1
PENELITIAN TENTANG KEPESERTAAN
PROGRAM JAMINAN KESEHATAN DAERAH
DI JAWA TIMUR
Ole
DR. INDASAH.,Ir.,M.Kes
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
STIKES SURYA MITRA HUSADA KEDIRI
2
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyelenggaraan program jaminan sosial merupakan salah satu tanggung jawab dan kewajiban negara dalam memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Konsep negara kesejahteraan ini menekankan adanya pendekatan konsep normatif atau sistem pendekatan ideal yang menekankan bahwa setiap orang harus memperoleh pelayanan sosial sebagaimana yang menjadi haknya.
Di negara-negara Barat, kesejahteraan negara sering dipandang sebagai strategi ‗penawar racun‘ kapitalisme, yakni dampak negatif ekonomi pasar bebas, sehingga welfare state sering disebut sebagai bentuk dari ‗kapitalisme baik hati‘ (compassionate capitalism), oleh sebab itu, Jeremy Bentham (1748-1832) mempromosikan gagasan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin the greatest happiness (atau welfare) of the greatest number of their citizens. Bentham berpendapat bahwa sesuatu yang dapat menimbulkan kebahagiaan yang lebih adalah sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang menimbulkan rasa sakit adalah buruk.1 Aksi-aksi pemerintah harus selalu diarahkan untuk meningkatkan kebahagian sebanyak mungkin orang. Selain itu, Bentham berpendapat agar mendorong ketaatan dengan kontrol sosial melalui hukum tidak hanya secara langsung
1 Anton Hardianto, 2007, Naskah Akademis Paket Raperda tentang Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur
3
dengan menerapkan hukuman pada pelanggarnya, tetapi juga mendorong ketaatan tanpa paksaan dengan mengatur besarnya kebahagiaan dan penderitaan. Gagasan Bentham mengenai reformasi hukum, peranan konstitusi dan penelitian sosial bagi pengembangan kebijakan sosial membuat ia dikenal sebagai ―bapak kesejahteraan negara‖ (father of welfare states). Selanjutnya Sir William Beveridge mengusulkan sebuah sistem asuransi sosial komprehensif yang dipandangnya mampu melindungi orang dari sejak bayi hingga mati (from cradle to grave).
Terkait dengan hal diatas, UUD 1945 Pasal 28 H (amandemen kedua) mengamanahkan bahwa: ―Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagaimana manusia yang bermartabat‖, dan Pasal 34 – ayat 2 (amandemen keempat) menyatakan bahwa: ―Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan‖. Di samping itu, Ketetapan MPR RI No. X/MPR/2001 tentang Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Lembaga Tinggi Negara pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2001 juga menugaskan kepada Presiden untuk membentuk sistem jaminan sosial nasional dalam rangka memberi perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu.
Dengan dibentuknya Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004, Sistem Jaminan Sosial di Indonesia mengalami perubahan cukup besar dengan tujuan agar sistem yang ada sekarang dapat lebih efektif dalam melayani
4
para penerima manfaat jaminan sosial, juga untuk memperluas cakupan manfaat jaminan sosial ke seluruh rakyat Indonesia, baik bagi tenaga kerja di sektor formal maupun informal, baik rakyat yang bekerja maupun yang miskin dan tidak mampu, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing, dengan tujuan agar terjadi subsidi silang atau redistribusi pendapatan yang kaya dengan yang miskin dan yang sehat dengan yang sakit. Karena program jaminan sosial yang ada sekarang dianggap kurang berhasil dalam tujuannya untuk memberikan manfaat yang cukup baik bagi para penerima manfaat, karena jumlah penerima manfaat, nilai manfaat, dan hasil investasi dana jaminan sosial dianggap masih relatif kecil, dan tata kelola dana jaminan sosial juga dianggap masih kurang baik. Pembentukan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional telah mengubah sistem jaminan sosial yang ada sekarang, yaitu dari sebuah sistem tabungan wajib (provident fund) menjadi sebuah asuransi sosial (social insurance) yang bersifat wajib.
Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional tersebut akan menggantikan program-program jaminan sosial yang ada sekarang (seperti Askes, Jamsostek, Taspen, dan Asabri) yang dinilai kurang berhasil memberikan manfaat yang berarti kepada penggunanya, karena jumlah pesertanya kurang, jumlah nilai manfaat program kurang memadai, dan kurang baiknya tata kelola manajemen program tersebut. Manfaat program jaminan sosial sebagaimana ditetapkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
5
Nasional cukup komprehensif, yaitu meliputi jaminan pensiun, jaminan hari tua, jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan kematian. Program ini akan mencakup seluruh warga negara Indonesia, tidak peduli apakah mereka termasuk pekerja sektor formal, sektor informal, atau wiraswastawan. Bahkan dalam Pasal 14 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional ditentukan bahwa pemerintah secara bertahap mendaftarkan penerima bantuan iuran sebagai peserta kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang terdiri dari fakir miskin dan orang tidak mampu.
Pada dasarnya sistem jaminan sosial yang berbasiskan komunitas lokal yang tumbuh dari masyarakat golongan lemah secara tradisional telah mulai berkembang sejak lama dengan cara partisipatif gotong royong dan saling tolong menolong. Model semacam ini dilakukan masyarakat untuk menangani kantong-kantong kemiskinan diberbagai wilayah lokal dengan mengandalkan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Model ini mengisyaratkan pentingnya penguatan yang memberikan peluang kepada masyarakat untuk menangani masalahnya sendiri atas dasar kemampuannya sendiri melalui sebuah sistem jaminan sosial yang dikelola dari, oleh dan untuk mereka. Sistem jaminan sosial berbasis komunitas lokal tidak saja bersifat reaktif terhadap keadaan darurat, akan tetapi bersifat strategis karena program ini telah dipersiapkan landasannya berupa institusi masyarakat untuk memajukan masyarakat di massa mendatang.
6
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk ke‐empat terbesar di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Hasil penelitian UN – Deutsche Bank (2009), Indonesia menyumbang sekitar 6 persen penduduk di Asia (Tahun 2000 dan Proyeksi 2010). Hal ini menunjukkan bahwa kuantitas penduduk Indonesia merupakan permasalahan strategis. Pada Bab 30 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004‐2009, salah satu permasalahan pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas yang dikemukakan adalah masih tingginya angka kelahiran penduduk. Dengan angka kelahiran total sebesar 2,3 (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia/SDKI 2007 setelah dikoreksi), terjadi sekitar 4 juta kelahiran setiap tahunnya, dan jumlah kelahiran ini sama dengan jumlah total penduduk Singapura pada tahun 2000 (World Bank). Kondisi ini menyebabkan tingginya laju pertumbuhan dan jumlah penduduk karena tingkat kelahiran merupakan faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Jika ditilik lebih dalam, angka kelahiran tersebut tidak serta merta sama antara wilayah desa‐kota, antarprovinsi, antartingkat pendidikan, dan antartingkat kesejahteraan. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia/SDKI 2007 menunjukkan bahwa mereka yang memiliki latar belakang pendidikan rendah dan kurang sejahtera memiliki tingkat kelahiran yang lebih besar. Total Fertility Rate/TFR pada kelompok kuintil pertama lebih tinggi (3,0) dibandingkan dengan kuintil keempat (2,5). Jika tidak diupayakan pengendalian penduduk secara serius, hal ini berimplikasi
7
kepada beratnya beban pemerintah dalam menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama untuk menyediakan pelayanan dasar berupa pendidikan dan kesehatan, termasuk di Provinsi Jawa Timur.
Menurut Santoso (2012), bahwa kebijakan pembangunan kesehatan di Jawa Timur mengamanahkan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pelayanan kesehatan. Aksesibilitas ini bermakna terhadap keterjangkauan pelayanan kesehatan oleh masyarakat, yaitu untuk menjamin peningkatan kesehatan masyarakat. Hal ini dapat difahami bahwa salah satu tujuan negara kita adalah meningkatkan kesejahteraan umum, di mana salah satu parameter kesejahteraan umum adalah tingkat kesehatan masyarakat. Keterjangkauan atas pelayanan kesehatan dapat menyangkut keterjangkauan secara geografis, financial maupun sosial. Secara geografis telah dilakukan upaya untuk membangun berbagai fasilitas sarana pelayanan kesehatan diberbagai pelosok Jawa Timur. Pondok Kesehatan Desa, Pondok Bersalin Desa dan Pusat Kesehatan Masyarakat adalah ujung depan dari sarana pelayanan kesehatan. Sekitar 923 Puskesmas tersebar di berbagai penjuru Jawa Timur. Sementara itu tersedia pula 43 Rumah Sakit Umum daerah, 9 Rumah sakit khusus, 20 Rumah Sakit TNI / POLRI serta sekitar 97 Rumah Sakit Swasta. Suatu Jumlah yang relatif banyak, namun pada nyatanya masih ada masyarakat yang masih juga lolos tidak mendapatkan pelayanan kesehatan.
8
Selain harapan tersebut, peserta jaminan kesehatan daerah adalah setiap orang warga masyarakat dan anggota keluarganya yang telah memenuhi ketentuan keikutsertaan menurut Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008, di mana setiap peserta dapat mengikut sertakan anggota keluarga yang lain diluar jumlah maksimal anggota keluarga yang dapat diikutsertakan menurut SJKD, menjadi tanggungan peserta dengan cara penambahan iuran. Jumlah masyarakat miskin non kuota peserta jamkesda diputuskan dalam Keputusan Bupati / Walikota. Jumlah masyarakat miskin kuota di Jawa Timur sampai dengan saat ini sebanyak 10.710.051 jiwa sebagai peserta program Jamkesmas, dan 1.411.742 jiwa peserta program Jamkesda. Namun demikian, masih banyak masyarakat miskin yang tidak mendapatkan kartu Jamkesda, dan harus mengurus Surat Pernyataan Miskin (SPM) sebagai pengganti sementara kartu Jamkesda. Ketentuan tentang Surat Pernyataan Miskin (SPM) ini selanjutnya diatur dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur No 55 Tahun 2010 tanggal 6 Juli Tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur jawa timur No. 4 tahun 2009 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur No. 4 Tahun 2008 Tentang Sistem Jaminan Kesehatan Daerah di Jawa Timur.
Peningkatan jumlah SPM yang kurang terkontrol dengan baik, dapat mengakibatkan terjadinya pembengkakan klaim jamkesda. Hal ini terlihat dari Press release pelaksanaan program Jamkesda Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur tanggal 30 Agustus 2012, bahwa realisasi klaim biaya pelayanan peserta jamkesda di 5 RS Provinsi dan UPT bulan Januari – Juni
9
2012 sebesar Rp 110.144.674,- (64,74 % dari total anggaran). Peserta jamkesda yang menggunakan kartu untuk berkunjung sebanyak 25.527 peserta (25,91%) dan SPM 71,435 kunjungan (72,5%), lain-lain 1.557 kunjungan (1,59%). Sebanyak 12 Kabupaten/Kota dari 38 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur telah melebihi pagu. Jika SPM tidak dihentikan, maka diprediksikan dana jamkesda akan habis pada bulan September 2012. Adanya peningkatan jumlah SPM dan pembengkakan klaim Jamkesda ini, perlu dilakukan penelitian tentang validitas kepesertaan Jamkesda di Jawa Timur. Pada awal program pelaksanaan Jamkesda pemerintah daerah provinsi maupun pemerintah daerah kabupaten masih memberlakukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) bagi masyarakat miskin dengan menunjukkan bukti KTP atau KSK, kemudian diterbitkan oleh Kepala desa / Kelurahan dan atau camat dengan masa berlaku 3 (tiga) bulan. Hal ini sesuai Peraturan Gubernur Provinsi Jawa Timur No. 4 Tahun 2009. Kemudian SKTM tidak berlaku, diganti dengan Surat Pernyataan Miskin (SPM) yang diterbitkan oleh Bupati / Walikota atau Pejabat Eselon II yang ditunjuk, dengan masa berlaku 3 (tiga) bulan. Oleh karena itu, upaya evaluasi ketepatan sasaran perlu dilakukan penelitian melalui pengambilan sampel masyarakat miskin di beberapa kabupaten / kota. Tujuannnya untuk mengetahui ketepatan sasaran peserta Jamkesda di lapangan. Sebagian besar penerima kartu peserta Jamkesda sudah sesuai dengan kriteria miskin yang ditetapkan oleh BPS. Namun beberapa kabupaten/ kota masih banyak ditemukan ketidak sesuaian antara kondisi penerima kartu miskin dengan
10
kriteria miskin yang sudah ditetapkan. Beberapa peserta memang ditemukan adanya perubahan status miskin dari peserta. Namun beberapa peserta yang lain memang tidak sesuai dengan kriteria miskin yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat dan ditemukan sebagian kecil dipengaruhi oleh keadaan politik di daerah setempat.
Sampai saat ini upaya penetapan kriteria miskin masih menjadi masalah di lapangan, sehingga mengakibatkan jumlah sasaran masyarakat miskin berbeda antara angka BPS dengan hasil pendataan di daerah. Pendataan peserta Jamkesda di beberapa kabupaten / kota telah menggunakan kriteria BPS, namun beberapa daerah kabupaten kota yang lain telah melakukan inovasi dengan menetapkan kriteria BPS ditambah dengan kriteria lainnya sesuai ketentuan daerah masing-masing. Sedangkan di beberapa daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur telah mengembangkan proses pendataan dan penentuan sasaran penduduk miskin by name by adress dengan pendekatan bottom up dari RT, desa/kelurahan, ada mekanisme verifikasi dan penetapan daftar masyarakat miskin dengan menggunakan SK Bupati/Walikota. Sistem ini hampir dilakukan oleh semua kabupaten / kota (RT, PKK, kader kesehatan, dan kepala dusun). Sedangkan kegiatan sosialisasi kepesertaan jamkesda di daerah beberapa kabupaten/kota juga dirasa sudah cukup baik. Banyak kader-kader kesehatan di berbagai kabupaten / kota ikut berperan aktif
11
melakukan sosialisasi kepesertaan Jamkesda melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan2.
Atas dasar beberapa pertimbangan dan pemikiran diatas, maka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui ketepatan sasaran kepesertaan program jaminan kesehatan daerah pada pemerintah Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur.
1.2 Perumusan masalah Penelitian
Berdasarkan pokok-pokok pemikiran dan uraian pada latar belakang diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat disusun sebagai berikut :
2.1 Bagaimanakah gambaran kondisi sosial ekonomi peserta program jaminan kesehatan daerah di Provinsi Jawa Timur Tahun 2012 ? 2.2 Bagaimana gambaran ketepatan sasaran kepesertaan program
jaminan kesehatan daerah di Provinsi Jawa Timur ?
2.3 Bagaimana menentukan tolak ukur kepesertaan program jaminan kesehatan daerah di Provinsi Jawa Timur ?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk memberikan jaminan kesehatan yang menyeluruh, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengembangkan Sistem Jaminan Kesehatan Daerah
2
Disarikan dari Laporan Semester Dewan Wali Amanah BPJKD Provinsi Jawa Timur
12
sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Sistem Jaminan Kesehatan Daerah di Jawa Timur, dan Peraturan Gubernur Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Sistem Jaminan Kesehatan Daerah sebagaimana disempurnakan dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor : 55 tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 4 tahun 2009.
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini dapat disusun sebagai berikut :
3.1 Untuk mengetahui variabel sosial ekonomi kepesertaan program jaminan kesehatan daerah di Provinsi Jawa Timur Tahun 2012.
3.2 Mengetahui ketepatan sasaran kepesertaan program jaminan kesehatan daerah di Provinsi Jawa Timur.
3.3 Menentukan tolak ukur kepesertaan program jaminan kesehatan daerah di Provinsi Jawa Timur
1.4 Manfaat dan Out Put Penelitian
1.4.1 Manfaat Operasional Bagi Pembuat Kebijakan
Program Jaminan Kesehatan Daerah sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2008 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Daerah yang diterapkan saat ini bukanlah tujuan akhir,
13
tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam meningkatkan kesejahteraan kesehatan bagi masyarakat di Jawa Timur. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada Pemerintah agar pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Daerah tetap searah dengan tujuan tersebut, serta tepat sasaran. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipergunakan bagi para pengambil kebijakan agar tujuan program Jaminan Kesehatan Daerah dapat tepat sasaran, mensejahterakan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Jawa Timur.
1.4.2 Manfaat bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Dengan diimplementasikannya kebijakan program Jaminan Kesehatan Daerah di Provinsi Jawa Timur sejak tahun 2008, hingga saat ini telah terjadi pergeseran dalam tanggungjawab pengelolaan fiskal, baik pada pemerintah provinsi maupun pada Kabupaten dan Kota di Jawa Timur untuk alokasi pelayanan publik program Jaminan Kesehatan Daerah.
Dalam penelitian ini dikumpulkan rumusan konsep dan teori, sehingga terjadi proses baik metodologis, analitis serta penarikan kesimpulan berkaitan dengan masalah kepesertaan Jamkesda. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kebijakan sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu meningkatkan validitas kepesertaan program Jamkesda pada Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur.
14
1.4.3 Output yang dihasilkan
Output yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa sebagai berikut : 1.4.3.1 Proposal penelitian tentang kepesertaan program jaminan
kesehatan daerah di Jawa Timur
1.4.3.2 Data hasil penelitian tentang kepesertaan program jaminan kesehatan daerah di Jawa Timur
1.4.3.3 Dokumen laporan penelitian tentang kepesertaan program jaminan kesehatan daerah di Jawa Timur
1.4.3.4 Rekomendasi kebijakan hasil penelitian tentang kepesertaan program jaminan kesehatan daerah di Jawa Timur
BAB. II LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Teoritik
2.1.1 Sejarah dan filosofis sistem jaminan sosial
Sistem jaminan sosial bermula dari Jerman (1883), ketika Bismarck memperkenalkan jaminan kesehatan, jaminan pemutusan hubungan kerja,
15
dan jaminan hari tua bagi para pekerja agar mereka terjamin kesejahteraannya sehingga produktivitas mereka meningkat. Model sistem jaminan sosial seperti inilah yang lalu berkembang ke negara-negara lain. Jepang adalah negara Asia pertama yang memperkenalkan sistem jaminan sosial (1922). Bahkan dapat dikatakan bahwa Jepang "mencontoh" Jerman. Amerika Serikat baru menerapkan sistem jaminan sosial dengan memberlakukan Social Security Act pada tahun 1935, sebagai bagian the new deal-nya Presiden Roosevelt. Karena disadarinya akan sulitnya mewujudkan tingkat kesejahteraan yang minimal bagi seluruh rakyat dalam situasi ekonomi yang tidak menentu. Ketika Amerika Serikat (AS) dilanda depresi ekonomi tahun 1930-an, Presiden Roosevelt justru menjawabnya dengan program jaminan sosial. Demikian juga dilakukan oleh Otto Von Bismarck di Jerman tahun 1880-an sehingga Bismarck dikenal sebagai "bapak" sistem jaminan sosial.3 Tujuan sistem jaminan sosial adalah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, melindungi masyarakat dari risiko ekonomi yang disebabkan hal-hal yang tak terduga (misalnya sakit), atau menurunnya penghasilan karena berhenti bekerja, memasuki masa pensiun, atau tidak dapat bekerja lagi karena mengalami cacat akibat kerja, usia lanjut, terkena pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya. Sifatnya, untuk memenuhi kebutuhan dasar yang layak. Untuk itu diperlukan dukungan sistem pembiayaan memadai.
3
Anton Hardianto, 2007, Naskah Akademis Paket Raperda tentang Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur
16
Saat ini telah dikenal beberapa mekanisme pembiayaan sistem jaminan sosial. Pertama, mekanisme asuransi sosial (social insurance), di mana pembiayaan sistem jaminan sosial berasal dari iuran peserta. Bagi pekerja, iuran ditetapkan berdasar persentase upah, dibayar oleh pekerja dan pemberi kerja. Dengan demikian, ada kegotongroyongan antara peserta yang kaya-miskin, sehat-sakit, tua-muda, khususnya dalam penyelenggaraan jaminan kesehatan. Kedua, bantuan sosial (social assistance), merupakan subsidi pemerintah kepada masyarakat tidak mampu. Pelaksanaan bantuan sosial dapat diintegrasikan dengan penyelenggaraan sistem jaminan sosial apabila memenuhi syarat sebagai pembayaran iuran. Ketiga, pelayanan sosial (social services), merupakan pelayanan bagi kelompok masyarakat khusus, misalnya penderita tunanetra dan kecacatan lainnya. Keempat, tabungan wajib (provident funds), antara lain yang diperkenalkan Singapura, dengan CPF (Central Provident Funds). Seluruh masyarakat, kelompok formal maupun nonformal, diwajibkan menabung untuk menjamin kesejahteraannya. Dengan sifat-sifat sebagaimana dikemukakan di atas, sistem jaminan sosial merupakan cara untuk mencapai kesejahteraan. Dengan demikian, sistem jaminan sosial merupakan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Karena sistem jaminan sosial juga merupakan instrumen mobilisasi dana masyarakat yang besar melalui mekanisme asuransi sosial atau tabungan wajib. Dalam jangka panjang, akan merupakan upaya memupuk tabungan nasional yang besar sehingga berdampak pada pembangunan ekonomi, membuka peluang investasi,
17
kesempatan kerja, kemandirian ekonomi, dan keadilan sosial. Dapat dikatakan, pertumbuhan ekonomi akan mendorong perkembangan sistem jaminan sosial, sementara sistem jaminan sosial akan berdampak pertumbuhan ekonomi lebih baik, lebih berkeadilan sosial. Dalam konteks perlindungan sosial (social protection), sistem jaminan sosial merupakan bentuk formal dari proteksi sosial yang lebih luas, yang meliputi proteksi nonformal, misalnya dalam bentuk proteksi oleh keluarga sendiri (extended family) dan bentuk-bentuk kebijakan lokal yang banyak dikenal di Indonesia, yang merupakan bentuk "nonformal" dari proteksi sosial, yang harus tetap dijaga kelangsungannya, seperti sumbangan kematian, sumbangan bantuan biaya berobat. Adapun jaminan sosial yang lazim diselenggarakan, pertamakali adalah Jaminan Kesehatan yang diselenggarakan berdasarkan asuransi sosial, diberikan sesuai dengan standar dan kebutuhan medik. Namun pada dasarnya program-program jaminan sosial itu ditentukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara. Terbuka kemungkinan jaminan lainnya, misalnya jaminan pendidikan anak atau santunan keluarga (family allowance) sebagaimana di Perancis. Meskipun demikian, pengembangan jenis program jaminan sosial dan perluasan kepesertaannya harus diselenggarakan secara bertahap. Aspek kelayakan program amat penting agar sistem jaminan sosial memperoleh kepercayaan besar sehingga (meski) bersifat wajib, masyarakat dapat mengikuti program sistem jaminan sosial sebagai bagian kebutuhan hidup. Jika sistem jaminan sosial mampu dikembangkan, upaya mewujudkan
18
kesejahteraan rakyat dapat berlangsung melalui pendekatan sistem, tidak fragmented sehingga terjamin kelangsungannya meskipun masih memerlukan perjalanan panjang. Sistem jaminan sosial harus terkait dengan kemampuan kita untuk memobilisasi dana secara berkelanjutan. Dana-dana itu berada ditangan orang-orang yang tidak miskin (walau belum tentu kaya), yang selama ini seolah-olah tidak memiliki fungsi sosial selain (sebagian) untuk membayar pajak dan kemungkinan zakat/infak/shadakoh. Dana mereka itu, dimiliki dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraannya sendiri (dan keluarga). Sistem jaminan sosial merupakan mekanisme untuk memberi fungsi sosial dana-dana dari masyarakat yang mampu, tanpa merugikan masyarakat yang mampu itu sendiri, antara lain melalui mekanisme asuransi sosial. Sistem jaminan sosial dengan demikian juga merupakan instrumen mobilisai dana masyarakat untuk membiayai kesejahteraan masyarakat.
Sistem jaminan sosial juga akan memberi dampak ekonomi karena dana yang terkumpul itu juga memiliki nilai ekonomi yang sangat bermakna melalui program investasinya, ataupun pembukaan lapangan kerja baru. Secara tidak langsung, memberi dampak positif pada peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat, disamping secara khusus meningkatkan kesejahteraan kelompok masyarakat yang relatif kurang mampu, memberi proteksi terhadap risiko ekonomi yang tidak terduga (misalnya karena sakit), melalui mekanisme gotong royong/solidaritas diantara peserta sistem jaminan sosial ini, seluruh perangkat analisis
19
dinamika pembangunan berporos pada ideologi kapitalisme. Kapitalisme yang mengedepankan demokrasi liberal, hak asasi manusia dan ekonomi pasar bebas ini telah merasuki hampir seluruh pendekatan pembangunan. Kapitalisme bahkan diklaim telah menjadi pandangan hidup universal seluruh bangsa manusia. Pendekatan lain seringkali dianggap telah menemui jalan buntu dan akhir sejarahnya (the end of history). Setelah kapitalisme memonopoli hampir seluruh sistem ekonomi, kini semakin banyak pengamat yang menggugat apakah sistem yang didasari persaingan pasar bebas ini mampu menjawab berbagai permasalahan nasional maupun global.
Menurut Rudolf Hickel, setelah kapitalisme mengalahkan semua lawannya, ia akan cenderung menjadi lupa diri karena tiadanya "tangan pengatur keadilan". Pemikir sosialis Jerman Robert Heilbroner kemudian mengajukan strategi bahwa perlawanan terhadap kapitalisme di masa depan seharusnya tidak diarahkan untuk membongkar total sistem ini, melainkan lebih diarahkan agar sistem yang "unggul" ini lebih berwajah manusiawi (compassionate capitalism). Contoh paling mirip dengan gagasan Heilbroner ini adalah diterapkannya sistem negara kesejahteraan (welfare state) khususnya di negara-negara Barat yang dikenal selama ini pendukung loyal kapitalisme. Di Eropa dan AS, konsep negara kesejahteraan diwujudkan dalam bentuk perlindungan negara terhadap masyarakat, terutama kelompok lemah seperti orang miskin, cacat, penganggur agar terhindar dari gilasan mesin kapitalisme. Sumber utama pembiayaan jaminan sosial di banyak negara adalah pajak
20
penghasilan yang dipungut dari rakyat. Karenanya, prinsip utama yang mendorong mengapa negara perlu memberikan jaminan sosial adalah karena semua bentuk perlindungan sosial tersebut termasuk dalam kategori hak-hak dasar warga negara yang wajib dipenuhi oleh negara.
2.1.2 Sistem jaminan sosial Nasional
Upaya untuk mengembangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) telah memperoleh legalitas konstitusi yang mantap, di mana Ketetapan MPR Nomor X/2001 menugaskan presiden untuk mengembangkan sistem jaminan sosial. Perubahan Konstitusi RI telah menentukan Pasal 28H ayat (3) UUD 1945 bahwa "Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat." Tentunya program jaminan sosial tersebut, diantaranya termasuk jaminan pemeliharaan kesehatan prabayar yang bersifat sosial. Dan agar hak warganegara atas jaminan kesehatan sosial tersebut dapat terpenuhi, konstitusi RI pada Pasal 34 ayat (2) UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa "Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.”
Dukungan politik (political will) sebagai syarat penyelenggaraan sistem jaminan social telah terwujud dalam konstitusi sebagai hukum dasar negara. Sistem jaminan sosial sebagaimana termaktub dalam Pasal 34 Ayat (2) UUD 1945, dengan demikian (selayaknya) tidak terlepas dari
prinsip-21
prinsip universal yang telah lama dikenal, dengan berbagai modifikasi, selain tetap memperhatikan tradisi, budaya, dan kondisi lokal sistem jaminan sosial merupakan bagian sistem nasional, baik sistem ekonomi maupun politik bangsa. Dengan prinsip-prinsip jaminan sosial yang telah ditetapkan dalam UU nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, kepesertaan sistem jaminan sosial dikembangkan bertahap, dimulai dari kelompok formal dan/atau yang telah mampu membayar iuran. Bagi masyarakat yang tidak mampu, yang menerima subsidi bantuan iuran, terbuka peluang diselenggarakan sesuai dengan prinsip-prinsip sistem jaminan sosial, bila program bantuan sosial itu telah memenuhi syarat program sistem jaminan sosial.
Ruang lingkup jaminan sosial adalah sangat luas antara lain meliputi adanya jaminan pendidikan, kesehatan, kematian, PHK, kecelakaan kerja, kecelakaan diri dan masih banyak lagi macam ragamnya, yang menjamin kesinambungan ekonomi/penghasilan seseorang meskipun terjadi suatu risiko pada dirinya. Program Jaminan Sosial adalah jaminan yang menjadi bagian dari program jaminan ekonomi suatu bangsa.
Menurut Pasal 2 ayat (4) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1974 didefinisikan bahwa ―jaminan sosial sebagai perwujudan dari pada sekuritas sosial adalah seluruh sistim perlindungan dan pemeliharaan kesejahteraan sosial bagi warga negara yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat guna memelihara taraf kesejahteraan sosial.‖ Adapun pemenuhan jaminan sosial dalam Penjelasan Umum Undang-undang Nomor
22
6 Tahun 1974, bertujuan agar taraf kesejahteraan sosial pada warga masyarakat tidak menurun sampai dibawah suatu taraf yang dipandang layak, tanpa melupakan usaha-usaha untuk secara terus menerus meningkatkan taraf kesejahteraan sosial segenap Warganegara Indonesia. Kemudian dalam Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, mendefinisikan ‖jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak.‖4
2.1.3 Prinsip dalam Jaminan Sosial Nasional
Berdasarkan pasal 28H UUD 45 hasil amendemen tahun 2000 dinyatakan ―bahwa…setiap penduduk berhak atas pelayanan kesehatan”. Pencantuman hak terhadap pelayanan kesehatan tersebut bertujuan untuk menjamin hak-hak kesehatan yang fundamental sesuai dengan deklarasi Hak Asasi Manusia oleh PBB di tahun 1947. Penjaminan hak tersebut diperkuat dengan amendemen UUD 45 tanggal 11 Agustus 2002 pasal 34 ayat 2 yang menyatakan bahwa ―Negara mengembangkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat….‖ Dan ayat 3 menyatakan bahwa “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan….”. Dengan amendemen tiga pasal tersebut, tugas pemerintah harus makin jelas yaitu secara eksplisit menempatkan kesehatan sebagai bagian utama dari pembangunan rakyat yang harus tersedia secara merata bagi seluruh rakyat.
4
Anton Hardianto, 2007, Naskah Akademis Paket Raperda tentang Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur
23
Dengan kata lain, prinsip ekuitas telah ditancapkan dalam UUD 45 sehingga pemerintah pusat dan daerah kini tidak bisa lagi menghindar dari penyediaan anggaran yang lebih besar bagi sektor kesehatan atau mengembangkan sebuah sistem jaminan kasihan bagi seluruh rakyat.
Menurut Thabrany (2008), bahwa sampai saat ini sistem kesehatan di Indonesia masih jauh dari cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Rakyat kecil sangat terbebani dengan sistem kesehatan yang diperdagangkan. Rakyat yang membayar lebih banyak mendapat pelayanan yang lebih banyak atau lebih baik mutunya. Di bulan Februari 2005, Televisi 7 menayangkan program realita dimana seorang bayi anak petugas kebersihan Universitas Indonesia terpaksa meninggal dunia karena tidak punya uang. Bayinya yang menderita radang paru-paru tidak dapat dirawat di RS Pasar Rebo, milik Pemda DKI yang baru saja diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT, yang tentu saja berorientasi dagang, cari untung dari rakyat yang sakit), karena tidak punya uang muka. Pemda DKI juga tidak bisa menggunakan dana jaminan kesehatan bagi penduduk miskin, karena orang tua pasien bukan penduduk DKI. Jika saja ada dana dan program Askeskin sudah berjalan, maka nyawa si bayi hampir pasti dapat diselematkan. Puluhan ribu rakyat meninggal di Indonesia, yang mengaku Pancasilais, hanya kerana keluarga mereka tidak memiliki uang. Di negeri kapitalis sekalipun, hal itu tidak boleh terjadi. Mahlil Rubi (2007)5 dalam disertasinya
5 Rubi, Mahlil. Hubungan Belanja Kesehatan Katastropik Dengan Belanja Protein, Pendidikan, Dan Pemiskinan Di Indonesia, Tahun 2004. Disertasi. FKMUI, Januri, 2007
24
menemukan bahwa 83% rumah tangga mengalami pembayaran katastropik ketika satu anggota rumah tangga membutuhkan rawat inap. Artinya, sebuah rumah tangga akan jatuh miskin (sadikin, sakit sedikit jadi miskin), karena harus berhutang atau menjual harta benda untuk biaya berobat di RS, bahkan di rumah sakit publik. Padahal, di seluruh dunia, prinsip keadilan yang merata (setara) atau equity yang digunakan adalah equity egalitarian, yang pada prinsipnya menjamin bahwa setiap penduduk mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medisnya (you get what you need), dan bukan sesuai kemampuannya membayar (Thabrany, 20056; Wagsatff and Doorslair, 2000)7
Berbagai Penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan pelayanan (inequity, ketidakadilan/ ketidak-setaraan) hanya dapat diperkecil dengan memperbesar porsi pendanaan publik, baik melalui APBN (tax funded) maupun melalui sistem asuransi kesehatan sosial. Sayangnya, seperti disampaikan dimuka, pendanaan kesehatan bersumber pemerintah sangat kecil dan cakupan asuransi kesehatan yang sustainable di Indonesia masih sangat rendah yaitu berkisar pada 9% penduduk tidak mengalami kenaikan berarti sejak tahun tahun 70an (Thabrany, 2002)8. Kini alhamdulillah program Askeskin sudah mulai berjalan yang meningkatkan cakupan jaminan
6
Thabrany, H. Dalam Pendanaan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Masyarakat. Rajagrafindo, Jakarta, 2005
7
Wagsaff A and Doorslair, V.D. Equity in Health Care Financing and Delivery. In Culyer AJ and Newhouse JP (Ed) Handbook of Health Economics, Vol IB. Elsevier Science, BP. Amsterdam, the Netherland, 2000
8 Thabrany, 2002. Current health insurance coverage in Indonesia. Paper presented in the Asia- Pacific Summit on Health Insurance and Managed Care, Jakarta May 22-26, 2002.
25
kesehatan menjadi lebih dari 40% penduduk. Walaupun di tahun 2008 terjadi perubahan program Askeskin menjadi Jamkesnas dan polemik yang dimunculkan mengesankan ada salah urus dalam program Askeskin, faktanya sampai hari ini belum ada bukti salah urus. Hal ini akan segera dapat dibuktikan. Padahal pada tahun 2003 hampir 100% penduduk (kecuali yang tinggal di luar negeri atau didusun sangat terpencil) Muangtai sudah memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah (Tangcharoensathien, dkk, 20059; Thangcharoensathien, 2003)10. Rendahnya pendanaan kesehatan dan cakupan asuransi keseahatan sosial di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ketidak-tahuan dan ketidak-pedulian pemerintah dalam melindungi penduduknya dari proses pemiskinan karena mahalnya biaya kesehatan.
Menurut Widodo (2012), dalam pelaksanaan sistem jaminan sosial berlaku prinsip utama dan Pendukung (tambahan);
a. Prinsip Utama yang terdiri dari:
(1) Prinsip Solidaritas, yaitu suatu prinsip adanya saling membantu diantara dua segmen yang berbeda sehingga terjadi subsidi silang seperti yang kaya membantu yang miskin, yang muda membantu yang tua, serta yang sehat membantu yang sakit. Dengan prinsip tersebut memungkinkan perluasan cakupan terhadap seluruh penduduk.
9
Tangcharoensathien,dkk. Thailand. Dalam Than Sein in Social Health Insurance in Selected Asian Countries. New Delhi, 2005.
10
Thangcharoensathien, V. Social Health Insurance in South-East Asia. Makalah disajikan pada Regional Expert Group Meeting on Social Health Insurance, New Delhi, Maret 2003.
26
(2) Prinsip Efisiensi , prinsip ini memungkinkan pelayanan menjadi terkendali karena pelayanan yang diberikan hanya pelayanan yang dibutuhkan saja. Selain itu terjadi juga urun biaya, sehingga tidak dirasakan terlalu berat bagi yang tidak mampu.
(3) Prinsip Ekuitas yang berarti bahwa, setiap penduduk harus memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan dan kemampuannya.
(4) Prinsip Portabilitas yang menunjukkan bahwa, seseorang tidak boleh kehilangan jaminan / perlindungan.
(5) Prinsip nirlaba, tidak mengambil keuntungan namun bukan berarti harus merugi tetapi azas manfaat bagi seluruh pelaku asuransi kesehatan (Bapel, Peserta, Pemberi pelayanan kesehatan serta Pemerintah karena mempunyai penduduk yang sehat dan produktif). b. Prinsip Tambahan yang terdiri dari:
(1) Prinsip Responsif yaitu responsif terhadap tuntutan peserta sesuai standar kebutuhan hidup sehingga sifatnya lebih dinamis.
(2) Prinsip koordinasi manfaat, dengan adanya prinsip ini diharapkan tidak akan terjadi duplikasi cakupan dan pelayanan, sehingga lebih efisien.
Diharapkan upaya pemeliharaan kesehatan dapat membawa hasil yang diharapkan, bila diberikan penekanan yang sama kepada keseluruhan prinsip dan aspek tersebut di atas secara serentak dan sekaligus. Dengan demikian, harus dikembangkan suatu cara penyelenggaraan pemeliharaan
27
kesehatan yang merangkum keseluruhan prinsip dan aspek tersebut dan diarahkan pada:
1. Manajemen Kepesertaan: Pengelolaan kepesertaan, agar tidak terjadi subsidi yang salah sasaran dan duplikasi pembiayaan. Kejelasan dan legalitas kepesertaan merupakan kunci utama efisiensi penerapan sistem asuransi kesehatan sosial. Dalam Manajemen Kepesertaan harus ada kebijakan yang jelas tentang bantuan sosial dan premi yang harus dibayarkan. Bantuan sosial harus diformat sedemikian rupa sehingga prinsip keadilan itu akan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat;
2. Manajemen Keuangan: Pengendalian biaya, agar pelayanan kesehatan dapat lebih terjangkau oleh setiap orang. Pembayaran PPK oleh Bapel dilakukan dengan pembayaran pra-upaya (prepaid), dalam hal ini dengan kapitasi atau sistim anggaran. Cara pembayaran di muka ini akan memacu para PPK untuk merencanakan pelayanan kesehatan yang paling efektif clan efisien serta berorientasi lebih banyak kepada tindakan promotif clan preventif. Kapitasi dihitung berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar pada masing-masing PPK (tidak atas dasar jumlah kunjungan) dan dibayar di muka, langsung kepada PPK.
3. Manajemen Pelayanan Kesehatan: Peningkatan mutu pelayanan kesehatan agar dapat secara efektif dan efisien dan efisien meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peningkatan mutu juga
28
harus disertai pemeratan upaya kesehatan dengan peranserta masyarakat yang dilaksanakan secara selaras, terpadu dan saling memperkuat, agar setiap orang dapat menikmati hidup sehat;
4. Manajemen Informasi: Adanya penanganan keluhan peserta maupun PPK. Ketidakpuasan dan keluhan para peserta ataupun PPK harus dapat disalurkan lewat suatu mekanisme "Penanganan Keluhan" yang tetap, hingga dapat menjamin stabilitas dalam menerapkan sistem asuransi kesehatan sosial. Manajemen informasi juga akan menjamin tingkat portabilitas yang tinggi. Selain itu adanya pemantauan pemanfaatan pelayanan kesehatan untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan medis peserta clan mengendalikan penggunaan pelayanan yang berlebihan dan pemborosan yang tidak diperlukan.11
Selanjutnya sesuai amanah Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang Sistem jaminan kesehatan daerah di Jawa Timur, Sistem Jaminan Sosial Daerah diselenggarakan berdasarkan pada prinsip:
a. Prinsip kegotong-royongan dalam ketentuan ini adalah prinsip kebersamaan antar peserta dalam menanggung beban biaya jaminan sosial, yang diwujudkan dalam mekanisme gotong royong dari peserta yang mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat; sehingga peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi; dan
11
Widodo J Pujirahardjo, 2012, Materi dipersiapkan untuk Rakor RS se Jawa Timur, tahun 2012. Pemeliharaan dan pelayanan kesehatan dasar pada era universal coverage.
29
peserta yang sehat membantu yang sakit. Melalui prinsip kegotong-royongan ini, jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
b. Prinsip nirlaba dalam ketentuan ini adalah prinsip pengelolaan usaha yang mengutamakan penggunaan hasil pengembangan dana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh peserta. Sehingga penyelenggaraan jaminan sosial tidak diutamakan untuk mencari keuntungan atau tidak dengan sendirinya menjadikan surplus dana jaminan sosial yang dikelola selama periode tertentu sebagai nilai penambah kekayaan dari suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur. Pengelolaan dana amanat jaminan sosial tidak dimaksudkan untuk mencari laba (nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, akan tetapi tujuan utama penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. Dana amanat, hasil pengembangannya, dan surplus anggaran akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. Oleh karena itu, diperlukan bentuk badan hukum yang sejalan dan cocok dengan pelaksanaan prinsip ini.
c. Prinsip keterbukaan dalam ketentuan ini adalah prinsip mempermudah akses informasi yang lengkap, benar, dan jelas bagi setiap peserta.
30
d. Prinsip kehati-hatian dalam ketentuan ini adalah prinsip pengelolaan dana secara cermat, teliti, aman, dan tertib.
e. Prinsip akuntablitas dalam ketentuan ini adalah prinsip pelaksanaan program dan pengelolaan keuangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
f. Prinsip portabilitas dalam ketentuan ini adalah prinsip memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal atau bahkan berpindah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
g. Prinsip kepesertaan wajib dalam ketentuan ini adalah prinsip yang mengharuskan seluruh warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur menjadi peserta program jaminan sosial sehingga dapat terlindungi. Tetapi, meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur serta kelayakan penyelenggaraan program. Tahapan pertama dapat dimulai dari pekerja di sektor formal dan peduduk Daerah Provinsi Jawa Timur yang tergolong miskin dan tidak mampu sebagai penerima bantuan iuran, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara sukarela, sehingga dapat mencakup petani, nelayan dan
31
mereka yang bekerja secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur dapat mencakup seluruh warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur, yang dilaksanakan secara bertahap. Penentuan tahapan luas cakupan kepesertaan wajib ditetapkan oleh Gubernur Daerah Provinsi Jawa Timur berdasarkan usulan dan pertimbangan wali amanah.
h. Prinsip dana amanat dalam ketentuan ini adalah dana yang terkumpul dari iuran dan hasil pengembangannya merupakan dana titipan dari peserta kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta dan digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan peserta jaminan sosial.12
2.1.4 Pilar dan sifat dalam asuransi kesehatan
Tujuan system jaminan social nasional adalah memperluas cakupan penduduk yang memiliki jaminan kesehatan yang memenuhi kebutuhan dasar medis sehingga memungkinkan seseorang hidup sehat dan berproduksi. Dengan demikian, penduduk menjadi produktif dan keadaan ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan negara melalui pajak.
12
Prinsip-prinsip penyelenggaraan jaminan kesehatan daerah dapat dibaca secara lengkap dalam Naskah Akademis Paket Raperda tentang Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur dan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Daerah di Jawa Timur beserta penjelasannya
32
Dengan adanya undang-undang ini, asuransi kesehatan akan dilaksanakan secara wajib dan merupakan asuransi kesehatan sosial. Bagi masyarakat yang mampu masih dapat juga mengikuti asuransi kesehatan lainnya yang sifatnya komersial. Hal yang harus difahami dan dikelola secara baik dalam penerapannya dengan memperhatikan sebagai berikut13 :
2.1.4.1 Tiga pilar penerapan SJSN
Tiga Pilar penerapan SJSN pada dasarnya adalah konsekuensi atas penetapan jenis asuransi, jenis jaminan, serta sasaran. Kesemuanya itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang layak akan kesehatan. Pilar yang pertama adalah bantuan sosial (social assistance) yang ditujukan bagi masyarakat miskin / tidak mampu / berpenghasilan tidak tetap. Diharapkan dengan adanya pendanaan ini, kebutuhan dasar yang layak dapat dipenuhi secara optimal. Pilar yang kedua adalah asuransi kesehatan sosial (social health insurance) yang merupakan asuransi wajib dengan sasaran seluruh penduduk yang mampu dan berpenghasilan. Pilar ini juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang layak. Pilar yang ketiga adalah pelengkap (supplemen) dengan jaminan kesejahteraan yang lebih besar dan lengkap serta bersifat ‖private‖ serta bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan sesuai keinginan dan kemampuan keuangannya.
2.1.4.2 Sifat Asuransi Kesehatan Sosial
13 Widodo J Pujirahardjo, 2012, Materi dipersiapkan untuk Rakor RS se Jawa Timur, tahun 2012. Pemeliharaan dan pelayanan kesehatan dasar pada era universal coverage.
33
Undang-undang SJSN menyebutkan bahwa, asuransi yang akan dijalankan merupakan asuransi sosial yaitu asuransi yang bersifat wajib, dengan iuran premi berdasarkan persentase pendapatan. Bagi masyarakat miskin, preminya dibayar oleh pemerintah yang merupakan perwujudan Pembukaan UUD 1945 yaitu masyarakat miskin dibiayai oleh Negara.
Secara skematis, sistem asuransi kesehatan sosial dapat digambarkan sebagai berikut 14:
Gambar 1. Model Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin di Provinsi Jawa Timur
Masyarakat Lembaga Pengawas Pemerintah Lembaga Asuransi/Bapel Pemberi Pelayanan Kesehatan MAMPU TIDAK MAMPU Managed Care Kebutuhan Subsidi Kapitasi Premi Akuntabilitas
Badan penyelenggara (Bapel) harus perusahaan yang not for profit, tetapi bukan berarti tidak boleh mengambil keuntungan sama sekali, karena keuntungan yang diperoleh dapat digunakan untuk pengembangan Bapel serta peningkatan mutu layanan asuransi kesehatan. Bagan di bawah ini menunjukkan perbandingan antar berbagai sistem asuransi kesehatan.
14 Widodo J Pujirahardjo, 2012, Materi dipersiapkan untuk Rakor RS se Jawa Timur, tahun 2012. Pemeliharaan dan pelayanan kesehatan dasar pada era universal coverage.
34
Tabel 2.1
Perbandingan Berbagai Model Asuransi Kesehatan
Aspek Asuransi Kesehatan Sosial (Social Health Insurance) Asuransi Kesehatan Komersial (Commercial/ Private Health Insurance) Asuransi Kesehatan Komersial dengan regulasi (Regulated Health Insurance)
1. Kepesertaan wajib /pokok
Sukarela/ Perorangan/ kelompok
Sukarela/ kelompok 2. Perhitungan premi Group rating/
community rating
Rating by class,
sex, age dll Community rating
3. Santunan / Benefit Menyeluruh/
komprehensif Sesuai kontrak Sesuai kontrak 4. Premi/ iuran Persentasi gaji Angka absolute Angka absolut
5. Kegotong-royongan (solidaritas sosial)
- Kaya - miskin - Sehat - sakit - Tua - muda - High risk - low risk
Sehat - sakit
- Sehat – sakit - High risk - low risk - Tua - muda 6. Kenaikan biaya + +++ ++ 7. Peran pemerintah +++ + ++ 8. Pengelolaan Not for profit / nirlaba For profit / laba For profit /laba
Sumber : Widodo J Pujirahardjo, 2012
Prinsip dasar asuransi kesehatan sosial diambil dari prinsip solidaritas dari German yaitu yang kaya membantu yang miskin; yang muda membantu yang tua; yang sehat membantu yang sakit. Dalam hal ini akan terjadi azas keadilan serta subsidi silang dalam pendanaan kesehatan karena masyarakat dilayani dengan pelayanan kesehatan yang sama. Dengan demikian, kesejahteraan seluruh masyarakat dapat tercapai secara optimal.
35
2.1.5.1 Pengertian peserta jaminan kesehatan daerah di Jawa Timur
Peserta adalah semua warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur yang telah mendaftarkan diri atau didaftarkan dan telah membayar iuran sesuai dengan ketentuan masing-masing program jaminan sosial yang diikutinya. Yang dimaksud Warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur adalah setiap orang, baik Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) yang masuk secara sah serta bertempat tinggal di wilayah Daerah Provinsi Jawa Timur dan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan Gubernur. Untuk program jangka pendek, WNA yang bekerja di Indonesia wajib menjadi peserta program jaminan pelayanan. Sedangkan untuk program jangka panjang, hanya WNA yang tak menjadi peserta jaminan sosial yang sama di negara asalnya dan ada perjanjian timbal balik dengan negara tersebut yang diwajibkan menjadi peserta15.
2.1.5.2 Sifat kepesertaan
Pada prinsipnya setiap warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur wajib menjadi peserta, akan tetapi upaya penegakan hukum atas sifat kepesertaan yang wajib tersebut diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan kesiapan teknis, diantaranya dalam hal kesiapan sistem informasi kependudukan, pengumpulan iuran dan kelayakan program. Pengkajian dan
15
Anton Hardianto, 2007, Naskah Akademis Paket Raperda tentang Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur
36
perumusan tahapan kepesertaan dan jenis program jaminan sosial yang wajib diikuti warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur dilakukan oleh dewan wali amanah16.
2.1.5.3 Kewajiban peserta
Setiap peserta wajib membayar iuran secara teratur sesuai skema kepesertaan program jaminan sosial yang diikutinya, sebagai berikut :
Setiap kepala keluarga dan anggota keluarganya wajib mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya sesuai dengan ketentuan masing-masing program jaminan sosial yang wajib diikutinya menurut skema kepesertaan program diatas. Meskipun kepala keluarga dan anggota keluarganya telah mendaftarkan dirinya atau didaftarkan oleh pemberi kerja menjadi peserta program jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh selain Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur dan ruang lingkup manfaatnya mencakup program jaminan kesehatan dasar yang diatur dalam sistem Jaminan sosial Daerah Provinsi Jawa Timur.
Tabel 2.2
Jenis kelompok peserta Jamkesda
No. Jenis Kelompok Peserta Jenis Program Jaminan
Pembayar Iuran Dibayar Kes Pdk Plt Km KK Kd Ht Pen
16
Kepesertaan Jamkesda di Jawa Timur diselenggarakan secara bertahap, dimana pada tahap pertama diprioritaskan untuk peserta Maskin penerima bantuan iuran (PBI), dan tahap kepesertaan kedua adalah peserta Jamkesda mandiri (Jamkesman) yang bersifat non PBI.
37
No. Jenis Kelompok Peserta Jenis Program Jaminan
1. Pempus 1. PBI 2. Pemprov 2. PBI 3. Kepala Keluarga 3. KK 4. Isteri 5. Anak 6. Lain – lain 4. PK Formal 7. P. tetap 8. P. tidak tetap 9. P.luar jam kerja 10. P. anak
5. PK Informal 11. P.tetap 12. P. tidak tetap 13. P.luar jam kerja 14. P. anak
6. Wiraswasta 15. WS
7. LPTK 16. C.Pramuwisma 8. PPTKI 17. C. TKI
18. TKI
Sumber : Anton Hardianto, 2007
Mereka tetap dapat memanfaatkan program jaminan kesehatan dasar yang diatur dalam sistem Jaminan sosial Daerah Provinsi Jawa Timur tanpa membayar iuran lagi. Sedangkan bagi kepala keluarga dan anggota keluarganya yang belum terasuransikan dalam program jaminan kesehatan manapun, tetap berkewajiban membayar iuran sesuai ketentuan yang diatur dalam sistem Jaminan sosial Daerah Provinsi Jawa Timur.
Untuk pemberi kerja sektor formal dan sektor informal wajib mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta, memotong iuran dari upah pekerja, menambahkan iuran yang menjadi tanggungjawabnya dan
38
membayarkan ke rekening BPJSD setiap awal bulan sesuai dengan ketentuan masing-masing program jaminan sosial menurut skema kepesertaan program diatas. Berkaitan dengan penggolongan pemberi kerja pada sektor formal atau informal ditetapkan berdasarkan kriteria yang dibuat oleh wali amanah. Bagi pekerja yang bekerja sebagai wiraswasta, baik secara berkelompok maupun perorangan, wajib mendaftarkan diri menjadi peserta program jaminan sosial dan membayar iurannya secara individual maupun berkelompok. Untuk penyedia fasilitas tempat bekerja para wiraswasta berkewajiban mendaftarkan pengguna fasilitasnya menjadi peserta program jaminan sosial menurut skema kepesertaan program. Sedangkan LPTK/PPTKI wajib mendaftarkan calon pramuwisma, calon TKI dan TKI sebagai peserta sesuai skema kepesertaan program yang wajib diikutinya.
Sedangkan warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur yang bekerja di sektor informal atau wiraswasta yang tidak bekerja lagi dan tergolong tidak mampu, tetap dapat menjadi peserta dengan iuran yang ditanggung, akan tetapi sebagian atau seluruh iurannya (tergantung tingkat kemiskinannya) dibayarkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur sesuai peraturan yang berlaku.
2.1.5.4 Hak peserta
Setiap peserta berhak memperoleh manfaat dan informasi sesuai ketentuan program jaminan sosial yang diikutinya, yang diantaranya meliputi
39
ketentuan persyaratan dan tata cara memperoleh manfaat yang akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaan dari Peraturan Daerah tentang sistem jaminan sosial Daerah Provinsi Jawa Timur. Yang dimaksudkan dengan persyaratan adalah kejadian yang menimbulkan hak seperti kejadian sakit merupakan syarat peserta berhak mendapatkan jaminan kesehatan, sedangkan memasuki usia pensiun merupakan syarat untuk memperoleh hak pensiun17.
2.1.5.5 Pendaftaran peserta
- Pendaftaran peserta dari kelompok keluarga dilakukan oleh kepala keluarga sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang tercantum dalam kartu keluarga. Apabila suatu keluarga atau beberapa anggotanya telah menjadi peserta program asuransi kesehatan, maka kepala keluarga harus membuktikannya dengan melampirkan polis asuransi, kartu peserta atau bukti kepesertaan yang lain.
- Pendaftaran peserta oleh pemberi kerja di sektor formal dilakukan sesuai dengan jumlah pimpinan dan pekerja yang dimilikinya, paling lama 30 hari kerja sejak terjadinya hubungan kerja. Dalam pendaftaran peserta tersebut, pemberi kerja wajib melampirkan data pribadi pekerja secara lengkap beserta daftar anggota keluarga yang akan didaftarkan menjadi peserta.
17 Baca secara lengkap dalam naskah akademik penyusunan Paket Raperda tentang Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur
40
- Pendaftaran peserta dari pemberi kerja sektor informal dan kelompok wiraswasta yang bertempat usaha dalam satu kawasan yang disediakan oleh penyedia tempat usaha, dilakukan secara berkelompok oleh penyedia tempat usaha. Selain itu, pendaftaran peserta bagi pemberi kerja sektor informal dan kelompok wiraswasta yang tergabung dalam suatu organisasi usaha, dapat dilakukan oleh organisasi usaha seperti koperasi atau asosiasi usaha, sebagaimana pemberi kerja wajib mendaftarkan pekerjanya. Sedangkan bagi Pendaftaran peserta bagi pemberi kerja sektor informal dan kelompok wiraswasta yang tidak tergabung dalam suatu organisasi usaha, mendaftarkan diri mereka dan anggota keluarganya dilakukan secara perorangan. Untuk itu, wali amanah akan menetapkan kriteria atau persyaratan pekerja sektor informal yang dapat mendaftarkan diri pada suatu tahap tertentu. Persyaratan pendaftaran ini diperlukan untuk menjamin bahwa pekerja dapat membayar iuran secara teratur.
- Pendaftaran peserta bagi calon pramuwisma, calon TKI dan TKI dilakukan oleh LPTK/PPTKI sesuai skema kepesertaan program yang wajib diikutinya.
- Pendaftaran oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur untuk kepesertaan program jaminan sosial dari kelompok penerima bantuan iuran, seperti warga masyarakat di sektor informal yang tergolong warga masyarakat miskin yang berhak mendapat bantuan atau subsidi iuran menjadi peserta melalui pendaftaran oleh instansi pemerintah daerah
41
yang bertanggungjawab untuk itu, sesuai dengan peraturan pelaksanaan sistem jaminan sosial Daerah Provinsi Jawa Timur.18
2.1.5.6 Tanda kepesertaan
Setiap peserta yang telah didaftarkan atau mendaftarkan diri, termasuk anggota keluarganya sesuai persyaratan yang telah ditentukan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur akan memberikan Kartu Peserta yang merupakan kartu identitas yang diperlukan untuk mendapatkan manfaat program jaminan sosial. Dalam Kartu Peserta tercantum nomor identitas peserta yang dibuat berdasarkan nomor identitas kependudukan dan nomor kartu keluarga.
2.1.5.7 Perluasan kepesertaan
Kepesertaan mencakup seluruh warga masyarakat Daerah Provinsi Jawa Timur dan dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan penyelenggaraan dan kelayakan program berdasarkan penelitian dan kajian dari wali amanah. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur, Pemberi Kerja, Pekerja, Pemerintah dan Masyarakat perlu bersama-sama mengupayakan perluasan kepesertaan dimaksud.
Sasaran harus di ‗manage‘ secara baik sehingga tidak terjadi salah sasaran dan duplikasi anggaran serta akan lebih efisien. Dengan demikian,
18
Baca secara lengkap dalam naskah akademik penyusunan Paket Raperda tentang Jaminan Sosial Daerah Provinsi Jawa Timur
42
kita bagi masyarakat menjadi masyarakat miskin yang harus ditanggung pemerintah, masyarakat pekerja ‖informal‖serta masyarakat yang mampu mendanai sendiri kesehatannya19.
2.1.6 Masyarakat miskin sebagai sasaran Penerima Bantuan Iuran (PBI)
2.1.6.1 Definisi Kemiskinan
Pengertian kemiskinan sangatlah komplek. Kemiskinan terkait dengan masalah kekurangan pangan dan gizi, keterbelakangan pendidikan, kriminalisme, pengangguran, prostitusi. dan masalah‐masalah lain yang bersumber dari rendahnya tingkat pendapatan perkapita penduduk. Kemiskinan merupakan masalah yang amat kompleks dan tidak sederhana penanganannya.
Kemiskinan menurut penyebabnya terbagi menjadi 2 macam. Pertama adalah kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh faktor‐faktor adat atau budaya suatu daerah tertentu yang membelenggu seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu sehingga membuatnya tetap melekat dengan kemiskinan. Kemiskinan seperti ini bisa dihilangkan atau sedikitnya bisa dikurangi dengan mengabaikan faktor‐faktor yang menghalanginya untuk melakukan perubahan ke arah tingkat kehidupan yang lebih baik. Kedua adalah kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang terjadi sebagai akibat ketidakberdayaan seseorang atau sekelompok
19 Widodo J Pujirahardjo, 2012, Materi dipersiapkan untuk Rakor RS se Jawa Timur, tahun 2012. Pemeliharaan dan pelayanan kesehatan dasar pada era universal coverage.
43
masyarakat tertentu terhadap sistem atau tatanan sosial yang tidak adil, karenanya mereka berada pada posisi tawar yang sangat lemah dan tidak memiliki akses untuk mengembangkan dan membebaskan diri mereka sendiri dari perangkap kemiskinan atau dengan perkataan lain ‖seseorang atau sekelompok masyarakat menjadi miskin karena mereka miskin‖ (Analisis dan Penghitungan Tingkat kemiskinan, BPS).
Kemiskinan secara konseptuan dapat dibedakan menjadi dua, relatif (Relative Poverty) dan kemiskinan absolut (Absolute Poverty). Kemiskinan relatif merupakan kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan. Standar minimum disusun berdasarkan kondisi hidup suatu negara pada waktu tertentu dan perhatian terfokus pada golongan penduduk ―termiskin‖, misalnya 20 persen atau 40 persen lapisan terendah dari total penduduk yang telah diurutkan menurut pendapatan/pengeluaran. Kelompok ini merupakan penduduk relatif miskin. Dengan demikian, ukuran kemiskinan relatif sangat tergantung pada distribusi pendapatan/pengeluaran penduduk sehingga dengan menggunakan definisi ini berarti ―orang miskin selalu hadir bersama kita‖. Selanjutnya, kemiskinan absolut ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan pokok minimum seperti pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja. Kebutuhan pokok minimum diterjemahkan sebagai ukuran finansial dalam bentuk uang. Nilai kebutuhan minimum kebutuhan dasar
44
tersebut dikenal dengan istilah garis kemiskinan. Penduduk yang pendapatannya di bawah garis kemiskinan digolongkan sebagai penduduk miskin. Garis kemiskinan absolut mampu membandingkan kemiskinan secara umum. Garis kemiskinan absolut menjadi penting saat akan menilai efek dari kebijakan anti kemiskinan antarwaktu, atau memperkirakan dampak dari suatu proyek terhadap kemiskinan (misalnya, pemberian kredit skala kecil).
Masalah kemiskinan menjadi perhatian utama di berbagai negara. Salah satu aspek penting untuk mendukung strategi penanggulangan kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka. Saat ini, berbagai sumber menginformasikan tentang angka kemiskinan di Indonesia dengan angka yang bervariasi, hal ini disebabkan oleh perbedaan dari definisi garis kemiskinan yang dipakai sebagai garis kemiskinan (Muljono, 2006). Definisi miskin memiliki beberapa versi tergantung pada instansi yang menjadi rujukan.20
2.1.6.2 Konsep Kemiskinan Menurut BKKBN
20Disarikan dari laporan Direktorat Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Bappenas , 2010, Evaluasi Pelayanan KB Bagi Masyarakat Miskin (Keluarga Prasejahtera/KPS dan Keluarga Sejahtera‐I/KS‐I)
45
BKKBN mendefinisikan miskin berdasarkan konsep/pendekatan kesejahteraan keluarga, yaitu dengan membagi kriteria keluarga ke dalam lima tahapan, yaitu keluarga prasejahtera (KPS), keluarga sejahtera I (KS‐I), keluarga sejahtera II (KS‐II), keluarga sejahtera III (KS‐III), dan keluarga sejahtera III plus (KS‐III Plus). Aspek keluarga sejahtera dikumpulkan dengan menggunakan 21 indikator sesuai dengan pemikiran para pakar sosiologi dalam membangun keluarga sejahtera dengan mengetahui faktor‐faktor dominan yang menjadi kebutuhan setiap keluarga. Faktor‐faktor dominan tersebut terdiri dari (1) pemenuhan kebutuhan dasar; (2) pemenuhan kebutuhan psikologi; (3) kebutuhan pengembangan; dan (4) kebutuhan aktualisasi diri dalam berkontribusi bagi masyarakat di lingkungannya. Dalam hal ini, kelompok yang dikategorikan penduduk miskin oleh BKKBN adalah KPS) dan KS‐I. Keluarga prasejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan pokok (pangan), sandang, papan, kesehatan, dan pengajaran agama. Mereka yang dikategorikan sebagai KPS adalah keluarga yang tidak memenuhi salah satu dari 6 (enam) kriteria KS‐I. Selanjutnya, KS‐I adalah keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan yang sangat mendasar, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu satu atau lebih indikator pada tahapan KS‐II.
Menurut BPS (2008), pendekatan BKKBN ini dianggap masih kurang realistis karena konsep dan KS‐I sifatnya normatif dan lebih sesuai dengan keluarga kecil/inti. Selain itu, ke‐5 indikator tersebut masih bersifat sentralistik
46
dan seragam, yang belum tentu relevan dengan keadaan dan budaya lokal. Untuk melaksanakan program dan kegiatannya, BKKBN menggunakan data‐data yang bersumber dari Survei Pendataan Keluarga. Survei yang telah dilaksanakan BKKBN sejak tahun 1994 tersebut bertujuan untuk menghasilkan data dan informasi secara mikro meliputi aspek demografi, keluarga berencana, keluarga sejahtera, dan individu anggota keluarga sejak tahun 2001.
48
Oleh karena itu Pendataan Keluarga menjadi sarana operasional bagi para petugas dan pengelola untuk mempertajam segmentasi sasaran program (Profil Pendataan Keluarga 2009, BKKBN).
49
Pendataan Keluarga dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia dengan cara langsung mendatangi keluarga‐keluarga melalui kunjungan dari rumah ke rumah; dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah (pemda dan BKKBN) secara serentak pada waktu yang telah ditentukan (bulan Juli ‐ September setiap tahunnya). Alur pendataan keluarga digambarkan pada Gambar 2 di bawah ini.
2.1.6.3 Pendekatan Kemiskinan Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)
Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan konsep kemampuan pemenuhan kebutuhan dasar (basic need approach) untuk mengukur kemiskinan. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan kata lain, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar. Badan Pusat Statistik pertama kali melakukan penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin pada tahun 1984. Pada saat itu, penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin mencakup periode 1976‐1981 dengan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) modul konsumsi. Sejak itu, setiap tiga tahun sekali BPS secara rutin mengeluarkan data jumlah dan persentase penduduk miskin yang disajikan menurut daerah perkotaan dan pedesaan. Selanjutnya, mulai tahun 2003, BPS secara rutin mengeluarkan data jumlah dan persentase penduduk