UNIVERS'IAS
GUNADARMA
SK. No. 92DlKTl/Kep/1996
Fakultas llmu Komputer, Teknologi lndustri, Ekonomi, Teknik Sipil & Perencanaan, Psikologi, Sastra
Program Diploma (D3) Manajemen lnlormatika, Teknik Komputer, Akuntansi Komputer, Manajemen Keuangan dan Pemasaran Terakreditasi Program Sarjana (Sl) Sistem lnlormasi, Sistem Komputer, Teknik lnformatika, Teknik Elektro, Teknik Mesin,
Teknik lndustri, Akuntansi, Manajemen, Arsitektur, Teknik Sipil, Psikologi,'Sastra lnggfis Terakreditasi Program Magister (S2) Sistem lnJormasi, Manajemen, Teknik Elekro, Sastra lnggris, Psikologi, Teknik Sipil Program Dohor (S3) llmu Ekonomi, Teknologi lnrormasi / llmu Komputer.
KONTRAI( PENELITIAN
Penelitian
Produk TerapanTahun Anggaran 2OL7 Nomor:
014.8
ILPlllGlV
I 2OL7Pada hari ini Jumat tanggal Dua Puluh Enam bulan Mei tahun Dua Ribu Tujuh Belas, kami yang bertandatangandibawah ini :
1. Dr.
Ir.
Hotniar Siringoringo,M.Sc
: Ketua
Lembaga Penelitian,
Universitas Gunadarma, dalam hal ini bertindak untuk danatas
nama
Universitas
Gunadarma, yang berkedudukandi
Jl.
Margonda Raya No. 100 Pondok Cina, Depok, untuk selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA;2. Komsi
Koranti
: Dosen Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma, dalamhal
ini
bertindak sebagaipengusul
dan
Ketua Pelaksana
PenelitianTahun
Anggaran2Ol7 untuk
selanjutnyadisebut PIHAK KEDUA.
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA, secara bersama-sama sepakat mengikatkan diri
dalam suatu Kontrak Penelitlan Produk
TerapanTahun
Anggaran 2OL7 denganketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut: Pasal 1
Ruang Lingkup Kontrak
PIHAK
PERTAMA memberi pekerjaan kepadaPIHAK
KEDUA danPIHAK
KEDUAmenerima pekerjaan
tersebut
dari
PIHAK
PERTAMA,untuk
melaksanakan dan menyelesaikan Penelitian Produk Terapan Tahun Anggaran 2Ot7 dengan judul "strategiPengembangan Desa
lllisata
dalamMencapai
Keunggulan Bersaingdi
KabupatenSemarang: Pendekatan EFAS, IFAS, IE dan Benchmarking".
Pasal 2
Dana Penelitian
(l)
Sesarnya danauntuk
melaksanakan penelitian denganjudul
sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 adalah sebesar Rp. 72.5OO.OOO,- (Tujuh Puluh DuaJuta
Lima Ratus Ribu Rupiah) sudah termasuk pajak.(2) Oana Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan,
Kementerian
Riset,
Teknologi
dan
Pendidikan
Tinggr Nomor SP
DIPA-O42.06. l. 4OL 516 I 2Ot7, tanggal 06 Desember 20 1 6.
ldari 6
Jl. Salemba 53, Jakarta Pusat 10440 Telp. (021) 3906518, Jl. Kenari 13 Jakarta Pusat 10430 Telp. (021) 330220, 330226 Jl. 100 Depok 164247 78881 1 1 2, 7863788, Jl. Akses Kelapa Dua Telp. (021 ) 871 9525, 8727541, Email :
Pasal 3
Tata
Cara Pembayaran DanaPenelitian
(1)
PIHAK
PERTAMA akan membayarkan Dana Penelitian kepadaPIHAK
KEDUAsecara
bertahap
denganketentuan
sebagai berikut:a.
PembayaranTahap
Pertama sebesar7Oo dari total dana penelitian yaitu
7O%ox72.5OO.O0O
=
Rp.
5O.75O.OOO,-(Lima
Prtluh
Juta.
I\tjuh
Ratus
Lirna Prtluh
Ribu Rupiah),
yang akan dibayarkan olehPIHAK
PERTAMAkepada
PIHAK
KTDUA setelah
PARAPIHAK membuat
dan melengkapi
rarlcang€rn
pelaksanaan
penelitian
yang
memuat
judul
penelitian,pendekatan
dan
metode penelitian
yang
digunakan,
data yang
akandiperoleh,
anggaranyang
akan digunakan, dan
tujuan
penelitian
berupaluaran
yang
akan dicapai.b.
PembayaranTahap Kedua
sebesar30%
dari total
dana penelitian
yaitu 3Oo/ox72.5OO.OOO =Rp.
21.75O.OOO,-(Dua
hrluh
ScrtuJtttg
T\tiuh
RrztusLltns.
hllun.
Rtbrt
Ruplah), dibayarkan oleh PIHAK PERTAMA
kepadaPIHAN
XTDUA
setelah
PIHAK
KTDUA mengunggah
ke
SIMLITABMASyaitu laporan
Kemajuan Pelaksanaan Penelitian dan Catatan Harian.c.
Biaya tambahan dibayarkan kepada PIHAK KEDUA bersamaan
denganpembayaran Tahap Kedua
denganmelampirkan
Daftar
luaran penelitian
yang sudah
di
validasi oleh PIHAK PERTAMA(2)
Dana Penelitian
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)akan disalurkan
olehPIHAK PERTAMA kepada
PIHAII
I{EDUA ke rekening sebagaiberikut:
Nama NomorRekening Nama
Bank
:
Komsi Koranti:
502.20.01180.4:
Bank DKI(3)
PIHAK
PERTAIIIA
tidak
bertanggungjawab atas
keterlambatan dan/atau
tidak terbayarnya sejumlah dana
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1) yangdisebabkan
karena
kesalahan
PIIIAK
I(EDUA
dalam
menyampaikan
datapeneliti,
nelmabank,
nomor rekening, dan persyaratan lainnya yang tidak
sesuai dengan ketentuan.
Pasal
4
Jangka
Waktu
Jangka
waktu
pelaksanaan penelitian
sebagaimanadimaksud dalam
Pasal
1sampai selesai LOOo/o, adalah
terhitung
sejak Tanggal3
Aprtl 2Ol7
dan berakhir
padaTanggal 31 Oktober
2Ol7
Pasal 5
Targct
Luaran{1)
PIHN(
KEDUA berkewajiban
untuk
mencapaitarget
luaran
wajib
penelitianberupa,
(1). Mapping daya saing pariwisata
pada
Desa Wisatadi
Kabupaten Semarang {2}. JURNAT ofTourism
Management Perspectives-Elsevier l2OL7: draft)(3).
E-JURNAL:
Agribisnis
dan Agrowisata' [SSN: 23OL-6523 l2OL7: draft) {4}. SEMINAR INTERNASIONAL:
2nd International
Conferenceon Tourism
/
INTACT,
Yoryakarta,
(2Ol7l.
(2)
pIHAK
KEDUAdiharapkan
dapat mencapai targetluaran
tambahan penelitian berupa,(1.) Tidak ada
(3)
PIHAK
KEDUA
berkewajibanuntu k
melaporkan perkembangan
pencapaian targetluaran
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) kepada PIHAKPERTAMA-Pasal 6
Hak
danKewajiban
ParaPihak
(1) Hak dan Kewajiban PIHAK PERTAMA:
a.
PIHAI( PTRTAIIA
berhakuntuk mendapatkan
dari PIHAI(
KEDUAluaran
penelitian sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 7;b.
PIIIAK
PERTAMA berkewajiban
untuk
memberikan
dana
penelitiankepada
PIHAK
KEDUA dengan
jumlah
sebagaimanadimaksud
dalamPasal
2
ayat (1) dan dengantata
cara pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.(2) Hak dan Kewajiban PIHAK KTDUA:
a. PIHAIT
KTDUA berhak
menerimadana penelitian dari
PIIIAK PERTAMA
dengan
jumlah
sebagaimana dimaksud dalarn Pasal2 ayat (1);b. PIHAK
KTDUA berkewajiban menyerahkan kepada
PIHAK
PERTAMAluaran Penelitlan Produk
Terapan dengan judulStrategl
PengembanganDesa
Wisata
dalam
Meacapal
Keunggulan
Bersalng
di
Kabupaten
Semarang: Pendekatan
EFAS, IFAS,IE daa Benchmarklng
dan catatanharian pelaksanaan Pene litian ;
c. PIHAK
KEDUA berkewajibanuntuk
bertanggungjawab dalam penggunaandana penelitian yang diterimanya sesuai
denganproposal kegiatan
yangtelah
disetujui;
d.
PIHAK
KEDUA
berkewajiban
untuk
menyampaikan
kepada
PIHAK PERTAMAlaporan
penggunaan dana sebagaimanadimaksud
dalam Pasal 7.Pasal
7
Laporan Pelaksanaan
Penelltlan
(U p
IHAI(
KEDUA berkewajibanuntuk menyampaikan kepada
PIHAK
PERTAMAberupa
laporan kemajuan dan laporan
akhir mengenai
luaran penelitian
danrekapitulasi
penggunaan anggaran sesuai denganjumlah
dana yang diberikanoleh
PIHAII
PERTAMA yangterslrsun
secara sistematis sesuai pedoman yangditentukan
oleh PIHAK PERTAMA.(2) P
IIIAK
I(EDUA berkewajiban
mengunggahLaporan Kemajuan
dan Catatan
harian
penelitian yangtelah
dilaksanakanke
SIMLITABMASpaling lambat
3OArustus
2O17.(3)P
IIIAK
NEDUA berkewajiban menyerahkanHardapg
l.aporan
Kemajuan danRekapihrlasi
PenggunaanAnggaran
70olokepada
PIHAK
PERTAMA'
palinBlambat 8
Seotembet
2OLT(4lP
IIIAK
IIEDUA
berkewajiban mengunggah Laporan
Akhir,
Capaian
Hasil,Poster,
Artikel llmiah
dan profrl pada SIMLITABMAS palinglambat 31 Oktober
2O17 (baei penelitian
tahun
terakhir).1.
2.
(5) Lap
oran
hasil
Penelitian
sebagaimantersebut
padaayat
(4)harus
memenuhiketentuan
sebagaiberikut:
a.
Bentuk/ukuran
kertas A4;b.
Di bawah bagian coverditulis:
Dibiayai oleh:
Direktorat
Riset dan Pengabdian MasyarakatDirektorat
Jenderal Penguatan Riset dan PengembanganKementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Sesuai dengan Kontrak Penelitian
Nomor: O42l I Kg I RM I 20 17
Pasal 8
Monitoring
dan EvaluasiPIHAK
PERTAMA
dalam rangka
pengawasan
akan
melakukan
Monitoring danEvaluasiinternal
terhadapkemajuan
pelaksanaan PenelitianTahun
Anggaran2Ol7
rrri sebelum pelaksanaanMonitoring dan
Evaluasieksternal oleh
DirektoratRiset
dan
Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan
Riset dan
Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.Pasal 9
Penllaian
LuaranPenilaian luaran
p enelitiandilaku
kan
oleh Kemite
Penilai/Reuieuter Luaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Apabila
dalam penilaian luaran
terdapatluaran
tambahanyang tidak
tercapaimaka
dana
tambahan yang sudah diterima oleh
peneliti
harus
disetorkankembali ke
kas
negara.Pasal 1O
Perubahan Susunan
Tlm
Pelaksaaadan
Substansl PelaksanaanPerubahan terhadap susunan
tim
pelaksana dan substansi pelaksanaan Penelitianini
dapat dibenarkan
apabila telah
mendapatpersetujuan
tertulis dari
Direktur
Riset
dan
Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset
danPengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
Pasal 11
Penggantl an Ketu a"Pelaksana
(1)
Apabila
PIIIAI(
IITDUA selaku
ketua pelaksana tidak d
apat melaksa nakan Pe.nelitianini,
maka
PIIIAII
KEDUA
weiib
mengusulkan pengganti
ketua pelaksanayangmerupakan
salah satu anggotatim
kepadaPIIIAK PERTAilA.
(2)
Apabila
PIIIAK
I(EDUA
tidak
dapat
melaksanakan
tugas
dan tidak
adapengganti
ketua
sebagaimanadimaksud pada
ayat(l),
maka
PIIIAI(
NTDUAhan
s
mengembalikan
dana
penelitian kepada
PIIIAK
PTRTAMA
yangselanjutnya disetor ke Kas Negara.
(3)
Bukti
setor
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
l2l
disimpan
oleh
PIHAII
PERTAUA.
Pasal 12
Sanksi
(1)
Apabila sampai
dengan
batas
waktu yang telah
ditetapkan
untuk
melaksanakan Penelitian
ini
telah
berakhir, narnun PIHAK KEDUA
belummenyelesaikan tugasnya, terlambat mengirim laporan Kemajuan, dan/atau
terlambat mengirim laporan
akhir,
maka
PIHAII
KEDUA dikenakan
sanksiadministratif berupa penghentian
pembayarandan
tidak
dapat
mengajukanproposal
penelitian
dalamkurun waktu
duatahun berturut-turut.
(21
Apabila
PIIIAK
XEDUA
tidak
dapat
mencapai
target
luaran
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
5,
maka kekurangan capaian target
luaran
tersebut
akan dicatat
sebagaihutang PIHAII I(EDUA
kepadaPIHAI(
PTRTAII,,A yangapabila
tidak
dapat dilunasi
oleh
PIIIAI(
KEDUA,
akan
berdampak
padakesempatan
PIHAK
KEDUAuntuk
mendapatkan
pendanaanpenelitian
atau hibahlainnya
yang dikelola olehPIHAII
PERTAMA.Pasal 13
Pembatalan PerJanJian
(1)
Apabila dikemudian
hari
terhadap
judul
Penelitian
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal 1 ditemukan
adanyaduplikasi
dengan Penelitianlain
dan/atau
ditemukan adanya ketidak
jujuran, itikad tidak
baik,
danlatau
perbuatanyang
tidak
sesuai dengan kaidah ilmiah
dari
atau dilakukan
oleh PIHAK
KEDUA,
maka perjanjian
Penelitianini
dinyatakan batal dan PIHAI(
KTDUAwajib
mengembalikan dana
penelitian
yang telah diterima kepada
PIHN(
PERTAMA yang selanjutnya akan disetor ke Kas Negara.
(21
Bukti
setor
sebagaimana dimaksud
pada
ayat
(1) disimpan oleh
PIHAK
PERTAMA
Pasal 14
PaJak-PaJak
Hal-hal dan/atau
segala sesuatu yang berkenaan dengan kewajibanpajak
berupaPPN
dan/atau
PPh menjadi tanggungjawab PIHAK
I(.EDUA danharus
dibayarkanoleh PIHAII IITDUA ke kantor
pelayananpajak
setempat sesuaiketentuan
yangberlaku.
Pasd
15Peralataq dan/alat Hasll Penelltian
Hasil Pelaksanaan Penelitian
ini
yang berupa peralatandan/atau alat
yang dibelidari
pelaksanaan Penelitianini
adalahmilik
Negara yElng dapatdihibahkan
kepada Universitas Gunadarma sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pasal 16
Penyclesal,an Scagke
ta
Apabila terjadi perselisihan antara
PIIIAII PERTAMA
dan
PIIIAK
IIEDUA
dalampelaksanaan
perjanjian
ini
akan dilakukan
penyelesaian secara musyawaratr danmufakat, dan apabila
tidak
tercapai penyelesaian secara musyawarah dan mufakat maka penyelesaiandilakukan
melalui proses hukum.Pasal 17
Laln-lain
(1)
PIHAK KEDUA menjamin bahwa penelitian
denganjudul
tersebut
di
atasbelum pernah dibiayai
dan/atau
diikutsertakan pada
Pendanaan Penelitianlainnya,
baik yang
diselenggarakan olehinstansi,
lembaga, perusahaan atauyayasan, baik
di
dalammaupun
di luar negeri.(2) Segala sesuatu yang belum
cukup
diatur
dalam Perjanjianini
dan dipandangperlu diatur lebih
lanjut
dan dilakukan
perubahan oleh PARAPIHAK,
makaperubahan-perubahannya
akan diatur
dalam
perjanjian
tambahan
atauperubahan yang merupakan satu kesatuan dan bagian yang
tidak
terpisahkan dari Perjanjianini.
Perjanjian ini
dibuat dan
ditandatangani oleh PARA PIHAK padahari
dan tanggaltersebut
di
atas,
dibuat dalam rangkap
2
(dua)dan bermeterai cukup
sesuaidengan
ketentuan
yang berlaku, yang
masing-masing
mempunyai
kekuatanhukum yang sama.
PIHAK KEDUA
.
Dr.
Ir.
Hotniar Siringoringo,
M.ScNIDN: O3O9116501 NIDN: 0303066601
engetahui
PIHAK PERTAMA
Msc., PhD NIDN: 01b5065701
571/Manajemen
USULAN
PENELITIAN PRODUK TERAPAN
STRATEGI PENGEMBANGAN DESA WISATA
DALAM MENCAPAI KEUNGGULAN BERSAING
DI KABUPATEN SEMARANG: PENDEKATAN
EFAS, IFAS, IE DAN BENCHMARKING
TIM PENGUSUL
Ketua : Dr. Komsi Koranti MM (0303066601) Anggota : Sriyanto SE., MM (0310026806)
UNIVERSITAS GUNADARMA Mei 2016
iii DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHANPENELITIAN HIBAH BERSAING ii
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM iii
DAFTAR ISI v
RINGKASAN 1
BAB 1. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Penelitian 1
1.2 Tujuan Penelitian 3
1.3 Luaran Penelitian 4
1.4 Urgensi (Keutamaan) Penelitian 5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pariwisata 6
2.1.1 Pengertian Pariwisata 6
2.1.2 Desa Wisata 6
2.1.3 Permasalahan Desa Wisata 7
2.1.4 Jenis Pariwisata 7
2.1.5 Penawaran Pariwisata 7
2.1.6 Pengembangan Pariwisata 7
2.1.7 Strategi Pengembangan 8
2.2 Penelitian Terdahulu 8
2.3 Road Map Penelitian 9
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Metode Pengumpulan Data 10
3.2 Teknik penarikan sampel 10
3.3 Metode Analisis Data 10
3.4 Kegiatan pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Kegiatan pelaksanaan Penelitian Tahun Pertama 11 3.4.2 Kegiatan pelaksanaan Penelitian Tahun Kedua 14 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1 Anggaran Biaya 16
4.2 Jadwal Penelitian 16
REFERENSI 16
LAMPIRAN
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian 18 Lampiran 2. Dukungan Sarana dan Prasarana Penelitian 23 Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas 24 Lampiran 4. Biodata Ketua dan Anggota Tim Peneliti 25
1 RINGKASAN
Kabupaten Semarang merupakan daerah yang kaya akan objek wisata, dimana sebagian besar merupakan desa wisata. Pertumbuhan jumlah wisatawan empat tahun terakhir tidak stabil dan cenderung mengalami penurunan. Untuk menjawab permasalahan tersebut maka perlu adanya penelitian ini, yang direncanakan dilakukan selama dua tahun secara berkesinambungan. Tujuan penelitian yang ingin dicapai pada tahun pertama adalah untuk penyusunan model strategi pengembangan yang tepat untuk desa wisata di Kabupaten Semarang. Selanjutnya tahun kedua akan dilakukan analisis terhadap perbedaan pada minat wisatawan, dengan implementasi model strategi pengembangan yang dihasilkan tahun pertama.
Penelitian ini direncanakan akan menghasilkan luaran berupa: Model strategi pengembangan desa wisata di Kabupaten Semarang, Publikasi ke seminar internasional dan nasional, jurnal Internasional, Pembuatan Buku dan HKI.
Metode penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif kualitatif. Matriks IFAS dan EFA digunakan untuk mengevaluasi faktor eksternal dan internal, sedangkan untuk mengetahui posisi desa wisata saat ini dan masa yang akan datang akan digunakan matriks I-E. Selanjutnya dalam untuk mengetahui keunggulan bersaing dari kompetitor, dilakukan analisis
Benchmarking. Hasil dari analisis tersebut akan digunakan sebagai dasar penyusunan model strategi pengembangan desa wisata di Kabupaten Semarang. Analisis kuantitatif penelitian dilakukan dengan menggunakan Paired Sampel T-testdan T-test , untuk mengukur perbedaan minat wisatawan terkait dengan treatment yang dilakukan.
Data penelitian terdiri dari data primer maupun sekunder. Data dan informasi yang dibutuhkan, dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan penyebaran kuesioner untuk menggali informasi dari masyarakat dan para pihak yang berpartisipasi dalam pengembangan desa wisata.Teknik penarikan sampel penelitian ini digunakan Area Sampling (Multistage Sample), yaitu dari wilayah Kabupaten Semarang kemudian dipilih secara acak desa wisata di Kecamatan Getasan sebagai tempat pengambilan sampel. Pada penelitian ini direncanakan jumlah sampel adalah 200 dengan 50 cadangan untuk mengantisipasi adanya kecenderungan kuesioner yang tidak kembali atau tidak valid.
Kata kunci : desa wisata, pengembangan, strategi
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
Sektor pariwisata merupakan salah satu pilar ekonomi yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai sektor unggulan, pariwisata telah memberi dampak positif terhadap perolehan devisa dan penyediaan lapangan kerja. Pariwisata juga mampu memberikan multiplier efek terhadap perekonomian daerah berupa sumbangan terhadap Pendapatan Asli Daerah, penciptaan kesempatan usaha dan lapangan kerja.
Desa Wisata merupakan suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Kriteria desa wisata menurut Direktorat Jenderal pengembangan Destinasi Pariwisata (2011) adalah: 1) memiliki potensi pariwisata dan sudah dikunjungi wisatawan 2) Terdapat masyarakat miskin yang tinggal di desa tersebut 3) Sudah memiliki aktivitas kepariwisataan 4) Diprioritaskan desa telah memiliki Rencana
2 Pembangunan jangka menengah 5) Diprioritaskan desa telah melaksanakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri dari sektor lain.
Pengembangan desa wisata harus merupakan pengembangan yang terencana secara menyeluruh sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal bagi masyarakat. Undang– Undang Nomor 10 Tahun 2009 mengatur bahwa pembangunan kepariwisataan diperlukan untuk mendorong pemerataan kesempatan berusaha dan memperoleh manfaat serta mampu menghadapi tantangan perubahan kehidupan.
Unsur penting dalam pengembangan desa wisata adalah keterlibatan masyarakat desa dalam setiap aspek wisata. Menurut Wearing (2002), keberhasilan pengembangan desa wisata tergantung pada tingkat penerimaan dan dukungan masyarakat lokal. Seharusnya masyarakat lokal berperan sebagai tuan rumah dan menjadi pelaku penting dalam pengembangan desa wisata mulai tahap perencanaan, pengawasan, dan implementasi. Masyarakat lokal mempunyai kedudukan yang sama penting sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam pengembangan pariwisata. Sedangkan penelitian Dabphet (2012) di kota Thailand menemukan dua kelompok utama pemangku kepentingan untuk pelaksanaan pembangunan pariwisata berkelanjutan yaitu ahli dan pemasok. Potensi ahli termasuk organisasi pariwisata, dewan lokal, departemen pemerintah, organisasi pariwisata berorientasi non-pemerintah. Pemasok terdiri dari komunitas lokal dan organisasi masyarakat lokal.
Partisipasi masyarakat merupakan komponen terpenting dalam upaya pertumbuhan kemandirian dan proses pemberdayaan. Ada dua hal penting menurut Timothy (1999) dalam melihat partisipasi masyarakat dalam pariwisata, yaitu 1. Dalam proses pengambilan keputusan, dan 2. Manfaat yang diterima masyarakat dari pembangunan pariwisata. Sehingga dalam pengambilan keputusan perlu dengan mengakomodasi keinginan dan tujuan masyarakat lokal dalam pembangunan serta kemampuannya dalam menyerap manfaat pariwisata. Sedangkan Pongponrat dan Jane (2012) menemukan bahwa partisipasi masyarakat sebagai strategi untuk pengembangan pariwisata lokal telah menjadi mekanisme penting untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan di Samui Island, Thailand. Faktor yang terkait dengan partisipasi masyarakat lokal adalah fase dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial sebagai penentu dalam berbagai tahap menjadi mekanisme penting untuk keberhasilan perencanaan kegiatan pariwisata lokal.
Kabupaten Semarang merupakan salah satu daerah yang kaya akan objek wisata baik wisata alam, wisata budaya dan peninggalan sejarah. Kabupaten Semarang mempunyai posisi yang menguntungkan, yaitu sebagai daerah penyangga (Hinterland) Ibu Kota Jawa Tengah
3 sehingga daerah tersebut dapat dikembangkan terutama pada sektor wisatanya menjadi sektor unggulan yang mampu meningkatkan perekonomian daerah. Menurut keputusan bupati Semarang N0.556/0424/2015, bahwa pada tahun 2015 jenis obyek wisata terbanyak di wilayah kabupaten Semarang adalah desa wisata yang berjumlah 35 lokasi. Perkembangan kunjungan wisatawan akan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan pariwisata. Tabel 1.2 menunjukkan bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke kabupaten Semarang berfluktuiasi dan cenderung menurun.
Tabel 1.2. Jumlah kunjungan Wisatawan ke kabupaten Semarang Tahun 2010 – 2013
Tahun Domestik Asing Total Pertumbuhan
2013 2012 2011 2010 1.362.777 1.276.228 1.170.079 1.186.292 3.683 3.622 4.071 4.826 1.366.460 1.279.850 1.174.150 1.191.118 6.767% 9.000% -1.425% - Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, 2015
Dengan demikian diperlukan strategi pengembangan terhadap pariwistata dalam mengatasi kondisi tersebut. Strategi pengembangan merupakan usaha terencana yang disusun secara sistematis yang dilakukan untuk mengembangkan segala potensi yang ada dalam usaha meningkatkan dan memperbaiki pariwisata, sehingga kelangsungan hidupnya dapat dinikmati oleh wisatawan nantinya dan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak
Kebijakan yang dijalankan pihak Pemerintah daerah dalam usaha pariwisata di kabupaten Semarang belum dapat mengoptimalkan potensi yang ada. Dengan demikian diperlukan strategi yang lebih tepat dalam upaya mengembangkan sektor pariwisata di kabupaten Semarang khususnya desa wisata, dimana strategi ini dijaring melalui persepsi wisatawan dan masyarakat lokal. Dengan harapan strategi tersebut mampu mengoptimalkan dan menjawab kebutuhan wisatawan serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, disamping tetap mempertahankan keberlangsungan dalam pembangunan pariwisata.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bersifat multi tahun dan dilakukan secara berkesinambungan. Tujuan khusus penelitian adalah :
1. Tahun Pertama:
a. Iidentifikasi aktivitas pengembangan desa wisata di Kabupaten Semarang
b. Analisis faktor eksternal dan faktor internal yang akan diantisipasi dalam pengembangan desa di Kabupaten Semarang, dengan pendekatan matriks IFAS
(Internal Factor Analysis summary), matriks EFAS (External Factor Analysis summary) danmatriks I-E (Internal-External).
4 c. Analisis keunggulan bersaing dengan Benchmarking desa wisata di Kabupaten
Semarang
d. Perumusan model strategi pengembangan yang tepat untuk desa wisata di Kabupaten Semarang
2. Tahun Kedua:
a. Implementasi model strategi pengembangan desa wisata yang dihasilkan pada penelitian tahun pertama
b. Identifikasi kontribusi model strategi pengembangan desa wisata terhadap potensi kunjungan wisatawan ke desa wisata di Kabupaten Semarang
c. Analisis terhadap perbedaan yang terjadi antara sebelum dan sesudah dilakukan implementasi model strategi pengembangan desa wisata di Kabupaten Semarang
d. Analisis terhadap perbedaan yang terjadi antara desa wisata di Kabupaten Semarang yang dilakukan implementasi dengan yang tidak dilakukan implementasi
1.3 Luaran Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan menghasilkan luaran: 1. Tahun Pertama:
a. Model strategi pengembangan desa wisata di Kabupaten Semarang.
b. Pemakalah dalam seminar internasional ‘2nd International Conference on Tourism (2nd INTACT) Yogyakarta, Indonesia’
c. Publikasi hasil penelitian ke E-Jurnal ‘Agribisnis dan Agrowisata’ ISSN: 2301-6523 (draft)
d. Publikasi hasil penelitian ke jurnal Internasional ‘Journal of Tourism Management Perspectives-Elsevier’ (draft)
2. Tahun Kedua:
a. Publikasi hasil penelitian ke jurnal Internasional ‘Journal of Tourism Management Perspectives-Elsevier’ (submitted )
b. Publikasi hasil penelitian ke E-Jurnal ‘Agribisnis dan Agrowisata’ ISSN: 2301-6523 (submitted)
c. Pemakalah dalam seminar internasional ‘The 3rd Sebelas Maret Conference on Business, Economics and Social Sciences Surakarta, Indonesia’
d. Buku Populer ‘Pemetaan potensi desa wisata menggunakan pendekatan EFAS dan IFAS di Kabupaten Semarang’
e. Pembuatan HKI tentang Buku Populer ‘Pemetaan potensi desa wisata menggunakan pendekatan EFAS dan IFAS di Kabupaten Semarang’
5 1.4 Urgensi (Keutamaan) Penelitian
Keutamaan dari penelitian ini adalah:
1. Fakta menunjukkan bahwa kondisi persaingan bisnis pada saat ini semakin meningkat. Sektor industri yang tidak memiliki keunggulan kompetitif akan sulit bersaing, sehingga perlu dicari sektor lain yang potensial untuk mempertahankan perekonomian. Salah satu sektor alternatif adalah sektor pariwisata karena Indonesia memiliki potensi sumberdaya dan keindahan alam. Dengan demikian maka sektor pariwisata menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.
2. Sampai dengan saat ini perkembangan jumlah wisatawan ke desa wisata di Kabupaten Semarang belum optimal. Hal ini terlihat dari data jumlah wisatawan yang tidak stabil dan cenderung mengalami penurunan. Selanjutnya perlu dievaluasi strategi yang telah digunakan, khususnya strategi dalam menarik minat wisatawan.
3. Untuk dapat bersaing dengan usaha sejenis, maka perlu identifikasi kondisi kinerja organisasi sehingga dapat mengadopsi best practice untuk meraih sasaran yang diinginkan. Melalui proses pengukuran secara berkesinambungan dan membandingkannya dengan obyek yang terbaik, akan dapat membantu dalam mengidentifikasi dan mengiplementasikan peningkatan proses bisnis. Dengan demikian diperlukan
benchmarking desa wisata di Kabupaten Semarang, terhadap keunggulan bersaing dengan usaha sejenis. Selanjutnya perlu mengenali potensi desa wisata yang berupa kekuatan, kelemahan, peluang dan acaman. Dengan demikian maka akan diperoleh model strategi yang tepat dalam pengembangan desa wisata.
4. Dalam pengembangan desa wisata, masyarakat lokal mempunyai kedudukan yang sama penting sebagai pemangku kepentingan dengan pemerintah dan swasta. Partisipasi masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan harus dipertimbangkan. Masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata dalam bentuk pemberian jasa dan pelayanan, sehingga hasilnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Tabel 1.2 Rencana Target Capaian Tahunan
No Jenis Luaran Indikator Capaian
TS1) TS+1 TS+2
1 Publikasi ilmiah 2) Internasional draft sub mitted Nasional Terakreditasi tidak ada tidak ada 2 Pemakalah dalam pertemuan ilmiah 3) Internasional sudah dilaksanakan sudah dilaksanakan
Nasional tidak ada tidak ada
3 Keynote Speaker dalam pertemuan ilmiah 4)
Internasional tidak ada tidak ada
Nasional tidak ada tidak ada
6 5 Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HKI) 6)
Paten tidak ada tidak ada
Paten sederhana draft terdaftar
Hak Cipta tidak ada tidak ada
Merek dagang tidak ada tidak ada Rahasia dagang tidak ada tidak ada Desain Produk Industri tidak ada tidak ada Indikasi Geografis tidak ada tidak ada Perlindungan Varietas
Tanaman
tidak ada tidak ada
Perlindunagn Topografi Sirkuit Terpadu
tidak ada tidak ada
6 Teknologi Tepat Guna7) tidak ada tidak ada
7 Model/Purwarupa/Desain/Karya seni/ Rekayasa Sosial 8)
produk penerapan
8 Buku Ajar (ISBN) 9) tidak ada tidak ada
9 Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 10) tidak ada tidak ada BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pariwisata
2.1.1 Pengertian Pariwisata
Pariwisata telah menjadi bagian penting dari kebutuhan dasar masyarakat maju dan sebagian kecil masyarakat berkembang. Pariwisata merupakan fenomena pergerakan manusia, barang dan jasa yang sangat kompleks Damanik dan Weber (2006). Menurut Spillane (2002) pariwisata merupakan suatu perjalanan meninggalkan rumah yang dilakukan seseorang dalam waktu relatif singkat dengan uang yang dibelanjakan adalah uang dari rumah sendiri.
Dapat disimpulkan bahwa pariwisata adalah perjalanan manusia ke daerah lain dalam waktu relatif singkat dengan tujuan perjalannnya bukan untuk mencari pendapatan.
2.1.2 Desa Wisata
Desa wisata didefinisikan secara beragam. Menurut Suyanti (2013) desa wisata adalah suatu bentuk lingkungan yang memiliki ciri khusus, baik alam maupun budaya yang sesuai dengan tuntutan wisatawan, di mana mereka dapat menikmati, mengenal, menghayati dan mempelajari kekhasan desa beserta segala daya tariknya. Desa wisata merupakan salah satu bentuk penerapan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat dan berkelanjutan. Pada kenyataannya tidak semua kegiatan pariwisata di desa adalah benar-benar bersifat desa wisata. Desa yang dikategorikan sebagai desa wisata adalah harus sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata tahun 2011. Kriteria tersebut adalah desa yang memiliki potensi pariwisata dan sudah dikunjungi wisatawan, terdapat masyarakat miskin, memiliki aktivitas kepariwisataan, diprioritaskan
7 telah memiliki Rencana Pembangunan jangka menengah dan diprioritaskan telah melaksanakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri dari sektor lain.
2.1.3 Permasalahan Desa Wisata
Pada pelaksanaanya terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi oleh desa wisata. Pada Buku Pedoman Rintisan Model Desa Berdikari Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015, disebutkan bahwa permasalahan tersebut adalah: 1.Kurangnya integrasi pengembangan sebaran produk wisata, 2. Belum optimalnya pengelolaan dan inovasi atraksi wisata yang mengedepankan unsur budaya sebagai daya tarik utama, 3. Belum terintegrasinya koordinasi antara pemerintah dan stakeholder pariwisata dalam pengelolaan daya tarik wisata dan fasilitas pendukung, 4. Masih rendahnya respon masyarakat tentang keberadaan desa wisata. 2.1.4 Jenis Pariwisata
Terdapat berbagai jenis pariwisata ditinjau dari tujuan orang yang melakukan perjalanan wisata. Jenis-jenis pariwisata menurut Spillane (2002) adalah: Pleasure Tourism, Recreation Tourism, Cultural Tourism, Sports Tourism, Business Tourism dan Convention Tourism. 2.1.5 Penawaran Pariwisata
Aspek penawaran pariwisata menurut Spillane (2002) terdiri dari: 1.Proses Produksi Industri Pariwisata, 2.Pentingnya Tenaga Kerja dan Penyediaannya, 3.Pentingnya Infrastruktur, 4. Pentingnya Kredit. Mobilitas merupakan faktor yang sangat berpengaruh dan ditimbulkan oleh motivasi. Permintaan dalam kepariwisataan terdiri dari potential demand dan actual demand. Potential demand merupakan sejumlah orang yang berpotensi untuk melakukan perjalanan wisata. Sedangkan actual demand merupakan orang-orang yang sedang melakukan perjalanan wisata pada suatu daerah tujuan wisata tertentu (Yoeti, 2008).
2.1.6 Pengembangan Pariwisata
Terdapat isu strategis dalam pengembangan pariwisata bagi pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat lokal (Yoeti, 2008), antara lain:
1. Pentingnya dukungan peran serta dan inisiatif masyarakat. Peran aktif masyarakat untuk membantu menciptakan suasana lingkungan yang kondusif bagi terselenggaranya kegiatan wisata. Masyarakat diharapkan dapat menjadi tuan rumah (host) yang baik, serta aktif sebagai pelaku pariwisata yang simpatik (penyedia jasa sekaligus sebagai wisatawan).
2. Area keterlibatan masyarakat lokal. Aspek yang perlu diperhatikan pengembangan pariwisata (Yoeti, 2008) yaitu: 1) Wisatawan, yaitu karakteristik dari wisatawan, asal negara, usia, hobi, dan kapan melakukan perjalanan, 2) Transportasi, yaitu fasilitas transportasi yang tersedia untuk membawa wisatawan ke daerah tujuan wisata, 3) Atraksi/obyek wisata, apakah
8 obyek wisata dan atraksi yang akan dijual apakah dapat dilihat, apa yang dilakukan dan apa yang dapat dibeli, 4) Fasilitas pelayanan, 5) Informasi dan promosi.
Pengembangan pariwisata tidak lepas dari peran organisasi kepariwisataan pemerintah, seperti Dinas Pariwisata yang mempunyai tugas, wewenang serta kewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan aset negara yang berupa obyek wisata. Pengembangan desa wisata dilandasi oleh paradigma community-based tourism. Konsep pariwisata berbasis kerakyatan tersebut menekankan pada peningkatan peranserta masyarakat, terutama masyarakat sekitar. Masyarakat setempat sebagai tuan rumah yang mengetahui seluk beluk daerahnya, adalah sebagai pelaksana dalam pengembangan pariwisata. Selain itu masyarakat juga sebagai penerima manfaat dalam kepariwisataan.
Pengembangan desa wisata perlu melihat dari sisi prinsip keseimbangan lingkungan, budaya, serta keterpaduan diantara keduanya. Keterlibatan masyarakat juga perlu ditingkatkan untuk menjaga terpeliharanya budaya lokal. Dengan demikian pengembangan desa wisata harus mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial budaya, lingkungan dan kesehatan.
2.1.7 Strategi Pengembangan
Strategi merupakan rencana yang luas dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan, dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat (Yoeti, 2008).
Strategi pengembangan desa wisata disusun secara sistematis untuk mengembangkan potensi yang ada dalam usaha meningkatkan dan memperbaiki desa wisata, sehingga kelangsungan hidup desa wisata dapat dinikmati oleh wisatawan dan bermanfaat kepada semua pihak. Penyusunan strategi pengembangan desa wisata berfokus pada implementasi strategi, termasuk pengorganisasian dan pengendalian.
2.2. Penelitian Terdahulu
Krisnandhi (2010) meneliti tentang dampak sosial ekonomi dari pengembangan pariwisata di Candi Borobudur terhadap masyarakat lokal di sekitarnya. Penelitian juga menganalisis interaksi antara masyarakat lokal dan pemerintah daerah sebagai pembuat kebijakan terhadap pengembangan wisata tersebut. Data kualitatif diambil dari wawancara dengan penduduk dan narasumber, periode tahun 2008 dan 2009. Hasil penelitian mengindikasikan adanya persepsi positif dari masyarakat, tetapi sektor pariwisata belum banyak memberikan lapangan pekerjaan dan tambahan pendapatan. Pekerjaan yang diperoleh masih terbatas pada sektor informal dan pendapatan rumah tangga juga masih berada di bawah upah minimum regional. Penelitian ini masih bersifat makro, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih mendalam
9 terhadap salah satu desa, sehingga dapat diketahui lebih mendalam dampak pengembangan pariwisata di sekitar candi Borobudur.
Penelitian Egbali (2011) di Propinsi Semnan Iran, mendapatkan bahwa pengembangan wisata akan mendatangkan manfaat maupun kerugian. Meskipun dianggap hal kecil tetapi kerugian tersebut tidak boleh diabaikan. Dampak tersebut sebanding dengan faktor yang berbeda seperti pentingnya industri pariwisata lokal, potensi wisatawan dan kegiatan mereka, konsolidasi lokal lingkungan dan otoritas budaya dan adat istiadat setempat. Pengembangan pariwisata perlu alokasi biaya dan sejalan juga dengan resiko terhadap lingkungan desa. Penelitian yang sejalan dengan Egbali adalah penelitian desa wisata di Thailand oleh Rattanasuwongchai (2011). Wisata berbasis desa memberikan keuntungan secara ekonomi dan berbagai keuntungan lainnya. Dampak negatif dari wisata yaitu pembangunan hotel, resort, dan travel agent besar adalah milik orang asing. Demikian juga karyawan, makanan dan minuman biasanya diperoleh dari luar desa. Penduduk lokal hanya bekerja pada level bawah. Kerusakan lingkungan juga terjadi bila wisatawan datang dalam jumlah besar. Sedangkan dampak sosial budaya adalah berupa adopsi pola hidup wisatawan maupun terjadinya urbanisasi untuk bisa mendapat pekerjaan dan uang. Sedangkan dampak positifnya adalah dapat meningkatkan pembangunan infrastruktur fisik desa. Namun demikian, pembangunan infrastruktur dan fasilitas harus dibangun dengan design dan jumlah yang memenuhi kebutuhan wisatawan dan penduduk lokal. Selain itu, penting adanya zonasi manajemen dalam pembangunan pariwisata oleh pemerintah lokal, pengusaha swasta, penduduk lokal, dan wisatawan.
2.3 Road Map Penelitian
Tabel 1.3 Road Map Penelitian
BAB 3. METODE PENELITIAN
2012 2014 2015 2016
Daya Saing Daerah Tujuan Wisata (Studi Kasus Rendahnya Daya Saing Taman Wisata Alam Kawah Ijen Banyuwangi (Riyadi Slamet dkk) Strategi Pengembangan Ekowisata Melalui Kajian Ekosistem Mangrove Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu (Cahya Aditya Putra dkk) Analisa Pengaruh Penggunaan Benchmarking Terhadap Keunggulan Bersaing dan Kinerja perusahaan (Michael Paulus) Optimasi Pengembangan Kawasan Wisata Di Semarang Dengan Menggunakan Metodeanalytical Hierarchy Process, Analisis Swot dan Multi-Attribute Utility Theory (Susanty Aries, dkk) Strategi Pengembangan wisata Artikel jurnal Model strategi pengembangan ekowisata Artikel jurnal Model keunggulan bersaing Perusahaan Strategi keunggulan bersaing dengan benchmarking
Artikel jurnal Artikel jurnal
Strategi Pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Semarang: pendekatan EFAS,IFAS,IE dan Benchmarking (Komsi Koranti, Sriyanto) 2017 Artikel jurnal Model Strategi Pengembangan desa wisata
10 3. 1. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode kualitatif yang dipergunakan adalah observasi, wawancara dan penyebaran kuesioner untuk menggali informasi dari masyarakat dan pihak yang berpartisipasi dalam pengembangan desa wisata. Penelitian ini dilakukan di kabupaten Semarang, khususnya di kecamatan Getasan yang meliputi empat lokasi wisata yaitu desa wisata Tanon, Telomoyo, Kopeng dan Nogosaren. Data yang diperlukan dalam penelitian terdiri dari data primer dan sekunder, baik berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Data primer didapatkan dengan observasi lapangan, wawancara dengan informan dan data hasil pengisian kuesioner dari wisatawan. Data sekunder didapatkan dari berbagai sumber yang telah terbit sebelumnya, yaitu berupa profil desa dari institusi pemerintah, penelitian terdahulu dan data-data statistik.
Observasi lapangan dilakukan secara langsung untuk meningkatkan pemahaman terhadap
setting penelitian dari aspek geografis dan sosial budaya daerah penelitian. Observasi dilakukan melalui penyusuran desa didampingi masyarakat lokal sebagai pemandu. Untuk memperoleh data dengan akurat, dilakukan wawancara secara informal dalam observasi. Wawancara dilakukan terhadap informan dengan menggunakan panduan pertanyaan. Pemilihan informan digunakan pendekatan purposive sample, yaitu dengan pemilihan pihak yang dianggap mampu memberikan data yang diperlukan. Informan penelitian terdiri dari:1) pihak Pemerintah (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Bupati, Camat); 2) masyarakat lokal (tokoh masyarakat, aparat desa, pelaku pariwisata); 3) wisatawan.
Kuesioner digunakan sebagai instrumen dalam pengumpulan data terhadap wisatawan, yaitu untuk mengetahui persepsi mereka terhadap keberadaan desa wisata. Selanjutnya perlu dilakukan crosscheking terhadap data yang terkumpul dihadapan informan agar data yang diperoleh merupakan data valid dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
3.2 Teknik penarikan sampel
Teknik penarikan sampel penelitian ini digunakan Area Sampling. Pengelompokan sampel ditentukan oleh letak geografis atau administratif, yaitu dari wilayah kabupaten Semarang kemudian dipilih secara acak kecamatan Getasan sebagai tempat pengambilan sampel.
Penentuan jumlah sampel penelitian berdasarkan Gervitz (2004), jika populasi sekitar 5000 maka ukuran sampel sebaiknya antara100-500. Mengingat populasi wisatawan di kecamatan Getasan adalah kurang dari 5000, maka direncanakan jumlah sampel penelitian adalah 200 dan 50 cadangan untuk antisipasi kuesioner yang tidak kembali atau tidak valid.
11 Metode analisis data bertujuan untuk menyerderhanakan data yang terkumpul, menyajikan secara sistematik, mengolah, menafsirkan, dan memaknai data tersebut. Analisis data merupakan upaya pemecahan permasalahan penelitian untuk memperoleh jawaban atas permasalahan yang diteliti.
Permasalahan dalam penelitian ini akan dianalisis secara:
1. Analisis deskriptif kualitatif. Analisis internal dilakukan untuk mendapatkan faktor kekuatan yang akan digunakan dan faktor kelemahan yang akan diantisipasi, menggunakan matriks IFAS. Sedangkan analisis eksternal dilakukan untuk mengembangkan faktor peluang yang kiranya dapat dimanfaatkan dan faktor ancaman yang perlu dihindari, menggunakan matriks EFAS. Berdasarkan data dari matriks IFAS dan EFAS, maka Matriks I-E digunakan untuk mengetahui posisi desa wisata saat ini dan masa yang akan datang, kemudian ditentukan strategi yang akan digunakan untuk memperbaiki kinerja demi mencapai tujuan. Selanjutnya dilakukan Benchmarking untuk menganalisis keunggulan bersaing dari kompetitor. Ketiga metode analisis tersebut digunakan dalam penelitian untuk merancang strategi pengembangan desa wisata, sehingga diharapkan akan dapat memecahkan permasalahan yang akan diteliti.
2. Analisis kuantitatif, yaitu berupa Paired Sampel T-testdan T-test Independent
Paired Sampel T-test digunakan untuk membandingkan rata-rata dua set data yang saling berpasangan, yaitu antara minat wisatawan sebelum dan sesudah treatment pada desa-desa wisata di kecamatan Getasan. Sedangkan T-test Independent digunakan untuk mengukur perbedaan minat wisatawan desa wisata di kecamatan Getasan (desa wisata Tanon, Telomoyo, Kopeng dan Nogosaren) yang dilakukan treatment dengan desa wisata di kabupaten Semarang yang tidak dilakukan treatment.
3.4. Kegiatan pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Kegiatan pelaksanaan Penelitian Tahun Pertama
a. Identifikasi aktivitas yang telah dilakukan dalam pengembangan desa wisata
Data dan informasi yang dibutuhkan, dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara dengan informan dan data hasil pengisian kuesioner dari wisatawan. Wawancara dilakukan terhadap beberapa informan yang terpilih, yaitu sesuai dengan kriteria Spradley (1992): 1) cukup lama dan intensif dengan informasi yang diberikan, 2) masih terlibat penuh dengan kegiatan yang diinformasikan, 3) mempunyai cukup waktu untuk memberikan informasi, 4) tidak direkayasa dalam memberikan informasi dan 5) mereka siap memberikan informasi.
12 1. Analisis Internal
Analisis internal dilakukan untuk mendapatkan faktor kekuatan yang akan digunakan dan faktor kelemahan yang akan diantisipasi. Untuk mengevaluasi faktor tersebut digunakan matriks IFAS.
Tabel 3.1 Matriks IFAS Faktor-faktor
Strategi internal
Bobot Rating Bobot x Rating (nilai terbobot) Komentar Kekuatan : Kelemahan : TOTAL 1.00 Sumber: Rangkuti 2008 2. Analisis Eksternal
Analisis eksternal dilakukan untuk mengembangkan faktor peluang yang kiranya dapat dimanfaatkan dan faktor ancaman yang perlu dihindari. Faktor lingkungan eksternal terdiri dari: lingkungan makro (politik, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi) dan lingkungan mikro (lingkungan usaha, distribusi, infrastruktur, sumber daya manusia). Hasil analisis eksternal dilanjutkan dengan evaluasi guna mengetahui apakah strategi yang dipakai selama ini memberikan respon terhadap peluang dan ancaman yang ada.
Tabel 3.2 matriks EFAS Faktor-faktor
Strategi eksternal
Bobot Rating Bobot x Rating (nilai terbobot) Komentar Peluang : Ancaman : TOTAL 1.00 Sumber: Rangkuti 2008
Dalam menentukan bobot dari faktor sukses kunci pembobotan lingkungan digunakan metode Delphi. Metode Delphi adalah metode dengan meminta pendapat ahli yang berkompeten dalam memberi bobot mengenai variabel strategis sebagai penentu keberhasilan usaha, yang digunakan sebagai peramal masa depan, dan meminimalkan aspek yang tidak diinginkan. Skala pembobotan terdiri: sangat penting (4), penting (3), kurang penting (2), tidak penting (1).
3. Matriks Internal Eksternal (I-E)
Matriks I-E digunakan untuk mengetahui posisi perusahaan saat ini dan masa yang akan datang, kemudian ditentukan strategi yang akan digunakan untuk memperbaiki kinerja demi mencapai tujuan yang diinginkan. Matriks IE memposisikan berbagai divisi organisasi dalam tampilan sembilan sel.
13 Gambar 4.1 Matriks IE Sebagai Model Strategi Korporat
Sumber : Rangkuti (2008) & David (2011) Strategi utama dari Kesembilan sel tersebut yaitu:
1. Growth Strategy, merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri (sel 1,2, dan 5) atau upaya diversifikasi (sel 7 dan 8).
2. Stability Strategy adalah strategi yang diterapkan tanpa mengubah arah strategi yang telah ditetapkan (sel 4).
3. Retrenchment Strategy (sel 3, 6 dan 9) adalah usaha memperkecil atau mengurangi usaha yang dilakukan perusahaan.
4. Analisis Benchmarking
Benchmarking digunakan untuk menganalisis terhadap keunggulan bersaing kepariwisataan di kecamatan Getasan, khususnya desa wisata Tanon dibandingkan dengan obyek wisata sejenis yang terbaik di kawasan kabupaten Semarang. Benchmarking
merupakan proses pengukuran secara berkesinambungan dan membandingkan dengan perusahaan yang terbaik di proses bisnis tersebut, untuk mendapatkan informasi yang dapat membantu perusahaan untuk peningkatan proses bisnis (Andersen, 1996). Variabel yang digunakan dalam Benchmarking adalah:
1. Penggunaan Benchmarking, terdiri dari Indikator Empirik: Plan, Search, Observe, Analyze, Adapt
2. Keunggulan Bersaing, terdiri dari Indikator Empirik: Harga, Kualitas, Delivery dependability, Inovasi Produk
C. Penyusunan strategi pengembangan desa wisata
Praktik banchmarking berlangsung secara sistematis dan terpadu dengan praktik manajemen lainnya. Pada penelitian ini benchmarking direncanakan akan dipadukan dengan matriks EFAS, IFAS dan I-E. Hasil analisis tersebut digunakan sebagai acuan untuk penyususuan strategi pengembangan desa wisata yang tepat. Dengan demikian
14 diharapkan bisa meningkatkan minat wisatawan dan investor ke desa wisata di kecamatan Getasan, khususnya desa wisata Tanon.
3.4.2. Kegiatan pelaksanaan Penelitian Tahun Kedua a. Implementasi strategi pengembangan desa wisata
Sebelum implementasi dilakukan, terlebih dulu dilakukan diskusi untuk menyamakan persepsi dengan pihak pengelola dan stakeholder (tokoh desa, tokoh agama dan kelompok sadar wisata) desa wisata di kecamatan Getasan. Selanjutnya dilakukan sosialisasi tentang strategi pengembangan desa wisata yang telah disepakati. Tahap berikutnya adalah melakukan implementasi model pengembangan desa wisata terhadap masing masing desa wisata di kecamatan Getasan, yaitu Tanon,Telomoyo, Kopeng dan Nogosaren.
b. Identifikasi kontribusi strategi pengembangan desa wisata
Setelah model pengembangan desa wisata diimplementasikan, maka akan dilakukan observasi sejauh mana kontribusinya terhadap minat wisatawan. Tolok ukur dari minat wisatawan tersebut adalah berdasarkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke desa wisata yang bersangkutan. Pengamatan akan dilakukan setiap hari, selama delapan minggu. c. Analisis terhadap perbedaan yang terjadi pada kodisi sebelum dan sesudah
dilakukan implementasi strategi pengembangan desa wisata
Untuk mengetahui apakah strategi pengembangan desa wisata yang diimplementasikan tersebut sudah tepat, maka perlu dilakukan dengan membandingkan capaiannya. Capaian yang diukur adalah jumlah wisatawan yang berkunjung ke desa wisata kecamatan Getasan, baik sebelum dan sesudah implementasi dilakukan.
Alat analisis yang akan digunakan dalam penelitian tahun kedua ini adalah: 1. T-test dependent atau Paired Sampel T-test.
Paired Sampel T-test digunakan untuk membandingkan rata-rata dua set data yang saling berpasangan (Walpole, 1995). Dalam penelitian ini dua set data adalah minat wisatawan sebelum dan sesudah dilakukan treatment pada desa wisata di kecamatan Getasan. Taraf kepercayaan ddigunakan 95%. Rumus Paired Sampel T-test adalah:
2. T-test Independent atau Independent sample t-test
T-test Independent bertujuan untuk membandingkan rata-rata dua grup yang tidak saling berpasangan atau untuk dua subjek sampel yang berbeda. Dalam penelitian ini
T-15
test Independent digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan minat wisatawan desa wisata di kecamatan Getasan yang dilakukan treatment dengan desa wisata di kabupaten Semarang yang tidak dilakukan treatment. Sebelum dilakukan uji T-test Independent, dilakukan uji homogenitas varian berikut :
Data dinyatakan memiliki varian yang sama bila F-Hitung < F-Tabel, dan sebaliknya, varian tidak sama bila F-Hitung > F-Tabel. Bentuk varian akan berpengaruh pada nilai standar error. Uji t untuk varian yang sama digunakan rumus berikut:
Uji t untuk varian yang berbeda digunakan rumus Separated Varians :
TAHUN 1 Pemetaan Potensi desa
wisata wawancarake informan Analisis Benchmarking Analisis EFAS,IFAS,IE Penyebaran kuesioner Perkembangan jumlah wisatawan cenderung menurun Belum terintegrasi dengan obyek wisata sekitar
Permasalahan Penyelesaian
Sosialisasi model strategi (hasil tahun 1)
Identifikasi perbedaan jumlah wisatawan
Analisis Uji Dependent dan Uji Independent hasil implementasi
Penyusunan model strategi pengembangan desa wisata
Mengadopsi best practice dari obyek wisata sejenis yang terbaik Strategi Pengembangan Desa Wisata Dalam Mencapai Keunggulan Bersaing Di Kabupaten Semarang: Pendekatan EFAS, IFAS, IE dan Benchmarking TAHUN 2 Penetapan model strategi pengembangan desa wisata
Implementasi model strategi Keterbatasan model strategi yang digunakan Luaran seminar Buku Laporan popule HKI Publikasi Jurnal internasional
Gambar.3.1 Bagan Alir Penelitian Menggali potensi desa wisata
Jurnal nasional
16 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1 Anggaran Biaya
Tabel 4.1. Ringkasan Anggaran Biaya yang Diajukan Setiap Tahun
No Jenis Pengeluaran Biaya yang Diusulkan (Rp)
Tahun 1 Tahun 2 1 Honorarium untuk pelaksana, petugas laboratorium,
pengumpul data, pengolah data, penganalisis data, honor operator, dan honor pembuat sistem (maksimum 30% dan dibayarkan sesuai ketentuan)
22330000 21580000
2 Pembelian bahan habis pakai untuk ATK, fotocopy, surat menyurat, penyusunan laporan, cetak, penjilidan laporan, publikasi, pulsa, internet, bahan laboratorium, langganan jurnal (maksimum 60%)
24816265 22407303
3 Perjalanan untuk biaya survei/sampling data,Seminar /workshop DN-LN, biaya akomodasi- konsumsi, perdiem/lumpsum, transport (maksimum 40%)
20704000 23304000
4 Sewa untuk peralatan/mesin/ruang laboratorium, kendaraan, kebun percobaan, peralatan penunjang penelitian lainnya (maksimum 40%)
7100000 7300000
Jumlah 74950265 74591303
4.2 Jadwal Penelitian Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan
No Kegiatan Tahun 1 Tahun 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Identifikasi aktivitas pemasaran
2 Pengambilan data melalui kuesioner
3 Analisis EFAS,IFAS,IE
4 Analisis Benchmarking
6 Input Data dan Pengolahan Data
7 Interpretasi Hasil Olah Data
8 Penulisan Laporan tahun1
9 Publikasi dan Diseminasi hasil tahun 1
10 Implementasi hasil penelitian tahun 1
11 Sosialisasi hasil penelitian tahun 1
12 Pengambilan data kunjungan wisatawan
13 Input Data dan Pengolahan Data
14 Uji Beda
15 Analisa Hasil Olah Data
17 Penulisan Laporan tahun 2
18 Publikasi dan Diseminasi hasil tahun 2
REFERENSI
Andersen, B. dan Pettersen, P. 1996. The Benchmarking Handbook. Chapman and Hall, London.
Cahya, A.P., Anggoro S. dan Kismartini. 2015. “Strategi Pengembangan Ekowisata Melalui Kajian Ekosistem Mangrove Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu”. Jurnal Saintek Perikanan Vol.10 No.2. Februari 2015. hal : 91-97.
Dabphet, S. 2012. “The Key Stakeholders In The Implementation Of Sustainable Tourism Development In Two Rural Towns Of Thailand”. http://www.ijbts-journal.com/images/main_1366796758/0029-Siripen.pdf
17 Damanik, J. dan Weber, H. 2006. Perencanaan Ekowisata Dari Teori ke Aplikasi. PUSPAR
UGM dan Andi, Yogyakarta.
David, Fred R. 2011. Manajemen Strategis. Edisi 12. Salemba Empat, Jakarta.
Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang 2015.Visitor Guide Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Semarang.
Direktorat Jenderal pengembangan Destinasi Pariwisata. 2011. Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Rangka Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, Jakarta.
Egbali, N.,Bakhshandea A.N. and khalil S.A.P. 2011. “Effects of positive and negative rural tourism (case study: Rural Semnan Province)”.Journal of Geography and Regional Planning Vol. 4(2), pp. 63-76, February 2011
Gervitz, C.D. 2004. Developing New Product with TQM. McGraw Hill. New York. http://www.sukamelancong.com/2016_01_01_archive.html) download 20 Februari 2016. Krisnandhi, K.D.R. 2010. Socio-Economic Impact of Tourism on a World Heritge Site: Case
Study of Rural Borobudur, Indonesia. Disertasi Nagoya University
Paulus, M. dan Devie. 2014. “Analisa Pengaruh Penggunaan Benchmarking Terhadap Keunggulan Bersaing dan Kinerja Perusahaan”. Business Accounting Review, Vol. 1, No.2, 2013:39-49.
Pongponrat, K. and Jane, N.C. 2012. “Mechanism Of Social Capital In Community Tourism Participatory Planning In Samui Island, Thailand; Tourismos: An International Multidisciplinary”. Journal Of Tourism Volume 7, Number 1, Spring-Summer 2012, Pp. 339-349
Rangkuti, F. 2008. Analisa SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Rattanasuwongchai, N. 2011. Rural Tourism the Impact on Rural Communities in Thailand, Department of Career Sciences, Kasetsart University, Bangkok, Thailand, 1998-2014, FFTC publication, Taiwan
Riyadi, S., Djumilah, H., Djumahir, Luchman H. 2012. “Daya Saing Daerah Tujuan Wisata (Studi Kasus Rendahnya Daya Saing Taman Wisata Alam Kawah Ijen Banyuwangi)”,
Jurnal Aplikasi Manajemen, Volume 10, Nomor 3, September 2012. Hal. 520-531
Spillane, J.J. 2002. Pariwisata Indonesia: Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan,
Kanisius, Yogyakarta.
Spradley, J.P. 1992. Metode Ethnografi. Edisi Alih Bahasa. Tiara Wacana, Yogyakarta. Susanty, A., Susatyo, N., Adyan. “Optimasi Pengembangan Kawasan Wisata Di Semarang
Dengan Menggunakan Metodeanalytical Hierarchy Process, Analisis Swot, Dan Multi-Attribute Utility Theory”. Jurnal Teknik Industri, Vol. X, No. 2, Mei 2015. Hal 77-84
Suyanti, D.W.. 2013. “Potensi Desa Melalui Pariwisata Pedesaan”. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol 1, No 12, Januari 2013: 33-36.
Timothy, D. J. 1999. “Participatory Planning a View of Tourism in Indonesia”.Annals of Research, Vol 26, No.2.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Walpole, R.E. 1995. Pengantar Statistika. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Wearing, S. L., & McDonald, M. (2002). “The development of community-based tourism: Re-thinking the relationship between tour operators and development agents as intermediaries in rural and isolated area communities”. Journal of Sustainable Tourism, 10(3), 191-206.
Yoeti, Oka A., 2008. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. PT. Pradnya Paramita, Jakarta.
________, 2016, Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Di Perguruan Tinggi Edisi X, Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Indonesia
18
LAMPIRAN- LAMPIRAN
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran
1. Honor
Honor Honor / Jam (Rp)
Waktu (jam/ minggu) Minggu Honor per tahun (Rp) Tahun 1 Tahun 2 Ketua Peneliti 30000 10 32 9600000 10980000 Anggota 25000 10 32 8000000 9000000
Pengambilan data dari kuesioner (Rp.6000 / responden ( 250 paket responden)
6000 - 250 1500000 0
Pengolahan Data hasil kuesioner (675000 / paket (untuk 2 paket)
675000 - 2 1350000 0
Pengolahan Data hasil penelitian tahun 2 800000 /paket (untuk 2 paket) 0 1 0 1600000 SUB TOTAL (Rp) 20450000 21580000
2. Pembelian bahan habis pakai
Material Justifikasi Pembelian Kuantitas Harga satuan Harga Peralatan Penunjang (Rp) (Rp) Tahun 1 Tahun 2
Penggandaan Kuesioner Biaya fotocopy untuk kuesioner
250 2500 625000 0
Souvenir untuk responden Biaya pembelian souvenir untuk responden(220 paket)
220 33500 7370000 0
Souvenir untuk informan Biaya pembelian souvenir untuk informan(12 paket)
12 150000 1800000 900000
Tinta printer Black
Tinta printer untuk pembuatan laporan
2 450000 900000 900000
19
pembuatan laporan
ATK Untuk keperluan
administrasi penelitian (1 paket)
1 640000 640000 500000
Materai Biaya pembelian
materai untuk dokumentasi biaya (20 buah)
20 6000 120000 120000
Kertas HVS Kertas HVS untuk
mencetak laporan penelitian
3 50000 150000 150000
Pembuatan X-banner Biaya untuk
pembuatan x-banner untuk diseminasi (1 paket) 1 500000 500000 500000 Proceeding seminar di
Bandung Biaya pembelian
proceeding seminar di Solo 2 500000 1000000 0 Seminar Internasional di Bandung Pembayaran registrasi seminar internasional di Solo 2 2500000 5000000 0 Proceeding seminar di Yogya Biaya pembelian proceeding seminar di Solo 2 500000 0 1000000 Seminar Internasional di Yogya Pembayaran registrasi seminar internasional di Solo 2 2500000 0 5000000 Perbanyakan output ' Buku Populer'
Biaya cetak dan softcover buku
6 250000 0 1500000
Biaya proofreading jurnal internasional (sub mitted dan reviewed) Biaya untuk proofreading artikel jurnal internasional (sub mitted dan reviewed) 1 4500000 0 4500000
20
Pendaftaran HKI Biaya Pendaftaran
dan transportasi (pp) 1 1500000 0 1500000 Persiapan Pembuatan laporan Penelitian Biaya penggandaan laporan akhir penelitian 5 eksemplar 5 50000 250000 250000
Pajak Penelitian Pajak PPH dan
PPN 1 Paket= 10.45%) 1 7576250 7576250 7057303 SUB TOTAL (Rp) 26461250 24407303
3. Perjalanan
Material Justifikasi perjalanan Kuantitas Harga Satuan Biaya per tahun (Rp) (Rp) Tahun 1 Tahun 2 Perjalanan ke bandaraSoeta tahun 1A (pp) Biaya transportasi lokal (survey awal ) (PP) 2 140000 280000 0 Perjalanan Jakarta- semarang tahun 1A (PP) Pembelian Tiket pesawat (survey awal ) (PP) (2 tiket) 2 750000 1500000 0 Perjalanan ke bandara
Soeta tahun 1B (pp) Biaya transportasi lokal (untuk Wawancara ke informan) 2 140000 280000 0 Perjalanan Jakarta- semarang tahun 1B (PP) Pembelian Tiket pesawat (untuk Wawancara ke informan) (PP) (2 tiket) 2 750000 1500000 0 Perjalanan Jakarta-Bandung (PP)
Sewa mobil (untuk Seminar internasional) 2 750000 1500000 0 Penginapan di lokasi penelitian tahun 1A Harga sewa penginapan/ hari (untuk survei awal)(2hari x 2orang) 4 850000 3400000 0
Uang harian di lokasi penelitian tahun 1A Uang harian di lokasi penelitian/hari (survei awal ) (2 hari x 2 orang) 4 45000 180000 0
21
Penginapan di lokasi
penelitian tahun 1B Harga sewa
penginapan/ hari (untuk wawancara ke informan) (2kamar selama 2 hari) 4 300000 1200000 0
Uang harian di lokasi penelitian tahun 1B Jumlah uang harian di lokasi penelitian/hari (untuk melakukan tahapan bencmarking) (4 hari x 2 orang=8) 8 45000 360000 0 Lunsum untuk
penelusuran data sekunder
Biaya lunsum untuk menelusuri data skunder ke instansi terkait (dinas pariwisata, kecamatan dan desa) 2 paket 2 775000 1550000 0 Lunsum diskusi pembuatan Kuesioner Biaya lunsum untuk persiapan pembuatan kuesioner 1 500000 500000 0
Lunsum untuk wawancara
Biaya lunsum untuk wawancara kepada informan 12 paket 12 70000 840000 0 Lunsum Pembuatan laporan Penelitian akhir (tahun 1) Biaya lunsum persiapan Pembuatan laporan Penelitian akhir 2 paket 2 500000 1000000 0 Lunsum diskusi pembuatan artikel-seminar internasional di Bandung Biaya lunsum untuk persiapan pembuatan artikel seminar di Bandung 2 paket 2 400000 800000 0 Lunsum diskusi pembuatan artikel-jurnal
internasional Biaya lunsum
untuk persiapan pembuatan artikel seminar di Jakarta 2 paket
22 Lunsum diskusi pembuatan artikel-jurnal nasional Biaya lunsum untuk persiapan pembuatan Buku populer 2 paket 2 450000 900000 0 Perjalanan Jakarta-
semarang tahun 2A (PP) Biaya lunsum untuk persiapan Tiket tahun 1) (PP) (implementasi hasil tahun 1) (PP) 2 2182000 0 4364000 Perjalanan ke bandara Soeta tahun 2A (PP) Biaya transportasi lokal (implementasi tahun 1) (PP) (implementasi hasil tahun 1) (PP) 2 140000 0 280000 Perjalanan Jakarta- semarang tahun 2B (PP) Tiket pesawat (implementasi hasil penelitian tahun 1) (PP) 2 2182000 0 4364000 Perjalanan ke bandara Soeta tahun 2B (pp) Biaya transportasi lokal (survey perbedaan jumlah wisatawan) (PP) 2 140000 0 280000 Perjalanan Jakarta- Yogyakarta (PP) Tiket pesawat (Seminar internasional) 2 2268000 0 4536000 Perjalanan bandara Yogya-ke penginapan (PP ) Biaya transportasi lokal 2 90000 0 180000 Penginapan kegiatan seminar internasional Yogya Harga sewa penginapan di Yogya / hari 2 810000 0 1620000
Uang harian di lokasi penelitian tahun 2A Jumlah uang harian di lokasi penelitian/hari (implementasi hasil penelitian tahun 1) 4 100000 0 0