• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. Barry Duncan (dalam Guntarto & Dina, 2002), seorang ahli media

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. Barry Duncan (dalam Guntarto & Dina, 2002), seorang ahli media"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Media Literacy

1. Pengertian media literacy

Barry Duncan (dalam Guntarto & Dina, 2002), seorang ahli media literacy berpendapat bahwa media literacy sangat perhatian dalam hal membantu para siswa mengembangkan suatu pemahaman yang penuh informasi dan kritis mengenai sifat (the nature) dari media massa, teknik-teknik yang digunakan, dan dampak dari teknik-teknik tersebut. Lebih spesifik, merupakan suatu pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kenikmatan para siswa tentang bagaimana media bekerja, bagaimana media memproduksi pengertian-pengertian, bagaimana media diorganisir, dan bagaimana media membangun realitas. Media literacy juga bertujuan untuk mempersiapkan siswa dengan kemampuan untuk menciptakan produk media.

The National Leadership Conference on Media Literacy (dalam Baran, 2004) menyatakan bahwa media literacy merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan. Hal senada diungkapkan oleh Wikipedia (2007) yang menyatakan bahwa media literacy merupakan proses mengakses, menganalisa, mengevaluasi pesan dalam suatu variasi yang mendalam mengenai model media, genre, dan bentuk di mana menggunakan model instruksional berbasis inkuiri yang mendorong individu untuk bertanya tentang apa yang mereka tonton, lihat, dan baca.

(2)

Sedangkan Rubin (dalam Baran, 2004) menyatakan bahwa media literacy adalah pemahaman terhadap sumber-sumber dan teknologi komunikasi, kode-kode yang digunakan, pesan-pesan yang diproduksi, dan seleksi, interpretasi, dan akibat dari pesan-pesan tersebut. Sementara Astuti (2007) menyatakan bahwa media literacy perlu dibedakan pengertiannya dari media education. Media education memandang media dalam fungsi yang senantiasa positif, yaitu sebagai a site of pleasure—dalam berbagai bentuk. Sedangkan media literacy yang memakai pendekatan inocculationist berupaya memproteksi anak-anak dari apa yang dipersepsi sebagai efek buruk media massa. Penggunaan media dan produk media sebagai bagian dari proses belajar mengajar, misalnya mempelajari cara memproduksi film independen atau menggunakan surat kabar sebagai sumber penelusuran data, tergolong dalam media education. Adapun media literacy bergerak lebih jauh dari itu. Dengan pendekatan yang lebih kritis, media literacy tidak hanya mempelajari segi-segi produksi, tetapi juga mempelajari kemungkinan apa saja yang bisa muncul akibat kekuatan media. Media literacy mengajari publik memanfaatkan media secara kritis dan bijak.

Berdasarkan pemaparan di atas, media literacy berarti kemampuan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan dalam sebuah variasi yang mendalam dengan tidak hanya mempelajari segi-segi produksi, tetapi juga mampu mempelajari kemungkinan apa saja yang bisa muncul akibat kekuatan media serta dapat memanfaatkan media tersebut secara kritis dan bijak.

(3)

2. Elemen-elemen media literacy

Silverblatt (dalam Baran, 2004) mengidentifikasi lima elemen dasar dari media literacy. Adapun elemen-elemen dari media literacy tersebut adalah :

a. Sebuah kesadaran akan akibat dari media. Menulis dan mencetak telah membantu mengubah dunia dan orang-orang yang berada di dalamnya. Media massa juga melakukan hal yang sama. Bila individu menolak akibat media dalam kehidupannya, menghindari resiko yang akan didapat dan dibawa selama perubahan tersebut akan lebih baik daripada membiarkan akibat tersebut merajalela.

b. Sebuah pemahaman mengenai proses dari komunikasi massa. Apabila setiap individu mengetahui komponen-komponen dari proses komunikasi massa dan bagaimana komponen tersebut berhubungan satu sama lain, maka individu tersebut dapat membentuk harapan tentang bagaimana komponen tersebut dapat melayaninya. Bagaimana industri media yang bervariasi beroperasi? Apa kewajiban mereka terhadap penonton? Apa kewajiban penonton? Bagaimana media yang berbeda membatasi atau menambah pesan? Bentuk feedback yang bagaimana yang paling efektif, dan mengapa?

c. Strategi untuk menganalisa dan mendiskusikan pesan media. Untuk mengkonsumsi pesan media dengan baik, setiap individu membutuhkan sebuah pondasi sebagai dasar berpikir dan refleksi. Apabila seorang individu membuat suatu pengertian, maka haruslah memiliki alat yang dapat melakukan itu (sebagai contoh, memahami maksud dan akibat yang

(4)

ditimbulkan dari film dan video seperti angle kamera dan pencahayaan, atau strategi di balik penempatan foto pada halaman koran).

d. Sebuah pemahaman mengenai isi media sebagai sebuah teks yang memberikan ide ke dalam kebudayaan dan kehidupan setiap individu. Bagaimana mengetahui sebuah kebudayaan dan individu yang berada di dalamnya, sikap, nilai, perhatian, dan mitos-mitos? Hal tersebut dapat diketahui melalui komunikasi. Untuk kebudayaan modern, pesan yang disampaikan media meningkat tajam dan mendominasi dalam kehidupan. e. Kemampuan untuk menikmati, memahami, dan menghargai isi media. Media

literacy bukan berarti sebuah kehidupan yang tidak menyukai media ataupun selalu curiga terhadap efek yang merugikan dan penurunan derajat kebudayaan, namun individu sebaiknya meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap media melalui sekolah tinggi dan perguruan tinggi.

B. Televisi

Lyle (dalam Darwanto, 2007) menyatakan bahwa televisi untuk setiap individu sebagai “jendela dunia”, apa yang dilihat melalui jendela ini, sangat membantu dalam mengembangkan daya kreasi setiap individu, hal ini seperti diungkapkan oleh Lippman beberapa tahun yang lalu, bahwa dalam pikiran seseorang terdapat semacam ilustrasi gambar dan gambar-gambar ini merupakan suatu yang penting dalam hubungannya dengan proses belajar, terutama sekali yang berkenaan dengan orang, tempat dan situasi yang tidak setiap orang pernah ketemu, mengunjungi atau telah mempunyai pengalaman.

(5)

Media elektronik televisi sebagai salah satu bentuk teknologi komunikasi yang banyak mendapat perhatian akhir-akhir ini telah menunjukkan pengaruhnya yang sangat besar, yaitu dalam berlangsungnya perubahan sosial, dalam penyebaran budaya populer, dan dalam mempengaruhi bahkan membentuk persepsi masyarakat terhadap realitas hidup (Miarso, 2004).

Televisi adalah sebuah medium hiburan di mana mempermisikan berjuta-juta orang untuk mendengarkan beberapa candaan yang sama pada waktu yang sama, dan melepaskan kesendirian (Elliot dalam Santrock, 1999). Sementara Sadiman (1996) menyatakan bahwa televisi merupakan media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio-visual dengan disertai unsur gerak. Dilihat dari sudut jumlah penerima pesannya televisi tergolong ke dalam media massa.

Sedangkan Craig (1986) menyatakan bahwa televisi merupakan kekuatan sosialisasi utama dalam kehidupan masyarakat. Anderson et al. (dalam Craig, 1986) menyatakan bahwa televisi memiliki pengaruh yang tidak mudah, di mana anak-anak sering tidak mengerti hal-hal yang mereka lihat di televisi, dan mereka tidak memiliki perhatian atau menyerap tontonan yang tidak mereka mengerti.

Televisi telah membawa perubahan bagaimana cara guru mengajar, pemerintah dalam memimpin, pemuka agama dalam menyampaikan pesan-pesan agama dan cara setiap individu mengatur perabotan rumah tangga di rumah mereka. Televisi membawa perubahan pada audience yang berhubungan dengan buku-buku, majalah, bioskop, dan radio (Baran, 2004).

(6)

C. Media Literacy Televisi

Pada umumnya, literatur yang membahas tentang media literacy memberikan porsi yang besar terhadap media televisi. Beberapa sumber bahkan menerjemahkan konsep media literacy dengan istilah yang berbeda diantaranya literacy televisi atau menjadi melek televisi (Guntarto, 1999 dalam Dina, 2002).

Center for Media Literacy (2007) menyatakan bahwa literacy televisi berarti kritis terhadap televisi. Literacy televisi mendorong penonton belajar untuk aktif yaitu tertantang, menganalisa, bereaksi, mengeksplorasi, dan memahami media televisi tersebut.

Bianculli, 1993 (dalam Semali, 2001) menyatakan bahwa literacy televisi juga disebut sebagai teleliteracy yang berkompeten untuk mengafirmasi kebutuhan untuk mengajarkan anak bagaimana membaca dan menginterpretasi pesan yang disampaikan televisi, termasuk advertising. Buckingham (1993) menyatakan bahwa pengertian literacy televisi mungkin memberi kesempatan untuk menghubungkan dua area dari pendidikan media (tentang apa yang remaja telah siap ketahui mengenai televisi dan untuk menanyakan bagaimana mengidentifikasikan apa yang remaja telah ketahui) serta penelitian penonton terhadap dasar yang menjadi garis besar mengenai bahasa

Televisi sebagai media selama ini dianggap menumbuhkan kecenderungan suka melamun dan perilaku aneh bagi penontonnya. Berbagai tayangan atau berita kekerasan diperkirakan akan menumbuhkan ketegangan dan rasa geram bagi orang yang menyaksikannya. Namun pembebasan untuk menyaluran ketegangan dan rasa geram tersebut selama ini umumnya ditekan melalui larangan-larangan

(7)

orang tua dan sekolah, sehingga dapat menimbulkan masalah sosial dan psikologis lainnya (Dina, 2002).

Salah satu upaya untuk mengendalikan pengaruh negatif dari media khususnya televisi ini diperlukan pembekalan diri tentang media literacy. Pemahaman media literacy yang diperoleh sejak usia dini diperkirakan dapat mengendalikan pengaruh negatif dari media tersebut. Oleh sebab itu media literacy sebaiknya diperkenalkan sejak usia dini melalui proses pembelajaran di lingkungan keluarga dan memperoleh kesinambungan dari lingkungan luar keluarga seperti kelompok sosial informal ataupun sekolah (Dina, 2002).

Menurut Len Masterman (dalam Guntarto & Dina, 2002), media literacy televisi perlu dipelajari karena beberapa alasan yaitu :

1. Media saturation, bahwa televisi tidak hanya satu-satunya media massa yang menyebabkan kejenuhan yaitu ketika musik pop menjadi suatu tren, maka radio, koran, majalah, komputer, video games, dan tentunya televisi akan mengekspos pesan tersebut dalam satu hari.

2. Pengaruh media, bahwa media televisi menjual “kesadaran penonton” di mana televisi mencoba untuk mempengaruhi orang untuk membeli produk.

3. Produksi dan manajemen informasi, di mana pemerintah dan pebisnis mempunyai departemen public relation yang sengaja untuk memberikan berita baik ke dalam kesadaran publik. Apa yang dilaporkan dalam berita, pada kenyataannya datang langsung dari departemen public relation dan press releases.

(8)

4. Pendidikan dan demokrasi media, di mana pemimpin politik telah berusaha menutupi pengaruh media televisi, yaitu mereka yang menggunakan televisi akan mendapatkan cara mereka sendiri tanpa mempedulikan hukum masyarakat ataupun kesempurnaan seseorang.

5. Kepentingan yang meningkat atas komunikasi visual dan informasi, bahwa selama beratus-ratus tahun masyarakat telah dapat membaca dan memahami makna teks. Meskipun demikian sekarang visual image telah dibantah memiliki kepentingan yang lebih daripada kata-kata yang tercetak dan belum ada hubungan dalam memfokuskan membaca makna visual image.

6. Tumbuhnya privatisasi informasi, bahwa informasi adalah sebuah komoditi untuk dibeli dan dijual di mana terdapat kelas baru antara informasi yang banyak dan informasi yang sedikit, dengan informasi yang sedikit tidak akan mungkin menghasilkan informasi yang mereka butuhkan untuk kehidupan yang lebih baik.

7. Mendidik untuk masa depan, bahwa dunia akan didominasi oleh media massa dan teknologi komunikasi khususnya televisi. Generasi masa depan akan membutuhkan pemahaman bagaimana media televisi ini mempengaruhi masyarakat.

D. Pembelajaran MediaLiteracy Televisi

Menurut Komaruddin, 2000 (dalam Dina, 2002), makna kata pembelajaran (learning) adalah suatu kegiatan untuk memperoleh pengetahuan atau pemahaman atau ketrampilan (termasuk penguasaan kognitif, afektif, dan psikomotor) melalui

(9)

studi, pengajaran atau pengalaman. Sedangkan kata belajar (learn) bermakna suatu upaya untuk memperoleh penguasaan kognitif, afektif, dan psikomotor melalui proses interaksi antara individu dan lingkungan. Atau dapat juga diartikan sebagai suatu tindakan atau pengalaman mengenai sesuatu yang dipelajari seseorang.

Dimyati & Mudjiono, 1999 dan Mukhtar & Samsu, 2001 (dalam Dina, 2002) menyatakan bahwa proses pembelajaran adalah dimana seorang guru dihadapkan pada siswa. Lebih tegas lagi yang digolongkan dalam proses pembelajaran adalah:

1. Kemampuan pengorganisasian siswa.

Sehubungan dengan pengorganisasian siswa, perilaku mengajar yang dilakukan oleh guru dalam hal ini adalah pembelajaran klasikal atau pembelajaran kelas yang berarti guru melaksanakan pengelolaan kelas agar tercipta kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Guru harus menggunakan teknik-teknik penguatan agar ketertiban belajar terwujud. Di samping pengelolaan kelas, pembelajaran kelas juga menuntut guru melaksanakan pengelolaan pembelajaran agar tercipta suasana senang dalam belajar, pemusatan perhatian pada bahan ajar terwujud dan juga mengikutsertakan siswa secara aktif.

2. Posisi guru dan siswa dalam pengolahan pesan.

Pada bagian ini menjelaskan bahwa guru harus berusaha menyampaikan apa yang disebut ”pesan”, dan siswa juga berusaha untuk memperolehnya. Dalam pengolahan pesan, perilaku pembelajaran dapat dilakukan dengan

(10)

menggunakan strategi ekspositori yaitu pembelajaran yang terpusat pada guru dan strategi heuristik yaitu pembelajaran yang terpusat pada siswa. Pada strategi heuristik atau pembelajaran yang terpusat pada siswa ini model pembelajaran yang biasa digunakan adalah inkuiri, yaitu dimana siswa harus mengolah pesan yang diterimanya sehingga dapat memperoleh pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan. Sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah.

3. Kemampuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.

Kemampuan yang akan dicapai dalam pembelajaran adalah tujuan pembelajaran yang menunjukkan hasil belajar dengan meningkatnya kemampuan mental apakah meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Pembelajaran media literacy diharapkan mencakup “segala cara mengkaji, mempelajari dan mengajarkan pada semua tingkat (dasar, menengah, tinggi, dewasa dan pendidikan seumur hidup) …dan dalam semua konteks, sejarah, kreativitas, penggunaan dan evaluasi media sebagai suatu ketrampilan teknis dan praktis sekaligus sebagai lahan yang ditempati oleh media dalam masyarakat, dampak sosialnya, implikasi komunikasi bermedia, partisipasi, modifikasi modus dari persepsi yang dihasilkannya, peran karya kreatif dan akses ke media” (UNESCO, 1979 dalam Nasution, 1994).

(11)

Tumbuhnya media literacy yakni kemampuan berinteraksi dengan media terutama televisi secara kritis pada anak melalui pembelajaran media literacy di sekolah ataupun di rumah merupakan salah satu tujuan dari pembelajaran media literacy televisi ini (Guntarto & Dina, 2002).

Guntarto & Dina (2002) menyatakan bahwa setelah siswa memperoleh pembelajaran mengenai media literacy dengan fokus media televisi, maka diharapkan para siswa mengetahui bagaimana berinteraksi dengan televisi secara kritis, memiliki sikap dan keinginan yang positif terhadap pola menonton televisi yang kritis, mengurangi jumlah jam menonton televisi dan dapat memilih acara televisi yang aman.

Pembelajaran media literacy lebih banyak dioptimalkan melalui jalur sekolah. Pendekatan yang digunakan dalam menyampaikan media literacy di sekolah umumnya adalah model inkuiri. Menurut Ennis (1962), model inkuiri merupakan sebuah kerangka kerja yang terstruktur yang akan membantu siswa mengenal isu dasar dan memberikan strategi-strategi untuk mengembangkan isi dari subjek tersebut. Model ini membantu untuk menstimulasi pertanyaan terbuka dan memberanikan siswa untuk ingin tahu secara intelektual tentang dunia. Model inkuiri ini secara khusus baik untuk pengenalan aktivitas media literacy dalam setting ruangan kelas. Sebagai contoh, seseorang dapat dengan mudah menggunakan model ini untuk film pendek yang bersifat provokatif, sebuah dokumenter televisi, atau kutipan dari sebuah video film bergambar yang mengandung sebuah dilema moral yang sangat kuat. Melalui pengalaman menarik yang menimbulkan sebuah rentang keseluruhan isu-isu, siswa diberi kesempatan

(12)

untuk melihat nilai-nilai dari kerangka kerja yang terstruktur tersebut untuk memfasilitasi penelitian yang terfokus dan kemampuan berpikir kritis.

Dalam memberikan pembelajaran media literacy televisi ini, peneliti mengacu kepada model disain pembelajaran melingkar (circular model) yang diajukan oleh Kemp, Morrison & Ross (Prawiradilaga, 2007) yaitu seperti gambar berikut ini:

Gambar 1. Model Disain Pembelajaran Melingkar (Circular Model)

Karakteristik Peserta Didik Sumber Belajar Masalah Pembelajaran Analisis Tugas Tujuan Pembelajaran Urutan Isi Strategi Pembelajaran Penyampaian Pembelajaran Instrumen Evaluasi PERENCANAAN REVISI EVALUASI FORMATIF PENGELOLAAN PROYEK LAYANAN PENDUKUNG EVALUASI SUMATIF

(13)

Model yang diajukan oleh Kemp, Morrison, & Ross ini memiliki disain pembelajaran yang dinamis, dapat dimulai dari mana saja, tidak perlu berurutan, sebagaimana disimbolkan oleh suatu lingkaran yang tidak memiliki garis putus (Prawiradilaga, 2007). Adapun rancangan pembelajaran media literacy televisi yang merupakan aplikasi dari gambar model Kemp, Morrison, & Ross tersebut adalah :

Tabel 1. Rancangan Pembelajaran Media Literacy Televisi (Aplikasi Model Disain Pembelajaran Melingkar)

Unsur Penjelasan Masalah pembelajaran Penilaian awal terhadap peserta didik

bahwa peserta didik ternyata tidak mengetahui mengenai media literacy. Karakteristik peserta didik Siswa SMPN 1 Medan kelas VIII

semester 2 yang memiliki jumlah jam menonton televisi lebih dari 2 jam dalam sehari.

Analisis tugas Diskusi tim, terjabar dalam rancangan pelaksanaan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran Agar siswa memiliki media literacy setelah mendapatkan pembelajaran. Urutan isi Rancangan pelaksanaan pembelajaran Strategi pembelajaran Model inkuiri melalui diskusi dan tanya

(14)

Penyampaian pembelajaran Melalui ceramah serta pemberian stimulan berupa tayangan televisi.

Instrumen evaluasi Kuesioner, untuk mengukur kemajuan peserta didik dan keberhasilan program.

Sumber Belajar Disesuaikan dengan rancangan

pelaksanaan pembelajaran.

Berdasarkan pemaparan di atas, pembelajaran media literacy televisi mencakup segala cara mengkaji, mempelajari dan mengajarkan pada semua tingkat (dasar, menengah, tinggi, dewasa dan pendidikan seumur hidup) serta dalam semua konteks, sejarah, kreativitas, penggunaan dan evaluasi media sebagai suatu ketrampilan teknis dan praktis untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan media terutama televisi secara kritis pada anak yang dilakukan di sekolah maupun di rumah. Pembelajaran media literacy televisi ini akan dijabarkan dalam rancangan pelaksanaan pembelajaran yang mengacu kepada model disain pembelajaran melingkar (circular model).

E. Tahap Perkembangan Remaja

Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 2004), remaja memiliki tugas-tugas perkembangan sepanjang rentang kehidupannya, yaitu mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, mencapai peran sosial pria dan wanita, menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif, mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang

(15)

bertanggung jawab, mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya, mempersiapkan karier ekonomi, mempersiapkan perkawinan dan keluarga, serta memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku.

Secara tradisional, masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan,” yaitu suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar (Hurlock, 2004). Remaja mengalami perkembangan kepribadian yang berada pada tahap kritis antara memiliki identitas yang jelas dengan kebingungan identitas. Diharapkan pada masa ini mereka sudah memiliki kemampuan untuk memahami kebutuhan, keinginan dan bantuan yang diharapkan untuk mengadaptasi tuntutan dari masyarakat (Soendjojo dalam Guntarto, 2004).

Perkembangan sosial yang penting dalam masa remaja meliputi meningkatnya pengaruh kelompok teman sebaya, pola perilaku sosial yang lebih matang, pengelompokan sosial baru dan nilai-nilai baru dalam pemilihan teman dan pemimpin, dan dalam dukungan sosial. Sementara perkembangan moralitas selama masa remaja terdiri dari mengganti konsep-konsep moral khusus dengan konsep-konsep moral tentang benar dan salah yang bersifat umum, membangun kode moral berdasarkan pada prinsip-prinsip moral individual, dan mengendalikan perilaku melalui perkembangan hati nurani (Hurlock, 2004).

Masa remaja merupakan suatu periode transisi yang paling penting dalam perkembangan berpikir kritis karena pada masa tersebut anak mengalami perubahan kognitif kapasitas dalam memproses informasi; lebih mendalam

(16)

mengenai isi pengetahuan; meningkatkan kemampuan untuk membentuk kombinasi pengetahuan yang baru, serta lebih baik dan spontan dalam menggunakan strategi (Santrock, 1996). Remaja mengembangkan kekuatan pikiran yang membuka pola kognitif yang baru dan horizon sosial. Pikiran mereka menjadi lebih abstrak, logis, dan idealistis, mampu menilai pikirannya sendiri, pikiran orang lain, dan apa yang orang lain pikirkan mengenai sesuatu, serta mudah untuk menginterpretasi dan memonitor dunia sosial (Santrock, 1999).

Menurut Piaget, kemampuan intelektual remaja sudah sempurna dan sudah masuk tahap operasional formal yaitu pada anak berumur 11-15 tahun. Kemampuan berpikir pada tahap operasional formal sudah mencapai kemampuan untuk berpikir lebih abstrak, idealistik, dan lebih logis daripada pada tahap operasional konkret. Piaget meyakini bahwa remaja mampu untuk memahami alasan yang bersifat hipotetif-deduktif (Santrock, 1999).

Tahap operasional formal merupakan suatu tahap perkembangan kognitif bagi para remaja, di mana idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman

(17)

masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka (Setiono, 2002).

Perkembangan kemampuan berpikir pada tahap operasional formal ini memberikan sesuatu yang baru, cara yang lebih fleksibel untuk memanipulasi informasi. Mereka dapat menggunakan simbol untuk simbol yang lainnya, misalnya menggunakan huruf X untuk angka 15 dan mereka dapat menemukan makna yang lebih dalam pada literatur, serta dapat berpikir mengenai apa yang mungkin terjadi, tidak hanya apa sedang terjadi dan dapat membentuk dan menguji hipotesis (Papalia, 2001).

Menurut Santrock (1996), tahap operasional formal ini terdiri dari dua fase, yaitu sebuah fase asimilasi di mana kenyataan menjadi faktor yang melimpah (remaja awal) dan fase akomodasi di mana keseimbangan intelektual disimpan kembali melalui sebuah penguatan pada tahap berpikir operasional formal (remaja menengah).

Pada masa remaja awal (prepuber) daya pikir anak SMP sudah mencapai tahap operasional formal. Pada usia ini secara mental anak telah dapat berpikir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak. Dengan kata lain, berpikir operasional formal lebih bersifat hipotetis dan abstrak serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berpikir konkrit. Implikasi pendidikan atau bimbingan dari periode berpikir operasi formal ini, adalah perlunya disiapkan program pendidikan atau bimbingan yang memfasilitasi perkembangan

(18)

kemampuan berpikir siswa. Upaya yang dapat dilakukan antara lain (1) penggunaan metode mengajar yang mendorong anak untuk aktif bertanya, mengemukakan gagasan, atau mengujicobakan suatu materi; dan (2) melakukan dialog, diskusi, atau curah pendapat dengan siswa tentang masalah-masalah sosial, baik itu menyangkut geografi, sejarah maupun ekonomi (Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2003).

F. Efektivitas Pembelajaran Media Literacy Televisi terhadap MediaLiteracy

pada Remaja

Menurut Soendjojo (dalam Guntarto, 2004), anak yang berusia 9 – 14 tahun (di mana remaja tergolong di dalamnya) memiliki cara berpikir dan pemahaman dalam menonton televisi yaitu sebagai berikut :

1. Minat terhadap televisi mulai menurun

2. Kemampuan memahami dan mengingat isi pokok acara lebih meningkat 3. Kemampuan menangkap isi cerita berkembang dengan baik

4. Memiliki kemampuan yang baik untuk menyatukan hubungan antar adegan 5. Perhatian pada iklan mulai menurun

6. Kurang percaya pada iklan

7. Lebih mampu mengingat dan memahami iklan 8. Memahami maksud dan persuasif dari iklan

(19)

Pembelajaran media literacy televisi dianggap penting bagi remaja mengingat segala hal negatif yang dapat ditimbulkan oleh media televisi bagi remaja terutama apabila remaja tidak cukup memiliki kemampuan untuk mengkritisi tayangan televisi. Cara berpikir dan pemahaman menonton televisi serta tahap perkembangan kognitif pada remaja cukup menandakan bahwa remaja perlu mendapatkan pembelajaran media literacy televisi yang mencakup segala cara mengkaji, mempelajari dan mengajarkan pada semua tingkat (dasar, menengah, tinggi, dewasa dan pendidikan seumur hidup) serta dalam semua konteks, sejarah, kreativitas, penggunaan dan evaluasi media sebagai suatu ketrampilan teknis dan praktis untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan media terutama televisi secara kritis pada anak yang dilakukan di sekolah maupun di rumah.

Pembelajaran media literacy televisi yang efektif akan meningkatkan media literacy bagi remaja. Melalui media literacy, remaja mampu mengakses, menganalisa, mengevaluasi, bahkan memproduksi media serta mampu mempelajari kemungkinan apa saja yang bisa muncul akibat kekuatan media serta dapat memanfaatkan media tersebut secara kritis dan bijak. Berikut ini bagan yang menggambarkan tentang pembelajaran media literacy televisi pada remaja :

(20)

Bagan 1. Pembelajaran Media Literacy Televisi pada Remaja

Penggunaan media seperti video, transparansi OHP, ataupun penayangan film dalam proses belajar mengajar, perlu diberikan sejumlah pedoman seperti mengkaji apakan tujuan instruksional dapat dicapai atau tidak pada akhir kegiatan. Untuk keperluan tersebut, kita harus mempunyai alat yang dapat mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran atau hasil belajar peserta didik. Alat pengukur ini dikembangkan sebelum naskah program media ditulis atau sebelum kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan. Alat ini dapat berupa tes, penugasan, ataupun daftar cek perilaku. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah media yang anda buat tersebut dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan atau

Cara berpikir dan pemahaman menonton televisi pada remaja

Literacy televisi

Pembelajaran media literacy televisi pada remaja

Efektif Tidak efektif

Media literacy meningkat Media literacy tidak meningkat Literacy

(21)

Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan dengan memberikan kuesioner yang menilai tentang media literacy yang dimiliki oleh remaja di mana hasil nilai kuesioner siswa yang mendapat pembelajaran media literacy televisi oleh fasilitator akan dibandingkan dengan hasil nilai kuesioner siswa yang tidak mendapatkan pembelajaran.

G. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan uraian teoritis yang telah dikemukakan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu pembelajaran media literacy televisi efektif terhadap media literacy pada remaja di mana media literacy siswa yang mendapatkan pembelajaran media literacy televisi lebih tinggi daripada siswa yang tidak mendapatkan pembelajaran.

Gambar

Gambar 1. Model Disain Pembelajaran Melingkar (Circular Model)
Tabel 1. Rancangan Pembelajaran Media Literacy Televisi   (Aplikasi Model Disain Pembelajaran Melingkar)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan Persamaan (3) dibuat kurva antara  .cos  terhadap sin  Dari perpotongan kurva linier pada sumbu vertikal diperoleh ukuran kristalit bahan dan dapat dihitung

PERANAN ASESMEN FORMATIF TERHADAP LEARNING PROGRESSION SISWA PADA KONSEP KLASIFIKASI TUMBUHAN BERBIJI DENGAN PENDEKATAN FENETIK.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Ketika pemilik persil baru yang mendapatkan peralihan hak kepemilikan persil dari jual beli dengan cara pelelangan tersebut bermaksud untuk mengajukan

Aset keuangan dan kewajiban keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam neraca konsolidasi jika, dan hanya jika, terdapat hak yang berkekuatan hukum

identifikasi semua persoalan terkait keberadaan kawasan kota lama, baik ditinjau dari tata. kota, fungsi, peruntukan dan kondisi fisik bangunan, termasuk juga integrasi

tebang memuat kayu sampai kembali ke Tempat Pengumpulan Kayu (TPn) dan membongkar kayu di TPn tersebut. Setiap lintasan forwarder diberi tanda dengan telah melintas 1 kali , 2

PAI\ITIA PENGAI}AAN BARANG/JASA TAHTN AFIGGARAN 2013 BALAI BESAR PENGAWAS OBAT DAIY MAKANAN DI