MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 50/PUU-VIII/2010
PERIHAL
PERMOHONAN PENGUJIAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM
JAMINAN SOSIAL NASIONAL
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
(I)
J A K A R T A
JUMAT, 30 JULI 2010
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 50/PUU-VIII/2010 PERIHAL
Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
PEMOHON
Maemunah, dkk
ACARA
Pemeriksaan Pendahuluan (I)
Jumat, 30 Juli 2010 Pukul 14.10-14.50 WIB
Ruang Sidang Panel Lantai 4 Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Ahmad Fadlil Sumadi (Ketua)
2) Achmad Sodiki (Anggota)
3) Maria Farida Indrati (Anggota)
Saiful Anwar Panitera Pengganti
Pihak Yang Hadir: Pemohon:
- Maemunah - Sugiarto - Sri Linda Yanti - Rohayati Ketaren - Yunus
- Tutut Herlina - Lukas Warouw
Kuasa Hukum Pemohon:
1. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Sidang untuk Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 50/PUU-VIII/2010, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum
Assalamualaikum wr.wb.
Yang hadir ini Kuasa dari Pemohon Prinsipal ya, silakan Saudara memperkenalkan diri sebelum nanti menjelaskan tentang permohonan Saudara.
2. KUASA HUKUM PEMOHON: HERMAWANTO
Terima kasih, Yang Mulia. Kami yang hadir saya sendiri Kuasa Hukum Hermawanto dan para Prinsipal yang hadir adalah Pemohon Pertama Bu Maemunah, terus Bapak Sugiarto, silakan untuk berdiri. Terus Ibu Sri Linda Yanti, Ibu Rohayati Ketaren, Ibu Tutut Herlina perwakilan dari Dewan Kesehatan Rakyat, Bapak Lukas Warouw dari Perkumpulan Serikat Rakyat Miskin Kota, Pemohon kedelapan dan yang 2 Pemohon, Pemohon kelima Bapak Yunus dan Pemohon dari Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia, belum bisa hadir, Yang Mulia. Terima kasih.
3. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Sebelum Saudara lebih jauh menyampaikan permohonan Saudara ini semuanya ini kualifikasinya ada yang perorangan, ada yang mewakili perkumpulan, begitu ya. Seperti Askes, Jamsostek dan seterusnya ini. Supaya nanti di dalam pembuktian dipastikan mekanisme untuk mewakili Badan Hukum itu di dalam anggaran dasarnya bagaimana dan bukti Badan Hukumnya harus dilampirkan juga. Silakan Saudara menjelaskan apa yang menjadi permohonan Saudara ini.
4. KUASA HUKUM PEMOHON: HERMAWANTO
Terima kasih. Hal permohonan pengujian Pasal 17 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kami para Pemohon pertama, Maemunah, selaku pengguna Jamkesmas.
KETUK PALU 3X
Yang kedua adalah Bapak Sugiarto selaku pengguna Jamkesmas. Yang ketiga Sri Linda Yanti selaku pengguna Jamkesmas. Pemohon keempat Ibu Rohayati Ketaren selaku pengguna Askes. Pemohon kelima Yunus selaku pengguna Jamsostek. Pemohon keenam Ibu Tutut Herlina selaku pembayar pajak atau pemilik NPWP. Pemohon ketujuh atas nama perkumpulan yaitu Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) yang diwakili oleh Williem Angel Best Lukas Warouw. Pemohon kedelapan dari perkumpulan Serikat Rakyat Miskin Kota diwakili oleh Marlo Sitompul. Dan Pemohon kesembilan Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia, yang diwakili oleh Dominggus Oktavianus Tobu Kiik sebagai Ketua Umum.
Latar belakang diajukannya permohonan ini adalah sebagai berikut:
Meskipun Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional telah disahkan sejak Tahun 2004 akan tetapi undang-undang ini tak juga bisa diterapkan Peraturan Pemerintah yang mengatur pelaksanaannya dimandatkan undang-undang ini tidak kunjung terbit, secara substansial Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional sendiri masih menyisakan masalah, banyak pihak yang masih menolak undang-undang ini dikarenakan tidak mencerminkan aspirasi masyarakat yang menghendaki sistem jaminan sosial yang berpihak pada rakyat khususnya kaum miskin yang merupakan kelompok mayoritas masyarakat Indonesia. Kelompok masyarakat miskin tersebut adalah para pengangguran, pekerja sektor informal, pekerja formal yang upahnya rendah, buruh tani, atau petani tak bertanah dan petani kecil. Meskinya sistem jaminan sosial harus mengedepankan kelompok tersebut. Data Departemen Tenaga Kerja menyebutkan jumlah tenaga kerja dengan status buruh atau PNS adalah sebanyak 28,9 juta jiwa dari 104,48 juta jiwa penduduk yang berkerja. Data tersebut membuktikan bahwa sebagian besar tenaga kerja bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang rendah dan sangat rentan mengalami krisis. Selain itu Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional ini hanya mencakup kelompok masyarakat yang mampu membayar premi dan tanggung. Dengan demikian maka hanya sekelompok kecil masyarakat yang mampu saja yang dapat memperoleh jaminan sosial. Sementara sebagian besar lainnya, yang tidak mampu, tidak berhak mendapat jaminan sosial yang layak. Pada hal jumlah masyarakat miskin masih sangat besar. Data statistik menyebutkan jumlah rakyat miskin di Indonesia mencapai 100 juta lebih. Mereka adalah individu dengan pendapatan di bawah $2 perkapita/perhari. Kelompok masyarakat ini dapat dipastikan tidak akan mampu membayar premi dan iur tanggung secara terus menerus.
Masalah lain yang tidak kalah penting adalah paradigma dalam penyelenggaraan jaminan sosial, semestinya sistem jaminan sosial nasional merupakan tanggung jawab negara. Negara wajib memberikan jaminan sosial kepada masyarakatnya khususnya di tengah kondisi
perekonomian menghadapi krisis seperti sekarang ini. Kata pengantar kami anggap sudah dibacakan Yang Mulia. Kami langsung kepada pokok-pokok permohonan.
Pokok permohonan dan alasan-alasan hukum. Ketentuan Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menegaskan ketentuan pelaksanaan jaminan sosial yang mewajibkan kepada pesertanya membayar iuran dan iur tanggung jika sakit adalah bukti negara menegasikan kewajibannya (state obligations) untuk menjamin hak asasi warga negaranya. Hal ini telah melanggar hak konstitusional para Pemohon atas jaminan kepastian kewajiban pemilihan negara kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar sebagaimana diatur dalam Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Sistem hukum Hak Asasi Manusia Internasional menempatkan negara sebagai aktor utama yang memegang kewajiban dan tanggung jawab sementara individu termasuk juga kelompok dan rakyat berkedudukan sebagai pemegang hak. Negara dalam Sistem Hak Asasi Manusia dengan demikian tidak memiliki hak kepadanya hanya dipikulkan kewajiban atau tanggung jawab untuk memenuhi hak-hak yang dijamin di dalam instrumen-instrumen Hak Asasi Manusia Internasional tersebut. Pertanggungjawabkan negara seperti dikemukakan di atas biasanya dilihat dalam 3 bentuk.
Yang pertama adalah dalam bentuk menghormati (obligations to respect) dan yang kedua adalah dalam bentuk melindungi (obligations to protect) sementara yang terakhir adalah dalam bentuk pemenuhan (obligations to fullfill). Tanggung jawab yang pertama to respect
menuntut negara untuk tidak melanggar hak-hak asasi warga negaranya. Tanggung jawab kedua to protect menuntut negara mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melindungi hak-hak dan kebebasan warga negara di wilayahnya. Sedangkan tanggung jawab yang ketiga negara dituntut mengambil langkah-langkah yang perlu untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar warga negaranya.
Fundamental norm Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 Pasal 28I ayat (4) juga menegaskan perlindungan, pemajuan, menegakkan dan pemenuhan Hak Asasi Manusia adalah tanggung jawab negara terutama Pemerintah. Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Pasal ini mengatur kewajiban Negara di bidang kesejahteraan sosial sebagai bentuk perlindungan jaminan hak asasi konstitusional setiap warga negara. Perlindungan jaminan hak asasi hak-hak konsitusional setiap warga negara di bidang kesejahteraan merupakan bagian upaya mewujudkan Indonesia sebagai negara kesejarahteraan, sehingga rakyat dapat hidup sesuai dengan harkat, martabat kemanusian. Di dalam rumusan pasal a quo terkandung maksud untuk tetap menegakkan gagasan negara kesejahteraan sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ke dalam tatanan realitas. Negara Indonesia sebagai negara
kesejahteraan berarti terdapat tanggung jawab negara untuk mengembangkan kebijakkan negara di berbagai bidang kesejahteraan serta meningkatkan kualitas pelayanan umum yang baik melalui penyediaan berbagai fasilitas yang diperlukan oleh masyarakat. Maka sudah seharusnya Pemerintah Indonesia menjalankan amanat Undang-Undang Dasar 1945 sebagai norma dasar dalam kehidupan bernegara apalagi Pemerintah Indonesia juga telah meretafikasi hak ekonomi sosial dan budaya dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005. Maka tidak terkecuali dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional sudah seharusnya sebagai upaya maksimal untuk menjalankan hak asasi Warga Negara Indonesia sebagai bentuk jaminan kehidupan yang layak, manusiawi dan bermartabat. Maka sistem yang dibangun juga bukan justru menegasikan kewajiban yang menjadi hak sebagaimana konsepsi hak asasi manusia dalam berkehidupan bernegara. Hal ini sangat jelas dengan rumusan Pasal 17 ayat (1) yang mewajibkan setiap orang untuk membayar iuran sebagaimana rumusannya setiap peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan presentase dari upah atau satu jumlah dari nominal tertentu. Berdasarkan hal tersebut maka dengan berlakunya Pasal 17 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, berpotensi akan merugikan hak konstitusional Pemohon. Hal ini sangat jelas jika memperhatikan rumusan Pasal 28I ayat (4) perubahan kedua Undang-Undang Dasar 1945 perlindungan, pemajuan, penegakkan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab Negara terutama Pemerintah. Bahwa selain itu Pasal 8 Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga menegaskan perlindungan, pemajuan, pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah.
Pasal 71 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia merumuskan pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima Negara Republik Indonesia. Dan ditegaskan pada Pasal 72 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 meliputi implementasi efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan Negara, dan bidang lain. Sebagaimana kita ketahui objek dari jaminan sosial adalah kebutuhan dasar warga Negara untuk memastikan hidup dalam martabat kemanusiaan dan kesejahteraan. Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang rumusannya setiap pemberi kerja wajib memunggut iuran dari pekerjanya, menambahkan iuran yang menjadi kewajibannya dan membayar iuran tersebut kepada badan penyelenggara jaminan sosial
secara berkala. Ketentuan ini sesungguhnya sudah melakukan tindakan pelimpahan beban dan tanggung jawab Negara kepada warga Negara dan sektor swasta yakni perusahaan pemberi kerja. Negara mengijinkan dan melegitimasi pungutan dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerjanya yang sudah pasti membebani dan mengintimidasi pekerja dengan sistem yang masih seperti ini. Punggutan terhadap pekerja yang sebagaimana dilakukan selama ini oleh perusahaan asuransi Jamsostek telah terbukti memberatkan pekerja khususnya mereka yang memiliki upah terendah, hampir separuh pekerja di Indonesia adalah pekerja miskin pada tingkat upah rata-rata pekerja yang berlaku sekarang jika dibagikan kepada rata-rata anggota keluarga pekerja, lebih dari 45% rumah tangga pekerja dan anggota keluarganya memiliki pendapatan perkapita di bawah $2 per hari, dana yang dipunggut dari para pekerja tidak dikelola secara demokratis dan transparan. Perusahaan-perusahaan asuransi menggunakan dana pekerja untuk kepentingan bisnis yang hasilnya tidak terbukti dibagikan kepada pekerja.
Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional besarnya iuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan untuk setiap jenis program secara berkala sesuai dengan perkembangan sosial, ekonomi dan kebutuhan dasar hidup yang layak. Pasal ini potensial menimbulkan kastanisasi atas jenis pelayanan bagi warga miskin dan warga kaya serta kemampuan suatu daerah otonomi dengan daerah otonomi lainnya sehingga mengabaikan prinsip keadilan, kesetaraan dan anti diskriminasi. Nilai pungutan yang didasarkan pada pertimbangan yang sifatnya kondisional membuka peluang pemerintah menetapkan kebijakan iuran yang dapat dinaikkan sewaktu-waktu, iuran yang selama ini dipunggut dari pekerja telah terbukti tidak hanya memberatkan pekerja namun juga pengusaha di tengah kondisi lemahnya industri nasional yang cenderung mengarah pada deindustrialisasi. Dan ekonomi yang diterpa krisis berkepanjangan, kebijakan pemerintah yang memberatkan kalangan dunia usaha seharusnya dihindari. Nilai kebutuhan hidup layak ini dijadikan dasar dalam menentukan nilai iuran yang dipunggut hingga saat ini masih dipersoalkan oleh pekerja dan organisasi pekerja, nilai kebutuhan hidup layak yang ditetapkan oleh pemerintah masih jauh dari harapan pekerja sehingga punggutan mengurangi pendapatan pekerja secara signifikan. Pasal 17 ayat (4) dan (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional mereduksi kewajiban Negara atas jaminan sosial keseluruhan bagi semua warga Negara serta menegaskan bahwa orang miskin dilarang tua dan dilarang mati.
Rumusan di atas menegaskan bahwa hanya iuran tahap pertama akan dibayar oleh pemerintah sementara itu bagaimana dengan iuran tahap selanjutnya padahal iuran wajib itu yang berupa premi yang harus dibayar setiap bulan. Memperhatikan pasal 17 ayat (5) tersirat pengertian bahwa hanya iuran tahap pertama untuk jaminan kesehatan yang dibayarkan Negara sementara iuran jenis jaminan sosial lainnya,
jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan jaminan kematian tidak akan dibayarkan oleh pemerintah.
Bagaimana mungkin masyarakat miskin dapat membayar iuran untuk berbagai jenis asuransi sosial sementara untuk makan dan kebutuhan dasar sehari-hari saja sudah sangat susah. Apalagi jika memperhatikan ketentuan Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang a quo yang menegaskan bahwa iuran yang dibayarkan oleh pemerintah adalah dalam bentuk bantuan yang artinya mengikuti situasi dan keadaan ekonomi bahkan menegasi makna wajib menjadi bantuan yang artinya suka-suka, kondisional dan menunggu politikelwilpemerintah. Ketentuan
a quo secara jelas-jelas mengebiri makna Pasal 32 ayat (2), mohon maaf, Pasal 34 ayat (2) yang menegaskan negara bertanggung jawab atau menjamin kesejahteraan warga negaranya. Rumusan ini juga menegaskan tentang adanya kepentingan politik ekonomi asuransi atau orang yang sakit menjadi peserta, warga negara khususnya yang sakit telah menjadi nilai yang strategis bagi akumulasi modal yang murah dan menjadi pasar yang diciptakan oleh negara, kepentingan ini lah, yang melandasi lahirnya rumusan pasal a quo. Selain itu ada 76,4 juta rakyat miskin yang ditanggung oleh APBN dari Rp5,1 triliun data Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam program Jamkesmas yang dijalankan oleh Pemerintah.
Dalam tahun 2011 diperkirakan akan menjadi 9 triliun pada APBN 2011, dana ini akan menjadi fresh money yang sedang ditunggu-tunggu oleh perusahaan-perusahaan asuransi, bahwa seharusnya penyelenggaran sistem jaminan sosial harus dapat menjamin setiap peserta menikmati jaminan sosial dimana pun pesertanya berada di dalam wilayah Kesatuan Republik Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk semua usia dan semua penyakit bahwa seharusnya sistem jaminan sosial merupakan sistem yang bertujuan menjaga dan meningkatkan taraf kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.
Apabila ketentuan Pasal 17 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistematis Jaminan Sosial Nasional seperti tersebut di atas dilaksanakan maka ketentuan tersebut dapat berpotensi merugikan hak-hak konstitusional Pemohon dalam bentuk jaminan kesejahteraan sosial bagi fakir miskin dan anak-anak terlantar yang dijamin pada Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.
Berdasarkan semua uraian tersebut di atas maka Pemohon berkesimpulan ketentuan rumusan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Pasal 24d ayat (1), Pasal 28h ayat (2) dan ayat (3), Pasal 28i ayat (2), ayat (4) dan ayat (5), dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945.
Petitum. Petitum dalam provisi yang pertama permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional akan berdampak langsung terhadap RUU Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial yang sekarang sedang dalam proses pembahasan di dalam Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berdasarkan hal tersebut maka kami Pemohon memohon kepada Mahkamah Konstitusi agar mengeluarkan penetapan atau putusan sela untuk menghentikan sementara waktu proses pembahasan hingga keluarnya putusan atas perkara a quo, hal ini semata-mata demi efisiensi anggaran dan kepastian keberadaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Dalam pokok perkara berdasarkan uraian-uraian di atas para Pemohon memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk memeriksa dan memutus permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional khsususnya Pasal 17 terhadap Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai berikut:
1. Menerima dan mengabulkan seluruh permohonan pengujian undang-undang para Pemohon.
2. Menyatakan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional khususnya Pasal 17 bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Menyatakan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional Khususnya Pasal 17 tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.
4. Memerintahkan amar putusan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang mengabulkan permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional khususnya Pasal 17 terhadap Undang-Undang Dasar 1945 untuk dimuat dalam berita negara dalam jangka waktu paling lambat 30 hari kerja sejak putusan diucapkan.
Jika Majelis Hakim berpendapat lain mohon putuskan yang seadil-adilnya. Demikian permohonan ini kami sampaikan atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih, Jakarta, 1 Juli 2010, Hormat kami Kuasa Hukum para Pemohon, Hermawanto.
Terima kasih Yang Mulia.
5. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Baik, Saudara Pemohon atau kuasanya kami sudah membaca ditambah mendengar apa yang Saudara sampaikan, sidang ini adalah sidang yang pertama yang di dalam Mahkamah Konstitusi ini sidang pertama ini adalah sidang pemeriksaan pendahuluan dalam sidang pemeriksaan pendahuluan ini Saudara berhak untuk memperoleh nasihat dari Hakim dalam rangka kesempurnaan permohonan Saudara dan kejelasan permohonan Saudara supaya nanti manakala disidangkan dalam Pleno Mahkamah Konstitusi Saudara mudah untuk membuktikan, untuk menjelaskan dan seterusnya. Sebelum saya memberikan kesempatan kepada Bapak dan Ibu Hakim di samping saya, saya ingin terlebih dahulu menyampaikan beberapa hal. Yang pertama, ini
permohonan Saudara ini ujungnya kan sebenarnya pada petitum itu, di dalam petitum ini ada 2 hal yang saya lihat, yang pertama tentang provisi, permohonan provisi ini di dalam pengujian undang-undang tidak terdapat ketentuan yang mengaturnya sehingga kalau ini menjadi suatu kebutuhan hukum yang sangat urgent buat Saudara ini seharusnya Saudara konstruksikan secara baik-baik. Di sini ini pertimbangan Saudara hanya baru satu supaya efisien anggarannya dan ada kepastian, maka Saudara minta ada Putusan Provisi. Ini supaya diurai lebih jauh mengenai penjelasan atau argumentasi yang terdapat pada..., atau yang terkait dengan Putusan Provisi ini atau sama sekali tidak ada juga jadi masalah. Kemudian yang kedua tentang petitum angka dua dan angka tiga. Saudara di dalam argumentasi-argumentasi pada posita yang ada itu yang dimohon itu Pasal 17 gitu ya, tapi Saudara memintanya ini menyatakan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial, Nasional khususnya Pasal 17 bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, ini kan pengertiannya seluruh undang-undang ini ada bedanya kalau memohon untuk dinyatakan bertentangan itu pada pasal atau bagian pasal atau bagian dari ayat dengan seluruh undang-undang itu argumentasinya berbeda tidak seperti ini, petitum angka tiga itu kan kelanjutan saja sebenarnya dari petitum angka dua. Permohonan itu harus ferm yang mana yang Saudara mohon sebenarnya, termasuk di dalam Pasal 17 itu adalah terdapat di situ ayat (4) misalnya, iuran program jaminan sosial bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu dibayar oleh Pemerintah, itu kalau di-drop itu artinya kalau dinyatakan tidak mengikat, itu artinya fakir miskin ya nanti membayar, atau tidak ada ketentuan yang mengatur tentang itu begitu, apa ya ini Saudara sudah pasti mau minta ayat (4) itu turut dimintakan pengujian. Kalau mendengarkan argumentasi Saudara sebenarnya ini soal iuran ini kan, soal iuran mengapa soal yang iurannya sudah ditanggung itu lalu ketentuannya supaya dihapuskan. Coba itu pertimbangkan baik-baik. Kemudian selanjutnya Bapak dan Ibu Hakim barangkali. Bapak Hakim disilakan dengan hormat.
6. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI
Jadi secara umum konsekuensi dari permohonan Saudara ini kalau kemudian dikabulkan kan gitu toh ya, maka misalnya Pasal 17 ayat (1) ya “Pelaksanaan (suara tidak terdengar jelas) wajib para peserta iuran ..., sakit adalah bukti Negara..., ini komentar Saudara ini, ya? Setiap peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan presentase dari upah atau suatu jumlah nominal tertentu. Pasal ini kalau di-drop berarti tidak ada toh, kalau tidak ada lalu bagaimana? Ya, ini konsekuensinya tidak akan kesana. Lalu iuran itu, lalu apakah peserta itu selalu tidak wajib membayar ini kan tidak lucu. Nah ini perlu di..., mungkin Saudara perhatikan memang ada kelas sosial tertentu yang tidak mampu membayar sesuai dengan ini, fakir miskin yang memang
kemudian tidak mampu memenuhi jaminan sosial ini, nah kalau begitu tentunya, logikanya itu mestinya harus semacam ada apa ini afarmatir programe atau program yang memang khusus mereka tidak kena ini tetapi negaralah yang seharusnya memenuhi itu gitu ya, sehingga para peserta jaminan sosial ini tetap ada kewajiban untuk membayar. Nah, ini mungkin ada satu conditional constitution untuk hal-hal tertentu, jadi untuk hal-hal yang spesifik seperti yang Saudara perhatikan itu, menurut Saudara mustinya, sebenarnya tidak semua orang itu mampu memenuhi ini. Tapi juga sebaliknya tidak semua orang itu harus dianggap tidak mampu, kan begitu, ini kira-kira. Kemudian ketika Saudara harus mengedrop atau merumuskan petitum yang Saudara harapkan itu nanti sedemikian rupa sehingga, ya yang mampu ya harus dibayar. Yang tidak tentunya negara tidak boleh lepas tangan. Lah ini logikanya kira-kira begitu menurut saya ya, terserah kepada Saudara. Tapi mungkin ada satu kalimat yang bagi saya agak mengganggu ya, halaman 20, Pasal 17 ayat (3) besarnya iuran sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dan (2) ditetapkan untuk semua jenis program secara berkala sesuai dengan kebutuhan ekonomi dan kebutuhan dasar hidup yang layak. Potensial menimbulkan kastanisasi atas jenis pelayanan bagi warga miskin dan warga kaya serta kemampuan suatu daerah otonomi dengan daerah otonomi lainnya sehingga mengabaikan prinsip keadilan, kesetaraan dan prinsip anti demokrasi, gitu ya, diskriminasi. Di sini saya melihat tentunya, memang kemudian ketika daerah-daerah itu juga mempunyai kemampuan sendiri-sendiri untuk membayar ini justru kalau disamaratakan apa tidak malah menimbulkan jurang perbedaan, ya. Jadi daerah yang mampu memang dengan setaraf hidup dan gaji karyawan tinggi tentunya tidak sama dengan daerah yang miskin yang memang tidak mampu untuk disamakan. Artinya apa, artinya suatu ketentuan kewajiban, kewajiban memberikan iuran tidak bisa dipukul rata untuk seluruh wilayah. NTT barangkali tidak bisa disamakan dengan Jakarta. Oleh sebab itu maka kesesuaian sosial ekonomi dan kebutuhan dasar hidup yang layak ini menurut Saudara ini akan menimbulkan jenis kastanisasi.
Bagi saya tentunya justru untuk daerah-daerah yang mustinya miskin sedemikian itu memang harus mendapat subsidi dari daerah lain yang makmur atau daerah lain yang kaya. Sehingga ini Saudara katakan kastanisasi ini tentunya bisa dieliminer sepanjang bahwa kebijakan ukuran ekonomi dan keputusan dasar hidup itu tidak diterapkan secara seragam, seragam dalam arti kemampuan membayar di satu daerah tentu tidak sama dengan daerah lain. Ya tentu saja sering saya katakan
unformatif programs atau program-program yang kekhususan itu kebijakan, kebijakan kekhususan itu mustinya harus ada di dalam peraturan perundang-undangan ini agar mereka bisa tetap tertolong. Ini beberapa pandangan saya yang mungkin akan bisa menjadi bahan apakah tentang petitum Saudara itu nanti khususnya Pasal 17 itu harus bisa dibaca bagaimana, begitu lho, harus dibaca bagaimana. Tidak
dihapuskan, kalau dihapuskan malah nggak ada dasarnya nanti. Karena itu pasti merupakan suatu pertimbangan-pertimbangan yang sedemikian rupa sehingga suatu aturan yang sama untuk kelas ekonomi yang
enggak sama, itu sama tidak adilnya dengan peraturan berbeda untuk kelas ekonomi yang sama, ya toh. Kalau ada 2 kelas ekonomi ditentukan suatu pungutan yang sama itu diskriminatif. Sebaliknya ada kelas ekonomi yang sama tapi dipungut berbeda, diskriminatif juga. Kan begitu. Jadi ini saya beberapa pandangan saya ini barangkali mempunyai..., menjadi bahan bagi Saudara, jika memang itu mencocoki apa yang Saudara maksud jadi ini hanya suatu upaya pandangan yang sifatnya itu memenuhi kewajiban dari seorang Hakim untuk memberi nasehat kepada Saudara, Pasal 39 Undang-Undang Mahkamah.
Demikian Pak Ketua. Terima kasih.
7. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Ibu Hakim, disilakan.
8. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI
Terima kasih Pak Ketua. Yang pertama saya minta pada perbaikan penulisan selain Pasal halaman 21 ini kok menyebutkan Pasal 1 bukan ayat (5) tapi Pasal 1 angka 5, ayat itu juga ditulis dalam kurung, di sini nomor 40 Pasal 34 ayat (2), ayat (2) nya itu harus dalam kurung dan biasakan huruf P itu huruf besar, Pasal ya. Kemudian materinya kalau Anda meminta materi Pasal 17 ini maka 17 ini subnya kaitannya apa karena pengujian norma adalah pengujian pasal-pasal, yang tertulis di sini norma yang tertulis dalam norma 17 kemudian langsung dihubungkan ke pasal Undang-Undang Dasar kalau kita melihat pada pasal ini maka saya melihat pasal ini tidak berdiri sendiri ya, di sini dikatakan setiap peserta wajib membayar iuran yang besarnya dan seterusnya, kalau kita melihat dalam undang ini maka undang-undang ini Pasal 17 tidak bisa lepas dari makna dari apa yang ditetapkan dari sini, kalau di sini dikatakan dalam ketentuan umum undang-undang ini dinyatakan dalam angka 8 peserta adalah setiap orang termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 bulan di Indonesia yang telah membayar iuran, jadi berarti memang di sini adalah bekerja itu merupakan peserta. Di sini dikatakan bahwa iuran adalah sejumlah uang yang diatur secara teratur oleh peserta pemberi kerja dan atau pemerintah, berarti yang harus bayar iuran adalah orang yang masuk, ikut dalam badan penyelenggaraan jaminan sosial itu tidak mungkin yang lain ya kan. Nah, kemudian di sini pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah atau imbalan dalam bentuk lain juga, yang ke 12 pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan tenaga kerja atau penyelenggaraan negara yang memperkerjakan pegawai
negeri dengan membayar gaji, upah atau imbalan dalam bentuk lainnya jadi kalau kita melihat Pasal 17 ini dia tidak berdiri sendiri sehingga kita mengatakan setiap orang dan sebagainya karena mereka adalah mereka yang masuk dalam badan penyelenggara jaminan sosial tersebut sedangkan kalau dalam Pasal 17 ayat (4) di sini ini dikatakan iuran program jaminan sosial bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu dibayar oleh pemerintah, kalau ini dinyatakan kemudian tidak apa..., tidak dinyatakan bertentangan dengan konstitusi, ini malah kasihan bagi fakir miskin, karena dalam Pasal 1 ayat (5) bantuan iuran adalah iuran yang dibayarkan pemerintah bagi fakir miskin dan orang tidak mampu sebagai peserta program jaminan sosial, justru itu pasal ini memberikan jaminan bahwa fakir miskin bahkan dibayarkan iurannya oleh pemerintah jadi mohon pasal ini disesuaikan lebih dahulu dari apa yang dimaksud dengan pekerja peserta pemberi kerja dan maksud dari jaminan sosial itu sendiri, sehingga nanti kita bisa mengatakan bahwa pasal ini memang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, tapi apa yang dimaknai dalam Pasal 17 ini harus dilihat secara jelas, jangan-jangan nanti Pasal 17 dinyatakan bertentangan dengan konstitusi malah nggak ada aturannya bagi para pekerja fakir miskin dan peserta badan penyelenggara jaminan sosial tersebut. Saya rasa itu Bapak.
9. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Ya, demikian Saudara Pemohon ini kewajiban Hakim berdasarkan Pasal 39 Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, Saudara punya hak untuk memperoleh nasehat yang menjadi kewajiban Hakim tadi, sebagai hak Saudara dapat mempertimbangkan apakah permohonan ini akan diubah, disempurnakan atau Saudara sudah mantap ini saja, nah begitu, ini selanjutnya memang terserah Anda. Ada hal yang ingin Saudara kemukakan, Saudara Pemohon?
10. KUASA HUKUM PEMOHON: HERMAWANTO
Terima kasih Yang Mulia. Atas semua nasehatnya pasti kami akan menjadi bagian dalam perbaikan permohonan kami dan memang sembari kami berkonsultasi sama Majelis, kami membaca dari pada Pasal 17 pada ayat (4) ini kami tidak bisa melupakan pada Pasal 17 ayat (5) nya karena pada Pasal 17 ayat (5) ditegaskan pada tahap pertama iuran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibayar oleh pemerintah untuk program jaminan kesehatan, artinya yang kami pahami sejak kemarin sebelum pada persidangan hari ini adalah bahwa yang dijamin pada ayat (4), ditegaskan oleh pada ayat (5). Hanya untuk tahap pertama dan itu hanya untuk jaminan kesehatan, seperti itu Yang Mulia.
Terima kasih.
Ya, silakan menurut..., yang harus diingat adalah bahwa Mahkamah Konstitusi itu bukan pembentuk norma. Mahkamah Konstitusi itu apa namanya..., secara ringkas dapat disebut sebagai negative legisletter. Dalam fungsinya yang demikian itu, Saudara pertimbangkan baik-baik, apakah tidak lalu lebih penting buat Saudara ikut memberi masukan apa namanya…, undang-undang yang sekarang sedang dibentuk di DPR. Karena Mahkamah Konstitusi itu tidak dapat membentuk norma baru, kaitannya dengan fungsi itu. Oleh karena itulah maka ya, ini kembali lagi terserah Saudara dan kalau tidak ada hal lain yang ingin Saudara katakan maka sidang ini sudah dipandang cukup. Cukup? Ini waktunya 14 hari, sekarang ini kan tanggal 30 Juli, jadi 14 hari karena ini 31 berarti, ya 13, lah gitu, ya. Saudara harus sudah apa namanya…, paling lama itu kalau 3 hari selesai itu lebih baik. Kalau lewat dari 14 hari permohonan ini yang dianggap sebagai permohonan bukan perbaikan Saudara. Itu ya, dipahami. Oke, dengan demikian sidang dinyatakan selesai dan ditutup.
Jakarta, 31 Juli 2010
Kepala Biro Administrasi Perkara dan Persidangan,
Kasianur Sidauruk NIP. 19570122 198303 1 001
KETUK PALU 3X