PERATURAN DAERAH KABUPATEN NAGEKEO NOMOR 1 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN NAGEKEO TAHUN 2011 -‐ 2031
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NAGEKEO
Menimbang : a. bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Kabupaten Nagekeo dengan memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan, perlu disusun rencana tata ruang wilayah;
b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar sektor, daerah, dan masyarakat maka Rencana Tata Ruang Wilayah merupakan arahan lokasi investasi pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, masyarakat, dan/atau dunia usaha;
c. bahwa dengan ditetapkannya Undang-‐Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, maka strategi dan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah nasional dan provinsi perlu dijabarkan ke dalam rencana tata
ruang kabupaten;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nagekeo Tahun 2011-‐2031; Mengingat : 1. Undang-‐Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-‐Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-‐Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4374); 2. Undang-‐Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4169);
3. Undang-‐Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-‐Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
4. Undang-‐Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433);
5. Undang-‐Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-‐Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-‐Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
6. Undang-‐Undang Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Nagekeo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4678);
7. Undang-‐Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
8. Undang-‐Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-‐Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739);
9. Undang-‐Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);
10. Undang-‐Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052);
11. Undang-‐Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
12. Undang-‐Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5068);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3934);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang
Bentuk Dan Tata Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
18. Peraturan Daerah Kabupaten Nagekeo Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Nagekeo (Lembaran Daerah Kabupaten Nagekeo Tahun 2008 Nomor 3 Seri D Nomor 3) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Nagekeo Nomor 8 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Nagekeo Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Nagekeo (Lembaran Daerah Kabupaten Nagekeo Tahun 2009 Nomor 3;
19. Peraturan Daerah Kabupaten Nagekeo Nomor 5 Tahun 2009 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Nagekeo (Lembaran Daerah Kabupaten Nagekeo Tahun 2009 Nomor 5);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN NAGEKEO dan
BUPATI NAGEKEO MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN NAGEKEO TAHUN 2011 -‐ 2031
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kabupaten Nagekeo.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Nagekeo. 3. Bupati adalah Bupati Nagekeo.
4. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Undang-‐Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Nagekeo.
6. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang laut dan ruang udara termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan kehidupannya.
7. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. 8. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
9. Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah hasil perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten Nagekeo.
10. Struktur Ruang adalah susunan pusat-‐pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
11. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
12. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
13. Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, dan pengawasan penataan ruang.
14. Pelaksanaan Penataan Ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
15. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
16. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan program beserta pembiayaannya.
17. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang.
18. Pembinaan Penataan Ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat.
19. Pengawasan Penataan Ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-‐undangan.
20. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
21. Sistem Wilayah adalah struktur ruang dan pola ruang yang mempunyai jangkauan pelayanan pada tingkat wilayah.
22. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya. 23. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan.
24. Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.
25. Kawasan Perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
26. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
27. Kawasan Agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis.
28. Kawasan pertambangan adalah kawasan yang secara alamiah memiliki potensi sumberdaya alam pertambangan.
29. Kawasan Pertahanan Negara adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional yang digunakan untuk kepentingan pertahanan.
30. Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia.
31. Kawasan Strategis Provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan. 32. Kawasan Strategis Kabupaten adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan.
33. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disingkat PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau beberapa kecamatan.
34. Pusat Kegiatan Lokal Promosi yang selanjutnya disingkat PKLp adalah kawasan perkotaan yang dipromosikan untuk menjadi PKL.
35. Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disingkat PPK adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.
36. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disingkat PPL adalah pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.
37. Masyarakat adalah orang, perseorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat, korporasi dan/atau pemangku kepentingan non pemerintah lain dalam penyelenggaraan penataan ruang.
38. Peran masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 39. Orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi.
40. Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-‐ undangan.
41. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel. 42. Daerah Irigasi yang selanjutnya disingkat DI adalah kesatuan lahan yang
mendapat air dari satu jaringan irigasi
43. Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disingkat DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-‐ anak sungai, yang berfungsi menampung,menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang
batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. 44. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu yang selanjutnya disebut
KAPET adalah wilayah geografis dengan batas-‐batas tertentu yang memiliki potensi untuk cepat tumbuh dan mempunyai sektor unggulan yang dapat mengerakkan pertumbuhan ekonomi wilayah dan sekitarnya dan memerlukan dana investasi yang besar bagi pengembangannya. Penetapannya lokasi dan Badan Pengelolanya dilakukan melalui Keputusan Presiden.
45. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
46. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah yang selanjutnya disingkat BKPRD adalah badan bersifat ad-‐hoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Undang-‐Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang di Kabupaten Nagekeo dan mempunyai fungsi membantu tugas Bupati dalam koordinasi penataan ruang di daerah.
47. Base Transceiver Station yang selanjutnya disingkat BTS adalah istilah teknis untuk menara telekomunikasi dalam sistem jaringan nirkabel. 48. Koefisien dasar bangunan, selanjutnya disingkat KDB, adalah
perbandingan antara luas dasar bangunan dan luas persil.
49. Koefisien lantai bangunan, selanjutnya disingkat KLB, adalah perbandingan antara luas lantai bangunan dan luas persil.
50. Koefisien dasar hijau, selanjutnya disingkat KDH, adalah perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukan bagi pertamanan/penghijauan dan luas persil.
51. Jalan arteri adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-‐rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.
52. Jalan kolektor adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-‐rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi.
53. Jalan lokal adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-‐rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
54. Sungai adalah tempat-‐tempat dan wadah-‐wadah serta jaringan air mulai dari mata air sampai muara dibatasi kanan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan.
55. Situ adalah suatu wadah genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk secara alami maupun buatan yang airnya berasal dari tanah atau air permukaan sebagai siklus hidrologis yang merupakan salah satu bentuk kawasan lindung.
56. Waduk adalah wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibendungnya bangunan sungai dalam hal ini bangunan bendungan dan berbentuk pelebaran alur / badan / palung / sungai.
57. Drainase adalah sistem jaringan dan distribusi drainase suatu lingkungan yang berfungsi sebagai pematus bagi lingkungan, yang terintegrasi dengan sistem jaringan drainase makro dari wilayah regional yang lebih luas.
58. Sampah adalah distribusi pelayanan pembuangan / pengolahan sampah rumah tangga, lingkungan komersial, perkantoran dan bangunan umum lainnya, yang terintegrasi dengan sistem jaringan pembuangan sampah makro dari wilayah regional yang lebih luas.
59. Air limbah adalah air yang berasal dari sisa kegiatan proses produksi dan usaha lainnya yang tidak dimanfaatkan kembali.
Pasal 2
(1) Lingkup wilayah perencanaan mencakup seluruh ruang Kabupaten Nagekeo dengan batas yang ditentukan berdasarkan aspek administratif mencakup wilayah daratan, wilayah perairan, serta wilayah udara sebagaimana tergambar pada peta dalam Lampiran I Peraturan Daerah ini.
(2) Kabupaten Nagekeo memiliki luas wilayah kurang lebih 141.036 (seratus empat puluh satu ribu tiga puluh enam) hektar.
(3) Batas-‐batas wilayah Kabupaten Nagekeo meliputi: a. sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores; b. sebelah selatan berbatasan dengan Laut Sawu;
c. sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Ende; dan d. sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ngada.
(4) Lingkup wilayah Kabupaten Nagekeo sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. kecamatan Mauponggo; b. kecamatan Keo Tengah; c. kecamatan Nangaroro; d. kecamatan Boawae; e. kecamatan Aesesa;
f. kecamatan Aesesa Selatan; dan g. kecamatan Wolowae.
Pasal 3 Muatan RTRW Kabupaten Nagekeo meliputi:
a. tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang; b. rencana struktur ruang;
c. rencana pola ruang;
d. penetapan kawasan strategis; e. arahan pemanfaatan ruang; dan
f. ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang.
BAB II
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG Bagian Kesatu
Tujuan Penataan Ruang Pasal 4
Penataan ruang Kabupaten Nagekeo bertujuan untuk “mewujudkan Kabupaten Nagekeo sebagai sentra komoditas pertanian Nusa Tenggara Timur yang berkelanjutan yang didukung oleh agropolitan yang integratif, agroindustri, dan pertambangan ramah lingkungan.”
Bagian Kedua Kebijakan Penataan Ruang
Pasal 5
Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ditetapkan kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten meliputi: a. pemantapan sistem pusat kegiatan berbasis agropolitan, agroindustri dan
pertambangan ramah lingkungan;
b. pengembangan pusat-‐pusat pelayanan secara berhierarki dan bersinergi antara pusat pengembangan utama di ibukota Kabupaten dan perkotaan lainnya serta pengembangan sistem permukiman perdesaan berbasis agropolitan;
c. pengembangan sistem jaringan transportasi darat, laut dan udara dalam mendukung pemerataan pertumbuhan wilayah serta mendukung pengembangan agropolitan, agroindustri dan pertambangan ramah lingkungan;
d. pengoptimalisasian dan peningkatan jangkauan pelayanan energi, telekomunikasi, sumber daya air dan prasarana lainnya dalam rangka pemerataan pertumbuhan wilayah;
e. pemantapan pelestarian dan perlindungan kawasan lindung untuk meningkatkan kualitas lingkungan, sumberdaya alam/buatan dan ekosistemnya, meminimalkan risiko dan mengurangi kerentanan bencana, mengurangi efek pemanasan global yang berprinsip partisipasi, menghargai kearifan lokal, serta menunjang penelitian dan edukasi; f. pengembangan kawasan budidaya untuk mendukung pemantapan sistem
agropolitan serta agroindustri dan pertambangan ramah lingkungan; g. penetapan dan pengembangan kawasan strategis Kabupaten dari sudut
kepentingan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup dalam mendukung percepatan pertumbuhan wilayah Kabupaten; dan
h. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.
Bagian Ketiga Strategi Penataan Ruang
Pasal 6
(1) Strategi pemantapan sistem pusat kegiatan berbasis agropolitan, agroindustri dan pertambangan ramah lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a meliputi:
a. mengembangkan kawasan perdesaan berbasis hasil perkebunan yang tersebar di seluruh wilayah yang berpotensi;
b. meningkatkan pertanian berbasis tanaman pangan pada wilayah yang berpotensi;
c. mengembangkan kawasan agropolitan berbasis pertanian; d. memantapkan fungsi pusat agropolitan;
e. mengembangkan prasarana wilayah yang menghubungkan sentra-‐ sentra produksi pertanian unggulan;
f. mengembangkan sarana dan prasarana produksi pertanian ke pusat-‐ pusat pemasaran sampai terbuka akses ke pasar nasional;
g. memantapkan suprastruktur pengembangan pertanian yang terdiri dari lembaga tani dan lembaga keuangan;
h. meningkatkan produksi, pengolahan dan pemasaran produk pertanian dan ternak unggulan sebagai satu kesatuan sistem;
i. meningkatkan potensi perdesaan berbasis agroindustri persawahan garam;
j. meningkatkan produksi, pengolahan dan pemasaran produk industri garam;
k. memantapkan sentra-‐sentra produksi pertanian unggulan sebagai penunjang agropolitan dan agroindustri;
l. memantapkan fungsi masing-‐masing kawasan agropolitan dan agroindustri;
m.memantapkan kawasan pertambangan ramah lingkungan;
n. meningkatkan produksi dan pemasaran produk pertambangan; dan o. mengembangkan infrastruktur dan kelembagaan penunjang potensi
kawasan.
(2) Strategi pengembangan pusat-‐pusat pelayanan secara berhierarki dan bersinergi antara pusat pengembangan utama di ibukota Kabupaten dan perkotaan lainnya serta pengembangan sistem permukiman perdesaan berbasis agropolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b meliputi:
a. mengembangkan perkotaan Mbay sebagai perkotaan dengan fungsi utama pemerintahan, agropolitan, agroindustri, dan pendidikan dan Perkotaan Boawae yang menjadi pusat pengembangan agropolitan, pendidikan, pelayanan skala kecamatan dan pusat transportasi kecamatan;
b. memantapkan pusat-‐pusat kegiatan secara berhierarki;
c. mempersiapkan perkotaan Mbay sebagai perkotaan yang ditunjang perkembangan kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun; dan
d. mengembangkan pusat-‐pusat pertumbuhan pada kawasan perdesaan sebagai inti kawasan agropolitan dan pertambangan ramah lingkungan.
(3) Strategi pengembangan sistem jaringan transportasi darat, laut, dan udara dalam mendukung pemerataan pertumbuhan wilayah serta mendukung pengembangan agropolitan, agroindustri dan pertambangan ramah lingkungan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi:
a. meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur terutama infrastruktur jalan untuk mendukung sistem agropolitan dan agroindustri;
b. mengembangkan terutama infrastruktur jalan untuk mendukung sistem pertambangan ramah lingkungan;
c. mengembangkan jalan penghubung perdesaan dan perkotaan; d. memperbaiki jalan kolektor primer;
e. mengembangkan jalan lokal primer pada semua jalan penghubung utama antar kecamatan;
f. meningkatkan infrastruktur pendukung dan pelayanan terminal yang memadai;
g. meningkatkan areal pangkalan kendaraan menjadi terminal tipe B di kota Mbay;
h. memindahkan dan mengembangkan terminal ke lokasi yang sesuai; i. meningkatkan infrastuktur pelabuhan angkutan;
j. meningkatkan infrastuktur pelabuhan perikanan;
k. meningkatkan rute/jangkauan pelayaran Pelabuhan Laut Marapokot ke wilayah kabupaten lain, terutama difokuskan ke seluruh kabupaten sebelah utara di Pulau Flores, sebagai pelabuhan angkutan barang/manusia;
l. meningkatkan rute/jangkauan Pelabuhan Laut Marapokot II Kecamatan Mauponggo ke wilayah kabupaten lain, terutama difokuskan ke seluruh kabupaten di Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, maupun Pulau Rote sebagai pelabuhan perikanan;
m.meningkatkan aksesibilitas ke bandara terdekat melalui peningkatan akses jalan yang menghubungkan ke lokasi tersebut, dan peningkatan armada angkutan ke/dari tempat tersebut; dan
n. mengupayakan pembangunan eks Bandara Surabaya II untuk menjadi bandara andalan Kabupaten.
(4) Strategi pengoptimalisasian dan peningkatan jangkauan pelayanan energi, telekomunikasi, sumber daya air dan prasarana lainnya dalam rangka pemerataan pertumbuhan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf d meliputi:
a. memperluas jaringan prasarana energi dan mengembangkan jaringan baru hingga ke pelosok;
b. mengembangkan sumber daya energi;
c. meningkatkan dan mengoptimalkan pelayanan energi;
d. mengembangkan sistem penyediaan listrik setempat misalnya melalui mikro hidro.
e. menyediakan tower BTS yang digunakan secara bersama menjangkau hingga ke pelosok perdesaan;
f. meningkatkan sistem informasi telekomunikasi pembangunan daerah berupa informasi berbasis teknologi internet;
g. mengembangkan prasarana telekomunikasi meliputi telepon rumah tangga, telepon umum, dan jaringan telepon seluler;
h. menerapkan teknologi telekomunikasi berbasis teknologi modern; i. membangun teknologi telekomunikasi pada wilayah-‐wilayah pusat
pertumbuhan;
j. membentuk jaringan telekomunikasi dan informasi yang menghubungkan setiap wilayah pertumbuhan dengan ibukota Kabupaten;
k. meningkatkan jaringan irigasi sederhana dan irigasi setengah teknis; l. melindungi sumber-‐sumber mata air dan daerah resapan air;
m.mengembangkan waduk baru, bendung, dan cek dam pada kawasan potensial;
n. mencegah terjadinya pendangkalan terhadap saluran irigasi; o. membangun dan memperbaiki pintu-‐pintu air;
p. melakukan pengadaan tempat penampungan sampah sementara (TPS) skala lokal dan regional;
q. melakukan pengelolaan sampah berkelanjutan; r. pengoptimalisasian sistem pengolahan sampah;
s. melakukan pengolahan sampah untuk mendukung pertanian;
t. meminimalisir penggunaan sumber sampah yang sukar didaur ulang secara alamiah;
u. memanfaatkan ulang sampah yang ada terutama yang memiliki nilai ekonomi; dan
v. mengolah sampah organik menjadi kompos.
(5) Strategi pemantapan pelestarian dan perlindungan kawasan lindung untuk meningkatkan kualitas lingkungan, sumberdaya alam/buatan dan ekosistemnya, meminimalkan resiko dan mengurangi kerentanan bencana, mengurangi efek pemanasan global yang berprinsip partisipasi, menghargai kearifan lokal, serta menunjang penelitian dan edukasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf e meliputi:
a. meningkatkan kelestarian hutan lindung untuk keseimbangan tata air dan lingkungan hidup dilakukan dengan :
1. memperbaiki dan meningkatkan fungsi lindung pada daerah yang mengalami alih fungsi dan menetapkan lokasi pelestarian sebesar 30 % (tiga puluh persen) dari luas DAS;
2. melakukan rehabilitasi lahan dengan menanam vegetasi yang mampu memberikan perlindungan terhadap permukaan tanah dan mampu meresapkan air;
3. mengelola kawasan sekitar hutan lindung dengan prinsip hutan kemitraan, yaitu dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam perencanaan, pengelolaan, panen dan pascapanen untuk keberhasilan program dalam jangka waktu yang panjang;
4. melarang dan mencegah pola penambangan terbuka pada kawasan hutan lindung; dan
5. mengembalikan fungsi hidrologi kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan.
b. melindungi kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahnya dilakukan dengan :
1. melarang atau mencegah kegiatan budidaya, kecuali yang tidak mengganggu fungsi lindung;
2. mengendalikan kegiatan budidaya yang telah ada dengan pembatasan perkembangan serta pengembalian fungsi lindungnya; dan
3. mengendalikan terhadap kegiatan eksplorasi dan eksploitasi mineral serta air tanah dengan memperhatikan fungsi lindung kawasan sekitarnya.
c. melakukan upaya konservasi alam, rehabilitasi ekosistem yang rusak, mengendalikan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup pada kawasan perlindungan setempat serta menempatkan kawasan lindung spiritual dilakukan dengan :
1. membatasi kegiatan yang tidak berkaitan dengan perlindungan setempat dalam bentuk jalur hijau;
2. mencegah aktivitas perusakan, pengendalian pencemaran dan peningkatan upaya konservasi laut, pesisir serta rehabilitasi ekosistem yang rusak;
3. melindungi kawasan sepanjang sempadan sungai untuk kawasan terbangun;
4. melindungi sekitar waduk/danau untuk kegiatan yang menyebabkan alih fungsi lindung dan menyebabkan kerusakan kualitas air;
5. melindungi sekitar mata air untuk kegiatan yang menyebabkan alih fungsi lindung dan menyebabkan kerusakan kualitas sumber air; dan
6. mengamankan kawasan lindung spiritual dan kearifan lokal dengan melindungi tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai sejarah dan situs purbakala.
d. memantapkan fungsi dan nilai manfaat pada kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya dilakukan dengan:
1. melindungi ekosistem flora dan fauna khas Kabupaten; 2. melestarikan budaya masyarakat setempat dalam satu
kesatuan dengan kehidupan masyarakat; dan
3. melaksanakan kerjasama antar wilayah dalam penanganan cagar budaya.
e. menangani kawasan rawan bencana alam melalui pengendalian dan pengawasan kegiatan perusakan lingkungan terutama pada kawasan yang berpotensi menimbulkan bencana alam, serta pengendalian untuk kegiatan manusia secara langsung dilakukan dengan:
1. mencegah pemanfaatan kawasan yang rawan terhadap bencana longsor, gelombang pasang, banjir, dan bencana alam lainnya sebagai kawasan terbangun;
2. mengembangkan hutan mangrove dan bangunan yang dapat meminimalisir akibat gelombang pasang;
3. menata daerah lingkungan sungai seperti penetapan garis sempadan sungai, peruntukan lahan di kiri kanan sungai, penertiban bangunan di sepanjang aliran sungai serta peningkatan peran masyarakat dalam pengendalian banjir; dan 4. melaksanakan upaya mitigasi bencana menyangkut perencanaan dan perumusan kebijakan yang bersifat antisipatif.
f. memantapkan wilayah kawasan lindung geologi dengan pemantapan zonasi di kawasan dan wilayah sekitarnya serta pemantapan pengelolaan kawasan secara partisipatif dilakukan dengan:
1.
menata kawasan rawan bencana geologi dengan peruntukan non terbangun;2.
mengembangkan kegiatan pariwisata pengetahuan yang terkait dengan geologi; dan3.
mengembangkan tanaman keras sebagai perlindungan dan peresapan air untuk peningkatan cadangan air tanah.g. memantapkan kawasan lindung lainnya sebagai penunjang usaha pelestarian alam dilakukan dengan :
1. menetapkan kawasan sebagai objek wisata dan penelitian saat terjadi pengungsian satwa; dan
2. memelihara habitat dan ekosistem sehingga keaslian kawasan terpelihara.
(6) Strategi pengembangan kawasan budidaya untuk mendukung pemantapan sistem agropolitan serta agroindustri dan pertambangan ramah lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf f meliputi: a. mengembangkan kawasan hutan produksi untuk meningkatkan
produktivitas lahan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup dilakukan dengan:
1. memanfaatkan hasil hutan produksi terbatas yang eksploitasinya dilakukan dengan cara tebang pilih;
2. dilakukan dengan hasil hutan yang eksploitasinya dilakukan dengan cara tebang pilih maupun tebang habis untuk kawasan hutan produksi tetap; dan
3. memberi cadangan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi untuk penggunaan lain, dapat dikonversi untuk pengelolaan non-‐kehutanan.
b. mengembangkan kawasan pertanian dilakukan dengan:
1. meningkatkan peran, efisiensi, produktivitas yang berkelanjutan, peluang ekstensifikasi, serta mempertahankan saluran irigasi teknis dan peningkatan irigasi sederhana dalam skala wilayah untuk pertanian lahan basah;
2. mengembangkan kawasan pertanian lahan kering/tegalan dengan penanaman tanaman tahunan yang produktif;
3. mengembangkan kawasan pertanian hortikultura dengan sistem agropolitan dan mengembangkan sektor pertanian untuk kegiatan agribisnis, agrowisata dan industri pengolahan pertanian dari bahan mentah menjadi makanan dan sejenisnya serta melakukan pemasaran skala nasional dan ekspor ke luar negeri;
4. penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan; 5. mengembangkan industri pengolahan hasil komoditi;
6. mengembangkan fasilitas sentra produksi dan pemasaran pada pusat kegiatan ekonomi;
7. mengembangkan kawasan-‐kawasan potensi untuk pertanian pangan lahan kering;
8. mengembangkan pasar produksi perkebunan; dan
9. mengolah hasil perkebunan terutama dengan membentuk keterikatan antar produk.
c. mengembangkan kawasan perikanan berupa peningkatan peran, efisiensi, produktivitas yang berkelanjutan serta peningkatan nilai tambah beberapa komoditi yang potensial, sementara untuk di kawasan perikanan di wilayah pesisir dilakukan dengan:
1. mengendalikan dan membatasi pemanfaatan lahan pantai (pesisir) untuk kegiatan budidaya;
2. mengendalikan metode budidaya yang berbasis kelestarian sumberdaya pesisir;
3. menggunakan teknologi dalam kegiatan usaha budidaya perikanan; dan
4. meningkatkan bantuan permodalan usaha kepada kegiatan usaha masyarakat pertambakan.
d. mengembangkan kawasan peruntukan pertambangan dengan mempertimbangkan potensi bahan galian, kondisi geologi, hidrogeologi dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan; e. mengembangkan kawasan peruntukan industri dilakukan dengan:
1. mengembangkan kawasan sentra industri kecil terutama pada kawasan perdesaan dan perkotaan;
2. mengembangkan fasilitas perekonomian berupa koperasi pada setiap pusat kegiatan perkotaan dan perdesaan;
3. mengembangkan ekonomi dan perdagangan dengan pengutamaan usaha kecil menengah; dan
4. menetapkan skenario ekonomi wilayah yang menunjukkan kemudahan dalam berinvestasi dan penjelasan tentang kepastian hukum yang menunjang investasi.
f. menentukan wisata unggulan daerah, pelestarian lingkungan, promosi serta peningkatan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian objek wisata dan daya jual maupun daya saing;dan g. mengembangkan kawasan peruntukan permukiman dilakukan
dengan:
1. meningkatkan kualitas lingkungan permukiman perkotaan;dan 2. membatasi pengembangan permukiman dan kawasan
terbangun lainnya pada kawasan lindung untuk permukiman perdesaan.
(7) Strategi penetapan dan pengembangan kawasan strategis kabupaten dari sudut kepentingan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup dalam mendukung percepatan pertumbuhan wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf g meliputi:
a. mengembangkan kawasan strategis ekonomi melalui optimalisasi KAPET Mbay di kota Mbay sebagai pusat kawasan ekonomi dan didukung oleh kecamatan-‐kecamatan lain dilakukan dengan:
1. mengoptimalkan fungsi lahan produktif pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomis kawasan dengan agropolitan;
2. mengarahkan sub kawasan pertanian menjadi kawasan pertanian terpadu dengan peningkatan produktifitas pertanian, peternakan, dan perikanan;
3. mengoptimalkan fungsi lahan potensial sebagai lahan padang garam yang tersebar di semua lokasi dan pada umumnya berbatasan dengan hutan mangrove;
4. meningkatkan kegiatan sektor pertambangan selain untuk kegiatan penggalian yang hasilnya lebih banyak digunakan untuk sektor konstruksi;
5. meningkatkan komoditas unggulan, sarana dan prasarana pendukung proses produksi;
6. meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia baik sebagai tenaga ahli maupun tenaga pendukung;
7. meningkatkan jumlah sarana dan prasarana sumber daya air dan irigasi, seperti embung, bendungan dan jaringan irigasi lainnya; 8. melaksanakan kerjasama dengan pihak investor, terkait
pemberian kredit/modal usaha;dan
9. mengidentifikasi potensi kawasan atau sub sektor strategis yang dapat dikembangkan dan penetapan kawasan ekonomi khusus baru.
b. mengendalikan perkembangan ruang sekitar kawasan strategis perkotaan dilakukan dengan:
1. menetapkan batas pengaruh kawasan strategis kabupaten;dan 2. menetapkan pola pemanfaatan lahan, sesuai dengan fungsi dan
peran masing-‐masing kawasan.
c. meningkatkan dan memantapkan fungsi dan peran kawasan strategis sosial dan budaya dilakukan dengan:
1. mengembangkan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomis kawasan, antara lain pemanfaatan sebagai aset wisata, penelitian dan pendidikan;
2. melestarikan kawasan sekitar serta memberikan gambaran berupa relief atau sejarah yang menerangkan objek/situs tersebut;
3. membina masyarakat sekitar untuk ikut berperan dalam menjaga peninggalan sejarah;
4. mengendalikan kawasan sekitar kawasan strategis sosial dan budaya secara ketat;dan
5. mengendalikan perkembangan kawasan sekitar situs cagar budaya.
d. meningkatkan dan memantapkan fungsi dan peran kawasan strategis perlindungan ekosistem dan lingkungan dilakukan dengan: 1. membatasi dan mencegah pemanfaatan ruang yang berpotensi
mengurangi fungsi perlindungan kawasan;
2. melarang alih fungsi pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung;
3. membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan yang ditetapkan untuk fungsi lindung yang dapat memicu perkembangan kegiatan budidaya;
4. merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan lindung; dan
5. mengembangkan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomis kawasan lindung dengan mengizinkan pemanfaatan untuk objek wisata, pendidikan, dan penelitian berbasis lingkungan hidup, dan/atau pemanfaatan mangrove dan terumbu karang sebagai sumber ekonomi perikanan dengan cara penangkapan yang ramah lingkungan dan mendukung keberlanjutan.
(8) Strategi pemantapan pelestarian dan perlindungan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf h meliputi:
a. menetapkan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan;
b. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis pertahanan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan;
c. mengembangkan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan khusus pertahanan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan; dan
d. turut serta menjaga dan memelihara aset-‐aset pertahanan.
BAB III
RENCANA STRUKTUR RUANG Bagian Kesatu
Umum Pasal 7
(1) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Nagekeo meliputi : a. rencana sistem perkotaan wilayah; dan
b. rencana sistem jaringan prasarana skala kabupaten.
(2) Rencana struktur ruang wilayah digambarkan pada peta dengan tingkat ketelitian minimal 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Rencana Sistem Perkotaan Wilayah Pasal 8
(1) Rencana sistem perkotaan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a meliputi:
b. PKLp; c. PPK; dan d. PPL.
(2) PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu perkotaan Mbay yang terletak di Kecamatan Aesesa.
(3) PKLp sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, yaitu Perkotaan Boawae yang meliputi wilayah Kelurahan Nagesapadhi, Kelurahan Natanage, Kelurahan Olakile, Kelurahan Natanage Timur, Kelurahan Nageoga, Kelurahan Wolopogo dan Kelurahan Rega.
(4) PPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi kawasan perkotaan:
a. Mauponggo di Kecamatan Mauponggo; b. Mbaenuamuri di Kecamatan Keo Tengah; c. Nangaroro di Kecamatan Nangaroro; d. Tengatiba di Kecamatan Aesesa Selatan; dan e. Tendakinde di Kecamatan Wolowae.
(5) PPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi desa: a. Nagerawe di Kecamatan Boawae;
b. Sawu di Kecamatan Mauponggo; c. Maukeli di Kecamatan Mauponggo; d. Wajo di Kecamatan Keo Tengah; e. Tonggo di Kecamatan Nangaroro;
f. Langedhawe di Kecamatan Aesesa Selatan; g. Anakoli di Kecamatan Wolowae; dan h. Marapokot di Kecamatan Aesesa.
Bagian Ketiga
Rencana Sistem Jaringan Prasarana Skala Kabupaten Pasal 9
Rencana sistem jaringan prasarana skala kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b meliputi:
a. rencana sistem prasarana utama; dan b. rencana sistem prasarana lainnya.
Paragraf 1
Rencana Sistem Prasarana Utama Pasal 10
(1) Rencana sistem prasarana utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a meliputi:
a. sistem jaringan transportasi darat; b. sistem jaringan transportasi laut; dan c. sistem jaringan transportasi udara.
(2) Rencana sistem prasarana utama digambarkan pada peta dengan tingkat ketelitian minimal 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 11
(1) Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a meliputi:
a. jaringan jalan, terminal, dan rute angkutan; dan b. jaringan sungai, danau dan penyeberangan.
(2) Jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi: a. jaringan jalan arteri primer, kolektor primer dan lokal primer; b. jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi
ruas-‐ruas jalan yang ditetapkan dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(3) Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu berupa terminal penumpang tipe B di Kecamatan Aesesa.
(4) Rute angkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu berupa pengembangan angkutan penumpang dengan trayek:
a. Kota Bajawa di Kabupaten Ngada -‐ Kecamatan Golewa di Kabupaten Ngada -‐ Kecamatan Boawae -‐ Kecamatan Nangaroro -‐ Ende di Kabupaten Ende – Maumere di Kabupaten Sikka;
b. Kecamatan Aesesa -‐ Kecamatan Nangaroro -‐ Ende di Kabupaten Ende -‐ Maumere di Kabupaten Sikka;
c. Kecamatan Aesesa -‐ Kecamatan Wolowae -‐ utara Kabupaten Ende ke arah Maumere di Kabupaten Sikka;
d. Kecamatan Aesesa -‐ Kecamatan Boawae -‐ Kota Bajawa di Kabupaten Ngada; dan
e. Kecamatan Aesesa -‐ Kecamatan Riung di Kabupaten Ngada -‐ Kota Bajawa di Kabupaten Ngada.
(5) Jaringan sungai, danau dan penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa pelabuhan penyeberangan Marapokot Mbay di Kecamatan Aesesa sebagai pelabuhan penyeberangan antar pulau dan lintas provinsi dari Kabupaten Nagekeo.
Pasal 12
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf b meliputi :
a. tatanan kepelabuhanan;dan b. alur pelayaran.
(2) Tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa Pelabuhan Marapokot di Kecamatan Aesesa dan Pelabuhan Marapokot II di Kecamatan Mauponggo yang berfungsi sebagai pelabuhan pengumpan.
(3) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas alur pelayaran dari wilayah Kabupaten menuju Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan daerah lain di Kawasan Timur maupun Barat Indonesia.
Pasal 13
(1) Sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf c terdiri atas:
a. tatanan kebandarudaraan; dan b. ruang udara untuk penerbangan.
(2) Tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu Bandar Udara Surabaya II peninggalan Jepang di Kecamatan Aesesa yang akan dikembangkan menjadi bandar udara domestik dan internasional yang mendukung sistem transportasi udara di Kabupaten dan wilayah sekitarnya.
(3) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b yaitu berupa rute penerbangan yang akan dikembangkan menuju bandar udara terdekat yang ada dalam maupun luar wilayah provinsi nusa tenggara timur.
(4) Ruang udara untuk penerbangan diatur lebih lanjut dalam rencana induk bandar udara.
Paragraf 2
Rencana Sistem Prasarana Lainnya Pasal 14
Rencana sistem prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b meliputi:
a. rencana sistem jaringan energi;
b. rencana sistem jaringan telekomunikasi; c. rencana sistem jaringan sumber daya air; dan d. rencana sistem jaringan prasarana lainnya.
Pasal 15
(1) Rencana sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a meliputi :
b. jaringan prasarana energi.
(2) Pembangkit listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu berupa Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) meliputi:
a. PLTD Aesesa di Kecamatan Aesesa;
b. PLTD Tendakinde di Kecamatan Wolowae;dan c. PLTD Kotakeo di Kecamatan Nangaroro.
(3) Pengembangan prasarana untuk pengembangan listrik meliputi: a. pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di
pertemuan-‐pertemuan sungai besar antara lain di Kecamatan Aesesa;
b. pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya pada daerah-‐ daerah terpencil;dan
c. meningkatkan dan mengoptimalkan pelayanan listrik sehingga terjadi pemerataan pelayanan di seluruh wilayah kabupaten. (4) Jaringan prasarana energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
yaitu berupa gardu induk di Kelurahan Danga Kecamatan Aesesa dan gardu distribusi yang tersebar di seluruh kecamatan.
(5) Rencana sistem jaringan energi digambarkan pada peta dengan tingkat ketelitian minimal 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 16
(1) Rencana sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b meliputi:
a. sistem jaringan kabel; dan b. sistem jaringan nirkabel.
(2) Sistem jaringan kabel dan sistem jaringan nirkabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terus ditingkatkan perkembangannya hingga mencapai pelosok wilayah yang belum terjangkau sarana prasarana telekomunikasi.
(3) Sistem jaringan nirkabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa BTS yang digunakan secara bersama meliputi:
a. BTS Aeramo, Tedamude, Danga dan Nggolonio di Kecamatan Aesesa;
b. BTS Kelewae di Kecamatan Boawae; c. BTS Wuliwalo di Kecamatan Mauponggo; d. BTS Ua di Kecamatan Keo Tengah; e. BTS Nataute di Kecamatan Nangaroro; f. BTS Tendakinde di Kecamatan Wolowae;dan g. BTS Renduteno di Kecamatan Aesesa Selatan.
(4) Rencana sistem jaringan telekomunikasi digambarkan pada peta dengan tingkat ketelitian minimal 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 17
(1) Rencana sistem jaringan sumber daya air, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c, meliputi:
a. wilayah sungai strategis nasional;
b. jaringan sumber daya air yang ada di Kabupaten; c. daerah irigasi;
d. prasarana air baku untuk air bersih;
e. jaringan air bersih ke kelompok pengguna;dan f. sistem pengendalian banjir.
(2) Wilayah sungai strategis nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu wilayah sungai Aesesa.
(3) Jaringan sumber daya air yang ada di Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. DAS Aesesa seluas 56.189 (lima puluh enam ribu seratus delapan puluh sembilan) hektar;
c. Waduk Ngabatata di Kecamatan Aesesa Selatan dan Waduk Mbay di Kecamatan Aesesa;
d. Embung, meliputi:
1. Embung Tedakisa, Tedamude, Perenganting, Sangabenga, Aeramo, Pakicaka, Boanio di Kecamatan Aesesa;
2. Embung Maladhawe di Kecamatan Aesesa Selatan;
3. Embung Dheresia, Gero, Nagerawe dan Tedamude di Kecamatan Boawae;
4. Embung Dhusera, Gupie, Wolokisa, Malalade, Kadha Ebo, Oki, Malanunu dan Beku di Kecamatan Nangaroro;
5. Embung Anakoli, Aemata, Ratedao di Kecamatan Wolowae; dan 6. Embung potensial lainnya di setiap kecamatan.
e. Mata air, meliputi:
1. Mata air Lowomeli di Kelurahan Ratongamobo, Wugha-‐wugha I di Kelurahan Dhawe, Aekeda dan Liaoro di Desa Ngegedhawe, dengan wilayah pelayanan Kecamatan Aesesa;
2. Mata air Labosile dan Ae A Ubu di Desa Kelimado, dan Napu Tere di Desa Rendubutowe, Tabalape di Desa Ngegedhawe dengan wilayah pelayanan Kecamatan Aesesa Selatan;
3. Mata air Ae Lade, Ae A, Oki Oja, Kusu Koso, Ae Eti, Ae Menge di desa Kelimado, Ae Te di Desa Raja, Locolabo di Desa Wea Au, Oki Kemo di Kelurahan Rega, Ae Ca di Desa Wolowea, Mata Toyo di Desa Solo, Pisa Meka di Kelurahan Nagesapadhi, Ae Lade dan Pisa di Kelurahan Nageoga, Mata Wala dan Mata Dhuge di Kelurahan Natanage dengan wilayah pelayanan Kecamatan Boawae;
4. Mata air Teo Dhae dan Eko Dhe di Desa Sawu, Aelabo dan Aeleba di desa Wuliwalo, dengan wilayah pelayanan Kecamatan Mauponggo;
5. Mata air Oki Puu Teye di Desa Totomala, dan Mata Konge di Desa Tendatoto, dengan wilayah pelayanan Kecamatan Wolowae; dan
6. Mata air Dowodambo di desa Woewutu, Ae Tele di Kelurahan Nangaroro, Matamobo Di desa Ulupulu, Soba di desa Woedoa, Ae Seli I dan Ae Seli II di desa Kotakeo dengan wilayah pelayanan Kecamatan Nangaroro.
(4) Daerah Irigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan waduk, embung dan sungai dengan luas kurang lebih 14.562 (empat belas ribu lima ratus enam puluh dua) hektar ditetapkan dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(5) Prasarana air baku untuk air bersih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:
a. unit Aesesa yang bersumber dari Wugha-‐wugha 1 dan Lowo Meli; b. unit Boawae yang bersumber dari Ae Lade, Ae A dan Oki Oja; c. unit Nangaroro yang bersumber dari Dowo Dambo; dan d. unit Mauponggo yang bersumber dari Teo Dhae dan Eko Dhe. (6) Jaringan air bersih ke kelompok pengguna sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf e berupa jaringan air bersih yang dikelola oleh Badan Layanan Umum Sistem Penyediaan Air Minum.
(7) Sistem pengendalian banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berupa sistem pengendalian banjir Kota Mbay yaitu rencana drainase perkotaan secara terpadu.
(8) Rencana sistem jaringan sumber daya air digambarkan pada peta dengan tingkat ketelitian minimal 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 18
(1) Rencana sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf d meliputi:
a. rencana sistem jaringan prasarana lingkungan; dan b. rencana jalur evakuasi bencana.
(2) Rencana sistem jaringan prasarana lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. rencana sistem jaringan persampahan; dan b. rencana sistem pengolahan limbah.
(3) Rencana sistem jaringan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan menggunakan metode sanitary landfill di Towak Kecamatan Aesesa dan di Dhereisa Kecamatan Boawae.
(4) Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana lainnya yang digunakan lintas wilayah administratif meliputi:
a. kerjasama antar wilayah dalam hal pengelolaan dan penanggulangan masalah sampah terutama di wilayah perkotaan; b. pengalokasian TPA sesuai dengan persyaratan teknis;
c. pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kaidah teknis; dan
d. pemilihan lokasi untuk prasarana lingkungan harus sesuai dengan daya dukung lingkungan.
(5) Upaya penanganan permasalahan limbah khusus rumah tangga dibedakan menurut wilayah perkotaan dan perdesaan meliputi:
a. pada wilayah perkotaan pengembangan sanitasi diarahkan kepada pemenuhan fasilitas instalasi pengolahan limbah tinja dan instalasi pengolahan air limbah pada masing-‐masing Kepala Keluarga;dan b. pada wilayah perdesaan penanganan limbah khusus rumah tangga
dapat dikembangkan fasilitas sanitasi pada setiap Kepala Keluarga serta fasilitas sanitasi umum.