• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan hukum pidana Islam terhadap putusan nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tinjauan hukum pidana Islam terhadap putusan nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN

NOMOR: 57/PID.SUS/2016/PN.SRL TENTANG

TRADITIONAL

GOLD MINING

SKRIPSI

Oleh:

Alam Subuh Fernando NIM: C73214022

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Fakultas Syariah dan Hukum

Jurusan Hukum Publik Islam

Prodi Hukum Pidana Islam

Surabaya

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul” Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan

Nomor: 57/Pid.Sus/Pn.Srl Tentang Traditional Gold Mining” ini adalah hasil

penelitian kepustakaan untuk menjawab pertanyaan: 1) bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/Pn.srl? 2) bagaimana analisis Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 57/Pid.Sus/Pn.Srl tentang Traditional Gold Mining.

Data penelitian dikumpulkan dengan tehnik dokumentasi, yaitu mengumpulkan dokumen-dokumen terkait permasalahan, yang terdiri dari data

primer berupa Putusan Pengadilan Negeri Sarolangun Nomor

57/Pid.Sus/2016/Pn.Srl dan peraturan perundang-undangan serta data sekunder berupa karya ilmiah terkait dengan pertambangan. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif analisis dengan pola pikir deduktif untuk mengetahui kepastian hukum dalam putusan tersebut serta memperoleh analisis Hukum Pidana Islam.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: pertama, pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentangTraditional Gold Mining didasarkan pada peraturan khusus, yaitu pasal 161 Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara dengan mengesampingkan peraturaan umum, yaitu pasal 480 ayat 1 KUHP. Atas pertimbangaan itu, maka hakim membebaskan terdakwa karena tidak terpenuhinya unsur pertambangaan; kedua, dasar pertimbangan hakim dalam putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tersebut sesuai dengan hukum pidana Islam yakni termasuk kedalam hukuman ta’zi<r yang tidak disebutkan secara eksplisit di al-Qur’an dan Hadis sehingga penjatuhan hukumannya menjadi kewenangan ulil amri (Hakim). Adaapun berat

ringannya sanksi ta’zi<r disesuaaikaaan dengan besar kecilnyaa kejahataaan yang

telah dilakukan.

Sejalan dengan kesimpulan di atas dalam penanganan problematika-problematika di Negara ini seharusnya pihak birokrasi Negara lebih teliti dan jeli lagi dalam membuat Undang-Undang maupun dalam penerapannya, agar antara aturan dan penerapan tidak terjadi ketimpangan dalam eksekusinya. Apalagi permasalahan yang menyangkut traditional gold mining ini sangat berbahaya bagi lingkungan sekitar dan seharusnya ada sanksi tegas dari aparat penegak hukum, sehingga memberikan kepastian hukum.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

PENGESAHAN... iv

MOTTO... v

PERSEMBAHAN... vi

ABSTRAK... vii

KATA PENGANTAR... viii

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TRANSLITERASI... xiii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah... 7

C. Rumusan Masalah... 8

D. Kajian Pustaka... 9

E. Tujuan Penelitian... 11

F. Kegunaan Hasil Penelitian... 12

G. Definisi Operasional... 12

H. Metode Penelitian... 13

I. Sistematika Pembahasan... 17

BAB II TEORI HUKUM PIDANA ISLAM TENTANG TRADITIONAL GOLD MINING……….... 19

A. Pertambangan Dalam Kajian Fikih... 19

B. Jari<mah Ta’zi<r... 20

C. Macam-macam Jari<mah Ta’zi<r……… 22

D. Definisi Hukum Pertambangan………. 28

(8)

F. Karakkteristik Hukum Pertambangan…………. 36

G. Sumber-sumber Hukum Pertambangan………... 38

BAB III DASAR HUKUM PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR: 57/PID.SUS/PN.SRL TENTANG TRADITIONAL GOLD MINING A. Identitas Terdakwa………. 43

B. Waktu Dan Lokasi Terjadinya Tindak Pidana.. 43

C. Kronologi Kasus………. 43

D. Dakwaan Dan Saksi-Saksi………. 45

E. Pertimbangan Hakim………. 47

F. Putusan Hakim………... 50

BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR: 57/PID.SUS/PN.SRL TERNTANG TRADITIONAL GOLD MINING………... 51

A. Analisis Dasar Pertimbangan Hakim... 51

B. Analisis Hukum Pidana Islam dalam Putusan Nomor: 57/pid.sus/Pn.Srl Tentang Traditional Gold Mining...54

BAB V PENUTUP... 60

A. Kesimpulan... 60

B. Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA... 62

(9)

BAB 1

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam

termasuk bahan galian pertambangan. Indonesia memiliki ketergantungan

tinggi terhadap pemanfaatan bahan galian pertambangan tersebut sebagai

modal pembangunan. Pemanfaatanya diatur oleh pemerintah melalui suatu

peraturan perundang-undangan.

Dalam pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia

1945 dinyatakan bahwa:1

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Berkaitan dengan pasal tersebut, Salim HS menyatakan sebagai berikut:

“Indonesia merupakan Negara yang kaya akan bahan galian (tambang). Bahan galian itu, meliputi emas, perak, tembaga, minyak dan gas bumi, batu bara, dan lain lain.Bahan galian itu dikuasai oleh negara. Hak penguasaan negara berisi wewenang untuk mengatur, mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan bahan galian, serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Penguasaan oleh Negara diselenggarakan oleh

pemerintah.”2

Sektor pertambangan di Indonesia merupakan sektor yang berfungsi

mendapatkan devisa negara paling besar, namun keberadaan kegiatan dan/atau

1Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.

(10)

2

usaha tambang di Indonesia kini banyak dipersoalkan oleh berbagai kalangan

namun dalam implementasinya, negara sering dihadapkan pada kondisi

dilematis antara pemanfaatan optimal dengan kerugian lingkungan dan sosial.3

Dewasa ini kegiatan pertambahan sudah sangat berkembang, hasil yang

diberikan sangat memberikan keuntungan bagi peningkatan kesejahteraan

hidup masyarakat, khususnya bagi para penambang. Meskipun demikian,

kegiatan yang menjajikan ini turut pula membawa dampak yang merugikan bagi

manusia dan lingkungan hidup.Kegiatan tersebut tidak dilakukan berdasarkan

berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan, yaitu kegiatan pertambangan

yang dilakukan secara illegal atau tanpa izin yang dikenal dengan sebutan PETI

(Pertambangan Emas Tanpa Izin).4

Karena kegiatan usaha tambang telah menimbulkan dampak negatif,

maka dalam kegiatan pertambangan perlu adanya pengaturan yang dapat

mencegah timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan. Sebagaimana

yang telah diketahui bahwa negara mempunyai hak menguasai atas bumi, air

dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya termasuk tambang.

Pengaturan dari izin tersebut adalah salah satu bentuk pelaksanaan

fungsi pengaturan dan bersifat mengendalikan yang dimiliki oleh pemerintah

terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat.

Sejak diberlakukan nya Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang

pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti dari Undang-Undang

3 Ibid..

(11)

3

Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan

maka system kontrak karya (contract of work) dan Kontrak Bagi Hasil (production sbaring contract) tidak berlaku lagi. Undang-Undang tersebut mengatur usaha pertambangan di Indonesia melalui izin usaha pertambangan

(IUP).5 Namun izin tersebut telah memberikan kesempatan luas kepada badan

usaha swasta dan individu atau perorangan untuk mengambil dan mengeruk

barang tambang di seluruh wilayah pertambangan Indonesia.

Dalam pandangan Islam, menurut Nabhani, hutan dan tambang yang

tidak terbatas jumlahnya dan tidak mungkin dihabiskan adalah milik umum dan

dikelola oleh Negara, hasilnya harus diberikan kepada rakyat dalam bentuk

barang yang murah tanpa subsidi untuk kebutuhan primer masyarakat semisal

pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum.6 Islam sebagai agama yang paling

sempurna telah memberikan tuntutan dalam mengelola dan memanfaatkan

semua isi perut bumi untuk kemaslahatan manusia.

Pemenuhan kebutuhan menurut Al-Syatibi adalah tujuan aktifitas

ekonomi, dan pencarian terhadap tujuan ini adalah kewajiban agama. Dengan

kata lain, manusia berkewajiban untuk memecahkan berbagai permasalahan

ekonominya. Oleh karena itu, problematika ekonomi manusia dalam perspektif

5Pasal 1 ayat (6) Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan

Batubara.

6 Taqyuddin an-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam (Surabaya:

(12)

4

islam adalah pemenuhan kebutuhan (fulfillment needs) dengan sumber daya

alam yang tersedia.7

Berkenaan dengan pengelola barang tambang, ulama kalangan

Malikiyah dalam perkataan mereka yang mashur, berpendapat bahwa segala

sesuatu yang keluar dari perut bumi berupa barang tambang tidak bisa dimiliki

dengan pengelolanya, akan tetapi barang tersebut menjadi milik Baitul kaum

muslimin, yakni milik negara (pemerintah). Negaralah yang seharusnya

menguasai barang tambang karena hukum menunjukkan pertimbangan

maslahat umum menuntut agar terwujudnya keadilan maka harus dikelola oleh

pemerintah dalam suatu negara.

Karena dikhawatirkan barang tambang semacam ini ditemukan oleh

orang-orang yang jahat dan tidak bertanggung jawab. Jika dibiarkan maka

mereka akan membuat kerusakan besar dan kadang kala mereka berebut untuk

mendapatkannya yang mengakibatkan pertumpahan darah (saling bunuh).

Karena itu harta benda tersebut harus dikumpulkan dibawah kekuasaan

pemerintah yang merupakan wakil dari kaum muslimin, yang pemanfaatannya

kembali kepada mereka (umat muslim) untuk kemaslahatan.8

Demikian pula apabila ada seorang atau bahkan sekelompok orang

dalam suatu perusahaan (korporasi) yang melakukan kegiatan eksplorasi

terhadap barang tambang maka mereka tidak boleh memilikinya, akan tetapi

7Adi Warman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2008),

387.

(13)

5

seluruhnya adalah milik umum kaum muslimin yang dikuasai dan dikelola oleh

pemerintah.

Manusia diberi kemampuan untuk mengolah alam sebagai sumber

kehidupan. Adapun bentuk rezeki yang diperoleh seseorang tidk lain berasal

dari sumber daya alam yang telah diciptakan oleh Allah swt sebelum manusia

ada di muka bumi ini. Sebagai firman Allah swt dalam surah Al-A’raf (7):56.9

                          

Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan diharapkan (dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Berdasarkan dari pendapat tersebut, pelaku pertambangan bisa

dikelompokkan dengan pertambangan skala besar, pertambangan skala

menengah, dan juga pertambangan skala kecil dalam bentuk pertambangan

rakyat. Kegiatan pertambangan banyak menimbulkan persoalan baik terhadap

lingkungan maupun terhadap masyarakat setempat. Persoalan pertambangan

tidak hanya ditimbulkan oleh pertambangan skala besar saja tetapi

pertambangan skala menengah maupun pertambangan skala kecil.

Nandang Sudrajat mengemukkan sebagai berikut:

“Pertambangan dalam skala kecil dilakukan dalam bentuk pertambangan rakyat. Dalam melakukan kegiatan pertambangan rakyat walaupun termasuk dalam pertambangan skala kecil tetapi bukan berarti tidak mempunyai persoalan. Meskipun secara tradisional, tetapi

9Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, cet. 71 (Semarang: PT. Hidakarya Agung

(14)

6

terkadang meliputi wilayah yang cukup luas, karena diusahakan oleh masyarakat setempat dengan pelaku usaha yang tidak diimbangi dengan peralatan, fasilitas, pengetahuan, dan permodalan. Disamping sebagai keterbatasan tadi, kendala aturan turut memperparah situasi dan kondisi, sehingga sehingga tambang rakyat cenderung dilakukan tanpa izin (PETI), sehingga rentan terhadap kecelakaan dan keselamatan kerja, dan terkadang menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan

yang tidak terkendali. “10

Yang pada intinya, pertambangan adalah rangkaian dalam rangka upaya

pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan, dan penjualan

bahan galian. Usaha pertambangan bahan-bahan galian dibedakan menjadi

enam macam, yaitu: penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan,

pemurnian, pengangkutan dan penjualan.11

Kegiatan pertambangan selain mendatangkan devisa dan menyedot

lapangan kerja juga rawan terhadap pengrusakan lingkungan. Banyak kegiatan

penambangan yang mengundang sorotan masyarakat sekitarnya karena

pengrusakan lingkungan, apalagi penambangan emas tanpa izin yang selain

merusak lingkungan juga membahayakan jiwa penambang karena keterbatasan

pengetahuan si penambang dan juga karena tidak adanya pengawasan dari dinas

instansi terkait.

Berdasarkan dari pemaparan di atas. Maka penulis ingin lebih jauh

memaparkan tentang bagaimana hukum traditional gold mining dipandang dari sudut hukum pidana dan hukum pidana Islam dengan hal-hal tersebut maka

penulis bermaksud untuk menulis dan menyusun skripsi dengan judul “Tinjauan

10Nandang Sudrajat, Teori dan Praktik Pertambangan Indonesia Menurut Hukum(Jakarta: Pustaka

Yustisia, 2010), 76.

(15)

7

Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/Pn.Srl

Tentang Traditional Gold Mining”

Dengan harapan skripsi ini dapat membantu kepedulian dan kepekaan

terhadap hak-hak seseorang untuk hidup tanpa mengabaikan kepekaan

aturan-aturan hukum baik yang terdapat dalam kitab Undang - undang Tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara maupun yang telah diatur dalam pidana

Islam sehingga dapat diketahui perbandingan antara hukum Pidana Islam dan

Kitab Undang-undang Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara yang

berlaku di Indonesia dalam menegakkan dan menciptakan keadilan di tengah

Masyarakat khususnya yang menyangkut tindak pidana traditional gold

mining.

B.Identifikasi dan Batasan Masalah

1. Identifikasi masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas terkait

tentang tindak pidana traditional gold mining. Maka penulis akan

mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

a. Dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri

Sarolangun Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN/Srl tentang Traditional Gold

Mining

b. Sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana melakukan Traditional Gold

(16)

8

c. Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan hakim dalam

Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN/Srl tentang Traditional Gold

Mining

2. Batasan Masalah

Untuk membatasi permasalahan agar tidak membahas

permasalahan terlalu jauh maka penulis memberi batasan masalah sebagai

berikut:

a. Dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri

Sarolangun Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN/Srl tentang Traditional Gold Mining

b. Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan hakim dalam

Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold

Mining.

C.Rumusan Masalah

Berdasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasannya, maka dapat

dirumuskan dalam permasalahan ini sebagai berikut:

1. Bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor:

57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining ?

2. Bagaimana analisis Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan hakim

dalamDirektori putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining ?

(17)

9

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka adalah deskripsi ringkasan tentang kajian penelitian

yang sudah pernah dilakukan diseputar masalah yang akan diteliti sehingga

terlihat jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan

pengulangan atau duplikasi dari kajian penelitian yang telah ada. Penulis telah

melakukan kajian tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Traditional

Gold Mining.12 Akan tetapi, skripsi yang penulis bahas sangatlah berbeda dari

penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini bisa dilihat

dari judul-judul yang sudah ada, meskipun mempunyai kesamaan tema, tetapi

beberapa skripsi yang mempunyai bahasan yang sama dalam satu tema yang

dapat peneliti jumpa, antara lain sebagai berikut:

1. Thesis yang ditulis oleh Anwar Habibi Siregar Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah yang berjudul “Pengelolaan Barang Tambang dalam

Hukum Islam dan Hukum Positif”. Dalam penelitian ini penulis ingin

mengetahui penjelasan dalam hukum positif nya bagaimana, dan dalam

hukum Islam nya bagaimana.

2. Skripsi yang ditulis oleh Alan Kurniawan yang berjudul “Penertiban

Terhadap Kegiatan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kabupaten

Dharmasraya”. Dalam penelitian tersebut penulis ingin mengetahui

permasalahan yang ada di kabupaten tersebut, peran serta pemerintah

dalam proses penertiban pertambangan tanpa izin di kabupaten

12 Tim penulis, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi (Surabaya: Fakultas Syariah dan Hukum, 2015),

(18)

10

Dharmasraya, dan penerapan Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009

Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara di kabupatem

Dharmasraya.

Dari thesis dan skripsi diatas perbedaannya dengan skripsi penulis

adalah penulis menggunakan studi putusan, serta putusan Hakim dalam

memutuskan perkara Traditional Gold Mining tentulah sangat berbeda.

Karena dalam ketentuan Pasal 161 Undang-Undang nomor 4 tahun 2009

tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara sudah tidak sesuai dalam

peraturan Unndang-Undang tersebut yang dikaitkan dengan Putusan Nomor:

57/Pid.Sus/2016/PN.Srl.13

Kajian pustaka yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk mendapat

gambaran mengenai pembahasan dan topik yang akan diteliti oleh peneliti.

Namun tidak dipungkiri bahwa penelitian yang telah dilakukan oleh para

penulis sebelumnya tetap menjadi bahan atau masukan dalam penelitian ini.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah hal-hal tertentu yang hendak dicapai dalam

suatu penelitian. Tujuan penelitian akan memberikan arah dalam pelaksanaan

penelitian. Adapun tujuan dari peneliti yaitu:

1. Mengetahui dasar pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor:

57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining

(19)

11

2. Mengetahui analisis Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan Hakim

dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold

Mining

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat

sekurang-kurangnya dua aspek yang mempertegas bahwa masalah penelitian ini

bermanfaat, baik dari segi teoritis maupun praktis. Maka dari itu hasil dari

penelitian ini diharapkan ada nilai guna paada dua (2) aspek:

1. Aspek Teoritis

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan

penelitian terhadap Hukum yang mampu memperkaya khazanah ilmu

Hukum dengan kepustakaan dibidang penerapan pidana penjara dalam

Putusan Pengadilan Negri Sarolangun Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl

Tentang Traditional Gold Mining.

2. Aspek Praktis

Penelitian ini mampu memberikan solusi alternatif dalam

memberikan hukuman yang sesuai bagi palaku Traditional Gold Mining.

G. Definisi Operasional

Sebagai gambaran didalam memahami suatu pembahasan maka perlu

(20)

12

skripsi agar tidak menyimpang apa yang dimaksud, maka di sini perlu

dijelaskan dan dibatasi pengertian dari judul skripsi sebagai berikut:

1. Hukum Pidana Islam: Hukum Pidana Islam adalah Perbuatan-perbuatan

yang dilarang oleh syarak yang diancam oleh Allah dengan hukuman ta’zi<r yang bersumber dari dalil (nas), baik dari alquran maupun hadis ataupun

sumber-sumber yang lain.14 Suatu perbuatan dinamai jarimah apabila

perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian bagi orang lain baik jasad

anggota badan, jiwa, perasaan ataupun hal-hal lain yang harus dipelihara

dan dijungjung tinggi keberadaanya.Mengenai hukuman yang ditentukan

dalam alquran dan hadis disebut hudu>d, qis}a>s}, dan di<yat, sedangkan yang

tidak ada nashnya, yaitu: disebut hukuman ta’zi<r.

2. Traditional Gold Mining: Pertambangan yang dilakukan perseorangan,

sekelompok orang, atau perusahaan yayasan berbadan hukum yang dalam

operasinya tidak memiliki izin dari instansi pemerintah sesuai peraturan

perundang-undangan yang berlaku.15

H. Metode Penelitian

Penelitian ini dapat digolongkan dalam jenis penelitian kualitatif

dengan prosedur penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif berupa

data tertulis dari dokumen, Undang-Undang dan artikel yang dapat ditelaah.

14 Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2004),

9.

(21)

13

Untuk mendapatkan hasil penelitian akurat dalam menjawab beberapa

persoalan yang diangkat dalam penulisan ini, maka menggunakan metode:

1. Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah tentang tindak

pidana terhadap Putusan Pengadilan Sarolangun yang terkait dengan pokok

permasalahan yaitu:

a. Dasar pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor:

57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold Mining

b. Analisis Hukum Pidana Islam terhadap pertimbangan Hakim dalam

putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional Gold

Mining

2. Sumber Data

Untuk mendapatkan sumber data yang diperlukan penulis

menggunakan sumber data sebagai berikut:

a. Sumber primer

Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara

langsung dari obyek penelitian. Dalam penelitian ini sumber data tindak

pidana Traditional Gold Mining Putusan Pengadilan Sarolangun Nomor:

57/Pid.Sus/2016/PN.Srl

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang berupa semua publikasi

(22)

14

Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus

hukum, jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.

3. Teknik Pengumpulan Data

a. Dokumentasi, yaitu cara memperoleh data dengan cara menalaah

dokumen, dalam skripsi yang ditelaah adalah Putusan Nomor:

57/Pid.Sus/2016/PN.Srl.

b. Pustaka, yaitu pengumpulan refrensi melalui buku-buku.

4. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dalam bentuk uraian dan disusun

sebagai berikut:

a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali data yang diperoleh dari segi

pelengkapannya, kejelasannya, kesesuaiannya antara data-data yang

satu dengan yang lainya, guna relevansi dan keseragaman.16Dalam hal

ini penulis akan memeriksa kembali kelengkapan data-data dari Putusan

Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl.

b. Organizing, yaitu menyusun dan mensistematikan data yang diperoleh

dalam kerangka paparan yang sudah dirancanakan dan tersusun pada bab

III tentang turut tindak pidana Traditional Gold Mining serta

pertimbangan hakim dalam memutuskan hukuman bagi pelaku

(Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PnSrl).17

16Bambang Sanggona, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 125. 17 Ibid.

(23)

15

c. Analizing, yaitu analisis dari data yang telah dideskripsikan mengenai

pembahasan tentang Putusan Nomor: 57/pid.sus/2016/PN.Srl dan

menganalisa dari hukum pidana islam dan hukum pidana Indonesia,

dalam rangka untuk menunjang bahasa atas proses menjawab

permasalahan yang telah dipaparkan di dalam rumusan masalah.18

5. Teknik Analisis Data

Teknik analisa data penelitian ini menggunakan deskriptif analisis

dengan pola pikir deduktif.

a. Deskriptif analisis adalah teknik analisa dengan cara menjelaskan

dengan apa adanya, dalam hal ini data tentang pertimbangan hakim

dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl tentang Traditional

Gold Mining. kemudian dianalisa dengan menggunakan hukum pidana Islam.

b. Pola pikir deduktif adalah pola pikir yang berangkat dari variabel yang

bersifat umum, dalam hal ini teori hukum pidana Islam kemudian

diaplikasikan kepada variabel yang bersifat khusus, adalah

pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor: 57/Pid.Sus/2016/PN.Srl

tentang Traditional Gold Mining.

(24)

16

I. Sistematika Pembahasan

Teknik yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik deskriptif

analisa, yaitu suatu teknik dipergunakan dengan jalan memberikan gambaran

terhadap masalah yang dibahas dengan menyusun fakta-fakta sedemikian rupa

sehingga membentuk konfigurasi masalah yang dapat dipahami dengan mudah.

Sistematika pembahasan bertujuan agar penyusun skripsi terarah sesuai dengan

bidang kajian untuk mempermudah pembahasan. Dalam skripsi ini

dikelompokkan menjadi lima Bab, terdiri dari sub-sub Bab yang masing-masing

mempunyai hubungan dengan yang lain dan merupakan rangkaian yang

berkaitan. Agar penulis skripsi ini terkesan teratur, maka dalam sistematikanya

sebagai berikut:

Bab pertama merupakan pendahuluan yang meliputi latar belakang

masalah, identifikasi dan batasan masalah, kegunaan hasil penelitian, defines

operasional, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab kedua landasan teori. Pada bab ini menjelaskan mengenai

pertambangan dalam kajian fikih, definisi jari<mah ta’zi<r dan macam-macam

jari<mah ta’zi<r, pengertian dan asas-asas hukum pertambangan, sumber-sumber hukum pertambangan.

Bab ketiga merupakan pembahasan mengenai dasar pertimbangan

hakim. Proses meneliti data-data dalam Putusan Pengadilan Negeri Sarolangun

(25)

17

Bab keempat adalah analisa Hukum Pidana Islam terhadap tindak

pidana Traditional Gold Mining yang terdapat dalam Putusan Nomor:

57/Pid.Sus/2016/PN.Srl.

Bab kelima adalah merupakan Bab terakhir berupa kesimpulan yang

merupakan jawaban dari pokok masalah yang telah dianalisis pada Bab-Bab

sebelumnya. Dan dalam Bab ini juga berisikan saran-saran yang berguna untuk

(26)

BAB II

TEORI HUKUM PIDANA ISLAM TENTANG TRADITIONAL GOLD MINING

A.Pertambangan dalam Kajian Fikih

Dalam pandangan hukum Islam barang tambang adalah milik bersama

(umum), dengan demikian tiada seorangpun yang berhak menguasainya bahkan

memilikinya secara individu. Termasuk dalam hal ini kepengelolaan barang

tambang tidak boleh dilakukan oleh perorangan (pribadi), karena milik umum

maka harus dikelola secara umum yang mana diwakili oleh negara atau

pemerintah yang berwenang agar kemanfaatan dari barang tersebut dapat

dirasakan oleh umum (masyarakat luas).1

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa segala sesuatu yang keluar dari

perut bumi berupa barang tambang tidak bisa dimiliki dengan mengelolanya,

akan tetapi barang tambang tersebut menjadi milik baitulmal kaum muslimin,

yakni milik negara (Pemerintah). Negaralah yang seharusnya menguasai barang

tambang karena hukum menunjukan pertimbangan maslahat umum menuntut

agar terwujudnya keadilan maka harus dikelola oleh pemerintah dalam suatu

negara.2

Menurut ahli ekonomi Islam, Taqyuddin An-Nabhani bahwa negaralah

yang melakukan pengelolaan hak milik umum (collective property) serta milik

1 Anwar Habibi Siregar, Pengelolaan Barang Tambang dalam Hukum Islam dan Hukum Positif

(Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2018), 388.

(27)

19

negara (state property). Harta benda yang termasuk hak milik umum pada dasarnya tidak boleh diberikan kepada siapapun, seperti: air, garam, padang

gembalaan dan lapangan, negara sama sekali tidak boleh memberikannya

kepada siapapun, meskipun semua orang boleh memanfaatkannya dimana

kemanfaatan tersebut merupakan hak mereka, dan tidak mengkhususkannya

untuk satu orang saja, sementara yang lain tidak.3

Ibnu Qudamah dalam kitab besarnya Al-Mughni Ibya’u al-mawat,

mengatakan: barang-barang tambang yang oleh manusia didambakan hasilnya

dan dimanfaatkan tanpa biaya, seperti halnya garam, air, belerang, gas, mumia

(semacam obat), potreleum, intan dan lain-lain yang tidak bisa dihakmilikkan

penggarapannya, tidak boleh dipertahankan kepemilikannya kepada seseorang

sehingga kaum muslimin lainnya terhalang untuk mendapatkannya. Hal ini

akan membahayakan, menyulitkan dan merugikan mereka. Karena barang

tambang tersebut adalah milik umum, maka harus diberikan kepada negara

untuk mengelolanya.4

B.Jari<mah Ta’zi<r

Jari<mah ta’zi<r adalah Jari<mah yang diancam dengan hukuman ta’zi<r.

Pengertian ta’zi<r berasal dari bentuk mashdar ُريزْعَي- َرَزَع yang secara etimologis

berarti menolak atau mencegah.5 Dalam dunia pesantren, istilah ta’zi<r diartikan

3Taqyuddin An-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam (Surabaya:

Risalah Gusti, 2002), 244.

4Ibnu Qudamah, Al-Mugnî, cet. 2 (Kairo: Hajar, 1992 ), 155.

(28)

20

sebagai suatu pelajaran atau pendidikan dalam bentuk hukuman tertentu

terhadap santri yang karena suatu sebab, misalnya kesiangan shalat subuh atau

tidak ikut mengaji tanpa ada alasan yang benar. Hukuman tersebut bertujuan

mencegah yang bersangkutan mengulangi kembali perbuatannya dan membuat

yang bersangkutan menjadi jera.6

Pengertian secara terminologis, yang dikehendaki dalam konteks fiqih

Jinayah adalah seperti di bawah ini:

ْوُقُعْلا َوُه ُرْ يِزْعَّ تلَا ِدِهاجُمْلا ىِضاَقْلاِوأ ِرْملأا ِِّلَِوِل اهِرِدْقَ ت ِكْرَ تَو اهِراَدْقِم ِناَيَ بِب ِعِراَّشلا َنِم ُّدُرَ ي َْلَ تىَّلَا ُتاب

َنْي

“Ta’zi<r adalah bentuk hukuman yang tidak disebutkan ketentuan kadar hukumannya oleh syara’ dan menjadi kekuasaan waliyyul amri atau

Hakim.”7

Sebagian ulama mengartikan ta’zi<r sebagai hukuman yang berkaitan

dengan pelanggaran terhadap hak Allah dan hak hamba yang tidak ditentukan

Al-Qur’an dan Hadis, ta’zi<r berfungsi memberikan pengajaran kepada si

terhukum dan sekaligus mencegahnya untuk tidak mengulangi perbuatan

serupa. Sebagian lain mengatakan sebagai sebuah hukuman terhadap perbuatan

maksiat yang tidak dihukum dengan hukuman h{ad atau kafarat.8

6A. Djazuli, Fiqh Jinayah (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1997), 1.

7Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemah (Semarang: PT. Hidakarya

Agung Jakarta, 2002), 30.

8Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam(Fiqih Jinayah (Jakarta: Sinar

(29)

21

C.Macam-Macam Jari<mah Ta’zi<r

Dilihat dari hak yang dilanggar Jari<mah ta’zi<r dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Jari<mah ta’zi<r yang menyinggung hak allah adalah semua perbuatan yang

berkaitan dengan kepentingan dan kemaslahatan umum.

2. Jari<mah ta’zi<r yang menyinggung hak individu adalah setiap perbuatan yang

mengakibatkan kerugian pada orang lain.

Dari segi sifatnya, Jari<mah ta’zi<r dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu:

1. Ta’zi<r karena melakukan perbuatan maksiat

Maksiat adalah meninggalkan perbuatan yang diwajibkan dan

melakukan perbuatan yang diharamkan.

2. Ta’zi<r karena melakukan perbuatan yang membahayakan kepentingan

umum. Perbuatan-perbuatan yang masuk dalam jarimah ini tidak bisa ditentukan, karena perbuatan ini tidak diharamkan karena zatnya, melainkan karena sifatnya. Sifat yang menjadi alasan dikenakan hukuman adalah

terdapat unsur merugikan kepentingan umum.9

3. Ta’zi<r karena melakukan pelanggaran

Dalam merumuskan ta’zi<r karena pelanggaran terdapat beberapa pandangan, yang pertama berpendapat bahwa orang yang meninggalkan yang mandub (sesuatu yang diperintahkan dan dituntut untuk dikerjakan) atau mengerjakan yang makruh (sesuatu yang dilarang dan dituntut untuk

(30)

22

ditinggalkan) tidak dianggap melakukan maksiat, hanya saja mereka dianggap menyimpang atau pelanggaran dapat dikenakan ta’zi<r.

Menurut sebagian ulama yang lain, meninggalkan mandub dan mengerjakan yang makruh tidak bisa dikenakan hukuman ta’zi<r. Karena

ta’zi<r hanya bisa dikenakan jika ada ta’lif (perintah atau larangan). Apabila

hukuman diterapkan maka merupakan suatu pertanda menunjukan bahwa perbuatan itu wajib atau haram.10

Di samping itu, dilihat dari segi dasar hukum (penetapannya), ta’zi<r juga dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu sebagai berikut:

1. Jari<mah ta’zi<r yang berasal dari jarimah-jarimah hudud atau qis{as{, tetapi

syarat-syaratnya tidak terpenuhi, atau ada syubhat, seperti pencurian yang tidak mencapai nishab, atau oleh keluarga sendiri.

2. Jari<mah ta’zi<r yang jenisnya disebutkan dalam nas syara’ tetapi

hukumannya belum ditetapkan, seperti riba, suap, dan mengurangi takaran dan timbangan.

3. Jari<mah ta’zi<r yang baik jenisnya maupun sanksinya belum ditentukan

oleh syara’ jenis ketiga ini sepenuhnya diserahkan kepada ulil amri, seperti pelanggaran disipilin pegawai pemerintah.11

a. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan pembunuhan

Pembunuhan diancam dengan hukuman mati. Apabila

hukuman mati (qis{as{) dimaafkan maka hukumannya diganti diat.

10 Ibid, 256.

(31)

23

Apabila hukuman diat dimaafkan juga maka ulil amri berhak

menjatuhkan hukuman ta’zi<r apabila hal itu dipandang lebih

maslahat.

b. Jarimah takzir yang berkaitan dengan pelukaan

Menurut Imam Malik, hukuman ta’zi<r dapat digabungkan

dengan qhisash dalam jarimah pelukaan, karena qishash merupakan

hak adami, sedangkan ta’zi<r sebagai imbalan atas hak masyarakat.

Disamping itu, ta’zi<r juga dapat dikenakan terhadap jarimah

pelukaan apabila qis{as{nya dimaafkan atau tidak bisa dilaksanakan

karena suatu sebab yang dibenarkan oleh syara.

Menurut mazhab Hanafi, syafi’i, dan Hanbali, ta’zi<r juga dapat dijatuhkan terhadap orang yang melakukan jarimah pelukaan dengan berulang-ulang (residevis), disamping dikarenakan hukuman qis{as{.

c. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan kejahatan terhadap kehormatan

dan kerusakan akhlak

Jari<mah ta’zi<r macam yang ketiga ini berkaitan dengan jarimah zina, menuduh zina, dan penghinaan. Diantara kasus

perzinaan yang diancam dengan ta’zi<r adalah perzinaan yang tidak memenuhi syarat untuk dikenakan hukuman had, atau terdapat

syubhat dalam pelakunya, perbuatannya, atau tempat (objeknya).12

Demikian pula kasus percobaan zina dan perbuatan-perbuatan

12 Ibid.

(32)

24

prazina, seperti meraba-raba, berpelukan dengan wanita yangbukan

istrinya, tidur bersama tanpa hubungan seksual, dan sebagainya.

Penuduhan zina yang dikategorikan kepada ta’zi<r adalah

apabila orang yang dituduh itu bukan orang muhsan. Kriteria

muhshan menurut para ulama adalah berakal, balig, Islam, dan iffah (bersih) dari zina. Apabila seseorang tidak memiliki syarat-syarat

tersebut maka ia termasuk ghair muhshan. Termasuk juga kepada

ta’zi<r, penuduhan terhadap sekelompok orang yang sedang berkumpul dengan tuduhan zina, tanpa menjelaskan orang yang

dimaksud. Demikian pula tuduhan zina dengan qinayah (sendiri),

menurut pendapat Imam Hanifah termasuk kepada ta’zi<r, bukan

hudud.13

Adapun tuduhan-tuduhan selain tuduhan zina digolongkan

kepada penghinaan dan statusnya termasuk kepada ta’zi<r, seperti

tuduhan mencuri, mencaci maki, dan sebagainya.

Panggilan-panggilan seperti wahay kafir, wahai munafik, wahai fasik, dan

semacamnya termasuk penghinaan yang dikenakan hukuman

ta’zi<r.14

d. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan harta

Jari<mah yang berkaitan dengan harta adalah jarimah pencurian dan perampokan. Apabila kedua jarimah tersebut

13Abdur Rahman, Tindak Pidana dalam Syariat Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), 39. 14Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam,…,257.

(33)

25

syaratnya telah dipenuhi maka pelaku dikenakan hukuman h{ad.

Akan tetapi, apabila syarat untuk dikenakannya hukuman had tidak

terpenuhi maka pelaku tidak dikenakan hukuman h{ad, melainkan

hukuman ta’zi<r. Jarimah yang termasuk jenis ini antara lain seperti percobaan pencurian, pencopetan, pencurian yang tidak mencapai

batas nisbah, meng-ghasab, dan perjudian. Termasuk juga kedalam

kelompok ta’zi<r, pencurian karena adanya subhat, seperti pencurian oleh keluarga terdekat.

Jari<mah perampokan yang persyaratannya tidak lengkap, juga termasuk ta’zi<r. Demikian pula apabila terdapat syubhad baik dalam pelaku maupun perbuatannya. Contohnya seperti

perampokan dimana salah seorang pelakunya adalah anak yang

masih dibawah umur atau perempuan menurut Hanafiyah.

e. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan kemaslahatan individu

Jari<mah ta’zi<r yang termasuk dalam kelompok ini, antara lain seperti saksi palsu, berbohong (tidak memberikan keterangan

yang benar) didepan sidang pengadilan, menyakiti hewan,

melanggar hak privacy orang lain (misalnya masuk rumah orang

lain tanpa izin).15

f. Jari<mah ta’zi<r yang berkaitan dengan kemaslahatan umum

Jari<mah ta’zi<r yang termasuk dalam kelompok ini adalah

15 Ibid.

(34)

26

1) Jari<mah yang menganggu keamanan negara/pemerintah, seperti

spionase dan percobaan kudeta

2) Suap

3) Tindakan melampaui batas dari pegawai/pejabat atau lalai dalam

menjalankan kewajiban. Contohnya seperti penolakan hakim

untuk mengadili suatu perkara, atau kesewenang-wenangan

hakim dalam memutuskan suatu perkara

4) Pelayanan yang buruk dari aparatur pemerintah terhadap

masyarakat

5) Melawan petugas pemerintah dan membangkang terhadap

peraturan, seperti melawan petugas pajak, penghinaan terhadap

pengadilan, dan menganiaya polisi

6) Melepaskan narapidana dan menyembunyikan buronan

(penjahat)

7) Pemalsuan tanda tangan dan stempel

8) Kejahatan yang berkaitan dengan ekonomi, seperti penimbunan

bahan-bahan pokok, mengurangi timbangan dan takaran, dan

menaikan harga dengan semena-mena.16

16 Ibid.

(35)

27

D.Definisi Hukum Pertambangan

Pertambangan yaitu sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam

rangka penelitian, pengolahan dan pengusahaan mineral atau batu bara yang

meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan konstruksi,

penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta

kegiatan pasca tambang.17 Dalam kamus besar bahasa Indonesia, yang

dimaksud dengan menambang adalah menggali (mengambil) barang tambang

dari dalam tanah.18 Kemudian, Abrar Saleng menyatakan bahwa usaha

pertambangan pada hakikatnya ialah usaha pengambilan bahan galian dari

dalam bumi.19

Joseph F.Castrilli mengemukakan pengertian hukum tambang. Hukum

tambang adalah:

“Also may provide a basis for implementing some environmentally protective measures in relation to mining operations as the exploration, development, reclamation, and rehabilition stages”

Artinya: hukum pertambangan sebagai dasar dalam pelaksanaan perlindungan lingkungan dalam kaitannya dengan kegiatan pertambangan, yang meliputi kegiatan eksplorasi, konstruksi, reklamasi,

dan rehabilitasi.20

Dalam definisi ini, hukum pertambangan merupakan kaidah hukum

yang mengatur tentang kegiatan pertambangan. Tujuannya, yaitu:

1. Melindungi kepentingan masyarakat lokal

17pasal 1 angka (1) Undang-Undang No. 4 tahun 2009 (UUPMB)

18Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Sinar Grafika1990), 890. 19Abrar Saleng, Hukum Pertambangan (Yogyakarta: UII Press 2004),90.

20 Castrilli Joseph F, Environmental Regulation Of The Mining Industry (Canada: An Update of

(36)

28

2. Perlindungan lingkungan hidup

3. Menjamin keuntungan yang sama besar antara negara tuan rumah dengan

investor. Dan menjamin pelaksanaan kegiatan pertambangan oleh

perusahaan multinasional.

Definisi lain tentang hukum pertambangan disajikan oleh salim HS. ia

mengemukakan bahwa hukum pertambangan adalah:

“Keseluruhan kaidah-kaidah hukum yang mengatur kewenangan negara dalam pengelolaan bahan galian (tambang) dan mengatur hubungan hukum antara negara dengan orang dan atau badan hukum dalam

pengelolaan dan pemanfaatan bahan galian (tambang)”.21

Dari beberapa definisi di atas, difokuskan pada pengertian hukum

pertambangan pada umumnya. Objek kajiannya pada bahan tambang pada

umumnya. Sedangkan bahan tambang itu sendiri, tidak hanya mineral dan

batubara, tetapi juga panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah. Menurut

penulis, bahwa hukum pertambangan dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Hukum pertambangan umum

2. Hukum pertambangan khusus

Hukum pertambangan umum disebut juga dengan general mining law

(inggris), algemene mijnrecht (belanda), den Allgemeinen Bergrecht (jerman). Hukum pertambangan umum mengkaji panas bumi, minyak dan gas bumi,

mineral radioaktif, mineral dan batubara, serta air tanah.

Istilah hukum pertambangan khusus berasal dari bahasa inggris, yaitu

special mining laws, dalam bahasa belanda disebut dengan special mijnrecht,

(37)

29

sedangkan dalam bahasa jerman disebut dengan besondere gesetze bergbau.

Yang dimaksud dengan hukum pertambangan khusus, yaitu hanya mengatur

tentang pertambangan mineral dan batubara.22

Istilah hukum pertambangan mineral dan batubara berasal dari

terjemahan bahasa inggris, yaitu mineral and coal mining law, bahasa belanda disebut dengan mineral-en kolenmijen recht atau bahasa jerman disebut dengan

istilah mineral und kohlebergbau gesets. Ada empat unsur yang terkandung

dalam hukum pertambangan mineral dan batubara, yaitu:

1. Hukum

2. Pertambangan

3. Mineral, dan

4. Batubara

Hukum diartikan sebagai aturan yang mengatur hubungan antara negara

dengan rakyat, antara manusia dengan manusia dan hubungan antara manusia

dengan lingkungan. Pertambangan adalah:

“Sebagai atau seluruh yang tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, ekspolarasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengelolaan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pertambangan”.

Dalam definisi ini pertambangan dikonstruksikan sebagai suatu

kegiatan. Kegiatan itu meliputi (1) penelitian, (2) pengelolaan, dan (3)

pengusahaan. Mineral merupakan senyawa anorganik yang terbentuk di alam,

yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan Kristal teratur atau

22 Ibid., 14.

(38)

30

gabungan yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu.23

Batubara adalah endapan senyawa organic karbonan yang terbentuk secara

alamiyah dari sisa tumbuh-tumbuhan.

Dari usnur-unsur diatas, dapat dirumuskan definisi hukum

pertambangan mineral dan batubara. Hukum pertambangan mineral dan

batubara merupakan:

“Kaidah hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan mineral dan batubara dan mengatur hubungan antar negara dengan subjek hukum, baik bersifat perorangan maupun badan hukum dalam rangka

pengusahaan mineral dan batubara”.24

Ada dua macam hubungan yang diatur dalam hukum pertambangan

mineral dan batubara:

1. Mengatur hubungan antara negara dengan mineral dan batubara

2. Mengatur hubungan antara negara dengan subjek hukum

Hubungan antara negara dengan bahan mineral dan batubara adalah

negara mempunyai kewenangan untuk mengatur pengelolaan mineral dan

batubara. Wujud pengaturannya, yaitu negara membuat dan menetapkan

berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan mineral dan

batubara. Salah satu faktor Undang-Undang yang diterapkan oleh pemerintah

dengan persetujuan DPR, yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara dan berbagaiperaturan pelaksanaannya.

23 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan

Batubara.

(39)

31

Landasan filosofi atau pertimbangan hukum ditetapkan Undang-Undang

Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Di negara Republik Indonesia, negara diberi kewenangan untuk

menguasai sumber daya mineral dan batubara. Makna penguasa pertambangan

ialah:

“Negara mempunyai kebebasan atau kewenangan penuh (volldige bevoegdheid) untuk menentukan kebijakan yang diperlukan dalam bentuk mengatur (regelen), mengurus (besturen) dan mengawasi (toezichthouden) penggunaan dan pemanfaatan sumber daya alam

nasional”.25

Rumusan penguasa negara juga ditemukan dalam Putusan Mahkamah

Konstitusi Republik Indonesia, yang berbunyi:

“Pengertian dikuasai oeh negara haruslah diartikan mencakup makna penguasaan oleh negara dalam arti luas yang bersumber dan diturunkan dari konsepsi kedaulatan rakyat Indonesia atas segala sumber kekayaan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, termasuk pula di dalamnya pengertian kepemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas sumber-sumber kakayaan dimaksud. Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan oleh UUD 1945 memberikan mandate kepada kepala negara untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuursdaad), dan pengawasan (toezichtoudensdaad) untuk tujuan

sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.26

Kewenangan negara dalam putusan ini, meliputi:

1. Membuat kebijakan (beleid) dan pengurusan (bestuursdaad)

2. Pengaturan (regelendaad)

3. Pengelolaan (beheersdaad)

4. Pengawasan (teozichtoudensdaad)

25 Abrar Saleng, Hukum Pertambangan (Yogyakarta: UII Press, 2004), 219.

(40)

32

E.Asas-Asas Hukum Pertambangan Mineral Dan Batubara

Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara telah ditentukan asas-asas hukum

pertambangan niberal dan batubara.27 Ada tujuh asas hukum pertambangan

mineral dan batubara. Ketujuh asas itu, meliputi:

1. Manfaat

Asas manfaat merupakan asas dimana didalam pengelolaan sumber

daya mineral dan batubara dapat memberikan kegunaan bagi kesejahteraan

masyarakat banyak. Asas ini sesuai dengan konsep yang dikembangkan

Jeremy Bentham. Hukum harus memberikan manfaat atau kegunaan bagi

orang banyak (to serve utility).28Konsep utility yang dikembangkan oleh

Jeremy Bentham adalah dimaksudkan untuk menjelaskan konsep

kebahagiaan atau kesejahteraan. Sesuatu yang dapat menimbulkan

kebahagiaan ekstra adalah sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang

menimbulkan sakit adalah buruk. Aksi-aksi pemerintah harus selalu

diarahkan untuk meningkatkan kebahagiaan sebanyak mungkin orang (the

greatest happiness principle).29

2. Keadilan

Asas keadilan merupakan asas dalam pengelolaan dan pemafaatan

mineral dan batubara di mana di dalam pemanfaatan itu harus memberikan

hak yang sama rasa dan rata bagi masyarakat banyak. Masyarakat dapat

27 Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 28Abrar Saleng, Hukum Pertambangan,…,223,.

(41)

33

diberikan hak untuk mengelola dan memanfaatkan mineral dan batubara,

dan juga dibebani kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Selama ini, masyarakat kurang mendapat perhatian karena pemerintah

selalu memberikan hak istimewa kepada perusahaan-perusahaan besar

dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara.

3. Keseimbangan

Asas keseimbangan adalah suatu asas yang menghendaki bahwa

dalam pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara harus mempunyai

kedudukan hak dan kewajiban yang setara dan seimbang antara pemberi

izin dengan pemegang izin, apakah itu IPR, IUP, maupun IUPK. Begitu

juga pemegang izin dapat menuntut haknya kepada pemberi izin supaya

pemberi izin dapat melaksanakan kewajibannya, seperti memberikan

pembinaan dan pengawasan terhadap pemegang izin. Ini berarti

keseimbangan dalam hak dan kewajiban.

4. Keberpihakan kepada kepentingan bangsa

Asas keberpihakan kepada kepentingan bangsa adalah asas bahwa

dalam pelaksanakan pertambangan mineral dan batubara, bahwa

pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus

memihak atau pro kepada kepentingan bangsa yang lebih besar. Ini berarti

bahwa kepentingan bangsa yang harus diutamakan dibandingkan dengan

kepentingan dari para investor. Namun, demekian pemerintah juga harus

memerhatikan kepentingan investor.

(42)

34

Asas pertisipatif merupakanmerupakan asas bahwa dalam

pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara, tidak serta pemberi dan

pemegang izin semata-mata, namun masyarakat, terutama masyarakat

yang berada dilingkar tambang harus ikut berperan serta dalam

pelaksanaan kegiatan tambang. Ujud peran serta masyarakat, yaitu menjadi

pengusaha maupun distributor.30

6. Tranparansi

Asas transparansi, yaitu asas bahwa pelaksanaan pertambangan

mineral dan batubara harus dilakukan secara terbuka. Artinya setiap

informasi yang disampaikan kepada masyarakat oleh pemberi dan

pemegang izin harus disosialisasikan secara jelas dan terbuka kepada

masyarakat. Misalnya, tentang tahap-tahap kegiatan pertambangan,

kebutuhan tenaga kerja, dan lainnya.31

7. Akuntabilitas

akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pertambangan mineral dan

batubara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat dengan

memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Asas akuntabilitas ini era

kaitannya dengan hak-hak yang akan diterima oleh pemerintah, baik

pemerintah pusat maupun daerah yang bersumber dari kegiatan

pertambangan mineral dan batubara. Misalnya, pemegang IUPK

memberikan keuntungan kepada pemerintah daerah sebesar 1%, maka

30 Ibid.

(43)

35

penggunaan uang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kepada

rakyat, dalam hl ini DPRD, baik kabupaten/kota maupun provinsi.

8. Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

Asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas yang

secara terancana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungaan, dan

sosial budaya dalam keseluruhan usaha pertambangan mineral dan

batubara untuk mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa mendatang.

F. Karakteristik Hukum Pertambangan Mineral dan Batubara

Hukum pertambangan mineral dan batubara merupakan kaidah hukum

yang bersifat khusus. Dikatakan khusus, oleh karena:

1. Objek khusus

2. Sifat hubungan para pihak bersifat administratif.

Yang menjadi objek kajian hukum pertambangan mineral dan batubara

hanya berkaitan dengan pertambangan mineral dan batubara. Pertambangan

mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan.

Bijih adalah sekumpulan mineral yang dari padanya dapat dihasilkan satu atau

lebih logam secara ekonomis sesuai dengan keadaan teknologi dan lingkungan

pada saat itu. Pertambangan dengan batubara adalah pertambangan endapan

karbon yang terdapat didalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan

batuan aspal.32

(44)

36

Hukum pertambangan mineral dan batubara bersifat administratif,

karena pemerintah maupun pemerintah daerah mempunyai kedudukan yang

ebih tinggi dalam proses pemberian izin kepada pemegang IPR, IUP atau IUPK.

Pemerintah dalam pemberian izin tersebut adalah didasarkan kepada

syarat-syarat yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Apabila

syarat-syarat itu dipenuhi oleh calon pemegang izin, maka pemerintah dapat

menetapkan izin secara sepihak kepada pemegang IPR, IUP maupun IUPK

secara sepihak, apabila pemegang IPR, IUP maupun IUPK tidak mematuhi

segala ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam sebstansi izin dan ketentuan

perundang-undangan. Lain halnya dengan system kontrak, dimana pemerintah

tidak dapat membatalkan secara sepihak segala kontrak yang dibuat oleh dan

antara pemerintah dengan kontraktor atau pihak lainnya. Untuk membatalkan

setiap kontrak yang dibuat oleh para pihak, maka salah satu pihak dapat

mengajukan pembatalan kepengadilan atau kelembaga arbitrase internasional.

Lembaga inilah nantinya yang akan membatalkan kontrak yang dibuat oleh para

(45)

37

G.Sumber-Sumber Hukum Pertambangan Mineral dan Batubara

Kajian terhadap sumber hukum pertambangan mineral dan batubara

dapat dipilih dua macam, yaitu:

1. Sumber hukum pertambangan mineral dan batubara yang bersumber dari

hukum yang berlaku di Indonesia.

2. Sumber hukum pertambangan mineral dan batubara yang bersumber dari

hukum yang berlaku di negara lain.

Sumber hukum pertambangan mineral dan batubara yang utama yang

berlaku di Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009

tentang Pertambangan Mineral dan Batubara merupakan ketentuan atau

Undang-Undang yang mengganti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967

tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan. Undang-Undang Nomo11

Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan sudah tidak

sesuai lagi dengan perkembangan zaman.33

Landasan filosofi ditetapkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009

tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yaitu:

1. Mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan

Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan

Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat

hidup orang banyak, karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara

(46)

38

untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam

usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.

2. Kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang merupakan

kegiatan usaha pertambangan diluar panas bumi, minyak dan gas bumi

secara air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai

tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan

pembangunan daerah secara berkelanjutan.

3. Perkembangan nasional maupun International.

4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok

pertambangan sudah tidak sesuai lagi sehingga dibutuhkan perubahan

peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan

batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan

batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien,

danberwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara

berkelanjutan.34

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral

dan Batubara terdiri dari 26 bab dan 175 pasal. Bab tersebut, sebagai berikut:35

1. Bab 1 tentang ketentuan umum (pasal 1)

2. Bab II tentang asas dan tujuan (pasal 2 sampai dengan pasal 3)

3. Bab III tentang penguasaan mineral dan batubara (pasal 4 sampai dengan

pasal 5)

34 Ibid.

(47)

39

4. Bab IV tentang kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan

batubara (pasal 6 sampai dengan pasal 8)

5. Bab V tentang wilayah pertambangan (pasal 9 sampai dengan pasal 33)

6. Bab VI tentang usaha pertambangan (pasal 34 sampai dengan pasal 35)

7. Bab VII tentang izin usaha pertambangan (pasal 36 sampai dengan pasal 63)

8. Bab VIII tentang persyaratan perizinan usaha pertambangan (pasal 64

sampai dengan pasal 65)

9. Bab IX tentang izin pertambangan rakyat (pasal 66 sampai dengan pasal 73)

10. Bab X tentang izin usaha pertambangan khusus (pasal 74 sampai dengan

pasal 84)

11. Bab XI tentang persyaratan perizinan usaha pertambangan khusus (pasal

85 sampai dengan pasal 86)

12. Bab XII tentang data pertambangan (pasal 87 sampai dengan pasal 89)

13. Bab XIII tentang hak dan kewajiban (pasal 90 sampai dengan pasal 112)

14. Bab XIV tentang penghentian sementara kegiatan izin usaha

pertambangan dan izin usaha pertambangan khusus (pasal 113 sampai

dengan pasal 116)

15. Bab XV tentang berakhirnya izin usaha pertambangan dan izin usaha

pertambangan khusus (pasal 117 sampai dengan pasal 123)

16. Bab XVI tentang usaha jasa pertambangan (pasal 124 sampai dengan pasal

127)36

36 Ibid.

(48)

40

17. Bab XVII tentang pendapat negara dan daerah (pasal 128 sampai dengan

pasal 133)

18. Bab XVIII tentang penggunaan tanah untuk kegiatan usaha pertambangan

(pasal 134 sampai dengan pasal 138)

19. Bab XIX tentang pembinaan, pengawasan, dan perlindungan masyarakat

(pasal 139 sampai dengan pasal 145)

20. Bab XX penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan

(pasal 146 sampai dengan pasal 148)

21. Bab XXI tentang penyidikan (pasal 149 sampai dengan pasal 150)

22. Bab XXII tentang sanksi administratif (pasal 151 sampai dengan pasal 165)

23. Bab XXIII tentang ketentuan pidana (pasal 158 sampai dengan pasal 165)

24. Bab XXV tentang ketentuan peralihan (pasal 169 sampai dengan pasal 172)

25. Bab XXVI tentang ketentuan penutup (pasal 173 sampai dengan pasal 175)

Ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009

tentang Pertambangan Mineral dan Babtubara dijabarkan lebih lanjut dalam

peraturan pemerintah dan peraturan presiden. Peraturan pemerintah yang

dimaksud, meliputi:37

1. Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang

wilayah pertambangan

2. Peraturan pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang pelaksanaan kegiatan

pertambangan mineral dan batubara

37 Ibid.

(49)

41

3. Peraturan pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang pembinaan dan

pengawasan penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan mineral

dan batubara.

4. Peraturan pemerintah Nomor 75 Tahun 2010 tentang reklamasi dan

(50)

BAB III

DASAR HUKUM PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR: 57/PID.SUS/PN.SRL TENTANG TRADITIONAL GOLD MINING

A.Identitas Terdakwa

Kasus Traditional Gold Mining yang diputus bebas oleh Pengadilan

Negeri Sarolangun dengan terdakwa bernama Rusli Ilhamdi bin Saidi.

Terdakwa lahir pada tahun 1992 di Desa Baru Kecamatan Sarolangun

Kabupaten Sarolangun kemudian tinggal di Desa Ujung Tanjung Kecamatan

Sarolangun Kabupaten Sarolangun dan saat ini beliau berusia 23 Tahun. 1

B.Waktu dan Lokasi Terjadinya Tindak Pidana

Pada hari sabtu tanggal 28 Nopember 2015 jam 17:00 terdakwa

berangkat menuju toko emas batang hari dengan membawa pentolan emas

yang akan dijual oleh terdakwa, terdakwa berangkat dari tempat tinggalnya

yang beralamatkan di kecamatan pemenang kabupaten meringin tepatnya di

belakang pegadaian pasar.

C.Kronologi Kasus

Kejadian dan kasus tindak pidana Traditional Gold Mining yang sudah marak dan sering kita jumpai di Negara kita, walaupun negara sudah

(51)

43

memberikan aturan-aturan juga beserta hukumannya, akan tetapi masih saja ada

pelaku yang melanggar aturan tersebut. Salah satunya adalah kasus

pertambangan tanpa izin yang dilakukan terdakwa Rusli Ilhamdi bin Saidi di

daerah jambi. Lebih jelasnya akan penulis paparkan kronologi kasus tersebut.

Butiran emas yang dijual terdakwa Rusli Ilhamdi bin Saidi diruko emas

batang hari jalan lintas Sumatera R.T. 01 Kelurahan aur gading kecamatan

Sarolangun kabupaten Sarolangun, emas yang terdakwa bawa belum dibeli oleh

orang di toko emas batang hari tersebut oleh karena akan diperoses terlebih

dahulu dengan cara dibakar menggunakan tembikar, setelah melalui proses

pembakaran baru dapat diketahui kandungan emasnya lalu ditimbang dan

dibayar sesuai harga yang ditetapkan toko tersebut.2

Terdakwa mendulang emas tersebut dengan cara traditional dengan

terlebih dahulu meleburkan tanah dan butiran pasir menggunakan cangkul,

kemudian tanah dan pasir diambil menggunakan batok kelapa dimasukkan

dalam dulang, setelah itu pasir dan campuran tanah diayak-ayak dicampur air

secukupnya, kemudian tanah dan butiran pasir dibuang dan yang tertinggal

adalah kalam yang bercampur butiran emas lalu dikumpulkan dalam ember,

setelah dirasa cukup dicampur dengan air raksa secukupnya untuk menyatukan

butiran emas tersebut dan terakhir butiran emas dimasukkan dalam kain dan

diperas. Dan kegiatan mendulang ems tidak disyaratkan adanya izin dari pihak

terkait karena kegiatan mendulang termasuk kedalam penambangan tradisional.

(52)

44

Selanjutnya terdakwa langsung menuju kedalam tooko emas batang hari

yang saat itu kondisi pintu toko hanya sekitar setengah meter dan saat terdakwa

masuk kedalam took terdakwa langsung diamankan oleh saksi hendra

Hermansyah dating saksi Feri Andrial, saksi Fatqurahman, saksi Danda Satri

dan saksi Desriadi yang merupakan anggota kepolisian dari polres Sarolangun

dan langsung mengamankan terdakwa dan saksi Hendra Hermansyah serta saksi

edo, selanjutnya terdakwa beserta barang bukti dibawa ke Polres Sarolangun

untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.3

D.Dakwaan dan Saksi-saksi

Jaksa penuntut umum menuntut dua dakwaan yakni:

1. Berdasarkan penelitian penulis menemukan bahwa terhadap barang bukti

berupa lempengan/pentolan emas yang dibawa oleh terdakwa yang

dilakukan Sodara Hasbi petugas dari dinas Perindustrian dan Perdagangan

balai pelayanan kemetrologian Pemerintah Provinsi Jambi pada hari Selasa

tanggal 15 Desember 2015 dengan berat1,62 gram.4

Perbuatan terdakwa Rusli Ilham bin Saidi sebagaimana diatur dan

diancam pidana dalam pasal 161 Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2009

tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

2. Karena perbuatan terdakwa yang melanggar unsur perbuatan penadahan

dan sesuai Berita acara pemeriksaan Laboratoris kriminalistik dari

3 Ibid., 4. 4 Ibid., 5.

(53)

45

Puslabfor Bereskrim Polri laboratorium forensic cabang Palembang

Nomor: 67/BMF/2016 Tanggal 15 januari 2016, terhadap barang bukti

yang diberi kode BB3 disimpulkan terhadap kandungan emas sebanyak

32,42 %. Perbuatan terdakwa diancam pidana dalam pasal 480 ayat (1)

KUHP tentang penadahan.5

Untuk membuktikan tuntutan jaksa penuntut umum, jaksa

menghadirkan saksi-saksi dalam persidangan untuk didengar kesaksiannya

(keterangan). Ada 4 saksi yang akan diajukan jaksa penuntut umum yang

dibawah sumpah menurut agamanya masing-masing di persidangan

menerangkan yang pada pokoknya sebagai berikut:

1. Saksi 1 ferlandrial, SH. Bin Khuzairi: saksi tidak tahu siapa pemilik toko

emas tersebut saksi juga mendapat informasi di toko emas batang hari sering

ada transaksi jual beli emas dari warga yang menyampaikan di toko emas

dari hasil tambang tanpa izin yang ada di kabupaten Sarolangun dan setau

saksi di tempat terdakwa jual butiran pasir emas tidak ada memiliki izin dari

aparat berwenang dalam jual beli butiran pasir emas.6

2. Saksi II Fatqurohman Edo Saputra bin Muji: butiran emas yang dijual

terdakwa didapat dengan cara mendulang secara tradisional di desa sungai

baung kecamatan Sarolangun kabupaten Sarolangun, saksi yakin butiran

emas yang akan dijual oleh terdakwa mengandung emas. Setelah mendapat

5 Ibid., 6. 6 Ibid., 9.

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan Variabel yang bersifat negative, kebalikanya (kelemahan dan ancaman ). Dari hasil Analisis Internal dan Eksternal yang tertuang dalam grafik letakkuadran maka

Untuk elemen tangga perlu kiranya dipasang nosing anti slip pada tiap anak tangga dan adanya ubin peringatan pad awal anak tangga. Sebaiknya lebar dan tinggi riser

Covey dalam Suryana (2000:35), bahwa kemandirian merupakan paradigma sosial dengan tiga karakteristik yaitu mandiri secara fisik (dapat bekerja sendiri dengan baik), mandiri

Algoritma K-Nearest Neighbor dapat diterapkan dalam sistem pendukung keputusan seleksi Paskibraka untuk melakukan klasifikasi dalam menentukan status diterima atau tidak

treatment Expenses Claim Form (OPR/PEND/BR02/PERUBATAN 05) Administrative Assistant (clerical/operation) Administrative Officer of Record Department and Administrative

Dinas Pendapat Daerah Kabuapaten Malang dapat memberikan Kepastian Hukum Pengenaan NPOPTKP (Nilai Perolehan Obyek Pajak Tidak Kena Pajak) atas BPHTB (Bea Perolehan

Proseding Seminar Bisnis &amp; Teknologi ISSN : 2407-6171 SEMBISTEK 2014 IBI DARMAJAYA Lembaga Pengembangan Pembelajaran, Penelitian &amp; Pengabdian Kepada Masyarakat, 15-16

Analisis internal dilakukan untuk mendapatkan faktor kekuatan yang akan digunakan dan faktor kelemahan yang akan diantisipasi terkait dari hasil daya dukung