SITI RAHMI
DITERBITKAN ATAS KERJA SAMA:
BIMBINGAN DAN KONSELING
DI TAMAN KANAK-KANAK
DITERBITKAN ATAS KERJA SAMA:
SYIAH KUALA UNIVERSITY PRESS & UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
DI TAMAN KANAK-KANAK
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i un-tuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penja-ra paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana den-gan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk penggunaan secara komersial dipidana gan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana den-da pa-ling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pi-dana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pipi-dana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
SITI RAHMI
BIMBINGAN DAN KONSELING
DI TAMAN KANAK-KANAK
DITERBITKAN ATAS KERJA SAMA:
Judul Buku:
BIMBINGAN DAN KONSELING DI TAMAN KANAK-KANAK
Penulis: Siti Rahmi Desain Sampul: Iqbal Ridha ISBN: 978-623-264-283-6 ISBN: 978-623-264-284-3 (PDF) Pracetak dan Produksi:
SYIAH KUALA UNIVERSITY PRESS
Penerbit:
Syiah Kuala University Press
Jl. Tgk Chik Pante Kulu No.1 Kopelma Darussalam 23111, Kec. Syiah Kuala. Banda Aceh, Aceh
Telp: 0651 - 8012221
Email: [email protected]
Website: http://www.unsyiahpress.unsyiah.ac.id
Universitas Borneo Tarakan
Jalan Amal Lama Nomor 1, Tarakan Telp. 08115307023
Fax. 08115307023 Email: [email protected]
Cetakan Pertama, 2021
viii + 244 (16 X 23)
Anggota IKAPI 018/DIA/2014 Anggota APPTI 005.101.1.09.2019
Dilarang keras memfotokopi atau memperbanyak sebagian Editor:
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...iii
PRAKATA ...vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
BAB 2 PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING ... 9
2.1. Definisi Bimbingan dan Konseling ... 9
2.2. Tujuan dan Urgensi Bimbingan & Konseling ... 14
2.3 Fungsi dan Azas-Azas Bimbingan Konseling ... 17
2.4. Prinsip Bimbingan dan Konseling ... 25
2.5. Tujuan Bimbingan Konseling di TK ... 26
BAB 3 ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN ANAK DI TK ... 29
3.1. Perkembangan Fisik-Motorik ... 30
3.2. Perkembangan Kognitif ... 30
3.3. Perkembangan Moral ... 43
3.4. Perkembangan Bahasa ... 56
3.5. Kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal ... 63
3.6. Kecerdasan Jamak ... 68
BAB 4 PROSES PEMBELAJARAN PADA BIMBINGAN DAN KONSELING DI TK ... 87
4.1. Pembelajaran anak TK ... 87
4.2. Belajar Melalui Bermain ... 92
4.3. Tujuan dan Fungsi Program Pembelajaran ... 94
4.4. Model Pembelajaran Anak pra-sekolah ... 96
4.5. Prinsip-Prinsip Pembelajaran pada Anak pra-sekolah ... 97
4.6. Pembelajaran dalam Perspektif Perkembangan Anak ... 105
BAB 5 PENDEKATAN KONSELING DI TK ... 109
5.1. Konseling Psikoanalisis ... 109
5.2. Konseling Berpusat pada Individu/Manusia (Person Centered) ... 116
5.3. Konseling Emotif Behavior ... 119
5.4. Konseling Behavioristik ... 125
5.5. Konseling Realitas ... 128
BAB 6 MASALAH-MASALAH YANG DIHADAPI BIMBINGAN DAN KONSELING ... 139
BAB 7 PSIKOLOGI KONSELING LINGKUP TAMAN KANAK-KANAK ... 147
BAB 8 PERAN BIMBINGAN KONSELING ... 153
8.1. Peran Bimbingan & Konseling Memelihara Kemantapan Perubahan Fisik Motorik ... 153
8.2. Peran Bimbingan & Konseling dalam Menjaga Stabilitas Kognitif ... 155
8.4. Peran Bimbingan & Konseling dalam Menjaga Stabilitas Sosial Emosional ... 157
8.5. Peran Bimbingan & Konseling dalam Menjaga Stabilitas Keagamaan ... 158
8.6. Menjaga, Melindungi, dan Memberi Terapi Periode Sensitif Anak ... 161
BAB 9 ORANG TUA DAN GURU SEBAGAI KONSELOR ... 165
9.1. Syarat Menjadi Konselor di Taman Kanak-Kanak ... 165
9.2. Kode Etik Bimbingan dan Konseling TK ... 168
9.3. Guru TK yang Berhak Memberikan Bimbingan & Konseling ... 170
BAB 10 MASALAH-MASALAH ANAK TK DALAM BERBAGAI ASPEK ... 173
10.1. Aspek Kognitif ... 173
10.1.1. Aspek Kognitif ... 174
10.1.2. Pikiran Negatif ... 175
10.1.3. Menganggap Orang lain dan Dirinya paling Benar ... 176
10.1.4. Malas Masuk Sekolah ... 177
10.1.5. Malas Masuk Sekolah ... 179
10.1.6. Sulit Menghafal Kata dan Benda ... 180
10.1.7. Memperhatikan Pelajaran ... 182
10.1.8. Terlambat Berpikir ... 183
10.1.9. Pelupa ... 184
10.1.10. Rendah Rasa Ingin Tahunya ... 186
10.2. Perilaku Bermasalah Anak-Anak di TK pada Fisik-Motorik ... 187
10.2.1. Tangan Kidal ... 188
10.2.2. Berjalan Pincang, Bahkan Berkaki Satu ... 190
10.2.3. Buta, Tuli, dan Bisu ... 192
10.2.4. Terlalu Gemuk ... 193
10.2.5. Berambut Keriting ... 195
10.3. Perilaku Bermasalah Anak-Anak di TK pada Aspek Sosio-Emosional ... 197
10.3.1. Pendiam, Pemalu, dan Minder ... 197
10.3.2. Citra Diri (Self-Esteem) yang Negatif ... 199
10.3.3. Egois ... 201
10.3.4. Sulit Berteman (Bersosialisasi) ... 203
10.3.5. Menolak Realitas (Suka Membuat Kegaduhan) ... 205
10.3.6. Bersikap Kaku ... 207
10.3.7. Tidak Objektif ... 210
10.3.8. Membenci Guru Tertentu ... 212
10.4. Perilaku Bermasalah Anak-Anak di TK pada Aspek Moral Keagamaan ... 214
10.4.1. Anak Nakal ... 215
10.4.2. Arogan dan Congkak ... 217
10.4.3. Berbohong/Menipu ... 219
10.4.4. Bersikap Kasar dan Tidak Sopan ... 221
10.4.5. Suka Melawan arahan Orang Tua dan Guru ... 223
10.4.7. Pelit, Iri, dan Dengki ... 228
10.4.8. Sulit Diajak Belajar Beribadah ... 230
10.4.9. Terpengaruh Ritual Agama Lain ... 232
BAB 11 TIPS: MENJADI KONSELOR ANAK PRA-SEKOLAH ATAU TK YANG UNGGUL... 235
DAFTAR PUSTAKA ... 238
GLOSARIUM ... 240
PRAKATA
Alhamdulillah, segala puji penulis menghaturkan rasa Syukur yang sebesar-besarnya kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunianyalah, sehingga penulis dapat menyelesaikan Buku Ajar yang berjudul “BIMBINGAN DAN KONSELING DI TAMAN KANAK-KANAK”
Layanan bimbingan di sekolah, lebih khususnya di Taman Kanak-kanak merupakan kegiatan yang sistematis dan terarah, untuk itu adanya Buku Ajar ini bisa dijadikan rujukan dalam mendampingi dari setiap problem atau masalah yang di alami dan dihadapi anak di Taman Kanak-kanak. Problem yang sifatnya pribadi maupun sosial. Hal ini diungkapkan bahwa bimbingan pribadi merupakan bimbingan yang diberikan kepada anak TK dalam usaha untuk membantu mengenal diri dan mampu mengatasi kesulitan pribadi dengan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan bimbingan sosial adalah bantuan yang diberikan kepada anak TK, agar dapat mengenal lingkungannya, menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan menjalin hubungan atau interaksi dengan sesama diberbagai kalangan.
Ucapan terimakasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah berkonstribusi dalam penulisan dan penerbitan buku ajar ini. Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam buku ini. Untuk itu kritik dan saran terhadap penyempurnaan buku ini sangat diharapkan. Semoga buku ini dapat memberi maanfaat bagi mahasiswa, dan para pembaca.
BAB 1
PENDAHULUAN
Taman kanak-kanak adalah lembaga pendidikan prasekolah yang dapat membantu mengembangkan potensi siswa dengan sebaik-baiknya. Proses mendidik dan berkomunikasi dengan unsur-unsur yang mampu mewujudkan kemampuan hidup sehari-hari. Oleh karena itu selain lingkungan keluarga dan masyarakat, Taman Kanak-kanak juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Untuk membentuk pribadi yang maha kuasa, ia harus taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia harus sehat, terampil, dan bertanggung jawab kepada Tuhan, masyarakat dan negara. Tujuan khusus pendidikan taman kanak-kanak adalah: (1) Memberi anak kesempatan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya dan berkembang sebagai individu yang unik sejauh mungkin; (2) Memberikan bimbingan yang komprehensif untuk memungkinkan anak mengembangkan kualitas dan kebiasaan yang baik, sehingga dapat diterima oleh masyarakat; (3) Untuk mencapai kesinambungan Kematangan fisik dan mental diperlukan untuk pendidikan tinggi.
Dalam menciptakan generasi yang berkarakter positif dan mampu membangun peradaban harus dimulai sejak usia dini. Oleh sebab itu, misi utama dari lembaga pendidikan prasekolah (taman kanak-kanak), adalah mempersiapkan individu-individu yang memiliki kepekaan sosial, kokoh, dan berjiwa tangguh. Sebab, Mekanisme ini seperti adonan, yang menentukan rasa dan kualitas makanan. Untuk mewujudkan tugas ideal tersebut, diperlukan lembaga pendidikan yang mendidik anak agar peka terhadap lingkungan sekitarnya sejak dini. Tujuannya adalah membangun kepekaan diri permanen di sekitar orang yang membutuhkan. Taman kanak-kanak adalah lembaga pendidikan yang banyak berkontribusi untuk meletakkan dasar bagi kemajuan dan kelanjutan dalam fisik seorang anak (koordinasi motorik halus dan keseluruhan), kecerdasan, kreativitas, kecerdasan emosional dan spiritual, emosi sosial (sikap, perilaku dan agama) dan bahasa.
BAB 2
PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
2.1. Definisi Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling adalah kedua istilah, sering disalahartikan. Karena menunjukkan istilah kegiatan bimbingan terkadang dilanjutkan dengan aktivitas konseling. Para ahli mengungkapkan bahwa konseling adalah inti dari kegiatan dari pada konsultasi. Ia juga mengatakan bahwa konsseling adalah layanan bimbingan. Oleh karena itu istilah "bimbingan" termasuk kegiatan konseling. Kelompok berdasarkan sudut pandang di atas menunjukkan bahwa istilah "layanan bimbingan dan konseling" dapat diganti dengan layanan bimbingan saja. Untuk memperjelas arti dari kedua istilah ini, definisi bimbingan dan konseling akan diperkenalkan di bawah ini. Para ahli merumuskan pengertian bimbingan dan konseling berdasarkan pendapat mereka. Dalam merumuskan dua istilah tersebut, mereka menekankan pada aspek-aspek tertentu dari kegiatan. Untuk lebih jelasnya, buku Prayitno memberikan beberapa pernyataan tentang pedoman terminologi:
1) Jones mendefinisikan, bimbingan adalah bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat pilihan, menyesuaikan dan memecahkan masalah." Makna yang terkandung dalam definisi tersebut adalah bahwa bimbingan adalah pertolongan seseorang kepada orang lain untuk membantunya membuat pilihan dan penyesuaian dalam memecahkan masalah.
2) Schertzer & Stone mendefinisikan "Bimbingan adalah proses membantu individu memahami diri sendiri dan dunianya, dan pembinaan adalah proses membantu individu memahami diri sendiri dan lingkungannya. Pendampingan adalah proses pemberian bantuan secara terus menerus kepada individu sehingga individu dapat memahami dirinya sendiri sehingga dapat membimbing dirinya sendiri dan bertindak sesuai.
BAB 3
ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN ANAK DI
TAMAN KANAK-KANAK
Pertumbuhan manusia adalah studi ilmiah tentang pola perubahan dan stabilitas sepanjang siklus hidup manusia. Studi tentang pembangunan manusia bertujuan untuk menguraikan prediksi dan ikut serta pertumbuhan manusia. Secara umum aspek perkembangan meliputi aspek fisik, kognitif, dan psikososial. Ketiga aspek ini saling mempengaruhi. Rentang hidup dibedakan menjadi 8 periode, yaitu masa prenatal, masa bayi dadn AUD, periode anak, usia sekolah, pubertas, remaja, dewasa pertengahan, dan dewasa akhir. Ada tujuh prinsip pembangunan, yaitu perkembangan adalah proses perubahan dalam seluruh kehidupan. Perkembangan terjadi pada berbagai tingkatan dan dalam berbagai arah. Proses perkembangan dipengaruhi oleh faktor biologis dan budaya. Keseimbangan antara kedua pengaruh tersebut akan berubah seiring waktu Perubahan, termasuk perubahan cara sumber daya dialokasikan. Sumber daya yang ada melalui praktik, perkembangan dapat didorong, dan perkembangan dipengaruhi oleh lingkungan sejarah dan budaya.
Dalam dunia pendidikan, anak akan mendapatkan stimulasi intelektual, sosial dan emosional sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan demikian, perlu juga diperhatikan proses pendidikan yang tepat pada anak usia TK ini berbeda dengan proses pendidikan di SD, SMP, SMA, maupun di tingkat PT. Jadi, proses pendidikan anak usia TK akan mudah terbawa melalui proses pembelajaran yang bernuansa akademik, seperti membaca-menulis dan menghitung (calistung). Jadi, pengajaran anak di TK tidak hanya dapat membantu anak mempersiapkan diri untuk pendidikan sekolah dasar, tetapi juga meletakkan dasar Kembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas anak untuk beradaptasi dengan lingkungan serta tumbuh dan berkembang lebih jauh.
BAB 4
PROSES PEMBELAJARAN PADA BIMBINGAN
DAN KONSELING DI TAMAN KANAK-KANAK
4.1. Pembelajaran Anak TK
Belajar untuk anak-anak prasekolah sangat penting dilakukan, walaupun tentu berbeda model belajar dan pembelajaran dengan model pembelajaran bagi orang dewasa. Karena pada masa ini anak berbeda pada masa atau periode yang sangat sensitif. Periode dan kesempatan seperti itu tidak akan pernah datang lagi. Selama periode sensitif, anak mungkin menjadi sensitif atau mudah terstimulasi oleh lingkungan sekitarnya. Montessori menandakan bahwa anak-anak telah mengalami berbagai tahap pertumbuhan dan perkembangan dalam bentuk minat dan keingintahuan dalam apa yang disebut "periode sensitif", yang membuat mereka menjadi tertarik pada aspek dan lingkungan tertentu.
Masa sensitif merupakan mekanisme alam yang esensial bagi anak dan tidak dapat dipisahkan dari warisan manusia. Periode ini adalah "kesempatan terbatas" karena anak berada dalam tahap transisi. Setelah anak menguasai keterampilan atau kemampuan yang diserap, periode sensitif tersebut seolah hilang. Oleh karena itu, jika anak tidak memperhatikan pengalaman stimulasi yang benar, peluang tersebut akan langsung Kalah. Keterampilan masih bisa dipelajari, tapi butuh waktu dan tenaga serta latihan yang tepat.
Masa sensitif tumbuh kembang anak merupakan tahap awal pembelajaran, yaitu melalui tahap ketertarikan dan keingintahuan pada hal-hal tertentu. Waktu tersebut tidak akan muncul untuk kedua kalinya atau berulang. Selama periode ini minat anak semakin tinggi, dan anak menjadi sensitif atau rentan terhadap rangsangan di segala aspek lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk memahami proses ini karena terdapat peluang bagi anak untuk tumbuh di setiap tahap.
BAB 5
PENDEKATAN KONSELING DI TAMAN
KANAK-KANAK
Teori konseling atau psikoterapi yang umum digunakan, atau teori konseling yang umumnya dikenal di masyarakat. Namun karena arah dan tujuan dari konseling ini adalah untuk pendidikan, khususnya pendidikan pra sekolah (PAUD) atau taman kanak-kanak, maka semua teori konseling tidak akan dibahas disini. Karena teori konseling yang ada terlalu banyak, dan hanya sebagian saja yang berkaitan dengan bidang pendidikan. Oleh karena itu, teori konseling yang akan dibahas disini hanya seputar teori konseling yang mendekati dan berhubungan dengan pendidikan semata. Diantaranya adalah konseling psikoanalitik, konseling yang berpusat pada manusia, konseling perilaku emosional, konseling perilaku, dan konseling realitas.
5.1. Konseling Psikoanalisis
Sigmund Sholmo Freund adalah peletak dasar teori psikoanalisis (psychoanalytic) yang juga seorang ahli saraf dengan fokus perhatian pada ketidaksadaran klien atau pasein. Freund meletakan dasar tori psikoanalisis diatas anggapan bahwa manusia memiliki kekuatan terbesar dalam bidang sadar atau tidak sadar itu. Alam bawah sadar diharapkan menyimpan energi yang sangat kuat untuk mempengaruhi perilaku manusia. Di samping itu, Freud juga telah melahirkan karya-karya lain di bidang saraf dan psikoanalisis, seperti Penjelasan tentang mimpi, psikopatologi dalam kehidupan sehari-hari, dan kasus histeria seksual. Dalam perkembagan selanjutnya, karya-karya Freund tersebut tidak hanya membawa penggaruh pada bidang saraf dan psikoanalisis saja, meluas pada ranah filsafat, ilmu pengatahuan, dan lebih spesifik lagi pada perkembagan ilmu psikologi.
BAB 6
MASALAH-MASALAH YANG DIHADAPI
BIMBINGAN DAN KONSELING PENDIDIKAN
Masalah bimbingan dan konseling di sekolah termasuk problematika siswa serta masalah ketuhanan. Uraian-uraian berikut ini akan menggambarkan bagaimana pola hubungan bermasalah antara anak didik dengan berbagai aspek di sekolahnya tersebut.
1. Hubungan Antara Peserta Didik dengan Sekolah
Dalam hal ini pembimbing atau guru BK harus dapat memberikan pendampingan kepada siswa yang mengalami kendala di sekolah. Tentu saja cakupan pertanyaan ini sangat luas. Oleh karena itu, para guru BK sekolah perlu bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, termasuk aparat keamanan, serikat siswa, ustadz, dll. Sering kali, anak didik mengalami permasalahan dalam hal menjalin hubungan antara dirinya dengan pihak sekolah. Guru BK harus bisa menjadi pionir dalam gerakan dan mengharumkan nama siswa di sekolahnya. Berbagai bentuk masalah yang sering muncul adalah siswa menjadi marah kepada guru tertentu, munculnya geng siswa yang seperti perkelahian siswa, prestasi akademik yang rendah dan bentuk masalah lain yang sejenis. Dengan cara ini diharapkan bimbingan dan konseling diharapkan dapat mengatasi perilaku bermasalah terkait siswa dan sekolahnya.
2. Hubungan Antara Anak Didik dengan Keluarga
Interaksi siswa dengan keluarganya tidak harmonis di sekolah. Karena seringkali ada anak dengan masalah keluarga yang dibawa pergi ke sekolah. Akibatnya, mereka tidak dapat berkonsentrasi pada studinya, sehingga prestasi akademik mereka menurun tajam. Problem anak didik dengan orang tuanya di rumah yang tidak teratasi akan berdampak fatal bagi prestasi akademik anak didik tersebut di sekolah.
BAB 7
PSIKOLOGI KONSELING DI LINGKUP TAMAN
KANAK-KANAK
Pentingnya Bimbingan Konseling di Lingkungan TK
Sejak jaman penjajahan hingga abad ini, pendidikan prasekolah atau yang lebih terkenal dengan PAUD khususnya taman kanak-kanak sangat memperhatikan pertumbuhan anak yang normal dan sempurna. Kesempurnaan ini meliputi gerak fisik, emosi sosial, perkembangan kognitif dan psikologis. Lembaga TK biasa, khususnya taman kanak-kanak, dari berbagai aspek tentunya dalam hal perkembangan siswa memikul tanggung jawab penuh. Selain itu, sesuai dengan usia dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya menekankan pada perkembangan fisik anak, tetapi juga harus mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung anak atau yang lebih dikenal dengan kemampuan belajar. Tujuan dari kemampuan ini adalah untuk mempersiapkan anak (kecerdasan) memasuki jenjang pendidikan yaitu sekolah dasar. Padahal, fenomena yang akhir-akhir ini merajalela di kota-kota besar, tepatnya di SMA, pilihan calon siswanya sangat ketat, yakni persaingan di kawasan Garyston. Menurut persyaratan ini, taman kanak-kanak harus bertanggung jawab untuk membekali siswa dengan kemampuan Galliston dan membimbing perkembangan mereka dengan tepat.
Program bimbingan dan konseling di seluruh institusi pendidikan (termasuk PAUD) merupakan perencanaan yang bermanfaat, tidak hanya pasif dan korektif. Dari taman kanak-kanak hingga universitas dan bahkan di masyarakat, itu berkelanjutan. Tentu saja, output-nya jauh lebih bagus daripada sekedar bimbingan yang tidak disengaja. Namun demikian, fokus bimbingan dan konseling dapat berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan atau tingkat perkembangannya.
BAB 8
PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM
MENJAGA STABILITAS PERTUMBUHAN ANAK DI
TAMAN KANAK-KANAK
Bimbingan dan konsultasi taman kanak-kanak juga merupakan sarana untuk menjaga pertumbuhan dan stabilitas siswa. Secara teoritis, ada lima aspek pertumbuhan anak, yaitu: tubuh, gerak, bahasa, kognisi, emosi sosial, dan jiwa moral. Berikut ini akan dikemukakan peranan bimbingan konseling dalam menjaga stabilitas pertumbuhan kelima aspek tersebut.
8.1. Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Memelihara Kemantapan Perubahan Fisik Motorik Anak Pra-sekolah.
Dalam menjaga stabilitas serta keseimbangan perkembangan fisik motorik anak adalah melalui peran bimbingan dan konseling, sehingga tumbuh kembangnya sesuai dengan percepatan secara normal dan seimbang. Sebab, perkembangan fisik motorik yang lambat (seperti usia satu tahun belum bisa berjalan, gigi belum tumbuh, tangan masih lemah, dan lain-lain) akan berdampak negatif pada perilakunya. Sebaliknya, perkembangan fisik motorik yang terlalu cepat akan berdampak pada lambatnya perkembangan pada aspek-aspek lain, seperti sudah bisa berjalan tetapi belum bisa berceloteh. Dengan kata lain, bimbingan dan konseling di bidang ini harus menekankan keseimbangan antara perkembangan motorik umum dan keterampilan motorik halus.
Laura E. Berk mengemukakan bahwa dengan mengamati anak bermain di halaman atau pusat permainan edukatif lainnya, maka gerak fisik anak prasekolah dapat dikembangkan. Pengamatannya menunjukkan bahwa ketika anak bermain, keterampilan motorik baru akan muncul, dan setiap keterampilan akan mengubah gaya hidup mereka. Dia berkata: "Anda akan menemukan bahwa telah terjadi ledakan keterampilan motorik baru pada anak usia dini, dan setiap keterampilan didasarkan pada metode latihan yang
BAB 9
ORANG TUA DAN GURU SEBAGAI KONSELOR
ANAK-ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK
Pertanyaanya, siapa konselor-konselor atau guru-guru bimbingan dan konseling (BK) di lembaga TK tersebut? perlu diketahui bahwa mereka adalah guru-guru PAUD/TK yang berlatar belakang pendidikan S-1 PGTK kemudian diangkat oleh kepala TK untuk menjadi wali murid (wali kelas) di setiap kelas TK.
Nah, guru kelas (wali kelas) yang diangkat menjadi konselor atau guru BK inilah yang disebut dengan “bimbingan dan konseling nonprofessional”. Inilah model bimbingan dan konseling yang berlaku di lembaga TK. Model ini sedikit berbeda dengan bimbingan dan konseling yang terdapat di beberapa sekolah SD hingga perguruan tinggi. Sebab, sebagian lembaga pendidikan tersebut menerapkan sistem bimbingan dan konseling profesional. Guru-guru BK (konselor sekolah) diangkat berdasarkan latar belakang keilmuan konseling yang ditunjukkan dengan ijaszah Strata 1, Strata 2, maupun Strata 3. Para guru BK profesional ini juga tidak mengajarkan mata kuliah apa pun, sehingga perhatiannya terpusat pada program-program konseling di sekolah.
9.1. Syarat Menjadi Konselor di Taman Kanak-kanak
Walaupun bimbingan dan konseling bisa dilakukan secara non-profesional, bukan berarti guru BK di lembaga Taman Kanak-kanak akan diangkat sembarangan. Karena kemampuan membimbing siswa perlu memenuhi syarat tertentu. Jika kondisi ini tidak terpenuhi, maka panduan tersebut mungkin tidak memiliki sasaran. Akibatnya, Perilaku bermasalah anak-anak tidak terdeteksi sejak dini dan karenanya tidak dapat diharapkan.
BAB 10
MASALAH- MASALAH ANAK TK DALAM
BERBAGAI ASPEK
10.1. Aspek Kognitif (Pola Pikir Bermasalah Anak-anak di TK dan Implikasi Dalam Teknik Bimbingan dan Konseling)
Perilaku masalah kognitif mencakup setidaknya sepuluh peristiwa, yaitu berpikir tidak logis, berpikir jorok, suka melempar kesalahan kepada orang lain, dan berpikir bahwa diri sendiri paling benar dan paling malas bersekolah, tidak mau belajar, sulit mengingat kata-kata benda dan nama, kurangnya perhatian, berpikir terlambat, kelupaan dan rasa ingin tahu yang rendah. Semua perilaku bermasalah ini dapat diatasi dengan teknik konseling perilaku emosional yang realistis. Karena konsultasi sangat mementingkan bentuk pemikiran, emosi, kognisi, dan perilaku. Tujuan konseling adalah untuk menggantikan pemikiran irasional tersebut dengan pemikiran rasional untuk mencegah perilaku yang masalah sedini mungkin.
Teknik atau tahapan konseling rasional-emotif-behavior mempunyai tiga tahap, yaitu: Pertama, konselor menunjukkan bahwa pola pikir kliennya tidak tepat atau irasional. Kedua, konselor mengganti pikiran yang irasional tersebut dengan pikiran yang rasional dan membuatnya yakni akan pikiran rasional tersebut. Ketiga, konselor membantu kliennya untuk mendebat statemen konselor, kemudia konselor menanggapi secukupnya, sehingga klien dapat membuang pikiram irasional itu dan menggantinya dengan pikiran rasional. Tahapan-tahapan konseling behavior ini akan digunakan untuk mengatasi berbagai permasalahan pola pikir pada anak-anak.
BAB 11
T
IPS: MENJADI KONSELOR ANAK
PRA-SEKOLAH ATAU TK YANG UNGGUL
Setelah memahami wawasan Psikologi Konseling secara umum, mengkaji berbagai teori konseling, terutama di konseling di institusi pendidikan, khususnya TK/PAUD, serta mengaplikasikannya Untuk mengatasi perilaku buruk anak di Taman Kanak-kanak/Lembaga Pengasuhan Anak, akhirnya memberikan beberapa panduan sederhana untuk menjadi konselor Taman Kanak-kanak/Lembaga Pengasuhan Anak. Sederhananya, Konselor Taman Kanak-Kanak/Penitipan Anak harus memiliki tiga prinsip umum. Jika semua guru taman kanak-kanak/prasekolah dan orang tua memiliki tiga prinsip ini, dengan demikian pembinaan dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan pembinaan sesuai dengan yang diharapkan yaitu:
1. Hati yang menawan. Dari perspektif konseling, yang menarik adalah kemampuan guru atau orang tua untuk “menarik” perasaan atau emosi siswa (terutama siswa yang bermasalah). Saya berharap melalui sosok yang menawan ini, saya akan membuat anak-anak yang bermasalah terkesan dan membayangkan citra ini sebagai pribadi yang utuh yang siap menyelesaikan semua masalah dengan tulus, ikhlas, dan tanpa syarat. Dengan penampilan yang menwan hati ini pula, bisa jadi anak didik akan jauh lebih dekat kepada guru konselornya daripada orang tuannya sendiri. Bahkan, seringkali ia hanya akan mau belajar kepada guru tersebut. Tetapi, karena dalam konseling terdapat kode etik yang menyatakan bahwa konselor tidak boleh membuat kliennya menjadi ketergantungan, maka hendaknya guru kelas dan orang tua dapat menjaga jarak aman. Dengan demikian, prinsip utama seorang konselor TK yang menawan hati adalah menarik simpati anak-anak bermasalah dan membuatnya menaruh harapan besar atas terselesaikannya masalah yang dihadapi, dengan tanpa beban atau tanpa syarat apapun.
DAFTAR PUSTAKA
Assegaf, Abdurrachmad dan Suyadi. (2008). Pendidikan Islam Kritis: Perbandingan Teori Pendidikan Timur Dan Barat.Yogyakarta: Gama Media.
Black, S.K. (1983). Short-Trem Conseling: a Humanistic Approach the Helping Profession. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentince-Hall, Inc Baritton, Lesley. (1992). Monsstesory Play & Learn; A Parents’ Guide
Purposeful Play from Two To Six. New York: Crown Publisher, Inc Brodjonegoro, Satryo Soemantri. (2007). Akademik Pendidikan Guru
Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) dan Rambu-Rambu Penyelengaraan Program S-1 Pendidikan Anak Usia Dini (Program S-1 PG-PAUD). Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Crain, William. (2007).Teory Perkembangan, Konsep Dan Aplikasi.
Yogyakarta: Perpustakaan Pelajar
Cherry, Clare. (1972). The Creatife Arts for The Developing Child.Carthage Illinois: Fearon Teacher Aids.
Corey, Gerald. (2010). Teori Dan Praktik Konseling Dan Psikoterapi. Bandung: Ersco.
Break, Laura E. (2007). Development Through the Lifespan. New York: Earson.
Ellis, A. (1994). The No Cop-Out Theraphy. New Yorg: IRET
Fadlillah & Mualifatu, lili. (2013). Pendidikan Karakter Anak Usia Dini: Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD. Jogyakarta: Ar-Ruzz Media
Goleman, Daniel. (2003). Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Gunawan, Adi W. (2003). Born to be Geniu. Jakarta: Gramedia. 2007. The
Secret of Mindset. Jakarta: Gramedia.
Hildayani, dkk. (2015). Psikologi Perkembangan Anak. Tangerang Selatan. Universitas Terbuka
Hurlock, Elzabeth B. (2006). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga. Juntika Nurihsan, Achmad. (2012). Strategi Layanan Bimbingan dan
Konseling. Bandung: Refika Aditama
Juntika Nurihsan, Achmad. (2002). Pengantar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
Juntika Nurihsan, Achmad. (2004). Sistem Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Latipun. 2006. Psikologi Konseling. Malang: UMM
Lwin, May, dkk. (2003). How to Multiplay Your Child Intelligence; Cara Mengembangkan Berbagai Kecerdasan. Yogyakarta: Indek.
Mahmudi. (2004). “Pola Asuh Anak Pada Keluarga Prefektif Islam”. Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Mimbar Pustaka Maslow, A.H. (1996). To Ward a Psychologi of Being. New Jersey: Dvan
Nostrand Compani Inc.
Monsstesori, Maria. (2008). The Absourbent Mind: Pikiran yang Mudah Menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pasiak, Taufiq. (2006). Manajemen Kecerdasan; Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ untuk kesusesan Hidup. Bandung: Mizan. 2002. Revolusi IQ/EQ/SQ: Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan al-Qur’an dan Nerosains Mutakir. Bandung: Mizan.
Pink, Daniel H., (2007). Misteri Otak Kanan Manusia. Yogyakarta: Think. Rogers, C.R. (1983). Freed to Learn. Clombus E.Merrile Pub. Co. Rakhmat, Jalaluddin. (2005). Belajar Cerdas. Bandung: MLC
_________. (2007). SQ For Kids; Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini.Bandung: Mizan
Robertson, Ian. (2007). Membuka Mata, Pikiran, dan Imajinasi. Yogyakarta: Think
Shapiro, Lawrwnce E. (2003). Mengajarkan Emosional Intelligence pada anak. Jakarta: Gramedia
Sudono, Anggani. (2006). Sumber Belajar dan Alat Permainan. Jakarta: Grasindo
Susanto, Ahmad (2015). Bimbingan dan Konseling di Taman Kanak-Kanak Jakarta: Prenadamedia Group
Tim Penyusun. (2002). Acuan Menuju Pembelajaran pada Pendidikan Anak Dini Usia (Menuju Pembelajaran Generik). Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
Tafsir, Ahmad. (2006). Filsafat Pendidikan Islam; Integrasi Jasmani, Ruhani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
_______. (2005). Ilmu pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT. Remaja. Rosda Karya.
Tedjasaputra, Mayke S. (2002). Bermain, Mainan, dan Permainan Untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: Grasindo.
Walgito, Bimo. (2004). Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset.
Winkel, W.S. (1991). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.
Yusuf, Syamsu. (2017). Bimbingan dan Konseling Perkembangan: Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung: PT. Refika Aditama
RIWAYAT HIDUP
Siti Rahmi, S.Sos.I., M.Pd., lahir pada tanggal
28 Agustus 1983 di Baralau-Bima Nusa Tenggara Barat (NTB), dari Ayah yang bernama Kaliman dan Ibu Rafiah. Alamat di Jln. Sei Kapuas Gang Famili RT.001 Kelurahan Kampung Enam Kecamatan Tarakan Timur Kota Tarakan Kalimantan Utara.
Hp.082252040659
e-mail: [email protected].
Bersuami Anwar, S.Pd.I, M.Pd., dan memiliki Putra Khairun Mubarak, Putri Raihanah (alm), Sarafah Saktuliah, Salvina Putri.
Pendidikan yang pernah di tempuh adalah Program Sarjana (S-1) Jurusan Dakwah Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (2006), dan Program AKTA IV (2008) di STAIN Datokarama Palu, Program Magister (S-2) Program Studi Bimbingan dan Konseling (201(S-2) di Universitas Negeri Makassar.
Pendidikan dan Jabatan yang dipegang sekarang adalah Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Borneo Tarakan (UBT), dengan Jabatan Akademik Asisten Ahli, Jabatan Struktural Sekertaris Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP UBT. Mengajar di Program Sarjana (S-1) Jurusan Bimbingan dan Konseling dalam mata kuliah:
1. Komunikasi Antarpribadi
2. Bimbingan dan Konseling Pribadi Sosial 3. Bimbingan dan Konseling Belajar
4. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif 5. Bimbingan dan Konseling di Taman Kanak-kanak 6. Teknik Konseling Cognitive Behavior
Berbagai Pengalaman Penelitian dan Pengabdian yang telah dilakukan adalah:
1. Keefektifan Pendekatan Konseling Realitas Pada Perilaku Kedisiplinan Siswa (2016)
2. Penerapan Strategi Reframing Untuk Mengurangi Rasa Rendah Diri Siswa (2016)
3. Meningkatkan Keterbukaan Diri Siswa Kepada Guru Bimbingan dan Konseling Dengan Pelatihan Asertif di SMK Negeri 3 Tarakan (2016) 4. Pengaruh Teknik Restrukturisasi Kognitif Terhadap Pola Pikir Siswa
Perokok Di SMP Negeri 4 Tarakan (2018)
5. Pencegahan Konflik Interpersonal Peserta Didik Melalui Layanan Informasi Di SMP Negeri 2 Tarakan (2018)
6. Analisis Pemahaman Mahasiswa Terhadap Keterampilan Dasar Komunikasi Konseling Pada Mata Kuliah Mikro Konseling Di Jurusan Bimbingan Dan Konseling Fkip Universitas Borneo Tarakan (2018) 7. Big Five Factors of Personality Guru Bimbingan dan Konseling Pada
Tujuan Layanan Konseling Individual Di Sekolah (2018)
8. Analisis Kebutuhan Layanan Bimbingan Dan Konseling Di Universitas Borneo Tarakan (2019)
9. Pelatihan dan Pengembangan Big Five Factors Of Personality Konselor Sekolah Melalui Psikodrama dan Role Play Di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (2019)
10. Identifikasi Tingkat Stres Belajar Mahasiswa Universitas Borneo Tarakan Di tengah Pandemi Covid-19 (2020)
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN Jalan Amal Lama Nomor 1, Tarakan
Telp. 08115307023
SYIAH KUALA UNIVERSITY PRESS Jln. Tgk. Chik Pante Kulu No. 1, Kopelma Darussalam
ISBN 978-623-264-284-3 (PDF)
ISBN 978-623-264-283-6