• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung di masa yang akan datang adalah semakin meluasnya arus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. berlangsung di masa yang akan datang adalah semakin meluasnya arus"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu perkembangan yang aktual dan memperoleh perhatian seksama dalam masa sepuluh tahun terakhir ini dan kecenderungan yang masih akan berlangsung di masa yang akan datang adalah semakin meluasnya arus globalisasi baik di bidang sosial, ekonomi, budaya maupun bidang – bidang kehidupan lainnya. Perkembangan teknologi informasi dan transportasi telah menjadikan kegiatan di sektor perdagangan meningkat secara pesat dan bahkan telah, menempatkan dunia sebagai pasar tunggal bersama. Era perdangangan global hanya dapat dipertahankan jika terdapat iklim persaingan usaha yang sehat.1

Persaingan dalam dunia industri pada saat ini telah menjadi sebuah tantangan bagi seluruh pelaku bisnis, setiap hari muncul produk – produk baru dengan berbagai keunggulan yang dapat menggusur produk sejenis yang lebih dahulu beredar di pasaran. Permintaan pasar yang terfragmentasi secara cepat, harus dapat diimbangi oleh setiap perusahaan dengan menumbuhkan inovasi adaptif dan inovasi subtitutif yang dapat dilakukan dengan cara memperbanyak model, ukuran, gaya, dan variasi pelayanan yang unik pada rantai produksinya, serta menciptakan produk, teknologi ataupun prosedur baru untuk menggantikan yang telah usang.

1Ahmadi Miru, Hukum Merek: Cara Mudah Mempelajari Undang – Undang Merek, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hlm. 1

(2)

2

Satu inovasi adaptif dari sebuah produk sehingga mampu terlihat unik, berbeda dengan yang lain serta memiliki nilai lebih pada penjualan produk tersebut yakni dengan diberikannya suatu tanda atau nama unik yang tidak dimiliki oleh produk yang lain. Tanda atau nama yang unik tersebut disebut merek,artinya merek adalah sesuatu (gambar atau nama) yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan suatu produk atau perusahaan dipasaran.2

Pengusaha biasanya menggunakan merek untuk membedakan produk mereka dengan produk sejenis yang menjadi pesaing mereka di pasaran. Konsumen yang mengetahui ciri khusus pada produk diharapkan dapat memberikan kepercayaan terhadap produk tersebut untuk mereka gunakan. Merek sangat penting untuk memenagkan persaingan antar produsen karena bila produk dengan kualitas yang baik maka konsumen akan mencari produk tersebut, oleh karena itu dibutuhkan ciri atau merek.

Pemberian merek pada suatu produk diharapkan mampu membangun reputasi sehingga nantinya merek tersebut memiliki nilai lebih pada harga jualnya. Merek dalam dunia bisnis sangat memegang peran yang penting, dimana publik sering mengaitkan suatu image, kualitas atau reputasi produk dengan merek tertentu. Sebuah merek dapat menjadi kekeyaaan yang sangat berharga secara komersial bahkan merek suatu perusahaan seringkali lebih bernilai dibandingakan dengan aset riil perusahaan tersebut.

Fungsi merek dapat dilihat dari suatu produsen, pedagang dan konsumen. Dari pihak produsen merek digunakan untuk jaminan nilai hasil produknya.

2Tim Lindesey, et.al Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, Alumni, Bandung, 2003, hlm. 131

(3)

3

Tinjauan dari pihak pedagang, merek digunakan untun promosi barang – barang dagangnya guna mencari dan memperluas pasar. Sedangkan dari pihak konsumen, merek digunakan untuk mengadakan pilihan barang yang akan dibeli. Jadi merek dapat berfungsi sebagai jaminan nilai atau kualitas dari produk yang bersangkutan.3

Merek merupakan gengsi. Bagi kalangan tertentu, gengsi seseorang terletak pada barang yang dipakai atau jasa yang digunakan. Alasan yang sering kali diajukan adalah demi kualitas, bonafiditas, atau investasi. Terkadang merek menjadi gaya hidup. Merek bisa membuat orang menjadi percaya diri atau bahkan menentukan kelas sosialnya.4 Penggunaan Merek atau tanpa seizin pemilik yang dilakukan oleh para pembajak diharapkan mampu berimbas pada kekuatan merek atau produk tersebut di pasaran. Cara tersebut yakni dengan memproduksi suatu produk dengan ciri, merek, bentuk, desain dan bahan sejenis dengan produk asal diharapkan memperoleh laba yang berlipat ketika produk itu dijual di pasaran. Apalagi bila kualitas produk diturunkan maka laba akan bertambah secara signifikan, misalnya produk asal menggunakan bahan baku dengan kualitas A dengan harga yang tinggi sedangakan produk bajakan menggunakan bahan baku kualitas B atau C dengan harga yang lebih rendah. Konsumen akan tertipu ketika mereka membeli produk bajakan yang telah diberikan merek terkenal karena kualitas

3Suyud Margono dan Longginus II, Pembaharuan Perlindungan Hukum Merek , Inti Ilmu , Jakarta, 2002, hlm. 28

4Mulyatno, Sisi Lain Berlakunya Undang – Undang Nomor 19 Tahun 1992 Tentang Merek, Varia Peradilan, 1994, hlm.111

(4)

4

bahan baku yang berbeda walaupan desain, ciri, bentuk, warna dan lain sebagainya sama persis dengan produk asal atau aslinya.

Hal tersebut sangat merugikan semua pihak, produsen asli akan dirugikan karena merek atau produknya digunakan orang lain sehingga produsen kehilangan keuntungan. Selain itu juga kerugian nonmaterial yakni ciri atau merek atas produk yang diproduksi setelah sekian waktu dibangun reputasinya dengan pelayanan serta kualitas produksi yang prima jatuh karena ada produk bajakan yang beredar dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Sedangkan dari sisi pedagang dengan beredarnya barang bajakan atas merek atau produk yang dijual membuat pedagang kesulitan berpromosi dan memperluas pasar karena yang diuntungkan dari promosi itu adalah produk bajakannya. Sedang konsumen akan kecewa karena produk yang dibeli tidak memiliki kualitas produk jauh berbeda dari produk aslinya.

Permasalahan yang muncul dalam persaingan bisnis tidak hanya terbatas pada munculnya produk – produk bajakan untuk jenis barang atau jasa yang sama. Permasalahanya juga dapat muncul terkait dengan keunikan tanda dari sebuah merek, ada kalanya beberapa produsen baik secara disengaja maupun tidak disengaja menginginkan suatu tanda yang berupa gambar atau nama yang sama sebagai merek untuk produk mereka. Bahkan permasalahan terkait dengan merek tersebut juga dapat terjadi ketika ada sebuah produsen yang menginginkan untuk memiliki dan menggunakan suatu merek yang sama

(5)

5

dengan yang telah digunakan oleh produsen lainnya.5 Tanda yang berupa gambar atau logo, nama atau ciri khusus yang dibuat oleh produsen pertama yang mendaftarkan merek tersebut,tidak dapat dipungkiri bahwa merek yang telah didaftarkan ada yang sama, baik disengaja taupun tidak disengaja.

Produsen yang mersa dirugikan dengan digunakannya merek dagang mereka oleh pihak lain, kemudian mengajukan keberatan berupa gugatan pembatalan pendaftaran merek.6 Pemilik merek terdaftar dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Niaga terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis berupa :

a. Gugatan ganti rugi; dan/atau

b. Penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut.

Gugatan ganti kerugian dan/atau penghentian perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek secara tanpa hak tersebut memang sudah sewajarnya, karena tindakan tersebut sangat merugikan pemilik merek yang sah. Bukan hanya kerugian ekonomi secara langsung, tetapi juga dapat merusak citra merek tersebut apabila barang atau jasa yang menggunakan merek secara tanpa hak tersebut kualitasnya lebih rendah daripada barang atau jasa yang menggunakan merek secara sah.

Apabila ditemukan ada dua merek yang memiliki persamaan, kesan yang sama dan kemiripan yang ada pada kedua merek tersebut, maka telah terjadi

5Ratri Meiliana, Gugatan Pembatalan Merek (Studi Kasus Merek COLLIN), Skipsi FH Universitas Islam Indonesia, 2005, hlm 3.

(6)

6

pelanggaran terhadap merek yang bersangkutan. Pengadilan Niaga akan menyidangkan kasus pelanggaran merek tersebut dan memutuskan perkara. Keputusan yang diberikan oleh Pengadilan Niaga dapat juga dimintakan kasasi ke Mahkamah Agung.

Kasus merek yang menarik yaitu penggunaan merek yang memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk jenis atau kelas yang sama oleh Rusmin Soepadhi dengan PT Puri Intirasa. Rusmin Soepadhi pemilik rumah makan “Waroeng Podjok” untuk barang/jasa 42 untuk jenis barang/jasa, perdagangan/rumah makan, warung nasi, warung kopi, kedai, cafe, penyediaan makanan dan minuman keliling. Yang terdaftar dengan nomer 529310, pada tanggal 25 Mei 2005 merasa dirugikan dengan digunakannya merek dagang rumah makan “Warung Pojok” milik PT Puri Intirasa, nama “Warung Pojok” yang didaftarkan pada Direktoral Jendral HaKI pada tanggal 29 Oktober 2002 dengan nomor 519618 dan “Pojok Kopi” nomor 529310 milik Tergugat memiliki persaman pada nama konfigurasi huruf dan cara pengucapan yang sama dengan “Waroeng Podjok “ milik penggugat, maka dari itu penggugat berpendapat bahwa Tergugat telah melakukan itikad buruk dengan pendaftaran merek “Warung Pojok”.

Putusan majelis hakim yang memeriksa pada tingkat Mahkamah Agung RI menolak permohonan kasasi dari pemohon dengan pertimbangan apabila istilah “warung pojok” dijadikan merek oleh penggusaha Nasional atau menengah keatas (pemohon kasasi/termohon kasasi) maka dikhawatirkan akan terpinggirnya pedagang – pedagang kecil tradisional yang ekonominya

(7)

7

relatif lemah yang sudah memakai nama Warung Pojok sebagai warung mereka dan berdasarkan Pasal 5 Undang – Undang No.15 Tahun 2001 huruf (c), ditegaskan bahwa merek tidak bisa didaftar apabila merek tersebut mengandung ,“telah menjadi milik umum”.

Berbeda dengan kasus Afoe Herlangga sebagai (pemohon kasasi) merasa dirugikan atas putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor 57/MEREK/2004/PN.NIAGA.JKT.PST yang mengabulkan sebagian gugatan PT. Batik Keris (termohon kasasi) karena merek dagang “Keris Tamblong” milik Afoe Herlangga (pemohon kasasi) memiliki persamaan dengan merek dagang “Batik Keris” dan “KERIS” milik PT. Batik Keris (termohon kasasi), yang termasuk dalam kelas 24, 25, dan 42 yaitu antara lain tekstil dan barang – barang termasuk batik, tenunan, sapu tangan, seprei, sarung bantal/guling, taplak meja, kain hordein, tilam – tilam, tempat tidur dan meja, konfeksi/pakaian jadi untuk pria dan wanita, kaos T-Shirt, jaket, piyama, pakaian sport, alas kaki, sepatu, sandal, tutup kepala dan jasa – jasa yang tidak dapat dimasukan dalam kelas – kelas lain yaitu pertokoan. Serta telah pula terdaftar Hak Cipta yang telah terdaftar dibawah nomor pendaftaran 014845 tanggal 15 September 1995. Penggugat yang dulunya sebagai tergugat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung RI dengan mendalilkan bahwa penggunaan merek dagang “Batik Tomblong” tidak dapat dipersamakan dengan merek dagang “Batik Keris”dan “Keris” baik mengenai persamaan logo,warna maupun tata bahasa.

(8)

8

Putusan majelis hakim yang memeriksa pada tingkat Mahkamah Agung RI menolak permohonan kasasi dari pemohon dengan pertimbangan termohon kasasi telah terlebih dahulu mendaftarkan mereknya, produk dari merek Pemohon kasasi adalah mengenai barang/produk yang sejenis dengan barang yang diproduksi lebih dahulu oleh termohon kasasi.

Putusan majelis hakim tersebut diperoleh dari adanya pertimbangan oleh hakim dengan melihat fakta – fakta yang muncul dalam persidangan berlangsung. Namun, yang menjadi persoalaan apakah menurut hukum pertimbangan hakim dalam kasus tersebut sudah benar atau belum dan apakah akibat hukum dari putusan majelis hakim tersebut telah melindungi pemegang hak merek atau belum. Hal ini disebabkan karena pertimbangan hukum hakim dan akibat hukum suatu putusan dapat mencerminkan bagaimana perlindungan hukumnya. Dalam kasus yang dibahas penulis ini adalah mengenai Perlindungan terhadap pemegang hak merek terdaftar di Indonesia.

Dengan adanya permasalahan tersebut untuk menyelesaikan tugas akhirnya maka penulis hendak menulis skripsi dengan judul “Perlindungan Hukum

Terhadap Pemegang Merek Terdaftar Di Indonesia ( Studi atas Putusan Merek Nomor 739K/Pdt.Sus/2008 dan Nomor 15 K/N/HaKI/2005 )”.

(9)

9

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah dapat dirumuskan dua permasalahan, yakni :

1. Bagaimana pertimbangan hukum majelis hakim atas kasus dalam perkara Nomor 739K/Pdt.Sus/2008 dan Nomor 15 K/N/HaKI/2005 ?

2. Bagaimana akibat hukum atas adanya putusan majelis hakim dalam perkara Nomor 739K/Pdt.Sus/2008 dan Nomor 15 K/N/HaKI/2005 ?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan uraian diatas maka penelitian ini bertujuan mendapatkan data, informasi serta analisis adalah

1. Untuk mengetahui Pertimbangan Hukum Majelis Hakim atas kasus dalam perkara Nomor 739K/Pdt.Sus/2008 dan Nomor 15 K/N/HaKI/2005.

2. Untuk mengetahui akibat adanya putusan majelis hakim dalam perkara Nomor 06 Nomor 739K/Pdt.Sus/2008 dan Nomor 15 K/N/HaKI/2005.

D. Tinjauan Pustaka

Menurut Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2001 pengertian merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf – huruf, angka – angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur – unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Merek dibagi menjadi 2 (dua) yaitu merek dagang dan merek jasa.

(10)

10

Merek dagang adalah merek atau tanda yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama – sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang – barang sejenis lainnya, sedangkan

Merek jasa adalah merek pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama – sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa – jasa lain yang sejenis.7

Hak eksklusif atas merek yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek terdaftar memiliki jangka waktu tertentu. Jangka waktu tersebut dapat digunakan sendiri oleh para pemilik merek atau dapat memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakanya. Dari pengertian ini, agar suatu merek dapat dilindungi, merek tersebut harus didaftarkan. Pendaftaran merek diawali dengan permohonan pendaftaran merek. Permohonan adalah suatu permintaan pendaftaran yang diajukan secara tertulis kepada Direktorat Jendral HKI.8

Suatu merek dapat disebut merek apabila memenuhi syarat – syarat yang ditentukan dalam Undang – Undang Merek dan permintan pendaftaran merek hanya dapat dilakukan oleh pemilik merek yang beritikad baik. Dalam Pasal 5 Undang – Undang Merek ditentukan mengenai merek yang tidak dapat didaftarkan bilamana mengandung unsur – unsur sebagai berikut :

1. Bertentanggan dengan kesusilaan dan ketertiban umum; 2. Tidak memiliki daya pembeda;

7

Muhammad djumhana dan R. Djubaedillah, Hak Milik Intelektual – Sejarah , Teori dan

Prakteknya di Indonesia, ctk. Ketiga, PT. Cita Aditya Bakti, Bandung, 2003, hlm 169

8

Sudargo Gautama & Rizwanto Winata, Undang – Undang Merek Baru Tahun 2001, PT. Citra Aditya Bakti, bandung, 2002, hlm. 41

(11)

11 3. Telah menjadi milik umum atau ;

4. Merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimintakan pendaftaran.

Selain itu suatu permintaan pendaftaran juga ditolak jika mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek yang sudah terkenal milik orang lain yang sudah terdaftar terlebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis maupun yang tidak sejenis sepanjang memenuhi persyaratan tertentu yang akan ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam Pasal 6 ayat (1) Undang – Undang Nomer 15 Tahun 2001.

Merek yang telah terdaftar di Direktorat Merek dapat dihapus dari daftar umum merek. Teori mengenai penghapusan merek ini didasarkan atas teori pemanfaatan. Pound dalam satu dalilnya mengenai hukum masyarakat mengatakan bahwa :

“Dalam masyarakat beradab, orang harus beranggapan bahwa ia boleh mengawasi untuk tujuan – tujuan yang bermanfaat, apa yang telah ia temukan dan dimiliki untuk keperluaanya sendiri, dan apa yang ia peroleh dalam tata tertib sosial dan ekonomi yang ada.”

Dari pernyataan ini jika dikaitkan dengan penghapusan merek terdaftar, merek yang telah didaftarkan harus dimanfaatkan dengan cara digunakan dalam kegiatan produksi barang atau jasa dan dipakai sesuai dengan yang telah didaftarkan. Misalnya, apabila merek yang telah didaftarkan pada Direktorat Merek tidak digunakan dalam kegiatan produksi barang atau jasa,

(12)

12

pemanfaatannya akan hilang dengan dihapusnya merek tersebut dalam Daftar Umum Merek.9

Fungsi didaftarkannya merek selain sebagai mengenai asal barang dan sifat barang juga sebagai bentuk perlindungan hukum. Dengan didaftarkannya merek, pemilik tersebut mendapat hak atas merek yang dilindungi oleh hukum. Pasal 3 dan 4 Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2001 pada intinya menyatakan bahwa hak atas merek merupakan hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek yang terdaftar untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri mereknya atau melisensikan kepada pihak lain dengan itikad baik. Dengan adanya hak eksklusif atau hak khusus tersebut, orang lain dilarang menggunakan merek terdaftar untuk barang atau jasa yang sejenis, kecuali apabila sebelumnya mendapat izin dari pemilik merek terdaftar. Bila hal ini dilanggar, pengguna merek terdaftar tersebut dapat ditutut baik secara perdata maupun secara pidana.10

Pada Pasal 28 Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2001 mengatur mengenai jangka waktu perlindungan merek terdaftar,yang menyatakan bahwa merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak tanggal penerimaan dan jangka waktu itu dapat diperpanjang. Jangka waktu ini jauh lebih lama dibandingkan dengan Pasal 18 Persetujuan TRIPs yang hanya memberikan perlindungan hukum atas merek

9

Friedman, W. Teori dan Filsafat Hukum – Telaah Kristis Atas Teori Teori Hukum

(terjemahan Edisi Indonesia), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993,Hlm 145 yang dikutip

oleh Dwi Rezki Sri Astarini, Penghapusan Merek Terdaftar (berdasarkan UU 15 Tahun 2001 Tentang Merek Dihubungkan dengan TRIPS-WTO, PT. Alumni, Bandung, 2009

10

(13)

13

selama 7 tahun dan setelah itu dapat diperbaharui lagi.11 Merek yang akan dimintakan perpanjangan pendaftarannya harus dapat menunjukan bukti bahwa merek yang bersangkutan masih digunakan pada barang atau jasa sesuai dengan yang tercantum dalam sertifikat merek. Merek tersebut juga harus masih diproduksi dan diperdagangkan di pasaran.

Tenggang waktu mengajukan permintaan perpanjangan pendaftaran merek dilakukan dengan mengisi formulir permohonan perpanjangan pendaftarn merek yang tidak lebih dari 12 (dua belas) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu perlindungan merek dengan mengisi formulir permohonan perpanjangan pendaftaran merek yang disertai pernyataan bahwa pemilik merek terdaftar masih menggunakan, memproduksi dan memperdagangkan barang atau jasa seperti yang dicantumkan dalm sertifikat merek.

Pengaturan menengenai pembatalan merek terdaftar ini dapat ditemukan dalam Pasal 68 sampai dengan Pasal 72 Undang – undang Nomor 15 Tahun 2001. Namun, berbeda dengan penghapusan merek terdaftar, pembatalan merek terdaftar hanya dapat diajukan oleh pihak yang berkepentinggan seperti jaksa, yayasan atau lembaga di bidang konsumen dan majelis lembaga keuangan atau juga oleh pemilik merek dengan mengajukan gugatan kepada pengadilan niaga, dan bila salah satu pihak baik penggugat maupun tergugat berada diluar negeri, gugatan diajukan ke Penggadilan Niaga di Jakarta.

Pasal 68 (1) Undang – undang No.15 Tahun 2001 menyatakan bahwa gugatan pembatalan pendaftaran merek diajukan berdasarkan alasan yang

11

Rachmadi Usman, Hukum Hak atas Kekeyaan Intelektual, PT. Alumni, Bandung, 2003, hlm. 347

(14)

14

terdapat dalam Pasal 4,5,dan 6. Pasal 4 menyatakan bahwa merek tidak didaftar oleh pemohon beritikad tidak baik. Pasal 5 menyatakan bahwa merek tidak dapat didaftar bila bertentangan dengan undang – undang, tidak memiliki daya pembeda, merek menjadi milik umum dam merupakan keterangan yang berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftaran. Dan Pasal 6 menyatakan bahwa permohonan merek ditolak bila mempunyai persamaan dengan merek milik pihak lain, dengan merek yang sudah terkenal milik pihak lain, serta dengan indikasi geografis yang sudah terkenal. Permohonan merek juga harus ditolak oleh Direktorat Merek bila merek tersebut menyerupai nama orang terkenal, bendera, lambang negara, cap resmi negara kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.

Tenggang waktu gugatan pembatalan merek terdaftar tercantum dalam Pasal 69 Undang – undang nomor 15 tahun 2001 adalah 5 (lima) tahun sejak tanggal pendaftaran. Namun, khusus untuk gugatan pembatalan yang didasarkan atas alasan bertentangan dengan moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum dapat diajukan kapan saja tanpa batas waktu.

Seperti yang telah diketahui, gugatan pembatalan merek terdaftar diajukan kepada Pengadilan Niaga, dan terhadap putusan Pengadilan Niaga tersebut hanya dapat diajukan kasasi. Setelah putusan telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual akan mencoret merek yang bersangkutan dari Daftar Umum Merek dengan memberi catatan tentang alasan dan tanggal pembatalannya serta memnberitahukan

(15)

15

secara tertulis kepada pemilik merek atau kuasanya.12 Dengan pembatalan merek terdaftar tersebut, berakhir pula perlindungan hukum atas merek yang bersangkutan.

Pemilik merek terdaftar dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Niaga terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis berupa :

a. Gugatan ganti rugi ; dan/atau

b. Penghentian semua perbuatan uang berkaitan dengan penggunan merek tersebut.

Gugatan ganti kerugian dan/atau penghentian perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek secara tanpa hak tersebut memang sudah sewajarnya, karena tindakan tersebut sangat merugikan pemilik merek yang sah. Bukan hanya kerugian ekonomi secara langsung, tetapi juga dapat merusak citra merek tersebut apabila barang atau jasa yang menggunakan merek secara tanpa hak tersebut kualitasnya lebih rendah daripada batang atau jasa yang menggunakan merek secara sah.

Gugatan atas pelanggaran merek sebagaimana dimaksud diatas dapat diajukan oleh penerima lisensi merek terdaftar baik secara sendiri maupun bersama – sama dengan pemilik merek yang bersangkutan.

Hak penerima lisensi untuk mengajukan gugatan sebagimana hak pemilik merek terdaftar sebab pemegang lisensi memang sangat berkepentinggan

12

(16)

16

karena dia ikut mengalami kerugian atas adannya pelanggaran atas merek tersebut.

Selama masih dalam pemeriksaan dan untuk mencegah kerugian yang lebih besar, atas permohonan pemilik merek atau penerima lisensi selaku penggugat, hakim dapat memerintahkan tergugat untuk menghentikan produksi, peredaran dan/atau perdagangan barang atau jasa yang menggunakan merek tersebut secara tanpa hak.

Dalam hal tergugat dituntut juga untuk menyerahkan barang yang menggunakan merek secara tanpa hak, hakim dapat memerintahkan bahwa penyerahan barang atau nilai barang tersebut dilaksanakan setelah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap. Kewenanggan hakim untuk “menunda” penyerahan barang atau nilai barang tersebut, dapat disamakan dengan penolakan atas gugatan yang meminta agar suatu gugatan dapat dilaksanakan lebih dahulu.

Penundaan penyerahan barang atau nilai barang yang menggunakan merek secara tanpa hak tersebut merupakan tindakan hati – hati karena bagaimanapun, secara hukum setiap putusan pengadilan niaga masih dimungkinkan untuk dibatalkan dalam perkara kasasi. Hal ini terkait dengan masih tersedianya upaya hukum kasasi atas putusan Pengadilan Niaga yang memeriksa gugatan yang berkaitan dengan pelanggaran merek tersebut.

Kasasi merupakan uapaya hukum biasa satu – satunya karena terhadap putusan Pengadilan Niaga hanya dapat diajukan kasasi.13

13

(17)

17

E. Metode Penelitian

Metode penelitian untuk menyusun tugas akhir ini adalah metode penelitian normatif yang terdiri dari:

1. Objek penelitian

Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Merek Terdaftar Di Indonesia ( Studi atas Putusan Merek Nomor 739K/Pdt.Sus/2008 dan Nomor 15 K/N/HaKI/2005 )

2. Bahan Hukum

a. Bahan hukum primer

Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan objek penelitian, yaitu :

1) Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang merek, Undang – Undang Nomer 19 Tahun 1992 tentang merek sebagaimana telah diubah dengan Undang – Undang Nomer 14 tahun 1997. 2) KUHPerdata (BW)

3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1993 tentang kelas barang/jasa bagi pendaftaran Merek.

4) Putusan Merek Nomor 739K/Pdt.Sus/2008 dan Nomor 15 K/N/HaKI/2005

b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang terkait dengan objek penelitian, seperti:

1) Literatur/Buku – buku 2) Jurnal

(18)

18 3) Majalah

4) Surat Kabar 5) Internet

c. Bahan Hukum Tersier 1) Kamus

2) Ensiklopedi 4. Teknik pengumpulan data

Pengumpulan data dengan cara mencari, mempelajari data yang berhubungan dengan penelitian melalui buku-buku, literatur-literatur, majalah, jurnal sehingga terjadi kesesuaian pedoman secara hukum. 5. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis normatif yaitu dengan mengkaji peraturan perundangan yang berlaku tehadap topik yang hendak diteleti. Sehingga terdapat kesesuaian pedoman.

6. Analisis data

Data yang telah diperoleh dianalisa secara deskriptif kualitatif yaitu pengolahan dan penguraian data – data yang diperoleh dalam satu gambaran sistematis yang didasarkan pada teori dan pengertian hukum yang terdapat dalam ilmu hukum untuk mendapatkan hasil yang signifikan dan ilmiah

(19)

19

F. Sistematika Penulisan

Penelitian tentang putusan pembatalan pendaftaran merek ini akan terdiri dari 4 bab yang merupakan suatu rangkaian yang saling terkait satu dengan lainnya, yang meliputi :

BAB I. PENDAHULUAN

Bab ini akan menguraikan tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II. HAK MEREK PADA UMUMNYA

Bab ini akan menguraikan tentang tinjauan pustaka sebagi sumber dan acuan dalam pembahasan penelitian ini yang meliputi Definisi dan Jenis Merek,Fungsi Merek,Sistem Pendaftaran Merek serta Pelanggaran Merek serta Penyelesaian sengketa merek dagang terhadap kasus persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan seluk-beluknya yang meliputi penjelasan mengenai pengertian persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dalam merek.

BAB III. PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG MEREK TERDAFTAR DI INDONESIA

A. Menguraikan tentang Tinjauan Dasar Pertimbangan Putusan Hakim dalam Memutus Perkara terhadap Kasus Persamaan pada Pokok atau Keseluruhannya pada Merek Dagang yang Terdaftar di Indonesia. yaitu dalam kasus Rusmin Soepadhi

(20)

20

dengan PT Puri Intirasa. Rusmin Soepadhi pemilik merek dagang rumah makan “Waroeng podjok” yang memiliki persamaan merek dagang rumah makan “Warung Pojok” milik PT Puri Intirasa. Serta Kasus Afoe Herlangga yang merasa dirugikan oleh PT. Batik Keris karena dikabulaknnya gugatan pembatalan atas pendaftaran merek “Batik Tomblong” dikarenakan adanya persamaan pada pokoknya dengan merek “Barik Keris” dan “Keris” milik PT. Batik Keris.

B. Akibat hukum atas adanya putusan majelis hakim dalam perkara penggunaan merek yang memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk jenis atau kelas yang sama yaitu dalam kasus Rusmin Soepadhi dengan PT Puri Intirasa. Rusmin Soepadhi pemilik merek dagang rumah makan “Waroeng podjok” yang memiliki persamaan merek dagang rumah makan “Warung Pojok” milik PT Puri Intirasa. Serta Kasus Afoe Herlangga yang merasa dirugikan oleh PT. Batik Keris karena dikabulaknnya gugatan pembatalan atas pendaftaran merek “Batik Tomblong” dikarenakan adanya persamaan pada pokoknya dengan merek “Barik Keris” dan “Keris” milik PT. Batik Keris

(21)

21 BAB IV PENUTUP

Bab ini menguraikan tentang penutup dari pokok bahasan dalam penelitian ini yang meliputi Kesimpulan dan Saran terkait dengan gugatan pembatalan pendaftaran merek.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Penelitian: Hasil uji t tidak berpasangan pada variabel kebiasaan sarapan dan status gizi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada z-score

Mengingat salah satu tujuan wakaf adalah sebagai sumber dana yang terus menerus untuk kepentingan pembiayaan fisik maupun non fisik maka harta wakaf harus merupakan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio keuangan yang terdiri dari current ratio , debt to equity ratio , net profit margin dan return on equity

Meskipun Amerika adalah negara adidaya satu- satunya setelah Perang dingin, namun itu tidak menjadikannya terlepas dari masalah terorisme, dan meskipun Amerika telah memiliki

NO PROVINSI NO PESERTA PPG NAMA JENIS PPG ASAL BIAYA STATUS BIDANG STUDI PPG KELAS NAMA SEKOLAH PERIODE SEPTEMBER TAHUN 2019.. UNTUK DINAS PENDIDIKAN PROVINSI (JENJANG SMA,

Surat Setoran Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD, adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke Kas Daerah

Komunikasi dan media massa sangat berhubungan erat,dimana komunikasi menjadi elemen utama dalam terbentuknya media massa,media massa yang kita kenal saat ini pada

Umumnya menerapkan pola hidup sehat dapat dilakukan dengan menjaga dan mengatur asupan makanan dan minuman serta nutrisi dan melakukan olahraga yang dibutuhkan