• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V PENUTUP A. Kesimpulan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka penulis akan menjelaskan inti dari setiap uraian dari bab sebelumnya. Kesimpulan dari rumusan masalah tersebut adalah :

1. Pola Jaringan Internal

Bentuk pola jaringan internal dalam WALHI Yogyakarta yang mendukung gerakan sosial mereka adalah berbentuk seperti lingkaran berlapis, WALHI Yogyakarta sebagai pusat dari jaringan dikelilingi oleh dua lapis jaringan, pertama adalah terdiri dari anggota WALHI Yogyakarta sendiri yang terdiri dari 29 anggota, yang masing-masingnya adalah lembaga yang juga memiliki anggota berupa individu-individu.

Dari 29 anggota tersebut dipastikan WALHI Yogyakarta memiliki basis kekuatan masa yang kuat. Setelah itu lapisan jaringan kedua adalah Warga Berdaya, Warga Berdaya adalah forum buatan WALHI Yogyakarta dengan tujuan sebagai tempat warga-warga di Yogyakarta untuk berkumpul, berdiskusi, saling tukar pengetahuan dan pengalaman dalam mengurusi lingkungan dan menghadapi permasalahan lingkungan, diharapkan dalam forum ini akan meningkatkan ikatan antar warga Yogyakarta sendiri juga menambah pengetahuan keapada masyarakat, juga sebagai tempat untuk memberikan laporan dan perkembangan kondisi lingkungan di daerah masing-masing, serta penyebaran isu-isu lingkungan di Yogyakarta.

Dalam internal WALHI Yogyakarta secara garis komando Direktur juga membawahi Sha-Link yang merupakan organ support, Sha-Link merupakan jaringan yang lebih luas secara bentuk dan komposisi, karena merupakan relawan-relawan dari berbagai macam kalangan serta daerah asal yang ingin berkontribusi dalam pelestarian lingkungan di Yogyakarta. Pola internal memastikan ada hubungan dari anggota langsung ke masyarakat, dan dari masyarakat langsung ke WALHI Yogyakarta melalui Warga Berdaya

2. Pola Jaringan Eksternal WALHI Yogyakarta

Dalam pola jaringan eksternal yang dimiliki WALHI Yogyakarta didasarkan kepada bentuk kerja WALHI Yogyakarta yang dibagi menjadi dua jenis, yaitu kerja

(2)

berdasarkan laporan warga, dan berdasarkan analisa dari empat isu strategis yang dimiliki WALHI Yogyakarta. Setiap bentuk kerja memiliki pola jaringan tersendiri untuk memastikan gerakan yang dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan dan juga mendapat dukungan yang tepat baik dari segi data, jumlah massa, serta rencana gerakan.

a. Pola Jaringan By Case

Bentuk dari pola ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan bentuk pola jaringan sebelumnya, namun bentuk dasar polanya tetap berasal dari jaringan internal. Pemicu dari berlakunya pola ini adalah dari masuknya laporan ke WALHI Yogyakarta dari warga dengan permasalahan lingkungan. Dengan adanya jaringan yang tersebar dari anggota serta Warga Berdaya membuat masyarakat dapat langsung memberikan laporan kepada WALHI Yogyakarta melalui salah satu anggota, melalui Warga Berdaya saat melakukan pertemuan ataupun mendatangi langsung kantor WALHI Yogyakarta.

Setelah laporan masuk, maka selanjutnya anggota dan eksekutif daerah (WALHI) melihat dan menganalisa laporan apakah memang perlu di advokasi diihat dari siapa pelapor, siapa yang terdampak dari kasus yang dilaporkan. Contohnya adalah ketika warga Karangwuni memberikan laporan berupa surat kepada LBH Yogyakarta dan WALHI Yogyakarta, maka selanjutnya adalah koordinasi antara LBH Yogyakarta dengan WALHI Yogyakarta, karena LBH Yogyakarta merupakan salah satu anggota WALHI, maka selanjutnya adalah menentukan bentuk bantuan dan gerakan yang di lakukan.

b. Pola Jaringan Berdasarkan Empat Isu Strategis

Pola jaringan ditemukan dalam salah satu bentuk kerja WALHI Yogyakarta dengan tujuan preventif dan edukasi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Bentuk kerja yang menggunakan jaringan ini adalah kerja riset yang dilakukan setiap saat oleh WALHI Yogyakarta. Berdasarkan empat isu strategis tersebut maka WALHI Yogyakarta melakukan riset dengan cara melakukan riset di lapangan, lalu analisa kebijakan, serta analisa media untuk melihat kemungkinan terjadinya permasalahan lingkungan. Dalam pola ini gerak jaringan berfokus di eksekutif daerah (WALHI) serta 29 anggotanya, riset dilakukan setiap anggota berdasarkan kedekatan isu yang dimiliki anggota, bila ditemukan krisis maka hasil riset tersebut akan dibicarakan kembali oleh WALHI Yogyakarta untuk melihat bentuk aksi apa yang sesuai

(3)

dengan masalah tersebut, biasanya bentuk aksi yang dilakukan adalah berupa kampanye penyadaran ataupun edukasi langsung kepada pihak terkait dimana kemungkinan permasalahan lingkungan itu dilakukan. Aktor dalam jaringan yang telibat dalam aksi adalah seluruh anggota, namun untuk edukasi maka yang berperan adalah anggota yang memiliki kedekatan isu dan juga wilayah serta Sha-Link yang memang kerja utamanya adalah untuk edukasi serta penyebaran isu lewat aksi bersama.

3. Hambatan dalam Jaringan

Hambatan yang ditemui dalam gerakan mereka juga yang mempengaruhi pola jaringan dari sisi internal WALHI Yogyakarta adalah berupa komunikasi yang kurang luwes antar staf serta kurangnya staf eksekutif dalam kepengurusan WALHI Yogyakarta saat ini. Hambatan selanjutnya adalah hambatan dari luar WALHI Yogyakarta berupa keterbukaan informasi dari pemerintah Kabupaten maupun Propinsi. Ketidakterbukaan ini membuat riset-riset yang dilakukan WALHI Yogyakarta mengalami pelambatan, sehingga berakibat pada jaringan yang lambat untuk merespon jika terkait dengan Pemerintah Daerah.

B. Implikasi

1. Implikasi Teori

Penelitian yang berjudul Gerakan Sosial Baru (Studi Kasus Pola Gerakan Sosial Cinta Lingkungan WALHI Yogyakarta) menggunakan Teori Jaringan Barry Wellman dan Ronald Burt. Terdapat relevansi antara pembahasan dalam penelitian ini dengan teori yang digunakan. Dengan menggunakan konsep ikatan simetris penulis dapat mengetahui bahwa aktor di WALHI Yogyakarta memeliki ikatan simetris yang didasari oleh rasa kekeluargaan sebagai forum lembaga, dimana ikatan dalam tiap individu adalah setara tanpa ada strata yang membagi tiap individu terlepas dari jabatan dan posisi mereka di WALHI Yogyakarta. Lalu dengan menggunakan konsep nonrandom networks penulis menemukan bahwa tiap individu di WALHI Yogyakarta mengenal satu sama lain meskipun mereka tidak berasal dari lembaga anggota yang sama.

Dalam menggunakan Teori Jaringan penulis menggunakan Model Integratif milik Ronald Burt dan menemukan bahwa jaringan yang terdapat di WALHI Yogyakarta didukung oleh kepentingan aktor dan struktur sosial (dalam konteks tindakan) yang sesuai. Struktur sosial yang sifatnya memaksa aktor tersebut tidak

(4)

membuat aktor menjadi terpaksa melakukan aturan dari tekanan struktur tersebut, ini dikarenakan kepentingan yang dimiliki oleh aktor tidak bertentangan dengan struktur sosial di WALHI Yogyakarta. Struktur itu berupa aturan bahwa WALHI Yogyakarta tidak menerima donasi dari koorporat ataupun pemerintah, dan setiap individu di WALHI Yogyakarta tidak diberi upah untuk setiap kegiatan yang mereka lakukan. Aturan dari struktur tersebut sesuai dengan kepentingan tiap aktor di WALHI Yogyakarta yang berorientasi pada pengabdian diri pada masyarakat, keinginan untuk terus belajar, dan mengaplikasikan ilmu mereka di bangku kuliah. Selarasnya kepentingan aktor juga struktur sosial di WALHI Yogyakarta memastikan bahwa jaringan yang dimiliki WALHI Yogyakarta akan terus kuat, karena tidak ada pertentangan dari unsur-unsur yang ada.

Maka dapat disimpulkan bahwa Teori Jaringan Barry Wellman dan Ronald Burt memiliki relevansi dengan penelitian mengenai pola jaringan di WALHI Yogyakarta. Karena teori tersebut mampu mengungkap obyek kajian dalam penelitian ini, maka teori ini dapat digunakan sebagai alat analisis pada jenis penelitian yang berfokus pada hubungan dalam sebuah organisasi.

2. Implikasi Metodologis

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Dengan metode ini penulis dapat mendapatkan data dengan baik karena dapat menggali informasi dengan dalam, ditambah dengan menggunakan observasi dan wawancara mendalam menjadikan data yang dikumpulkan menjadi lebih valid karena dapat langsung membandingkan data yang dikumpulkan saat wawancara mendalam dengna kenyataan di lapangan. Pemilihan informan dirasakan sangat sesuai karena masing-masing dari informan telah terlibat banyak kegiatan WALHI Yogyakarta, hal ini membuat setiap informan memiliki pengetahuan yang menyeluruh terhadap fokus yang diteliti oleh penulis.

Dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian ini mampu menggali informasi yang dibutuhkan dalam penelitian mengenai pola jaringan WALHI Yogyakarta.

(5)

Hasil penelitian menunjukan pola jaringan yang terdapat di WALHI Yogyakarta terjalin dengan tujuan untuk memastikan bahwa masyarakat memiliki akses serta jaringan kepada informasi, serta bantuan yang disediakan oleh WALHI Yogyakarta. Dalam setiap pola jaringan di WALHI Yogyakarta jelas terlihat bahwa kekuatan utama dari gerakan sosial yang dilakukan WALHI Yogyakarta adalah dari aggotanya yang berupa lembaga, dengan bentuk lembaga maka dipastikan WALHI Yogyakarta diisi oleh individu-individu dengan kemampuan mumpuni di bidangnya masing-masing. Pola jaringan yang dimiliki WALHI Yogyakarta juga memastikan bahwa masyarakat dijadikan sebagai subyek utama yang memegang kontrol terhadap setiap aksi yang dilakukanya, dan juga dapat dilakukanya tindakan-tindakan preventif untuk mengurangi kerusakan lingkungan di Yogyakarta, dengan menyadarkan masyarakat melalui edukasi yang dibentuk dengan kampanye, serta diskusi yang melibatkan masyarakat. Sehingga dengan meningkatnya kesadaran dan informasi di masyarakat diharpakan mereka dapat menjaga lingkunganya sendiri dari kegiatan-kegiatan yang merusak alam.

Peneliti melihat bahwa warga mulai menyadari perkembangan Yogyakarta yang kini mulai tidak tekontrol telihat dari kasus warga Karangwuni yang menolak pembangunan Apartemen Uttara tanpa adanya dorongan dari pihak lain, penolakan ini muncul dari diri mereka sendiri, lalu masyarakat juga mulai menyadari bahwa dalam memperjuangkan sesuatu yang perlu diingat bukanlah hasil, melainkan proses, dengan proses yang dijalani warga Karangwuni secara tidak langsung menjadi bahan renungan serta edukasi kepada masyarakat lainnya agar mereka bisa sadar dan menolak hal apapun yang merusak lingkungan mereka, baik pembangunan hotel, apartemen maupun mall.

C. Saran

Berdasarkan penelitian mengenai pola jaringan WALHI Yogyakarta yang telah dilakukan, maka penulis memberikan saran, yaitu :

1. Bagi WALHI Yogyakarta

Untuk memperkuat jaringan di WALHI Yogyakarta diharapkan setiap anggota dapat menjelaskan peran dan fungsi mereka sebagai lembaga anggota di forum advokasi WALHI Yogyakarta, dengan menjelaskan peran serta fungsi masing-masing anggota dapat membuat proses kaderisasi menjadi cepat, karena setiap

(6)

individu di lembaga anggota sadar atas peran dan fungsi mereka di WALHI Yogyakarta. Selain itu agar komunikasi dapat berjalan lancar diantara staf eksekutif daerah perlu diadakanya diskusi yang diadakan tiap seminggu sekali untuk menjaga komunikasi yang berhubungan dengan kerja WALHI Yogyakarta agar dapat dikoordinasikan dengan baik.

2. Bagi Pemerintah

Untuk menjamin bahwa pemerintah daerah baik tingkat kabupaten maupun propinsi memiliki komitmen terhadap pelestarian serta penjagaan kondisi lingkungan di Yogyakarta maka setiap dinas-dinas terkait harus membuat aturan serta kebijakan yang sesuai dan aplikatif untuk memastikan kondisi lingkungan dapat dijaga, selain itu perlu dibuatnya aturan yang kuat dan ketat untuk pembangunan di Yogyakarta, terutama untuk wilayah Yogyakarta Kota dan Kabupaten Sleman. Terutama bagi Kabupaten Sleman yang tidak memiliki aturan jelas mengenai tata wilayah mereka sendiri yang menjadi celah untuk disalahgunakan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian bertujuan mengidentifikasi faktor yang mengancam populasi dan migrasi penyu belimbing, menganalisis persepsi masyarakat (stakeholders) dari aspek ekologi,

Keanggotaan ISMKI adalah Senat/BEM/LEM/PEMA Fakultas Kedokteran di seluruh Indonesia.Sedangkan mahasiswa kedokteran disetiap institusi merupakan anggota dari

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI KONSUMEN PRODUK HANDPHONE MEREK “NOKIA” (Studi Kasus Konsumen “NOKIA”.. Mahasiswa

Perang melawan korupsi sistematis harus menjadi bagian dari perbaikan yang lebih luas, bagian dari upaya untuk membenahi administrasi pemerintah, menjadi alat

Jika ditinjau dari fakt*r pen)ebab kecelakaan kerja, pen)ebab dasar kecelakaan kerja adalah human err*r( Dalam hal ini, kesalahan terletak pada *perat*r kran(

Tema yang dipilih dalam karya ilmiah ini adalah Kinetika Reaksi Sulfonasi Lignin dan Pencirian Natrium Lignosulfonat sebagai Surfaktan7. Penulis mengucapkan terima kasih

adalah akad, yaitu segala sesuatu yang menunjukan atas kerelaan kedua belah pihak yang melakukan jual beli, baik itu ijab atau qabul. Khusus untuk barang yang kecil,