• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Anuria[1]

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penanganan Anuria[1]"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

PENANGANAN ANURIA PADA ANAK

PENANGANAN ANURIA PADA ANAK

M. P. Damanik

M. P. Damanik

Sub Bagian Nefrologi Anak

Sub Bagian Nefrologi Anak

IKA-FKUGM/SM

IKA-FKUGM/SMF Anak F Anak RSUP Dr. SardjitoRSUP Dr. Sardjito

 Yogyakar

(2)
(3)

Pendahuluan

Pendahuluan •

• Oliguria :Oliguria : < 240 cc/24 jam produksi urin< 240 cc/24 jam produksi urin (<1cc/kg/jam)(<1cc/kg/jam)

• Anuria :Anuria : tidak ditemukan produksi urintidak ditemukan produksi urin (<1cc/kg/hr.)(<1cc/kg/hr.)

(1)

(1) Gangguan Gangguan filtrasi filtrasi (2) (2) Gangguan Gangguan pada pada vesikovesiko

di Glomerulus

di Glomerulus urinariaurinaria (O.U.E.)(O.U.E.)

V.

V. U. U. (urin (urin -). -). V. V. U. U. (Urin (Urin +)+)

GGA GGA

(4)
(5)

Pendahuluan

Pendahuluan •

• Oliguria :Oliguria : < 240 cc/24 jam produksi urin< 240 cc/24 jam produksi urin (<1cc/kg/jam)(<1cc/kg/jam)

• Anuria :Anuria : tidak ditemukan produksi urintidak ditemukan produksi urin (<1cc/kg/hr.)(<1cc/kg/hr.)

(1)

(1) Gangguan Gangguan filtrasi filtrasi (2) (2) Gangguan Gangguan pada pada vesikovesiko

di Glomerulus

di Glomerulus urinariaurinaria (O.U.E.)(O.U.E.)

V.

V. U. U. (urin (urin -). -). V. V. U. U. (Urin (Urin +)+)

GGA GGA

(6)
(7)

Difinisi

Difinisi

Gagal ginjal akut ialah : suatu sindrom yang yang

Gagal ginjal akut ialah : suatu sindrom yang yang

ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang

ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang

mendadak dengan akibat terjadinya penimbunan

mendadak dengan akibat terjadinya penimbunan

hasil hasil metabolit persenyawaan nitrogen

hasil hasil metabolit persenyawaan nitrogen

seperti, ureum dan kreatinin (Anderson dan

seperti, ureum dan kreatinin (Anderson dan

Schrier, 1980, Bresis dkk, 1986).

Schrier, 1980, Bresis dkk, 1986).

Hal ini dapat terjadi dalam beberapa, jam sampai

Hal ini dapat terjadi dalam beberapa, jam sampai

beberapa, hari, Fine (1987), mempertajam definisi

beberapa, hari, Fine (1987), mempertajam definisi

ini dengan menambahkan peningkatan kreatinin

ini dengan menambahkan peningkatan kreatinin

darah 0,5 % hari sebagai kriteria diagnosis.

(8)
(9)

1. GGA oligurik :

Definisi oliguria pada anak adalah <240 ml/m2/hari

atau 8-10 ml/kgBB/hari, pada neonatus <1ml/kgBB/jam (James, 1986; Anand, 1982).

Penulis lain memberi batasan < 0,5 ml/kgBB/jam (Ingelfinger, 1985), sedangkan Gandio dan Siegel (1989) berpendapat bahwa pada setiap anak dapat dipakai definisi < 0,8 cc/kg BB/jam.

2. GGA non oligurik :

Pada kondisi ini tidak dijumpai oliguria tetapi kadar  ureum dan kreatinin meningkat, hal ini sering dijumpai pada GGA akibat pemakaian obat-obat nefrotoksik. Secara klinis GGA dapat dibagi 2 golongan

(10)
(11)

Etiologi GGA

 A. GGA pra renal:

Terjadi akibat hipovolemia, hipotensi dan hipoperfusi ginjal sbb :

(1). kehilangan darah : trauma, perdarahan. (2). kehilangan plasma: luka bakar, peritonitis. (3). kehilangan air dan elektrolit : GEA.

(4). hipoalbuminemia pada sindrom nefrotik. (5). dekompensasi jantung : infark miokard. (6). pada neonatus akibat syok septik atau

(12)
(13)

B. GGA renal :

1. Kerusakan epitel tubulus : nekrosis tubuler  akut (ATN)

1.1. Tipe iskemik : karena GGA pra renal yang akut berlangsung lama.

1.2. Tipe nefrotoksik karena obat antara lain : aminoglikosida, zat kontras

radiopak dan lain-lain. 2. Kerusakan glomerulus

(14)
(15)

3. Penyakit vaskuler : trombosis, hipertensi 4. Pada neonatus dapat terjadi karena

anomali ginjal yaitu polikistik infantil, ginjal multikistik, displastik bilateral.

C. GGA pasca renal:

Obstruksi bisa disebabkan oleh :

1. Kelainan kongenital al. valvula uretrovesikal 2. Batu.

3. Bekuan darah. 4. Tumor.

(16)
(17)

Pemeriksaan GGA pra renal GGA Renal intrinsik Osmolalitas urin > 400 m Osm/L < 400 m Osm/L

Na Urin < 15 mEq/L > 40 mEq/L Fraksi ekskresi < 1 % > 3 % U Ureum > 20 < 10 P U kreatinin > 20 < 15 P U Osmolalitas > 1,1 < 1,1 P BJ > 1,020 1,012-1,018

Perbedaan pemeriksaan laboratorium pada GGA pra renal dan renal intrinsik

(18)
(19)

PENATALAKSANAAN GAGAL GINJAL AKUT Gagal ginjal pra renal :

Jenis cairan yang diberikan tergantung etiologi hipovolemia:

◦ pada gastroenteritis dehidrasi diberikan Ringer Laktat

atau Dextrose 1/2 salin sesuai protokol.

◦ pada syok hemoragik diberikan trannsfusi darah. ◦ pada syok yang terjadi pada sindrom nefrotik akibat

hipoalbuminemia diberikan infus albumin atau plasma.

◦ pada dehidrasi yang tak jelas etiologinya sebaiknya

diberi Ringer Laktat 20 ml/kg BB dalam waktu 1 jam, biasanya terjadi diuresis setelah 2-4 jam pemberian terapi rehidrasi.

(20)
(21)

Gagal ginjal akut pasca renal :

• Bila ditemukan GGA pasca renal pada USG

maka perlu ditentukan lokalisasi dengan pielografi antegrad atau retrograt.

• Tindakan bedah tergantung pada situasi,

dapat bertahap dengan melakukan nefrostomi dulu untuk mengeluarkan urin dan memperbaiki keadaan umum atau segera melakukan pembedahan definitif dengan menghilangkan obstruksinya.

(22)
(23)

Gagal ginjal renal :

Tujuannya ialah : mempertahankan hemostasis tubuh sambil menunggu ginjal berfungsi kembali.

Pemantauan yang perlu dilakukan ialah :

(1). Tanda-tanda vital: tensi, nadi, pernafasan, ritme jantung.

(2). Pemeriksaan darah : Hb, Ht, Trombosit. ureum & kreatinin.

(3). Elektrolit : K, Na, Cl, Ca, P dan asam urat. (4). Analisis gas darah.

(24)
(25)

Terapi GGA renal dapat dibagi dua yaitu :

 A. Terapi konservatif (ingat patofosiologi) 1. Terapi cairan dan kalori

Perhitungan IWL didasarkan pada caloric

expenditure (Trainin dan Spitzer, 1978) sbb : Berat Badan - 0-10 kg : 100 kal/kg BB/hari

- 11-20 kg : 1000 kal + 50 kal/kg BB/hr diatas 10 kg BB

- 20 kg : 1500 kal + 20 kal/kg BB/hr diatas 20 kg BB

(26)
(27)

Secara praktis dapat dipakai perkiraan perhitungan sebagai berikut : anak < 5 th = 30 ml/kg BB/harianak > 5 th = 20 ml/kg BB/hari

2. Asidosis

Bila hasil pemeriksaan gas darah menunjukan hasil asidosis metabolik, dikoreksi dengan cairan natrium bikarbonat sesuai dengan hasil analisis gas darah yaitu ekses basa x berat badan x 0,3 (mEq), atau kalau hal ini tidak memungkinan maka dapat diberikan koreksi buta 2-3 mEq/kg BB/hari

(28)
(29)

3. Hiperkalemia

Hiperkalemia perlu segera ditanggulani karena bisa membahayakan jiwa penderita. Bila kadar  K serum 5,5-70 mEq/L perlu diberi Kayexalat yaitu kation exchange resin (Resonium A) 1 mg/kg BB per oral atau perektal 4 x sehari. Bila kadar K > 7,0 mg/L atau ada kelainan EKG atau aritmia jantung perlu diberikan : - Glukonas kalsikus 10 % 0,5 ml/kg BB i.v.

dalam 5- 10 menit.

- Natrium bikarbonat 7,5 % 2,5 mEq/kg BB i.v. dalam 10-15 menit.

(30)
(31)

4. Hiponatremia

Hiponatremia < 30 mEq/L sering ditemukan karena pemberian cairan yang berlebihan sebelumnya dan cukup dikoreksi dengan restriksi cairan. Bila disertai dengan gejala serebral maka perlu dikoreksi dengan cairan Na Cl hipertonik 3 % (0,5 mmol) = (140-Na darah) x 0,5 x 33

5. Tetani

Bila timbul gejala tetani akibat hipokalsemia perlu diberikan glukonas kalsium 10 % i.v. 0,5 ml/kg BB pelan-pelan 5-10 menit dilanjutkan dengan dosis rumatan kalsium oral 1-4

(32)
(33)

6. Kejang

Bila terjadi kejang dapat diberikan diazepam 0,3-0,5 mg/kg BB I.v. dan dilanjutkan dengan dosis rumat luminal 4-8 mg/kg BB/hari atau difenil hidantoin 8 mg/kg BB.

7. Anemia

Transfusi dilakukan bila kadar Hb < 6 g/dl atau Ht < 20 % sebaiknya diberikan packed red cel untuk mengurangi penambahan volume darah.

(34)
(35)

8. Hipertensi

Hipertensi ditanggulangi dengan diuretika, bila perlu dikombinasi dengan captopril 0,3 mg/kg BB/kali diberikan 2-3 kali sehari dinaikan secara bertahap sampai 2 mg/kg BB/kali. Pada hipertensi krisis dapat diberikan klonidin drip 0,002 - 0,006 mg/kg BB.

9. Edema paru

Merupakan hal yang sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat, sebagai tindakan percobaan dapat diberikan furosemid I.v. 1 mg/kg BB.

(36)
(37)

Bila tindakan tersebut tidak memberi hasil yang efektif dalam waktu 20 menit maka dialisis harus segera dilakukan.

B. Tindakan Dialisis.

Jenis dialisis pada anak biasanya dilakukan :

Peritoneal Dialisis, anak yang lebih besar  dapat dilakukan Hemodilaisis.

(38)
(39)

Terima kasih

(40)
(41)

O L E H :

ROCHMANADJI WIDAJAT

DIALISIS PER TO NEAL

PADA BAYI & AN AK

(42)
(43)

GAGAL GINJAL (Akut / Kronik)

 

GANGGUAN HOMEOSTASIS

• Gangguan Homeostasis : reversible &

irreversible

• Terapi GH: medikamentosa &

+ tindakan medik 

• Ada 2 pilihan tindakan medik :

1.

Mengganti organ ginjal

Cangkok 2.

Mengganti fungsi ginjal

Dialisis

• Ada 2 metode Dialisis :

(44)
(45)

PRINSIP DIALISIS

Dialisis :

Teknik pertukaran zat terlarut dlm

 pemblh drh / kapiler dgn cairan dialisat

hipertonik melalui proses difusi /

ultra-filtrasi

Hemodialisis

: -idem- menggunakan alat

Holofiber 

Dialisis Peritoneal

: -idem- menggunakan

Peritoneum

 Adanya faktor perbedaan konsentrasi bahan osmotik (glukose) pada larutan dialisat dan sifat semi-permeabilitas kapiler peritoneum mengakibatkan

(46)
(47)

DIALISIS PERITONEAL (Akut & Kronik / CAPD)

HEMODIALISIS (Akut & Kronik)

1. Lbh disenangi oleh pasien anak (tdk menyakiti anak) 2. Mencegah tjd perubahan

yg mendadak cairan & sisa metabolit tubuh

3. CAPD : bisa dilakukan di rumah, waktu hari libur dan waktu sekolah

4. Tidak perlu pembatasan cairan dan diet scr ketat 5. Jadual 3-5 x per-hr, tidak 

m’ ganggu kegiatan rutin

1. Dpt mengangkut zat molekul  yg besar & lbh cpt.

2. Hanya dpt dilaksanakan di unit khusus hemodialisis 3. HD-kronik : butuh jadwal

3 x @ 3-5 jam per-mgg, tgt klinis/ukuran pasien

4. Membutuhkan lbh banyak  pembatasan cairan & diet 5. Diawasi perwt  Mngurangi

stres & tnggung-jwb kelg. 6. Ukuran Holofiber harus

(48)
(49)

INDIKASI D.P.:

• INDIKASI KLINIK :

1. Gagal Ginjal Akut (Uremia, intox.air)

2. Gagal Ginjal Kronik 

3. Intoksikasi Obat, zat kimia

4. Asidosis Metabolik berat & persisten

5. Inborn error of Metabolism

• INDIKASI BIOKIMIAW I

1. Kadar Ureum > 200 mg%, kreatinin > 15 mg% 2. Kadar Kalium > 7 mg% + prbh.EKG

(50)
(51)

INDIKASI KONTRA D.P.:

• Indikasi kontra absolut secara praktis tidak ada, namun beberapa kondisi tidak memungkinkan

dilakukan DP, a.l. : volume rongga peritoneum tidak adekuat akibat tumor intra-abdominal, dan neonatus dengan omfalokel, hernia diafragmatika, gastroschisis.

• Indikasi kontra relatif : super obesitas,

 perlekatan dalam abdomen, peritonitis, paska operasi atau trauma abdomen (operasi besar) ,

“inflammatory bowel disease, infeksi pada dinding atau kulit abdomen, malnutrisi berat dan kelainan intra abdomen yang tidak jelas diagnosisnya

(52)
(53)

 PROSEDUR D.P.:

1. Persiapan : (a). Alat, Obat & Cairan; (b). Pasien;

(c)Tempat (steril);(d).Operator & informed consent 2. Pemasangan kateter : desinfeksi, anest.lokal, insisi di

lokasi + 5mm, masukkan stylet s/d msk peritoneum 3. Proses Dialisis : mskkan cairan dialisat 20 ml/

kgBB/10mnt, dlm 3 siklus-I biasanya tanpa dwelling + heparin 500-1000U / 1000cc c.dialisat. Dosis naik

s/d 30  – 40 ml/kgBB (anak >1thn) + dwelling time

s/d 1-2 jam. Lama DP biasanya 3  – 5 hr.

(54)
(55)

Pemantauan umum selama DP / CAPD

 J angka Pendek

: adalah pemantauan

terhadap : perforasi (usus

dan kandung kemih), perdarahan intra 

peritoneal, aliran dialisat macet atau tidak

lancar dan kemungkinan ekstravasasi cairan dialisat ke jaringan subkutan dan omentum.

 J angka Panjang

: adalah pemantauan

terhadap (gangguan

keseimbangan cairan, asam-basa, elektrolit, kehilangan protein) dan terhadap

(peritonitis sampai dengan sepsis).

komplikasi mekanik

komplikasi metabolik

(56)
(57)

 KESIMPULAN (1)

(akut / kronik)

mrpk pilihan terapi p’ganti fungsi

ginjal pd GG-anak

& fisiologi organ ginjal, abdomen,

peritoneum bayi / anak 

Pemeliharaan

CAPD / PD

pd balita

(BB < 15kg) lbh sulit dp anak besar 

Dialisis Peritoneal

(58)
(59)

KESIMPULAN (2)

Baik DP maupun HD

ada karakteristik &

+/-, namun PD pd bayi & anak lbh praktis

Komplikasi terbanyak DP :

Infeksi s/d

Peritonitis dan Mekanik

Dlm jangka panjang hrs sll. waspada thd

risiko serius : mekanik, metabolik dan

infeksi

(60)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian mengenai perilaku sosial anak slow learner yaitu, (1) sportif: anak slow learner jujur saat bermain; (2) tanggung jawab: anak slow learner dapat melaksanakan

AKTIFITAS PUBLIC RELATIONS PADA KOMUNIKASI PEMASARAN PT PLN ( PERSERO) YOGYAKARTA DALAM MEMBERIKAN INFORMASI KEPADAB. PELANGGAN MELALUI

Winn dan Fisher (2004) mengatakan Multiplayer online game merupakan pengembangan dari game yang dimainkan satu orang, dalam bagian yang besar, menggunakan bentuk

Panduan Pendayagunaan Open Source Software : RDBMS­MySQL Hak Cipta © 2007 Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Yayasan Penggerak Linux Indonesia

Dari hasil pengujian dengan metode klasifikasi SVM akurasi yang didapat pada pengujian karakter hasil ekstraksi fitur dengan menggunakan 25 zona pada

[r]

yang tidak terpisahkan di dalamnya.6 Di Indonesia, umumnya sangat jarang apoteker di komunitas yang melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian residensial walaupun sudah ada

Setelah lapisan tahap pertama telah mengering aplikasikan bahan penyambungan lapisan tahap kedua UB 888 dengan menggunakan kapi yang lebih lebar.. Tunggu sampai aplikasi