• Tidak ada hasil yang ditemukan

Trauma Maksilofacial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Trauma Maksilofacial"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Pada KLL, 7 dari 10 mengalami cedera wajah

Pada KLL, 7 dari 10 mengalami cedera wajah

(luka tajam dan memar)

(luka tajam dan memar)

Perlu diperhatikan:

Perlu diperhatikan:

Pernapasan

Pernapasan

P

Peredaran darah

eredaran darah umum

umum

Kesadaran

Kesadaran

Struktur tulang maksilofasial terdiri atas:

Struktur tulang maksilofasial terdiri atas:

- os maksila - os maksila

- os zigomatikus

- os zigomatikus peredam kejut yangperedam kejut yang melindungi otak

melindungi otak

- os etmoid - os etmoid

(3)

Pada KLL, 7 dari 10 mengalami cedera wajah

Pada KLL, 7 dari 10 mengalami cedera wajah

(luka tajam dan memar)

(luka tajam dan memar)

Perlu diperhatikan:

Perlu diperhatikan:

Pernapasan

Pernapasan

P

Peredaran darah

eredaran darah umum

umum

Kesadaran

Kesadaran

Struktur tulang maksilofasial terdiri atas:

Struktur tulang maksilofasial terdiri atas:

- os maksila - os maksila

- os zigomatikus

- os zigomatikus peredam kejut yangperedam kejut yang melindungi otak

melindungi otak

- os etmoid - os etmoid

(4)
(5)
(6)

OTAK -KESADARAN

SARAF OTAK -SENSORIK: - KULIT

- PANCA INDRA

-MOTORIK: - MULUT, FARING, LARING

- OTOT WAJAH, PANCAINDRA JALAN NAPAS -UDEM JALAN NAPAS ATAS

- ASPIRASI

- PERDARAHAN

- DISLOKASI FRAKTUR JALAN CERNA -MENGUNYAH

-MENELAN

-KELENJAR LIUR

PANCAINDRA -ORGAN MATA,TELINGA, HIDUNG, LIDAH

KOSMETIK -PATAH TULANG, DISLOKASI

- RETRAKSI BIBIR, KELOPAK MATA -KONTRAKTUR KULIT

(7)

Pemeriksaan lokal: dilakukan secara intraoral

dan ekstraoral

- inspeksi: asimetris muka, udem, hematom,

trismus, nyeri spontan, maloklusi

- palpasi: serentak, saksama, sistematis

Pemeriksaan penunjang: foto rontgen posisi

(8)
(9)
(10)

 Penanganan:

- fraktur maksila yang ekstensif perlu direduksi dan ditatalaksana bedah

- oklusi normal dapat diperbaiki dengan menggunakan kawat interdental dan maxillomadibular fixation

(MMF), sehingga higine oral dapat ditingkatkan,nutrisi lebih baik, jalan napas terjaga, serta kemungkinan infeksi berkurang.

- fiksasi interna menjaga fragmen tulang yang sudah tereduksi tetap pada posisinya, resorbsi bone-graft berkurang dan fungsi dapat kembali normal lebih cepat.

- bone graft juga dapat digunakan pada fraktur yang sangat kominutif untuk mencegah dismorfik wajah tengah.

-fiksasi dan imobilisasi berlangsung selama enam hingga delapan minggu.

(11)

Pada pemeriksaan fisik ditemukan:

- pembengkakan

- epistaksis

- deviasi hidung

- nyeri tekan

- krepitasi

- teraba garis fraktur

Pemeriksaan Radiologis dari arah lateral

memastikan tidak adanya fraktur pada tulang

wajah lain disekitar hidung.

(12)

Penanganan:

Hematom septal dievakuasi segera dengan drainase

untuk meminimalisasikan resiko infeksi dan nekrosis

akibat tekanan.

Pemasangan tampon paling sering dilakukan untuk

menghentikan perdarahan setelah gagal dengan

vasokonstriktor topikal. Tampon biasa diangkat

dalam 2-5 hari dan pada saat yang bersamaan dapat

dilakukan reduksi.

Elevasi kepala dan kompres hidung dengan es dapat

mengurangi udem dengan cepat sekaligus

mengurangi nyeri.

(13)

Reduksi fraktur dilakukan pada hari ke 5-10 pada

orang dewasa dan 3-7 pada anak-anak.

Jika udem minimal, reduksi dapat segera dilakukan.

Patahan dapat dilindungi dengan gips tipis

berbentuk kupu-kupu untuk satu hingga dua minggu

sambil mengatasi cedera lain yang mengancam

(14)

Fraktur zigoma meliputi cedera putusnya 5

hubungan zigoma dengan tulang-tulang

kraniofasial didekatnya yaitu, sutura

zigomatikofrontal, rima infraorbita,

zigomatikomaksila, arkus zigoma dan sutura

zigomatikosfenoid.

(15)

Pada pemeriksaan fisik ditemukan:

adanya udem

ekimosis periorbita

hematoma subkonjungtiva

retraksi kelopak mata bawah unilateral akibat

depresi os zigoma

epistaksis unilateral

maloklusi sisi yang terkena

eksoftalmus

pada palpasi teraba adanya pergeseran zigoma

ke inferior dan posterior

(16)

Pada rontgen foto posisi Waters, Caldwell atau

submentovertex dapat memperlihatkan proyeksi

arkus zigoma.

Reduksi fraktur zigoma dilakukan melalui insisi

kombinasi. Sebagai prinsip umum, kesegarisan

(alignment) os zigoma harus ditetapkan pada

setidaknya 3area dan difiksasi di setidaknya 2

area dengan miniplate dan sekrup.

(17)

GRUP I Tidak ada pergeseran ( displacement) yang signifikan; fraktur terlihat pada foto rontgen namun fragme tetap segaris: 6%

GRUP II Fraktur arkus zigoma; dengan arkus melesak kedalam tanpa keterlibatan orbita atau bagian anterior: 10%

GRUP III Fraktur korpus; bergeser ke bawah dan ke dalam, namun tidak ada rotasi: 33%

GRUP IV Fraktur korpus zigoma dengan yang berotasi ke medial; bergeser ke bawah; ke dalam dan ke belakang dengan rotasi medial: 11%

GRUP V Fraktur korpus dengan rotasi ke lateral; bergeser ke bawah, belakang dan medial dengan rotasi

zigoma ke lateral: 22%

GRUP VI Semua kasus fraktur zigoma yang disertai dengan garis fraktur tambahan yang melewati fragmen

(18)

NOE merupakan kompleks anatomi yang terdiri

dari os frontal, nasal, maksila, lakrimal, etmoid,

dan sfenoid.

Fraktur NOE dapat disertai gangguan jalan

napas, penglihatan, pendengaran, fungsi oklusi,

dan gangguan saraf kranial.

Harus dilakukan pemeriksaan visus, pupil,

pergerakan otot-otot bola mata, serta fungsi

lakrimal. Adanya cairan dari hidung harus

dicurigai sebagai cairan serebrospinal.

Terapi operatif harus dilakukan secepatnya,

berupa fiksasi fragmen tulang dengan

microplate, dan disertai kantopeksi jika terjadi

avulsi ligamen kantus medial mata.

(19)
(20)

Pada pemeriksaan harus diperhatikan adanya

asimetris dan maloklusi.

Palpasi: teraba garis fraktur dan mati rasa bibir

bawah akibat kerusakan pada n.mandibularis.

Umumnya disertai dislokasi fragmen tulang

sesuai dengan tonis otot yang berinsersi di

tempat tersebut.

Fraktur pada bagian tulang yang menyangga gigi

dapat terfiksasi dengan kawat interdental untuk

menjamin pulihnya oklusi dengan baik. Jika tidak

dapat dilakukan pemasangan kawat, diperlukan

reposisi dan fiksasi terbuka dengan osteosintesis.

(21)

LeFort membedakan fraktur menjadi 3 macam:

 LeFort I: fraktur transversal yang melalui lantai

rongga sinus, maksila di atas gigi, sehingga

memisahkan prosesus alveolaris, palatum, prosesus pterigoid dari struktur tengkorak wajah di atasnya

 LeFort II: membentuk patahan fraktur berbentuk

piramid. Garis fraktur berjalan diagonal dari lempeng pterigoid melewati maksila menuju tepi inferior

orbita ke atas melewati sisi medial orbita hingga mencapai hidung, sehingga memisahkan alveolus maksila, dinding medial orbita dan hidung sebagai bagian tersendiri

 LeFort III: fraktur yang melewati sutura

zigomatikofrontalis, berlanjut ke dasar orbita hingga sutura nasofrontalis. Pada tipe ini tulang wajah

(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

Fraktur yang mencakup:

Os frontal

Wajah tengah

Mandibula

Pemeriksaan CT scan 3 dimensi, keparahan

dan pola fraktur panfasial dapat ditentukan.

Insisi yang sering digunakan adalah insisi

koronal, karena menghasilkan visualisasi luas

terhadap sepertiga atas area wajah.

Kalau diperlukan, prosedur bedah saraf

dilakukan dalam waktu bersamaan.

(27)

Terjadi akibat trauma langsung pada tepi

tulang orbita atau pada os zigomatikus.

Trauma tidak langsung disebabkan oleh

benda bulat misalnya bola yang

menyebabkan tekanan besar sehingga timbul

efek letupan dalam orbita yang merusak

tulang dasar orbita.

Sebagian isi orbita masuk ke sinus maksilaris.

Kejadian ini disebut patah tulang letup

keluar ( blow-out fracture)

(28)

Gambaran klinis:

hematoma monokel yang dapat disertai diplopia,

hemomaksila,

mati rasa pipi akibat cedera n.infraorbitalis atau

mati

rasa dahi karena kerusakan n.

supraorbitalis.

Fraktur letup dapat menyebabkan enoftalmos dan

sering disertai dengan terjepitnya m.rektus inferior

di dalam patahan sehingga gerakan mata sangat

(29)
(30)

Digolongkan menjadi 3:

- kombustio bola mata

- trauma tumpul

(31)

Luka bakar dapat terjadi akibat paparan

bahan kimia yang bersifat asam atau basa.

Pertolongan darurat dapat berupa irigasi

segera dengan air bersih atau larutan garam

0,9% secara terus menerus sampai penderita

tiba di rumah sakit. Mata tidak boleh ditutup

agar bola mata dapat terus bergerak.

Rangsangan sinar matahari, pantulan salju

dan api pengelasan menyebabkan tukak kecil

pada kornea (punktata). Radiasi atom dapat

merusak retina dan pleksus koroideus.

(32)

Gejala:

Blefarospasme

mata berair terus

konjungtivitis sehingga penderita selalu mengucek

matanya.

Pada pemeriksaan tampak pembengkakan

kornea, stroma bagian luar berawan, dan

tampak sel-sel mengapung di kamar depan.

Pupil semakin melebar dan tidak bereaksi.

(33)

Penyulit berupa ulserasi kornea yang dapat

berlanjut menjadi perforasi.

Untuk mencegah infeksi diberikan tetes mata

antibiotik, tetapi jika infeksi tetap terjadi,

dapat disuntikkan antibiotika langsung ke

subkonjungtiva untuk mencegah perforasi.

Jika bahaya perforasi mengancam kornea

maupun sklera, atau ulkus menunjukkan tanda

meluas, sebaiknya diusahakan penutupan

dengan flap konjungtiva atau cangkok kornea.

Penyulit lanjut dapat berupa katarak,

glaukoma sekunder, iridosiklitis dan

simblefaron.

(34)

Trauma tumpul dapat menyebabkan

ekimosis, perdarahan subkonjungtiva,

hifema, iris lepas dan luksasio lensa.

 Bila trauma hebat dapat terjadi perdarahan

korpus vitreum. Trauma tajam berupa luka

tembus cukup berbahaya dan menimbulkan

kebutaan.

Pemeriksaan dimulai dengan menilai visus.

Kalau mata tidak dapat dibuka, sebaiknya

diberikan anestetik yang diteteskan pada

mukosa kelopak mata bagian bawah

(35)

Perdarahan subkonjungtiva terbatas umumnya

bukan disebabkan oleh cedera yang berarti,

sedangkan hematoma subkonjungtiva yang luas

menandai trauma berat.

 Benda asing di konjungtiva dapat ditemukan

dan dikeluarkan setelah kelopak mata atas

dibalik tanpa perlu anestetik. Sebaliknya,

pengambilan benda asing dari kornea

memerlukan anestesia sehingga sebaiknya

penderita segera di rujuk.

Referensi

Dokumen terkait

Adakalanya penemuan hukum yang dilakukan oleh hakim, melalui bingkai dari pihak yang berperkara melalui pengajuan gugatannya, atau melalui perkembangan ilmu hukum acara

GOLONGAN ONGAN ANTIM ANTIMET ETABOLIT

Indeks LLA/U merupakan indikator yang baik untuk menilai KEP (Kekurangan Energi Protein). Faktor yang dapat mempengaruhi kekurangan gizi anak sekolah dasar antara lain:

Berdasarkan hasil observasi dan studi dokumentasi yang dilakukan pada penelitian, diketahui bahwa sekolah yang menjadi lokasi penelitian lokasi tempatnya mudah diakses dari

 Pengorganisasian pelaksanaan pekerjaan yang berkaitan dengan penugasan personil terutama pimpinan proyek (Project Engineer) atau Kepala Pelaksanan Lapangan yang

Wilayah Suriah memiliki beberapa kota yang menjadi pusat kekuatan Romawi Timur (Bizaitun) yang beragama Kristen. Beberapa kota tersebut adalah Damaskus, Yordania,

Kegiatan belajar mengajar (KBM) pada siklus 1, memiliki kendala dalam proses KBM seperti awal masuk kelas para siswa belum terlihat aktif dalam merespon

Pseudo berarti tiruan, sedangkan Code adalah kode program sehingga pseudocode bisa disebut sebagai kode tiruan dari program sebenarnya yang dituliskan dalam standar bahasa