TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN
NOMOR: 57/PID.SUS/2016/PN.SRL TENTANG
TRADITIONAL
GOLD MINING
SKRIPSIOleh:
Alam Subuh Fernando NIM: C73214022
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Fakultas Syariah dan Hukum
Jurusan Hukum Publik Islam
Prodi Hukum Pidana Islam
Surabaya
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul” Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan
Nomor: 57/Pid.Sus/Pn.Srl Tentang Traditional Gold Mining” ini adalah hasil
penelitian kepustakaan untuk menjawab pertanyaan: 1) bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/Pn.srl? 2) bagaimana analisis Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 57/Pid.Sus/Pn.Srl tentang Traditional Gold Mining.
Data penelitian dikumpulkan dengan tehnik dokumentasi, yaitu mengumpulkan dokumen-dokumen terkait permasalahan, yang terdiri dari data
primer berupa Putusan Pengadilan Negeri Sarolangun Nomor
57/Pid.Sus/2016/Pn.Srl dan peraturan perundang-undangan serta data sekunder berupa karya ilmiah terkait dengan pertambangan. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif analisis dengan pola pikir deduktif untuk mengetahui kepastian hukum dalam putusan tersebut serta memperoleh analisis Hukum Pidana Islam.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: pertama, pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentangTraditional Gold Mining didasarkan pada peraturan khusus, yaitu pasal 161 Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara dengan mengesampingkan peraturaan umum, yaitu pasal 480 ayat 1 KUHP. Atas pertimbangaan itu, maka hakim membebaskan terdakwa karena tidak terpenuhinya unsur pertambangaan; kedua, dasar pertimbangan hakim dalam putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tersebut sesuai dengan hukum pidana Islam yakni termasuk kedalam hukuman ta’zi<r yang tidak disebutkan secara eksplisit di al-Qur’an dan Hadis sehingga penjatuhan hukumannya menjadi kewenangan ulil amri (Hakim). Adaapun berat
ringannya sanksi ta’zi<r disesuaaikaaan dengan besar kecilnyaa kejahataaan yang
telah dilakukan.
Sejalan dengan kesimpulan di atas dalam penanganan problematika-problematika di Negara ini seharusnya pihak birokrasi Negara lebih teliti dan jeli lagi dalam membuat Undang-Undang maupun dalam penerapannya, agar antara aturan dan penerapan tidak terjadi ketimpangan dalam eksekusinya. Apalagi permasalahan yang menyangkut traditional gold mining ini sangat berbahaya bagi lingkungan sekitar dan seharusnya ada sanksi tegas dari aparat penegak hukum, sehingga memberikan kepastian hukum.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
PENGESAHAN... iv
MOTTO... v
PERSEMBAHAN... vi
ABSTRAK... vii
KATA PENGANTAR... viii
DAFTAR ISI... x
DAFTAR TRANSLITERASI... xiii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah... 7
C. Rumusan Masalah... 8
D. Kajian Pustaka... 9
E. Tujuan Penelitian... 11
F. Kegunaan Hasil Penelitian... 12
G. Definisi Operasional... 12
H. Metode Penelitian... 13
I. Sistematika Pembahasan... 17
BAB II TEORI HUKUM PIDANA ISLAM TENTANG TRADITIONAL GOLD MINING……….... 19
A. Pertambangan Dalam Kajian Fikih... 19
B. Jari<mah Ta’zi<r... 20
C. Macam-macam Jari<mah Ta’zi<r……… 22
D. Definisi Hukum Pertambangan………. 28
F. Karakkteristik Hukum Pertambangan…………. 36
G. Sumber-sumber Hukum Pertambangan………... 38
BAB III DASAR HUKUM PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR: 57/PID.SUS/PN.SRL TENTANG TRADITIONAL GOLD MINING A. Identitas Terdakwa………. 43
B. Waktu Dan Lokasi Terjadinya Tindak Pidana.. 43
C. Kronologi Kasus………. 43
D. Dakwaan Dan Saksi-Saksi………. 45
E. Pertimbangan Hakim………. 47
F. Putusan Hakim………... 50
BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR: 57/PID.SUS/PN.SRL TERNTANG TRADITIONAL GOLD MINING………... 51
A. Analisis Dasar Pertimbangan Hakim... 51
B. Analisis Hukum Pidana Islam dalam Putusan Nomor: 57/pid.sus/Pn.Srl Tentang Traditional Gold Mining...54
BAB V PENUTUP... 60
A. Kesimpulan... 60
B. Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA... 62
BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam
termasuk bahan galian pertambangan. Indonesia memiliki ketergantungan
tinggi terhadap pemanfaatan bahan galian pertambangan tersebut sebagai
modal pembangunan. Pemanfaatanya diatur oleh pemerintah melalui suatu
peraturan perundang-undangan.
Dalam pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
1945 dinyatakan bahwa:1
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”
Berkaitan dengan pasal tersebut, Salim HS menyatakan sebagai berikut:
“Indonesia merupakan Negara yang kaya akan bahan galian (tambang). Bahan galian itu, meliputi emas, perak, tembaga, minyak dan gas bumi, batu bara, dan lain lain.Bahan galian itu dikuasai oleh negara. Hak penguasaan negara berisi wewenang untuk mengatur, mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan bahan galian, serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Penguasaan oleh Negara diselenggarakan oleh
pemerintah.”2
Sektor pertambangan di Indonesia merupakan sektor yang berfungsi
mendapatkan devisa negara paling besar, namun keberadaan kegiatan dan/atau
1Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
2
usaha tambang di Indonesia kini banyak dipersoalkan oleh berbagai kalangan
namun dalam implementasinya, negara sering dihadapkan pada kondisi
dilematis antara pemanfaatan optimal dengan kerugian lingkungan dan sosial.3
Dewasa ini kegiatan pertambahan sudah sangat berkembang, hasil yang
diberikan sangat memberikan keuntungan bagi peningkatan kesejahteraan
hidup masyarakat, khususnya bagi para penambang. Meskipun demikian,
kegiatan yang menjajikan ini turut pula membawa dampak yang merugikan bagi
manusia dan lingkungan hidup.Kegiatan tersebut tidak dilakukan berdasarkan
berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan, yaitu kegiatan pertambangan
yang dilakukan secara illegal atau tanpa izin yang dikenal dengan sebutan PETI
(Pertambangan Emas Tanpa Izin).4
Karena kegiatan usaha tambang telah menimbulkan dampak negatif,
maka dalam kegiatan pertambangan perlu adanya pengaturan yang dapat
mencegah timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan. Sebagaimana
yang telah diketahui bahwa negara mempunyai hak menguasai atas bumi, air
dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya termasuk tambang.
Pengaturan dari izin tersebut adalah salah satu bentuk pelaksanaan
fungsi pengaturan dan bersifat mengendalikan yang dimiliki oleh pemerintah
terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat.
Sejak diberlakukan nya Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang
pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti dari Undang-Undang
3 Ibid..
3
Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan
maka system kontrak karya (contract of work) dan Kontrak Bagi Hasil (production sbaring contract) tidak berlaku lagi. Undang-Undang tersebut mengatur usaha pertambangan di Indonesia melalui izin usaha pertambangan
(IUP).5 Namun izin tersebut telah memberikan kesempatan luas kepada badan
usaha swasta dan individu atau perorangan untuk mengambil dan mengeruk
barang tambang di seluruh wilayah pertambangan Indonesia.
Dalam pandangan Islam, menurut Nabhani, hutan dan tambang yang
tidak terbatas jumlahnya dan tidak mungkin dihabiskan adalah milik umum dan
dikelola oleh Negara, hasilnya harus diberikan kepada rakyat dalam bentuk
barang yang murah tanpa subsidi untuk kebutuhan primer masyarakat semisal
pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum.6 Islam sebagai agama yang paling
sempurna telah memberikan tuntutan dalam mengelola dan memanfaatkan
semua isi perut bumi untuk kemaslahatan manusia.
Pemenuhan kebutuhan menurut Al-Syatibi adalah tujuan aktifitas
ekonomi, dan pencarian terhadap tujuan ini adalah kewajiban agama. Dengan
kata lain, manusia berkewajiban untuk memecahkan berbagai permasalahan
ekonominya. Oleh karena itu, problematika ekonomi manusia dalam perspektif
5Pasal 1 ayat (6) Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara.
6 Taqyuddin an-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam (Surabaya:
4
islam adalah pemenuhan kebutuhan (fulfillment needs) dengan sumber daya
alam yang tersedia.7
Berkenaan dengan pengelola barang tambang, ulama kalangan
Malikiyah dalam perkataan mereka yang mashur, berpendapat bahwa segala
sesuatu yang keluar dari perut bumi berupa barang tambang tidak bisa dimiliki
dengan pengelolanya, akan tetapi barang tersebut menjadi milik Baitul kaum
muslimin, yakni milik negara (pemerintah). Negaralah yang seharusnya
menguasai barang tambang karena hukum menunjukkan pertimbangan
maslahat umum menuntut agar terwujudnya keadilan maka harus dikelola oleh
pemerintah dalam suatu negara.
Karena dikhawatirkan barang tambang semacam ini ditemukan oleh
orang-orang yang jahat dan tidak bertanggung jawab. Jika dibiarkan maka
mereka akan membuat kerusakan besar dan kadang kala mereka berebut untuk
mendapatkannya yang mengakibatkan pertumpahan darah (saling bunuh).
Karena itu harta benda tersebut harus dikumpulkan dibawah kekuasaan
pemerintah yang merupakan wakil dari kaum muslimin, yang pemanfaatannya
kembali kepada mereka (umat muslim) untuk kemaslahatan.8
Demikian pula apabila ada seorang atau bahkan sekelompok orang
dalam suatu perusahaan (korporasi) yang melakukan kegiatan eksplorasi
terhadap barang tambang maka mereka tidak boleh memilikinya, akan tetapi
7Adi Warman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2008),
387.
5
seluruhnya adalah milik umum kaum muslimin yang dikuasai dan dikelola oleh
pemerintah.
Manusia diberi kemampuan untuk mengolah alam sebagai sumber
kehidupan. Adapun bentuk rezeki yang diperoleh seseorang tidk lain berasal
dari sumber daya alam yang telah diciptakan oleh Allah swt sebelum manusia
ada di muka bumi ini. Sebagai firman Allah swt dalam surah Al-A’raf (7):56.9
Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan diharapkan (dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Berdasarkan dari pendapat tersebut, pelaku pertambangan bisa
dikelompokkan dengan pertambangan skala besar, pertambangan skala
menengah, dan juga pertambangan skala kecil dalam bentuk pertambangan
rakyat. Kegiatan pertambangan banyak menimbulkan persoalan baik terhadap
lingkungan maupun terhadap masyarakat setempat. Persoalan pertambangan
tidak hanya ditimbulkan oleh pertambangan skala besar saja tetapi
pertambangan skala menengah maupun pertambangan skala kecil.
Nandang Sudrajat mengemukkan sebagai berikut:
“Pertambangan dalam skala kecil dilakukan dalam bentuk pertambangan rakyat. Dalam melakukan kegiatan pertambangan rakyat walaupun termasuk dalam pertambangan skala kecil tetapi bukan berarti tidak mempunyai persoalan. Meskipun secara tradisional, tetapi
9Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, cet. 71 (Semarang: PT. Hidakarya Agung
6
terkadang meliputi wilayah yang cukup luas, karena diusahakan oleh masyarakat setempat dengan pelaku usaha yang tidak diimbangi dengan peralatan, fasilitas, pengetahuan, dan permodalan. Disamping sebagai keterbatasan tadi, kendala aturan turut memperparah situasi dan kondisi, sehingga sehingga tambang rakyat cenderung dilakukan tanpa izin (PETI), sehingga rentan terhadap kecelakaan dan keselamatan kerja, dan terkadang menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan
yang tidak terkendali. “10
Yang pada intinya, pertambangan adalah rangkaian dalam rangka upaya
pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan, dan penjualan
bahan galian. Usaha pertambangan bahan-bahan galian dibedakan menjadi
enam macam, yaitu: penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan,
pemurnian, pengangkutan dan penjualan.11
Kegiatan pertambangan selain mendatangkan devisa dan menyedot
lapangan kerja juga rawan terhadap pengrusakan lingkungan. Banyak kegiatan
penambangan yang mengundang sorotan masyarakat sekitarnya karena
pengrusakan lingkungan, apalagi penambangan emas tanpa izin yang selain
merusak lingkungan juga membahayakan jiwa penambang karena keterbatasan
pengetahuan si penambang dan juga karena tidak adanya pengawasan dari dinas
instansi terkait.
Berdasarkan dari pemaparan di atas. Maka penulis ingin lebih jauh
memaparkan tentang bagaimana hukum traditional gold mining dipandang dari sudut hukum pidana dan hukum pidana Islam dengan hal-hal tersebut maka
penulis bermaksud untuk menulis dan menyusun skripsi dengan judul “Tinjauan
10Nandang Sudrajat, Teori dan Praktik Pertambangan Indonesia Menurut Hukum(Jakarta: Pustaka
Yustisia, 2010), 76.
7
Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/Pn.Srl
Tentang Traditional Gold Mining”
Dengan harapan skripsi ini dapat membantu kepedulian dan kepekaan
terhadap hak-hak seseorang untuk hidup tanpa mengabaikan kepekaan
aturan-aturan hukum baik yang terdapat dalam kitab Undang - undang Tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara maupun yang telah diatur dalam pidana
Islam sehingga dapat diketahui perbandingan antara hukum Pidana Islam dan
Kitab Undang-undang Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara yang
berlaku di Indonesia dalam menegakkan dan menciptakan keadilan di tengah
Masyarakat khususnya yang menyangkut tindak pidana traditional gold
mining.
B.Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas terkait
tentang tindak pidana traditional gold mining. Maka penulis akan
mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
a. Dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri
Sarolangun Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN/Srl tentang Traditional Gold
Mining
b. Sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana melakukan Traditional Gold
8
c. Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan hakim dalam
Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN/Srl tentang Traditional Gold
Mining
2. Batasan Masalah
Untuk membatasi permasalahan agar tidak membahas
permasalahan terlalu jauh maka penulis memberi batasan masalah sebagai
berikut:
a. Dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri
Sarolangun Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN/Srl tentang Traditional Gold Mining
b. Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan hakim dalam
Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold
Mining.
C.Rumusan Masalah
Berdasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasannya, maka dapat
dirumuskan dalam permasalahan ini sebagai berikut:
1. Bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor:
57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining ?
2. Bagaimana analisis Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan hakim
dalamDirektori putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining ?
9
D. Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah deskripsi ringkasan tentang kajian penelitian
yang sudah pernah dilakukan diseputar masalah yang akan diteliti sehingga
terlihat jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan
pengulangan atau duplikasi dari kajian penelitian yang telah ada. Penulis telah
melakukan kajian tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Traditional
Gold Mining.12 Akan tetapi, skripsi yang penulis bahas sangatlah berbeda dari
penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini bisa dilihat
dari judul-judul yang sudah ada, meskipun mempunyai kesamaan tema, tetapi
beberapa skripsi yang mempunyai bahasan yang sama dalam satu tema yang
dapat peneliti jumpa, antara lain sebagai berikut:
1. Thesis yang ditulis oleh Anwar Habibi Siregar Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah yang berjudul “Pengelolaan Barang Tambang dalam
Hukum Islam dan Hukum Positif”. Dalam penelitian ini penulis ingin
mengetahui penjelasan dalam hukum positif nya bagaimana, dan dalam
hukum Islam nya bagaimana.
2. Skripsi yang ditulis oleh Alan Kurniawan yang berjudul “Penertiban
Terhadap Kegiatan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kabupaten
Dharmasraya”. Dalam penelitian tersebut penulis ingin mengetahui
permasalahan yang ada di kabupaten tersebut, peran serta pemerintah
dalam proses penertiban pertambangan tanpa izin di kabupaten
12 Tim penulis, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi (Surabaya: Fakultas Syariah dan Hukum, 2015),
10
Dharmasraya, dan penerapan Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009
Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara di kabupatem
Dharmasraya.
Dari thesis dan skripsi diatas perbedaannya dengan skripsi penulis
adalah penulis menggunakan studi putusan, serta putusan Hakim dalam
memutuskan perkara Traditional Gold Mining tentulah sangat berbeda.
Karena dalam ketentuan Pasal 161 Undang-Undang nomor 4 tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara sudah tidak sesuai dalam
peraturan Unndang-Undang tersebut yang dikaitkan dengan Putusan Nomor:
57/Pid.Sus/2016/PN.Srl.13
Kajian pustaka yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk mendapat
gambaran mengenai pembahasan dan topik yang akan diteliti oleh peneliti.
Namun tidak dipungkiri bahwa penelitian yang telah dilakukan oleh para
penulis sebelumnya tetap menjadi bahan atau masukan dalam penelitian ini.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah hal-hal tertentu yang hendak dicapai dalam
suatu penelitian. Tujuan penelitian akan memberikan arah dalam pelaksanaan
penelitian. Adapun tujuan dari peneliti yaitu:
1. Mengetahui dasar pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor:
57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining
11
2. Mengetahui analisis Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan Hakim
dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold
Mining
F. Kegunaan Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
sekurang-kurangnya dua aspek yang mempertegas bahwa masalah penelitian ini
bermanfaat, baik dari segi teoritis maupun praktis. Maka dari itu hasil dari
penelitian ini diharapkan ada nilai guna paada dua (2) aspek:
1. Aspek Teoritis
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan
penelitian terhadap Hukum yang mampu memperkaya khazanah ilmu
Hukum dengan kepustakaan dibidang penerapan pidana penjara dalam
Putusan Pengadilan Negri Sarolangun Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl
Tentang Traditional Gold Mining.
2. Aspek Praktis
Penelitian ini mampu memberikan solusi alternatif dalam
memberikan hukuman yang sesuai bagi palaku Traditional Gold Mining.
G. Definisi Operasional
Sebagai gambaran didalam memahami suatu pembahasan maka perlu
12
skripsi agar tidak menyimpang apa yang dimaksud, maka di sini perlu
dijelaskan dan dibatasi pengertian dari judul skripsi sebagai berikut:
1. Hukum Pidana Islam: Hukum Pidana Islam adalah Perbuatan-perbuatan
yang dilarang oleh syarak yang diancam oleh Allah dengan hukuman ta’zi<r yang bersumber dari dalil (nas), baik dari alquran maupun hadis ataupun
sumber-sumber yang lain.14 Suatu perbuatan dinamai jarimah apabila
perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian bagi orang lain baik jasad
anggota badan, jiwa, perasaan ataupun hal-hal lain yang harus dipelihara
dan dijungjung tinggi keberadaanya.Mengenai hukuman yang ditentukan
dalam alquran dan hadis disebut hudu>d, qis}a>s}, dan di<yat, sedangkan yang
tidak ada nashnya, yaitu: disebut hukuman ta’zi<r.
2. Traditional Gold Mining: Pertambangan yang dilakukan perseorangan,
sekelompok orang, atau perusahaan yayasan berbadan hukum yang dalam
operasinya tidak memiliki izin dari instansi pemerintah sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.15
H. Metode Penelitian
Penelitian ini dapat digolongkan dalam jenis penelitian kualitatif
dengan prosedur penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif berupa
data tertulis dari dokumen, Undang-Undang dan artikel yang dapat ditelaah.
14 Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2004),
9.
13
Untuk mendapatkan hasil penelitian akurat dalam menjawab beberapa
persoalan yang diangkat dalam penulisan ini, maka menggunakan metode:
1. Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah tentang tindak
pidana terhadap Putusan Pengadilan Sarolangun yang terkait dengan pokok
permasalahan yaitu:
a. Dasar pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor:
57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining
b. Analisis Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan Hakim dalam
putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold
Mining
2. Sumber Data
Untuk mendapatkan sumber data yang diperlukan penulis
menggunakan sumber data sebagai berikut:
a. Sumber primer
Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara
langsung dari obyek penelitian. Dalam penelitian ini sumber data tindak
pidana Traditional Gold Mining Putusan Pengadilan Sarolangun Nomor:
57/Pid.Sus/2016/PN.Srl
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang berupa semua publikasi
14
Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus
hukum, jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Dokumentasi, yaitu cara memperoleh data dengan cara menalaah
dokumen, dalam skripsi yang ditelaah adalah Putusan Nomor:
57/Pid.Sus/2016/PN.Srl.
b. Pustaka, yaitu pengumpulan refrensi melalui buku-buku.
4. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dalam bentuk uraian dan disusun
sebagai berikut:
a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali data yang diperoleh dari segi
pelengkapannya, kejelasannya, kesesuaiannya antara data-data yang
satu dengan yang lainya, guna relevansi dan keseragaman.16Dalam hal
ini penulis akan memeriksa kembali kelengkapan data-data dari Putusan
Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl.
b. Organizing, yaitu menyusun dan mensistematikan data yang diperoleh
dalam kerangka paparan yang sudah dirancanakan dan tersusun pada bab
III tentang turut tindak pidana Traditional Gold Mining serta
pertimbangan hakim dalam memutuskan hukuman bagi pelaku
(Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PnSrl).17
16Bambang Sanggona, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 125. 17 Ibid.
15
c. Analizing, yaitu analisis dari data yang telah dideskripsikan mengenai
pembahasan tentang Putusan Nomor: 57/pid.sus/2016/PN.Srl dan
menganalisa dari hukum pidana islam dan hukum pidana Indonesia,
dalam rangka untuk menunjang bahasa atas proses menjawab
permasalahan yang telah dipaparkan di dalam rumusan masalah.18
5. Teknik Analisis Data
Teknik analisa data penelitian ini menggunakan deskriptif analisis
dengan pola pikir deduktif.
a. Deskriptif analisis adalah teknik analisa dengan cara menjelaskan
dengan apa adanya, dalam hal ini data tentang pertimbangan hakim
dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional
Gold Mining. kemudian dianalisa dengan menggunakan hukum pidana Islam.
b. Pola pikir deduktif adalah pola pikir yang berangkat dari variabel yang
bersifat umum, dalam hal ini teori hukum pidana Islam kemudian
diaplikasikan kepada variabel yang bersifat khusus, adalah
pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl
tentang Traditional Gold Mining.
16
I. Sistematika Pembahasan
Teknik yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik deskriptif
analisa, yaitu suatu teknik dipergunakan dengan jalan memberikan gambaran
terhadap masalah yang dibahas dengan menyusun fakta-fakta sedemikian rupa
sehingga membentuk konfigurasi masalah yang dapat dipahami dengan mudah.
Sistematika pembahasan bertujuan agar penyusun skripsi terarah sesuai dengan
bidang kajian untuk mempermudah pembahasan. Dalam skripsi ini
dikelompokkan menjadi lima Bab, terdiri dari sub-sub Bab yang masing-masing
mempunyai hubungan dengan yang lain dan merupakan rangkaian yang
berkaitan. Agar penulis skripsi ini terkesan teratur, maka dalam sistematikanya
sebagai berikut:
Bab pertama merupakan pendahuluan yang meliputi latar belakang
masalah, identifikasi dan batasan masalah, kegunaan hasil penelitian, defines
operasional, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua landasan teori. Pada bab ini menjelaskan mengenai
pertambangan dalam kajian fikih, definisi jari<mah ta’zi<r dan macam-macam
jari<mah ta’zi<r, pengertian dan asas-asas hukum pertambangan, sumber-sumber hukum pertambangan.
Bab ketiga merupakan pembahasan mengenai dasar pertimbangan
hakim. Proses meneliti data-data dalam Putusan Pengadilan Negeri Sarolangun
17
Bab keempat adalah analisa Hukum Pidana Islam terhadap tindak
pidana Traditional Gold Mining yang terdapat dalam Putusan Nomor:
57/Pid.Sus/2016/PN.Srl.
Bab kelima adalah merupakan Bab terakhir berupa kesimpulan yang
merupakan jawaban dari pokok masalah yang telah dianalisis pada Bab-Bab
sebelumnya. Dan dalam Bab ini juga berisikan saran-saran yang berguna untuk
BAB II
TEORI HUKUM PIDANA ISLAM TENTANG TRADITIONAL GOLD MINING
A.Pertambangan dalam Kajian Fikih
Dalam pandangan hukum Islam barang tambang adalah milik bersama
(umum), dengan demikian tiada seorangpun yang berhak menguasainya bahkan
memilikinya secara individu. Termasuk dalam hal ini kepengelolaan barang
tambang tidak boleh dilakukan oleh perorangan (pribadi), karena milik umum
maka harus dikelola secara umum yang mana diwakili oleh negara atau
pemerintah yang berwenang agar kemanfaatan dari barang tersebut dapat
dirasakan oleh umum (masyarakat luas).1
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa segala sesuatu yang keluar dari
perut bumi berupa barang tambang tidak bisa dimiliki dengan mengelolanya,
akan tetapi barang tambang tersebut menjadi milik baitulmal kaum muslimin,
yakni milik negara (Pemerintah). Negaralah yang seharusnya menguasai barang
tambang karena hukum menunjukan pertimbangan maslahat umum menuntut
agar terwujudnya keadilan maka harus dikelola oleh pemerintah dalam suatu
negara.2
Menurut ahli ekonomi Islam, Taqyuddin An-Nabhani bahwa negaralah
yang melakukan pengelolaan hak milik umum (collective property) serta milik
1 Anwar Habibi Siregar, Pengelolaan Barang Tambang dalam Hukum Islam dan Hukum Positif
(Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2018), 388.
19
negara (state property). Harta benda yang termasuk hak milik umum pada dasarnya tidak boleh diberikan kepada siapapun, seperti: air, garam, padang
gembalaan dan lapangan, negara sama sekali tidak boleh memberikannya
kepada siapapun, meskipun semua orang boleh memanfaatkannya dimana
kemanfaatan tersebut merupakan hak mereka, dan tidak mengkhususkannya
untuk satu orang saja, sementara yang lain tidak.3
Ibnu Qudamah dalam kitab besarnya Al-Mughni Ibya’u al-mawat,
mengatakan: barang-barang tambang yang oleh manusia didambakan hasilnya
dan dimanfaatkan tanpa biaya, seperti halnya garam, air, belerang, gas, mumia
(semacam obat), potreleum, intan dan lain-lain yang tidak bisa dihakmilikkan
penggarapannya, tidak boleh dipertahankan kepemilikannya kepada seseorang
sehingga kaum muslimin lainnya terhalang untuk mendapatkannya. Hal ini
akan membahayakan, menyulitkan dan merugikan mereka. Karena barang
tambang tersebut adalah milik umum, maka harus diberikan kepada negara
untuk mengelolanya.4
B.Jari<mah Ta’zi<r
Jari<mah ta’zi<r adalah Jari<mah yang diancam dengan hukuman ta’zi<r.
Pengertian ta’zi<r berasal dari bentuk mashdar ُريزْعَي- َرَزَع yang secara etimologis
berarti menolak atau mencegah.5 Dalam dunia pesantren, istilah ta’zi<r diartikan
3Taqyuddin An-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam (Surabaya:
Risalah Gusti, 2002), 244.
4Ibnu Qudamah, Al-Mugnî, cet. 2 (Kairo: Hajar, 1992 ), 155.
20
sebagai suatu pelajaran atau pendidikan dalam bentuk hukuman tertentu
terhadap santri yang karena suatu sebab, misalnya kesiangan shalat subuh atau
tidak ikut mengaji tanpa ada alasan yang benar. Hukuman tersebut bertujuan
mencegah yang bersangkutan mengulangi kembali perbuatannya dan membuat
yang bersangkutan menjadi jera.6
Pengertian secara terminologis, yang dikehendaki dalam konteks fiqih
Jinayah adalah seperti di bawah ini:
ْوُقُعْلا َوُه ُرْ يِزْعَّ تلَا ِدِهاجُمْلا ىِضاَقْلاِوأ ِرْملأا ِِّلَِوِل اهِرِدْقَ ت ِكْرَ تَو اهِراَدْقِم ِناَيَ بِب ِعِراَّشلا َنِم ُّدُرَ ي َْلَ تىَّلَا ُتاب
َنْي
“Ta’zi<r adalah bentuk hukuman yang tidak disebutkan ketentuan kadar hukumannya oleh syara’ dan menjadi kekuasaan waliyyul amri atau
Hakim.”7
Sebagian ulama mengartikan ta’zi<r sebagai hukuman yang berkaitan
dengan pelanggaran terhadap hak Allah dan hak hamba yang tidak ditentukan
Al-Qur’an dan Hadis, ta’zi<r berfungsi memberikan pengajaran kepada si
terhukum dan sekaligus mencegahnya untuk tidak mengulangi perbuatan
serupa. Sebagian lain mengatakan sebagai sebuah hukuman terhadap perbuatan
maksiat yang tidak dihukum dengan hukuman h{ad atau kafarat.8
6A. Djazuli, Fiqh Jinayah (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1997), 1.
7Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemah (Semarang: PT. Hidakarya
Agung Jakarta, 2002), 30.
8Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam(Fiqih Jinayah (Jakarta: Sinar
21
C.Macam-Macam Jari<mah Ta’zi<r
Dilihat dari hak yang dilanggar Jari<mah ta’zi<r dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Jari<mah ta’zi<r yang menyinggung hak allah adalah semua perbuatan yang
berkaitan dengan kepentingan dan kemaslahatan umum.
2. Jari<mah ta’zi<r yang menyinggung hak individu adalah setiap perbuatan yang
mengakibatkan kerugian pada orang lain.
Dari segi sifatnya, Jari<mah ta’zi<r dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu:
1. Ta’zi<r karena melakukan perbuatan maksiat
Maksiat adalah meninggalkan perbuatan yang diwajibkan dan
melakukan perbuatan yang diharamkan.
2. Ta’zi<r karena melakukan perbuatan yang membahayakan kepentingan
umum. Perbuatan-perbuatan yang masuk dalam jarimah ini tidak bisa ditentukan, karena perbuatan ini tidak diharamkan karena zatnya, melainkan karena sifatnya. Sifat yang menjadi alasan dikenakan hukuman adalah
terdapat unsur merugikan kepentingan umum.9
3. Ta’zi<r karena melakukan pelanggaran
Dalam merumuskan ta’zi<r karena pelanggaran terdapat beberapa pandangan, yang pertama berpendapat bahwa orang yang meninggalkan yang mandub (sesuatu yang diperintahkan dan dituntut untuk dikerjakan) atau mengerjakan yang makruh (sesuatu yang dilarang dan dituntut untuk
22
ditinggalkan) tidak dianggap melakukan maksiat, hanya saja mereka dianggap menyimpang atau pelanggaran dapat dikenakan ta’zi<r.
Menurut sebagian ulama yang lain, meninggalkan mandub dan mengerjakan yang makruh tidak bisa dikenakan hukuman ta’zi<r. Karena
ta’zi<r hanya bisa dikenakan jika ada ta’lif (perintah atau larangan). Apabila
hukuman diterapkan maka merupakan suatu pertanda menunjukan bahwa perbuatan itu wajib atau haram.10
Di samping itu, dilihat dari segi dasar hukum (penetapannya), ta’zi<r juga dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Jari<mah ta’zi<r yang berasal dari jarimah-jarimah hudud atau qis{as{, tetapi
syarat-syaratnya tidak terpenuhi, atau ada syubhat, seperti pencurian yang tidak mencapai nishab, atau oleh keluarga sendiri.
2. Jari<mah ta’zi<r yang jenisnya disebutkan dalam nas syara’ tetapi
hukumannya belum ditetapkan, seperti riba, suap, dan mengurangi takaran dan timbangan.
3. Jari<mah ta’zi<r yang baik jenisnya maupun sanksinya belum ditentukan
oleh syara’ jenis ketiga ini sepenuhnya diserahkan kepada ulil amri, seperti pelanggaran disipilin pegawai pemerintah.11
a. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan pembunuhan
Pembunuhan diancam dengan hukuman mati. Apabila
hukuman mati (qis{as{) dimaafkan maka hukumannya diganti diat.
10 Ibid, 256.
23
Apabila hukuman diat dimaafkan juga maka ulil amri berhak
menjatuhkan hukuman ta’zi<r apabila hal itu dipandang lebih
maslahat.
b. Jarimah takzir yang berkaitan dengan pelukaan
Menurut Imam Malik, hukuman ta’zi<r dapat digabungkan
dengan qhisash dalam jarimah pelukaan, karena qishash merupakan
hak adami, sedangkan ta’zi<r sebagai imbalan atas hak masyarakat.
Disamping itu, ta’zi<r juga dapat dikenakan terhadap jarimah
pelukaan apabila qis{as{nya dimaafkan atau tidak bisa dilaksanakan
karena suatu sebab yang dibenarkan oleh syara.
Menurut mazhab Hanafi, syafi’i, dan Hanbali, ta’zi<r juga dapat dijatuhkan terhadap orang yang melakukan jarimah pelukaan dengan berulang-ulang (residevis), disamping dikarenakan hukuman qis{as{.
c. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan kejahatan terhadap kehormatan
dan kerusakan akhlak
Jari<mah ta’zi<r macam yang ketiga ini berkaitan dengan jarimah zina, menuduh zina, dan penghinaan. Diantara kasus
perzinaan yang diancam dengan ta’zi<r adalah perzinaan yang tidak memenuhi syarat untuk dikenakan hukuman had, atau terdapat
syubhat dalam pelakunya, perbuatannya, atau tempat (objeknya).12
Demikian pula kasus percobaan zina dan perbuatan-perbuatan
12 Ibid.
24
prazina, seperti meraba-raba, berpelukan dengan wanita yangbukan
istrinya, tidur bersama tanpa hubungan seksual, dan sebagainya.
Penuduhan zina yang dikategorikan kepada ta’zi<r adalah
apabila orang yang dituduh itu bukan orang muhsan. Kriteria
muhshan menurut para ulama adalah berakal, balig, Islam, dan iffah (bersih) dari zina. Apabila seseorang tidak memiliki syarat-syarat
tersebut maka ia termasuk ghair muhshan. Termasuk juga kepada
ta’zi<r, penuduhan terhadap sekelompok orang yang sedang berkumpul dengan tuduhan zina, tanpa menjelaskan orang yang
dimaksud. Demikian pula tuduhan zina dengan qinayah (sendiri),
menurut pendapat Imam Hanifah termasuk kepada ta’zi<r, bukan
hudud.13
Adapun tuduhan-tuduhan selain tuduhan zina digolongkan
kepada penghinaan dan statusnya termasuk kepada ta’zi<r, seperti
tuduhan mencuri, mencaci maki, dan sebagainya.
Panggilan-panggilan seperti wahay kafir, wahai munafik, wahai fasik, dan
semacamnya termasuk penghinaan yang dikenakan hukuman
ta’zi<r.14
d. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan harta
Jari<mah yang berkaitan dengan harta adalah jarimah pencurian dan perampokan. Apabila kedua jarimah tersebut
13Abdur Rahman, Tindak Pidana dalam Syariat Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), 39. 14Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam,…,257.
25
syaratnya telah dipenuhi maka pelaku dikenakan hukuman h{ad.
Akan tetapi, apabila syarat untuk dikenakannya hukuman had tidak
terpenuhi maka pelaku tidak dikenakan hukuman h{ad, melainkan
hukuman ta’zi<r. Jarimah yang termasuk jenis ini antara lain seperti percobaan pencurian, pencopetan, pencurian yang tidak mencapai
batas nisbah, meng-ghasab, dan perjudian. Termasuk juga kedalam
kelompok ta’zi<r, pencurian karena adanya subhat, seperti pencurian oleh keluarga terdekat.
Jari<mah perampokan yang persyaratannya tidak lengkap, juga termasuk ta’zi<r. Demikian pula apabila terdapat syubhad baik dalam pelaku maupun perbuatannya. Contohnya seperti
perampokan dimana salah seorang pelakunya adalah anak yang
masih dibawah umur atau perempuan menurut Hanafiyah.
e. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan kemaslahatan individu
Jari<mah ta’zi<r yang termasuk dalam kelompok ini, antara lain seperti saksi palsu, berbohong (tidak memberikan keterangan
yang benar) didepan sidang pengadilan, menyakiti hewan,
melanggar hak privacy orang lain (misalnya masuk rumah orang
lain tanpa izin).15
f. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan kemaslahatan umum
Jari<mah ta’zi<r yang termasuk dalam kelompok ini adalah
15 Ibid.
26
1) Jari<mah yang menganggu keamanan negara/pemerintah, seperti
spionase dan percobaan kudeta
2) Suap
3) Tindakan melampaui batas dari pegawai/pejabat atau lalai dalam
menjalankan kewajiban. Contohnya seperti penolakan hakim
untuk mengadili suatu perkara, atau kesewenang-wenangan
hakim dalam memutuskan suatu perkara
4) Pelayanan yang buruk dari aparatur pemerintah terhadap
masyarakat
5) Melawan petugas pemerintah dan membangkang terhadap
peraturan, seperti melawan petugas pajak, penghinaan terhadap
pengadilan, dan menganiaya polisi
6) Melepaskan narapidana dan menyembunyikan buronan
(penjahat)
7) Pemalsuan tanda tangan dan stempel
8) Kejahatan yang berkaitan dengan ekonomi, seperti penimbunan
bahan-bahan pokok, mengurangi timbangan dan takaran, dan
menaikan harga dengan semena-mena.16
16 Ibid.
27
D.Definisi Hukum Pertambangan
Pertambangan yaitu sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam
rangka penelitian, pengolahan dan pengusahaan mineral atau batu bara yang
meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta
kegiatan pasca tambang.17 Dalam kamus besar bahasa Indonesia, yang
dimaksud dengan menambang adalah menggali (mengambil) barang tambang
dari dalam tanah.18 Kemudian, Abrar Saleng menyatakan bahwa usaha
pertambangan pada hakikatnya ialah usaha pengambilan bahan galian dari
dalam bumi.19
Joseph F.Castrilli mengemukakan pengertian hukum tambang. Hukum
tambang adalah:
“Also may provide a basis for implementing some environmentally protective measures in relation to mining operations as the exploration, development, reclamation, and rehabilition stages”
Artinya: hukum pertambangan sebagai dasar dalam pelaksanaan perlindungan lingkungan dalam kaitannya dengan kegiatan pertambangan, yang meliputi kegiatan eksplorasi, konstruksi, reklamasi,
dan rehabilitasi.20
Dalam definisi ini, hukum pertambangan merupakan kaidah hukum
yang mengatur tentang kegiatan pertambangan. Tujuannya, yaitu:
1. Melindungi kepentingan masyarakat lokal
17pasal 1 angka (1) Undang-Undang No. 4 tahun 2009 (UUPMB)
18Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Sinar Grafika1990), 890. 19Abrar Saleng, Hukum Pertambangan (Yogyakarta: UII Press 2004),90.
20 Castrilli Joseph F, Environmental Regulation Of The Mining Industry (Canada: An Update of
28
2. Perlindungan lingkungan hidup
3. Menjamin keuntungan yang sama besar antara negara tuan rumah dengan
investor. Dan menjamin pelaksanaan kegiatan pertambangan oleh
perusahaan multinasional.
Definisi lain tentang hukum pertambangan disajikan oleh salim HS. ia
mengemukakan bahwa hukum pertambangan adalah:
“Keseluruhan kaidah-kaidah hukum yang mengatur kewenangan negara dalam pengelolaan bahan galian (tambang) dan mengatur hubungan hukum antara negara dengan orang dan atau badan hukum dalam
pengelolaan dan pemanfaatan bahan galian (tambang)”.21
Dari beberapa definisi di atas, difokuskan pada pengertian hukum
pertambangan pada umumnya. Objek kajiannya pada bahan tambang pada
umumnya. Sedangkan bahan tambang itu sendiri, tidak hanya mineral dan
batubara, tetapi juga panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah. Menurut
penulis, bahwa hukum pertambangan dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Hukum pertambangan umum
2. Hukum pertambangan khusus
Hukum pertambangan umum disebut juga dengan general mining law
(inggris), algemene mijnrecht (belanda), den Allgemeinen Bergrecht (jerman). Hukum pertambangan umum mengkaji panas bumi, minyak dan gas bumi,
mineral radioaktif, mineral dan batubara, serta air tanah.
Istilah hukum pertambangan khusus berasal dari bahasa inggris, yaitu
special mining laws, dalam bahasa belanda disebut dengan special mijnrecht,
29
sedangkan dalam bahasa jerman disebut dengan besondere gesetze bergbau.
Yang dimaksud dengan hukum pertambangan khusus, yaitu hanya mengatur
tentang pertambangan mineral dan batubara.22
Istilah hukum pertambangan mineral dan batubara berasal dari
terjemahan bahasa inggris, yaitu mineral and coal mining law, bahasa belanda disebut dengan mineral-en kolenmijen recht atau bahasa jerman disebut dengan
istilah mineral und kohlebergbau gesets. Ada empat unsur yang terkandung
dalam hukum pertambangan mineral dan batubara, yaitu:
1. Hukum
2. Pertambangan
3. Mineral, dan
4. Batubara
Hukum diartikan sebagai aturan yang mengatur hubungan antara negara
dengan rakyat, antara manusia dengan manusia dan hubungan antara manusia
dengan lingkungan. Pertambangan adalah:
“Sebagai atau seluruh yang tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, ekspolarasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengelolaan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pertambangan”.
Dalam definisi ini pertambangan dikonstruksikan sebagai suatu
kegiatan. Kegiatan itu meliputi (1) penelitian, (2) pengelolaan, dan (3)
pengusahaan. Mineral merupakan senyawa anorganik yang terbentuk di alam,
yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan Kristal teratur atau
22 Ibid., 14.
30
gabungan yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu.23
Batubara adalah endapan senyawa organic karbonan yang terbentuk secara
alamiyah dari sisa tumbuh-tumbuhan.
Dari usnur-unsur diatas, dapat dirumuskan definisi hukum
pertambangan mineral dan batubara. Hukum pertambangan mineral dan
batubara merupakan:
“Kaidah hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan mineral dan batubara dan mengatur hubungan antar negara dengan subjek hukum, baik bersifat perorangan maupun badan hukum dalam rangka
pengusahaan mineral dan batubara”.24
Ada dua macam hubungan yang diatur dalam hukum pertambangan
mineral dan batubara:
1. Mengatur hubungan antara negara dengan mineral dan batubara
2. Mengatur hubungan antara negara dengan subjek hukum
Hubungan antara negara dengan bahan mineral dan batubara adalah
negara mempunyai kewenangan untuk mengatur pengelolaan mineral dan
batubara. Wujud pengaturannya, yaitu negara membuat dan menetapkan
berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan mineral dan
batubara. Salah satu faktor Undang-Undang yang diterapkan oleh pemerintah
dengan persetujuan DPR, yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara dan berbagaiperaturan pelaksanaannya.
23 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara.
31
Landasan filosofi atau pertimbangan hukum ditetapkan Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Di negara Republik Indonesia, negara diberi kewenangan untuk
menguasai sumber daya mineral dan batubara. Makna penguasa pertambangan
ialah:
“Negara mempunyai kebebasan atau kewenangan penuh (volldige bevoegdheid) untuk menentukan kebijakan yang diperlukan dalam bentuk mengatur (regelen), mengurus (besturen) dan mengawasi (toezichthouden) penggunaan dan pemanfaatan sumber daya alam
nasional”.25
Rumusan penguasa negara juga ditemukan dalam Putusan Mahkamah
Konstitusi Republik Indonesia, yang berbunyi:
“Pengertian dikuasai oeh negara haruslah diartikan mencakup makna penguasaan oleh negara dalam arti luas yang bersumber dan diturunkan dari konsepsi kedaulatan rakyat Indonesia atas segala sumber kekayaan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, termasuk pula di dalamnya pengertian kepemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas sumber-sumber kakayaan dimaksud. Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan oleh UUD 1945 memberikan mandate kepada kepala negara untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuursdaad), dan pengawasan (toezichtoudensdaad) untuk tujuan
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.26
Kewenangan negara dalam putusan ini, meliputi:
1. Membuat kebijakan (beleid) dan pengurusan (bestuursdaad)
2. Pengaturan (regelendaad)
3. Pengelolaan (beheersdaad)
4. Pengawasan (teozichtoudensdaad)
25 Abrar Saleng, Hukum Pertambangan (Yogyakarta: UII Press, 2004), 219.
32
E.Asas-Asas Hukum Pertambangan Mineral Dan Batubara
Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara telah ditentukan asas-asas hukum
pertambangan niberal dan batubara.27 Ada tujuh asas hukum pertambangan
mineral dan batubara. Ketujuh asas itu, meliputi:
1. Manfaat
Asas manfaat merupakan asas dimana didalam pengelolaan sumber
daya mineral dan batubara dapat memberikan kegunaan bagi kesejahteraan
masyarakat banyak. Asas ini sesuai dengan konsep yang dikembangkan
Jeremy Bentham. Hukum harus memberikan manfaat atau kegunaan bagi
orang banyak (to serve utility).28Konsep utility yang dikembangkan oleh
Jeremy Bentham adalah dimaksudkan untuk menjelaskan konsep
kebahagiaan atau kesejahteraan. Sesuatu yang dapat menimbulkan
kebahagiaan ekstra adalah sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang
menimbulkan sakit adalah buruk. Aksi-aksi pemerintah harus selalu
diarahkan untuk meningkatkan kebahagiaan sebanyak mungkin orang (the
greatest happiness principle).29
2. Keadilan
Asas keadilan merupakan asas dalam pengelolaan dan pemafaatan
mineral dan batubara di mana di dalam pemanfaatan itu harus memberikan
hak yang sama rasa dan rata bagi masyarakat banyak. Masyarakat dapat
27 Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 28Abrar Saleng, Hukum Pertambangan,…,223,.
33
diberikan hak untuk mengelola dan memanfaatkan mineral dan batubara,
dan juga dibebani kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Selama ini, masyarakat kurang mendapat perhatian karena pemerintah
selalu memberikan hak istimewa kepada perusahaan-perusahaan besar
dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara.
3. Keseimbangan
Asas keseimbangan adalah suatu asas yang menghendaki bahwa
dalam pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara harus mempunyai
kedudukan hak dan kewajiban yang setara dan seimbang antara pemberi
izin dengan pemegang izin, apakah itu IPR, IUP, maupun IUPK. Begitu
juga pemegang izin dapat menuntut haknya kepada pemberi izin supaya
pemberi izin dapat melaksanakan kewajibannya, seperti memberikan
pembinaan dan pengawasan terhadap pemegang izin. Ini berarti
keseimbangan dalam hak dan kewajiban.
4. Keberpihakan kepada kepentingan bangsa
Asas keberpihakan kepada kepentingan bangsa adalah asas bahwa
dalam pelaksanakan pertambangan mineral dan batubara, bahwa
pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus
memihak atau pro kepada kepentingan bangsa yang lebih besar. Ini berarti
bahwa kepentingan bangsa yang harus diutamakan dibandingkan dengan
kepentingan dari para investor. Namun, demekian pemerintah juga harus
memerhatikan kepentingan investor.
34
Asas pertisipatif merupakanmerupakan asas bahwa dalam
pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara, tidak serta pemberi dan
pemegang izin semata-mata, namun masyarakat, terutama masyarakat
yang berada dilingkar tambang harus ikut berperan serta dalam
pelaksanaan kegiatan tambang. Ujud peran serta masyarakat, yaitu menjadi
pengusaha maupun distributor.30
6. Tranparansi
Asas transparansi, yaitu asas bahwa pelaksanaan pertambangan
mineral dan batubara harus dilakukan secara terbuka. Artinya setiap
informasi yang disampaikan kepada masyarakat oleh pemberi dan
pemegang izin harus disosialisasikan secara jelas dan terbuka kepada
masyarakat. Misalnya, tentang tahap-tahap kegiatan pertambangan,
kebutuhan tenaga kerja, dan lainnya.31
7. Akuntabilitas
akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pertambangan mineral dan
batubara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat dengan
memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Asas akuntabilitas ini era
kaitannya dengan hak-hak yang akan diterima oleh pemerintah, baik
pemerintah pusat maupun daerah yang bersumber dari kegiatan
pertambangan mineral dan batubara. Misalnya, pemegang IUPK
memberikan keuntungan kepada pemerintah daerah sebesar 1%, maka
30 Ibid.
35
penggunaan uang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kepada
rakyat, dalam hl ini DPRD, baik kabupaten/kota maupun provinsi.
8. Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
Asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas yang
secara terancana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungaan, dan
sosial budaya dalam keseluruhan usaha pertambangan mineral dan
batubara untuk mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa mendatang.
F. Karakteristik Hukum Pertambangan Mineral dan Batubara
Hukum pertambangan mineral dan batubara merupakan kaidah hukum
yang bersifat khusus. Dikatakan khusus, oleh karena:
1. Objek khusus
2. Sifat hubungan para pihak bersifat administratif.
Yang menjadi objek kajian hukum pertambangan mineral dan batubara
hanya berkaitan dengan pertambangan mineral dan batubara. Pertambangan
mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan.
Bijih adalah sekumpulan mineral yang dari padanya dapat dihasilkan satu atau
lebih logam secara ekonomis sesuai dengan keadaan teknologi dan lingkungan
pada saat itu. Pertambangan dengan batubara adalah pertambangan endapan
karbon yang terdapat didalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan
batuan aspal.32
36
Hukum pertambangan mineral dan batubara bersifat administratif,
karena pemerintah maupun pemerintah daerah mempunyai kedudukan yang
ebih tinggi dalam proses pemberian izin kepada pemegang IPR, IUP atau IUPK.
Pemerintah dalam pemberian izin tersebut adalah didasarkan kepada
syarat-syarat yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Apabila
syarat-syarat itu dipenuhi oleh calon pemegang izin, maka pemerintah dapat
menetapkan izin secara sepihak kepada pemegang IPR, IUP maupun IUPK
secara sepihak, apabila pemegang IPR, IUP maupun IUPK tidak mematuhi
segala ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam sebstansi izin dan ketentuan
perundang-undangan. Lain halnya dengan system kontrak, dimana pemerintah
tidak dapat membatalkan secara sepihak segala kontrak yang dibuat oleh dan
antara pemerintah dengan kontraktor atau pihak lainnya. Untuk membatalkan
setiap kontrak yang dibuat oleh para pihak, maka salah satu pihak dapat
mengajukan pembatalan kepengadilan atau kelembaga arbitrase internasional.
Lembaga inilah nantinya yang akan membatalkan kontrak yang dibuat oleh para
37
G.Sumber-Sumber Hukum Pertambangan Mineral dan Batubara
Kajian terhadap sumber hukum pertambangan mineral dan batubara
dapat dipilih dua macam, yaitu:
1. Sumber hukum pertambangan mineral dan batubara yang bersumber dari
hukum yang berlaku di Indonesia.
2. Sumber hukum pertambangan mineral dan batubara yang bersumber dari
hukum yang berlaku di negara lain.
Sumber hukum pertambangan mineral dan batubara yang utama yang
berlaku di Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara merupakan ketentuan atau
Undang-Undang yang mengganti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967
tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan. Undang-Undang Nomo11
Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan sudah tidak
sesuai lagi dengan perkembangan zaman.33
Landasan filosofi ditetapkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yaitu:
1. Mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan
Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan
Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat
hidup orang banyak, karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara
38
untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam
usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.
2. Kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang merupakan
kegiatan usaha pertambangan diluar panas bumi, minyak dan gas bumi
secara air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai
tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan
pembangunan daerah secara berkelanjutan.
3. Perkembangan nasional maupun International.
4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok
pertambangan sudah tidak sesuai lagi sehingga dibutuhkan perubahan
peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan
batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan
batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien,
danberwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara
berkelanjutan.34
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara terdiri dari 26 bab dan 175 pasal. Bab tersebut, sebagai berikut:35
1. Bab 1 tentang ketentuan umum (pasal 1)
2. Bab II tentang asas dan tujuan (pasal 2 sampai dengan pasal 3)
3. Bab III tentang penguasaan mineral dan batubara (pasal 4 sampai dengan
pasal 5)
34 Ibid.
39
4. Bab IV tentang kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara (pasal 6 sampai dengan pasal 8)
5. Bab V tentang wilayah pertambangan (pasal 9 sampai dengan pasal 33)
6. Bab VI tentang usaha pertambangan (pasal 34 sampai dengan pasal 35)
7. Bab VII tentang izin usaha pertambangan (pasal 36 sampai dengan pasal 63)
8. Bab VIII tentang persyaratan perizinan usaha pertambangan (pasal 64
sampai dengan pasal 65)
9. Bab IX tentang izin pertambangan rakyat (pasal 66 sampai dengan pasal 73)
10. Bab X tentang izin usaha pertambangan khusus (pasal 74 sampai dengan
pasal 84)
11. Bab XI tentang persyaratan perizinan usaha pertambangan khusus (pasal
85 sampai dengan pasal 86)
12. Bab XII tentang data pertambangan (pasal 87 sampai dengan pasal 89)
13. Bab XIII tentang hak dan kewajiban (pasal 90 sampai dengan pasal 112)
14. Bab XIV tentang penghentian sementara kegiatan izin usaha
pertambangan dan izin usaha pertambangan khusus (pasal 113 sampai
dengan pasal 116)
15. Bab XV tentang berakhirnya izin usaha pertambangan dan izin usaha
pertambangan khusus (pasal 117 sampai dengan pasal 123)
16. Bab XVI tentang usaha jasa pertambangan (pasal 124 sampai dengan pasal
127)36
36 Ibid.
40
17. Bab XVII tentang pendapat negara dan daerah (pasal 128 sampai dengan
pasal 133)
18. Bab XVIII tentang penggunaan tanah untuk kegiatan usaha pertambangan
(pasal 134 sampai dengan pasal 138)
19. Bab XIX tentang pembinaan, pengawasan, dan perlindungan masyarakat
(pasal 139 sampai dengan pasal 145)
20. Bab XX penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan
(pasal 146 sampai dengan pasal 148)
21. Bab XXI tentang penyidikan (pasal 149 sampai dengan pasal 150)
22. Bab XXII tentang sanksi administratif (pasal 151 sampai dengan pasal 165)
23. Bab XXIII tentang ketentuan pidana (pasal 158 sampai dengan pasal 165)
24. Bab XXV tentang ketentuan peralihan (pasal 169 sampai dengan pasal 172)
25. Bab XXVI tentang ketentuan penutup (pasal 173 sampai dengan pasal 175)
Ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Babtubara dijabarkan lebih lanjut dalam
peraturan pemerintah dan peraturan presiden. Peraturan pemerintah yang
dimaksud, meliputi:37
1. Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang
wilayah pertambangan
2. Peraturan pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang pelaksanaan kegiatan
pertambangan mineral dan batubara
37 Ibid.
41
3. Peraturan pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang pembinaan dan
pengawasan penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan mineral
dan batubara.
4. Peraturan pemerintah Nomor 75 Tahun 2010 tentang reklamasi dan
BAB III
DASAR HUKUM PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR: 57/PID.SUS/PN.SRL TENTANG TRADITIONAL GOLD MINING
A.Identitas Terdakwa
Kasus Traditional Gold Mining yang diputus bebas oleh Pengadilan
Negeri Sarolangun dengan terdakwa bernama Rusli Ilhamdi bin Saidi.
Terdakwa lahir pada tahun 1992 di Desa Baru Kecamatan Sarolangun
Kabupaten Sarolangun kemudian tinggal di Desa Ujung Tanjung Kecamatan
Sarolangun Kabupaten Sarolangun dan saat ini beliau berusia 23 Tahun. 1
B.Waktu dan Lokasi Terjadinya Tindak Pidana
Pada hari sabtu tanggal 28 Nopember 2015 jam 17:00 terdakwa
berangkat menuju toko emas batang hari dengan membawa pentolan emas
yang akan dijual oleh terdakwa, terdakwa berangkat dari tempat tinggalnya
yang beralamatkan di kecamatan pemenang kabupaten meringin tepatnya di
belakang pegadaian pasar.
C.Kronologi Kasus
Kejadian dan kasus tindak pidana Traditional Gold Mining yang sudah marak dan sering kita jumpai di Negara kita, walaupun negara sudah
43
memberikan aturan-aturan juga beserta hukumannya, akan tetapi masih saja ada
pelaku yang melanggar aturan tersebut. Salah satunya adalah kasus
pertambangan tanpa izin yang dilakukan terdakwa Rusli Ilhamdi bin Saidi di
daerah jambi. Lebih jelasnya akan penulis paparkan kronologi kasus tersebut.
Butiran emas yang dijual terdakwa Rusli Ilhamdi bin Saidi diruko emas
batang hari jalan lintas Sumatera R.T. 01 Kelurahan aur gading kecamatan
Sarolangun kabupaten Sarolangun, emas yang terdakwa bawa belum dibeli oleh
orang di toko emas batang hari tersebut oleh karena akan diperoses terlebih
dahulu dengan cara dibakar menggunakan tembikar, setelah melalui proses
pembakaran baru dapat diketahui kandungan emasnya lalu ditimbang dan
dibayar sesuai harga yang ditetapkan toko tersebut.2
Terdakwa mendulang emas tersebut dengan cara traditional dengan
terlebih dahulu meleburkan tanah dan butiran pasir menggunakan cangkul,
kemudian tanah dan pasir diambil menggunakan batok kelapa dimasukkan
dalam dulang, setelah itu pasir dan campuran tanah diayak-ayak dicampur air
secukupnya, kemudian tanah dan butiran pasir dibuang dan yang tertinggal
adalah kalam yang bercampur butiran emas lalu dikumpulkan dalam ember,
setelah dirasa cukup dicampur dengan air raksa secukupnya untuk menyatukan
butiran emas tersebut dan terakhir butiran emas dimasukkan dalam kain dan
diperas. Dan kegiatan mendulang ems tidak disyaratkan adanya izin dari pihak
terkait karena kegiatan mendulang termasuk kedalam penambangan tradisional.
44
Selanjutnya terdakwa langsung menuju kedalam tooko emas batang hari
yang saat itu kondisi pintu toko hanya sekitar setengah meter dan saat terdakwa
masuk kedalam took terdakwa langsung diamankan oleh saksi hendra
Hermansyah dating saksi Feri Andrial, saksi Fatqurahman, saksi Danda Satri
dan saksi Desriadi yang merupakan anggota kepolisian dari polres Sarolangun
dan langsung mengamankan terdakwa dan saksi Hendra Hermansyah serta saksi
edo, selanjutnya terdakwa beserta barang bukti dibawa ke Polres Sarolangun
untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.3
D.Dakwaan dan Saksi-saksi
Jaksa penuntut umum menuntut dua dakwaan yakni:
1. Berdasarkan penelitian penulis menemukan bahwa terhadap barang bukti
berupa lempengan/pentolan emas yang dibawa oleh terdakwa yang
dilakukan Sodara Hasbi petugas dari dinas Perindustrian dan Perdagangan
balai pelayanan kemetrologian Pemerintah Provinsi Jambi pada hari Selasa
tanggal 15 Desember 2015 dengan berat1,62 gram.4
Perbuatan terdakwa Rusli Ilham bin Saidi sebagaimana diatur dan
diancam pidana dalam pasal 161 Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
2. Karena perbuatan terdakwa yang melanggar unsur perbuatan penadahan
dan sesuai Berita acara pemeriksaan Laboratoris kriminalistik dari
3 Ibid., 4. 4 Ibid., 5.
45
Puslabfor Bereskrim Polri laboratorium forensic cabang Palembang
Nomor: 67/BMF/2016 Tanggal 15 januari 2016, terhadap barang bukti
yang diberi kode BB3 disimpulkan terhadap kandungan emas sebanyak
32,42 %. Perbuatan terdakwa diancam pidana dalam pasal 480 ayat (1)
KUHP tentang penadahan.5
Untuk membuktikan tuntutan jaksa penuntut umum, jaksa
menghadirkan saksi-saksi dalam persidangan untuk didengar kesaksiannya
(keterangan). Ada 4 saksi yang akan diajukan jaksa penuntut umum yang
dibawah sumpah menurut agamanya masing-masing di persidangan
menerangkan yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Saksi 1 ferlandrial, SH. Bin Khuzairi: saksi tidak tahu siapa pemilik toko
emas tersebut saksi juga mendapat informasi di toko emas batang hari sering
ada transaksi jual beli emas dari warga yang menyampaikan di toko emas
dari hasil tambang tanpa izin yang ada di kabupaten Sarolangun dan setau
saksi di tempat terdakwa jual butiran pasir emas tidak ada memiliki izin dari
aparat berwenang dalam jual beli butiran pasir emas.6
2. Saksi II Fatqurohman Edo Saputra bin Muji: butiran emas yang dijual
terdakwa didapat dengan cara mendulang secara tradisional di desa sungai
baung kecamatan Sarolangun kabupaten Sarolangun, saksi yakin butiran
emas yang akan dijual oleh terdakwa mengandung emas. Setelah mendapat
5 Ibid., 6. 6 Ibid., 9.