• Tidak ada hasil yang ditemukan

ESA. 1. Z U K I, Pekerjaan Wiraswasta, bertempat tinggal di Jalan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ESA. 1. Z U K I, Pekerjaan Wiraswasta, bertempat tinggal di Jalan"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

Halaman 1 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Pengadilan Tinggi Medan yang memeriksa dan memutus perkara perdata pada tingkat banding, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara gugatan antara:

1. Z U K I, Pekerjaan Wiraswasta, bertempat tinggal di Jalan

H. Adam Malik, Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Rantau Selatan ;

2. NY.NURAIDA, Pekerjaan Ibu Rumah Tangga, bertempat tinggal di Jalan

H. Adam Malik, Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Rantau Selatan;

Dalam hal ini memberikan kuasa kepada 1. M. Sulaiman Saleh, SH dan 2. Abdul Hakim, SH masing - masing Advokat / Penasihat Hukum, berkantor pada Kantor Hukum M.Sulaiman Saleh, SH & Rekan beralamat di Jalan Sirandorung Gg Setia Nomor 11A Rantau Prapat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 11 September 2012, selanjutnya disebut sebagai Para Pembanding semula Para Penggugat dalam konpensi/ Para Tergugat dalam rekonpensi;

L a w a n :

1.KEPALA CABANG PT BANK RAKYAT INDONESIA , beralamat di Jalan

Jendral Sudirman Nomor 1, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu,

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(2)

Halaman 2 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn dalam hal ini diwakili oleh Ardiansyah dan Januar S.Marbun, masing - masing Supervisor Administrasi Kredit dan Account Officer PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Rantauprapat, bertempat tinggal di Rantauprapat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 27 September 2012 yang telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Rantauprapat tanggal tanggal 9 oktober 2012 Nomor 205/SKC/2012/PN-RAP, selanjutnya disebut sebagai Terbanding I semula Tergugat I dalam konpensi / Turut Tergugat dalam rekonpensi;

2. KEPALA KANTOR PELAYANAN KEKAYAAN NEGARA DAN LELANG,

beralamat di Jalan Meranti Nomor 10 Kisaran, selanjutnya disebut sebagai Terbanding II semula Tergugat II dalam konpensi / Turut Tergugat dalam rekonpensi;

3. SUSAN, Pekerjaan Ibu Rumah Tangga, bertempat tinggal di Jalan Bilah

Nomor 19 Rantauprapat, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu;

Dalam hal ini memberikan kuasa kepada 1.H.Refman Basri,SH.MBA,2.Zulchairi,SH dan 3. Elidawati Harahap, SH masing-masing Advokat, beralamat di Jalan

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(3)

Halaman 3 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Kejaksaan Nomor 7 Medan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 27 September 2012, selanjutnya disebut sebagai Terbanding III semula Tergugat III dalam konpensi / Penggugat dalam rekonpensi;

Pengadilan Tinggi tersebut ;

Setelah membaca berkas perkara Nomor : 81/PDT/2014/PT.MDN dan surat-surat yang bersangkutan dengan perkara tersebut;

Setelah membaca salinan resmi putusan Pengadilan Negeri Rantau Prapat Nomor : 40/Pdt.G/2012/PN-Rap dan surat-surat yang bersangkutan dengan perkara tersebut ;

TENTANG DUDUK PERKARA

Menimbang, bahwa Penggugat dengan surat Gugatan tanggal 12 September 2012 yang diterima dan didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Rantauprapat pada tanggal 13 September 2012 dalam Register Nomor : 40/Pdt.G/2012/PN.RAP, telah mengajukan gugatan yang selanjutnya mengajukan perbaikan gugatan tanggal 8 Januari 2013 sebagai berikut:

1. Bahwa Penggugat adalah suami isteri yang mendapat fasilitas kredit dari Tergugat I jenis kredit modal kerja dalam bentuk rekening koran dengan maksimum kredit tetap dalam jangka waktu harus lunas selama 12 (dua belas) bulan dengan jasa/ bunga 16%;

2. Bahwa pinjaman diperuntukkan tambahan modal kerja berupa kegiatan usaha : bengkel mobil, suku cadang mobil dan ecesoris mobil;

3. Bahwa pada mulanya usaha Penggugat tersebut bejalan lancer dan maju, sehingga pinjaman semua hanya diberikan Penggugat-I tanggal

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(4)

Halaman 4 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 5 Mei 2006 sebesar Rp 475.000.000,- (Empat ratus tujuh puluh lima juta rupiah), kemudian atas permohonan Penggugat maka pinjaman Penggugat mendapat fasilitas (suplesi) sebesar Rp 275.000.000,- (dua ratus tujuh puluh lima juta rupiah) sehingga total pinjaman Penggugat dari Tergugat-I sebesar Rp 750.000.000,- (Tujuh ratus lima puluh juta rupiah) dihitung sejak tanggal 6 Mei 2010 dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sehingga luas tanggal 6 Mei 2011;

4. Bahwa jaminan yang diberikan Penggugat II kepada Tergugat I atas kredit yang diberikan adalah sertifikat Nomor 1261 tanggal 26 April 1995,Srt Ukur Nomor 1426 tanggal 26 April 1995 seluas kira-kira 4832M2 an Penggugat diatasnya sebuah bangunan semi permanen, lantai semen, atap seng dilengkapi fasilitas sumur dan listrik;

5. Bahwa dalam akta perjanjian kredit Pasal 13 ayat (1) perjanjian kredit No. 16 tanggal 7 Mei 2010 yang dibuat Notaris Rantauprapat Setiawati, SH, Penggugat tidak pernah memberikan kuasa kepada Tergugat-I sebagai kuasa Substitusi (Pengganti), sebagaimana disebut dalam pasal 1813 KUHPerdata;

6. Bahwa dalam perjalanan pengelolahan usaha, Penggugat mengalami stagnasi atau tidak lancar usaha, sebagaimana semula sehingga mengakibatkan pembayaran kredit kurang lancar kepada Tergugat-I, namun tetap lancar membayar bunga/ jasanya;

7. Bahwa tidak/ kurang lancarnya pembayaran bukan disengaja oleh Penggugat akan tetapi dikarenakan force mayor sebagai berikut : 7.1 Kerusakan mobil pelanggan selama ini memakai jasa bengkel

Penggugat, ternyata pelanggan membuka bengkel sendiri;

7.2. Sebagian perusahaan pelanggan memakai jasa rental, sehingga perbaikannya dilakukan bengkel perusahaan rental itu sendiri, dan 7.3. Terjadinya persaingan usaha sejenis semakin meningkat;

(5)

Halaman 5 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 8. Bahwa pada posisi hutang Penggugat sebesar Rp.920.000.000,00

( Sembilan ratus dua puluh juta rupiah ) tertunda pembayaran selama 5 (lima) bulan dihitung sejak bulan oktober 2011 sampai dengan bulan Pebruari 2012 perhitungan Penggugat karena tidak ada rekening koran bulanan yang seharusnya diberikan kepada Penggugat-penggugat, tanpa adanya pemberitahuan/peringatan sekalipun pada tanggal 14 Februari 2012 oleh petugas Tergugat I ( Marbun) disodorkan sebuah surat untuk ditandatangani Penggugat I dengan disaksikan Simbolon.Isi surat mana menyebutkan akan dilakukan lelang hak tanggungan melalui Kantor Pelayanan Kekayaan dan Lelang Negara ( KPKNL), Tergugat II pada hari Kamis tanggal 8 Maret 2012 pukul 10.00 Wib sampai selesai di Kantor Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Jalan Jendral Sudirman Nomor 1 Rantauprapat ( baca Tergugat I) ;

9. Bahwa dokumen dokumen lelang yang harus di ikut sertakan Tergugat I kepada Tergugat II antara lain menurut Ketentuan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 tanggal 23 April 2010 dan menjadi rujukan lampiran surat penetapan lelang KPKNL Kisaran dalam perkara lain disebut antara lain:

10. Pelaksanaan lelang atas tanah atau tanah dan bangunan wajib dilengkapi dengan Surat Keterangan Tanah (SKT) dari Kantor Pertanahan setempat;

1. Pengumuman lelang dilakukan melalui surat kabar harian dengan oplah/tiras:

a. Paling sedikit 15.000 ( lima belas ribu) exemplar, apabila dilakukan pada surat kabar harian yang terbit di Ibukota Propinsi;

b. Paling sedikit 5000 (lima ribu exemplar), apabila dilakukan pada surat kabar harian tersebut di Kota/Kabupaten;

(6)

Halaman 6 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 2. Pengumuman lelang dimaksud harus dicantumkan dalam harian

utama / reguler dan dilarang dicantumkan pada halaman suplemen/ tambahan / Khusus (terlampir).

3. Ternyata ketentuan-ketentuan dimaksud oleh Tergugat I disampaikan kepada Tergugat II sebagai dokumen dasar keabsahan dilakukan pelelangan oleh Tergugat II tidak dilakukan;

4. Bahwa menurut Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 31/147/Kep/Dir tanggal 12 Nopember 1998 menyebutkan kredit tergolong standart atau kurang lancar antara 90 hari s/d 180 hari, sedangkan kredit macet adalah tunggakan yang lebih dari 270 hari, sementara kredit penggugat tergolong sub standart atau kurang lancar sehingga tidak ada alasan untuk dilakukan lelang , dan dimenangkan oleh Tergugat III, sedangkan kredit Penggugat masih dalam posisi sub standart dan masih diharapkan menjadi normal kembali perbuatan para Tergugat tersebut merupakan perbuatan melawan hukum;

5. Bahwa tenggang waktu dilakukan pelelangan juga bertentangan dengan Pasal 20 Ayat (3) UU No. 4 tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, Pasal 20 Ayat (3) menyebutkan :

Pelaksanaan Penjualan sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan/ atau pemegang hak tanggungan kepada pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikit dikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan dan/ atau media massa setempat, serta tidak ada pihak yang menyatakan keberatan, sedangkan surat Tergugat I tanggal 8 Februari 2012 yang baru diterima Penggugat tanggal 14 Februari 2012 yang dijadikan dasar pelaksanaan lelang dilakukan

(7)

Halaman 7 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn

Tergugat II tanggal 8 Maret 2012 ternyata kurang dari 1 (satu) bulan;

6. Dalam surat Tergugat I disebutkan terlampir pengumuman lelang ternyata surat yang diterima Penggugat tanggal 14 Pebruari 2012 tidak terlampir pengumuman lelang. apabila pengumuman lelang terlampir, maka pasti penggugat mengajukan keberatan sebagaimana disebut dalam Pasal 25 Ayat (3) UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan , karena posisi kredit penggugat masih dalam substandart atau kurang lancar yang masih dapat kembali normal dan bukan tergolong kredit macet sebagaimana diatur dalam peraturan Direktur Bank Indonesia Nomor : 31/147/Kep/Dir tanggal 13 Nopember 1998;

7. Sebelum saat dilakukan lelang tanggal 8 Maret 2012 telah terlebih dahulu Penggugat datang ke Kantor Tergugat I bersama dengan Simbolon untuk membayar hak tanggungan sebesar Rp2.500.000.000;( Dua milyar lima ratus juta rupiah) dan sekaligus melunasi hutang Penggugat kepada Tergugat I, namun Tergugat I tidak terima dan lelang tetap dilanjutkan dimenangkan Tergugat III dengan nilai tertinggi hanya sebesar Rp1.740.000.000;(Satu milyar tujuh ratus empat puluh juta rupiah), yang berarti dibawah tawaran Penggugat melalui pembelinya Simbolon seorang pengusaha;

8. Tawaran ini dilakukan Penggugat melalui Simbolon karena sebelum lelang dilakukan telah terlebih dahulu pihak Tergugat I melalui Marbun mendatangi Penggugat pada tanggal 8 Maret 2012 secara lisan mengatakan kepada Penggugat pelunasan kredit Penggugat paling lambat dilakukan pada tanggal 8 Maret 2012 dan apa yang diperbuat Tergugat I tanggal 8 Maret 2012 berarti secara tidak langsung membenarkan pasal 20 ayat(5) UU Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan menyebutkan:

(8)

Halaman 8 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 9. Sampai saat pengumuman untuk lelang dilakukan penjualan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihindarkan dengan pelunasan hutang yang dijamin dengan itu tanggungan ini beserta biaya eksekusi yang dikeluarkan.Pasal 20 ayat (4) UU No.4 Tahun 1996 tentang Hak Tangunggan menyebutkan: Setiap janji untuk melaksanakan eksekusi hak tanggungan dengan cara yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan pada ayat(1) , ayat(2) dan ayat(3) batal demi hukum,khusunya pada ayat (3);

10. Ternyata Cabang PT BRI (Persero) Tbk tidak profesional dalam

menilai harga jaminan dengan pinjaman sebelum dikucurkan kepada debetur, seharusnya sebelum kredit dikucurkan terlebih dahulu menggunakan jasa penilai publik karena jasa penilai publik yang dapat menentukan harga pasar /nilai pasar (market value) dan nilai jual paksa (forcet vale value) pada saat kredit macet, personil kantor jasa penilai publik adalah tenaga profesional yang keberadaannya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan, Surat Ijin Usaha Kantor Jasa penilai publik ( SIU-KJPP) dan Surat Ijin pembukaan kantor oleh Menteri Keuangan RI. Apabila pihak Tergugat I mempergunakan jasa ini maka tidak mungkin menggolkan nilai jual paksa (Vorced vale value) kepada Tergugat III sebesar Rp1.740.000.000;( satu milyar tujuh ratus empat puluh juta rupiah), sedangkan yang ditawarkan Penggugat Rp 2.500.000.000;( dua milyar lima ratus juta rupiah). Apabila profesionalitas dilakukan, maka baik Tergugat I maupun Penggugat sama-sama diuntungkan bahkan Tergugat I tetap dipercaya oleh masyarakat pebisnis;

11. Bahwa seharusnya peserta lelang dari salah satu orang namun ternyata pada saat hari pelelangan, ternyata Tergugat III ditemani oleh suaminya Tong Huat (TH) dan oleh Tergugat II dianggap peserta

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(9)

Halaman 9 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn lelang 2 (dua) orang, seterusnya apabila peserta lelang hanya 1 (satu) orang, maka acara lelang dibatalkan dan kembali diumumkan melalui media massa;

12. Bahwa dengan berpedoman kepada undang-undang ini, maka akta perjanjian kredit dihadapan Notaris No. 16 tanggal 7 Mei 2010 pada pasal 12 menyebutkan : tentang perjanjian surat pengakuan hutang ini dan segala akibatnya serta pelaksanaannya yang mungkin timbul disebabkan isi dari akta ini, maka kedua belah pihak yang berhutang memilih tempat kedudukan hukum (domicili) yang tetap dan umum di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Rantauprapat dengan tidak mengurangi hak dan wewenangnya Bank / pihak pertama (baca : Tergugat I) untuk menuntut pelaksanaan eksekusi atau mengajukan tuntutan hukum terhadap pengambil kredit / pihak kedua / yang berhutang baca Penggugat berdasarkan perjanjian ini melalui atau dihadapan Pengadilan lainnya dimanapun juga dalam wilayah Republik Indonesia;

13. Bahwa Pasal 1338 KUHPerdata menyebutkan suatu perjanjian dibuat secara sah, berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya;

14.Bahwa dengan mengacu kepada undang-undang ini maka kewenangan untuk menyelesaikan kasus ini adalah Pengadilan Negeri Rantauprapat dan melalui gugat biasa bukan kantor Pelayanan Kekayaaan Negara dan Lelang (KPKNL) Kisaran, tegasnya KPKNL Kisaran tidak berhak, karena surat kuasa menurut bunyi pasal 15 Ayat (1) UU No. 4 Tahun 1996 menyebutkan Hak Tanggungan wajib dibuat dengan Akta Notaris atau akta PPAT dan memenuhi persyaratan sebagai berikut :

(10)

Halaman 10 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn a.Tidak memuat kuasa untuk melakukan perbuatan melawan hukum

lain dari pada pembebanan hak tanggungan; b.Tidak memuat kuasa Substitusi;

c.Mencantumkan secara jelas objek hak tanggungan, jumlah hutang dan nama serta identitas debitur bukan pemberi hak tanggungan; 15. Bahwa ternyata dalam akta notaris perjanjian kredit ini persyaratan

bagi Tergugat I hanyalah mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri, apabila memenuhi syarat untuk itu dan bukan langsung memohon eksekusi;

16.Bahwa perbuatan para Tergugat yang bertentangan dengan hukum tersebut mengakibatkan penggugat sebagai seorang pengusaha harga dirinya tercemar dan kurang dipercaya masyarakat khususnya masyarakat pebisnis yang untuk itu terhadap para Tergugat secara tanggung menanggung membayar ganti kerugian sebagai pengganti harga diri sebesar Rp.500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah) dan meminta maaf kepada Penggugat melalui dua media massa berturut-turut selama 2 (dua) kali;

Berdasarkan apa yang telah diuraikan dalam posita tersebut diatas, mohon kepada Pengadilan Negeri Rantauprapat berkenan menentukan suatu waktu dan tempat memanggil kedua belah pihak yang berperkara untuk didengar keterangannya dalam persidangan, selanjutnya menjatuhkan putusan yang amarnya berbunyi sebagai berikut :

Primair :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya ;

2. Menyatakan perbuatan Para Tergugat adalah perbuatan melawan hukum ;

3. Menyatakan fasilitas kredit yang diberikan Tergugat I kepadaTergugat-

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(11)

Halaman 11 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Tergugat masih tergolong standart atau kurang lancar, sehingga tidak

ada alasan untuk dilelang;

4. Mengembalikan posisi Penggugat sebagai debetor dalam keadaan semula sebelum dilaksanakan lelang tanggal 8 Maret 2012 di kantor Tergugat;

5. Menyatakan tidak sah dan batal demi hukum atau batal pelaksanaan lelang eksekusi Hak Tanggungan yang dilakukan oleh Tergugat II sesuai dengan Surat Tergugat-I tanggal 8 Februari 2012 No. B-815/II/KC/ADK/2/2012 yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 8 Maret 2012 pukul 10.00 Wib sampai dengan selesai di kantor Tergugat I Jalan Jenderal Sudirman No. 1 Rantauprapat yang dimenangkan Tergugat III;

6. Menghukum Para Tergugat secara tanggung membayar uang sebesar Rp 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah) kepada Penggugat sebagai pengganti harga diri dan meminta maaf kepada Penggugat melalui dua media massa berturut-turut selama 2 (dua) kali;

7. Menghukum lagi para Tergugat secara tanggung menanggung membayar segala biaya yang timbul dalam perkara ini;

Subsidair :

Apabila Pengadilan berpendapat lain, maka mohon dengan suatu putusan yang seadil-adilnya;

Menimbang, bahwa terhadap gugatan Penggugat tersebut Terbanding I semula Tergugat I dan Terbanding II semula Tergugat II serta Terbanding III semula Tergugat III memberikan jawaban pada pokoknya sebagai berikut:

Jawaban Terbanding I semula Tergugat I :

1. Bahwa Tergugat I menolak seluruh dalil Penggugat didalam surat Gugatannya tertanggal 12 September 2012 dan surat perbaikan Gugatan

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(12)

Halaman 12 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn dan Tambahan Posita dan Petitum Gugatan (Surat Perbaikan Gugatan) tanggal 06 Januari 2013,kecuali yang secara tegas diakui olehTergugat I; 2. Bahwa perlu Tergugat I jelaskan bahwa Zuki dan Ny. Nuraida (Penggugat) adalah Debitur pada Tergugat I yang telah menikmati fasilitas kredit dari Tergugat I, yaitu sebagai berikut :

a) Fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) secara rekening Koran (R/K) dengan maksimum Credit Overenkomst (CO) tetap sebesar Rp 150.000.000,- (Seratus lima puluh juta rupiah) dengan jangka waktu kredit berakhir sampai dengan tanggal 4 Mei 2006 sesuai dengan Surat Perjanjian, Akta No. 18 tanggal 4 Mei 2005, yang dibuat oleh Ramlah Lubis, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

b) Perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit dan penambahan fasilitas kredit (suplesi kredit) dengan penambahan sebesar Rp 100.000.000,- (Seratus juta rupiah) sehingga fasilitas kredit menjadi Rp 250.000.000,- (Dua ratus lima puluh juta rupiah) dengan jangka waktu kredit berakir sampai dengan tanggal 6 Mei 2007, sesuai dengan Surat Perjanjian Perpanjangan kredit dan Suplesi Kredit, Akta No. 14 tanggal 5 Mei 2006 yang dibuat oleh Ramlah Lubis, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

c) Perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit, sehingga jangka waktu fasilitas kredit berakir sampai dengan 6 Mei 2008, sesuai Surat Perjanjian Perpanjangan kredit, Akta No. 02 tanggal 03 Mei 2007, yang dibuat oleh Ramlah Lubis, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

d) Perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit, sehingga jangka waktu fasilitas kredit berakir sampai dengan 6 Mei 2009, sesuai Surat Perjanjian Perpanjangan kredit, Akta No. 06 tanggal 06 Mei 2008,

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(13)

Halaman 13 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn yang dibuat oleh Ramlah Lubis, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

e) Perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit dan penambahan fasilitas kredit (suplesi kredit), dengan penambahan sebesar Rp 225.000.000,- (Dua ratus dua puluh lima juta rupiah) sehingga fasilitas kredit menjadi Rp 475.000.000.- (Empat ratus tujuh puluh lima juta rupiah) dengan jangka waktu kredit berakhir sampai dengan tanggal 06 Mei 2010, sesuai Addendum Perpanjangan dan Suplesi Kredit, Akta No. 26 tanggal 16 April 2009, yang dibuat oleh Setiawati, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

f) Perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit dan penambahan fasilitas kredit (suplesi kredit), dengan penambahan sebesar Rp 275.000.000,- (Dua ratus tujuh puluh lima juta rupiah) sehingga fasilitas kredit menjadi Rp 750.000.000.- (Tujuh ratus lima puluh juta rupiah) dengan jangka waktu kredit berakhir sampai dengan tanggal 06 Mei 2011, sesuai Addendum Perpanjangan dan Suplesi Kredit, Akta No. 16 tanggal 07 Mei 2010, yang dibuat oleh Setiawati, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

g) Perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit sehingga jangka waktu fasilitas kredit berakhir sampai dengan tanggal 06 Mei 2012, sesuai Surat Addendum Perpanjangan Kredit, Akta No. 42 tanggal 10 Mei 2011, yang dibuat oleh Setiawati, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

3. Bahwa untuk menjamin pelunasan kredit tersebut diatas, telah diserahkan agunan berupa tanah dan bangunan Sertifikat Hak Milik No. 1261/ Bakaran Batu atas nama ZUKI, yang telah dibebani dengan :

a. Hak Tanggungan Peringkat I (Pertama) No. 311/ 2005 sebesar

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(14)

Halaman 14 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) berdasar pada Akta Pemberian Hak Tanggungan No. 85/2005 tanggal 04 Mei 2005, yang dibuat oleh Ramlah Lubis, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

b. Hak Tanggungan Peringkat II (Kedua) No. 487/ 2009 sebesar Rp 300.000.000,- (Tiga ratus juta rupiah) berdasar pada Akta Pemberian Hak Tanggungan No. 86/2009 tanggal 16 April 2009, yang dibuat oleh Setiawati, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

c. Hak Tanggungan Peringkat III (Ketiga) No. 1343/ 2010 sebesar Rp 275.000.000,- (Dua ratus tujuh puluh lima juta rupiah) berdasar pada Akta Pemberian Hak Tanggungan No. 199/2010 tanggal 07 Mei 2010, yang dibuat oleh Setiawati, Sarjana Hukum, Notaris di Rantauprapat;

4. Bahwa selanjutnya fasilitas kredit atas nama Penggugat tersebut diatas menjadi kredit bermasalah;

5. Bahwa setelah kredit atas nama Penggugat tersebut diatas bermasalah dan menurut Tergugat I Penggugat sudah tidak memiliki sumber pembayaran untuk mengangsur tunggakannya pada Tergugat I, serta tidak terdapat itikad baik dari Penggugat untuk membayar tunggakannya, selanjutnya Tergugat I memberikan 3 (tiga) kali peringatan mengenai tunggakan kepada Penggugat, yaitu melalui :

a. Surat kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia Rantauprapat No. B.6141 II-KC/ADK/11/2011 tanggal 11 Nopember 2011 sebagai Surat Peringatan I, yang menjelaskan bahwa Penggugat tidak menepati jadwal angsuran sesuai perjanjian semula sehingga menyebabkan jumlah tunggakan kredit atas nama Penggugat

(15)

Halaman 15 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn sampai dengan posisi bulan Oktober 2011 adalah sebagai berikut :

- Pokok : Rp …………..

- Bunga + Denda : Rp 18.171.960,-

- Jumlah Hutang : Rp 18.171.960,-

b. Surat kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia Rantauprapat No. B.6818 II-KC/ADK/12/2011 tanggal 12 Desember 2011 sebagai Surat Peringatan II, yang menjelaskan bahwa Penggugat belum melakukan penyelesaian sisa hutang Penggugat sehingga keadaan hutang yang harus segera diselesaikan sampai dengan posisi bulan Nopember 2011 adalah sebagai berikut :

- Pokok : Rp …………..

- Bunga + Denda : Rp 27.753.018,-

- Jumlah Hutang : Rp 27.753.018,-

c. Surat kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia Rantauprapat No. B.54 II-KC/ADK/1/2012 tanggal 05 Januari 2012 sebagai Surat Peringatan III, yang menjelaskan bahwa Penggugat belum melakukan penyelesaian sisa hutang Penggugat sehingga keadaan hutang yang harus segera diselesaikan sampai dengan posisi bulan Desember 2011 adalah sebagai berikut :

- Pokok : Rp …………..

- Bunga + Denda : Rp 37.834.405,-

- Jumlah Hutang : Rp 37.834.405,-

6. Dimana dalam setiap surat peringatan tersebut, Tergugat I secara tegas menyatakan bahwa Penggugat harus segera menghadap ke bagian administrasi kredit, bertemu dengan sdr. Ardiansyah untuk menyelesaikan hutang Penggugat sampai dengan posisi yang ditentukan apabila Penggugat tidak memenuhi ketentuan panggilan tersebut, maka Tergugat I akan melanjutkan ke proses hukum lebih lanjut;

(16)

Halaman 16 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 7. Bahwa berhubung segala upaya penyelesaian/ Penagihan tunggakan Pinjaman (kredit macet) telah dilakukan namun tidak mendapat perhatian dan penyelesaian dari Penggugat, maka melalui surat No. 784 II/KC/ADK/2/2012 tanggal 06 Februari 2012 perihal penyerahan untuk dilelang Agunan an. 20 (dua puluh) debitur, Tergugat I mengajukan permohonan bantuan Pelaksanaan Lelang Eksekusi antara lain atas nama Penggugat dan data mengenai angunan atas nama Penggugat; Bersamaan dengan pengajuan permohonan lelang kepada Tergugat II, Tergugat I memberikan Surat No.B.762 II/KC/ADK/2/2012 tanggal 6 Februari 2012 kepada Penggugat mengenai Pemberitahuan Lelang

Hak Tangguhan. Dalam surat tersebut disampaikan bahwa Tergugat I akan melaksanakan Lelang Eksekusi Hak Tangguhan atas barang jaminan pinjaman Penggugat berupa Tanah dan Bangunan SHM No.1261 atas nama Zuki ;

8. Bahwa atas permohonan pelaksanaan Lelang Eksekusi yang diajukan oleh Tergugat I tersebut diatas, selanjutnya Tergugat II melalui surat No. S-93/WKN.02/KNL.04/2012 tanggal 07 Februari 2012, menetapkan hari dan tanggal lelang, yaitu : hari Kamis tanggal 08 Maret 2012, serta menyampaikan pula ketentuan (persyaratan) mengenai lelang kepada Tergugat I untuk dipenuhi;

Selanjutnya sesuai ketentuan (persyaratan) yang disampaikan oleh Tergugat II kepada Tergugat I didalam surat No. 93/WKN.02/KNL.04/2012 tanggal 07 Februari 2012 tersebut diatas, maka Tergugat I :

a. Memberitahukan rencana lelang Eksekusi Hak Tanggungan kepada Debitur dan Penghuni (Penggugat) melalui surat No. B.895 II/KC/ADK/2012 tanggal 08 Februari 2012 yang telah ditandatangani sendiri oleh Penggugat sebagai bukti surat telah

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(17)

Halaman 17 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn diterima, surat ini juga merupakan surat permintaan kepada Penghuni objek lelang untuk segera mengosongkan tanah dan bangunan yang merupakan objek lelang di atas (permintaan pengosongan agunan);

b. Membuat Pengumuman Lelang I (Pertama) Eksekusi Hak Tanggungan melalui Pengumuman Tempel/ Selebaran No. 899/KC.II/ADK/02/2012 tanggal 08 Februari 2012;

c. Membuat Pengumuman Lelang II (Kedua) Eksekusi Hak Tanggungan melalui Pengumuman Tempel/ Selebaran No. B. 1112/KC.II/ADK/02/ 2012 tanggal 23 Februari 2012.

9. Bahwa pada pelelangan hari Kamis tanggal 08 Maret 2012, barang agunan berupa tanah dan bangunan sesuai dengan Sertifikat Hak Milik No. 1261/Bakaran Batu atas nama Zuki, laku terjual dibeli oleh Tergugat III, sesuai harga limit lelang senilai Rp 1.740.000.000,- (Satu millyar tujuh ratus empat puluh juta rupiah) (sebagaimana dijelaskan dalam Risalah Lelang No. 049/2012 tanggal 08 Maret 2012;

10.Bahwa sehubungan dengan dilaksanakannya lelang eksekusi hak tanggungan dan telah terjualnya barang agunan milik Penggugat pada pelelangan hari Kamis tanggal 08 Maret 2012 diatas, maka Penggugat mengajukan Gugatan melalui Pengadilan Negeri Rantauprapat tanggal 12 September 2012, sebagaimana tercatat dalam Register Perkara Perdata No. 40/Pdt.G/2012/PN-RAP tanggal 13 September 2012 yang kemudian diperbaiki dengan surat perbaikan gugatan tanggal 06 Januari 2013;

11.Bahwa dalam angka 8 Posita Gugatannya (sebagaimana telah diubah dalam angka 2 posita surat perbaikan gugatannya), Penggugat mendalilkan bahwa surat pemberitahuan lelang dari Tergugat I kepada Penggugat tidak didahului dengan teguran apapun sebelumnya, dalil

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(18)

Halaman 18 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Penggugat tersebut merupakan suatu kebohongan, karena sebelumnya Tergugat I sudah pernah memberikan surat peringatan I, II dan III kepada Penggugat yang berisi informasi mengenai jumlah tunggakan Penggugat dan jika Penggugat tidak segera melakukan pembayaran maka Tergugat akan membawa masalah ini ke proses hukum lebih lanjut;

Selain itu Tergugat I juga telah memberikan surat pemberitahuan lelang Hak Tanggungan melalui surat No. B.752 II/KC/ADK/2/2012 tanggal 06 Februari 2012 kepada Penggugat, yang memberitahukan bahwa agunan berupa tanah dan bangunan SHM No. 1261 an. Zuki akan di lelang; Selanjutnya dalam angka 2 dan 3 surat perbaikan gugatannya, Penggugat tanpa dasar yang jelas berdalil bahwa Tergugat I tidak memenuhi ketentuan yang menjadi persyaratan lelang agunan tanpa menguraikan/ menjelaskan ketentuan mana yang tidak dipenuhi oleh Tergugat I sebagai syarat agar dapat dilakukan lelang agunan oleh Tergugat II, Padahal dengan dilaksanakannya lelang pada tanggal 08 Maret 2012 oleh Tergugat II, hal tersebut menunjukkan bahwa segala ketentuan dan persyaratan yang diberikan oleh Tergugat II kepada Tergugat I agar dapat dilakukan lelang agunan/ parate eksekusi (sebagaimana dicantumkan dalam Surat dari Tergugat II No. S-93/ WKN.02/KNL.04/2012 beserta lampirannya tanggal 07 Februari 2012) telah dipenuhi seluruhnya oleh Tergugat I;

12.Bahwa tuduhan perbuatan melawan hukum yang ditujukan oleh Penggugat kepada Tergugat I didalam angka 9 Posita gugatannya (sebagaimana telah diubah dalam angka 4 Surat perbaikan gugatannya) adalah sangat tidak berdasar, dasar hukum yang dicantumkan oleh Penggugat baik dalam Surat Gugatannya maupun surat perbaikan gugatannya adalah tidak ada kaitannya dengan langkah Tergugat I

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(19)

Halaman 19 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn menyelesaikan persoalan bermasalah atas nama Penggugat dengan cara Lelang Eksekusi Agunan;

Adapun surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 31/147/Kep/Dir tanggal 12 Nopember 1998 tentang kualitas Aktiva Produktif beserta lampirannya adalah untuk menentukan kewajiban bagi bank dalam bentuk cadangan aktiva sehubungan dengan kredit bermasalah yang dialami bank, dan tidak diatur larangan bagi kreditur pemegang hak tanggungan (dalam hal ini Tergugat I) untuk melakukan lelang Eksekusi terhadap agunan kredit dengan kolektibilitas kredit tertentu, dan faktanya pinjaman atas nama penggugat memang merupakan kredit bermasalah; Alasan Tergugat I melakukan lelang Eksekusi (dengan membuat permohonan pelaksanaan lelang Eksekusi Hak Tanggungan kepada Tergugat II) adalah karena Penggugat telah melakukan wanprestasi (ingkar janji) terhadap perjanjian kredit yang dibuat antara Penggugat dengan Tergugat I, yaitu penggugat tidak dapat membayar angsuran sesuai kesepakatan perjanjian kredit antara Penggugat dengan Tergugat I dan tidak dapat melunasi pinjaman Penggugat kepada Tergugat I sebesar Rp 750.000.000,- (Tujuh ratus lima puluh juta rupiah) beserta bunga dan denda/ penalty;

13.Bahwa Penggugat keliru dalam menerjemahkan maksud pasal 20 Ayat (3) UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan (UUHT) karena Penggugat hanya membaca bunyi pasal tersebut secara parsial, yaitu ayat (3) saja, apabila Penggugat cermat dalam membunyi pasal 20 Ayat tersebut diatas dengan mengaitkan ketentuan pada ayat sebelumnya yaitu Ayat (2), maka Penggugat akan mengerti dan menyadari bahwa yang dimaksud dengan Pelaksanaan Penjualan adalah Pelaksanaan Penjualan objek Hak Tanggungan yang dilaksanakan secara dibawah tangan, berbeda halnya dengan pelaksanaan penjualan lelang objek Hak

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(20)

Halaman 20 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Tanggungan yang dilakukan oleh Tergugat II berdasar permohonan Tergugat I, seharusnya Penggugat memahami bunyi pasal 20 tersebut dengan baik dan secara keseluruhan, sehingga tidak memperoleh pemahaman yang keliru;

Selain itu, UUHT tidak mengatur tenggang waktu antara pemberitahuan pelelangan kepada Debitur dengan waktu pelaksanaan lelang Agunan sebagaimana yang didalilkan Penggugat yaitu selama 1 (satu) bulan, padahal dalam peraturan Direktur Jenderal Kekayaan Negara No. 03/KN/2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang Pasal 6 angka 5 huruf g disebutkan bahwa surat pemberitahuan rencana pelaksanaan lelang Agunan yang diberikan oleh Tergugat II kepada Tergugat I telah dipenuhi oleh Tergugat I, sehingga Lelang Agunan pada tanggal 08 Maret 2012 dapat dilaksanakan dan berhasil menjual agunan milik Penggugat;

Dengan mengajukan dasar hukum yang keliru tersebut diatas, hal ini jelas menunjukkan bahwa Penggugat tidak memahami segala peraturan/ perundang-undangan mengenai pelelangan agunan dan telah mencampur adukkan pemahaman mengenai Pengumuman Lelang dengan Pemberitahuan Lelang Kepada Debitur, kedua hal tersebut diatas sangat berbeda, dan diatur secara berbeda pula;

Perlu Tergugat I jelaskan pula bahwa Surat Pemberitahuan Lelang Agunan milik Penggugat telah dibuat pada tanggal 08 Februari 2012 dan telah diantarkan oleh petugas Tergugat I ke rumah Penggugat pada hari yang sama, namun saat Tergugat I ingin memberikan surat Pemberitahuan Lelang tersebut, Penggugat tidak dapat ditemui, Petugas Tergugat I berusaha berkali-kali datang untuk menemui Penggugat, namun Penggugat selalu mengelak dan akhirnya pada tanggal 14 Februari 2012 Tergugat I berhasil memberikan surat Pemberitahuan

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(21)

Halaman 21 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn tersebut, walaupun pada awalnya tidak dapat diterima langsung oleh Penggugat, Surat pemberitahuan tersebut diatas diterima langsung oleh isteri Penggugat dan secara tiba-tiba Penggugat muncul dan akhirnya mau menandatangani rangkap surat tersebut setelah beberapa hari berlalu;

Selanjutnya kekeliruan lain dalam surat perbaikan gugatannya adalah mengenai kronologis peristiwa yang disampaikan Penggugat dalam angka 5 Posita perbaikan gugatannya;

Perlu Tergugat I tegaskan bahwa pada hari Pelaksanaan Lelang tanggal 08 Maret 2012, Tergugat I tidak pernah mendatangi Penggugat, namun Penggugat mendalilkan bahwa Tergugat I melalui petugasnya yang bernama Marbun pergi mendatangi Penggugat, dalil Penggugat tersebut lagi-lagi merupakan suatu kebohongan, adapun peristiwa yang sebenarnya terjadi adalah pada pagi hari tanggal 08 Maret 2012 sebelum pelelangan Agunan dilaksanakan, Penggugat seorang diri datang ke kantor Tergugat I untuk meminta penundaan pelaksanaan lelang sampai dengan tanggal 15 Maret 2012, petugas dari Tergugat I menyampaikan kepada Penggugat bahwa lelang agunan tidak dapat ditunda, hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 26 Ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan No. 93/PMK.06/2010 tentang petunjuk pelaksanaan lelang sebagai berikut :

(2). Pembatalan Lelang sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) disampaikan secara tertulis dan sudah harus diterima oleh Pejabat Lelang paling lama 3 (tiga) hari kerja sebelum pelaksanaan lelang...

Setelah tidak berhasil memohon kepada Tergugat I untuk menunda pelaksanaan lelang agunan, Penggugat lalu pergi dari kantor Tergugat I dan kembali lagi pada siang harinya setelah pelelangan Agunan selesai

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(22)

Halaman 22 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn dilaksanakan, dan agunan atas nama Penggugat terjual dan dibeli oleh Tergugat III, sesuai dengan Risalah Lelang No. 049/2012 tanggal 08 Maret 2012, Penggugat kemudian datang kembali menemui Petugas Tergugat I bersama seseorang bernama Simbolon yang konon berniat untuk melunasi pinjaman dan mengambil kembali agunan milik Penggugat, tentu saja Tergugat I menolak permintaan dari Penggugat karena lelang telah selesai dilaksanakan dan agunan telah terjual, sehingga Penggugat tidak dapat lagi mengambil agunan dimaksud; Dengan demikian jelas bahwa perbuatan Penggugat tersebut diatas

memperlihatkan itikad buruk Penggugat yang ingin menciptakan permasalahan sehubungan dengan eksekusi barang agunan,

padahal sebelumnya Tergugat I telah memberikan waktu yang sangat

cukup bagi Penggugat untuk melunasi hutangnya kepada Tergugat I

namun Penggugat tidak melunasi hutangnya;

14.Bahwa sesuai Undang-undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah (UUHT) pasal 6 disebutkan :

Apabila Debitur cidera janji Pemengang hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut;

Selanjutnya, didalam pasal 20 Ayat (1) UUHT disebutkan : a. (1) Apabila Debitur cidera janji, maka berdasarkan :

a. Hak pemegang Hak Tanggungan pertama untuk menjual objek Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, atau b. Titel Eksekutorial yang terdapat dalam Sertifikat Hak

Tanggungan…

Objak Hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum;

(23)

Halaman 23 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Kemudian dalam Akta pemberian Hak Tanggungan No. 85 tanggal 04 Mei 2005, No. 86 tanggal 16 April 2009 dan No. 1999 tanggal 07 Mei 2010, pasal 2 point 6 huruf a dan e, disebutkan :

“Jika debitur tidak memenuhi kewajiban untuk melunasi hutangnya, ...pihak Kedua selaku pemegang Hak Tanggungan

peringkat Pertama... untuk tanpa persetujuan terlebih dahulu dari pihak Pertama :

a. Menjual atau suruh menjual dihadapan umum secara lelang objek Hak Tanggungan;

b. Mengambil uang dari hasil penjualan itu seluruhnya atau sebagian untuk melunasi hutang debitur tersebut diatas; Dengan demikian jelas bahwa perbuatan Tergugat I yang memohon pelaksanaan lelang eksekusi Hak Tanggungan kepada Tergugat II dikarenakan Penggugat wanprestasi bukanlah suatu perbuatan melawan hukum;

15.Bahwa Penggugat tidak mengusai isi dan riwayat perjanjian kredit yang pernah dibuatnya sendiri, pada angka 12 posita gugatannya, Penggugat mendasarkan pada perjanjian kredit No. 16 tanggal 07 Mei 2012 pasal 12, padahal perjanjian kredit antara Penggugat dengan Teruggat I telah dibuat berkali-kali termasuk perubahan-perubahannya, apabila yang dimaksud adalah perjanjian kredit terakhir, maka perjanjian kredit yang seharusnya adalah Surat Addendum Perpanjangan Kredit No. 42 tanggal 10 Mei 2011. Ketidak pahaman Penggugat ini membuat gugatan Penggugat menjadi tidak jelas dan sulit dipahami pihak lain yang membacanya tanpa mengetahui riwayat perjanjian kredit yang dibuat oleh Penggugat dan Tergugat I;

16.Bahwa Penggugat tidak memahami mengenai esensi Hak Tanggungan dan pemegang Hak Tanggungan sesungguhnya, pada

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(24)

Halaman 24 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn angka 12,14 dan 15 posita gugatannya, Penggugat menyatakan bahwa kewenangan untuk menyelesaikan kasus ini adalah melalui surat gugat biasa pada Pengadilan Negeri Rantauprapat dan bukan dengan Pelelangan Eksekusi Hak Tanggungan (permohonan lelang eksekusi) pada kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL/ Tergugat II) ;

Dalam tambahan Lembaran Negara RI No. 3652 tentang penjelasan atas undang-undang RI No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, Bab I Umum angka 4 paragraf 2 disebutkan :

“Hak Tanggungan adalah hak jaminan atas tanah untuk pelunasan

utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain” dalam arti bahwa jika

debitur cidera janji, kreditur pemegang Hak Tanggungan berhak menjual pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan………; Lebih lanjut pada angka 9 disebutkan :

“9. Salah satu ciri Hak Tanggungan yang kuat adalah mudah dan pasti

dalam pelaksanaan eksekusinya, jika debitur cidera janji………”

... pada sertifikat Hak Tanggungan ...,

dibubuhkan irah-irah dengan kata-kata “DEMI KEADILAN

BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” untuk

memberikan kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan putusan Pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap...;

(25)

Halaman 25 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Hal yang lebih menguatkan langkah hukum Tergugat I mengajukan permohonan lelang eksekusi terhadap Tergugat II dan bukan mengajukan gugatan biasa ke Pengadilan Negeri Rantauprapat yaitu pada bagian II pasal demi pasal penjelasan pasal 6 dan pasal 20 Ayat (1) paragraf 2 UUHT yaitu sebagai berikut :

Pasal 6 :

“….. pemegang Hak Tanggungan berhak untuk menjual objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum tanpa memerlukan persetujuan lagi dari pembeli Hak Tanggungan”

Pasal 20 Ayat (1) paragraf 2 :

“Pada prinsipnya setiap eksekusi harus dilaksanakan dengan melalui

pelelangan umum”;

Mengacu pada beberapa dasar hukum diatas, jelas bahwa dalil yang diungkapkan oleh Penggugat tidaklah memiliki dasar, kebalikan dari itu, permohonan pelelangan yang diajukan oleh Tergugat I kepada kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang di Kisaran (Tergugat II) adalah merupakan pengimplikasian dari dasar-dasar hukum diatas, sehingga patut dilindungi secara hukum;

Dengan demikian permohonan pelelangan yang diajukan oleh Tergugat I kepada kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) di Kisaran (Tergugat II) adalah permohonan untuk dilakukannya Parate Eksekusi dan telah sesuai dengan undang-undang dan bukanlah Fiat Eksekusi, serta tidak memerlukan Penetapan Sita Eksekusi dari Ketua Pengadilan Negeri (Executorial Beslag), dengan demikian tidak ada pembenaran secara hukum bagi Penggugat I dan Penggugat II untuk mengajukan gugatan perkara a quo, karena pelelangan yang dimohonkan oleh Tergugat I berdasar pada hak yang diberikan oleh Undang-undang;

(26)

Halaman 26 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 17.Bahwa ketikdapahaman Penggugat terhadap isi gugatan dan dasar hukum yang digunakan, lagi-lagi dapat membuat kesalahan dalam memahami permasalahan ini, Penggugat dalam angka 14 posita gugatannya mengutip bunyi Pasal 15 Ayat (1) UU No. 4 Tahun 1996 yang menyebutkan bahwa :

“Hak Tanggungan wajib dibuat dengan akta Notaris atau akta PPAT dan memenuhi persyaratan sebagai berikut …………”

Apabila kita kaji lebih lanjut maka bunyi pasal 15 Ayat (1) UU No. 4 Tahun 1996 adalah sebagai berikut :

a. (1) Surat Kuasa membebankan Hak Tanggungan wajib dibuat dengan Akta Notaris atau akta PPAT dan memenuhi persyaratan sebagai berikut …”;

Terdapat perbedaan yang sangat besar antara Surat Kuasa membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) dengan Hak Tanggungan; SKMHT adalah suatu akta otentik yang berisi kuasa yang diberikan kepada pemegang hak tanggungan untuk hadir di depan PPAT dalam proses pemberian Hak Tanggungan, dimana orang yang diberi kuasa ini akan mewakili pemberi Hak Tanggungan dalam pembuatan akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang akan didaftarkan di Kantor Pertanahan, agar dikeluarkan Sertifikat Hak Tanggungan sebagai bukti seseorang memiliki Hak Tanggungan atas suatu agunan (tanah/ bangunan), hal ini sebagaimana dijelaskan pada angka 7 bagian penjelasan UUHT;

Sedangkan Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(27)

Halaman 27 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain, hal ini sebagaimana diatur dalam Bab I Ketentuan Umum pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 4 Tahun 1996;

Dengan demikian dalil yang Penggugat kemukakan tersebut diatas tidaklah perlu diperhatikan;

18.Bahwa Tergugat I dengan itikad baik telah melakukan kunjungan kepada Penggugat pada tanggal 16 Juli 2012 dengan maksud untuk memberikan sisa pembayaran yang berasal dari hasil lelang agunan milik Penggugat yang berada pada Tergugat I;

Dalam kunjungan tersebut, Penggugat menolak untuk menerima uang sisa hasil lelang angunan senilai Rp 802.213.431,- (Delapan ratus juta dua ratus tiga belas ribu empat ratus tiga puluh satu rupiah) dan meminta Tergugat I untuk membatalkan lelang dikarenakan Penggugat ingin menjual sendiri agunannya;

19.Bahwa selain itu antara Penggugat dengan Tergugat I juga telah terjadi pertemuan kembali pada tanggal 30 Juli 2012, dimana Penggugat membawa calon pembeli yang akan membeli kembali agunan yang telah laku terjual pada lelang yang dilakukan oleh Tergugat I;

Bahwa Penggugat telah menerima penjelasan dari Tergugat I bahwa agunan telah laku terjual dan Penggugat tidak dapat meminta Tergugat I untuk membatalkan hasil lelang agunan yang telah terjadi;

20.Bahwa langkah hukum yang Tergugat I lakukan dengan mengajukan permohonan lelang eksekusi Hak Tanggungan kepada Tergugat II adalah telah sesuai dengan prosedur dan tidak melakukan perbuatan melawan hukum apapun;

21.Bahwa Tergugat I melaksanakan semua ketentuan (persyaratan) lelang yang berlaku, dan tidak ada peraturan perundang-undangan maupun isi dari perjanjian kredit yang dilanggar;

(28)

Halaman 28 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Maka : Tergugat I mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara A Quo untuk menolak seluruh gugatan yang diajukan oleh Penggugat, atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan yang diajukan oleh Penggugat tidak dapat diterima;

Jawaban Terbanding II semula Tergugat II :

DALAM EKSEPSI :

1.Bahwa Tergugat II menolak seluruh dalil Penggugat, kecuali terhadap apa yang diakui secara tegas kebenarannya;

2.Eksepsi Persona Standi Non Judicio

2.1 Bahwa gugatan Penggugat khususnya yang ditujukan terhadap Tergugat II harus dinyatakan tidak dapat diterima, sebab penyebutan persoon Tergugat II didalam surat gugatan Penggugat kurang tepat dan keliru, karena tidak mengkaitkan dengan Pemerintah Republik Indonesia cq. Kementerian Keuangan cq. Direktoral Jenderal Kekayaaan Negara cq. Kantor wilayah II Direktoral Jenderal Kekayaan Negara Medan yang merupakan instansi atasan Tergugat II;

2.2 Bahwa kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Kisaran bukanlah merupakan badan hukum yang berdiri sendiri melainkan suatu badan yang merupakan bagian dari Pemerintah Republik Indonesia cq. Kementerian Keuangan cq. Direktoral Jenderal Kekayaaan Negara cq. Kantor wilayah II Direktoral Jenderal Kekayaan Negara Medan, oleh karena itu Tergugat II tidak mempunyai kualitas untuk dapat dituntut dalam perkara Perdata di muka Peradilan Umum jika tidak dikaitkan dengan badan hukum induknya dan instansi atasannya;

2.3 Bahwa kekeliruan tersebut Nampak pada halaman 2 (dua) dalam surat gugatan Penggugat, dimana Penggugat

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(29)

Halaman 29 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn menyebutkan persoon Tergugat II dalam surat gugatan Penggugat langsung ditujukan kepada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Kisaran tanpa mengkaitkan Pemerintah Republik Indonesia cq. Kementerian Keuangan cq. Direktoral Jenderal Kekayaaan Negara cq. Kantor wilayah II Direktoral Jenderal Kekayaan Negara Medan selaku instansi atasan Tergugat II;

2.4 Bahwa oleh karena Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Kisaran bukanlah merupakan suatu organisasi yang berdiri sendiri, melainkan hanya merupakan suatu badan hukum yang disebut Negara, yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya harus dipertanggung jawabkan kepada atasannya tersebut, maka dalam hal adanya tuntutan juga harus dikaitkan dengan unit atasannya tersebut;

2.5 Bahwa terhadap apa dikemukakan oleh Tergugat II diatas, terbukti bahwa gugatan Penggugat yang langsung ditujukan kepada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Kisaran tanpa mengkaitkan instansi atasannya adalah keliru dan tidak tepat, karena secara fakta Tergugat II tidak mempunyai kualitas untuk dapat dituntut;

Maka berdasarkan hal tersebut diatas, Tergugat II dengan tegas menolak dalil/ alasan Penggugat dan Tergugat II mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa perkara A Quo agar berkenan memutuskan dengan menyatakan menerima Eksepsi Tergugat II;

DALAM POKOK PERKARA :

1. Bahwa apa yang diuraikan tersebut diatas, mohon juga dianggap telah termasuk satu kesatuan dalam pokok perkara ini, serta Tergugat II

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(30)

Halaman 30 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn menolak dalil-dalil Penggugat, kecuali terhadap apa yang diakui secara tegas kebenarannya;

2. Bahwa yang dijadikan dasar dalam gugatan Penggugat adalah terkait dengan keberatan atas pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh Tergugat II dengan alasan bahwa lelang yang dilaksanakan oleh Tergugat II adalah perbuatan melawan hukum karena tenggang waktu pelaksanaan lelang dengan pemberitahuan tertulis kepada pemberi dan/ atau pemegang Hak Tanggungan bertentangan dengan Pasal 20 Ayat (3) UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah dan peserta lelang hanya 1 (satu) orang serta surat keterangan tanah (SKT) dan pengumuman lelang tidak sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan Nomor : 93/PMK.06/2010 tentang Penunjukan Pelaksanaan Lelang tanggal 23 April 2010 namun pelelangan tetap dilaksanakan, sehingga menurut Penggugat, perbuatan Tergugat II adalah perbuatan melawan hukum sehingga Penggugat memohon kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat untuk menyatakan pelaksanaan lelang dimaksud tidak sah dan menghukum Tergugat II secara tanggung renteng membayar ganti rugi materiil sebesar Rp 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah) dan meminta maaf kepada Penggugat melalui dua media massa berturut-turut selama dua kali; 3 Bahwa Tergugat II dengan tegas menolak dalil/ alasan Gugatan

Penggugat yang menyatakan bahwa Tergugat II telah melakukan perbuatan melawan hukum, perlu Tergugat II tegaskan, pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh Tergugat II selaku tunduk pada ketentuan dan prinsip lelang berdasarkan peraturan perundang-undangan, berkenaan dengan hal tersebut, tidak ada satu dasar hukum dan fakta hukum apapun yang dapat dijadikan alasan bahwa Tergugat II telah

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(31)

Halaman 31 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn melakukan perbuatan melawan hukum sebagaimana didalilkan oleh Penggugat dalam gugatannya;

4. Bahwa permasalahan yang dijadikan dasar oleh Penggugat didalam mengajukan gugatan khususnya terhadap Tergugat II adalah sehubungan dengan tindakan Tergugat II yang telah melakukan Lelang Eksekusi atas sebidang tanah seluas 4.832 M2 berikut 2 (dua) bagunan 1 (satu) lantai yang berdiri diatasnya, sesuai dengan Sertifikat Hak Milik No. 1261 tanggal 26 April 1995 atas nama Zuki, yang terletak di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu;

5. Bahwa dalil-dalil tersebut adalah keliru dan tidak berdasarkan hukum dan karena itu mohon ditolak oleh Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo, dengan penjelasan sebagai berikut :

a. Bahwa lelang atas objek perkara a quo dilaksanakan oleh Tergugat II berdasarkan atas adanya permintaan dari sdr. Dhanardono, Pimpinan Cabang dan Ardiansyah Pengganti sementara Supervisor Administrasi Kredit PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kantor Cabang Rantauprapat berkedudukan di Rantauprapat sesuai dengan surat permohonan lelang Nomor : B 781 II/KC/ADK/2/2012 tanggal 06 Februari 2012, yang dalam pelaksanaan penjualan ini dilakukan oleh pejabat lelang Bono Yudianto, SE Nip. 060085686, yang dalam hal ini berdasarkan surat perjanjian kredit No. 18 tanggal 04 Mei 2005, Perjanjian Perpanjangan Kredit dan Suplesi Kredit No. 14 tanggal 05 Mei 2006, Perjanjian Perpanjangan Kredit No. 2 tanggal 03 Mei 2007, Addendum Perjanjian Perpanjangan Kredit No. 6 tanggal 05 Mei 2008, Addendum Perjanjian Perpanjangan Kredit 26 tanggal 16 April 2009, Addendum Perpanjangan dan Suplesi Kredit No. 16 tanggal 07 Mei 2010,

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(32)

Halaman 32 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn Addendum Perpanjangan Kredit No. 42 tanggal 10 Mei 2011, Sertifikat Hak Tanggungan Peringkat I (Pertama), Peringkat II (Kedua), Peringkat III (Ketiga) yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kab. Labuhan Batu yang berkepala “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” No. 311/2005 tanggal 01-06-2005 dan Akta Pemberian Hak Tanggungan No. 85/2005 tanggal 04 Mei 2005, No. 487/2009 tanggal 16 April 2009 dan Akta Pemberian Hak Tanggungan No. 86/2009 tanggal 16 April 2009 No. 1343/2010 tanggal 14 Juli 2010 dan Akta Pemberian Hak Tanggungan No. 199/2010 tanggal 07-05-2010;

b. Bahwa dengan demikian pelelangan yang dilakukan oleh Tergugat II berpedoman pada undang-undang Lelang (Vendu Regelement, Ordonantie 28 Februari 1908 Staatsblad 1941:3) jis. Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 93/PMK.06/2010 tanggal 23 April 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang;

c. Bahwa selanjutnya Tergugat II dengan tegas menolak dalil/ alasan Penggugat yang pada pokoknya menyatakan bahwa pelaksanaan lelang tidak dilengkapi dengan SKT sebagaimana yang diwajibkan dalam Pasal 22 Ayat (1) Petaturan Menteri Keuangan No. 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang tanggal 23 April 2010 yang menyatakan bahwa : “Pelaksanaan lelang atas tanah atau tanah dan bangunan wajib dilengkapi dengan SKT dari kantor Pertanahan setempat”;

d. Bahwa dalil Penggugat sangat mengada-ada juga tidak berdasar hukum sama sekali karena pihak penjual telah melengkapi dengan Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) No. 632.2.45/2012 tanggal 1 Maret 2012 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kab. Labuhan Batu yang menerangkan bahwa atas objek sengketa

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(33)

Halaman 33 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn berupa tanah berikut bangunan seluas 4.832 M2 dengan Sertifikat Hak Milik No. 1261 tanggal 26 April 1995 atas nama Zuki yang terletak di Kel. Bakaran Batu Kec. Rantau Selatan Kab. Labuhan Batu untuk keperluan lelang;

e. Bahwa sebelum dilaksanakan pelelangan, Tergugat I telah melakukan peringatan kepada debitur untuk menyelesaikan kewajibannya dengan Surat Peringatan Pertama No. 6141.II-KC/ADK/11/2011 tanggal 11 Nopember 2011 dan Surat Peringatan Kedua No. B. 6818.II-KC/ADK/12/2011 tanggal 12 Desember 2011 dan Surat Peringatan Ketiga No. B. 54.II-KC/ADK/12/2012 tanggal 05 Januari 2012;

f. Bahwa pelelangan tersebut telah diberitahukan kepada pihak debitur in casu Penggugat oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Rantauprapat, dengan Surat Nomor : B.895/II/KC/ADK/2/2012 tanggal 08 Februari 2012;

g. Bahwa selanjutnya Tergugat II dengan tegas menolak dalil/ alasan Penggugat yang menyatakan bahwa pelaksanaan lelang tidak dilengkapi dengan pengumuman sebagaimana yang diwajibkan dalam pasal 43 ayat (3a) Peraturan Menteri Keuangan No. 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang tanggal 23 April 2010 yang menyatakan bahwa “Pengumuman lelang melalui

surat kabar harian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mempunyai tiras/ oplah : a. paling rendah 5.000,- (lima ribu) eksemplar, jika dilakukan dengan surat kabar harian yang terit di kota/ kabupaten; atau b. paling rendah 15.000,- (lima belas ribu) eksemplar, jika dilakukan dengan surat kabar harian yang terbit di ibukota propinsi; atau……….”

(34)

Halaman 34 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn h. Bahwa dalil Penggugat sangat mengada-ada juga tidak berdasar

hukum karena perlu Tergugat II sampaikan bahwa sebelum pelaksanaan lelang, pihak penjual in casu Tergugat I telah melakukan pengumuman melalui selebaran tanggal 08 Februari 2012 sebagai pengumuman lelang I (Pertama) Eksekusi Hak Tanggungan No. B. 899/KC.II/ADK/02/2012 sebagai pengumuman lelang pertama dan melalui surat kabar harian Waspada yang terbti di Kota Medan No. B. 1122/KC.II/ADK/02/2012 tanggal 23 Februari 2012 sebagai pengumuman lelang Kedua sesuai dengan pasal 44 Ayat (1) huruf b Peraturan Menteri Keuangan No. 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang tanggal 23 April 2010 yang menyatakan bahwa “Pengumuman Pertama diperkenankan tidak

menggunakan surat kabar harian, tetapi dengan cara pengumuman melalui selebaran, tempelan yang mudah dibaca oleh umum, dan/ atau melalui media elektronik termasuk internet, namun demikian dalam hal dikehendaki oleh penjual, dapat dilakukan melalui surat kabar harian”. Oleh karenanya pengumuman lelang tersebut

mempunyai azas publisitas dan dianggap telah diketahui oleh masyarakat luas termasuk Penggugat;

i. Bahwa oleh karena permohonan lelang yang diajukan oleh Tergugat I telah disertai dengan surat dan dokumen yang diperlukan sehingga telah memenuhi syarat untuk dilaksanakan lelang, maka berdasarkan pasal 12 Peraturan Menteri Keuangan No. 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang tanggal 23 April 2010 dengan tegas menyatakan bahwa “Kepala KPKNL/

Pejabat Lelang kelas II tidak boleh menolak permohonan lelang yang diajukan kepadanya sepanjang dokumen persyaratan lelang

(35)

Halaman 35 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn

sudah lengkap dan telah memenuhi legalitas formal subjek dan objek lelang”;

6. Bahwa selanjutnya Tergugat II dengan tegas menolak dalil/ alasan Penggugat yang pada pokoknya menyatakan bahwa tenggang waktu pelaksanaan lelang dengan pemberitahuan tertulis kepada pemberi dan/ atau pemegang Hak Tanggungan bertentangan dengan Pasal 20 Ayat (3) UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah;

7. Bahwa Pasal 20 Ayat (3) UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah menyatakan bahwa Pelaksanaan penjualan sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan/ atau pemegang Hak Tanggungan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikit-dikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar didaerah yang bersangkutan dan/ atau media massa setempat, serta tidak ada pihak yang menyatakan keberatan; 8. Bahwa dapat Tergugat II sampaikan, ketentuan yang terdapat dalam

Pasal 20 Ayat (3) UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah mengacu pada ketentuan sebelumnya yaitu pasal 20 Ayat (2) UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah yang dengan tegas menyatakan bahwa “Atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan, penjualan objek Hak tanggungan dapat dilaksanakan dibawah tangan jika dengan demikian itu akan dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak”;

(36)

Halaman 36 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 9. Bahwa dalil / alasan Penggugat pada halaman 4 angka 10 tersebut

tidak benar dan tidak berdasar hukum sama sekali karena Penggugat telah keliru menafsirkan Pasal 20 ayat (3) UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah dengan mengaitkannya dengan pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh Tergugat II, karena pasal dimaksud hanya mengaku kepada penjualan objek Hak Tanggungan dibawah tangan, sehingga tenggang waktu pelaksanaan lelang dimaksud telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

10. Bahwa selanjutnya Tergugat II dengan tegas menolak dalil/ alasan Penggugat yang pada pokoknya menyatakan bahwa apabila peserta lelang hanya 1 (satu) orang, maka acara lelang seharusnya dibatalkan dan kembali diumumkan di media massa;

11. Bahwa sesuai dengan Pasal 4 Ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang bahwa “Lelang tetap dilaksanakan walaupun hanya diikuti oleh 1 (satu)

orang peserta lelang”;

12. Bahwa dalam hal ini Tergugat II telah melaksanakan tugasnya sebagai perantara lelang antara penjual in casu Tergugat I dengan pembeli Susan in casu Tergugat III dengan baik dan benar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga dalil Penggugat pada halaman 4 angka 11 yang menyatakan bahwa Tergugat II seharusnya membatalkan pelaksanaan lelang dan kembali mengumumkan di media massa karena peserta lelang hanya 1 (satu) orang adalah tidak benar dan keliru;

13. Bahwa selanjutnya untuk menjamin adanya kepasitan hukum dari pelaksanaan lelang tersebut, Tergugat II telah mengeluarkan Risalah Lelang No. 049/2012 tanggal 08 Maret 2012 sebagai akta otentik,

PENGADILAN TINGGI MEDAN

(37)

Halaman 37 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn sehingga dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sempurna (vide pasal 1870 KUHPerdata) yang menentukan bahwa suatu akta otentik memberikan diantara para pihak beserta ahli warisnya atau orang-orang yang mendapat hak dari mereka suatu bukti sempurna tentang apa yang dimuat didalamnya;

14. Bahwa oleh karena proses dan tata cara pelelangan tersebut telah dilakukan berdasarkan prosedur dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, maka tindakan Tergugat II adalah sah secara hukum dan Risalah Lelang No. 049/2012 tanggal 08 Maret 2012 tidak dapat dimintakan pembatalannya, hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 93/PMK.06/2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang : “Bahwa lelang yang telah dilaksanakan sesuai dengan

ketentuan yang berlaku tidak dapat dibatalkan”, hal ini juga ditegaskan

dalam Buku II Mahkamah Agung halaman 149 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Amdinistrasi Pengadilan disebutkan bahwa : “Lelang yang telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

tidak dapat dibatalkan”;

15. Bahwa berdasarkan hal-hal yang telah Tergugat II uraikan diatas, maka tidak terdapat perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat II oleh karenanya tidak ada konsekuensi hukum yang harus ditanggung Tergugat II untuk membayar ganti rugi materil sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dan meminta maaf kepada Penggugat melalui dua media massa bertutut-turut selama dua hari; 16. Bahwa tuntutan ganti rugi tersebut selain sangat mengada-ada juga

tidak berdasar hukum sama sekali oleh sebab itu sudah sepatutnya ditolak oleh Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo, karena Tergugat II telah membuktikan bahwa tindakan Tergugat II tidak ada yang bertentangan dengan hukum dan merugikan Penggugat;

(38)

Halaman 38 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 17. Bahwa tuntutan ganti rugi tersebut selain sangat mengada-ada juga

tidak berdasarkan hukum sama sekali oleh sebab itu sudah sepatutnya ditolak oleh Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo, karena tidak disertai dengan perincian kerugian yang menjadi dasar tuntutan, maka berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah Agung tanggal 16 Desember 1970 No. 492 K/Sip/1970 dari Putusan Mahkamah Agung RI No. 1720 K/Pdt/1986 tanggal 18 Agustus 1988 dengan tegas dinyatakan bahwa “Setiap tuntutan ganti rugi harus disertai perincian kerugian dalam

bentuk apa yang menjadi dasar tuntutannya, tanpa perincian dimaksud maka tuntutan ganti rugi harus dinyatakan tidak dapat diterima karena tuntutan tersebut tidak jelas/ tidak sempurna”;

18. Bahwa Tergugat II dengan tegas menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas dan fungsinya khususnya terhadap pelaksanaan lelang telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku, dengan demikian sangatlah tidak berdasarkan hukum dalil Penggugat yang mendalilkan bahwa Tergugat II telah melakukan perbuatan melawan hukum;

Dalam Eksepsi :

1. Menyatakan eksepsi Tergugat II cukup beralasan dan dapat diterima. 2. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (Niet

Ontsvankelijk Verklaard). Dalam Pokok Perkara :

1. Menolak gugatan Pengggugat seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (Niet Ontsvankelijk Verklaard).

2.Menghukum Penggugat untuk membayar seluruh biaya yang timbul atas perkara.

(39)

Halaman 39 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn

Jawaban Terbanding III semula Tergugat III :

I. Tentang Eksepsi :

A.Gugatan Penggugat Kurang Pihak :

1. Bahwa Penggugat mendalilkan dalam gugatannya point (4) halaman (2) tentang adanya Sertifikat Hak Tanggungan Pertama dan Kedua serta Sertifikat Hak Milik No. 1261/Bakaran Batu atas tanah seluas 4.832 M2 beserta yang ada diatasnya yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhan Batu; 2. Bahwa selanjutnya mendalilkan dalam gugatannya pada point (5)

halaman (3) adanya Akta perjanjian kredit Nomor : 16 tanggal 17 Mei 2010 yang dibuat oleh Setiawati, SH, Notaris di Rantauprapat; 3. Bahwa seharusnya menurut ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku guna menguatkan dalil posita gugatan Penggugat agar terang peristiwa hukumnya, Penggugat wajib mengikutsertakan Kantor Pertanahan Kab. Labuhan Batu dan Notaris Setiawati,SH sebagai pihak Tergugat dalam perkara a quo;

4. Bahwa oleh karena Penggugat tidak mengikutsertakan Kantor Pertanahan Kab. Labuhan Batu dan Notaris Setiawati, SH sebagai pihak Tergugat, maka gugatan Penggugat kurang pihak, sehingga patut kiranya menurut hukum Majelis Hakim dalam perkara a quo menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (N.O);

B.Gugatan Penggugat Kabur dan Tidak Jelas (Obscur Libel) Dengan Adanya Perbedaan Posita dengan Petitum Gugatan;

1. Bahwa Penggugat mendalilkan adanya kredit Penggugat pada Tergugat I dengan jaminan Sertifikat atas nama Penggugat dan mengakui kurang lancarnya pembayaran kredit karena factor force mayor, sehingga jaminan tersebut dilelang oleh Tergugat II;

(40)

Halaman 40 dari 72 Hal.Put.No. 81/Pdt/2014/PT-Mdn 2. Bahwa dalam uraian gugatannya Penggugat tidak ada menguraikan peruatan melawan hukum yang bagaimana dilakukan oleh Tergugat III, akan tetapi pada Petitum Gugatan No. 2, Penggugat meminta Majelis Hakim agar para Tergugat (termasuk Tergugat III) dihukum karena melakukan perbuatan melawan hukum, dengan demikian dalil Petitum tidak didukung dengan dalil Posita;

3. Bahwa menurut ketentuan Hukum Acara Perdata, hal tersebut diatas tidak dibenarkan dan membuat gugatan menjadi kabur dan tidak jelas sehingga menimbulkan akibat hukum gugatan Penggugat harus dinyatakan tidak dapat diterima (NO) dan hal tersebut sejalan dengan :

- Jurisprudensi MARI No. 28 K/Sip/1973 tanggal 05 Nopember 1973 menyatakan :

“Karena Rechfeiten yang diajukan bertentangan dengan Petitum, gugatan harus ditolak”;

- Jurisprudensi No. 582 K/Sip/1973 tanggal 18 Desember 1975 menyatakan :

“Karena Petitum gugatan adalah tidak jelas, gugatan harus dinyatakan tidak dapat diterima”;

II. Dalam Pokok Perkara :

1. Bahwa seluruh dalil-dalil yang telah diuraikan dalam Eksepsi terdahulu tidak akan diulangi kembali dan merupakan satu kesatuan serta menjadi dalil dalam pokok perkara;

2. Bahwa Tergugat III membantah seluruh dalil-dalil gugatan Penggugat, kecuali yang diakui secara sah dalam pokok perkara ini; 3. Bahwa perubahan gugatan yang diajukan oleh Penggugat pada tanggal 18 Januari 2013 harusilah ditolak sesuai dengan Jurisprudensi

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Referensi

Dokumen terkait

jabatannya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT. PPAT khusus adalah Pejabat Badan Pertanahan Nasional yang ditunjuk

PENGARUH STRES KERJA, KELELAHAN, STRES FISIOLOGIS TERHADAP KINERJA MANAJER PROYEK, Natalia Puteri Rembulan Mayang Betari, NPM 09.02.13401, tahun 2014, Bidang Keahlian

Pengertian surat paksa yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa yang berbunyi bahwa surat paksa merupakan

Oleh itu, kajian ini dijalankan bertujuan untuk melihat elemen-elemen pengajaran guru berdasarkan Modul Pentaksiran Berasaskan Sekolah(MPBS) dalam sesi amali di

Meningkatkan Keterampilan Membuat Box File Melalui Metode Demonstrasi pada Anak Tunagrahita Ringan di Kelas VI SLB Binar Tarusan.. Anur Yetti 1 , Damri 2 , Markis

Dari sekian banyak bagian cantik di bangunan tersebut, fasadlah yang sejak awal

Selain itu terdapat pusat aktivitas pendidikan baru, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan aktivitas pemerintahan baru yaitu Kota Baru. Sebagai daerah yang

Sinar matahari yang masuk ke dalam rumah sangat penting bagi kesehatan penghuni rumah karena sinar matahari karena mengandung ultraviolet sehingga dapat berfungsi