• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE KERJA KELOMPOK PADA PELAJARAN IPA DI SDN 7 NANGA PAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE KERJA KELOMPOK PADA PELAJARAN IPA DI SDN 7 NANGA PAK"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE KERJA KELOMPOK PADA PELAJARAN IPA

DI SDN 7 NANGA PAK

ARTIKEL PENELITIAN

OLEH

MOHLIS NIM F34210285

PROGRAM STUDI S1 KEPENDIDIKAN BAGI GURU DALAM JABATAN JURUSAN PENDIDIKAN DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK 2012

(2)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE KERJA KELOMPOK PADA PELAJARAN IPA

DI SDN 7 NANGA PAK ARTIKEL PENELITIAN MOHLIS NIM F34210285 Disetujui, Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Deden Ramdani, M. Pd DR. Edy Tandililing, M. Pd NIP 1963 0212 198803 1003 NIP 19570901 1986031 1003

Mengetahui,

Dekan Ketua Jurusan Pendidikan Dasar

Dr. Aswandi Drs. H. Maridjo Abdul Hasymi, M. Si NIP 19580513 198603 1 002 NIP 19510128 197603 1 001

(3)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE KERJA KELOMPOK PADA PELAJARAN IPA

DI SDN 7 NANGA PAK

Mohlis, Deden Ramdani, Edy Tandililing

PGSD, FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak

Abstract : The quality of science education, related to many factors such as teacher competence, the effectiveness of the learning process, the availability of educational facilities and the level of students' motivation to learn. But in fact in the world of education show that learning in general, expository, verbalistic and tend to use the board, less effort to do demonstrations, experiments and other forms of demonstration lessons. Learning outcomes "is to be viewed from two sides of the side of the students and teachers. From the students, learning outcomes is the level of mental development better than the time before learning. " The term is used to encapsulate the group work where students' understanding in a group is seen as a separate entity to look for one which is of course learning objectives with mutual cooperation. In conjunction with efforts to create a conducive atmosphere, the media is one of the factors that determine the success of learning turur. The word comes from the Latin media is a medium that literally means middle intermediary or introduction. In other words, the media is an intermediary or messenger. Based on the results of data analysis and the discussion concluded that: planning, learning by using group work is effective, it is shown the data cycle of students scored ≥ 60, while the second cycle students score increased to ≥ 70. Implementation of learning by using group work is effective and running as planned. It is indicated for students grades first cycle ≥ 65 while on the second cycle of ≥ 75. The results of the fourth grade students of SDN 07 Nanga Pak on materials science learning style influence the motion of mastery learning in the first cycle by 68.57% and the second cycle was increased by 14.76% so as to reach 83.33%.

Abstrak : Mutu pendidikan IPA, berkaitan dengan banyak faktor antara lain kompetensi guru, efektivitas proses pembelajaran, ketersediaan fasilitas pendidikan serta tingkat motivasi belajar siswanya. Namun pada kenyataannya dalam dunia pendidikan memperlihatkan bahwa pembelajaran pada umumnya bersifat ekspositoris, verbalistik dan cenderung hanya menggunakan papan tulis, kurang upaya untuk melakukan demonstrasi, eksperimen dan bentuk peragaan lainnya dalam pembelajaran. Hasil belajar “merupakan hal yang dapat dipandang

(4)

dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar”. Istilah kerja kelompok dipakai untuk merangkum pengertian dimana anak didik dalam satu kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mencari satu tujuan pelajaran yang tentu dengan bergotong royong. Dalam kaitannya dengan usaha menciptakan suasana kondusif, media merupakan salah satu faktor yang turur menentukan keberhasilan pembelajaran. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti tengah perantara atau pengantar. Dengan kata lain media adalah perantara atau pengantar pesan. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan disimpulkan bahwa : Perencanaan, pembelajaran dengan menggunakan metode kerja kelompok sudah efektif, ini ditunjukkan data siklus I siswa mendapat nilai ≥ 60, sedangkan pada siklus II nilai siswa meningkat menjadi ≥ 70. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode kerja kelompok sudah efektif dan berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Ini ditunjukkan perolehan nilai siswa untuk siklus I ≥ 65 sedangkan pada siklus II sebesar ≥ 75. Hasil belajar siswa kelas IV SDN 07 Nanga Pak pada pembelajaran IPA materi pengaruh gaya terhadap gerak benda ketuntasan belajarnya pada siklus I sebesar 68,57% dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 14,76% sehingga menjadi mencapai 83,33%.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Pembelajaran IPA, Metode Kerja Kelompok.

Mutu pendidikan IPA, berkaitan dengan banyak faktor antara lain kompetensi guru, efektivitas proses pembelajaran, ketersediaan fasilitas pendidikan serta tingkat motivasi belajar siswanya. Namun pada kenyataannya dalam dunia pendidikan memperlihatkan bahwa pembelajaran pada umumnya bersifat ekspositoris, verbalistik dan cenderung hanya menggunakan papan tulis, kurang upaya untuk melakukan demonstrasi, eksperimen dan bentuk peragaan lainnya dalam pembelajaran.Fungsi dan tujuan pendidikan sebagaimana tercantum dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003:7) BAB II Pasal 3 dikatakan bahwa : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan tersebut, kemudian dalam GBHN (1999) ditegaskan bahwa:

Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi

(5)

pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja professional, bertanggung jawab, dan produktif, serta sehat jasmani dan rohani.

Metode pembelajaran selama ini yang kami lakukan di kelas IV SDN 7 Nanga Pak Kec. Sayan Kabupaten Melawi adalah metode ceramah. Pernah juga kami lakukan pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi dan eksperimen untuk meningkatkan pemahaman, akan tetapi usaha tersebut belum dapat mencapai hasil yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena kurangnya keakifan serta motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu materi yang disampaikan belum dapat dipahami siswa dengan baik. Hal ini menyebabkan hasil belajar siswa masih kurang. Hasil belajar siswa dikatakan baik, apabila nilai siswa pada pkok bahasan tertentu mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM). Sedangkan hasil belajar yang kurang baik apabila nilai siswa kurang dari kriteria ketuntasan minimum yang telah ditentukan oleh sekolah. Dari hal-hal tersebut di atas, maka perlu diupayakan cara yang lain agar siswa menjadi lebih tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas. Salah satunya adalah dengan menggunakan Metode Kerja Kelompok. Dengan menggunakan Metode Kerja Kelompok membuat siswa terlibat lebih aktif dalam pembelajaran, karena adanya interaksi dalam kelompok memungkinkan siswa tidak segan untuk saling bertanya dengan teman sekelompoknya, sehingga dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dan pada akhirnya tingkat penugasan siswa terhadap materi pelajaran juga meningkat.

Adapun tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 7 Nanga Pak Kec. Sayan Kabupaten Melawi pada pelajaran IPA melalui Metode Kerja Kelompok, (2) Untuk meningkatkan kemampuan siswa dan guru baik dalam perencanaan pembelajaran, penggunaan metode kerja kelompok, agar di dalam proses belajar mengajar di kelas menjadi lebih baik dan siswa menjadi aktif.

Istilah kerja kelompok dipakai untuk merangkum pengertian dimana anak didik dalam satu kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri, untuk mencari satu tujuan pelajaran yang tentu dengan bergotong royong. Metode Kerja Kelompok atau belajar dalam situasi kelompok, mengundang pengertian bahwa siswa dalam suatu kelas dpandang sebagai suatu kesatuan (kelompok) tersendiri. Ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil atau sub-sub kelompo (Syaiful Sagala 2003:215). Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan dan daya piker (Thursam Hakim:2000). Menurut pendapat Gjamarah dan Zain (2002) belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman dan latihan. Berdasarkan pengetahuan ini diketahui bahwa seseorang yang belajar akan mengalami perubahan dari tidak bisa menjadi bisa dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Perubahan yang dimaksud yaitu perubahan tingkah laku dalam pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Menurut Nasution (Wijaya Kusumah, 2009:237) didefinisikan sebagai perubahan individu yang belajar. Perubahan ini tidak hanya mengenai pengetahuan tetapi juga membentuk kecakapan, sikap dan pengertian, penguasaan

(6)

dan penghargaan dalam diri individu yang belajar. Pendapat tersebut sejalan dengan Winarno Surakhman yang menyatakan bahwa “hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati dari sifat-sifat dan tanda tingkah laku yang dipelajari dalam bentuk keterampilan, konsep-konsep dalam bentuk sikap”.Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:250) hasil belajar “merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar”. Dan menurut Nana Sudjana (2005:20) hasil belajar adalah “kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat diartikan bahwa hasil belajar adalah kemampuan peserta didik yang diperoleh melalui proses pembelajaran yang memerlukan waktu, dan terjadi perubahan pada diri orang yang belajar sesuai dengan tujuan belajar. Hasil belajar memiliki peran penting dalam pembelajaran. Penelitian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mecapai tujuan-tujuan pembelajarannya melalui berbagai kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Berdasarkan teori Benyamin Bloom hasil belajar dalam rangka studi meliputi tiga ranah, yaitu : ranah kognitif, ranah afektif, dana ranah psikomotor. Istilah kerja kelompok dipakai untuk merangkum pengertian dimana anak didik dalam satu kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri, untuk mencari satu tujuan pelajaran yang tentu dengan bergotong royong. Merode kerja kelompok atau belajar dalam situasi kelompok mengundang pengertian bahwa siswa dalam suatu kelas dipandang sebagi kesatuan (kelompok) tersendiri. Ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil atau sub-sub kelompok-kelompok (Syaiful Sagala, 2003:215). Sebagai metode kerja kelompok dapat dipakai mengajar untuk mencapai bermacam tujuan di sekolah. Di dalam praktek ada banyak jenis kerja kelompok yang dapat dilaksanakan yang kesemuanya bergantung pada beberapa faktor, misalnya pada tujuan khusus yang akan dicapai, umur dan kemampuan siwa, serta fasilitas pelajaran-pelajaran di kelas kelompok bisa dibuat berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan minat dan bakat belajar, jenis kegiatan, wilayah tempat tinggal, random dan sebagainya (Syaiful Sagala, 2003:216).

Ada beberapa kelebihan dari metode kerja kelompok ini antara lain adalah sebagai berikut : (a) Membiasakan siswa bekerjasama menurut paham demlokrasi, memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan sikap musyawarah dan bertanggung jawab, (b) Kesadaran akan adanya kelompok menimbulkan rasa kompetitif yang sehat, sehingga membangkitkan kemauan belajar dengan sungguh-sungguh, (c) Guru tidak perlu mengawasi masing-masing murid secara individual, cukup hanya dengan memperhatikan kelompok saja atau ketua-ketua kelompoknya, (d) Melatih ketua kelompok menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan membiasakan anggota-anggotanya untuk melaksanakan tugas kewajiban sebagai warga yang patuh pada aturan. (Syaiful Sagala, 2003:216). Disamping kelebihan tersebut di atas, ada juga kelemahannya dalam

(7)

metode kerja kelompok. Adapun kelemahan dalam metode kerja kelompok ini, menurut Syaiful Sagala (2003) dapat ditinjau dari dua segi, yaitu : (a) Segi Penyusunan Kelompok, Adapun dari segi penyusunan kelompok, menurut Syaiful Sagala (2003:216) kelemahannya adalah sebagai berikut : (i) Sulit untuk membuat kelompok yang homogen, baik intelegensi, bakat dan minat, atau daerah tempat tinggal, (ii) Murid-murid yang oleh guru telah dianggap homogeny, sering tidak merasa cocok dengan anggota kelompoknya itu, (iii) Pengetahuan guru tentang pengelompokkan itu kadang-kadang masih belum mencukupi. (b) Segi Kerja Kelompok, Adapun dari segi kerja kelompk, kelemahannya adalah sebagai berikut: (i) Pemimpin kelompok kadang-kadang sukar untuk memberikan pengertian kepada anggota, sulit untuk menjelaskan dan mengadakan pembagian kerja, (ii) Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin kelompok, (iii) Dalam belajar bersama kadang-kadang tidak terkendali sehingga menyimpang dari rencana yang berlarut-larut. (Syaiful Sagala, 2003:217). Kelemahan-kelemahan yang melekat dan yang akan ditemui dalam metode ini, bukanlah berarti untuk melemahkan penggunaannya, melainkan agar dapat diambil langkah buat mengatasinya. Langkah-langkah buat mengatasinya menurut Mansyur (dalam Syaiful Sagala, 2003:217) antara lain sebagai berikut : (a) Guru haruslah berusaha memperoleh pengetahuan yang luas dalam hal cara penyusunan kelompok, baik melalui buku atau dengan bertanya kepada mereka yang telah berpengalaman, (b) Kumpulan data tentang siswa untuk menunjang tugas-tugas guru, (c) Adakan tes sosiometri dan buatlah sosiogram dari kelas yang bersangkutan untuk mengetahui klik atau ada murid yang terisolasi, (d) Bimbingan terhadap kelompok harus dilakukan terus menerus, (e) Usahakan agar jumlah kelompok itu tidak terlalu besar dan anggotanya dalam waktu tertentu berganti-ganti, (f) Dalam memberikan motivasi haruslah menuju kepada kompetisi yang sehat.

Dalam kaitannya dengan usaha menciptakan suasana yang kondusif, media merupakan salah satu faktor yang turur menentukan keberhasilan pembelajaran. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti tengah perantara atau pengantar. Dengan kata lain media adalah perantara atau pengantar pesan (Sutikno, 2009:105). Dalam aktivitas pembelajaran, media dapat didefinsikan sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan salam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan siswa.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), dikategorikan sebagai penelitian kualitatif, karena pada saat data dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif (Iskandar, 2009:24). Dalam penelitian kualitatif penyajian data bias dilakukan dalam bentuk uraian singkat yang bersifat naratif, bagan, hubungan antar kategori den sejenisnya. Dalam penelitian ini terdiri dari 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan, untuk setiap tahapan siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan tindakan dan refleksi terhadap tindakan. Rekomendasi refleksi siklus I digunakan untuk perbaikan rencana tindakan pada siklus-siklus berikutnya. Upaya untuk menentukan apakah perbaikan yang diinginkan terjadi dalam pembelajaran IPA,

(8)

maka data yang digunakan untuk menjawab masalah pembelajaran adalah : (1) Hasil belajar siswa dalam mengerjakan soal yang diberikan pada tiap akhir siklus, (2) Hasil pengamatan terhadap perencanaan dengan menggunakan metode kerja kelompok pada proses kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi, (3) Data tentang pelaksanaan penggunaan metode kerja kelompok pada belajar mengajar yang dilaksanakan guru pada proses kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi.

Pengumpulan data yang dilakukan diperoleh antara lain dari : (1) Tes, Pada setiap akhir siklus dilakukan tes untuk mengetahui penguasaan materi yang diberikan guru dan pencapaian hasil belajar siswa, dalam hal ini tes yang diberikan dalam bentuk uraian atau pilihan ganda, terdiri dari dua atau tiga butir soal uraian atau 10 soal bentuk pilihan ganda. Soal pada tiap siklus berkaitan dengan materi pengaruh gaya terhadap gerak benda. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal baik itu berbentuk cerita maupun uraian, (2) Lembar Observasi, Observasi merupakan pengamatan (pengambilan data) untuk mencatat seberapa jauh efek tindakan yang telah mencapai sasaran. Dalam hal ini lembar observasi yang digunakan adalah : (a) Observasi terhadap perencanaan pembelajaran, (b) Observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran.

HASIL

Berkaitan dengan penguasaan materi, dari hasil posttest pada tabel di atas bahwa dari 36 siswa kelas IV SD Negeri 7 Nanga Pak Kabupaten Melawi, 22 siswa yang mencapai ketuntasan belajar yang termasuk kategori nilai ≥ 60, sedangkan 14 siswa masih mendapatkan nilai ˂ 60. Dapat disimpulkan untuk nilai post test di akhir siklus I dengan nilai rata-rata persentase yang tuntas hanya berjumlah 68,75 %.pembelajaran yang dilakukan pada siklus II dengan metode kerja kelompok pada materi pengaruh gaya terhadap gerak benda dikategorikan pembelajarannya sangat baik, karena persentase dari hasil penilaian yang diajarkan oleh guru sesuai dengan indikator perencanaan dalam pembelajaran yang rata-ratanya sebesar 91,43. Sedangkan kalau dibandingan antara siklus I dan siklus II terjadi peningkatan terhadap proses belajar mengajar. Dapat dilihat dari persentase siklus II-persentase siklus I (91,43-68,57=22,86). Hasil evaluasi siklus II, berhubungan dengan penguasaan materi sudah memuaskan, untuk hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dalam ketuntasan belajarnya.

PEMBAHASAN

Dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan, walaupun ada 12 orang siswa yang hasil belajarnya menurun dan 1 orang siswa yang hasil belajarnya dari siklus I ke siklus II tetap. Kalau dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa mengalami siklus II tetap. Kalau dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang semulanya pada siklus I nilai rata-ratanya 63,43 sedangkan pada siklus II meningkat dengan nilai rata-ratanya sebesar 70,32. Berdasarkan data di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran IPA kelas IV SDN 7 Nanga Pinoh mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran, tetapi setelah

(9)

menggunakan metode kerja kelompok hasil belajar siswa mengalami peningkatan, ini dibuktikan dari peningkatan hasil belajar siswa siklus I ke siklus II.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan disimpulkan bahwa : (1) Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode kerja kelompok sudah baik dan sesuai dengan yang direncanakan. Ini ditunjukkan perolehan nilai siswa untuk siklus I sebesar ≥ 65% sedangkan pada siklus II sebesar ≥ 75%, (2) Hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 7 Nanga Pak Kabupaten Melawi tahun ajaran 2011/2012 pada pembelajaran IPA materi Pengaruh Gaya Terhadap Gerak Benda ketuntasa belajarnya pada siklus I rata-ratanya 63,43 dengan persentasenya sebesar 68,75% dan pada siklus II mengalami peningkatan rata-ratanya 70,32 dengan persentasenya meningkat sebesar 14,58% sehingga menjadi 83,33%.

Saran

Dari penelitian yang telah dilakukan yaitu pembelajaran IPA dengan metode kerja kelompok pada materi pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam pelaksanaannya selalu terkait dengan objek nyata, sehingga membutuhkan lebih banyak persiapannya. Peneliti menyadari adanya keterbatasan dalam melaksanakan penelitian ini, sehingga untuk penelitian selanjutnya disarankan agar lebih mempersiapkan perangkat pembelajaran (instrumen) penelitian antara lain : RPP, pedoman pengamatan aktivitas kinerja guru dengan lebih baik, agar pada pelaksanaannya dapat meminimalkan kendala dan dapat mencapai hasil yang lebih baik lagi. Dalam penelitian ini komponen yang sudah terlaksanan antara lan : RPP, Observasi terhadap kinerja guru. Sedangkan pengamatan terhadap siswa masih harus dikembangkan terutama waktu pelaksanaan, pengamatan harusnya dilakukan sebaik mungkin.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 1999. Media Pembelajaran. Jakarta : Grafindo

Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta : Direktorat Pendidikan Dasar.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta : Balai Pustaka.

Djamarah dan Aswan Zain (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Dimyati, Mujiono. 1994. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud. Dimyati dan Mujiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. Hakim, Thursan (2000). Belajar Secara Efektif. Jakarta : Puspa Swara.

Iskandar, 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Cipayung : GP Press.

Kusumah, Wijaya. 2009. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta Indeks. Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : CV

ALFABETA.

Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Suharsimi, Arikunto. 2001. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta. Suharsimi, Arikunto. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : CV. Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Dampak adanya  keberadaan Tempat  Pembuangan  Akhir (TPA)  terhadap  kondisi sosial 

(3) Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Walikota atau pejabat yang ditunjuk tidak memberikan suatu keputusan, permohonan

Untuk mengetahui suatu sistem dapat diperoleh dengan cara memperhatikan ciri-ciri yang ada pada suatu sistem dan intetraksi dari unsur- unsur yang saling terkait

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan merekap data pengobatan ISPA pada balita di Puskesmas Rambangaru di Puskesmas Rambangaru pada

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta gagal menyelesaikan eksperimen, mereka merasa bahwa ponsel dan perangkat lain adalah bagian dari tubuh mereka, kurangnya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh unsur-unsur pelatihan terhadap kinerja para teknisi di PT Telkom Akses Area Lembong, Bandung.Manfaat mengetahui

Ini berarti perusahaan yang memiliki kinerja baik dalam mengelola assetnya mampu menghasilkan profitabilitas tinggi dan akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan

v Universitas Sriwijaya Skripsi dengan Judul “Analisis Finansial Mesin Pencacah Eceng Gondok ( Eichhornia crassipes ) Tipe Horizontal.” oleh Hersa Gumay telah