52 BAB IV
ALAT PENDIDIKAN MENURUT AL-GHAZALI
Alat pendidikan menurut Al-Ghazali dikelompokkan menjadi dua, yaitu : Alat pendidikan Preventif, dan alat pendidikan Representatif. Hal itu akan penulis kemukakan sebagai berikut :
A. Alat Pendidikan Preventif Menurut Al-Ghazali
Alat pendidikan preventif yaitu, mencegah anak sebelum anak berbuat sesuatu yang tidak baik. Seperti: Anjuran, perintah, dan larangan.
1. Anjuran
Anjuran dan perintah ini dilakukan ketika anak sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Berkaitan dengan anjuran dan perintah, Al-Ghazali berpendapat:
Ketika anak telah sampai kepada usia pandai, ia hendaknya diajarkan untuk tidak boleh meninggalkan bersuci dan shalat, diperintahkan berpuasa dibulan ramadhan, dilarang memakai pakaian dari sutra, wol sutra, emas dan hendaknya ia diajarkan pada setiap sesuatu yang diperintahkan oleh agama dari batas-batas syara’. Ditanamkan rasa takut memakan makanan yang haram, berkhianat, berdusta, berbuat keji, dan dilarang dari setiap perbuatan jelek yang biasa dilakukan oleh anak- anak. Apabila telah terjadi pertumbuhan anak yang seperti demikian pada masa semenjak kanak- kanak, maka apabila telah mendekati masa dewasa, niscaya mungkinlah baginya untuk ditunjukkan rahasia dari segala
kehidupan hidup untuk selalu taat kepada Allah. 1
Berdasarkan kutipan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, anjuran pada anak dapat diterapkan pada usia anak yang telah mampu membedakan
1
Imam Al-Ghazali, Ihya’ ‘ulumiddin Jilid III , Terj. Ihya ‘Ulum ad-Din (Semarang: CV.Asy Syfa, 2011), h. 180
mana yang baik dan mana yang buruk mulai dari hal yang kecil hingga besar, dan dapat menjauhi anak dari perbuatan tercela, untuk selalu taat dan patuh kepada Allah Swt. Anjuran yang diberikan kepada anak sebagai pembentuk kesadaran menjalankan kewajiban sehingga kemudian akan tumbuh rasa senang melakukannya, kemudian dengan sendirinya anak melakukannya tanpa anjuran melainkan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Alat pendidikan yang berupa anjuran merupakan suatu saran atau ajakan untuk melakukan sesuatu hal yang baik dan berguna seperti bersuci, shalat dan puasa. Dan hal lainnya yang dapat mengubah tingkah laku anak ke arah yang lebih baik, dengan sendirinya tujuan pendidikan akan tercapai. Adapun anjuran yang dicontohkan oleh imam Al-Ghazali :
a. Dalam Hal Makan
Makanlah makanan yang halal lagi baik, baik dalam segi usahanya, sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya, dimana makanan itu diusahakan dengan sebab yang makruh menurut syara’ dan menurut
ketentuan halal haramnya.2 Dari kalimat tersebut dapat dikatakan bahwa
anjuran memakan makanan yang halal lagi baik, karena makanan halal yang dimakan akan membawa faedah bagi tubuh yaitu sehat jasmani. Hal ini akan membawa akhlak baik pada anak. Jika memakan makanan yang haram akan
berdampak pada kesehatan tubuh dan akhlak anakpun akan mempengaruhinya karena makanan yang diperoleh secara tidak halal.
"Ketika makan dianjurkan berhenti sebelum kenyang, dan tidak ada makanan yang tersisa ditempatnya atau biasa yang kita sebut dengan
mubazir".3 Dari kutipan tersebut menganjurkan pada anak berhenti makan
sebelum kenyang agar tidak berlebih-lebihan. Dengan demikian, penjelasan di atas memberi pemahaman bahwa kesederhanaan makan mengajarkan kepada anak-anak, yaitu makan secukupnya saja walaupun tidak lezat, asalkan mencukupi kebutuhan tubuhnya dan dapat diolah menjadi kekuatan yang diperlukan untuk kegiatannya. Anak juga dapat mengurangi sifat manja karena biasanya anak yang manja itu tidak dapat menahan dirinya dalam menghadapi berbagai keinginanya, sehingga suatu hari tidak terpenuhi keinginannya, maka anak itu akan mengalami kegoncangan batin bahkan mengalami tekanan jiwa.
b. Dalam Hal Membasuh tangan
"Setiap kegiatan yang dilakukan dengan tangan tidak akan sunyi dari kotoran maka dianjurkan untuk mencucinya baik itu sebelum makan maupun
sesudah makan".4 Kalimat ini menganjurkan untuk mencuci tangan sebelum
makan, karena di ketahui bahwa tangan sangat berperan penting dalam melakukan pekerjaan. Maka secara otomatis tangan teringgapi oleh
3Ibid., h.13 4
kuman. Agar kuman tersebut tidak menyerang tubuh maka hendaklah cuci tangan sebelum makan. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa mencuci tangan sebelum makan lebih dekat dengan kebersihan dan kesucian. seperti, bersuci sebelum shalat, Karena hidup ini berlandaskan pada agama maka apa-apa yang melekat pada agama maka itu akan diterapkan dalam kehidupan dan khususnya pada anak agar anak terbiasa sampai dewasa. c. Dalam Hal Pergaulan
"Kata ash shiddiq dapat diterapkan dalam kehidupan, baik itu shiddiq dalam perkataan, shiddiq dalam niat, shiddiq dalam cita-cita, shiddiq dalam perbuatan dan shiddiq dalam perwujudan kedudukan agama dalam kehidupan".5
Shiddiq merupakan kejujuran, Al-Ghazali menganjurkan manusia selalu
berkata jujur dalam setiap perkataannya, jujur dalam niat dan kehendak, jujur dalam cita-cita, jujur dalam menempati cita-cita, jujur dalam perbuatan, benar dalam perwujudan agama semuanya. Maksudnya disini jujur secara keseluruhan. Sebelum pendidik menanamkan sifat jujur kepada anak, pendidik harus terlebih dahulu membiasakan dirinya berkata jujur, sebab jujur adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. Salah satu cara untuk menanamkan sifat jujur kepada anak adalah dengan menanamkan aqidah untuk selalu ingat dan takut kepada Allah SWT.
5
2. Perintah
"Perintah menurut Al-Ghazali yang dikutip oleh Zainuddin Dkk, perintah diartikan sebagai anjuran yang sifatnya lebih keras yakni suatu keharusan atau bahkan kewajiban untuk melakukan sesuatu yang baik, berguna dan
diwajibkan".6 "Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah perintah bukan
hanya apa yang keluar dari mulut seseorang yang harus dikerjakan oleh orang lain. Melainkan dalam hal ini termasuk pula peraturan-peraturan umum yang harus ditaati oleh anak-anak. Tiap-tiap perintah dan peraturan dalam pendidikan mengandung norma-norma kesusilaan, jadi bersifat memberi arah
atau mengandung tujuan ke arah peraturan susila".7
Berdasarkan penjelasan kedua tokoh di atas dapat disimpulkan alat pendidikan berupa perintah disini persamaannya sama-sama bertujuan untuk pembentuk kesadaran untuk menjalankan kewajiban sehingga akan timbul rasa senang untuk menjalankannya. Perbedaan di zaman sekarang suatu perintah atau peraturan dapat berwujud dalam norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku agar mudah ditaati oleh anak-anak jika sipendidik sendiri juga menaati dan hidup menurut peraturan itu. Tidak mungkin suatu aturan sekolah ditaati oleh murid-muridnya jika guru sendiri tidak menaati peraturan yang telah dibuatnya itu. Ketentuan memberi perintah antara lain:
6 Zainudin Dkk, Seluk Beluk Pendidikan Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 83 7
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaktif Edukatif suatu pendekatan
a. Perintah hendaknya terang dan singkat. b. Sesuai dengan keadaan dan umur anak.
c. Kadang-kadang perlu pula mengubah perintah menjadi menjadi suatu perintah yang lebih bersifat permintaan misalnya kata “Tolong”.
d. Pendidik hedaknya konsekuen terhadap apa yang telah diperintahkannya.
e. Jangan terlalu banyak dan berlebihan memberi perintah.8
Khusus berkenaan dengan alat pendidikan berupa perintah dan larangan, hal ini sesungguhnya merupakan implementasi dari konsep amar
ma'ruf nahi munkar.
Agar segala anjuran, perintah dan larangan yang guru sampaikan diikuti oleh peserta didik maka guru harus menggunakan cara-cara yang efektif, ada 3 macam asas dasar yang dipakai Al-Qur'an untuk menanamkan pendidikan, yaitu:
a. Mahkamah aqliyah, mengetuk akal pikiran untuk memecahkan segala sesuatu. Di dalam tingkat ini Al-Qur'an menyadarkan setiap akal manusia untuk memikirkan asal usul dirinya, mulai dari awal kejadiannya, kemudian perkembangannya baik fisik maupun akal dan ilmunya ataupun mental spriritual. Sesudah itu dibawanya ke alam cakrawala yang luas terbentang ini, yang semuanya dengan menggunakan kata-kata yang
8M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h.180
dapat diikuti oleh orang-orang awam dan dapat dijadikan bahan penyelidikan secara ilmiah oleh para sarjana.
b. Al-Qasas Wat Tarikh, menggunakan cerita-cerita dan pengetahuan sejarah, dengan mengemukakan berbagai cerita/peristiwa, dan membuka lembaran-lembaran sejarah di masa lampau, Allah mengajak manusia supaya bercermin kepada fakta dan data di masa dahulu itu untuk melihat dirinya, berbagai cerita yang disebut oleh Al-Qur'an menghidupkan sejarah-sejarah lama untuk memberanikan manusia untuk zaman yang dihadapnya dan masa depan terbentang untuk diisi dengan pendidikan kepada anak-anak.
c. Al-Ijarah Al Wahdaniyah memberikan perangsang kepada perasaan-perasaan. Membangkitkan rangsangan perasaan-perasaan, adalah jalan yang terpendek untuk menanamkan suatu karakter kepada anak-anak. Dan perasaan-perasaan itu terbagi kepada:
1) Peranan pendorong, yaitu rasa gembira, harapan hasrat yang benar dan lain sebagainya
2) Peranan penahan, yaitu rasa takut (berbuat kejahatan), rasa sedih (berbuat kedzaliman) dan lain sebagainya
3) Perasaan kekaguman, yaitu rasa hormat dan kagum, rasa cinta, rasa bakti dan pengabdian, dan lain sebagainya
Memberikan perangsang terhadap perasaan-perasaan ini menurut tempat dan waktu yang tepat, menimbulkan kesan yang mendalam kepada anak-anak yang kita didik.
Sebab itu sebagai pendidik tertinggi maka Allah menyebutkan dalam Surat Al-Fath ayat 8 bahwa Nabi Muhammad adalah memiliki sifat utama, yaitu:
a. Syahiidaa (penggerak perasaan-perasaan) b. Mubasyiiraa (pembawa berita gembira), dan
c. Naziiraa (pembawa peringatan untuk menahan dari kejahatan)9
3. Larangan
Berkaitan dengan larangan, Al-Ghazali berpendapat bahwa, dan hendaknya diajarkan cara-cara duduk dan hendaknya dilarang banyak bicara. diterangkan kepadanya, bahwa yang demikian itu menunjukkan adanya sifat kurang malu, dan sesungguhnya yang demikian itu adalah perbuatan anak-anak tercela. Dan Anak itu dilarang mengatakan sumpah secara mutlak, baik ia benar maupun bohong, sehingga ia tidak terbiasa dengan perkataan yang
demikian sejak waktu kecil.10 Berdasarkan kutipan di atas disimpulkan bahwa
alat pendidikan berupa larangan tujuannya untuk menghindarkan anak dari suatu perbuatan yang buruk dan dilarang agama.
9 Muhammad Said Ramadhan, http://ww.Wikipedia.Com. Tgl 10 Juni 2017 10
Berkaitan dengan larangan berbicara panjang lebar Al-Ghazali mengatakan:
"Dilarang berbicara panjang lebar mengenai perkataan dalam perbuatan maksiat. Maka ini adalah pembicaraan yang bathil dan berita tersebut datang dari orang pengumpat, adu domba, perkataan keji, dan lainnya. Bahkan itu adalah berbicara dalam menyebutkan perkara-pekara yang dilarang sebab tanpa ada keperluan agama untuk menyebutkannya. Dan masuk di dalamnya adalah berbicara tentang bid’ah, madzhab yang merusak dan cerita yang terjadi dari peperangan sahabat dengan cara menimbulkan cacian kepada
sebagian mereka. Semua itu adalah bathil".11
Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa, menurut imam Al-Ghazali berbicara panjang lebar tentang maksiat itu dilarang, sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Jika manusia tidak bisa berkata yang baik-baik, maka lebih baik diam. Al-Ghazali juga mengatakan:
"Bahwasanya dalam meminta-minta itu ada sikap sipeminta meremehkan diriya kepada selain Allah ta’ala. Tidak boleh bagi seorang
mukmin meremehkan dirinya kepada selain Allah".12 Penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa, sebagai manusia yang masih kuat untuk berusaha agar dapat menjauhi perbuatan meminta, apalagi meminta dengan meremehkan diri dihadapan orang yang diminta. Allah membenci seseorang yang meremehkan dirinya selain Allah Swt.
Larangan menurut Al-Ghazali merupakan keharusan untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan, yang tujuan dari larangan menurut
11 Ibid., h. 321 12 Ibid., h.202
Ghazali dengan para ahli lain mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk menghindarkan anak dari sesuatu perbuatan yang buruk, tercela, tidak berguna
dan dilarang oleh ajaran agama.13
Di samping memberi perintah, sering pula pendidik harus melarang perbuatan anak-anak. Larangan itu biasanya dikeluarkan jika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, yang merugikan, atau dapat membahayakan dirinya. Seorang ayah dan ibu yang sering melarang perbuatan anaknya, dapat mengakibatkan bermacam-macam sifat atau sikap yang kurang baik pada anak itu.
Syarat-syarat yang harus diperintahkan dalam melakukan larangan menurut Syaiful Bahri Djamarah diantaranya:
a. Sama halnya dengan perintah, larangan itu harus diberikan dengan singkat, supaya dimengerti maksud larangan itu.
b. Jangan terlalu sering melarang, akibatnya tidak baik bagi anak-anak yang masih kecil, larangan dapat dicegah dengan mengalihkan perhatian anak
kepada sesuatu yang lain, yang menarik minatnya.14
Larangan itu dimaksudkan untuk melakukan pencegahan atas perbuatan yang biasa membahayakan diri anak dan juga orang lain sebagai akibat dari perbuatan anak, karena dalam setiap tidakan anak ada kalanya merugikan dirinya dan bahkan orang lain dan sekitarnya.
13
Muhammad Said Ramadhan, http://ww.Wikipedia.Com. Tgl 10 Juni 2017 14
B. Alat pendidikan Representatif Menurut Al-Ghazali
Alat pendidikan representatif yaitu, memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban, berbuat sesuatu yang buruk atau anak telah melakukan hal yang dianggap istimewa. Seperti: Peringatan, ganjaran, dan hukuman. 1. Peringatan
Al-Ghazali mengatakan:
“Awas setelah ini jangan kau lakukan perbuatan semacam ini lagi, jika engkau berbuat ini lagi maka rahasiamu akan tersiar kepada orang banyak
perbuatan burukmu".15
Berdasarkan kutipan di atas menjelaskan bahwa peringatan diberikan kepada anak yang telah melakukan kesalahan atau pelanggaran yang biasanya disertai dengan ancaman atau sanksi apabila anak mengulangi perbuatannya tersebut. Dalam memberikan peringatan haruslah dengan cara yang bijaksana, kalimat yang singkat dan berisi, serta tutur kata yang halus dan secara simbolis atau dengan bahasa isyarat.
Sejalan dengan penjelasan di atas Al-Ghazali juga berkata:
“Muka yang manis kepada anak kecil maupun kepada orang dewasa. Lemah-lembut perkataannya dengan orang yang di bawahnya, maupun kepada
orang yang berada di atasnya.” 16
15
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa dalam peringatan dianjurkan bersikap yang sopan dan mempergunakan perkataan lemah lembut agar peringatan ditaati dan dipatuhi oleh anak.
Peringatan diberikan kepada anak yang telah beberapa kali melakukan pelanggaran, dan telah diberikan teguran pula atas pelanggarnya. Dalam memberikan peringatan ini, bisanya disertai dengan ancaman akan sanksinya. Karena itulah, ancaman merupakan tindakan pendidik mengoreksi secara keras tingkah laku anak didik yang tidak diharapkan, dan disertai perjanjian jika terulang lagi akan dikenakan hukuman atau sanksi.
Sebagaimana pendapat Al-Ghazali yang dikutip oleh Zainuddin bahwa peringatan ditujukan pada anak yang telah melakukan pelanggaran, biasanya dalam memberi peringatan ini disertai dengan ancaman atau sanksi apabila anak melakukan pelanggaran lagi. Dalam memberikan peringatan dan penjelasan-penjelasanya haruslah dengan cara bijaksana, kalimatnya singkat
dan berisi, serta harus halus tutur katanya.17
Peringatan ini sejalan dengan pendapat Syaiful Bahri Djamarah bahwa peringatan anak-anak dapat menurut dan taat terhadap peraturan-peraturan dengan jalan membiasakannya melakukan perbuatan-perbuatan yang baik,
16
Ibid., h 172
tidak hanya dirumah dan disekolah, tetapi juga ditempat lain, kapan dan
dimana saja.18
Memperhatikan kutipan di atas dapat dipahami bahwa peringatan diberikan kepada anak agar anak mengetahui bahwa yang dilakukannya itu salah, sehingga anak tidak mengulangi kesalahan yang telah dilakukannya. 2. Ganjaran
Ganjaran menurut Al-Ghazali diperoleh ketika anak berbudi pekerti baik serta perbuatan yang terpuji. Dan ganjaran terbagi atas dua yaitu: pertama, penghormatan baik itu berupa kata-kata maupun alasan yang tepat. kedua, pujian dihadapan orang banyak. Sedangkan menurut ngalim purwanto ganjaran adalah salah satu alat pendidikan yang untuk mendidik anak-anak agar anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Pendidik berarti supaya dengan imbalan itu anak menjadi lebih giat lagi usahanya untuk mempertinggi kinerja yang telah dicapainya untuk
bekerja atau berbuat lebih.19 Ganjaran dimaksudkan sebagai suatu cara untuk
menyenangkan dan menggairahkan belajar anak didik, baik di sekolah maupun di rumah. Jadi, dalam pemberian ganjaran bukanlah asal memberikan kepada anak tetapi yang terpenting adalah hasilnya, yaitu terbentuknya kemauan yang keras untuk selalu belajar kapan dan dimana saja. Pemberian
18
Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit.,h. 190
19
ganjaran juga harus diperhatikan kepada siapa dan kapan diberikan. Pemberian ganjaran sudah pasti diberikan kepada anak, tetapi anak yang bagaimana yang harus mendapatkan ganjaran. Ganjaran tidak mesti diberikan kepada anak yang juara kelas saja tapi juga kepada anak yang kurang mampu yang mengalami perubahan pembelajaran kearah yang lebih baik.
Dalam memberikan ganjaran pendapat Al-Ghazali telah dipopulerkan oleh Syaiful Bahri Djamarah bahwasanya, dalam pemberian ganjaran, guru harus bijaksana, dan keteladanan yang baik. Menurut Al-Ghazali, terdapat beberapa sifat penting yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai seorang yang diteladani, yaitu:
a. Amanah dan tekun bekerja
b. Bersifat lemah lembut dan kasih sayang terhadap murid
c. Dapat memahami dan berlapang dada dalam ilmu serta orang-orang yang mengajarkannya.
d. Tidak rakus pada materi e. Berpengetahuan luas
f. Istiqamah dan memegang teguh prinsip.
Al-Ghazali juga menambah-kan bahwa terdapat beberapa sifat penting yang harus terinternalisasi dalam diri peserta didik, yaitu:
1) Rendah hati
3) Taat dan istiqamah.
Apabila ganjaran keseringan diberikan kepada anak maka, anak akan berpikiran setiap tindakan yang dilakukannya adalah upah. Hal inilah yang seharusnya tidak terjadi dalam pendidikan. Bila sifat ganjaran menjadi upah, maka anak didik akan selalu bergantung pada upah dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Hendaknya ini tidak boleh terjadi karena urgensi dalam pemberian ganjaran adalah untuk menimbulkan semangat melakukan sesuatu hal yang
baik, bukan sebagai upah yang selalu dituntut sebagai imbalan.20 Ganjaran juga
dapat berupa tindakan pendidik yang fungsinya memperkuat penguasaan tujuan pendidikan tertentu yang telah dicapai anak didik, seperti hadiah dalam hal ini tidak mesti selalu berwujud barang. Anggukan kepala dengan wajah berseri, menunjukkan jempol si pendidik, doa yang baik dari pendidik untuk peserta didik sudah merupakan suatu hadiah, yang pengaruhnya besar sekali, seperti memotivasi, menggembirakan, dan menambah kepercayaan dirinya. Pujian dan hadiah harus diberikan pada saat yang tepat, yaitu segera sesudah anak didik berhasil. Jangan diberikan sebagai janji, karena akan dijadikan
sebagai tujuan kegiatan yang dilakukan.21
Berdasarkan kutipan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ganjaran merupakan salah satu alat pendidikan yang diberikan kepada anak didik atas
20 Fhatiyah Hasan Sulaiman, Alam Pikiran Al-Ghazali Mengenai Pendidikan dan Ilmu
Pengetahuan, (Bandung: CV Diponegoro, 1986), h.49
21
prestasi yang diraihnya. Dengan ini diharapkan agar dapat merangsang anak didik lain untuk mengikutinya dan mengembangkan prestasinya dan biasa dengan tingkah laku yang baik.
3. Hukuman
Berdasarkan pendapat Al-Ghazali yang dikutip oleh Zainudin dan kawan-kawan bahwa alat pendidikan yang berupa hukuman tidak sependapat kepada orang tua dan pendidik yang dengan cepat-cepat dan sekaligus memberi hukuman terhadap anak-anak yang berlaku salah dan melanggar aturan. Hukuman adalah jalan yang paling akhir apabila teguran, peringatan,
dan nasihat-nasihat belum bisa mencegah anak melakukan pelanggaran.22
Sedangkan menurut Ngalim Purwanto hukuman adalah alat pendidikan yang tidak lepas dari sistem kemasyarakatan dan kenegaraan yang terjadi pada waktu itu, dengan kata lain hukuman adalah penderitaan yang diberikan atau
ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang.23
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hukuman menurut Al-Ghazali telah dipopulerkan oleh Ngalim purwanto sebagaimana pemberian hukuman disini tidak bisa sembarangan, ada peraturan yang mengaturnya, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Menghukum adalah memberikan atau mengadakan nestapa atau penderitaan dengan sengaja kepada anak didik dengan maksud agar penderitaan tersebut betul-betul dirasakannya, untuk
22 Zainuddin Dkk, Op Cit., h. 86 23
menuju ke arah perbaikan. Dengan demikian hukuman merupakan alat pendidikan istimewa, sebab membuat anak didik menderita. Dalam hal pemberian hukuman ini, ada dua prinsip dasar mengapa diadakan hukuman, yaitu:
a. Hukuman diadakan karena adanya pelanggaran, adanya kesalahan yang diperbuat
b. Hukuman diadakan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran.
Al-Ghazali mengatakan bahwa memberi hukuman harus melalui proses Yaitu:
"Kalau si anak menyimpang dari perbuatan baik pada awalnya tersebut pada suatu keadaan, maka sebaiknya orang tua pura-pura lupa dari hal itu dan tidak membuka rahasianya, tidak menjelaskan pada anak bahwa tergambarlah keberanian orang lain untuk melakukan perbuatan yang semacam itu, si anak itu sendiri akan menutup rahasia dirinya dengan sungguh-sungguh sebab membuka rahasianya yang demikian, mungkin menyebabkan ia berani dan ia tidak peduli dengan terbukanya sifat tercelanya". 24
Berdasarkan kutipan di atas memberikan pemahaman bahwa satu kali anak menyimpang, anak diberi kesempatan untuk menyadari kesalahanya selagi kesalahan si anak tidak terkait dengan hukum pidana dan seorang pendidik atau orang tua pura-pura tidak tau atau memberi tau dengan sembunyi-sembunyi, namun jika anak sudah melakukan kesalahan yang fatal seperti berzina,
membunuh, meminum minuman keras dan sejenisnya, maka pendidik atau orang tua wajib menghukum sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukannya.
Apabila tahap pertama tidak berhasil maka dilanjutkan dengan peringatan, teguran dan nasihat, sebagaimana penjelasan Al-Ghazali:
Maka apabila terjadi perbuatan yang demikian pada dirinya untuk yang kedua kalinya, maka sebaiknya ditegur dengan sembunyi dan persoalan itu dianggap besar terhadap anak itu. Kepadanya dikatakan: "Awas sesudah ini jangan engkau berbuat seperti ini lagi, kalau sampai ketahuan engkau berbuat
demikian, rahasiamu akan diberitahukan kepada orang banyak".25
Serta penjelasan Al-Ghazali tentang menegur anak:
"Selanjutnya setiap orang tua menegur anak hendaklah orang tua itu selalu menjaga wibawa perkataannya terhadap anak itu, tidak mengejeknya, dan ibu mengingatkan ayah tentang wibawanya serta penjelasan dari perbuatan buruk
anaknya".26 Apabila tahap kedua belum berhasil juga maka baru diperbolehkan
untuk memberi hukuman seperti penjelasan Al-Ghazali dibawah ini:
Dan seyogyanya bagi anak didik, ketika ia dipukul oleh gurunya untuk tidak berteriak dan memekik dan meminta tolong kepada orang lain, akan tetapi hendaknya ia bersabar dan menyebutkan kepada anak itu, bahwa prilaku ini
25 Ibid., 26
adalah prilaku anak laki-laki yang bandel, dan bahwasanya orang yang suka
berteriak dan memekik adalah prilaku dan kebiasaan budak dan anak wanita.27
Suatu perbuatan di mana seseorang sadar dan sengaja menjatuhkan nestapa pada orang lain dengan tujuan untuk memperbaiki dirinya sendiri dari kelemahan
jasmani dan rohani, sehingga terhindar dari segala macam pelanggaran. Jadi dari
kalimat di atas dapat pahami bahwa Hukuman adalah suatu perbuatan dengan sadar dan sengaja yang dijatuhkan untuk memperbaiki atau melindungi diri sendiri dari kelemahan jasmani dan rohani, sehingga terhindar dari segala macam pelanggaran. Dan Al-Ghazali berpendapat bahwa hukuman merupakan jalan yang paling akhir apabila peringatan dan nasehat-nasehat belum bisa mencegah anak melakukan pelanggaran. Demikianlah hukuman kepada anak menurut imam Al-Ghazali, yang perlu dipahami adalah setiap hukuman yang diberikan harus sesuai dengan hukum islam. seperti, saat anak berusia tujuh tahun orang tua disuruh untuk memerintahkan anaknya untuk shalat, ketika anak berusia sepuluh tahun belum juga shalat, maka pukullah. Inilah hukuman dalam islam, masih banyak pelanggaran-pelanggaran yang lain dalam islam yang setiap pelangggaran tersebut ada cara menghukumnya.