Oseana, Volume XXX, Nomor 1, 2005: 21-27 ISSN 0216-1877
REPRODUKSI DAN PROPAGASI PADA OCTOCORALLIA
Oleh
Anna E.W. Manuputty 1)
ABSTRACT
OCTOCORALS REPRODUCTION AND PROPAGATION. Octocorals occur in
vir-tually all marine realms. They are found in every ocean, from the tropics to the poles. Species live in habitats ranging from the intertidal through brackish muddy estuar-ies to oceanic blue water and abyssal depths. Most octocorals have only one type of polyp, called the autozooid, which in the majority of cases is responsible for food capture and reproduction. Species with only one type off polyp are termed mono-morphic. A few species, mostly larger forms, are called dimorphic because they have second kind of polyp called a siphonozooid. This polyp is smaller and has no or rudimentary tentacles. In most octocorals, male and female reproductive structures are in separate male and female colonies. However, some soft corals are hermaphro-ditic, that is each mature colony contains both male and female reproductive struc-tures. The reproductive cells develop on the edges of septa. The sex products may be discharged into the water, where fertilization and subsequent development take place, or eggs may be retained after fertilization until late in planula stage. Asexual propagation is common and often the predominant mode of reproduction in soft corals. It is achieved by runner formulation, colony fragmentation, fission or bud-ding. The reproductive strategies of different species are often reflected in their extent of aggregation, and in their ability to recolonise disturbed area.
PENDAHULUAN
Terumbu karang ditemukan terutama di perairan tropis dan subtropis, dengan sebaran vertikal dari bagian surut terendah sampai ke kedalaman kurang lebih 200 m. Di dalam ekosistem terumbu karang pada umumnya yang
merupakan biota dominan ialah karang batu. Kerangka yang keras dan bentuk serta ukurannya yang beraneka ragam, karang batu dipakai sebagai tempat hidup, berlindung dan mencari makan oleh berbagai jenis biota lain yaitu krustasea, moluska, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, ikan, bahkan oleh
Tentakel jenis koelenterata (YONGE, 1973). Salah satu anggota koelenterata yang tidak kalah penting peranannya dalam pembentukan fisik terumbu ialah karang lunak (Octocoral, soft coral) atau lebih dikenal sebagai Alcyonaria (Alcyionarian corals). Istilah Alcyonaria dipakai sebagai nama umum karang lunak yang merupakan nama penggolongan sub-kelas karang lunak (sub-kelas Alcyonaria atau Octocorallia).
Anggota Octocorallia ditemukan di perairan laut, dari perairan katulistiwa sampai ke perairan kutub, pada semua kedalaman dari daerah pasang surut (intertidal) sampai ke perairan terdalam (abyssal), kelimpahan tertinggi ditemukan di perairan dangkal dan hangat di daerah tropis. Alcyonaria, adalah istilah umum untuk karang lunak (bangsa Alcyonacea) dan gorgonia (bangsa Gorgonacea), mewakili sebagian besar dari fauna terumbu karang di beberapa perairan. Karang lunak khususnya mendominasi keindahan pemandangan bawah air, sayangnya sampai saat ini pengetahuan tentang taksonomi maupun habitat dari anggota Octocorallia khususnya Alcyonacea masih sedikit.
ORGAN DAN PROSES REPRODUKSI Anggota Alcyonaria sama halnya dengan karang batu, merupakan Coelenterata yang berbentuk polip yaitu bentuk seperti bunga yang kecil. Secara sepintas, Alcyonaria tampak seperti tumbuhan, karena beberapa koloni memiliki bentuk yang bercabang-cabang seperti pohon dan melekat pada substrat yang keras. Organ tubuhnya masih sederhana. Bagian mulut terdapat di sebelah atas, dari bagian ini semua aktivitas dilakukan antara lain masuk keluarnya aliran air dan zat makanan, maupun pelepasan telur, sperma, atau larva ke dalam kolom air. Umumnya pada kebanyakan karang lunak, polip yang fertil (autosoid), organ reproduksi (gonad) jantan dan betina terpisah, masing-masing berada pada koloni jantan dan betina. Model seperti ini disebut gonokhorik. Sebaliknya beberapa karang lunak yaitu jenis
Heteroxenia dan Xenia bersifat hermaprodit,
karena pada koloni dewasa ditemukan organ reproduksi jantan maupun betina (BENAYAHU & LOYA, 1984). Gonad yang berasal atau terbentuk dari lapisan endodermis, terdapat pada masing-masing mesenteri (Gambar 1).
Sifonosoid mesenteri Oosit (kelompok ukuran kecil) Oosit (kelompok ukuran besar) Testes 1mm Jantan Betina 1mm
Gambar 1. Diagram ilustrasi penampang vertical autosoid Lobophytum crassum, menunjukkan posisi gonad (YAMAZATO et al, 1981)
Reproduksi seksual
Proses reproduksi meliputi pelepasan telur (oosit) yang berbentuk bulat dan sperma oleh masing-masing polip ke dalam air laut. Kemudian disusul dengan pembuahan (fertilisasi) eksternal yaitu terjadi di luar tubuh. Secara berangsur telur yang sudah dibuahi akan berubah bentuk (Gambar2). Ada tiga tipe reproduksi yang terjadi pada octocoral yaitu:
1. mengeluarkan telur dan sperma ke dalam air
2. pembuahan internal dan 3. pembuahan eksternal
Larva yang terbentuk memiliki silia atau bulu getar, kemudian berenang bebas atau melayang sebagai plankton untuk kurun waktu beberapa hari sampai beberapa minggu, hingga mendapat tempat perlekatan di substrat dasar yang keras untuk selanjutnya berubah bentuk (metamorfosis) tumbuh menjadi polip muda kemudian membentuk koloni baru.
Gambar 2. Bentuk larva karang lunak, jenis Lobophytum compactum, dilihat dibawah mikroskop (FABRICIUS & ALDERSLADE, 2001).
Koloni baru dapat terpisah sejauh 10 -100 km dari induknya. Pelepasan telur (spawning) kadang-kadang terjadi berdasarkan siklus bulan, beberapa jam setelah matahari terbenam dan atau tergantung pada suhu air laut. Kesempatan untuk terjadinya fertilisasi (pembuahan) di air berlangsung sangat singkat, dan secara cepat pula akan tersebar terbawa arus. Untuk larva yang dibuahi di dalam tubuh betina (internal brooding), sejumlah kecil telur akan dibuahi berkembang menjadi larva di dalam tubuh betina. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu larva akan dilepaskan ke dalam air pada saat larva tersebut hampir siap untuk berubah bentuk (metamorfosis). Sebagai contoh pada jenis
Xenia dan Heteroxenia (BENAYAHU et al., 1988; ZASLOW & BENAYAHU, 1996). Untuk larva yang dibuahi di luar tubuh, di dalam kolom air, telur yang sudah dibuahi akan berkembang menjadi larva di dalam kantong yang berlapis lendir, menetap beberapa waktu di bagian permukaan koloni induknya, sampai fase
akhir larva. Larva seperti ini memiliki daya apung
(bouyensi) yang negatif, sehingga akan tenggelam dan biasanya hanya berjarak beberapa meter dari koloni induknya.
Sesudah fase planktonik, terjadi perubahan bentuk menjadi oval kemudian memanjang seperti buah pir, melekat di dasar yang keras. Pemilihan dasar untuk tempat melekat juga dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari yang cukup. Alga berkapur yang sudah mengerak merupakan substrat yang paling disukai, sedangkan patahan karang (rubble) atau dasar dengan sedimen yang tebal atau juga dengan pertumbuhan alga yang seperti lumut (turf alga), tidak disukai. Kadang-kadang untuk menghindar dari predator antara lain ikan dan bulubabi, atau pengikisan oleh sedimen, larva melekat pada substrat yang berbentuk seperti parit ataupun pada bagian dalam dinding gua yang terlindung. Namun di tempat seperti ini pertumbuhannya menjadi lambat terutama pada jenis yang memiliki zooxanthellae karena kurangnya penetrasi cahaya matahari.
Setelah melekat, proses metamorfosis berjalan sangat cepat membentuk polip muda atau juvenil (Gambar 3).
Gambar 3. Perubahan bentuk (A, B dan C) dari saat perlekatan planula sampai menjadi muda (FABRICIS & ALDERSLADE, 2001)
Pada prinsipnya polip muda membentuk tangkai pendek di bagian basal tempat perlekatan koloni, dan di bagian ujung lainnya memipih kemudian membagi diri menjadi 8 (delapan) tunas sebagai bakal tentakel dengan bagian pangkal tunas membentuk lubang sebagai bakal mulut. Sesudah beberapa hari, polip octocoral berkembang dengan sem-purna. Pada fase ini, beberapa jenis yang mengandung zooxanthellae sudah dapat mulai mengambil zooxanthellae planktonik melalui mulut, dan menimbunnya di dalam jaringan en-dodermis (gastrodermis). Zooxanthellae ini akan memulai tugasnya sebagai simbion, yang membantu karang dalam proses fotosintesis. Hanya beberapa jenis octocoral yang hidup di laut dalam yang hidupnya soliter dan tidak membentuk koloni, bentuk dewasanya terdiri dari satu polip saja. Perkembangan jenis-jenis lainnya berasal dari satu polip hasil fertilisasi kemudian berkembang menjadi koloni dengan jalan membentuk tunas.
Reproduksi aseksual
Cara reproduksi aseksual disebut sebagai propagasi (propagasi aseksual), tujuannya untuk menambah atau memperluas koloni. Propagasi merupakan cara reproduksi yang umum terjadi pada karang lunak, karena tekstur tubuhnya yang lentur dan lunak sangat memungkinkan terjadinya cara reproduksi seperti ini. Propagasi dapat terjadi dalam beberapa cara:
• dengan membentuk stolon (runner for-mation) : pada koloni karang lunak, stolon merupakan jaringan berupa pita atau pembuluh yang terletak di bagian basal koloni identik dengan akar rimpang pada tumbuhan. Stolon tetap melekat pada substrat dasar (Gambar 4 A). Pada jenis
Efflatounaria, panjang stolon yang
terjulur dapat mencapai 3-5 kali ukuran koloni asalnya. Koloni induk kemudian melepaskan sebagian massa tubuhnya
melalui stolon dan membentuk koloni anakan. Kemudian stolon akan menghilang karena terabsorbsi. Koloni anakan kemudian memisahkan diri dari koloni induk dan tumbuh menjadi koloni baru yang lepas dengan ukuran yang sama dengan induknya.
• dengan fragmentasi atau memisah
(fragmentation, fission): pada beberapa jenis antara lain Sarcophyton,
Lobophytum, beberapa Sinularia
yang bercabang, Nephthea dan Xenia dapat membentuk massa pembatas vertikal pada koloni induk, dan membagi koloni menjadi dua koloni dewasa berukuran kecil (bukan koloni anakan). Umumnya pembatasan terjadi pada bagian koloni induk yang menyempit. Selanjutnya masing-masing koloni akan tumbuh membesar, kadang-kadang jembatan penghubungnya tidak putus atau menghilang namun ikut tumbuh dan melebar (Gambar 4 B). Jenis
Dendronephthya, dapat merontokkan
beberapa kumpulan polipnya (polyp bundles) yang terdiri dari 5 - 1 0 polip, dan akan melekat di dasar dengan membentuk jaringan seperti akar, kemudian tumbuh terpisah dan lepas dari induknya menjadi koloni baru. Demikian pula strategi yang sama pada jenis gorgonia Junceella fragilis, yang akan merontokkan ujung / cabang atas koloni yang rapuh (fragile), melekat di dasar di sekitar koloni induknya dan tumbuh terpisah dari induknya menjadi koloni baru.
• dengan membentuk tunas (budding) :
jenis Sarcophyton gemmatum
membentuk tunas pada bagian tepi kapitulum (bagian atas koloni) biasanya di antara lekukan (Gambar 4 C). Tunas akan melepaskan diri (rontok) dari koloni induk, kemudian melekat pada substrat dan tumbuh menjadi koloni dewasa yang
terpisah. Pada jenis Sinularia flexibilis, tunas muncul dari bagian pangkal tangkai induknya, kemudian tumbuh membesar di dekat induknya.
Strategi reproduksi dari berbagai jenis yang berbeda pada umumnya untuk kepentingan jenis itu sendiri, menandakan upaya terutama untuk mempertahankan kelangsungan hidup, kompetisi ruang, maupun menunjukan kemampuannya dalam beradaptasi maupun rekolonisasi pada lokasi-lokasi yang habitatnya rusak. Beberapa jenis dari suku Nephtheidae dan dari kelompok Gorgonian, saling berlomba dalam hal perlekatan / penempelan larva ke dasar perairan. Hal ini disebabkan karena jenis ini tidak memiliki perkembangbiakan secara propagasi
aseksual, dan penyebaran larvanya cenderung merata pada habitat yang cocok. Pelepasan gamet (telur dan sperma) dalam jumlah besar yang umum terjadi pada kelompok Alcyonacea, merupakan gambaran kemampuan untuk rekolonisasi terutama pada habitat yang jauh dari induknya. Strategi perkembangbiakan seksual dan menghasilkan larva, juga propagasi aseksual, yang terjadi pada sebagian besar suku Xeniidae, menunjukan bahwa pembentukan dan pertumbuhan koloni di dekat induknya sangat cepat, tetapi sebaliknya kolonisasi di tempat yang jauh sangat lambat. Jenis-jenis yang propagasi aseksualnya sangat cepat biasanya tumbuh dan menguasai habitat dan biasanya mempunyai banyak kesamaan genetik dengan yang secara kawin (seksual).
Gambar 4. Bentuk dan cara propagasi pada octocoral, A. pada Eflatounaria, B. pada Sarcophyton,
C. pertunasan pada Sarcophyton (FABRICIUS & ALDERSLADE, 2001)
DAFTAR PUSTAKA
BENAYAHU, Y, Y ACHITUV, and T. BERNER 1988. Embryogenesis and acquisition of algal symbionts by planulae of Xenia
umbellata (Octocoralllia, Alcyonacea). Marine Biology, 100: 93 -101.
BENAYAHU, Y and Y. LOYA 1984. Life history studies on the Red Sea soft coral Xenia macrospiculata Gohar, 1940,. I. Annual dynamics of gonadal development. Biological Bulletin 166: 32 - 43.
FABRICIUSK., and P. ALDERSLADE 2001.
Soft corals and Sea fans. A
comprehensive guide to the tropical shallow-water genera of the Central-West Pacific, the Indian Ocean and Red Sea. AIMS Publs., Townsville, 264 p.
YAMAZATO, K., M. SATO and H. YAMASHIRO 1981. Reproductive biol-ogy of an Alcyonacean coral
Lobophytum crassum MARNZELLER. Proc. of the 4 th Int. Coral Reef Symp., Manila, vol.2., p. 671-678.
YONGE, CM. 1973. The nature of reef building (Hermattypic) corals. Bull. Mar. Sci. 23 (1): 1-15
ZASLOW, R.B., and Y. BENAYAHU 1996. Lon-gevity, competence and energetic con-tent in planulae of soft coral heteroxenia fuscescens. Jour. of Exp. Mar. Biol.