• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Volume 4 Nomor 1, Februari 2021 e-issn ; p-issn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Volume 4 Nomor 1, Februari 2021 e-issn ; p-issn"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

AUTOGENIC TRAINING BERPENGARUH PADA TINGKAT STRES ORANG DENGAN HIV/ AIDS

Endang Mei Yunalia*, Arif Nurma Etika, Eliya Rohani, Erik Irham Lutfi

Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Kadiri, Pojok, Kec. Mojoroto, Kediri, Jawa Timur, Indonesia 64115

*[email protected] ABSTRAK

Penyakit HIV/AIDS merupakan salah satu stressor psikososial pada penderitanya, karena penyakit HIV/AIDS adalah jenis penyakit kronis dan penyakit yang menimbulkan ancaman kematian. Selain kondisi fisik orang dengan HIV/AIDS yang memburuk, adanya tekanan sosial juga dapat menimbulkan terjadinya stres pada ODHA. Survei awal yang telah dilakukan menunjukkan tingginya kejadian stres pada kalangan ODHA. Stres dapat ditangani secara farmakologis atau non-farmakologis. Salah satu teknik non-farmakologis yang dapat menurunkan stres pada ODHA adalah Autogenic Training. Autogenic Training adalah jenis manajemen stres melalui pendekatan secara holistik. Penelitian ditujukan untuk mengetahui pengaruh Autogenic Training terhadap tingkat stres ODHA. Desain penelitian merupakan one group pre experiment dengan menggunakan rancangan pre-post test design. Sampel dalam penelitian sejumlah 20 orang dipilih menggunakan tekhnik purposive sampling dengan uji statistik data penelitian menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test. Berdasarkan uji statistik didapatkan kesimpulan adanya pengaruh pemberian Autogenic Training terhadap stres pada ODHA. Autogenic Training diharapkan dapat digunakan sebagai intervensi dalam mengurangi tingkat stres pada Orang dengan HIV/AIDS, sehingga orang dengan HIV/AIDS dapat meningkatkan kualitas kehidupan.

Kata kunci: autogenic training; HIV/AIDS; stres

AUTOGENIC TRAINING AFFECT ON STRESS LEVELS OF PEOPLE WITH HIV / AIDS

ABSTRACT

HIV/AIDS is one of psychosocial stressors in the sufferer, because the disease HIV/AIDS is one of the types of chronic diseases and diseases that pose a threat of death. In addition to the physical condition of people with HIV/AIDS worsening, the presence of social pressure can also cause stress in people with HIV/AIDS. Initial Survey that has been done shows the high incidence of stress in people with HIV/AIDS. Stress management can be done by pharmacological and non-pharmacological methods. One of the non-non-pharmacological techniques that can reduce stress on people with HIV/AIDS is Autogenic Training. Autogenic Training is a method of stress management using a holistic approach. The purpose of this research is to determine the influence of Autogenic Training on the level of stress in people with HIV/AIDS. The design used in this research is one group pre-experimentation designs by using pre-post test design. Samples in the study of a number of 20 people are selected using the purposive sampling technique. The statistical test used in this study is test Wilcoxon Signed Ranks Test. Statistical test results showed an influence on the administration of Autogenic Training on the stress of people with HIV/AIDS. Based on the results of this study, it is hoped that Autogenic Training can be used as an intervention in lowering stress levels in people with HIV/AIDS, so that people with HIV/AIDS can improve their quality of life. Keywords: Autogenic training; HIV/AIDS patients; stress

Volume 4 Nomor 1, Februari 2021

e-ISSN 2621-2978; p-ISSN 2685-9394

https://journal.ppnijateng.org/index.php/jikj

(2)

PENDAHULUAN

Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) terjadi akibat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini menyerang sistem imun sehingga mengakibatkan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Masalah kesehatan yang berhubungan dengan HIV/AIDS adalah permasalahan kompleks di dunia sekalipun, karena angka orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sendiri terus mengalami kenaikan (Yuliyanasari, 2017). Penyakit HIV/AIDS berakibat pada aspek fisik, emosional, dan sosial. Penurunan kondisi fisik, resiko kematian, dan tekanan sosial yang berat menyebabkan ODHA cenderung mengalami masalah psikologis (Sari & Wardani, 2017). Masalah emosional yang sering dialami oleh orang dengan HIV/AIDS adalah stres. Hal ini disampaikan pada hasil penelitian kualitatif sebelumnya pada ODHA, dimana seluruh informan dalam penelitian tersebut mengalami stres (Girianto, PWR., 2017). Dari survei awal yang dilakukan peneliti di Kota Kediri pada 10 responden ditemukan 2 orang (20%) menderita stres berat, 6 orang (60%) menderita stres sedang dan 2 lainnya (20%) mengalami stres ringan. Hal ini menunjukkan tingginya kejadian stress pada ODHA di Kota Kediri.

Humphrey, Yow & Bowden mengungkapkan bahwa stres merupakan faktor yang bertindak baik secara eksternal maupun internal yang membuat adaptasi menjadi sulit dan menyebabkan meningkatnya usaha dalam mempertahankan keseimbangan antara dirinya dan lingkungan luar (eksternal) (Hidayanti, 2013). Dampak psikologis dan sosial pada pasien HIV/AIDS pada tahap awal ditemukan adanya stres ringan. Ketika imunitas tubuh semakin menurun dan muncul gangguan fisik yang nyata maka kondisi tersebut dapat meningkatkan stres, cemas hingga depresi. Mungkin juga terjadi keinginan bunuh diri, masalah tidur dan sebagainya (Leserman, Golden, & Perkins, 1999). Oleh karena itu penanganan yang diberikan pada ODHA tidak terbatas pada aspek medis namun juga aspek psikososial agar ODHA dapat melakukan adaptasi akibat stres yang dialami.

Upaya non-farmakologis untuk menanggulangi stres adalah dengan manajemen stres. Beberapa penelitian membuktikan bahwa tindakan non-farmakologis yang dapat mengurangi tingkat stres yaitu relaksasi. Relaksasi adalah cara manajemen stres yang baik, dan autogenic training adalah salah satu manajemen stress yang bisa digunakan untuk mengontrol dan mengurangi stress (Lim & Kim, 2014). Salah satu teknik relaksasi yang diduga bisa membantu dalam menurunkan stres pada ODHA adalah Autogenic training. Pengembangan

Autogenic training ini dilakukan oleh Schultz tahun 1920 – 1930.

Autogenic training adalah tekhnik relaksasi untuk mengurangi gejala psikosomatik, insomnia, gangguan berkonsentrasi, dan tekanan darah tinggi. Autogenic training mengacu pada teknik tertentu latihan mental yang melibatkan relaksasi dan sugesti, yang bertujuan untuk mengajarkan individu untuk mematikan melawan/memerangi respons stres yang dialami (Welz, 1991). Pada penelitian terdahulu diperoleh hasil bahwa Autogenic training yang dilakukan dalam waktu 15 menit selama 3 hari, secara signifikan mampu menurunkan respons stres mahasiswa keperawatan (Fathia, 2017). Selain itu, penelitian Syafitri juga menunjukkan adanya penurunan tingkat stress pada pekerja yang mendapatkan terapi Autogenic Training (Syafitri, 2018a).

METODE

Desain penelitian ini menggunakan one group pre experiment design dengan menggunakan rancangan pre-post test design. Populasi pada penelitian ini adalah orang dengan HIV/AIDS Kota Kediri pada Kelompok Dukungan Sebaya (KDS)-Friendship Plus Kediri pada Bulan

(3)

September 2018 yang mengalami stres dengan besar sampel sejumlah 20 responden yang dipilih menggunakan tekhnik purposive sampling yang memenuhi kriteia inklusi yaitu: 1) Terdiagnosa HIV positif sejak minimal 1 bulan sebelum dilakukan penelitian (terdiagnosa HIV/AIDS minimal per bulan Agustus 2018); 2) Berusia >18 tahun (kelompok usia dewasa); 3) Dapat membaca dan menulis; 4) Kesadaran compos mentis; 5) Bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan kooperatif. Kriteria eksklusi: 1) Adanya ketidaknyamanan fisik; 2) Tidak melanjutkan pengisian atau tidak mengisi secara lengkap kuesioner. Instrumen pengumpul data adalah DASS (Depression, Anxiety and Stress Scale) dengan 42 item pertanyaan yang telah valid secara international. Hasil uji reliabilitas berdasarkan penilaian

Cronbac’s alpha, instrumen reliabel dengan nilai reliabilitas yaitu 0,91 yang diolah.

Proses pelaksanaan penelitian dimulai dengan pengurusan perizinan dari Universitas Kadiri. Selanjutnya peneliti menyerahkan surat izin survei ke Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) KPAD Kota Kediri dan Kelompok Dukungan Sosial (KDS) Frienship Plus Kediri. Setelah mendapatkan surat laik etik (No. 39/EC/KEPK-UNIK/04/2019), maka penelitian dilakukan mulai bulan Mei – Agustus 2020. Peneliti mensosialisasikan maksud dan tujuan penelitian kepada ketua KDS Frienship Plus Kediri dan melakukan pengumpulan data orang dengan HIV/AIDS yang menderita stres. Selanjutnya peneliti menentukan responden berdasarkan kriteria inklusi sesuai dengan teknik pengambilan sampel. Sebelum memberikan terapi peneliti memberikan informed consent dan kuesioner untuk mengukur tingkat stres kepada responden.

Terapi autogenic training dilakukan selama 10 – 15 menit selama 3 kali dalam waktu 3 hari kepada responden. Selama pelaksanaan latihan autogenic training responden diminta untuk mengambil posisi, dalam terapi ini terdapat 3 posisi yaitu posisi duduk rileks di kursi, duduk rileks menyandar, dan berbaring dengan rileks. Latihan autogenic training dimulai dengan latihan tarik nafas dalam yang diulang selama 5 kali. Setelah latihan tarik nafas dalam, maka dilanjutkan ke dalam 6 fase relaksasi autogenic (Popy Irawati, Salami, 2014) yang terdiri dari: 1) Terapis meminta kepada responden agar merasakan sensasi berat pada tangan dan kaki yang dimulai dari tangan serta kaki dominan; 2) Sensasi hangat pada tangan dan kaki dimulai dari tangan serta kaki dominan; 3) Sensasi hangat serta rileks area jantung; 4) Sensasi rileks pada pernafasan; 5) Sensasi hangat pada abdomen; 6) Sensasi dingin pada kepala. Sebelum dan setelah pelaksanaan terapi autogenic training peneliti memberikan kuesioner DASS kepada responden untuk mengukur tingkat stress. Setelah diperoleh data, selanjutnya dilakukan uji statistic menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test dengan nilai α: 0,05.

HASIL

Responden pada penelitian ini terdiri dari 17 orang (75%) berjenis kelamin perempuan dan 3 orang (25%) berjenis kelamin laki-laki. Rentang usia responden yaitu sebanyak 1 orang (5%) berusia 20-24 tahun, 4 orang (20%) berusia 25-35 tahun, 11 orang (55%) berusia 36-45 tahun dan 4 orang (20%) berusia 46-55 tahun. Pendidikan responden yaitu 1 orang (5%) tidak sekolah, 14 orang (25%) berpendidikan SMA. Pekerjaan responden yaitu 2 orang (10%) tidak bekerja dan 18 orang (90%) bekerja swasta. Status pernikahan responden yaitu 13 orang (65%) berstatus menikah, 1 orang (5%) belum menikah, dan 6 orang (30%) berstatus janda/duda. Sebanyak 16 responden (80%) tinggal sendiri dan 4 orang (20%) tinggal sendiri. Penghasilan seluruh responden atau 100% dalam penelitian ini kurang dari UMR Kediri yaitu Rp 1.700.000.

(4)

Tabel 1 Karakteristik Responden (n=20) Karakteristik f % Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan 3 17 15 75 Usia 20-24 tahun 25-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun 1 4 11 4 5 20 55 20 Pendidikan Tidak Sekolah SD/ SMP SMA 1 14 5 5 70 25 Pekerjaan Tidak Bekerja Swasta 2 18 10 90 Status Pernikahan Menikah Belum Menikah Janda/ Duda 13 1 6 65 5 30 Tinggal Bersama Sendiri Bersama Keluarga 4 16 20 80 Penghasilan <UMR (<Rp 1.700.000) UMR (Rp 1.700.000) >UMR (>Rp 1.700.000) 20 0 0 100 0 0 Tabel 2.

Tingkat Stres Sebelum dan Sesudah Melakukan Autogenic Training pada ODHA (n=20)

Variabel Sebelum Sesudah

Kategori f % f %

Tingkat Stres Stres Normal 0 0 11 55

Stres Ringan 9 45 8 40

Stres Sedang 11 55 1 5

Stres Berat 0 0 0 0

Stres Sangat Berat 0 0 0 0

∑ 20 100 20 100

P value : 0,00 α : 0,05

Table 2, tingkat Stres ODHA di Kota Kediri Tahun 2019 sebelum pemberian Autogenic Training sebanyak 9 responden (45%) mengalami stres ringan, 11 responden (55%) mengalami stres sedang, sedangkan setelah pemberian pelatihan Autogenic Training menjadi

(5)

stres normal sebanyak 11 responden (55%), stres ringan 8 responden (40%) dan stres sedang sejumlah 1 responden (5%). Data di atas menunjukkan terdapat perubahan tingkat stress pada ODHA setelah diberikan terapi Autogenic Training.

Tabel 3.

Tabel Wilcoxon Tingkat Stres Sebelum dan Sesudah Dilakukan Autogenic Training pada ODHA

N

Tingkat stress sesudah- Negative Ranks 18a

Tingkat stress sebelum Positive Ranks 0b

Ties 2c

p-value = 0,000*

*Signifikan pada α : 0,05 Keterangan:

a. Tingkat stres sesudah < tingkat stres sebelum b. Tingkat stres sesudah > tingkat stres sebelum c. Tingkat stres sesudah = tingkat stres sebelum

Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa dari semua responden didapatkan 18 responden dengan tingkat stres yang menurun, 2 responden berada dalam tingkat stres yang tetap, dan tidak ada responden yang mengalami kenaikan tingkat stres. Dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan tingkat stress pada responden setelah mendapatkan autogenic training. Berdasarkan perhitungan uji statistik menggunakan uji Wilcoxon didapatkan hasil p-value

sebesar 0,00, karena p-value < α (0,05) maka dapat diinterpretasikan bahwa ada pengaruh

pemberian Autogenic Training terhadap tingkat stres ODHA. PEMBAHASAN

Tingkat Stres ODHA Sebelum Melakukan Autogenic Training

Berdasarkan tabel 1 diperoleh data pada Orang dengan HIV/AIDS di Kota Kediri tahun 2019 sebelum dilakukan Autogenic Training didapatkan sebagian besar dari responden yaitu 11 responden (55%) mengalami stres sedang dan sebanyak 9 responden (45%) mengalami stres ringan. Hal ini sejalan dengan penemuan Hidayanti (2013) yang menyatakan bahwa kejadian stres ODHA meningkat dua kali lipat dibandingkan populasi biasa (Hidayanti, 2013). Stres merupakan suatu keadaan dimana sumber yang dimiliki seseorang tidak cukup untuk merespons situasi yang sedang dialami. Dalam penelitian ini disebutkan bahwa stress dapat terjadi karena faktor psikologis dan juga dapat terjadi karena efek proses infeksi HIV pada sistem saraf pusat. Perjalanan penyakit HIV/AIDS yang bersifat progresif serta menyebar dengan cepat ditambah dengan stigma atau diskriminasi masyarakat pada pasien HIV/AIDS juga berdampak pada terjadinya stres.

Hasil penelitian pada table I menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu sejumlah 9 responden perempuan dari total 17 responden (52,9%) berjenis kelamin perempuan mengalami stress sedang. Hal ini memperkuat pendapat Mijoc (2009) yang mengatakan bahwa jenis kelamin berpengaruh pada tingkat stres, yaitu perempuan mempunya tingkat kecenderungan stres yang lebih tinggi. Tingkat kewaspadaan perempuan yang bersifat negatif dapat menstimulasi hormone stress sehingga dapat menimbulkan kondisi stress, cemas, serta takut. Sedangkan pada orang laki – laki cenderung mempersepsikan konflik

(6)

sebagai stimulus yang bersifat positif. Dengan kata lain, ketika perempuan berada pada kondisi penuh tekanan, cenderung lebih rentan mengalami stress (Lusia Nasrani, 2015). Penelitian ini menunjukkan hasil sebagian besar responden (55%) berusia dewasa akhir (36-45 tahun) mengalami stress sedang. Sedangkan untuk proporsi usia yang lain menunjukkan adanya tingkatan stress ringan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa umur berpengaruh terhadap stres. Hal ini diperkuat oleh penelitian Gatot (2005) yang menyebutkan bahwa umur memiliki kaitan yang erat dengan tingkat toleransi seseorang terhadap stres. Semakin dewasa usia seseorang maka jiwanya akan semakin matang, semakin bijaksana, mempunyai pemikiran rasional, memiliki kendali emosi, dan memiliki toleransi pada sudut pandang dan perilaku yang berbeda dalam dirinya. Namun penelitian lain menyebutkan hal yang sebaliknya. Bahwa semakin bertambah usia, maka respon terhadap stress akan meningkat hal tersebut terjadi karena secara fisiologis, semakin bertambah usia akan terjadi pengurangan kepadatan dan sensitivitas reseptor kortisol terutama di daerah korteks prefrontal dan hipokampus, sehingga dengan berkurangnya sensitivitas reseptor maka respon terhadap stress pun akan meningkat (Hidalgo, Pulopulos, & Salvador, 2019).

Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa sebagian responden (70%) berpendidikan dasar (SD/SMP) memiliki tingkat stress sedang sedangkan sebagian kecil responden (10%) yang memiliki pendidikan menengah (SMA) memiliki tingkat stress ringan. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap stres. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah tingkat stres (Irkhami, 2018).

Data pada tabel 1 juga menunjukkan bahwa seluruh responden (100%) memiliki penghasilan di bawah UMR Kota Kediri. Pengahasilan ini juga merupakan salah faktor yang menjadi faktor pemicu terjadinya stress. Sebagaimana penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa terdapat korelasi yang bersifat negative dan signifikan antara penghasilan dengan dengan kejadian stress. Artinya semakin rendah penghasilan yang didapat maka tingkat stress akan meningkat. Walaupun banyak juga orang yang memiliki penghasilan tinggi ternyata mereka juga mengalami stress dan tekanan psikologis yang lain. Ini artinya stress yang terjadi pada individu disebabkan oleh berbagai macam faktor yang lain (Hobkirk, Krebs, & Muscat, 2018) Pada tabel 1 juga disebutkan bahwa sebagan besar responden memiliki status menikah (65%), pada responden yang memiliki status menikah mereka dan bekerja memiliki tingkat stress sedang, terutama pada responden perempuan. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menjelaskan perempuan yang bekerja memilii peran ganda dan ini menimbulkan konflik (Apollo, 2012). Selain menimbulkan konflik peran, pada perempuan yang bekerja juga dituntut untuk mampu melakukan adaptasi pada setiap perannya. Konflik dan proses adaptasi tersebutlah yang bisa menstimulus terjadinya stress.

Disimpulkan bahwa tingkat stress pada sebagian besar responden sebelum dilakukan

Autogenic Training tergolong dalam stres sedang. Hal ini menunjukkan tingkat stres yang dialami oleh orang dengan HIV/AIDS pada penelitian ini tergolong masih tinggi walaupun mereka telah tergabung ke dalam kelompok dukungan. Banyak hal yang menyebabkan hal ini, seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa jenis kelamin, usia pendidikan, penghasilan/ pendapatan dan status pernikahan berpengaruh terhadap terjadinya stress pada ODHA. Selain hal tersebut, yang dapat mempengaruhi stress pada responden adalah cara memandang suatu masalah sehingga masalah tersebut dapat dikatakan sebagai stres ataukah bukan. Masalah yang ditimbulkan akibat HIV/AIDS ini dapat terjadi pada berbagai hal salah satunya adalah

(7)

ketidakmampuan orang dengan HIV/AIDS untuk menangani masalah tersebut juga menyebabkan stres yang tinggi (Mcintosh & Rosselli, 2012).

Tingkat Stres ODHA Sesudah Melakukan Autogenic Training

Berdasarkan tabel 1 diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sesudah diberikan terapi didapatkan 11 orang atau sebagian besar (55%) dari responden mengalami stres normal, stres ringan 8 responden (40%) dan stres tingkat sedang hanya 1 responden (5%). Dari 20 responden hampir seluruhnya mengalami perubahan tingkat stres dari tingkat stres tinggi ke tingkat stres lebih rendah. Hal ini dikarenakan kepatuhan penderita HIV/AIDS dalam mengikuti autogenic training.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa teknik autogenic training dapat menurunkan tingkat stres ODHA. Davids, dkk menyatakan Autogenic Training dapat mengatur sistem saraf otonom terhadap stres yang dialami. Aktivitas otak akan berkurang pada saat relaksasi sehingga denyut jantung, frekuensi pernafasan, dan tekanan darah pada kondisi normal, serta otak mampu menunjukkan respon dengan cepat dan dapat menangkap instruksi verbal untuk rileks sehingga tercipta keadaan seimbang (Mitani, Fujita, Sakamoto, & Shirakawa, 2006). Berdasarkan hasil penelitian dan teori menunjukkan setelah diberikan terapi sebagian besar responden berada dalam kategori stres normal. Hal tersebut dikarenakan efek dari autogenic training yang dapat membuat orang dengan HIV/AIDS menjadi rileks, nyaman, dan tenang (Varvogli & Darviri, 2011a). Stres normal yang dialami dapat diartikan bahwa orang dengan HIV/AIDS sudah mampu untuk mengatasi stres dan mampu menyesuaikan diri dengan lebih baik.

Pengaruh Autogenic Training terhadap Stres pada ODHA

Berdasarkan tabulasi silang didapatkan hasil sebelum diberikan Autogenic Training

didapatkan sebagian besar (55%) atau 11 responden memiliki tingkat stres sedang, serta 9 responden (45%) mengalami stres ringan. Sedangkan sesudah diberikan Autogenic Training

sebagian besar responden yaitu 11 orang (55%) mengalami stres normal, 8 responden (40%) mengalami stres ringan, dan 1 responden (5%) mengalami stres sedang. Hal ini dipengaruhi oleh ketekunan dan keseriusan responden dalam mengikuti Autogenic Training.

Berdasarkan perhitungan uji statistik menggunakan uji Wilcoxon didapatkan hasil p-value

sebesar 0,00, karena p-value< α (0,05) maka H1 diterima, artinya ada pengaruh pemberian Autogenic Training terhadap stres pada ODHA di Kota Kediri Tahun 2019. Sejumlah 18 responden mengalami penurunan tingkat stres, 2 responden berada dalam tingkat stres yang tetap, dan tidak ada responden yang mengalami kenaikan tingkat stres. Dalam penelitian ini ditemukan 2 responden yang tidak mengalami penurunan tingkat stres, hal ini dikarenakan kurangnya konsentrasi dari responden. Dalam pemberian Autogenic Training harus dilaksanakan dengan konsentrasi yang pasif, rileks, lingkungan yang nyaman dan tenang agar efek dari relaksasi tersebut dapat membuat tubuh menjadi lebih rileks, bugar dan stres berkurang. Hal ini diperkuat dengan penelitian Syafitri yang menyatakan bahwa dalam pemberian teknik relaksasi autogenik pada karyawan harus dilaksanakan dengan konsentrasi yang pasif, rileks, lingkungan yang nyaman (Syafitri, 2018b).

Penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa Autogenic Training secara signifikan mampu menurunkan respons stres mahasiswa keperawatan. Hal ini diperkuat oleh (Syafitri, 2018a) yang menyebutkan bahwa ada pengaruh Autogenic Training

(8)

training adalah metode manajemen stress menggunakan latihan mental yang melibatkan relaksasi dan sugesti yang bertujuan untuk mengajarkan individu untuk melawan respon stress yang dialami (Varvogli & Darviri, 2011a). Autogenic training dapat menstimulus korteks prefrontal untuk menimbulkan efek tenang. Tekhnik autogenic training bekerja dengan cara melibatkan otak dan memberikan pengaruh pada fungsi persepsi, memori, kognitif, dan emosi. Pada tekhnik autogenic training, stimulus yang diterima oleh otak bagian prefrontal akan disimpan dan diteruskan ke hipokampus dan proses tersebut akan berjalan setiap kali latihan dilakukan. Sehingga, melakukan autogenic training secara rutin dapat melatih otak bagian prefrontal untuk beradaptasi terhadap stress yang dialami seseorang (Shinozaki & Kanazawa, 2010).

Autogenic training dapat merangsang peningkatan hormone endofrin yang merupakan substansi sejenis morfin yang dihasilkan oleh otak dan sumsum tulang belakang. Seperti yang diketahui bahwa endorfin memiliki efek relaksasi pada tubuh (Popy Irawati, Salami, 2014). Lee, 2007 dalam (Lim & Kim, 2014) juga melaporkan bahwa autogenic training

meningkatkan resistensi terhadap stres dengan mengurangi sistem saraf simpatik dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis pada orang dewasa. Penelitian pada efek autogenic training pada sistem saraf otonom ditemukan tingkat aktivitas sistem sarafsimpatik berkurang secara signifikan dan tingkat aktivitas sistem saraf parasimpatis meningkat (Mitani et al., 2006).

Autogenic training dapat melatih tubuh dalam menyampaikan stimulus berupa autosugesti sehingga tubuh berada pada kondisi yang rileks pernafasan menjadi teratur, begitu pula dengan kondisi tekanan darah, denyut jantung serta suhu tubuh yang stabil. Imajinasi visual serta instruksi verbal akan menjadikan tubuh terasa hangat, tertarik gravitasi serta rileks adalah standar autogenic training (Varvogli & Darviri, 2011b). Perasaan yang tenang, sensasi hangat yang menyebar ke seluruh tubuh adalah efek yang dirasakan pada autogenic training. Sensasi hangat pada tubuh terjadi karena proses vasodilatasi pada arteri perifer. Perubahan yang dirasakan selama ataupun sesudah autogenic training juga berpengaruh pada kerja system syaraf otonom. Sensasi menenangkan dari autogenic training ini mengubah dominasi kerja system syaraf simpatis menjadi didominasi oleh sistem parasimpatis (Popy Irawati, Salami, 2014).

Berdasarkan penelitian menunjukkan setelah diberikan Autogenic Training hampir seluruh responden kategori stres yang dialami menjadi menurun. Hal ini dikarenakan efek dari

Autogenic Training yang dapat membuat responden menjadi rileks, nyaman, tenang dan membuat responden kembali ke keadaan yang lebih baik. Pemberian Autogenic Training pada ODHA selama 15 menit yang dilakukan satu kali sehari selama tiga hari mampu menurunkan stres hal ini dikarenakan Autogenic Training memberikan efek menenangkan sehingga ketegangan yang dihadapi responden dapat menurun. Responden menjadi tenang dan pikiran menjadi lebih segar setelah diberikan Autogenic Training, hal tersebut menyebabkan stres menjadi berkurang. Pemberian Autogenic Training dapat menurunkan tingkat stres yang dialami oleh responden.

Autogenic Training jika dilakukan secara benar selama 15 menit akan mengaktifkan sistem ketenangan melalui korteks prefrontal. Secara biologis psikoterapi bekerja dalam rangkaian dan melibatkan berbagai struktur otak baik secara anatomis, seluler maupun tingkat biokimia, meliputi : fungsi persepsi, memori, kognitif, dan emosi. Dinamika antara amygdala dan reaksi dari pemberian informasi yang diterima korteks prefrontal mungkin menunjukkan model neuroanatomi bagaimana psikoterapi menata kembali pola emosi yang maladaptif. Hal ini

(9)

juga memberi reaksi langsung pada sistem hormonal, sistem simpatis dan parasimpatis dan pada perilaku serta keterjagaan korteks. Stimulus tersebut kemudian akan disimpan di memori hipokampus yang nantinya secara sadar atau tidak, akan mempengaruhi stimulus berikut yang dipersepsikan. Dengan demikian, dengan latihan yang terus-menerus maka akan menyebabkan korteks prefrontal dapat memperbaiki respons terhadap stress (Luthe, 2000).

Autogenic training dapat merangsang peningkatan hormone endofrin yang merupakan substansi sejenis morfin yang dihasilkan oleh otak dan sumsum tulang belakang. Seperti yang diketahui bahwa endorfin memiliki efek relaksasi pada tubuh (Popy Irawati, Salami, 2014). Autogenic training meningkatkan resistensi terhadap stres dengan mengurangi sistem saraf simpatik dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis pada orang dewasa (Lim & Kim, 2014). Penelitian pada efek autogenic training pada sistem saraf otonom ditemukan tingkat aktivitas sistem sarafsimpatik berkurang secara signifikan dan tingkat aktivitas sistem saraf parasimpatis meningkat (Mitani et al., 2006).

Autogenic training akan membantu tubuh untuk membawa perintah melalui autosugesti untuk rileks sehingga dapat mengendalikan pernapasan, tekanan darah, denyut jantung serta suhu tubuh. Imajinasi visual dan mantra-mantra verbal yang membuat tubuh merasa hangat, berat dan santai merupakan standar autogenic training (Varvogli & Darviri, 2011a). Sensasi tenang, ringan dan hangat yang muncul pada autogenic training ini akan menyebar ke seluruh tubuh merupakan efek yang bisa dirasakan dari autogenic training. Tubuh merasakan kehangatan, merupakan akibat dari arteri perifer yang mengalami vasodilatasi, sedangkan ketegangan otot yang menurut mengakibatkan munculnya sensasi ringan. Perubahan yang terjadi selama maupun setelah autogenic training mempengaruhi kerja saraf otonom. Respon emosi serta efek relaksasi dari autogenic training ini merubah cara kerja tubuh yang didominasi oleh syaraf parasimpatis (Popy Irawati, Salami, 2014). Hal tersebut menunjukkan bahwa autogenic training dapat digunakan sebagai intervensi dalam program manajemen stres untuk Orang dengan HIV/AIDS.

SIMPULAN

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan terdapat pengaruh Autogenic Training dapat menurunkan tingkat stres pada ODHA dengan nilai p=0,000 ((p<0,05).

DAFTAR PUSTAKA

Apollo, A. C. (2012). Konflik Peran Ganda Perempuan Menikah yang Bekerja Ditinjau dari Dukungan Sosial Keluarga dan

Penyesuaian Diri. Widya Warta, 36(02), 254–271.

Fathia, N. A., Shanti, W., & Azizah, K. (2017). Pengaruh Autogenic Training dalam Menurunkan Respons Stres Mahasiswa Keperawatan, 25–32. DOI: https://doi.org/10.35720/tscners.v2i2.7

Girianto, PWR., W. (2017). Hubungan Dukungan Psikososial Keluarga dengan Tingkat Stres Pasien HIV/AIDS. Jurnal Kesehatan, 3(1), 16–22.

Hidalgo, V., Pulopulos, M. M., & Salvador, A. (2019). Neurobiology of Learning and Memory Acute psychosocial stress effects on memory performance : Relevance of age and sex. Neurobiology of Learning and Memory, 157(July 2018), 48–60. https://doi.org/10.1016/j.nlm.2018.11.013

(10)

Hidayanti, E. (2013). Strategi Coping Stress Perempuan dengan HIV/AIDS. Sawwa, 9, 89– 106. DOI : 10.21580/sa.v9i1.667

Hobkirk, A. L., Krebs, N. M., & Muscat, J. E. (2018). Addictive Behaviors Income as a moderator of psychological stress and nicotine dependence among adult smokers.

Addictive Behaviors, 84(April), 215–223. https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2018.04.021 Irkhami, F. L. (2018). Faktor Yang Berhubungan Dengan Stres Kerja Pada Penyelam Di Pt.

X. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 4(1), 54. https://doi.org/10.20473/ijosh.v4i1.2015.54-63

Leserman, J., Golden, R. N., & Perkins, D. (1999). Progression to AIDS : The Effects of Stress, Depressive Symptoms, and Social Support Progression to AIDS : The Effects of Stress, Depressive Symptoms, and Social Support. Psychosomatic Medicine, 61(May), 397–406. DOI: 10.1097/00006842-199905000-00021

Lim, S. J., & Kim, C. (2014). Effects of autogenic training on stress response and heart rate variability in nursing students. Asian Nursing Research, 8(4), 286–292. https://doi.org/10.1016/j.anr.2014.06.003

Lusia Nasrani, S. P. (2015). Perbedaan Tingkat Stres Antara Laki-Laki dan Perempuan pada Peserta Yoga di Kota Denpasar.

Luthe, W. (2000). About the Methods of Autogenic Therapy. E. Peper & K. H. Gibney, (1979), 149–167.

Mcintosh, R. C., & Rosselli, M. (2012). Stress and Coping in Women Living with HIV : A Meta-Analytic Review. AIDS Behav, 16, 2144–2159. https://doi.org/10.1007/s10461-012-0166-5

Mitani, S., Fujita, M., Sakamoto, S., & Shirakawa, T. (2006). Effect of autogenic training on cardiac autonomic nervous activity in high-risk fire service workers for posttraumatic stress disorder. Journal of Psychosomatic Research, 60, 439–444. https://doi.org/10.1016/j.jpsychores.2005.09.005

Popy Irawati, Salami, I. H. S. (2014). Pengaruh Terapi Relaksasi Autogenik Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Lansia. Jurnal Keperawatan ’Aisyiyah, 1(6), 1–6. Sari, Y. K., & Wardani, I. Y. (2017). Dukungan Sosial dan Tingkat Stres Orang dengan

HIV/AIDS. Jurnal Keperawatan Indonesia, 20(2), 85–93. https://doi.org/10.7454/jki.v20i2.361

Shinozaki, M., & Kanazawa, M. (2010). Effect of Autogenic Training on General Improvement in Patients with Irritable Bowel Syndrome : A Randomized Controlled Trial. Appl Psychophysiol Biofeedback, 35, 189–198. https://doi.org/10.1007/s10484-009-9125-y

Syafitri, E. N. (2018a). Pengaruh Teknik Relaksasi Autogenik terhadap Penurunan Tingkat Stres Kerja pada Karyawan PT. Astra Honda Motor di Yogyakarta. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 5(2), 395–398. DOI: http://dx.doi.org/10.35842/jkry.v5i2.213

(11)

Syafitri, E. N. (2018b). Pengaruh Teknik Relaksasi Autogenik Terhadap Penurunan Tingkat Stres Kerja pada Karyawan PT. Astra Honda Motor di Yogyakarta. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 5(2), 395–398. DOI: http://dx.doi.org/10.35842/jkry.v5i2.213 Varvogli, L., & Darviri, C. (2011a). Stress Management Techniques: evidence-based

procedures that reduce stress and promote health. Health Science Journal, 5(2), 74–89. Varvogli, L., & Darviri, C. (2011b). Stress Management Techniques: evidence-based

procedures that reduce stress and promote health, 2, 74–89. Welz, K. H. (1991). AUTOGENIC T RAINING.

Yuliyanasari, N. (2017). Global Burden Desease – Human Immunodeficiency Virus – Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV-AIDS), 1, 65–77.

(12)
https://doi.org/10.35720/tscners.v2i2.7 10.21580/sa.v9i1.667 10.1097/00006842-199905000-00021 http://dx.doi.org/10.35842/jkry.v5i2.213

Gambar

Table  2,  tingkat  Stres  ODHA  di  Kota  Kediri  Tahun  2019  sebelum  pemberian  Autogenic  Training  sebanyak  9  responden  (45%)  mengalami  stres  ringan,  11  responden  (55%)  mengalami stres sedang, sedangkan setelah pemberian pelatihan Autogenic

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui pengetahuan Warga binaan di Lapas Wirogunan mengenai skizofrenia, untuk

Berdasarkan data pada tabel 4.6 diketahui bahwa dari 34 orang didapatkan bahwa sebagian besaribu bersalin yang terjadi ketuban pecah dini (72,72%) mengalami

Berdasarkan Tabel 2 distribusi frekuensi stres psikososial keluarga pasien COVID-19 sesudah dilakukan pemberian terapi relaksasi otot progresif mayoritas responden

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa mahasiswa bidan, perawat dan gizi memiliki persepsi yang lebih tinggi pasca pembelajaran interprofessional setelah mengikuti program

Hasil: Sebagian besar responden mengalami obesitas sedang yaitu sebanyak 67,4%, sebagian besar responden mengalami stres sedang dan stres berat masing masing yaitu 39,5%,

Hasil penelitian distribusi frekuensi ibu yang mengalami perdarahan pada kasus Abortus Imminens sebagian besar mendapatkan terapi MgSO4, rata-rata efektivitas

Gambaran hasil penelitian pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi kondom diwilayah kerja Puskesmas Karassing 2018, sebagian besar pengetahuan responden dalam

Sebagian besar responden mempunyai kepatuhan minum obat yang kurang yaitu sebanyak 48 responden (54,5%), sebagian besar responden mengalami periode kekambuhan