7
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.Pengertian Pendidikan dan Pelatihan
Menurut Sumarsono (2009 : 92-93), Pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengembangan SDM. Pendidikan dan latihannya tidak hanya menambah pengetahuan, akan tetapi juga meningkatkan keterampilan bekerja, dengan demikian meningkatkan produktivitas kerja.
Menurut Yuniarsih dan Suwanto (2011:133) pendidikan dan pelatihan merupakan penciptaan suatu lingkungan dimana para pegawai dapat memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, keahlian, pengetahuan dan prilaku yang spesifik yang berkaitan dengan pekerjaan (Tjuju Yuniarsih dan Suwanto , 2011:133)
Pendidikan menurut Heidjrachman dalam Yuniarsih dan Suwanto, (2011:134) adalah salah satu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan umum seseorang, termasuk di dalamnya peningkatan penguasaan teori dan keterampilan memutuskan tehadap pesoalan-persoalan yang menyangkut kegiatan dalam mencapai suatu tujuan .
Sedangkan menurut Siagian dalam Yuniarsih dan Suwanto (2011: 134) pendidikan adalah keseluruhan proses, teknik dan metode belajar mengajar dalam rangka mengalihkan suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Pelatihan menurut Buckley dalam Marwansyah (2010 : 155) adalah upaya terencana dan sistematis untuk menyesuaikan dan mengembangkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap melalui pengalaman belajar untuk mewujudkan kinerja efektif dalam satu kegiatan atau rangkaian kegiatan .
Pelatihan menurut Sulistiyani dan Rosidah (2009:219) adalah proses sistematik pengubahan prilaku para pegawai dalam suatu arah guna meningkatkan tujuan-tujuan organisasional. Pelatihan biasanya dimulai dengan orientasi yakni suatu proses dimana para pegawai diberi informasi dan pengetahuan tentang kepegawaian, organisasi dan harapan-harapan untuk mencapai performance (penampilan) tertentu.
Dari beberapa definisi para ahli mengenai pendidikan dan pelatihan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses pemberian materi atau pelajaran yang dimaksudkan untuk menambah pengetahuan,keterampilan dan kecakapan tertentu.
2. Pendidikan dan pelatihan berhubungan dengan pekerjaan tertentu yang harus dilakukan dalam perusahaan.
2.2. Tujuan Pendidikan dan Pelatihan
Pelatihan dan pengembangan merupakan tanggung jawab bersama dan utamanya manajemen puncak (pimpinan) serta mendapat dukungan dari berbagai pihak, misalnya : penyelia, departemen SDM dan karyawan. Pimpinan mempunyai tanggung jawab terhadap kebjakan-kebijakan umum dan prosedur yang dibutuhkan untuk menerapkan program pelatihan dan pengembangan.
Adapun tujuan dari pelatihan menurut Siagian dalam Sulistiyani dan Rosidah (2009:220) :
a. Memperbaiki kinerja, memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan kemajuan teknologi
b. Mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru agar kompeten dalam bekerja c. Membantu memecahkan permasalahan opersional
d. Mempersiapkan karyawan untuk promosi e. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi
Martoyo dalam Yuniarsih dan Suwanto (2011:135) menyatakan tujuan dari pendidikan dan pelatihan adalah memperbaiki tingkat efektifitas kegiatan karyawan dalam mencapai hasil hasil yang ditetapkan.
Sedangkan menurut Nitisemito dalam Yunarsih dan Suwanto (2011:135) tujuan dari pendidikan dan pelatihan adalah sebagai berikut
a. Pekerjaan diharapkan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih baik b. Tanggung jawab diharapkan lebih besar
c. Kekeliruan dalam pekerjaan diharapkan berkurang
d. Kelangsungan hidup perusahaan diharapkan lebih terjamin.
Menurut Beach dalam Sofyandi (2008:114) tujuan dari pelatihan adalah : a. Reduce learning time to teach acceptable performance
Dengan adanya pelatihan maka jangka waktu yang digunakan karyawan untuk memperoleh keterampilan akan lebih cepat.
b. Improve performance on present job
Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan dalam menghadapi pekerjaan-pekerjaan yang sedang dihadapi
c. Attitude formation
Pelatihan diharapkan dapat membentuk sikap dan tingkah laku karyawan dalam melakukan pekerjaannya.
d. Aid in solving operation problem
Pelatihan membantu memecahkan masalah-masalah operasional perusahaan sehari hari seperti kecelakaan kerja, mengurangi absen dan lain lain.
e. Fill manpower needs
Mempunyai tujuan jangka panjang yaitu mempersiapkan karyawan memperoleh keahlian dalam bidangtertentu yang dibutuhkan perusahaan.
2.3. Jenis Jenis Pelatihan
Jenis-jenis pelatihan menurut Jucius dalam Sulistiyani dan Rosidah (2009:229) dibagi dalam 7 jenis yaitu :
1. On The Job Training ( Latihan di tempat kerja)
Metode ini menyarankan perlunya latihan pada tenaga kerja baru. Latihan di lakukan di tempat kerja. Latihan tidak diselenggarakan secara khusus dan terpisah dari proses bekerja. Pemberi latihan adalah pegawai yang sudah cukup lama dan berpengalaman di bidangnya. Kelebihan dari metode ini adalah lebih hemat waktu dan pegawai baru maupun pelatih tidak meninggalkan tugas. Pelatihan ini mempunyai kelemahan pelatih kurang berkonsentrasi dalam memberikan pelatihan karena kesibukan.
2. Vestibule Training
Metode pelatihan ini berupa kursus singkat yang direkayasa sehingga kondisi dan fasilitas kursus menyerupai situasi kerja yang sebenarnya. Kursus dilakukan secara terpisah dengan tempat kerja dan memerlukan instruktur khusus. Kelebihan metode ini adalah bahwa kursus dapat diikuti oleh peserta yang berjumlah relative banyak, tentu saja disesuaikan dengan kemampuan dan fasilitas yang tersedia.
3. Apprenticeship Training (magang)
Pegawai baru dimagangkan pada seseorang yang ahli dalam bidang tertentu. Para magang bekerja dan berlatih dibawah pengawasan langsung ahli tersebut. Biasanya metode ini di gunakan untuk jenis pegawai yang memerlukan Skill yang tinggi.
4. Internship Training
Program pelatihan yang dilakukan sebuah lembaga pendididkan dengan instansi lain seperti perusahaan, instansi pemerintah, untuk memberikan latihan kepada para siswa atau mahasiswa. Peserta lathan yang luus dengan predikat baik dapat memperoleh kesempatan kerja pada instansi atau perusahaan tersebut.
5. Learning Training (pelatihan siswa)
Terkadang perusahaan dihadapkan dengan permasalahan banyaknya tumpukan tugas yang perlu segera diselesaikan. Sedangkan jenis pegai tersebut merupakan jenis pegawai yang memerlukan tenaga kerja setengah terampil, dalam jangka pendek. Oleh karena itu perusahaan mengirimkan sejumlah tenaga kerja yang ada untuk mengikuti pelatihan pada sekolah-sekolah kejuruan tertentu.
6. Outside Course
Merupakan metode training yang dilakukan oleh suatu lembaga profesional yang bekerjasama dengan suatu perusahaan tertentu.
7. Retraining and Upgrading
Metode pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas keterampilan pegawai untuk mengantisipasi kondisi lingkungan senantiasa berubah dan berkembang. Dengan demikian kebutuhan tenaga yang sesuai perkembangan teknologi dan lingkungan dapat terpenuhi.
Menurut Akrani dalam Kaswan (2011:213) ada 4 jenis pelatihan yang berbeda.Pelatihan pelatihan itu adalah sebagai berikut :
a. Induction Training (Pelatihan Induksi) b. Job training (Pelatihan Pekerjaan)
c. Training for promotion (Pelatihan untuk promosi) d. Refresher training (Pelatihan untuk penyegaran)
e. Training for managerial development (Pelatihan untuk pengembangan manajerial )
2.4. Metode dan Langkah Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan
Notoatmodjo (2009:43) mengemukakan secara garis besar ada dua jenis metode belajar mengajar yang digunakan dalam pendidikan dan pelatihan yaitu
1. Metode Didaktik (One way method)
Metode ini menitikberatkan bahwa pendidik yang aktif, sedangkan pihak sasaran pendidikan tidak diberi kesempatan aktif. Yang termasuk ke dalam metode ini adalah:
a. Ceramah
b. Siaran melalui radio c. Pemutaran film atau slide
d. Penyebaran pamflet, booklet, poster dan lain lain.
2. Metode Sokratik (Two way method)
Metode ini menjamin adanya komunikasi dua arah antara pendidik dan sasaran pendidikan. Yang temasuk metode ini antara lain : demonstrasi, diskusi, seminar latihan lapangan, tugas perorangan, studi kasus, kunjungan lapangan (field trip),
sistem modul dan lain lain.
Sedangkan menurut Kaswan (2011:181) teknik dalam presentasi informasi dalam pelatihan meliputi 3 metode , antara lain :
1. Metode Ceramah
2. Metode diskusi/konferensi 3. Media audiovisual,
a. Media statis : meliputi media cetak, buku teks, buku petunjuk, slide, buku teks, buku rujukan dan lain sebagainya.
b. Media Dinamis : meliputi CD,DVD, videotape, audiocassette
Menurut Kusdiyah (2008:112), dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan disusun melalui langkah langkah proses dalam penyusunan kegiatan pelatihan , meliputi :
a. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan b. Tujuan pelatihan dan pengembangan
c. Merencanakan dan mengembangkan program pelatihan d. Implementasi program
e. Evaluasi dan monitoring
Berikut ini adalah alur dalam proses penyusunan kegiatan pelatihan
Sumber : Rachmawati Kusdiyah (2008:112)
Gambar II.1 Alur kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Tujuan Pelatihan
Merecanakan dan mengembangkan program pelatihan
Implementasi Program
On the job training Off the job training
Evaluasi dan monitoring Mengidentifikasi Kebutuhan Pelatihan
2.5. Kurikulum Pendidikan dan Pelatihan
Dalam pendidikan dan pelatihan, kurikulum sangat penting karena kurikulum merupakan pedoman bagi kegiatan belajar mengajar dalam rangka mengembangkan kemampuan sumber daya manusia atau sasaran dari pendidikan dan pelatihan . kurikulum diartikan sebagai suatu pembelajaran atau daftar mata pelajaran yang akan diterima peserta pendidikan dan pelatihan dalam waktu tertentu untuk memperoleh ijasah atau kemampuan tertentu ( Notoadmodjo, 2009:34)
Menurut Notoatmodjo (2009:34) ada 3 macam bentuk kurikulum yaitu : 1. Subject matter curriculum (Berorientasi pada mata ajaran)
Kurikulum ini menampilkan bahan ajaran secara terpisah, tujuannya adalah penguasaaan bahan dari tiap mata pelajaran, sehingga bahannya semakin luas dan mendalam
2. Integrated curriculum (Kurikulum yang terintegrasi)
kurikulum ini terintegrasi penuh antara semua mata pelajaran, kurikulum diberikan secara bersama untuk memecahkan suatu masalah.
3. Competency based curriculum (kurikulum yang didasarkan pada tingkat kemampuan).
Semua kegiatan kurikulum ini diorganisasi ke arah fungsi atau kemampuan yang dituntut pasaran kerja atau bidang pekerjaan.
2.6. Hambatan Pembelajaran Dalam Pelatihan
Menurut Noe dalam Kaswan (2011:47) proses pembelajaran dalam pelatihan meliputi :
1. Harapan (expectancy), 2. Persepsi (perception)
3. Memori kerja (working memory)
4. Penyandian semantik (semantic encoding)
5. Penyimpanan jangka panjang (long-term memory) 6. Retrieval
7. Generalisasi (generalizing)
8. Kepuasan (gratification)
Expetacy merujuk pada keadaan mental yang pembelajar bawa pada proses
pembelajaran. Ini meliputi hal hal seperti motivasi belajar, kemampuan dasar, pemahaman terhadap tujuan pelatihan dan manfaat yang diperoleh yang dihasilkan dari pembelajaran dan menggunakan kapabilitas yang dipelajari pada pekerjaan.
Pembelajaran di satu sisi sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi karyawan, yang pada akhirnya memberi konstribusi pada efektifitas dan kinerja organisasi., tapi pada sisi lain pembelajaran tidak selalu berjala mulus, dengan kata lain pembelajaran kerapkali mendapat hambatan.
Hambatan dalam pembelajaran menurut Kaswan (2011:48) adalah :
1. Hambatan internal, antara lain kurangnya motivasi, kurangnya komitmen,penolakan, rasa cepat puas diri,tidak mau tahu dan kemampuan mental dalam diri masing masing individu.
2.7. Evaluasi pendidikan dan pelatihan
Kaswan (2011:87) mendefinisikan evaluasi program pelatihan sebagai pengumpulan secara sistematis terhadap informasi deskriptif dan penilaian yang diperlukan untuk membuat keputusan pelatihan yang efektif yang terkait dengan seleksi, adopsi, nilai dan modifikasi aktivitas pembelajaran yang bervariasi.
Werner dan DeSimone dalam Kaswan, (2011:215) menjelaskan bahwa evaluasi program pelatihan merupakan pengumpulan secara sistematis terhadap informasi deskriptif dan penilaian yang diperlukan untuk membuat keputusan pelatihan yang efektif yang terkait dengan seleksi, adopsi , nilai dan modifikasi akivitas pembelajaran yang bervariasi.
Evaluasi dibedakan berdasarkan kapan pengukuran dan evaluasi itu dilakukan . untuk itu evaluasi dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Evaluasi Formatif
Evaluasi ini dilakukan dalam proses pendidikan yang sedang berlangsung. Evaluasi ini sangat diperlukan untuk mengadakan perbaikan proses belajar mengajar termasuk kurikulum, metode pengajar dan sebagainya.
2. Evaluasi Sumatif
Evaluasi ini dilakukan pada akhir suatu proses pendidikan atau proses belajar mengajar . evaluasi ini diperlukan untuk menentukan kedudukan para learner di dalam suatu jenjang atau tngkat tertentu dan untuk memberikan keterangan dalam pengambilan keputusan tentang kenaikan tingkat atau pemberian gelar.
langkah langkah dalam menyusun evaluasi menurut Notoatmodjo (2009:69) yaitu : a. Merencanakan evaluasi, meliputi menetapkan tujuan, membuat blue print test
(ujian), menyusun alat ukur tes b. Mempergunakan alat ukur
c. Menginterpretasikan hasil pengukuran