiap aktifitas dalam penelitian ini secara detail (Dawson, 2005). Berikut ini adalah gambaran Activity sequencing:
28
Gambar 2. 14 Activity sequencing (Dawson, 2004) 16
2.5.3. Flowchart Diagram
Flowchart Diagram digunakan untuk menggambarkan alur tahapan proses. Flowchart menggambarkan langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan sebuah permasalahan yang terdiri dari symbol-simbol, dimana tiap-tiap simbol tersebut merepresentasikan suatu kegiatan. Simbol-simbol yang digunakan dalam notasi flowchart adalah sebagai berikut:
Tabel 2.10 Notasi Diagram Flowchart.8
Simbol Nama Fungsi
Terminator Pembukaan dan akhir Program
Garis Alir Arah aliran program
Preparation Proses instalasi pemberian
harga awal
Proses Proses perhitungan, proses
pengolahan data
Input Output data Proses i8nput-output data parameter informasi
29
Tabel 2.11 Notasi Diagram Flowchart. (Lanjutan)9
Simbol Nama Fungsi
Desicion Penyeleksian, pemilihan data
dengan memberikan pilihan untuk prose selanjutnya
On Page Conektor Penghubung bagian-bagian flowchart yang berbeda pada satu halaman
Off Page Conektor Penghubung bagian-bagian flowchart yang berbeda pada halaman yang berbeda
2.5.4. Unified Modeling Language.
Unified Modeling Language (UML) dalam penelitian ini digunakan untuk memodelkan tahapan dari metodologi berorientasi objek, penjelasan mengenai UML menurut (Dawson, 2005). merupakan bahasa untuk visualisasi, spesifikasi, konstruksi, serta dokumentasi. Dalam kerangka visualisasi, para pengembang menggunakan UML sebagai suatu cara untuk mengkomunikasikan idenya kepada para pemrogram serta calon pengguna sistem/perangkat lunak. Dengan adanya bahasa yang bersifat standar, komunikasi perancang dengan pemrogram serta calon pengguna diharapkan menjadi mulus.
30
BAB III
KERANGKA KERJA KONSEPTUAL
3.1. Metodologi Penelitian
3.1.1. Work breakdown structure
Metodologi yang dipakai dalam proyek Perancangan Sistem Informasi Inventori Gudang di Bank Sampah Garut, di gambarkan dalam sebuah diagram Work breakdown structure seperti pada gambar berikut ini:
Work Breakdown Structure
Perancangan Sistem Informasi Inventori Barang
A k ti v it a s T a h a p a n T u ju a n Perancangan Sistem Informasi Tabungan 1 SRS/Spesifikasi Kebutuhan Sistem 2 Analisis Sistem Masa Depan 3 Desain Sistem Masa Depan 4 Pengujian 1.1 Analisis Kebutuhan 2.1 Identifikasi Aktor 2.2 Pengembangan diagram aktifitas dan diagram use case 2.3 Pengemban gan diagram interaksi 2.4 Identifikasi kelas-kelas, relasi, attribute dan method 2.5 Pemeriksaan 3.1 Perancangan kelas, attribute, method dan asosiasi 3.3 Perancangan Layer Akses
dan Layer Antarmuka 3.2
Menyaring
Class Diagram
Nugroho (2005) Bahrami (1999) Bahrami (1999) Bahrami (1999)
31 3.1.2. Activity Sequence
Berdasarkan Work breakdown structure, maka dibuat activity sequence dapat digambarkan sebagai berikut :
1.1 Analisis Kebutuhan 2.1 Identifikasi Aktor 2.2 Pengembangan Diagram Aktifitas dan Use Case
2.3 Pengembangan Diagram Interaksi
2.4 Identifikasi Kelas, Relasi, Atribut dan
Metode 2.5 Pemeriksaan 3.1 Perancangan Kelas, Asosiasi, Metode Dan Atribut 3.2 Menyaring UML Diagram Kelas 3.3 Perancangan Layer Akses dan Layer Antarmuka
4.1 Pengujian
32
3.2. Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut.
Berikut ini tabel Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut:
Tabel 3.1 Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut10
1. Tahap Spesifikasi Kebutuhan Sistem (Nugroho, 2005) 1.1 Pengumpulan Data
Proses Masukan Keluaran
Melakukan pengumpulan data dengan melakukan Wawancara, Menganalisis terhadap data-data mengenai sistem inventori barang di Bank Sampah Garut. (Nugroho, 2005)
Data-data hasil Observasi dan Wawancara
Data-data Kepustakaan yang berkaitan dengan sistem inventori barang
Alur sistem berjalan
Spesifikasi Kebutuhan Sistem
2. Tahap Analisis Sistem Masa Depan (Bahrami, 1999) 2.1 Identifikasi Aktor
Proses Masukan Keluaran
Mengidentifikasi aktor yang terlibat pada proses bisnis sistem berjalan kemudian disesuaikan dengan sistem yang akan dirancang.
Alur sistem berjalan
Spesifikasi kebutuhan sistem
Daftar Aktor yang terlibat yang telah dikategorikan berdasarkan jenis aktor
33
Tabel 3.2 Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut (Lanjutan)11
2.2 Pengembangan diagram aktivitas dan use case
Proses Masukan Keluaran
Mengembangkan diagram aktivitas dan use
case dari masing-masing aktor terhadap
sistem inventori yang akan dirancang.
Daftar aktor Alur sistem berjalan
Diagram aktivitas dan Use Case sistem inventori yang akan dirancang
2.3 Pengembangan diagram interaksi
Proses Masukan Keluaran
Mengembangkan diagram interaksi yang
menggambarkan bagaimana objek
berinteraksi satu sama lain melalui pesan pada eksekusi sebuah use case atau operasi. Kemudian dibuat sequence diagram dan
collaboration diagram nya.
Diagram aktivitas Diagram Use Case
Diagram interaksi berupa : sequence diagram collaboration diagram
34
Tabel 3.3 Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut (Lanjutan)12
2.4 Identifikasi Kelas
Proses Masukan Keluaran
Dari tiap diagram interaksi diidentifikasi kelas sehingga menghasilkan kumpulan kelas yang dapat mewakili dari kelas yang lain jika ada yang bermakna sama. Setelah itu diidentifikasi relasi dari masing-masing kelas. Kemudian relasi yang telah teridentifikasi dicari atribut dan metode dari masing-masing kelas.
sequence diagram collaboration diagram
Daftar hasil identifkasi kelas, relasi, metode dan atribut.
2.5 Pemeriksaan
Proses Masukan Keluaran
Dari masing-masing tahapan diperiksa kembali dan dikaji kembali untuk menghindari kesalahan. Bila terdapat kesalahan maka kembali ke tahap awal analisis bila hasilnya benar maka akan dijadikan input pada tahap perancangan. Bahrami(1999)
Daftar Aktor yang terlibat yang telah dikategorikan berdasarkan jenis aktor Diagram aktivitas dan Use Case sistem
Inventori yang akan dirancang
Diagram interaksi berupa sequence
diagram dan collaboration diagram
Hasil pemeriksaan dari tiap tahapan: Daftar &jenis aktor yang telah diperiksa Diagram Aktivitas dan Use Case, yang
telah diperiksa
Diagram Interaksi, Identifikasi kelas, relasi, metode dan atribu. yang sudah diperiksa.
Tabel 3.4 Rincian Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut (Lanjutan)13
3. Tahap Perancangan Sistem Masa Depan (Bahrami, 1999) 3.1 Perancangan kelas, asosiasi, metode dan atribut
Proses Masukan Keluaran
Melakukan perancangan kelas, asosiasi, metode dan atribut.
Keluaran dari hasil tahap pemeriksaan Daftar dan jenis aktor yang telah diperiksa
Diagram Aktivitas dan Use Case, yang
telah diperiksa
Hasil perancangan kelas, asosiasi, metode dan attribute untuk sistem informasi inventori barang di Bank Sampah Garut
35
Diagram Interaksi, Identifikasi kelas,
relasi, metode dan atribu. yang sudah diperiksa.
3.2 Menyaring Class Diagram
Proses Masukan Keluaran
Menyaring UML diagram kelas Hasil dari perancangan kelas, asosiasi, metode dan attribut
Diagram kelas
3.3 Perancangan layer akses dan layer antar muka
Proses Masukan Keluaran
Melakukan perancangan layer akses dan layer antarmuka
Diagram kelas Hasil perancangan layer akses dan layer
antar muka sistem informasi inventori barang di Bank Sampah Garut.
4. Tahap Pengujian (Bahrami 1999)
Proses Masukan Keluaran
Melakukan pengujian hasil perancangan yang telah dibuat prototipe berupa Aplikasi Inventori dengan metode black box, Bahrami(1999)
Semua Form dalam program aplikasi Sistem inventori Barang Bank Sampah Garut berdasarkan input dan outputnya.
Ussability Testing User Satisfaction Test
36 3.3. Sumber Daya Yang Dibutuhkan
Berikut ini tabel sumber daya informasi yang digunakan dalam aktivitas Kegiatan Perencanaan Sistem Informasi Inventori Barang di Bank Sampah Garut :
Tabel 3.5 Sumber Daya Informasi yang Digunakan14
Sumber Daya Tahap
Hardware Software Network
Laptop Ms Word 2007 Ms Visio 2007 ArgoUML Koneksi Internet 1. SRS/Spesifikasi Kebutuhan Sistem 1.1 Analisis Kebutuhan sistem √ √ √
2. Analisis Sistem Masa Depan
2.1 Identifikasi aktor √ √
2.2 Pengembangan diagram aktivitas dan use case
√ √ √
2.3 Pengembangan
diagram interaksi √ √ √
2.4 Identifkasi kelas, relasi, metode dan atribut. √ √ √ 2.5 Pemeriksaan √ √ √ √ 3. Perancangan Sistem Masa Depan 3.1 Perancangan kelas, asosiasi, metode dan atribut
√ √ √ √
3.2 Menyaring UML
diagram kelas √ √ √ √
3.3 Perancangan layer akses dan layer antar muka.
37
BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
4.1. Spesifikasi Kebutuhan Sistem (SRS) 4.1.1. Analisis Sistem Berjalan
Dari hasil analisis kebutuhan dengan melakukan pengumpulan data melaui wawancara, observasi, serta menganalisis data-data mengenai sistem inventori barang di Bank Sampah Garut, maka penulis dapat menggambarkan sistem inventori barang yang sedang berjalan dapat digambarkan dalam proses bisnis sebagai berikut :
Alur Sistem Berjalan
Direktur Petugas Gudang Kepala Gudang Teller Ya Tidak Start Mengambil Tabungan Mencatat & merekap data barang diterima Menyimpan barang sesuai dengan klasifikasi Bahan Baku Daur ulang Menjual ke pihak lain Membuat laporan penjualan Menyerahkan barang ke bagian produksi Laporan penjualan barang per transaksi End Kwitansi Form Aplikasi pengambilan Tabungan Form Aplikasi pengambilan Tabungan Catatan barang masuk per transaksi Catatan barang masuk per transaksi Arsip Arsip Memisahkan bahan baku daur
ulang & barang yang akan di jual Pencatatan
Tabungan Nasabah & jumlah barang
38
Penjelasan dari Gambar 4.2 adalah sebagai berikut :
1. Teller melakukan penarikan tabungan sampah dari Bank Sampah Unit Sekolah, kemudian mencatat transaksi tabungan dan jumlah barang / sampah.
2. Hasil penarikan tabungan kemudian diserahkan ke bagian gudang, lalu kepala gudang melakukan merekap dan mencatat data barang yang diterima berdasarkan catatan transaksi tabungan dan jumlah barang / sampah
3. Petugas gudang kemudian menyimpan barang dengan dengan cara dikelompokan menurut klasifikasi barang tersebut.
4. Petugas gudang melakukan pencattan barang yang masuk per transaksi. 5. Petugas gudang akan menyerahkan barang ke bagian produksi apabila
barang merupakan bahan baku daur ulang.
6. Petugas gudang akan menjual barang ke pihak lain jika barang tersebut bukan bahan baku daur ulang, kemudian menyerahkan kwitansi penjualan ke kepala gudang.
7. Kepala gudang berdasarkan kwitansi penjualan barang membuat laporan penjualan barang untuk diserahkan ke direktur bank sampah Garut.
Setelah melakukan analisis sistem diperoleh beberapa kekurangan yang terjadi pada sistem yang sedang berjalan yaitu :
1. Adanya trend pertambahan nasabah tentunya akan membuat barang yang akan masuk bertambah banyak. sementara penjadwalan penarikan tabungan sampah saat ini dilakukan secara rutin setiap seminggu sekali ke tiap Bank Sampah Unit Sekolah. Hal tersebut tentunya berpotensi akan memunculkan permasalahan baru dalam hal penyimpanan barang, karena daya tampung gudang yang tetap namun kemampuan dalam memproduksi barang daur ulang oleh bagian produksi maupun barang yang dijual ke pihak lain masih relatif tidak berubah, tentunya akan berpotensi membuat barang yang disimpan melebihi dari daya tampung gudang.