IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 65
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII
SMP NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR
Irvansyah Putra Paharuddin
1Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika melalui penerapan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara tahun ajaran 2015/2016. Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen.
Penelitian ini mengacu pada 3 aspek kriteria keefektivan pembelajaran, yaitu: (1) ketuntasan belajar secara individu dan klasikal, (2) aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan (3) respons siswa. Desain penelitian yang digunakan adalah The One Group Pretest Posttest. Satuan eksperimennya adalah siswa Kelas 𝑉𝐼𝐼𝐼2 SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar dengan perlakuan pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI). Instrument penelitian yang digunakan adalah: (1) tes hasil belajar, (2) lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa, dan (3) angket respons siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) skor rata-rata tes hasil belajar matematika siswa sebelum diterapkan pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) adalah 34,31 dan berada pada kategori sangat rendah dimana 29 siswa atau 100% tidak mencapai ketuntasan individu dan ini berarti bahwa ketuntasan secara klasikal tidak tercapai. (2) skor rata-rata hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) adalah 79,17 dan berada pada kategori sedang dimana 25 siswa atau 86% mencapai ketuntasan individu, 4 siswa atau 14% tidak mencapai ketuntasan individu dan ini berarti ketuntasan secara klasikal tercapai. (3) rata-rata persentase aktivitas siswa untuk setiap indikator telah mencapai kriteria aktif(4) angket respons siswa menunjukkan bahwa respons siswa terhadap pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) positif yakni 94% Dengan demikian pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika materi Persamaan Garis Lurus pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar.
Kata Kunci: Efektivitas, Matematika, Pendekatan, Aptitude, Treatment, Interaction PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sekarang ini. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia selalu berusaha meningkatkan kualitas pendidikan untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas meskipun hasilnya belum memenuhi harapan. Salah satu indikator kualitas pendidikan di sekolah adalah hasil belajar yang dicapai oleh siswa di
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 66
sekolah. Dengan demikian hasil belajar siswa pada mata pelajaran tertentu merupakan salah satu indikator kualitas pendidikan di sekolah yang bersangkutan.
Dalam peningkatan kualitas pendidikan, matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang pendidikan formal sangat memegang peranan penting. Menyadari pentingnya matematika sebagai salah satu penopang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka hasil belajar matematika di setiap jenjang pendidikan perlu mendapat perhatian serius. Sehingga hasil belajar siswa sangat ditentukan oleh kualitas proses belajar yang dialami oleh siswa di setiap jenjang pendidikan.
Sebagai tenaga pengajar/pendidik yang secara langsung terlibat dalam proses belajar mengajar, maka guru memegang peranan penting dalam menentukan peningkatan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar yang akan dicapai siswanya. Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh pendidik dalam hal ini adalah bagaimana mengajarkan matematika dengan baik agar tujuan pengajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Dalam hal ini mengorganisasi dan memformulasikan model atau pendekatan pembelajaran yang dinilai dapat meningkatkan motifasi dan minat belajar siswa yang tentunya berimplikasi langsung pada pencapaian hasil belajar siswa. Hal ini merupakan masalah yang cukup sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan siswa bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya tetapi mereka juga sebagai mahluk sosial dengan latar belakang yang berbeda.
Ormrod (2008: 207) mengemukakan “Perbedaan individual yaitu perbedaan kemampuan kognitif, kepribadian, keterampilan fisik, dan lain sebagainya”. Adanya perbedaan individu tersebut memberikan implikasi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan praktek pembelajaran di sekolah. Dari kenyataan yang ada di lapangan diketahui bahwa di antara siswa terdapat perbedaan individu, terutama perbedaan dalam kemampuan (aptitude) sehingga dijumpai di setiap kelas adanya kelompok siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
Pada model pembelajaran klasikal umumnya guru-guru pada jam pelajaran yang sama dalam suatu kelas, guru mengajarkan bahan dan materi yang sama dengan cara yang sama untuk semua siswa dalam kelas tersebut, sehingga perbedaan individu tersebut cenderung diabaikan. Guru perlu mempertimbangkan perbedaan individual. Guru tidak cukup hanya merencanakan pembelajaran klasikal, karena masing-masing siswa mempunyai perbedaan dalam beberapa segi, misalnya intelegensi, bakat, tingkah laku, sikap, dan lain-lainnya (Slameto, 2003: 93). Hal itu mengharuskan guru untuk membuat perencanaan secara individual pula, agar dapat mengembangkan kemampuan- kemampuan siswa secara individual.
Untuk mengakomodasi dan mengapresiasi perbedaan individual siswa dalam pembelajaran dalam rangka mengoptimalkan prestasi akademik/hasil belajar maka seorang guru harus pandai–pandai memilih model atau pendekatan pembelajaran.
Pengembangan model atau pendekatan pembelajaran merupakan hal penting sebagai solusi dari masalah perbedaan individual siswa tersebut.
Dari hasil observasi di lapangan yang dilakukan oleh penulis di salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Takalar yakni SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara kelas VIII pada bulan Maret 2015 di peroleh gambaran bahwa sebagian besar siswa masih kurang serius dalam belajar matematika, sehingga hasil belajarnya pun tergolong rendah.
Hal ini terlihat dari nilai rata–rata ujian akhir semester siswa di bawah standar yang
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 67
diharapkan yaitu 69 dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah yakni 73.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika materi Persamaan Garis Lurus melalui penerapan pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar, ditinjau dari: (1) hasil belajar siswa, (2) aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan (3) respons siswa terhadap pembelajaran.
LANDASAN TEORI
A. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode dan evaluasi. Keempat komponen pembelajaran tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan pendekatan, dan model-model pembelajaran apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Santrock (2007: 266) mengemukakan pembelajaran dapat didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan dan keterampilan berfikir yang diperolah melalui pengalaman.
Menurut Corey (Sagala, 2010: 61) bahwa pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.
Gintings (2008: 34) mengemukakan pembelajaran adalah memotivasi dan menyediakan fasilitas agar terjadi proses belajar pada diri si pelajar. Sedangkan Rusman (2012: 3) mengemukakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar, proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara pendidik, peserta didik dan sumber belajar guna membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri sehingga dari proses belajar tersebut dapat diperoleh ilmu pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.
B. Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) 1. Pengertian Pendeketan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Secara subtantif dan teoritik Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat dijadikan sebagai satu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuanya masing-masing.
Dipandang dari sudut pembelajaran (Teoritik), ATI approach merupakan sebuah konsep yang berisikan sejumlah strategi pembelajaran yang sedikit banyaknya efektif digunakan untuk siswa tertentu sesuai dengan karakteristik kemampuannya. Didasari oleh asumsi bahwa optimalisasi prestasi akademik/hasil belajar dapat dicapai melalui penyusuaian antara pembelajaran (treatment) dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa.
Sejalan dengan pengertian diatas, Cronbach (Ferawati: 2009:22) mengemukakan bahwa ATI approach adalah sebuah pendekatan yang berusaha mencari dan menemukan
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 68
perlakuan-perlakuan (treatment) yang cocok dengan perbedaan (aptitude) kemampuan siswa, yaitu perlakuan (treatments) yang secara optimal diterapkan untuk siswa yang berbeda tingkat kemampuannya.
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan diatas, dapat diperoleh makna essensial dari ATI approach, sebagai berikut:
a. ATI approach merupakan suatu konsep atau pendekatan yang berisikan sejumlah strategi pembelajaran (Treatment) yang efektif digunakan untuk siswa tertentu sesuai dengan perbedaan kemampuannya.
b. Sebagai sebuah kerangka teoritik ATI approach berasumsi bahwa optimalisasi prestasi akademik/hasil belajar akan tercipta bila mana perlakuan-perlakuan dalam pembelajaran disesuakan sedemikian rupa dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa.
c. Terdapat hubungan timbal balik antara prestasi akademik/hasil belajar yang dicapai siswa dengan pengaturan kondisi pembelajaran dikelas atau dengan kata lain, prestasi akademik/hasil belajar yang diperoleh siswa tergantung kepada bagaimana kondisi pembelajaran yang dikembangkan guru di kelas.
2. Tujuan Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)
Dari rumusan pengertian dan makna essensial yang telah dikemukakan di atas, terlihat bahwa secara hakiki ATI approach bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan suatu model atau pendekatan pembelajaran yang betul-betul peduli dan memperhatikan keterkaitan antara kemampuan (aptitude) seseorang dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan metode pembelajaran (treatment).
Untuk mencapai tujuan seperti digambarkan diatas, ATI approach berupaya menemukan dan memilih sejumlah pendekatan, metode/cara, strategi, kiat yang akan dijadikan sebagai perlakuan (treatment) yang tepat yaitu treatment yang sesuai dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa. Keberhasilan pendekatan ATI mencapai tujuan dapat dilihat dari sejauh mana terdapat kesesuaian antara perlakuan-perlakuan (treatment) yang telah diimplementasikan dalam pembelajaran dengan kemampuan (aptitude) siswa.
Kesesuaian tersebut akan termanifestasi pada prestasi akademik/ hasil belajar yang dicapai siswa. Semakin tinggi optimalisasi yang terjadi pada pencapaian prestasi akademik/ hasil belajar siswa, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pengembangan pendekatan pembelajaran ATI. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan utama ATI approach adalah terciptanya optimalisasi prestasi akademik/
hasil belajar melalui penyesuaian pembelajaran (treatment) dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa.
3. Prinsip Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)
Agar tingkat keberhasilan pendekatan pembelajaran dapat dicapai dengan baik, maka dalam implementasinya perlu diperhatikan beberapa prinsip yang dikemukakan oleh Snow (Nurdin, 2005: 41) yaitu:
a. Bahwa interaksi antara kemampuan (aptitude) dan perlakuan (treatment) pembelajaran berlangsung di dalam pola yang kompleks dan senantiasa dipengaruhi oleh variabel-variabel tugas/jabatan dan situasi.
b. Bahwa lingkungan pembelajaran yang sangat terstruktur cocok bagi siswa yang memiliki kemampuan rendah, sedangkan lingkungan pembelajaran yang kurang terstruktur (fleksibel) lebih pas untuk siswa yang pandai.
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 69
c. Bahwa bagi siswa yang memiliki rasa percaya diri kurang atau sulit dalam menyesuaikan diri (pencemas atau minder), cenderung belajarnya akan lebih baik bila berada dalam lingkungan belajar yang sangat terstruktur. Sebaliknya bagi siswa yang memiliki rasa percaya diri tinggi akan lebih baik dalam situasi pembelajaran yang agak longgar (fleksibel).
Dari prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dimengerti bahwa dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran ATI, masalah pengelompokkan dan pengaturan lingkungan belajar bagi masing-masing karakteristik kemampuan (aptitude) siswa, merupakan masalah mendasar yang harus mendapat perhatian yang serius.
4. Langkah-Langkah Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) Berdasarkan prinsip-prinsip pendekatan pembelajaran aptitude treatment interaction di atas, maka dapat diadaptasi beberapa langkah yang dilakukan dalam pembelajaran, yaitu:
a. Treatment Awal
Pemberian perlakuan (treatment) awal terhadap siswa dengan menggunakan aptitude testing. Perlakuan pertama ini dimaksudkan untuk menentukan dan menetapkan klasifikasi kelompok siswa berdasarkan tingkat kemampuan (aptitude) dan sekaligus juga untuk mengetahui potensi kemampuan masing-masing dalam menghadapi informasi atau kemampuan-kemampuan yang baru.
b. Pengelompokan siswa
Pengelompokan yang didasarkan pada hasil aptitude testing.siswa didalam kelas diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Memberikan perlakuan
Kepada masing-masing kelompok diberikan perlakuan (treatment) yang dipandang cocok/ sesuai dengan karakteristiknya.
d. Achievement test
Diakhir setiap pelaksanaan, diadakan Achievement test untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap apa yang sudah dipelajarinya.
Kegiatan pembelajarannya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu tahap pendahuluan, tahap kegiatan inti, dan tahap kegiatan penutup. Ketiga tahapan tersebut akan diwujudkan dalam bentuk beragam kegiatan sesuai dengan model klasikal, kelompok, dan individu secara siklus dan dapat dimulai dari klasikal, kelompok, atau individu sesuai kebutuhan. Tim belajar kelompok kecil dengan anggota lima peserta didik dengan kemampuan awal berbeda dan dibentuk setiap tatap muka pembelajaran.
5. Kelebihan Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) Kelebihan pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction antara lain:
a. Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa
b. Dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 70
c. Guru dapat lebih memperhatikan kemampuan setiap siswa baik secara individu maupun kelompok
d. Guru dapat memberikan treatment sesuai dengan kebutuhan siswa
e. Siswa dapat mengoptimalkan prestasi belajarnya sesuai dengan kemampuannya f. Memungkinkan pengulangan sampai berkali-kali tanpa rasa malu bagi siswa yang
berbuat salah C. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan sudah dilakukan oleh Ferawati (2009) yang menyimpulkan bahwa pembelajaran melalui pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat membantu siswa memahami materi sehingga terjadi peningkatan hasil belajar matematika. Pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat meningkatkan rasa percaya diri dan keaktifan siswa dalam belajar matematika yang ditandai dengan adanya peningkatan frekuensi kehadiran siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung serta makin banyaknya siswa yang mulai memperhatikan materi, dan mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS).
D. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika materi Persamaan Garis Lurus pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar.
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian pre – experimental dengan melibatkan satu kelompok atau satu kelas.
B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian adalah hasil belajar siswa, aktivitas siswa, dan respons siswa pada pembelajaran matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI).
2. Desain Penelitian
Desain pada penelitian ini adalah satu kelompok pretest-posttest (The One Group Pretest-Posttest) yang termasuk dalam pre-experiment. Untuk lebih jelasnya desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 1. Desain the One Group Pretest – Posttest
Pretest Perlakuan Posttest
O1 X O2
Sumber: Sugiyono (2013: 111) Keterangan:
X = Perlakuan (Treatment)
O1 = Hasil belajar siswa sebelum diberikan perlakuan pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI).
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 71
O2 = Hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI).
C. Satuan Eksperimen dan Perlakuan 1. Satuan Eksperimen
Satuan eksperimen dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar tahun pelajaran 2015/2016, yang berjumlah sepuluh kelas, dari sepuluh kelas tersebut diambil satu kelas dengan menggunakan teknik simple random sampling untuk dijadikan subjek penelitian dan terpilih kelas VIII2 dengan jumlah siswa 29 orang.
2. Perlakuan
Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI). Dalam penelitian ini pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) merupakan perlakuan yang ingin diketahui keefektivannya dalam pembelajaran matematika. Untuk mengetahui apakah pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) efektif dalam pembelajaran matematika, maka ada tiga indikator keefektifan yang diguanakan yaitu;
hasil belajar siswa, aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dan respons siswa terhadap proses pembelajaran.
D. Instrumen Penelitian
Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan beberapa instrument penelitian, yaitu lembar observasi dan tes. Untuk lebih jelasnya instrumen penelitian ini ditunjukan pada tabel berikut.
Tabel 2. Instrument penelitian Objek penelitian Instrument penelitian Hasil belajar siswa Tes hasil belajar
Aktivitas siswa Lembar observasi
Respons siswa Angket
E. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian dapat dibagi kepada tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 26 Oktober sampai dengan 11 November 2015dapat terlihat pada tabel 3.
Tabel 3. Jadwal penelitian
No Hari/Tanggal Waktu Kegiatan
1. Senin, 26 Oktober 2015 08.30-09.30 Aptitude test
2. Rabu, 28 Oktober 2015 07.30-08.15 Pretest
3. Rabu, 28 Oktober 2015 08.15-09.30 Proses Belajar Mengajar 4. Senin, 02 November 2015 08.15-09.30 Proses Belajar Mengajar 5. Rabu, 04 November 2015 07.30-09.30 Proses Belajar Mengajar 6. Rabu, 04 November 2015 14.30-15.30 Pelajaran Tambahan 7. Senin, 09 November 2015 08.15-09.30 Proses Belajar Mengajar 8. Selasa, 10 November 2015 14.30-15.30 Pelajaran Tambahan
9. Rabu, 11 November 2015 07.30-09.30 Posttest
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 72
F. Teknik Analisis Data 1. Analisis Statistik Deskriptif a. Hasil belajar siswa
Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar matematika berdasarkan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pelajaran matematika yang ditetapkan oleh SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar adalah dinyatakan dalam tabel berikut:
Tabel 4. Kategorisasi Interval Penilaian Hasil Belajar Siswa
No. Skor Kategori
1. 0 ≤ x < 63 Sangat rendah
2. 63 ≤ x < 73 Rendah
3. 73 ≤ x < 80 Sedang
4. 80 ≤ x < 98 Tinggi
5. 98 ≤ x ≤ 100 Sangat Tinggi
Tabel 5. Kategorisasi Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar
Skor Kategori Ketuntasan Belajar 0 ≤ 𝑥 < 73 Tidak tuntas
73 ≤ 𝑥 ≤ 100 Tuntas
Hasil belajar siswa harus mencapai ketuntasan belajar secara individual dan klasikal. Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan oleh sekolah yakni 73, sedangkan ketuntasan klasikal tercapai apabila minimal 80% siswa di kelas tersebut telah mencapai skor ketuntasan minimal.
Selanjutnya untuk mengetahui selisih antara nilai postest dan pretest digunakan skor gain ternormalisasi. Menurut Prichard (Jusmawati, 2015: 105) skor gain ternormalisasi yaitu perbandingan dari skor gain aktual dan skor gain maksimal. Skor gain aktual yaitu skor gain yang diperoleh siswa sedangkan skor gain maksimal yaitu skor gain tertinggi yang mungkin diperoleh siswa. Gain menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan guru. Rumus indeks gain ternormalisasi menurut Meltzer (Jusmawati, 2015: 105) yaitu:
<g> = 𝑇′1−𝑇1
𝑇𝑚𝑎𝑥−𝑇1
Keterangan:
<g> = skor gain ternomalisasi T1 = skor pretes
T’1 = skor postes
Tmax= skor maksimum ideal
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 73
Tabel 6. Klasifikasi Normalisasi Gain Koefisien Normalisasi Gain Klasifikasi
g < 0,3 Rendah
0,3 ≤ g < 0,7 Sedang
g ≥ 0,7 Tinggi
Sumber: Jusmawati (2015:105)
b. Analisis data aktivitas siswa
Data hasil observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung dianalisis dan dideskripsikan. Untuk mencari rata-rata frekuensi dan rata-rata persentase waktu yang digunakan siswa melakukan aktivitas selama pembelajaran ditentukan melalui langkah-langkah berikut: (1) hasil pengamatan aktivitas siswa untuk setiap indikator dalam satu kali pertemuan ditentukan frekuensinya dan dicari rata-rata frekuensi dari dua orang observer, kemudian ditentukan frekuensi rata-rata dari rata-rata frekuensi untuk beberapa kali pertemuan, (2) mencari persentase frekuensi setiap indikator dengan cara membagi besarnya frekuensi dengan jumlah frekuensi untuk semua indikator, kemudian hasil pembagian dikalikan dengan 100%. Selanjutnya mencari rata-rata persentase waktu untuk beberapa kali pertemuan dan dimasukkan dalam tabel rata-rata persentase.
Tabel 7. Kriteria Batasan Waktu Ideal Aktivitas Siswa No Kategori Aktivitas Siswa Alokasi Waktu pada
RPP
𝚺 Waktu
Ideal
Interval Toleransi PWI (%) I II III IV
1. Memperhatikan tujuan pembelajaran yang disampaikan guru dan siap untuk belajar.
5 5 5 5 20 5,55% dari
WT
0,55 – 10,55
2. Mendengarkan /
memperhatikan penjelasan guru.
20 20 50 20 110 30,55%
dari WT
25,55–35,55
3. Mengajukan pertanyaan mengenai materi yang belum dipahami.
5 5 5 5 20 5,55% dari
WT
0,55 – 10,55
4. Menjawab pertanyaan/soal yang diajukan oleh guru.
5 5 5 5 20 5,55% dari
WT
0,55 – 10,55 5. Aktif dalam mengerjakan
lembar kegiatan siswa (LKS) untuk kegiatan I
15 15 20 15 65 18,05%
dari WT
13,05-23,05
6. Aktif dan bekerja sama dalam mengerjakan lembar kegiatan siswa (LKS) untuk kegiatan II
15 15 20 15 65
18,05%
dari WT
13,05-23,05
7. Meminta bimbingan/bantuan dalam mengerjakan LKS
5 5 5 5 20 5,55%
dari WT
0,55 – 10,55
8. Mempresentasikan hasil kerja kelompok di papan tulis
5 5 5 5 20 5,55%
dari WT
0,55 – 10,55
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 74
9 Melakukan aktivitas lain diluar skenario pembelajaran (tidak memperhatikan penjelasan guru, mengantuk, tidur, mengganggu teman, keluar masuk ruangan).
5 5 5 5 20 5,55% dari
WT
0,55 – 10,55
Jumlah 80 80 120 80 360 100%
Keterangan:
1. PWI adalah Persentase Waktu Indikator
2. WT adalah waktu tersedia pada setiap pertemuan
Data hasil pengamatan aktivitas siswa selama pembelajaran dianalisis sebagai berikut:
𝑃𝑇𝑎 =∑ 𝑇𝑎
∑ 𝑇 × 100%
Keterangan:
𝑃𝑇𝑎 = Persentase aktivitas siswa untuk melakukan suatu jenis aktivitas tertentu
∑ 𝑇𝑎 = Jumlah aktivitas tertentu yang dilakukan siswa setiap pertemuan
∑ 𝑇 = Jumlah seluruh aktivitas setiap pertemuan.
Kemudian persentase aktivitas siswa tersebut dibandingkan dengan “Interval Toleransi (PWI)” yang diperoleh dari persentase waktu ideal dengan menggunakan toleransi 5%.
Persentase waktu ideal siswa dalam melakukan aktivitas tertentu, dihitung berdasarkan persentase jumlah alokasi waktu dari RPP pada aktivitas tertentu terhadap jumlah waktu seluruh RPP, yang rumusnya sebagai berikut:
𝑃𝑊𝐼 =Σwa
Σ𝑤 × 100%
𝑃𝑊𝐼= persentase waktu ideal untuk melakukan suatu jenis aktivitas tertentu Σwa = jumlah alokasi waktu dari semua RPP pada aktivitas tertentu.
Σ𝑤 = jumlah alokasi waktu dari semua RPP c. Analisis data respons siswa
Data tentang respons siswa yang diperoleh melalui angket dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dengan persentase. Persentase dari setiap respon siswa dihitung dengan rumus:
100%
siswa seluruh Jumlah
positif aspek untuk siswa respons Jumlah
Respons siswa dikatakan efektif jika rata-rata jawaban siswa terhadap pernyataan aspek positif diperoleh persentase ≥ 75%.
2. Analisis Statistik Inferensial
Statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Teknik statistik ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian yaitu uji-t. Sebelum menguji hipotesis penelitian, dilakukan uji normalitas sabagai uji prasyarat.
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 75
a. Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan langkah awal dalam menganalisis data secara spesifik.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Untuk pengujian tersebut digunakan uji Anderson Darly atau Kolmogorov Smirnov dengan menggunakan taraf signifikansi 5% atau 0, 05, dengan syarat:
Jika Pvalue
= 0, 05 maka distribusinya adalah normal.Jika Pvalue < α= 0, 05 maka distribusinya adalah tidak normal.
b. Pengujian hipotesis Ketuntasan Pembelajaran 1) Ketuntasan individu
Uji rata-rata ini dilakukan untuk mengetahui apakah rata-rata hasil belajar siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal atau tidak setelah diterapkan pendekatan pembelajaran Aptitute Treatment Interaction (ATI).
Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut:
H0: μPost 72, 9 H1: μPost 72, 9
Dimana μ = nilai posttest siswa
Untuk pengujian ini digunakan uji t-test untuk satu sampel menggunakan aplikasi SPSS 18 dengan kriteria:
Terima H0 jika P
= 0, 05 dan Tolak H0 jika P <
= 0, 052) Ketuntasan klasikal (Uji proporsi satu pihak)
Uji ketuntasan klasikal dilakukan untuk menguji apakah hasil belajar peserta didik setelah diterapkan pendekatan pembelajaran Aptitute Treatment Interaction (ATI) dapat mencapai ketuntasan klasikal. Ketuntasan klasikal didasarkan pada proporsi peserta didik yang mencapai KKM minimal 80%.
Hipotesis yang digunakan adalah:
𝐻0: 𝜋 80%
𝐻1: 𝜋 < 80%
Dimana 𝜋 = persentase ketuntasan klasikal siswa Rumus yang digunakan adalah
n n x z
0 0
0
1
dengan
x = banyak anggota kelompok eksperimen yang mencapai nilai ≥ 73, n = banyak data
𝜋0 = proporsi ketuntasan klasikal 80% atau 0, 8.
Kriteria pengujiannya adalah tolak H0 jika 𝑧 < -𝑧0, 5−𝛼, dimana 𝑧0, 5−𝛼 didapat dari daftar normal baku. Untuk 𝑧 -𝑧0, 5−𝛼 hipotesis H0 diterima (Tiro, 2009: 263).
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 76
3) Peningkatan hasil belajar
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan pendekatan pembelajaran Aptitute Treatment Interaction (ATI)
H0: g ≤ 0, 29 H1: g > 0, 29
Keterangan:
µg = Parameter peningkatan hasil belajar matematika
Untuk pengujian ini digunakan uji t-test untuk satu sampel menggunakan aplikasi SPSS 18 dengan kriteria:
Terima H0 jika P = 0, 05 dan Tolak H0 jika P < = 0, 05 HASIL PENELITAN
A. Hasil Analisis Deskriptif
1. Deskripsi Hasil Belajar Siswa sebelum Penerapan Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) (Pretest)
Tabel 8. Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII2 SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar
Statistik Nilai
Banyak Data 29
Skor Ideal 100
Skor Terendah 20 Skor Tertinggi 53
Rentang Skor 33
Rata-rata Skor 34,31 Standar Deviasi 9,59
Tabel 9. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII2 SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar No. Skor Kategori Frekuensi Persentase
(%) 1. 0 ≤ x < 63 Sangat rendah 29 100
2. 63 ≤ x < 73 Rendah 0 0
3. 73 ≤ x < 80 Sedang 0 0
4. 80 ≤ x < 98 Tinggi 0 0
5. 98 ≤ x ≤ 100 Sangat Tinggi 0 0
Jumlah 29 100
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 77
Tabel 10. Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Sebelum Diterapkan Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 0 ≤ 𝒙 < 73 Tidak tuntas 29 100
73 ≤ 𝑥 ≤ 100 Tuntas 0 0
Jumlah 29 100
2. Deskripsi Hasil Belajar Siswa sesudah Penerapan Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) (Posttest)
Tabel 11. Statistik Skor Hasil Belajar Siswa Kelas VIII2 SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara setelah penerapan Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment
Interaction (ATI) Statistik Nilai
Banyak Data 29
Skor Ideal 100
Skor Terendah 65 Skor Tertinggi 95 Rentang Skor 30 Rata-rata Skor 79,17 Standar Deviasi 6,91
Tabel 12. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII2 SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara
No. Skor Kategori Frekuensi Persentase
(%)
1. 0 ≤ x < 63 Sangat rendah 0 0
2. 63 ≤ x < 73 Rendah 4 14
3. 73 ≤ x < 80 Sedang 9 31
4. 80 ≤ x < 98 Tinggi 16 55
5. 98 ≤ x ≤ 100 Sangat Tinggi 0 0
Jumlah 29 100
Tabel 13. Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Setelah Diterapkan Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 0 ≤ 𝑥 < 73 Tidak tuntas 4 14
73 ≤ 𝑥 ≤ 100 Tuntas 25 86
Jumlah 29 100
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 78
3. Deskripsi Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran Tabel 14. Aktivitas Siswa Kelompok Satu Selama Kegiatan Pembelajaran Matematika
melalui Pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) No Aspek Pengamatan
Aktivitas
Persentase Aktivitas Siswa
pada Pertemuan ke - Rata- Rata
Rentang baik (%) I II III IV
1. Memperhatikan tujuan
pembelajaran yang
disampaikan guru dan siap untuk belajar.
6,25 6,25 4,17 6,25 5,73 0,55 – 10,55
2. Mendengarkan /
memperhatikan penjelasan guru.
32,5 32,5 42,5 31,25 34,69 25,55–35,55 3. Mengajukan pertanyaan
mengenai materi yang belum dipahami.
7,5 6,25 5 10 7,19 0,55 – 10,55 4. Menjawab pertanyaan/soal
yang diajukan oleh guru. 2,5 2,5 0,83 1,25 1,77 0,55 – 10,55 5. Aktif dalam mengerjakan
lembar kegiatan siswa (LKS)
untuk kegiatan I 13,75 17,5 15 20 16,56 13,05-23,05 6. Aktif dan bekerja sama dalam
mengerjakan lembar kegiatan siswa (LKS) untuk kegiatan II
18,75 22,5 20,8
3 20 20,52 13,05-23,05 7. Meminta bimbingan/bantuan
dalam mengerjakan LKS 6,25 6,25 5,83 8,75 6,77 0,55 – 10,55 8. Mempresentasikan hasil kerja
kelompok di papan tulis 1,25 0 0,83 1,25 0,83 0,55 – 10,55 9. Melakukan aktivitas lain
diluar skenario pembelajaran (tidak memperhatikan penjelasan guru, mengantuk, tidur, mengganggu teman, keluar masuk ruangan).
11,25 6,25 5 1,25 5,94 0,55 – 10,55
Tabel 15. Aktivitas Siswa Kelompok Dua Selama Kegiatan Pembelajaran Matematika melalui Pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI)
No
Aspek Pengamatan Aktivitas
Persentase Aktivitas Siswa
pada Pertemuan ke - Rata- Rata
Rentang baik (%)
I II III IV
1. Memperhatikan tujuan pembelajaran yang disampaikan guru dan siap untuk belajar.
6,25 6,25 4,17 6,25 5,73 0,55 – 10,55
2. Mendengarkan /
memperhatikan penjelasan guru.
33,75 33,75 38,33 33,75 34,9 25,55–35,55 3. Mengajukan pertanyaan
mengenai materi yang belum dipahami.
6,25 10 5 7,5 7,19 0,55 – 10,55
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 79
4. Menjawab pertanyaan/soal
yang diajukan oleh guru. 2,5 1,25 1,67 2,5 1,98 0,55 – 10,55 5. Aktif dalam mengerjakan
lembar kegiatan siswa
(LKS) untuk kegiatan I 17,5 21,25 21,67 17,5 19,48 13,05-23,05 6. Aktif dan bekerja sama
dalam mengerjakan lembar kegiatan siswa (LKS) untuk kegiatan II
20 18,75 20,83 22,5 20,52 13,05-23,05
7. Meminta bimbingan/bantuan
dalam mengerjakan LKS 6,25 5 4,17 6,25 5,42 0,55 – 10,55 8. Mempresentasikan hasil
kerja kelompok di papan tulis
1,25 1,25 0 1,25 0,94 0,55 – 10,55 9. Melakukan aktivitas lain
diluar skenario pembelajaran (tidak memperhatikan penjelasan guru, mengantuk, tidur, mengganggu teman, keluar masuk ruangan).
6,25 2,5 4,17 2,5 3,86 0,55 – 10,55
4. Deskripsi Respons Siswa terhadap Pembelajaran
Tabel 16. Persentase Respons Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) No. UraianPertanyaan
Siswa Yang
Merespons positif Persentase (%) 1. Apakah Anda senang terhadap
pelajaran matematika? 29 100
2. Apakah Anda menyukai pelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI)?
29 100
3. Apakah Anda menyukai cara mengajar yang diterapkan guru dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI)?
28 97
4. Apakah Anda termotivasi untuk belajar matematika, setelah diterapkan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI)?
28 97
5. Apakah dengan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat membantu dan mempermudah Anda memahami materi pelajaran matematika?
27 93
6. Apakah dengan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) dalam pembelajaran membuat Anda
29 100
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 80
No. UraianPertanyaan
Siswa Yang
Merespons positif Persentase (%) menjadi siswa yang aktif?
7. Apakah anda merasa terbantu dengan
adanya Lembar Kerja Siswa (LKS)? 27 93
8. Apakah Anda mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru dengan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI)?
22 76
9. Apakah rasa percaya diri Anda meningkat dalam mengeluarkan ide/pendapat/pertanyaan pada kegiatan pembelajaran dengan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI)?
27 93
10. Apakah Anda merasakan ada kemajuan setelah diterapkan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI)?
27 93
11. Apakah pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI)
merupakan hal yang baru bagi Anda? 28 97
Jumlah 1039
Rata-rata 94
B. Hasil Analisis Inferensial
Analisis statistik inferensial pada bagian ini digunakan untuk pengujian hipotesis yang telah dirumuskan, dan sebelum melakukan analisis statistik inferensial terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji gain.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah skor rata-rata hasil belajar siswa (pretest-posttest) berdistribusi normal. Kriteria pengujiannya adalah:
Jika pvalue≥ α = 0, 05 maka distribusinya adalah normal.
Jika pvalue< α = 0, 05 maka distribusinya adalah tidak normal.
Dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnova dengan bantuan program SPSS versi 18,0, hasil analisis data skor pretest menunjukkan nilai pvalue> α yaitu 0,200 >
0,05, untuk data skor posttest menunjukkan nilai pvalue> α yaitu 0,20 > 0,05, dan untuk data indeks gain menunjukkan nilai pvalue> α yaitu 0,20 > 0,05 . Hal ini menunjukkan bahwa data skor pretest, posttest, dan indeks gain termasuk kategori normal. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran D.
2. Pengujian Hipotesis
Karena data berdistribusi normal maka memenuhi kriteria untuk digunakannya uji-t dan uji-z untuk menguji hipotesis penelitian. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika materi Persamaan Garis Lurus pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar.
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 81
Uji Hipotesis Minor 1) Ketuntasan individu
Rata-rata hasil belajar siswa setelah diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Aptitute Treatment Interaction (ATI) dihitung dengan menggunkan uji-t one sample test yang dirumuskan dengan hipotesis sebagai berikut.
H0: μPost 72, 9 H1: μPost 72, 9
Dimana μ = nilai posttest siswa
Berdasarkan hasil analisis SPSS (Lampiran D), tampak bahwa Nilai p (Sig. (2- tailed) adalah 0,000 < 0, 05. Ini berarti bahwa H0 ditolak dan H1 diterimayakni rata- rata hasil belajar posttest siswa kelas VIII2 SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar lebih dari atau sama dengan KKM
2) Ketuntasan klasikal (Uji proporsi satu pihak)
Ketuntasan belajar siswa setelah diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Aptitute Treatment Interaction (ATI) secara klasikal dihitung dengan menggunakan uji proporsi yang dirumuskan dengan hipotesis sebagai berikut
𝐻0: 𝜋 80%
𝐻1: 𝜋 < 80%
Dimana 𝜋 = persentase ketuntasan klasikal siswa
Pengujian ketuntasan klasikal siswa dilakukan dengan menggunakan uji prorporsi satu pihak. Untuk uji proporsi satu pihak dengan menggunakan taraf signifikan 5%
diperoleh nilai 𝑧(0,5−0,05)= 𝑧0,45 = 1,64 sehinnga−𝑧(0,45) = −1,64. Karena zhitung = 0,81 ≥ −𝑧0,45= −1,64 maka H0 diterima, artinya proporsi siswa yang mencapai kriteria ketuntasan ≥ 80% dari keseluruhan siswa yang mengikuti tes, secara lengkap terdapat pada lampiran D. Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa setelah pembelajaran melalui pendekatan Aptitute Treatment Interaction (ATI) telah memenuhi kriteria ketuntasan klasikal.
3) Peningkatan hasil belajar
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan pendekatan pembelajaran Aptitute Treatment Interaction (ATI) dengan menghitung data skor indeks gain dengan menggunakan uji- t one sample test yang dirumuskan dengan hipotesis sebagai berikut
H0: g ≤ 0, 29 H1: g > 0, 29
Keterangan:
µg = Parameter skor rata-rata gain ternormalisasi
Berdasarkan hasil analisis (Lampiran D) tampak bahwa Nilai p (Sig. (2-tailed) adalah 0,000 < 0, 05 menunjukkan bahwa rata-rata gain ternormalisasi pada siswa kelas VIII2 SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara lebih dari 0, 29. Ini berarti bahwa H0
ditolak dan H1 diterima yakni gain ternormalisasi hasil belajar siswa berada pada kategori minimal sedang.
KESIMPULAN
Pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika materi Persamaan Garis Lurus pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar. Ditinjau dari:
IRVANSYAH PUTRA PAHARUDDIN, DKK/ EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) PADA SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR 82
1. Ketuntasan hasil belajar siswa sebelum diterapkan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) sebesar 100% siswa yang tidak mencapai ketuntasan individu.
Sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa sesudah diterapkan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) sebesar 86% siswa yang yang mencapai ketuntasan individu dan mencapai ketuntasan belajar secara klasikal.
2. Rata-rata persentase aktivitas siswa yang diharapkan meningkat setiap pertemuan dengan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) yaitu telah memenuhi kriteria waktu ideal aktivitas siswa yang dibandingkan dengan interval toleransi PWI yang diperoleh dari persentase waktu ideal dengan menggunakan toleransi 5%.
Dengan demikian, aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika melalui penerapan pendekatan Aptitude Treatment Interaction (ATI) sudah sesuai yang diharapkan / aktif.
3. Pendekatan pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara mendapat respons positif dengan rata-rata persentase siswa yang memberi respons diatas 75%.
DAFTAR PUSTAKA
Ferawati, (2009). Penerapan pendekatan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX.2 SMP Negeri 2 Bontoramba Kabupaten Jeneponto. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar:
FKIP Unismuh Makassar.
Gintings, Abdorrakhman. (2008). Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung:
Humaniora.
Nurdin, Syafruddin. (2005). Quantum Teaching Model Pembelajaran yang Memperhatikan Keragaman Individu Siswa dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Ciputat Press.
Ormrod, Jeannne Ellis. (2008). Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Jakarta: Erlangga.
Rusman. (2012). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sagala, Syaiful. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Santrock, John W. (2007). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka cipta.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R
& D. Bandung: Alfabeta.
Tiro, Muhammad Arif. (2009). Dasar-dasar Statistika. Makassar: Andira Publisher