PENGARUH METODE EKSPOSITORI YANG DIKOMBINASIKAN
DENGAN MIND MAPPING TERHADAP HASIL BELAJAR IPA
I Made Rupia Arsana
1, Nyoman Dantes
2, I Wayan Widiana
31,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
2Jurusan BK, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected],
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind
mapping dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional pada
siswa kelas V tahun pelajaran 2013/2014 di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah kelas V semester ganjil di Desa Bebetin Kecamatan Sawan tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 138 orang. Sampel penelitian ini yaitu siswa kelas V SD No. 3 Bebetin yang berjumlah 30 orang dan siswa kelas V SD No. 2 Bebetin yang berjumlah 30 orang. Data hasil belajar IPA siswa dikumpulkan dengan tes berbentuk pilihan ganda. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji–t). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara yang dibelajarkan dengan metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind mapping dan yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Dilihat dari hasil uji–t diperoleh thitung = 7,20 dan ttabel
(db =58 pada taraf signifikansi 5%) = 2,000. Hal ini berarti bahwa thitung > ttabel, sedangkan
hasil perhitungan rata–rata hasil belajar IPA yang dibelajarkan dengan metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind mapping adalah 23,13 lebih besar dibandingkan dengan yang dibelajarkan dengan model konvensional adalah 15,43, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind mapping berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri di Desa Bebetin tahun pelajaran 2013/2014.
Kata kunci: ekspositori, mind mapping
Abstract
This study aims to determine the differences in Natural of Science learning outcomes between students who are participating in learning with expository method combined with mind mapping and learning by students who take on the conventional model of fifth grade students in academic year 2013/2014 in the village of Bebetin, Sawan subdistrict, Buleleng regency. The type of research was a quasi-experimental study. This study population is odd semester a fifth grade in the Bebetin village of Sawan subdistrict in academic year 2013/2014, amounting to 138 people. The sample of this study is fifth grade students of Elemntary School No. 3 Bebetin who were 30 people and fifth grade students of Elementary School No. 2 Bebetin which totaled 30 people. The data of natural sciences learning outcomes were collected by multiple choice tests. The data collected were analyzed using descriptive statistics and inferential statistics (t-test). Results of this study indicate that there are differences in learning outcomes significantly between the learned with expository method combined with mind mapping and who learned with conventional learning models. Judging from the t-test results obtained tvalue = 7.20 and
calculation of the average of Natural Sciences learning outcomes are learned with expository method combined with mind mapping is 23.13 greater than that learned with the conventional models is 15.43, so it can be concluded that the application of the expository method combined with mind mapping effect on science learning outcomes Elementary School fifth grade students in the Bebetin village academic year 2013/2014. Key words: expository, mind mapping
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu wadah kegiatan yang berusaha untuk membangun masyarakat dan watak bangsa secara berkesinambungan yaitu membina mental resiko, intelektual, dan kepribadian dalam rangka manusia seutuhnya. Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. Ini berarti bahwa pendidikan dilaksanakan secara terus-menerus dan berencana. Karena itu sudah sepatutnya pendidikan mendapat perhatian secara terus menerus dalam upaya peningkatan mutunya. Peningkatan mutu pendidikan berarti pula peningkatan kualitas sumber daya manusia (Santyasa, 2003:6).
Berbicara masalah pendidikan, tidak
akan bisa dilepaskan dari proses
pendidikan itu sendiri dalam proses
pendidikan dikenal istilah peserta didik, tenaga pengajar (guru) dan strategi yang digunakan dalam peoses pembelajaran. Suatu proses pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila dari ketiga komponen-komponen pendidikan, yakni peserta didik, guru dan strategi belajar yang digunakan berjalan secara harmonis sehingga dapat saling mendukung satu sama lain. Guru
mampu menerapkan strategi-strategi
pembelajaran efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa yang mencerminkan berhasilnya suatu proses pendidikan. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan yang beragam sesuai dengan tuntutan dunia pendidikan,
namun kenyataan menunjukkan hasil
belajar siswa Sekolah Dasar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
masih relatif rendah. Rendahnya
pencapaian hasil belajar siswa disebabkan
salah satunya karena “pengajaran
dipandang sebagai transfer pengetahuan belum sebagai membangun pengetahuan,
ketrampilan proses, sikap IPA”
(Suparno,1997:76).
Untuk mencapaian tingkat
ketuntasan minimal (KKM) hasil belajar
siswa, diperlukan suatu model
pembelajaran yang dapat memperlancar proses pembelajaran. Soekamto (dalam Subamia, 2010:27) mengemukakan “model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sintematis
dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar”. Oleh karena itu berbagai model
pembelajaran dikembangkan untuk
membantu guru dalam melancarkan
penyampaikan materi dalam proses
pembelajaran.
Menurut Sudiarta (2008)
terpuruknya kualitas pendidikan dan hasil belajar siswa lebih banyak disebabkan karena model, metode, maupun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam
proses pembelajaran masih bersifat
tradisional dan kurang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuan dan keterampilan masing-masing.
Rendahnya kompetensi siswa dalam pendidikan khususnya IPA juga disebabkan oleh kurangnya kemampuan guru dalam memahami dunia peserta didik dan guru mengajar IPA hanya untuk mengejar
ketercapaian materi sihingga bersifat
buku/berpedoman terhadap buku) (Suastra, 2006). Selain itu, hasil penelitian Blazely (dalam Jatmiko, et al., 2005) menunjukkan bahwa pada sejumlah SD di Indonesia, pola pembelajaran IPA masih berorientasi pada penyelesaian materi. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Santyasa (2004) bahwa metode drill (latihan soal) amat populer dan pembelajaran yang dilakukan dengan cara seperti itu cendrung tidak terkait dengan lingkungan di mana siswa berada. Dengan demikian, siswa akan sulit memahami konsep IPA yang dipelajarinya atau hasil belajarnya akan cepat hilang. Hal ini terjadi karena IPA bukan sekedar produk ilmiah yang berupa fakta, teori, konsep dan generalisasinya saja, namun juga metode ilmiah dan sikap ilmiah yang meliputi: (1)
mengembangkan dan menggunakan
ketrampilan proses untuk memperoleh konsep-konsep IPA, (2) melatih siswa
menggunakan metode ilmiah dalam
memecahkan masalah yang dihadapinya, (3) memupuk daya kreasi dan kemampuan
berpikir, (4) serta membantu siswa
memahami gagasan atau informasi baru dalam dunia teknologi.
Belajar akan lebih bermakna jika
siswa mengalami apa yang akan
dipelajarinya, bukan sekedar hafal terhadap materi pelajaran. Proses pembelajaran
yang berorientasi terhadap target
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, namun gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan jangka panjang (Depdiknas, 2002).
Sejalan dengan perkembangan
IPTEK, di bidang pendidikan juga banyak
mengembangkan berbagai metode
pembelajaran. Salah satunya adalah
metode pembelajaran ekspositori dan mind
mapping. Menurut Herman Hudoyo
(1998:133) metode ekspositori dapat
meliputi gabungan metode ceramah,
metode drill, metode tanya jawab, metode
penemuan dan metode peragaan.
Penggunaan metode ini siswa tidak perlu mencari dan menemukan sendiri fakta-fakta, konsep dan prinsip karena telah disajikan secara jelas oleh guru.
Pentatito Gunowibowo (1998:67) dalam pembelajaran menggunakan metode ekspositori, pusat kegiatan masih terletak pada guru, namun dibandingkan dengan
metode ceramah, dalam metode ini
dominasi guru sudah banyak berkurang. Tetapi jika dibanding dengan metode demonstrasi, metode ini masih nampak lebih banyak. Selanjutnya Dimyati dan Mudjiono (1999:172) mengatakan metode
ekspositori adalah memindahkan
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang penting
adalah: 1) menyusun program
pembelajaran, 2) memberi informasi yang benar, 3) mememberi fasilitas yang baik, 4)
pembimbing siswa dalam perolehan
informasi yang benar, dan 5) penilai prolehan informasi. Sedangkan peranan siswa adalah: 1) pencari informasi yang benar, 2) pemakai media dan sumber yang benar, 3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru.
Tehnik mind mapping atau peta pikiran adalah cara yang paling efektif dan efisien untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan data dari/ke otak (Edward, 2009:64). Lebih lanjut Bruzan (2007:4) berpendapat bahwa mind mapping adalah cara mudah menggali informasi dari dalam dan dari luar otak. Dalam peta pikiran, sistem kerja otak diatur secara alami. Otomatis kerjanya-pun sesuai dengan kealamian cara berpikir manusia. Peta pikiran membuat otak manusia ter-eksplor dangan baik, dan bekerja sesuai fungsinya. Seperti kita ketahui, otak manusia terdiri dari otak kanan dan otak kiri. Dalam peta pikiran kedua sistem otak diaktifkan sesuai porsinya masing-masing. Kemampuan otak
akan pengenalan visual untuk
mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Dengan kombinasi warna, gambar, dan
cabang-cabang melengkung, akan
merangsang secara visual (Tony Bruzan, 2008:9).
Berdasarkan paparan diatas,
kiranya metode pembelajaran ekspositori dan mind mapping ini perlu di padukan atau disatukan menjadi metode pembelajaran ekspositori yang dikombinasikan dengan
mind mapping. Sehingga dengan dikombinasikannya metode pembelajaran
tersebut dapat menjadikan pembelajaran menarik, berkualitas baik secara proses maupun produknya, serta bermakna bagi peserta didik, sehingga dapat mengundang atau membangun minat belajar siswa untuk
mencapai keberhasilan selama
berlangsungnya pembelajaran. Dengan
penerapan metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind mapping, akan menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa menjadi aktif menggali ide-ide
baru, memecahkan permasalahan,
memberikan jawaban berani mengeluarkan pendapatnya, dan membuat peta pikiran lewat catatan-catatan, sehingga siswa akan menjadi lebih mudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan selain juga memperkuat daya ingat siswa terhadap materi pelajaran. Peneliti menuangkan ide ini ke dalam penelitian yang berjudul
”Pengaruh metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind mapping terhadap hasil belajar IPA pada Siswa Kelas V SD Negeri di Desa Bebetin Tahun Pelajaran 2013/2014”. Apabila metode ekspositori yang dikombinasikan dengan
mind mapping ini dapat diimplementasikan
secara efektif dalam suatu pembelajaran maka akan berdampak pada proses yang
nantinya secara langsung akan
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
METODE
Jenis penelitian yang dilakukan
adalah eksperimen semu (quasi
experimen). Adapun waktu pelaksanaannya
dirancang pada Semester I (ganjil), pada
rentang waktu dari bulan
Agustus-September Tahun Ajaran 2013/2014.
Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah SD Negeri di Desa Bebetin Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng.
Agung (2011:45) menyatakan
bahwa “populasi adalah keseluruhan objek dalam suatu penelitian”. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri di Desa Bebetin tahun pelajaran 2013/2014. Banyak siswa seluruhnya 138 orang yang tersebar dalam 5 sekolah dasar yaitu SD No. 1, 2, 3, 4 dan 5 Bebetin
“Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil, yang dianggap mewakili seluruh populasi dan diambil
dengan menggunakan teknik tertentu”
(Agung, 2010:47). Pemilihan subyek
penelitian ini tidak dilakukan pengacakan individu, karena tidak bisa mengubah kelas yang telah terbentuk sebelumnya. Kelas dipilih sebagaimana telah terbentuk tanpa campur tangan peneliti dan tidak dilakukan
pengacakan individu, kemungkinan
pengaruh-pengaruh dari keadaan subjek
mengetahui dirinya dilibatkan dalam
eksperimen dapat dikurangi sehingga
penelitian ini benar-benar menggambarkan pengaruh perlakuan yang diberikan (sevilla, dkk 1993 dalam suciati, 2009).
Berdasarkan karakteristik populasi dan tidak bisa dilakukannya pengacakan individu, maka pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik class
random sampling. Tekink class random sampling merupakan suatu cara pengambilan sampel dengan melakukan pengacakan pada kelas bukan individu, yang mana setiap anggota populasi atau bagian dari populasi tersebut mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih
sebagai sampel dalam suatu kelas
(Soewarno, 1987).
Sampel ini diambil dengan
menggunakan rumus uji-t kesetaraan, yakni dengan rumus sampel independent (tidak
berkorelasi) dengan rumus separated
varians. Jika thitung > ttab maka H0 ditolak dan
H1 diterima sehingga kelompok tidak setara.
Jika thitung ttab maka H0 diterima dan H1
ditolak sehingga kelompok setara.
Dari hasil perhitungan diperoleh 6 pasangan kelompok kelas yang tidak signifikan (pasangan kelas setara), yaitu pasangan: kelas SD No. 1 dan 2 Bebetin; kelas SD No. 1 dan 3 Bebetin; kelas SD No. 1 dan 4 Bebetin; kelas SD No. 1 dan 5 Bebetin; kelas SD No.2 dan 3 Bebetin; kelas SD No. 4 dan 5 Bebetin.
Pada tahap kedua dipilih pasangan kelas sebagai kelas kelompok kontrol dan sebagai kelas kelompok eksperimen dari enam pasangan kelompok kelas yang setara (non signifikan) secara acak dengan tehnik undian. Dari hasil undian diperoleh pasangan kelas SD No. 3 Bebetin sebagai kelas eksperimen sebanyak 30 siswa, dan pasangan kelas SD No. 2 Bebetin sebagai kelas kontrol sebanyak 30 siswa.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah “Non-equivalent
posttest only control group design”. Pada
penelitian ini, kelompok eksperimen dikenai perlakuan berupa metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind mapping, sedangkan kelompok kontrol dikenai model pembelajaran konvensional dalam jangka waktu tertentu, kemudian kedua kelompok dikenai pengukuran yang sama. Perbedaan hasil pengukuran yang timbul dianggap sebagai akibat dari model pembelajaran yang diterapkan.
Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, maka diperlukan alat (instrumen) penelitian. Instrumen penelitian perlu dirancang dengan memperhatikan
syarat-syarat penyusunan instrumen,
sehingga alat ukur yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk memperoleh data tentang hasil belajar IPA pada ranah kognitif digunakan metode tes. Agung (2011:60) menyatakan bahwa “metode tes dalam kaitannya dengan penelitian adalah cara memperoleh data yang berbentuk suatu tugas yang dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dites (testee), dan dari tes tersebut dapat menghasilkan suatu data berupa skor (data interval)”.
Di dalam penelitian ini, diperlukan data tentang hasil belajar IPA siswa. Hasil
belajar IPA adalah
kemampuan-kemampuan dalam bidang IPA pada ranah kognitif yang dimiliki oleh siswa sebagai
akibat setelah menerima pengalaman
belajar IPA berdasarkan tujuan
pembelajaran yang telah ditentukan.
Hasil belajar IPA siswa diukur dengan menggunakan instrumen tes hasil belajar. Tes ini berupa plilihan ganda dengan 4 pilihan yang diberikan setelah diberikan perlakuan pembelajaran
(post-test). Menurut Bloom (dalam Sudjana,
1989) ada tiga ranah dalam hasil belajar yaitu ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotor. Tes hasil belajar dikembangkan berdasarkan jenjang taksonomi Bloom yang direvisi pada ranah kognitif. Jenjang 1 sampai dengan 3 digolongkan sebagai keterampilan berpikir dasar (basic thinking
skills), sedangkan jenjang 4 sampai dengan
6 dimasukkan ke keterampilan berpikir yang lebih tinggi (higher order thinking skills) yang meliput Mengingat (C1), Memahami (C2), Mengaplikasikan (C3), Menganalisa (C4), Mengevaluasi (C5) dan Membuat (C6).
Langkah-langkah dalam menyusun instrumen tes hasil belajar yaitu meliputi, (1) mengidentifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) mengidentifikasi dan memaparkan indikator pencapaian siswa, (3) menyusun kisi-kisi (Blue Print) tes hasil belajar, (4) menentukan kriteria penilaian, (5) menyusun butir-butir tes hasil belajar, (6) uji ahli, (7) uji coba instrumen di lapangan, (8) analisis uji lapangan, (9) revisi butir, dan (10) finalisasi instrumen.
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferesial (statistik parametrik).
Analisis statistik deskriptif, yang artinya bahwa data dianalisis dengan menghitung nilai rata-rata, modus, median, standar deviasi, varian, skor maksimum, dan skor minimum. Dalam penelitian ini
data disajikan dalam bentuk grafik
histogram. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data guna menguji hipotesis penelitian adalah uji-t (separated varians).
Sebelum melakukan uji hipotesis, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan perlu dibuktikan. Persyaratan yang dimaksud yaitu: (1) data yang dianalisis harus berdistribusi normal, (2) mengetahui data yang dianalisis bersifat homogen atau tidak. Kedua prasyarat tersebut harus dibuktikan terlebih dahulu,
maka untuk memenuhi hal tersebut
dilakukanlah uji prasyarat analisis dengan
melakukan uji normalitas dan uji
homogenitas.
Adapun hipotesis yang akan diuji
pada penelitian ini adalah terdapat
perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind mapping dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional pada Siswa Kelas V SD Negeri di Desa Bebetin Tahun Pelajaran 2013/2014.
Metode analisis data yang
digunakan untuk menguji hipotesis dalam
independent (tidak berkorelasi) dengan
rumus separated varians.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat disajikan rekapitulasi
hasil analisis deskriptif data hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Data Hasil Belajar IPA Siswa
Kelompok M Md Mo s2 S Skor Max. Skor Min. R Eksperimen 23,13 23,84 24,70 17,15 4,14 30 15 15 Kontrol 15,43 14,83 14,00 17,22 4,15 27 10 17
Sebelum melakukan uji hipotesis
maka harus dilakukan beberapa uji
prasyarat. terhadap sebaran data yang meliputi uji normalitas terhadap data tes hasil belajar IPA siswa dan uji homogenitas.
Uji normalitas dilakukan untuk
menguji suatu distribusi empirik mengikuti ciri–ciri distribusi normal atau untuk menyelidiki fo (frekuensi observasi) dari
gejala yang diselidiki tidak menyimpang secara signifikan dari fh (frekuensi harapan)
dalam distribusi normal. Uji normalitas data
dilakukan terhadap data hasil belajar IPA kelompok eksperimen dan kontrol.
Uji homogenitas dilakukan terhadap
varians pasangan antar kelompok
eksperimen dan kontrol. Uji yang digunakan adalah uji–F dengan kriteria data homogen jika
F
hitung
F
tabel.Adapun hasil perhitungan dari uji normalitas dan uji homogenitas dapat disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.
Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Hasil Belajar IPA
No Kelompok Data Hasil
Belajar hitung
2
χ
χ
2tabel dengan tarafsignifikansi 5% Status
1 Post–test Eksperimen 4,00 7,815 Normal
2 Post–test Kontrol 4,66 7,815 Normal
Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Uji Homogenitas Varians antar Kelompok Eksperimen dan kontrol
Sumber Data Varians Fhitung tabel
F
dengan tarafsignifikansi 5% Status
Kelompok Eksperimen 17,15.
1,01 1,94 Homogen
Kelompok Kontrol 17,22
Berdasarkan Tabel 3, diketahui hitung
F adalah 1,01, sedangkan
F
tabeldengan dbpembilang = 29, dbpenyebut = 29, dan
taraf signifikansi 5% adalah 1,94. Hal ini berarti nilai Fhitung <
F
tabel, sehingga varians kedua kelompok homogen.Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara kelompok yang
mengikuti pembelajaran dengan metode ekspositori yang dikombinasikan dengan
mind mapping dan kelompok yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional pada siswa kelas V tahun pelajaran 2013/2014 SD Negeri di desa Bebetin.
Berdasarkan uji prasyarat analisis data, diperoleh bahwa data hasil belajar IPA kelompok eksperimen dan kontrol
adalah normal dan varians kedua kelompok homogen, sehingga untuk menguji hipotesis menggunakan uji–t sampel independent
(tidak berkorelasi) dengan rumus separated varians.
Adapun hasil analisis untuk uji-t dapat disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil uji Hipotesis
Kelompok N X s2
t
hitung tabelt dengan taraf signifikansi
5%
Eksperimen 30 23,13 17,15
7,20 2,000
Kontrol 30 15,43 17,22
Berdasarkan hasil perhitungan uji–t diperoleh thitung sebesar 7,20. Sedangkan
tabel
t dengan db = 58 dan taraf signifikansi 5% adalah 2,000. Hal ini berarti
t
hitung lebih besar dari ttabel (thitungttabel), sehingga H0ditolak atau H1 diterima. Dengan demikian,
dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA
antara kelompok yang mengikuti
pembelajaran dengan metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind mapping
dan kelompok yang mengikuti
pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Negeri di Desa Bebetin Kecamatan Sawan
Kabupaten Buleleng tahun pelajaran
2013/2014.
Perbandingan hasil perhitungan
rata–rata hasil belajar IPA kelompok eksperimen adalah 23,13 lebih besar dari rata–rata hasil belajar IPA kelompok kontrol adalah 15,43.
Berdasarkan hasil temuan tersebut,
penerapan metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind mapping berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri di Desa Bebetin Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng.
Secara deskripsi data hasil
penelitian, siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind mapping memiliki hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Pernyataan ini didasarkan pada rata-rata skor hasil belajar siswa. Rata-rata skor hasil
belajar IPA siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan metode ekspositori
yang dikombinasikan dengan mind mapping adalah 23,13 berkategori sangat tinggi sedangkan rata-rata skor hasil belajar IPA siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
model konvensional adalah 15,43
berkategori sedang. Berdasarkan analisis data menggunakan uji–t, diketahui thitung = 7,20 dan ttabel (db = 58 dan taraf signifikansi 5%) = 2,000. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thitung lebih besar dari
tabel
t (
t
hitung
t
tabel), sehingga hasilpenelitian adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara yang dibelajarkan
dengan metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind mapping dan
yang dibelajarkan dengan model
konvensional.
Perbedaan yang signifikan antara
yang dibelajarkan dengan metode
ekspositori yang dikombinasikan dengan
mind mapping dan yang dibelajarkan
dengan model konvensional disebabkan karena perbedaan perlakuan pada
langkah-langkah pembelajaran dan proses
penyampaian materi.
Metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind mapping yang di terapkan pada siswa kelas eksperimen ini selain siswa menerima materi pelajaran secara langsung oleh guru siswa juga dapat mengembangkan cara berfikirnya untuk
menemukan ide-ide baru sehingga
menjadikan pembelajaran menarik,
berkualitas baik secara proses maupun produknya, serta bermakna bagi peserta
didik, dan dapat mengundang atau
membangun minat belajar siswa untuk
berlangsungnya pembelajaran. Dengan
penerapan metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind mapping, menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa menjadi aktif menggali ide-ide baru, memecahkan permasalahan, memberikan
jawaban berani mengeluarkan
pendapatnya, dan membuat peta pikiran lewat catatan-catatan, sehingga siswa menjadi lebih mudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan selain juga memperkuat daya ingat siswa terhadap materi pelajaran. Dari keunggulan tersebut
sangat memberikan pengaruh dalam
pembelajaran yang dilakukan secara
optimal sehingga hasil belajar IPA dapat meningkat.
Berbeda halnya dengan model pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru dan bersifat otoriter yang mencakup pemberian informasi oleh guru, tanya jawab, pemberian tugas oleh guru, pelaksanaan tugas oleh siswa sampai pada akhirnya guru merasa bahwa apa yang telah diajarkan dapat dimengerti oleh siswa
(Rasana, 2009). Pembelajaran
konvensional jarang melibatkan pengaktifan pengetahuan awal dan jarang memotivasi
siswa untuk proses pengetahuannya.
Pembelajaran konvensional masih
didasarkan atas asumsi bahwa
pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa, sehingga siswa tidak bisa mengembangkan proses belajarnya secara optimal.
Perbedaan cara pembelajaran
antara metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind mapping dan model pembelajaran konvensional tentunya memberikan dampak yang berbeda pula
terhadap hasil belajar IPA siswa.
Penerapan metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind mapping
membuat pembelajaran menjadi lebih
bermakna, aktif dalam kegiatan
pembelajaran, menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari tanpa harus selalu
tergantung pada guru, mampu
memecahkan masalah-masalah yang
berkaitan dengan konsep yang dipelajari, bekerja sama dengan siswa lain, dan berani untuk mengemukakan pendapat Lorsbach (2002). Dengan demikian, hasil belajar IPA
siswa yang diajar dengan metode
ekspositori yang dikombinasikan dengan
mind mapping lebih baik dibandingkan
dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.
Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil–hasil penelitian sebelumnya, seperti, Suriadnyana (2003) menjelaskan bahwa
penerapan metode ekspositori yang
dikombinasikan dengan mind maping dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Tabanan dalam mata pelajaran Sejarah, hal ini dapat dibuktikan dengan rata-rata prosentase yaitu motivasi siswa pada siklus I adalah 61,65% dan pada siklus II meningkat menjadi 75,34%. Begitu pula dengan hasil belajar siswa meningkat, hal ini dapat dibuktikan dengan prosentase pada siklus I rata-rata kelas sebesar 71,60%, daya serap 71,60%, ketuntasan belajar 43,75%. Hasil ini meningkat pada siklus ke II yaitu nilai rata-rata kelas 75,35, daya serap 75,35% dan ketuntasan belajar 75%.
Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode ekspositori yang dikombinasikan dengan mind mapping berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri di Desa Bebetin Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng dibandingkan dengan pembelajaran dengan model konvensional.
PENUTUP
Berdasarkan hasil pengujian dari data yang diperoleh dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Deskripsi data hasil keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA yang diajar dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD di gugus IV Kecamatan Buleleng cenderung rendah. Hal ini dapat dilihat dari gambar 1.4 grafik polygon data
hasil post–test kebanyakan skor hasil
belajar IPA cenderung rendah dengan Mo < Md < M (18,70 < 22,83 < 23,57) dan kurva juling positif. 2. Deskripsi hasil keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran
IPA yang diajar dengan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD
berorientasi open-ended problem pada siswa Kelas V SD di gugus IV Kecamatan Buleleng cenderung tinggi. Hal ini dapat
dilihat dari gambar 1.3 grafik polygon data
hasil post–test kebanyakan skor hasil
belajar IPA cenderung tinggi dengan Mo > Md > M (41,00 > 37,50 > 36,73)
3. Berdasarkan hasil uji hipotesis yang
dilakukan dengan menggunakan uji–t
diperoleh thitung sebesar 6,89. Sedangkan, tabel
t dengan db = 26 + 26 - 2 = 50 dan taraf
signifikansi 5% adalah 1,671. Hal ini berarti, hitung
t
lebih besar dari ttabel (t
hitung
t
tabel),sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.
Dengan demikian, dapat diinterpretasikan
bahwa terdapat pengaruh hasil
keterampilan berpikir kritis pada mata pelajaran IPA yang signifikan antara kelompok yang mengikuti pembelajaran
dengan model kooperatif tipe STAD
berorientasi open-ended problem dan
kelomopok yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional pada siswa kelas V di Gugus IV Kecamatan Buleleng.
Saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebagai berikut. 1. Disarankan kepada guru pengajar agar selalu menggunakan metode
pembelajaran yang sesuai dengan
perkembangan zaman. Dalam hal ini
adalah metode pembelajaran yang
membuat siswa lebih aktif di dalam pembelajaran di kelas. 2. Disarankan bagi mahasiswa lulusan PGSD agar selalu lebih inovatif dalam hal menemukann metode pembelajaran agar dapat dipergunakan dalam meningkatkan hasil belajar maupun keterampilan berpikir siswa. 3. Disarankan bagi pembaca agar lebih kritis menyikapi
hasil penelitian ini, sebab peneliti
merupakan peneliti pemula yang jauh dari kata sempurna.
DAFTAR RUJUKAN
Agung, A.A. Gede. 2010. Pengantar
Evaluasi Pendidikan. Singaraja:
Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Ganesha. ---. 2011. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Singaraja: Fakultas
Ilmu Pendidikan.
Buzan, Tony. 2007. Buku Pintar Mind Map untuk Anak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Depdiknas. 2002. Pendekatan kontekstual. Jakarta: Depdiknas.
Koyan. 2007. Statistik Terapan (Teknik
Analisis Data Kuantitatif).
Singaraja: Undiksha Singaraja. ---. 2008.Asesmen Berbasis Kelas.
Singaraja:Undiksha Singaraja ---, 2012.
StatistikPendidikanTeknikAnalisis Data Kuantitatif. Singaraja:
Undiksha Singaraja.
Lorsbach, A. W. 2002. “The Learning Cycle as A tool for Planning Science Instruction”. Tersedia pada http://www.coe.ilstu.edu/
scienceed/lorsbach/ html (diakses tanggal 12 Desember 2012). Mudjiono dan Dimyati, 1994. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka
Cipta.
Rasana, I Dewa Putu Raka. 2009.
Model-model Pembelajaran. Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha. Santyasa, I W. 2003. Pendidikan,
Pembelajaran, dan Penilaian Berbasis Kompetensi. Makalah disajikan dalam Seminar Akademik
HMJ Pendidikan Fisika IKIP Singaraja, Singaraja 27 Februari
2003.
Suastra, I.W. 2006. Belajar dan
pembelajaran sains. Buku Ajar. Jurusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Ganesha. Subamia, I Dewa Putu. 2010. Pengaruh
Model Pembelajaran Pendekatan Starter Eksperimen (PSE)
terhadap Keterampilan Proses Sainsdan Hasil Belajar Siswa kelas IV SD. Tesis (tidak diterbitkan).
Singaraja: Program Pasca Sarjana. Universitas Pendidikan Ganesha. Sudjana, Nana. 1989. Media Mengajar.
Bandung : Sinar Baru.
Suparno, P. 1997. Filsapat Kontruktivisme
dalam Pendidikan. Yogyakarta: