• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kandang Limun, Kota Bengkulu 38371, Telp. (0736) Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kandang Limun, Kota Bengkulu 38371, Telp. (0736) Abstrak"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

OPTIMASI BIAYA DAN WAKTU PROYEK KONSTRUKSI DENGAN

PENAMBAHAN JAM KERJA (LEMBUR) DIBANDINGKAN

DENGAN PENAMBAHANTENAGA KERJA

MENGGUNAKAN METODE TIME COST

TRADE OFF

Septian Pratama1), Muhammad Fauzi2), Samsul Bahri3) 1),2),3)

Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik UNIB, Jl. W.R. Supratman, Kandang Limun, Kota Bengkulu 38371, Telp. (0736)344087

e-mail : [email protected]

Abstrak

Proyek memiliki sumber daya yang saling berkaitan, diantaranya yaitu man, machine, money, material, method, and time apabila salah satu dari sumber daya ini mengalami gangguan dapat menyebabkan pelaksanaan sebuah proyek menjadi terhambat. Sumber daya ini harus sangat diperhatikan untuk memastikan semua sumber daya tersebut dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Tujuan penelitian adalah mengukur besarnya perubahan waktu dan biaya pelaksanaan proyek antara sebelum dan sesudah penambahan jam kerja dan penambahan tenaga kerja, serta mengukur durasi optimal untuk menyelesaikan proyek. Penelitian dimulai dengan mencari lintasan kritis menggunakan program Microsoft Project, selanjutnya item pekerjaan yang berada dalam lintasan kritis dilakukan percepatan menggunakan metode Time Cost Trade Off dengan melakukan penambahan jam kerja dan penambahan tenaga kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan melakukan penambahan jam kerja selama 48 jam menghasilkan efisiensi waktu sebesar 12,03% dan efisiensi biaya sebesar 0,674%. Penambahan tenaga kerja sebanyak 28 orang menghasilkan efisiensi waktu sebesar 11,28% dan efisiensi biaya sebesar 0,438%. Penambahan jam kerja menghasilkan efisiensi waktu dan biaya yang paling optimal dengan efisiensi waktu proyek sebanyak 16 hari (12,03%) dan efisiensi biaya proyek sebesar Rp. 33.868.045,11 (0,674%)

Kata kunci: penambahan jam kerja, penambahan tenaga kerja, lintasan kritis

Abstract

Projects have interralated resources, including man, machine, money, material, method, and time if one of these resources experiences an interruption it can cause the implementation of a project to be hampered. These resources must be considered to ensure all resources can run as planned. Delays in project work can be anticipated by accelerating the implementation, but must pay attention to cost factors. Incremental costs incurred are expected to be as minimum as possible and still pay attention to quality standards. Research began by looking for critical path using the Microsoft Project program, then the work item that is in the critical path is accelerated using the Time Cost Trade Off method by making additional working hours and adding labor. Results showed that adding 48 hours of work resulted in a time efficiency of 12.03% and cost efficiency of 0.674%. Addition of 28 workers resulted in time efficiency of 11.28% and cost efficiency of 0.438%. The addition of working hours resulted in the most optimal time and cost efficiency with 16 days project efficiency (12.03%) and project cost efficiency of Rp. 33,868,045.11 (0.674%).

(2)

PENDAHULUAN

Keterlambatan pekerjaan proyek dapat diantisipasi dengan melakukan percepatan dalam pelaksanaannya, namun harus tetap memperhatikan faktor biaya. Pertambahan biaya yang dikeluarkan diharapkan seminimum mungkin dan tetap memperhatikan standar mutu. Percepatan dapat dilakukan dengan mengadakan penambahan jam kerja, alat bantu yang lebih produktif, penambahan jumlah pekerja, menggunakan material yang lebih cepat pemasangannya, dan metode konstruksi yang lebih cepat (Frederika, 2010).

Penelitian ini membahas optimasi waktu proyek dan biaya proyek pada pelaksanaan Proyek Pembangunan Gedung Training Center yang terletak di Jalan Seruni Padang Harapan Kota Bengkulu dengan metode Time Cost Trade Off, serta membandingkan durasi optimal dan biaya optimal dari penambahan jam kerja (lembur) dan penambahan tenaga kerja menggunakan program Microsoft Project 2013.

Proyek Pembangunan Gedung Training Center dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki struktur dan volume pekerjaan yang cukup besar untuk skala proyek di Kota Bengkulu. Proyek ini terdiri dari 6 lantai dengan luas bangunan 2340 m2 dan nilai proyek sebesar Rp. 12.759.032.000,00 serta kemudahan dalam mendapatkan data yang dibutuhkan, sehingga dapat menghindarkan terhambatnya penelitian ini dikarenakan tidak adanya data untuk diolah.

Manajemen proyek

Siswanto (2007, dalam Novitasari, 2014) menjelaskan dalam manajemen proyek penentuan waktu penyelesaian kegiatan merupakan salah satu kegiatan awal yang sangat penting dalam proses perencanaan karena penentuan waktu tersebut akan menjadi dasar bagi perencana yang lain, yaitu:

1. Penjadwalan (scheduling), anggaran (budgeting), kebutuhan sumber daya manusia (manpower planning), dan sumber organisasi yang lain.

2. Pengendalian (controling).

Metode pertukaran waktu dan biaya (time cost trade off)

Priyo dan Sumanto (2016) menjelaskan di dalam analisa time cost trade off ini dengan berubahnya waktu penyelesaian proyek maka berubah pula biaya yang akan dikeluarkan, apabila waktu pelaksanaan dipercepat maka biaya langsung proyek akan bertambah dan biaya tidak langsung proyek akan berkurang. Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan percepatan penyelesaian waktu proyek, antara lain sebagai berikut :

a. Penambahan jumlah jam kerja (kerja lembur). b. Penambahan tenaga kerja

c. Pergantian atau penambahan peralatan

d. Pemilihan sumber daya manusia yang berkualitas e. Penggunaan metode konstruksi yang efektif Produktivitas pekerja

Produktivitas didefinisikan sebagai rasio antara output dan input, atau dapat dikatakan sebagai rasio antara hasil produksi dengan total sumber daya yang digunakan. Didalam proyek konstruksi, rasio dari produktivitas adalah nilai yang diukur selama proses konstruksi; yang dapat dipisahkan menjadi biaya tenaga kerja, biaya material, metode, dan alat. Sukses dan tidaknya proyek konstruksi tergantung pada efektivitas pengelolaan sumber daya. Pekerja

(3)

adalah salah satu sumberdaya yang tidak mudah dikelola. Upah yang diberikan sangat bervariasi tergantung pada kecakapan masing-masing pekerja karena tidak ada satupun pekerja yang sama karakteristiknya (Lumbanbatu dan Syahrizal, 2013).

Pelaksanaan penambahan jam kerja (lembur)

Lumbanbatu dan Syahrizal (2013) menjelaskan salah satu strategi untuk mempercepat waktu penyelesaian proyek adalah dengan menambah jam kerja (lembur) para pekerja. Penambahan dari jam kerja (lembur) ini sangat sering dilakukan dikarenakan dapat memberdayakan sumber daya yang sudah ada dilapangan dan cukup dengan mengefisienkan tambahan biaya yang akan dikeluarkan oleh kontraktor. Biasanya waktu kerja normal pekerja adalah 7 jam (dimulai pukul 08.00 dan selesai pukul 16.00 dengan satu jam istirahat), kemudian jam lembur dilakukan setelah jam kerja normal selesai. Indikasi dari penurunan produktivitas pekerja terhadap penambahan jam kerja (lembur) dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Sumber: Soeharto, 1997

Gambar 1. Grafik Indikasi Penurunan Produktivitas

Produktivitas (harian, tiap jam, harian sesudah crash), dan Crash duration dirumuskan sebagai berikut (Lumbanbatu dan Syahrizal, 2013) :

Produktivitas harian (A)

normal Durasi

Volume

A  (1)

Produktivitas tiap jam (B)

hari per kerja Jam Harian P. B (2)

Produktivitas harian sesudah crash (C)

C =(Jam kerja perhari×Produktivitas tiap jam)+(a×b×Produktivitas tiap jam) dengan:

a = lama penambahan jam kerja (lembur)

b = koefisien penurunan produktivitas akibat penambahan jam kerja (lembur) Nilai koefisien penurunan produktivitas tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1. Crash duration (D) crash sesudah Harian P. Volume D (3)

(4)

Tabel 1. Koefisien Penurunan Produktivitas Jam Lembur Penurunan Indeks Produktivitas Prestasi Kerja (%) 1 jam 0,1 90 2 jam 0,2 80 3 jam 0,3 70 4 jam 0,4 60

Pelaksanaan penambahan tenaga kerja

Dalam penambahan jumlah tenaga kerja perlu diperhatikan ruang kerja yang tersedia, apakah terlalu sesak atau cukup lapang, karena penambahan tenaga kerja pada suatu aktivitas tidak boleh mengganggu pemakaian tenaga kerja untuk aktivitas yang lain yang sedang berjalan pada saat yang sama. Selain itu, harus diimbangi pengawasan karena ruang kerja yang sesak dan pengawasan yang kurang akan menurunkan produktivitas pekerja. Perhitungan untuk penambahan tenaga kerja dirumuskan sebagai berikut ini (Priyo dan Sumanto, 2016) :

normal Durasi ) V x Pekerja K. ( normal kerja Tenaga J.  (4) dipercepat Durasi V) x Pekerja K. ( dipercepat kerja Tenaga J.  (5) Biaya tambahan pekerja (crash cost)

Penambahan waktu kerja akan menambah besar biaya untuk tenaga kerja dari biaya normal tenaga kerja. Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 102/MEN/VI/2004 pasal 3, pasal 7 dan pasal 11 diperhitungkan bahwa upah penambahan kerja bervariasi. Pada penambahan waktu kerja satu jam pertama, pekerja mendapatkan tambahan upah 1,5 kali upah perjam waktu normal dan pada penambahan jam kerja berikutnya maka pekerja akan mendapatkan 2 kali upah perjam waktu normal. Perhitungan untuk biaya tambahan pekerja dapat dirumuskan sebagai berikut ini (Lumbanbatu dan Syahrizal, 2013) :

Normal upah pekerja perhari (E)

E= P. Harian × Harga satuan upah pekerja (6)

Normal upah pekerja perjam (F)

F = P. Perjam × Harga satuan upah pekerja (7)

Biaya lembur pekerja (G)

G = 1,5 × upah sejam normal untuk penambahan jam kerja pertama + 2 × n × upah sejam normal untuk penambahan jam kerja berikutnya

dengan:

n = jumlah penambahan jam kerja (lembur) Crash cost pekerja perhari (H)

H = (Jam kerja/hari × Normal cost pekerja) + (n × Biaya lembur/jam) (8) Costslope (I) crash Durasi -normal Durasi cost Normal -cost Crash I (9)

(5)

Program Microsoft Project

Program Microsoft Project adalah sebuah aplikasi program pengolah lembar kerja untuk manajemen suatu proyek, pencarian data, serta pembuatan grafik. Beberapa jenis metode manajemen proyek yang dikenal saat ini, antara lain CPM (Critical Path Method), PERT (Program Evaluation Review Technique), dan Gantt Chart. Microsoft Project adalah penggabungan dari ketiganya. Microsoft project juga merupakan sistem perencanaan yang dapat membantu dalam menyusun penjadwalan (scheduling) suatu proyek atau rangkaian pekerjaan, serta membantu melakukan pencatatan dan pemantauan terhadap pengguna sumber daya (resource), baik yang berupa sumber daya manusia maupun yang berupa peralatan (Priyo dan Sartika, 2014).

Keuntungan Microsoft Project adalah dapat melakukan penjadwalan produksi secara efektif dan efesien, dapat diperoleh secara langsung informasi biaya selama periode, mudah dilakukan modifikasi dan penyusunan jadwal produksi yang tepat akan lebih mudah dihasilkan dalam waktu yang cepat (Galih, 2009).

METODE PENELITIAN Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Proyek Pembangunan Gedung Training Center yang terletak di Jalan Seruni Padang Harapan Kota Bengkulu. Proyek ini terdiri dari 6 lantai dengan luas bangunan, yaitu seluas 2340 m2 dan nilai proyek sebesar Rp. 12.759.032.000,00 (Dua belas milyar tujuh ratus lima puluh sembilan juta tiga puluh dua ribu rupiah).

Tahap dan prosedur penelitian

Suatu penelitian harus dilaksanakan secara sistematis dan dengan urutan yang jelas dan teratur, sehingga akan diperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan. Pelaksanaan penelitian ini dibagi dalam beberapa tahap yaitu :

1. Persiapan

Studi literatur dilakukan untuk memperdalam ilmu yang berkaitan dengan topik penelitian. Kemudian ditentukan rumusan masalah sampai dengan kompilasi data.

2. Pengumpulan Data

Mengumpulkan data proyek yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian. 3. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan program dan metode time cost trade off. 4. Kesimpulan

Kesimpulan disebut juga pengambilan keputusan. Data yang telah dianalisis dibuat suatu kesimpulan yang berhubungan dengan tujuan penelitian.

Pengumpulan data

Data yang diperlukan untuk penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait seperti kontraktor dan konsultan pengawas. Variabel yang sangat mempengaruhi dalam pengoptimasian waktu dan biaya pelaksanaan proyek ini adalah sebagai berikut :

1. Variabel Waktu 2. Variabel Biaya

(6)

Data-data yang dibutuhkan untuk penelitian ini, adalah : a. Rencana Anggaran Biaya (RAB)

b. Daftar harga satuan bahan dan upah tenaga kerja c. Time schedule (Kurva S)

d. Biaya tidak langsung Analisis data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode time cost trade off. Analisis data hanya dilakukan pada beberapa pekerjaan. Volume pekerjaan yang akan di analisis adalah volume pekerjaan yang terdapat pada rencana anggaran biaya (RAB).

Berikut ini adalah langkah-langkah yang akan dilakukan dalam analisis data, adalah sebagai berikut :

a. Mendapatkan lintasan kritis b. Menghitung resource c. Metode Time Cost Trade Off

Hasil dari analisis data tersebut adalah sebagai berikut :

1. Durasi optimal dan biaya optimal akibat penambahan jam kerja (lembur) dan penambahan tenaga kerja.

2. Perbandingan durasi optimal dan biaya optimal akibat penambahan jam kerja (lembur) dan penambahan tenaga kerja.

HASIL DAN PEMBAHASAN Data penelitian

Gambaran umum dari Proyek Pembangunan Gedung Training Center ini sebagai berikut : Pemilik Proyek : Politeknik Kesehatan Kemenkes Provinsi Bengkulu

Konsultan Pengawas : PT. J

Kontraktor : PT. B

Nilai Kontrak : Rp. 12.759.032.000,00 Waktu pelaksanaan : 196 Hari Kalender Rencana anggaran biaya (RAB)

Rencana anggaran biaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah anggaran biaya item pekerjaan pondasi bore pile, pekerjaan tanah dan pasir, pekerjaan struktur. Berdasarkan time schedule tiga item pekerjaan tersebut dijadwalkan selama 133 hari kalender. Anggaran biaya pekerjaan tersebut merupakan biaya langsung.

Berdasarkan hasil analisis dari time schedule dan RAB pekerjaan struktur yang diolah dengan menggunakan program Microsoft Project dapat diketahui item pekerjaan yang termasuk ke dalam lintasan kritis.

Biaya tidak langsung

Biaya tidak langsung pada penelitian ini merupakan salah satu variabel biaya yang akan digunakan dalam menentukan biaya total proyek untuk mendapatkan biaya dan waktu optimal. Biaya tidak langsung adalah segala sesuatu yang tidak merupakan komponen hasil akhir proyek, tetapi dibutuhkan dalam rangka proses pembangunan yang biasanya terjadi diluar proyek dan sering disebut dengan biaya tetap (fix cost).

(7)

Biaya tidak langsung diambil dari keuntungan yang didapatkan kontraktor. Berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 54 Tahun 2010 menyebutkan bahwa keuntungan dan biaya overhead yang dianggap wajar bagi penyedia maksimal 15% dari total biaya tidak termasuk PPN.

Penambahan jam kerja (lembur)

Dalam perencanaan penambahan jam kerja lembur memakai 9 jam kerja normal dan 1 jam istirahat (07.00-17.00), sedangkan kerja lembur dilakukan setelah jam kerja normal yaitu dari jam 19.00-22.00. Berdasarkan keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP.102/MEN/VI/2004 pasal 3, pasal 7 dan pasal 11 standar upah untuk lembur adalah :

1. Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (jam) dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.

2. Memberikan makanan dan minuman sekurang-kurangnya 1.400 kalori apabila kerja lembur dilakukan selama 3 jam atau lebih.

3. Untuk kerja lembur pertama harus dibayar sebesar 1,5 kali upah sejam.

4. Untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah sebesar 2 kali lipat upah satu jam.

Berikut ini adalah contoh perhitungan untuk mendapatkan upah lembur dan cost slope untuk item pekerjaan beton bore pile diameter 50 cm K225 lantai dasar dengan penambahan jam lembur:

a. Pekerjaan Beton Bore Pile D.50 cm K225 Lantai Dasar

Volume = 42,41 m3

Durasi normal = 21 hari

Durasi normal (jam) = 21 × 9 = 189 jam (jam) normal durasi volume = 189 42,41 =0,224 m3/jam Crash duration = jam) P.Tiap × b × (a + jam) P .Tiap × kerja (Jam volume 0,224) x 0,9 x (1 0,224) x (9 42,41  = 19,091 = 19 hari

Maka maksimal crash duration = 21 hari – 19 hari = 2 hari Durasi percepatan = 21 – 1 = 20 hari

Durasi percepatan (jam) = 20 9 = 180 jam Produktivitas jam dipercepat =

dipercepat durasi volume = 180 42,41 = 0,235 m3/jam Waktu lembur perhari=

0,224 0,224

-0,235 x9x0,9 = 0,405 jam/hari = 1 jam/hari

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP.102/MEN/VI/2004 pasal 11 menyebutkan untuk jam kerja lembur pertama harus dibayar upah sebesar 1,5 (satu setengah) kali upah satu jam, seperti yang dapat dilihat pada perhitungan berikut ini :

(8)

Tukang = (Rp. 11.666,67 × 1,5) = Rp. 17.500,00

Kepala Tukang = (Rp. 12.777,78 × 1,5) = Rp. 19.166,67 Mandor = (Rp. 12.777,78 × 1,5) = Rp. 19.166,67

Penambahan waktu lembur dilakukan 3 hari pertama selama pekerjaan berlangsung, berikut ini adalah perhitungan untuk upah jam lembur :

Tambahan waktu lembur = 1 jam/hari × 3 hari = 3 jam Pekerja = (5 × 3 jam × Rp. 14.166,67) = Rp. 212.500,00 Tukang = (2 × 3 jam × Rp. 17.500) = Rp. 105.500,00 Kepala Tukang = (1 × 3 jam × Rp. 19.166,67) = Rp. 57.500,00 Mandor = (1 × 3 jam × Rp. 19.166,67) = Rp. 57.500,00

Total Upah lembur = (212.500 + 105.500 + 57.500 + 57.500) = Rp. 432.500,00 Biaya Normal = Rp. 108.783.420,27

Biaya Percepatan = (108.783.420,27 + 432.500) = Rp. 109.215.920,27 Cost slope /hari =

percepatan durasi -normal durasi normal biay a -percepatan biay a = 20 -21 432.500,-Rp. = Rp. 432.500,00

Cost slope setelah percepatan = Rp. 432.500,- × 1 hari = Rp. 432.500,00

Berikut ini adalah contoh perhitungan biaya langsung, biaya tidak langsung, dan biaya total pada durasi 132 hari :

Biaya langsung = Biaya langsung (normal) + Cost slope = Rp. 4.667.913.674,35+ Rp.

100.000,-= Rp. 4.668.013.674,35 Biaya tidak langsung =

normal durasi

(normal) langsung tidak

biay a x durasi dipercepat

= (Rp 356.590.000/133) ×132 = Rp. 353.908.872,18

Biaya total = Rp. 4.668.013.674,35 + Rp. 353.908.872,18 = Rp. 5.021.922.546,53

Untuk mengukur persentase efisiensi waktu dan biaya proyek dilakukan perhitungan sebagai berikut :

1. Persentase efisiensi waktu proyek

Durasi (normal) pekerjaan = 133 hari Durasi (optimal) pekerjaan = 117 hari Persentase efisiensi waktu = 133 – 117 = 16 hari

=

133 16

× 100% = 12,03%

2. Persentase efisiensi biaya proyek T. Biaya (normal)=Rp. 5.024.503.674,35 T. Biaya (optimal)=Rp.4.990.635.629,24

Persentase efisiensi biaya= 5.024.503.674,35 – 4.990.635.629,24 = Rp. 33.868.045,11/Rp. 5.024.503.674,35 x 100% = 0,674% Penambahan tenaga kerja

Perhitungan penambahan tenaga kerja dilakukan dari kegiatan-kegiatan kritis yang akan dipercepat dan dihitung berdasarkan data biaya langsung pekerjaan sehingga diperoleh pertambahan biaya (cost slope) pekerjaan. Berikut ini adalah contoh perhitungan untuk mendapatkan cost slope untuk item pekerjaan beton bore pile diameter 50 cm K225 lantai dasar dengan penambahan tenaga kerja:

(9)

Volume = 42,41 m3 Durasi normal = 21 hari Koefisien tenaga kerja per 1 m3 adalah

Pekerja = 2,537 Oh Tukang = 1,121 Oh Kepala Tukang = 0,113 Oh Mandor = 0,133 Oh J. Tenaga kerja = normal Durasi ) x volume kerj a tenaga Koefisien ( Jumlah pekerja = 21 42,41) x 2,537 ( =5,124 orang = 5 orang

Jadi upah pekerja = 5 × Rp. 85.000,00 = Rp. 425.000,00 Jumlah tukang = 21 42,41) x 1.121 ( = 2,264 orang = 2 orang

Jadi upah tukang = 2 × Rp. 105.000,00 = Rp. 210.000,00 Jumlah kepala tukang =

21 42,41) x 0,113

( = 0,201 orang = 1 orang

Jadi upah kepala tukang =1× Rp. 115.000,00 = Rp. 115.000,00 Jumlah mandor = 21 42,41) x 0,133 ( =0,263 orang = 1 orang

Jadi upah mandor = 1 × Rp. 115.000,00 = Rp. 115.000,00

Jadi upah tenaga kerja normal selama 21 hari adalah sebagai berikut : (425.000 + 210.000 + 115.000 + 115.000) × 21 hari = Rp. 18.165.000,00

Pekerjaan ini akan dipercepat dengan durasi percepatan 1 hari, perhitungannya adalah sebagai berikut :

Volume = 42,41 m3

Crash Duration = 1 hari

Durasi dipercepat = 21-1 = 20 hari J. Tenaga kerja = dipercepat Durasi ) x volume kerj a tenaga Koefisien ( Jumlah pekerja = 20 42,41) x 2,537 ( =5,381 orang = 6 orang

Jadi upah pekerja= 6 × Rp. 85.000,00 = Rp. 510.000,00 Jumlah tukang = 20 42,41) x 1.121 ( =2,377 orang = 3 orang

Jadi upah tukang = 3 × Rp. 105.000,00 = Rp. 315.000,00 Jumlah kepala tukang =

20 42,41) x 0,113

( = 0,301 orang = 1 orang

Jadi upah kepala tukang =1xRp. 115.000,00 = Rp. 115.000,00 Jumlah mandor = 20 42,41) x 0,133 ( =0,315 orang = 1 orang

Jadi upah mandor = 1 × Rp. 115.000,00 = Rp. 115.000,00

Jadi upah tenaga kerja dipercepat selama 20 hari adalah sebagai berikut : (510.000 + 315.000 + 115.000 + 115.000) × 20 hari = Rp. 21.100.000,00 Cost slope /hari =

percepatan durasi -normal durasi normal biay a -percepatan biay a = 20 -21 2.935.000 = Rp. 2.935.000,00

Cost slope setelah percepatan = Rp. 2.935.000 × 1 hari = Rp. 2.935.000,00 Biaya langsung = Biaya langsung (normal) + Cost slope

= Rp. 4.667.913.674,35 + Rp. 135.000 = Rp. 4.668.048.674,35

(10)

Biaya tidak langsung = normal durasi (normal) langsung tidak

biay a x durasi dipercepat

=(Rp 356.590.000/133)×132 = Rp. 353.908.872,18

Biaya total= Rp. 4.668.048.674,35 + Rp. 353.908.872,18 = Rp. 5.021.957.546,53

Untuk mengukur persentase efisiensi waktu dan biaya proyek dilakukan perhitungan sebagai berikut :

1. Persentase efisiensi waktu proyek

Durasi (normal) pekerjaan = 133 hari Durasi (optimal) pekerjaan = 118 hari Persentase efisiensi biaya= 133 – 118 = 15 hari

= 133 118 -133 × 100% = 11,28% 2. Persentase efisiensi biaya proyek T. Biaya (normal)=Rp. 5.024.503.674,35 T. Biaya (optimal)=Rp.5.002.501.757,06

Persentase efisiensi biaya= 5.024.503.674,35 – 5.002.501.757,06 = Rp. 22.001.917,29/ Rp. 5.024.503.674,35x 100% = 0,438%

Perbandingan antara biaya total jam lembur dengan penambahan tenaga kerja

1. Perbandingan efisiensi waktu penambahan jam kerja (lembur) dengan penambahan tenaga kerja

-Durasi optimal penambahan jam kerja (lembur) = 117 hari -Durasi optimal penambahan tenaga kerja = 118 hari

-Durasi normal = 133 hari

Perbandingan efisiensi waktu =

133 117

-118 x 100% = 0.752%

2. Perbandingan efisiensi biaya penambahan jam kerja (lembur) dengan penambahan tenaga kerja

-Biaya optimal penambahan jam kerja (lembur) = Rp. 4.990.635.629,24 -Biaya optimal penambahan tenaga kerja = Rp. 5.002.501.757,06

-Biaya normal = Rp. 5.024.503.674,35

Perbandingan efisiensi biaya =. 5.002.501.757,06 - 4.990.635.629,24 =11.866.127,82/ 5.024.503.674,35*100%

= 0,236% KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Penambahan jam kerja (lembur) untuk item pekerjaan struktur menghasilkan efisiensi durasi

pekerjaan sebesar 16 hari. Sebelum dilakukan penambahan jam kerja (lembur) durasi pekerjaannya adalah 133 hari setelah dilakukan penambahan jam kerja (lembur) durasi pekerjaan menjadi 117 hari. Terjadi efisiensi waktu sebesar 12,03% dan efisiensi biaya sebesar Rp. 33.868.045,11 (0.674 %).

2. Penambahan tenaga kerja untuk item pekerjaan struktur menghasilkan efisiensi durasi pekerjaan sebesar 15 hari. Sebelum dilakukan penambahan tenaga kerja durasi pekerjaannya adalah 133 hari setelah dilakukan penambahan tenaga kerja durasi pekerjaan menjadi 118 hari. Terjadi efisiensi waktu sebesar 11,28% dan efisiensi biaya sebesar Rp. 22.001.917,29 (0.438 %).

(11)

3. Durasi optimal untuk menyelesaikan Proyek Pembangunan Gedung Training Center adalah dengan penambahan jam kerja (lembur) sehingga waktu pelaksanaanya menjadi 180 hari kalender. Penambahan jam kerja (lembur) menghasilkan efisiensi waktu dan biaya yang paling optimal dengan efisiensi waktu proyek sebanyak 16 hari (12,03%) dan efisiensi biaya proyek sebesar Rp. 33.868.045,11 (0,674%)

DAFTARPUSTAKA

Frederika, A, 2010. Analisis Percepatan Pelaksanaan Dengan Menambah Jam Kerja Optimum pada Proyek Konstruksi. Jurnal Ilmiah Teknik Sipil. Vol. 14 No.2. Universitas Udayana, Denpasar.

Galih, H, 2009. Microsoft Office Project. http: // www. google. co. id/ amp/s/ haryogalih.wordpress.com/Microsoft-office-project. Diakses 26 Oktober 2018.

Harsanto, B, 2011. Manajemen Proyek Menggunakan Microsoft Office Project. Pelatihan Manajemen Proyek Pusat Pendidikan dan Pelatihan Setneg. Jakarta.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. Nomor Kep.102/Men/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur.

Lumbanbatu, J, & Syahrizal, 2013. Analisis Percepatan Waktu Proyek dengan Tambahan Biaya yang Optimum. Jurnal Ilmiah Teknik Sipil. Vol. 2 No. 3. Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara, Medan.

Novitasari, V, 2014. Penambahan Jam Kerja Pada Proyek Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Belitung dengan Time Cost Trade Off . Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.

Peraturan Presiden Republik Indonesia. No. 54 Tahun 2010. Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Priyo, M, & Sartika, 2014. Analisa Waktu Pelaksanaan Proyek Konstruksi Dengan Variasi Penambahan Jam Kerja (Lembur). Jurnal Ilmiah Semesta Teknika. Vol. 17 No.2. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.

Priyo, M, & Sumanto, 2016. Analisis Percepatan Waktu Dan Biaya Proyek Konstruksi Dengan Penambahan Jam Kerja (Lembur) Menggunakan Metode Time Cost Trade Off. Jurnal Ilmiah Semesta Teknika. Vol. 19 No.1. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.

Gambar

Tabel 1. Koefisien Penurunan Produktivitas  Jam  Lembur  Penurunan Indeks  Produktivitas  Prestasi Kerja (%)  1 jam  0,1  90  2 jam  0,2  80  3 jam  0,3  70  4 jam  0,4  60

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak merupakan inti sari skripsi yang disajikan secara padat yang isinya mencakup latar belakang, masalah yang diteliti, tujuan penelitian,

Penelitian ini menggunakan data simulatif yang kemudian akan diolah menggunakan software SPSS versi 16.0 untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap

Berdasar latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor Pendukung Apa Saja Yang Mempengaruhi Proses Asimilasi Budaya Masyarakat

Pertimbangan mengisi 1/3 bagian tube atas dengan pre-reformer untuk top fired steam reformer adalah pada 1/3 bagian tube atas reaksi belum terlalu banyak terjadi karena

Salah satu alasan dilakukannya penelitian ini adalah fungsi-fungsi yang ditemukan dalam teks Syair Orang Berbuat Amal memiliki kesesuaian dengan lingkaran fungsi

Penggunaan kedua teknologi tersebut, baik fixed- wimax maupun fiber-optic , baik yang telah diimplementasikan maupun yang sedang dalam perencanaan dalam rangka pembangunan

1) Membaca transkrip wawancara yang telah dibuat secara berulang-ulang, serta menyadari makna yang ada dalam ungkapan tersebut. 2) Meninjau kembali hasil wawancara

Bimbingan (1) 1 Ketepatan membaca berat benda pada alat timbangan sesuai berat benda Semua berat benda dibaca sesuai ukuran dengan benar, tanpa bantuan guru. Ada beberapa berat