ISSN 0853-xxxx print/ 2442-xxxx online © 20XX ITERA, ASPI dan IAP
KESIAPAN PEMBANGUNAN KOTA METRO MENUJU KOTA RAMAH
LANSIA (AGE FRIENDLY CITY)
STUDI KASUS: KECAMATAN METRO PUSAT, KOTA METRO
Natalia Dinda K.P
1, Helmia Adita Fitra
22
Institut Teknologi Sumatera
1 Email :[email protected]
ABSTRAK
Prinsip inklusif yang diusung dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, salah satunya ditujukan kepada lansia melalui integrasi Kota Ramah Lansia. Ketercapaian Kota Ramah Lansia dilihat dari kesiapan pembangunan terhadap delapan dimensi Kota Ramah Lansia menurut pedoman WHO (World Health Organization). Kota Metro merupakan salah satu kota otonom di Provinsi Lampung yang telah bertransformasi menjadi sebuah wilayah dengan pusat konsentrasi penduduk di segala bidang. Sementara, saat ini beberapa program dan pelayanan untuk lansia di Kota Metro belum diakomodir dalam penataan ruang. Padahal, jumlah penduduk lansia di Kota Metro sudah mencapai 13.291 jiwa (Kota Metro Dalam Angka, 2019). Pada tahun 2018, Kecamatan Metro Pusat merupakan kecamatan yang memiliki distribusi penduduk paling banyak jika dibandingkan dengan 4 kecamatan lainnya. Hal ini dibuktikan dengan persentase jumlah penduduk paling besar, yakni 31,6% dari total jumlah penduduk di kecamatan lainnya (Kota Metro Dalam Angka, 2019). Selain itu, berdasarkan tinjauan kebijakan yang termuat dalam RDTR Kecamatan Metro Pusat 2018, tujuan penataan BWP Kecamatan Metro Pusat serta fungsi pelayanan terhadap kawasan sekitarnya, kedudukan Kecamatan Metro Pusat dinilai bisa merepresentasikan pencapaian kesiapan pembangunan Kota Metro menuju Kota Ramah Lansia. Akan tetapi, pada pelaksanaannya, pelayanan sosial lansia di Kecamatan Metro Pusat bahkan Kota Metro secara general, sedangkan untuk penyediaan infrastruktur dan fasilitas umum yang secara khusus diperuntukkan untuk penduduk lansia belum diatur dalam penataan ruang di Kota Metro. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesiapan pembangunan di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro untuk menuju Kota Ramah Lansia. Dalam menjawab tujuan tersebut maka dilakukan: 1) Mengidentifikasi karakteristik penduduk lansia di Kecamatan Metro Pusat 2) Mengidentifikasi penerapan 8 dimensi Kota Ramah Lansia di Kecamatan Metro Pusat 3) Menganalisa kesiapan pembangunan di Kecamatan Metro Pusat untuk menuju Kota Metro sebagai Kota Ramah Lansia. Karakteristik penduduk lansia di Kecamatan Metro Pusat diidentifikasi menggunakan analisis deskriptif. Kemudian, penerapan 8 dimensi Kota Ramah Lansia di Kecamatan Metro Pusat diidentifikasi menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Sedangkan, untuk menganalisa kesiapan pembangunan di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro untuk menuju Kota Ramah Lansia menggunakan analisis statistik deskriptif dengan Uji Hipotesa Wilcoxon Signed Rank. Penelitian ini menunjukkan bahwa Kecamatan Metro Pusat siap untuk mendukung Kota Metro sebagai Kota Ramah Lansia. Kategori kesiapan tersebut didukung oleh pemenuhan beberapa kriteria siap yang termuat dalam dimensi 2) transportasi, 6) partisipasi sipil dan pekerjaan, 7) komunikasi dan informasi dan kategori sangat siap pada dimensi 4) partisipasi sosial dan 5) penghormatan dan penghargaan dari lingkungan sosial, dimana hasil ini didukung dari karakteristik penduduk lansia (distribusi penduduk lansia, jenis pekerjaan, gangguan kesehatan, aktivitas sosial dan capaian LLI kota Metro) dengan penerapan 8 dimensi Kota Ramah Lansia kondisi eksisting dan secara ideal.
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 1111 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541- 2973 Kata Kunci : Perencanaan Inklusif, Kota Ramah Lansia, Lansia
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Dalam pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, prinsip inklusif yang secara spesifik menyasar kepada yang rentan (no one left behind) dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan kesejahteraan seluruh warga negara tanpa terkecuali. Namun, pada masa pemerintahan Prisiden Joko Widodo periode kedua, salah satu program prioritas pembangunan di Indonesia ditujukan pada kualitas sumber daya manusia (SDM), dimana anggaran untuk pembangunan SDM tersebut terus bergerak naik, sementara kondisi keuangan negara semakin terbatas. Kondisi ini mengkhawatirkan adanya kesenjangan dalam pembangunan pada aspek lainnya (Kementerian Sekretariat Negara RI, 2019). Menanggapi hal kontradiktif tersebut, asas dasar hak asasi manusia (HAM) Pasal 1 Ayat 3, “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan perlakuan hukum
yang adil serta mendapat kepastian hukum dalam semangat di depan hukum” dan Pasal 5 ayat 3, “setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya” harus dilaksanakan dalam rencana pembangunan. Adapun kelompok masyarakat yang rentan tersebut yang dimaksudkan adalah penduduk lanjut usia (lansia).
Sejak adanya deklarasi MIPPA 2002 (Madrid International Plan of Ageing) yang dihadiri oleh 157 negara termasuk Indonesia, perubahan paradigma kelanjutusiaan dalam pembangunan menjadi konsentrasi tersendiri bagi negara-negara dalam pembangunan sumber daya manusia dan investasi infrastruktur yang ramah usia, termasuk lansia. Isi dari perjanjian internasional tersebut kemudian diterjemahkan melalui tiga dokumen strategis yang diterbitkan oleh WHO (World Health Organization), salah satunya yaitu kota ramah usia atau lansia global. WHO telah mengeluarkan pedoman kota ramah lanjut usia (Age Friendly Cities guideline) yang mencakup 8 dimensi yaitu 1) gedung dan ruang terbuka, 2) transportasi, 3) perumahan, 4) partisipasi sosial, 5) penghormatan dan keterlibatan sosial, 6) partisipasi sipil dan pekerjaan, 7) komunikasi dan informasi, 8) dukungan masyarakat dan kesehatan. Mengingat dampak penuaan penduduk tidak hanya pada sektor kesehatan dan ekonomi saja, sehingga juga harus diperhitungkan dalam melakukan analisa kemiskinan, lapangan pekerjaan, kesejahteraan dan perencanaan kota.
Atas dasar keinginan Pemerintah Kota Metro yang adaptif, berani berinovasi dan terencana, Pemerintah Kota Metro berusaha memberikan ruang kepada lansia agar termotivasi, selalu bersemangat dan berperilaku hidup sehat (Dinas Sosial Kota Metro, 2019. Terdapat beberapa program yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Metro terkait kegiatan yang diperuntukkan untuk lansia, yang tentunya harus diakomodir dengan kebijakan integrasi Kota Ramah Lansia.
2. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian
Jumlah penduduk lansia di Kota Metro mencapai 13.291 penduduk (Kota Metro Dalam Angka, 2019). Besarnya jumlah penduduk berumur 60 tahun ke atas menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan di suatu wilayah.Hal ini berdampak pada berbagai aspek, baik fisik, sosial, maupun ekonomi. Oleh karena itu, suatu kota harus mampu menyediakan atau memfasilitasi semua kebutuhan penduduk lansia dan mengantisipasi semua kondisi agar kelak mereka menjadi lansia yang sehat, produktif, aktif dan bermartabat. Di tahun 2018, Kecamatan Metro Pusat merupakan kecamatan yang memiliki distribusi penduduk paling banyak jika dibandingkan dengan 4 kecamatan lainnya.
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 0000 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541-2973
Hasil tinjauan kebijakan yang termuat dalam RDTR Kecamatan Metro Pusat 2018, tujuan penataan BWP Kecamatan Metro Pusat adalah bagian wilayah perencanaan Kecamatan Metro Pusat sebagai pusat bisnis, pelayanan pemerintahan, dan rekreasi yang nyaman, cerdas, inklusif dan berkelanjutan. Selain itu, dalam skala Kota Metro dan sekitarnya, Kecamatan Metro Pusat memiliki fungsi sebagai pusat kegiatan lainnya. Akan tetapi, pada pelaksanaannya pelayanan sosial lansia di Kecamatan Metro Pusat bahkan Kota Metro secara general hanya baru dilakukan melalui suatu pendampingan sosial, bantuan sembako bagi lansia terlantar dan rujukan ke lembaga lansia terlantar atau panti jompo saja (Dinsos Kota Metro, 2019). Sementara, apabila merujuk pada isi perjanjian internasional di bidang kelanjutusiaan atau dokumen strategis yang diterbitkan oleh WHO
(World Health Organization) dan diterjemahkan melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia, pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial dalam upaya perlindungan dan pelayan terhadap penduduk usia lanjut harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan, yakni melalui capaian 8 dimensi Kota Ramah Lansia yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan aktivitas dan peningkatan kualiatas hidup lansia di Kota Metro, khususnya di Kecamatan Metro Pusat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesiapan pembangunan di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro menuju Kota Ramah Lansia.
3. Tinjuan Teori
Kota inklusif adalah kota yang menghargai semua orang dan kebutuhan mereka secara setara, dimana semua penduduk termasuk pekerja miskin yang paling terpinggirkan memiliki suara yang representatif dalam tata kelola pemerintahan, proses perencanaan dan penganggaran, memiliki akses ke mata pencaharian yang berkelanjutan, askesbilitas penyediaan perumahan legal dan layanan dasar bagi kehidupannya (Rhonda Douglas, 2013). Dalam pengembangan kota inklusif yang ramah terhadap lansia, isu mengenai
population aging telah dimasukkan ke dalam agenda pembangunan nasional, salah satunya termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019. Arah kebijakan lanjut usia dalam RPJMN 2015-2019 tersebut membahas mengenai peningkatan pemenuhan hak dasar dan inklusivitas penyandang disabilitas, lansia serta kelompok marginal pada setiap aspek penghidupan.
Pada hakikatnya, program percepatan kota ramah lansia merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi ledakan lansia di Indonesia pada tahun 2035. Pencanangan Kota Ramah Lansia global adalah sebuah gerakan di berbagai kota setiap negara dalam mendukung lingkungan yang ramah bagi lansia. Fokus program kota ramah lansia adalah menata infrastruktur yang ramah lansia, baik di dalam rumah maupun lingkungan sekitar (Hermawati, 2015).Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 mendefinisikan lanjut usia sebagai seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Dalam kesehariannya, penduduk lansia melakukan aktivitas sosial yang beragam. Aktivitas sosial merupakan suatu kegiatan yang membutuhkan kehadiran orang lain. Zhang dan Lawson (2009), telah membagi tipologi aktivitas menjadi tiga kategori yaitu aktivitas penting, aktivitas pilihan dan aktivitas sosial
Indikator Kota Ramah Lansia adalah sebuah panduan untuk membantu kota-kota yang ingin menjadi lebih ramah usia. WHO (World Health Organization) 2007, telah mengeluarkan pedoman Kota Ramah Lansia (Age Friendly City Guidelines) yang melingkupi 8 dimensi yaitu;
1) Ruang terbuka dan bangunan (Outdoor spaces and building)
2) Transportasi (Transportation) 3) Perumahan (Housing)
4) Partisipasi sosial (Social participation)
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 1111 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541- 2973 6) Partisipasi masyarakat dan pekerjaan (Civic participation and employment)
7) Komunikasi dan informasi (Communication and information)
8) Dukungan masyarakat dan layanan kesehatan (Community support and health services)
Untuk menilai capaian indikator suatu kota menuju Kot Ramah Lansia, tim
SurveyMETER dan CAS UI (2013), menggunakan per 25 percentile yang dibentuk untuk membantu melakukan monitoring dari waktu ke waktu, seperti berikut.
Tabel.1 Kategori Pencapaian Kota Ramah Lansia
Persentase Kategori Pencapaian Kategori kesesuaian
<25% Merah Tidak sesuai tidak siap 25%-49% Orange Belum sesuai belum siap
50%-74% Kuning Sesuai siap
75%-100% Hijau Sangat sesuai sangat siap
Sumber: SurveyMETER dan CAS UI (Center for Aging Studies University of Indonesia, 2013
B. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deduktif kuantitatif dengan metode pengumpulan data primer dan sekunder melalui observasi, wawancara (teknik
purposive/judgmental sampling) dan kuesioner. Kuesioner tersebut dilakukan menggunakan teknik probability sampling, salah satunya yaitu teknik proportioned random sampling, dimana kriteria sampel adalah penduduk usia 60 tahun ke atas yang kemudian dihitung dengan Rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 90%, sehingga memperoleh sampel sebanyak 98 responden. Analisis sasaran 1 menggunakan analisis deskriptif yang menggambarkan karakteristik penduduk lansia di Kecamatan Metro Pusat (jumlah penduduk lansia, jenis pekerjaan, gangguan kesehatan, dan aktivitas sosial yang dilakukan). Selain itu, pada sasaran 2 menggunakan analisis deskriptif kualitatif untuk menjelaskan penerapan 8 dimensi Kota Ramah Lansia secara ideal terhadap kondisi eksisting. Sementara, pada sasaran 3 menggunakan analisis statistik deskriptif (perhitungan nilai median dan persebaran nilai IQV atau Indeks Qualitative of Variation) yang kemudian diuji dengan Uji Hipotesa Wilcoxon Signed Rank untuk memperkuat hasil analisa secara. Nilai IQV diperoleh dengan membagi jumlah keseluruhan perbedaan yang diamati dengan jumlah maksimum kemungkinan perbedaan untuk mengetahui persebaran data yang diperoleh. Adapun rumus untuk mencari nilai IQV adalah sebagai berikut;
……….…..(1) Keterangan:
K = jumlah kategori N = jumlah kasus/objek
i
f
= jumlah kasus/objek dalam kategori iJika nilai IQV mendekati 0 maka dikatakan data tersebut cenderung homogen, sedangkan jika nilai IQV mendekati 1 maka dikatakan data tersebut cenderung heterogen. Akan tetapi, jika nilai IQV berkisar diantara nilai 0,5 maka data tersebut dikatakan tidak homogen dan tidak heterogen.
Setelah mengetahui hasil dari nilai IQV tersebut, kemudian disesuaikan dengan keberadaan titik yang berada pada rentang 0 sampai 1 seperti berikut
Adapun langkah dalam uji hipotesa yang dibuat untuk menentukan kesiapan pembangunan di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro menuju Kota Ramah Lansia yaitu sebagai berikut.
1) Menghitung nilai W, dengan mengacu pada prinsip dasar berikut ini;
1
2 1 2 2
k
N
f
N
k
IQV
k i iVolume 0 Nomor 0 - Bulan 0000 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541-2973
Jika W+ = W- maka W+ ATAU W- dengan nilai terkecil dijadikan stastistik uji
Jika W+ < W- maka W+ dijadikan sebagai stastistik uji Jika W+ > W- makaW- dijadikan sebagai statistik uji 2) Penentuan Hipotesa, dengan
H0 = Md ≥ 50 H1 = Md < 50
3) Penentuan nilai kritis (Ztabel) , dengan menggunakan derajat keyakinan 90%. Nilai Ztabel : -1.28
4) Penentuan nilai Zhitung
Diketahui bahwa jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 98 responden atau n > 50, maka untuk menentukan nilai Zhitung digunakan perhitungan sebagai berikut;
Zhitung = √ …………(2) Keterangan:
µw =Mean , σw = Standar deviasi, dan Z = Harga Uji Statistik
5) Pengambilan keputusan dengan membandingkan nilai Zhitung dengan Ztabel. dapat diasumsikan bahwa Zhitung, > Ztabel maka H0 diterima, begitu pun sebaliknya
Selanjutnya, apabila ketiga sasaran tersebut telah dilakukan analisis, peneliti mengkompilasi semua hasil (output) secara keseluruhan menggunakan teknik analisis isi
(content analysis).
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Karakteristik Penduduk Lansia di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro Berdasarkan aspek demografi, jumlah penduduk lansia menurut data lima tahun terakhir mengalami penurunan di tahun 2018 (BPS Kota Metro, 2019). penurunan selaras dengan penurunan jumlah penduduk di Kecamatan Metro Pusat yang menunjukkan angka migrasi ke luar kota lebih besar dibanding dengan jumlah penduduk yang datang. Trend perpindahan penduduk lansia ini terjadi bukan karena Kota Metro tidak layak untuk dihuni oleh penduduk di usia lanjut, melainkan ada faktor keinginan pribadi untuk tinggal bersama anak yang bersekolah, memperoleh pekerjaan, menikah dan menetap tinggal di luar kota hingga akhir usia. Untuk jumlah penduduk lansia di Kecamatan Metro Pusat tertinggi berada di Kelurahan Metro dengan total 2.339 jiwa. Hal ini sesuai letak administratif berada di pusat kota, sehingga mendorong adanya aktivitas yang lebih padat.
Selain itu, pandangan bahwa keberadaan lansia yang selalu dikaitkan dengan rasio ketergantungan pada usia produktif telah dibuktikan dengan persentase jumlah lansia yang tidak bekerja hanya sebesar 14%, dengan jenis pekerjaan yang didominasi oleh profesi pensiunan dan ibu rumah tangga. Pertambahan usia seseorang menimbulkan penurunan fisik dan gangguan kesehatan. Artinya, angka tersebut menunjukkan bahwa produktivitas lansia di Kecamatan Metro Pusat sangat tinggi dan terus berupaya dalam menggerakkan ekonomi keluarga tanpa bergantung dengan usia yang lebih muda. Adapun penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk lansia di Kecamatan Metro Pusat adalah tekanan darah tinggi dan diabetes, dimana tekanan darah tinggi paling banyak diderita oleh penduduk lansia di Kelurahan Metro dan Kelurahan Yosomulyo, sedangkan penyakit diabetes paling banyak diderita oleh penduduk lansia di Kelurahan Metro. Faktor adanya gangguan
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 1111 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541- 2973 kesehatan pada lansia tersebut dipengaruhi oleh faktor usia itu sendiri. Meskipun demikian, masih banyak lansia yang tetap melakukan aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas tersebut dibagi menjadi 3 tipologi menurut Zhang dan Lawson (2009), diantara aktivitas penting yang digambarkan dengan kegiatan lansia untuk beribadah dan bekerja, aktivitas sosial seperti interaksi lansia dalam diskusi, musyawarah tingkat kelurahan, arisan LLI (Lanjut Usia Indonesia), dan aktivitas pilihan seperti jalan-jalan santai, menyapu, duduk di depan rumah menikmati keadaan sekitar serta kegiatan lainnya.
Adapun karaktersitik tersendiri yang membedakan lansia di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro berbeda dengan lansia di wilayah lainnya yaitu terlihat dari adanya beberapa pencapaian Kota Ramah Lansia yang memperoleh dukungan penuh dari berbagai pihak seperti apresiasi terlaksananya Musda LLI Kota Metro yang dihadiri oleh Walikota Metro. Berkenaan hal tersebut, lansia diberi ruang untuk menyumbangkan ide kreatif dan mengajak semua lapisan untuk saling berkoordinasi demi menciptakan kondisi lansia yang sejahtera. LLI Kota Metro telah berdiri sejak tahun 2000, jauh sebelum LLI Kota Bandarlampung bahkan LLI Provinsi yang baru terbentuk pada 14 Februaru 2020 lalu. Capaian prestasi yang diraih oleh LLI Kota Metro yaitu menjadi wakil di beberapa event tingkat nasional yang sekaligus diatasnamakan sebagai wakil Provinsi Lampung. LLI Kota Metro juga diketuai langsung oleh mantan Walikota Metro yang pernah menjabat selama 15 tahun dengan harapan bahwa keberadaan LLI Kota Metro bisa membantu Pemerintah Kota Metro dalam mewujudkan Kota Ramah Lansia, sekaligus peningkatan pemberdayaan lansia dalam aspek pembangunan.
2. Penerapan 8 Dimensi Kota Ramah Lansia di di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro
1) Ruang Terbuka Hijau dan Bangunan
Dari hasil observasi yang diperoleh, diketahui bahwa dimensi ruang terbuka dan bangunan 80% sub dimensi yang ada telah diterapkan di Kecamatan Metro Pusat, dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 2. Penerapan Dimensi Ruang Terbuka Dan Bangunan di Kecamatan Metro Pusat
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
1
Kantor pusat informasi dan fasilitas non bangunan
sebagai tempat dan pengawasan keamanan lansia
√
masih diprioritaskan pada ruang terbuka dan bangunan di pusat kota
2
Jalur pejalan kaki yang bisa dilalui oleh kursi roda dan
dilengkapi dengan sambungan permukaan
(ramp) yang aman
√
secara umum disediakan dengan baik, namun ada satu desain yang kurang tepat sehingga tidak bisa dilalui kursi roda
3
Penerangan jalan dan jalur pemandu (petunjuk arah) yang membantu penglihatan
lansia
√
disediakan dengan baik di sepanjang jalan dan ruang terbuka
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 0000 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541-2973
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
4 Penataan tempat duduk yang baik untuk istirahat lansia √
disediakan dengan baik, namun tidak ada berapa standar jarak tempat duduk satu dengan lainnya
5 Area terapi kaki untuk lansia √
diantisipasi dengan pembuatan area terapi kaki di rumah masing-masing, namun tidak semua rumah lansia memiliki
Sumber: Hasil Analisa, 2020.
2) Transportasi
Dari hasil observasi yang diperoleh, diketahui bahwa dimensi transportasi sebanyak 50% sub dimensi yang ada, telah diterapkan di Kecamatan Metro Pusat, dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 3. Penerapan Dimensi Transportasi di Kecamatan Metro Pusat
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
1
Nilai kesopanan pada pengemudi atau antar penumpang di dalam angkutan
umum
√
dibuktikan dan disiasati dengan rasa empati penumpang yang usianya lebih muda mempersilahkan lansia untuk duduk di tempat strategis
2 Tempat duduk prioritas untuk
lansia √
3
Pemberhentian angkutan umum yang mudah dijangkau oleh
lansia
√
terutama di simpul kegiatan (pasar, tempat ibadah, perbatasan kelurahan/kecamatan)
4
Diskon atau tarif subsidi angkutan umum untuk lansia
berpenghasilan rendah
√
hanya diberikan ketika ada penyewaan angkutan umum secara berkelompok dan tarifnya bergantung kebijakan sopir/pengemudi
Sumber: Hasil Analisa, 2020.
3) Perumahan
Dari hasil observasi yang diperoleh, diketahui bahwa dimensi perumahan
(housing) sebanyak 50% sub dimensi yang ada, telah diterapkan di Kecamatan Metro Pusat, dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 4. Penerapan Dimensi Perumahan (Housing) di Kecamatan Metro Pusat
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
1 Bagian utama rumah harus
aman untuk dilalui kursi roda √
Secara umum, perumahan yang dikhususkan bagi lansia belum disediakan, namun ada rusunawa yang sudah memenuhi 2 kriteria tersebut, sedangkan untuk 2 lainnya belum terfasilitasi. Oleh karena itu, lansia harus berhati-hati dalam melakukan aktivitasnya. 2
Layanan emergency call
service 24 jam di perumahan lansia
√
3
Perlengkapan rumah tangga yang dimodifikasi agar muda
dijangkau oleh lansia
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 1111 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541- 2973
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
4 Material lantai yang aman √
Sumber: Hasil Analisa, 2020
4) Partisipasi sosial
Dari hasil observasi yang diperoleh, diketahui bahwa dimensi partisipasi sosial (social participation) di Kecamatan Metro Pusat 100% telah diterapkan, dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 5. Penerapan Dimensi Partisipasi Sosial di Kecamatan Metro Pusat
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
1
Acara atau kegiatan dengan waktu, lokasi dan antrian yang mudah dijangkau oleh
lansia
√
Bila kegiatan diselenggarakan oleh pihak pemerintah atau swasta waktu, tempat dan kegiatan tersebut juga terkordinasi dengan baik. Begitu pun dengan acara oleh lansia itu sendiri disesuaikan dengan kesepakatan bersama.
2
Kunjungan pribadi oleh Pemerintah Kota ke
rumah-rumah lansia
√
Sudah berjalan dengan baik, namun difokuskan bagi lansia terlantar dan jompo saja
3
Pembinaan minat dan keakraban antar lansia melalui beberapa kegiatan
√
Pelatihan tersebut ditujukan sebagai sarana berbagi pengalaman para lansia dan pembekalan skill agar lansia memiliki kegiatan yang produktif di hari tua
Sumber: Hasil Analisa, 2020
5) Penghormatan dan penghargaan dari lingkungan sosial
Dari hasil observasi yang diperoleh, diketahui bahwa dimensi Penghormatan dan penghargaan dari lingkungan sosial (Respect and Social Inclusion) sebanyak 75% sub dimensi yang ada, telah diterapkan di Kecamatan Metro Pusat, denagn rincian sebagai berikut
.
Tabel 6. Penerapan Dimensi Penghormatan Dan Penghargaan Dari Lingkungan Sosial di Kecamatan Metro Pusat
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
1 Interaksi antar
generasi √
Paradigma yang menunjukkan sikap dan perilaku antar generasi yang sangat menghargai penduduk lansia di Kec.Metro Pusat telah terwujud
2
Saluran bantuan sosial ekonomi untuk lansia yang
kurang mampu
√
Disalurkan sebagai bentuk kepedulian pemerintah kepada lansia terlantar khususnya, namun terkadang tidak tepat sasaran.
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 0000 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541-2973 3 Keterlibatan lansia dalam pengambilan keputusan √
Lansia dianggap sebagai panutan, bijaksana, dan berpengalaman sehingga masih sering terlibat
4
Pendidikan yang membahas tentang
penuaan
√ Lansia mencari informasi secara mandiri
Sumber: Hasil Analisa, 2020
6) Partisipasi Sipil dan Pekerjaan
Dari hasil observasi yang diperoleh, diketahui bahwa dimensi Dimensi Partisipasi Sipil dan Pekerjaan sebanyak 50% sub dimensi yang ada, telah diterapkan di Kecamatan Metro Pusat, dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 7. Penerapan Dimensi Partisipasi Sipil Dan Pekerjaan Sosial di Kecamatan Metro Pusat
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum 1 Kesempatan pelatihan setelah pensiun kepada lansia √
Pelatihan ini diselenggarakan dengan baik, bukan hanya terbuka untuk PNS saja tetapi lansia lainnya. Misal, pelatihan bercocok tanam, pelatihan usaha pekerjaan, dll agar lansia tetap bisa memenuhi kebutuhan ekonomi dan mengisi hari dengan kegiatan bermanfaat
2
Jenis pekerjaan yang bertoleransi dengan
keterbatasan fisik lansia
√
Masih banyak lansia di Kecamatan Metro Pusat yang bekerja keras dengan profesi tidak bertoleransi kepada fisik lansia (kuli panggul di pasar, penjual air dirigen, tukang becak, dll).
Sumber: Hasil Analisa, 2020
7) Komunikasi dan Informasi
Dari hasil observasi yang diperoleh, diketahui bahwa dimensi Dimensi Komuniksai dan Informasi di Kecamatan Metro Pusat 100% telah diterapkan, dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 8. Penerapan Dimensi Komunikasi Dan Informasi di Kecamatan Metro Pusat
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
1
Informasi dan tayangan khusus lansia secara
regular dan kontinu
√
Beberapa informasi dan berita acar terkait lansia difasilitasi oleh portal website Metro dibawah naungan Diskominfo Kota metro, sehingga dapat valid dan update.
2
Media komunikasi lisan yang bisa diakses oleh
lansia (temu keakraban/kegiatan
lansia)
√
Selain dari kegiatan, lansia dapat memupuk keakraban melalui media radio dengan berkirim salam, request lagu nostalgia, dll.
3
Media cetak informasi yang tulisannya mudah
dibaca lansia
√
Dikominfo Kota Metro bekerja sama dengan media cetak lainnya untuk memuat berita yang mudah dibaca oleh lansia
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 1111 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541- 2973
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
4
Penggunaan internet yang dapat diakses oleh
lansia
√ Untuk skala kota, penyediaan layanan internet di Kota Metro sangat memadai
Sumber: Hasil Analisa, 2020.
8) Dimensi Dukungan Masyarakat dan Layanan Kesehatan
Dari hasil observasi yang diperoleh, diketahui bahwa dimensi Dimensi Dukungan Masyarakat dan Layanan Kesehatan di Kecamatan Metro Pusat 100% telah diterapkan, dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 9. Penerapan Dimensi Dukungan Masyarakat Dan Layanan Kesehatan di Kecamatan Metro Pusat
No. Aspek Penerapan Keterangan
Sudah Belum
1
Layanan kesehatan dan sosial untuk lansia yang didistribusikan dengan
baik
√
Dibuktikan dengan penyediaan sarana kesehatan pada masing-masing kelurahan di Kecamatan Metro Pusat, posyandu lansia, dll
2
Perawatan kesehatan lansia di rumah , khususnya lansia jompo
√
Dilakukan secara berkala dengan pengecekan tensi darah dan kondisi lainnya, dikhususkan untuk lansia jompo yang sulit mengakses sarana kesehatan secara langsung
3
Donatur atau bantuan dari sukarelawan untuk
kesehatan lansia
√
Diselenggarakan bertepatan dengan kegiatan lansia, misal gebyar LLI bersama Ikatan Dokter Indonesia dan sukarelawan lainnya
4 Perencanaan kondisi darurat yang memperhitungkan ketidakmampuan lansia dalam memperoleh jaminan kesehatan √
Layanan kartu jaminan kesehatan seperti BPJS, KIS, ASKES dan asuransi lainnya. Akan tetapi, terkadang pelayanan yang diberikan kurang baik.
Sumber: Hasil Analisa, 2020
3. Analisa Kesiapan Pembangunan di Kecamatan Metro Pusat Untuk Menuju Kota Metro Sebagai Kota Ramah Lansia
Tabel 10. Hasil Analisa Kesiapan Pembangunan di Kecamatan Metro Pusat dalam Mendukung Kota Metro Sebagai Kota Ramah Lansia
No. Dimensi
Hasil Penilaian
Menurut Persepsi Lansia Uji Hipotesa Wilcoxon Signed Rank Nilai Median Capaian Kategori Penerimaan Hipotesa Capaian Kategori 1 Ruang Terbuka dan
Bangunan 80 Sangat Siap H1 Tidak Siap
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 0000 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541-2973
No. Dimensi
Hasil Penilaian
Menurut Persepsi Lansia Uji Hipotesa Wilcoxon Signed Rank Nilai Median Capaian Kategori Penerimaan Hipotesa Capaian Kategori
3 Perumahan 40 Belum Siap H1 Belum Siap
4 Partisipasi Sosial 80 Sangat Siap H0 Sangat Siap
5
Penghormatan dan Penghargaan dari Lingkungan Sosial
80 Sangat Siap H0 Sangat Siap
6 Partisipasi Sipil
Pekerjaan 68,5 Siap H0 Siap
7 Komunikasi & Informasi 70 Siap H0 Siap
8 Dukungan Masyarakat
dan Layanan Kesehatan 80 Sangat Siap H1 Tidak Siap
Sumber: Hasil Analisa, 2020
Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, terdapat perbedaan hasil penilaian menurut persepsi lansia dengan uji hipotesa Wilcoxon Signed Rank, yakni pada dimensi 1) Ruang terbuka dan bangunan dan dimensi 8) Dukungan Masyarakat danlayanan kesehatan. Setelah dikaitkan dengan haisl analisa pada sasaran 1 dan 2, diperoleh faktor yang menyebabkan hasil tersebut tidak konsisten. Temuan hasil perbedaan penilaian tersebut dijelaskan melalui tabel berikut.
Tabel 11. Analaisa Perbedaan Hasil Penilaian Kesiapan Pembangunan di Kecamatan Metro Pusat Menurut Persepsi Lansia dengan Uji Hipotesa Wilcoxon Signed Rank
No. Penyebab hasil yang tidak konsisten
Dimensi 1) Ruang Terbuka dan
Bangunan
8) Dukungan Masyarakat dan Layanan Kesehatan
1 Nilai Max 95 100
2 Nilai Min 40 35
3 Persebaran Data (IQV)
0,534 (tidak homogen dan tidak heterogen)
0,510 (tidak homogen dan tidak heterogen)
4
Banyak data yang melewati batas toleransi
9 responden 19 responden
5 Faktor
Usia 80-an tahun 80-an tahun
Lokus/tempat
tinggal Kelurahan Imopuro
Kelurahan Imopuro dan Hadimulyo Timur
Profil pengetahuan
Tidak banyak persis bagaimana penerapannya, karena kegiatan lebih banyak dilakukan di rumah dan sibuk berdagang di pasar
Kritis terhadap pelayanan kesehatan Batas Usia Pensiun dengan BPJS Ketenagakerjaan
Profil pekerjaan
Tidak bekerja, buruh, IRT,
dan pedagang Tidak bekerja, IRT, dan pensiunan 6 Penerapan segi
kuantitas
80% sudah difasilitasi dan diterapkan
100% sudah difasilitasi dan diterapkan
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 1111 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541- 2973 7 Penerapan segi
kualitas
Penggunaan ruang terbuka lebih didominasi oleh kawula muda, ruang lansia lebih sempit
Donatur bidang kesehatan banyak yang tidak tepat sasaran, tidak semua lansia memiliki kartu jaminan kesehatan, sehingga masih banyak yang terbebani dalam mengakses layanan kesehatan
Sumber: Hasil Analisa, 2020
Selain itu, dalam memberikan penilaian lansia memiliki standar penilaian yang berbeda. Penilaian yang diberikan oleh lansia bersifat subjektif, sehingga indikator-indikator penilaian dari lansia tersebut tidak bisa dikontrol oleh peneliti. Untuk menyimpulkan bagaimana kesiapan pembangunan di Kecamatan Metro Pusat dalam mendukung keberhasilan Kota Metro menuju Kota Ramah Lansia, peneliti memilih menggunakan hasil penilaian berdasarkan Uji Hipotesa dengan Uji Wilcoxon Signed Rank. Hal ini dikarenakan uji hipotesa merupakan suatu metode pembuktian yang empiris untuk mengkonfirmasi atau menolak sebuah opini atau asumsi dengan menggunakan data sampel. Sehingga, hasil penilaian dengan nilai tengah (median) dirasa belum cukup untuk dipercaya secara penuh.
D. KESIMPULAN
Dari tujuan penelitian yaitu mengkaji kesiapan pembangunan di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro untuk menuju Kota Ramah Lansia, dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Metro Pusat siap untuk mendukung Kota Metro sebagai Kota Ramah Lansia
(Age Friendly City). Kategori kesiapan tersebut didukung oleh pemenuhan beberapa kriteria siap yang termuat dalam dimensi 2) transportasi, 6) partisipasi sipil dan pekerjaan, 7) komunikasi dan informasi dan kategori sangat siap pada dimensi 4) partisipasi sosial dan 5) penghormatan dan penghargaan dari lingkungan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, M. (2009). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penduduk Lanjut Usia Memilih Bekerja. Jurnal of Indonesian Applied Economics Universitas Brawijaya, Vol.3 No.2 Oktober 2009, Hal. 99-110.
Amini, D. R., & Pamungkas, S. T. (2017). Keamanan Bagi Pengguna Lanjut Usia di Taman Lansia Surabaya. Jurnal Arsitektur Universitas Brawijaya.
Anisa, A. (2017). Hubungan Aktivitas Sosial dengan Kualitas Hidup Lansia di Padukuhan Karang Tengah Nogorito Gamping, Sleman. Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
Anonim. (2016). Kerangka Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) .
Jakarta: Deputi Kemaritiman dan SDA Kementerian PPN/BAPPENAS.
Anonim. (2017). Analisa Lansia di Indonesia. Jakarta Selatan: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Anonim. (2017). Instrumen Penilaian Kota Inklusif. Jakarta: Biro Sains untuk Kawasan Asia-Pasifik, UNESCO.
AR, M. (2017). Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).
Gunung Kidul, Yogyakarta: BAPPEDA DIY.
Azizah, S. A. (2015). Upaya Lansia dalam Mengatasi Kesepian. IAIN Purwokerto. Baftijari, I., & dkk. (2007). Inclusive and Sustainable Urban Planning: A Guide For
Municipalities. Kenya: United Nations Human Settlements Programme (UN HABITAT).
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 0000 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541-2973
Burton; Lynne Mitchell (2006). Inclusive Urban Design: Streets for Life Elizabeth. Oxford; Elsevier
Darajati, W. (2016). Upaya Pencapaian Target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Indonesia. Jakarta: Kementerian PPN/BAPPENAS.
Darmojo, B (2004). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta;
Esti, N. M. (2017). Pengembangan Taman Kota Ramah Lansia. Universitas Pakuan, Bogor.
Geriatri. (2020, Januari Kamis). Kawasan Perumahan Lansia Pertama di Indonesia.
Senior Living, p. 1.
Hanjarwati, A. (2019). Persepsi Penyandang Disabilitas dan Stakeholder Untuk Mempromosikan dan Mengembangkan Komunitas Inklusif di DIY dan Sulawesi Tenggara. Sosiolog Reflektif UIN Sunan Kalijaga, Vol.13, No.2.
Harmanto, M. N. (2016). Analisis Pengelompokkan Mengenai Perubahan Struktur Kependudukan dalam Menghadapi Era Bonus Demografi di Kabupaten/ Kota Provinsi Jawa Timur. Jurnal SAINS dan SENI ITS, Vol.5, No.2, (2337-3520). Hermawati, I. (2015). Kajian Tentang Kota Ramah Lanjut Usia. Yogyakarta: B2P3KS
Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Hernayah. (2015). Ageing Population dan Bonus Demografi Kedua di Indonesia. Badan Pusat Statistik Kota Sukabumi, Vol.23, No. 2, Hal. 1-16.
Maftudin, A. (2017). Mendefinisikan Kota Inklusif: Asal-Usul Teori dan Indikator.
Semarang: Tata Kelola Planologi UNDIP.
Maulana, A., & Haripradianto, T. (2017). Pengaruh Keberadaan Ruang Bersama Terhadap Interaksi Sosial Lansia Wanita di Panti Wreda Hargo Dedali.
Universitas Brawijaya, Malang.
Maylasari, I., & dkk. (2018). Statistik Penduduk Lansia 2017. Jakarta: Subdirektorat Statistik Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial, Badan Pusat Statistik.
Metro, D. S. (2019, Agustus Rabu). Pelayanan Sosial dan Kesejahteraan Lansia. Retrieved Desember Senin, 2019, from Dinsos Kota Metro: http://dinsos.metrokota.go.id/?page_id=1389
Miftadira, R., & dkk. (2014). Pengaruh Hubungan Morfologi Terhadap Pemanfaatan Ruang Dari Aktivitas Sosial Lansia di Kampung Arab,Kota Malang. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya.
Organization, W. H. (2007). Global Age-Friendly Cities a Guide (Ageing and life course, family and community health). France: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data.
Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 02 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Lansia
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2016 tentang Rencana Aksi Nasional Kesehatan Lanjut Usia Tahun 2016-2019. (n.d.).
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesbilitas pada bangunan gedung dan lingkungan
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Remi, S. S. (2018). Strategi Mengelola Bonus Demografi dalam Era Disrupsi dan Globalisasi. AIPI-Universitas Diponegoro.
Rustama, A., & dkk. (2016). Analisis Kebijakan Pemberdayaan Kelembagaan Kelanjutusiaan (Older People's Asssociation). Surakarta: Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia.
Volume 0 Nomor 0 - Bulan 1111 - p ISSN 2301-878X - e ISSN 2541- 2973 Sawitri, Dewi (2017). Bahan Ajar Metoda Analisis Perencanaan: Statistik Deskriptif.
Bandung; ITB.
Statistik, B. P. (2019). Kecamatan Metro Pusat Dalam Angka 2019. Kota Metro: BPS Kota Metro.
Statistik, B. P. (2019). Kota Metro Dalam Angka 2019. Kota Metro: BPS Kota Metro. Suadirman, & Partini, S. (2011). Psikologi Usia Lanjut. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Suriastini, N. W., & dkk. (2015). Merajut Kemitraan untuk Kebijakan (Studi Episode Deklarasi Jakarta Sebagai Kota Ramah Dimensia dan Ramah Lanjut Usia.
Jakarta: SurveyMETER.
Suristiani, N. W., & dkk. (2013). Satu Langkah Menuju Impian Lanjut Usia-Kota Ramah Lanjut Usia 2030. Yogyakarta: SurveyMETER dan CAS UI.
Suristini, N. W., & dkk. (2016). Kesesuaian Kota Yogyakarta Memenuhi Kriteria Kota Ramah Lanju Usia . Yogyakarta: SurveyMETER dan CAS (Center for Ageing Studies) UI.
SurveyMETER, T. (2013). Perlu Langkah Bersama Menuju Komunitas Ramah Lansia.
Sleman, Yogyakarta: SurveyMETER.
Suryani, I. (2009). Pemanfaatan Ruang Luar Bagi Lansia dalam Skala Perkotaan.
Universitas Indonesia.
Sutopo, Agus dkk. (2014). Kajian Indikator Lintas Sektor Sustainable Development Goals (SDGs), Jakarta; Badan Pusat Statistik
Topatimasang, R. (2013). Memanusiaka Lanjut Usia: Penuaan Penduduk dan Pembangunan di Indonesia. Yogyakarta: SurveyMETER.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. (n.d.).
Vibriyanti, D. (2018). Surabaya Menuju Kota Ramah Lansia: Peluang dan Tantangan.
Jurnal Kependudukan LIPI.
Warsilah, Henny (2015). Pembangunan Inklusif Sebagai Upaya Mereduksi Ekslusi Sosial Di Perkotaan: Kasus Kelompok Marginal di Kampung Semanggi, Solo, Jawa Tengah. Pusat Penelitian Kemasyarakatan Dan Kebudayaan; LIPI
Weishaguna, & Ernady, S. (2004). Morfologi Sebagai Pendekatan Memahami Kota.
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA, 56-67.
Widowati, E. (2018). Kajian Kota Semarang Menuju Kota Ramah Lansia. Universitas Negeri Semarang, Vol.12, No.2, Hal. 21-36.
Wirakartakusumah MD, dkk (1994). Aging in Indonesia: Demographic Characteristic;
Departemen of Geography University of Adelaide
Yulaswati, V. (2015). Perlindungan Sosial Lnajut Usia. Depok: Direktorat Perlindungan Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat, Kementerian PPN/BAPPENAS.
Zhang, & Wei dan Lawson. (2009). Meeting a Greeting: Activities In Public Outdoor Spaces Outside High-Density Urban Residential Communities. Brisbane, Australia: QL Digital.