EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT, DAN
SATISFACTION) PADA SISWA KELAS XI.IPS MA MUALLIMIN MUHAMMMADIYAH MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada jurusan Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH ASDAR NIM : 10536 4212 12
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2016
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT, DAN
SATISFACTION) PADA SISWA KELAS XI.IPS MA MUALLIMIN MUHAMMMADIYAH MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH ASDAR NIM : 10536 4212 12
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2016
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model Arias (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) Pada Siswa Kelas XI.IPS MA Muallimin Muhammmadiyah Makassar
Mahasiswa yang bersangkutan:
Nama Mahasiswa : ASDAR
NIM : 10536 4212 12
Program Studi : Pendidikan Matematika Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Setelah diperiksa dan diteliti, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan layak untuk diujikan.
Makassar, September 2016 Disetujui oleh,
Pembimbing I,
Dr. Hasaruddin Hafid, M.Ed.
Pembimbing II,
Sitti Fitriani Saleh, S.Pd., M.Pd.
Diketahui, Dekan FKIP
Universitas Muhammadiyah Makassar
Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum.
NBM. 858 625
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika
Mukhlis, S.Pd., M.Pd.
NBM. 955 732
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Jl. Sultan Alauddin (0411) 860 132 Makassar 90221
iv
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Asdar
NIM : 10536 4212 12
Program Studi : Pendidikan Matematika
Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) Pada Siswa Kelas XI.IPS MA Muallimin Muhammmadiyah Makassar
Dengan ini menyatakan bahwa:
Skripsi yang saya ajukan di depan Tim Penguji adalah ASLI hasil karya saya sendiri.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, September 2016 Yang Membuat Pernyataan
Asdar Disetujui oleh,
Pembimbing I,
Dr. H. Hasaruddin Hafid, M.Ed.
Pembimbing II
Sitti Fitriani Saleh, S.Pd., M.Pd.
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Jl. Sultan Alauddin (0411) 860 132 Makassar 90221
v
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
Kantor: Jl. Sultan Alauddin No. 259, (0411) 866132, Fax. (0411) 860132
v
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Asdar
Nim : 10536 4212 12
Jurusan : Pendidikan Matematika
Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) Pada Siswa Kelas XI.IPS MA Muallimin Muhammmadiyah Makassar
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi saya, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing, yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak melakukan penciplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi ini.
4. Apabila saya melanggar perjanjian saya seperti butir 1, 2, dan 3, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Makassar, November 2016 Yang Membuat Perjanjian
Asdar
vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Satu adalah tauhid dan aqidah yang benar Dua adalah ilmu yang bermanfaat
Tiga adalah ibadah yang sunnah
Empat adalah akhlak dan adab yang benar Dan, lima adalah sabar di atasnya Itulah prinsip hidup seorang muslim
Takdir itu telah ditentukan Tapi engkau tidak tahu takdirmu Maka, berusaha dan berdoalah Kemenangan ada ditanganmu Tak ada kata terlambat Untuk jadi yang lebih baik Hidup adalah pilihan
Memilih untuk menjadi mulia Atau, memilih untuk jadi hina dina Kaulah yang tentukan....
Masa depanmu ada ditanganmu
Dan masa depanmu ada pada pilihan hari ini Jangan salah memilih
Bismillah...
Ku Persembahkan Karya ini buat:
Pua’u (Ayahanda) dan Amma’u (Ibundaku) tercinta Luluare’u (saudaraku) tercinta Sahabat-sahabatku, serta keluarga besarku.
Terima kasih untuk segalanya.
Makassar, November 2016
vii ABSTRAK
ASDAR. 2016. Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) Pada Siswa Kelas XI.IPS MA Muallimin Muhammmadiyah Makassar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Pembimbing I Hasaruddin Hafid dan Pembimbing II Sitti Fitriani Saleh.
Jenis penelitian ini adalah penelitian Pra-Eksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) yang ditinjau dari ketercapaian ketuntasan belajar siswa, peningkatan hasil belajar siswa, aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, respon siswa dalam pembelajaran setelah diberikan perlakuan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction). Desain Penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttes design. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS pada MA Muallimin Muhammadiyah Makassar sebanyak 14 orang yang diberi perlakuan penerapan Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas yang diajar dengan menggunakan Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) memiliki nilai rata-rata 83,64 dengan skor ideal 100 dan standar deviasi sebesar 9,97. Ketuntasan belajar siswa setelah diajar dengan menggunakan Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) secara klasikal lebih dari 75% yaitu 92,86%. Rata-rata gain ternormalisasi siswa sebesar 0,76, maka rata-rata gain ternormalisasi siswa berada pada kategori tinggi. Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran sesuai dengan Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) dengan rata-rata persentase aktivitas aktif siswa adalah 87,18%. Respon siswa positif terhadap pembelajaran matematika dengan Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction). Hal ini dapat dilihat melalui rata- rata persentase respon siswa setelah pelaksanaan tindakan, 84,29% siswa yang memberikan respon positif dan 15,71% siswa yang memberikan respon negatif.
Terjadi peningkatan hasil belajar matematika setelah diajar dengan menggunakan Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) pada siswa kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar, hal ini dapat dilihat dari hasil yang diperoleh. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika siswa kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar.
Kata kunci : efektivitas, hasil belajar, dan model pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction)
viii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur atas izin dan petunjuk Allah SWT, sehingga skripsi dengan Judul : “Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) Pada Siswa Kelas XI.IPS MA Muallimin Muhammmadiyah Makassar” dapat diselesaikan. Pernyataan rasa syukur kepada Allah SWT atas apa yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan karya ini yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata dan dituliskan dengan kalimat apapun. Taklupa juga penulis panjatkan shalawat dan salam atas junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang senantiasa berada dalam panutan beliau untuk mencari kemaslahatan hingga akhir zaman.
Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tuaku Abdul Madjid dan Hadara yang tiada batas masa memberi selaksa harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus tak berpamrih, saudaraku Syukran, Fitriani, Mursyida, dan Muhammad Haikal yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat hingga akhir studi ini. Seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.
ix
Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada :
1. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Mukhlis, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Dr. Bahrun Amin, M.Hum., sebagai Penasehat Akademik yang telah membimbing selama perkuliahan.
5. Dr. Hasaruddin Hafid, M.Ed. sebagai Pembimbing I dan Sitti Fitriani Saleh, S.Pd., M.Pd., sebagai Pembimbing II, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan petunjuk serta koreksi dalam penyusunan skripsi, sejak awal hingga akhir penyusunan skripsi ini.
6. Nasrullah, S.Pd.,M.Pd. dan Jafaruddin, S.Pd.,M.Pd., sebagai validator yang telah meluangkan waktunya untuk memeriksa dan memberikan saran terhadap perbaikan instrument penelitian.
7. Seluruh Bapak dan Ibu dosen di Program Studi Pendidikan Matematika yang telah memberikan banyak ilmu dan berbagi pengalaman selama penulis menimba ilmu di Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Makassar.
x
8. Dahlan Sulaiman, S.Ag.,M.Pd.I. Kepala MA Muallimin Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah.
9. Nur Askar, S.Pd., Guru bidang studi pendidikan matematika dan selaku validator yang telah membantu penulis selama mengadakan penelitian tersebut.
10. Bapak/Ibu Guru serta seluruh staf tata usaha MA Muallimin Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan bantuan dan petunjuk selama ini.
11. Siswa-siswi MA Muallimin Muhammadiyah Makassar khususnya Kelas XI IPS atas kerjasama, motivasi serta semangatnya dalam mengikuti pelajaran.
12. Penasehat, Pembina, dan Pengurus LPKSM Makassar dan sahabat-sahabat Menara Group yang telah memberikan warna yang begitu indah dalam hidup penulis..
13. Rekan seperjuangan Program Studi Pendidikan Matematika Angkatan 2012 terkhusus kelas A 2012 Universitas Muhammadiyah Makassar, terima kasih atas solidaritas yang diberikan selama menjalani perkuliahan, semoga keakraban dan kebersamaan kita tidak berakhir sampai disini.
14. Semua pihak yang telah memberikan bantuan yang tidak sempat disebutkan satu persatu semoga menjadi ibadah dan mendapat imbalan dari-Nya.
Akhirnya, Tiada gading yang takretak, tak ada makhluk yang sempurna.
Demikian pula dalam penulisan skripsi ini, masih terdapat kekurangan yang tentunya membutuhkan perbaikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran, kritik, dan umpan balik yang bersifat membangun dari para pembaca.
xi
Tiada imbalan yang dapat diberikan oleh penulis, hanya kepada Allah SWT penulis menyerahkan segalanya dan semoga bantuan yang diberikan selama ini bernilai iba dah disisi-Nya Amin…
Makassar, Oktober 2016
Penulis
xii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 7
A. Kajian Pustaka ... 7
B. Kerangka Pikir ... 28
C. Hipotesis Penelitian ... 30
BAB III METODE PENELITIAN ... 32
A. Jenis Penelitian ... 32
B. Variabel dan Desain Penelitian ... 32
C. Populasi dan Sampel ... 33
D. Defenisi Operasional Variabel ...33
E. Prosedur Penelitian... 34
F. Instrumen Penelitian... 36
G. Teknik Pengumpulan Data ... 37
H. Teknik Analisis Data ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 45
A. Hasil Penelitian ... 45
xiii
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 61
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 67
A. Kesimpulan ... 67
B. Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 69 LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Kategorisasi Standar Hasil Belajar Siswa
... 39
3.2 Kategorisasi Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar ... 39
3.3 Kriteria Tingkat Gain Ternormalisasi ... 40
3.4 Kategori Kemampuan Guru ... 42
4.1 Deskripsi Pretest Skor Hasil Belajar Matematika ... 45
4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Pretest Kategori Aspek Keterlaksanan Pembelajaran ... 46
4.3 Deskripsi Skor Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Menggunakan Model Pembelajaran ARIAS ... 47
4.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa yang diajar dengan Model Pembelajaran ARIAS (posttest) ... 47
4.5 Deskripsi Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar Pada Posttest Dengan Model Pembelajaran ARIAS ... 48
4.6 Deskriptif Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Setelah Diterapkan Model Pembelajaran ARIAS . ... 49
4.7 Deskripsi Aktivitas aktif Siswa yang Diajar Melalui Model Pembelajaran ARIAS ... 50
4.8 Deskriptif Aktivitas Pasif Siswa yang Belajar Melalui Model Pembelajaran ARIAS ... 52
4.9 Pengamatan Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan Model Pembelajaran ARIAS ... 53
4.10 Deskripsi Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan Model Pembelajaran ARIAS ... 56
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Skema Kerangka Pikir ... 30
xvi
DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN A
1 RencanaPelaksanaanPembelajaran (RPP) 2 Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
3 Daftar Hadir Siswa 4 Daftar Nama Kelompok 5 Jadwal Pelaksanaan Penelitian LAMPIRAN B
1 Instrumen Tes Hasil Belajar 2 Kisi-Kisi Tes Hasil Belajar LAMPIRAN C
1 Intrumen Lembar Observasi Aktivitas Siswa 2 Instrumen Lembar Observasi Keterlaksanaan
Pembelajaran
3 Instrumen Angket Respon Siswa LAMPIRAN D
1 Nilai Tes hasil Belajar
2 Analisis Data Hasil Belajar Siswa Pretest, Posttest 3 Analisis Data Tes Hasil Belajar Pretest dan Posttest
melalui Program SPSS 16
4 Hasil Analisis Data Aktifitas Siswa
5 Hasil Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran 6 Hasil Analisis Data Respon Siswa
LAMPIRAN E
1 Lembar Jawaban Tes Hasil Belajar Siswa 2 Lembar Observasi Aktivitas Siswa
3 Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran 4 Angket Respon Siswa
LAMPIRAN F
1 Persuratan 2 Validasi 3 Dokumentasi
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam upaya pengembangan kualitas manusia Indonesia, patokan minimal yang harus dicapai adalah tumbuhnya kemampuan berpikir logis dan sikap kemandirian dalam diri peserta didik. Untuk itu, sistem pembelajaran yang mengutamakan matematika dan ilmu pengetahuan dasar lainnya menjadi prasyarat bagi proses pendidikan untuk membentuk manusia yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Mengingat pentingnya peranan matematika tersebut, maka pengajaran matematika diberbagai jenjang pendidikan formal harus mendapat perhatian khusus yang sungguh-sungguh. Para siswa sekolah menengah termasuk sekolah lanjutan pertama mutlak dituntut untuk menguasai pelajaran matematika, lebih- lebih lagi untuk lanjutan atas.
Dunia pendidikan saat ini sedang dihadapkan pada dua masalah besar, yaitu mutu pendidikan yang rendah dan sistem pembelajaran di sekolah yang kurang memadai. Dua hal tersebut sangat bertentangan dengan tuntutan era globalisasi yang menuntut pendidikan agar memiliki pendidikan yang tanggap terhadap situasi persaingan global dan dapat membentuk pribadi yang mampu belajar seumur hidup.
Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan psikologis (misalnya kecerdasan motivasi berprestasi
1
2
dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan instrumental (misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran).
Menurut Bloom (Rahman dan Sofan Amri, 2014) bahwa tujuan pembelajaran harus mengacu pada tiga dominan (kawasan pembinaan) untuk pengembangan pribadi anak, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tiga dominan tersebut dapat menunjang keberhasilan peserta didik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan dan menyangkut model pembelajaran yang digunakan. Sering ditemukan di lapangan bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa rendah. Timbul pertanyaan apakah mungkin dikembangkan suatu model pembelajaran yang sederhana, sistematik, bermakna dan dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik.
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 10 Oktober 2015 bahwa masalah yang dihadapi siswa selama proses belajar mengajar berlangsung, yaitu 1) Umumnya siswa kurang aktif dan kurang partisipasi dalam proses pembelajaran, 2) Kurang memiliki rasa percaya diri yang tinggi sehingga siswa kurang memiliki keberanian untuk mengajukan dirinya untuk menyelesaiakan soal di papan tulis, 3) Siswa tidak merasa adanya manfaat pemberian PR karena tidak disertai dengan pemberian umpan balik, 4) Siswa tidak dapat melihat hubungan antara materi
3
pelajaran dengan kehidupan nyata, 5) Siswa cenderung cepat bosan memperhatikan pelajaran kemudian cerita dengan pasangan duduknya dan lebih jauh dari itu ada kesan bahwa siswa menganggap belajar matematika hanya merupakan suatu beban dan kurang manfaatnya, sehingga diduga hal ini merupakan penyebab rendahnya hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa.
Pola atau model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran harus dapat membuat matematika terasa mudah dan menyenangkan. Pembelajaran matematika hendaknya dikaitkan seoptimal mungkin dengan kehidupan nyata sehingga bermakna dalam kehidupan siswa dan tidak terlalu abstrak, mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran, memberi kesempatan pada siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar mengajar, mengadakan evaluasi dan umpan balik serta memberi penguatan pada siswa. Dalam pembelajaran matematika, hasil dan pola pembelajaran seperti yang dikemukakan diatas tentu tidak diharapkan karena tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika yang dapat membuat matematika terasa mudah dan menyenangkan.
Berkenaan dengan hal itu, penulis ingin meneliti salah satu model pembelajaran yang disebut model pembelajaran ARIAS. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rahman dan Sofan Amri (2014: 54) bahwa model pembelajaran ARIAS terdiri dari 5 komponen, yaitu assurance, relevance, interest, Assessment, dan satisfaction. Komponen pertama model pembelajaran ARIAS adalah assurance (percaya diri), ini berarti bahwa usaha pertama yang dilakukan guru adalah menanamkan rasa percaya diri pada siswa. Komponen kedua adalah
4
relevance (relevansi), kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang maupun pengalaman yang telah dimiliki.
Komponen ketiga adalah interest (minat/perhatian), guru harus berusaha membangkitkan dan memelihara minat/perhatian siswa yang memungkinkan mereka terlibat secara fisik dan mental dalam kegiatan pembelajaran. Komponen keempat adalah Assessment (evaluasi), guru perlu mengadakan evaluasi sejauhmana kemajuan yang dicapai siswa. Komponen kelima adalah satisfaction (rasa puas dan bangga), ini berhubungan dengan rasa bangga dan puas atas hasil yang dicapai. Model pembelajaran ARIAS ini dapat digunakan oleh guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, dan sebagai suatu alternatif dalam usaha meningkatkan hasil belajar .
Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengangkat permasalahan dengan judul “Efektivitas pembelajaran matematika melalui model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) pada Siswa kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Apakah model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar?”
5
Indikator Keefektifan pembelajaran ditinjau dari empat aspek yaitu:
1. Seberapa besar hasil belajar siswa ?
2. Bagaimana aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran ? 3. Bagaimana keterlaksanaan pembelajaran ?
4. Bagaimana respon siswa terhadap proses pembelajaran ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan pembelajaran matematika melalui model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) pada siswa kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar, ditinjau dari:
1. Seberapa besar hasil belajar siswa yang dicapai melalui model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) ?
2. Bagaimana aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction)?
3. Bagaimana keterlaksanaan pembelajaran dengan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction)?
4. Bagaimana respon siswa terhadap proses pembelajaran dengan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction)?
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
6
1. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian dan memberikan gambaran kepada peneliti sebagai calon guru tentang pembelajaran di sekolah sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengembangan ide-ide dalam rangka perbaikan pembelajaran. Dan Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian lanjutan tentang hal-hal yang terkait dengan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction)?
2. Bagi guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternative untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran. Dengan peningkatan efektivitas belajar mengajar diharapkan juga akan meningkatkan prestasi belajar.
3. Bagi siswa
Diharapkan penelitian ini memberikan pemahaman yang kuat tentang materi matematika dan pemahaman tersebut dapat tersimpan lama dalam memori siswa.
4. Bagi sekolah
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk penelitian lebih lanjut.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Pustaka
1. Efektivitas Pembelajaran
Istilah efektivitas pada umumnya menyangkut satu atau letak harapan yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan sedangkan efektivitas suatu kegiatan tergantung terlaksana atau tidak perencanaan atau sasaran yang telah ditargetkan secara khusus dalam konteks pengajaran disekolah lanjutan. Sasaran yang dimaksud dapat ditunjukkan melalui sejumlah indikator misalnya penguasaan siswa serta hasil akademik lainnya setelah proses pelajaran selesai.
Menurut Hamzah dan M. Nurdin (2013: 29) pada dasarnya efektifitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Untuk mengukur efektifitas dari suatu tujuan pembelajaran dapat dilakukan dengan menentukan seberapa jauh konsep-konsep yang telah dipelajari dan dipindahkan (transferabilitas) kedalam mata pelajaran selanjutnya atau penerapan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Sadiman (Trianto, 2011) menyatakan bahwa keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar.
Menurut Suprijono (2009: xi) bahwa efektifitas pembelajaran merujuk pada berdaya dan berhasil guna seluruh komponen pembelajaran yang diorganisir untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran efektif mencakup keseluruhan tujuan pembelajaran baik yang berdimensi mental, fisik, maupun sosial.
7
8
Pembelajaran efektif memudahkan peserta didik untuk belajar sesuatu yang bermanfaat.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa efektifitas merupakan ukuran berdaya dan berhasil guna komponen pembelajaran yang dijadikan acuan untuk mengetahui seberapa jauh tercapainya tujuan pembelajaran oleh peserta didik.
Menurut Miarso (Bambang Warsita, 2008) bahwa pembelajaran yang efektif adalah belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik, melalui pemakaian prosedur yang tepat. Pengertian ini mengandung dua indikator, yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang dilakukan guru.
Menurut Hastuti (2013: 8) ada empat aspek yang harus diperhatikan untuk mengetahui keefektifan suatu pembelajaran yaitu:
a. Hasil Belajar Siswa
Belajar merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Menurut Morgan (Suprijono, 2009) bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman.
Menurut Gagne (Aunurrahman, 2011) ada 5 macam hasil belajar, yakni : a. keterampilan intelektual, atau pengetahuan prosedural yang mencakup belajar konsep, prinsip dan pemecahan masalah yang diperoleh melalui penyajian materi di sekolah. b. Strategi kognitif c. Informasi verbal d. Keterampilan motorik e.
Sikap.
9
Menurut Hamalik (2011:30) bahwa hasil dan bukti belajar adalah adanya perubahan tingkah laku orang yang belajar. Sedangkan Trianto (2011: 257) berpendapat bahwa hasil belajar pada hakikatnya merupakan pencapaian kompotensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak, serta merupakan akibat dari suatu proses belajar.
Hasil belajar yang dicapai oleh seorang dapat menjadi indikator tentang batas kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap atau nilai yang dimiliki oleh seseorang itu dalam suatu pelajaran. Dalam kaitannya dengan usaha belajar, hasil belajar ditunjukkan oleh tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa terhadap materi yang diajarkan setelah kegiatan belajar berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu.
Pendapat lain dipaparkan oleh Aunurrahman (2011: 36) bahwa hasil belajar diartikan sebagai terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan-perubahan tersebut berkenaan dengan aspek psikomotorik, aspek afektif dan perubahan berpikir. Perubahan tingkah laku maupun pemahaman yang diperoleh melalui hasil belajar, itulah disebut hasil belajar atau dengan kata lain hasil belajar adalah kemampuan menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang telah dipelajari. Sedangkan hasil belajar matematika yang dimaksud adalah kemampuan atau penguasaan materi yang telah dikuasai siswa setelah kegiatan belajar mengajar matematika.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dapat dinyatakan sebagai tingkat penguasaan bahan pelajaran matematika setelah
10
mendapatkan atau memperoleh pengalaman belajar dalam kurun waktu tertentu yang dapat diukur dengan menggunakan tes atau penilaian tertentu yang dicirikan dengan adanya perubahan kemampuan yang meliputi bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Ketuntasan belajar siswa ditandai dengan nilai hasil belajar siswa berada di atas nilai KKM yang ditetapkan sekolah yang bersangkutan khususnya untuk mata pelajaran matematika. Sedangkan ketuntasan belajar suatu kelas (ketuntasan klasikal) tercapai apabila ≥ 85% siswa di kelas tersebut telah mencapai skor paling sedikit 75.
b. Aktivitas siswa
Dalam proses pembelajaran, keaktifan peserta didik merupakan hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan oleh guru sehingga proses pembelajaran yang ditempuh benar-benar memperoleh hasil yang optimal. Dengan bekerja siswa memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan serta perilaku lainnya, termasuk sikap dan nilai.
Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas, sebetulnya sudah banyak melibatkan akademik aktivitas siswa di dalam kelas. Siswa sudah banyak dituntut aktivitasnya untuk mendengarkan, memperhatikan dan mencerna pelajaran yang diberikan oleh guru. Serta dimungkinkan siswa aktif bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum jelas.
Menurut Samuel Soetopo (1982: 52) bahwa aktivitas adalah usaha untuk mencapai atau untuk memenuhi kebutuhan. Arti kata aktivitas dalam KBBI adalah segala bentuk kegiatan, keaktifan dan kesibukan seseorang untuk melakukan sesuatu.
11
Menurut Wijaya (2007: 12) bahwa aktivitas siswa adalah keterlibatan intelektual dan emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar, asimilasi (menyerap) dan akomodasi (menyesuaikan) kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan, serta pengalaman langsung dalam pembentukan sikap dan nilai.
Menurut Oemar Hamalik (2009:28) bahwa aktivitas belajar siswa merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan belajar yang harus dilaksanakan dengan giat, rajin, selalu berusaha dengan sungguh-sungguh melibatkan fisik maupun mental secara optimal supaya mendapat prestasi yang gemilang.
Tujuan pembelajaran akan tercapai apabila siswa aktif membangun pengetahuannya dalam pembelajaran. Karena itu keefektifan juga dipengaruhi oleh aktivitas siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran dikatakan efektif apabila siswa secara aktif dilibatkan dalam pengorganisasian dan penentuan informasi (pengetahuan). Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini ditunjukkan apabila sudah lebih banyak siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran dibanding siswa yang tidak aktif.
c. Aktivitas guru
Aktivitas guru adalah kegiatan yang dilakukan guru selama proses pembelajaran. Dalam proses belajar-mengajar, guru mempunyai tugas untuk memberikan pengetahuan (cognitive), sikap dan nilai (affective), dan keterampilan (psychometer) kepada anak didik. Dengan kata lain tugas guru yang utama
12
terletak di lapangan pengajaran. Pengajaran alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai aktivitas guru dalam pembelajaran sebagai suatu proses dinamis dalam segala fase dan perkembangan siswa.
Menurut Rusman, (2012:59) ada beberapa aktivitas guru yang terdapat dalam proses pembelajaran, antara lain :
1) Mengatur alokasi waktu berkenaan dengan berlangsungnya proses pembelajaran.
2) Memberikan dorongan kepada siswa agar tumbuh semangat untuk belajar, sehingga minat belajar tumbuh kondusif dalam diri siswa.
3) Melaksanakan diskusi dalam kelas. Diskusi adalah wahana yang tepat untuk menciptakan dan menumbuhkan siswa yang kreatif dan produktif serta terlatih berargumentasi secara sehat serta terbiasa menghadapi perbedaan.
4) Mengamati siswa. Mengacu pada hasil pengamatan ini guru dapat mengatahui siswa mana yang membutuhkan pembinaan lebih.
5) Memberikan informasi lisan maupun tulisan dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti siswa.
6) Memberikan masalah untuk dicari solusi pemecahannya, sehingga siswa dapat menggunakan daya pikir dan daya nalarnya secara maksimal.
7) Mengajukan pertanyaan dan memberikan respon terhadap pertanyaan yang diajukan siswa.
13
8) Menggunakan media/alat peraga.
Proses pembelajaran dikatakan efektif jika pelaksanaannya berjalan dengan baik. Dimana guru mampu menciptakan suasana belajar yang baik, proses pembelajaran yang mampu menarik perhatian siswa sehingga siswa pun dapat menyerap pelajaran dengan baik pula. Aktivitas guru mengelola pembelajaran yang dinilai adalah aktivitas guru dalam melaksanakan setiap tahap-tahap pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung. Pengelolaan pembelajaran dikatakan efektif jika aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran minimal telah mencapai kriteria baik.
d. Respon siswa
Respons menurut teori J.B. Waston (Sumadi Suryabrata, 2002) merupakan suatu reaksi objektif dari individu terhadap situasi sebagai perangsang yang wujudnya dapat bermacam-macam seperti reflek patella, memukul bola, mengambil makanan, menutup pintu, dan sebagainya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, respons juga dapat diartikan sebagai tanggapan. Menurut Baharuddin (2009: 104) tanggapan merupakan salah satu fungsi kejiwaan yang dapat diperoleh individu setelah pengamatan selesai dilakukan. Senada dengan Baharuddin, Wasty Soemanto (2006: 25) mendefinisikan tanggapan sebagai bayangan yang menjadi kesan yang dihasilkan dari pengamatan.
Menurut Ismail Farid (2010) yang dimaksud dengan respons siswa adalah tanggapan orang-orang yang sedang belajar termasuk didalamnya mengenai pendekatan atau strategi, faktor yang mempengaruhi, serta potensi yang ingin
14
dicapai dalam belajar. Ketercapaian potensi yang diinginkan dalam belajar dapat diukur dari ketercapaian tujuan belajar.
Respon siswa merupakan salah satu kriteria suatu pembelajaran dikatakan efektif atau tidak. Respon siswa dibagi dua, yaitu respon positif dan respon negatif. Respon siswa yang positif merupakan tanggapan perasaan senang, setuju, atau merasakan ada kemajuan setelah pelaksanaan suatu model, pendekatan, atau model pembelajaran. Sedangkan respon siswa yang negatif adalah sebaliknya.
Kriteria respon siswa dikatakan positif dalam penelitian ini adalah apabila siswa yang memberi respon positif sudah lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang memberi respon negatif terhadap sejumlah aspek yang ditanyakan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini yang dimaksud dengan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) yang dikatakan efektif jika memenuhi minimal tiga dari empat indikator keefektifan pembelajaran dengan syarat aktivitas guru dan hasil belajar siswa harus terpenuhi.
2. Hakekat Matematika
Matematika merupakan ilmu yang mempunyai ciri khas bila dibandingkan dengan ilmu lain. Matematika pada proses produktif yang memerlukan penalaran logis dan aksiomatik. Hal ini sejalan dengan pendapat Jailani (Hamzah dan Masri Kuadrat, 2009) yang mengemukakan bahwa matematika mencapai kekuatannya melalui simbol-simbolnya, tata bahasa dan kaidah bahasa (sintax) pada dirinya, serta mengembangkan pola berpikir kritis, aksiomatik, logis, dan deduktif.
15
Menurut Russel (Hamzah dan Masri Kuadrat, 2009) mendefenisikan bahwa matematika sebagai suatu studi yang dimulai dari pengkajian bagian- bagian yang sangat dikenal menuju arah yang tidak dikenal. Arah yang dikenal itu tersusun baik (konstruktif), secara bertahap menuju arah yang rumit (kompleks), dari bilangan bulat ke bilangan pecah, bilangan riil ke bilangan kompleks, dari penjumlahan dan perkalian ke diferensial dan integral, dan menuju matematika yang lebih tinggi.
Dari berbagai pendapat tentang matematika yang telah dikemukakan oleh para ilmuan, maka dapat ditarik suatu karakteristik matematika itu sendiri seperti yang dikemukakan oleh Nesher (Hamzah dan Masri Kuadrat, 2009) konsep karasteristik matematika sebagai berikut:
a. Dapat Mengemunikasikan ide matematika melalui bahasa numerik.
b. Dengan bahasa numerik, memungkinkan seseorang untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif.
c. Sifat kekuantitatifan matematika dapat memudahkan seseorang dalam menyikapi masalah.
d. Dalam memecahkan masalah matematika selalu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak.
Matematika merupakan proses psikologi, mempelajari matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan, operasi-operasinya melainkan berkenaan juga dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan yang diatur secara logis. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga
16
kaitan antara konsep pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa matematika memiliki objek kajian yang bersifat abstrak berupa konsep, faktor, operasi, dan prinsip. Objek kajian matematika tersebut tersusun secara hirarki mulai dari yang sederhana sampai yang paling kompleks dan penalarannya deduktif. Dalam kedudukan sebagai ilmu, matematika merupakan tiang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Model Pembelajaran ARIAS a. Pengertian ARIAS
Model pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari metode ARCS.
Metode ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller dan Kopp sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang mempengaruhi hasil belajar. Menurut Bohlin (Rahman dan Sofan Amri, 2014) model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan pengalaman nyata para instruktur. Namun demikian, pada model ini tidak ada evaluasi (Assessment), padahal evaluasi merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi perlu dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung. Berdasarkan hal tersebut DeCeco (Rahman dan Sofan Amri, 2014) mengungkapkan bahwa ”evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui sampai sejauhmana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh siswa”. Mengingat pentingnya evaluasi (Assessment),
17
maka model pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen evaluasi pada model pembelajaran tersebut.
Dengan modifikasi tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu attention (minat/perhatian), relevance (relevansi), confidence (percaya/yakin), satisfaction (kepuasan/bangga), dan Assessment (evaluasi). Modifikasi juga dilakukan dengan penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self- confidence. Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu dan dapat berhasil.
Demikian juga kata attention menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat atau perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna, maka urutannya pun dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, Assessment, dan satisfaction.
Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya diri pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberi penguatan. Dengan mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata ARIAS
18
sebagai akronim. Oleh karena itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran ARIAS.
b. Komponen Model pembelajaran ARIAS
Seperti yang telah dikemukakan model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen (assurance, relevance, interest, assessment, dan stisfaction).
Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk membangkitkan dan meningkatkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
1) Assurance (percaya diri)
Dalam masalah ini percaya diri yang dimaksud adalah rasa percaya diri pada siswa. Hal ini berkaitan dengan sikap percaya atau yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil. Menurut Petri (Rahman dan Sofan Amri, 2014) bahwa sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan.
Sedangkan, menurut Prayitno (Rahman dan Amri, 2013) siswa yang memiliki rasa percaya diri memiliki penilaian positif tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus menerus. Dengan demikian, betapa pentingnya bagi guru untuk menanamkan sikap percaya diri ini pada siswa guna mendorong dan memotivasi diri mereka untuk berhasil dan berprestasi secara optimal sehingga mampu bersaing dengan teman-temannya dalam pembelajaran.
19
Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa adalah.
a) Memberikan materi matematika secara sistematis, dari yang mudah ke yang sukar dan dari yang konkret ke abstrak, sehingga kemampuan siswa mengikuti pelajaran termotivasi sejak awal kegiatan.
b) Menyampaikan tujuan/kompetensi yang ingin dicapai dari pembelajaran, sehingga arah dan tujuan kegiatan jelas bagi siswa.
c) Tumbuh kembangkan rasa percaya diri pada siswa, dengan tidak mengatakan “kamu bodoh”, atau “ kamu salah” , akan tetapi guru dapat menggunakan kata lain jika jawaban siswa salah dengan “mungkin masih ada jawaban lain” atau “jawaban kamu sudah hampir tepat” dan sebagainya d) Memberikan umpan balik yang membangun selama pembelajaran, agar
siswa mengetahui pemahaman dan prestasi belajar mereka selama ini.
2) Relevance (relevansi)
Relevance yaitu berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang. Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka.
Pengertian relevansi antara lain menunjukkan adanya hubungan bahan ajar dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Pembelajaran matematika sering kali dirasakan “kering dari makna dan tidak membumi”. Guru seringkali kurang menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Pemberian materi
20
cenderung abstrak, siswa seringkali tidak tahu tentang manfaat dan kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Padahal motivasi siswa akan terpelihara jika mereka menganggap bahwa apa yang mereka pelajari dapat bermanfaat dan sesuai dengan anggapan mereka selama ini.
Dalam kegiatan pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
a) Mengemukakan tujuan atau sasaran yang akan dicapai.
b) Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa sekarang atau untuk berbagai aktivitas di masa mendatang.
c) Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai-nilai yang dimiliki siswa. Pengalaman nyata atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat menjembataninya ke hal-hal baru.
3) Interest (minat/perhatian)
Komponen ketiga model pembelajaran ARIAS adalah interest, yaitu aspek yang berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Menurut Woodruuf (dalam Rahman dan Amri, 2014) bahwa sesungguhnya belajar tidak terjadi tanpa ada minat/perhatian. Menurut Keller (Rahman dan Amri, 2014) menyatakan bahwa dalm kegiatan pembelajaran minat atau perhatian tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
21
Membangkitkan dan memelihara minat/perhatian, merupakan usaha menumbuhkan keingintahuan siswa yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Minat/perhatian merupakan alat yang sangat berguna dalam usaha mempengaruhi hasil belajar siswa. Beberapa usaha yang dapat digunakan untuk membangkitkan dan menjaga minat/perhatian siswa antara lain adalah.
a) Menggunakan cerita, analogi, sesuatu yang baru, dan menampilkan sesuatu yang lain dari biasanya dalam pembelajaran.
b) Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran.
c) Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran.
4) Assessment (evaluasi)
Assessment merupakan suatu bentuk evaluasi selama proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir. Menurut Lefrancois (Rahman dan Amri, 2014) bahwa evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan murid.
Bagi siswa, menurut Hopkins dan Antes (dalam Rahman dan Amri, 2014) evaluasi merupakan umpan balik tentang kelebihan dan kelemahan yang dimiliki, dapat mendorong belajar lebih baik dan meningkatkan motivasi berprestasi. Evaluasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang mereka capai.
Agar evaluasi yang diberikan dapat memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan, maka evaluasi harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip
22
yang tepat. Menurut Arikunto (Rahman dan Amri, 2014) ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen, antara tujuan, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi.
Oleh karena itu, untuk mempengaruhi hasil belajar siswa, evaluasi perlu dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan evaluasi antara lain adalah:
a) Mengadakan evaluasi dan memberi umpan balik terhadap kinerja siswa.
b) Memberikan evaluasi yang obyektif dan adil serta segera menginformasikan hasil evaluasi kepada siswa.
c) Memberikan kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri.
d) Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman.
5) Satisfaction (penguatan)
Komponen kelima model pembelajaran ARIAS adalah satisfaction yaitu yang berhubungan dengan rasa bangga, puas atas hasil yang dicapai. Dari teori belajar satisfaction adalah penguatan. Dari hal tersebut Skinner menyatakan bahwa penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga atas keberhasilan tersebut, hal itulah yang menjadi penguat bagi siswa untuk mencapai keberhasilan berikutnya.
Memberikan penghargaan merupakan suatu penguatan dalam kegiatan pembelajaran. Penguatan akan berbekas pada diri anak. Mereka yang mendapat
23
pujian setelah berhasil menyelesaikan tugas atau menjawab pertanyaan, biasanya akan berusaha memenuhi tugas berikutnya dengan penuh semangat.
Penguatan yang berbentuk hadiah atau pujian akan memotivasi anak untuk rajin belajar dan mempertahankan prestasi yang diraihnya. Karena penguatan akan berbekas pada diri anak, sedangkan hasil penguatan diharapkan positif, maka penguatan yang diberikan tentu harus diarahkan pada respon anak yang benar. Janganlah memberi penguatan atas respon anak jika respon tersebut sebenarnya tidak diperlukan.
Skinner menambahkan bahwa jika respon siswa baik, harus segera diberi penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi, atau minimal perbuatan baik itu dipertahankan. Misalnya dengan mengatakan “bagus, pertahankan prestasimu” untuk siswa yang mendapat nilai tes yang memuaskan. Sebaliknya jika respon siswa kurang atau tidak diharapkan sehingga tidak menunjang tujuan pengajaran, harus segera diberi penguatan negatif agar respon tersebut tidak diulang lagi dan berubah menjadi respon yang sifatnya positif. Penguatan negatif ini bisa berupa teguran, peringatan atau sanksi yang bersifat edukatif.
Dengan demikian, memberikan penghargaan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi hasil belajar siswa. Untuk itu, rasa bangga dan puas perlu ditanamkan dan dijaga dalam diri siswa, Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
a) Memberi penguatan (reinforcement), penghargaan yang pantas baik secara verbal maupun non-verbal kepada siswa yang telah menampilkan
24
keberhasilannya. Ucapan guru : "Bagus, kamu telah mengerjakannya dengan baik sekali!". Menganggukkan kepala sambil tersenyum sebagai tanda setuju atas jawaban siswa terhadap suatu pertanyaan, merupakan suatu bentuk penguatan bagi siswa yang telah berhasil melakukan suatu kegiatan.
Ucapan yang tulus dan/atau senyuman guru yang simpatik menimbulkan rasa bangga pada siswa dan ini akan mendorongnya untuk melakukan kegiatan lebih baik lagi, dan memperoleh hasil yang lebih baik dari sebelumnya.
b) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan/keterampilan yang baru diperoleh dalam situasi nyata atau simulasi.
c) Memperlihatkan perhatian yang besar kepada siswa, sehingga mereka merasa dikenal dan dihargai oleh para guru.
d) Memberi kesempatan kepada siswa untuk membantu teman mereka yang mengalami kesulitan/memerlukan bantuan.
c. Langkah-Langkah Pembelajaran ARIAS
Dalam pembelajaran ARIAS, salah satu langkah pembelajaran yang dapat lakukan adalah menggunakan setting kooperatif tipe jigsaw (Rahman dan Amri, 2014: 7). Adapun langkah-langkah pembelajaran ARIAS (assurance, relevance, interest, Assessment, and satisfaction) yang dapat dilakukan dengan menggunakan setting kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut:
1) Tahap Assurance (percaya diri)
25
a) Pada tahap ini, guru mengawali pembelajaran dengan menyampaikan apersepsi kepada siswa, kemudian menyampaikan indikator, tujuan pembelajaran, menekankan manfaat materi pembelajaran, mengingatkan kembali materi sebelumnya.
b) Selanjutnya, mengajukan pertanyaan kepada siswa seputar materi yang akan diberikan yang berkaitan dengan pengalaman siswa.
c) Siswa menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh guru berdasarkan gagasan awal yang dimiliki.
d) Kemudian guru motivasi kepada siswa.
2) Tahap Relevance (berhubungan dengan kehidupan nyata)
a) Pada tahap ini, guru menyuruh siswa untuk membuat kelompok dengan beranggotakan 4-6 orang siswa, guru menyiapkan pertanyaan yang berkaitan dengan lingkungan kehidupan sehari-hari siswa, langsung disertai undian pertanyaan.
b) Yang mendapat undian yang sama berkumpul menjadi satu, dan begitu seterusnya.
c) Kemudian setelah selesai berdiskusi mereka kembali kekelompok asal dengan membawa hasil diskusinya, begitu juga dengan teman yang lain sehingga semua kelompok bekerja dan tidak ada yang pasif.
3) Tahap Interest (minat dan perhatian siswa)
a) Pada tahap ini, setelah kembali ke kelompok asal dengan membawa hasil diskusi, kemudian mereka menjelaskan hasil diskusi kepada kelompok asalnya, begitu juga dengan teman yang lain, jadi semua siswa bekerja dan
26
tidak ada yang pasif, karena setiap anggota kelompok saling mempresentasikan diskusi.
b) Dalam kegiatan presentasi, siswa diharapkan mampu menggunakan media untuk menjelaskan hasil diskusi.
4) Tahap Assessment (evaluasi)
a) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengevaluasi diri sendiri dan kelompok lain.
b) Guru mengadakan evaluasi dan memberi umpan balik terhadap kinerja siswa.
c) Guru mengadakan evaluasi secara observasi pada saat siswa mempersentasikan hasil diskusinya.
d) Kemudian guru menginformasikan hasil dari diskusi siswa.
5) Tahap Satisfaction (penguatan)
a) Guru memberikan penghargaan kepada siswa secara individu maupun kelompok, baik secara verbal maupun non-verbal.
b) Guru dan siswa sama-sama menyimpulkan hasil diskusi.
d. Penggunaan model pembelajaran ARIAS
Menurut Rahman dan Amri (2014: 62) penggunaan model pembelajaran ARIAS perlu dilakukan sejak awal, sebelum guru melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran ini digunakan sejak guru atau perancang merancang kegiatan pembelajaran dalam bentuk satuan pembelajaran.
Satuan pembelajaran sebagai pegangan (pedoman) guru kelas dan satuan pembelajaran sebagai bahan atau materi bagi siswa. Satuan pembelajaran sebagai
27
pegangan bagi guru disusun sedemikian rupa, sehingga satuan pelajaran tersebut sudah mengandung komponen-komponen ARIAS. Artinya, dalam satuan pelajaran itu sudah tergambarkan usaha/kegiatan yang akan dilakukan untuk menanamkan rasa percaya diri siswa, mengadakan kegiatan yang relevan, membangkitkan minat siswa, melakukan penilaian, dan menumbuhkan rasa puas/bangga pada siswa.
Guru atau pengembang sudah merancang urutan semua kegiatan yang akan dilakukan, strategi atau model pembelajaran yang akan digunakan, media pembelajaran apa yang akan dipakai, perlengkapan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana cara penilaian akan dilaksanakan. Meskipun demikian pelaksanaan kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan situasi, kondisi dan lingkungan siswa.
Demikian juga halnya dengan satuan pembelajaran sebagai bahan materi bagi siswa. Bahan/materi tersebut harus disusun berdasarkan model pembelajaran ARIAS. Bahasa, kosa kata, kalimat, dan gambar atau ilustrasi. Pada bahan/materi dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa bahwa mereka mampu dan apa yang dipelajari ada relevansinya dengan siswa.
Bentuk, susunan, dan isi bahan/materi dapat membangkitkan minat siswa, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengadakan evaluasi dan siswa merasa dihargai yang dapat menimbulkan rasa pada mereka. Guru dan/atau pengembang agar menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, kata-kata yang jelas dan kalimat yang sederhana tidak berbelit-belit sehingga maksud dan tujuan dengan mudah ditangkap dan dicerna siswa. Bahan/materi dilengkapi dengan gambar yang jelas dan menarik dalam jumlah yang cukup. Gambar dapat
28
menimbulkan berbagai macam khayalan/fantasi dan dapat membantu siswa lebih muda memahami bahan/materi yang sedang dipelajari.
Siswa dapat membayangkan/menghayalkan apa saja, bahkan dapat membayangkan dirinya sendiri sebagai apa saja. Bahan/materi disusun sesuai urutan dan dan tahap kesukarannya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menimbulakn keingintahuan dan kemungkinan siswa dapat mengadakan penilaian sendiri.
B. Kerangka Pikir
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dipandang berkualitas jika berlangsung efektif, bermakna dan ditunjang oleh sumber daya yang wajar. Dikatakan berhasil jika siswa menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar yang harus dikuasai dengan sasaran dan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dan pengajar bertanggung jawab merencanakan dan mengolah kegiatan belajar mengajar sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran.
Proses belajar mengajar bukanlah hal yang sederhana karena siswa tidak sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilaksanakan terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik. Salah satu belajar mengajar yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan tertentu dalam belajar mengajar karena pendekatan dalam proses belajar mengajar pada hakekatnya merupakan upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar oleh siswa dan guru.
29
Sebagaimana umum diketahui bahwa dalam pembelajaran langsung hanya berorientasi pada target penguasaan materi. Berdasarkan segi penguasaan materi, pembelajaran langsung terbukti berhasil dalam kompetisi belajar jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak didik memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Sehingga pada umumnya anak dalam proses belajar mengajar memiliki tingkat hasil belajar yang rendah. Hal ini bukan sebuah indikasi bahwa anak mempunyai kompetisi belajar yang lemah, tetapi hal ini disebabkan oleh kurangnya inovasi dan kreatifitas pendidik dalam mendidik siswa. Salah satu bentuk kreatifitas dan inovasi pengajaran guru adalah penggunaan pembelajaran ARIAS. Dipandang efektif karena akan memberikan peluang kepada siswa untuk lebih percaya diri dalam mengerjakan soal-soal di papan tulis, lebih memahami matematika sebagai ilmu yang mempunyai relevansi terhadap kehidupan nyata sehingga menjadikan minat/perhatian siswa terhadap matematika lebih tinggi serta aktif dalam proses pembelajaran di kelas.
Alur kerangka pikir tentang efektivitas model pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, and Satisfaction), digambarkan sebagai berikut:
30
Gambar 2.1 Kerangka pikir penelitian
C. Hipotesis Penelitian Hipotesis Mayor
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir yang telah dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini adalah: “Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, and Satisfaction) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada Siswa kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar”.
Analisis
Positif
Tercapai Aktif Baik
Efektif Tidak Efektif
Respon Siswa Hasil Belajar Siswa Aktivitas Siswa Aktivitas Guru
Pembelajaran Matematika
Model pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest,Assesment, and
Satisfaction)
31
Hipotesis Minor
1. Hasil belajar matematika siswa
H0 : % melawan H1 : % Keterangan :
: Parameter ketuntasan belajar matematika secara klasikal 2. Peningkatan hasil belajar
0,29 melawan 0,29 Keterangan:
= Skor rata-rata gain ternormalisasi 3. Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
H0 : % melawan H1 : % Keterangan:
= Parameter presentase siswa yang melakukan aktivitas belajar
4. Respon siswa terhadap pembelajaran H0 : % melawan H1 : % Keterangan:
= Parameter presentase siswa yang merespon positif terhadap Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, and Satisfaction)
32
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen tanpa adanya kelompok kontrol (kelompok pembanding) dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar.
B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah, hasil belajar siswa, aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran, dan respon siswa terhadap pembelajaran.
2. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen one-group pretest- posttest design. Pada desain ini terdapat pretest, sebelum diberi perlakuan.
Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan keadaan sebelum dan setelah diberikan perlakuan. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut:
32
33
O1 X O2
Keterangan:
O1 = Hasil Pretest sebelum diajar dengan model pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) dalam pembelajaran matematika
O2 = Hasil Posttest setelah diajar dengan menggunakan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest,Assessment, dan Satisfaction).
X = perlakuan yang diberikan atau eksperimen
C. Satuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada kelas XI MA Muallimin Muhammadiyah Makassar yang terdiri atas dua kelas. Satuan penelitian menggunakan satu kelas yang dipilih secara acak. Pada penelitian ini, perlakuan yang diberikan adalah penerapan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) dalam pembelajaran pada siswa kelas XI IPS MA Muallimin Muhammadiyah Makassar.
D. Definisi Operasional Variabel
Agar diperoleh gambaran keseragaman pembahasan variabel dalam penelitian ini maka secara operasionalnya batasan kedua variabel tersebut adalah sebagai berikut:
1. Hasil belajar siswa
Tingkat ketercapaian hasil belajar matematika siswa setelah diajar melalui model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction).
34
2. Aktivitas siswa
Kegiatan yang diharapkan dilakukan siswa selama mengikuti proses pembelajaran melalui model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction).
3. Aktivitas guru
Aktivitas guru dalam melaksanakan setiap langkah pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) selama proses pembelajaran berlangsung.
4. Respon siswa
Tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran melalui model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction).
E. Prosedur Penelitian 1. Tahap Persiapan
Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan persiapan sebagai berikut:
a. Meminta izin kepada sekolah MA Muallimin Muhammadiyah Makassar untuk mengadakan penelitian.
b. Menelaah materi matematika MA kelas XI.