8
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Perilaku Membolos 1. Pengertian Membolos
Perilaku membolos dapat dimasukkan sebagai salah satu bagian dari kenakalan remaja. Masalah ini berkaitan dengan pelanggaran norma hukum dan norma-norma sosial. Dalam hal ini siswa yang melakukan pelanggaran terhadap aturan atau norma atau tata tertib yang diterapkan di sekolah.
Membolos menurut Poerwadarminto W.J.S (1986) diartikan sebagai tidak masuk sekolah yaitu siswa yang absen dari sekolah tanpa izin dan tanpa sepengetahuan dari orang tua, meninggalkan sekolah atau tidak masuk sekolah dari awal pelajaran sampai akhir. Menurut Simandjuntak (1975) membolos juga dapat diartikan sebagai bentuk penarikan diri dari kenyataan di sekolah untuk menghindari tugas-tugas sekolah yang dirasakan tidak menyenangkan.
Menurut Apriyatni (2006) membolos sering terjadi tidak hanya saat ingin berangkat sekolah, namun saat jam pelajaran ketika dimulai pun terkadang ada siswa yang memanfaatkan waktu untuk membolos.
Keinginan membolos ini bermacam-macam, ada yang sekedar
9 menghilangkan rasa suntuk karena pelajaran di sekolah atau sedang mempunyai masalah pribadi yang membuat siswa tidak berkonsentrasi belajar di sekolah. Membolos merupakan salah satu bentuk dari kenakalan siswa, yang jika tidak segera diselesaikan atau dicari solusinya dapat menimbulkan dampak yang lebih parah. Oleh karena itu, penanganan terhadap siswa yang suka membolos menjadi perhatian yang sangat serius.
Menurut Yuli Setyowati (2004) bahwa pengertian membolos adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh siswa dalam bentuk pelanggaran tata tertib sekolah dengan cara atau meninggalkan sekolah pada jam pelajaran tertentu, meninggalkan pelajaran sampai akhir sepanjang hari yaitu dari awal pelajaran sampai akhir pelajaran guna menghindari pelajaran efektif tanpa ada keterangan yang dapat diterima oleh pihak sekolah atau dengan keterangan palsu.
Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa perilaku membolos adalah tindakan yang dilakukan oleh siswa dalam bentuk pelanggaran tata tertib yaitu meninggalkan sekolah pada jam pelajaran berlangsung atau tidak masuk sekolah tanpa izin dari guru dan orang tua yang bertujuan untuk menghindari jam pelajaran efektif. Membolos sebagai perilaku individu yang absen dari sekolah tanpa izin dan tanpa sepengetahuan dari orang tua, meninggalkan sekolah pada jam sekolah berlangsung dan membolos dari awal pelajaran sampai akhir pelajaran.
10 Menurut Yuli Setyowati (2004) beberapa masalah yang dihadapi siswa yang membolos antara lain :
1. Adanya perasaan tidak nyaman 2. Mempunyai musuh di sekolah
3. Tidak suka dengan beberapa mata pelajaran yang dianggap tidak penting atau tidak disukai
4. Merasa tertinggal dalam pelajaran dan tidak mampu 5. Tidak suka guru yang mengajar
6. Adanya tekanan dari teman
7. Situasi rumah yang tidak mendukung untuk belajar 8. Memang karena tidak berminat pada sekolah
Menurut Yuli Setyowati (2004) ada siswa yang dengan alasan sakit atau ada keperluan keluarga mendapat izin untuk meninggalkan pelajaran padahal kenyataannya alasan-alasan itu tidak benar atau palsu. Sekolah tidak mengetahui bahwa siswanya telah memanfaatkan alasan tersebut agar diizinkan untuk meninggalkan pelajaran atau tidak masuk sekolah.
Hampir setiap sekolah menerapkan peraturan disiplin siswa dengan menetapkan kegiatan belajar pagi mulai pukul 07.00 WIB. Para siswa harus sudah berada di sekolah lima belas menit sebelum kegiatan belajar dimulai. Bagi siswa yang terlambat akan diperkenankan masuk kelas, setelah mendapat surat izin dari kepala sekolah atau guru piket.
11 Menurut Priyatno dan Erman Amti (1999) adapun gambaran rinci mengenai perilaku membolos meliputi :
1. Berhari-hari tidak masuk sekolah 2. Tidak masuk sekolah tanpa izin
3. Sering keluar pada jam pelajaran tertentu
4. Mengajak teman-teman untuk keluar pada mata pelajaran yang tidak disenangi
2. Faktor Yang Melatarbelakangi Perilaku Membolos Siswa
Menurut Indri Setyawati (2007) menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan anak malas datang ke sekolah. Faktor ini dapat berasal dari dalam diri siswa itu sendiri maupun dari faktor lingkungan. Siswa yang membolos biasanya akan mengemukakan alasan yang masuk akal sehingga diberi izin oleh orang tua, guru piket atau guru BK. Padahal tujuan utamanya adalah untuk menghindari jam efektif belajar di sekolah.
Menurut Kresno Mulyadi (2005), penyebab rasa takut bersekolah ini beragam antara lain karena berbagai persoalan yang didapatinya saat di sekolah seperti di ejek teman, menghadapi guru yang galak. Sebab yang lain adalah anak tidak dapat beradaptasi dengan suasana sekolah.
Ferry Hendra Prajaka (2009) mengungkapkan bahwa teman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku sosial. Teman memainkan peran dalam berinteraksi dan beraktivitas. Teman menjadi perantara awal bagi anak untuk bersosialisasi secara aktif. Teman menjadi tempat pembelajaran nilai-nilai dan peraturan social yang bersifat informal
12 yang tidak mereka dapatkan dari keluarga maupun sekolah. Teman yang baik tingkah lakunya akan memberikan dampak yang positif bagi seseorang. Sebaliknya jika bergaul dengan teman yang tingkah lakunya buruk bahkan menyimpang dapat juga memberikan pengaruh negatif bagi seseorang.
Suasana sekolah yang menyenangkan menurut VM Tri Mulyani W (2004) adalah sekolah-sekolah yang aman, tenang, bebas dari rasa takut terhadap guru-guru dan staf administrasinya. Suasana sekolah yang menyenangkan mempunyai andil besar untuk menarik siswa. Hari pertama masuk sekolah hendaknya semua guru berada di kelas memberikan penjelasan kepada siswa dengan berwajah ceria, murah senyum. Hal ini akan memberikan kesan yang menyenangkan. Masih menurut VM Tri Mulyani (2004) menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang di lingkungan sekolah yang tidak menyenangkan seorang siswa Sekolah Menengah, diantaranya yang menyangkut faktor guru, mata pelajaran dan faktor lain yang menyangkut anak itu sendiri. Bila faktor-faktor ini dialami anak di sekolah, maka siswa tersebut akan malas masuk kelas, bolos, ingin meninggalkan sekolah lebih dini, tidak bertujuan memperoleh keahlian dan cita-citanyapun menjadi kabur.
Menurut Chairil Anwar (2006) ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa membolos dari sekolah yaitu karena adanya permasalahan yang muncul, baik di lingkungan sekolah sendiri, kemudian
13 di luar lingkungan sekolah, persoalan dengan teman, kurang menyukai pelajaran atau bahkan tidak senang dengan guru yang mengajar.
Dian Apriyatni (2006) mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa bolos sekolah diataranya karena merasa bosan dengan gaya mengajar guru. Penyebab lainnya adalah adanya masalah pribadi baik dengan orang tua, pacar maupun teman-teman, namun bolos sekolah juga dilakukan oleh siswa karena pengaruh dari teman-teman.
Menurut Priyatno dan Erman Amti (1999) penyebab siswa membolos dari sekolah adalah sebagai berikut:
a. Tak senang dengan sikap dan perilaku guru b. Merasa kurang mendapatkan perhatian dari guru c. Merasa dibeda-bedakan oleh guru
d. Proses belajar mengajar yang membosankan e. Merasa gagal dalam belajar
f. Kurang berminat terhadap mata pelajaran g. Terpengaruh oleh teman yang suka membolos h. Takut masuk karena tidak membuat tugas
Menurut Priyatno dan Erman Amti (1999) kemungkinan akibat siswa membolos dari sekolah adalah sebagai berikut:
a. Minat terhadap pelajaran akan semakin kurang b. Gagal dalam ujian
c. Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki d. Tidak naik kelas
14 e. Penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman-teman
lainnya
f. Dikeluarkan dari sekolah
Menurut Yuli Setyowati (2004) menyatakan bahwa ada beberapa gejala yang nampak menyebabkan siswa membolos adalah sebagai berikut ini :
a. Ada siswa yang tidak hadir pada hari-hari sekolah tertentu
b. Dari mereka yang tidak hadir itu ada yang memberitahu dengan alasan sakit atau ada urusan keluarga yang penting, tetapi ada pula yang tanpa pemberitahuan
c. Ada pula yang memberitahu tetapi alasan tidak sesuai dengan alasan sesungguhnya
d. Ada pula siswa yang sekalipun hadir pada hari sekolah tetapi tidak hadir pada jam pelajaran tertentu
e. Ada yang hadir pada jam pelajaran tetapi di tengah jam pelajaran minta izin keluar lalu tidak masuk lagi
Menurut Yuli Setyowati (2004) dalam hal ini faktor-faktor yang diduga melatarbelakangi perilaku membolos siswa diantaranya adalah faktor ekstern maupun faktor intern. Adapun faktor ekstern tersebut adalah a. Peran teman: siswa tersebut ikut-ikutan membolos karena pengaruh
teman yang suka membolos
b. Persepsi tentang mata pelajaran : pelajaran hari tersebut tidak menyenangkan dan ada tugas yang belum dikerjakan
15 c. Persepsi tentang guru : guru yang mengajar hari tersebut galak dan
tidak toleran, terlalu banyak mengatur siswa-siswanya
d. Persepsi terhadap pelaksanaan tata tertib : tata tertib yang diberlakukan di sekolah
e. Tempat tinggal : tempat tinggal siswa jauh dan sulit transportasinya sehingga memungkinkan siswa untuk membolos
f. Keadaan orang tua : keadaan ekonomi orang tuanya kurang dan belum melunasi administrasi sekolah
Sedangkan faktor internnya adalah sebagai berikut : a. Kematangan untuk belajar
Kematangan belajar ada kaitannya dengan pertumbuhan biologis.
Misalnya : anak yang dalam masa pertumbuhannya belum tiba pada suatu tahap untuk belajar berjalan, janganlah dipaksa untuk mulai belajar berjalan. Anak belum matang untuk mulai belajar berjalan.
Pemaksaan untuk belajar sesuatu sebelum sampai pada tahap kematanganya akan menimbulkan akibat yang tidak menyenangkan.
b. Kemampuan atau ketrampilan dasar untuk belajar
Faktor ini merupakan prasyarat bagi keberhasilan proses belajar.
Seseorang yang memiliki kemampuan belajar asli yang tinggi akan lebih cepat berhasil dalam belajar. Selanjutnya, apabila seorang siswa belajar terlebih dahulu bekal kemampuan yang dipersyaratkan untuk mempelajari sesuatu, maka dia cenderung akan lebih berhasil dalam belajar dalam hal itu.
16 c. Dorongan untuk berprestasi
Dorongan ini pada dasarnya telah ada pada diri seseorang sejak dilahirkan. Tinggi rendahnya dorongan ini akan sangat tergantung kepada pengalaman orang yang bersangkutan dalam menggunakan dorongan itu.
Kartini Kartono (1985) menyebutkan bahwa seringkali ada anak yang merasa bahwa anak tidak diinginkan atau diterima di kelasnya. Anak- anak yang ditolak oleh kawan-kawan sekelasnya, akan merasa lebih aman berada di rumah. Ada juga anak yang tidak diperhatikan atau diacuhkan oleh teman-teman sekelasnya. Siswa tidak diajak bermain, tidak pernah dipilih dalam kelompok bermain. Penolakan terhadap anak oleh anak lain dapat disebabkan oleh waktak tertentu, tetapi dapat juga disebabkan karena status sosial. Anak yang ditolak di sekolah, baik oleh guru maupun oleh teman-teman sekelasnya akan mencari-cari alasan untuk tinggal di rumah.
Menurut Bambang Moelyono (1984) menyebutkan bahwa keluarga merupakan wadah pembentukan pribadi anggota keluarga terutama untuk anak-anak yang sedang mengalami pertembuhan fisik dan rohani. Dengan demikian keadaan dan kedudukan keluarga mempunyai peran penting bagi pendidikan seorang anak. Perhatian orang tua terhadap anak, rukun dan tidaknya kedua orang tua, akrab atau tidaknya hubungan orang tua dan anak berpengaruh besar terhadap keberhasilan pendidikan anak.
Menurut Indri Setyawati (2007) menyebutkan bahwa sikap orang tua juga memberi pengaruh yang sangat besar pada anak. Apabila orang
17 tua tidak melihat pentingnya anak masuk sekolah, atau mengganggap sekolah itu hanya membuang waktu saja, atau juga jika mereka menanamkan perasaan pada anak bahwa anak tidak akan berhasil, anak itu akan berkurang semangatnya untuk masuk sekolah.
John Pearce (1990) mengatakan ada beberapa kemungkinan siswa membolos dari sekolah :
a. Sekolahnya membosankan atau sulit bagi anak dan tampaknya tidak memberikan banyak hal
b. Anak disesatkan oleh anak lain
c. Sekolahnya tidak terorganisasi dengan baik dan tidak pernah memperhatikan masalah membolos
d. Tindakan membolos mungkin terjadi bila orang tua asyik dengan masalah yang lain, seperti kedua orang tua bekerja
e. Bila anak berperilaku antisocial yang lain dan juga membolos, siswa mengalami masalah yang sangat serius dan lepas dari pengawasan f. Kadang anak membolos karena mereka mendapatkan sesuatu yang
lebih menarik untuk dikerjakan, seperti pekerjaan yang dibayar atau menemui teman-teman
Menurut Singgih D Gunarsa (1980) penyebab siswa tidak mengikuti pelajaran di sekolah adalah : kemampuan belajar dan berfikir yang sudah memang tidak sama denga murid-murid lain. Atau karena lain sebab dari luar, mungkin karena keadaan keluarga kurang memberikan kesempatan belajar baginya. Dapat pula karena guru baginya kurang memberikan
18 semangat belajar, disebabkan suatu peristiwa antara guru dan murid, sehingga bagi anak berada di sekolah berarti suatu siksaan dan membosankan. Akhirnya siswa membolos dari sekolah.
Sedang menurut Gunarsa dan Gunarsa (1987) ada dua faktor yang melatarbelakangi perilaku membolos siswa yaitu :
a. Sebab yang bersumber pada anak
1. Pada umumnya anak tidak sekolah karena sakit
2. Ketidakmampuan anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah 3. Kemampuan intelek yang tarafnya lebih tinggi daripada teman-
temannya
4. Kekurangan motivasi untuk belajar b. Sebab yang bersumber di luar anak
1) Keluarga
a) Keadaan keluarga
Keadaan keluarga tidak selalu memudahkan anak didik untuk memakai waktu untuk belajar sekehendak hatinya. Banyak keluarga yang masih memerlukan bantuan semua anggota keluarga, juga anak-anak, untuk melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. Bahkan tidak jarang pula terlihat adanya anak didik yang membantu orang tua mencari nafkah. Remaja yang merasa diri sudah “dewasa” acap kali tergoda oleh keinginan untuk mencari nafkah, dan meninggalkan bangku sekolah untuk
“ngobyek”.
19 b) Sikap orang tua
i) Sikap orang tua yang masa bodoh terhadap sekolah, tentunya kurang membantu anak dalam mendorong anak hadir di sekolah. Orang tua dengan mudah memberi surat keterangan sakit untuk sekolah, padahal anak membolos untuk menghindari ulangan. sikap orang tua yang tidak mementingkan kehadiran anak di sekolah, juga tidak akan membangkitkan “kegairahan” anak untuk ke sekolah.
ii) Sikap orang tua yang terlalu cemas mengenai kesehatan anak, sehingga anak terlalu lama ditahan di rumah sesudah sembuh dari sakit
iii) Sikap orang tua yang terlalu tinggi harapannya terhadap prestasi sekolah anak, yang tidak dapat dipenuhinya. Anak ingin menghindarinya dari situasi yang mengecewakan, sehingga ingin menjauhkan diri dari sekolah, dengan perkataan lain membolos.
2) Sekolah
a. Hubungan anak dengan sekolah dapat dilihat dalam hubungannya dengan anak-anak lain, yang menyebabkan siswa tidak senang di sekolah, lalu membolos
i. Anak mungkin lain dari anak-anak lain seperti cacat, berkelainan
20 ii. Anak mungkin tidak disenangi oleh kawan-kawan sekelasnya karena termasuk kelompok minoritas atau anak kesayangan guru
b. Anak tidak senang ke sekolah karena tidak senang dengan gurunya
i. Guru yang mungkin menakutkan bagi anak
ii. Guru yang membedakan murid-murid, menganakemaskan anak
iii. Guru yang tidak mau mendengar atau menjawab pertanyaan murid
iv. Ada persoalan antara anak didik dengan guru
Menurut Yuli Setyowati (2004) faktor yang melatarbelakangi perilaku membolos siswa dapat dilihat dari dua faktor yaitu :
a. Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah merupakan tempat pendidikan formal yang mempunyai peranan mengembangkan kepribadian siswa sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas di masyarakat. Lingkungan sekolah di sini meliputi guru, mata pelajaran dan teman.
1) Guru
Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberikan fasilitas belajar bagi siswa untuk menciptaka tujuan. Guru mempunyai tanggung
21 jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa.
Guru yang baik harus mampu menciptakan proses belajar mengajar yang baik antara lain dengan menggunakan metode mengajar yang tepat sehingga siswa tidak bosan mengikuti mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut.
Menurut Nana Sudjana (1989) metode mengajar merupakan cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar yang baik hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode mengajar secara bervariasi. Masing-masing metode mengajar yang tepat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Gaya belajar siswa bermacam-macam ada siswa yang cocok dengan metode tertentu adapula yang kurang cocok dengan metode yang digunakan oleh gurunya. Hal ini supaya siswa tetap setia mengikuti pelajaran yang diampunya.
Guru di sekolah berpengaruh terhadap perilaku membolos siswa, karena ada guru yang bersikap otoriter, suka membeda- bedakan murid. Guru yang suka bertindak keras, tidak memahami pokok-pokok studi yang akan diajarkannya. Guru yang bersikap otoriter, menbeda-bedakan murid akan menyebabkan siswa merasa resah, tidak nyaman sehingga siswa tidak mengikuti pelajaran karena akan menimbulkan perasaan takut dalam diri siswa.
22 Salah satu yang penting dalam menghindari siswa melakukan pembolosan selain guru harus mempunyai kecakapan yang baik dalam menyampaikan materi pelajaran, juga harus dapat menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, sehingga siswa tidak merasa bosan di dalam kelas dan mau mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir pelajaran usai.
2) Mata Pelajaran
Guru dalam mengajarkan materi pelajaran harus sesuai dengan kemampuan atau potensi masing-masing siswa sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Untuk meningkatkan mutu seorang guru harus memberikan materi pelajaran sesuai dengan ukuran standar siswa.
Selain itu, guru yang terlalu banyak memberikan tugas pada suatu mata pelajaran juga menyebabkan siswa menjadi jenuh dan merasa terbebani setiap bertemu dengan mata pelajaran tersebut.
Untuk itu, seorang guru harus dapat mengelola proses belajar mengajar dengan cara menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan. Selain itu, cara penyampaian materi oleh guru harus bervariasi tidak monoton dengan satu metode saja. Ini menimbulkan kebosanan bagi siswa sehingga siswa menghindari mata pelajaran tersebut karena tidak menarik dan membuat siswa bosan.
23 3) Ajakan Teman
Siswa yang memiliki teman di sekolah maupun di luar sekolah banyak menyita waktu belajarnya yang digunakan untuk kegiatan dengan teman-temannya. Ini menyebabkan pengaruh teman dalam hal sikap, perilaku, pembicaraan, minat dan penampilan lebih menentukan dibandingkan orang tua. Lagi pula kegiatan yang dilakukan teman-temannya “menyenangkan” bagi mereka, sehingga siswa dengan mudah meninggalkan sekolah yakni dengan membolos
Ada beberapa siswa yang ikut-ikutan membolos karena tidak mau dikatakan tidak “gaul”. Siswa membutuhkan pengakuan dari teman satu “geng”, siswa tidak mau dikatakan penakut dan ditinggalkan oleh gengnya. Oleh karena itu, siswa lebih memilih sebagai “anggota geng” dengan ikut-ikutan membolos.
Siswa membolos daripada mengikuti pelajaran di sekolah hal ini dikarenakan siswa tidak mempunyai teman, sering ditinggalkan atau tidak diikutsertakan oleh teman-temannya di dalam suatu kegiatan. Reaksi ini sering terjadi pada siswa yang oleh teman-temanya dikatagorikan “kuper” (kurang pergaulan).
Siswa merasa tidak dibutuhkan di kegiatan tersebut, padahal mereka mampu untuk mengerjakannya. Siswa merasa terasing dan tidak dapat mengikuti cara pergaulan teman-temannya, sehingga
24 dengan demikian siswa-siswa ini lebih memilih membolos daripada merasakan terasingkan dari teman-teman siswa.
Simandjuntak (1975) menyatakan bahwa kelompok lebih penting artinya dibadingkan dengan guru dan pelajaran. Mereka menganggap teman bisa memberikan perhatian yang lebih, yang tidak diperoleh di tempat lain (misalnya keluarga, lingkungan sekitar dimana siswa tinggal).
Apabila remaja merasa ditolak atau diterima oleh lingkungan sosialnya, maka remaja merasa gagal dan dapat mengakibatkan timbulnya perilaku salah seperti membolos dari sekolah, pergi dari rumah, membentuk kelompok dipinggir jalan dan mengaggu orang lain
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan dengan teman-teman sebaya mudah berpengaruh terhadap perilaku membolos dibandingkan keberadaan guru, orang tua maupun tata tertib sekolah
John Pearce (1990) menyatakan bahwa anak yang membolos sendirian lebih merasa terganggu daripada membolos itu dilakuka dalam kelompok. Sedangkan Yusuf Tj (1990) menyatakan bahwa kelompok kadang-kadang akan menekan remaja sebagai anggota jika tidak memberikan toleransi kepada kelompok, sehingga lebih mementingkan kelompoknya dibandingkan orang tua, guru atau sekolahannya.
25 Siswa yang membolos mengikuti perilaku yang tidak baik dari temannya dikarenakan siswa takut tidak mempunyai teman, takut tidak diakui dalam kelompok, takut dikatakan pengecut dan tidak setia kawan.
b. Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga yaitu merupakan wadah pembentukan pribadi anggota keluarga siswa. Keluarga merupakan tempat pertama dan terutama bagi setiap insan untuk tumbuh dan berkembang, maka keluarga akan memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan seseorang. Pendidikan dan pembinaan anak dalam keluarga sangat menentukan perkembangannya di kemudian hari
1) Sikap Orang Tua
Orang tua memang memegang peran penting dalam mendidik anak karena anak secara psikologis lebih dekat kepada orang tuanya. Orang tua uang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya saja siswa acuh terhadap belajar ananknya, tidak memperhatikan kebutuhan dan kepentingan dalam belajar akan menyebabkan anak tidak akan berhasil dalam belajarnya. Sikap orang tua terhadap sekolah memberikan pengaruh yang besar kepada anak. Orang tua yang tidak melihat pentingnya anak masuk sekolah atau menganggap sekolah itu hanya membuang waktu saja atau mereka menanamkan pada anak, bahwa anak tidak akan berhasil, anak ini akan berkurang semangatnya
26 untuk masuk sekolah. Sikap orang tua yang tidak mementingkan kehadiran anak di sekolah, juga tidak akan membangkitkan
“kegairahan” anak untuk ke sekolah.
2) Keharmonisan Keluarga
Keadaan keluarga menentukan keberhasilan belajar.
Keluarga harmonis, penuh perhatian dan paham akan pentingnya pendidikan merupakan motivator utama berprestasi. Namun keadaan keluarga disharmonis membuat konsentrasi siswa menjadi terganggu, pikirannya terpecah antara tugas di sekolah dan suasana rumah yang tak nyaman.
Bila kedudukan keluarga mempunyai tempat yang primer dalam pembentukan primer dalam pembentukan pribadi seorang anak, maka kehilangan kerharmonisan itu akan mempunyai pengaruh yang destruktif bagi perkembangan diri
Keseringan siswa mempunyai masalah dalam keluarga berpengaruh terhadap belajarnya. Siswa yag mempunyai banyak masalah dalam keluarga akan menyebabkan siswa tersebut tidak konsentrasi belajar pada sekolah karena pikirannya terpecah sehingga mencari suasana baru dengan cara membolos.
Apapun yang melatarbelakangi perilaku membolos siswa, membolos akan merugikan siswa itu sendiri antara lain minat terhadap pelajaran berkurang, gagal dalam ujian, hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya, tidak naik
27 kelas, penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman- temannya bahkan dikeluarkan dari sekolah.
Bimo Walgito (1982) mengungkapkan bahwa keluarga yang disebut broken home adalah sebagai berikut :
a. Orang tua yang bercerai
b. Unit keluarga yang tidak lengkap karena hubungan di luar pernikahan
c. Tidak adanya komunikasi yang sehat dalam keluarga
d. Kematian salah satu orang tua atau kedua-duanya, bisa berakibat fatal jikalau masa depan anak menjadi terlantar, kurang mendapatkan kasih sayang dan tidak memperoleh tempat bergantung hidup yang layak
e. Adanya ketidakcocokan antara pihak orang tua dan senantiasa berada dalam suasana perselisihan atau konflik karena faktor perbedaan agama, perbedaan norma dan ambisi-ambisi
B. Konseling
1. Pengertian Konseling
Prayitno dan Erman Amti (1999) konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
28 Menurut Division of Conseling Psychology dalam Prayitno dan Erman Amti (1999) konseling adalah suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya.
Menurut Blocher (1990, dalam Prayitno dan Erman Amti, 1999) konseling adalah membantu individu agar dapat menyadari sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterimanya, selanjutnya, membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku dimasa yang akan datang.
Menurut Burk dan Stefflre (1979) yang dikutip dalam Prayitno dan Erman Amti (1999) konseling mengidentifikasikan hubungan professional antara konselor terlatih dengan klien, hubungan yang terbentuk biasanya bersifat individu ke individu.
Menurut Pietrofesa, Leonard dan Hoose (1978) yang dikutip oleh dalam Prayitno dan Erman Amti (1999) konseling merupakan suatu proses dengan adanya seseorang yang dipersiapkan secara professional untuk membantu orang lain dalam pemahaman diri pembuatan keputusan dan pemecahan masalah dari hati ke hati.
29
2. Tujuan Konseling
Kumboltz (1996, dalam Farid Mashudi, 2011) menjelaskan bahwa tujuan konseling adalah sebagai berikut :
a. Membantu klien belajar membuat keputusan-keputusan b. Membantu klien memecahkan problem-problemnya
Tujuan konseling berdasarkan penanganan oleh konselor dikemukakan oleh Shertzer dan Stone yang dikutip oleh Mc Leod (2004) dapat diperinci sebagai berikut
a. Kesehatan Mental Positif
Konselor yang berkocondong efektif menyatakan bahwa pemeliharaan atau mendapatkan mental sehat merupakan tujuan konseling. Jika mental sehat dicapai maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identitas positif terhadap orang lain. Di sini individu belajar menerima tanggung jawab, jadi madiri dan mencapai integritas tingkah laku.
Beberapa pakar memandang bahwa tujuan konseling adalah pencegahan terhadap timbulnya masalah-masalah jenis tertentu.
Konseling mengidentifikasi dan merawat orang yang memiliki kemungkinan besar mengidap suatu sakit jiwa akibat masalah tertentu dan berat yang dihadapinya.
b. Keefektifan Pribadi
Seseorang diharapkan mempunyai pribadi yang dapat menyelaraskan diri dengan cita-cita, memanfaatkan waktu dan tenaga
30 serta bersedia mengambil tanggung jawab ekonomi, psikologis dan fisik.
c. Pembuatan Keputusan
Para konselor yang condong pada orientasi kognitif, , menyatakan tujuan konseling sebagai pembuatan keputusan mengenai hal-hal genting bagi seluruh konseli. Dalam hal ini, konselor tidaklah menetapkan keputusan-keputusan yang akan dibuat konseli ataupun memilihkan cara alternatif bagi tindakan konseli. Konseli harus tahu mengapa dan bagaimana konseli membuat keputusan. Ia belajar memperkirakan konsekuensi- konsekuensi yang mungkin timbul berkenaan dengan pengorbanan pribadi, waktu, tenaga, uang dan resiko-resiko lainnya. Williamson (2000) menjelaskan mengenai hal ini, bahwa konselor membantu siswa memilih tujuan-tujuan dengan tingkat kepuasan tertinggi yang dapat dicapai dalam keterbatasan factor-faktor lingkungan maupun factor-faktor pribadi klien.
d. Perubahan Tingkah Laku
Inilah pertanyaan tujuan-tujuan konseling yang paling banyak dipakai orang akhir-akhir ini. Para pakar konseling ada yang memadukan antara tujuan-tujuan berkenaan dengan perubahan struktur pribadi sampai pada perubahan perilaku tampak, ada yang ketat terpaku hanya pada perubahan perilaku tampak saja. Perubahan tingkah laku sebagai tujuan konseling mungkin terbatas khusus seperti perubahan respon
31 khusus terhadap frustasi ataupun peubahan-perubahan sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri.
3. Pengertian Konseling Kelompok
JT Lobby Loekmono (2003) mengungkapkan bahwa konseling kelompok proses dua orang atau lebih yang bekerja bersama-sama dengan bantuan seorang konselor yang terlatih untuk menjelajahi dan mengembangkan dasar-dasar pengalaman dan pertimbangan umum dengan lebih efektif.
Menurut Corey (1995) konseling kelompok adalah satu kelompok konseling yang mempunyai focus yang khusus, mungkin berhubungan dengan pendidikan, pekerjaan, sosial atau pribadi. Proses hubungan antar pribadi dalam konseling kelompok menekankan berpikir secara sadar, perasaan dan perilaku. Isi dan pokok pembicaraan dalam konseling kelompok sebagian besar ditentukan oleh anggota-anggota yang terdiri daru siswa yang masih dalam kategori normal, bukan bergangguan jiwa
Konseling kelompok menurut Ketut (dalam JT Lobby Loekmono, 2003) adalah layanan yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pemahaman dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok
Menurut Winkel dan Hastuti (2006) konseling kelompok merupakan bentuk khusus dari layanan konseling yaitu wawancara konseling antara konselor professional dengan beberapa orang sekaligus yang tergabung dalam suatu kelompok kecil.
32 Menurut Prayitno (1999) mengemukakan bahwa layanan konseling kelompok adalah layanan yang menggunakan dinamika kelompok sebagai media kegiatannya, apabila dinamika kelompok dikembangkan dan dimanfaatkan secara efektif maka dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Dinamika kelompok perlu dibentuk pada sesi awal konseling. Apabila pembentukan dinamika antar kelompok gagal maka konseling akan berjalan tidak efektif.
Rachman Natawidjaja (1987) menyatakan bahwa konseling kelompok adalah bantuan kepada individu dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan (bersifat pencegahan) dan juga dapat bersifat penyembuhan
Melalui konseling kelompok dengan siswa yang memiliki kesamaan masalah dapat disadarkan bahwa banyak siswa lain yang mengalami permasalahan tersebut. Penyadaran tersebut akan memberikan suatu penguatan kepada siswa untuk terbuka dan bebas dalam mengutarakan permasalahan pribadinya.
Menurut Meador dalam JT Lobby Loekmono, 2003 konseling kelompok adalah pertolongan sosial dan psikologis, tujuannya adalah untuk merubah perilaku yang menghambat individu berperan dan mengalami dengan sempurna, di samping mengizinkan konseli untuk memperoleh perubahan baru dalam perilaku serta pendampingan dirinya secara alami.
33 Menurut Gibson dan Mitchell dalam JT Lobby Loekmono, 2003 merumuskan konseling kelompok adalah satu proses untuk membantu konseli untuk menyesuaikan diri mereka dalam hidup sehari-hari, tentang perkembangan dan memperbaiki perkembangan itu seperti perbaikan terhadap perilaku, hubungan pribadi, memberi perhatian tentang jenis kelamin, sikap dan juga pilihan karier di samping membina ketrampilan untuk hal-hal yang relevan.
Menurut Gazda (1989) mengemukakan konseling kelompok adalah upaya untuk membantu individu agar dapat menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, upaya ini bersifat perbaikan. Dengan kata lain konseling kelompok merupakan usaha bantuan yang diberikan pada individu dalam suasanan kelompok yang bersifat pencegahan serta perbaikan supaya individu yang bersangkutan dapat menjalani perkembangan dengan lebih mudah.
Prayitno (1999) mengemukakan bahwa layanan konseling kelompok adalah layanan yang meggunakan dinamika kelompok sebagai media kegiatannya, apabila dinamika kelompok dikembangkan dan dimanfaatkan secara efektif dalam layanan ini diharapkan tujuan yang ingin dicapai akan tercapai. Salah satu tujuan dari konseling kelompok ini adalah agar para konseli belajar berkomunikasi dengan seluruh anggota kelompok secara terbuka, dengan saling menghargai dan saling menaruh perhatian.
Pengalaman berkomunikasi yang demikian akan membawa dampak positif dalam kehidupan dengan orang lain yang dekat padanya.
34 Farid Mashudi (2011) mengemukakan konseling kelompok adalah suatu kumpulan dari orang-orang yang mengadakan interaksi dengan sesamanya lebih sering daripada mereka mengadakan interaksi yang bersifat perorangan. Jadi, setiap kelompok masing-masing individu mempunyai sikap dan tingkah laku yang sama dengan anggota kelompok yang lain, sehingga semua anggota kelompok memiliki sikap dan tingkah laku yang seragam.
Konseling merupakan upaya untuk membantu siswa agar dapat menjalani perkembagannya dengan lebih lancar, upaya ini bersifat perbaikan. Dengan kata lain, konseling kelompok merupakan usaha bantuan yang diberikan pada siswa dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan serta perbaikan agar siswa dapat menempuh perkembangannya dengan lebih mudah.
Selanjutnya Konseling Kelompok diuraikan Gazda (1989) sebegai berikut :
a. Kegiatan konseling kelompok bersifat pencegahan dalam arti bahwa klien yang bersangkutan mempunyai fungsi dalam masyarakat, tetapi mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu dalam kehidupannya. Dengan konseling kelompok kelemahan-kelemahan ini dapat diatasi tanpa menimbulkan masalah-masalah yang gawat
b. Konseling kelompok membantu siswa dalam menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, dalam artian bahwa konseling kelompok member dorongan dan motivasi kepada siswa untuk
35 membuat perubahan-perubahan dan memanfaatkan potensinya secara maksimal. Selanjutnya Gadza menyebutkan bahwa konseling kelompok dapat digunakan untuk membantu siswa dalam menyelesaikan tugas- tugas perkembangan dalam tujuh bidang yaitu psikososial, vokasional, kognitif, fisik, seksual, moral da afektif
c. Konseling kelompok bersifat perbaikan untuk siswa-siswa yang mempunyai perilaku suka menyalahkan diri sendiri, tetapi mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah-masalahnya tanpa bantuan konseling. Walaupun demikian, dengan bantuan konseling kelompok siswa diharapkan dapat mengatasi masalahnya dengan lebih cepat dan tidak menimbulkan gangguan emosi yang berarti
Menurut Meador dalam JT Lobby Loekmono, 2003 konseling kelompok adalah pertolongan sosial dan psikologis, tujuannya adalah untuk merubah perilaku yang menghambat individu berperan dan mengalami dengan sempurna, di samping mengizinkan konseli untuk memperoleh perubahan baru dalam perilaku serta pendampingan dirinya secara alami.
Menurut Gibson dan Mitchell dalam JT Lobby Loekmono, 2003 merumuskan konseling kelompok adalah satu proses untuk membantu konseli untuk menyesuaikan diri mereka dalam hidup sehari-hari, tentang perkembangan dan memperbaiki perkembangan itu seperti perbaikan terhadap perilaku, hubungan pribadi, memberi perhatian tentang jenis
36 kelamin, sikap dan juga pilihan karier di samping membina ketrampilan untuk hal-hal yang relevan.
4. Tujuan Konseling Kelompok
JT Lobby Loekmono (2003) menyebutkan bahwa ada tujuan konseling kelompok yang meliputi antara lain :
a. Melatih anggota kelompok agar berani berbicara dengan orang banyak b. Melatih anggota kelompok dapat bertenggang rasa terhadap teman
sebaya
c. Dapat mengembangkan bakat dan minat masing-masing anggota kelompok
d. Mengentaskan permasalahan-permasalahan kelompok
Dalam literatur mengenai konseling kelompok karya Erle M.
Ohlsen, Don C. Dinkmeyer, James J. Muro dan Gerald Corey (dalam Winkel dam Sri Hastuti, 2007) disebutkan bahwa tujuan umum dari konseling kelompok adalah :
a. Masing-masing konseli memahami dirinya dengan lebih baik dan menemukan dirinya sendiri
b. Para konseli mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain, sehingga dapat saling memberikan kemampuan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas untuk fase perkembangan
c. Para konseli mempeorleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontak antarpribadi
37 di dalam kelompok dan kemudian dalam kehidupan sehari-hari di luar lingkungan kelompoknya
d. Para konseli menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain
e. Masing-masing konseli menetapkan suatu sasaran yang ingin dicapai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang lebih konstruktif f. Para konseli lebih menyadari dan menghayati makna dari kehidupan
manusia sebagai kehidupan bersama, yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan harapan akan diterima oleh orang lain
g. Masing-masing konseli semakin menyadari bahwa hal-hal yang memperhatinkan bagi dirinya kerap juga menimbulkan rasa priharin dalam hati orang lain
h. Para konseli belajar berkomunikasi dengan seluruh anggota kelompok secara terbuka, dengan saling menghargai dan saling menaruh perhatian
Tujuan konseling kelompok menurut Gibson dan Mitchell (1981, dalam Moch. Nursalim dan Suradi, 2002) adalah pencapaian suatu tujuan pemenuhan kebutuhan dan pemberian suatu pengalaman nilai bagi setiap anggota kelompok.
Gazda (1984) mengemukakan tujuan yang dapat dicapai siswa sebagai anggota konseling kelompok yaitu :
a. Membantu masing-masing anggota kelompok untuk memahami dan mengenali diri, membantu dalam proses mencari identitas diri
38 b. Membantu individu mengembangkan penerimaan diri yang makin
tinggi dan perasaan berharga sebagai pribadi
c. Mengembangkan ketrampilan sosial dan kemampuan interpersonal pada diri anggota yang memungkinkan mereka untuk mengatasi tugas- tugas perkembangan di dalam pribadi dan sosial
d. Mengembangkan kemampuan self-direction, problem solving dan membantu anggota mengalihkan kemampuan ini untuk digunakan dalam perkerjaan dan kontak sosial regular
e. Mengembangkan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain yang menimbulkan penyaluran yang bertambah terhadap tanggung jawab atas perilaku sendiri, untuk membantu anggota menjadi mampu mengidentifikasi diri dengan perasaan orang lain serata untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi untuk bersikap empati f. Membantu anggota menjadi pendengar yang empatik yang tidak
hanya mendengar apa yang dikatakan tetapi juga mengenali perasaan yang menyertai apa yang dikatakan
g. Mengembangkan kemampuan anggota untuk kongruen dengan diri sendiri, benar-benar mampu menawarkan secara akurat apa yag dipikirkan dan dipercayainya
h. Membantu anggota merumuskan tujuan-tujuan khusus yang dapat diukur dan diamati dari segi perilaku, dan membantu konseli membuat komitmen untuk bergerak menuju tujuan-tujuan itu
39 i. Membantu anggota mengembangkan perasaan berkelompok dan penerimaan oleh orang lain yang memberikan rasa aman dalam menghadapi tantangan hidup
j. Membantu anggota dalam mengembangkan keberanian dan kemampuan untuk mengambil resiko
5. Fungsi Konseling Kelompok
Gazda (1984) merumuskan fungsi konseling kelompok dalam seting sekolah adalah konseling kelompok dapat membanu siswa dalam menyesuaikan sosial di lingkungan yang baru, sebab pada masa ini dorongan dari teman sebaya merupakan sesuatu yang amat penting yang dapat memotivasi mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Selain itu konseling kelompok dapat digunakan untuk membantu individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dalam tujuan bidang yaitu : psikososial, vokasional, kognitif, fisik, seksual, moral dan afektif.
Di pihak lain konseling kelompk diadakan untuk mereka yang memerlukan pertolongan atau lebih tepat orang yang merasa membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, masalah pemilihan anggota kelompok adalah masalah yang perlu mendapatkan perhatian karena berkaitan erat dengan keberfungsinya dari konseling kelompok
Konseling kelompok tidak hanya merupakan pertolongan yang kuratif dan orefentif tetapi juga bersifat preseveratif. Konseling kelompok dapat berfungsi prefentif, bagi individu-individu yang memiliki tingkah
40 laku yang ditolak atau diterima, yang bisa dibantu tanpa keterlibatan konselor dalam penyembuhannya.
6. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Konseling Kelompok Corey (2005) ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menyelenggarakan konseling kelompok seperti :
a. Pemimpin harus betul-betul menyadari tujuan dan membawa diskusi karena tujuan tanpa memaksa proses kelompok
b. Konselor harus dapat membedakan antara kegiatan kelompok dan kebutuhan kelompok
c. Para anggota kelompok pelru dipilih dengan teliti dengan menyisihkan orang yang menderita malajuted yang berat atau orang yang mendapatkan pengobatan
d. Anggota perlu betul-betul dipersiapkan sebelumnya, supaya mereka siap bertindak sebagai anggota yang mau berbagi (share) dan menolong anggota lainnya dalam kelompok, peka dan menyesuaiakn diri dengan pribadi lain
7. Kompetensi Pemimpin Kelompok
Corey (2005) menjelaskan tentang karakteristik pemimpin kelompok yang efekif yaitu :
a. Kehadiran emosional (precence). Kehadiran konselor dalam konseling kelompok sangat besar artinya bagi anggota kelompok. Kehadiran bukan hanya secara fisik melainkan juga secara emosional
41 b. Kekuatan pribadi (personal power). Kekuatan pribadi ini mencangkup kepercayaan diri dan kesadaran akan pengaruh dirinya terhadap orang lain
c. Keberanian (courage) konselor menunjukkan keberanian mengambil resiko dalam kelompok, dan dengan mengakui kesalahan yang mungkin diperbuatnnya
d. Kemauan untuk mengkonfrontasi diri sendiri (willingness to confront one self). Keberanian konselor hanya dalam rangka interaksi dengan
kelompok dan anggota-anggotanya secara individual, melainkan juga keberanian dalam menghadapi keadaan dirinya sendiri.
e. Kesadaran diri (slef awareness). Kesadaran diri merupakan titik pangkal dari kesediaan untuk mengkonfrontasikan diri dan mengevaluasi diri sendiri
f. Keikhlasan (sincerity). Salah satu kualitas pemimpin yang paling penting adalah keikhlasan dalam memperhatikan kesejahteraan orang lain dan dalam menumbuhka cara-cara pemecahan masalah yang konstruktif
g. Kentetika (authenticity). Kentetika ini erat hubungannya dengan keikhlasan. Keberhasilan dalam memimpin konseling kelompok menuntut konselor untuk berbuat secara otentik, benar, kongruen dan jujur
42 h. Rasa beridentitas (sense of identity). Salah satu tugas konselor kelompok adalah membantu anggota kelompok untuk menemukan diri mereka sendiri
i. Yakin akan memanfaatkan proses konselor (belif in group process).
Keyakinan ini merupakan faktor essensial menuju keberhasilan kegiatan konseling kelompok
j. Antusias (enthusiasm). Antusias atau kegairahan kerja merupakan ciri penting yang perlu dimiliki konselor kelompok. Apalagi konselor mendorong anggota kelompok untuk turut serta secara baik-baik di dalam kelompoknya
k. Dengan temu dan kreativitas (inventiveness an creativity). Daya temu kreatvitas salah satu faktor yang dapat meningkatkan keberhasilan konseling kelompok
l. Daya tahan (stamina). Konselor konseling kelompok membutuhkan ketahanan fisik dan psikis yang tinggi dalam memimpin kelompok 8. Prinsip-prinsip dalam Konseling Kelompok
Dalam kerja kelompok ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan seperti diungkapkan oleh Gazda (1984) yaitu :
a. Konseling kelompok akan sangat efektif dalam lingkungan yang demokratis
b. Konseling kelompok dapat efektif hanya dicapai bila terdapat orientasi, administrasi yang lengkap dan intensif
c. Konseling kelompok sangat efektif apabila bersifat sukarela
43 d. Karena memulai kelompok adalah faktor yang sangat menentukan,
nama kelompok harus menarik artinya banyak yag berminat
e. Masing-masing anggota kelompok harus bertanggung jawab atas perilakunya dalam kelompok
f. Konselor harus sadar
9. Ciri-Ciri Konseling Kelompok
JT Lobby Loekmono (2003) mengungkapkan bahwa ada beberapa ciri konseling kelompok yang nampak antara lain :
a. Adanya pelepasan ketegasan emosi dengan jalan tukar pengalaman atau pendapat
b. Adanya katarsis (mengeluarkan unek-unek) dan perkembangan ke arah makin mengenal diri sendiri, bertindak sebagai penolong serta mempunyai sikap menurut
c. Mempunyai tekanan terutama pada minat dan perhatian terhadap penjelasan masalah agar anggota yang bermasalah dapat merubah sikapnya menjadi lebih positif/baik
d. Konselor sebagai pemimpin pada awalnya adalah orang yang terlatih dalam konseling kelompok. Konselor berperan sebagai pemimpin situasional
e. Setiap anggota bebas mengemukakan hal-hal yag rahasia, anggota- anggota kelompok terdiri dari anggota yang sebaya
f. Anggota minimal 2 dan maksimal 10 orang. Semua diharapkan aktif berpartisipasi dalam kelompoknya
44 JT Lobby Loekmono (2003) mengungkapkan bahwa konseling kelompok mempunyai cirri-ciri sebagai berikut ini :
a. Kegiatan konseling kelompok bersifat pencegahan. Dengan konseling kelompok diharapkan klien termotivasi untuk dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan potensi yang dimilikinya
b. Kegiatan konseling kelompok bersifat perbaikan. Dalam hal ini biasanya digunakan bagi siswa yang mempunyai perilaku suka menyalahkan diri sendiri, tetapi memiliki potensi untuk menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan konseling
c. Kegiatannya biasanya berpusat pada hal-hal yang khusus seperti masalah pendidikan, pekerjaan, sosial, dan pribadi dari kesepakatan anggota kelompok
d. Pembicaraannya bersifat rahasia
e. Kegiatan ini merupakan hubungan antar pribadi yang menekankan pada proses berpikir secara sadar, perasaan dan perilaku anggotanya
f. Kegiatan ini berkaitan erat dengan penyelesaian tugas-tugas perkembangan siswa selama hidupnya
g. Konseling kelompok menumbuhkan empati dan dorongan yang memungkinkan terciptanya rasa saling percaya dan saling peduli yang diawali antara sesama anggota kelompok dan antar sesama anggota kelompok dengan konselor
h. Kegiatan konseling kelompok biasanya dilakukan di dalam situasi kelembagaan, contohnya di sekolah.
45
10. Kelebihan Konseling Kelompok
JT Lobby Loekmono (2003) mengungkapkan kelebihan konseling kelompok antara lain adalah :
a. Lebih efisien sebab seorang konselor dapat melayani beberapa konseli sekaligus. Ada efisien waktu, tenaga dan biaya.
b. Lebih menari bagi individu dan kesempatan lebih luas di tawarkan melalui konseling kelompok ini
c. Membimbing ke arah tambahan konseling individual yang dibutuhkan tetapi jika tidak dibutuhkan tidak diberikan
d. Memberikan kesempatan latihan praktis dari perkembangan sosial yang lebih daripada yang hanya dikatakan, konseli memberikan kesempatan untuk memberi sebagaimana konseli menerima pertolongan dan konseli dapat mencoba perilaku baru
e. Memberikan kesempatan dan pengaruh yang diharapkan dari teman sebaya yang sering lebih kuat daripada orang-orang berkuasa
f. Menambah konseling dari anggota dalam kelompok selain pemimpinnya (konselor), konseli membuat support sistem bagi anggota satu dengan yang lainnya
g. Menambah prosedur dari anggota-anggota selain dari pemimpinnya karena konseli belajar ketrampilan berkomunikasi antar pribadi
h. Sering dapat lebih cepat mendorong atau menstimulir kemajuan dan dengan mengurangi ancaman daripada konseling indivdiu
46
11. Kelemahan Konseling Kelompok
JT Lobby Loekmono (2003) menyebutkan ada beberapa kelemahan dari konseling kelompok meliputi :
a. Kesulitan praktis untuk bertemu/berkumpul
b. Masalah kesetiaan peserta untuk datang dalam setiap pertemuan dan bila ada yang berhalangan akan mempengaruhi suasana, kekuatan dan semangat konseling kelompok
c. Banyak konselor atau konseli yang berharap banyak atau tinggi dari pengalaman kelompok tetapi sedikit untuk bagian terapinya
d. Peranan konselor dalam konseling kelompok kadang-kadang membingungkan anggota karena peranannya kadang-kadang kabur e. Beberapa konseli belum siap memasuki konseling kelompok dan
merkea membutuhkan konseling individual terlebih dahulu sehingga konseling kelompok belum dapat berjalan
f. Konseli mengungkapkan masalahnya dan senang dibahas oleh kelompok tetapi konseli sendiri tidak bersedia untuk berubah perilakunya
g. Masih kabur bagi konseli untuk membuat keputusan sebaiknya untuk memecahkan masalahnya cocok memilih konseling kelompok atau konseling individual karena kurangnya informasi tentang konseling kelompok ini
h. Ada bahaya bila pimpinan kelompok atau konselor misalnya kurang terlatih mempimpin konseling kelompok daripada konseling individu
47 karena konseling kelompok lebih kompleks dan lebih dinamika permasalahan untuk diantisipasi oleh konselor
12. Unsur-Unsur Konseling Kelompok
JT Lobby Loekmono (2003) menyebutkan unsur-unsur dalam konseling kelompok adalah sebagai berikut :
a. Anggota kelompok adalah siswa normal yang mempunyai masalah penyesuaian yang masih dapat diatasi
b. Konseling kelompok dipimpin oleh konselor atau psikolog dengan latihan khusus bekerja dengan kelompok
c. Permasalahan yang dihadapi antar anggota adalah sama
d. Metode berpusat pada proses kelompok dan perasaan kelompok e. Interaksi antar anggota sangat penting
f. Berdasar pada alam kesadaran
g. Menekankan pada perasaan dan kebutuhan anggota 13. Pelaksanaan Konseling Kelompok
Latipun (2006) menyatakan bahwa pada dasarnya tidak terdapat perbedaan yang foundamental dalam pelaksanaan konseling individual dan konseling kelompok. Akan tetapi dalam hal tertentu ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam melaksanakan konseling kelompok yaitu sebagai berikut :
a. Memilih Anggota Kelompok
Anggota kelompok yang akan berpartisipasi di dalam konseling kelompok hendaknya dipertimbangkan dan dipilih secara cermat agar
48 pelaksanaannya dapat berjalan secara baik. Para anggota hendaknya memiliki kesamaan minat dan masalah, adanya homogenitas dalam pengelompokkan dilihat dari usia, kematanga sosial, pengalaman. Di samping itu, klien hendaknya memiliki keinginan untuk memperoleh bantuan, memiliki kemauan untuk mengemukakan masalah dan keadaan dirinya dan bersedia berpartisipasi dalam kelompok.
Konselor hendaknya mampu meyakinkan para anggota kelompok sebagai klien tentang manfaat konseling kelompok, peranan dan fungsi para anggota kelompok dalam kegiatan konseling kelompok b. Ukuran Kelompok
Mochamad Nursalim (2002) menyebutkan bahwa banyaknya anggota kelompok dapat mempengaruhi komunikasi dan interaksi antar konseli. Oleh karena itu, konselor memperhitungkan banyaknya anggota dalam kaitannya dengan keefektifan interaksi di dalamnya.
Biasanya antara 5 sampai 6 orang anggota dapat dipandang cukup memadai, namun dalam pelaksanaannya tergantung dari proses dan isi konseling
Latipun (2006) menjelaskan bahwa sebagaimana terapi kelompok interaktif, konseling kelompok umumnya beranggota berkisar antara 4 sampai 12 orang. Berdasarkan hasil berbagai penelitian, jumlah anggota kelompok yang kurang dari 4 orang tidak efektif karena dinamika kelompok menjadi kurang hidup. Sebaliknya jika jumlah
49 klien melebihi 12 orang adalah terlalu besar untuk konseling karena terlalu berat dalam mengelola kelompok
c. Lama dan Frekuensi Pertemuan
Mochamad Nursalim (2002) menyebutkan bahwa konselor hendaknya mempertimbangkan berapa lama dan berapa kali pertemuan berlangsung. Biasanya berkisar antara 30 menit sampai dengan 1 jam untuk setiap pertemuan dan dapat dilakukan seminggu sekali atau seminggu dua kali atau dua minggu sekali. Semuanya tergantung dari kondisi, proses dan isi konseling
Latipun (2006) menjelaskan bahwa lama waktu penyelenggaraan konseling kelompok sangat bergantung kepada kompleksitas permasalahan yang dihadapi kelompok. Secara umum konseling kelompok yang bersifat jangka pendek (short term group counseling) membutuhkan waktu pertemuan antara 8 sampai 20 pertemuan, dengan frekuensi pertemuan antara 1 sampai 3 kali dalam seminggunya, dan durasinya antara 60 sampai 90 menit setiap pertemuannya.
Durasi pertemuan konseling kelompok pada prinsipnya sangat ditentukan dan kondisi anggota kelompok. Menurut Latipun (2006) durasi konseling yang terlalu lama yaitu di atas 2 jam menjadi tidak kondusif karena beberapa alasan yaitu 1) anggota telah mencapai tingkat kelelahan dan 2) pembicaraan cenderung diulang-ulang. Oleh karena itu, aspek durasi pertemuan harus menjadi perhitungan bagi
50 konselor. Konseling tidak dapat diselesaikan dengan memperpanjangan durasi pertemuan, tetapi pada proses pembelajaran selama proses konseling
Dalam kaitannya dengan waktu yang digunakan, konseling kelompok tidak biasa diselenggarakan dalam interval waktu yang pendek.
Konseling kelompok umumnya diselenggarakan satu hingga dua kali dalam seminggu. Penyelenggaraan dengan interval yang lebih sering akan mengurangi penerapan dari informasi dan umpan balik yang didapatkan selama proses konseling. Jika terlalu jarang, misalnya satu dalam dua minggu, banyak informasi dan umpan balik yang dapat dilupakan.
d. Sifat Kelompok
Sifat kelompok dapat terbuka dan tertutup. Terbuka jika pada suatu saat dapat menerima anggota baru dan dikatakan tertutup jika keanggotaannya tidak memungkinkan adanya anggota baru.
Kelompok terbuka maupun tertutup terdapat keuntungan dan kerugiannya. Sifat kelompok adalah terbuka maka setiap saat kelompok dapat menerima anggota baru sampai batas yang dianggap cukup. Namun demikian adanya anggota baru dalam kelompok akan menyulitkan pembentukan kohesivitas anggota kelompok.
Konseling kelompok yang menerapkan anggota tetap dapat lebih mudah membentuk dan memelihara kohesivitasnya. Tetapi jika terdapat anggota kelompok yang keluar, dengan system keanggotaan
51 demikian tidak dapat ditambahkan lagi dan harus menjalankan konseling berapapun jumlah anggotanya.
e. Mengembangkan dan Memelihara hubungan
Dalam melaksanakan konseling kelompok, konselor hendaknya dapat menciptakan dan mengembangkan hubungan antara anggota dengan konselor dan antar anggota kelompok. Para anggota hendaknya diusahakan agar selama konseling setiap anggota dapat :
1) Mendengarkan secara mendalam 2) Membantu orang lain untuk berbicara 3) Mendiskusikan masalah
4) Mendiskusikan perasaan 5) Mengkonfrontasi
6) Merencanakan tindakan.
Hubungan ini hendaknya terus dipelihara dengan baik sejak dimulai sampai selesai
14. Tahapan Konseling Kelompok
JT Lobby Loekmono (2003) mengungkapkan proses pelaksanaan konseling kelompok dilaksanakan melalui 4 (empat) tahap sebagai berikut :
a. Tahap Pembentukan
Farid Mashudi (2011) mengungkapkan bahwa pada tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai
52 konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain :
1. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport).
Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan dan kegiatan
2. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dank lien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien
3. Membuat penaksiran dan perjajaga. Konselor berusaha menjajagi atau menafsirkan kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai antisipasi masalah
4. Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien yang berisi
i. Kontrak waktu yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkeberatan
ii. Kontrak tugas yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien iii. Kontrak kerjasama dalam proses konseling yaitu terbinanya
peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling
53 Tahap ini merupakan tahap pengenalan dan penjajakan, dimana para peserta diharapkan dapat lebih terbuka menyampaikan harapan keinginan dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing anggota. Penampilan pemimpin kelompok pada tahap ini hendaknya benar-benar bisa menyakinkan anggota kelompok sebagai orang yang bisa dan bersedia membantu anggota kelompok mencapai tujuan yang diharapkan
Dalam fase ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikann : 1) Cara menentukan masalah
Di dalam pelaksanannya perlu diingat :
i. Masalah yang bersifat umum : isi masalah, sering tidaknya masalah itu datang
ii. Masalah pribadi (yang menyangkut diri sendiri)
iii. Masalah yang memenuhi pikiran dan yang tidak memenuhi pikiran
iv. Masalah yang relatif lama v. Masalah yang insidental
vi. Masalah yang dapat dibicarakan dengan orang lain vii. Masalah yang dapat dibicarakan dengan kelompok 2) Cara memilih anggota
Sebenarnya tidak ada kriteria yang tertentu untuk dipakai sebagai dasar dalam pemilihan anggota kelompok. Namun demikian perlu diperhatikan fakta-fakta antara lain :
54 i. Anggota tidak terlalu besar jumlahnya
ii. Mereka yang terlibat adalah yang berminat atau tidak terpaksa iii. Anggota kelompok dapat menerima tujuan masing-masing
oleh karena itu diadakan wawancara pendahuluan
iv. Untuk menghindari subjektifitas anggota yang bersaudara dekar dipisahkan dalam satu kelompok, anggota yang terlalu pemalu atau agresif di tempatkan pada kelompok yang cocok 3) Pemilihan anggota kelompok
Penentuan anggota kelompok dilakukan oleh konselor dengan cara i. Mereka yang memiliki masalah yang mirip dan mempunyai
keinginan yang sama untuk membahas masalah tersebut ii. Mempunyai kematangan pribadi
iii. Siap dan mampu untuk member dan menerima iv. Terbuka untuk mengutarakan masalahnya sendiri
v. Percaya kepada konselor dan anggota-anggota yang lain 4) Tanggung jawab konselor
Dalam fase persiapan yaitu pada pembentukan kelompok, konselor hendaknya memikirkan juga tanggung jawab dalam proses konseling yang akan diadakan meliputi antara lain :
i. Berusaha mengenal dan memahami seluruh anggota kelompok
55 ii. Menolong setiap anggota untuk berbicara tentang perasaan dan menolong supaya anggota makin memperoleh kebahagiaan
iii. Menolong agar tiap-tiap anggota peka terhadap anggota lain serta bersedia untuk mengemukakan pendapat atau perasaannya
iv. Mencari jalan agar suasana kerjasama dalam kelompok dapat tercipta
v. Mengarahkan pembicaraan-pembicaraan anggota menuju pada pokok bahasan dan tujuan konseling kelompok
Mochamad Nursalim dan Suradi (2002) mengungkapkan bahwa ketrampilan dan kepercayaan konselor pada dasarnya merupakan kunci suksesnya konseling kelompok. Pengalaman dalam konseling individu dapat merupakan dasar bagi kelancaran bekerja dalam kelompok. Tanggung jawab konselor dalam konseling kelompok adalah sejajar dengan situsasi konseling individual, yaitu menumbuhkan perasaan diterima, hangat dan pemahaman.
Konselor hendaknya memperhatikan anggota dalam interaksinya, menumbuhkan rasa percaya diri pada anggota dalam memecahkan masalahnya, menciptakan hubungan kerja yang baik. Mochamad Nursalim dan Suradi (2002) menyatakan bahwa ketrampilan konselor meliputi :
56 a. Diagnosis yaitu menemukan masalah dan latar belakangnya b. Mengenal, menjelaskan dan menafsirkan makna di belakang
perilaku klien
c. Berkomunikasi dengan para anggota
d. Menggunakan humor dan strategi inovatif untuk menjaga agar pertemuan tetap menarik
e. Memvariasi metode untuk menyegarkan kebutuhan para anggota
f. Menghadapi para anggota yang berperilaku tidak sesuai
Berikut ini dikemukakan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan yang seharusnya dilakukan dalam tahap pembentukan :
a) Menerima secara terbuka dan menucapkan terima kasih atas kehadiran dan kesediaan anggota kelompok melaksakan kegiatan
b) Berdoa secara bersama, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Menjelaskan pengertian konseling kelompok c) Menjelaskan tujuan konseling kelompok
d) Menjelaskan cara pelaksanaan konseling kelompok
e) Menjelaskan asas-asas konseling kelompok yaitu asas kerahasiaan, kesukarelaan, kegiatan, keterbukaan dan kenormatifan
f) Melaksanakan perkenalan dilanjutkan dengan permainan pengakraban
57 5) Tanggung jawab anggota kelompok
Dalam konseling kelompok para anggota mempunyai tanggung jawab tertentu dalam pembentukan kelompok, pertumbuhan kelompok, pelaksanaan kegiatan kelompok dan mengatasi hambatan-hambatan kelompok. Para anggota kelompok bertanggung jawab untuk membentuk suatu hubungan yang bersifat membantu. Melalui interaksi, setiap anggota membantu menumbuhkan dan memelihara suasana psikologis yang kondusif bagi pertukaran pengalaman dan pemecahan masalah. Dalam hal ini konselor hendaknya mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab para anggota kelompok
b. Tahap Peralihan atau Tahap Transisi
Tahap transisi adalah suatu tahap setelah proses pembentukan dan sebelum tahap kerja kelompok. Dalam kelompok yang diperkirakan berakhir 12-15 sesi, tahap transisi terjadi pada sesi kedua atau ketiga biasanya berlangsung satu sampai tiga pertemuan. Tahap ini merupakan transisi antara tahap pembentukan dengan tahap kegiatan.
Pada tahap ini pemimpin kelompok sekali lagi harus jeli dalam melihat dan membaca situasi. Apabila masih terlihat gejala-gejala penolakan, rasa enggan, salah paham, kurang bersemangat dalam melaksanakan kegiatan maka pemimpin kelompok tidak boleh bingung apalagi putus asa.
58 Perlu diingat bahwa tahap kedua ini merupakan “jembatan” antara tahap pertama dan tahap ketiga. Adakalanya untuk menempuh jembatan itu dapat dilalui dengan mudah dan adakalanya ditempuh dengan sukar. Dalam keadaan seperti ini pemimpin kelompok harus berhasil membawa anggota kelompok meniti jembatan itu dengan selamat. Kalau perlu beberapa hal pokok yang sudah dibahas pada tahap pertama dapat dibahas kembali seperti asas kerahasiaan, keterbukaan.
Tahap peralihan dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a) Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnys b) Menawarkan sambil mengamati apakah para anggota sudah siap
menjalankan kegiatan pada tahap selanjutnya (tahap ketiga) c) Membahas suasana yang terjadi
d) Meningkatkan kemampuan keikutserraan anggota
e) Kalau dipandang perlu, kembali ke beberapa aspek tahap pertama (tahap pembentukan)
c. Tahap Kegiatan
Tahap kegiatan merupakan tahap inti dari proses suatu kelompok dan merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Tahap kegiatan selalu dianggap sebagai tahap yang selalu produktif dalam perkembangan kelompok yang bersifat membangun dan dengan
59 pencapaian hasil yang baik selama tahapan kerja hubungan anggota kelompok lebih bebas dan lebih menyenangkan.
Hubungan antar anggota berkembang dengan baik (saling tukar pengalaman, membuka diri secara bebas, saling tanggap dan tukar pendapat dan saling membantu). Dalam perkembangan kelompok, tahapan kegiatan merupakan kekuatan therapeutic seperti keterbukaan terhadap diri sendiri dan orang lain dan munculnya ide-ide baru yang membangun.
Apapun yang menjadi tujuan, suatu kelompok yang sehat akan menampilkan keakraban, keterbukaan, umpan balik, kerja kelompok, konfrontasi dan humor. Perilaku-perilaku positif yang dinyatakan dalam hubungan interpersonal antar anggota aka muncul dalam hubungan sebaya. Tahap ini sangat menentukan keberhasilan kegiatan kelompok. Jika tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ini akan berlangsung dengan lancar.
Farid Mashudi (2011) mengungkapkan bahwa pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan diantaranya :
a. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam.
Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya
b. Konselor melakukan penilaian kembali, bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien