• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN QUANTUM LEARNING PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 26 MAKASSAR SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN QUANTUM LEARNING PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 26 MAKASSAR SKRIPSI"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN QUANTUM LEARNING PADA SISWA KELAS VII

SMP NEGERI 26 MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

FRISKA KABUBU NIM 10536 4495 13

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2017

(2)
(3)
(4)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

Kantor : Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-860132, Makassar

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawahini:

Nama : Friska Kabubu

NIM : 10536 4495 13

Program Studi : Pendidikan Matematika

JudulSkripsi : EfektivitasPembelajaranMatematikamelalui penerapan

Quantum Learning padaSiswaKelas VII SMP Negeri 26

Makassar

Denganinimenyatakanbahwa:

Skripsi yang sayaajukandi depan Tim Pengujiadalahhasilkaryasayasendiri, bukanhasilciptaan orang lain ataudibuatkanolehsiapapun.

Demikianpernyataaninisayabuatdansayabersediamenerimasanksiapabilapernyataa ninitidakbenar.

Makassar,November 2017

Yang MembuatPernyataan

(5)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA Kantor : Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-860132, Makassar 90221

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Friska Kabubu

Nim : 10536 4495 13

Jurusan : Pendidikan Matematika

Judul Skripsi : EfektivitasPembelajaranMatematikamelalui Penerapan

Quantum Learning pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 26

Makassar

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbingyang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi ini.

4. Apabila saya melanggar perjanjian saya seperti butir 1, 2, dan 3, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuhkesadaran.

Makassar, November 2017 Yang membuat perjanjian

(6)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Jadilah seperti karang di lautan yang kuat di hantam ombak Dan kerjakanlah hal yang bermanfaat

Untuk diri sendiri dan orang lain, Karena hidup hanyalah sekali.

Ingat hanya pada Allah,

Apapun dan di manapun kita berada,

Kepada Dialah tempat meminta dan memohon.

Kupersembahkan karya sederhana ini kepada:

Kedua orang tuaku tercinta,

Saudaraku, keluargaku, serta sahabat-sahabatku

tersayang,

yang senantiasa siap menerima keluh kesahku,

yang dengan tulus dan ikhlas berdoa demi

keberhasilanku,

yang senantiasa memberikan dukungan, bantuan, dan masukan

di setiap langkahku.

(7)

ABSTRAK

Friska Kabubu.2017. Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Penerapan Quantum Learning pada Siswa Kelas VII SMPN 26 Makassar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Di bimbing oleh Awi Dassa dan Kristiawati.

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika melalui penerapan Quantum Learningpada siswa kelas VII SMP Negeri 26 MakassarTahun Pelajaran 2017/2018.Penelitian ini mengacu pada tiga kriteria keefektifan pembelajaran yaitu hasil belajar matematika siswa tuntas dan meningkat, aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika, dan respons siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan Quantum Learning.Desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest Design, yaitu sebuah eksperimen yang dilaksanakan tanpa adanya kelompok pembanding (kontrol). Subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII4SMP Negeri 26 Makassar sebanyak 29 orang sebagai kelas uji

coba untuk diterapkanQuantum Learning. Teknik pengumpulan data yang di gunakan adalah tes hasil belajar untuk mengukur tes hasil belajar setelah mengikuti pembelajaran melalui penerapan Quantum leaning, teknik observasi aktivitas siswa untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan angket respon siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika melalui penerapan Quantum Learning.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Skor rata-rata tes hasil belajar matematika siswa melalui penerapan Quantum Learningadalah 81,34.(2) Rata-rata persentase aktivitas siswa untuk setiap indikator mencapai kriteria efektif, yaitu 80,49%.(3) Angket respon siswa menunjukkan bahwa respon positif siswa terhadap penerapan Quantum Learning yaitu 83,78%, dan mencapai kriteria efektif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan Quantum Learningefektifditerapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, pujidansyukurhanyamilik Allah SWT, yang telah member kekuatandankesehatankepadapenulissehinggaSkripsiyang

berjudul“EfektivitasPembelajaranMatematikaMelalui Penerapan Quantum

LearningpadaSiswaKelas VII SMP Negeri 26

Makassar”dapatdiselesaikan.Shalawatdansalamsemogatetaptercurahkankepada Nabi Muhammad SAW yang telahmenyinari dunia inidengancahaya Islam.

Penulismenyadaribahwasejakpenyusunanproposal

sampaiskripsiinirampung, banyakhambatan, rintangandanhalangan. Namunberkatbantuan,

motivasidandoadariberbagaipihaksemuainidapatteratasidenganbaik. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap dengan selesainya skripsi ini, bukanlah akhir dari sebuah karya, melainkan awal dari semuanya, awal dari sebuah perjuangan hidup.

Teristimewasekalipenulissampaikanucapanterimakasih yang tuluskepadakedua orang tuatercinta,Ayahanda Saleh L dan Ibunda Marni atas segala pengorbanan, pengertian, kepercayaan, dan segala doanya sehingga penulis dapat sampai pada titik ini. Dan juga kepada Kak Novitasari, Kak Ulfa Sari, Kak Zulkifli , Hikma Aisyah, Muh.Faras sertakeluargaatassegaladukungan, bantuan, sertanasihatnyaselamaini.

(9)

Semogaapa yang telahmerekaberikankepadapenulis,menjadikebaikan dan cahayapenerangkehidupan di dunia dan di akhirat.

Selanjutnya ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada:

1. Dr. H. Abd.Rahman Rahim,SE.,MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Erwin Akib, M.Pd., Ph.D.,Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Mukhlis, S.Pd., M.Pd., dan Ma’rup, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua dan Sekretaris Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Dr.Awi Dassa , M.Si., dan Kristiawati S.Pd., M.Pd., sebagai Pembimbing I dan

II,dengansegalakerendahanhatinyatelahmeluangkanwaktunyauntukmembe rikanarahan dan bimbingankepadapenulisdalampenyusunanskripsiini. 5. Dr. Ilham Minggi, dan Nasrrullah, S.Pd., M.Pd., sebagai validator I dan II,

yang telah meluangkan waktunya untukmemberikanarahan dan bimbingankepadapenulisdalam penyusunan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian.

6. Seluruh Bapak dan IbuDosenUniversitasMuhammadiyah Makassar yang

telahmemberikanbanyakilmu dan

berbagipengalamanselamapenulismenuntutilmu di Program StudiPendidikanMatematika.

(10)

7. Ibu Nur Rahma, S.Pd.,M.Pd Kepala SMP Negeri 26Makassar telahmemberikankesempatankepadapenulisuntukmelakukanpenelitian di sekolahtersebut.

8. Bapak dan ibu guru, staff Tata Usaha, sertasiswasiswikelas VII.4 SMP Negeri 26 Makassar atasbantuannyaselamapenulismengadakanpenelitian. 9. Temanseperjuangan seluruhangkatan 2013, teman P2K, Magang 3,

LOGIKA’13, terkhususteman-temanAksiomatika yang

tidakdapatdisebutkansatupersatu, terimakasihataskerjasama dan

kekompakan yang

diberikanselamamenjalanikegiatanperkuliahan.Kebersamaan ini akan menjadi sebuah kenangan yang indah dan tidak akan bisa terlupakan sampai akhir hayat.

10. SaudaraseperjuanganLisna, Nanna, Dirah, Ismi, Irma, Tuti, Mantang, Reski, Iwan, Aim, Sandi atassegalabantuan dan dukungannya. Terimakasihtelahmenjadisaudara yangsiapberbagisuka dan duka, canda dantawa, salingmenguatkan, sertasalingmenasihati. Semogapersaudaraaninitakkan terpisakanolehjarak dan waktu.

11. Semuapihak yang telahmemberikanbantuan yang

(11)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan mutu pendidikan dewasa ini merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, sebab keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan terutama oleh keberadaan sumber daya manusia yang berkualitas, yang hanya dapat dihasilkan lewat pendidikan yang berkualitas pula. Mengingat peranan matematika yang demikian penting, penguasaan dan peningkatan pembelajaran matematika sangat dituntut bagi siswa pada masing-masing jenjang pendidikan.

Tugas utama guru adalah mengelola proses belajar mengajar, sehingga terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Interaksi tersebut tentu akan mengoptimalkan pencapaian tujuan yang dirumuskan. Usman (2000 : 4) menyatakan bahwa proses belajar dan mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian pemilihan metode yang tepat dan efektif sangat diperlukan. Sehingga pendapat Sudjana (1997 : 76) bahwa peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar dan mengajar.

Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar, diperoleh gambaran bahwa siswa kurang aktif dalam menerima pelajaran disebabkan karena guru tidak tepat dalam menggunakan media atau

(12)

2

metode pembelajaran. Siswa juga masih ada yang bermain sendiri pada saat guru menjelaskan materi pelajaran sehingga kurang memahami konsep pembelajaran matematika disebabkan karena guru kurang menguasai pengelolaan kelas. Rendahnya motivasi siswa untuk belajar. Adapun nilai pelajaran untuk bidang studi matematika masih siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar masih rendah sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) adalah 70.

Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, salah satu metode yang digunakan adalah metode Quantum Learning. Menurut Porter dan Hernacki (2001 : 15) bahwa : “Quantum Learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif di sekolah dan bisnis untuk semua tipe orang dan segala manusia”. Maksudnya siswa akan di ajak belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa akan lebih bebas dalam menemukan berbagai pengalaman baru dalam belajarnya.

Chaerunnisa (Sahtiani, 2005 : 30) mengemukakan bahwa efektivitas Quantum Learning tidak diragukan lagi keberhasilannya, hal ini disebabkan penerapan Quantum Learning tidak hanya kepada fisik tapi semua aspek, seperti aspek psikis yang terdiri dari rasa nyaman, enak, dan aspek yang lain yaitu pembentukan lingkungan belajar yang nyaman. Dengan metode ini diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan belajar siswa.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mencoba untuk melakukan penelitian mengenai dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Matematika

(13)

3

Melalui Metode QuantumLearning Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 26 Makassar.

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut : “Apakah metode Quantum Learning efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar ?

Indikator keefektivan pembelajaran Matematika yang di perlihatkan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Ketuntasan hasil belajar matematika siswa.

2. Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika. 3. Respon siswa terhadap proses pembelajaran matematika

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pembelajaran Matematika melalui metode Quantum Learningefektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar, ditinjau dari indikator keefektivan pembelajaran Matematika, yaitu:

1. Ketuntasan hasil belajar matematika siswa.

2. Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika. 3. Respon siswa terhadap proses pembelajaran matematika.

(14)

4

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini tentunya memiliki manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat yang di peroleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini di harapkan dapat informasi tentang metode quantum learning efektif di terapkan dalam pembelajaran matematika.

2. Manfaat praktis

a. Bagi siswa dapat meningkatkan minat belajar siswa khususnya dalam pelajaran matematika agar pembelajaran tersebut dapat menjadi suatu pembelajaran menyenangkan.

b. Bagi guru melalui penelitian ini guru dapat mengetahui model pembelajaran yang tepat untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas dan minat beajar siswa yang terlihat pada hasil belajar siswa sehingga semua permasalahan dapat di atasi dengan baik.

c. Bagi sekolah hasil penelitian ini dapat memberikan masukan pada peningkatan proses belajar mengajar kelas VII SMP Negeri 26 Makassar.

(15)

5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA,KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka 1. Efektivitas

Efektivitas pembelajaran merujuk pada berdaya dan berhasil guna seluruh komponen pembelajaran yang diorganisir untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran efektif mencakup keseluruhan tujuan pembelajaran baik yang berdimensi mental, fisik, maupun sosial. Pembelajaran efektif “memudahkah” siswa belajar sesuatu yang “bermanfaat” ( Suprijono,2014: xi).

Menurut (Suprijono, 2015: XI) efektifitas pembelajaran merujuk pada berdaya dan berhasil guna seluruh komponen pembelajaran yang diorganisis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran efektif mencakup keseluruhan tujuan pembelajaran baik berdimensi mental, fisik, maupun sosial. Pembelajaran efektif “mempermudahkah” perta didik belajar sesuatu yang “bermanfaat”. Efektivitas menurut (Saefuddin & Ika Berdiati,2016:34) adalah apabila tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan berhasil guna diterapkan dalam pembelajaran. Pembelajaran efektif dapat tercapai jika mampu memberikan pengalaman baru, membentuk kompetensi peserta didik dan menghantarkan mereka ketujuan yang ingin dicapain secara optimal.

Basiroh (2015:9) menyatakan Efektivitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju, dan bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha

(16)

mewujudkan tujuan operasional. Anoraga (2000:178) mengatakan bahwa efektivitas berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lebih dikaitkan dengan hasil kerja.

Veithzal (dalam Gie, 2011:1) mengemukakan bahwa, Efektivitas tidak hanya dilihat dari sisi produktivitas, tetapi juga dilihat dari sisi persepsi seseorang. Demikian juga dalam pembelajaran efektivitas bukan semata-mata dilihat dari tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai konsep yang ditunjukkan dengan nilai hasil belajar tetapi juga dilihat dari respon siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa efektivitas pembelajaran adalah suatu keadaan yang menunjukan sejauh mana keberhasilan yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar. Dikatakan efektif jika tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan berhasil guna diterapkan dalam pembelajaran.

Hamka ( 2014 : 6 ) indikator keefektifan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

a. Hasil belajar matematika siswa

1) Ketuntasan hasil belajar matematika siswa

Menurut James O. Whittake (Aunurrahman, 2015: 35) mengemukakan belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui ampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knlatihan atau pengalaman. Sedangkan menurut Geoh (Sahabuddin,2007:81) belajar adalah suatu perubahan dalam perbuatan sebagai hasil dari latihan.

(17)

Menurut Bloom (Suprijono, 2015: 6) hasil belajar mencakup kemowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), aplication (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan, hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru) dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respons). Valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotorik meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotorik juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, social, manajerial, dan intelektual.

Ketuntasan belajar merupakan pencapaian taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan guru dalam tujuan pembelajaran setiap satuan pelajaran baik secara perorangan maupun kelompok. Ketuntasan belajar dapat dianalisis dari dua segi yaitu ketuntasan belajar pada siswa dan ketuntasan belajar pada materi pelajaran/tujuan pembelajaran, keduanya dapat dianalisis secara perorangan atau perkelas siswa(Arafah,2015:6)

Setiap siswa dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan individu) telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan.Jika proporsi jawaban benar siswa ≥ 65%, dan suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal) jika dalam kelas tersebut terdapat ≥ 85% siswa yang telah tuntas belajarnya (Depdikbud dalam Trianto, 2010: 241).

Tetapi, menurut Trianto (2010: 241) berdasarkan ketentuan KTSP penentuan ketuntasan belajar ditentukan sendiri oleh masing-masing sekolah yang

(18)

dikenal dengan istilah kriteria ketuntasan minimal, dengan berpedoman pada tiga pertimbangan, yaitu: kemampuan setiap peserta didik berbeda-beda; fasilitas (sarana) setiap sekolah berbeda; dan daya dukung setiap sekolah berbeda.

Jadi, dapat disimpulkan ketuntasan hasil belajar matematika merupakan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah melakukan usaha tertentu dalam pembelajaran matematika. Semua proses pembelajaran yang dilakukan menunjukkan hasil yang maksimal dalam artian nilai siswa memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yakni 70.

2) Peningkatan hasil belajar matematika siswa

Dalam pandangan Zamroni dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah adalah suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien6.

Peningkatan mutu berkaitan dengan target yang harus dicapai, proses untuk mencapai dan faktor-faktor yang terkait dalam peningkatan mutu ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni aspek kualitas hasil dan aspek proses mencapai hasil tersebut teori manajemen mutu terpadu atau yang lebih dikenal dengan Total Quality Management (TQM) akhir-akhir ini banyak diadopsi dan digunakan oleh dunia pendidikan dan teori ini dianggap sangat tepat dalam dunia pendidikan saat ini.

(19)

b. Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika

Menurut Sahaja (2014) “Aktivitas belajar adalah kegiatan yang dilakukan siswa secara sadar dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dapat mengakibatkan perubahan pengetahuan atau kemahiran siswa tersebut”.

Aktivitas siswa dalam pembelajaran bisa positif maupun negatif. Aktivitas siswa yang positif misalnya mengajukan pendapat atau gagasan, mengerjakan tugas atau soal, komunikasi dengan guru secara aktif dalam pembelajaran, dan komunikasi dengan sesama siswa sehingga dapat memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi, sedangkan aktivitas siswa yang negatif, misalnya mengganggu sesama siswa pada saat proses belajar mengajar di kelas, melakukan kegiatan lain yang tidak sesuai dengan pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru.

Berdasarkan uraian di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa aktivitas siswa dalam penelitian ini merupakan peran siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung melalui penerapan pembelajaran Quantum Learning sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif. Aktivitas tersebut didasarkan pada kegiatan siswa dalam hal kegiatan-kegiatan positif.

c. Respon siswa terhadap proses pembelajaran matematika

Menurut Ibrahim (2015:9) “Respons” menurut bahasa dapat diartikan sebagai reaksi balik atau anggapan dari seseorang atau orang banyak terhadap suatu peristiwa yang telah terjadi. Dalam pembelajaran, efektivitas bukan semata-mata dilihat dari tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai konsep yang ditunjukkan dengan nilai hasil belajar tetapi juga dilihat dari respon siswa

(20)

terhadap pembelajaran yang telah diikutinya. Angket respon siswa digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai pembelajaran yang digunakan. Respon siswa adalah tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika melalui metode Quantum Learning.

2. Belajar

Menurut Daryanto dan Muljo Raharjo (2012: 16) Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang di arahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu, indikator belajar di tujukan dengan perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang di manifestasikan sebagai suatu pola respon yang berupa keterampilan , sikap, kebiasaan, kecakapan, atau pemahaman.

Menurut Margaret E. Bell Gredler (Sahabuddin, 2007:80), belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap.

Adapun belajar menurut Gagne (Suprijono, 2016: 2), belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang di capai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah.

Dari beberapa definisi tentang belajar yang dikemukakan diatas maka dapat di simpulkan bahwa belajar adalah suatu proses kognitif yang di lakukan secara sadar dan dengan sengaja oleh individu untuk memperoleh pengetahuan,

(21)

keterampilan dan sikap yang mengakibatkan adanya perubahan tingkah laku pada individu tersebut.

3. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran dapat di katakan sebagai hasil dari memori, Kognisi, dan metakognisi yang berpengaruh terhadap pemahaman, hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang belajar dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari–hari karena belajar merupakan proses alamiah setiap orang (Huda, 2016: 2) Wenger (Huda, 2016 : 2) mengatakan, “ Pembelajaran bukanlah aktivitas, sesuatu yang di lakukan oleh seseorang ketika ia tidak melakukan aktivitas yang lain, pembelajaran juga bukanlah sesuatu yang berhenti di lakukan oleh seseorang.Lebih dari itu, pembelajaran bisa terjadi dimana saja dan pada level yang berbeda – beda, secara individual, kolektif, ataupun sosial”.

Trianto (2009: 17) mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah di tetapkan sebelumnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan yang di atur sedemikian rupa sehingga tercipta hubungan timbal balik antara guru dan siswa untuk tujuan tertentu.

Pembelajaran adalah suatu rangkaian proses yang di lakukan oleh guru dalam membelajarkan siswa. Belajar itu mencakup bagaimana proses untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan moral. “Pembelajaran

(22)

berdasarkan makna leksikal proses, cara, perbuatan mempelajari” (suprijono, 2015: 13)

Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivistik adalah membantu siswa untuk membangun konsep – konsep / prinsip – prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui internalisasi, sehingga konsep / prinsip itu terbangun kembali. Ciri – ciri pembelajaran matematika sesuai dengan pandangan konstruktivistik antara lain (1) Siswa belajar aktif dalam belajarnya, (2) informasi baru harus di kaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dengan skemata (jaringan konsep) yang dimiliki siswa, dan (3) orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah untuk mendesain lingkungan belajar yang konstruktivistis (Saefuddin & Ika Berdiati, 2016:8).

Pembelajaran matematika adalah suatu prose belajar mengajar yang di bangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berfikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengintruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika, ( Ahmad Susanto, 2016: 186).

Jadi dapat di simpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan suatu proses atau cara yang di lakukan guru untuk membantu siswa dalam mengembangkan konsep konsep matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses interaksi antara guru dan siswa.

(23)

4. Metode Quantum Learning

Menurut De Porter dan Hernacki (2016 : 16), Pembelajaran Quantum adalah “interaksi-interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya”. Semua kehidupan adalah energy. Rumus yang terkenal dalam Fisika Kuantum adalah “massa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energy, yang ditulis dengan persamaan E = mc2”

Menurut Porter dan Hernacki (2016 : 15) bahwa : “Quantum Learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif di sekolah dan bisnis untuk semua tipe orang dan segala manusia”. Quantum Learning berakar dari upaya Lazonov, seorang pendidik yang berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebut sebagai “Suggestology” atau “Suggestopedia”. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif, ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk memberikan sugesti positif yaitu menundukkan siswa secara nyaman, memasang music latar dikelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan media pembelajaran untuk memberikan kesan besar sambil menonjolkan informasi.

Dari berbagai teori dan strategi belajar lain Quantum Learning memberikan solusi terbaik dalam masalah klasik yang dihasilkan oleh metode belajar yang telah dilakukan serta yang telah diterapkan. Dengan metode Quantum Learning pernyataan – pernyataan seperti belajar adalah pekerjaan yang membosankan dapat dihilangkan serta metodologi penyajian kurang variatif dan terkesan monoton.

(24)

Menurut Hamka (Darmawati, 2006 : 30) mengemukakan bahwa efektivitas Quantum Learning tidak diragukan lagi keberhasilannya, hal ini disebabkan penerapan Quantum Learning tidak hanya kepada fisik tapi semua aspek, seperti aspek psikis yang terdiri dari rasa nyaman, enak, dan aspek yang lain yaitu pembentukan lingkungan belajar yang nyaman. Sehingga dapat memenuhi unsur – unsur itu semua maka belajar dapat berlangsung dengan baik.

Menurut Hamka (Darmawati, 2006 : 30) menyatakan bahwa Quantum Learning dapat mencapai hal yang memuaskan antara lain :

1. Meningkatkan motivasi, 2. Meningkatkan nilai belajar, 3. Menumbuhkan kepercayaan diri, 4. Meningkatkan rasa ingin tahu, 5. Meningkatkan kinerja otak

Menurut Huda (2016: 193) adapun langkah – langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Quantum Learning dengan cara :

1. Kekuatan Ambak

Ambak adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat – akibat suatu keputusan. Motivasi sangat diperlukan dalam belajar karena dengan adanya motivasi maka diinginkan untuk belajar akan selalu ada. Pada langkah ini siswa harus diberi motivasi oleh guru agar mereka dapat mengidentifikasi dan mengetahui manfaat atau makna dari setiap pengalaman atau peristiwa yang dilaluinya yang ada dalam hal ini adalah proses belajar.

(25)

Dalam proses belajar diperlukan penataan lingkungan yang dapat membuat siswa merasa aman dan nyaman. Perasaan semacam ini akan menumbuhkan konsentrasi belajar siswa yang baik. Penataan lingkungan belajar yang tepat juga dapat mencegah kebosanan diri siswa.

3. Memupuk Sikap Juara

Memupuk sikap juara perlu dilakukan untuk lebih memacu dalam belajar siswa, seseorang guru hendaknya jangan segan-segan untuk memberikan pujian kepada siswa yang telah berhasil dalam belajarnya, sebaliknya guru sebaiknya tidak mencemooh siswa yang belum mampu menguasai materi. Dengan memupuk sikap juara ini siswa akan lebih merasa dihargai.

4.Bebaskan Gaya Belajarnya

Ada berbagai macam gaya belajar yang dipunyai oleh siswa, gaya belajar tersebut yaitu : visual, auditorial, dan kinestetik. Dalam Quantum Learning guru hedaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswa dan tidak terpaku pada satu gaya belajar saja.

5. Membiasakan Mencatat

Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika siswa tidak hanya bias menerima, melainkan bias mengungkapkan kembali apa yang diperoleh dengan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai gaya belajar siswa sendiri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan symbol-simbol atau gambar yang mudah dimengerti oleh siswa itu sendiri. Symbol-simbol tersebut dapat berupa tulisan atau kode-kode yang bias dimengerti siswa.

(26)

6. Membiasakan Membaca

Salah satu aktivitas yang cukup penting adalah membaca. Karena dengan membaca akan menambah perbendaharaan kata, pemahaman, menambah wawasan dan gaya ingatnya. Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca, baik buku pelajaran maupun buku-buku yang lain.

7. Jadikan Anak Lebih Kreatif

Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, suka mencoba dan senang bermain. Sikap kreatif memungkinkan siswa menghasilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.

8. Melatih Kekuatan Memori

Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar anak, sehingga anak perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik.

(27)

Tabel 2.1 Sintaks Penerapan Quantum Learning pada Pembelajaran Kegiatan Quantum

Learning

Perlakuan Guru Perlakuan Murid

Pendahuluan Kekuatan Ambak

(Apa Manfaat Bagiku)

Guru memberi motivasi belajar sebelum pembelajaran dimulai dengan memberi penjelasan manfaat apa saja setelah mempelajari suatu materi. Siswa menghayati dan merenungkan manfaat dan kegunaan belajar dari pelajaran yang telah dipelajari Penataan Lingkungan Belajar

Guru memutar musik latar saat pembelajaran berlangsung guna memberikan rasa santai siswa ketika mengikuti pelajaran. Musik yang digunakan adalah jenis musik klasik yaitu musik dari Mozart.

Siswa mendengar musik klasik dengan tenang dan santai dan tidak menimbulkan keributan pada proses pembelajaran. Kegiatan Inti Bebaskan Gaya Belajar

guru menggunakan beberapa gaya belajar disesuaikan dengan tingkat modalitas siswa yaitu modalitas visual, auditorial, dan kinestetik

Siswa

memperhatikan guru dengan gaya belajar yang digunakan oleh guru.

Membiasakan Mencatat

Guru menyuruh siswa agar membuat ringkasan materi yaitu dengan membuat catatan Tulis Susun (TS).

Siswa mencatat materi yang sudah dijelaskan guru

namun yang

ditulis hanya yang penting menurut siswa

Membiasakan Membaca

Guru menyuruh siswa untuk membaca buku pelajaran atau catatan yang sudah mereka catat sebelumnya

Siswa membaca buku atau catatan

yang sudah dicatat sebelumnya Melatih Kekuatan Memori peserta didik

Guru memberikan soal-soal dari media pembelajaran yang dilaksanakan secara serempak oleh siswa tanpa melihat buku.

Siswa

mengerjakan soal-soal dari media pembelajaran yang

dilaksanakan secara serempak tanpa melihat

(28)

buku. Memupuk Sikap

Juara

memberikan penghargaan baik berupa tepuk tangan atau pujian maupun berupa hadiah kepada siswa yang mampu menjawab pertanyaan dari guru dan siswa yang memperoleh nilai tertinggi dalam mengerjakan soal latihan yang terdapat dalam media pembelajaran.

Siswa merasa lebih dihargai dan termotivasi serta memacu minat belajar siswa itu sendiri

Penutup Jadikan anak lebih kreatif

Guru memberikan kesempatan kepada siswa menyimpulkan hasil pembelajaran serta peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.

Siswa

menyimpulkan hasil

pembelajaran serta peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan. Sumber: Megawati (2014: 20) B. Penelitian Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Megawati (2015:28), di mana hasil penelitiannya menunjukan bahwa melalui pembelajaran quantum learning dapat meningkatkanEfektivitas Pembelajaran Matematika Pada Siswa Kelas VII MTs. Muhammadiyah Tallo Makassar.

Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Muhammad ishak (2014: 28), di mana hasil penelitian yang menunjukan bahwa melalui pembelajaran Quantum Learning dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII smp negeri 4 Sinjai Utara .

(29)

C. Kerangka Pikir

Pentingnya seorang guru memasuki dunia atau kehidupan anak sebagai langkah awal dalam melaksanakan sebuah pembelajaran. Memahami dunia dan kehidupana anak, merupakan lisensi bagi para guru untuk memimpin, menuntun dan memudahkan perjalanan peserta didik dalam meraih hasil belajar yang optimal. Hal ini tergantung dari metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Jadi metode yang perlu dikembangkan sebagai alternatif yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan agar proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien adalah model yang benar-benar melibatkan siswa secara aktif selama proses belajar mengajar berlangsung.

Dengan demikian, salah satu bentuk kreatifitas dan inovasi bentuk pengajaran guru adalah dengan diterapkannya metode Quantum Learning. Pembelajaran quantum didasarkan pada anggapan bahwa semua kehidupan merupakan energi yang dapat diubah menjadi cahaya. Maksudnya interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah guru dan peserta didik menjadi cahaya yang bermanfaat bagi kemajuan mereka dalam belajar secara efektif dan efesien.

(30)

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir

D. Hipotesis Penelitian 1. Hipotesis Mayor

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pikir yang telah dikemukakan, maka hipotesis dari penelitian ini yaitu penerapan Quantum Learning efektif di terapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar.

Kondisi Awal

Guru belum melaksanakan proses pembelajaran menggunakan

metodeQuantum Learning l

Siswa kurang aktif menerima pelajaran, masih rendahnya motivasi siswa untuk belajar serta siswa cenderung susah untuk memahmi pelajaran.

Penerapan Metode Quantum Learning Tindakan

Dengan menerapkan Metode Quantum Learning akan mengefektifkan pembelajaran matematika pada siswa Kondisi Akhir

Efektif Tidak Efektif

(31)

2. Hipotesis Minor

Hipotesis Minor 1 : ketuntasan hasil belajar matematika siswa

a. Rata – rata hasil belajar matematika siswa setelah di terapkan Quantum Learning pada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar minimal 70. b. Rata – rata nilai gain ternormalisasi setelah di terapkan Quantum learning

pada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar minimal 0,3 (kategori sedang)

c. Ketuntasan belajar matematika siswa dengan menggunakan Quantum Learning pada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar secara klasikal minimal 75%.

Hipotesis minor 2 : Aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika Aktivitas siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar dengan menerapkan Quantum learning minimal 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran matematika

Hipotesis minor 3 : Respon siswa dalam pembelajaran matematika Respon positif yang di tunjukkan siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar setelah diterapkan Quantum learning dalam pembelajaran matematika minimal 75%.

(32)

54

BAB III

METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian pra eksperimen untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika melalui metode Quantum Learning. Penelitian ini melibatkan satu kelompok/kelas yaitu kelompok eksperimen (percobaan), tidak ada perbandingan dengan kelompok perlakuan dibuat melalui metode Quantum Laerning.

2. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen one-group pretest-posttest design. Untuk menggunakan desain ini dalam studi kita tentang performansi akademik, kita dapat membandingkan tingkat akademik sebelum diberi perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan.

Model desainnya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Skema Desain Penelitian

Pre-test Variabel Post-test

O1 X O2

Sumber : Sugiyono (2016: 75 Keterangan:

O1= nilai pretest (sebelum diberi perlakuan Quantum learning) )

X = Adanya perlakuan atau eksperimen

(33)

3. Populasi dan sampel

a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar.

b. Sampel

Sampel adalah sebagai sebagian dari populasi, sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu (Margono, 2010: 121). Teknik sampling yang digunakan dalam menentukan sampel penelitian ini adalah Cluster Random Sampling. Dalam Sugiyono, (2015: 82), Cluster Random Sampling merupakan teknik pengambilan anggota sampel secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.

4. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk menyaring informasi yang diamati. Suatu instrumen harus teruji validitas dan realibilitasnya agar dapat memperoleh data yang valid dan realibel. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

a. TesHasil Belajar Matematika Siswa

Untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar matematika siswa terhadap materi yang telah diajarkan dengan menggunakan metode Quantum Learning, guru perlu menyusun suatu tes yang berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes tersebut kemudian diberikan kepada siswa. Penskoran hasil tes siswa menggunakan skala bebas yang tergantung dari bobot butir soal tersebut.

(34)

Untuk mengetahui/mengukur ketuntasan belajar siswa digunakan instrumen berupa tes hasil belajar. Tes ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa sebelum diterapkan Metode Quantum learning serta tingkat pemahaman siswa terhadap materi setelah diterapkan Metode Quantum Learning. Bentuk tes yang digunakan adalah soal essay dengan jumlah soal sebanyak 5. Namun sebelum tes hasil belajar itu di buat, terlebih dahulu di buatkan kisi – kisi agar masing – masing bagian dalam materi dapat terwakilkan secara proporsional dalam tes.

b. Lembar Observasi Aktivitas Siswa dalam pembelajaran Matematika

Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran matematika dengan menggunakanmetode Quantum Learning berlangsung. Pengambilan data aktivitas siswa dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung yang dilakukan oleh observer.

c. Angket Respon Siswa

Angket respon siswa digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai respon siswa terhadap pembelajaran yang digunakan. Respon siswa adalah tanggapan siswa terhadap pelaksanaan metode Quantum Learning. Angket respon siswa dirancang untuk mengetahui pendapat siswa mengenai kelebihan dan kekurangan metode Quantum Learning yang digunakan oleh peneliti dalam pembelajaran matematika. Angket respon siswa diberikan pada siswa setelahpenerapan metode Quantum Learning.

(35)

5.Tehnik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Data hasil belajar siswa dikumpul melalui pemberian tes hasil belajar matematika siswa yang dilakukan dengan dua kali tes, yaitu:

a. Tes awal (pretest) adalah tes yang dilaksanakan sebelum adanya perlakuan. Tes ini digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan awal siswa dalam pelajaran matematika.

b. Tes akhir (posttest) adalah tes yang dilaksanakan setelah perlakuan diberikan. Untuk mengetahui perbedaan kemampuan siswa dalam pelajaran matematika setelah mendapat perlakuan.

2. Data aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dikumpul melalui lembar observasi yang diberikan kepada observer untuk diiisi dengan cara menuliskan ceklist () sesuai keadaan yang diamati.

3. Data respon siswa terhadap pembelajaran matematika dikumpulkan dengan menggunakan angket yang diberikan kepada siswa setelah diterapkan Quantum Learning.

4. Data tentang keterlaksanaan pembelajaran matematika dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran. Data keterlaksanaan model pembelajaran diperoleh dengan melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru yang mengacu pada langkah-langkah model pembelajaran yang disesuaikan dengan RPP selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Observer mengisi lembar keterlaksanaan

(36)

modelpembelajaran dengan memberi tanda () sesuai dengan keadaan yang diamati. Observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. 6.Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh adalah dengan menggunakan analisis statistika deskriptif dan analisis inferensial.

a. Analisis Statistik Deskriptif

Menurut Sugiyono (2016: 207) menyatakan bahwa “statistika deskriptif adalah statistika yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi”.

Analisis statistika deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran umum data yang diperoleh yaitu nilai hasil belajar matematika siswa, aktivitas siswa selama pembelajaran, keterlaksanaan pembelajaran, serta respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Quantum Learning. Pengolahan datanya dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi, mencari nilai rata-rata, median, modus, variansi, dan standar deviasi untuk mendeskripsikan karakteristik variabel penelitian.

Analisis statistika deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan karakteristik hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan metode quantum

(37)

learning yang meliputi: nilai tertinggi, nilai terendah, nilai rata-rata, rentang, median, standar deviasi, dan tabel distribusi frekuensi.

Berikut di jelaskan tentang analisis statistik deskriptif yang di gunakan dalam penelitian ini:

1. Keterlaksanaan Pembelajaran

Teknik analisis data terhadap keterlaksanaan pembelajaran digunakan analisis rata-rata. Artinya tingkat keterlaksanaan pembelajaran dihitung dengan banyak aspek yang dinilai.Adapun pengkategorian keterlaksanaan pembelajaran digunakan kategori pada tabel berikut :

Table 3.2 Kategori Aspek Keterlaksanaan Pembelajaran

Sumber : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 2. Analisis Data Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan pemhaman materi matematika setelah diterapkan Quantum Learning.Data mengenai hasil belajar matematika siswa digambarkan mengenai nilai rata-rata, nilai maksimum, nilai minimum dan standar deviasi. Untuk keperluan analisis deskriptif pengkategorian hasil belajar

No. Interval skor Kategori

1. 2. 3. 4. 0,00 ≤ Nilai < 1,00 1,00 ≤ Nilai < 2,00 2,00 ≤ Nilai < 3,00 3,50 ≤ Nilai < 4,00 Kurang Cukup Baik Baik Sangat Baik

(38)

matematika mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional yaitu:

Tabel 3.3 Kategori Standar Hasil Belajar Siswa

Sumber : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Bariah,2016:31) Disamping itu hasil belajar siswa juga diarahkan pada pencapaian hasil belajar secara individual. Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan oleh sekolah yakni 70,00. Sedangkan ketuntasan klasikal tercapai apabila ≥ 75% siswa di kelas tersebut telah mencapai minimal 75,00.

Table 3.4 Kategori Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 26 Makassar

Skor Kategori Ketuntasan Belajar

0 ≤ × < 70 70 ≤ × ≤ 100

Tidak tuntas Tuntas

Sumber : Pusat Data Akademik SMP 26 Makassar

Skor Kategori 90 – 100 80 – 89 75 – 79 55 – 74 0 – 54 Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat renah

Ketuntasan belajar klasikal =

(39)

Selanjutnya untuk mengambil selisih antara nilai psttest dan pretest di gunakan skor gain ternormalisasi. Menurut Prichard ( Ibrahim, 2015 : 36) skor gain ternormalisasi yaitu perbandingan dari skor gain aktual dan skor gain maksimal. Skor gain yang di peroleh siswa sedangkan skor gain maksimal yaitu skor gain tertinggi yang mungkin di peroleh siswa. Gain menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa setelah pembelajaran di lakukan guru. Rumus indeks gain ternormalisasi menurut Meltzer (Ibrahim, 2015: 36) yaitu :

<g> =

Keterangan :

<g> = skor gain ternormalisasi T’ 1 = skor posttest

T 1 = skor pretest

Tmax = skor maksimum ideal.

Tabel 3.5 Klasifikasi Gain Ternormalisasi

Sumber : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Hasil belajar dikatakan efektif jika rata – rata gain ternormalisasi siswa minimal berada dalam kategori sedang atau lebih dari 0,29.

Koefisien Normalisasi Gain Klasifikasi

g > 0,7 0,3 < g ≤ 0,7 g ≤ 0,3 Tinggi Sedang Rendah

(40)

3. Analisis Data Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika

Data hasil pengamatan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung di analisis dengan menggunakan persentase.persentase pengamatan aktivitas siswa yaitu:

Sumber : Anggreni (2016:47)

Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini di katakan efektif apabila minimal 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

4. Analisis Data Respon Siswa

Data respon siswa yang di peroleh melalui angket analisis dengan menggunakan statistik deskriptif dengan presentase. Presentase dari setiap respon siswa di hitung dengan rumus :

Sumber : Anggraeni (2016: 47)

Respon siswa di katakan positif dalam penelitian ini jika rata – rata jawaban siswa terhadap pernyataan aspek positif diperoleh persentase ≥ 75%. b. Analisis Statistika Inferensial

Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t. Namun sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas.

x

100%

(41)

1) Uji Normalitas

Uji normalitas merupakan langkah awal dalam menganalisis data secara spesifik. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak.Pengujian normalitas bertujuan untuk melihat apakah data tentang hasil belajar matematika siswa setelah perlakuan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Untuk keperluan pengujian normalitas populasi digunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan hipotesis sebagai berikut:

H0: Data berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1: Data berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

Kriteria yang digunakan yaitu diterima H0 apabila nilai P ≥ α, dan H1

ditolak jika nilai P < α dimana α = 0,05. Apabila nilai P > α maka H0 diterima,

artinya data hasil belajar matematika setelah perlakuan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2) Pengujian Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis di gunakan untuk mengetahui dugaan sementara yang telah di paparkan hipotesis minor pada bab II.

1) Rata – rata hasil belajar siswa setelah di ajar dengan menggunakan metode Quantum Learning minimal 70. Secara statistik dapat di tulis sebagai berikut :

H0 : ≤70 versus H1 : >69,9

Keterangan :

(42)

Kriteria pengambilan keputusan adalah:

Ho ditolak jika P-Value< α dan Ho diterima jika P-Value> α, dimana α = 5%. Jika P-Value< α berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai KKM 70.

2) Rata – rata gain ternormalisasi siswa setelah di ajar dengan menggunakan metode Quantum Learning minimal 0,3 (kategori sedang). Secara klasikal dapat di tulis sebagai berikut:

H0 : ≤0,29versus H1 : >0,29

Keterangan:

: Parameter skor rata – rata gain ternormalisasi Kriteria pengambilan keputusan adalah:

Ho ditolak jika P-Value< α dan Ho diterima jika P-Value> α, dimana α = 5%. Jika P-Value< α berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai 0,30 ( kategori sedang ).

3) Ketuntasan belajar siswa setelah di ajar dengan menggunakan metode Quantum Learning secara klasikal minimal 75%.

H0 : ≤74,9versus H1 : >74,9

Keterangan :

: Proporsi ketuntasan belajar klasikal.

Kriteria pengambilan keputusan adalah: Ho ditolak jika Z-hitung>Z-tabel dan Ho

diterima jika Z-hitung≤Z-tabel dimana α = 5%. Jika Z-hitung>Z-tabel berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai 75%.

(43)

54

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial.

1. Hasil Analisis Deskriptif

Berikut ini akan diuraikan hasil analisis statistik deskriptif yaitu hasil observasi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, hasil belajar matematika siswa sebelum dan sesudah penerapan Quantum Learning serta peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkanQuantum Learning, hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika, dan hasil angket respons siswa terhadap pembelajaran matematika melalui penerapan Quantum Learningpada siswa kelas VII SMP Negeri 26Makassar. Deskripsi masing-masing hasil analisis tersebut diuraikan sebagai berikut:

a. Deskripsi Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran matematika melalui penerapan Quantum Learningselama 4 kali pertemuan ditunjukkan dalam tabel berikut.

abel 4.1 Pengamatan Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Melalui Penerapan Quantum Learning

ASPEK PENGAMATAN PERTEMUAN KE-

RATA-RATA KATEGO RI 1 2 3 4 5 6 Kegiatan Awal P R E T E S T P O S T T E S 1. Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan

4 4 4 4 4 Sangat

(44)

2. Guru mengajak peserta didik berdo’a sesuai dengan agama dan keyakinan masing – masing 3 3 3 3 T 3 Terlaksana 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 3 3 3 3 3 Terlaksana

4. Guru memotivasi siswa untuk belajar.

3 3 3 3 3 Terlaksana

Rata – rata 3,33 Sangat

Terlaksana Kegiatan Inti P R E T E S T P O S T T E S T 1. Guru menggunakan beberapa gaya belajar di sesuaikan dengan tingkat modalitas siswa yaitu modalitas visual,

auditorial, dan kinestetik.

4 4 4 4 4 Sangat

Terlaksana

2. Guru menyuruh siswa agar membuat ringkasan materi yaitu membuat catatan tulis susun (TS)

3 3 3 4 3,25 Sangat

Terlaksana

3. Guru menyuruh siswa untuk membaca buku atau catatan yang sudah

mereka catat

sebelumnya.

4 4 4 4 4 Sangat

Terlaksana

4. Guru memberikan soal – soal dari media pembelajaran yang di laksanakan secara serempak oleh siswa tanpa melihat buku

3 3 3 3 3 Terlaksana

5. Memberikan

penghargaan baik berupa tepuk tangan atau pujian maupun berupa hadiah kepada siswa yang

mampu menjawab

pertanyaan dari guru dan siswa yang memperoleh nilai tertinggi dalam mengerjakan soal latihan yang terdapat dalam

3 3 4 4 3,5 Sangat

(45)

media pembelajaran

Rata – rata 3,53 Sangat

Terlaksana Kegiatan Akhir P R E T E S T P O S T T E S T 1. Guru memberikan kesempatan kepada siswa menyimpulkan hasil pembelajaran serta peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah di lakukan.

4 4 4 4 4 Sangat

Terlaksana

2. Guru menyampaikan materi yang akan di pelajari pada pertemuan selanjutnya 2 3 3 3 2,75 Terlaksana 3.. Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam. 4 4 4 4 4 Terlaksana

Rata – rata 3,4 Sangat

Terlaksana

Rata-rata Keseluruhan 3,42 Sangat

Terlaksana

Pengamatan Suasana Kelas

1. Siswa antusias bekerja dalam mengerjakan soal

3 4 4 4 3,75 Sangat Terlaksana 2. Guru antusias melaksanakan pembelajaran. 3 4 4 4 3,75 Sangat Terlaksana

Rata – rata 3,75 Sangat

Terlaksana

Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan Quantum Learningpada kegiatan awal adalah 3,33 dengan kategori sangat terlaksana, rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan Quantum

(46)

Learningpada kegiatan inti adalah 3,53 dengan kategori sangat terlaksana, dan rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan Quantum Learningpada kegiatan akhir adalah 3,4 dengan kategori sangat terlaksana. Sehingga rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas dengan menggunakan Quantum Learninguntuk seluruh aspek yang diamati memperoleh nilai 3,42. Dalam kriteria kemampuan guru yang telah dipaparkan pada bab III, penilaian tersebut berada pada interval 3,00 <Nilai Rata-rata <4,00 yang dikategorikan sangat terlaksana.

b. Deskripsi Hasil Belajar Matematika

1) Deskripsi Hasil Belajar Matematika Siswa Sebelum Penerapan

Quantum LearningPretest

Data pretest atau hasil belajar matematika siswa sebelum diterapkan Quantum Learningpada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar disajikan secara lengkap pada lampiran D. Selanjutnya, analisis deskriptif terhadap nilai pretest dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.2 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Sebelum Diterapkan Quantum Learning(Pretest)

Statistik Nilai Subjek Skor ideal Skor tertinggi Skor terendah Rentang skor Rata-rata skor Standar Deviasi 29 100 77 15 62 45,79 16.63

Pada Tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar sebelum proses pembelajaran dengan menggunakan Quantum Learningadalah 45,79 dari skor ideal 100 yang mungkin dicapai siswa dengan standar deviasi 16,63. Skor yang dicapai siswa tersebar dari

(47)

skor terendah 15 sampai dengan skor tertinggi 77 dengan rentang skor 62. Jika hasil belajar matematika siswa di kelompokkan ke dalam 5 kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut.

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Sebelum Diterapkan Quantum Learning(Pretest)

No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

1. 2. 3. 4. 5. 0 ≤ x ≤ 59 60 ≤ x ≤ 69 70 ≤ x ≤ 79 80 ≤ x ≤ 89 90 ≤ x ≤ 100 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 22 2 5 0 0 75,86 6,89 17,24 0 0 Jumlah 29 100

Pada tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa dari 29 siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar, 22 siswa (75,86%) yang memperoleh skor pada kategori sangat rendah, siswa yang memperoleh skor pada kategori sedang ada 5 siswa (17,24%), siswa yang memperoleh skor pada kategori rendah ada 2 siswa (6,89%), dan tidak ada siswa yang memperoleh nilai dalam kategori tinggi dan sangat tinggi. Setelah skor rata-rata hasil belajar siswa sebesar 45,79 dikonversi kedalam 5 kategori diatas, maka skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar sebelum diajar dengan menggunakan Quantum Learningumumnya berada pada kategori sangat rendah.

Selanjutnya data pretest atau hasil belajar matematika siswa sebelum diterapkan Quantum Learningyang dikategorikan berdasarkan kriteria ketuntasan dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.

(48)

Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Sebelum Diterapkan Quantum Learning(Pretest)

Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 ≤ x ˂ 70 Tidak Tuntas 24 82,75

70 ≤ x ≤ 100 Tuntas 5 17,24

Jumlah 29 100

Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila memiliki nilai minimal 70. Dari tabel 4.4 diatas, terlihat bahwa jumlah siswa yang tidak memenuhi kriteria ketuntasan individu adalah sebanyak 24 orang atau 82,75% dari jumlah siswa, sedangkan siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan individu adalah sebanyak 5 orang atau 17,24% dari jumlah siswa. Dari deskripsi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar sebelum diterapkan Quantum Learningbelum memenuhi indikator ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal yaitu ≥ 75% dan tergolong sangat rendah.

2) Deskripsi Hasil Belajar Siswa setelah Penerapan Quantum LearningPostest

Data hasil belajar siswa setelah penerapan Quantum Learningpada siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar disajikan secara lengkap pada lampiran D, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut.

Tabel 4.5 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Setelah Diterapkan

Quantum Learning(Postest) Statistik Nilai Subjek 29 Skor ideal 100 Skor tertinggi 92 Skor terendah 50 Rentang skor 42

(49)

Rata-rata skor 81,34

Standar Deviasi 7,71

Pada tabel 4.5 di atas dapat dilihat bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar setelah dilakukan proses pembelajaran dengan menggunakan Quantum Learningadalah 81,34 dari skor ideal 100 yang mungkin dicapai oleh siswa, dengan standar deviasi 7,71. Skor yang dicapai oleh siswa tersebar dari skor terendah 50 sampai dengan skor tertinggi 92 dengan rentang skor 42. Jika hasil belajar matematika siswa dikelompokkan ke dalam 5 kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut.

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Setelah Diterapkan Quantum Learning(Postest)

No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

1. 0 ≤ x ≤ 59 Sangat Rendah 1 3,44 2. 60 ≤ x ≤ 69 Rendah 0 0 3. 70 ≤ x ≤ 79 Sedang 7 24,13 4. 80 ≤ x ≤ 89 Tinggi 18 62,06 5. 90 ≤ x ≤ 100 Sangat Tinggi 3 10,34 Jumlah 29 100

Pada tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa dari 29 siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar ada 1 siswa (3,44%) yang memperoleh skor pada kategori sangat rendah, siswa yang memperoleh skor pada kategori sedang ada 7 (24,13%), tidak ada siswa yang memperoleh skor pada kategori rendah,siswa yang memperoleh skor pada kategori tinggi ada 18 siswa (62,06%), siswa yang memperoleh skor pada kategori sangat tinggi ada 3 siswa (10,34%). Jika skor rata-rata hasil belajar siswa sebesar 81,34 dikonversi kedalam 5 kategori, maka skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar

(50)

setelah diajar dengan menggunakan Quantum Learningumumnya berada dalam kategori tinggi.

Kemudian untuk melihat persentase ketuntasan belajar matematika siswa setelah diterapkan Quantum Learningdapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.7 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Setelah Diterapkan Quantum Learning(Postest)

Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 ≤ x ˂ 70 Tidak Tuntas 1 3,44

70 ≤ x ≤ 100 Tuntas 28 96,55

Jumlah 29 100

Dari tabel 4.7 di atas terlihat bahwa siswa yang tidak tuntas sebanyak 1 orang (3,44%), sedangkan siswa yang memiliki kriteria ketuntasan individu sebanyak 28 orang (96,55%). Jika dikaitkan dengan indikator ketuntasan hasil belajar siswa, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar setelah diterapkan Quantum Learningsudah memenuhi indikator ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal yaitu ≥ 70%.

3) Deskripsi Normalized Gain atau Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Setelah Diterapkan Quantum Learning.

Data pretest dan postest siswa selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus normalized gain. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar setelah diterapkan Quantum Learningpada pembelajaran matematika. Hasil pengolahan data yang telah dilakukan (lampiran D), menunjukkan bahwa hasil normalized gain atau rata-rata gain ternormalisasi hasil belajar matematika siswa setelah diajar dengan menggunakan Quantum Learningadalah 0,65.

(51)

Untuk melihat persentase peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut.

Tabel 4.8 Deskripsi Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Setelah Diterapkan Quantum Learning

Nilai Gain Kategori Frekuensi Persentase (%)

g ≥0,70 Tinggi 8 27,58

0,30 ≤ g < 0,70 Sedang 12 41,37

g < 0,30 Rendah 9 31,03

Jumlah 29 100%

Berdasarkan tabel 4.8 di atas dapat dilihat bahwa ada 8 atau 27,58% siswa yang nilai gainnya berada pada intervalg≥ 0,70 yang artinya peningkatan hasil belajarnya berada pada kategori tinggi, ada 12 atau 41,37% siswa yang nilai gainnya berada pada interval 0,30 ≤ g<0,70 yang artinya peningkatan hasil belajarnya berada pada kategori sedang, dan ada 9 atau 31,03% siswa yang nilai gainnya berada pada interval g < 0,30 yang artinya peningkatan hasil belajarnya berada pada kategori rendah. Jika rata-rata gain ternormalisasi siswa sebesar 0,5 dikonversi kedalam 3 kategori di atas, maka rata-rata gain ternormalisasi siswa berada pada interval 0,30 ≤ g<0,70. Itu artinya peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar setelah diterapkan Quantum Learningumumnya berada pada kategori sedang.

c. Deskripsi Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika

Aktivitas siswa dengan menggunakan Quantum Learningselama 4 kali pertemuan ditunjukkan dalam tabel berikut

Gambar

Gambar  2.1 Skema Kerangka Pikir
Tabel  4.9  Persentase  Aktivitas  Siswa  yang  Belajar  Melalui  Penerapan  Quantum Learning
Tabel 4.10 Persentase Respon Siswa  Terhadap Pembelajaran Matematika

Referensi

Dokumen terkait

(3) Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh penerapan pendekatan tutorial terhadap hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 26 Makassar. Jenis penelitian ini adalah

Diketahui bahwa pada kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dan pada kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional.Pada

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII di SMP Negeri 4 Lamasi, Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian pra-eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui

Jenis penelitian ini adalah penelitian pre-eksperimen yang bertujuan untuk: (1) Mengetahui hasil implementasi metode hypnoteaching dalam pembelajaran matematika

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen bentuk One Group Pretest Postest Design yaitu sebuah eksperimen yang dalam pelaksanaannya hanya melibatkan

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui gambaran implementasi model kooperatif tipe Snowball Throwing dalam pembelajaran matematika siswa

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimental bentuk one group pretest posttest design yaitu eksperimen yang didalam pelaksanaannya hanya melibatkan satu kelas sebagai kelas

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pra- eksperimen dengan melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui keefektifan