• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Take Home MRI Artefacts

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tugas Take Home MRI Artefacts"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH TENTANG ARTEFAK PADA PEMERIKSAAN

MAKALAH TENTANG ARTEFAK PADA PEMERIKSAAN

 MA

 MAGGNNEETITIC C RREESSONONAANNSSI II IMAMAGGIINNGG

(MRI)

(MRI)

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan ujian matrikulasi Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan ujian matrikulasi

Teknik MRI Dasar Teknik MRI Dasar

Diajukan oleh : Diajukan oleh : Anggit Adhi Prasetya Anggit Adhi Prasetya NIM.

NIM. P133743021808P13374302180899

Dosen pengampu : Dosen pengampu : Emi Murniati, S.Si, M.Kes Emi Murniati, S.Si, M.Kes

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN TEKNIK RADIOLOGI PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN TEKNIK RADIOLOGI

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI SEMARANG JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI SEMARANG

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2018 2018

(2)

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

A.

A. Latar Latar belakangbelakang

Pemeriksaan radiodiagnostik merupakan salah satu pemeriksaan Pemeriksaan radiodiagnostik merupakan salah satu pemeriksaan penunjang dibidang kedokteran dalam membantu menegakkan diagnosa suatu penunjang dibidang kedokteran dalam membantu menegakkan diagnosa suatu penyakit. Salah satu pemeriksaan radiodiagnostik adalah pemeriksaan dengan penyakit. Salah satu pemeriksaan radiodiagnostik adalah pemeriksaan dengan menggunakan modaliras imejing berupa

menggunakan modaliras imejing berupa Magnetic Resonance Imaging Magnetic Resonance Imaging  (MRI (MRI.. Magnetic

Magnetic Resonance Resonance Imaging Imaging   (MRI) adalah suatu alat kedokteran di  (MRI) adalah suatu alat kedokteran di bidang

bidang pemeriksaan diagnostik radiologi yangpemeriksaan diagnostik radiologi yang menghasilkan menghasilkan rekamanrekaman gambar potongan penampang tubuh / organ manusia dengan

meng-gambar potongan penampang tubuh / organ manusia dengan meng- gunakangunakan medan magnet

medan magnet berkekuatan antara 0,064berkekuatan antara 0,064 – – 1,5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dan 1,5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dan resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.

resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.

Beberapa factor kelebihan yang dimilikinya, terutama kemampuannya Beberapa factor kelebihan yang dimilikinya, terutama kemampuannya membuat potongan

membuat potongan coronal, sagital, axial coronal, sagital, axial  dan oblik tanpa banyak memanipulasi dan oblik tanpa banyak memanipulasi posisi tubuh pasien se

posisi tubuh pasien sehingga hingga sangat sesuiai untuk sangat sesuiai untuk diagnostik jaringan lunak.diagnostik jaringan lunak. Teknik penggambaran MRI relatif komplek karena gambaran yang Teknik penggambaran MRI relatif komplek karena gambaran yang dihasilkan

dihasilkan tergantung tergantung pada bapada banyak nyak parameter. parameter. Bila peBila pemilihan milihan para- meterpara- meter tersebut tepat, kualitas gambar MRI dapat memberikan gambaran detail tubuh tersebut tepat, kualitas gambar MRI dapat memberikan gambaran detail tubuh manusia dengan perbedaan yang kontras, sehingga anatomi dan patologi manusia dengan perbedaan yang kontras, sehingga anatomi dan patologi  jaringan tubuh dapat diev

 jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti.aluasi secara teliti.

Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal sebagai Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal sebagai alat diagnostik,

alat diagnostik, maka harus maka harus memperhitungkan memperhitungkan hal-hal yang hal-hal yang berkaitan denganberkaitan dengan teknik

(3)

pemeriksaan pasien yang baik, ; b. Kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaanya,; c. Artefak pada gambar, dan cara mengatasinya ; d. Tindakan penyelamatan terhadap keadaan darurat.

Selanjutnya MRI bila ditinjau dari tipenya terdiri dari : a. MRI yang memiliki kerangka terbuka (open gantry ) dengan ruang yang luas dan b. MRI yang memiliki kerangka (gantry ) biasa yang berlorong sempit. Sedangkan bila ditinjau dari kekuatan magnetnya terdiri dari ; a. MRI Tesla tinggi ( High Field Tesla ) memiliki kekuatan di atas 1 – 1,5 T ; b. MRI Tesla sedang (Medium Field Tesla) memiliki kekuatan 0,5  –  T ; c. MRI Tesla rendah (Low Field Tesla) memiliki kekuatan di bawah 0,5 T. Sebaiknya suatu rumah sakit memilih MRI yang memiliki tesla tinggi karena alat tersebut dapat digunakan untuk tehnik Fast Scan yaitu suatu tehnik yang memungkinkan 1 gambar irisan penampang dibuat dalam hitungan detik, sehingga kita dapat membuat banyak irisan penampang yang bervariasi dalam waktu yang sangat singkat. Dengan banyaknya variasi gambar membuat suatu lesi menjadi menjadi lebih spesifik.

B. Perkembangan MRI

Pada tahun 1946, Felix Bloch dan Purcell mengemukakan teori, bahwa inti atom bersifat sebagai magnet kecil, dan inti atom membuat spinning dan  precessing . Dari hasil penemuan kedua orang diatas kemudian lahirlah alat Nuclear Magnetic Resonance (NMR ) Spectrometer , yang penggunaannya terbatas pada kimia saja.

Setelah lebih dari sepuluh tahun Raymond Damadian bekerja dengan alat NMR Spectometer , maka pada tahun 1971 ia menggunakan alat tersebut untuk

(4)

pemeriksaan pasien. Pada tahun 1979, The University of Nottingham Group memproduksi gambaran potongan coronal dan sagittal (disamping potongan aksial) dengan NMR. Selanjutnya karena kekaburan istilah yang digunakan untuk alat NMR dan di bagian apa sebaiknya NMR diletakkan, maka atas saran dari  AMERICAN COLLEGE of RADIOLOGI (1984), NMR dirubah menjadi Magnetic Resonance Imaging  ( MRI ) dan diletakkan di bagian Radiologi.

C. Prinsip Dasar MRI

Struktur atom hidrogen dalam tubuh manusia saat diluar medan magnet mempunyai arah yang acak dan tidak membentuk keseimbangan. Kemudian saat diletakkan dalam alat MRI (Bore Magnet ), maka atom H (hydrogen) akan sejajar dengan arah medan magnet . Demikian juga arah spinning dan  precessing akan sejajar dengan arah medan mag- net. Saat diberikan frequensi radio , maka atom H akan mengabsorpsi energi dari frequensi radio tersebut.  Akibatnya dengan bertambahnya energi, atom H akan mengalami pembelokan,

sedangkan besarnya pembelokan arah, dipengaruhi oleh besar dan lamanya energi radio frequensi yang diberikan. Sewaktu radio frequensi dihentikan maka atom H akan sejajar kembali dengan arah medan magnet . Pada saat kembali inilah, atom H akan memancarkan energi yang dimilikinya. Kemudian energi yang berupa sinyal tersebut dideteksi dengan detektor yang khusus dan diperkuat. Selanjutnya komputer akan mengolah dan merekonstruksi citra berdasarkan sinyal yang diperoleh dari berbagai irisan.

(5)

D. Instrumen MRI

Secara garis besar instrumen MRI terdiri dari: a. Sistem magnet yang berfungsi membentuk medan magnet. Agar dapat mengoperasikan MRI dengan baik, kita perlu mengetahui tentang : tipe magnet, efek medan magnet, magnet shielding ; shimming coil dari pesawat MRI tersebut ; b. Sistem pencitraan berfungsi membentuk citra yang terdiri dari tiga buah kumparan koil, yaitu : 1.Gradien koil X, untuk membuat citra potongan sagittal. 2 . Gardien koil Y, untuk membuat citra potongan koronal. 3. Gradien koil Z untuk membuat citra potongan aksial . Bila gradien koil X, Y dan Z bekerja secara bersamaan maka akan terbentuk potongan oblik; c. Sistem frequensi radio berfungsi mem- bangkitkan dan memberikan radio frequensi serta mendeteksi sinyal ; d. Sistem komputer berfungsi untuk membangkitkan sekuens pulsa, mengontrol semua komponen alat MRI dan menyimpan memori beberapa citra; e. Sistem pencetakan citra, berfungsinya untuk mencetak gambar pada film rongent atau untuk menyimpan citra.

E. Aplikasi Klinis Pemeriksaan MRI

Pemeriksaan MRI bertujuan mengetahui karakteristik morpologik (lokasi, ukuran, bentuk, perluasan dan lain lain dari keadaan patologis). Tujuan tersebut dapat diperoleh dengan menilai salah satu atau kombinasi gambar penampang tubuh akial, sagittal, koronal atau oblik tergantung pada letak organ dan kemungkinan patologinya. Adapun jenis pemeriksaan MRI sesuai dengan organ yang akan dilihat, misalnya : 1. Pemeriksaan kepala untuk melihat kelainan pada : kelenjar pituitary, lobang telinga dalam , rongga mata ,

(6)

sinus ; 2. Pemeriksaan otak untuk mendeteksi : stroke / infark, gambaran fungsi otak, pendarahan, infeksi; tumor, kelainan bawaan, kelainan pembuluh darah seperti aneurisma, angioma, proses degenerasi, atrofi; 3. Pemeriksaan tulang belakang untuk melihat proses Degenerasi (HNP), tumor, infeksi, trauma, kelainan bawaan. 4. Pemeriksaan Musculoskeletal untuk organ : lutut, bahu , siku, pergelangan tangan, pergelangan kaki , kaki , untuk mendeteksi robekan tulang rawan, tendon, ligamen, tumor, infeksi/abses dan lain lain ;5. Pemeriksaan  Abdomen  untuk melihat hati , ginjal, kantong dan saluran empedu, pakreas, limpa, organ ginekologis, prostat, buli-buli 6. Pemeriksaan Thorax  untuk melihat : paru –paru, jantung.

Saat ini MRI merupakan pemeriksaan rutin di rumah sakit besar. Dengan MRI pada prinsipnya hampir seluruh organ tubuh dapat diperiksa. Pemeriksaan MRI 90% dilakukan pada organ kepala dan organ vertebra sedangkan sisanya 10% untuk pemeriksaan organ lain (thorak, abdomen, pelvis, vertebrae, ekstremitas atas, dan ekstremitas bawah).

Walaupun pemeriksaan MRI relatif aman namun pemeriksaan dengan menggunakan modalitas MRI rentan atau sensitif terhadap timbulnya suatu artefak pada hasil gambaran. Artefak sendiri merupakan suatu gambaran asing yang muncul pada hasil citra MRI yang sebetulnya tidak diinginkan kemunculannya.

 Artefak didefinisikan sebagai salah satu sinyal atau kekosongan dalam gambar yang tidak memiliki dasar anatomi, atau sebagai hasil dari distorsi, penambahan atau penghapusan informasi. Beberapa dari mereka jelas dan ada

(7)

pula yang halus. Yang dapat berpotensi menyebabkan salah tafsir atau misdiagnosis, terutama ketika mensimulasikan patologis kondisi. Beberapa artefak adalah karena kerusakan peralatan pemindai, yang lain karena pilihan teknik yang tidak tepat, dan beberapa melekat pada fisika MRI.

Pengenalan dan pemahaman pada pemeriksaan MRI adalah pengetahuan tentang prinsip-prinsip fisik, pemilihan dengan teknik pemindai dan teori pembentukan gambar citra MRI. Dengan pemahaman ini banyak artefak mungkin dikoreksi, diminimalkan atau dihindari. Namun kerumitannya dan berbagai teknik pencitraan dan pembuatan urutan identifikasi dan minimalisasi artefak kadang-kadang sulit. Terlepas dari kesulitan-kesulitan ini, studi tentang artefak dapat menjadi langkah ke pemahaman yang lebih dalam tentang prinsip MRI.

Pada makalah ini penulis juga akan memberikan gambaran salah satu pemeriksaan yang terdapat gambaran artefak pada citra MRI Brain di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Telogorejo Semarang.

(8)

PROSEDURE PEMERIKSAAN MRI B R A I N   DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT TELOGOREJO SEMARANG

A. Persiapan Pemeriksaan

Pada dasarnya tidak ada persiapan pasien secara khusus. Tetapi perlu

diperhatikan bahwa alat-alat seperti tabung oksigen, alat resusistasi, kursi roda, dll yang bersifat fero- magnetik tidak boleh dibawa ke ruang MRI. Untuk keselamatan, pasien diharuskan mema- kai baju pemeriksaan dan menanggalkan benda- benda feromagnetik, seperti : jam tangan, kunci, perhiasan jepit rambut, gigi palsu dan lainnya.

Screening dan pemberian informasi kepada pasien dilakukan dengan cara mewawancarai pasien, untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang membahayakan pasien bila dilakukan pemeriksaan MRI, misalnya: pasien menggunakan alat pacu  jantung, logam dalam tubuh pasien seperti IUD, sendi palsu, neurostimulator, dan klip

anurisma serebral, dan lain-lain.

Transfer pasien menuju ruangan MRI, khususnya pasien yang tidak dapat berjalan (non ambulatory ) lebih kompleks dibandingkan peme- riksaan imaging lainnya. Hal ini karena medan magnet pesawat MRI selalu dalam keadaan “on” sehingga setiap saat dapat terjadi resiko kecelakaan, dimana benda-benda feromagnetik dapat tertarik dan kemungkinan mengenai pasien atau personil lainnya. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut, meja pemeriksaan MRI dibuat mobile, dengan tujuan : pasien dapat dipindahkan ke meja MRI di luar ruang pemeriksaan dan dapat segera dibawa ke luar ruangan MRI bila terjadi hal-hal darurat ( emergency ). Selain itu meja cadangan pemeriksaan perlu disediakan, agar dapat mempercepat

(9)

penanganan pasien berikutnya sebelum pemeriksaan pasien sebelumnya selesai. Upaya untuk kenyamanan pasien diberikan, antara lain dengan penggunaan Earplugs bagi pasien untuk mengurangi kebisingan, penggunaan penyangga lutut / tungkai , pemberian selimut bagi pasien, pemberian tutup kepala.

Selain itu juga perlu adanya tempat atau ruang persiapan khusus agar mempermudah petugas (radiografer) dalam menjangkau alat dan bahan yang diperlukan saat dilakukan pemeriksaan MRI. Serta pemeriksaan radiologi sebelumnya sehingga jika ada hasil-hasil pemeriksaan sebelumnya dapat dijadikan bahan evaluasi dan menambah informasi diagnosis, pernah operasi pasang pen, ring dan lai-lain atau tidak. Kemudian pasien diberikan penjelasan / komunikasi efektif mengenai prosedure pemeriksaaan dengan keadaan suara bising yang dihasilkan oleh pesawat MRI, radiografer memberikan penjelasan dan pengertian sehingga pasien tidak mengalami ketakutan atau gelisah. Radiografer juga menjelaskan tentang lamanya waktu pemeriksaan.

B. Persiapan Alat dan Bahan

Persiapan alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan MRI Brain di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Telogorejo Semarang adalah sebagai berikut :

1) Pesawat MRI dengan Spesifikasi sebagai berikut : Merk : Siemens Model : Magnetom No Seri : SN 608667 Produksi : Jerman Tesla : 1,5 Tesla Pembuatan : Tahun 2011

(10)

2) Head Coil 3) Selimut

4) Head Holder 5) Fixing belt

6) Sand bag  untuk fiksasi dan imobilisasi pasien 7) Headset  yang dilengkapi dengan music

8) Printer Dry View  5850 C. Teknik Pemeriksaan

1. Persiapan Pasien

Posisi pasien diposisikan supine (tidur telentang) diatas meja pemeriksaan dengan posisi kepala pada coil   kepala, posisi pasien diatur sehingga Mid Sagital Plane  (MSP) kepala tepat dan sejajar dengan lampu indikator longitudinal. Pasangkan headset   pada kedua telinga kemudian dipasang coil  head. Kedua tangan diatur lurus disamping tubuh dan difiksasi dengan sabuk khusus yang menempel pada meja pemeriksaan, kedua kaki diatur lurus dan senyaman mungkin. Agar tidak merasakan kedinginan dan untuk kenyamanan pasien diberi selimut. Pasien diberikan alat tombol emergency call  atau pemanggilan darurat petugas apabila pasien merasakan hal-hal yang kurang nyaman ataupun keadaan yang “tidak kuat” dalam proses pemeriksaan. Pengaturan posisi pasien harus senyaman mungkin dan petugas selalu memberikan penjelasan bahwa selama proses pemeriksaan pasien tidak boleh bergerak agar tidak terjadinya motin artifact.

(11)

2. Scanogram atau survey 3 pilot

Sebelum petugas melakukan scanogram, terlebih dahulu memasukan registrasi pasien pada komputer kemudian memilih parameter-parameter geometris untuk pemeriksaan MRI Brain rutin, selanjutnya scanning untuk mendapatkan survey 3 pilot sehingga dihasilkan irisan axial, sagital dan coronal .

Gambar 1. Scannogram atau survey 3 pilot pada pemeriksaan MRI Brain 3. Parameter Sekuen Scanning 

Sekuens yang biasa digunakan pada pemeriksaan MRI Brain  Rutin di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Telogorejo Semarang antara lain sebagai berikut :

a) Parameter sekuens T1 Spin Echo Sagital 

b) Parameter sekuens T2 Turbo Spin Echo Axial  c) Parameter sekuens T2 FLAIR 

d) Parameter sekuens T1 Spin Echo Axial  e) Parameter sekuens T2 Blade Coronal 

(12)

Setelah mendapatkan Scannogram atau survey 3 pilot diatas, maka langkah pertama untuk melakukan scanning selanjutnya yaitu dengan menggunakan irisan coronal  digunakan untuk membuat irisan T2 SE Sagital.

Tabel 1. Parameter sekuens T1 Weighted Spin Echo Sagital 1 Localizer Coronal 2 TR 550 ms 3 TE 9,7 ms 4 Slice Thickness 5 mm 5 Slices 20 6 FOV 240 mm 7 Voxel 0,5 x 0,5 x 5 mm 8 Flip Angel 90 9 Scan Time 04 : 19 m

Gambar 2. Citra pada sekuens T1 Weighted Spin Echo Sagital MRI Brain

(13)

Selanjutnya dari hasil gamabaran citra sagital tersebut akan digunakan untuk membuat irisan axial dan coronal . Teknik dalam pembuatan irisan axial  adalah sejajar splenium corpus collosum dengan slice thickness 5 mm sedangkan untuk irisan sagital dan coronal  adalah parallel dengan midline brain.

Gambar 3. Scannogram untuk membuat irisan axial

Tabel 2. Parameter sekuens T2 Weighted Fast Spin Echo Axial 1 Localizer Sagital 2 TR 5000 ms 3 TE 81 ms 4 Slice Thickness 5 mm 5 Slices 20 6 FOV 240 mm 7 Voxel 0,6 x 0,6 x 5 mm 8 Flip Angel 150 9 Scan Time 03 : 47 m

(14)

Berdasarkan pengamatan petugas dalam pelaksanaan pemeriksaan MRI Brain  ini parameter yang digunakan sudah tepat sesuai, akan tetapi musuh terbesar dalam pemeriksaan MRI yaitu adanya pergerakan (motion).

 Akibat dari pergerakan pasien menyebabkan adanya artefak, yaitu atau yang biasa di sebut dengan motion artifact . Sehingga citra MRI tidak bias dibaca dan dianalisis oleh pembaca (Radiolog), oleh karena itu pemeriksaan pada sekuens tersebut harus di ulang atau bias diatasi agar tidak lagi terjadi pergerakan dengan cara memberikan penjelasan kembali kepasien sebelum pengambilan ulang sekuens yang sama ataupun yang lainnya agar pasien tetap tenang dan jangan bergerak selama pemeriksaan berlangsung.

Petugas juga bisa menggunakan sekuens yang dibuat untuk pasien-pasien yang kurang kooperatif (non cooperative)  salah satunya dengan menggunakan sekuens T2 Blade Axial. Sekuen tersebut merupakan perubahan perubahan dan penambahan beberapa protocol dengan menggunakan software bawaan yang dimiliki oleh Siemens, tujuannya untuk mempercepat waktu pemeriksaan juga untuk meminimalisir pergerakan dari pasien.

(15)

Tabel 3. Parameter sekuens T2 Weighted Blade Axial 1 Localizer Sagital 2 TR 9000 ms 3 TE 86 ms 4 Slice Thickness 5 mm 5 Slices 20 6 FOV 240 mm 7 Voxel 0,6 x 0,6 x 5 mm 8 Flip Angel 130 9 Scan Time 03 : 06 m

Gambar 4. Citra MRI Brain irisan Axial dengan gambaran motion artifact (a) pada T2 Weighted TSE dan T2 Blade TSE (b).

(16)

ARTEFAK DAN CARA MENGATASINYA

 Artefak didefinisikan sebagai salah satu sinyal atau kekosongan dalam gambar yang tidak memiliki dasar anatomi, atau sebagai hasil dari distorsi, penambahan atau penghapusan informasi. Artefak pada MRI dapat terjadi untuk sejumlah alasan, menurunkan kualitas gambar dan kadang-kadang menghambat diagnosis. Artefak dapat terjadi disebabkan oleh masalah teknis dan penanganan data atau dengan efek fisiologis dari pasien.

 Artefak muncul disebabkan oleh beberapa sebab yaitu, disebabkan oleh pasien, mesin atau teknik yang dipakai saat pemeriksaan. Artefak dapat ditimbulkan oleh:

a. Sistem / peralatan MRI

b. Sekuens / protocol yang dipakai

c. Radiografer yang mengoperasikan alat MRI d. Pasien

Gerakan fisiologi organ tubuh (aliran darah, gerakan peristaltic, nafas dan denyut jantung)

e. Lingkungan

Hasil citra MRI tidak sepenuhnya akan terhindar atau bersih dari artefak, akan selalu ada artefak yang muncul pada hasil citra MRI. Hal itu dianggap wajar, namun

(17)

berikut merupakan patokan atau dasar penilaian artefak manakah yang perlu untuk menjadi perhatian, sbb:

1. Dapat langsung terlihat/ nyata; 2. Merupakan hasil teknik yang salah;

3. Sangat mempengaruhi hasil citra secara luas (menimbulkan missinteprtasi).

 Adapun beberapa macam atau jenis  –  jenis dari artefak itu sendiri adalah sebagai berikut :

1. Truncation Artefak

 Artefak Truncation  atau Gibbs  adalah garis terang atau gelap yang terlihat sejajar dengan tepi perubahan intensitas yang kasar. Terkadang juga digambarkan sebagai gambaran artefak tipe “cincin” yang jenis artefaknya mengikuti batas intensitas sinyal. Artefak ini dapat jelas terlihat dalam gambaran citra otak dan tulang belakang, terkadang menyebabkan masalah intepretasi.

 Artefak ini terkait dengan jumlah encoding dalam langkah penggunaan transdormasi untuk merekontruksi suatu gambar. Untuk memahami background gambaran artefak ini harus perlu diingat bahwa bentuk garis yang tajam diarea yang memiliki kontras yang tinggi dari data yang memiliki spasial resolusi juga yang tinggi. Frekuensi sample tinggi ini berbanding terbalik dengan ukuran piksel, yaitu semakin kecil ukuran piksel maka semakin tinggi frekuensi sampel undersmplingnya.

(18)

Gambar 5. Di samping merupakan Truncation atau Ringging artefak dengan garis terang dan gelap sejajar dengan tepi perubahan intensitas yang kasar, dalam T1 SE   (TR 252 ms, TE 15 ms), dengan ukuran matriks rendah (64x64), Setelah meningkatkan matriks (256x256) cincin artefak tidak terlihat.

2.  Aliasing  atau Wrap Around Artefak

Mungkin artefak yang paling umum di temukan adalah lilitan atau aliasing   Artefak ini terbentuk terbentuk saat anatomi yang ada di luar FOV ikut terpetakan

di dalam FOV. Anatomi diluar FOV yang dipilih akan menghasilkan sinyal jika berada di dekat receiver koil. Data sinyal tersebut harus dikodekan untuk mengalokasikan posisi piksel. Lilitan atau aliasing dapat terjadi sepanjang sumbu frekuensi dan fase.

Penyebabnya ialah, Aliasing terbentuk saat anatomi yang ada di luar FOV terpetakan di dalam FOV. Anatomi yang diluar FOV yang terpilih masih membentuk sinyal apabila berada dekat dengan receiver coil (koil penerima). Cara mengatasi Truncation Artefak yaitu :

 Mereduksi ukuran piksel dengan meningkatkan akuisisi matriks ke 256 lebih besar atau lebih kecil dari FOV (Field of View );

 Jika akuisisi matriks lebih rendah dalam arah fase-encoding, artefak dapat dikurangi dengan memilih arah fase encoding tegak lurus ke tepi yang menonjol dari struktur anatomi.

(19)

Data dari sinyal harus diencode, mengalokasikan posisi suatu pixel. Apabila data under-sampling, sinyal disalahpetakan ke dalam pixel yang berada pada FOV

a. Lilitan pada frekuensi

Lilitan yang terjadi selama pengkodean frekuensi. Karna adanya under-sampling saat pengkodean membuat frekuensi yang setidaknya diambil 2 kali per siklus menjadi tidak cukup sampel, sehingga sinyal dari anatomi diluar FOV saat pengkodean frekuensi ikut terpetakan ke FOV yang terpilih b. Lilitan pada fase

Lilitan yang terjadi selama pengkodean fase. Pada saat itu, terjadi pengulangan kurva fase pada kedua sisi FOV sepanjang sumbu fase. Oleh karna kurva diulang, sinyal yang berasal dari luar FOV dialokasikan pada sinyal yang berasal dari dalam FOV, sehingga terjadi penduplikatan nilai yang menyebabkan terjadinya lilitan tersebut.

 Aliasing yang bersamaan dengan axis fase dari suatu gambar dikenal dengan wrap fase (lilitan pada saat fase). Hal ini disebabkan oleh under-sampling yang bersamaan dengan axis fase. Setelah FFT setiap vase bernilai dari 0o hingga 360o (atau jam 12 hingga kembali lagi ke jam 12) harus

dipetakan ke dalam FOV dalam fase encoding yang searah kurva fase kemudian diulangi ke kedua sisi dari FOV yang bersamaan dengan axis fase. Sinyal apapun mengalokasikan suatu nilai fase berdasarkan posisinya bersama dengan kurva ini. Dengan kurva yang diulangi, sinyal yang umumnya berada diluar FOV dalam fase yang searah mengalokasikan nilai fase yang sudah diberikan untuk sinyal yang berasal dari dalam FOV. Untuk

(20)

itu, ada suatu nilai fase yg diduplikasi. Duplikasi ini menyebabkan wrap fase selama fase axis.

Gambar 6. Aliasing artefak (panah) MRI Brain dengan FOV = 24x18 cm(A), pasien yang sama, dengan pemeriksaan FOV = 24x24 cm(B).

Gambar 7. Wrap around artifact . a: Gambaran T1 Axial (GRE, TR 80 ms, TE 6.9 ms) menunjukkan lilitan bagian-bagian terluar dari tubuh , yang berada di luar FOV, dalam fase encoding dari arah kiri-kanan. b: Pengulangan arah pemindaian dengan parameter identik tetapi setelah mengalihkan arah pengkodean fase ke depan-belakang. c: Lilitan menghilang setelah menerapkan opsi penekanan lipatan pada waktu pemeriksaan.

(21)

c. Magnetic Susceptibility Artefak

Magnetic susceptibility artefact merupakan artefak yang disebabkan oleh kerentanan medan magnet. Artefak ini menghasilkan distorsi dari suatu pencitraan dengan sinyal yang besar. Penyebabnya adalah kerentanan suatu zat dalam kemapuannya untuk berubah menjadi suatu medan magnet. Perbedaan magnetifikasi dari suatu jaringan menentukan derajat yang berbeda pula, dan menghasilkan perbedaan inprecessional fase dan frekuensi. Hal ini menyebabkan dephasing pada permukaan jaringan dnan hilangnya sinyal.

Dalam prakteknya, penyebab utama artefak ini adalah logam dalam volume pencitraan, meskipun dapat juga dilihat dari secara alami kandungan dari perdarahan, karena sinyal magnetisasi ini lebih banyak dihasilkan daripada  jaringan lainnya. Benda feromagnetik memiliki kerentanan magnet yang sangat

tinggi dan menyebabkan distorsi pada gambar. Artefak ini lebih sering terlihat pada sequences gradient echo karena tidak dapat menentukan perbedaan fase

Cara mengatasi Aliasing artefak dan Wraparound artefak yaitu :  Arah frekuensi encoding :

 Tidak adanya frekuensi lilitan (filter sinyal)  Oversampling frekuensi

 Arah fase encoding :  Meningkatkan FOV

 Fase oversampling ( tanpa mengurangi NEX)

 Beralih atau diganti dengan fase lain dan memperhatikan arah frekuensi encoding

Kedua arah sinyal :

 Pulsa presaturasi untuk mengurangi pergerakan

(22)

dari permukaan. Namun terkadang artefak ini dapat membantu dalam menegakkan diagnosis. Seperti halnya pada perdarahan kecil, kadang-kadang terlihat karena perdaerahan kecil tersebut yang justru menimbulkan adanya artefak ini. Namun secara umum tidak diinginkan dan dianggap menganggu gambaran dari suatu imejing MRI.

Gambar 8. Susceptibility artefak. Dua wujud gambaran dari artefak susceptibility  yang berasal dari bagian metalik kateter: a. (SE, TR 11 ms, TE 5 ms) menunjukan gambaran yang berkembang parah disekitar bahan feromagnetik, sedangkan b. (SE, TR 4500 ms, TE 96 ms) menunjukan distorsi yang aneh dari dinding perut pada pasien yang sama.

(23)

Gambar 9. Susceptibility artefak. Setelah operasi partikel logam feromagnetik mikroskopis yang menyebabkan kekosongan sinyal yang lebih besar (panah) di gambaran GRE (kiri) dg (TR 23 ms, TE 6.4 ms, FA 250) dari pada lemak (kanan)

gambar fat saturation SE (TR 411 ms, TE 11 ms).

d. Zipper Artefak

Zipper Artefak muncul sebagai garis padat pada gambar titik tertentu. artefak Zipper terlihat adanya garis horizontal pada gambar. Ada banyak penyebab yang terjadi untuk jenis artefak ini, sebagian besar didasarkan pada masalah perangkat keras Sekelompok penyebab juga bias didasarkan interfensi RF yang memasuki ruangan pada frekuensi tertentu dan mengganggu sinyal yang lemah

Cara mengatasi Magnetik Suscepbiliti artefak yaitu :

 Melepas benda-benda logam sebelum dilakukan pemeriksaan  Menggunakan TE yang pendek

 Gunakan Fast Spin Echo untuk mempercepat waktu permeriksaan  Menggunakan bandwitdh yang lebar

 Meningkatkan frekuensi matriks  Menfurangi ketebalan irisan

 Gunakan medan magnet yang rendah

(24)

datang dari pasien.dan bisa terjadi juga karena hal ini disebabkan oleh kebocoran di perisai RF ruangan yang terbuka, perangkat elektronik (missal pemantauan peralatan) maupun lisrtrik yang tidak statis. Bentuk dan posisi artefak ini tergantung pada frekuensi dan bandwidth dari sinyal ekstrinsik.

Gambar 10. Zipper artefak. Gambaran coronal (TR 53.7 ms, TE 7,4 ms) menunjukan gmbaran jarum ablasi RF pada organ hati (kiri). Setelah mengganti radiofrekuensi, zipper artefak muncul seperti bentuk “reseleting” (panah, kanan).

Cara menanggualnginya ialah hanya ada satu jalan keluar yaitu memanggil teknisi dari alat yang bersangkutan untuk mencari kebocoran dan memperbaikinya.

Cara mengatasi Zipper artefak yaitu :

 Cari dan hilangkan sumber RF ekstrinsik

 Gunakan peralatan monitor MR (magnetic resonance) yang kompatibel  Tutup pintu ruang MR selama pemeriksaan

 Menghilangkan sumber listrik statis

(25)

e. Motion Artefak

Motion adalah artefak yang sangat banyak ditemui pada gambaran MRI, gerakan tubuh dapat dilihat dari berbagai bentuk contoh denyut jantung dan arteri, pernapasan, menelan, gerak peristaltic, tremor dan gerakan yang mencolok pada pasien.

Munculnya motion artefak tergantung apakah gerakannya tidak teratur ataupun gerakannya periodic. Pergerakan tersebut dapat mempengaruhi kulaitas imajeng MRI. Pelu diperhatikan bahwa pergerakan ini tidak hanya dalam arah fase encoding, juga berpengaruh pada arah kekaburan ( blurring) maupun bayangan hantu (ghost) pada citra MRI.

Gambar 11. Motion artefak. Gerakan respirasi yang tidak teratur (kiri) menunjukan kesan kekaburan gambaran pada pembobotan T2 TSE (TR 2200 ms, TE 103 ms, ETL 21), pernapasan yang berkala menyebabkan ghost  artefak (kanan).

(26)

PENUTUP A. Kesimpulan

 Artefak adalah kesalahan yang terjadi pada gambar. Artefak pada MRIdapat terjadi untuk sejumlah alasan, menurunkan kualitas gambar dan kadang-kadang menghambat diagnosis.Artefak dapat terjadi disebabkan oleh masalah teknis dan penanganan data atau dengan efek fisiologis dari pasien.

 Artefak menurut jenisnya, dapat terdiri dari: 1. Kesalahan geometrik

2. Kesalahan algoritma

3. Kesalahan pengukuran atenuasi  Artefak menurut penyebabnya terdiri dari:

1. Artefak yang disebabkan oleh pergerakan physiologi, karena: Gerakan  jantung gerakan per-nafasan, gerakan darah dan cairan cerebrospinal, gerakan yang terjadi secara tidak periodik seperti gerakan menelan, berkedip dan lain-lain.

2. Artefak yang terjadi karena perubahan kimia dan pengaruh magnet.

3. Artefak yang terjadi karena letak gambaran tidak pada tempat yang seharusnya.

4. Artefact yang terjadi akibat dari data pada gambaran yang tidak lengkap. 5. Artefak sistem penampilan yang terjadi misalnya karena perubahan

bentuk gambaran akibat faktor kesalahan geometri, kebocoran dari tabir radio frekuensi.

(27)

B. Saran

Mengingat jika terdapat artefak pada gambaran MRI dapat mengganggu diagnosa, maka perlu adanya langkah-langkah dalam menghilangkan artefak yang ada.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

NN, Alat Radiologi IV, Akademi Teknik Elektromedik www.litbang.depkes.go.id/media/data/mri.pdf http://en.wikipedia.org/wiki/Magnetic_resonance_imaging#Background_information https://www.researchgate.net/publication/6649032 http://www.polradiol.com/abstract/index/idArt/892628 http://vidya-faradila-vokasi15.web.unair.ac.id/artikel_detail-177018-Tugas%20Kuliah- Artefak%20pada%20MRI.html https://radiopaedia.org/articles/magnetic-susceptibility-artifact https://pamujiandri.wordpress.com/2011/07/25/makalah-mri/

Gambar

Gambar 1. Scannogram atau survey 3 pilot pada pemeriksaan MRI Brain 3. Parameter Sekuen Scanning 
Tabel 1. Parameter sekuens T1 Weighted Spin Echo Sagital
Gambar 3. Scannogram untuk membuat irisan axial
Gambar 4. Citra MRI Brain irisan Axial dengan gambaran motion artifact (a) pada T2 Weighted TSE dan T2 Blade TSE (b).
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk bisa membuat agar foton yang diserap dapat sebanyak banyaknya, maka absorber harus memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga memungkinkan untuk bisa

Dalam setiap kegiatan belajar kelompok digunakan lembar kegiatan, lembar tugas dengan tujuan agar terjalin kerjasama diantara anggota kelompoknya. Lembar kegiatan dan

Abstrak : Penelitian ini mengkaji tentang manajemen hubungan sekolah dan masyarakat di SMK Negeri 3 Makassar. Fokus penelitian ini untuk mengetahui bagaimana manajemen hubungan

a) Dalam penulisan ini penulis menyarankan, bahwa perlu mempercepat terbitnya Peraturan Walikota (PERWALI) mengenai pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Dalam rangka pengembangan produk berbasis sumber daya lokal ini, sejak didirikan pada tahun 2013, telah banyak produk yang dikembangkan melalui serangkaian riset dan uji,

yan ang g ak akan an se seiim mba bang ng de deng ngan an ar arus us k kas as m mas asuk uk y yan ang g dihasilkan dari in!estasi" rus kas yang mengambil

Pokok masalah penelitian ini adalah bagaimana gambaran prestasi belajar mahasiswa jurusan pendidikan fisika dalam kaitannya dengan peminatan pilihan dalam proses

1) Membuat peraturan yang berisi panduan penyusunan bahan ajar PAI. Panduan harus menegaskan mengenai visi, misi, prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan metode pembahasan