Akuntabilitas dan
Transparansi dalam
Pengadaan Alutsista
J. Danang Widoyoko
Korupsi di Indonesia
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara
terkorup di dunia berdasarkan sejumlah
survey, terutama Corruption Perception Index TI.
Salah satu sektor korupsi yang merugikan
negara dalam jumlah besar adalah pengadaan barang dan jasa.
Korupsi di Indonesia berdasarkan modus 2004 - 2006 117 18 183 6 60 12 12 21 8 2 7244 5512 4267 2772 2384 813 451 410 62 25 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 Mark u p Manipu lasi Penyim pan gan An ggaran Kre dit m acet Pen ggelap an/P eny unatan Mark d own Pro yek /keg iata n fiktif Pen yua pan Pem era san/Pu ngli Pen unju kka n la ngs ung Jumlah kasus 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000
Kerugian negara ( Rp Miliar )
PROSEDUR PEMILIHAN PENYEDIA JASA PEMBORONGAN
DENGAN METODA PELELANGAN UMUM DENGAN PRAKUALIFIKASI
Pengumuman Prakualifikasi
Pendaftaran
Min 7 hk Penayangan
Akhir Penayangan Pengumuman
Min 3 hk
Batas Akhir Pemasukan Dok. Pra K
5 hk Evaluasi Dok. Pra K
Penetapan hasil Pra K
1 hk
Pengumuman hasil Pra K
Min 7 hk
Undangan Lelang Penjelasan
3 hkPenyusunan BAP dan Adendum
Min 7 hk
Pemasukan/Pembukaan Penawaran
Penetapan Pemenang lelang 42 hk/51 hk
Pengumuman Pemenang Lelang
Max 2 hk
Penunjukan Pemenang
Penandatanganan Kontrak 63 hk/72 hk
Pengambilan
Dok Pra Kualifikasi
1 hk
1 hk
Masa Sanggah
1 hk
Catatan:
1. Perlu tambahan waktu utk Pendaftaran, Masa Sanggah Pra K dan Penyusunan BAP/ Adendum
2. Waktu bisa dikurangi utk Evaluasi Penawaran,
Penetapan Pemenang Lelang dan Penanda Tanganan Kontrak
Max 7 hk Evaluasi Penawaran
Penetapan Calon Pemenang Lelang
Max 5 hk oleh Pimpro/Bagpro Max 14 hk oleh Menteri
Max 5 hk Max 14 hk Min 9 hk Max 5 hk Pengambilan Dok Lelang Min 7 hk Masa Sanggah Max 5 hk
Modus korupsi dalam
pengadaan
Pemalsuan (Fraud) Penyuapan (Bribery)
Penggelapan (emblezzlement) Uang Komisi (commission) Pemerasan (Extortion)
Pilih Kasih (Favoritism)
Penyalahgunaan Wewenang (Abuses of Discretion) Bisnis orang dalam (Insider trading)
Nepotisme (Nepotism)
Sumbangan Ilegal (Illegal Contribution)
Meskipun Indonesia telah menerapkan aturan pengadaan barang
BPI 2002
Se ct or Score
Public works/construction 1.3 Arms and defence 1.9 Oil and gas 2.7 Real estate/property 3.5 Telecoms 3.7 Power generation/transmission 3.7 Mining 4.0 Transportation/storage 4.3 Pharmaceuticals/medical care 4.3 Heavy manufacturing 4.5
Banking and finance 4.7
Civilian aerospace 4.9 Forestry 5.1 IT 5.1 Fishery 5.9 Light manufacturing 5.9 Agriculture 5.9
Pengadaan alutsista
Global military expenditure - $1200 miliar
Arms transfer agreements with developing nations circa - $22 miliar
Corruption: 50% dari komplain penyuapan terkait dengan pengadaan persenjataan (US State Dept)
Acquisition: pengadaan yang tidak perlu, produsen tunggal, korupsi dan kolusi.
Ministries: kompetensi dan SDM tidak memadai, kerahasiaan, minimnya pengawasan, aliran dana tidak terkontrol, maraknya
Spesifikasi khusus dan produsen yang
terbatas. Bahkan pada alutsista tertentu, hanya ada produsen tunggal.
Penggelaran pasukan untuk merespon
peristiwa yang tidak diperkirakan sebelumnya seperti konflik.
Keterbatasan pendanaan. Umumnya produsen tidak hanya menjual produk, tetapi juga
menyediakan skema pembiayaan seperti Kredit Ekspor.
Potensi Korupsi di militer (2)
Peran broker yang dominan dalam pengadaan senjata. Bahkan kebutuhan militer justru ditentukan oleh broker. Aspek kerahasiaan dalam pengadaan alutsista.
Anggaran pertahanan tidak transparan. Anggaran dari APBN tidak menggambarkan seluruh kebutuhan militer karena faktanya ada kontribusi dari APBD dan bisnis militer.
Modus korupsi dalam
pengadaan
Proyek dibuat sedemikian sehingga tidak
harus dilakukan tender tetapi penunjukan langsung. (syarat penunjukan langsung: spesifikasi khusus, rahasia, bencana alam, dsb).
Dephan tidak memiliki 'black list' kontraktor
sehingga sering dirugikan.
Kontraktor atau broker harus memberikan
Studi kasus 2: Pindad
Pindad sebagai salah satu rekanan Dephan
harus memberikan uang pelicin atau suap.
Uang pelicin diadministrasikan dalam bentuk
retensi pasar, marketing cost dan managemen cost.
ICW menemukan catatan tentang retensi pasar,
marketing dan management cost sebesar Rp. 8,84 M (2003) dan Rp. 38,22 M (2004).
Suap a la Pindad
De skripsi M a na ge me nt cost M a rke ting cost Re te nsi pa sa r
7,620,000 Mem bina hubungan kerja dengan inst ansi t erkait 10,000,000
30,000,000 5,000,000
2,000,000 Mem bina hubungan kerja dengan relasi bisnis 20,000,000
7,034,900,000 5,628,925,750 Telah selesainya kont rak penjualan senjat a dan m unisi dengan Babek TNI 2,835,500,000 Mem bina hubungan baik dengan inst ansi t erkait 380,000,000
Mem bina hubungan baik 12,000,000 Mem bina hubungan kerja dengan inst ansi t erkait 22,200,000 Mem bina hubungan baik dengan inst ansi t erkait 42,000,000
1,050,000,000 Dana t akt is dan biaya fot o copy dokum en-dokum en penagihan ke TNI
dan Polri
Pengurusan ijin unt uk pelaksanaan penjualan produk Handakkom ke Pert am ina
Mem bina hubungan kerja dengan m edia cet ak yang t elah m em bant u m engangkat cit ra perusahaan
Mem bina hubungan kerja dengan inst ansi t erkait sehubungan dengan kunjungan kerja Kom isi I DPR RI
Telah selesainya kont rak unt uk penjualan program ABT TNI khususnya m unisi
Telah selesainya kont rak dengan Babek TNI unt uk penjualan senjat a, m unisi dan rant is
Telah selesainya sebagian besar kont rak-kont rak dengan Mabes TNI unt uk produk m unisi dan senjat a
Studi kasus: Pengadaan Mi-17
Kasus ini terungkap ketika uang muka sebesar USD 3,24 juta untuk
pembelian 4 unit helikopter Mi-17 yang dibayarkan ke broker (Swift Air) ternyata tidak disetor ke produsen (Rosoboronexport).
Ada sejumlah kejanggalan di balik penunjukan PT Putra Pobiagan Mandiri
(PPM). Banyak persyaratan yang tidak terpenuhi seperti perijinan untuk menjual Mi-17 dan surat keagenan dari principal.
Audit BPK menyatakan negara dirugikan sebesar USD 3,34 juta dari selisih
antara harga supplier dan harga produsen.
Swift Air melakukan perbuatan kriminal karena memalsukan bank garansi
Pengadaan dan industri dalam
negeri
Governance yang buruk dalam pengadaan
alutsista.
Industri pengadaan dalam negeri tidak akan
berkembang bila korupsi tidak dibersihkan. PT Pindad tidak akan mampu bersaing dengan
produsen luar negeri.
Minimnya alokasi anggaran dan dukungan
Pengadaan alutsista US (1)
Sumber: Makinson, Larry, 2006. “Outsourcing Pentagon”. Washington DC: Center for Public Integrity
Pengadaan alutsista US (2)
34 Proyek
pengadaan di
atas US$ 1
miliar tanpa
tender di US
Sumber: Makinson, 2006Rekomendasi
Mendorong transparansi anggaran pertahanan. Dephan harus
membuka semua proyek pengadaan karena prakteknya selama ini Dephan justru takut untuk transparan kepada pengawasan
publik di dalam negeri dibandingkan dengan kontraktor dari luar negeri.
Meningkatkan efektivitas kontrol pengadaan di Dephan, karena
selama ini masing-masing Mabes masih dapat melakukan pengadaan.
Mendorong adanya Pakta Integritas antara Dephan dengan para
Rekomendasi
Dephan harus mengumumkan daftar hitam broker pengadaan alutsista.
BPK harus mendapat akses untuk melakukan audit terhadap pengadaan alutsista. Audit BPK selama ini terbatas pada pengadaan umum.
Korupsi di militer sulit untuk dituntaskan karena prosedur peradilan militer menghambat proses
penegakan hukum. Bahkan KPK juga akan mengalami kesulitan untuk melakukan penegakan hukum anggota militer aktif.
Rekomendasi
Adanya mekanisme untuk menghindari
konflik kepentingan. Keberadaan broker alutsista karena peran personel militer.
Adanya mekanisme komplain dan