The Study of Learning Theory in terms of Motor Skills

Teks penuh

(1)

Contents lists available at Journal IICET Journal of Counseling, Education and Society

ISSN:2716-4896 (Print) ISSN: 2716-4888 (Electronic) Journal homepage: https://jurnal.iicet.org/index.php/jces

The Study of Learning Theory in terms of Motor Skills

Suci Mutia Lukman, Neviyarni Neviyarni2

12 Universitas Negeri Padang

Article Info ABSTRACT Article history:

Received Nov 02th, 2020 Revised Dec 10th, 2020 Accepted Jan 10th, 2021

This article discusses motor skills, which can be interpreted as movement skills of a person from the learning results they get, many motor skills are innate, the learning of motor skills has played a big role in human history. Learning motor skills (motor skill learning) refers to all activities in which the learning process requires a sequence of motor responses (body movements). Learning motor skills refers to all activities in which the learning process requires a sequence of body motor responses (motor responses) appropriately. The term perceptual motor skills is used to describe the fact that this type of learning requires coordinating stimuli that are consistent with motor responses. Learning motor skills is a learning process that uses perceptuals and processes them into motoric actions, where learning activities are a sequential process of sensing activities that are then applied with skills.

Keyword:

Learning Theory Motor Skills

© 2021 The Authors. Published by IICET.

This is an open access article under the CC BY-NC-SA license (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0

Corresponding Author:

Suci Mutia Lukman Universitas Negeri Padang Email: sucimutia3@gmail.com

Pendahuluan

Belajar keterampilan motorik mengacu pada semua kegiatan di mana proses belajar menghendaki suatu urutan respon motorik tubuh (motor responses) secara tepat. Kadang-kadang istilah perceptual motor skills digunakan untuk menjelaskan fakta bahwa belajar jenis ini memerlukan koordinasi stimulus yang selaras dengan respon motorik. Belajar keterampilan motorik merupakan proses pembelajaran yang menggunakan perseptual dan mengolahnya menjadi tindakan motorik, yang mana kegiatan belajar merupakan suatu proses yang berurutan dari kegiatan penginderaan kemudian diaplikasikan dengan keterampilan. Gerakan motorik atau adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku gerakan yang dilakukan oleh tubuh manusia (Uswatun Hasanah, 2016). Keterampilan motorik halus (fine motor skill), meliputi otot-otot kecil yang ada diseluruh tubuh, seperti menyentuh dan memegang. (Desmita, 2013).

Motorik dapat dikatakan sebagai kegiatan yang melibatkan otot-otot sehingga terjadi suatu gerakan dari tubuh. Keterampilan motorik merupakan kemampuan atau kecakapan seseorang untuk menunjukkan gerakan tubuh secara cepat dan akurat. Keterampilan motorik itu merupakan suatu keterampilan umum pada seseorang yang berkaitan dengan berbagai aktifitas tubuh atau tugas gerak. Belajar keterampilan motorik mengacu pada semua kegiatan di mana proses belajar menghendaki suatu urutan respon motorik tubuh secara tepat. Belajar keterampilan motorik merupakan proses pembelajaran yang menggunakan perseptual dan mengolahnya menjadi tindakan motorik, yang mana kegiatan belajar merupakan suatu proses yang berurutan dari kegiatan penginderaan kemudian diaplikasikan dengan keterampilan. Motorik merupakan keterampilan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, dan otak. Keterampilan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Keterampilan ini akan berpengaruh pada kemampuan social emosional, bahasa, dan fisik anak (Sabaria, Nasirun & Delrefi, 2018).

(2)

Metode

Artikel ini membahas tentang keteramplan motorik, jenis metode penelitian ini adalah analisis kajian pustaka (literatur research) artikel ini akan memaparkan analisis jurnal ilmiah yang relevan dengan pembahasan yang sudah dipilih, adapun tahap-tahap dalam metode penelitian ini adalah (1) memilih artikel, (2) mengumpulkan data awal, (3) tantangan dari topik, (4) mengumpulkan data pendukung, (5) menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi online.

Pembahasan

Defenisi keterampilan motorik

Pengertian Belajar Motorik adalah suatu proses perubahan perilaku yang realtif permanen akibat latihan dan pengalaman, bukan karena kematangan dan atau pertumbuhan. Pengertian belajar motorik sebenarnya sedikit terdapat perbedaan dengan pengertian belajar secara umum. Belajar motorik adalah belajar yang diwujudkan melalui respons-respons muskuler yang umum nya di ekspresikan dalam bentuk gerakan tubuh atau bagian tubuh. Belajar motorik merupakan suatu proses terjadinya suatu changing (perubahan) yang menetap dalam perilaku motorik sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. Belajar motorik berfungsi sebagai suatu peningkatan dalam suatu kemampuan keterampilan motorik yang disebabkan oleh kondisi-kondisi latihan atau diperoleh dari pengalaman, dan bukan karena proses kematangan atau motivasi temporer dan fluktuasi fisiologis. Keterampilan Motorik adalah sebagai keterampilan atau kemampuan gerak seseorang dari hasil belajar yang di pelajarinya, kemampuan motorik sebenarnya banyak dipengaruhi oleh bawaan, pembelajaran keterampilan motorik telah memainkan peranan yang besar didalam sejarah manusia. Belajar motorik merupakan kumpulan dari proses–proses yang disatukan dengan praktek dan pengalaman yang mengarah kepada perubahan yang relatif tetap di dalam kemampuan untuk menghasilkan keterampilan (Papalia, 2009).

Pembelajaran keterampilan motorik (motorik skill learning) mengacu kepada semua kegiatan dimana proses pembelajaran menghendaki suatu urutan respon motorik (gerak tubuh). Belajar keterampilan motorik mengacu pada semua kegiatan di mana proses belajar menghendaki suatu urutan respon motorik tubuh (motor responses) secara tepat. Istilah perceptual motor skills digunakan untuk menerangkan suatu statement bahwa perceptual motor skills memerlukan koordinasi stimulus yang sejalan dengan respon motorik. Belajar keterampilan motorik merupakan proses pembelajaran yang menggunakan perseptual dan mengolahnya menjadi tindakan motorik, yang mana kegiatan belajar merupakan suatu proses yang berurutan dari kegiatan penginderaan kemudian diaplikasikan dengan keterampilan (Bimo Walgito: 1992).

Motorik adalah terjemahan dari kata “motor” yang diartikan sebagai istilah yang menunjukkan pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakannya. Motorik merupakan suatu dasar dari biologis dari dalam diri yang menyebabkan terjadinya suatu gerakan tubuh. Motorik merupakan segala sesuatu yang mencakup dan ada hubungannya dengan gerakan-gerakan tubuh. Motorik dapat dikatakan sebagai kegiatan yang melibatkan otot-otot sehingga terjadi suatu gerakan dari tubuh. Keterampilan motorik merupakan kemampuan atau kecakapan seseorang untuk menunjukkan gerakan tubuh secara cepat dan akurat. Keterampilan motorik yang djelaskan tersebut merupakan suatu keterampilan yang umum dari individu yang berkaitan dengan berbagai keterampilan atau tugas gerak tubuh. Aspek perkembangan fisik-motorik terdiri dari pertumbuhan fisik, keterampilan fisik-motorik kasar, & keterampilan fisik-motorik halus. Menginjak usia 4 tahun, motorik halus seharusnya semakin baik (Rahman, 2009). Motorik halus merupakan salah satu aspek perkembangan yang berpengaruh besar terhadap kemampuan anak secara akademik pada pendidikan dasar. (Alif & Nurkhasanah, 2019). Keterampilan motorik kasar adalah semakin banyak otot-otot besar yang dilibatkan, semakin banyak energi dan usaha yang dikerahan (Lutan, 1988). Selanjutnya menurut Santrock (2007) keterampilan motorik kasar adalah meliputi kegiatan otot-otot besar seperti menggerakan lengan dan berjalan.

Menurut Ellis (1978) pembelajaran keterampilan motor telah memainkan peranan yang besar di dalam sejarah manusia. Sejak awal perkembangan peradaban manusia dari yang paling dasar sampai sekarang manusia banyak bergantung pada keterampilan motor. Manusia mencari makan, membuat pakaian, membuat alat dan perkakas untuk kehidupan, menggunakan keterampilan motorik. Tidak hanya itu, bahkan untuk keperluan, memainkan musik, memainkan suatu permainan dan pertandingan, manusia juga memanfaatkan keterampilan motorik. Motorik halus juga memiliki hubungan yang siginifikan terhadap kinerja fungsional dalam perawatan diri, mobilitas, dan fungsi sosial (Cameron dkk., 2012; Case-Smith, 1995; Grissmer dkk., 2010) .

(3)

Namun, sejak peradaban dan kebudayaan manusia mengalami kemajuan dengan penerapan teknologi, banyak keterampilan motorik tersebut diambil alih mesin dan komputer. Untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain orang menggunakan alat transportasi yang tidak terlalu banyak menggunakan keterampilan motorik dasar. Untuk mendapatkan makanan dan membuat pakaian manusia, tidak lagi memerlukan keterampilan motorik seperti yang dilakukan pada zaman sebelum adanya teknologi. Namun demikian keterampilan motorik tetap dilakukan oleh manusia walaupun dalam bentuk yang lebih canggih.

Belajar keterampilan motorik lebih tertuju pada semua aktivitas dimana proses belajar mengkehendaki urutan respon motorik tubuh secara tepat. Contoh yang mudah untuk hal ini adalah mengemudi mobil, pada saat kita harus mengkordinasikan antara yang dilihat dengan apa yang dilakukan. Belajar keterampilan motorik sering disebut juga dengan belajar persepsi motorik dan belajar keterampilan motorik mengacu pada akuisisi urutan yang tepat dari tanggapan motor.

Kajian Belajar Keterampilan Motorik

Keterampilan motorik cenderung kepada semua kegiatan dimana proses pembelajaran menghendaki suatu urutan respon motorik (gerak) tubuh yang persis. Istilah perceptual motor skills digunakan untuk menjelaskan fakta bahwa pembelajaran jenis ini memerlukan koordinasi stimulus yang datang dengan respon. Istilah motor skill dan perceptual motor skill ini sering digunakan secara bergantian, karena maknanya sering dianggap sama. Studi tentang pembelajaran motor skills membedakan keterampilan tersbut atas dua jenis yaitu (Muhibbin Syah: 1999) yaitu keterampilan yang menghendaki gerak yang terus menerus dan keterampilan yang dilakukan dengan interval atau jaraj antara setiap respon.

Beberapa tugas motorik terdiri dari respon-respon diskrit yang dipisahkan oleh interval non menanggapi. Sebaliknya, tanggapan lain yang lebih atau kurang kontinu di alam. Menendang bola merupakan contoh dari respon diskrit: berjalan dengan sepak bola pada dasarnya kontinyu (sampai Anda berhenti). Memutar kunci kontak mobil Anda merupakan respon diskrit: mengendarai mobil adalah respon kontinu (lagi, sampai Anda berhenti). Perbedaan antara keduanya adalah agak relatif dan sewenang-wenang. Namun demikian, Anda dapat dengan mudah mengakui bahwa beberapa tanggapan diskrit, sedangkan yang lain pada dasarnya kontinyu. Contoh lain adalah pada pengemudi mobil, mengendarai mobil memerlukan keterampilan motorik continius response, sedangkan menginjak rem, memutar stir memerlukan keterampilan motorik discrete response (Ellis, 1978 : 227).

Karakteristik belajar keterampilan motorik

Terdapat empat elemen fundamental dari penampilan keterampilan. Adapun empat elemen itu adalah : a. Penampilan keterampilan mencakup suatu urutan respon motor

Setiap respon berperan sebagai stimulus untuk respon berikutnya.

b. Penampilan menghendaki koordinasi input perseptual denfan respon moto

Semua gerakan dilakukan dengan mengkoordinasikan atau disesuaikan dengan stimulus yang datang. c. Penampilan keterampilan motor mencakup koordinasi input perseptual dengan respon motor

Urutan respon harus diatur atau diorganisir sedemikian rupa kedalam sebuah pola. d. Penampilan keterampilan sangat tergantung pada balikan

Tergantung kepada balikan intrinsik yang mengacu kepada kenyataan bahwa respon menghasilkan stimulus yang menyebabkan adanya respon subsequent.

Fase-fase belajar keterampilan motorik

Ahli psikologi membedakan tiga fase atau tahap didalam pembelajaran keterampilan motorik. Adapun fase atau tahap tersebut adalah (Djaali: 2007):

Fase awal atau fase kognitif

Sipelajar berusaha memahami apa yang diharapkan dari dia. Ia berusaha untuk memahami tugas, memverbalisasikan tugas tersebut dan mengeintelektuaslisasikan keterampilan tersebut.

Fase fixation atau fase asosiatif

Pada tahap ini respon yang dipelajari menjadi berasosiasi dengan kunci dan respon menjadi terintegrasi sebagai suatu rantai yang sangat efisien. Tahap ini sangat mirip dengan tahap asosiatif pada pembelajaran verbal karena intinya sama-sama asosiatif.

(4)

Fase akhir atau fase autonomus

Merupakan tahap dimana dimana penampilan keterampilan sedemikian meningkat karena ia secara terus menerus memperkuat pola respon baru dan ini bukan semata-mata karena proses pengulangan respon yang sama.

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar keterampilan motorik

Faktor yang penting yang dapat mempengaruhi keterampilan motorik adalah (Ellis, 1978):

Feedback (Umpan balik).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keterampilan motorik adalah umpan balik (feedback) yang terdiri dari dua jenis (a) umpan balik intrinsik yang merupakan informasi yang diterima untuk melakukan tampilan keterampilan motorik pada suatu latihan tertentu. Diperoleh secara langsung dari pengalaman dan tindakan kita. (b) umpan balik ektstrinsik yang merupakan suatu hasil pengetahuan yang menekankan ciri informal dari umpan balik. Dapat pula dijelaskan bahwa informasi yang dihasilkan oleh orang lain atau alat yang digunakan. Dapat merupakan informasi yang lebih bersifat kualitatif, dimana responden diinformasikan bahwa ia melaksanakan secara benar atau salah. Dapat pula merupakan informasi yang bersifat kuantitatif, responden diberitahukan sejauh mana ia sudah melakukan keterampilan dengan benar atau berapa jarak antara respon yang benar dengan respon yang salah.

Pentingnya umpan balik (Importace of Feedback)

Umpan balik sangat penting dalam belajar keterampilan motorik .umpan balik diperlukan untuk mempengaruhi tampilan keterampilan motorik jika tidak ada umpan balik maka orang yang belajar merasa tidak ada keberhasilan bahwa ia telah menguasai suatu keterampilan motorik. Umpan balik berguna pula untuk mempengaruhi sipelajar bahwa ia telah mengalami perkembangan dalam belajarnya. Selain itu khususnya dengan unpan balik kuantitatif.

Penghilangan umpan balik dan Reinforcement Subjektif (Withdrawal of Feedback and Subjective Reinforcement).

Penghilangan atau pengambilan kembali umpan balik berpengaruh terhadap tampilan keterampilan motorik, tetapi pengaruhnya tidak seperti penghilangan reinforcement pada belajar instrumental. Penghilangan ini akan mengakibatkan menurunkan tampilan secara step by step, tapi tidak sampai pada tingkat tampilan yang sedang berjalan/berlangsung.

Penundaan umpan balik (Delay of Feedback)

Merupakan umpan balik yang diberikan dengan penundaan waktu antara respon subjek (si pelajar) dan umpan balik informatif. Penundaan umpan balik ini tidak terlalu memberi pengaruh terhadap perolehan dari beberapa bentuk keterampilan motorik. Namun menyebabkan penurunan serius dalam pelaksanaan latihan seperti pelacakan yang terus menerus, karena keterampilan motorik bersifat kontiniu. Umpan baliknya sangat baik dtunda seminimal mungkin.

Distribution of Practice (DIstribusi Latihan)

Distribusi latihan membantu perolehan keterampilan motorik. Respon yang didistribusikan merupakan sisa interval selama proses perolehan keterampilan motorik yang berkelanjutan atau terus menerus.

Stress and Fatigue (Stres dan Kelelahan)

Stres dapat didefinisikan dengan dua cara, yaitu (1) merupakan keadaan dimana organisme (manusia) dalam keadaan termotivasi atau emosional, yang disebut juga dengan tekanan emosi, (2) sebagai permintaan tugas/pekerjaan pada seseorang, bila seseorang diharuskan mengikuti beberapa kejadian sementara seseorang itu harus menyelesaikan suatu tugas/pekerjaan lainnya, maka seorang itu akan mengalami stress yang lebih berat. Kedua definisi ini disebut dengan information overload. Jika stress bertambah tinggi, tampilan keterampilan motorik bertambah tinggi sampai kepada titik normal dan pengurangan stress akan menurunkan tampilan.

Teori-teori belajar keterampilan motorik

Menurut pandangan tradisional pembelajaran motorik diartkan sebagai proses yang terkhusus dengan pembelajaran instrumental. Pandangan ini berlandaskan pada pandangan yang berasal dari Thondike, yang berasumsi bahwa ciri-ciri pembelajaran motorik tidak berbeda dengan pembelajaran instrumental, tergantung pada aturan pengaruh klasik. Pembelajaran motorik menginginkan murid membuat serangkaian respon gerak yang tidak bersatu, melainkna terpisah-pisah, yang setiapnya diikuti oleh penguatan yang berbentuk ilmu pengetahuan atau feedback.

(5)

karakter pemecahan masalah (problem solving) dan proses perkembangan kognitif. Ahli dari pengembang teori ini adalah Jack Adam. Jack Adam memandang bahwa pembelajaran motorik dapat dilihat sebagai suatu proses pemecahan masalah, suatu teori yang mengandung elemen S – R (stimulus – response) dan konsepsi kognitif pembelajaran. Suatu dasar yang paling penting dari teori ini adalah close loop. Close loop merupakan respon terhadap suatu sistem yang memberikan umpan balik pada sistem, kemudian membuat sistem tersebut menjadi self – regulating (mengatur sendiri).

Beberapa prinsip praktis

Prinsip praktis yang dapat ditarik dari bahasan ini adalah (Jalaluddin Rakhmat: 2008):

a. Understand the task (Pemahaman tugas), tugasnya adalah memverbalisasikan keterampilan, mencoba mengidentifikasikan komponen begian-bagiannya, contoh or ang yang berkompeten menjadi instruktur “menari”, ia dapat menunjukkan komponen menari, rangkaian tanggapan yang terintegrasi, mengajarkan secara langsung dan menampilkan bagian dari komponen yang diajarkannya.

b. Practice on specific components (melakukan latihan pada komponen tertentu), dimana saat kompleksitas tugas-tugas meningkat, maka kita memfokuskan latihan pada komponen tugas tertentu yang khusus.

c. Obtain feedback (memperoleh umpan balik), baik instrinsik maupun ekstrinsik, karena umpan balik merupakan faktor penting dalam mencapai hasil tampilan keterampilan motorik. Umpan balik berguna untuk mengevaluasi tampilan keterampilan motorik dan membandingkannya dengan tampilan standar. d. Practice under varied conditions (melakukan latihan di bawah kondisi yang bervariasi), stimulus yang

bervariasi merupakan faktor penting dalam memori, dan juga praktek di dalam kondisi yang bervariasi memudahkan dalam pencapaian motorik. Untuk itukonteks variasi dalam latihan penyesuaian pencapaian ini dapat merubah ke lingkungan potensial.

e. Sustain Practice (mempertahankan latihan), karena kelancaran keterampilan motorik memerlukan latihan terus menerus

Melalui pembelajaran motorik seseorang akan mempengaruhi aspek kehidupan para siswa seperti: (1) melalui pembelajaran motorik siswa mendapat hiburan dan memperoleh kebahagiaan, (2) melalui pembelajaran motorik siswa dapat beranjak dari kondisi lemah kepada kondisi independen, (3) melalui pembelajaran motorik siswa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, (4) melalui pembelajaran motorik akan menunjang keterampilan siswa dalam berbagai hal, dan (5) melalui pembelajaran motorik akan mendorong siswa bersikap mandiri, sehingga dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapinya (Ian, Agus & Sapta, 2016).

Kesimpulan

Keterampilan motorik merupakan kemampuan atau kecakapan seseorang untuk menunjukkan gerakan tubuh secara cepat dan akurat. Keterampilan motorik itu merupakan suatu keterampilan umum pada seseorang yang berkaitan dengan berbagai aktifitas tubuh atau tugas gerak. Keterampilan motorik cenderung kepada semua kegiatan dimana proses pembelajaran menghendaki suatu urutan respon motorik (gerak) tubuh yang persis. Menurut pandangan tradisional pembelajaran motorik diartkan sebagai proses yang terkhusus dengan pembelajaran instrumental. Pandangan ini berlandaskan pada pandangan yang berasal dari Thondike, yang berasumsi bahwa ciri-ciri pembelajaran motorik tidak berbeda dengan pembelajaran instrumental, tergantung pada aturan pengaruh klasik. Pembelajaran motorik menginginkan murid membuat serangkaian respon gerak yang tidak bersatu, melainkna terpisah-pisah, yang setiapnya diikuti oleh penguatan yang berbentuk ilmu pengetahuan atau feedback.

(6)

Referensi

Alif, A., & Nurkhasanah. (2019). Identifikasi Keterampilan Motorik Halus Anak. Journal of Early Childhood Care & Education. 2(1), 14-20.

Bimo Walgito. (1992). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.

Cameron, C. E., Brock, L. L., Murrah, W. M., Bell, L. H., Worzalla, S. L., Grissmer, D., & Morrison, F. J. (2012). Fine motor skills and executive function both contribute to kindergarten achievement. Child development, 83(4), 1229–1244.

Desmita. (2013). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Djaali. (2007). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Ellis, H.C. (1978). Fundamentals of Human Learning, memory and cognition. Iowa. W.C. Brown Co.

Feldman, Papalia. (2009). Perkembangan manusia, Penerjemah Brian Marswsndy, edisi 10. Jakarta: Salemba Humanika.

Ian, A., Agus, K., & Sapta, K. (2016). Pengembangan Model Pembelajaran Keterampilan Motorik Berbasis Permainan Untuk Anak Sekolah Dasar Usia 9-10 Tahun. Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia. 6(1), 16-20.

Jalaluddin Rakhmat. (2008). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Lutan, Rusli. (1988). Belajar Keterampilan Motorik, Pengantar Teori dan Metode. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen Dikri.

Muhibbin Syah. (1999). Psikologi Belajar. Jakarta: Logos.

Rahman, U. (2009). Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini. Lentera Pendidikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 12(1), 46–57.

Sabaria, A., M. Nasirun., & Delrefi, D. (2018). Meningkatkan keterampilan motorik halus anak melalui bermain dengan barang bekas. Jurnal Ilmiah Potensia. 2(1), 24-33.

Santrock, Jhon W. (2007). Perkembangan Anak, Edisi kesebelas jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Uswatun Hassanah. (2016). Pengembangan Kemampuan Fisik Motorik Melalui Permainan Tradisional Bagi Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak. 5(1). 717-721.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :