BAB II
REASURANSI DALAM PERUSAHAAN ASURANSI
A. Pengertian Reasuransi
Dalam pasal 1 Undang-undang Nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian Usaha Reasuransi adalah usaha jasa pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi, perusahaan penjaminan, atau perusahaan reasuransi lainnya.
Untuk membahas lebih lanjut mengenai pengertian reasuransi secara umum terlebih dahulu diketahui beberapa pengertian reasuransi menurut para ahli :
1. H.A.L. Cockrell B.A., F.C.I.I.
H.A.L. Cockrell B.A., F.C.I.I. menyatakan : “Reinsurance is a system where
by the insurance who deal with the insuring public ceded all or part of an insurance to other insurers known as reinsurer the whole or part of the premium it has received, and the reinsurers, there upon agree to reimburse to the ceding company the claims (or an agreed proportion of them) which the ceding company may find it self liable to pay under the original insurance”17
Artinya : “Reasuransi adalah suatu sistem atau cara yang dengan sistem atau cara itu para perusahaan asuransi (ceding company) menyerahkan seluruh atau sebagaian dari pertanggungan yang ditutupnya kepada penanggung lain yang dikenal sebagai penanggung ulang. Dengan kata lain, perusahaan asuransi atau pemberi sesi
.
membayar kepada penanggung ulang seluruh atau sebagian premi yang diterimanya dan penanggung ulang menyetujui membayar ganti rugi kepada perusahaan asuransi dan/pemberi sesi atas klaim-klaim (atau suatu bagian yang disepakati) yang wajib dibayar oleh perusahaan asuransi di bawah pertanggungan asli”.
Dari pengertian serta penjelasan di atas, seperti halnya perjanjian asuransi, maka perusahaan asuransi yang telah mempertanggungkan ulang (kembali) sebagian atau seluruh pertanggungan yang ditutupnya berkewajiban membayar sebagian atau seluruh premi yang diterima dari tertanggung asli kepada penanggung lain. Dengan menerima sebagian atau seluruh premi tersebut penanggung ulang telah mengikatkan diri dan berjanji atau sepakat membayar ganti rugi atau santunan atas sebagian atau seluruh kerugian yang terjadi dan sah atau yang wajib ditanggung oleh perusahaan asuransi sesuai dengan persyaratan, ketentuan-ketentuan, dan klausul polis yang berlaku. Ketentuan pembayaran klaim oleh penanggung ulang yang hanya terbatas pada kerugian-kerugan yang sah, baik menurut persyaratan dan ketentuan-ketentuan serta jaminan polis yang berlaku maupun dari segi hukum asuransi, adalah sejalan dengan kata-kata to pay as may be paid.18
Dalam bukunya yang berjudul Multiple Line Insurance¸ G.F. Michelbacher membuat rumusan pengertian reasuransi sebagai berikut : “The process whereby one
insurer arranges with one or more other insurers insurance to share risk
2. G.F. MICHELBACHER
reinsurance” (Proses dengan mana satu penanggung mengatur dengan satu atau lebih
penanggung lainnya untuk membagi risiko disebut reasuransi/pertanggungan ulang).
Dari rumusan pengertian tersebut, G.F. Michelbacher mengartikan reasuransi/pertanggungan ulang sebagai suatu cara membagi risiko oleh suatu penanggung kepada penanggung lainnya sehingga dapat pula dikatakan sebagai alat atau sarana penyebaran risiko.19
“Reasuransi (pertanggungan ulang) adalah persetujuan yang dilaksanakan oleh suatu penanggung dengan penanggung lainnya yang dinamakan sebagai penanggung ulang (reasurdur), dalam persetujuan mana pihak kedua dengan menerima premi yang ditentukan terlebih dahulu bersedia memberikan penggantian kepada pihak pertama, mengenai penggantian kerugian yang pihak pertama wajib membayarnya kepada tertanggung akibat dari suatu pertanggungan yang diadakan antara pihak pertama dan tertanggung”.
3. MOLLENGRAF
Sebagaimana dikutip dan diterjemahkan oleh J.E. Kaihatu dalam bukunya yang berjudul Asuransi Pengangkutan (hal.191), Mollengraaf menyatakan:
20
Dalam bukunya yang berjudul Life Insurance dikemukakan pengertian reasruansi sebagai berikut : “Reinsurance is a devide by which one insurance or
insurer to another company or insurer”. (Reasuransi/pertanggungan ulang adalah
suatu cara atau alat dengan mana suatu perusahaan asuransi atau sebagian risikonya 4. M.MC. GILL, Ph.D., C.L.U
19Ibid, hlm.14 20Ibid
di bawah polis pertanggungan jiwa kepada perusahaan asuransi atau penanggung lainya). Dari pengertian sebagaiman tersebut di atas, M. MC. GILL, P.hD., C.L.U. lebih menekankan pada aspek teknis dan hukum dalam arti pengalihan risiko dari sautu penanggung kepada penanggung lainnya.
5. R.C. REINARZ
“Reasuransi adalah akspetasi oleh suatu penanggung yang dkenal sebagai reasurdur/penanggung ulang atas semua atau sebagian risiko sebagian risiko kerugian dari penanggung lainnya yang disebut pemberi sesi (ceding company)”.21
Dalam bukunya yang berjudul The Law and Practice Of Reinsurance (hal.5 Bab II) diberikan rumusan reasuransi yang dapat dikatakan sebagai pengertian reasuransi secara otentik/hukum seperti halnya yang ditulis oleh Mollengraaf, yaitu :“A reinsurance transaction is an agreement made by two parties, called ceding
company and reinsurer respectively, whereby the ceding company agrees to cede and reinsurer agrees to accept a certain dixed share of risk upon terms as set out in the agreement”. (Suatu transaksi reasuransi adalah suatu persetujuan yang dilakukan
antara dua pihak, yang masing-masing disebut pemberi sesi/ceding company menyetujui menyerahkan dan penanggung ulang/reasurdur menyetujui menerima 6. C.E. GOLDING, LL.D., F.C.I.I
suatu risiko yang telah ditentukan dengan persyaratan yang ditetapkan dalam perjanjian).22
Berdasarkan pada berbagai pendapat para pakar tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian reasuransi jika dilihat dari aspek hukum adalah suatu perjanjian antara satu penanggung dengan satu atau lebih penanggung ulang dan/atau reasurdur. Penanggung wajib memberi dan penanggung ulang sepakat wajib menerima seluruh atau sebagian risiko yang diberikan kepadanya. Seperti halnya asuransi, perjanjian pertanggungan ulang dan/atau reasuransi juga bersifat imbal 7. R.L. CARTER
Dengan mengacu pada buku yang ditulis oleh C.E. Golding LL.D, F.C.I.I. dan W.A. Dinsdale Specimen of insurance Forms and Gloceries, (2nd Edditi on-page 142), R.L. Carter mengemukakan definisi singkat reasuransi sebagai berikut:
“The insurance of contractual liabilities incurred under contracts of direct
insurance or reinsurance”.
(Pertanggungan kontrak tanggung gugat (liabilities) yang terjadi di bawah kontrak asuransi atau reasuransi).
Dalam definisi singkat ini R.L. Carter telah merangkum masalah asuransi yang dipertanggungkan kembali yang disebut sebagai resuransi dan juga tentang bisnis atau akseptasi reasuransi yang dipertanggungkan kembali yang penanggungnya disebut sebagai Retrocessionaire dan sesinya disebut retrosesi.
balik. Perjanjian ini menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban antara kedua pihak. Oleh karena itu, penanggung ulang juga berhak menerima seluruh atau sebagaian premi yang diterima oleh penanggung pertama berdasarkan polis yang telah diterbitkannya.
Apabila kedua pihak telah mencapai mufakat melalui musyawarah atau perundingan transaksi reasuransi, segala persyaratan dan ketentuan-ketentuan yang telah disetujui wajib dituangkan dalam naskah perjanjian dan/atau nota penutupan reasuransi (Treaty wording/Reasurance Cover Note) sesuai dengan metode reasuransi yang digunakan.
Berbeda dengan pengertian reasuransi dari aspek teknis, yang lebih mendasarkan arti pada cara atau alat pengalihan beban risiko dan/atau pembagian risiko (distribution of risk) atau penyebaran risiko (spreading of risk), pengertian reasuransi dari aspek hukum lebih menitikberatkan pada perjanjian pengalihan seluruh atau sebagian risiko dari pihak perusahaan asuransi atau penanggung pertama kepada penanggung ulang.
Dalam hal ini kepentingan yang dipertanggungkan ulang adalah kepentingan penanggung berupa “tanggung gugat dan/atau liability” yang dapat timbul setiap waktu akibat perjanjian asuransi yang telah diadakan dengan pertanggungan asli. Dengan menerima seluruh atau sebagian premi yang diterima dari pihak penanggung pertama, penanggung ulang dan/atau reasurdur wajib membayar ganti kerugian dan/atau pemulihan ganti rugi kepada penanggung pertama atas semua kerugian yang
wajib dibayar berdasarkan persyaratan, ketentuan, dan jaminan yang ditegaskan dalam polis serta lampiran yang merupakan bagian tak dapat dipisahkan dari polis yang bersangkutan.
B. Para Pihak dalam Reasuransi
Dalam dunia perdagangan pada umumnya telah menjadi kebiasaan bahwa bukan hanya dua pihak terkait yang mempunyai hubungan mendasar dalam pelaksanaan bisnis yang diperjanjikan atau dipercayakan, melainkan dapat melibatkan pihak ketiga yang mempertemukan kedua pihak yang melakukan transaksi bisnis.
Seperti layaknya dalam transaksi bisnis asuransi, transaksi reasuransi adakalanya dijalankan oleh tiga pihak, meskipun dalam transaksi reasuransi domestik lebih banya dilakukan secara langsung antara penanggung pertama/ceding company dan para penanggung lain yang dikenal sebagai penanggung ulang.
Dengan demikian, dalam transaksi reasuransi dapat terlibat tiga pelaku aktif, yaitu:
1. Penanggung pertama, yang lazim disebut pembeli jasa reasuransi,
2. penanggung ulang atau penanggung lain yang bertindak sebagai penjual jasa reasuransi,
3. pialang (broker) reasuransi, yang bertindak sebagai perantara yang pada saat tertentu bisa ditunjuk dan/atau bertindak sebagai underwriting agent atas dasar surat penunjukan atau naskah perjanjian.
Di dalam praktek, yang bertindak sebagai underwriting agent bukan hanya pialang asuransi/reasuransi, melainkan juga para penanggung lain atau penanggung ulang yang atas dasar perjanjian melakukan akseptasi reasuransi untuk dan atas nama para penanggung lain yang memberikan kepercayaan kepadanya.
Penanggung pertama (direct insurer), sebagai pembeli jasa reasuransi, mengikatkan diri dengan penanggung lain bersedia memberikan sesi dan penanggung lain, sebagai penjual jasa reasuransi, mengikatkan diri bersedia menerima sesi dan/atau ikut serta menanggung sebagian risiko yang dijamin oleh penanggung pertama berdasarkan polis yang diterbitkannya.23
Hubungan yang terjadi antara penanggung pertama dengan penanggung ulang adalah perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama sama halnya dengan tertanggung yang mempunyai risiko terhadap konsekuensi dengan tertanggung yang mempunyai risiko terhadap konsekuensi keuangan tertentu karena terjadinya suatu persitiwa yang belum pasti terjadi. Konsekuensi keuangan yang timbul belum pasti dapat diatasi sendiri dan dapat dipikulnya sendiri. Oleh karena itu penyebaran dan peralihan risiko merupakan salah satu upaya untuk mengatasi konsekuensi tersebut. Penanggung pada umumnya menempuh salah satu upaya yang efektif untuk
mengatasi kesulitan-kesulitan itu dengan cara reasuransi, karena reasuransi dapat melaksanakan fungsi mengalihkan dan menyebarkan risiko.24
Eksistensi pialang reasuransi di Indonesia muncul secara resmi pada tahun 1988 sejak dikeluarkannya Keppres No. 40 tahun 1988 dan SK Menteri Keuangan No. 1249/Kep/MK.13/1989 yang menegaskan dan/atau mengatur bahwa pialang asuransi juga dapat melakukan kegiatan sebagai pialang reasuransi seperti halnya yang lazim terjadi di luar negeri.25
Peranan pialang sebagai perantara antara penanggung pertama dengan penanggung ulang sebagai berikut, yaitu26
a. Pialang reasuransi memberikan konsultasi kepada penanggung pertama dalam bentuk rancangan dan program reasuransi dan/atau mempertahankan suatu program reasuransi yang baik. Di samping itu, pialang reasuransi juga akan selalu memberikan informasi tentang situasi pasar secara terus menerus dan perihal situasi pasar secara terus menerus dan perihal situasi pasar yang dapat berubah-ubah setiap saat. Mereka juga akan memberitahukan kepada penanggung pertama mengenai bentuk baru dari jaminan reasuaransi yang tersedia.
:
24
Sri Rejeki Hartono,Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi,(Jakarta : Sinar Grafika, 1992) hlm. 144
25 A.J. Marianto, Op.Cit, hlm. 30 26Ibid, hlm 31-32
b. Pialang reasuransi wajib mencarikan penanggung ulang yang terbaik dan terpercaya bagi penanggung pertama. Untuk keperluan ini pihak reasuransi harus melakukan penilaian atas kemampuan penanggun ulang dalam menyerap excess liability dari segi likuiditas/solvabilitas, pelayanan yang diberika, dan dari segi lain, misalnya manajemen dan reputasi penanggung ulang.
c. Pialang reasuransi akan menyusun suatu kapasitas reasuransi yang terbiak bagi penanggung pertama dengan segala persyaratan yang tepat, cocok, dan wajar bagi kepentingan penanggung pertama dan para penanggung ulang. d. Pialang reasuransi mempersiapkan kontrak reasuransi yang jelas bagi kedua
belah pihak agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda.
e. Meneliti, menganalisis, dan mengkaji lebih dahulu naskah kontrak reasuransi yang dipersiapkan penanggung ulang.
f. Mengatur penandatanganan naskah kontrak reasuransi dan selanjutnya menyampaikannya kepada para pihak yang bersangkutan.
g. Pialang reasuransi mengatur segala macam dokumen transaksi reasuransi yaitu berkenaan dengan segala arus dokumen untuk kedua belah pihak, memberikan segala pelayanan penyelesaian klaim, dan lain-lain.
h. Pialang reasuransi harus bertindak objektif dan tidak memihak di dalam perjanjian reasuransi.
C. Hubungan Antara Asuransi dan Reasuransi
Perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama yang telah mengadakan/menutup perjanjan dengan nasabahnya, mempunyai beban-beban tertentu yang menempatkan perusahaan asuransi harus mengambil langkah-langkah tertentu sebagai pengaman. Tindakan tersebut perlu diambil, mengingat kedudukan dan beban risiko yang ada padanya relatif menjadi bertambah. Bertambahnya beban risiko pihak lain menjadi beban sendiri sangat perlu dilimpahkan lagi kepada pihak lain, yaitu dengan reasuransi. Meskipun demikian, antara asuransi dan reasuransi masih tetap dapat ditemukan beberapa sifat yang menunjukkan karakteristik masing-masing dengan adanya persamaan dan perbedaan-perbedaan tertentu.
Adapun persamaan dan perbedaan asuransi dengan reasuransi adalah sebagai berikut:27
a. Asuransi merupakan suatu perjanjian yang diadakan oleh pihak pertama yaitu perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama dengan pihak kedua yaitu mereka yang mempunyai kepentingan, biasanya anggota masyrakat, baik orang-perorangan atau lembaga/badan usaha sebagai anggota masyrakat.
Reasuransi juga merupakan suatu perjanjian yang diadakan antara pihak pertama yaitu perusahaan asuransi sebagaia penanggung pertama dengan pihak kedua yaitu perusahaan reasuransi sebagai penanggung ulang.
b. Obyek perjanjian asuransi dapat meliputi semua kepentingan, baik yang menyangkut hak milik kebendaan atau hak-hak lain termasuk tanggung jawab dari orang-perorangan secara individual antara kelompok sebagai anggota masyarakat.
Perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama secara langsung berhubungan dengan konsumen jasa asuransi yang mempunyai kepentingan untuk diasuransikan.
Sedangkan objek perjanjian reasuransi adalah tanggung jawab perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama terhadap konsumen/nasabahnya. Jadi penanggung ulang dalam reasuransi tidak berhubungan langsun dengan konsumen jasa asuransi, melainkan dengan perusahaan asuransi.
c. Tidak semua jenis perjanjian asuransi tunduk pada asas ganti kerugian/asas indemnitas, misalnya pada perjanjian asuransi jiwa, asuransi kecelakaan pribadi atau asuransi sakit.
Perjanjian reasuransi merupakan perjanjian yang mempunyai tujuan memberikan ganti kerugian, dengan tolok ukur tertentu. Oleh karena itu perjanjian reasuransi pada hakikatnya memang tunduk pada asas indemnitas.
Secara umum dapat dikatakan bahwa hubungan antara asuransi dan reasuransi merupakan suatu hubungan kerja sama dengan saling ketergantungan dan keterlibatan sedemikian rupa yang dilakukan oleh para pihak atas dasar asas timbal balik (reciprocipal basis).
Hubungan hukum tersebut terjadi dalam berbagai bentuk jenis perjanjian-perjanjian reasuransi. Jadi secara teknis peran reasuransi terhadap kegiatan asuransi adalah melindungi penanggung pertama terhadap insolvency (kemampuan melakukan pembayaran) yang dapat menjamin stabilitas usaha asuransi pada umumnya.
Stabilitas perusahaan yang dapat dicapai oleh perusahaan asuransi, sangat penting sebagai faktor pendukung bagi perkembangan usaha asuransi, bauk di negara-negara berkembang atau negara-negara lain.
Oleh Dr. F.L Tuma menyebutkan bahwa tujuan reasuransi dinyatakan bersifat teknis, yang dapat menundudukkan perusahaan asuransi pada satu posisi yang aman dalam hal pertanggungan jawab konsekuensi material pasti terjamin oleh reasuransi. Oleh karena itu kemampuan untuk membayar pasti dapat dijaga oleh perusahaan asuransi yang bersangkutan demi kepentingan para nasabah yang telah mempercayakan risikonya kepada perusahaan asuransi.28
28Ibid, hlm. 147
Meskipun demikian tujuan reasuransi yang bersifat teknis tersebut memerlukan pengaturan dengan tata cara dan aturan main yang jelas agar para pihak yang berkepentingan benar-benar dapat menarik manfaat daripadanya.
Oleh karena itu tata kerja hubungan para pihak perlu diberi rambu-rambu sedemikian rupa sehingga keduanya tetap dalam keseimbangan tertentu sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing.
Hubungan yang tercapai antara asuransi dan reasuransi dalam keadaan memenuhi kebutuhan masing-masing dapat menciptakan pasar reasuransi. Pasar termaksud dapat dalam lingkungan nasional atau lebih luas dalam lingkungan internasional.
Jasa reasuransi pada dasarnya hanya dibeli oleh perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama.
Para penulis pada umumnya menyatakan bahwa hubungan yang terjadi antara penanggung pertama dengan penanggung ulang terjadi atas adanya suatu perjanjian, yaitu perjanjian reasuransi.29
29Ibid, hlm. 148.
Dalam membentuk perikatan pertanggungan ulang, baik penanggung pertama (ceding company) maupun pihak penanggung ulang wajib selalu berpegang tegu pada suatu prinsip yang sangat mendasar sesuai dengan norma-norma hukum yang berlaku dalam bidang industri asuransi.
Hubungan antara penanggung ulang (ceding company) dan para penanggung ulang yang sangat mendasar berpijak pada lima prinsip asuransi dan ditambah dengan satu prinsip lainnya yang disebut prinsip/asas Follow the fortunes of the ceding
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dijelaskan bagaimana kedua pihak yang mengadakan kerja sama reasuransi harus taat dan melaksanakan enam prinsip sebagai landasan pelaksanaan membentuk perjanjian reasuransi/pertanggungan ulang.
a. Prinsip Iktikad Baik
Seperti halnya yang berlaku pada setiap perikatan, semua perjanjian harus dilakukan berdasarkan iktikad baik, termasuk perjanjian asuransi dan reasuransi. Berdsasarkan prinsip ini, kedua pihak, baik penanggung pertama (ceding company) maupun penanggung ulang (reinsurer), wajib melakukan sesuatu yang tidak bertentangan atau tidak melanggar undang-undang.
Yang dimaksud dengan melakukan sesuatu dalam pelaksanaan perjanjian reasuransi adalah bahwa pihak penanggung wajib pula melakukan pengungkapan dan/atau memberitahukan segala data dan keterangan tentang objek dan/atau kepentingan yang ditanggung olehnya. Dengan kata lain, pihak penanggung pertama, seperti halnya tertanggung asli dalam perjanjian asuransi, tidak diperkenankan atau dilarang menyembunyikan segala data atau keterangan yang selayaknya diketahui oleh penanggung ulang berhubung dengan keikutsertaan mereka dalam menanggung seluruh atau sebagian risiko.
Apabila penanggung pertama telah melakukan kesengajaan menyembunyikan fakta, berarti mereka telah melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan undang-undang atau melanggar iktikad baik yang dapat menyebabkan dibatalkannya
perjanjian reasuransi yang telah terbentuk. Lebih-lebih terjadi unsur penipuan, perjanjian reasuransi yang telah dibentuk akan menjadi batal dengan sendirinya menurut hukum sebagaimana yang telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1321 yang berbunyi sebagai berikut:
“Tiada suatu persetujuan pun mempunyai kekuatan jika diberikan karena kekhilafan atau diperoleh dengan paksaan atau penipuan.”
Demikian pula sebaliknya, pihak penanggung ulang juga wajib mengikuti asas/prinsip iktikad baik, misalnya telah mengetahui dengan benar bahwa yang diasuransikan itu sudah tidak ada risikonya, mereka juga tidak dibenarkan menerima tawaran reasuransi yang diajukan kepadanya. Di samping itu, penanggung ulang, dalam hal terjadi klaim yang wajib dibayar oleh penanggung pertama, tidak diperkenankan melakukan penolakan atau penundaan penyelesaian klaim yang menjadi tanggung jawabnya dengan berbagai dalih.30
b. Prinsip Kepentingan yang Dapat Dipertanggungkan
Sebagaimana yang telah diatur dalam hukum asuransi di Indonesia (KUHD Pasal 250), pihak tertanggung wajib memiliki kepentingan pada saat mengadakan perjanjian asuransi, kecuali dalam hal pertanggungan laut yang memungkinkan pihak tertanggung mengadakan perjanjian asuransi berdasarkan persyaratan lost or not lost (KUHD Pasal 598 berkaitan dengan pasal 270). Dengan persyaratan tersebut, pihak
tertanggung wajib membuktikan diri bahwa dialah yang mempunyai kepentingan atas objek yang dipertanggungkan pada saat terjadi kerugian.
Asas ini juga berlaku pada perjanjian reasuransi. Dengan melakukan atau menerima penutupan pertanggungan, pihak penanggung telah memiliki kepentingan yang timbul karena adanya perikatan, yaitu tanggung jawab/gugat atas klaim yang terjadi akibat peristiwa yang diperjanjikan. Dengan perkataan lain, penanggung akan selalu menghadapi kemungkinan terjadinya tuntutan ganti rugi yang dapat timbul setiap saat atas pertanggungan yang ditutupnya. Oleh karena itu, berdasarkan KUHD pasal 271, penanggung berhak sekali lagi mempertanggungkan ulang/kembali pertanggungan yang ditutupnya.
Kepentingan pihak penanggung pertama yang timbul karena adanya perikatan pertanggungan adalah sah menurut hukum sebagaimana dimaksud dalam KUHD pasal 268yang berbunyi:
“ Pertanggungan dapat menjadikan sebagai pokok yakni semua kepentingan yang dapat dinilai dengan uang, dapat terancam bahaya dan tidak dikecualikan oleh undang-undang.”
Sejalan dengan ketentuan hukum asuransi yang berlaku, setiap orang atau badan usaha yang mempunyai kepentingan dapat mengadakan perjanjian asuransi, termasuk penanggungan juga berhak mengadakan perjanjian reasuransi dengan para penanggung lain. Seperti halnya asas atau prinsip iktikad baik, asas atau prinsip
kepentingan yang dapat dipertanggungkan (termasuk prinsip-prinsip lainnya) merupakan landasan yang sangat mendasar terciptanya hubungan antara penanggung pertama dan para penanggung ulang.31
c. Prinsip Ganti Rugi (Indemnitas)
Sebagaimana yang berlaku pada perjanjian pertanggungan, penggantian dan/atau pemulihan yang dapat dilaksanakan oleh para penanggung ulang hanya terbatas pada kerugian sebenarnya yang dibayarkan oleh penanggung pertama kepada tertanggung asli sesuai dengan persyaratan dan ketentuan polis yang berlaku serta sah menurut hukum. Jumlah penggantian yang dibayar oleh para penanggung ulang kepada penanggung pertama haruslah sebanding dengan saham atau penyertaannya dalam reasuransi. Dengan perkataan lain, pihak penanggung pertama tidak berhak memperoleh penggantian kerugian lebih besar dari kerugian sebenarnya yang harus mereka tanggung. Dalam melakukan perhitungan kerugian, penanggung pertama harus selalu memperhatikan segala kemungkinan adanya penetapan harga pertanggungan di atas atau di bawah harga sebenarnya dari objek yang dipertanggungkan, pertanggungan ganda, pertanggungan bersama dan juga harus selalu memperhatikan prinsip-prinsip yang telah dijelaskan di atas.
Mengingat tanggung jawab/gugat penanggung ulang hanya terbatas oada klaim yang sah dan wajib dibayar oleh penanggung pertama maka pihak penanggung dituntut melakukan penyelesaian klaim dengan jeli sesuai dengan profesinya.32
d. Prinsip Subrogasi
Berdasarkan prinsip ini, penanggung yang telah melakukan pembayaran ganti kerugian yang sah kepada tertanggung berhak menggantikan kedudukan pihak tertanggung untuk memperoleh pemulihan dan/atau menuntut ganti rugi pada pihak ketiga yang berdasarkan hukum wajib bertanggungjawab atas segala kerugian yang terjadi akibat kesalahan atau kelalaian mereka.
Dalam hal reasuransi dan ko-asuransi yang telah mereka adakan dengan para penanggung atau penanggung lain, sehubungan dengan kedua prinsip yang akan dijelaskan kemudian (prinsip kontribusi dan follow the fortune, termasuk dalam hal pertanggungan bersama), apabila penanggung pertama menggunakan hak subrogasi dan/atau melakukan tuntutan ganti kerugian terhadap pihak ketiga, mereka dianggap bertindak untuk dan atas nama para pihak yang bersangkutan. Karenanya, penanggung ulang atau penanggung lain yang menutup pertanggungan bersama juga berhak menikmati atau memperoleh hasil pemulihan (recoveries) sesuai dan sebanding dengan penyertaannya dalam reasuransi dan ko-asuransi.33
e. Prinsip Kontribusi/Saling Menanggung
Prinsip kontribusi atau saling menanggung ini pada hakikatnya bukan hanya berlaku dalam hal asuransi, melainkan juga berlaku dalam hal reasuransi. Seperti yang telah disinggung pada saat menjelaskan hubungan mendasar antara penanggung
32
Ibid, hlm. 26
pertama dan penanggung ulang tentang prinsip ganti kerugian (indemnitas) yang juga menganut ketentuan tolok ukur ganti kerugian dan ketentuan lainnya yang telah dijelaskan di muka, prinsip kontribusi juga dipakai sebagai dasar menentukan pembagian risiko dan/atau sesi kepada para pihak yang bersangkutan, termasuk pembagian beban klaim yang harus ditanggung bersama sesuai dengan saham atau penyertaannya dalam hal asuransi, ko-asuransi, dan reasuransi. Dalam hal asuransi di bawah harga, kontribusi dilaksanakan antara penanggung dan tertanggung dalam hal ini tertanggung ikut serta menanggung sebagian risiko atas kepentingan yang dipertanggungkan, sedangkan dalam hal reasuransi, kontribusi dilaksanakan antara penanggung pertama dan penanggung ulang.
f. Prinsip Follow the Fortune Of the Ceding Company
Sebelum memberikan penjelasan tentang pelaksanaan prinsip ini, satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa prinsip mengikuti keberuntungan penanggung pertama tidak boleh diartikan secara luas dan tanpa batas. Sebagaimana telah dikemukakan dalam butir C di atas, tanggung jawab penanggung ulang dalam hal reasuransi hanyalah terbatas pada klaim yang sah dan wajib dibayar oleh penanggung pertama sesuai dengan jumlah kerugian sebenarnya. Sekalipun berdasarkan teori maupun praktek penanggung ulang dapat diminta persetujuannya untuk menyetujui penyelesaian klaim atas dasar kompromi atau ex-gratia, penanggung pertama harus mempunyai argumentasi dan pertimbangan komersial
bahwa kebijaksanaan itu berlandaskan pada perhitungan untung rugi demi kepentingan bersama.
Dalam hal terjadi kesalahan atau keteledoran penanggung dalam menentukan keabsahan/kesahian atau pengkajian risiko (misalnya dalam menentukan MPL)(marginal product of labor, MPL adalah jumlah output tambahan yang didapat perusahaan dari satu unit tenaga kerja tambahan dengan modal tetap), hal ini harus diartikan sebagai ketidakberuntungan (misfortune) dan pihak penanggung ulang tidak harus mengikutinya.
Sebagaimana yang dapat diketahui dalam praktek, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan oleh kedua pihak maka daam pasal tertentu naskah kontrak reasuransi selalu dicantumkan klausul yang menyatakan bahwa dalam penyelesaian klaim atas dasar kompromi atau ex-gratia yang akan dilakukan oleh pihak penanggung pertama harus memperoleh persetujuan lebih dahulu dari penanggung ulang yang bertindak sebagai leading reinsurer atau penanggung ulang yang bersangkutan dalam hal tidak ada yang bertindak selaku leading reinsurer.
Contoh dalam hal mana penanggung ulang akan selalu mengikuti keberuntungan penanggung pertama adalah apabila penanggung berhasil dalam menggunakan hak suboragasinya. Para penanggung ulang juga berhak ikut serta menikmati hasil pemulihan yang diperoleh dari pihak ketiga, termasuk penanggung lain yang bertindak selaku co-insurer.
Istilah mengikuti keberentungan penanggung pertama/pemberi sesi (follow the
fortune of the ceding company) dapat diartikan juga dengan isitilah “mengikuti suka
dukanya penanggung pertama/pemberi sesi”, dalam arti sebagai berikut:34
a. Bila penanggung pertam/pemberi sesi mengalami kerugian karena besarnya klaim yang harus dibayar, secara seimbang pihak penanggung ulang juga akan mengikuti hasil yang tidak menguntungkan.
b. Sebaliknya, apabila hasil underwriting pihak penanggung pertama pemberi sesi reasuransi menunjukkan hasil yang baik dan menguntungkan pihak penanggung ulang juga akan dapat menikmati keberuntungan pihak penanggung pertama/pemberi sesi.
c. Bila pemberi sesi/penanggung pertama berhasil memperoleh hasil pemulihan (recoveries) dari pihak ketiga, penanggung ulang juga berhak memperoleh sebagian hasil pemulihan tersebut, seimbang dengan saham kepesertaan mereka dalam kontrak reasuransi.
Sebagai tambahan penjelasan tersebut di atas, perlu dipahami bahwa sekalipun pialang reasuransi mempunyai peranan penting dalam perolehan bisnis atau mempertemukan pihak penanggung pertama dengan penanggung ulang, kecuali dalam hal yang berkaitan dengan masalah operasional dan pelaksanaan tugasnya
dalam masalah administrasi, konsultasi serta tugas-tugas lainnnya sebagai pialang reasuransi.
D. Dasar Hukum Berlakunya Reasuransi di Indonesia
Perusahaan asuransi, sebagai perusahaan jasa yang menawarkan jasa proteksi, berusaha dapat menampung semua permintaan sebanyak daya tampungnya atau kepastiannya secara maksimal. Perusahaan juga berusaha secara insentif agar dapat menghasilkan pemasukan secara maksimal dengan maksud dapat menggalang keuntungan maskimal pula. Untuk itu perusahaan pasti mengadakan suatu sistem pemasaran sedemikian rupa guna memajukan usahanya.
Menurut Sri Rejeki Hartono, bahwa pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan asuransi antara lain mempergunakan dua cara pemasaran:35
1) Melalui penawaran umum, dengan mempergunakan sarana media cetak, media visual maupun cara-cara pendekatan massa yang lain.
2) Melalui penawaran terbatas, antara lain mempergunakan sistem relasi, hubungan kerja, melalui jalur formal atau tidak formal.
Dengan mempergunakan penawaran umum dan penawaran terbatas sebagai salah satu cara pemasaran, maka perusahaan asuransi dapat meningkatkan produktivitasnya secara maksimal. Sebagai konsekuensinya, perusahaan asuransi
yang merupakan wahana penampung risiko, menjadi makin bertambah pula tanggung jawabnya.
Makin tinggi produktivitasnya yang dapat dicapai, menyebabkan makin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya. Hal ini memberikan peluang yang makin besar pula untuk memenuhi kewajiban pada suatu waktu di kemudian hari. Keadaan ini sama sekali tidak dapat dihindarkan demikian saja oleh perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama. Risiko yang semula ada pada tertanggung, dialihkan kepada perusahaan asuransi sebagai penanggung berdasarkan perjanjian asuransi yang telah diadakan.
Dengan demikian posisi perusahaan asuransi menjadi pusat konsentrasi risiko dari berbagai pihak dengan berbagai jenis dan berbagai kapasitas dan tersebar di berbagai tempat/lokasi.
Kedudukan perusahaan asuransi sebagai pusat konsentrasi risiko, secara intern merupakan satu keadaan yang harus diatasi dengan penuh perhitungan yang tepat dan aman. Salah satu cara untuk mengatasinya ditawarkan oleh ketentuan hukum, yaitu pasal 271 KUHD yang berbunyi :
”Penanggung selalu dapat mempertanggungkan lagi hal yang telah ditanggung olehnya”.
Pasal 271 KUHD hanya memberikan peluang, memberi kesempatan sebagai suatu hak-hak yang diberikan oleh pasal 271 KUHD pada dasarnya merupakan satu
kebebasan bagi yang mempunyainya, apakah akan memanfaatkan atau tidak. Jadi perusahaan asuransi sebagai penanggung adalah pemegang hak berdasarkan pasal 271 KUHD, tetapi mempunyai kebebasan penuh, apakah akan mengasuransikan risikonya kepada penanggung lain atau tidak.
Dari hasil penelitian yang diperoleh gambaran, bahwa semua perusahaan asuransi baik itu perusahaan asuransi kerugian atau perusahaan asuransi jiwa memanfaatkan atau mempergunakan hak yang diberikan oleh pasal 271 KUHD. Jadi dapat dikatakan pemakaian hak untuk mereasuransikan lagi berdasarkan pasal tersebut pasti dipergunakan secara maksimal. Pemanfaatan hak oleh perusahaan-perusahaan asuransi atas pasal 271 KUHD meskipun dapat dikatakan mutlak di dalam penelitian, berdasarkan wawancara yang lebih mendalam masih dapat ditemukan bebearapa catatan-catatan penting. Catatan penting yang dimaksud adalah beberapa hal dan tindakan lain yang tetap dilaksanakan oleh penanggung dalam rangka memanfaatkan hak berdasarkan pasal 271 KUHD. Secara umum juga dapat diungkapkan bahwa pelaksanaan dan pemanfaatan pasal 271 KUHD tersebut adalah atas pertimbangan-pertimbangan non yuridis antara lain faktor manajemen dan teknik asuransi.36
Kegiatan reasuransi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asuransi dan perusahaan-perusahaan reasuransi, membutuhkan suatu perangkat peraturan tertentu. Pengaturan terhadap kegiatan reasuransi tersebut dipandang perlu mengingat di dalam
kegiatan tersebut tercakup berbagai, kepentingan, baik kepentingan-kepentingan langsung maupun kepentingan-kepentingan lain yang tidak langsung. Oleh karena itu pengaturan yang ideal adalah suatu pengaturan yang dapat memberikan perlindungan hukum serta kepastian hukum bagi siapapun yang kepentingannya langsung dan tidak langsung terlibat dalam kegiatan reasuransi yang dilakukan perusahaan-perusahaan asuransi dengan perusahaan-perusahaan reasuransi. Kegiatan reasuransi pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang berlandaskan pada perjanjian reasuransi yang telah diadakan oleh para pihak. Perjanjian tersebut pada hakekatnya hanya mengikat dan untuk kepentingan para pihak yang bersangkutan saja.
Pada dewasa ini pengaturan mengenai reasuransi di Indonesia itu sendiri diatur dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian yang dicabut dan diganti dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian yang dimana pelaksanaan peraturan tersebut dan pengawasannya dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan sesuai dalam BAB XIII tentang Pengaturan dan Pengawasan dari pasal 57 sampai pasal 69, berbeda dengan Undang-undang sebelumnya yang dimana pengawasan dan pengaturannya dilakukan oleh Menteri Keuangan.
E. Metode Reasuransi dan Bentuk-bentuk Reasuransi
Dalam menjalankan usaha asuransi tentunya perusahaan asuransi akan menghadapi risiko-risiko yang belum tentu dalam penyelesaian risiko tersebut perusahaan asuransi dapat menyelesaikannya sendiri tanpa mengetahui terlebih dahulu metode pengelolalaan risiko atau dalam hal ini metode yang digunakan dalam pengelolaan risiko perusahaan asuransi adalah metode reasuransi dan juga terdapat bentuk-bentuk reasuransi yang perlu diketahui agar dalam pengelolaan risiko tersebut perusahaan asuransi dapat memilih dan menerapkan metode dan bentuk reasuransi yang tepat untuk kelangsungan kegiatan perusahaannya tersebut.
Sebelum membahas mengenai metode dan bentuk-bentuk reasuransi, terlebih dahulu kita mengenal pengertian risiko menurut beberapa ahli, yaitu:
1. GUNANTO37
Menyatakan bahwa risiko merupakan inti dalam asuransi. Namun ia mengatakan bahwa belum dicapai kata sepakat antara para ilmuwan mengenai definisi risiko yang dapat digunakan pada setiap bidang (termasuk asuransi) dengan sama mudahnya, bahkan di kemudian haripun tidak.
2. PROF. EMMY PANGARIBUAN SIMANJUNTAK38
Setiap manusia yang menghadapi kemungkinan akan kehilangan miliknya karena berbagai sebab, ia disebut mengahadap risiko.
37 H. Gunanto, Asuransi Kebakaran di Indonesia, (Jakarta : Tiara Pustaka, 1984) hlm. 22 38 Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Hukum Pertanggungan dan perkembangan (Badan
3. HERMAN DARMAWI39
Risiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa risiko selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan yang tidak diduga/ tidak diinginkan. Dengan demikian risiko mempunyai karakteristik :
1. Merupakan ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa.
2. Merupakan ketidakpastian bila terjadi akan menimbulkan kerugian
Berbicara tentang metode dan tipe-tipe reasuransi, harus kita bedakan arti antara istilah metode reasuransi dan tipe reasuransi untuk menghindarkan kerancuan dan kesalahpahaman. “Metode reasuransi” hendaknya diartikan sebagai cara bagaimana para pelaku pasar reasuransi itu melakukan kerja sama reasuransi, sedang “tipe reasuransi” hendaknya kita artikan sebagai bentuk pelaksanaan dari cara melakukan transaksi reasuransi. Menurut berbagai literatur asuransi dan/atau reasuransi, terdapat tiga cara dalam melakukan kerja sama asuransi antara penanggung pertama (direct insurers) dan pihak penanggung ulang (reinsurers), yaitu:40
a) Metode reasuransi secara fakultatif,
39
http://accounting-media.blogspot.co.id/2015/05/pengertian-risiko-menurut-para-ahli.htmldiakses pada tanggal 10 Juli 2017 pukul 8:32 WIB
b) Metode reasuransi secara kontrak,
c) Metode reasuransi pool dan facultative obligatory
a. Metode reasuransi secara fakultatif.
Metode atau cara melakukan penempatan pertanggungan ulang secara fakultatif pada hakikatnya merupakan cara yang paling awal digunakan karena menurut sejarahnya cara ini telah digunakan sebelum adanya metode lain, yaitu secara kontrak ataupun kerja sama secara pool(pool adalah suatu bentuk perjanjian antara beberapa Perusahaan Asuransi,untuk menempatkan jenis asuransi tertentu dalam satu sentral yang kemudian akan dikembalikan kepada masing-masing anggota, sesuai share/ sahamnya masing-masing yang telah ditetapkan Pool ini terutamauntuk akseptasi risiko-risiko besar dan khusus, seperti asuransi penerbangan, asuransi terhadap risiko-risiko pasar (konsorsium))41
Metode reasuransi fakultatif merupakan transaksi pertanggungan ulang antara pihak pertama dan para penanggung ulang secara bebas. Para pihak penanggung ulan tidak terikat menerima penawaran pertanggungan ulang ata para penanggung ulang dapat menolak/menerima penawaran pertanggungan ulang berdasarkan akseptasi yang telah mereka tetapkan.42
41http://www.belajar-asuransi.com/2016/07/reasuransi.html diakses pada tanggal 9 Juli 2017
pukul 19:07 WIB
Reasuransi fakultatif biasanya selalu memerlukan perundingan tersendiri untuk setiap risiko yang hendak diasuransikan. Jadi, perusahaan asuransi harus “pergi ke pasar” setiap kali ia butuh reasuransi.43
Berdasarkan metode pertanggungan ulang secara fakultatif ini, para penanggung ulang dapat melakukan seleksi risiko sesuai dengan kebijakan
underwriting yang telah digariskan. Hal ini dapat dipahami bersama mengingat
tingkat risiko dari objek atau kepentingan yang dipertanggungkan itu berbeda-beda. Dalam praktek telah dikenal adanya tingkatan risiko, yaitu yang digolongkan sebagai objek berisiko rendah/sederhana (simple risks), objek berisiko berbahaya (hazardous
risks), dan objek berisiko sangat berbahaya (extra hazardous risks).44
Mengingat adanya tiga tingkatan risiko tadi, dalam praktek terdapat istilah
risiko yang disukai dan risiko yang tidak disukai dipandang dari sisi pihak
penanggung ulang khususnya.45
Penawaran penempatan pertanggungan ulang dari penanggung pertama kepada para penanggung lain dan perudahaan reasuransi profesional pada hakikatnya
Penolakan penawaran pertanggungan ulang tidak hanya didasarkan pada risiko yang tidak disukai semata-mata, tetapi juga disebabkan oleh faktor lain, yaitu faktor akumulasi risiko, faktor keterbatasan daya tamping pihak penanggung ulang, faktor politis, dan lain sebagainya.
43 A. Hasymi Ali, Bidang Usaha Asuransi, (Jakarta :Bumi Aksara, 1999) hlm. 238 44 A.J. Marianto, Op. Cit, hlm. 57
juga didasarkan pada iktikad baik. Penanggung pertama, yang berdasarkan posisinya dalam pertanggungan ulang disebut sebagai tertanggung, wajib memberitahukan segala keterangan atau data yang diperlukan sebagai gambaran yang jelas tentang objek atau risiko yang ditanggungnya, termasuk segala persyaratan polis yang berlaku, kepada penanggung ulang.46
Kelebihan reasuransi fakultatif antara lain adalah:47
a) Reasuransi dapat diadakan untuk setiap risiko.
b) Reasuransi ini dapat ditutup kepada setiap penanggung ulang
Sedangkan kelemahan reasuransi fakultatif antara lain adalah sebagai berikut:48
a) Tidak dapat selalu diterima oleh setiap penanggung ulang dengan syarat-syarat yang sama dengan syarat-syarat asuransi semula.
b) Tidak setiap syarat dan kondisi yang sudah disetujui oleh pihak penanggung pertama dapat diterima oleh penanggung pertama selalu berada dalam ketidakpastian apakah risikonya dapat dialihkan atau tidak.
c) Biaya operasional relatif mahal, baik dari pihak penanggung pertama, maupun pihak penanggung ulang, Penanggung pertama harus selalu mencari dulu siapa penanggung ulang yang bersedia menerima risikonya dengan syarat dan
46 A.J. Marianto. Op. Cit, hlm. 57 47
Sri Rejeki Hartono, Op. Cit, hlm. 172
kondisi yang telah ia tutup. Sedangkan bagi penanggung ulang, ia harus meneliti kembali setiap risiko yang ditawarkan kepadanya secara teliti dan rinci.
Reasuransi fakultatif biasanya ditutup dengan metode proporsional atau menurut perbandingan. Dalam hal penanggung pertama telah memegang untuk dirinya sendiri suatu bagian tertentu dari suatu risiko yang telah disetujui dan sisanya direasuransikan dengan pembayaran berdasarkan premi semula dikurangi dengan komisi oleh karena itu biasanya menjadi relatif lebih mahal.
b. Metode Reasuransi Secara Kontrak (Treaty).
Yang dimaksud dengan metode reasuransi secara kontrak adalah perjanjian antara pihak penanggung pertama dan para penanggung lain atau para penanggung ulang professional yang dalam perjanjian tersebut pihak penanggung pertama, yang selanjutnya disebut pemberi sesi, setuju memberikan bagian dan para penanggung ulang yang selanjutnya disebut pihak kedua, setuju dan wajib menerima bagian atau sesi dari tanggung jawab atas asuransi yang telah ditutup oleh penanggung pertama sesuai dengan pembagian yang telah disepakati oleh masing-masing penanggung ulang sampai dengan batas-batas tanggung gugat/jawab tertingggi dari tiap kelas risiko berdasarkan persyaratan dan ketentuan-ketentuan yang disebutkan dalam kontrak reasuransi.
Limit atau batas-batas fasilitas kontrak pertanggungan ulang yang lazim dicantumkan dalam kontrak antara lain meliputi perihal sebagai berikut:49
1. Limit keuangan yang menunjukkan batas tertinggi tanggung gugat/ jawab (maximum liability) para peserta tertanggung ulang untuk setiap kelas risiko pertanggungan ulang untuk setiap kelas risiko pertanggungan yang dijamin polis. Limit-limit itu biasanya tercantum di dalam daftar limit yang dilampirkan pada kontrak reasuransi dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kontrak tersebut.
2. Limit geografis yang membatasi lingkup wilayah bisnis yang diperkenankan disesikan ke dalam kontrak reasuransi, misalnya terbatas pada wilayah Indonesia saja atau mungkin diperluas sedikit pada wilayah regional ASEAN bahkan mungkin tanpa adanya pembatasan yang meliputi luas lingkup seluruh dunia (worldwide).
3. Pembatasan risiko atau bahaya yang dapat dijamin langsung oleh penanggung ulang, misalnya dengan pengecualian risiko pemogokan keonaran, kerusuhan dan hura-hura, dan seterusnya, dan bahaya perang untuk jenis-jenis pertanggungan tertentu.
4. Pembatasan mengenai kelas risiko dan/atau kelas konstruksi bangunan serta kapal, risiko khusus (misalnya risiko pasar/ruko) yang ada pada umumnya dikecualikan dari jaminan pertanggungan ulang, dan lain sebagainya.
5. Terbatas pada cabang bisnis tertentu, misalnya bisnis kebakaran dan risiko yang dipersamakan dengan kebakaran termasuk risiko perluasan saja serta tidak termasuk risiko loss os profit (consequential loss/business interruption dan loss of use following fire).
Dengan metode ini, setiap pertanggungan dengan jaminan yang tidak dikecualikan oleh persyaratan dan ketentuan kontrak reasuransi, secara otomatis telah terjamin atau memperoleh proteksi dari para penanggung ulang yang ikut serta mengambil bagian dalam kontrak reasuransi tersebut. Di samping itu, pemberi sesi selaku pihak kedua juga wajib memberikan bagiannya kepada para penanggung ulang selaku pihak kedua sesuai dengan persyaratan dan tipe atau jenis kontrak reasuransi yang telah diperjanjikan bersama.50
Reasuransi berdasarkan perjanjian ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua yaitu:51
1) Reasuransi dengan perjanjian berdasarkan atas perbandingan (proportional treaties).
50Ibid, hlm. 63
2) Reasuransi dengan perjanjian yang tidak berdasarkan atas perbandingan (non proportional treaties).
1) Reasuransi dengan perjanjian berdasarkan atas perbandingan (proportional
treaties)
Sifat dasar dan ciri umum dari semua reasuransi dengan perjanjian yang proporsional adalah bahwa penanggung ulang wajib untuk menerima suatu bagian tertentu (sudah ditentukan lebih dahulu) dari penanggung pertama, setiap pelimpahan. Perbandingan yang sama berlaku juga untuk premi.
Reasuransi dengan perjanjian proporsional ini dapat berbentuk quota share atau surplus.
- Reasuransi quota share
Reasuransi quota share adalah suatu perjanjian reasuransi dengan suatu persentase tertentu dari masing-masing dan setiap risiko yang diterima oleh penanggung pertama harus dialokasikan kepada penanggung ulang. Mengenai berapa jumlah yang akan dialokasikan, tergantung pada jumlah maksimum, berapa yang sudah disetujui. Dengan demikian, penanggung pertama terikat untuk memindahtangankan/mengalihkan setiap sekian persen sesuai dengan persetujuan dari risiko-risiko dan dalam batas perjanjian kepada penanggung ulang. Sedang penanggung ulang terikat untuk menerima pemindahan risiko tersebut.
Reasuransi quota share pada umumnya dipergunakan untuk jenis asuransi yang mempunyai risiko khusus, misalnya untuk risiko kendaraan bermotor, perjalanan atau untuk jenis asuransi dengan risiko-risiko baru.52
Reasuransi surplus adalah suatu perjanjian reasuransi yang mewajibkan kepada penanggung pertama untuk mengalihkan suatu risiko dengan segera apabila risiko yang bersangkutan melebihi batas/nilai yang sudah disetujui terlebih dahulu, dan penanggung ulang terikat untuk menerima perjanjian risiko tersebut. Meskipun demikian penanggung ulang hanya terikat menerima peralihan tersebut, sampai pada jumlah maksimum tertentu sesuai dengan persetujuan. Dalam hal ini retensi penanggung pertama tergantung pada sifat dan mutu dari suatu risiko. Artinya, apabila di dalam perkitaan teknis suatu risiko itu adalah aman, artinya menurut perkiraan teknis, kerugian yang terjadi adalah tipis, maka risiko semacam itu disebut sebagai risiko yang baik.
- Reasuransi surplus
53
Reasuransi dengan perjanjian yang tidak proporsional dapat diadakan melalui suatu perjanjian. Dalam perjanjian yang dibuat, oleh para pihak dengan jelas diatur bahwa penanggung ulang berkewajiban membayar ganti kerugian yang melebihi 2) Reasuransi dengan perjanjian yang tidak berdasarkan atas perbandingan (non
proportional treaties).
52Ibid 53
batas apapun. Batas tertentu adalah suatu jumlah kerugian tertentu yang dengan tegas telah diperjanjikan tetap menjadi tanggung jawab penanggung pertama.
Jadi dengan reasuransi yang non proporsional ini, sasaran utama yang akan dicapai adalah “menghindari kerugian” itu sendiri. Artinya kerugian yang mungkin timbul secara individual tidak akan mempengaruhi operasional perusahaan karena tidak akan menjadi beban sendiri dari perusahaan. Meskipun demikian sasaean tersebut hanya sampai dengan batas maksimal sesuai dengan perjanjian. Tetapi sebaiknya penanggung ulang di satu pihak tidak dapat menarik pembayaran premi sampai batas maksimal sebab sudah terikat dengan batas yang direasuransikan. Dalam hal ini penanggung pertama dapat menikmati premi lebih besar bila dibandingkan dengan reasuransi yang proporsional. Jadi secara ekonomis lebih menguntungkan.54
1. Excess of loss (kelebihan kerugian).
Reasuransi dengan perjanjian non proporsional, dibagi menjadi dua jenis yang pokok ialah:
2. Stop loss (penghentian kerugian).
- Excess of loss (kelebihan kerugian).
Reasuransi non proporsional excess of loss, merupakan jenis reasuransi uang lazim yang dipergunakan, karena pertimbangan praktis dan ekonomis karena
reasuransi ini pertimbangan praktis dan ekonomis karena reasuransi ini memberikan proteksi kepada penanggung pertama untuk setiap peristiwa. Pada reasuransi non proporsional excess of loss, terdapat tiga hal pokok uang harus dipenuhi ialah:55
1. Ultimate Net Loss (UNL) kerugian bersih terakhir.
2. Satu peristiwa
3. Retensi yang tetap.
- Stop loss (penghentian kerugian)
Reasuransi ini bermaksud memberikan suatu proteksi kepada penanggung pertama bukan atas peristiwa tunggal tetapi atas kerugian keseluruhan yang diderita selama jangka waktu tertentu, menurut kekuasaan selama satu tahun. Apabila jumlah keseluruhan melebihi suatu batas prioritas tertentu penanggung ulang akan membayar kelebihannya sampai pada jumlah maksimum tertentu. Prioritas atau batas dapat dinyatakan berdasarkan persentase penghasilan premi dari satu waktu atau berdasarkan suatu angka yang mutlak, atau berdasarkan kedua cara tersebut. Guna menghindari keadaan yang menyebabkan penanggung ulang menjadi diuntungkan maka prioritas tidak boleh lebih rendah dari penghasilan premi daei penanggung pertama dikurangi dengan biaya-biaya.56
55
Ibid, hlm. 181
c. Metode Reasuransi Pool dan Facultative Obligatory.
1) Metode reasuransi pool
Pengertian kerja sama pool pada saat ini lebih dikenal dengan istilah konsorsium meskipun penerapan kedua istilah itu sangat tergantung pada tujuannya. Pembentukan konsorsium mempunyai tujuan dan sasaran yang khusus, hanya untuk mengatasi kesulitan penanganan atau pengelolaan objek yang berisiko tinggi dengan jumlah pertanggungan yang tidak mungkin ditangani oleh satu penanggung atau untuk mengatasi risiko dalam satu komplek besar.
Sistem pool atau pooling system atas bisnis yang diperoleh masing-masing anggotanya dapat diartikan saling memberi bisnis antar sesama anggota yang penyelenggaraan administrasi dan proteksi pertanggungan ulang akan dilaksanakan oleh pimpinan pool. Dengan sistem ini biaya administrasi dapat ditekan dan cara bekerjanya lebih efektif. Metode kerjasama pool dalam kontrak reasuransi dikenal dengan istilah reciprocal pool.
Prinsip kerjasama pool dalam kontrak reasuransi adalah agar para peserta pool memperoleh semua atau sebagian premi-premi mereka untuk suatu kategori bisnis khusus ataupun yang umum dalam bentuk suatu dana bersama dan mereka menanggung aggregate claims yang timbul, baik dalam proporsi yang sama seperti premi-premi yang telah mereka maupun dengan cara yang telah disepakati bersama.
Meskipun metode kerja sama resiprokal akan dapat memberikan manfaat yang besar bagi para anggotanya, masih terdapat kelemahan yang meliputi hal-hal berikut:57
a) Bahaya akumulasi risiko. Bila terjadi kerugian besar akan menimbulkan akumulasi tanggung jawab klaim yang cukup berat, terutama bila terjadi risiko bencana besar. Dalam hal ini, jelas tidak mungkin dapat diketahui akumulasi risiko dengan jelas dan tepat mengingat mekanisme kerja sama ini “tanpa laporan” dan didasarkan pada semangat saling percaya.
b) Sumber-sumber bisnis dari para anggota peserta pool resiprokal itu sangat heterogen, termasuk risiko bencana alam yang berlainan di berbagai negara yang bersangkutan.
2) Facultative Obligatory
Jenis penutupan pertanggungan ulang seperti ini sebenarnya merupakan suatu cara penempatan pertanggungan ulang secara kontrak meskipun masih terdapat kata
facultative. Dengan adanya kata “wajib” (obligatory) pihak penanggung wajib
menerima semua kelebihan tanggung gugat yang sudah tidak tertampung dalamkontrak pertanggungan ulang sampai dengan limit yang telah ditentukan. Melalui cara ini pihak penanggung pertama tidak perlu lagi melakukan penawaran reasuransi satu persatu karena secara otomatis telah memperoleh fasilitas jaminan
yang cukup memadai serta tidak perlu merasa cemas, seperti menghadapi risiko penolakan apabila mereka melakukan penawaran penempatan pertanggungan ulang secara fakultatif biasa. Dengan cara ini penanggung pertama juga dapat bekerja lebih efisien dan efektif karena dapat menghemat banyak biaya, waktu, dan tenaga dibandingkan harus melakukan penawaran satu persatu.
Dalam pelaksanaannya, pihak penanggung ulang akan membatasi pada risiko-risiko tertentu dengan persyaratan premi segera atau secepat mungkin dalam waktu yang telah ditetapkan, akan memberikan komisi reasuransi yang lebih rendah atau setaraf dengan komisi fakultatif biasa, serta tanpa pemberian komisi keuntungan.58
Di samping itu, kedudukan perusahaan asuransi adalah sebagai penanggung pertama yaitu sebagai pihak yang menerima pelimpahan risiko yang pertama dari konsumen, dalam perjanjian asuransi. Sebagai penanggung pertama, perusahaan asuransi mempunyai beban-beban tertentu, baik sebagai lembaga maupun dalam F. Retensi Sendiri dari Perusahaan Asuransi
Setiap perusahaan asuransi bagaimanapun kuatnya dukungan dana, rapinya manajemen serta luasnya jangkauan usahanya serta kemanapun teknis operasionalnya, masih tetap dalam keterbatasan-keterbatasan tertentu.
rangka menjalankan kegiatan perusahaan guna memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.
Perusahaan asuransi adalah perusahaan yang menawarkan jasa dari ketidakpastian menjadi adanya kepastian. Artinya apabila terjadi kerugian ekonomi tertentu sesuai dengan perjanjian, maka perusahaan akan memberi suatu ganti kerugian tertentu pula. Jadi meskipun perusahaan asuransi menawarkan suatu kepastian, tetapi dirinya sendiri sebenarnya mengandung atau mempunyai potensi ketidakpastian juga. Oleh karena itu perusahaan asuransi selalu membutuhkan kepastian bagi dirinya sendiri.
Kepastian itu dapat diperoleh apabila ia mengalihkan atau mendistribusikan risiko yang ada padanya kepada pihak lain. Pelimpahan kembali atau cara distribusi yang lazim ditempuh perusahaan asuransi antara lain dengan mengadakan perjanjian reasuransi dan atau ko-asuransi.59
Beban sendiri atau retensi sendiri pada perusahaan asuransi, pada hakikatnya merupakan satu hal yang sifatnya sangat khusus pada setiap perusahaan. Mengenai berapa bagian atau berapa besarnya suatu jumlah tertentu yang harus ditetapkan sebagai beban sendiri/ retensi sendiri merupakan manajerial murni. Oleh karena itu tidak dapat dikemukakan suatu pedoman atau ukuran tertentu yang tepat untuk menentukan berapa besarnya/jumlahnya/beban sendiri yang dapat berlaku secara umum bagi setiap perusahaan asuransi.
Beban sendiri/retensi sendiri juga tidak selalu sama pada setiap kurun waktu tertentu, selalu dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi perusahaan pada kurun waktu yang bersangkutan. Kurun waktu tersebut, biasanya sesuai dengan tahun buku yang bersangkutan. Beban sendiri atau retensi pada suatu periode waktu ditentukan dan didasarkan pada keputusan manajerial atas dasar prioritas-prioritas yang tersedia pada suatu perusahaan tertentu dan hanya tepat bagi perusahaan yang bersangkutan, karena retensi tersebut harus selalu berkaitan dan disesuaikan dengan kondisi/situasi serta kebutuhan pada saat itu. Meskipun demikian, Dr. Klaus Gerethewohl memberikan arahan sebagai berikut: bagi suatu perusahaan asuransi, apabila akan menentukan beban sendiri atau retensinya sendiri, tentu harus memperhatikan hal-hal bersifat teknis, yang secara garis besar dapat disampaikan sebagai berikut:60
1. Suatu perusaahan asuransi, apabila mengharapkan suatu retensi sendiri yang tertentu maka perusahaan yang bersangkutan secara subyektif harus memperhatikan perkembangan tertentu untuk masa yang akan datang yang dengan pasti sangat dipengaruhi oleh pengalaman klaim-klaim yang sudah lampau, dan faktor lain yang tidak dapat ditentukan kuantitasnya dengan memadai telebih dahulu, misalnya mengenai tingkat kejahatan, inflasi, situasi ekonomi dan berbagai jenis bencana. Dengan demikian ketidakpastian perusahaan terhadap pengalaman klaim yang dihadapi maka ia harus semakin bersikap konservatif dengan menahan diri untuk menentukan tingkat retensi
sendiri yang akan diterapkan mengejar pemasukan premi. Jadi perusahaan harus berhati-hati terhadap keputusan manajerialnya.
2. Meskipun demikian penentuan tingkat retensi sendiri toh tidak dapat dilakukan dengan bebas, karena masih tergantung pada beberapa faktor lagi antara lain:
1) Kebutuhan, dan
2) syarat-syarat yang diminta oleh pihak penanggung ulang atau perusahaan asuransi sebagai penjual kapasitas menawarkan syarat-syarat tertentu.
“Harga” reasuransi mempunyai hubungan dan sangat dipengaruhi oleh suatu tingkat retensi. Di samping faktor-faktor teknis tertentu yang menentukan tingkat retensi, harga reasuransi masih dipengaruhi oleh dua faktor tambahan yaitu: perspektif masa lampau dan perspekif masa datang, dari perusahaan asuransi yang bersangkutan.
Metode penentuan retensi sendiri oleh Dr. Klaus Gerathewohl, dinyatakan dalam beberapa metode sebagai berikut:61
1. Retensi tiap risiko,
2. Retensi ditentukan untuk seluruh portofolio dalam satu kelompok usaha,
3. Retensi untuk setiap peristiwa kerugian
1. Retensi tiap risiko.
Biasanya dipergunakan untuk menutup reasuransi surplus dan reasuransi
working cover.
Kedua jenis reasuransi ini memberikan perlindungan kepada penanggung pertama, terhadap kerugian yang disebabkan peristiwa yang tidak dapat diperkirakan, yang menimbulkan kerugian yang besar yang dapat mempengaruhi risiko-risiko yang lain.
Reasuransi surplus, memberikan penawaran proteksi terhadap kerugian-kerugian besar, sedang dan kecil sepanjang risiko-risiko yang bersangkutan sampai atau sesuai dengan perjanjian. Sedangkan reasuransi working cover, penanggung ulang memberikan penawaran proteksi sebagai tanggung jawabnya sebagian kerugian melebihi prioritas.
2. Retensi ditentukan untuk seluruh portofolio dalam satu kelompok usaha.
Bisanya dipergunakan untuk menutup reasuransi jenis quota share dan reasuransi stop loss.
Di bawah perjanjian reasuransi quota share, penanggung pertama mereasuransikan suatu persentase tertentu masing-masing risiko yang telah diterima.
Dengan demikian penanggung pertama juga menyerahkan persentase tertentu dari premi yang telah ia terima kepada penanggung ulang, sehingga ia akan menerima persentase yang sama dari setiap klaim yang terjadi.
Penanggung pertama yang membutuhkan quota share untuk portofolionya dalam suatu kelompok usaha tertentu atau mengurangi pengaruh “fluktuasi rasio klaim”, sebagai konsekuensi dari perubahan-perubahan frekuensi klaim, memperhatikan dua hal berikut:
1) Jumlah mutlak seberapa banyak ia bersedia menerima sebagai kerugian dalam suatu kelompok usaha yang bersangkutan;
2) Berapa persentase sebagai kerugian yang diperkirakan dalam usaha yang bersangkutan untuk jangka waktu reasuransi yang akan dipertimbangkan.
Keputusan berapa yang tetap dipegang oleh penanggung pertama sangat bersifat teknis. Keputusan inilah yang akan mewujudkan beban sendiri/retensi dari penanggung pertama yang bersangkutan.
3. Retensi untuk setiap kerugian.
Penetapan retensi jenis ini hanya tepat sehingga dapat mencapa sasaran pengertian dan operasional apabila retensi per akumulasi risiko.
Karena accumulation excess of loss covers, mewakili jenis reasuransi untuk melindungi penanggung pertama terhadap akumulasi klaim.
Mengenai penentuan retensi dan pengaruhnya terhadap harga reasuransi atau hubungan antara retensi dan pengaruhnya terhadap kemungkinan kerugian yang diderita oleh penanggung ulang, sifatnya adalah sangat teknis. Setiap perusahaan asuransi dalam menentukan retensi dan hubungan reasuransi mempunyai pertimbangan teknis operasional masing-masing perusahaan yang sangat spesifik dan individual.62
Perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama adalah suatu perusahaan yang dengan sengaja menyediakan diri untuk mengambil alih dan menerima risiko pihak lain, melalui perjanjian asuransi. Keadaan yang demikian ini menghantar perusahaan asuransi pada suatu posisi yang cukup serius. Pada satu sisi perusahaan dengan meneirma dan mengambil alih risiko-risiko pihak-pihak lain, menyebabkan perusahaan asuransi mempunyai beban risiko yang cukup berat, yaitu seberat gabungan setiap risiko yang telah ia terima dan ambil alih dari para nasabah (anggota masyarakat yang tertanggungnya). Pada sisi lain, perusahaan asuransi yang menjalankan perusahaan dengan kegiatan asuransi, tetap mempunyai beban risiko. Yang memang menjadi tanggung jawab pribadi dalam rangka menjalankan usaha asuransi. Oleh karena itu dari dua sisi termaksud di atas, perusahaan asuransi sebagai G. Kebutuhan dan Tanggung Jawab Perusahaan Asuransi sebagai Penanggung Pertama
penanggung pertama mempunyai beban ganda yang akhirnya menjadi beban sendiri secara keseluruhannya.63
1) Beban sendiri karena kegiatannya menjalankan perusahaan jasa asuransi, dan
2) Tanggung jawabnya terhadap kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dipenuhinya dalam rangka pelaksanaan perjanjian asuransi.
Perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama dan sebagai pihak dalam perjanjian asuransi, mempunyai kewajiban tertentu. Kewajiban tersebut adalah bahwa perusahaan ia harus membayar kepada setiap tuntutan klaim yang diajukan kepadanya sesuai dengan syarat-syarat perjanjian. Jadi karena perjanjian asuransi yang telah diadakan dengan para tertanggung sebagai nasabah, perusahaan harus tetap siap sedia untuk memenuhi setiap tuntutan klaim yang setiap waktu dapat terjadi dari nasabah. Sepanjang tuntutan-tuntutan tersebut dapat dipenuhi dan masih ada dalam batas kemampuan sendiri, tidak akan menimbulkan kesulitan, baik bagi pihak perusahaan maupun para nasabah. Masalahnya akan menjadi lain apabila perusahaan mengalami kesulitan dengan adanya tuntutan-tuntutan klaim yang terjadi.64
Secara umum, selalu terdapat pergeseran antara harapan keuntungan dan perhitungan dalam teknis asuransi, berhubungan dengan data yang tersedia; dan berhubung dengan perkembagan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga Klaus Gerarthewohl menyatakan ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh
63Ibid
setiap perusahaan asuransi yang bersangkutan, agar perusahaan tetap pada keadaan siap.65
Mengingat banyaknya faktor risiko yang dapat mempengaruhi frekuensi kerugian dan jumlah rata-rata untuk setiap klaim, maka risiko perubahan harus selalu diperhitungkan. Faktor utama yang paling besar pengaruhnya ialah faktor perubahan 1. Ada risiko fluktuasi yang tidak beraturan
Data statistik yang tersedia tidak dapat memberikan suatu jawaban yang sama untuk masa mendatang. Sehingga terjadi perbedaan antara pengalaman tuntutan klaim, perkiraan tuntutan, dan kenyataan tuntutan yang terjadi.
Secara umum dapat disebabkan berbagai peristiwa yang secara nalar memang sangat sulit untuk dideteksi. Hal yang demikian dapat menimbulkan risiko fluktasi yang tidak teratur.
Menurut teori lama (Bernou ilif) dinyatakan bahwa fluktuasi dalam pengalaman klaim akan menurun sejajar dengan beratnya risiko. Tetapi dalam penelititan justru menunjukkan adanya perbedaan yang bertentangan, terutama untuk kebakaran industri dan kebakaran barang-barang milik. Dalam banyak hal, mengingat adanya perubahan dan perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi industri.
2. Adanya risiko perubahan.
baik dalam bidang teknologi, upah dan harga perhitungan premi tidak dapat dengan tepat sekali diantisipasi pada perubahan masa mendatang, sehingga selalu mungkin adanya penyimpangan yang besar antara premi yang aktual dengan yang diduga semula akan terjadi semakin nyata dan sering.
3. Pengurangan risiko dengan cara reasuransi.
Berdasarkan kedua kemungkinan tersebut di atas, yang dalam kenyataannya sering terjadi, kedua macam risiko yaitu risiko fluktuasi yang tidak beraturan dan risiko perusahaan, disebut sebagai risiko kekeliruan. Dengan adanya kemungkinan adanya risiko kekeliruan dan suatu peristiwa yang terjadi, dapat menyebabkan suatu kerugian yang melampaui kekuatan ekonomi dan yang bersangkutan. Bagi perusahaan asuransi, sebagai penanggung pertama dapat terjadi bahwa premi risiko yang aktual menyimpang dari premi yang diperkirakan sejak awal. Penyimpangan itu sendiri dapat terjadi dikarenakan adanya fluktuasi dan penyimpangan yang tidak beraturan sebagai akibat dari perubahan dalam karakteristik risiko yang relevan yang berlaku untuk obyek atau orang yang diasuransikan.
Sedangkan menurut R. L. Carter di dalam bukunya yang sama menyatakan, bahwa hal-hal yang tidak menyenangkan bagi perusahaan asuransi, yang mengakibatkan kedudukannya menjadi tidak sehat adalah karena hal-hal sebagai berikut:66
1) Adanya suatu peningkatan umum atas biaya klaim yang disebabkan karena peningkatan frekuensi atau karena tingkat besarnya klaim.
2) Terjadi kerugian-kerugian yang sangat besar, meskipun atas kerugian tunggal atau adanya penumpuan kerugian-kerugian yang relatif lebih besar dibandingkan degan seluruh penerimaan premi termasuk cadangan yang tersedia.
3) Adanya fluktuasi dan gabungan seluruh klaim dalam satu tahun di atas nilai rata-rata.
Secara teoritis pengaruh-pengaruh yang merugiakan yang dihadapi oleh perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama dapat diatasi atau diperkecil dengan dua macam cara yaitu:
1) Perusahaan asuransi menanggung sendiri setiap risiko, sementara ia mengurangi akibat-akibat yang mungkin timbul yang disebabkan oleh risiko itu sendiri, dengan menentukan tingkat pengamanan yang tinggi pada setiap premi risiko yang tinggi dan/atau dengan menyediakan sejumlah besar aktiva yang tidak terikat untuk dipergunakan
2) Perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama dapat melimpahkan risiko yang telah ia terima kepada perusahaan asuransi yang lain atau mengadakan reasuransi. Sehingga demikian perusahaan yang menggantikan biaya-biaya tetap dengan biaya-biaya variabel.
Apakah jalan reasuransi akan ditempuh atau tidak adalah tertanggung sebagian besar jenis asuransi, risiko fluktuasi yang tidak beraturan, risiko perubahan, risiko kekeliruan atau risiko informasi yang palsu berlaku dalam portofolio. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebutuhan perusahaan asuransi sebagai penanggung pertama tidak lain adalah sama dengan kebutuhan tertanggung pada umumnya ialah kebutuhan akan adanya suatu proteksi. Risiko sendiri dan risiko-risiko pihak-pihak lain (dalam hal ini para nasabahnya) sepanjang berbahaya dan tidak menguntungkan harus dialihkan kepada pihak lain lagi. Salah satu cara untuk itu ialah mengadakan perjanjian reasuransi. Hal-hal tersebut di atas semata-mata hanya dapat dideteksi dan diatasi secara teknis asuransi.67
Hukum dan peraturan yang ada memberikan rambu-rambu pengaman agar sasaran para pihak berada pada posisi yang sesuai. Dengan demikian hukum akan tetap menjaga keseimbangan kepentingan para pihak akan tetap dalam batas-batas kewajibannya dan keadilan tertentu.