• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: STUDI Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II: STUDI Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

BAB II: STUDI

2.1. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Pertumbuhan kota Jakarta yang berkembang berdampak pada rumah tinggal penduduk yang semakin sulit dicari dan jauhnya lapangan kerja, sehingga mengakibatkan jarak tempuh perjalanan yang panjang. Semakin padatnya kendaraan pribadi di jalanan menambah waktu tempuh perjalanan. Kondisi seperti ini dialami banyak warga di daerah urban dan sub-urban (Jabodetabek).

Perencanaan sistem TOD merupakan konsep yang mendukung berkembangnya kawasan demi memudahkan masyarakat. Penduduk diarahkan untuk tinggal di sekitar lokasi yang mudah diakses oleh transportasi dan diharapkan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Saat ini pemerintah provinsi DKI Jakarta telah mengembangkan dan menerapkan konsep TOD di beberapa titik sekitar kota Jakarta. Hal ini dilakukan demi tertatanya kota Jakarta dan dapat berkonstribusi terhadap pengurangan kendaraan pribadi dan penyelesaian masalah transportasi di wilayah DKI Jakarta. Selain itu diharapkan dapat memperbaiki struktur pemanfaatan ruang kota sekaligus dapat menambah nilai ekonomi kota Jakarta.

Banyak upaya dan pembenahan sistem transportasi kota Jakarta. Dan pemerintah mengambil langkah-langkah taktis, yakni dengan sesegera mungkin mengupayakan pola Transportasi Makro DKI Jakarta terwujud.

Beberapa moda transportasi angkutan umum masal diwujudkan didalam TOD, seperti kereta api dan bus. Sistem angkutan umum masal yang terintegrasi menjadi tulang punggung penyelesaian permasalahan transportasi di Ibukota.

(2)

Dalam perencanaan TOD kususnya daerah Senen (lokasi yang dipilih) harus menekankan unsur atau karakter Indonesia dengan paduan modern kontemporer suapaya rancangan berkualitas dan kaya.

Pemanfaatan lokasi bangunan menjadi pertimbangan kusus, agar pengolahan bisa sebaik mungkin. Energi dalam bangunan harus bisa diminimalkan karena prinsip Green Arsitektursudah menjadi keharusan di dalam desain saat ini. Serta memperhatikan perawatan kawasan agar mudah dipelihara demi efesiensi pengeluaran agar namun tetap optimum.

Memperhatikan aksebilitas pencapaian dari berbagai golongan. Membuat desain yang memiliki aksebiltas pencapaian mudah dilewati difable kususnya baik di luar bangunan dan di dalam bangunan. Tentunya membuat aman dan nyaman bagi semua pengguna, dengan memperhatikan pencegahan terjadinya tindak kriminal dan tindakan negatif lainnya.

Mengakomodasikan kebutuhan komersial seperti advertising / iklan dan retail skala kecil tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagau fasilitas transit kusunya dalam aspek kenyamanan, keamanan dan efesiensi.

Dalam perancangan kawasan TOD harus memenuhi aspek Greenship yang terbagi atas enam aspek yang terdiri dari:

Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD)

Efisiensi Energi & Refrigeran (Energy Efficiency & Refrigerant/EER) Konservasi Air (Water Conservation/WAC)

Sumber & Siklus Material(Material Resources & Cycle/MRC)

Kualitas Udara & Kenyamanan Udara (Indoor Air Health & Comfort/IHC) Manajemen Lingkungan Bangunan (Building & Enviroment Management)

(3)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

1) Fasilitas Transport Terintegrasi:

Railway, Angkot, Bus Dalam Kota, Bus Antar Kota, Busway, MRT dan LRT (outer ring road).

2) Fasilitas Railway:

Platform, Depo Kereta, Depo Maintenance Kereta, Kantor Pusat Pelayanan, Kantor Managemen, ruang tunggu penumpang,bongkar muat barang, pergudangan, parkir kendaraan, penitipan barang, ruang atm, ruang lain yang menunjang baik secara langsung maupun tidak langsung, hall, perkantoran kegiatan stasiun, loket karcis, ruang tunggu, ruang informasi, Ruang fasilitas umum, ruang fasilitas keselamatan, ruang fasilitas keamanan, ruang fasilitas difabel dan lansia, ruang fasilitas kesehatan

3) Fasilitas Komersial 4) Fasilitas Hunian

5) Fasilitas Pemerintahan, dan 6) Fasilitas Umum.

Gambar 1: Arahan Rancangan PAA angkatan 73 Sumber: kordinator PAA 73 (Abraham Seno, ST. M.Ars.)

Prinsip-prinsip Transit Oriented Development

1. Mampu menyadari dan memfasilitasi bahwa perencanaan pengembangan suatu kawasan agar memperoleh hasil maksimal membutuhkan proses dan waktu tahapan yang berjenjang secara berkala.

(4)

2. Pengembangan yang berbasis pada partisipasi dan kerjasama berbagai pihak terkait termasuk masyarakat setempat sebagai faktor koreksi dan pelengkap perencanaan.

3. Memprogram ruang untuk dapat digunakan kegiatan yang tepat pada saat yang tepat, dengan optimalisasi waktu penggunaan.

4. Invest pada perawatan ruang dapat menjaga citra penampilan kawasan sebagai fasilitas umum.

5. skala manusia sebagai penyesuaian dengan kebiasaan pengguna,

merupakan pokok dalam membuat great a place

6. Fasilitas transportasi berhasil menarik orang-orang yang bergerak melalui mereka dengan perantara ruang publik sebagai ruang pengumpul.

7. Keselamatan pribadi adalah fundamental bagi keberhasilan ruang publik, termasuk tempat transit dengan keragaman penggunanya.

8. memiliki banyak variasi dan kompleksitas, dapat memberikan perasaan positif tempat, dan memperkuat karakter “place”.

9. hubungan antar ruang kota (well-connected) mampu meciptakan integrasi yang saling mendukung dengan tempat transit.

10. menghidupkan kembali pejalan kaki dengan fasilitas yang senyaman mungkin, tersinergi dengan rencana perkotaan.

11. transfer antara rute atau jenis transit yang mudah dan bersinergi dengan Sistem Transportasi Nasional.

12. batasan yang jelas jalur pengguna dan pejalan kaki, termasuk penyediaan akses parkir yang tidak berlebihan.

2.2. Studi Pustaka

2.2.1.

Teori ‘Transit Oriented Development’

Transit Oriented Development merupakan restruktur konsep pembangunan yang

berpusat pada fasilitas transit, yang sebenarnya telah dikenal sejak awal abad ke-20 berupa konsep pengembangan terpadu pada stasiun kereta api dan Bus Rapid

(5)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

menjadi sebuah teori oleh Calthrope.Rumah sakit merupakan lembaga yang padat modal, padat karya, padat pakar, padat teknologi dan padat pula masalah yang dihadapinya. Menurut Rowland & Rowland dalam buku Hospital Administration

Handbook (1984) menyatakan bahwa rumah sakit adalah suatu sistem kesehatan

yang paling kompleks dan paling efektif di dunia. Petrus Calthorpe menterjemahkan konsep Transit Oriented Development (TOD)

TOD mudah dipahami sebagai solusi untuk pertumbuhan daerah. Ini juga cocok dengan kebutuhan transit agencies untuk sumber-sumber pajak alternatif. Dan itu suatu evolusi alamiah langkah selanjutnya dari banyak masyarakat akrab desain preseden. Dalam janji yang paling berani, TOD adalah untuk membantu "mendefinisikan kembali American Dream" (Calthorpe dalam Ditmarr dan Ohland; 2004).

Seperti kemudian analysts TOD jelaskan, "Ini perkembangan yang berorientasi Transit memiliki potensi untuk memberikan penduduk dengan peningkatan kualitas hidup dan mengurangi biaya transportasi rumah tangga sedangkan wilayah dengan

mixed-use lingkungan yang stabil, yang mengurangi dampak lingkungan dan

memberikan alternatif nyata kemacetan lalu lintas. (Ditmarr dan Ohland; 2004) Definisi

Transit Oriented Development merupakan prinsip pengembangan kawasan dengan

pertimbangan orientasi dari fasilitas transit, dengan batasan area adalah sejauh sekitar 2000 kaki di sekitar fasilitas transit, merupakan kawasan yang terjangkau untuk kenyamanan akses mencapai tempat transi fasilitas transportasi, sehingga membuka peluang dan potensi pengembangan sebagai mixed use area hunian, komersial, ruang publik, retail, dll. Dari definisi tersebut seiring perkembangan jaman teori Transit Oriented Development terus berkembang. Transit Oriented Development merupakan pengembangan kawasan maupun tempat transit itu sendiri

dengan harapan penggunaan fasilitas transportasi massal yang lebih efektif dan efisien dapat ditingkatkan. Hal ini sebenarnya tidak terikat pada satu moda transportasi maupun kawasan khusus saja, akan tetapi pada hal yang lebih mendasar yaitu bagaimana sistem transportasi antar moda dapat terpadu dan tersinergi dengan baik dan mampu memberi kemudahan dan melayani kebutuhan

(6)

masyarakat yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan lebih efisien termasuk keuntungan dari peningkatan nilai guna lahan disekitarnya.

Dua type Transit Oriented Development menurut Calthorpe (1993), yaitu :

o Urban TOD, merupakan urban transit dengan mixed-use suatu kawasan

yang meliputi segala aktifitas urban seprti hunian, kantor, perdagangan, dan sebagainya yang dikemas dalam suatu kawasan dengan pusat pengembangan merupakan fasilitas transit Public, untuk meningkatkan efesiensi akses pencapaian masyarakat urban.

o Neighborhood TOD, merupakan pengembangan sepanjang alur antar transit

station maupun alur pencapaian menuju transit station dengan memanfaatkan

waktu pencapaian masyarakat menuju transit station sebagai kawasan strategis.

Prinsip-prinsip rail-oriented planning yang dapat menjadi pertimbangan untuk area transit menurut CRCOG dalam Calgary; Transit Oriented Development, Best

Practices Handbook; (2004):

1. Higher Density 2. Mixed-Use

3. Mixture of Housing Types 4. Pedestrian-Friendly Design 5. Half-Mile Radius

2.2.2.

Konsep Transit Oriented Development Dengan Mixed Use

Konsep Transit Oriented Development (TOD) adalah suatu komunitas penggunaan campuran pada rata-rata jarak jalan kaki 2000 kaki dari suatu perhentian transit dengan area komersil inti, ukuran TOD harus ditentukan berdasarkan kasus studi. Rata-rata radius 2.000 kaki dimaksudkan untuk mempresentasikan suatu “jarak jalan kaki yang nyaman” (± 10 menit) bagi sebagian orang. Di beberapa lokasi, jarak jalan kaki yang nyaman dipengaruhi oleh topografi, iklim, arterial atau jalan-bebas yang

(7)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

beragam dari sektor komersial, pelayanan jasa, fasilitas umum, perkantoran, dan hunian yang terkomposisi dengan harmonis.

Kawasan TOD terkonsep menjadi beberapa fungsi lahan, sebagai area pengembangan dan mendukung fasilitas transit

(1) Daerah Komersial Inti

Inti perniagaan di pusat setiap TOD adalah hal esensial karena memungkingkan sebagian besar penduduk dan pekerja berjalan atau mengendarai sepeda bagi banyak barang-barang dan pelayanan dasar. Ini secara khusus menguntungkan bagi mereka yang tidak memiliki mobil dan orang-orang yang terbatas mobilitasnya. Mereka yang masih memilih pergi ke toko akan pergi pada sekian mil yang lebih singkat serta dapat menghindari menggunakan jalan arterial untuk perjalanan lokal. Area komersial inti juga menyediakan destination (tempat tujuan) mixed use yang membuat penggunaan transit menjadi menarik.orang-orang lebih mudah menggunakan transit untuk pergi bekerja bila perhentian transit dikombinasikan dengan peluang-peluang retail, pelayanan/jasa, perkantoran, mall, dan tempat pertemuan.

(2) Daerah pemukiman

Daerah pemukiman TOD mencakup perumahan yang berada pada jarak jalan kaki yang nyaman dari daerah komersial inti dan perhentian transit. Kebutuhan pemukiman yang padat harus dipenuhi dengan suatu campuran tipe hunian sementara (temporary resident), seperti kondominium, apartemen,dan hotel.

(3) Penggunaan Publik

Penggunaan Public diperluakan untuk melayani penduduk/residen dan para pekerja di TOD dan daerah-daerah sekitarnya. Tempat parkir, plasa, zona hijau, gedung-gedung publik, dan pelayanan publik dapat digunakan untuk mengisi kebutuhan tersebut. Parkir umum dan plasa kecil harus disediakan dalam memenuhi kebutuhan penduduk.

(8)

(4) Area Sekunder

Setiap TOD memiliki area sekunder yang terletak tidak jauh dari satu mil dari area komersial inti. Jaringan jalan area sekunder harus menyediakan jalan langsung multiple serta koneksi sepeda ke perhentian transit serta area komersial inti, dengan tingkat minimal penyeberangan artesial. Area sekunder boleh jadi difungsikan sebagai fasilitas umum, sekolah umum, parkir masyarakat yang luas, penggunaan penghasil-pekerjaan intensitas yang rendah, dan lot parkir dan kendaraan.

2.2.3.

Prinsip ‘Transit Place’ Sebagai Oriented Development

Transit Oriented Development (TOD) sebagai sebuah kajian dari perencanaan kota,

memiliki korelasi dengan perancangan kawasan maupun bangunan yang mengadopsi prinsip – prinsip pengembangan dengan berorientasi fasilitas transit, termasuk fasilitas transit itu sendiri dalam wujud “transit place”. Beberapa kajian prinsip TOD yang berasal dari peneliti amerika pada umumnya yang relevan dengan perancangan “transit place”, dan coba dikemas dalam prinsip timur.

Salah satu kajian teori yang digunakan yaitu prinsip Transit Oriented Development yang berkonsep pada pengembangan areal transit dan pengembangan areal sekitar transit dengan titik berat pada programming fasilitas dan masterplanning areal transit yang respon penggunaan lahan disekitar areal transit. Transit Oriented Development sebagai landasan pemikiran pengembangan area terminal penyeberangan dengan visi kedepan mampu mendukung pengembangan perkotaan dan sistem transportasi nasional.

Beberapa kajian lain telah dilakukan untuk menganalisa permasalahan pada tempat transit dan bagaimana perencanaan tempat transit yang baik, diantaranya yaitu teori

development around transit yang termasuk dalam perancangan urban yang umum

dikenal dengan Transit Oriented Development peningkatan nilai kawasan disekitar transit dengan tempat transit sebagai orientasinya, termasuk pengembangan fasilitas transit yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan untuk menarik pengguna transpotasi publik. Beberapa strategi dari Dunphy (Dunphy; 2004) dalam perencanaan tempat transit yang sinergi dengan perencaan perkotaan dan sistem

(9)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

Dibawah ini adalah contoh pengembangan kawasan TOD yang berada di Manggarai dan Dukuh Atas:

Gambar 2: Rencana Pembangunan Stasiun Transportasi dan Pengembangan Kawasan Perkotaan Terpadu di Manggarai, Jakarta.

Sumber::http://img.photobucket.com/albums/v702/encon/DSC06357s.jpg

Gambar 3: Rencana Pembangunan Stasiun Transportasi dan Pengembangan Kawasan Perkotaan Terpadu di Duku Atas, Jakarta.

(10)

2.2.4.

Studi Banding TOD sesuai tema (World Trade Center )

Gambar 4: Site Kawasan TOD World Trade Center

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=30N1fZ5oRrk

Gambar 5: Site Kawasan TOD World Trade Center

(11)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

Gambar 6: Site Kawasan TOD World Trade Center

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=30N1fZ5oRrk

Gambar 7: stasiun pada kawasan world trade center

(12)

Gambar 8: Penghubung Pada WTC

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=30N1fZ5oRrk

Gambar 9: penghubung pada bagian barat WTC Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=30N1fZ5oRrk

(13)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

Gambar 10: Potongan TOD Di WTC Transportation Hub

Gambar 11: Potongan TOD Di WTC Transportation Hub

Gambar 12: Main Hall WTC Transportation Hub

(14)

Gambar 13: Retail WTC Transportation Hub

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=30N1fZ5oRrk

(15)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

Gambar 15: Retail WTC Transportation Hub

Gambar 16: Retail WTC Transportation Hub

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=30N1fZ5oRrk

2.2.5.

Sistem Transportasi

Sistem didefinisikan sebagai seperangkat objek (komponen, subsistem) dengan interaksi antar objek dan secara keseluruhab mempunyai satu tujuan/fungsi, (Krismas, FX, Dwi, (2010).

(16)

Menurut Morlok, EK, (1985) dalam Happy Nugroho (2012), semua jenis transportasi (termasuk kereta) mempunyai komponen utama, yaitu benda dan jalur tempat benda tersebut bergerak. Benda tersebut menyangkut benda transportasi berupa kereta dan benda yang dapat dipindahkan, baik manusia maupun barang.Sedangkan jalur merupakan lintasan jalan kereta. Aktivitas yang dilakukan manusia , barang, dan benda transportasi itu sendiri (kereta) perlu diiakomodasi, misalnya terdapat kebutuhan-kebutuhan, seperti:

o Cara pencapaian dan cara berpindah dari moda transportasi lain ke kereta. o Fungsi administrative seperti pengelolaan kereta, pengaturan lalu lintas

kereta, dan pengelolaan penumpang.

o Fungsi komersial, diperlukan karena terjadi konsentrasi manusia dan barang pada tempat perpindahan tersebut sehingga berpotensi untuk menjadi tempat berniaga.

o Fasilitas untuk menunggu, baik tempat duduk maupun kios-kios makanan dan minuman.

2.2.6.

Transportasi Jalan Rel

Transportasi Jalan Rel dibagi menjadi tiga, yaitu : 1) Kereta Api Rel ( KRL - KRD )

Kereta Api Rel atau disebut KRL dan KRD, merupakan kereta rel yang bergerak dengan sistem propulsi motor berupa energi listrik dan energi panas dari diesel.

2) Kereta Rel Bawah Tanah ( Subway )

Subway merupakan sistem angkutan kereta cepat bawah tanah yang biasa dibangun di bawah jalan / bawah tanah karena kondisi lalu lintas yang tidak memungkinkan dibangun di atas tanah, dan juga untuk menyesuaikan kebutuhan dari pengguna fasilitas transportasi serta perkembangan Mode transportasi suatu negara.

(17)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

3) Kereta Rel Tunggal ( Monorel )

Monorel adalah sebuah metro atau rel dengan jalur yang terdiri dari rel tunggal, berlainan dengan rel tradisional yang memiliki dua rel paralel dan dengan sendirinya, kereta lebih lebar dari pada relnya.Biasanya rel terbuat dari beton dan roda keretanya terbuat dari karet, sehingga tidak sebising kereta konvensional.

2.2.7.

Stasiun

Berikut ini adalah pengertian stasiun:

• Menurut kamus besar bahasa indonesia, stasiun adalah tempat menunggu bagi calon penumpang kereta api dsb, tempat pemeberhentian kereta api dsb.

• Menurut William Dudley Hunt, Jr, Stasiun adalah bangunan untuk kedatangan, penanganan, dan keberangkatan kereta bersama pmumpang, staff, dan barang.

• Menurut Edwar K Morlok, stasiun adalah tempat berkumpulnya penumpang dan barang yang menggunakan moda angkutan kereta.

• Sedangkan kata intermoda (interchange dalam) menurut oxford dictionary berarti change palce with each other.

Berdasarkan rerferensi tersebut dapat disumpulkan pengertian stasiun adalah bangunan tempat perhentian kereta yang memfasilitasi kegiatan operasional dan pengelolaan bangunan serta naik atau turun penumpang.

2.2.7.1 Klasifikasi dan Jenis Stasiun

(1) Berdasarkan fungsi dan letaknya:

• Stasiun Terminal, adalah tempat kereta api memulai dan mengakhiri perjalanan.

• Stasiun Peralihan, adalah tempat penumpang melanjutkan perjalanan dengan kereta api atau kendaraan lainnya.

(18)

• Stasiun Antara, adalah stasiun yang berada di antara stasiun terminal. • Stasiun Persilangan, adalah tempat pemberhentian kereta api sementara

untuk kereta api lain lewat. (2) Berdasarkan jangkauan

• Commuter Train, untuk jarak dekat (dalam kota).

• Medium Distance, untuk jarak sedang (antar distrik/wilayah). • Long Distance, untuk jarak jauh (antar kota).

(3) Berdasarkan posisi rel terhadap permukaan tanah:

• Elevated Station, stasiun dengan jalur kereta api melayang. • At- grade Station, stasiun dengan jalur kereta api sejajar tanah. • Underground Station, stasiun dengan jalur kereta api di bawah tanah.

2.2.7.2 Persyaratan Teknis

Persyaratan teknis bangunan stasiun menurut PT KAI :

1. Tinggi lantai terendah, minimum 0,5 m di atas batas permukaan banjir tertinggi yang pernah tercatat dan minimum 0,3 m di atas permukaan jalan akses dan plasa stasiun.

2. Tinggi langi t-langi t dari permukaan lantai minimal 2,5 m. 3. Tinggi untuk saluran AC minimal 0,5 m.

4. Tinggi balok dan slab minimal 0,7 m.

5. Jarak bebas di bawah pada bagian arus listrik searah untuk stasiun over track adalah 6,1 m.

Dimensi minimal platform penting sebagai syarat keamanan bagi penumpang yang hendak menaiki kereta.

Dimensi KRL merupakan besaran yang menentukan lebar landasan dan luas yang diperlukan untuk rel kereta api. (PT. KAI, Persyaratan Teknis Bangunan

(19)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

Gambar 17: Dimensi Platform (Peron Stasiun)

Sumber: PT. KAI

• Batas I untuk lintas kereta api listrik.

• Batas II untuk ’viaduk’ dan terowongan dengan kecepatan kereta sampai 60 km/jam dan untuk jembatan tanpa pembatasan kecepatan.

• Batas III untuk ’viaduk’ baru dan bangunan lama kecuali terowongan dan jembatan. • Batas IV untuk jembatan

dengan kecepatan kereta sampai dengan 60 km/jam. Gambar 18: Jarak bebas Kereta Api

(20)

2.2.8.

Studi Banding Stasiun Metro Dubai Station

Gambar 19: Metro Dubai Station

Dubai Metro (bahasa Arab: )يبد ورتم) merupakan sebuah jaringan metro otomatis yang berlokasi di Dubai, Uni Emirat Arab. Jaringan ini memiliki 2 jalur listrik bersistem tiga rel yang akan membentang di bawah tanah pusat kota dan pada jembatan dengan dua rel. Menggunakan 99 kereta lima gerbong, setiap kereta memiliki panjang 75 meter untuk menampung 400 penumpang.

Stasiun Metro Dubai :

• Setiap stasiun terkoneksi dengan bus, taksi dan tempat penitipan sepeda • Setiap stasiun memiliki fasilitas berupa escalator dan lift

• Memiliki tema stasiun yang berbeda : Earth (12 stasiun), Water (13 stasiun), Air (11 stasiun), Fire (11 stasiun)

Metro Station menampilkan konsep unik dan futuristik yang berhubungan dengan Dubai sebagai citra kota yang maju dan sarat dengan masa depan. Menggunakan atap berfilosofi dari cangkang yang merupakan ikon simbolik kekuatan.

(21)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

Gambar 20: Konsep Penutup Atap

(22)

2.3.

Hotel

2.3.1.

Pengertian Hotel

Pengertian Hotel menurut Hotel Prpictors Act, 1956 (Sulatiyono, 1999:5) adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan makanan, minuman, dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu membatar dengan jumlah wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus (perjanjian membeli barang yang disertai dengan perundingan perundingan sebelumnya).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM. 37/PW.304/MPPT-86 : Hotel sebagai jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian besar atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial.

Definisi hotel menurut Webster New World Dictionary “Hotel as a commercial

establishment providing lodging and usually meals and other services for the public, especially for travels.” (Fred R.Lawson, 1988). Yang artinya hotel adalah suatu

bangunan yang menyediakan jasa penginapan, makanan, minuman, serta pelayanan lainnya untuk umum yang dikelola secara komersial terutama untuk para wisatawan. Sedangkan pengertian yang dimuat oleh Grolier Electronic Publishing Inc.(1995) yang menyebutkan bahwa : Hotel adalah usaha komersial yang menyediakan tempat menginap, makanan, dan pelayanan-pelayanan lain untuk umum.

Maka dari beberapa pernyataan itu dapat disimpulkan bahwa hotel adalah suatu akomodasi yang menyediakan jasa penginapan, makan, minum, dan bersifat umum serta fasilitas lainnya yang memenuh syarat kenyamanan dan dikelola secara komersil.

2.3.2. Klasifikasi Hotel

(23)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

1) Klasifikasi hotel berdasarkan plan, yaitu :

 Europen plan hotel, pengunjung hanya membayar tarif kamar saja.

 Continental plan hotel, tarif kamar termasuk tarif makan pagi

 Modifed American plan hotel, tarif kamar termasuk tarif 2 kali makan (jam dapat dipilih)

Full American plan hotels, tarif kamar termasuk 3 kali makan. 2) Klasifikasi hotel berdasarkan ukuran / jumlah kamar, yaitu :

 Small hotel, jumlah kamar antara kurang dari 25 buah.

 Average hotels, jumlah kamar antara 25 – 100 buah.

 Above average hotels, jumlah kamar antara 100 – 300 buah.

 Large hotels, jumlah kamar lebih dari 300 buah. 3) Klasifikasi hotel berdasarkan jenis pengunjung, yaitu :

 Family hotels, hotel untuk tamu yang menginap bersama keluarga.

 Business hotels, hotel untuk pengusaha.

 Tourist hotels, hotel untuk tamu yang menginap berupa wisatawan, baik domestik maupun luar negeri.

 Transit hotels, hotel untuk tamu yang singgah dalam waktu singkat.

 Cure hotels, hotel untuk tamu yang menginap dalam proses pengobatan atau penyembuhan penyakit.

4) Klasifikasi hotel berdasarkan lamanya menginap, yaitu :

(24)

 Semi resident hotels, yaitu hotel dengan lama tinggal tamu lebih dari satu hari tetapi tetap dalam jangka waktu pendek, berkisar dua minggu hingga satu bulan.

 Resident hotels, yaitu hotel dengan lama tinggal tamu cukup lama, berkisar paling sedikit satu bulan

5) Klasifikasi hotel berdasarkan lokasi, yaitu :

 Resort hotels, hotel yang berada di daerah rekreasi atau peristirahatan

 Mountain hotels, hotel yang berada di pegunungan

 Beach hotels, hotel yang berada di pantai

 City hotels, hotel yang berada di tengah kota

 Highway hotel, hotel yang berada di jalur highway

6) Klasifikasi hotel berdasarkan maksud kegiatan selama tamu menginap, yaitu :

 Sport Hotel, yaitu hotel yang berada pada kompleks kegiatan olahraga.

 Ski Hotel, yaitu hotel yang menyediakan area bermain ski.

 Conference Hotel, yaitu hotel yang menyediakan fasilitas lengkap untuk konferensi.

 Convention Hotel, yaitu hotel sebagai bagian dari komplek kegiatan konvensi.

 Pilgrim Hotel, yaitu hotel yang sebagian tempatnya berfungsi sebagai fasilitas ibadah.

 Casino Hotel, yaitu hotel yang sebagian tempatnya berfungsi untuk kegiatan berjudi.

(25)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

 Reveral operation system

Chain hotel operating system

8) Klasifikasi hotel berdasarkan peraturan pemerintah, yaitu : a) Grade system, klasifikasi hotel menurut tarifnya :

(1). Hotel ekonomi, hotel dengan tarif ekonomi (2). Hotel medium, hotel dengan tarif menengah (3) .Hotel De-Luxe, hotel dengan tarif paling tinggi

b) Star system, klasifikasi hotel menurut kelas bintang sebagai simbol kualitas : (1). Hotel bintang lima

(2). Hotel bintang empat (3). Hotel bintang tiga (4). Hotel bintang dua (5). Hotel bintang satu

Berdasarkan Data Arsitek Jilid 1 oleh Ernest Neufert : Klasifikasi hotel berdasarkan orientasi pemasarannya :

(1) Hotel di pusat kota, biasanya termasuk hotel mewah, hotel untuk komperensi / pertemuan-pertemuan besar dan hotel untuk para tamu kepariwisataan. (2) Hotel untuk pemakai berkendaraan bermotor, hotel jenis ini pelayanan

utamanya adalah peruntukan bagi para pengendara mobil atau sepeda motor, karenanya lokasi hotel hendaknya terletak di persimpangan jalan raya di pinggiran kota.

(3) Hotel di lapangan udara, perencanaannya mirip dengan hotel jenis untuk pengendara mobil, perbedaannya hanya pada pelayanan pengadaan

(26)

makanan untuk penumpang pesawat udara, sehingga diperlukan penerima tamu yang berjaga semalam suntuk dan jika mungkin juga pelayanan makanan semalam suntuk. Hotel jenis ini kadang-kadang juga dilengkapi dengan gedung pertemuan untuk melayani pertemuan-pertemuan besar, swasta maupun nasional.

(4) Hotel di daerah peristirahatan, terdapat baik di tepi pantai, di daerah pegunungan atau di daerah sumber air panas. Biasanya direncanakan untuk melayani akomodasi pengunjung dalam rombongan paket wisata tertentu dengan penataan penerimaan tamu yang banyak pada masa liburan akhir pekan atau mereka yang berkunjung hanya semalam.

(5) Motel, umumnya berada di jalan-jalan utama, biasanya di dekat kota besar, tempat-tempat yang sering dikunjungi atau lokasi-lokasi berlibur yang masih mudah dicapai. Restoran, pompa bensin dan bengkel reparasi ringan sebaiknya terdapat di sekitar lokasi, namun tidak perlu berhubungan langsung dengan motel tersebut, lokasi

(6) Hotel khusus untuk konvensi, mempunyai ciri antara lain fasilitas parkir yang sangat luas untuk menampung kegiatan konvensi. Sebuah hotel konvensi yang berkapasitas 400 kamar untuk suatu kegiatan konvensi dapat menampung lebih dari 800 orang pengunjung.

Syarat-syarat Bangunan (Times-Saver Standards For Building Types) 1. Entrance Hotel:

Bagian entrance Hotel harus menarik dan mudah dilihat;

Bagian entrance menyediakan tempat untuk berjalan, kendaraan menurunkan penumpang, menaikkan barang bawaan, dan tempat untuk menurunkan barang bawaan;

Bagian entrance harus mudah di akses, dan mudah akses bila terjadi kebakaran;

Kanopi entrance melindungi dari angin dan hujan;

(27)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

3. Kamar anak sebisa mungkin dapat diakses dari ruang keluarga, sehingga dapat diawasi.

4. Akses dari ruang tidur ke kamar mandi tidak menjadi satu jalur dengan ruang keluarga.

5. Akses dari dapur ke kamar mandi dapat dimungkinkan satu jalur dengan ruang keluarga.

6. Servis dari dapur ke ruang makan dapat berhubungan dengan ruang lainnya.

2.3.3. Prinsip Desain Hotel

Gambar 22 Prinsip Desain Apartemen Sumber: Timer-Saver Standards For Building Types

1. Akses pejalan kaki berbeda dengan dengan akses kendaraan bermotor, akses pejalan kaki dapat langsung ke lobby, namun akses kendaraan bermotor dapat ke lobby namun hanya sebatas menurunkan penumpang atau lewat, dan kendaraan bermotor parkir di tempat parkir maupun garasi.

2. Tempat pertemuan atau lobby merupakan center atau pusat dari fungsi lainnya maupun pusat pertemuan akses yang beragam.

(28)

2.3.4. Tipe Unit Hunian

(29)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

2.3.5. Fasilitas Hotel

(30)

2.3.6.

Studi Banding Hotel Ahmedabad Hotel

2.3.6.1 Sekilas Proyek

Arsitek : Studio Symbiosis Proyek : Ahmedabad Hotel

Lokasi : Ahmedabad, Gujarat, India

Arsitek utama : Amit Gupta, Britta Knobel Gupta bekerjasama dengan Vandana Sehgal.

Struktur : Acecon

Fasilitas Manajer : HPG Konsultasi Fasad Konsultan : Priedemann Luas Lahan : 6.860 meter2 Luas Bangunan : 24.000 meter2

(31)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

2.3.6.2 Konsep perancangan ahmedabad hotel

Dirancang sebagai sebuah Ikon di Ahmedabad, India. Konsep fasad diambil dari konsep gelombang tebing pada alam. Bangunan terdiri dari tiga gelombang yang diterjemahkan ke dalam ruang kunci yang dramatis dari lantai bawah sampai lantai atas. Garis-garis itu lalu diterjemahkan ke dalam grid ruangan. Gelombang ini muncul dengan indah dari lanskap, menciptakan rasa hubungan yang harmonis dengan lanskap.

Profil bangunan telah dirancang dengan penekanan yang tajam diberikan baik dengan transisi yang mulus dari lanskap horisontal ke gedung sampai vertikal serta pengulangan komponen pada fasad.

(32)

Pintu masuk ke bangunan ditandai dengan kantilever yang menciptakan ruang masuk secara tidak langsung. Para tamu disambut oleh kanopi yang mengikuti mulus muncul dari tanah yang seakan masuk ke dalamnya.

Interior Lobby di desain menyerupai fasad agar tercipta kosistensi serta membentuk visual yang sangat menarik.

Ruang yang diukir menggunakan prinsip-prinsip desain yang sama dengan gelombang pada fasad. Hal ini membantu dalam menghubungkan berbagai fungsi ruang publik.

(33)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

3 Lantai ke atas dari Ground Floor (terlihat gambar diatas) yaitu Ground Floor, Upper Ground Floor, dan Mezzanine Floor terdiri dari lobby penerimaan, tempat belanja, ruang perjamuan, ruang pertemuan, restoran, lounge dan area layanan atau penunjang hotel.

2.3.6.3 Alur Sirkulasi Kendaraan

Akses masuk dan keluar hotel di bedakan dengan akses masuk service , dengan ini pengunjung hotel tidak akan merasa terganggu dengan adanya aktivitas kendaraan service yang keluar masuk hotel, dan kendaraan service. Fasilitas utama yang diberikan yaitu Banquet Hall pun diberi alur yang berbeda dengan aktifitas di hotel dan servis.

MF UGF GF

(34)

2.3.6.4 Sirkulasi Ground Floor

2.3.6.5 Sirkulasi Tipikal Room

Tangga Darurat Shaft Lift Public Guest Room Tipe 2 Sirkulasi / koridor Guest Room Tipe 1 ME & AHU Lift Servis House Keeping Room

(35)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

Kamar yang disediakan hanya 2 tipe, karena jenis hotel konvensi/bisnis. Memakai konsep pola Double Loaded untuk sirkulasi ke Guest Room.

(36)

Ramp Parkiran Parkir Excutive Sirkulasi / Guest Servis & Tangga Sky Dining Room Restoran Meeting Shops Sirkulasi & KeyP K

(37)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

(38)

2.4.

Tinjauan Tema

2.4.1.

Latar Bekang Pemilihan Tema Estetika Struktur

Bangunan idealnya memenuhi tiga aspek, yaitu Aspek Estetika, Kekuatan dan Kegunaan/Fungsi. dengan kata lain Bangunan hadir dalam kasat mata sebagai sebuah fungsi yang hadir bersama-sama dengan Kekuatan dan Estetika. Kekuatan dan estetika yang kemudian akan mencerminkan Fungsi bangunan itu sendiri sebagai sebuah karakter bangunan. dalam definisi Modern nyatanya bahwa aspek kekuatan dan estetika itu adalah bagian dari fungsi itu sendiri.

Gambar : Simulasi

Gambar : Ptongan struktur pada kanopi

Kanopi dengan

8

18m

1.5

Gambar : Detail sambungan Truss

Struktur kanopi yang digunakan adalah sistem struktur Truss. Struktur penahan kanopi berada pada balok dan kolom yang lurus.

(39)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

dengan fungsi menghadirkan keindahan. lalu kesemuanya itu terkomposisi menjadi sebuah fungsi bangunan.

Seperti halnya pada bangunan diatas, ini adalah sebuah cerminan bahkan Elemen Stuktuk itu sendiri dapat hadir sebagai fungsi lain yakni sebagai fungsi estetika. Ketika biasanya Struktur menjadi aspek penting untuk menhadirkan kekuatan bangunan dan disembunyikan dibalik elemen-elemen estetika Maka pada bangunan diatas Stuktur juga bertanggung jawab atas tercapainya estetika pada bangunan tersebut dimana struktur sekaligus menjadi aksen dan ornamen pada fasad/wajah bangunan.

2.4.2.

Defenisi-defenisi Dalam Struktur Bangunan

Seni bangunan atau arsitektur adalah seni sejak adanya manusia dan

disebut seni terikat, karena bangunan gedung dipakai oleh manusia dan bahan-bahan bangunan yang sifatnya dibatasi kemampuannya. Seni bangunan adalah seni dan teknik dengan mengikutsertakan faktor-faktor falsafah, religi, tradisi, seni dan ilmu pengetahuan.

Struktur bangunan adalah komponen penting dalam arsitektur. Tidak ada

bedanya apakah bangunan dengan strukturnya hanya tempat untuk berlindung satu keluarga yang bersifat sederhana, ataukah tempat berkumpul atau bekerja bagi banyak orang, seperti perkantoran, gedung ibadah, hotel, gedung bioskop, stasiun dan sebagainya. Maka fungsi dari struktur ialah untuk melindungi suatu ruang tertentu terhadap iklim, bahaya-bahaya yang ditimbulkan alam dan menyalurkannya semua macam beban ke tanah. Beban-beban yang dipikulnya, berat bahan dari elemen-elemen beserta berat strukturnya sendiri disalurkan oleh struktur atau kerangka bangunan kekulit bumi. Kecuali beban tersebut, struktur harus dapt memikul beban lain akibat dari angin dan gempa bumi.

Struktur Bangunan Gedung adalah oganisasi daripada elemen-elemen

ataupun komponen-komponen bangunan yang mendukung dapat berfungsinya bangunan gedung dengan baik.

(40)

Sistem struktur adalah bentuk organisasi daripada elemen-elemen struktur yang ditujukan untuk menyalurkan beban secara karakteristik.

Sistem konstruksi adalah cara bagaimana struktur bangunan gedung

dilaksanakan (masalah kekuatan, sambungan-sambungan per elemen/bagian yang disambung secara detail).

Pembebanan struktur bangunan adalah beraneka ragam dan rumit

(kompleks). Bangunan menampung orang-orang yang hidup, barang-barang yang dapat dipindahkan, beban angin yang berubah-ubah, berat struktur dan bahan-bahan bangunan yang statis semuanya dipikul ileh struktur atau kerangka bangunan dan sisalurkan ketanah melalui pondasi.

2.4.3.

Struktur Bangunan Gedung Menurut Sistem Penyaluran

Bebannya Struktur

 Struktur Utama adalah organisasi dari elemen-elemen ataupun komponen-komponen bangunan yang menyalurkan beban ketanah dan tanpa adanya struktur ini bangunan tidak dapat berfungsi dengan baik

 Struktur pendukung adalah susunan elemen-elemen ataupun komponen bangunan yang mendukung struktur utama supaya dapat melaksanakan fungsinya dengan baik

Banyak variasi pembebanan pada struktur bangunan. Beban-beban tersebut diatas dapat ditentukan dan diberi kode atau tanda dalam perencanaan struktur. Beban dibedakan menjadi:

 Beban Mati adalah beratnya struktur sendiri.

 Beban hidup adalah berat beban yang dapat berpindah-pindah atau berubah arah seperti mesin, orang, penyekat fleksibel (partition), air hujan, salju, dsb.

 Beban Angin.

 Beban Termis.

 Gerakan bangunan akibat gerakan tanah.

 Goyangan bangunan akibat gempa bumi.

(41)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Perancangan stasiun dan Hotel dengan Integritasnya di TOD Manggarai Ekspose Ekspresi Struktur

2.4.4.

Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Perencanaan

Bangunan

1. Estetika, sebagai dasar keindahan dan keserasian bangunan yang mampu memberikan rasa bangga kepada pemilknya.

2. Fungsional, disesuaikan dengan pemanfaatan dan penggunaannya sehingga dalam pemakaiannya dapat memberikan kenikmatan dan kenyamanan.

3. Struktural, mempunyai struktur yang kuat dan mantap yang dapat memberikan kenikmatan dan kenyamanan.

4. Ekonomis, pendimensian elemen bangunan yang proporsional dan penggunaan bahan bangunan yang memadai sehingga bangunan awet dan mempunyai umur pakai yang panjang.

Gambar

Gambar 1: Arahan Rancangan PAA angkatan 73  Sumber: kordinator PAA 73 (Abraham Seno, ST
Gambar 2: Rencana Pembangunan Stasiun Transportasi dan Pengembangan Kawasan Perkotaan  Terpadu di Manggarai, Jakarta
Gambar 5: Site Kawasan TOD World Trade Center   Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=30N1fZ5oRrk
Gambar 6: Site Kawasan TOD World Trade Center  Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=30N1fZ5oRrk
+7

Referensi

Dokumen terkait

Medium TC (Taoge Cair) berdasarkan susunannya merupakan medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab terdiri dari bahan alamiah yang ditambah dengan

DIN Rumah sakit memiliki tata kelola akuntansi dan keuangan syariah – SSMAK 1.3.1 NAFS.

Dengan Balanced Scorecard, tujuan suatu unit usaha tidak hanya dinyatakan dalam suatu ukuran keuangan saja, melainkan dijabarkan lebih lanjut ke dalam

Pada dasarnya dalam mengukur kinerja suatu perusahaan, selain dari aspek finansial, aspek non finansial yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif juga memberikan

Deformitas merupakan perubahan atau kerusakan pada bagian tubuh yang terjadi akibat trauma, misalnya terjadi fraktur kepala, kompresi, ketegangan, atau pemotongan

Setiap laporan akan diserahkan pada pihak-pihak yang ikut serta membantu dalam pelaksanaan acara sebagai bentuk pertanggungjawaban pada kepercayaan yang diberikan

Kami juga boleh menyediakan maklumat peribadi berkenaan dengan individu kepada orang ramai atau pihak berkuasa kehakiman, kakitangan dan agensi penguatkuasaan undang-undang

Sumber data skunder merupakan data pendukung penelitian yang bisa menambah penjelasan terhadap hal-hal yang bersangkutan atau berkaitan dengan kegiatan para lanjut