• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN BANJAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN BANJAR"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN

KABUPATEN BANJAR

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatNyalah, Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu.

Penyusunan Dokumen ini berpedoman pada Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, PERMENPAN Nomor PER/09/M.PAN/5/2007 dan PERMENPAN Nomor PER/20/M.PAN/11/2008 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama Instansi Pemerintah dimana diwajibkan menetapkan Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicator).

Dokumen Indikator Kinerja Utama ini merupakan suatu dokumen ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis organisasi yang telah ditetapkan pada Tahun 2020 dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan di Pemerintah Kabupaten Banjar berdasarkan pada sumber daya yang dimiliki oleh instansi.

Kami menyadari bahwa Dokumen Indikator Kinerja Utama Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar ini masih jauh dari sempurna, untuk itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan, demi perbaikan dan penyempurnaannya. Dan semoga Dokumen IKU ini dapat bermanfaat untuk pengembangan dan kemajuan Peternajan dan Perkebunan di Kabupaten Banjar.

Martapura, Januari 2020 Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan

Kabupaten Banjar,

Ir. H. Dondit Bekti A.

Pembina Utama Muda

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kinerja (performance) menjadi isu dunia saat ini. Hal tersebut terjadi sebagai konsekuensi tuntutan masyarakat terhadap kebutuhan akan pelayanan prima atau pelayanan yang bermutu tinggi. Mutu tidak terpisahkan dari standar, karena kinerja diukur berdasarkan standar. Melalui kinerja Aparatur, diharapkan dapat menunjukkan kontribusi profesionalnya secara nyata dalam meningkatkan mutu pelayanan publik secara umum pada organisasi tempatnya bekerja, dan dampak akhir bermuara pada kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Indikator Kinerja Utama (IKU) atau Key performance indicators (KPI) dapat diartikan sebagai ukuran atau indikator yang akan memberikan informasi sejauh mana kita telah berhasil mewujudkan tujuan dan sasaran strategis yang telah tetapkan oleh organisasi. Penyusunan Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar dimaksudkan untuk memberikan arah, komitmen dan pedoman pelaksanaan program/kegiatan tahunan sesuai prioritas secara terarah dan terpadu, sekaligus sebagai komitmen untuk melaksanakannya.

Indikator Kinerja Utama (IKU) dipergunakan sebagai dasar untuk penyusunan : a. Perencanaan jangka menengah SKPD;

b. Perencanaan tahunan; c. Dokumen Perjanjian Kinerja; d. Pelaporan akuntabilitas kinerja; e. Evaluasi kinerja instansi pemerintah;

f. Pemantauan dan pengendalian kinerja pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan. Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banjar Nomor 13 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Banjar, dengan struktur organisasinya terdiri atas Sekretariat, dan tiga bidang, yaitu: Bidang Peternakan, Bidang Perkebunan, Bidang Sumber Daya dan Penyuluhan.

(4)

Dalam Peraturan Bupati No. 75 tahun 2016 tentang Kedudukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi serta tata kerja Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar, dijabarkan tugas pokok dan fungsi Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar yang harus dipedomani dan dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:

a. Tugas, dan Fungsi

Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banjar Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Banjar Tahun 2016 Nomor 13, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Banjar Nomor 12), maka perlu menyusun dan merumuskan Uraian Tugas Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Banjar. Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar mempunyai tugas melaksanakan

urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi daerah serta tugas pembantuan di bidang peternakan dan perkebunan. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut Dinas Peternakan dan Perkebunan mempunyai fungsi :

1. Perumusan kebijaksanaan teknis di bidang peternakan dan perkebunan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan Bupati;

2. Pembinaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan bidang peternakan dan Kesehatan Hewan

3. Pembinaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan bidang Perkebunan;

4. Pemberian pelayanan umum di bidang peternakan dan perkebunan;

5. Penyelenggaraan urusan kesekretariatan;

6. Pembinaan terhadap Unit Pelaksana Teknis;

(5)

1.2. Landasan Hukum

1. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ;

2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara ;

3. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-undang nomor 12 Tahun 2008 ; 4. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah ;

5. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah ; 6. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan

Penerapan Standar Pelayanan Minimal ;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 20087 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah ;

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal ;

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007 ;

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata cara penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah ;

11. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor : 050/2020/S tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan RPJP Daerah dan RPJM Daerah dan Rencana Strategis ; 12. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2016 tentang RPJMD Kabupaten Banjar Tahun

2016 – 2021;

13. Peraturan Daerah Kabupaten Banjar Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Banjar Tahun 2016 Nomor 13, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Banjar Nomor 12);

(6)

14. Peraturan Bupati Banjar Nomor 75 Tahun 2016 tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi serta tata kerja Dinas Peternakan dan Perkebunan.

1.3. Maksud dan Tujuan

Penyusunan Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar Tahun 2020 ditujukan untuk memperoleh informasi kinerja yang penting, akurat, lengkap, tepat waktu dan konsisten. Selain itu juga untuk memperoleh/mengetahui ukuran keberhasilan dari pencapaian suatu tujuan dan sasaran strategis organisasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka perbaikan kinerja dan peningkatan akuntabilitas kinerja Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar dengan mengacu pada prinsip-prinsip keseimbangan biaya dan manfaat, efisiensi dan efektivitas.

1.4. Sistematika Penulisan

Bab I : PENDAHULUAN

Pada bagian ini dijelaskan mengenai latar belakang penyusunan IKU Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar, landasan hukum yang digunakan untuk penyusunannya, maksud dan tujuan dari penyusunan dokumen ini dan sistematika penulisan dokumen IKU ini.

Bab II : INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

Pada bagian ini dijelaskan mengenai tujuan dan sasaran strategis yang ingin dicapai oleh Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar, serta ukuran atau indikator yang digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan dan sasaran strategis tersebut.

Bab III : PENUTUP

Pada bab ini disampaikan catatan-catan penting yang perlu mendapatkan perhatian, kaidah-kaidah pelaksanaan, dan rencana tindak lanjut

(7)

BAB II

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

2.1. Sasaran Strategis

Dalam rangka mewujudkan visi Kabupaten Banjar yaitu “TERWUJUDNYA MASYARAKAT

KABUPATEN BANJAR YANG SEJAHTERA DAN” Penjelasan Visi :

 Sejahtera adalah kesejahteraan rakyat yang mengandung keterpaduan dimensi material dan spiritual dalam wujud suasana kehidupan yang aman dan damai

 Barokah adalah sesuatu yang dirasakan mempunyai nilai tambah, memberi manfaat dan kemaslahatan bagi orang banyak

Dan dengan misi ke-3, yaitu: ” Meningkatkan pengelolaan sumber daya alam berbasis

pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan komoditas unggulan daerah lainnya dengan pendekatan Agribisnis dan industri berwawasan lingkungan secara berkelanjutan”, maka Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar telah

menetapkan tujuan dan sasaran strategis yang akan dicapai. Tujuan yang telah ditetapkan, dijabarkan lebih spesifik dalam bentuk sasaran, sehingga sasaran harus selaras dengan tujuan. Sasaran menggambarkan hal-hal yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu melalui tindakan/kegiatan yang bersifat spesifik, rinci, dapat diukur dan dapat dicapai (realistis), sinerjik dan berkelanjutan (sesuai dengan keadaan). Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar sesuai dengan isu-isu strategis yang terjadi saat ini, sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang diembannya, maka disusunlah 2 (dua) sasaran strategis, sebagai berikut:

1. Meningkatnya kontribusi sub sektor perkebunan terhadap pertumbuhan ekonomi

Keberhasilan sasaran diukur melalui indikator Pertumbuhan PDRB sub sektor perkebunan. Sasaran produksi dan produktifitas belum bisa dihitung karena perhitungan per semester yang dilakukan oleh petugas statistik perkebunan.

(8)

Untuk mendukung tercapainya sasaran tersebut Dinas peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar telah melaksanakan berbagai program dan Kegiatan baik yang bersumber dari APBD maunpun dari APBN yang diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktifitas tanaman perkebunan.

Program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada APBD tahun 2020 yaitu :

1. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani, yang dimplementasikan melalui kegiatan :

- Perwilayahan dan Pengembangan Potensi Perkebunan

2. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan, yang diimplemetasikan melalui kegiatan :

- Fasilitasi Fasilitasi Kerjasama Regional/Nasional/Internasional Penyediaan Hasil Produksi Pertanian Perkebunan Komplementer

- Penanganan pasca panen, Pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan

3. Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan, yang diimplementasikan melalui kegiatan :

- Pengembangan Tanaman Perkebunan - Perlindungan Tanaman Perkebunan

2. Meningkatnya kontribusi sub sektor perternakan terhadap pertumbuhan ekonomi

Keberhasilan sasaran diukur melalui indikator Pertumbuhan PDRB sub sektor peternakan. Pertumbuhan PDRB dari subsektor peternakan belum bisa ditentukan per triwulan karena dihitung secara kumulatif pada akhir tahun, sehingga untuk kinerja Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar mengacu pada kinerja sasaran teknis berupa angka populasi dan angka produksi serta capaian program dan kegiatan. Dinas peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar melalui berbagai Program dan Kegiatan yang bersumber dana baik dari APBD maupun dari APBN berupaya maksimal Untuk mencapai target sasaran produksi dan produktifitas tanaman perkebunan tersebut.

(9)

Program dan kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu :

1. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak : a. Pengembalian dan Pemberantasan Penyakit Ternak b. Kesehatan Masyarakat Veteriner

2. Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan : a. Pengembangan dan Perbibitan Ternak

b. Pengembangan Pakan Ternak

3. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan a. Pengembangan dan Pengelolaan Rumah Potong Hewan b. Pengembangan Agribsinis Peternakan.

4. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani, yang dimplementasikan melalui kegiatan :

a. Perwilayahan dan Pengembangan Potensi Peternakan

2.2. Indikator Kinerja Utama

Indikator Kinerja Utama adalah suatu ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu kegiatan dan sasaran yang telah ditetapkan. Indikator Kinerja Utama dapat memberikan penjelasan, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, mengenai apa yang akan diukur untuk menentukan apakah tujuan dan sasaran dari suatu program dan kegiatan sudah tercapai. Indikator Kinerja juga menetapkan bagaimana kinerja aka diukur dengan suatu skala atau dimensi tanpa menyinggung tingkat pencapaian khusus. Penetapan Indikator Kinerja Utama suatu unit kerja atau instansi pemerintah haruslah selaras dengan indikator pemerintah atasannya, sehingga perencanaan pemerintah atasan dapat didukung oleh instansi pemerintah atau unit kerja di bawahnya.

Indikator Kinerja Utama dalam Dokumen Indikator Kinerja Utama Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar menggunakan indikator kinerja pada tingkat outcome atau output penting dan menggambarkan ukuran keberhasilan instansi pemerintah secara keseluruhan organisasi.

(10)

Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar telah menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagaimana yang tercantum didalam Perjanjian Kinerja Tahun 2020 yang berisi target capaian kinerja beserta anggaran yang diperlukan untuk pencapaiannya. Adapun tahapan didalam melakukan pengukuran kinerja adalah penetapan kinerja, pengumpulan data kinerja dan cara pengukuran kinerja. Untuk penetapan kinerja telah dimuat Perencanaan Kinerja.

Pengukuran kinerja dilakukan dengan cara menggunaan indikator kinerja kegiatan. Pengukuran dilakukan dengan memanfaatkan sumber data kinerja yang diperoleh dari data internal instansi dan data eksternal yang berasal dari luar instansi baik berupa data primer maupun data sekunder.

Pengukuran kinerja mencakup kinerja kegiatan yang merupakan tingkat capaian target dari masing-masing indikator (masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak) dan kinerja

sasaran yakni tingkat pencapaian sasaran dengan indikator yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja.

Berdasarkan sasaran strategis yang telah dijelaskan di atas, maka indikator kinerja utama Dinas Peternakan dan Perkebukan ditetapkan sebagai berikut:

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN BANJAR TAHUN 2020

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

1 Meningkatnya

kontribusi sub sektor peternakan terhadap pertumbuhan ekonomi Pertumbuhan PDRB sub sektor peternakan 5,41 % 2 Meningkatnya kontribusi sub sektor perkebunan terhadap pertumbuhan ekonomi Pertumbuhan PDRB sub sektor perkebunan 2,43 %

(11)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu negara yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non-residen. Unit institusi yang mencakup penduduk/rumah tangga, perusahaan, pemerintah lembaga non-profit, dikatakan sebagai residen bila mempunyai/melakukan kegiatan ekonomi di suatu wilayah. melakukan kegiatan produksi di wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (minimal satu tahun).

Penyusunan PDRB dapat dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan yaitu pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan. Pada publikasi ini PDRB yang dihitung adalah melalui pendekatan produksi.

1. Menurut Pendekatan Produksi

PDRB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini dikelompokkan menjadi 17 kategori lapangan usaha.

2. Menurut Pendekatan Pendapatan

PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini, PDRB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).

3. Menurut Pendekatan Pengeluaran

PDRB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari : o pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba o pengeluaran konsumsi pemerintah

(12)

o perubahan inventori, dan

o ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor).

Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan angka yang sama. Jadi, jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. PDRB yang dihasilkan dengan cara ini disebut sebagai PDRB atas dasar harga pasar, karena di dalamnya sudah dicakup pajak tak langsung neto.

PDRB dapat disajikan berdasarkan penghitungan atas dasar harga berlaku (ADHB) dan atas dasar harga konstan (ADHK). PDRB atas dasar harga berlaku atau dikenal dengan PDRB nominal disusun berdasarkan harga yang berlaku pada periode penghitungan tahun berjalan yang digunakan untuk melihat struktur perekonomian di suatu daerah. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan disusun berdasarkan harga pada tahun dasar (2010) yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi di suatu daerah.

a. Tanaman Perkebunan

Sub kategori Tanaman Perkebunan terdiri dari tanaman perkebunan semusim dan tanaman perkebunan tahunan, baik yang diusahakan oleh rakyat maupun oleh perusahaan perkebunan (negara maupun swasta). Cakupan usaha perkebunan mulai dari pengolahan lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan yang menjadi satu kesatuan kegiatan. Komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan tanaman perkebunan diantaranya adalah tebu, tanaman berserat (kapas, dan-lain-lain), kelapa, kelapa sawit, karet, lada, pala, kayu manis, cengkeh, jambu mete, dsb.

Data produksi komoditas perkebunan diperoleh dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Banjar. Data harga berupa harga produsen diperoleh dari Seksi Statistik Keuangan dan Harga Produsen BPS Provinsi Kalimantan Selatan. Data indikator harga berupa Indeks Harga Produsen dan Indeks yang dibayar petani untuk biaya produksi kelompok tanaman perkebunan dari Seksi Statistik Keuangan dan Harga

(13)

Produsen BPS Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan data struktur biaya kegiatan tanaman perkebunan diperoleh dari hasil Sensus Pertanian.

b. Peternakan

Sub kategori Peternakan mencakup semua usaha peternakan yang menyelenggarakan pembibitan serta budidaya segala jenis ternak dan unggas dengan tujuan untuk dikembangbiakkan, dibesarkan, dipotong, dan diambil hasilnya, baik yang dilakukan rakyat maupun oleh perusahaan peternakan. Subkategori ini juga mencakup pembudidayaan ternak maupun unggas yang menghasilkan produk berulang, misalnya untuk menghasilkan susu dan telur. Komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan peternakan adalah sapi potong, kerbau, kambing, domba, babi, kuda, ayam bukan ras (buras), ayam ras pedaging, ayam ras petelur, itik manila, itik, telur ayam ras, telur ayam bukan ras, telur itik, susu segar, dan sebagainya.

Data produksi komoditas peternakan diperoleh dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Banjar. Data harga berupa harga produsen diperoleh dari Seksi Statistik Keuangan dan Harga Produsen BPS Provinsi Kalimantan Selatan. Data indikator harga berupa Indeks Harga Produsen dan Indeks yang dibayar petani untuk biaya produksi kelompok peternakan dari Seksi Statistik Keuangan dan Harga Produsen BPS Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan data struktur biaya kegiatan peternakan diperoleh dari hasil Sensus Pertanian dan Survei Perusahaan Peternakan (Ternak Besar dan Kecil, Ternak Unggas, dan Sapi Perah) yang dilakukan oleh Subdit Statistik Peternakan BPS RI.

(14)

BAB III PENUTUP

Dokumen Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar ini pada hakekatnya merupakan indikator yang paling menentukan (strategis) bagi kelangsungan hidup suatu organisasi dan indikator kinerja yang dipilih dari sekian banyak indikator kinerja yang dimiliki organisasi. Dengan penyusunan dokumen IKU Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar ini diharapkan dapat mempertimbangkan sebagai berikut :

1) Dokumen Perencanaan, yaitu RPJMD, RENSTRA, RKT dan PK 2) Kebijakan umum dan dokumen srategis lainnya yang relevan 3) Bidang kewenangan, tugas dan fungsi

4) Kebutuhan informasi kinerja untuk penyelenggaraan akuntabilitas kinerja 5) Kelaziman pada bidang tertentu

6)Melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) dari instansi Pemerintah yang bersangkutan

7) Kriteria Indikator Kinerja

8) Sumber pengumpulan data kinerja

Akhirnya semoga Indikator Kinerja Utama (IKU) ini dapat menjadikan acuan dalam penyelenggaraan tugas fungsi Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar.

Martapura, Januari 2020

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar,

Ir. H. Dondit Bekti A.

Pembina Utama Muda

(15)

PEMERINTAH KABUPATEN BANJAR DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN BANJAR NOMOR : TAHUN 2020

TENTANG

PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN BANJAR TAHUN 2020 KEPALA DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN BANJAR

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka memberikan arah pembangunan peternakan dan perkebunan di Kabupaten Banjar, perlu menetapkan Indikator Kinerja Utama;

b. bahwa Indikator Kinerja Utama Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar ditetapkan mengacu pada tujuan dan sasaran dalam RPJMD Kabupaten Banjar;

c. bahwa untuk maksud huruf a dan b konsideran ini, perlu ditetapkan dengan keputusan Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang- Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 352) sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820);

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2004 tentang Pernedaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 05, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemrintahan Daerah (Lembaran Negaar Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59,

(16)

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerinatahn Daerah( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

7. Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Propinsi sebagai Daerah Otonom;

8. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan aparatur Negara Nomor PER/9/M.PAN/5/2007 Tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama dilingkungan Instansi Pemerintah;

9. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2016 tentang RPJMD Kabupaten Banjar Tahun 2016 – 2021;

10. Peraturan Daerah Kabupaten Banjar Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Banjar Tahun 2016 Nomor 13, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Banjar Nomor 12);

11. Peraturan Bupati Banjar Nomor 75 Tahun 2016 tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi serta tata kerja Dinas Peternakan dan Perkebunan.

M E M U T U S K A N

Menetapkan : Keputusan Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar Tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar Tahun 2020.

KESATU : Indikator Kinerja Utama (IKU) pada satuan kerja perangkat Daerah dilingkungan Pemerintah Kabupaten Banjar sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari keputusan ini.

KEDUA : Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar Tahun 2020 ditetapkan untuk dipedomani dan sebagai ukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan sasaran strategis Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar Tahun 2020 dalam mendukung visi dan misi kepala daerah Kabupaten Banjar KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku untuk tahun anggaran 2020.

Ditetapkan di Martapura Pada tanggal Januari 2020

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar,

Ir. H. Dondit Bekti A. Pembina Utama Muda

(17)

Lampiran : Keputusan Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan

Kabupaten Banjar

Nomor : Tahun 2020 , tanggal Januari 2020

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN BANJAR TAHUN 2020

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

1 Meningkatnya kontribusi sub sektor peternakan terhadap pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan PDRB sub

sektor peternakan 5,41 %

2 Meningkatnya kontribusi sub sektor perkebunan terhadap pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan PDRB sub

sektor perkebunan 2,43 %

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar,

Ir. H. Dondit Bekti A.

Pembina Utama Muda

Referensi

Dokumen terkait

Tahap terakhir adalah tahap yang menentukan perubahan sosial pada seorang salik, yaitu tahapan tindakan (internalisasi), pada tahap ini merupakan suatu hasil

1) Dokumen Renstra 2020-2024 telah disusun, dan telah memuat visi, misi, tujuan, sasaran, indikator kinerja sasaran, target tahunan, indikator kinerja tujuan, dan

Soebandi Tahun 2020 dicantumkan sasaran-sasaran strategis dinas, indikator kinerja, target kinerja, dan program-program utama yang dilaksanakan untuk mewujudkan

Hasil analsis data yang diperoleh adalah terdapat penggunaan kalimat tunggal, di antaranya (1) klausa berdasarkan kelengkapan unsur intinya, di dalamnya terdapat klausa lengkap

Diterimanya H3 memiliki arti bahwa sikap evaluatif penonton yang menganggap bahwa ada kesesuaian antara aktor dengan merek yang berasosiasi dengannya selama drama

Indikator Kinerja Utama adalah ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis operasional, setiap lembaga atau instansi pemerintah wajib merumuskan

Animisme adalah kecenderungan anak menganggap benda sebagai sesuatu yang hidup (Papalia & Olds 1986). Perkembangan kognitif pada anak dipengaruhi juga lingkungan. Pernyataan

Beban gaji sebesar Rp. 16.760.000.000,- tidak dikapitalisasi sebagai aktiva sumber daya manusia karena beban gaji tidak memiliki manfaat dimasa yang akan datang. Untuk itu gaji