• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDIDAYA KIMA. Lily M.G. Panggabean *)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUDIDAYA KIMA. Lily M.G. Panggabean *)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Oseana, Volume XVII, Nomor 3: 123-134 ISSN 0216 -1877

BUDIDAYA KIMA

oleh

Lily M.G. Panggabean *)

ABSTRACT

CULTIVATION OF GIANT CLAMS. Cultivation of the endangered family of reef-dwelling giant clams has recently advanced to a scale where it can play a role in population enhancement and food production. The article reviews state-of-the art technology for mass production of the giant clam seed, inland and ocean-based nur-sery and grow out to maturity. The advance technology could also overcome problems such as fouling of blue-green algae, predators and parasites. The culture of giant clams is not only technically, but also economically viable.

PENDAHULUAN

Penurunan stok Kima di perairan terumbu Indo-Pasifik, terutama dari jenis Tridacna gigas dan T. derasa telah menjadi isu internasional sehingga para ilmuan ter-dorong untuk mengembangkan teknologi budidaya kima. Bu did ay a kima dapat di-kembangkan untuk tujuan peremajaan atau pemulihan stok kima yang terancam punah. Teknologi budidaya kima dikembangkan berdasarkan pengetahuan tentang sifat-sifat biologi kima seperti seksualitas kima yang bersifat hermafrodit (WADA 1954), fekun-ditas yang tinggi (MC MICHAEL 1975; PEARSON 1977), pemijahan kima (HARDY

dan HARDY 1969; BECKVAR 1981; FITT dan TRENCH 1981; GWYTHER dan MUNRO 1981), serta kehidupan simbiosis dengan zooxanthella (GOREAU et al 1973). Dewasa ini ada 15 kelompok pene-litian di kawasan Indo-Pasifik yang terlibat dalam proyek budidaya kima internasional yaitu : kelompok Mikronesia yang terdiri dari Palau, Yap? Saipam, Pohnpei, Truk, Kosrae dan pulau-pulau Mashall, kemudian Australia, Filipina, Fiji, Papua New Guinea, Solomon, Cook, American Samoa, Hawai dan Jepang (HESLINGA & WATSON 1985). Sayang sekali, Indonesia yang memi-liki 13.000 pulau masih belum terlibat dalam kegiatan tersebut.

* ) Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI, Jakarta.

(2)

Budidaya kima dimulai dengan usaha pembibitan di "hatchery" hingga mengha-silkan kima muda yang kemudian dikem-balikan ke lokasi "kritis" untuk pemulihan populasinya (HESLINGA et al 1984). Usaha ini telah dirintis oleh Micronesian Mariculture Demontration Center (MMDC) di Palau sejak keberhasilan LA BARBERA (1975) dan JAMESON (1976) memelihara burayak (larva) kima dalam skala laborato-rium. Budidaya kima ini dapat ditingkatkan lebih intensif berkat kemajuan pengetahuan tentang aspek-aspek terkait seperti penge-tahuan tentang induk (CRAWFORD et al 1986), teknik biopsi untuk mengetahui tingkat kematangan telur (BRALEY 1984, 1988; SHELEY dan REID 1988) atau in-duksi pemijahan (BRALEY 1985, CRAW-FORD et al 1986; energetik larva kima (SOUTHGATE 1988); seleksi larva kima (BRALEY et al 1988); foto adaptasi dari zooxanthella (FISHER et al 1985); seleksi zooxanthella (FITT 1985; MINGOA 1988); pembesaran kima di alam (CRAWFORD et al 1988; ESTACION 1988. Bahkan hasil analisa ekonomis membuktikan bahwa budi-daya kima dapat ditingkatkan untuk tujuan komersial dan dapat memberikan keuntung-an ykeuntung-ang memadai (TISDELL dkeuntung-an MENZ 1988).

Berikut akan diuraikan tentang bebe-rapa aspek yang berhubungan dengan budi-daya kima seperti teknologi budibudi-daya, beberapa kendala dan pemecahannya serta aspek komersial.

TEKNOLOGI BUDIDAYA KIMA

Teknologi budidaya kima cukup seder -hana. Pakan hanya diberikan selama peme-liharaan burayak kima, sedangkan kima mu-

da dapat "berswasembada pangan" karena kima bersimbiose dengan ganggang bersel sa-tu yang bersifat fototrofik (PANGGABEAN 1991a). Yang diperlukan dalam usaha budi-daya kima hanyalah air laut yang "bersih” dan cahaya matahari yang cukup.

Tahapan dalam budidaya kima

Budidaya kima terdiri dari 4 tahapan yaitu :

a. Pembibitan : pemijahan dan pemeliha- raan burayak kima secara terkontrol di hatchery.

b. tahap asuhan (nursery) : pemeliharaan spat kima dari pasca metamorfosis hing ga ukuran cangkang lebih dari 2 cm di kolam-kolam pemeliharaan di hatchery c. tahap asuhan di laut (ocean nursery) : pemeliharaan kima kecil didalam kurung- an di laut sehingga terhindar dari ancam- an predator.

d. tahap pembesaran : pemeliharaan kima dewasa tanpa perlindungan di laut.

a. Pembibitan kima

Pembibitan terdiri dari pemijahan telur dan sperma, pembuahan dan pemeliharaan burayak hingga menjadi spat. Kemudian spat akan dibesarkan pada tahap berikutnya (tahap asuhan).

Pemijahan

Keberhasilan pembibitan kima ditentu-kan oleh keberhasilan pemijahan. Dengan kata lain : untuk menghasilkan burayak yang sehat dengan kemampuan hidup yang tinggi, pemijahan kima harus menghasilkan telur dan sperma dalam keadaan matang, artinya sperma yang sangat aktif dan mampu melakukan pembuahan dan telur-telur yang sudah berkembang dengan sempurna, dengan persediaan kuning telur yang cukup untuk

(3)

kebutuhan energi selama perkembangan em-brional kima. Disamping kematangan telur, ukuran telur juga menentukan kelulus hi-dupan burayak kima. Telur yang besar dengan persediaan kuning telur yang cukup banyak menghasilkan burayak dengan ke-lulus hidupan yang tinggi (FITT et al. 1984). Pemijahan kima dapat dilakukan seca-ra spontan maupun induksi. Pemijahan spontan terjadi apabila beberapa induk matang telur dipelihara di dalam bak air mengalir (HESLINGA et al 1984). Sedang-kan pemijahan induksi dapat terjadi dengan rangsangan suspensi dari jaringan kelamin kima yang sejenis (GWYTHER dan MUNRO 1981); atau serotonin (BRALEY 1985 dan CRAWFORD et al. 1986).

Telah diketahui bahwa kima bersifat hemafrodit (WADA 1954) dan memijah sepanjang tahun (HESLINGA et al. 1984). Namun pemijahan kima tidak selalu meng-hasilkan telur dan sperma pada waktu yang sama. Beberapa induk lebih banyak memi-jahkan sperma dari pada telur. Oleh karena itu perlu disediakan beberapa induk kima yang benar-benar mengandung telur-telur dan sperma yang sudah matang kelamin. Kima yang tua baik dijadikan induk karena lebih banyak mengandung telur dan cende-rung menjadi betina (CRAWFORD et al. 1986). Sedangkan tingkat kematangan kela-min dari induk kima dapat diperiksa dengan teknik biopsi, yaitu pemeriksaan sampel jaringan kelamin kima yang diambil dengan jarum biopsi (BRALEY 1984, SHELEY dan REID 1988). Dengan teknik ini, induk yang benar-benar matang kelamin dapat diseleksi dan dirangsang untuk memijah dengan ekstrak jaringan kelamin atau sero-tonin (5-hydroxytriptamin ne creatinine sulfate complex).

Induksi dengan ekstrak jaringan kela-min dilakukan penyemprotan suspensi ter-sebut kedalam sifon inhalent kima, sedang induksi dengan serotonin dilakukan dengan penyuntikan 1 mM serotonin dalam air laut saring sebanyak 1 — 2 mL ke dalam jaringan kelamin kima. Pemijahan akan terjadi beberapa menit kemudian. Telur-telur yang dipijahkan dapat ditampung langsung ke dalam kantung plastik atau ke-dalam ember melalui tabung pemijahan. Tabung pemijahan adalah tabung PVC ber-bentuk L yang ditempatkan diatas sifon ekshelent kima pada waktu memijah sede-mikian rupa sehingga telur-telur kima dapat disalurkan melalui tabung tersebut dan di-tampung dalam ember.

Pembuahan dan pemeliharaan larva/burayak kima

Pembuahan dilakukan dengan men-campurkan sedikit sperma ke dalam telur-telur yang sudah dipilah dari beberapa ekor induk. Zigote (telur yang sudah dibuahi) kemudian disiram keatas saringan untuk membersihakan sisa-sisa sperma, lalu diin-kubasi dalam air laut saring dengan aerasi kecil. Sesudah inkubasi selama 40 — 48 jam, zygote akan berkembang menjadi veliger yang dilengkapi dengan cangkang transparan berbentuk huruf D (Gambar 1A).

Sebelum pemeliharaan veliger selanjut-nya, BRALEY at al. (1988) menganjurkan untuk memilah D-veliger. Hanya burayak yang berenang dipermukaan yang diciduk dengan saringan dan dipindahkan kedalam air saring yang bersih. Cara ini dapat meng-hindari kematian burayak karena kontami-nasi oleh bakteri yang berkembang dengan baik.

(4)

Burayak kima mempunyai persediaan lipid yang tinggi untuk perkembangannya (SOUTHGATE 1988). HESLINGA (1989) berpendapat bahwa burayak kima bersifat lecitotroph dan tidak perlu diberi makan. Pendapat lain menyatakan bahwa pemberi-an makpemberi-an sejak dini dapat meningkatkpemberi-an kelulus hidupan hingga 80 % sesudah meta-forfosa menjadi spat (BRALEY et al 1988). Walaupun 6 bulan kemudian kelulus hidup-annya turun menjadi 2,44 %, namun masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh HESLINGA et al. (1984) dengan perlakuan tanpa makanan yaitu 0,1 %. Jadi pemberian pakan dapat meningkatkan kelulus hidupan kima. Pakan dapat berupa ganggang satu sel yang mem-punyai kandungan lipid tinggi yang terma-suk kelompok Diatomae; dapat pula berupa pakan buatan "micro-encapsulated diet" yang banyak dijual dipasaran. Pakan yang terdiri dari Isochrysis galbana atau Pavlona salina dapat diberikan sebanyak 1 0 - 1 0 0 ribu sel/ml (CRAWFORD et al 1986, BRA-LEY et al. 1988) atau 20.000/ml untuk pa-kan buatan. Pemeliharaan burayak sebaik-nya menggunakan air laut saring dengan penyaringan hingga 1 mikron dengan kepa-datan 2 — 10 burayak/ml. Penggantian air dilakukan sebanyak 40 — 100% setiap hari.

Pemberian pakan dapat dihentikan sesudah mencapai pediveliger (Gambar IB dalam Panggabean, 1991) pada umur 7 — 1 hari. Pediveliger adalah masa peralihan dari kehidupan planktonik menuju kehidupan bentik menjadi spat. Spat kima mempunyai cara hidup menempel di dasar dan bersim-biose dengan zooxanthella. Metamorfosis dari pediveliger menjadi spat (Gambar 1C dalam PANGGABEAN 1991) adalah masa krisis dalam perkembangan burayak kima. Ada tiga hal yang hams diperhatikan dalam proses metamorfosis:

1. Pediveliger berpuasa selama metamorfo sis, jadi pediveliger harus cukup menyim- pan cadangan lemak untuk kebutuhan energinya yang besar.

2. Harus tersedia substrat yang memadai sehingga pediveliger tidak menghabiskan energinya dalam mencari-cari substrat yang cocok untuk menempelkan diri. 3. Tersedia ganggang simbion, zooxanthella, di jaringan mantelnya yang diperlukan untuk kehidupan selanjutnya secara sim- biosis.

Maka sesuai dengan tingkat perkem-bangannya, pemberian pakan dihentikan pada fase pediveliger, digantikan dengan pemberian zooxanthella sebanyak kira-kira 26 sel/ml. Ganggang simbion ini dapat di-peroleh dengan memotong jaringan mantel kima dan menyiram jaringan tersebut de-ngan air saring melalui saride-ngan 25 mikron. Bersama-sama dengan pemberian zooxan-thella, disediakan pula kepingan-kepingan dengan permukaan kasar seperti batu karang atau ampelas ke dalam kolam pemeliharaan (BRALEY et al 1988. Hasil penelitian BRALEY et al 1988) menyatakan bahwa permukaan yang kasar baik dijadikan subs-trat penempel bagi spat kima.

Asuhan (nursery).

a. Asuhan dalam akuarium

Biasanya persentase burayak yang ber-hasil melewati metamorfosis sangat rendah. Hanya spat kima yang berhasil memperoleh substrat yang sesuai, menangkap zooxan-thella dan memperoleh kebutuhan energi untuk metamorfosis (dari hasil fotosintesa zooxanthella) yang dapat melanjutkan kehi-dupannya. Sesudah pasca metamorfosis, spat kima yang "sehat" dapat dipindahkan kedalam air mengalir di bawah sinar mata-hari. Spat kima dapat ditebar di dalam ko-

(5)

lam tersebut dengan kepadatan 1000 - 2000 spat/m2 (HESLINGA et al. 1984). Air masuk pada kolam air mengalir disaring melalui saringan 25 milimikron. Debit air diatur sedemikian rupa sehingga air dalam kolam asuhan dapat berganti seluruhnya dalam waktu 36 jam. Menu rut perkembang-an terakhir (GERVIS 1990) sedperkembang-ang diuji model kolam berbentuk lingkaran (Gambar 1). Kelebihan dari kolam seperti ini adalah :

- besaran arus lebih merata di semua ti- tik.

- kotoran dapat terpusat di tengah dan terbuang sendiri

- cahaya yang diperlukan untuk foto- sintesa lebih merata.

b. Asuhan di Laut (Ocean Ranching)

Menurut perkembangan terakhir, asuh-an tidak perlu dilakukasuh-an dalam kolam air mengalir selama 2,5 tahun, melainkan se-bagian waktu asuhan dilakukan di laut. Kima muda berumur sekitar 9 bulan (pan-jang cangkang sekitar 2 cm) dipindahkan dari kolam air mengalir dan ditempatkan dalam kurungan supaya kima muda terhin-dar terhin-dari gangguan predator. Kima dipeli-hara dalam kurungan hingga mencapai ukuran lebih dari 15 cm. Untuk kemudah-an kerja dkemudah-an efisiensi biaya,maka konstruksi kurungan dan lokasi asuhan harus dipertim-bangkan sedemikian rupa sehingga kima tumbuh optimal dengan angka kematian yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah intertidal (CRAWFORD et al 1988) atau substidal (HESLINGA et al 1986) cukup ideal sebagai tempat asuhan kima. Kurungan dapat dibuat dari plastik anyaman memanjang (30 x 1,1 m) dan diberi sekat setiap 2 m. Untuk sisi dan dasar kurungan menggunakan mata jaring selebar 12 mm, sedangkan tutup yang dapat dibuka

menggunakan mata jaring 26 mm (Gambar 2). Untuk kima berumur 2 tahun dapat dipelihara dengan kurungan lebih sederhana dengan mata jaring lebih besar, misalnya 40 x 60 mm (Gambar 3).

c. Pembesaran kima

Kima berumur 2,5 tahun cangkang-nya sudah cukup tebal dan kebal terhadap predator. Kima selanjutnya dibesarkan tanpa kurungan di tempat yang sama sampai panen atau sebagian ditebar kembali di beberapa terumbu karang untuk tujuan pere-majaan dan pelestarian kima.

BEBERAPA KENDALA DALAM BUDIDAYA KIMA DAN PENANGGULANGANNYA

Beberapa kendala yang sering meng-ganggu dalam usaha budidaya kima antara lain adalah kontaminasi oleh bakteri oleh bakteri , kompetitor dan predator.

Kontaminasi oleh bakteri

Kontaminasi oleh bakteri dapat terjadi sesudah pembuahan dan pemberian pakan yang kurang diperhatikan. Sisa-sisa telur, sperma dan pakan adalah media/nutrien yang baik untuk pertumbuhan bakteri se-hingga cepat membusuk dan dapat menye-babkan kematian burayak kima. Sisa-sisa sperma dapat dibersihkan dengan pembi-lasan telur-telur yang sudah dibuahi dengan menggunakan mata jaring 25 mikron. Se-dangkan sisa-sisa telur yang tidak berkem-bang hanya dapat dibersihkan sesudah per-kembangan embrional kima mencapai veliger berumur 2 hari sesudah pembuahan. Veliger yang berenang dipermukaan dapat ditangkap dengan jaring plankton yang bermata jaring 80 mikron, dibilas dan dipindahkan ke dalam media baru yang bersih.

(6)

Gambar 1. Kolam asuhan untuk spat kima. A : tampak atas. B : tampak samping. (Sumber: GERVIS 1990).

(7)

Gambar 2. Kurungan pembesaran kima (sumber : BARKER et al 1988)

Gambar 3. Kurungan untuk kima berumur 2 tahun (sumber BARKER et al 1988)

(8)

Kompetitor

Ganggang laut, terutama dari jenis algas benang merupakan kompetitor utama di dalam kolam asuhan kima. Spora-spora algae dapat terbawa melalui air mengalir dan tumbuh sangat cepat hingga menutupi spat kima di dasar dan dinding kolam asuh-an. Tidak seperti ganggang dari jenis lain, alga benang menempel sangat kuat pada dasar dan dinding kolam sehingga sulit dibersihkan dengan car a sifonisasi. HES-LINGA et al (1984) memasukkan lola (Trochus nibticus), sejenis siput pemakan ganggang untuk mengontrol pertumbuhan algae tersebut. Namun cara ini ternyata kurang efektif karena siput laut tersebut mengeluarkan kotoran yang menganggu ke-sehatan kima. Cara penanggulangan ganggang menurut BRALEY et al (1988) yaitu pe-ngurangan intensitas cahaya dengan meng-gunakan tirai peneduh. Tirai dari kain dapat mengurangi intensitas cahaya matahari pada panas terik hingga menjadi 400 uE/m2/ detik. Perlakuan ini dapat diberikan pada tiga bulan pertama pertumbuhan kima. Pada intensitas cahaya rendah, pertumbuhan ganggang benang dibatasi,tetapi pertumbuh-an spat kima tidak tergpertumbuh-anggu karena cpertumbuh-ang- cang-kangnya masih transparan, sehingga zoo-xanthella cukup memperoleh sinar untuk fotosintesa (FISHER et al 1985).

Predator dan hama

Kima muda dibawah umur 2,5 tahun (panjang cangkangnya 15 cm) amat rawan terhadap hewan-hewan pemangsa (predator) termasuk kepiting, ikan pemakan moluska, siput laut Chriroreusromosus dan sotong serta hama yang termasuk Cymatium muri-cinum (HESLINGA and WATSON 1985; PERON et al 1985) dan Pyrgisus sp. (CUM-MING1988).

Predator umumnya berukuran lebih besar dari mengsanya. Predator dapat meng-hancurkan cangkang kima muda yang tipis dan mengkonsumsi jaringan lunaknya. Me-ngatasi predator dapat dilakukan dengan teknik perlindungan (telah diterangkan di atas: asuhan di laut).

Hama termasuk kendala penting dan perlu diperhatikan karena mengatasinya le-bih sulit. Burayak C. muricinum dapat melewati mata jaring dan memasuki kurung-an dkurung-an menyerkurung-ang kima muda. Spat dari siput tersebut kemudian menempel di sela-sela antara cangkang dan mantel, kemudian dapat tumbuh menjadi dewasa dalam waktu 1 tahun. Siput dewasa berukuran 3 cm dapat mematikan kima T. derasa yang panjang-nya 15 cm dan T. gigas yang panjangpanjang-nya 17 cm. Gejala kima "sakit" adalah cangkang yang selalu terbuka dan mantel yang turun kebawah didalam cangkangnya. Mengatasi kima ini hanya dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan berkala dan pembersihan setiap minggu. Yang penting harus diperhati-kan adalah "waktu tebar". Waktu tebar un-tuk kima muda sebaiknya diluar musim pemijahan C muricinum. Di pulau YAP C. muricinum muda banyak diketemukan pada bulan April 1984 (PERON et al 1985).

Hama siput yang lain adalah Pyr-girus sp. Siput ini hidup mengelompok diantara ganggang benang yang menempel pada cangkang kima waktu masih berada di kolam asuhan. Masuknya hama ini tidak terbawa oleh air masuk, tetapi mungkin terbawa masuk bersama induk. Oleh karena itu sebaiknya induk kima diperiksa dengan teliti dan dibersihkan dengan baik sebelum dipijahkan. Daur hidup hama ini sangat singkat. Dalam waktu 4 bulan Pyrgisus sp. yang semula berjumlah 6 ekor dapat

(9)

berlipat ganda menjadi 1700 ekor. Hasil penelitian CUMMING (1988) menunjukkan bahwa T.gigas berumur 13 bulan dapat terbunuh hanya oleh 2 ekor Pyrgisus sp. setelah 3 bulan kemudian.

TINJAUAN EKONOMI UNTUK BUDIDAYA KIMA

Waktu pemeliharaan kima hingga pa-nen cukup lama namun cukup menguntung-kan karena pembesaran kima tidak memer-lukan biaya untuk pakan. Produksi biomassa kima per satuan luas cukup tinggi; untuk T. derasa, produksi daging dalam 3 tahun pertama adalah 13 ton/ha/tahun (HES-LINGA et al. 1984). Dua tahun kemudian, yaitu antara tahun ketiga dan kelima, be-rat daging meningkat menjadi empat kali lipat.

Menurut perhitungan teoritis untuk 5 tahun panen, maka perolehan petani rata-rata adalah daging kima sebanyak 22 ton/ha/tahun dengan hasil sampingan berupa cangkang kima sebanyak 140 ton (HES-LINGA and WATSON 1985). Daging ter-sebut termasuk mantel, gonad dan jarohan sebanyak 85 % dan otot adduktor sebanyak 15 % (Tabel 1). Otot inilah yang merupakan komoditi ekspor. Apabila dihitung nilainya berdasarkan harga berat basah ditempat, yaitu 10 US dolar (MUNRO 1985), maka

produksi otot adduktor/tahun dapat ber-nilai 15 % x 22 x $ 33.000 (hargaini belum dikurangi biaya produksi). Biaya produksi hanyalah berupa konstruksi kolam-kolam asuhan, kurungan-kurungan dan tenaga lo-kal. Biaya ini tidak sebanding dengan penda-patan yang diperoleh. Maka dapat dipasti-kan bahwa usaha budidaya kima cukup menguntungkan. Dalam perhitungan nilai ekonomis dari usaha ini, pilihan jenis dan waktu panen perlu dipertimbangkan. Dalam pilihan jenis, laju pertumbuhan dan kelulus hidupan harus diperhitungkan.

Dua jenis kima terbesar, yaitu T. gigas dan T. derasa dipilih untuk dibudida-yakan karena T. gigas pertumbuhannya paling cepat dari kima lainnya, sedangkan T. derasa pertumbuhannya lebih lambat, naniun kelulus hidupannya lebih tinggi dari

T. gigas.

Waktu panen yang paling ideal adalah waktu panen yang menghasilkan pertambah-an berat otot adduktor paling besar, namun kelestarian kima tetap terpelihara. Waktu panen yang ideal berbeda-beda untuk jenis yang berbeda. T. derasa mencapai kedewa-saan pada umur 5 tahun, sedangkan per-tambahan berat maksimal untuk otot adduktor dicapai pada umur 6 tahun sesu-dah penebaran. Maka WATSON and HES-LINGA (1988) menganjurkan waktu panen untuk jenis tersebut adalah 6 tahun.

(10)

Tabel 1. Bagian-bagian badan kima menurut panjang cangkangnya.

Sumber: MUNRO (1985).

DAFTAR PUSTAKA

BARKER’ J.R., CM. CRAWFORD, C.C. SHELEY, R.D. BRALEY, J.S. LUCAS, W.J. NASH and S. LINDSAY 1988. Ocean nursery technology and produc-tion data for the giant clam Tridacna gigas. In : Giant clams in Asia and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS eds). ACIAR Monograph 6 : 225 - 228. BECKVAR, N. 1981. Cultivation, spawning

and growth in the giant clams Tridacna gigas, Tridacna derasa and Tridacna squamosa in Palau, Carolina Islands. Aquaculture 24 (1) : 11 -20.

BRALEY, R.D. 1984. Reproduction in the giant clams Tridacna gigas and Tridacna derasa in situ on the North Central Great Barrier Reef and Papua New Guinea. Coral reef, 3 : 221 - 227.

BRALEY, R.D. 1985. Serotonin-induced spawning in giant clams (Bivalvia : Tri-dacnidae). Aquaculture 47 : 321 - 325. BRALEY, R.D., W.J. NASH, J.S. LUCAS

and CM. CRAWFORD 1988. Compari-son of different hatchery and nursery culture methods for the giant clam Tridacna gigas. In : Giant clams in Aisa and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS eds.). ACIAR Monograph 6. CRAWFORD, CM. W.J. NASH and J.A.

LUCAS 1986. Spawning induction, and larval and juvenile rearing of the giant clam, Tridacna gigas. Aquaculture 58 : 281 - 295.

CRAWFORD, CM., R.D. BRALEY and W.J. NASH 1988. Interspecific growth rates of cultured giant clams on the Great Barrier Reef. In : Giant clams in Asia and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS eds). ACIAR Monograph 6: 1 1 5 - 1 1 9 .

(11)

CRAWFORD, CM., J.S. LUCAS and WJ. NASH 1986. Growth and survival during the nursery rearing of giant clams, Tri-dacna gigas. 1. Assesment of tour cul-ture methods. Aquaculcul-ture 68 : 103 — 113.

CUMMING, R.L. 1988. Pyramidellid Para-sites in giant clams mariculture systems. In : Giant clams in Asia and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS eds). ACIAR Monograph 6 : 231 - 236. ESTACION, J.S. 1988. Ocean-nursery phase

for giant clams in the Central Visayas, Philippines. In : Giant clams in Asia and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS eds) ACIAR Monograph 6: 1 1 5 - 1 1 9 .

FISHER, C.R., W.K. FITT and R.K. TRENCH 1985. Photosyntesis and res-piration in Tridacna gigas a functions of irradiance and size. Biol Bull. 169 : 230-245.

FITT, W.K. 1985. The effect of different strains of the zooxanthella S. micro-adriaticum on growth and survival of their coelenterate and mollusca hosts. Proc. Congres Coral Reefs. 6 : 131 -136.

FITT, W.K. and TRENCH 1981. Spawning development and acquisition of zoo-xanthellae by Tridacna squamosa (Mollusca : Bivalvia). Biol Bull 161 : 213 -235.

FITT, W.K., C.R. FISHER and R.K. TRENCH 1984. Larval biologi of tri-dacnid clams. Aquaculture 39 : 181 — 192.

GERVIS, M. 1990. Is there an optimum design for the rearing of giant clams. ClamlinesS : 7 - 10.

GWYTHER, J. and J.L. MUNRO 1981. Spawning induction and rearing of lar-vae of tridacnid clams (Bivalvia : Tri-dacnidae). Aquaculture 24 : 197 — 217. GOREAU, T.F., N.I. GOREAU and CM.

yonge 1973. On the utilization of photo-synthetic products from zooxanthella and of a dissolved amino acid in Tri-dacna maxima f. elongata (Mollusca : Bivalvia).J. Zool (London) 169 : 417 -454.

HARDY, J.T. and S.A. HARDY 1969. Ecology of Tridacna in Palau. Pac. Sci. 23 : 467 -472.

HESLINGA, G.A. 1989. Lecithotropy in Tridacna derasa Good news for hacheries. MMDC Bulletin 4 (1): 1

HESLINGA, G.A. and T.C WATSON 1985. Recent advances in giant clam mariculture. Proc. Int. Congres Coral Reefs 5: 531 -537.

HESLINGA, G.A., T.C WAATSON and T. ISAMU 1986. Cultivation of giant clams: beyond the hatchery. Paper presented to the first Asian Fisheries Forum, Ma-nila, Philippines, 14 pp.

HESLINGA, G.A.. F.E. PERRON and 0. ORAK 1984. Mass culture of giant clams (f. Tridacnidae) in Palau. Aquaculture 39 : 197 -215.

JAMESON, S.C 1976. Early life history of the giant clams Tridacna crocea (Lamarck) T. maxima (Roding) and Hippopus hippopus (Linnaeus). Pas. Sci. 3 0 : 2 1 9 - 2 3 3 .

LA BARBER A, M. 1975. Larvae and post larvae development of the giant clams Tridacna squamosa (Bivalvia Tridacni-dae). Malacologia 15 : 69 — 79.

(12)

MC MICHAEL, D.F. 1975. Growth rate, population size and mantle cooloratioon in the small giant clam, Tridacna maxima (Rooding), at One Tree Island, Capri-corn Group, Queensland. Proc. 2nd. Int. Coral Reef Symp. 1 : 241 - 254. MINGOA, S.S.M. 1988. Photoadaptation in

Juvenile Tridacna gigas In : Giant clams in Asia and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS ads). ACIAR Monograph 6 : 1 4 5 - 1 5 0 .

MUNRO, J. 1985. Economic and social aspects of the development of mari-culture systems for giant clams (Tridacni-dae : Bivalvia) in the Australian region and the Western Pacific. I. Production parameters and calculated harvests. Int. Giant Clam Mariculture Project Dis-cussion Paper 2, 9 pp.

PANGGABEAN, L.M.G. 1990. Rahasia ke-hidupan kima : I. Swasembada pangan. Oseana 15 (3): 1 57- 163 .

PANGGABEAN, L.M.G. 1991. Rahasia ke-hidupan kima : III. Kelangsungan hidup. Oseana 16 (2): 35-45.

PEARSON, R.G. 1977. Impact of foreign vessels poaching giant clams. Aut. Fish. J . 3 6 ( 7 ) : 8 - 1 1 .

PERRON, F.E., G.A. HESLINGA and J.O. FAGOLIMUL 1985, The gastropod Cy-matium muricinum, a predator on ju-venile tridacnid clams. Aquaculture 48 : 211 -221.

SHELEY, C.C and R.G.B. REID 1988. An improoved gonad biopsy technique for Hippopus hippopus. In : Giant clams in Asia and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS eds) ACIAR Monograph 6: 95-97.

SOUTHGATE, P.C. 1988. Biochemical deve-lopment and energetics of Hippopus hippopus larvae. In : Giant clams in Asia and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS eds.). ACIAR Mono-graph 6 : 155 -166.

TISDELL, C. and K. MENZ 1988. Socioe-conomic considerations in giant clams mariculture. In Giant clams in Asia and the Pacific 6 : 246 - 249.

WADA, S.K. 1954. Spawning in the tri-dacnid clams. Jap. J. Zool 11 : 273 — 285.

WATSON, T.C. and G.A. HESLINGA 1988. Optimal harvest age for Tridacna derasa : maximizing biological produc-tion. In Giant clams in Asia and the Pacific (J.W. COPLAND and J.S. LUCAS eds.). ACIAR Monograph 6 : 221 - 224.

Gambar

Gambar 1.   Kolam asuhan untuk spat kima. A : tampak atas. B : tampak samping.
Gambar 3.   Kurungan untuk kima berumur 2 tahun (sumber BARKER et al  1988)
Tabel 1. Bagian-bagian badan kima menurut panjang cangkangnya.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu .” (ayat 4) Meski Ibadah berlangsung cukup lama yaitu dari pagi hingga tengan hari,

mempunyai suatu makna yang penting. Bagi kebanyakan orang yang belum paham akan kebudayaan atau tradisi itu akan menjadi suatu pertanyaan besar dalam benak mereka mengapa

PEREKAMAN ANALISA MASING-MASING HARGA SATUAN KEGIATAN : SATKER PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PROVINSI MALUKU PEKERJAAN : PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN KUMUH

Kemasan teh seduh Walini 100gr menggunakan ilustrasi berupa elemen garis yang menggambarkan mood pada setiap varian rasa serta visual warna yang mendukung mood. Kemasan

+etersediaan peralatan sangatlah berperan dalam menunjang jalannya  proses produksi dimana perpindahan material dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja yang lain

Metode dan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, berjenis causal research.Causal research merupakan suatu penelitian

Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya sajalah saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah berjudul “Efektivitas Krim Almond

” Eksplorasi umum mineral logam tanah jarang (REE) di Kabupaten Tapanuli Utara merupakan tindak lanjut dari kegiatan eksplorasi umum logam langka yang telah dilakukan oleh Tim