BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. KONFORMITAS
2.1.1. Pengertian Konformitas
Setiap manusia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan agar dapat bertahan hidup. Cara yang termudah adalah dengan melakukan tindakan yang sesuai dan diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Melakukan tindakan yang sesuai dengan norma dalam psikologi sosial disebut konformitas (Levianti, 2008). Menurut Asmalia (2014) bahwa konformitas mengandung dua unsur yaitu selaras (congruence) dan gerak (movement), maksudnya selaras adalah persetujuan atau kesamaan antara respon oleh individu dengan respon yang secara sosial dianggap benar, sedangkan gerak adalah perubahan respon dalam kaitannya dengan standar sosial konformitas ini tidak hanya mengandung unsur keselarasan, tetapi juga mengandung unsur gerak, yaitu perubahan respon. Apabila tidak ada perubahan respon, maka keselarasan tidak dapat dikatakan sebagai konformitas.
Menurut Chaplin (2009) konformitas, dalam kamus psikologi, diartikan sebagai kecenderungan individu untuk memperoleh sikap dan tingkah laku yang sudah berlaku atau dianut oleh lingkungan sekitarnya. Myers (2014) mengungkapkan bahwa konformitas adalah suatu perubahan sikap percaya sebagai akibat tekanan dari kelompok. Sedangkan menurut Baron dan Byrne (2005) konformitas merupakan suatu pengaruh sosial dimana individu mengubah
sikap dan tingkah laku agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Menganut pada norma kelompok acuan, menerima ide atau aturan-aturan yang menunjukkan bagaimana remaja berperilaku.
Konformitas adalah suatu tuntutan yang tidak tertulis dari kelompok teman sebaya terhadap anggotanya tetapi memiliki pengaruh yang kuat dan dapat menyebabkan munculnya perilaku-perilaku tertentu pada anggota kelompok (Arnada, 2014). Sears (didalam Teruna, 2013) menyatakan konformitas sebagai bentuk khusus dari ketaatan yang dilakukan ada tekanan kelompok.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konformitas adalah suatu sikap seseorang yang mengalami tekanan dari kelompoknya untuk dapat mengubah keyakinan, tingkah laku agar sesuai dengan norma yang berlaku dalam kelompok tersebut.
2.1.2. Macam-macam Konformitas
Menurut Myers (2014) menyatakan bahwa konformitas ada beberapa macam, yaitu:
a. Pemenuhan
Konformitas yang temasuk pada beraksi dalam persetujuan dengan permintaan tersirat maupun tersurat sementara sementara pribadi tidak setuju. Contohnya Dika seorang anggota geng princess yang selalu mengikuti aturan penampilan cantik, meskipun dia tidak menyukai aturan tersebut.
b. Kepatuhan
Bertindak sesuai dengan perintah atau petunjuk seacra langsung, dimana memahami terutama untuk mendapatkan penghargaan dan menghindari hukuman. Contohnya putri sesorang anggota geng kansaz yang selalu mengikuti aturan gengnya, supaya tidak menyimpang dari geng tersebut. c. Penerimaan
Konformitas yang melibatkan baik bertindak dan menyakini agar sesuai dengan tekanan sosial. Contohnya Rika adalah salah satu anggota dari geng kansaz, dia selalu menerima informasi yang diberikan oleh gengnya.
2.1.3. Faktor konformitas
Menurut Baron & Byrne ( didalam Arnada, 2014) mengungkapkan ada 3 faktor yang mempengaruhi konformitas, antara lain :
a. Kohesivitas (cohesiveness)
Menurut Myers (2014) kohesivitas merupakan suatu perasan kita, dimana tingkat anggota dari suatu kelompok tertarik satu sama lainnya. Sebagai ketertarikan yang dirasa oleh individu terhadap suatu kelompok, ketika kohesivitas tinggi, ketika kita suka dan mengagumi suatu kelompok orang-orang tertentu, tekanan untuk melakukan konformitas bertambah besar. Contohnya kelompok KSI, didalam tersebut masing-masing individu berpakaian muslimah yang kerudungnya panjang dan lebar. Model ini sangat mempengaruhi kepada orang-orang yang menyukai kelompok tersebut, apalagi memiliki ketertarikan terhadap orang yang populer tadi. Sehingga individu akan
cenderung mengikutinya dengan kata lain, tekanan untuk melakukan konformitas semakin tinggi.
b. Ukuran kelompok
Ukuran kelompok merupakan suatu studi terkini yang menemukan bahwa konformitas itu cenderung meningkat, sehingga meningkatnya ukuran kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar kelompok tersebut, maka semakin besar pula kecenderungan kita untuk ikut serta. Contohnya Rani seorang siswa lulusan SMA mempunyai keingian dan ketertarikan untuk melanjutkan studi di Padang, hal ini menunjukan bahwa rani ingin menutup aurat dan bergabung dalam kelompok KSI, karena dia mempunyai kesamaan dalam menutup aurat dengan kelompoknya. Rani tersebut akan percaya perubahan sikapnya akibat aturan yang ada dalam kelompok tersebut akan diikutinya.
c. Norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif.
Norma sosial deskriptif merupakan norma yang hanya mendeskripsikan apa yang sebagian besar orang lakukan pada situasi tertentu. Norma ini mempengaruhi tingkah laku dengan cara memberi tahu kita mengenai apa yang umumnya dianggap efektif atau adaptif pada situasi tersebut. Sedangkan norma injungtif merupakan suatu tingkah laku apa yang dapat diterima atau tidak diterima pada situasi tertentu. Contohnya membuang sampah sembarangan, maka mereka harus bertingkah laku untuk membuang sampah ke tempat sampah. Selain itu norma injungtif juga dapat mengaktifkan motif sosial untuk
melakukan hal yang benar dalam situasi tertentu tanpa mengindahkan apa yang orang lain lakukan.
2.1.4. Aspek-aspek konformitas
Menurut Myers (2014) membagi aspek-aspek yang terdapat pada konformitas adalah:
a. Pengaruh Normatif
Penyesuaian tingkah laku seseorang terhadap mencari dukungan serta mengikuti aturan tingkah laku kelompok agar dapat di terima dalam kelompoknya, yang menghindari penolakan, dan mengikuti aturan yang ada. Contohnya Ani seseorang mahasiswa baru yang masuk ke dalam kelompok musik, dia harus bisa menyesuiankan dirinya dan mengikuti aturan yang berlaku dalam kelompok tersebut.
b. Pengaruh Informasional
Suatu kesamaan perilaku dan keyakinan individu dengan kelompoknya dimana persamaan perilaku menerima informasi di sebabkan adanya bukti dan informasi mengenai kenyataan yang diberikan oleh orang lain dapat diterima. Contohnya Ani yang berada dalam kelompok musik, maka dia harus menengarkan dan memepercayai informasi yang ada di dalam kelompok tersebut.
2.2. PERILAKU BULLYING
2.2.1. Pengertian Perilaku Bullying
Secara etimologi kata bully berarti penggerak, orang yang mengganggu orang lemah. Sedangkan menurut istilah bullying dalam bahasa Indonesia bisa menggunakan menyakat (berasal dari kata sakat) dan pelakunya (bully) disebut penyakat. Menyakat bearti mengganggu, mengusik, dan merintangi orang lain. Bullying adalah perilaku agresif dan negatif pada seseorang secara berulangkali menyalahgunakan ketidak seimbangan kekuatan dengan tujuan untuk menyakiti korban secara mental (wiyani, 2012). Menurut Priyatna (2010) bullying merupakan suatu tindakan yang disengaja oleh pelaku pada korbannya dan dilakukan berulang-berulang kali.
Bullying adalah sebuah hasrat untuk menyakiti orang lain. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan senang (Lestari 2016). Menurut Maharani, dkk (2015) yaitu suatu tekanan yang intimidasi dilakukan terus-menerus hanya untuk menyakiti seseorang secara fisik dan emosional. Perilaku bullying adalah suatu bentuk kekerasan anak yang lebih rendah atau lebih lemah untuk mendapatkan keuntungan dan kepuasan tertentu (Wiyani, 2012).
2.2.2. Penyebab Perilaku Bullying
Menurut Ariesto dan Kholilah (dalam Tis’ina 2015) penyebab terjadinya bullying antara lain :
a. Keluarga
Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah, orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya. Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-cobanya itu, ia akan belajar bahwa mereka yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan perilaku agresif itu dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang. Dari sini anak mengembangkan perilaku bullying.
b. Sekolah
Aksi bully di sekolah dapat terjadi pada anak-anak yang menjadi korban dari anak lainnya sekelompok, Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah.
c. Faktor Kelompok Sebaya
Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut. Bullying termasuk tindakan yang disengaja oleh pelaku pada korbannya, yang dimaksudkan untuk menggangu seorang yang lebih lemah. Faktor individu dimana kurangnya pengetahuan menjadi salah satu penyebab timbulnya perilaku bullying, Semakin baik tingkat pengetahuan remaja tentang bullying maka akan dapat meminimalkan atau menghilangkan perilaku bullying.
2.2.3. Aspek-Aspek perilaku Bullying
Menurut Rigby (di dalam Saifullah, 2016) ada beberapa aspek-aspek bullying yaitu:
a. Verbal
Mengatakan sesuatu yang merupakan untuk menyakiti atau menertawakan seseorang (menjadikannya bahan lelucon) dengan menyebut serta menyapanya dengan nama yang menyakiti hatinya, menceritakan kebohongan dan menyebarkan rumor yang keliru tentang seseorang. Contohnya siswa memberi gelajar pada gurunya seperti kingkong, princess, hitam, gendut, dan sebagainya. b. Idirect
Sepenuhnya menolak atau mengeluarkan seseorang dari kelompok pertemuan dan meninggalkannya dari berbagai hal secara disengaja
mengirimkan catatan serta mencoba membuat siswa yang lain tidak menyukainya. Contohnya menfitna teman yang tidak di sukai dalam kelompok tersebut, supaya teman-teman yang lainnya juga ikut tidak menyukainya dan bisa mengeluarkannya dari kelompok tersebut.
c. Phisyical
Memukul, menendang, mendorong, mempermainkan dan meneror serta melakukan hal-hal yang bertujuan untuk menyakiti. Contohnya seorang siswa mendorong temannya yang tidak dia sukai di dalam kelas, ketika temannya itu ke arahnya memandangnya.
2.2.4. Dampak Perilaku Bullying
Menurut Priyatna (2010) menyatakan bahwa penting sekali pada bagi orang tua untuk memahami bahwa bullying itu sama sekali bukan bagian normal dari masa kanak-kanak yang harus dilewati. Tindakan bullying itu berakibat buruk bagi korban, saksi, sekaligus bagi si pelakunya itu sendiri dan bahkan efeknya terkadang membekas sampai si anak telah menjadi dewasa. Dampak buruk yang dapat terjadi pada anak yang menjadi korban bullying yaitu:
1. Kecemasan
Kecemasan adalah suatu kondisi yang tidak menyenangkan seseorang yang bersifat emosional, seperti merasa kekuatan, sehingga muncul sebuah sensasi fisik yang memperingatkan seseorang terhadap bahaya yang sedang mendekatnya. Contohnya sekelompok siswa memukul temannya, sehingga temannya itu merasa cemas ketika bertemu dengan sekelompok siswa tersebut.
2. Merasa kesepian
Kesepian adalah keadaan emosi yang tidak bahagia yang diakibatkan oleh hasrat akan hubungan akrab tetapi tidak dapat mencapainya. Sehingga kesepian terjadi ketika individu mengharapkan adanya hubungan sosial yang dekat dan tidak mampu untuk membangunnya. Contohnya seseorang yang terkucilkan dari teman-temannya, pada hal dia ingin ikut bergabung dengan mereka, sehingga dia merasa kesepian.
3. Rendah diri
Rendah diri merupakan apabila orang merasa rendah diri, ia akan mengalami kesulitan untuk mengkomunikasikan gagasannya pada orang lain, dan menghindar untuk berbicara di depan umum, karena takut orang lain menyalahkannya. Contohnya seseorang dalam kelompok merasa dikucilkan sehingga dia merasa diasingkan dalam kelompok, sehingga merasa rendah diri dari temannya.
4. Tingkat kompetensi sosial yang rendah
Kompetensi sosial adalah suatu kemampuan, kecakapan atau keterampilan individu dalam bekerja sama, membangun interaksi social efektif dengan lingkungan dan memberi pengaruh pada orang lain demi mencapai tujuan. Contohnya seseorang terkucil dalam kelompoknya sehingga menimbulkan tingkat kompetensi sosialnya rendah.
Sementara si pelaku bullying pun tidak akan terlepas dari resiko berikut: a. Sering terlibat dalam perkelahian
Perkelahian merupakan suatu interaksi negatif yang berupa adu kata-kata dan fisik yang dilakukan oleh beberapa orang atau golongan. Contohnya seseorang siswa yang selalu bermasalah dengan temannya, sehingga terjadi terkelahian.
b. Menjadi biang kerok di sekolah
Orang yang menjadi penyebab terjadinya suatu kericuhan (keributan),
yang berupa berbagai kekerasan yang mulai dari fisik, verbal, dan psikologis. Contohnya seorang siswa yang berkelahi setiap hari di sekolah, sehingga tidak asing lagi bagi teman-temannya berkelahi.
Sementara untuk mereka yang biasa menyaksikan tindakan bullying pada kawan-kawannya berada dalam resiko yaitu:
1. Menjadi penakut
Perasaan takut dapat berakibat negatif bila menimbulkan perasaan-perasaan yang menegangkan, bisa muncul akibat lemah dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut. Contohnya seorang siswa yang melihat temanya dipukul oleh beberapa temannya, sehingga dia merasa takut dengan melihat kejadian tersebut.
2. Mengalami kecemasan
Kecemasan merupakan perasaan yang berisi ketakutan mengenai rasa yang mendatangkan tanpa sebab. Contohnya seseorang yang melihat temannya
dipukul oleh beberapa teman yang lainnya, sehingga menimbulkan kecemasan ketika bertemu dengan teman yang memukul temannya tersebut.
3. Rasa keamanan diri yang rendah
Setiap orang merasakan beberapa ancaman keselamatan psikologis pada pengalaman yang baru dan yang tidak dikenal, hingga tidak nyaman di waktu-waktu seperti pergi sekolah, istirahat, atau pulang sekolah. Contohnya seseorang yang melihat temannya dipukul oleh teman yang lain saat pulang sekolah, maka dia tidak mau pulang sekolah sendirian, karena dia merasa kurang aman di sekolah jika pulang sendirian saja tersebut.
2.3. REMAJA
2.3.1. Pengertian Remaja
Menurut Papalia dan Olds mendefinisikan masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umunya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun (Jahja, 2011). Menurut Hall (dalam Sarwono, 2015), masa remaja (adolescence) adalah usia 12-25 tahun, yaitu masa topan badai (strum and drang) yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh gejolak akibat pertentangan nilai-nilai.
Sedangkan Adams dan Gullota mendefinisikan masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Adapun Hurlock membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16/17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock
karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. (Jahja, 2011)
Pada tahun 1974, WHO memberikan defenisi tentang remaja yang bersifat konseptual. Remaja adalah suatu masa ketika (Sarwono, 2015).
1) Individu yang berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya samapai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh pada keadaan yang relatif lebih mandiri.
WHO membagi kurun usia remaja menjadi dua bagian, yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Dalam hal ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda. Di Indonesia, batasan remaja mendekati batasan remaja menurut PBB yaitu 14-24 tahun (Sarwono, 2015).
2.3.2. Tugas Perkembangan Masa Remaja
Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock (1999) (dalam Ali & Asrori, 2011) adalah:
a. Mampu menerima keadaan fisik
b. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa
c. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok maupun lawan jenis
d. Mencapai kemandirian emosional e. Mencapai kemandirian ekonomi
f. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual
g. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua
h. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial i. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan
j. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
2.4. Penelitian Relevan
Penelitian ini sebelumnnya sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain namun ada perbedaannya yaitu di variabel dan subjeknya yang akan di teliti, yaitu: 2.4.1. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Fajrin (2013) yang berjudul “Hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku bullying pada remaja di SMK PGRI Semarang” yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku bullying pada remaja. Berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut, perilaku bullying yang dilakukan adalah: membentak, meledek, mencela, memaki-maki, menghina, menjuluki, meneriaki, mempermalukan didepan umum, menyoraki, menebar gosip, memfitnah.
2.4.2. Penelitian relevan selanjutnya adalah yang dilakukan oleh Lailah (2015) yang berjudul ”Hubungan antara konformitas teman sebaya dan
pola asuh otoriter dengan dengan perilaku bullying pada remaja”, menyatakan bahwa adanya hubungan konformitas teman sebaya dan pola asuh otoritar terhadap perilaku bullying pada remaja.
2.4.3. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2015) yang berjudul” Pengaruh konformitas teman sebaya terhadap perilaku bullying pada SMAN 1 Depok Jogyakarta”, menyatakan bahwa variabel perilaku bullying dapat dipengaruhi oleh konformitas teman sebaya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fajrin, Lailah, dan Dewi tersebut, perbedaan dengan penelitian ini adalah siswa XI membuly teman-temannya yang lemah di sekolah, juga berbeda lokasinya, subjek, dan variabelnya, serta penelitian Fajrin, Lailah , dan Dewi tersebut berada di kota besar sehingga membuat siswa di sana bebas bergaul, disebabkan karena pengaruh linggungan di kota besar tersebut sangat tinggi sedangkan dalam penelitian penulis ini adalah siswa yang tidak bebas bergaul, karena siswa berada di kampung yang pergaulan bebasnya rendah.
2.5. Hubungan Konformitas dengan Perilaku Bullying
Menurut Kiesler (dalam Sarwono, 2001) bahwa konformitas adalah perubahan perilaku atau keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang dibayangkan saja. Konformitas yaitu kecenderungan suatu tingkah laku seseorang dikuasai oleh sikap dan pendapat yang sudah berlaku, pengaruh sosial dimana setiap individu mengubah sikapnya,
perilakunya dan keyakinannya, karena adanya tekanan dari kelompok (Teruna, 2010).
Kuatnya pengaruh sosial yang ada dalam konformitas dibuktikan secara ilmiah dalam penelitian Solomon Asch (Prihardani, 2012). Asch melakukan eksperimen dengan memberikan tugas persepsi sederhana kepada seorang partisipan pada penelitiannya untuk menjawab pertanyaan “ Mana garis yang sama dengan garis standar ?” Ketika menjawab, seorang partisipandidampingi oleh 6-8 orang yang juga ikut menjawab pertanyaan yang sama. Namun, sebenarnya 7 orang diantaranya merupakan confederates, yaitu asisten penelitian yang bertugas ”membelokkan” jawaban si partisipan. Para confederates diminta Asch untuk memberikan jawaban yang salah arti memilih “B” sebagai jawabanya, sementara partisipan sendiri memilih “C” (jawaban yang memang benar). Hal ini dilakukan berulang kali. Pada waktu tertentu, partisipan yang tadinya memberikan jawaban yang benar mengubah jawaban yang benar mengubah jawabannya mengikuti jawaban mayoritas orang yang ada di sekelilingnya. Dari seluruh partisipan yang terlibat dalam eksperimen ini, 76% mengikuti jawaban salah dari confederates. Eksperimen Asch ini menunjukkan bahwa orang cenderung melakukan konformitas mengikuti penilaian orang lain, ditengah tekanan kelompok yang mereka rasakan. Dari eksperimen Asch dapat disimpulkan bahwa saat indivdu menemukan penilaian, tindakan, dan kesimpulannya berbeda dengan banyak orang, ia cenderung akan mengubah dan mengikuti norma yang dikemukakan oleh kebanyakkan orang. Apabila kelompok tersebut melakukan
perilaku bullying, maka siswa akan menyesuaikan dirinya dengan norma kelompok tersebut.
2.6. Kerangka Konseptual
Gambar.1.
Dari gambar 1 kerangka konseptual tersebut, dapat di uraikan bahwa Siswa SMK NEGERI 1 Kecamatan SUTERA Kabupaten Pesisir Selatan berada pada masa remaja pertengahan yaitu rata-rata berusia 17-18 tahun dan juga dalam perkembangan mencari identitas dirinya. Dalam proses mencari identitas diri, remaja bergabung dengan kelompok tertentu. Remaja belajar banyak hal-hal yang baru termasuk mendapatkan sumber informasi. Kuatnya kepercayaan remaja tersebut terhadap kelompoknya yang di sebut konformitas. Konformitas ini merupakan suatu perubahan sikap percaya sebagai akibat tekanan adanya
norma-Perilaku Bullying Aspeknya a. Verbal b. Indirect c. Psikologis KONFORMITAS Aspeknya a. Pengaruh normatif. b. Pengaruh c. Informasional.
Siswa SMK NEGERI 1 Kecamatan SUTERA kabupaten Pesisir SelatanJurusan Akuntasi kelas XI
norma dalam kelompok. Konformitas dapat mempengaruhi sikap seseorang, dengan pengaruh normatif dan informational.
Jika pengaruhnya kuat maka akan menimbulkan perilaku mengolok-olokan, merokok, cabut, menertawakan teman, memberi gelar pada teman dan salah satunya perilaku bullying. Perilaku bullying merupakan perilaku tidak normal, tidak sehat dan secara sosial tidak dapat diterima, bullying adalah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang siswa atau kelompok siswa pada siswa lain bahkan sekelompok siswa terhadap guru (Wiyani, 2012). Perilaku bullying yang dilakukan yaitu berupa kekerasan fisik, verbal dan psikologis. Tinggi atau rendahnya konformitas siswa disebabkan oleh beberapa Aspek konformitas ini juga menimbulkan perilau bullying, yaitu pertama pengaruh normatif yang merupakan penyesuaian tingkah laku seseorang untuk mencari dukungan supaya dapat diterima dalam kelompok, pada pengaruh ini akan timbul aspek perilaku bullying yaitu verbal yang memberikan nama gelar pada guru seperti gendut, hitam, princess, dan kingkong. Indirect yaitu mengeluarkan teman dalam kelompok dengan cara dengan menfitnahnya. Phisycal yaitu memukul dan mempermainkan bertujuan untuk menyakiti. Kedua informasional merupakan keyakinan seseorang terhadap kelompoknya dengan menerima informasi yang ada dalam kelompok tersebut. Sehingga siswa yang memiliki konformitas yang tinggi, bearti dia cenderung mengikuti aspek tersebut, sedangkan siswa yang memiliki konformitas yang rendah, cenderung tidak mengikuti aspek konformitas. Siswa yang melakukan konformitas akan menimbulkan perilaku bullying, dimana mereka dalam kekuasaan yang kuat dan merasa bahwa diri mereka orang-orang
yang berkuasa didalam kelas disebabkan karena meraka itu bersatu dalam kelompoknya untuk menindas orang-orang yang lemah (konformitas), sehingga terjadilah perilaku bullying di dalam kelas. Seseorang yang berperilaku bullying diakibalkan oleh konformitas yang dipengaruhi oleh aspeknya. Perilaku bullying ada beberapa aspek, sebagaimana digambarkan pada gambar 1 tersebut.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu penyebab terjadinya perilaku bullying pada siswa diakibatkan pengaruh konformitas.
2.3. Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan teoritik yang masih dibuktikan kebenarannya melalui analisis terdapat bukti-bukti empirik (Arikunto, 2006). adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ha = Ada hubungan antara Konformitas dengan perilaku Bullying di SMK NEGERI 1 Kecamatan SUTERA Kabupaten Pesisir selata.