PENGARUH
PENGARUH MUSIK MUSIK KLASIK KLASIK TERHADAP DAYTERHADAP DAYA TA TAHANAHAN
KONSENTRASI DALAM BELAJAR
KONSENTRASI DALAM BELAJAR
Saifaturrah
Saifaturrahmi mi HidayatHidayat
Anggia Kargenti Evanurul Marettih Anggia Kargenti Evanurul Marettih
Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Abstrak Abstrak
Penelitian ini dilandasi pada kenyataan bahwa daya tahan konsentrasi belajar Penelitian ini dilandasi pada kenyataan bahwa daya tahan konsentrasi belajar mahasiswa yang tergolong rendah. Konsentrasi dapat
mahasiswa yang tergolong rendah. Konsentrasi dapat ditingkatkan dengan melakukanditingkatkan dengan melakukan pemadaman
pemadaman rangsangan-rangsangan rangsangan-rangsangan yang yang bersifat bersifat mengganggu mengganggu yang yang dapat dapat menarikmenarik perhatian
perhatian secara sponsecara spontan. tan. Salah Salah satu satu faktor yang faktor yang diasumsikan diasumsikan dapat dapat meningkatkan meningkatkan dayadaya tahan konsentrasi adalah musik
tahan konsentrasi adalah musik klasik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuiklasik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
pengaruh musik musik klasik klasik terhadap terhadap daya daya tahan tahan konsentrasi konsentrasi dalam dalam belajar. belajar. Subjek Subjek penelitianpenelitian dibedakan menjadi dua kelompok secara acak, delapan kelompok eksperimen dan dibedakan menjadi dua kelompok secara acak, delapan kelompok eksperimen dan delapan kelompok kontrol. Desain yang digunakan adalah Pretest Posttest Control delapan kelompok kontrol. Desain yang digunakan adalah Pretest Posttest Control Group Design. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur daya tahan konsentrasi a
Group Design. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur daya tahan konsentrasi adalahdalah Intellegenz Structure Test dan Army Alpha. Hipotesis yang diajukan yaitu pemberian Intellegenz Structure Test dan Army Alpha. Hipotesis yang diajukan yaitu pemberian musik klasik dapat meningkatkan daya tahan konsentrasi mahasiswa dalam belajar. musik klasik dapat meningkatkan daya tahan konsentrasi mahasiswa dalam belajar. Berdasarkan analisis
Berdasarkan analisis Independent Independent Sample Sample t-testt-test daridariSPSS 17.00SPSS 17.00, diperoleh data berupa, diperoleh data berupa gain
gain scorescore antara antara pretest-posttest pretest-posttest yang yang menunjukkan menunjukkan adanya adanya perbedaan perbedaan yang yang signifkansignifkan antara skor subjek sebelum dan sesudah diberikan perlakuan.
antara skor subjek sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Gain scoreGain score kelompokkelompok eksperimen (2.75) lebih tinggi dari kelompok kontrol (0.5) dengan nilai t- hitung eksperimen (2.75) lebih tinggi dari kelompok kontrol (0.5) dengan nilai t- hitung 3.100 lebih besar dari nilai t-tabel 2.145. Artinya musik klasik dapat meningkatkan 3.100 lebih besar dari nilai t-tabel 2.145. Artinya musik klasik dapat meningkatkan daya tahan konsentrasi mahasiswa dalam belajar, dengan demikian hipotesis diterima. daya tahan konsentrasi mahasiswa dalam belajar, dengan demikian hipotesis diterima. Kata kunci : daya tahan konsentrasi, musik klasik.
Kata kunci : daya tahan konsentrasi, musik klasik. A. Pendahuluan
A. Pendahuluan
Terjadinya proses belajar membutuh-kan konsentrasi belajar. Tanpa Terjadinya proses belajar membutuh-kan konsentrasi belajar. Tanpa konsen-trasi belajar, maka peristiwa belajar itu
trasi belajar, maka peristiwa belajar itu se-sungguhnya tidak ada atau tidak se-sungguhnya tidak ada atau tidak ber-langsung (Surya, 2009: 19).
langsung (Surya, 2009: 19).
Agar suatu konsentrasi dapat Agar suatu konsentrasi dapat ter-capai, menurut Linschoten (1983: 26), capai, menurut Linschoten (1983: 26), diperlu-kan pemadaman diperlu-kan pemadaman rangsangan-rangsangan yang bersifat mengganggu, rangsangan yang bersifat mengganggu, yaitu pe-madaman segala faktor yang yaitu pe-madaman segala faktor yang ter-dapat dalam medan kelakuan, yang ter-dapat dapat dalam medan kelakuan, yang dapat bekerja
bekerja sebagai sebagai pusat-pusat pusat-pusat medan medan yangyang menarik perhatian secara spontan.
menarik perhatian secara spontan.
Dilihat dari aktivitas belajar Dilihat dari aktivitas belajar sehari-hari mahasiswa Fakultas Psikologi UIN hari mahasiswa Fakultas Psikologi UIN SUSKA
SUSKA Riau, Riau, di ruang kudi ruang kuliah maupun dliah maupun dii perpustakaan, diperoleh gambaran bahwa perpustakaan, diperoleh gambaran bahwa tingkat ketahanan konsentrasi mahasiswa tingkat ketahanan konsentrasi mahasiswa psikologi
psikologi masih masih terkategori terkategori lemahlemah , art-, art-inya
inya daya daya tahan tahan konsentrasinya konsentrasinya mudahmudah ter-ganggu, atau teralihkan.
ter-ganggu, atau teralihkan. Hal ini da-Hal ini da-pat dilihat dari sesi
pat dilihat dari sesi perkuliahan, masihperkuliahan, masih banyak mahasiswa yang tidak mampu banyak mahasiswa yang tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan menjawab pertanyaan-pertanyaan
dari dosen mengenai pelajaran yang baru dipelajari, atau bahkan mena- jawab asal-asalan yang tidak sesuai dengan konteksnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa daya konsentrasi mahasiswa lemah.
Untuk mengurangi ketergangguan konsentrasi, selain dengan cara me-mad-amkan rangsangan-rangsangan yang ber-sifat mengganggu, perlu juga diupaya-kan usaha-usaha untuk meningkatkan daya ta-han konsentrasi atau pemusatan perhatian pada pelajaran, baik di ruang kelas atau- pun di perpustakaan.
Salah satu upaya meningkatkan daya tahan konsentrasi pada saat belajar adalah dengan cara memperdengarkan musik klasik sebagai musik pengiring belajar. Penelitian yang dilakukan oleh Schuster dan Gritton (dalam Deporter, 2010: 111), menunjukkan bahwa musik klasik paling cocok diperdengarkan pada saat belajar, mengulang, dan saat berkonsentrasi. Karena musik klasik da- pat menciptakan keadaan belajar yang optimal dan membantu menciptakan aso-siasi. Belajar yang diringi dengan musik klasik dapat membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi, karena musik klasik mampu menyeimbangkan aktivi-tas dari belahan otak kanan dan kiri serta mengatur gelombang otak dalam kondisi yang diperlukan ketika belajar (Gunawan, 2007: 63).
Menurut Lawrence (2001: 2), musik klasik mmaui kisi �mmaui kisi -siologis. Selama melakukan pekerjaan mental yang berat, tekanan darah, denyut jantung, dan gelombang otak cenderung meningkat, dan otot-otot menjadi tegang. Setelah mendengarkan musik, denyut jan-tung dan tekanan darah menurun dan otot-otot mengendur. Relaksasi dengan iringan
musik klasik membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi.
Campbell (2001: 97), mengatakan bahwa potongan musik klasik, seperti Haydn dan Mozart, memiliki kejelasan, elegan, dan transparansi yang dapat me-ningkatkan konsentrasi, memori, dan per-sepsi spasial.
Salah satu jenis musik klasik yang sering digunakan dalam belajar adalah musik klasik zaman baroque, dan musik yang paling dikenal pada zaman ini ada-lah musik klasik Bach. Karena musik yang diciptakannya mampu membawa gelombang otak ke kondisi beta maupun alfa (Gunawan, 2007: 252). Gelombang otak yang berada pada frekuensi gelom- bang beta yaitu 12-25 Hz. merupakan kondisi yang sangat baik untuk melaku-kan aktivitas yang menuntut konsentrasi tinggi. Sedangkan frekuensi gelombang alfa berkisar antara 8-12 Hz, sangat baik untuk melakukan aktivitas belajar
(Gunawan, 2007: 63).
Penelitian lain yang mendukung penggunaan musik barok (Bach, Corelli, Tartini, Handel, Pachelbel, Mozart) dan musik klasik (Satie, Rachmaninoff) un-tuk merangsang dan mempertahankan lingkungan belajar optimal. Struktur kord melodis dan instrumentasi musik barok membantu tubuh mencapai keadaan was- pada tetapi tetapi rileks (Deporter, 2010:
111).
Penelitian tentang penggunaan musik klasik seperti musik barok, menun- jukkan hasil bahwa jenis musik ini buat anak-anak berkonsentrasi, dan mem- buat memori mereka meningkat hingga 26%. Musik barok dapat merangsang otak dan membantu mengembangkan konsen-trasi (Cagla, 2009: 2).
luar yang membuktikan bahwa musik klasik yang paling baik didengarkan untuk meningkatkan hasil belajar, namun tidak dapat dipungkiri faktor keakraban terha-dap jenis musik tertentu, mem-pengaruhi persepsi terhadap musik yang diperden-garkan. Apabila individu tidak memiliki keterikatan secara emosional terhadap jenis musik tertentu, akan mengakibatkan musik tersebut tidak dapat dinikmati dan malah menjadi variabel yang dapat meng-ganggu konsentrasi dalam belajar (Shep- pard, 2005: 33).
Keberadaan musik klasik di Indo-nesia masih dipandang sebagai musik berkelas yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan atas, dan dianggap seba-gai musik yang tidak memasyarakat. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa musik klasik, bukanlah musik yang akrab bagi pendengar di Negara ini (Hakim, 2010:
52).
Budi Raharja dalam Cakrawala Pendidikan (2009: 139) , melakukan pe-nelitian berjudul “Efek Musik terhadap Prestasi Anak Usia Prasekolah; Studi Komparasi Efek Lagu Anak, Dolanan Jawa, dan Musik Klasik”, dari penelitian tersebut diperoleh hasil, efek positif ter- jadi pada perlakuan mendengar musik-musik yang sudah akrab dengan anak, sedangkan musik belum akrab dapat mengganggu konsentrasi anak dalam me-nyelesaikan tugasnya. Lagu anak mempu-nyai pengaruh positif paling kuat, dolanan jawa mempunyai pengaruh positif agak kuat, dan pengaruh negatif terjadi pada musik klasik. Pengaruh tersebut diakibat-kan oleh faktor lingkungan (lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah) sering tidaknya lingkungan memperdengarkan suatu musik meng-akibatkan akrab atau tidaknya anak dengan musik yang
ber-sangkutan dan hal ini mempengaruhi efek apabila musik tersebut digunakan untuk memanipulasi keadaan.
Penelitian yang dilakukan Sigman (2005: 17) mai fktitas �u-naan musik latar di kelas dalam mening-katkan konsentrasi, menghasilkan kesim- pulan, bahwa musik tidak mempengaruhi konsentrasi belajar. Hal ini terbukti dari tiak aaya baa ya siika hasil survei dengan meng-gunakan skala Likert antara pretest dan posttest pada pe-nelitian tersebut.
Penelitian-penelitian yang telah di-lakukan oleh para peneliti tersebut, masih menujukkan hasil kontradiksi. Penelitian yang dilakukan Gordon Shaw, Campbell, dan Schuster menyatakan musik klasik memiliki efek positif terhadap konsen-trasi belajar. Sedangkan penelitian yang di-lakukan oleh Sigman dan Budi Rahaja, menyimpulkan musik klasik tidak mem- berikan efek terhadap konsentrasi, bahkan mengganggu konsentrasi belajar. Atas dasar itu, maka perlu dilakukan kembali penelitian lebih lanjut untuk melihat per-garuh musik klasik terhadap daya tahan konsentrasi dalam belajar.
B. Landasan Teori
Daya tahan konsentrasi mahasiswa terdiri atas empat kata: daya, tahan, kon-sentrasi, dan mahasiswa. Kata daya be-rarti kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak. Sedangkan kata tahan berarti sesuatu yang dapat tetap ke-adaannya meskipun mengalami berbagai hal dan tidak lekas rusak. ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 241, 1120). Se-hingga daya tahan berarti kemampuan bertahan terhadap segala pengaruh dari
luar yang dapat merugikan.
ke-sadaran jiwa terhadap suatu objek yang memang disengaja. Konsentrasi juga disebut sebagai perhatian yang memusat atau perhatian konsentratif (perhatian yang hanya ditujukan kepada satu objek tertentu). Konsentrasi memiliki fungsi selektif, dalam memilih informasi yang sesuai dengan objek yang dijadikan sasa-ran fokus pikisasa-ran dengan memadam-kan perangsang lain yang dapat meng-ganggu (Ahmadi, 1992: 155). Konsentrasi men-cakup proses serial atau berurutan di alam mitikasi bjk�bjk (Su-harnan, 2005: 41).
Sedangkan yang dimaksud dengan mahasiswa adalah individu yang belajar di perguruan tinggi, yang usianya berkisar antara 18 hingga 22 tahun. Dalam teori perkembangan, usia ini termasuk dalam masa remaja akhir (Santrock, 2003: 25). Piaget mengemukakan bahwa pada masa ini telah terjadi kematangan kognitif, yai-tu interaksi dari strukyai-tur otak yang telah sempurna. Menurut Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, dimana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Mereka sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu menghubungkan ide-ide tersebut, tidak hanya mengorganisasi-kan apa yang dialami dan diamati, tetapi mampu mengolah cara berpikir sehingga memunculkan suatu ide baru. (Santrock, 2003: 50)
Dilihat dari tugas perkembangan kognitif tersebut, maka mahasiswa yang termasuk kategori remaja akhir seharus-nya sudah mampu berkonsentrasi dengan baik, selain karena memiliki struktur otak yang telah sempurna, pada usia remaja akhir mahasiswa juga mampu memilah,
menghubungkan, mengorganisasikan dan mengolah informasi yang diterima se-hingga pikiran dapat terpusat pada satu objek saja dengan memadamkan perang-sang lain yang dapat mengganggu.
Menurut Linschoten (1983: 28), daya tahan konsentrasi adalah sejauh mana individu sanggup mempertahankan suatu derajat konsentrasi tertentu. Indi-vidu berkonsentraasi menurut kebutu-hannya, mempergunakan alat pembantu untuk bertahan dari gangguan-gangguan, dan mengarahkan perhatiannya pada tu-gas. Dengan demikian, dapat disimpulkan yang dimaksud dengan daya tahan kon-sentrasi mahasiswa adalah kemampu-an mahasiswa untuk mempertahankan per-hatian yang memusat (konsentrasi) terha-dap suatu objek dalam jangka waktu yang relatif lama dari pengaruh luar yang dapat merugikan (merusak konsentrasi).
Daya tahan Konsentrasi individu dapat diamati melalui EEG ( Electro Ecephalo Graph) merupakan alat penci-traan otak, yang berfungsi untuk meng-gambarkan kondisi gelombang otak indi-vidu. Ketika individu melakukan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi, maka kondisi gelombang otaknya, berada pada kondisi beta, sementara ke-tika individu membaca, kondisi gelom- bang otak yang baik adalah berada pada
kondisi alfa (Gunawan, 2007: 62).
Selain dengan menggunakan EEG, daya tahan konsentrasi individu dapat pula diukur dengan menggunakan AA ( Army Alpha Test). AA merupakan alat ukur psikologi terstandar yang diguna-kan untuk untuk keperluan penyaringan umum dan penempatan (Anastasi, 2006: 299). Tes ini merupakan tes inteligensi kelompok, yang salah satu aspek pen-gukurannya adalah daya tahan
konsentra-si. Kemampuan individu untuk menang-kap dan merespon instruksi secara cepat dan tepat, dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam berkonsentrasi (Aiken, 2008: 163).
Apabila individu dengan sengaja memusatkan perhatiannya pada suatu ob- jek yang menjadi sasaran kesadaran, dan selalu dalam kesibukan untuk membatasi medan perhatian (konsentrasi), maka akan menimbulkan ketegangan-ketegangan otot, yang tidak diperlukan oleh peker- jaan pelaksanaan tugas itu sendiri, yang berakibat timbulnya kelelahan dalam melaksanakan tugas tersebut. Oleh sebab itu, konsentrasi yang sengaja dibangun individu, harus selalu dipertahankan dan menunjukkan sifat ketidakseimbangan (Linschoten, 1983: 27).
Pada dasarnya, individu tidak akan dapat berkonsentrasi apabila berada dalam keadaan yang terlalu menegangkan atau berada dalam tekanan, individu juga tidak dapat berkonsentrasi apabila berada dalam keadaan yang terlalu rileks (Lin-schoten, 1983: 27). Konsentrasi dapat terbentuk apabila individu berada dalam keadaan di antara keduanya. Walaupun konsentrasi merupakan pemusatan perhatian yang dilakukan secara sen-gaja, tetapi apabila dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama, dapat berpindah ke kondisi yang dapat men-urunkan konsentrasi.
Untuk suatu konsentrasi yang besar dan disengaja dapat menyebabkan tim- bulnya ketengangan-keteganggan otot, yang dapat membuat perasaan menjadi tidak rileks. Dengan demikian, dibutuh-kan sarana belajar yang mampu mem- buat keadaan tetap rileks walaupun dalam kondisi konsentrasi yang tinggi. Ban-yak penelitian yang mengatakan bahwa
mendengarkan musik klasik mampu imbulkan suasana rileks yang dapat men-dukung peningkatan konsentrasi. (Levi-tin, 2007: 7).
Musik klasik adalah komposisi musik yang lahir dari budaya Eropa seki-tar tahun 1750-1825. Biasanya musik klasik digolongkan melalui periodisasi tertentu, mulai dari periode klasik, diikuti oleh barok, rokoko, dan romantik. Pada era inilah nama-nama besar seperti Bach, Mozart, atau Haydn melahirkan karya-karyanya yang berupa sonata, simfoni, konserto solo, string kuartet, hingga opera (Mcneill, 2008: 2)
Selain itu musik klasik juga diarti-kan sebagai semua musik dengan kein-dahan intelektual yang tinggi dari semua zaman, baik itu berupa simfoni Mozart, kantata Bach atau karya-karya abad 20. Istilah “keindahan intelektual” itu sendiri memiliki pengertian yang relatif bagi se-tiap orang. Dalam pengertian ini, musik dari era modern seperti Kitaro dan Rich-ard Clayderman juga bisa digolong-kan sebagai musik klasik, tergantung dari sisi mana musik tersebut dapat dinikmati. Apabila lebih banyak menikmati ele-men intelektual dalam pengertian melodi, harmoni, atau aspek komposisi lainnya, maka jadilah ia musik klasik (Sheppard, 2005: 175)
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk dapat belajar dengan baik diperlukan adanya kondisi atau suasana yang menyenangkan dan be- bas dari berbagai tekanan jiwa. Menden-garkan musik yang indah dan berirama teratur, seperti musik klasik dapat mem- buat jiwa lebih lega dan lebih lepas, se-hingga dapat meningkatkan daya tahan jiwa a sik alam blaja. Da kisi jiwa a sik ya mikia
m-mungkinkan untuk mening-katkan daya tahan konsentrasi pada kegiatan belajar. Dengan demikian, hipotesis yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah pembe-rian musik klasik dapat meningkatkan daya tahan konsentrasi mahasiswa dalam belajar
C. Metode Penelitian Peserta
Peserta dalam penelitian ini maha-siswa psikologi UIN SUSKA Riau an-gkatan 2010 yang belum mendapatkan materi perkuliahan psikologi eksperimen dan psikodiagnostik. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan, sementara kelompok kedua adalah kelompok eksperimen yang diberikan perlakukan berupa pemutaran musik klasik. Setiap kelompok terdiri dari 15 orang subjek. Pemilihan subjek pada masing-masing kelompok dipilih secara random dengan sistem penarikan undian.
Alat Ukur
Army Alpha Test digunakan untuk mengukur daya tahan konsentrasi subjek sebelum diberikan perlakuan (pretest) dan setelah diberikan perlakukan (post-test) baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.
Army Alpha merupakan instrumen pengukuran psikologis, untuk melihat kemampuan intelektual umum daya tang-kap instruksi lisan, kecepatan dan kete-litian. Berupa tes paper and pencil , dan bentuknya cukup sederhana. Terdiri dari 12 aitem yang memuat analogi, masalah aritmatika, sejumlah penyelesaian soal, sinonim dan antonim, analisis kubus, sim- bol digit, informasi, dan penilaian praktis. Tes ini dimunculkan dan difungsi-kan se- bagai model bagi penyusun-an tes
kelom- pok mengenai kecerdasan dan aptitude (kemampuan alami).
Adapun yang diukur dalam tes Army Alpha adalah kemampuan daya
tangkap atau daya konsentrasi individu, dalam menerima dan melaksanakan in-struksi dengan cepat dan tepat. Dalam tes ini narator atau tester akan memberikan instruksi dan tidak akan mengulang in-struksi tersebut, dan waktu yang berikan terbatas.
Prosedur
Penelitian dilakukan terlebih dahu-lu pada kelompok kontrol baru setelahnya dilakukan pada kelompok eksperimen. Penelitian berlangsung pada bulan Ma-ret sampai April. Setiap kelompok terdiri dari tiga sesi, yang satu sesinya dilakukan seklai dalam satu minggu. Tiap sesi terdiri dari 45 menit.
Kelompok pertama merupakan kelompok yang tidak diberi musik klasik. Kelompok ini diberi tes Army Alpha un-tuk mengukur daya tahan konsentrasi subjek sebelum diberikan perlakuan ( pre-test ), kemudian pada minggu-minggu berikutnya mengikuti tiap sesi penelitian. Sesi pertama berupa kegiatan membaca bacaa vl ksi, ssi kua bacaa ilmiah, dan sesi ketiga berupa bacaan ilmiah-populer. Berselang dua minggu dari sesi ketiga, dilakukan tes akhir un-tuk mengetahui daya tahan konsentrasi subjek, dengan alat tes yang sama den-gan yang digunakan pada tes awal, yaitu Army Alpha test.
Kelompok kedua, adalah kelompok eksperimen yang diberikan perlakukan berupa mendengarkan musik klasik. Selu-ruh kegiatan yang diberikan pada kelom- pok eskperimen sama dengan kelompok kontrol, yaitu terdiri dari pretest ( Army
Alpha Test ), sesi pertama (bacaan novel �ksi), ssi kua (bacaa ilmia), ssi ketiga (bacaan ilmiah populer), dan post-test ( Army Alpha Test ). Bedanya, pada se-tiap sesi atau pada saat membaca bacaan yang diberikan, kelompok eksperimen di-iringi dengan alunan musik klasik, seba-gai musik pengiring belajar. Musik klasik yang diperdengarkan sebanyak 11 lagu yang terdiri musik klasik karya Pachelbel, Beethoven, Handel, Schumann, Chopin, Haydn, Mozart, Luigi, Vivaldi, dan Bach. Hasil pretest dan posttest dari ked-ua kelompok tersebut dianalisa dengan menggunakan teknik analisis statistik dengan uji-t atau uji beda. Adapun yang dibedakan dalam penelitian ini adalah skor subjek pada tes awal ( pretest ) den-gan skor subjek pada tes akhir ( posttest ) untuk masing-masing kelompok. Hasil yang diperoleh berupa gain score, yaitu selisih antara skor pretest dan posttest. Perbedaan antara skor pretest atau pen-gukuran sebelum diberikan perlakuan, dengan skor subjek pada posttest atau pengukuran setelah diberikan perlakukan, dianggap sebagai efek atau pengaruh dari perlakukan yang diberikan (Seniati, 2006:
136).
Untuk mengetahui apakah musik klasik mmiliki au ya siika terhadap daya tahan konsentrasi maka dilakukan analisis statistik uncorelated data atau independent sample t-test, yang dijadikan perhitungan adalah gain score (Seniati, 2006: 137).
Independent sample t-test digu- digu-aka utuk muji siikasi ba rata-rata dua kelompok. Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan secara kom- putasi dengan menggunakan program Statistical Packages for Social Science (SPSS) 17.00 for windows (Trihendradi,
2009: 111).
D. Hasil Penelitian
Data subjek penelitian yang diana-lisis harus memenuhi beberapa kriteria yaitu; Pertama, subjek pada KE dan KK mengikuti pretest (pengukuran awal, se- belum diberi perlakuan) dan posttest (pen-gukuran akhir, setelah diberi perlakuan) sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Kedua, subjek harus mengikuti seluruh sesi pelatihan yang dilaksanakan dalam tiga sesi. Berdasarkan kriteria tersebut maka didapatkan jumlah KK delapan orang, dan KE juga delapan orang. Data yang diperoleh pada pengukuran pretest dan posttest KE dan KK dijadikan gain score atau selisih antara pretest dan post-test. Perbedaan antara skor sebelum dan setelah diberikan perlakukan, dianggap sebagai pengaruh atau efek dari pembe-rian perlakuan terhadap subjek.
Kemudian, gain score tersebut di-analisis dengan menggunakan di-analisis statistik independent sample t-test mela-lui program SPSS 17,00 untuk menguji siikasi ba ata�ata ua klmk. Independent sample t-tes ini digunakan untuk mengetahui apakah perlakuan yang ibika bau scaa siika terhadap subjek. Artinya di dalam pe-nelitian ini uji-t tersebut digunakan un-tuk mengetahui apakah pemberian musik klasik bau scaa siika t-adap peningkatan daya tahan konsentrasi subjek. Deskripsi data penelitian kelom- pok eksperimen dan kelompok kontrol,
Tabel 1:Deskripsi Data Penelitian Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Subjek Kelompok Eksperimen Subjek Kelompok Kontrol
Pretest Posttest Gain
Score Pretest Posttest Gain Score
KE 1 13 15 2 KK 1 12 14 2 KE 2 10 12 2 KK 2 7 9 2 KE 3 9 13 4 KK3 7 6 -1 KE 4 10 13 3 KK 4 9 12 3 KE 5 10 12 2 KK 5 10 10 0 KE 6 10 13 3 KK 6 9 9 0 KE 7 6 9 3 KK7 12 13 1 KE 8 9 12 3 KK8 7 4 -3 Total 77 99 22 Total 73 77 4
Berdasarkan data di atas, uji hipotesis mengenai pengaruh musik klasik terha-dap peningkatan daya tahan konsentrasi dalam belajar dengan menggunakan ana-lisis statistik
independent Sample t-test melalui
program SPSS 17,0 diperoleh hasil bahwa rata-rata nilai gain score pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada rata-rata nilai pada kelompok kontrol, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Nilai rata-rata gain score pada kelompok eksperimen sebesar 2,75, lebih besar dibandingkan dengan nilai rata-rata pada kelompok kontrol sebesar 0,5. Art-inya daya tahan konsentrasi kelompok ek-sperimen lebih tinggi dibandingkan den-gan kelompok kontrol.
Seniati (2006: 136), menyatakan bahwa ada beberapa kaidah penerimaan hipotesis yang harus dipenuhi pada suatu
Penelitian eksperimen, yaitu nilai siikasi uji t lbi kcil ai 0,05 ( < 0,05) dan nilai-t hitung lebih besar dari nilai-t tabel (t hitung > t tabel). Hasil pen-ujia taa siikasi ai
mb-rian musik klasik terhadap peningkatan daya tahan konsentrasi pada dua kelom- pok, yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2:Deskripsi Nilai Rata-Rata Hasil Gain Score
Kelompok N Mean Standar Deviasi
Kelompok Eksperimen 8 2,75 0,70711
Tabel 3:Hasil Uji t
Group Statistics
SUBJEK N Mean Std. Deviation Std. Error Mean GAIN KE 8 2.7500 .70711 .25000
KK 8 .5000 1.92725 .68139
Independent Samples Test
Levene’s Test for Equality of
Variances
t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig
(2-tailed) Mean Difference
GAIN Equal variances assumed 5.488 .034 3.100 14 .008 2.25000 Equal variances not assumed 3.100 8.851 .013 2.25000
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bawa ilai siikasi aa uji t aala sebesar 0,034, nilai ini lebih kecil diband-ingkan 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian ini diterima. Hal ini membuktikan bahwa pemberian musik klasik meningkatkan daya tahan konsentrasi mahasiswa dalam belajar. Nilai-t pada hasil uji independent sample t-test terhadap gain score dari selisih an-tara daya tahan konsentrasi sebelum dan setelah perlakuan adalah 3,100. Untuk mtaui siikasiya maka lu dibandingkan dengan nilai-t tabel. Nilai-t tabel untuk derajat bebas 14 (df = 16-2) dan l.o.s 0,05 adalah 2,145. Nilai-t hitung 3,100. Nilai-t hitung lebih besar dari pada nilai-t tabel, maka dapat dinyatakan bah-wa musik klasik berpengaruh secara sig-ika taa ikata aya taa konsentrasi dalam belajar.
E. Pembahasan
Hasil penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Fakultas Psikologi Uni-versitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau angkatan 2010 menunjukkan bahwa ada pengaruh musik klasik terhadap pen-ingkatan daya tahan konsentrasi dalam
belajar. Hal ini terlihat dari selisih anta-ra skor pretest dan posttest ( gain score) pada kelompok eksperimen dan kelom- pok kontrol. Gain score pada kelompok yang diberikan perlakuan atau kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi per-lakuan atau kelompok kontrol dilihat dari perbedaan rata-rata skor pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (2,75 > 0,5). Artinya, ada peningkatan daya tahan konsentrasi subjek setelah diberikan per-lakukan.
Nilai-t pada hasil uji independent sample t-test terhadap gain score dari selisih antara daya tahan konsentrasi sebe-lum dan setelah perlakuan adalah 3,100. Utuk mtaui siikasiya maka perlu dibandingkan dengan nilai-t tabel. Nilai-t tabel untuk derajat bebas 14 (df = 16-2) dan l.o.s 0,05 adalah 2,145. Nilai-t hiNilai-tung 3,100. Nilai-Nilai-t hiNilai-tung lebih besar dari pada nilai-t tabel, maka dapat dinya-takan bahwa musik klasik berpengaruh scaa siika taa ikata daya tahan konsentrasi dalam belajar.
Peningkatan skor pada tes akhir ( posttest ) mengindikasikan adanya
pen-ingkatan terhadap daya tahan konsentrasi subjek setelah diberikan perlakuan. Sub- jek yang awalnya berada pada kategori konsentrasi rata-rata, meningkat menjadi rata-rata atas. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Brewer (1995: 1) yang menjelaskan bahwa musik klasik ketika digunakan sebagai musik latar belakang pada saat belajar, membaca, atau menulis, men-gakibatkan individu menjadi fokus dan berkonsentrasi, karena musik klasik da- pat meningkatkan perhatian, retensi dan memori, memperpanjang waktu untuk fokus terhadap pelajaran, dan mengem- baka kmamua bki.
Menurut O’Donnell (1999: 2), musik klasik pada periode barok me-nyebabkan denyut jantung dan laju te-kanan darah menjadi santai sesuai den-gan ketukan musik, tubuh menjadi rileks dan waspada, sehingga pikiran mampu berkonsentrasi lebih mudah. Sejalan den-gan pendapat tersebut Houston (dalam Gunawan, 2007: 254), mengatakan bahwa tubuh manusia, pada level molekul, berg-etar pada panjang gelombang yang tetap dan stabil. Musik mempunyai getaran atau frekuensi. Saat individu mendengarkan musik, frekuensi musik dapat beresonansi atau bertentangan dengan frekuensi tubuh individu. Saat terjadi kesamaan frekuensi, individu akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan lebih baik, pada saat itu individu dikatakan berada pada keadaan rileks tapi waspada.
Dari hasil pengamatan yang dilaku-kan terhadap kelompok ekperimen, terli-hat bahwa subjek pada kelompok terse- but, menampilkan kondisi yang nyaman, santai dan rileks ketika membaca serta lebih tenang dari pada subjek pada kelom- pok kontrol. Hal ini membuktikan bahwa
musik klasik mampu menciptakan susana yang rileks ketika subjek pada kelompok eksperimen melakukan kegiatan baca. Kondisi yang rileks tersebut mem- permudah subjek dalam berkonsentrasi, dengan daya tahan konsentrasi yang baik, akan meningkatkan kemampun subjek dalam belajar.
Pada penelitian ini diperoleh ketidaksesuaian antara kemampuan berkonsentrasi dengan kemampuan su- byek dalam melakukan kegiatan belajar pada saat pelaksanaan penelitian . Sub-yek menampilkan kondisi yang santai dan rileks, seharusnya memiliki daya tahan konsentrasi yang tinggi, ternyata tidak mampu menjawab soal-soal yang berisi pertanyaan mengenai isi dari buku bacaan yang di baca. Selain itu diperoleh hasil bahwa rata-rata skor yang dimiliki subyek pada kelompok eksperimen lebih rendah dari pada skor kelompok kontrol, dalam menjawab soal-soal mengenai isi dari buku bacaan dibaca pada saat penelitian. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Cooper (2008: 7), yang menunjuk-kan hasil bahwa musik klasik tidak ber- au scaa siiika taa
k-mampuan pemahaman bacaan.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, ketidaksesuaian antara mampuan berkonsentrasi dengan ke-mampuan subyek dalam melakukan kegiatan belajar pada saat penelitian dipengaruhi faktor lingkungan, teruta-ma suhu ruangan yang tidak kondusif, sehingga menyebabkan konsentrasi subyek terganggu, terutama pada ke-lompok eksperimen.
Kapasitas kemampuan inteligensi juga mempengaruhi kemampuan individu dalam memahami bacaan (Sheppard, 2005:31). Rata-rata subyek pada KE
tingkat intelegnsinya berada pada rata-ra-ta bawah dan kurang, sedangkan KK be-rada dalam kategori rata-rata dan rata-rata atas. Hal ini disebabkan oleh banyaknya subyek yang merupakan eksperimental mortality yang mengakibatkan karakter-istik proactive history subyek menjadi ti-dak homogen dari segi tingkat inteligensi. Kemudian, dilakukan pencocokan antara skor AA sebagai pretest dengan skor ME pada IST sebagai baseline. Dapat disim- pulkan bahwa hasilnya berada pada kat-egori yang sama, artinya tes IST tersebut dapat dikatakan telah disajikan dengan baik oleh tester . Oleh sebab itu, uji ho-mogetis dilakukan pada skor pretest sub- jek untuk mengetahui apakan subjek pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki rata-rata daya tahan konsentrasi yang sama sebelum diberi-kan perlakudiberi-kan. Hasilnya menunjukdiberi-kan kondisi subjek yang homogen. Artinya, keadaan tingkat IQ tidak mempengaruhi hasil analisis, namun perbedaan tingkat IQ tersebut dapat menjelaskan penyebab rendahnya kemampuan subyek pada ke-lompok eksperimen untuk memahami bacaan dari pada subyek pada kelompok
kontrol.
Dengan demikian, hipotesis pe-nelitian ini diterima. Artinya, pemberian musik klasik dapat meningkatan daya ta-han kosentrasi mahasiswa dalam belajar. Dinamika hubungan antara pemberian musik klasik terhadap peningkatan daya tahan konsentrasi, sesuai dengan kerangka bki ya iuaka alam litia ini, yaitu musik klasik dapat menciptakan kisi jiwa a sik ya ilks, -a kisi jiwa a sik ya mikia, memudahkan individu untuk mem-perta-hankan daya tahan konsentrasinya. Na-mun, daya tahan konsentrasi yang tinggi,
tidak mempengaruhi kemampuan subyek dalam memahami bacaan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh gaya belajar yang dimi-liki oleh subyek, daya tahan konsentrasi yang terungkap, merupakan potensi yang dimiliki subyek, yang dapat ditingkatkan dengan menggunakan musik klasik.
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa musik klasik mempunyai pen-au ya siika taa ika-tan daya tahan konsentrasi dalam belajar pada mahasiswa Fakultas Psikologi Uni-versitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau angkatan 2010.
Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu. (1992). Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Aiken, Lewis, R. (2008). Pengetesan dan Pemeriksaan Psikologi.
Ja-karta: PT Indeks
Anastasi, A., dan Urbina, S. (2006). Tes Psikologi .Jakarta: PT. Indeks Arikunto, Suharsimi, (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendeka-tan Praktek. Jakarta: Rieneka Cipta
Astuti, Dina. (2005). Gaul Ok Belajar OK. Jakarta: Kawan Pustaka Brewer, B, Chris. (1995). Integrating
Musik in Classroom. Arti-cle in musik and learning by Chris Byod Brewer studios. Buzan, Tony. (2006). Use Your Head.
Batam: Interaksara
Cagla Gur. Apakah Ada Pengaruh Positif Musik Klasik Apapun pada Kognitif. Universitas Tehnik Timur Tengah, Ankara, Turki. ISSN 1450-216X. Vol.36 No.
2 (2009), pp.251-259. Euro-Journals Publishing, Inc 2009 Campbell, Don. (2001). Efek Mozart. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Cooper, A, Cotton, M, and Goss, S. (2008). The Effect of Musik on Reading Comprehension. Hanover College PSY 220: Research Design and Statis-tics
Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Kamus Besar Bahasa Indo-nesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Deporter, Bobbi. (2010). Quantum Teach-ing. Bandung: KAIFA PT Mi-zan Pustaka
Djohan. (2009). Psikologi Musik. Yogya-karta: Galang Press
Gunawan, Adi, W. (2007). Genius Learn-ing Strategy. Jakarta: Grame-dia Pustaka Utama
Hadi, S. (1986). Metodelogi Research 1. Yogyakarta: Yayasan Pener- bitan Fakultas Psikologi
Uni-versitas Gajah Mada.
Hakim, Chappy. (2010). Saksofon, Ka- pal Induk dan Human Error. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Hasan, Iqbal. (2002). Pokok-pokok Ma-teri Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Karsidi, Ravik. (2007). Sosiologi
Pen-didikan. Surakarta: LPP UNS Press
Latipun. (2004). Psikologi Eksperimen. Malang: Uuniversitas Mu-hamadiyah Malang
Lawrence, L, Dorothy.(2001). Using Musik in The Classroom.
Lockhart Lawrence Studios
Lerch, Donna. and Anderson, Thomas. (2000). The Mozart Effect a Closer Look. EDPSY399OL. UIUC
Levitin, J, Daniel. (2007). Life Sound Tracks: The Uses of Musik in Everyday Life. Dept. Of Psy-chology McGiell University 1205 Avenue Docteur Pen-l Mtal, QC H3A 1B1 Canada.
Linschoten, J, dan Mansyur. (1983). Pen- gantar Ilmu Jiwa. Bandung:
Jemmars.
Mcneill, Rhoderick. (2008). Sejarah Musik 2. Jakarta: BPK
Gu-nung Mulia
Muttaqin, Moh., Kustap. (2008). Seni Musik Klasik Jilid 1 untuk SMK. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menen-gah Kejuruan, Direktorat Jen-dral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Depar-temen Pendidikan Nasional. Muttaqin, Moh., Kustap. (2008). Seni
Musik Klasik Jilid 2 untuk SMK. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menen-gah Kejuruan, Direktorat Jen-dral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Depar-temen Pendidikan Nasional. Nazir, M. (2003). Metode Penelitian.
Ja-karta: Ghalia Indonesia
O’Donnell, Laurence. (1999). Article Musik and The Brain. Scot-land: Originally Published in Musik Power.
Characterlink .net / Odonnell / report .htm. Last update June 2010 Raharja, Budi. (2009). Efek Musik
Menggunakan SPSS 17
Walgito, Bimo. (1985). Pengantar Psikologi Umum.
Yogyakar-ta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM
Prasekolah. ISI Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan
Rahmawati,Yeni. (2005). Musik Sebagai Pembentuk Budi Pekerti.
Yo-gyakarta: Panduan
Santrock, Jhon .W.(2003). Adolescence. Jakarta: Erlangga
Seniati, Liche. (2006). Psikologi Eksperi-men. Jakarta: PT Indeks
Sheppard, Philip. (2005). Musik Makes Your Children Smarter. Jakar-ta: Gramedia Pustaka Utama Sigman, J. Kristin. (2005). Using
Back- ground Musik in Classroom Effectively Enhance Concen-tration Within the Learning Environment. A Thesis Pre-st i Patial Fulllmt of the Requirements for the Degree Master of Education in the Graduated Scholl of Marietta College.
Soedarsono. (1992). Pengantar Apressia- si Seni. Jakarta: Balai Pustaka Suharnan. (2005). Psikologi Kognitif,
Surabaya: Srikandi.
Suharto, Toto. (2006). Filsafat Pendidi-kan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz
Surya, Hendra. (2009). Menjadi Manu- sia Pembelajar. Jakarta: Elek
Media Komputindo
Suryabrata, Sumardi. (2006). Psikologi Pendidikan, Jakarta:
RajaG-a Psaa
Swartz, Lukasz. (CS 99L). “The Mozart Effect”: Does Mozart Make You Smarter?. Professor Nils Nilssonhe
Syah, Muhibbin. (2009). Psikologi Bela- jar. Jakarta: Rajawali Pers Trihendradi, C. (2009). 7 Langkah Mudah