2. PERANCANGAN TAPAK
2.1 Lokasi Tapak
Wilayah kota Batu, Jawa timur dipilih untuk proyek ini, karena : a. Lokasinya yang sejuk
b. Jauh dari kebisingan dan kepadatan kota
c. Kota Batu merupakan kota wisata yang dapat menjadi potensi baik bagi penderita kanker karena dapat menikmati rekreasi kebersamaan dengan keluarganya yang tidak jauh dari proyek ini.
d. Suasana kota yang tenang dan masih dapat menikmati view alami berupa pegunungan dan sawah yang mendukung psikologi si penderita.
e. Adanya rumah sakit Baptis dan rumah sakit paru di Batu ini, dapat mendukung hospice sisi medis secara lebih lanjut.
Wilayah perencanaan yang diidentifikasi : Jalan : Indragiri
Kelurahan : Desa Pesanggrahan Kecamatan : Batu
Kotamadya : Malang Propinsi : Jawa Timur
Gambar 2. 1: Lokasi tapak dari kota Batu Sumber : wikimapia.com Alun-alun kota batu Jl. Panglima Sudirman Lokasi tapak Jl. Indragiri
Gambar 2. 2 : Lokasi tapak dan fasilitas lainnya Sumber : wikimapia.com
2.2 Data Tapak 2.2.1. Ukuran Tapak
Gambar 2. 3 : Foto udara tapak Sumber : Wikimapia.com Jl. Panglima Sudirman : Kantor Polisi : Kompleks YPPII : Biara Karmel : Kompleks perumahan : Lokasi tapak
: Hotel Royal Orchid
Luas tapak : 1,8 ha
Lebar Jl. Indragiri : 6 m
2.2.2. Kondisi Lingkungan Sekitar Tapak Utara : Sungai
Selatan : Lahan kosong Timur : Jalan Indragiri Barat : Perkebunan
Gambar 2. 4: Foto udara lokasi tapak dengan sekitar Sumber : wikimapia.com Batas tapak : Kompleks perumahan perkebunan perkebunan Tanah kosong Jl. Indragiri Desa sidomulyo 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Timur : Jl. Indragiri Timur : Perkebunan
Fasilitas sekitar tapak :
Gambar 2. 5: Batas dan Fasilitas sekitar tapak Sumber : dokumentasi pribadi
Timur : Sungai
3
Barat : Perkebunan 4
Hotel Royal Orchid YYPII
6 7
8
Villa Lahan kosong
9 Selatan : Gerbang masuk
perum
Selatan : Perumahan
Lokasi tapak terletak di wilayah yang cukup tenang dan jarang dilalui kendaraan yang berlalu-lalang, karena jalan Indragiri menghubungkan pusat kota dengan desa Sidomulyo.
Adanya fasilitas YPPII yang dekat dengan tapak, memudahkan tim spiritual berkunjung ke proyek ini.
Adanya perkebunan di hampir sekitar tapak memberikan suasana alam yang dapat memberikan view yang cukup baik dalam menimbulkan kesan healing Lokasi tapak tidak jauh dengan pusat kota, sehingga dekat dengan fasilitas
pasar, tempat ibadah, dan tempat wisata.
Adanya rumah sakit paru yang berjarak 1 km dan rumah sakit Baptis yang berjarak 6 km dari lokasi tapak dapat menjadi tempat alternatif pemeriksaan kesehatan dan terapi khusus (hanya terdapat pada fasilitas rumah sakit : radiologi, foto x-ray,dll) dan bantuan medis bagi perancangan
Hospice Kanker di Batu ini.
Gambar 2. 8 : Lokasi tapak dengan rumah sakit
Gambar 2. 6 : Rumah Sakit Paru, Batu
Sumber : Image.google.com
Gambar 2. 7 :Rumah Sakit Baptis, Batu
2.3. Tinjauan Data RDTRK dan RTRK Tapak 2.3.1 Tata Guna Lahan
Berdasarkan RTRK Kecamatan Batu, Rencana Detail Tata Ruang Kota tahun 2005-2010, wilayah ini termasuk Batu Wilayah Kota (BWK) I, yang diperinci :
Gambar 2. 9: Rencana Penggunaan Lahan BWK I
Sumber : Rencana Detail Tata Ruang Kota Batu Tahun 2005-2010
Direncanakan untuk fasilitas : Fasilitas umum dan sosial Kemiringan lahan : 0-15%
Koefisien Dasar Bangunan(KDB) : 40-60 % Koefisien luas bangunan : 0,4-2,4
Ketinggian bangunan :1-4 Lantai Garis Sempadan Bangunan :
Gambar 2. 10: Rencana Penggunaan Lahan BWK I
Sumber : Rencana Detail Tata Ruang Kota Batu Tahun 2005-2010 Utara : Garis sempadan sungai 5 m
Barat : 2 m
Timur : 5 m dari jalan Selatan : 2 m
Tabel 2.1 : Peraturan bangunan berdasarkan kategori fungsi bangunan
Sumber : Rencana Detail Tata Ruang Kota Batu Tahun 2005-2010
2.3.2. Klimatologi
Suhu udara : 17oC -25oC Kelembaban udara : 86%
Kecepatan angin : 10,73 Km/jam
Temperatur rata-rata yang tercatat oleh stasiun klimatologi adalah sebesar 21,5oC dengan temperatur tertinggi sebesar 27,2oC, dan temperatur terendah sebesar 14,9oC.
2.3.3. Hidrologi
Adanya sumbar mata air sebanyak 12 titik di daerah kelurahan Tulungrejo. Hal ini menjadikan wilayah sekitar banyak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian atau perkebunan.
2.3.4. Topografi
Kondisi asli tapak berupa lahan perkebunan berkontur yang berada pada ketinggian dari permukaan laut 913 m – 917 m. Interval ketinggian tiap kontur pada tapak ini adalah 1 meter. Karena fungsi proyek ini ditujukan pada penderita kanker yang memiliki kondisi fisik lemah dan terbatas, maka perlu adanya penyesuaian dan perbaikan kontur dalam mendesain dan menata bangunan.
2.3.5. Infrastruktur dan Utilitas Jalur Pejalan Kaki
Jalur pejalan kaki masih belum tersedia di sepanjang dan timur tapak, karena tepi bahu jalan masih berupa tanah rerumputan.
Air Bersih
Suplai air bersih diapatkan dari PDAM melalui jaringan pipa induk dan pipa sekunder karena masih dalam wilayah perkotaan.
Jaringan Listrik dan Telepon
Pelayanan listrik diambil dari gardu induk PLN kota Batu. Sambungan kabel untuk pelayanan langsung ke konsumen menggunakan jaringan kabel di udara melalui tiang – tiang yang terletak di sisi jalan.
Penanganan Sampah dan Limbah
Penanganan sampah dilakukan dengan cara mengumpulkan sampah untuk kemudian ditransfer ke depo selanjutnya lalu ke TPA. Untuk pembuangan sampah akhir TPA berada di Kelurahan Ngalik tepatnya di Ruas Jalan arah Ke Panderman Hill. TPA ini merupakan penampungan sampah untuk seluruh Kota Batu.
Drainase
Drainase sekitar tapak yang berupa perkebunan melalui saluran irigasi kecil yang berada di perbatasan kontur dan saluran irigasi besar yang berada di bagian Selatan tapak. Saluran drainase dan irigasi tersebut bermuara pada sepanjang sungai yang mengalir dari arah Utara- Selatan dan berada di batas Timur tapak.
Gambar 2. 11: Saluran drainase sekitar tapak
2.3.6 View ke Luar tapak
Gambar 2. 12: Kualitas view ke luar tapak
View ke luar tapak yang terbaik adalah panorama pegunungan yang
berada sepanjang bagian Barat Laut tapak, Sedangkan di sisi Selatan tapak berbatasan dengan dinding pembatas kompleks perumahan.
Dalam proyek ini, view merupakan salah satu faktor penting yang dapat memberikan penyembuhan psikologis pada pasien. Melihat terbatasnya view yang hanya didapat dari arah barat laut, maka perlu disediakan view di dalam tapak (healing garden).
2.3.7 Tingkat kebisingan Sekitar Tapak
Gambar 2. 13 : Analisa kebisingan sekitar tapak
Tingkat kebisingan yang disebabkan lalu-lalang kendaraan rendah sehingga tidak menjadi masalah besar dalam gangguan suara.
2. 4 Perencanaan Tapak
2.4.1 Pencapaian dan Sirkulasi Kendaraan di dalam Tapak
Gambar 2. 14: Pencapaian kendaraan ke dalam tapak
Pencapaian ke dalam tapak melalui jalan utama Panglima Sudirman masuk ke jalan Indragiri, sekitar 30 meter ke Desa Sidomulyo. Entrance tapak ini berada di area sepanjang sisi timur tapak karena langsung berhadapan dengan jalan dan membutuhkan media jembatan karena adanya sungai yang membelah tapak dengan jalan.
7 0 Utara
Gambar 2. 15: Pencapaian kendaraan ke dalam tapak dengan level kontur sama dengan jalan
Karena kondisi tapak berkontur, maka entrance tapak berada di level kontur yang sama dengan level kontur jalan yaitu DPL 914 meter.
Sirkulasi kendaraan di dalam tapak dibagi menjadi 2 bagian besar. Area pertama diperuntukkan bagi kebutuhan parkir pengunjung dan pegawai kantor, sedangkan area kedua diperuntukkan bagi jalur servis medis (mensuplai kebutuhan medis), non medis (mensuplai kebutuhan rumah tangga), jalur mobil jenazah, parkir motor (karyawan, perawat, staff medis), dan dokter. Kedua area ini dipisah karena memiliki karakteristik yang berbeda, kondisi pengunjung yang selalu datang dan pergi setiap saat, sedangkan area servis dan parkir karyawan yang mempunyai jadwal waktu berkala.
Mengacu pada adanya perbedaan jenis sirkulasi dan karakteristik kebutuhannya, maka kriteria penempatan dan jalur sirkulasi antara lain :
- Loading dock medis dan emergency lot hendaknya berada pada jalur cepat dan prifat dari jalur sirkulasi umum untuk menjaga kebersihan.
- Area parkir dokter perlu disediakan secara khusus untuk mengatasi kebutuhan darurat dan cepat bagi dokter untuk masuk ke hospice.
Dari kriteria yang ada maka pencapaian ke tapak dapat disimpulkan seperti berikut ini :
Penyediaan pedestrian dari luar tapak menuju lobby memfasilitasi pengunjung yang memakai jasa angkutan umum & kendaraan roda dua.
Gambar 2. 17: Perspektif eksterior entrance bangunan Gambar 2. 16: Sirkulasi dan parkir kendaraan di dalam tapak
=sirkulasi mobil umum =sirkulasi motor umum = sirkulasi jalur servis Parkir dokter
Parkir motor umum Parkir umum Servis hunian
Servis medis Servis utilitas
Gambar 2. 18: Wheelchair lot facility
Adanya fasilitas wheelchair lot yang menyediakan kursi roda untuk memudahkan pasien berjalan lebih efisien agar tidak cepat lelah
2.4.2 Space penangkap
Arah datang pengendara sebagian besar berasal dari Jalan Panglima Sudirman, berasal dari arah Selatan tapak, sehingga perlu ada sudut pandang yang baik untuk dapat melihat tapak. Untuk menciptakan spatial legibility yang baik dalam hal ini untuk memperpendek jarak tempuh pasien ke dalam bangunan, maka entrance bangunan dibuat lebih menjorok ke dalam. Dengan demikian
space penangkap tapak menjadi lebih luas sehingga membuat pengunjung dapat
Gambar 2. 19: Perspektif entrance
2.4.3 Tata Letak Massa
a. Penentuan lokasi zoning berdasarkan bentuk tapak, kebisingan, view
Aplikasi konsep : Private company and spatial legibility
Gambar 2. 1 : Pen-zoning-an tapak
Zona servis terletak di lokasi tapak yang dapat mengakses zona umum, terapi dan hunian dan memiliki akses langsung ke luar tapak. Zona terapi terletak di posisi tengah sebagai area bertemunya pasien dengan tim paliatif dari masyarakat luar. Sedangkan zona hunian dan spiritual membutuhkan suasana yang menenangkan dan bebas dari rutinitas terapi sehingga diletakkan paling prifat yaitu paling dalam lokasi tapak.
b. Pengaruh Kualitas View Eksisting Sekitar
Aplikasi Konsep : View and nature
Kualitas view yang terbaik pada tapak dimanfaatkan pada zona hunian dan spiritual, karena pada zona ini membutuhkan ketenangan secara psikologi dan spiritual, dimana view alam natural yang tersaji dapat menjadi salah satu aspek pendukung pasien untuk memiliki kontak visual dengan alam.
Kamar hunian merupakan fungsi ruang terpenting bagi pasien karena sebagian besar waktunya dapat dihabiskan di dalam kamar tidurnya. Hal ini dapat terjadi ketika kondisi pasien sudah benar-benar melemah dan tak mampu lagi untuk bangkit dari tempat tidurnya. Dari pertimbangan demikian, maka lokasi dan orientasi kamar benar-benar diperhatikan dari segi kenyamanan
thermal dan orientasi terhadap view agar pasien tidak merasa terkurung dan
depresi di dalam kamar.
View berupa panorama pegunungan yang terhampar dari arah Utara ke
Barat dan hamparan perkebunan yang hampir mengelilingi site bagian belakang menjadi potensi view terbaik yang dimiliki tapak, sehingga orientasi bukaan kamar dimaksimalkan menghadap utara. Hal ini juga dengan pertimbangan menghadap Barat akan menyebabkan radiasi matahari terlalu besar yang dapat mengganggu kenyamanan pasien dalam kamar. Sedangkan pada zona terapi, tidak mendapat potensi view sekitar tapak, sehingga dibutuhkan ruang luar baik berupa taman maupun ruang fungsional buatan.
Gambar 2. 3 : Perspektif zona hunian terhadap potensi view
Untuk membuat pasien tetap merasa dekat dengan alam dan lingkungan, dilakukan dengan mengoptimalkan ruang luar yang dapat berfungsi sebagai
healing garden, walking therapy, dan ruang sosial. Karena dengan kontak
dengan lingkungan, penikmat dapat lebih relaks dan menyegarkan pikiran.
Gambar 2. 4 : Healing garden
Gambar 2. 5 : Hasil survey respon penikmat taman Sumber : “Healing Gardens in Hospitals” (2007, p.3)
c. Pengaruh Matahari dan Angin
Aplikasi konsep : Environment
Daerah sekitar tapak berupa lahan perkebunan sehingga tidak adanya pembayangan dari bangunan eksisting sekitar yang mengganggu tapak.
Pencahayaan alami dapat memberikan dampak psikologis yang baik bagi penderita, yaitu :
Pasien dapat mengetahui waktu
Ruang yang gelap dapat mengakibatkan perasaan mencekam sedangkan ruang yang terlalu terang dapat mengakibatkan menurunnya stamina. (Lechner Norbert 402)
Angin yang berpengaruh pada lokasi tapak adalah angin gunung dan angin lembah karena lokasi Batu yang berada di dekat pegunungan. Angin gunung bergerak dari Barat ke Timur yang terjadi pada malam hari dan angin lembah yang bergerak dari Timur ke Barat yang biasa terjadi pada siang hari.
Konsep Healing Architecture menuntut penggunaan penghawaan alami untuk mendukung proses “penyembuhan” pasien, maka penataan massa perlu diperhatikan untuk mendapat cross ventilasi. Karena lokasinya di kota Batu yang memiliki udara sejuk, dapat dimanfaatkan sebagai penghawaan alami pada
hospice ini. Dengan demikian dapat mengurangi depresi pasien, karena dengan
adanya penghawaan alami, pasien merasakan sentuhan alami dari lingkungan. Penghawaan alami dapat menciptakan kesan kehidupan normal bagi penderita kanker yang selama ini tinggal di rumah sakit dengan penghawaan aktif di kota.
Tapak terletak di kondisi iklim tropis lembab, maka untuk menciptakan
thermal comfort, dengan memperhatikan angin dan matahari maka :
Bentukan dasar massa merupakan bentukan linear, hal ini ditujukan untuk menerima penghawaan dan pencahayaan pasif. Dengan bentukan memanjang seperti ini, tiap ruang akan mendapat aliran udara dan cahaya yang merata.
Orientasi bangunan mayoritas melintang Utara-Selatan untuk menghindari radiasi dan panas dari arah Barat-Timur. Untuk bangunan yang berorientasi Barat-Timur sebagai penangkap
pandangan agar tak berkesan jauh dan batas zona, perlu adanya pembayangan untuk mengurangi radiasi.
Untuk menangkap angin lebih maksimal perlu adanya perangkap angin melalui terasan pada tiap kamar.
Bangunan berbentuk pipih dan penataan ruang dalam single-loaded untuk menciptakan pergerakan angin di dalam ruangan ke seluruh bagian.
Gambar 2. 6 : Site Plan
Gambar 2. 7 : Penataan massa terhadap angin dan matahari
Gambar 2. 8 : Pergerakan angin pada zona terapi dengan bentuk ruang dalam
single-loaded
d. Penentuan tata letak massa dengan pertimbangan kontur
Lahan tapak berupa lahan berkontur terasering kebun dengan interval tiap kontur sebesar 1 m. Karena pengguna merupakan penderita yang sebagian besar menggunakan kursi roda, maka sebisa mungkin akses sirkulasi tidak terlalu menantang dan space tapak tidak dihabiskan oleh sirkulasi ramp. Adanya perbaikan kontur memudahkan sirkulasi.
Gambar 2. 9 : Analisa sirkulasi pengguna berdasarkan keadaan kontur
= Daerah sirkulasi utama pengguna di dalam tapak