• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Peran Koperasi Terhadap Perekonomian Indonesia Menurut Moh. Hatta

Menurut Moh. Hatta beliau mengemukakan bahwa koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong menolong. Mereka didorong oleh keinginan memberi jasa pada kawan “seorang buat semua dan semua buat seorang” inilah yang dinamakan Auto Aktivitas Golongan, terdiri dari :

a. Solidaritas b. Individualitas

c. Menolong diri sendiri d. Jujur

UU No. 25 Tahun 1992 (Perkoperasian Indonesia). Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang beradasarkan atas dasar asas kekeluargaan.

Moh. Hatta hingga mengingatkan bagaimana caranya agar kita tidak tergelincir pada pilihan politik perekonomian yang keliru yaitu yang membunuh akar kolektivisme itu perlahan-lahan dan membuka peluang seluas-luasnya kepada kapitalisme yang seperti dikatakan Boeke: kapitalisme yang berusia penuh ini masuk ke Indonesia sebagai perampas dan menaklukkannya dalam beberapa puluh tahun saja.

Dengan memakai analisis Boeke, Mohammad Hatta ingin mengatakan bahwa politik ekonomi kolonial telah membuka pintu selebar-lebarnya untuk kapitalisme yang keras hati dan merusak infrastruktur sosial tradisional yang ada tanpa dapat menggantinya. Sebagai penerus tradisi pemikiran pendahulunya, Moh. Hatta menjawab dengan sistem koperasi.

Sistem ini dipilih karena ia mampu menampung nilai-nilai tradisional serta menjawab kebutuhan-kebutuhan personal dan komunal. Bagi Boeke, sistem bisnis

(2)

koperasi lebih cocok bagi kaum pribumi dari pada bentuk badan-badan usaha kapitalis. Perkataan Boeke kemudian direalialisasikan Mohammad Hatta dalam wujud ekonomi Pancasila yang tertuang kedalam sistem ekonomi koperasi.

Ekonomi Pancasila sendiri merupakan sistem ekonomi yang didasarkan pada falsafah kehdiupan bangsa Indonesia, yakni gotong royong dan saling menolong. Sosialisme pancasila merupakan ideologi dasar dari sistem perekonomian ini, dimana keadilan sosial didapatkan dari nilai-nilai luhur kehidupan sosial-budaya bangsa Indonesia serta etika moral yang berasal dari kehidupan religius bangsa Indonesia.

Koperasi di Indonesia belum memiliki kemampuan untuk menjalankan peranannya secara efektif, hal ini disebabkan koperasi masih menghadapi hambatan struktural dalam penguasaan faktor produksi khususnya permodalan. Kelangkaan modal pada koperasi menjadi faktor ganda yang membentuk hubungan sebab akibat lemahnya perkoperasian di Indonesia selama ini.

Restrukturisasi penguasaan faktor produksi diantaranya dapat dilakukan melalui pemberian akses yang lebih besar kepada koperasi untuk memperoleh modal, misalnya menyertakan karyawan dalam suatu koperasi ini perusahaan dalam pemilikan saham perusahaan. Manfaat dari pemilikan saham oleh koperasi karyawan ini adalah untuk mempercepat proses pemerataan pembangunan melalui restrukturisasi penguasaan modal.

Teori ini didasarkan atas asumsi bahwa terdapat hubungan pos antara tingkat penguasaan modal dengan tingkat pemanfaatan hak pembangunan. Dengan akses lebih besar terhadap modal, koperasi diharapkan dapat menikmati perolehan pembangunan secara lebih besar pula. (Sumarna, 1988 ; 52). Secara mikro, dengan kondisi tersebut maka anggota koperasi dapat meraih manfaat yang llebih besar atas kegiatan dan usaha koperasi.

Untuk menjamin penyertaan saham oleh koperasi karyawan tersebut, ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi baik bagi koperasi maupun perusahaannya, yaitu:

1. Sehat organisasi 2. Sehat usaha dan 3. Sehat mental

(3)

Koperasi mempunyai berbagi macam ciri dan menjalankan berbagai macam fungsi. Koperasi hanyalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan, dan tujuan yang dapat dicapai melalui koperasi bermacam-macam (Sudjanadi, 1988 ; 77) karena itu, amatlah sulit untuk membuat batas tentang koperasi yang dapat memusatkan semua pihak.

Perbedaan pendapat masih terus terjadi mengenai arti koperasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Apabla seorang membuat batasan, hal itu hanya merupakan penekanan yang subyektif mengenai ciri, fungsi atau tujuan koperasi. Batasan itu merupakan batasan yang bersifat tidak universal melainkan bersifat operasional (working definition), oleh karena itu mengandung nilai subyektif.

Di atas telah dikemukakan, bahwa tujuan yang dapat dicapai koperasi adalah bermacam-macam. Namun apapun tujuan akhir yang hendak dicapai melalui koperasi, satu hal harus selalu dijadikan sasaran antara lain, apabila koperasi diharapkan agar dapat tumbuh dengan baik dan sehat, yaitu tujuan didirikannya koperasi adalah untuk memajukan ekonomi anggota. Untuk itu koperasi hasus melakukan transaksi usaha dengan ekonomi anggotanya.

Yang dimaksud dengan ekonomi anggota (member’s econom) adalah berupa rumah tangga anggota (kalau para anggotanya konsumen dan berupa perusahaan (usaha) anggota (kalau para anggotanya pengusaha). Perusahaan milik koperasi harus secara terus menerus diusahakan agar menjadi sehat dan kuat, dalam hal ini perlu dilakukan supaya organisasi ekonomi anggota itu berjalan baik dan lancar. Perusahaan koperasi mempunyai dua sasaran langsung dan harus dicapai secara serempak, yaitu memperoleh laba dan memajukan ekonomi anggota dengan jalan memberi pelayanan kepada anggota sesuai dengan kebutuhan ekonominya.

Definisi yang terdapat dalam Undang-Undang No. 12/1967 tentang pokok-pokok perkoperasian sebagai berikut: “Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial” yang sering kali disingkat menjadi “Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi yang berwatak sosial”, dan organisasi ekonomi itu dimaksudkan sama dengan perusahaan.

(4)

Koperasi tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan pelayanan kepada para anggota dalam rangka memajukan ekonomi anggota. Koperasi adalah bentuk organisasi ekonomi yang paling sesuai bagi golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Peran ekonomi secara ekonomis sering kali diukur melalui sumbangannya terhadap pembentukan produk domestik bruto atau pruduk domestik regional bruto (PDB/PDRB).

Hal ini mengingat bahwa pengukuran peranan didalam sistem perhitungan PDB/PDRB hanya mengenal dua bentuk, yaitu menurut sektor kegiatan (seperti pertanian, industri, dan lain-lain). Sedangkan perhitungan PDB berdasarkan pelakunya hingga saat ini belum pernah dilakukan. Disampig itu, koperasi sesuai dengan wataknya dan asas sandi dasarnya lebih menekankan pada upaya peningkatan nilai tambah anggotanya, bukan koperasi sebagai badan usaha yang berdiri sendiri.

Koperasi di Indonesia, angotanya sebagian besar masih berdiri dari masyarakat yang tingkat ekonomi dan pengetahuannya rendah. Dan di Indonesia koperasi masih dianggap sebagai wadah yang mempunyai semangat tradisional, disamping itu selain anggotnya dari masyarakat yang berpendidikan kurang, tenaga profesional dalam sebuah koperasi di Indonesia belum mencapai 10 persen. Sebagai mana kegiatan ekonomi lainnya, semestinya koperasi mempunyai pembukuan yang tertib. Pengolaan, serta volume, wilayah dan pengusahaannya besar. (Darwan Rahardjo, 1988). Hambatan lain bagi koperasi hingga saat ini, terletak pada motif masyarakat, baik anggota maupun pengurus masih ada yang bermental lemah. Anggota dan pengurus itu sudah mempunyai niat jelek terhadap koperasi.

Maju dan berkembangnya koperasi ditentukan oleh modernisasi beberapa petani dan pengusaha sektor informal yang menjadi anggota koperasi harus didorong menjadi pengusaha formal yang mengenal medernisasi. Pendidikan bagi anggota dan pengurus lebih ditingkatkan dari yang ada saat ini. Selain itu, koperasi juga harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip ekonomi, yaitu mencari laba dan memberi kesejahteraan kepada anggota secara seimbang.

Kenyataan yang ada sangat memperhatinkan, kegiatan perekonomian yang dikuasai koperasi ternyata tidak lebih dari 5% saja. Jangankan untuk skala

(5)

nasional, untuk skala regionalpun koperasi belum berarti sama sekali. Koperasi sering diidentifikasikan dengan golongan ekonomi lemah. (Entang, 1990).

Koperasi memiliki karakteristik tersendiri, ada beberapa hal yang dikambing hitamkan orang menyangkut kenapa koperasi tidak berkembang. Dan ini melibatkan karakteristik yang ada pada koperasi, yang pertama ditunjuk adalah fungsi sosial dari koperasi. Fungsi sosial dipandang hanya sebagai hambatan, sebenarnya keliru. Fungsi sosial justru merupakan dasar berpijak yang kokoh untuk memperjuangkan kepentingan anggota secara bersama-sama.

Azas dan sandi dasar koperasi juga sering dianggap hambatan untuk berkembangnya koperasi. Jika azas dan sandi dasar koperasi dianggap sebagai hambatan dalam pengembangan koperasi, jelas kurang tepat. Bukan soal koperasi maju pesat dan kokoh dilapangan sesuai dengan kepentingan anggotanya. Hanya untuk diversifikasi usaha memang nampaknya sulit, azas dan sandi dasar koperasi justru merupakan dasar pijakan yang kokoh. Hal ini karena azas dan sandi dsar koperasi, merupakan pencerminan dari kepentingan yang sama dari para anggotanya.

Karakteristik lain yang dianggap hambatan adalah organisasi dan struktur managemen. Koperasi adalah organisasi otonom dan demokratis, struktur managemen yang ada berorientasi pada rapat anggota. Dengan demikian, prosedur pengambilan keputusan adalah bottom up.beberapa pakar koperasi sering mempersoalkan hal ini, rapat anggota memang merupakan kekuasaan tertinggi. Sangat jelas bahwa faktor pengurus yang menjadi kunci persoalannya. Kejujuran pengurus memang sangat menentukan, tapi bukan hanya itu saja. Faktor lain yang lebih menentukan yaitu kemampuan mengelola suatu usaha.

Meningkatkan jumlah unit dan anggota koperasi bisa dianggap sebagai indikator meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam gerakan koperasi. Namun hal ini banyak diisebabkan oleh intervensi pemerintah dalam memobilisasikan anggota masyarakat melalui parat-apaaratnya dan subsidi besar yang diberikannya sebagai rangsangan. Ini terutama namppak dalam pembinaan KUD, koperasi fungsional, dan koperasi kusus. (Pudjo Suharno, 1988 ; 35).

Selain persoalan diatas, koperasi juga masih dihadapkan pada masalah intern yang tak kalah pentinggnya. Beberapa hal yang terpenting yang berkaitan

(6)

dengan konteks lemah-melemahnya kemandirian koperasi adalah masih terdapatnya managemen yang amatiran, kurangnya jiwa kewiraswastaan dikalangan anggota koperasi dan persoalan institusionl yang kurang disadari “sound of business” yang memadai.

Masih banyak masalah “ilmiah-teknis” atau “teknis-ilmiah” yang belum terpecahkan dalam persoalan perkoperasian. Dalam maslah-masalah seperti ini akan terus bermunculan, apabila pemikir-pemikir dan ahli-ahli semakin sering terlibat dalam diskusi-diskusi serius tentang koperasi dan upaya-upaya pengembangannya. (Mubyarto, 1988 ; 28).

Strategi pengembangan koperasi menghadapi lingkaran setan berupa sejumlah kendala tentang bagaimana menumbuhkan gairah dan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi, bagaimana mengupayakan produktifitas lembaga yang diharapkan menjadi sokoguru perekonomian ini. (Amin Aziz, 1988 ; 40). Peningkatan kemampuan koperasi, harus dilakukan dengan mengintegrasikan seluruh kegiatan Koperasi Unit Desa (KUD) dalam proses peningkatan pendapatan dan produktivitas/nilai tambah. Seluruh kegiatan kerja yang ada mengacu pada upaya peningkatan kemampuan dan kemandirian.

Dalam kegiatan untuk menaikkan penapatan melalui peningkatan produktivitas dan nilai tambah. Koperasi primer perlu melakukan dan diberi kemampuan untuk erncana sendiri (cooperative corporate plan) sejajar dengan rencana pengembangan kelembagaannya (institutional development plen).

Gunnar Myrdal, nilai-nilai modern yang harus dianut adalah efisien, ulet, keteraturan, ketepatan, perhitungan, lugas, cermat, jujur, rasional, tanggap terhadap setiap peluang, energi, mandiri dan memiliki integritas wawasan. Mau tidak mau, nilai-nilai tradisional yang mengacu ke masa lampau seperti sikap cenderung pada keselarasan, harmonis, dan kerukunan. Bukannya semangat persaingan atau selalu memberikan nilai lebih kepada yang di atas atau pada yang lebih tinggi, harus segera dirombek.

Sasaran pengembangan koperasi harus diarahkan pada masyarakat kelas “atas” karena memiliki modal yang lebih besar dan keterampilan managemen yang lebih baik. Citra koperasi yang menggambarkan sebuah organisasi

(7)

“kampungan” bisa diubah jika koperasi juga diakui keberadaannya dikalangan masyarakat kelas “atas”.

Banyak persoalan yang menyangkut masalah koperasi mencuat ke permukaan, diantara banyaknya persoalan itu sebagian persoalan justru menunjukkan kegagalan koperasi. Salah satu masalah yang pernah ramai dibicarakan adalah harapan agar pemerintah tidak terlalu jauh dalam campur tangan terhadap pengembangan gerakan koperasi di Indonesia. Masalah itu makin ramai setelah terlihat suatu sukses kecil BUUD/KUD didaerah Yoyakarta diangkat ketingkat nasional menjadi Inpres No. 4/1973 dan makin diperkuat lagi oleh lahirnya Inpres No. 2/1978.

Sejak itu, adanya campur tangan pemerintah yang begitu besar dalam mengarahkan KUD menjadi alat kebijakan pemerintah. Kasus lainnya yang terjadi beberapa waktu yang lalu adalah berupa kemelut tata niaga cengkeh dan jeruk, kasus keduanya yang melibatkan KUD itu adalah bukti ketidakberdayaan koperasi sebagai lembaga perekonomian yang sejajar dengan dua pelaku ekonomi lain, yaitu Swasta dan BUMN.

Dari dua contoh masalah diatas merupakan petunjuk adanya dua masalah mendasar yang menjadi tantangan bagi koperasi, persoalan pertama menyangkut peran atau campur tangan pemerintah yang terlalu jauh pada koperasi. Campur tangan yang berlebihan dari pemerintah berakibat menjadikan mekanisme kerja didalam koperasi banyak yang tidak berjalan, banyak aset koperasi menjadi mubazir. Koperasi jenis ini biasanya penampilannya lebih rumit, karena keberadaannya belum tentu selaras dengan kebutuhan nyata di masyarakat, beban target yang dilimpahkan begitu besar. Sehingga yang tampak menonjol adalah tidak adanya sikap kemandirian.

Beberapa hal dicoba diperbaharui melalui RUU yang baru itu meliputi konsep koperasi, fungsi, peran, tugas, dan sendi-sendi dasar keanggotaan, managemen bahkan peran pemerintah dalam pengembangan koperasi. Dalam RUU yang baru itu dapat dilihat pasal-pasal yang dapat mendorong kearah kejelasan fungsi koperasi sebagai unit ekonomi yang otonom dan tidak filantropis, lebih lugas dalam pemilihan kepengurusan. Hal ini mengantisipasikan rumusan

(8)

lama dalam UU No. 12/1967 yaitu tentang fungsi koperasi (pasal 4), peranan dan tugas (pasal 7), yang terlalu berbau politis.

Kehadiran RUU yang berfungsi melindungi usaha-usaha koperasi adalah sangat tepat, perlindungan ini dapat terlihat pada pasal baru RUU (pasal 62). Dimana dalam rangka penumbuhan dan pengembangan koperasi, pemerintah dapat menetappkan percadangan bidang-bidang kegiatan ekonomi yang hanya dapat diusahakan oleh koperasi (ayat 1). Bahkan pemerintah dapat menetapkan bidang kegiatan disuatu wilayah yang telah berhasil diusahakan oleh koperasi untuk tidak diusahakan oleh badan usaha lainnya (ayat 2). (AH. Bahrudin, 1992 ; 45).

Kekeliruan persepsi mengenai koperasi tampaknya juga tercermin pada pendekatan konsepsional di departemen koperasi, pada departemen ini ada dua direktorat jenderal, yaitu Ditdjen Bina Lembaga Koperasi (Bilek) dan Ditjen Bina Usaha Koperasi (Binus). Ditjen Bilek menekan pembinaan pada lembaganya (bukan orang-orang yang menjadi lembaga), sedangkan Ditjen Binus lebih-lebih lagi menekankan pembinaannya pada usaha-usaha (komersial) koperasi. (Mubiyarto, 1990 ; 25).

Koperasi menjadi tulang punggung atau sokoguru perekonomian Indonesia karena koperasi mengisi baik tuntutan konstitusional maupun tuntutan pembangunan dan perkembangannya. Koperasi mempunyai aspek kehidupan yang menyeluruh, substansif makro dan bukan hanya partial makro. Koperasi adalah wadah yang tepat untuk membina golongan ekonomi kecil/pribumi adalah masalah makro, bukan masalah parikal didalam kehidupan ekonomi kita, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Pernyataan koperasi sebagai sokoguru pertama kali ini di ucapkan oleh Moh. Hatta, bapak koperasi Indonesia. Dan tidak dimaksudkan sebagai cita-cita atau idaman kosong tentang peranan koperasi di masa depan, justru sebaliknya, Moh. Hatta melihat kenyataan bahwa kekuatan ekonomi nasional yang berdasarkan kekeluargaan merupakan “penyangga utama” ekonom nasional adalah sokoguru, ekonomi nasional misalnya dihadapkan pada sistem ekonomi kapitalis yang kuat dan sudah mapan sekalipun.

(9)

Yang dimaksud dengan ekonomi koperasi oleh Bung Hatta adalah ekonomi rakyat, baik masa awal kemerdekaan maupun dikelak kemudian hari. Pertanyaan Bung Hatta selalu benar, yaitu ekonomi nasional. Bila ekonomi rakyat ambruk, maka ambruklah seluruh ekonomi nasional. Inilah pengertian sokoguru dalam arti kata yang sebenarnya yang menurut Bung Hatta harus dibangun maupun pembangunan tenaga belinya. Rencana kerja harus didasarkan pada memperbesar tenaga beli rakyat dari semulanya. Rakyat Indonesia telah lama menderita kemiskinan dan kesengsaraan hidup sehingga sudah pada tempatnya ialah dijadikan patokan. (Moh. Hatta, 1961).

Kongres koperasi yang pertama pada tanggal 12 Juli 1947 di Tasikmalaya, yang kemudian diresmikan menjadi hari koperasi Indonesia. Maka pada penghujung masa berlakunya UUD sementara berhasil diwujudkan UU Koperasi pertama di Indonesia yaitu UU No. 79 tahun 1959, kemudian koperasi mengalami masa timbul tenggelam terutama pada masa setelah dikeluarkannya UU No. 14/1965, kaena koperasi pada waktu itu dimanfaatkan oleh golongan politik tertentu untuk maksud-maksdu tertentu.

Pada awal pelita 1 tercetus gagasan pembentukan BUUD/KUD yang merupakan peleburan dari berbagai koperasi pertanian dan pedesaan, pertama kali gagasan ini dilaksanakan di daerah Yogyakarta dan pada awal tahun 70-an dikembangkan di daerah lain di Indonesia. Hasilnya cukup memberikan harapan, sehingga akhirnya pengembangan BUUD/KUD di kukuhkan dengan inpres No. Tahun 1978.

Koperasi akan mampu menjadi landasan kekuatan ekonomi masyarakat pedesaan, atau masyarakat kecil. Dengan melihat beberapa faktor berikut (M. Ridwan, 1990 ; 50).

1. Potensi summber daya alam dan manusia yang melimpah. 2. Pengalaman dalam perkoperasian.

3. Landasan Yuridis formal, yaitu : pasala 33 UUD 1945. UU No. 12 tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian serta Inpres No. 2 tahun 1978 sebagai landasan bagi BUUD/KUD.

4. Kebijakan Pemerintah yang mengarah kepada pemerintah kegiatan dan pendapatan pembangunan diseluruh Indonesia.

(10)

5. Terdapat dua sektor ekonomi sektor negara dan sektor swasta non koperasi, yang sudah demikian pesat perkembangannya.

Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi kemakmuran masyarakat yang diutamakan bukan kemakmuran orang seorang. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara, hanya perushaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ditangani oleh orang seorang. Demikian kiranya jelas bahwa ekonomi rakyat (koperasi) adalah benar-benar sokoguru ekonomi nasional secara rill, dan bukan cita-cita yang masih perlu diwujudkan.

Dalam kaitan dengan pasal 33 UUD 1945 (ayat 2 dan 3) maupun dalam kenyataan kehidupan ekonomi di Indonesia, memang harus diakui bahwa pemerintah besar sekali peranannya sebagai “pelindung” koperasi dalam upaya menjamin tercapainya kemakmuran rakyat secara maksimal. Perekonomian nasional harus beradasarkan atas asas kekeluargaan dan kerakyatan. Produksi dikerjakan oleh semua dan untuk semua. Inilah dasar dan isi demokrasi ekonomi yang cocok bagi bangsa Indonesia.

Implementasi pembangunan yang begitu luas, struktur pembangunan ekonomi Indonesia ada tiga kekuata utama : Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan Koperasi. Yang paling memungkinkan dari 3 basis kekuatan untuk pertumbuhan pembangunan masyarakat pedesaan adalah koperasi. Pertimbangannya adalah :

1. Koperasi bukanlah badan usaha yang tujuan uatamanya berorientasi profit, meski juga tidak menampiknya.

2. Sifat kegotong royongan masyarakat pedesaan dianggap lebih tinggi dibanding dengan masyarakat perkotaan. Menyimak dari perkembangannya koperasi belum berperan sebagaimana yang diharapkan, masyarakat desa masih belum bisa menghargai koperasi sebagai sebuah kekuatan yang secara ekonomis mampu mengangkat taraf hidupnya. UUD 1945 Pasal 33 memandang koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional, yang kemudian seakin dipertegas dalam pasal 4 UU No. 25 tahun 1992 tentang perkkoperasian. Menurut Moh. Hatta sebagai pelopor pasal 33 UUD 1945 tersebut, koperasi dijadikan sebagai sokoguru perekonomian nasional karena:

(11)

1. Koperasi mendidik sikap self-helping.

2. Koperasi mempunyai sifat kemasyarakatan, dimana kepentingan masyarakat harus lebih diutamakan dari pada kepentingan diri atau golongan sendiri.

3. Koperasi digali dan dikembangkan dari budaya asli bangsa Indonesia. 4. Koperasi menentang segala paham yang berbau individualisme dan

kapitalisme.

Hal ini tidak terlepas dari jatidiri koperasi itu sendiri yang dalam gerakan dan cara kerjanya selalu mengundang unsur-unsur yang terdapat dalam asas-asas pembngunan nasional seperti yang termaktub dalam GBHN.

Dalam setiap pelaksanaan pembangunan (GBHN, 1988) ada 9 asas pembangunan yang harus diperhatikan yaitu:

1. Asas keimanan dan ketaqwaan terhadap tuhan yang maha esa. 2. Asas manfaat.

3. Asas demokrasi Pancasila. 4. Asas adil dan merata.

5. Asas keseibangan, keserasian, dan keselarasan dalam perikehidupan. 6. Asas kesadaran hukum.

7. Asas kemandirian. 8. Asas kejuangan.

9. Asas ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dari rangkaian asas pembangunan nasional diatas, dapat dilihat bahwa posisi dan kedudukan koperasi dalam UUD 1945 dan GBHN adalah sangat strategis dalam upaya mencapai masyarakat adil dan makmur sesuai dengan pancasila.

Menurut M. Hatta (1987), ide yang tertanam dalam pasal 33 UUD 1945 mempunyai sejarah yang panjang, yaitu membangun ekonomi rakyat yang lemah. Sejarah pertumbuhan koperasi di Eropa telah membuktikan bahwa, untuk menghadapi kekuasaan dan pengaruh kapitalisme yang begitu hebat, hanya organisasi rakyat yang berdasarkan atas solidaritas dan kesetiakawananlah yang dapat memperbaiki nasibnya. Organisasi yang paling tepat ialah koperasi.

(12)

Bagi perekonomian Indonesia, kita perlu mengkaitkan dengan konteks Sistem Ekonomi Nasional Indonesia (SENI) dan kedudukan koperasi. Dari sisi produksi pelaku ekonomi di Indonesia terdiri dari usaha negara, usaha swasta besar nasional, usaha swasta asing dan usaha ekonomi rakyat. Dalam hal jumlah unit usaha yang ada di Indonesia terdiri dari usaha rumah tangga, usaha kecil dan menengah dalam bentuk badan usaha yang berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum.

Kontribusi masing-masing sektor dalam produksi nasional, dapat dilihat dari sudut sumbangan dari tiap sektor terhdap jumpal unit usaha, sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) maupun penyerapan tenaga kerja. Dari sisi konsumsi sektor ekonomi rakyat, secara mudah dapat dikenali dari sektor rumah tangga yang memegang posisi penting dalam menentukan permintaan domestik. Dikatakan mudah dikenali karena memegang porsi terbesar yaitu 65% (1998) dari pengeluaran agregat. Pengeluaran rumah tangga yang mencerminkan kehidupan sektor ekonomi rakyat dapat dilihat dari komposisi rumah tangga berdasarkan pengeluaran dimana secara umum masih didominasi oleh kelompok rumah tangga miskin dan hampir miskin.

Disektor produksi jasa, koperasi merupakan salah satu bentuk lembaga keuangan yang mengorganisasikan pelayanan jasa keuangan, baik berbentuk bank maupun bukan bank. Sementara disisi konsumen, koperasi adalah organisasi para konsumen yang bergerak didalam pelayanan jasa pemenuhan kebutuhan barang-barang konsumsi bagi rumah tangga. Dengan demikian koperasi konsumen sebenarnya lebih menyerupai perusahaan jasa bagi para konsumen untuk kelompok menengeh ke bawah, untuk menekan biaya transaksi dan mendapatkan nilai tambah, serta jaminan pasar disektor produksi. Oleh karena itu, koperasi juaga disebut sebagai gerakan, bahkan mempunyai organisasi dengan skala dunia yang mempunyai kedudukan sebagai “observer” pada badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Usaha menengah pada umumnya mampu menjadi lokomotif penarik bagi usaha kecil melalui wahana kemitraan. Oleh karena itu antara usaha menengeh dengan koperasi mempunyai fungsi yang komplementer dalam memajukan usaha kecil. Pembagian tugas fungsional ini akan ditentukan oleh karakteristik fungsi

(13)

produksi dari masing-masing kegiatan. Fungsi koperasi selain gerakan pendidikan dan memajukan kesejahteraan masyarakat termasuk aspek kelestarian lingkungan hidup, adalah untuk mengangkat kemartabatan suatu masyarakat atau bangsa terutama dalam berekonomi.

Di Indonesia pada dasawarsa 1960-an cukup banyak koperasi yang meninggalkan fasilitas pendidikan dan kesehatan atau bahkan asuransi Bumi Putera 1912 sebagai “mutual company” adalah contoh bentuk akhir yang ideal dari koperasi yang berhasil. Perusahaan mutual pada awalnya didirikan oleh para pendiri atau sponsor dengan prinsip dari, oleh, dan untuk anggota. Koperasi semacam ini biasa disebut “sponsored cooperative”.

Dalam perekonomian pasar, peran utama dari koperasi adalah menjadi wahana kerja sama pasar bagi para anggotanya untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang optimal melalui kegiatan produksi, konsumsi, barang dan jasa. Dengan demikian koperasi tidak untuk memaksimalkan nilai tambah bagi “perusahaan koperasi” tetapai nilai tambah bagi para anggotanya. Oleh karena itu, secara konseptual adalah “salah” menjadikan kontribusi dalam PDB sebaga ukuran keberhasilan koperasi. Indikator “eksistensi” koperasi dalam suatu perekonomian pasar adalah “pangsa pasar” koperasi dalam kegiatan atau sektor dimana jasa koperasi diperlukan.

Sementara itu, untuk mengetahui posisi perekonomian rakyat dalam perkembangan perekonomian nasional telah diangkat tiga indikator penting yaitu:

1. Jumlah penyerapan tenaga kerja.

2. Nilai tambah untuk masing-masing sektor, dan 3. Ekspor produk usaha kecil dan menengah.

Koperasi sebagai badan usaha dapat berdiri sebagai usaha kecil, menengah atau bahkan usaha besarsesuai skala bisnis atau “omzet” dan besarnya aset yag dimilikinya. Demikian juga para anggota koperasi akan diperhitungkan dengan cara yang sama.

Berebeda dengan sektor swasta, swasta dimiliki dan dikelola secara perseorangan, keluarga dan sekelompok kecil orang yang memiliki modal untuk mencapai tujuan memberi keuntungan yang semaksimal mungkin. Lain halnya

(14)

dengan sektor koperasi, sektor koperasi merupakan wadah ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang, dimiliki dan dikelola oleh anggotan untuk kepentigan anggota serta masyarakat secara kekeluargaan.

Upaya menumbuhkan semangat dan optimisme terhadap kelembagaan koperasi mau tidak mau harus ditempuh melalui pendidikan koperasi secara benar. Denmark sebagai negara koperasi, berhasil karena memiliki sistem pendidikan koperasi yang baik. Sejak dini Bung Hatta sudah menekankan pentingnya pendidikan koperasi ini. Namun beliau juga mengakui bahwa kesulitan besar yang dihadapi bangsa ini adalah kurangnya tenaga pendidik yang tepat untuk koperasi. Menurut Bung Hatta, mengajar koperasi bukan semata-mata mengajarkan ekonomi, tapi juga harus dilandaskan pada cita-cita yang berdasar pada perikemanusiaan. Dengannya diharapkan dari kalangan koperasi akan muncul para pemimpin ekonomi bangsa yang sehat, para pemimpin yang bangkit bersama nilai-nilai koperasi.

Jika koperasi hendak maju, di dalamnya harus terkandung sifat solidaritas, setia bersekutu, individualitas dan kesadaran akan harga diri. Tujuan koperasi adalah menyelenggarakan kemakmuran rakyat. Dalam koperasi setiap anggota memegang tanggung jawab yang sama. Setiap anggota mendapat perlakuan yang sama, tidak ada yang mendapat perlakuan yang khusus atau istimewa. Semua yang bekerja adalah anggota dari koperasi. Sebagaimana orang sekeluarga bertanggung jawab atas keselamatan keluarganya, demikian juga mereka bertanggung jawab atas keselamatan koperasi mereka .

Koperasi yang dibangun Bung Hatta adalah untuk membangkitkan tenaga rakyat, tenaga politik, tenaga ekonomi, dan tenaga sosial. Melalui koperasi beliau mengharapkan pendidikan demokrasi politik, menimbulkan rasa percaya diri, dan rasa solidaritas serta tanggung jawab bersama .

Bung Hatta juga sudah menggagaskan pentingnya diadakan sekolah kejuruan terutama koperasi. Sekolah kejuruan koperasi perlu untuk mendidik pemuda-pemuda untuk dapat lebih tepat melaksanakan cita-cita negara tentang perekonomian. Rumpun koperasi Indonesia sudah terdapat pada sifat asli bangsa Indonesia yakni gotong-royong dan tolong-menolong.

(15)

Penyelenggaraan dan pendukung koperasi harus memiliki cita-cita koperasi seperti yang dimaksudkan UUD. Tujuan sekolah ini adalah mendidik manusia koperasi yang dalam jiwanya terkandung sifat-sifat yang diperlukan untuk mendukung dan mengembangkan koperasi dengan sejahtera. Sifat-sifat yang diperlukan untuk dibina adalah rasa solidaritas, individualitas, tahu harga diri, kemauan dan kepercayaan diri, cinta pada masyarakat, dan rasa tanggung jawab moril dan sosial .

Sifat-sifat yang dibina dalam sekolah kejuruan adalah kunci keberhasilan koperasi. Diharapkan sifat-sifat tersebut terealisir dalam sistem perekonomian yang sehat, yang mampu bersaing, dan dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, bila dapat membangun koperasi dapat juga membangun perekonomian Indonesia menjadi masyarakat yang berkeadilan sosial

Cita-cita koperasi bangsa Indonesia menentang individualisme dan kapitalisme secara fundamental. Paham koperasi Indonesia menciptakan masyarakat Indonesia yang kolektif, berakar pada adat istiadat, tetapi ditumbuhkan pada tingkat yang lebih tinggi yaitu sesuai dengan tuntutan jaman modern.

Pada akhirnya Bung Hatta mengatakan bahwa soal ekonomi Indonesia di masa mendatang ialah pembangunan ke dalam, yang berarti menimbulkan kemakmuran rakyat dan pembangunan keluar yang berarti mengadakan koordinasi dalam pembangunan perekonomian seluruh dunia .

Pada dasarnya tujuan koperasi adalah mensejahterakan anggotanya. Semakin banyak anggota koperasi maka semakin besar modal yang dapat dibentuk koperasi, dan semakin besar pula masyarakat yang dapat memanfaatkan koperasi gunga mensejahterakan dirinya. Dengan demikian tujuan koperasi menjadi Sakaguru perekonomian akan dapat direalisasikan.

Tujuan anggota untuk berkoperasi tentu saja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan harian, bahkan buka lubang tutup lubang untuk dapat bertahan hidup. Yang diharapkan adalah anggota koperasi dapat mempergunakannya untuk melakukan atau untuk mengembangkan usaha. Berbagai cara untuk memperbesar jumlah anggota koperasi dapat dilakukan dengan cara seperti berikut :

(16)

2. Memberi kemudahan persyaratan anggota 3. Memberikan hak anggota dengan benar

Dukungan yang diperlukan bagi koperasi untuk menghadapi berbagai rasionalisasi adalah keberadaan lembaga jaminan kredit bagi koperasi dan usaha kecil di daerah. Dengan demikian kehadiran lembaga jaminan akan menjadi elemen terpenting untuk percepatan perkembangan koperasi didaerah. Dalam jangka menengah koperasi juga perlu memikirkan asuransi bagi para penabung, dimasing-masing daerah dapat mengembangkan pusat inovasi dan teknologi yang dapat membantu masyarakat dalam pengembangan usaha, perbaikan kualitas produk dan informasi pasar.

Pusat inovasi dan pengembangan teknologi ini merupakan dukungan penguatan bagi usaha kecil dan menengah yang sangat dibutuhkan sebagai Non Financial Bussines Development Service. Bagi koperasi tugas yang mendesak saat ini adalah melakukan konsolidasi keuangan koperasi yang berada diperbankan. Konsolidasi iniformasi ini akan memungkinkan gerakan koperasi mempunyai kekuatan untuk menghadapi perbankan, misalnya melalui penyatuan kode rekening koperasi, pengelolaan lalulintas informasi posisi keuangan untuk dapat menciptakan kekuatan negoisasi bagi penetapan “gearing ratio” jadi demikian kondisi yang dihadapi koperasi, maka fokus yang menjadi perhatian gerakan koperasi haruslah pada kemampuan memanfaatkan permintaan domestik, baik dalam pasar input produksi maupun pasar barang dan jasa untuk konsumsi.

Dari pengalaman gerakan koperasi di Indonesia selama dua tahun proses liberalisasi perdagangan yang diikuti oleh rasionalisasi fasilitas bagi koperasi, justru memperlihatkan semakin intensifnya kontak dengan dunia luar dengan dunia luar oleh gerakan koperasi, baik yang berkaitan dengan impor maupun ekspor produk-produk yang merupakan produk unggulan, terutama produk etnik (furnitur, produk kerjinan) dan produk berbaris sumber alam. Dalam hal ini kesulitan koperasi justru disebabkan oleh “instabilitas nilai tukar rupiah” ketimbang ketidak adaanya permintaan dan kemampuan pembiayaan.

Problematika yang dihadapi ekonomi Indonesia secara nasional pasca krisis adalah jumlah pengangguran yang meluas dan sensitifitas nilai tukar rupiah yang tinggi. Dalam situasi semacam ini kegiatan pemasaran oleh koperasi biasanya

(17)

tidak kompetitif karena adanya faktor struktural yang menimbulkan perbedaan biaya yang berbentuk perbedaan “biaya financial” dan “biaya ekonomi”.

Dua plar utama kemajuan koperasi dalam dasawarsa yang akan datang ini terletak pada “usaha jasa keuangan” dan “kegiatan pembelian bersama”. Dua kegiatan ini akan menjadi ciri kegiatan yang dapat menjadikan lokomotif kebangkitan koperasi di Indonesia untuk menjadi koperasi mandiri. Melihat posisi koperasi pada saat ini dimana aset koperasi sudah didominasi oleh kegiatan koperasi dibidang jasa keuangan, maka restrukturisasi kegiatan koperasi sebenarnya sudah berjalan, dengan demikian akan mampu tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan koperasi di Indonesia saat ini sangat kompatibel untuk menanggapi rasionalisasi kredit perbankan kepada petani dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Disektor rill kegiatan pembelian baik oleh koperasi produsen seperti KUD, koperasi pertanian, dan koperasi perikanan masih mendominasi kegiatan pembelian, termasuk pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya. Prospek kegiatan koperasi dibidang agroindustri akan sangat tergantung pemulihan disektor perbankan.

Untuk itulah, peran anggota koperasi untuk terus bangkit dan maju merupakan sebuah hal yang diharapkan dalam perekonomian masyarakat Indonesia. Sehingga koperasiu dapat ikut berperan penting dalam membantu perekonomian Indonesia.

B. Bentuk Partisipasi Koperasi Menurut Moh. Hatta

Koperasi adalah sistem ekonomi Indonesia yang dipelopori oleh salah satu founding father, sang proklamator Indonesia, Bung Hatta. Koperasi ada salah satunya untuk menunjukkan eksistensi masyarakat yang tidak ingin terbawa arus sistem ekonomi kapitalis yang dibawa oleh negara barat dan sistem ekonomi sosialis-komunis yang dibawa oleh negara timur. sekedar mengingatkan, sistem ekonomi kapitalis mengedepankan kekuatan pemilik modal sedangkan sistem sosialis-komunis mengedepankan kekuatan negara. di sistem koperasi, kedua sistem tersebut disinergikan. hak pengusaha atas modal diakui dan diangkat sedangkan negara juga memiliki hak dan kewajiban atas usaha yang

(18)

dikembangkan oleh masyarakat khususnya anggota koperasi. dapat dikatakan bahwa koperasi adalah saka guru perekonomian Indonesia.

Koperasi di Indonesia sejak jaman penjajahan hingga sekarang telah membuktikan dirinya sebagai alat perjuangan rakyat. Pada masa pembangunan ini koperasi sangat besar sekali peranannya bukan hanya dibidang perekonomian saja, tetapi lebih dari itu koperasi bisa menjadi alat pemersatu bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut pasal 3 UU No. 12 tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian, disebutkan bahwa koperasi di Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasrkan asas kekeluargaan. Dan UU No. 12 tahun 1967 tersebut dijabarkan dalam ciri-ciri khas koperasi Indonesia yang pada akhirnya tujuannya benar-benar merupakan kepentingan bersama dari semua anggota.

Falsafah dan pandangan hidup (the way of lafe) bangsa Indonesia tercermin dalam pancasila. Penjelasan strukturnya adalah UUD 1945 dan penjabaran operasionalnya dituangkan dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara). UUD 1945 merupakan ketentuan atau tata tertib dasar yang mengatur terselenggaranya falsafat hidup dan moral cita-cita bangsa. Sedangkan GBHN adalah merupakan rangkaian program-program pembangunan yang menyeluruh, terarah, dan terpadu yang berlangsung secara terus menerus. Adapaun tujuan pembangunan ekonomi adalah untuk mencapai kemakmuran masyarakat. Ketentuan dasar dalam melaksnakan kegiatan ini diatur oleh UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi, “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”

Dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 ini dikatakan bahwa “produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Dan penjelasan pasal 33 UUD 1945 ini menempatkan kedudukan koperasi (1) sebagai sokoguru perekonomian nasional, dan (2) sebagai bagian integral tata perekonomian nasional.

Wojowasito (1982 ; 43), arti dari sokoguru adalah pilar atau tiang. Jadi, makna dari istilah koperasi sebagai sokoguru perekonomian dapat diartikan

(19)

koperasi sebagai pilar atau “penyangga utama” atau “tulang punggung” perekonomian. Dengan demikian, koperasi difungsikan sebagai pilar utama dalam sistem perekonomian nasional.

Ditinjau dari sisi badan usaha atau pelaku bisnis, ada 3 kelompok pelaku bisnis dalam sistem perekonomian nasional yaitu :

1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 2. Badan Usaha Koperasi (BUK) 3. Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)

Ketiga badan usaha ini dalam istilah sehari-hari sering disebut sebagai pelaku ekonomi. Dan ada yang mengatakan bahwa pelaku ekonomi adalah terdiri dari unsur konsumen, produsen, dan pemerintah.

Koperasi mempuyai peranan yang sama dengan lembaga-lembaga ekonomi lainnnya. Tidak hanya melayani anggota-anggota, tetapi koperasi pun harus hadir sebagai lembaga yang profesional, untuk menerapkan bahkan menemukan inovasi, metode dan pencarian pasar-pasar yang baru. Dari peran seperti inilah harapan koperasi akan dapat memberikan suatu kontribusi terhadap perekonomian secara menyeluruh.

Selai itu juga, dari segi pendidikan perkoperasian haruslah di tingkatkan. Karna dewasa ini, tingkat pemahaman terhadap koperasi itu sangat minim, banyak masyarakat tahu tentang koperasi, tetapi masyarakat belum tahu system di dalamnya seperti apa. Untuik itu di perlukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Dengan memperbaiki kurikulum pendidikan koperasi, kurikulum saat ini kurang memberikan motivasi. Penggambaran akan keberhasilan koperasi di dunia internasional perlu mendapat penekanan untuk membongkar sikap pesimistis terhadap dunia koperasi nasional yang masih jauh tertinggal. Selain itu interaksi langsung dengan dunia koperasi perlu ditingkatkan, sehingga pendidikan koperasi tidak terkesan teoritis, sekaligus membangkitkan motivasi untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui kelembagaan koperasi.

2. Dengan pengadaan literatur perkoperasian baik berupa buku, jurnal maupun pemberitaan koperasi tingkat nasional dan internasional. Hal ini

(20)

sangat penting agar para pendidik koperasi tidak lagi bagai katak di bawah tempurung.

3. Proses kaderisasi tenaga pendidik koperasi itu sendiri. Tenaga pendidik yang tahu persis apa yang diajarkan. Sebagaimana yang dimaksudkan Bung Hatta, para pendidik yang memiliki integritas, semangat dan keluhuran jiwa seorang koperasiawan. Kaderisasi dilakukan dengan pengiriman staf untuk tugas belajar ke negara-negara yang maju gerakan kopersinya dan juga melalui upgraiding berkala untuk pengembangan wawasan mengenai dunia perkoperasian. Kaderisasi juga diwujudkan dengan membangun kerjasama sinergis (co-operative actions) antara sesama pendidik koperasi dalam mengatasi permasalahan pendidikan koperasi.

Diharapkan ketiga langkah ini akan memberikan mutitplier effect yang tinggi, karena pada gilirannya diharapkan akan lahir ribuan calon-calon penggerak koperasi di masa depan. Calon pemimpin yang memliki semangat dan dedikasi tinggi memjukan koperasi. Calon pemimpin koperasi yang jujur dan bersih sebagaimana halnya bapak koperasi kita. Semoga Bung Hatta selalu tersenyum.

Usaha lain yang harus didorong adalah melibatkan pemuda dalam pengelolaan koperasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi lambatnya akselerasi pengembangan koperasi di Indonesia dikarenakan sebagian besar koperasi masih menganut asas senioritas. Sebagian besar koperasi dipimpinoleh orang yang sama dalam waktu puluhan tahun. Mereka yang sudah berusia tua relatif sulit untuk menerima perubahan dan melakukan percepatan aktivitas. Para pegiat koperasikebanyakan kaum tua, biasanya pasca pensiun dari pekerjaanya mereka melirik koperasi untuk mengisi waktu. Pengelola koperasi tidak dilandasi oleh motivasi dan kapasitas keilmuan tentang jati diri koperasi yang benar, sehingga tidak heran jika koperasinya berjalan apa adanya. Oleh karena itu peran pemuda untukmenggerakkan koperasi sangat diperlukan.

Sistem koperasi yang berkembang saat ini masih setengah hati sehingga belum dirasakan manfaatnya. pengelolaan maupun perhatian dari berbagai pihak pun masih sangat minim. hal ini yang membuat pergeseran nilai koperasi semakin

(21)

nyata. koperasi bukan saja kewajiban masyarakat tapi juga negara, begitu juga sebaliknya bukan hanya milik negara melainkan juga milik masyarakat. jika negara terlalu mengikat kinerja koperasi dan pemilik modal kurang berperan, justru sistem yang dikembangkan adalah sistem sosialis-komunis.

Sedangkan jika negara tidak berperan sebagaimana mestinya dan pemilik modal lebih banyak berperan, sistem yang berkembang menjadi kapitalis. yang terjadi saat ini adalah, ketika seorang atau sebuah organisasi masih kecil, mereka bergabung dalam koperasi agar dapat menjadi lebih besar.

ketika sudah agak besar, mereka keluar dan “gengsi” ikut dalam koperasi, dengan modal yang telah terkumpul mereka mengembangkan organisasi menjadi lebih besar dengan sistem kapitalistik dan lupa akan peran koperasi atas dirinya. dan sayangnya negara ini telah hidup dan nyaman dalam kehidupan kapitalisme dan sekali lagi, koperasi hanya menjadi sistem pelengkap.

Di beberapa tahun terakhir, banyak koperasi yang dibubarkan. tapi, tidak sedikit pula yang masih eksis dengan harta yang begitu besar. salut untuk para koperasi yang masih senantiasa memajukan anggotanya dan semoga selalu eksis serta selalu menjadi penyokong perekonomian indonesia. Dirgahayu perkoperasian Indonesia.

Untuk itulah, besar harapan bahwasanya masyarakat Indonesia terutama kaum muda untuk dapat memahami dan mengaplikasikan serta menjalankan perkoperasian, minimalnya di daerahnya sendiri. Karena bagaimanapun koperasi merupakan sebuah lembaga usaha yang sangat bermanfaat yang bertujuan mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan anggota pada khususnya. Untuk itu, respon positif masyarakat luas terhadap koperasi sangatlah diharapkan.

(22)

C. Manfaat Koperasi Bagi Perekonomian Indonesia Menurut Moh. Hatta

Masyarakat Indonesia pada umumnya telah memaklumi perkembangan koperasi di Indonesia dilihat dari segi kuantitas memang sangat menggembirakan, tetapi dilihat dari segi kualitas masih sangat memperhatinkan. Pemerintah dalam menyalurkan bahan yang dikelola/dikendalikan oleh pemerintah, misalnya: pupuk, gula pasir dan lain sebagainya, sebagian besar penyalurannya masih menyerahkan pada pihak swasta. Ini semua dapat digunakan sebagai bukti bahwa kemampuan dan kualitas koperasi yang ada sekarang ini belum mencapai sebagai mana yang diharapkan. (Saryo, 1988 ; 55).

Badan usaha dengan bentuk koperasi merupakan realisasi dari UUD 1945. Bagi mereka yang tidak mendukung dan berperan serta dalam pelaksanaan pembangunan koperasi di Indonesia, sama saja tidak mendukung pelaksanaan UUD 1945, khususnya pasal 33.

Dalam ayat 1 dicantumkan dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua dibawah pimpinan atau pemilikan anggota masyarakat. Ayat ke dua, menyatakan bahwa cabang-cabang produki yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Sedangkan ayat ke tiga, menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat.

Dalam pelita IV, koperasi harus makin luas dan berakar dalam masyarakat, sehingga koperasi secara bertahap dapat menjadi salah satu sokoguru perekonomian nasional. Pengertian dari sokoguru ialah tiang penyanggah rumah yang paling utama, untuk menopang selluruh bangunan yang ada di atasnya. Presiden Soeharto selalu mendataris MPR, pemimpin tertinggi pemerintah negara RI sangat mendambakan agar koperasi di Indonesia mampu mewujudkan cita-cita nasional seperti tersurat di dalam pembukaan UUD 1945.

Dengan demikian sudah melaksanakan apa yang tersurat dalam UU No. 12/1967 tentang pokok-pokok perkoperasian khususnya pasal 2 tentang landasan koperasi, pasal 4 tentang fungsi koperasi, dan pasal 6 tentang sendi-sendi dasar koperasi, khususnya ayat 5 yang berbunyi : Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya.

(23)

Berdasarkan pasal 33 UUD 1945, di Indonesia ada tiga sektor ekonomi untuk mensejahterakan seluruh bangsa Indonesia, yaitu :

1) Sektor ekonomi yang dikuasai oleh koperasi. 2) Sektor ekonomi yang dikuasai oleh negara. 3) Sektor ekonomi yang dikuasai oleh pihak swasta.

Jadi menurut UUD 1945, sektor ekonomi yang dikuasai oleh koperasi menduduki tempat yang diutamakan.

Menurut evaluasi pemerintah terhadap koperasi, menteri koperasi Bustanil Arifin, SH antara lain menyatakan :

- Jumlah koperasi bertambah pesat, tapi perannya masih kecil.

- Dampak koperasi, yaitu manfaat koperasi yang dapat dirasakan oleh para anggotanya serta masyarakat sekitarnya.

Menurut proyeksi menteri koperasi Bustanil Arifin, SH. Harapan presiden Suharto itu akan terwujud tahun 1997/1998.

Sejalan dengan proyeksi menteri koperasi, sejak orde baru pemerintah selalu dan terus menerus mengadakan monitoring terhadap perkembangan dan pertumbuhan serta peran/fungsi koperasi seperti yang tersurat dalam UU No. 12/1967 tentang pokok-pokok perkoperasian pasal 4, yaitu :

- Alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat. - Salah satu urat nadi perekonomian bangsa Indonesia.

- Alat pembina insan masyarakat untuk memperkokoh kedudukan ekonomi bangsa Indonesia serta bersatu dalam mengatur tata laksana perekonomian rakyat.

Dalam mewujudkan suatu koperasi yang mandiri, banyak persoalan yang harus dihadapi, baik masalah intern seperti permodalan, managemen, maupun masalah eksternnya seperti mekanisme pasal, campur tangan pemerintah dan lain sebagainya. Untuk mengetahui dan mencoba memahami permasalahan yang dihadapi, perlu di ingat kembali pengertian tentang koperasi Indonesia menurut UU No. 12/1967 baik mengenai fungsinya, sendi-sendi dasar dan tugas menuju pencapaian tujuan.

Koperasi Indonesia adalah kumpulan dari orang-orang yang sebagai manusia secara bersama-sama bergotong royong berdasarkan persamaan , bekerja

(24)

untuk memajukan kepentingan-kepentingan ekonomi merekan dan kepentingan masyarakat, kumpulan orang-orang, bukan kumpulan modal. Ciri-ciri khusus yang melekat pada organisasi yang sulit ditemui pada organisasi lain adalah yang tercantum pada sendi-sendi dasar antara lain bahwa sifat anggotanya sukarela dan terbuka, rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi, pembagian sisa hasil usaha diatur menurut jasa masing-masing anggota, mengembangkan kesejahteraan anggota dan masyrakat, managemennya bersifat terbuka dan percaya pada diri sendiri.

Di dalam GBHN ditentukan bahwa koperasi adalah sebagai alat peningkatan kesejahteraan rakyat dan sebagai wadah utama pembina golongan ekonomi lemah serta sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Adapun tujuan berkoperasi adalah untuk memperbaiki tata kehidupan dan penghidupan keluarga yang lebih baik sehingga dapat menikmati keselamatan, ketenangan, dan ketentraman hidup lahir dan batin. Sedangkan sasaran koperasi adalah anggota, baik yang berdomisili didaerah pedesaan maupun perkotaan yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan kepribadian dan kemampuan.

Secara struktural, koperasi memiliki akses paling kecil terhadap faktor produksi, khususnya permodalan, dibanding dengan pelaku ekonomi lainnya. Selain itu secara institusional koperasi memiliki ruang gerak yang paling terbatas dibanding dengan pelaku ekonomi lainnya.peraturan dan perundangan ang berlaku dalam dunia usaha tidak memungkinkan koperasi bergerak bebas seperti swasta murni.

Secara de jure dan de facto, menurut Sumarna, sistem perekonomian Indonesia berlandaskan atas teori keseimbangan, yaitu keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita masyarakat adil dan makmur hanya dapat dicapai dengan adanya keseimbangan peran antara tiga pelaku ekonomi nasional tanpa keseimbangan itu, sulit untuk dapat mewujudkan cita-cita tersebut.

Koperasi dalam realitas, jarang sekali menjadi besar dan maju. Lembaga ini sering berhenti sebagai unit ekonomi unit ekonomi kolektid yang kecil dan lambat, sementara kalangan masyarakat terdapat krisis kepercayaan terhadap koperasi : (Pudjo Suharso, 1988 ; 31).

(25)

Masyarakat yang relatif masih rendah, faktor pendidikan juga harus diakui ikut mempengaruhi permintaan masyarakat akan pelayanan kesehatan,

1. Walaupun lembaga ini merupakan bagian integral dari perjuangan bangsa sejak kebangkitan nasional.

2. Walaupun secara konstitusioonal koperasi cukup mendapat tempat dan mempunyai kedudukan yang penting dalam perekonomian Indonesia seperti dijelaskan oleh UUD 1945 pasal 33 ayat 1 dan penjelasannya: UUD No. 12/1967; dan Inpres No. 4/1984.

3. Walaupun koperasi telah banyak di dorong-dorong dan diberi berbagai fasilitas oleh pemerintah.

Dalam kerangka ini, mengkaji kembali koperasi lewat salah satu sendi dasarnya, yaitu asas swadaya (kemandirian) agaknya menjadi sangat relevan. Karena disini ditemui lemahnya swadaya/kemandirian dengan maju mundurnya perkembangan koperasi mempunyai korelasi yang signifikan.

Menurut Frans Seda, intervensi aparatur/pejabat pemerintah merupakan salah satu penyebab utama menipisnya swadaya koperasi. Secara formal memang tidak nampak, namun secara aktual di lapangann sangat banyak dan sangat mendalam. Campur tangan pejabat dirasakan mulai dari pembentukan koperasi, yang seharusnya dan secara formal memang dilakukan oleh para anggota. Tentang seleksi anggota sampai pada pertanggung jawaban keuangan pun, yang seharusnya dipilih dan dilakukan oleh para anggota, tak luput dari campur tangan pejabat. Malahan sampai pembangunan kantor dan perabotan.

Akses yang diperlukan koperasi garis besar meliputi akses terhadap teknologi usaha dan akses terhadap permodalan. Perkembangan koperasi pada dasarnya ditentukan oleh kegiatan usaha yang dikelolanya. (SP, 1988). Selama ini kegiatan uasaha koperasi masih konservatif yaitu masih berkisar dari dan untuk anggota seperti simpan pinjam. Dengan bentuk kegiatan seperti ini sebenarnya koperasi secara tidak langsung mengisolasi dirinya dari kegiatan dunia usaha yang lebih luas.

Karena orientasi kegiatan usahanya yang bersifat inward-looking, wajarlah jika gerakan koperasi di Indonesia lamban dan kalah bersaing dengan pihak lain khususnya swasta. Agar koperasi berkembang dengan dan dapat meraih peluang

(26)

usaha yang lebih luas, maka orientasi kegiatan usahanya hendaklah bersifat outward-looking, yakni tidak dibatasi oleh lingkugan anggotanya semata. Untuk terlaksananya perkembangan koperasi lebih luas perlu peninjauan kembali terhadap perundangan yang selama ini menjadi pembatas kegiatan usaha koperasi. Untuk itu, kebijakan deregulasi dan debirokrasi juga diperlukan untuk memungkinkan tumbuhnya koperasi yang produktif dan mandiri.

Perluasan koperasi menuju orientasi outward-looking dimingkinkan jika koperasi memiliki sarana dn prasarana yang pendukung, diantaranya adalah modal. Karena tanpa adanya modal koperasi dan kegiatan usaha lainnya tidak dapat berbuat apa-apa. Ada dua yang menjadi penyebab munculnya hambatan dalam aspek permodalan dikalangan koperasi. Pertama, karena umumnya modal dari anggota sulit dilakukan. Dan kedua, karena prosedur dan aturan perbankan belum memungkinkan koperasi dalam memanfaatkan dana perbankan secara optimal.

Untuk jangka pendek, hambatan permodalan yang dihadapi koperasi dapat dipecahkan melalui deregulasi pada sektor perbankan, yakni menempatkan koperasi secara sejajar dengan pihak lain khususnya swasta dalam kemungkinian mendapat fasilitas kredit. Kenyataan yang ada sekarang aturan dan prosedur perbankan masih sulit untuk dapat ditembus oleh koperasi, disebabkan belum adanya keterkaitan dan kesamaan antara aturan perkoperasian dengan aturan perbankan.

Untuk jangka panjang, untuk memperkuat modal koperasi dapat dilakukan melalui penyertaan koperasi dalam pemilihan saham perusahaan. Dengn ini diharapkan koperasi memiliki akses yang lebih besar untuk memperkuat kapasitasnya, khususnya dalam aspek permodalan.

UUD Nomor 25 tahun 1992, Bab III bagian pertama. Fungsi dan peran koperasi adalah:

1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khusunya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.

2. Berperasn serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

(27)

3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya.

4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekluargaan dan demokrasi ekonomi.

Peranan koperasi dalam meningkatkan produksi mewujudkan pendapatan yang adil dan kemakmuran yang merata. Kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia yang menekankan pada strategi pertumbuhan atau model produktifitas dengan mendasarkan pada akumulasi modal dan penggunaan teknologi yang mengutamakan pemakaian tenaga kerja terampil dipandang sebagai sebagai pendekatan yang paling efisien untuk meningkatkan out put produksi.

Sebagai badan usaha yang ditujukan untuk kepentingan bersama, kesejahteraan anggota koperasi mutlak harus didahulukan karena anggota koperasi adalah elemen terpenting yang menjadi roda penggerak koperasi. Walaupun manfaat koperasi sangat dirasakan bagi para anggota, namun kadangkala ada anggota yang tidak bertanggung jawab atau lepas tanggung jawab terhadap koperasi tempatnya bernaung.

Yang dimaksud lepas tanggung jawab adalah seperti ketidak jujuran anggota atau pengurus, pengelolaan yang tidak demokratis, kurangnya kesadaran untuk mengembalikan pinjaman, kurangnya kesadaran untuk menghidupkan koperasi demi kelangsungan koperasi itu sendiri. Koperasi dapat tumbuh dan berkembang tergantung pada partisipasi aktif anggota di mana partisipasi menentukan kelangsungan dan berkembangnya lapangan usaha atau unit usaha koperasi. Dengan demikian tanggung jawab kesadaran berkoperasi sangat diperlukan dan menjadi perhatian agar koperasi dapat hidup tumbuh dan berkembang maju.

Kesadaran berkoperasi yang dimaksud antara lain: a) keinginan untuk memajukan koperasi, b) kesanggupan mentaati peraturan dalam koperasi seperti kewajiban terhadap simpan pinjam, c) mentaati ketentuan-ketentuan baik sedagai anggota, pengurus dan badan pengawas, d) membina hubungan sosial dalam koperasi, e) melakukan pengawasan terhadap jalannya koperasi.

(28)

Manfaat koperasi yang tercermin dari fungsi dan tujuan koperasi perspektif Moh. Hatta adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggota baik dalam tataran ekonomi maupun sosial. Kesejahteraan yang erat kaitannya dengan pemanfaatan jasa dari koperasi ikut membantu anggota dalam menghadapi kesulitan terutama yang menyangkut persoalan keuangan.

Manfaat koperasi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan anggota saja. Namun, menjadi anggota dari sebuah koperasi, akan memperoleh manfaat-manfaat lainnya, yakni:

1. Setiap anggota dapat berlatih bertanggung jawab.

2. Setiap anggota dapat memahami cara berorganisasi dan bergotong royong, dimana sifat gotong royong merupakan pribadi bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

3. Pada akhir tahun setiap anggota akan mendapatkan keuntungan yang disebut SHU.

Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi juga menjadi salah satu elemen penting dalam meningkatkan kesejahteraan para anggota. SHU sendiri dibagikan kepada para anggota koperasi berdasarkan kesepakatan anggota yang biasanya terakumulasi dari penghitungan jasa kepada koperasi. Adapun SHU koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku setelah dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lain (termasuk pajak), dan besarnya SHU yang dibagikan kepada masing-masing anggota sebanding dengan jasa yang dilakukan oleh anggota tersebut.

Manfaat koperasi berdasarkan fungsi dan perannya, dapat dibagi menjadi dua bidang, yaitu manfaat koperasi di bidang ekonomi dan manfaat koperasi di bidang sosial dan manfaat di bidang ekonomi.

Manfaat koperasi di bidang ekonomi:

a) Meningkatkan penghasilan anggota-anggotanya. SHU yang diperoleh koperasi dibagikan kembali kepada para anggotanya sesuai dengan jasa dan aktivitasnya.

b) Menawarkan barang dan jasa dengan harga yang lebih murah. Barang dan jasa yang ditawarkan oleh koperasi lebih murah dari yang ditawarkan di

(29)

toko-toko. Hal ini bertujuan agar barang dan jasa mampu dibeli para anggota koperasi yang kurang mampu.

c) Menumbuhkan motif berusaha yang berperikemanusiaan. Kegiatan koperasi tidak semata-mata mencari keuntungan tetapi melayani dengan baik keperluan anggotanya.

d) Menumbuhkan sikap jujur dan keterbukaan dalam pengelolaan koperasi. Setiap anggota berhak menjadi pengurus koperasi dan berhak mengetahui laporan keuangan koperasi.

e) Melatih masyarakat untuk menggunakan pendapatannya secara lebih efektif dan membiasakan untuk hidup hemat.

Manfaat koperasi di bidang sosial:

a) Mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat damai dan tenteram.

f) Mendorong terwujudnya aturan yang manusiawi yang dibangun tidak di atas hubungan-hubungan kebendaan tetapi di atas rasa kekeluargaan.

g) Mendidik anggota-anggotanya untuk memiliki semangat kerja sama dan semangat kekeluargaan.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Penelitian ini menemukan bahwa terdapat delapan tupoksi dari 10 tupoksi TN yang penjabaran pelaksanaannya berupa pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk penyediaan

Puji syukur Alhamdulillah penulis haturkan khadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

mengakses sumber-sumber dan bahan-bahan pembelajaran tersebut. Kondisi seperti ini diharapkan dapat menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan. Portal

Untuk itu, selanjutnya kita akan membahas suatu bentuk integral lain yang juga dapat digunakan untuk mengek- strapolasi gelombang hanya dengan menggunakan nilai P atau (∇P ) saja,

Secara umum, pengujian sistem yang telah dibuat akan mengamati pada tiga hal, yaitu kinerja perangkat lunak ladder, kinerja perangkat keras sensor level air, serta

Dengan demikian hipotesis H4 ditolak, yang menyatakan bahwa Tingkat Pendidikan dan Pengalaman Kerja (secara bersama) tidak memoderasi pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap

Pada umumnya pembeli atau konsumen di pasar luar negeri sangat memperhatikan barang-barang yang mereka beli, baik itu menyangkut kualitas, harga dan waktu penyerahan