• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN GOOD FOREST GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI DI JAWA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANAN GOOD FOREST GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI DI JAWA BARAT"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN GOOD FOREST GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN HUTAN

RAKYAT LESTARI DI JAWA BARAT

Oleh :

Devy Priambodo Kuswantoro Balai Penelitian Kehutanan Ciamis

ABSTRAK

Good Forest Governance merupakan kebijakan publik kehutanan yang disusun berdasarkan semangat publik untuk mengelola hutan yang lebih baik, termasuk dalam hutan rakyat. Kebijakan yang diambil pemerintah diperlukan untuk mengawal dan mengelola hutan rakyat dan hasilnya agar tujuan awal pembangunan hutan rakyat untuk mengurangi lahan kritis serta manfaat lain dari hutan tidak tergusur oleh keuntungan ekonomi semata. Pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota di Jawa Barat telah menerbitkan serangkaian peraturan dan melaksanakan program-program kehutanan untuk menjaga kelestarian pengusahaan hutan rakyat. Kebijakan kehutanan yang tepat untuk hutan rakyat dapat menjadi insentif bagi peningkatan produktivitasnya, kelestarian pengusahaan dan pasar sebagai usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kata kunci : Good Forest Governance, hutan rakyat, kebijakan, Jawa Barat

I. PENDAHULUAN

Pengelolaan hutan secara lestari di Indonesia sampai saat ini masih belum dapat dilakukan dengan baik. Kendalanya antara lain adalah kebakaran hutan, rendahnya pengamanan kawasan, masih adanya KKN, dan konversi kawasan hutan untuk keperluan lain (Departemen Kehutanan, 2008). Untuk mewujudkan kondisi kehutanan yang kondusif ini, Departemen Kehutanan telah mengembangkan suatu tata kelola kehutanan yang transparan dan akuntabel (Departemen Kehutanan, 2005). Transparansi dapat membangun kepercayaan publik, menarik investasi, mengurangi resiko ketidakstabilan sosial melalui penerimaan sumberdaya hutan yang lebih layak, dan yang lebih penting masyarakat lokal dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Inilah yang mendasari kebijakan publik bidang kehutanan yaitu Good Forest Governance.

Jawa Barat sebagai provinsi mitra Ibukota negara yang kondisi wilayahnya banyak yang merupakan wilayah berhutan dan merupakan kawasan konservasi perlu berbenah dalam kebijakan pengelolaan hutannya. Tulisan berikut mengulas implementasi kebijakan publik kehutanan dalam pengelolaan hutan di Jawa Barat, khususnya dalam pengelolaan hutan rakyat. Karakteristik kehutanan Jawa Barat, permasalahan kehutanan, para aktor yang berperan, dan langkah kebijakan yang diambil akan diulas dalam tulisan ini. Beberapa permasalahan kehutanan dan penerapan kebijakan publik akan dipaparkan sehingga dapat dijadikan rekomendasi bagi pengelolaan hutan. Berpegang pada kebijakan tata kelola kehutanan yang baik didukung oleh multi stakeholder kehutanan, diharapkan dapat diimplementasikan sebagai usaha penyelamatan hutan dan dukungan bagi pengusahaan hutan rakyat yang produktif dan lestari di Jawa Barat.

II. KEADAAN HUTAN DAN KEHUTANAN DI JAWA BARAT

Provinsi Jawa Barat dengan luas daratan sekitar 3.555.502 Ha memiliki sumber daya hutan seluas 816.603 ha. Berdasarkan fungsinya terbagi dalam hutan produksi seluas 393.117 ha, hutan lindung seluas 291.306 ha, dan hutan konservasi seluas 132.180 ha (Suherman dan Sudrajat, 2006). Sebagian besar hutan di Jawa Barat lebih dititik beratkan pemanfaatannya untuk fungsi perlindungan dan konservasi. Kondisi ini sejalan dengan keadaan alam Jawa Barat yang memiliki topografi berat dengan curah

(2)

hujan rata-rata tahunan yang cukup tinggi serta jenis tanah yang peka terhadap erosi (Sudarna, 2007).

Berbagai upaya dilakukan untuk merehabilitasi hutan dan lahan Jawa Barat. Saat ini kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan tidak saja dilakukan oleh pemerintah pusat (GERHAN) namun juga dilakukan oleh pemerintah Jawa Barat dengan nama Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK). Sampai tahun 2005 luasan lahan kritis yang masih harus ditanami dan direhabilitasi seluas 381.387 ha yang sebagaian besar merupakan lahan kritis di tanah masyarakat dengan luas sekitar 295.287 ha. Salah satu kegiatan rehabilitasi lahan kritis ini dilakukan dengan cara pengusahaan hutan rakyat. Semakin bertumbuh kembangnya hutan rakyat menunjukan bahwa program rehabilitasi lahan cukup berhasil, baik dari sisi konservasi tanah maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat (Sudarna, 2007).

Dinas Kehutanan Jawa Barat (2008) mencatat pada tahun 2007 luas hutan rakyat tercatat seluas 230.544,52 ha. Produksi kayu rakyat juga terus meningkat dari 1.103.102,44 m3 di tahun 2005 menjadi 7.233.410 m3 di tahun 2007. Jumlah industri perkayuan yang tersebar di seluruh Jawa Barat diperkirakan sejumlah 2.179 buah yang sebagian besar merupakan industri dengan kapasitas izin sampai dengan 2.000 m3/th (industri skala kecil). Perlu diingat bahwa hutan rakyat selama ini bertumbuh karena adanya permintaan kayu bagi industri yang semakin meningkat sehingga petani tergerak untuk terus menanam pohon. Salah satu skenario besar untuk pemenuhan kebutuhan kayu untuk bahan baku industri adalah dari hutan rakyat. Diduga bahwa kebutuhan bahan baku untuk industri kehutanan di Jawa Barat sesuai kapasitas terpasangnya adalah sekitar 7 juta m3/th. Produksi kayu dari Perum Perhutani Unit III Jawa Barat-Banten sekitar 250.000 m3/th. Produksi dari luar Perhutani tercatat tidak kurang dari 2,5 juta m3/th. Oleh karena itu, permintaan kayu dari hutan rakyat masih akan tetap tinggi akibat kesenjangan supply-demand. Karena itu perlu suatu kebijakan agar kelestarian pengusahaan tetap terjaga bahkan dapat meningkat produktivitasnya sekaligus pemasaran dan peredaran kayu rakyat yang efektif.

III. SKEMA GOOD FOREST GOVERNANCE

Kebijakan publik menurut Suharto (2008) merupakan suatu instrumen pemerintahan yang tidak saja menyangkut aparatur negara tetapi juga menyentuh berbagai bentuk kelembagaan baik swasta, dunia usaha, maupun masyarakat pada umumnya. Kebijakan publik mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumber daya demi kepentingan publik yaitu masyarakat. Kebijakan publik dapat berupa Undang-Undang, regulasi, keputusan, maupun dalam bentuk action policy.

Good Forest Governance merupakan kebijakan publik kehutanan yang disusun

berdasarkan semangat publik untuk mengelola hutan yang lebih baik. Mayers et al. (2002) membuat suatu piramida untuk menjabarkan Good Forest Governance. Pada intinya, piramida ini berguna bagi para stakeholder untuk menempatkan diri dan melihat peluang untuk berperan dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Gambar 1 memperlihatkan piramida Good Forest Governance.

(3)

Gambar 1. Piramida Good Forest Governance

Piramida tersebut memperlihatkan bahwa suatu tata kelola kehutanan yang baik harus didasarkan pada pondasi yang kokoh. Pondasi ini merupakan prasyarat yang mempengaruhi Good Forest Goverance tetapi tidak berada dalam kontrol sektor kehutanan. Pondasi tersebut meliputi dasar-dasar demokrasi, hak asasi manusia serta peraturan perundangan yang diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat. Dasar tersebut terutama adalah pemantapan kawasan. Hutan rakyat sebagai hutan yang dimiliki masyarakat berdasar kepemilikan lahan (Hardjanto, 2001) telah mempunyai dasar yang kuat yaitu kepastian hak atas tanah.

Piramida ini juga memperlihatkan dengan jelas peran stakeholder kehutanan mulai dari perencanaan sampai evaluasi. Kebutuhan akan sektor kehutanan yang dijalankan oleh beberapa institusi kehutanan diakui oleh masyarakat. Prasetyo (2004) menyatakan bahwa pengakuan ini sangatlah penting menyangkut masalah peran dan kewenangan. Kondisi ini tidak berada dalam kontrol sektor kehutanan saja namun peran politik pemerintah, baik pusat maupun daerah, terutama pada era desentralisasi sangat dominan. Penting tidaknya peran sektor kehutanan sangat tergantung dari “skala proritas” yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Hal tersebut telah menyebabkan tekanan yang kuat kepada hutan untuk menjadi sumber pendapat daerah, dimana kebijakan yang dibuat tidak berpihak kepada kelestarian ekonomi, sosial dan lingkungan (Resosudarmo, 2003 dalam Prasetyo, 2004).

Meskipun hutan rakyat berada di ranah private, kebijakan yang diambil pemerintah tetap perlu untuk mengawal dan mengelola hutan rakyat dan hasilnya agar tujuan awal pembangunan hutan rakyat untuk mengurangi lahan kritis serta manfaat lain dari hutan tidak tergusur oleh keuntungan ekonomi semata. Kecenderungan yang terjadi adalah munculnya kebijakan yang hanya beroientasi jangka pendek, dan seringkali distribusi manfaat ekonomi hanya dikalkulasi sebagai hasil kayu semata, sehingga semua pihak hanya berkonsentrasi pada bidang ini dan melupakan manfaat hutan lainnya. Demikian juga dengan mekanisme pasar yang diterapkan dalam alokasi pemanfaatan hutan sulit untuk mencapai tujuan redistribusi manfaat hutan.

DASAR/PONDASI

Pemantapan Kawasan dan Kepastian Lahan, Peluang Pasar, Investasi, Kerjasama Lintas Sektoral, Pengakuan dari Institusi

Penting (Pemerintah, Masyarakat, Swasta)

3. Instrumen. Alat dalam implementasi dan

mekanisme insentif-disinsentif

2. KEBIJAKAN. Kebijakan kehutanan untuk

pengelolaan hutan lestari di tingkat pemerintah

1. PERAN. Kerjasama Stakeholder dan institusi dalam

kerangka negoisasi penggunaan lahan dan hutan

5. Verifikasi. Audit, Monitoring,

Evaluasi, Sertifikasi

4. Ekstensi. Promosi dan sosialisasi

(4)

IV. IMPLEMENTASI GOOD FOREST GOVERNANCE DI JAWA BARAT

Luasan kawasan hutan di Jawa Barat sekitar 22,97% dari luas daratan Jawa Barat sesuai dengan Kepmenhut No. 195/Kpts-II/2003 tanggal 4 Juli 2003 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Jawa Barat. Idealnya guna menunjang keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan, luas kawasan hutan suatu daerah minimum sebesar 30% dari luas daratan sebagaimana diatur dalam UU No. 41/1999. Menyadari bahwa sebagian besar alam Jawa Barat sangat rentan akan kerusakan, maka dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan target terwujudnya 45% kawasan Jawa Barat berfungsi lindung (konservasi) baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Kebijakan ini dapat dipandang sebagai dasar bagi pelaksanaan kebijakan publik kehutanan di Jawa Barat. Pencapaian target tersebut tentunya mengandung tantangan yang lebih besar dan variatif. Instrumen kebijakan publik yang dilaksanakan dengan baik dan konsekuen sangat membantu realisasi target tersebut. Hutan rakyat dapat menjadi solusi yang utama bagi tercapainya luasan ideal tersebut karena hutan rakyat dikembangkan pada daerah-daerah kritis. Kebijakan tata kelola kehutanan yang baik menjadi perlu untuk mengatur pengusahaan hutan rakyat yang produktif sekaligus menjaga fungsi konservasi dari hutan rakyat itu sendiri. Pada sisi lain pertumbuhan penduduk di Jawa Barat masih cukup besar, yaitu 2,17% pada dasawarsa 1990–2000. Remi (2008) bahkan menyatakan bahwa proyeksi penduduk Jawa Barat 2000-2025 menunjukkan pertumbuhan yang paling tinggi diantara semua provinsi di Jawa dengan rata-rata 1,57% per tahun. Masih tingginya laju pertumbuhan penduduk khususnya pada daerah-daerah yang lapar lahan akan memberikan tekanan yang kuat terhadap pemenuhan luasan ideal ini.

Seiring dengan otonomi daerah, pelimpahan sebagian wewenang pemerintah pusat kepada pemerintah daerah berlaku juga untuk bidang kehutanan di Jawa Barat. Selain terdapat program-program pemerintah pusat, terdapat juga program kehutanan yang dikoordinatori dan merupakan inisiatif pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota. Untuk dapat melihat sejauh mana implementasi kebijakan publik di bidang kehutanan di Jawa Barat, dilakukan telaah menggunakan modifikasi piramida Good Forest Governance seperti yang tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Piramida Good Forest Governance di Jawa Barat

Hal Uraian Permasalahan dasar 1. Kawasan hutan belum mantap dan jelas batas dan penataannya.

2. Terjadi konversi lahan hutan sebagai pemukiman, perkebunan, dan pertanian. 3. Lahan kritis, penggundulan dan perambahan hutan marak terjadi.

4. Semakin sering terjadi bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

5. Usaha kehutanan belum membuahkan hasil maksimal yang mengancam kelestarian hasil.

6. Investasi bidang kehutanan masih minim. 7. Terjadi distorsi pasar hasil hutan rakyat.

1. PERAN 1. Kementerian Kehutanan

2. Dinas Kehutanan Provinsi dan Dinas Kehutanan/yang menangani kehutanan di kabupaten/kota

3. Instansi pemerintah dan swasta terkait lainnya 4. Masyarakat disekitar hutan

5. Masyarakat umum

2. KEBIJAKAN 1. Kebijakan pemerintah pusat 2. Kebijakan pemerintah daerah 3. Kebijakan perusahaan 4. Aksi masyarakat

3. INSTRUMEN Pengetahuan, Pasar, Regulasi, Promosi

4. EKSTENSI Promosi pengelolaan hutan lestari, sosialisasi program

(5)

Tabel 1 memperlihatkan bahwa ternyata permasalahan kehutanan yang menjadi perhatian publik telah meluas sampai kepada permasalahan ekonomi dan persoalan lingkungan. Kondisi alam Jawa Barat yang sebagian besar peka dan labil membuat keberadaan hutan sangat diperlukan dan mulai menjadi pemikiran serius dari publik. Publik secara umum merasakan imbas dari keberadaan hutan yang terus menyusut, sementara masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada hutan mempunyai masalah dengan usaha kehutanan yang belum dapat memberikan hasil dengan memuaskan. Banyaknya stakeholder yang berperan dalam merumuskan, melaksanakan, dan memantau kehutanan di Jawa Barat menunjukkan sinergi dan pembagian peran dalam penerapan kebijakan publik di bidang kehutanan yang baik di Jawa Barat.

Dukungan strategis kebijakan dan program untuk menata hutan Jawa Barat, termasuk hutan rakyat merupakan usaha untuk melindungi alam Jawa Barat dengan tidak meninggalkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan dalam pembangunan hutan rakyat, misalnya, dimaksudkan untuk membangun hutan rakyat lestari yang produktif sekaligus berfungsi konservasi. Dengan adanya kebijakan dan program kehutanan yang baik, diharapkan minat masyarakat untuk mengusahakan hutan rakyat semakin tinggi dan merasa difasilitasi oleh pemerintah. Beberapa kebijakan dan program di Jawa Barat antara lain :

1. Perda Provinsi Jawa Barat No. 19 Tahun 2001 jo No. 8 Tahun 2003 tentang Pengurusan Hutan di Jawa Barat.

2. Perda Provinsi Jawa Barat No. 2 tahun 2003 tentang RTRW, terutama mengenai luas daratan Jawa Barat 45% berfungsi lindung.

3. Perda Provinsi Jawa Barat No. 2 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung 4. Pergub Jawa Barat No. 11 Tahun 2006 tentang Pemberdayaan Masyarakat Desa

Sekitar Kawasan Hutan dan Perkebunan.

5. Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis dan Gerakan Multi Aktivitas Agrobisnis

6. Kebijakan kehutanan tingkat kabupaten/kota berupa kebijakan peredaran hasil hutan, kebijakan penanggulangan lahan kritis, dll.

Program GERHAN yang sudah berlangsung sejak tahun 2003 merupakan bentuk upaya pemerintah untuk mengembalikan fungsi hutan. Target GERHAN di Jawa Barat untuk membantu mencapai kawasan lindung di Jawa Barat 34% pada Tahun 2008 dan 45% tahun 2010. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berinisiatif pula melaksanakan GRLK sejak tahun 2004. GRLK merupakan wujud nyata pemerintah Jawa Barat dan partisipasi segenap lapisan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan kehutanan yang baik. Pelaksanaan GEHAN dan GRLK menangani areal lahan kritis seluas 580.397 ha. Adapun yang ditangani oleh program GRLK selama 5 ( lima ) tahun sampai dengan tahun 2008 adalah seluas 338.005 ha, sedangkan sisanya merupakan target areal untuk program GERHAN. Kegiatan rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 sudah membuat lahan kritis berkurang dari seluas 429.787 ha di tahun 2003 menjadi tinggal 1.566 ha di Tahun 2007. Berkurangnya lahan kritis di Jawa Barat memperlihatkan sinergi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam menanam dan menghutankan kembali kawasan-kawasan perlindungan di Jawa Barat.

Usaha menghijaukan hutan dan lahan serta mengembalikan fungsinya adalah pekerjaan yang tidak mudah. Setiap tahun selalu terjadi penggundulan hutan serta penambahan lahan kritis. Pengurangan lahan kritis dalam bentuk hutan rakyat yang marak di Jawa Barat belum sepenuhnya memikirkan prinsip kelestarian dan produktivitas hasil. Masyarakat mengusahakan hutan rakyat sebagai tabungan dikala membutuhkan uang. Oleh karena itu dikenal “daur butuh” bukan daur berdasarkan waktu tebang. Hal ini apabila dibiarkan akan menambah luasan lahan terbuka sehingga menambah lahan kritis. Upaya-upaya penyuluhan dan sosialisasi penghijauan kepada masyarakat tampaknya belum sepenuhnya menunjukkan keberhasilan karena lebih didasarkan pada kepentingan keproyekan. Disamping itu, pengelolaan hutan rakyat yang ada masih terbatas dikarenakan permodalan yang masih terbatas. Posisi tawar petani dalam negoisasi harga kayu juga masih rendah. Adapun pemasaran dan peredaran kayu rakyat masih banyak

(6)

terkendala permasalahan-permasalahan teknis dan non teknis. Disinilah kebijakan tata kelola kehutanan menunjukkan peran pentingnya yaitu sebagai suatu arahan/pedoman untuk aparat maupun publik/masyarakat dalam pengusahaan hutan. Tanpa tata kelola yang baik, pembangunan hutan rakyat melenceng dari tujuan semula yaitu untuk mengurangi lahan kritis dan malah menjadi ladang bisnis dari indutri perkayuan tanpa memperhatikan kesejahteraan petani. Akibatnya dapat terjadi eksploitasi hasil hutan rakyat yang berlebihan dan mengancam kelestariannya.

Kebijakan publik yang sudah disusun demi tercapainya tata kelola kehutanan yang baik, bukan berjalan tanpa hambatan. Beberapa permasalahan dan kelemahan yang masih dihadapi dalam penerapan Good Forest Governance di Jawa Barat antara lain : 1. Kesiapan aparat pemerintah maupun masyarakat dalam menjalankan amanat

kebijakan publik masih belum optimal. Hal ini terbukti pada lambatnya pelaksanaan program akibat keterlambatan anggaran, pengadaan barang dan jasa terkait. Masyarakat sendiri masih banyak yang belum tergugah kesadaran dan kemandirian dalam pelaksanaan rehabilitasi dan pengelolaan hutan akibat terlalu lama tergantung pada keproyekan.

2. Pengelolaan hutan lestari bersama dalam kerangka pemberdayaan masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat sekitar hutan belum sepenuhnya dapat dilakukan.

3. Sertifikasi sebagai usaha menuju Good Forest Governance belum menampakkan kemajuan di Jawa Barat khususnya untuk usaha hutan rakyat. Evaluasi program kehutanan belum dapat dilaksanakan secara optimal. Keikutsertaan masyarakat/publik dalam mengkritisi kebijakan kehutanan belum membuahkan hasil sehingga terdapat kebijakan kehutanan yang tidak sesuai dengan aspirasi publik seperti peraturan penatausahaan hasil hutan rakyat, kebijakan pengadaan bibit tanaman, dll.

4. Kelembagaan masyarakat belum mantap untuk dapat mendukung upaya Good Forest

Governance. Kelembagaan tidak hanya terkait dengan badan/lembaga secara fisik

saja namun juga aturan dan tata kerja nampaknya masih bersifat formalitas dan belum dapat mengakar sebagai bagian dari kebutuhan untuk dapat mengelola hutan secara lestari baik kelestarian usaha, hasil, dan lingkungan.

VI. KESIMPULAN

Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari implementasi Good Forest

Governance di Jawa Barat antara lain :

1. Good Forest Governance merupakan suatu reformasi kehutanan dalam kebijakan publik yang mengedepankan transparansi dan akuntabel dalam pengelolaan hutan dan lahan lestari.

2. Kebijakan tata kelola kehutanan mempunyai peranan yang besar sebagai suatu arahan/pedoman untuk aparat maupun publik/masyarakat dalam pengusahaan hutan rakyat yang produktif dan lestari. Tanpa tata kelola yang baik, pembangunan hutan rakyat dapat melenceng dari tujuan semula yaitu untuk mengurangi lahan kritis serta dapat menyebabkan eksploitasi hasil hutan yang berlebihan yang mengancam kelestarian.

3. Jawa Barat telah menunjukkan inisiatif proses kebijakan publik dengan terbitnya peraturan perundang-undangan baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota serta program-program kehutanan seperti GRLK dan Gemar.

Rekomendasi hasil tulisan ini terutama ditujukan kepada stakeholder kehutanan untuk dapat melangkah maju lebih dari sekedar action policy. Rekomendasi tersebut antara lain :

(7)

1. Transparansi dan akuntabilitas kinerja perlu terus ditingkatkan karena merupakan syarat utama bagi penerapan Good Forest Governance.

2. Kesiapan dan pemberdayaan serta pengikutsertaan publik dalam suatu program atau kebijakan publik menjadi sangat perlu untuk meningkatkan rasa memilki dan meningkatkan kontrol publik atas suatu kebijakan.

3. Good Forest Governance berlaku tidak hanya bagi pemerintah, tetapi bagi seluruh pelaku kehutanan. Oleh karena itu, sinergi kedua belah pihak sangat diperlukan dalam membangun kehutanan Jawa Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kehutanan. 2005. Dephut Kembangkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Transparan dan Akuntabel. Siaran Pers Nomor: S.619/II/PIK-1/2005 Tanggal 5 Oktober 2005.

---. 2008. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Upaya Mitigasi Terhadap Perubahan Iklim Global. Website: http://www. dephut.go.id. Diakses tanggal 24 Desember 2008.

Dinas Kehutanan Jawa Barat. 2008. Statistik Kehutanan Jawa Barat. Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Bandung.

Hardjanto. 2001. Kontribusi Hutan Rakyat Terhadap Pendapatan Rumah Tangga di DAS Cimanuk Hulu. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 7(2): 47-61.

Mayers, J., S. Bass dan D. Macqueen. 2002. The Pyramid, A Diagnostic and Planning Tool For Good Forest Governance. International Institute for Environment and Development (IIED). London.

Prasetyo, F.A. 2004. Sertifikasi Hutan di Indonesia dan Tantangan ke Depan (Forest

Governance, Illegal Logging, Poverty). Makalah dalam sarasehan nasional

“Sertifikasi di Simpang Jalan: Politik Perdagangan, Kelestarian Sumberdaya Alam dan Pemberantasan Kemiskinan” Tanggal 19 Oktober 2004. Lembaga Ekolabel Indonesia. Jakarta.

Remi, S.S. 2008. Implikasi Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2000-2025 Terhadap Pembangunan Berkelanjutan Bidang Ekonomi. Makalah pada Diklat Penjenjangan Perencana Tingkat Pertama tanggal 13 Mei 2008. Bandung.

Sudarna, A. 2007. Membangun Kehutanan Jawa Barat untuk Kemakmuran dan Penyangga Kehidupan. Prosiding Seminar Pekan Hutan Rakyat Nasional II hal. 45-65. Puslitbang Hutan Tanaman. Bogor.

Suharto, E. 2008. Modal Sosial dan Kebijakan Publik. Website: http:// www.policy.hu/suharto. Diakses tanggal 24 Desember 2008.

Suherman dan Y. Sudrajat. 2006. Kebijakan Propinsi Jawa Barat dalam Pengembangan Hutan Rakyat. Prosiding PHRN I hal. 14-21. Puslit Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan. Bogor.

Gambar

Gambar 1.  Piramida Good Forest Governance
Tabel 1.  Piramida Good Forest Governance di Jawa Barat

Referensi

Dokumen terkait

Hasil tersebut didasarkan pada keuntungan bersih (total pendapatan dikurangi total biaya pembangunan). Hasil analisis keuntungan usaha kemitraan hutan rakyat Kelompok Rimba

Pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul dan Wonogiri merupakan teladan keberhasilan suatu proses pembelajaran petani dengan kearifan tradisionalnya dalam pengelolaan

[r]

Darusman (1995) menegaskan bahwa bahwa hutan rakyat dan industri pengolahan hasilnya merupakan pilihan teknologi budidaya dan industri yang tepat guna

Pengetahuan lokal yang dikaji dan dipelajari mencakup gagasan dan tindakan, kebudayaan fisik (alat-alat) dan perilaku sosial dalam pengelolaan hutan rakyat dapat dilihat

Penelitian dilakukan dengan menganalisis peran dari APIP dan Aparatur Desa terkait dalam pengelolaan keuangan desa.Selanjutnya,tujuannya untuk menuju tata kelola

Model pengembangan pembelajaran petani pengelola Hutan Rakyat Lestari hasil penelitian ialah peningkatan intensitas belajar petani melalui (1) pengembangan kelembagaan

Petani dengan luas lahan hutan rakyat yang besar juga memiliki lahan pertanian yang ditanami dengan tanaman pangan sehingga mereka tidak lagi akan mengkonversi hutan rakyatnya menjadi