PEMERINTAH ACEH BADAN INVESTASI DAN PROMOSI LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH LAKIP

162  Download (0)

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH ACEH

BADAN INVESTASI DAN

PROMOSI

LAPORAN AKUNTABILITAS

KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

LAKIP

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT kami ucapkan, atas berkah dan

rahmat-Nyalah LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

(LAKIP) BADAN INVESTASI DAN PROMOSI ACEH TAHUN ANGGARAN

2015 dapat diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kemudian, tak lupa

kita sampaikan Shalawat dan Salam kehadirat Nabi Besar Muhammad SAW, yang

telah membimbing umatnya dari alam jahiliyah ke alam yang penuh dengan ilmu

pengetahuaan.

LAKIP Tahun 2015 merupakan laporan pelaksanaan semua program dan

kegiatan yang tercantum dalam Dokumen Pelaksana Anggaran Satuan Kerja

Perangkat Aceh (DPA-SKPA) tahun 2015 yang berisi realisasi dan analisis terhadap

kinerja Badan Investasi dan Promosi. Laporan ini dapat dijadikan pertimbangan untuk

pembuatan kebijakan atau rencana kerja di tahun-tahun berikutnya agar visi dan misi

organisasi tercapai.

Kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu kelancaran tugas-tugas Badan Investasi dan Promosi selama ini. Semoga

kerjasama yang baik tetap terpelihara di masa yang akan datang.

Banda Aceh,

15

Februari 2016

KEPALA BADAN INVESTASI DAN

PROMOSI

Ir. Anwar Muhammad, M.Si

Pembina Utama Madya

NIP. 19560427 198503 1 002

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...

ii

DAFTAR ISI ... iii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... iv

BAB I

PENDAHULUAN ...

1

A. Latar Belakang ...

1

B. Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi ...

3

C. Struktur Organisasi ...

4

D. Aspek Strategis ...

5

E. Sistematika Penyajian ...

5

BAB II PERENCANAAN KINERJA ...

8

A. Rencana Strategis 2012 - 2017 ...

8

B. Perjanjian Kinerja ...

9

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 11

A. Capaian Kinerja Organisasi ... 11

B. Realisasi Anggaran ... 43

BAB IV PENUTUP ... 46

A. Simpulan... 46

B. Saran ... 46

LAMPIRAN

Lampiran I

– Indikator Kinerja Utama (IKU)

Lampiran II – Perjanjian Kinerja Tahun 2015

Lampiran III – Matriks Pengukuran dan Penilaian Kinerja Badan Investasi dan

Promosi Aceh Tahun Anggaran 2015

Lampiran IV – Jadwal Kerja Badan Investasi dan Promosi Aceh Tahun 2015

Lampiran V – Dokumentasi Berita Kegiatan Tahun 2015

Lampiran VI – Rekam Jejak P2K-APBA

(4)

Ringkasan Eksekutif

Badan Investasi dan Promosi mempunyai kedudukan dan peran strategis

dalam melaksanakan prioritas ketujuh RPJMN 2010-2014 yaitu perbaikan iklim

investasi dan usaha. Untuk itu, seluruh program kerja Badan Investasi dan Promosi

didasarkan pada tujuan, sasaran strategis dan target kinerja yang telah ditetapkan pada

Rencana Strategis (Renstra) Badan Investasi dan Promosi tahun 2012-2017 secara

konsisten, terus menerus dan berkesinambungan sebagai terjemahan dari Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) Tahun 2012-2017.

Secara keseluruhan, tingkat pencapaian kinerja Badan Investasi dan Promosi

pada tahun 2015 adalah sebesar 96,98%.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa realisasi investasi PMA dan PMDN

pada tahun 2015 sebesar Rp. 5,72 triliun atau melebihi 216 persen dari target jumlah

nilai realisasi investasi yang ditetapkan perjanjian kinerja Badan Investasi dan

Promosi Aceh sebesar Rp. 2,64 triliun, serta melampaui proyeksi penanaman modal

tahun 2015 yang ditetapkan pada Renstra BKPM RI 2015-2019 sebesar Rp. 5,57

triliun.

Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi porsi realisasi

investasi Provinsi Aceh tahun 2015 yang ditetapkan Badan Investasi dan Promosi

Aceh sebesar Rp. 5,03 Triliun dengan prosentasi mencapai 190 persen dari target

jumlah nilai realisasi investasi yang ditetapkan pada tahun 2015 sebesar Rp 2,64

Triliun. Penanaman Modal Asing (PMA) pencapaian nilai target realisasi investasi

tercatat diangka Rp. 697 Milyar atau mengisi capaian target realisasi investasi Aceh

tahun 2015 sebesar 26 persen.

Data tahun 2015 menunjukkan bahwa terjadi serapan tenaga kerja sebanyak

31.725 orang pada perusahaan/proyek PMA maupun PMDN, dengan serapan Tenaga

Kerja Indonesia (TKI) sebanyak 31.618 orang dan Tenaga Kerja Asing (TKA)

sebanyak 107 orang, yang tersebar hampir di seluruh Kabupaten/Kota di Aceh.

Untuk investasi baru di tahun 2015, sebanyak 75 perusahaan/proyek mulai

membuka usaha di Aceh dengan komitmen investasi sebesar Rp 19.839.938.195.000,-

meningkat

84,52%

dari

rencana

investasi

tahun

2014

sebesar

Rp

23.472.861.900.000,-.

Rincian capaian kinerja masing-masing indikator kinerja utama (IKU) dapat

diilustrasikan dalam tabel berikut.

(5)

No

Strategis

Sasaran

Indikator

Sasaran

Target

Realisasi

Persentase

Tingkat

Capaian

Target (%)

1

Meningkatnya

jumlah

penanam

modal

- Jumlah

perusahaan

yang

mendapat

persetujuan

(izin)

penanaman

modal.

72 Perusahaan

75 Perusahaan

104.17

- Rasio daya

serap tenaga

kerja.

1:150

1:151

100.67

- Jumlah nilai

realisasi

investasi.

2,645,000,000,000 rupiah 5,728,003,112,484 rupiah

216.56

2

Meningkatnya

nilai investasi.

- Jumlah nilai

rencana

investasi.

8,397,875,000,000 rupiah 19,839,938,195,000

rupiah

236.25

- Persentase

kenaikan

nilai

rencana

investasi.

15%

236%

1573.33

Tabel Pengukuran Kinerja Badan Investasi dan Promosi Aceh Tahun 2015

Untuk anggaran, pagu untuk Badan Investasi dan Promosi pada tahun 2015

adalah sebesar Rp 16.325.161.443,- (enam belas miliar tiga ratus dua puluh lima juta

seratus enam puluh satu ribu empat ratus empat puluh tiga rupiah). Sedangkan

realisasinya per 31 Desember 2015 adalah Rp 15.831.570.407,- (lima belas miliar

delapan ratus tiga puluh satu juta lima ratus tujuh puluh ribu empat ratus tujuh

rupiah) atau 96,98% dari pagu anggaran. Kinerja ini dinilai oleh Tim Pengendali dan

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penanaman modal atau investasi adalah salah-satu penggerak utama

pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan

minat calon-calon penanam modal (investor) dalam negeri dan luar negeri (asing)

untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Upaya ini dipengaruhi oleh berbagai

faktor, yaitu kepastian hukum, stabilitas politik dan keamanan, dan kebijakan

pemerintah. Faktor-faktor ini di tahun ke depan masih memerlukan perhatian khusus

dalam rangka meningkatkan investasi di Aceh. Perhatian ini perlu direncanakan,

dilaksanakan, dipantau, dan dievaluasi setiap tahun.

Kepastian hukum sangat dibutuhkan dalam upaya menarik minat calon-calon

penanam modal (investor). Ini ditandai oleh keselarasan regulasi bidang penanaman

modal, baik di tingkat nasional maupun daerah. Sebaliknya, produk-produk hukum

yang tumpang-tindih atau saling bertentangan akan membingungkan dan menyulitkan

calon-calon penanam modal (investor) dalam menjalankan dan mengembangkan

usahanya. Karena itu, pembenahan legislasi bidang penanaman modal perlu terus

dilakukan.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah stabilitas politik dan keamanan.

Dari pelaksanaan tugas di bidang penanaman modal pada tahun-tahun sebelumnya

dapat disimpulkan bahwa salah-satu penyebab tidak kondusifnya iklim investasi di

Aceh adalah karena masih belum adanya pemahaman yang sama dari masyarakat

akan arti pentingnya investasi bagi pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan

kerja. Ini ditandai oleh adanya gangguan-gangguan dari sebagian masyarakat; harga

tanah yang tidak rasional; serta penolakan lainnya yang menyebabkan calon-calon

penanam modal (investor) tidak dapat melakukan kegiatan investasi atau perluasan

usaha di Provinsi Aceh. Karena faktor ini tidak dapat langsung dikendalikan oleh

Badan Nasional/Daerah Bidang Penanaman Modal, diperlukan koordinasi aktif

(7)

dengan

Kepolisian,

Pemerintah

Kabupaten/Kota,

Pemerintah

di

tingkat

Desa/Kampung hingga dengan masyarakat luas secara berkesinambungan. Bahkan,

peran masyarakat melalui partai politik nasional dan lokal di Aceh menjadi begitu

penting pasca MoU Helsinki yang diimplementasikan melalui Undang-Undang No,

11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Faktor utama ketiga bagi kegiatan penanaman modal adalah kebijakan

pemerintah. Prinsip dasarnya adalah bahwa kegiatan penanaman modal akan semakin

besar kualitas dan kuantitasnya jika pemerintah mempermudah perizinan dan

pelayanan lain di bidang penanaman modal. Karena itu, upaya perbaikan regulasi

untuk meningkatkan minat calon-calon penanam modal (investor) baru terus

dilakukan berdasarkan masukan dari dunia usaha dan belajar dari pengalaman negara

lain.

Sebagaimana telah dilakukan dalam lima tahun terakhir, berbagai investasi di

Aceh perlu didorong untuk terus berkembang, baik investasi berfasilitas, investasi

non-fasilitas, investasi rumah tangga, maupun investasi pemerintah. Investasi pihak

swasta perlu ditumbuhkembangkan karena investasi dari pemerintah sangat terbatas

dan hanya pada sektor non-profit yang tidak diminati oleh pihak swasta, seperti

penyediaan sarana dan prasarana umum (infrastruktur). Selain itu, peningkatan

kualitas dan kuantitas tenaga kerja lokal untuk mengisi pasar tenaga kerja lokal juga

dilakukan secara beriringan agar kegiatan penanaman modal di Aceh dapat

betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dengan lahirnya Undang-undang Pemerintahan Aceh No. 11 Tahun 2006 dan

terbentuknya pemerintahan yang lebih otonom, maka Pemerintah Aceh melalui

Badan Investasi dan Promosi Aceh dapat bertugas lebih mandiri untuk melaksanakan

penyusunan perencanaan Penanaman Modal secara makro; mengidentifikasi potensi

unggulan daerah; melakukan kegiatan promosi potensi daerah; menyusun regulasi

perizinan penanaman modal; sekaligus melakukan pengendalian dan pengawasan

serta kerjasama dalam bidang penanaman modal.

Untuk tercapainya peningkatan investasi di Provinsi Aceh, perlu dibuat suatu

acuan dalam pelaksanaan tugas Badan Investasi dan Promosi Aceh, sehingga potensi

daerah dapat dijadikan sebagai sumber peningkatan pendapatan daerah dan

(8)

pendapatan untuk kesejahteraan masyarakat. Acuan yang digunakan adalah dalam

bentuk Rencana Strategis (Renstra) yang menggambarkan Visi, Misi, Tujuan,

Sasaran, Strategi, Kebijakan, Program dan Kegiatan Badan Investasi dan Promosi

Aceh.

Rencana Strategis Badan Investasi dan Promosi Aceh kemudian diwujudkan

dengan berbagai program dan kegiatan setiap tahun selama lima tahun. Tahun 2014

adalah tahun kedua pelaksanaan Rencana Strategis 2012-2017 Badan Investasi dan

Promosi yang perlu dilaporkan akuntabilitasnya melalui suatu Laporan Akuntabilitas

Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).

B. Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi

Berdasarkan Qanun No. 5 Tahun 2007 Bagian Keenam tentang Susunan

Organisasi dan Tata Kerja Dinas, Lembaga Teknis Daerah, dan Lembaga Daerah

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam; Badan Investasi dan Promosi Aceh mempunyai

tugas umum Pemerintahan dan Pembangunan di bidang pengembangan investasi dan

promosi berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Untuk melaksanakan tugas di atas, Badan Investasi dan Promosi Aceh

memiliki fungsi:

1. Pelaksanaan urusan ketatausahaan Badan;

2. Penyusunan program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang;

3. Penyusunan dan perumusan kebijakan teknis di bidang investasi dan promosi;

4. Peningkatan keterpaduan penyusunan rencana dan program antar instansi terkait

di daerah di bidang investasi dan promosi;

5. Pemberian rekomendasi, perizinan, pendaftaran perusahaan dan pelaksanaan

pelayanan umum lintas kabupatenupaten/kota di bidang investasi dan promosi;

6. Pembinaan dan pengembangan investasi dan promosi;

7. Pemantauan dan pengawasan operasional pelaksanaan investasi;

8. Promosi, informasi dan pameran bagi upaya pengembangan investasi; dan

9. Pembinaan Unit Pelaksana Teknis badan (UPTB).

(9)

Untuk menyelenggarakan fungsi dimaksud, Badan Investasi dan Promosi

Aceh mempunyai kewenangan:

1. Menyediakan dukungan pengembangan kawasan investasi;

2. Merencanakan dan mengendalikan pembangunan secara makro di bidang investasi

dan promosi;

3. Melaksanakan pelatihan bidang investasi;

4. Melakukan kerjasama dalam bidang investasi dengan Kabupaten/Kota;

5. Melaksanakan pembinaan sumber daya manusia di bidang pengelolaan pasar;

6. Melaksanakan promosi dan menyelenggarakan pameran, kerjasama luar negeri bagi

keperluan investasi serta mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan investasi dan

promosi; dan

7. Menyediakan

dukungan

fasilitas

pengembangan

kawasan

investasi

serta

merencanakan kawasan investasi.

C. Struktur Organisasi

Semua tugas, fungsi, dan kewenangan yang disebutukan di atas dikelola

melalui struktur organisasi berikut:

1. Kepala Badan;

2. Sekretariat;

3. Bidang Program dan Pelaporan;

4. Bidang Promosi;

5. Bidang Perizinan;

6. Bidang Pengembangan Investasi;

Selain struktur formal di atas, Badan Investasi dan Promosi Aceh juga

membentuk Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) Investasi Aceh yang berfungsi

sebagai pengumpul, penyimpan, pengolah, dan penyebar data dan informasi.

(10)

D. Aspek Strategis

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 telah menetapkan 11 prioritas

nasional yaitu

1. Reformasi birokrasi dan tata kelola;

2. Pendidikan;

3. Kesehatan;

4. Penanggulangan kemiskinan;

5. Ketahanan pangan;

6. Infrastruktur;

7. Iklim investasi dan usaha;

8. Energi;

9. Lingkungan hidup dan penanganan bencana;

10. Daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan paska konflik; serta

11. Kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi.

Mengacu pada poin ketujuh di atas dapat dilihat bahwa peran strategis Badan

Investasi dan Promosi Aceh yang dalam bidang penanaman modal untuk mewujudkan

iklim investasi dan usaha sebagai prioritas yang direncanakan dalam jangka waktu

lima tahun (jangka menengah).

E. Sistematika Penyajian

Pada dasarnya laporan akuntabilitas ini memberikan penjelasan mengenai

pencapaian kinerja Badan Investasi dan Promosi Aceh selama Tahun 2015. Capaian

kinerja (performance results) tersebut diperbandingkan dengan Penetapan Kinerja

(performance agreement) Tahun 2015 sebagai tolok ukur keberhasilan Tahunan

organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan

memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi

perbaikan kinerja di masa datang.

(11)

Sistematika penyajian LAKIP Badan Investasi dan Promosi Aceh Tahun 2015

berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan

Kinerja dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dengan mengambil contoh

praktis pada LAKIP Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara tahun 2011.

Adapun sistematika penyajian laporan ini adalah sebagai berikut :

Bab I – Pendahuluan, menyajikan penjelasan umum organisasi, dengan

penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama

(strategic issued) yang sedang dihadapi organisasi.

Bab II – Perencanaan Kinerja, menguraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian

kinerja tahun 2015.

Bab III – Akuntabilitas Kinerja.

A. Capaian Kinerja Organisasi

Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap

pernyataan kinerja sasaran strategis Organisasi sesuai dengan hasil

pengukuran kinerja organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran

strategis tersebut dilakukan analisis capaian kinerja sebagai berikut:

1. Membandingkan antara target dan realisasi kinerja tahun ini;

2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini

dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir;

3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan

target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan

strategis organisasi;

4. Membandingkan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional

(BKPM);

5. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan

kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan;

6. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya;

7. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun

kegagalan pencapaian pernyataan kinerja).

(12)

B. Realisasi Anggaran

Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran sesuai dengan dokumen

perjanjian kinerja guna mewujudkan kinerja organisasi.

Bab IV Penutup, menguraikan simpulan umum atas capaian kinerja

organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan

organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.

Lampiran.

1. Perjanjian Kinerja.

(13)

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. Rencana Strategis Tahun 2012-2017

Rencana Strategis (Renstra) Badan Investasi dan Promosi Aceh merupakan

perencanaan jangka menengah yang berisi tentang gambaran sasaran atau kondisi hasil

yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun beserta strategi yang akan dilakukan

untuk mencapai sasaran sesuai dengan tugas, fungsi dan peran yang diamanahkan

kepadanya.

Penyusunan Renstra 2012-2017 Badan Investasi dan Promosi Aceh mengacu pada

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh tahun 2012-2017, khususnya

terkait dengan prioritas pembangunan bidang penanaman modal. Karena RPJMA

2012-2017 baru ditetapkan pada Desember 2013, beberapa penyesuaian dilakukan terhadap

Renstra tersebut. Secara ringkas, subtansi Renstra 2012-2017 Badan Investasi dan

Promosi Aceh dapat diilustrasikan sebagai berikut:

1. Visi

Visi Badan Investasi dan Promosi Aceh adalah “Aceh Menjadi Salah-Satu Daerah

Investasi Utama Tahun 2017”.

2. Misi

Dalam rangka mewujudkan visinya, Badan Investasi dan Promosi Aceh

menetapkan tiga misi, yaitu:

a. Meningkatkan Percepatan Reformasi Birokrasi Bidang Penanaman Modal;

b. Membentuk Citra Aceh sebagai Daerah Tujuan Utama Investasi;

(14)

c. Melaksanakan Integrasi Perencanaan dan Pengendalian Penanaman Modal dengan

Pemerintah, Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten/Kota, Swasta, Perbankan dan

Masyarakat.

Berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan, Badan Investasi dan Promosi Aceh

menetapkan tiga (3) tujuan yang akan dicapai oleh organisasi dalam jangka waktu sampai

tahun 2017, yaitu :

1. Meningkatkan efektifitas promosi dan kualitas pelayanan penanaman modal.

2. Meningkatkan iklim investasi dan realisasi investasi.

3. Meningkatkan kualitas perencanaan bidang penanaman modal.

Setelah tujuan ditetapkan, kemudian ditentukan pula sasaran yang akan ditempuh

agar tujuan dimaksud dapat tercapai. Adapun sasaran jangka menengah dari Badan

Investasi dan Promosi Aceh adalah :

1. Meningkatnya jumlah penanam modal.

2. Meningkatnya realisasi investasi.

3. Tercapainya perencanaan bidang penanaman modal yang komprehensif.

B. Perjanjian Kinerja

Di antara sasaran dan indikator kinerja di atas, terdapat sasaran yang strategis dan

Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi bagian dari Perjanjian Kinerja Kepala

Badan Investasi dan Promosi Aceh kepada Gubernur Aceh. IKU ini adalah ukuran

keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran strategis organisasi. Penetapan IKU

telah mengacu pada Renstra Badan Investasi dan Promosi Aceh serta RPJMA tahun

2012-2017.

Adapun Sasaran Strategis dan IKU Badan Investasi dan Promosi Aceh adalah

sebagai berikut:

(15)

No.

Sasaran Strategis

Indikator Kinerja Utama

1

Meningkatnya jumlah

penanaman modal.

 Jumlah nilai realisasi investasi.

 Persentase kenaikan nilai realisasi investasi.

 Rasio daya serap tenaga kerja.

2

Meningkatnya realisasi

investasi.

 Jumlah perusahaan yang mendapat

persetujuan (izin) penanaman modal.

 Jumlah nilai rencana investasi.

 Persentase kenaikan nilai rencana investasi.

Tabel 2.1. Indikator Kinerja Utama (IKU) Badan Investasi dan Promosi.

Untuk Tahun Anggaran 2015, Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh telah

menandatangani Perjanjian Kinerja sebagaimana dimuat dalam Lampiran I mengikuti

Rencana Strategis 2012-2017. Isinya adalah sebagaimana ditunjukkan tabel 2.2. di bawah

ini.

Sasaran 1: Meningkatnya jumlah penanaman modal.

Jumlah Perusahaan yang mendapat persetujuan

(izin) penanaman modal

72 Perusahaan

Rasio daya serap tenaga kerja

1:150

Jumlah nilai realisasi investasi.

2.645.000.000.000 rupiah

Sasaran 2: Meningkatnya nilai investasi.

Jumlah nilai rencana investasi.

8.397.875.000.000 rupiah

Persentasi kenaikan nilai rencana investasi.

15 %

(16)

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja Organisasi

Pengukuran tingkat capaian kinerja Badan Investasi dan Promosi Aceh tahun

2015 dilakukan dengan cara:

1. Membandingkan antara target dengan realisasinya.

2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan

tahun lalu dan beberapa tahun terakhir.

3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka

menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis organisasi.

4. Membandingkan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional dari BKPM.;

Adapun capaian realisasi Perjanjian Kinerja tahun 2015 Badan Investasi dan

Promosi Aceh adalah sebagaimana tertuang dalam Tabel 3.1. Secara kumulatif, realisasi

investasi PMA dan PMDN pada tahun 2015 sebesar Rp. 5,72 triliun atau melebihi 216

persen dari target jumlah nilai realisasi investasi yang ditetapkan perjanjian kinerja Badan

Investasi dan Promosi Aceh sebesar Rp. 2,64 triliun, serta melampaui proyeksi

penanaman modal tahun 2015 yang ditetapkan pada Renstra BKPM RI 2015-2019

sebesar Rp. 5,57 triliun.

Sasaran

Strategis

Indikator Sasaran

Target

Realisasi

Persentase

Tingkat

Capaian

Target (%)

Meningkatnya

jumlah

penanam

modal

- Jumlah perusahaan

yang mendapat

persetujuan (izin)

penanaman modal.

72 Perusahaan

75 Perusahaan

104.17

- Rasio daya serap

tenaga kerja.

1:150

1:151

100.67

- Jumlah nilai

realisasi investasi.

2,645,000,000,000 rupiah 5,728,003,112,484 rupiah

216.56

Meningkatnya

nilai investasi.

- Jumlah nilai

rencana investasi.

8,397,875,000,000 rupiah 19,839,938,195,000

rupiah

236.25

- Persentase

kenaikan nilai

rencana investasi.

15%

236%

1573.33

(17)

Capaian realisasi investasi sebagaimana tertera dalam Tabel 3.1 menunjukkan

bahwa iklim investasi semakin membaik. Kepatuhan perusahaan dalam

menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) juga semakin

meningkat. Seiring dengan itu, permasalahan penanaman modal terus

diupayakan penyelesaiannya melalui pembentukan satuan tugas taskforce yang

melibatkan pemerintah pusat, provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Gambar 3.1 menunjukkan perkembangan yang terjadi pada tahun 2015

dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya serta posisi relatif pencapaian

target lima tahunan Rencana Strategis 2012-2017 pada tahun kedua ini.

Gambar 3.1. Perkembangan Realisasi Investasi Aceh hingga Tahun 2015

Realisasi investasi yang terus mengalami peningkatan ini diharapkan dapat

membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk mengatasi pengangguran dan

mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Aceh. Data tahun 2015

menunjukkan bahwa terjadi serapan tenaga kerja sebanyak 31.725 orang atau

capaian rasio serapan tenaga kerja terhadap realisasi penanaman modal tahun

2015 sebesar 1:151 pada perusahaan/proyek PMA maupun PMDN, dengan

(18)

serapan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebanyak 31.618 orang dan Tenaga Kerja

Asing (TKA) sebanyak 107 orang, yang tersebar hampir di seluruh

Kabupaten/Kota di Aceh.

Untuk investasi baru di tahun 2015 sebanyak 75 perusahaan/proyek mulai

membuka

usaha

di

Aceh

dengan

komitmen

investasi

sebesar

Rp

19.839.938.195.000,- atau melebihi 236.25% dari target yang ditetapkan nilai

rencana investasi PMA dan PMDN Rp 8.397.875.000.000,-.

Yang selanjutnya

perlu dilakukan adalah melakukan pembinaan dan pendampingan agar mereka

mendapat izin-izin turunan di daerah sehingga semakin cepat melakukan

realisasi investasi.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI dalam hal realisasi investasi

melaporkan bahwa pada Triwulan IV-2015, untuk PMDN, Aceh berada pada

peringkat ke-16 dengan realisasi Rp 399,9 (Rp Miliar) dari 21 proyek.

Sedangkan untuk PMA, Aceh berada pada peringkat ke-30 dengan realisasi USD

3,0 (USD Juta) dari 24 proyek.

BKPM juga menyebutkan bahwa secara keseluruhan, pada tahun 2015 Aceh

berada pada peringkat ke-12 untuk PMDN dengan realisasi Rp 4.192,41 (Rp

Miliar) dari 169 proyek. Sedangkan untuk PMA, Aceh berada pada peringkat

ke-31 dengan realisasi USD 21,19 (USD Juta) dari 78 proyek. Jadi, total realisasi

Investasi Aceh Tahun 2015 adalah sebesar Rp 4.457.285.000.000,-.

Perbedaan pencatatan realisasi antara BKPM dan Badan Investasi dan Promosi

Aceh disebabkan oleh teknik pencatatan yang berbeda. BKPM mencatat secara

elektronik dengan aplikasi web SPIPISE (Sistem Pelayanan Informasi dan

Perizinan Investasi secara Elektronik), sementara Badan Investasi dan Promosi

Aceh mencatat secara manual.

Dalam database SPIPISE hanya tersedia perusahaan yang memiliki perizinan

penanaman modal. Sedangkan perusahaan yang tidak memiliki perizinan

penanaman modal juga diwajibkan untuk melapor secara manual Laporan

Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), tetapi dokumen perizinan daerah harus

(19)

disampaikan kepada Pusdatin BKPM, lalu Pusdatin memasukkan dalam database

SPIPISE. Untuk memasukkan database perizinan ke dalam SPIPISE

membutuhkan waktu relatif lama, terjadi jeda sekitar satu triwulan, bahkan

hingga satu tahun. Karena itu, urgensi penerapan SPIPISE oleh PTSP

Kabupaten/ Kota sangat diperlukan. Saat ini baru PTSP provinsi (BP2T) dan

beberapa Kabupaten/ Kota saja yang menerapkan SPIPISE perizinan oleh PTSP,

padahal amanah RPJMN 2010-2014 diharapkan PTSP Kabupaten/Kota segera

menerapkan SPIPISE perizinan.

Di sisi lain, sebagian perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta mengirim

langsung LKPM kepada BKPM, tetapi tidak ditembuskan kepada Badan

Investasi dan Promosi Aceh. Sebagian lagi perusahaan hanya menyampaikan

LKPM kepada provinsi dan Kabupaten/ Kota, tetapi tidak menyampaikan ke

BKPM.

Patut diketahui bahwa Badan Investasi dan Promosi Aceh selalu melakukan

konsolidasi data realisasi tiap triwulan, sehingga selisih pencatatan semakin

mengecil.

Beberapa fakta menarik lain yang terjadi pada tahun 2015 adalah sebagai berikut.

 Ada 209 proyek/perusahaan yang melakukan realisasi investasi di Aceh,

dan sebanyak 172 proyek/perusahaan atau 82 % di antaranya adalah

PMDN.

 Kabupaten Aceh Utara adalah lokasi favorit investor dalam negeri

dengan perkembangan realisasi investasi sebanyak 13 proyek/perusahaan.

 Kabupaten Aceh Besar adalah lokasi favorit investor asing dengan

perkembangan realisasi investasi sebanyak 3 proyek/perusahaan.

 PMDN dengan tambahan realisasi investasi tertinggi, yaitu Rp 1,14

Triliun adalah PT. Mifa Bersaudara dengan lokasi proyek di Kabupaten

Aceh Barat.

(20)

 PMA dengan tambahan realisasi investasi tertinggi, yaitu sebesar USD

24,18 Juta, adalah PT.Asphalt Bangun Sarana dengan lokasi proyek di

Kabupaten Aceh Besar.

 Bidang usaha perdagangan memiliki realisasi tertinggi untuk PMA yaitu

USD 25,89 juta, dan bidang usaha perkebunan untuk PMDN sebesar Rp

1,55 triliun.

Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan realisasi investasi asing

dan domestik dengan menyederhanakan prosedur perizinan dan memperkuat

kelembagaan penanaman modal dan PTSP. Demikian pula pengembangan

agroindustri, infrastruktur pelabuhan dan jalan tembus, serta pengembangan

pariwisata menjadi prioritas penanganan yang memerlukan dukungan segenap

lapisan masyarakat. Selain itu, diperlukan peningkatan peran pemerintah provinsi

dan Kabupaten/Kota agar dapat mendukung program prioritas pemerintah pusat

melalui sektor listrik, infrastruktur, dan kemaritiman.

Di bawah ini disajikan uraian lengkap pelaksanaan 8 (delapan) program utama

oleh Badan Investasi dan Promosi Aceh dalam rangka meningkatkan

pembangunan Aceh melalui bidang Penanaman Modal. Pada beberapa kegiatan

disajikan:

1. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan

kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukan;

2. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya. dan

3. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun

kegagalan pencapaian pernyataan kinerja).

Di samping itu, pada beberapa kegiatan diberikan juga solusi/rekomendasi

kegiatan yang perlu dilakukan pada tahun anggaran berikutnya.

(21)

Secara umum, kebutuhan administrasi kantor pada tahun anggaran 2015 telah

terpenuhi dan membuat tugas-tugas bidang penanaman modal dapat

dilaksanakan dengan baik.

a. Kegiatan Penyediaan Jasa Surat Menyurat

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pengiriman surat-surat dinas, belanja perangko,

materai dan benda-benda pos lainnya serta pengiriman paket dinas. Dana

yang dianggarkan adalah sebesar Rp 20.300.000,- dan dapat direalisasikan

sebesar Rp 18.672.650,- atau 91,98%. Hasil yang dapat dicapai adalah

100% kebutuhan perangko, materai dan pengiriman barang cetakan dalam

dan luar negeri dapat dipenuhi.

b. Kegiatan Penyediaan Jasa Komunikasi Sumber Daya Air dan Listrik

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pembayaran jasa rekening telepon 7 saluran, biaya air

PDAM dan biaya rekening listrik kantor. Jangka waktu 12 bln Listrik; 12

blnTelepon; 12 bln Jasa Air. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp

379.272.500,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 346.554.537,- atau

91,37%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% kebutuhan pembayaran

listrik, telepon, dan air dapat dipenuhi.

c. Kegiatan Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pembayaran honorarium pegawai honorer/tidak tetap

dan pembelian peralatan kebersihan dan bahan kebersihan kantor. Dana

yang dianggarkan adalah sebesar Rp 22.753.000,- dan dapat direalisasikan

sebesar Rp 22.512.000,- atau 98,94%. Hasil yang dapat dicapai adalah 1

(satu) unit gedung Badan Investasi dan Promosi dengan luasan lantai/lahan

yang dikelola adalah Lt 1 = 1135m2; Lt 2 = 1135m2; dan halaman =

385m2 yang masuk pemeliharaan atau 100% dari yang direncanakan.

d. Kegiatan Penyediaan Alat Tulis Kantor

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi belanja alat tulis kantor. Dana yang dianggarkan

adalah sebesar Rp 73.089.510,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp

73.085.000,- atau 99,99%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100%

kebutuhan alat tulis kantor dapat terpenuhi.

e. Kegiatan Penyediaan Barang Cetakan & Penggandaan

Pelaksanaan :

(22)

Kegiatan ini meliputi pencetakan dokumen-dokumen dinas dan foto copy

surat-surat dan blangko kedinasan. Dana yang dianggarkan adalah sebesar

Rp 95.758.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 94.927.200.000,- atau

99,13%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% barang cetakan dan

penggandaan dapat dipenuhi.

f. Kegiatan

Penyediaan

Komponen

Instalasi

Listrik/Penerangan

Bangunan Kantor

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pembelian alat-alat listrik dan elektronik (lampu pijar

battery kering). Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 21.246.000,-

dan dapat direalisasikan sebesar Rp 21.244.500,- atau 99,99%. Hasil yang

dapat dicapai adalah 100% alat-alat listrik dan elektronik yang dibutuhkan

dapat tersedia.

g. Kegiatan Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan Kantor

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi honorarium tim pengadaan/pemeriksaan barang dan

jasa, biaya dekorasi dan spanduk untuk keperluan hari-hari besar dan biaya

publikasi media cetak. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp

376.768.280,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 376.703.700,- atau

99,98%. Hasil yang dapat dicapai adalah tersedianya Komputer/PC 4 unit,

Laptop/Notebook 4 unit, Laptop Multimedia 2 unit, Ultrabook 3 unit,

Komputer server 1 unit, Modem 1 unit, Wireless Router 2 unit, Printer 1

unit serta sewa gedung untuk penyimpanan barang inventaris selama 12

bulan.

h. Kegiatan Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan

Perundang-Undangan

Pelaksanaan :

Kegiatan

ini

meliputi

belanja

surat

kabar/majalah

(Serambi

Indonesia;Kompas; Waspada;Majalah Tempo) buku-buku sebagai sumber

informasi dan peraturan yang ada. Dana yang dianggarkan adalah sebesar

Rp 26.344.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 22.797.000,- atau

86,54%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% kebutuhan koran, majalah,

buku perundang-undangan dapat dipenuhi dengan baik.

i. Kegiatan Penyediaan Makanan dan Minuman

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi penyediaan makanan dan minuman keperluan rapat

dan untuk tamu. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 91.525.000,-

dan dapat direalisasikan sebesar Rp 60.620.750,- atau 66,23%. Hasil yang

(23)

dapat dicapai adalah pelayanan makan minum rapat dan tamu dapat

dilaksanakan dengan baik sesuai kebutuhan atau 100% dari yang

direncanakan.

j. Kegiatan Rapat-Rapat Koordinasi & Konsultasi ke Luar Daerah

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi rapat-rapat koordinasi & konsultasi ke luar daerah.

Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 187.280.000,- dan dapat

direalisasikan sebesar Rp 177.841.467,- atau 94,96%. Dari target 24 orang

keikutsertaan rapat koordinasi dan konsultasi di luar daerah, hasil yang

dapat dihadiri dari target 24 orang dapat dilaksanakan dengan baik sesuai

kebutuhan atau 100% dari yang direncanakan.

k. Kegiatan Peningkatan Pelayanan Administrasi Perkantoran

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi peningkatan pelayanan administrasi perkantoran.

Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 663.160.000,- dan dapat

direalisasikan sebesar Rp 659.384.200,- atau 99,43%. Hasil yang dapat

dicapai adalah Ketersedianya pegawai kontrak dapat dilaksanakan dengan

baik sesuai kebutuhan atau 100% dari yang direncanakan.

l. Kegiatan Penyediaan Jasa Keamanan Kantor

Pelaksanaan :

Tidak dialokasikan anggaran pada tahun 2015

2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur

Secara umum, kebutuhan sarana dan prasarana aparatur pada tahun 2015 telah

terpenuhi dan membuat tugas-tugas bidang penanaman modal dapat

dilaksanakan dengan baik.

a. Kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas/Operasional

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pengadaan 1 unit mobile minibus (hi-ace) dan 1 unit

mobil lapangan. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 824.900.000,-

dan dapat direalisasikan sebesar Rp 824.900.000,- atau 100%. Hasil yang

dapat dicapai adalah tersedianya mobil minibus 1 unit untuk operasional

dinas dan tamu/calon investor dan mobil lapangan 1 unit untuk

pemantauan perusahaan di Kabupaten/Kota.

(24)

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pembelian suku cadang mobil dinas, pembelian

suku cadang roda-2, pembelian bahan bakar dan pelumas mobil dan

kendaraan roda-2, belanja Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK)

mobil dan kendaraan roda-2. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp

226.660.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 225.271.950,- atau

99,39%. Hasil yang dapat dicapai adalah dicapainya pemeliharaan 6 unit

roda empat dan 4 unit roda dua dapat dirawat dan dioperasikan dengan

baik atau 100% dari yang direncanakan.

c. Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Perlengkapan Gedung Kantor

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi jasa service peralatan dan perlengkapan kantor.

Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 237.614.900,- dan dapat

direalisasikan sebesar Rp 233.691.400,- atau 100%. Hasil yang dapat

dicapai adalah beberapa item perlengkapan kantor, yaitu AC 25 unit;

komputer 20 unit; mesin genset 1 unit; mesin fotocopy 2 unit dapat

dirawat dan digunakan sesuai fungsinya. Capaian realisasi kegiatan ini

adalah 100% dari yang direncanakan.

d. Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Taman, Tempat Parkir dan

Halaman Kantor

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pemeliharaan taman, tempat parkir dan halaman

kantor. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 21.600.000,- dan

direalisasikan sebesar Rp 21.600.000,- atau 100%. Hasil yang dapat

dicapai adalah terpeliharanya taman, tempat parkir, dan halaman kantor

dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

e. Kegiatan Rehabilitasi Sedang/Berat Rumah Gedung Kantor

Pelaksanaan :

Kegiatan ini terdiri dari 5 paket pekerjaan rehabilitasi terhadap gedung

kantor, terutama pada bagian-bagian yang telah rusak atau tidak dapat

digunakan sebagaimana fungsinya. Dana yang dianggarkan adalah

sebesar Rp 626.586.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp

625.620.000,- atau 99,85%. Hasil yang dapat dicapai adalah

rehab/penataan interior ruang umum, kepegawaian, kamar mandi, tempat

parker dan pavilion Aceh Penang Badan Investasi dan Promosi dapat

dirawat agar berfungsi dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

(25)

f. Kegiatan Pengadaan Peralatan Studio dan Komunikasi

Pelaksanaan :

Tidak dialokasikan anggaran pada tahun 2015

3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur

Program ini meliputi tertib dan disiplin pakaian aparatur, hasil yang dapat

dicapai adalah meningkatnya tertib dan disiplin pakaian aparatur dengan

baik atau 100% dari yang direncanakan.

a. Kegiatan Pengadaan Pakaian Dinas Beserta Perlengkapannya

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi Pakaian dinas harian, linmas, pakaian satpam, dan

pakaian tenaga kontrak. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp

43.500.000,- dan direalisasikan sebesar Rp 43.500.000,- atau 100%. Hasil

yang dapat dicapai adalah Tersedianya pakaian dinas harian, linmas,

pakaian satpam, dan pakaian tenaga kontrak sebanyak 83 stel dengan baik

atau 100% dari yang direncanakan.

b. Kegiatan Pengadaan Pakaian KORPRI

Pelaksanaan :

Tidak dialokasikan anggaran pada tahun 2015

c. Kegiatan Pengadaan Pakaian Khusus Hari-Hari Tertentu

Pelaksanaan :

Tidak dialokasikan anggaran pada tahun 2015

4.

Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur

Program ini untuk mewujudkan peningkatan kualitas pelayanan adaministrasi

perkantoran melalui kegiatan pendidikan pelatihan formal, hasil yang dicapai

adalah Terciptanya Kualitas SDM Aparatur Penanaman Modal dengan baik

atau 100% dari yang direncanakan.

a. Kegiatan Pendidikan Pelatihan Formal

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi keikutsertaan aparatur bidang penanaman modal

pada Bimtek dan Kerjasama Pelatihan serta koordinasi dan konsultasi

(26)

dalam kegiatan pelayanan penanaman modal. Dana yang dianggarkan

adalah sebesar Rp 206.850.000,- dan direalisasikan sebesar Rp

206,849,864,- atau 99,99%. Hasil yang dapat dicapai adalah

terlaksananya koordinasi dan konsultasi kegiatan pelayanan penanaman

modal didalam maupun luar daerah sebanyak 31 ot serta uang saku dan

kontribusi mengikuti diklat sebanyak 16 orang dengan terlaksana dengan

baik 100% dari yang direncanakan.

5. Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi

Program ini dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan realisasi investasi

PMA dan PMDN pada tahun 2015 sebanyak Rp 5.728.003.112.484,- atau

melebihi 216 persen dari target jumlah nilai realisasi investasi yang ditetapkan

perjanjian kinerja Badan Investasi dan Promosi Aceh sebesar Rp. 2,64 triliun,

serta melampaui proyeksi penanaman modal tahun 2015 yang ditetapkan pada

Renstra BKPM RI 2015-2019 sebesar Rp. 5,57 triliun.

Nilai realisasi investasi tersebut didapat dari kegiatan pemantauan ke

perusahaan-perusahaan di Kabupaten/Kota se-Aceh melalui Laporan Kegiatan

Penanaman Modal (LKPM).

Minat investasi pada tahun 2015 yaitu 76 perusahan/proyek, sebanyak 54

perusahaan/proyek PMDN dan 22 perusahaan/proyek PMA telah mendapat

persetujuan Izin Persetujuan (IP) pada tahun 2015.

Selain itu, program ini dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan realisasi

investasi sebesar Rp 5,72 Triliun di akhir tahun 2015 karena telah melampaui

ketetapan target investasi.

Dilain pihak, kegiatan promosi perlu diperbaiki kualitasnya dengan strategi

koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah di 23 Kab/Kota mengenai proyek di

3 (tiga) sektor utama yaitu agrobisnis, energi dan infrastruktur dan pariwisata

yang bisa dikerjasamakan.

Di lain pihak, kegiatan promosi perlu diperbaiki kualitasnya dengan strategi

membuat buku detailed planed yang menawarkan langsung proyek-proyek

investasi baik infrastruktur maupun pengolahan komoditas unggulan.

Keikutsertaan pada forum bisnis juga berubah dari sekedar peserta suatu event

menjadi sebagai pembicara.

a. Kegiatan Pengawasan dan Evaluasi Kinerja dan Aparatur Badan

Penanaman Modal Daerah

Kegiatan ini meliputi penguatan kelembagaan IPMK dan PTSP, evaluasi

kinerja aparatur Penanaman Modal, menghadiri undangan rapat dan

(27)

pembinaan bidang Penanaman Modal pada Kabupaten/Kota, dan

mendampingi tamu BKPM/Instansi terkait & investor.

Pelaksanaan:

 Melakukan rapat penguatan kelembagaan bidang penanaman modal

kab/kota 1 kali dari 1 kali direncanakan dan Rancangan Qanun

BPMPTSP 1 kali dari 1 kali atau dapat terlaksana 100 %.

 Cetak buku Analisis Jabatan & Angka Beban Kerja sebanyak 50 buku

dari 50 buku yang direncanakan atau dapat terlaksana 100%.

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Pengawasan dan Evaluasi Kinerja

dan Aparatur Badan Penanaman Modal Daerah adalah Rp 463.063.000,-

dan dapat direalisasikan sebesar Rp 456.152.698,-. Kegiatan ini dapat

direalisasikan 98,51% dari yang direncanakan.

b. Peningkatan Kegiatan Pemantauan, Pembinaan dan Pengawasan

Pelaksanaan Penanaman Modal

Pelaksanaan :

Yang dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah:

 Pemantauan realisasi pelaksanaan penanaman modal baik PMDN

maupun PMA dari sumber dana APBA untuk dalam daerah, realisasi 7

kali untuk 15 perusahaan. Dan untuk menghadiri rapat, BIMTEK, dan

konsultasi luar daerah realisasi 24 kali.

 Pemantauan realisasi pelaksanaan penanaman modal baik PMDN

maupun PMA dari sumber dana dekonsentrasi (APBN) untuk dalam

daerah realisasi 24 kali untuk 125 perusahaan. Dan 20 kali untuk

pengawasan perusahaan penanaman modal di Kabupaten/Kota untuk

129 perusahaan.

 Bimbingan Teknis Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal yang

diikuti oleh Instansi Teknis dan Perusahaan. Dengan peserta 78 orang

dari 50 orang yang ditargetkan (capaian 156%).

 Rapat Koordinasi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal

ditargetkan sebanyak 1 kali, realisasi 1 kali (100%)

 Rapat Koordinasi dengan instansi teknis dan kabupaten/ kota

ditargetkan 3 kali, realisasi 3 kali, capaian 100%

 Rapat konsinyering realisasi pelaksanaan penanaman modal (APBN)

ditargetkan 2 kali, realisasi 2 kali (100%)

 Rapat fasilitasi penyelesaian permasalahan penanaman modal

(Taskforce) target 2 kali, realisasi 2 kali (100%)

 Publikasi informasi terkait Laporan kegiatan Penanaman Modal

(LKPM). Kegiatan ini meliputi iklan pengumuman di media cetak

tentang kewajiban perusahaan untuk menyampaikan

LKPM

sebagaimana amanah dari Perka BKPM No. 3 Tahun 2012 tentang

Pedoman dan Tatacara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal.

(28)

Dari target 2 kali, dapat diaksanakan sebanyak 4 kali (capaian 200%).

Dari hasil pemantauan data realisasi LKPM yang disampaikan tahun 2015,

jumlah realisasi perusahaan/proyek mencapai 209 perusahaan/proyek,

dengan PMDN 172 perusahaan/proyek dan PMA 37 perusahaan/proyek,

dengan total tambahan nilai realisasi investasi PMA dan PMDN sebesar

Rp 5.728.003.112.484,-. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan

pemantauan mengelami perbaikan yang sangat signifikan. Pembinaan dan

pemantuan yang dilakukan serta pelaporan LKPM melalui email telah

meningkatkan kepatuhan perusahaan untuk menyampaikan LKPM.

Jumlah serapan tenaga kerja tahun 2015 sebanyak 31.725 orang dengan

penggunaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) 31.618 orang dan Tenaga

Kerja Asing (TKA) 107 orang.

Rasio serapan tenaga kerja terhadap realisasi penanaman modal tahun

2015 sebesar 1:151 dengan jumlah tenaga kerja Indonesia yang terserap

sebanyak 31.618 orang.

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Peningkatan Pemantauan,

Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan Penanaman Modal yang

bersumber dari APBA adalah sebesar Rp 463.966.800,- dan dapat

direalisasikan sebesar Rp 433.961.238,- atau 93,53%.

Permasalahan :

Banyak perusahaan yang belum patuh melaporkan LKPM secara tepat

waktu dan berkesinambungan, alamat perusahaan sering berubah tapi

tidak dilaporkan, dokumen perusahaan tidak tersedia di lokasi proyek,

sehingga menyulitkan perolehan data dan informasi di lokasi, serta

wakil perusahaan yang dihubungi masih belum semua mengetahui

perkembangan realisasi investasi perusahaannya.

Perusahaan masih sedikit yang menyampaikan LKPM melalui

SPIPISE, padahal sebagian sudah mendapatkan kode akses.

Instansi penanaman modal Kabupaten/Kota belum melakukan

koordinasi secara optimal dengan perusahan yang berada dilokasi

masing-masing. Masih sedikit dari Instansi penanaman modal

Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan pembinaan dan

pengendalian pelaksanaan penanaman modal.

Instansi teknis provinsi dan Kabupaten/Kota belum sepenuhnya

menindaklanjuti hasil rapat taskforce.

Tenaga evaluasi LKPM masih kurang, baik dari segi jumlah maupun

kompetensinya. Demikian pula kendaraan operasional yang mampu

beroperasi di segala medan belum tersedia.

Kapasitas tim pemantauan masih belum memadai.

(29)

Kendala Pembebasan Lahan Gayo lues kendalanya adalah belum jelas

status lahan. KPI II: untuk lampulo, belum tersedianya kapasitas listrik

yang cukup untuk industri.

Solusi :

 Perlu adanya tambahan tenaga evaluasi LKPM untuk melakukan

verifikasi atas LKPM yang diterima dengan mengoptimalkan SDM

yang ada di kantor.

 Perlu sistem elektronik input data LKPM yang mudah dipakai petugas

untuk mempercepat dan memperkecil kesalahan database.

 Perlu adanya kendaraan yang bisa masuk ke lokasi proyek terutama

untuk proyek perkebunan dan pertambangan.

 Menegur perusahaan yang tidak menyampaikan LKPM melalui Surat

Teguran dan perlu adanya sanksi sesuai ketentuan.

 Perlu dilakukan komunikasi dan koordinasi dengan kantor pusat, dan

setiap perusahaan yang berinvestasi di Aceh agar membuka kantor di

Aceh.

 Perlu diberi pembinaan kepada perusahaan agar menyampaikan

kewajibannya untuk mengirimkan LKPM secara berkesinambungan

dan benar sesuai ketentuan.

 Kuantitas dan kualitas tim verifikasi dan evaluasi laporan kegiatan

penanaman modal belum memadai.

 Perlu digalakkan investasi yang padat karya (lebih banyak

menggunakan tenaga kerja), sehingga lebih banyak lapangan kerja

baru yang tersedia untuk menurunkan tingkat pengangguran.

 Kualitas pemantauan perlu ditingkatkan dengan pembinaan kepada

aparatur tenaga pemantauan realisasi penanaman modal provinsi dan

Kabupaten/Kota.

 Diharapkan perusahaan dapat melaporkan permasalahan yang dihadapi

dan realisasi importasi mesin, sehingga menjadi bahan dasar dalam

melakukan pengawasan.

 Pembinaan kepada perusahaan harus terus dilakukan, dan diharapkan

perusahaan dapat mengisi sendiri LKPM melalui SPIPISE.

 Rapat koordinasi harus dihadiri oleh pengambil kebijakan, baik dari

instansi terkait maupun dari perusahaan agar pengambilan kebijakan

dapat segera diambil untuk menjadi solusi bagi masalah yang sedang

dihadapi.

 Perlu peningkatan kerjasama, konsolidasi dengan pemerintah pusat

dan daerah mengenai data dan informasi realisasi investasi yang

disampaikan perusahaan.

 Perlu meningkatkan sosialisasi Kebijakan dan Strategi Pengendalian

Pelaksanaan Realisasi Penanaman Modal bagi BPMPTSP dan instansi

teknis Kabupaten/Kota.

(30)

 Diharapkan instansi teknis provinsi dan Kabupaten/Kota dapat

menindaklanjuti secara optimal permasalahan perusahaan seperti

masalah lahan, regulasi teknis, dll.

 Publikasi tentang LKPM dapat dilakukan setiap triwulan dengan

dengan memasukkan jumlah perusahaan yang belum menyampaikan

LKPM dan yang tidak aktif.

 Diharapkan hasil kajian dapat disosialisasikan kepada pihak-pihak

terkait. Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara dapat

menyelesaikan status lahan yang belum siap pakai.

c. Kegiatan Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Guna

Peningkatan Pelayanan Investasi

Pelaksanaan :

Tidak dialokasikan anggaran pada tahun 2015

d. Kegiatan

Peningkatan

Promosi,

Kerjasama

Investasi

dan

Pengembangan Potensi Unggulan Daerah

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi honorarium non PNS, belanja barang dan jasa,

makan minum dan perjalanan dinas dalam/luar daerah dalam rangka

bimbingan ketentuan/kebijakan penanaman modal.

Pelaksanaan :

Yang dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah:

a. Mengikutsertakan 50 orang aparatur bidang penanaman modal dalam

kegiatan bimbingan ketentuan/kebijakan penanaman modal dari 50

orang direncanakan atau 100% dari yang direncanakan.

b. Mengikutsertakan 31 orang aparatur bidang penanaman modal dalam

kegiatan kursus-kursus singkat untuk mendukung tugas di bidang

penanaman modal dari 30 orang direncanakan atau mencapai 105%.

c. Keikutsertaan aparatur dalam training/seminar di luar negeri.

Kerjasama dengan Pemerintah China dalam "Human Resource

development Cooperation Program" dengan mengirimkan staf senior

Badan Investasi dan Promosi Aceh ke China untuk mengikuti seminar

“2015 Seminar on Infrastructure Planning for Eurasia Countries”.

Kegiatan Peningkatan Promosi, Kerjasama Investasi dan Pengembangan

Potensi Unggulan Daerah yang dilaksanakan dalam kegiatan

proyek-proyek investasi yang siap dikerjasamakan tercakup dalam 3 (tiga) sektor

utama (Agro Industry, Infrastruktur & Energi dan Pariwisata) sebagai

berikut :

(31)

1) Agro Industry

a. Tanaman Pangan - Proyek Industri Pengolahan Padi di Kab.

Pidie - Proyek Industri Pengolahan Jagung di Kab. Aceh

Selatan - Proyek Hortikultura di Lineung Buleun, Kab. Bener

Meriah - Proyek Pengembangan Komoditi Kentang di Kab.

Bener Meriah.

b. Perkebunan - Industri Pengolahan CPO di Aceh Tamiang,

Aceh Utara, - Industri Pengolahan Minyak Makan (sawit) di

Aceh Barat & Aceh Tamiang - Industri Pengolahan Kopi

Instan di Aceh Tengah - Industri Pengolahan Virgin Coconut

Oil (VCO) di Aceh Besar - Industri Pengolahan Minyak

Nilam di Aceh Jaya - Industri Pengolahan Serai Wangi di

Gayo Lues.

c. Proyek Pengembangan Industri Daging Sapi di Aceh Besar,

Pidie, Bener Meriah, Aceh Tengah dan Nagan Raya.

d. Perikanan - Pengembangan Industri Perikanan di Pelabuhan

Ikan Lampulo di Kota Banda Aceh, Pelabuhan Ikan Idi di

Kab. Aceh Timur, Pelabuhan Ikan Sawang Ba'U di Aceh

Selatan, dan Pelabuhan Ikan Simeulue - Proyek Akuakultur

dan Budidaya Rumput Laut di Kab. Simeulue.

2) Infrastruktur dan Energi

a. Infrastruktur - Banda Aceh Urban Railway - Proyek

Pengembangan Pelabuhan Krueng Geukueh di Kab. Aceh

Utara dan Pelabuhan Kuala Langsa di Kota Langsa.

b. Energi - Proyek Geothermal di 8 (delapan) titik berlokasi di

Sabang, Aceh Besar, Pidie, Bener Meriah, Aceh Tengah,

Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Gayo Lues.

c. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan total

kapasitas 3.894 MW di 10 (sepuluh) titik di Aceh Utara,Gayo

Lues, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Selatan, Nagan

Raya, Aceh Barat, Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Aceh

Jaya.

3) Pariwisata

a. Proyek Pengembangan Pariwisata Banda Aceh - Krueng Aceh

River Walk - Kawasan Pantai Ulee Lheu - Pusat Edukasi

Madani.

b. Proyek Pengembangan Pariwisata Simeulue - Diving Center -

Surfing Center.

(32)

Selain focus terhadap 3 (tiga) proyek utama promosi investasi Aceh pada

tahun 2015 terdapat pula kegiatan :

1) Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas Sabang - Sabang

International Water Front - Cruise Passenger Terminal - Yacht

Marina & Fasilitas Pendukung - Diving Center - Kawasan Industri

Balohan - Sektor Perikanan.

2) Pengembangan Kawasan Industri Ladong, Aceh Besar & Kawasan

Industri Lhokseumawe.

Kegiatan-Kegiatan Promosi Investasi :

1) Business Leader Forum (BLF) di Sari San Pacific Hotel, Jakarta pada

21 Mei 2015, terdiri dari kegiatan Forum Bisnis dan Pameran Mini

peluang investasi sektor unggulan. Sekitar 200 peserta menghadiri

event ini, diantaranya duta besar dan perwakilan dari negara sahabat,

para CEO perusahaan dalam dan luar negeri, dan asosiasi usaha

dalam & luar negeri.

2) Sabang Fair di Arena Sabang Fair dari 31 Mei s.d 08 Juni 2015. Stand

BIP menampilkan penyajian informasi peluang investasi kepada

pengunjung pameran berupa buku Aceh Investment Profile dan

leaflet.

3) Workshop Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Kawasan

Sabang pada 27-28 Agustus 2015 di Aula Pemkot Sabang.

4) IMEU (Indonesia Middle East Update). Famillirizatiom Trip

(Famtrip) delegasi duta besar dan perwakilan negara Timur Tengah

dan Pemaparan Potensi Investasi Aceh pada 7 Agustus 2015.

Kegiatan puncak IMEU berlangsung di Hermes Palace Hotel, Banda

Aceh pada 18-19 Oktober 2015. Kegiatan ini mencakup

one-on-one/table top meeting pengusaha Timur Tengah dengan para

pengusaha Aceh dan Pameran Gelar Potensi Investasi Daerah oleh

Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Pengusaha Kopi.

5) Forum Bisnis Invest Penang. Kegiatan ini merupakan salah satu

kegiatan tahunan promosi luar negeri, kegiatan ini bertujuan

memberikan informasi potensi Aceh dan diharapkan dapat membantu

meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah melalui

proyek-proyek investasi yang siap dikerjasamakan.

6) Pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) di Lhong Raya, Aceh Besar

pada . BIP menampilkan video profil investasi di Aceh dan penyajian

informasi berupa buku Aceh Investment Profile dan leaflet.

7) Pendampingan Tim Specialty Coffee Associaltion of Europe (SCAE)

ke Bener Meriah dan Aceh Tengah pada 15-23 November 2015.

(33)

Kegiatan meliputi Coffee Stakeholder Meeting dan kunjungan ke

perkebunan kopi dan cupping test.

8) Ketersediaan sarana Multi media display electronik berupa video

dalam bentuk CD yang menampilkan potensi komoditi di sektor:

- Hortikultura dan tanaman pangan, yaitu: kubis & sayur mayur

(Aceh Besar, Bener Meriah & Aceh Tengah), padi (Pidie Jaya &

Aceh Utara), jagung (Aceh Tenggara & Aceh Selatan), kedelai

(Bireuen & Aceh Utara), kacang tanah (Aceh Besar & Aceh

Selatan), cabai dan bawang (Pidie & Pidie Jaya).

- Perkebunan, yaitu: karet (Aceh Timur), kelapa (Aceh Timur &

Aceh Utara), Tebu (Bener Meriah & Aceh Tengah), Nilam (Aceh

Selatan & Aceh Barat Daya) dan Cengkeh (Aceh Besar & Sabang).

CD tersebut didistribusikan dalam kegiatan promosi investasi Aceh

terutama forum bisnis, workshop, seminar dan pameran.

9) Penyusunan 1 judul buku Aceh Investment Profile 2015 dan cetak

buku Aceh Investment Profile 2015 sebanyak 1.490 buah. Buku Aceh

Investment Profile 2015 didistribusikan pada berbagai kegiatan

promosi, yaitu: - Workshop Percepatan Implementasi Pembangunan

Sabang - Business Leader Forum di Jakarta - Indonesia-Middle East

Update (IMEU) di Banda Aceh - Specialty Coffee Association of

Europe (SCAE) - Pameran Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Jakarta -

Penang Fair di Pulau Penang, Malaysia - Pameran Teknologi Tepat

Guna (TTG) - IMT-GT - Calon investor yang berminat untuk

membuka usaha di Aceh - SDM Badan Investasi dan Promosi yang

berminat mendalami peluang/potensi di sektor strategis di Aceh -

Masyarakat Umum.

10) Cetak leaflet We Welcome Yout to Invest in Amazing Aceh dalam

bahasa Indonesia dan Inggris sebanyak 2.000 lembar. Leaflet yang

berisikan intisari potensi/peluang investasi di 23 kab/kota

didistribusikan pada kegiatan promosi termasuk workshop dan

seminar, forum bisnis dan pameran. Selain itu juga diperuntukkan

bagi calon investor terutama investor asing.

Kegiatan Kerjasama G to G :

1) Kerjasama dengan Pemerintah Pulau Penang (Invest Penang)

Beberapa rekomendasi penting dari business matching pada ini adalah:

- Kedua pemerintah sepakat melakukan joint promotion untuk

meningkatkan arus kunjungan pariwisata kedua provinsi.

- Pemerintah Penang dan Pemerintah Aceh sepakat membantu

mewujudkan rencana Pemda Sabang untuk pembukaan rute baru

(34)

penerbangan Sabang-Penang. Kedua belah pihak membicarakan

langkah detail untuk mewujudkannya.

- Pemerintah Penang akan melakukan pembahasan dengan maskapai

penerbangan Firefly dan Malindo untuk maksud ini. Apindo

bersama pemerintah Aceh dalam waktu dekat akan mengadakan

lawatan ke Penang untuk mendetailkan dan merealisasikan

kerjasama bidang pariwisata dan pemerintah penang akan

memfasilitasi pertemuan dengan pemerintah dan pengusaha disana.

- Terdapat kesepakatan antara pengusaha Aceh-Penang untuk

melakukan trading bidang agro (kopi).

- Pembahasan untuk investasi dibidang pengolahan coklat di

Kawasan Industri Ladong Aceh Besar.

- Kapal kargo kayu dari Krueng Geukuh direncanakan akan

melayari rute Krueng Geukuh-Penang.

- Kerjasama pemasaran ekspor produk halal.

2) Kerjasama Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle

(IMT-GT)

Penguatan konektivitas terutama konektivitas udara menjadi isu

penting untuk mendorong tumbuhnya perekonomian di kawasan

strategis Aceh. Hasil KTT IMT-GT ke-9 di Langkawi, Kedah

Malaysia yang dilaksanakan pada 28 April 2015 melahirkan beberapa

hasil penting:

- Konektivitas udara: Phuket/Krabi/Langkawi/Sabang.

- Konektivitas maritim Ranong-Phuket-Sabang/Malahayati dan

Krueng Geukueh – Penang/Port Klang.

- Potential

Reverse

Investment;

trading

produk

pertanian/hortikultura, trading produk perikanan, pendirian pabrik

pakan ternak, pendirian Malaysia Agrobazaar (produk makanan

dan minuman dari Malaysia) di Banda Aceh. Terkait agro bazaar,

NAFASindo melalui NAFASindo Aceh Berjaya telah menyewa 2

(dua) bangunan berlokasi di Punge, Banda Aceh. Sarana seperti

rak produk makanan dan minuman telah tersedia.

Dalam kerjasama Potential reverse Investment, kendala yang dihadapi

oleh eksportir lokal untuk ekspor komoditi pertanian diantaranya

kentang, jahe dan kelapa yaitu: harga jual dengan harga beli di tingkat

petani tidak sesuai, ongkos angkut (kapal), sewa alat bongkar muat di

Pelabuhan Krueng Geukeh mahal dan kontinuitas komoditi unggulan

untuk diekspor ke Port Klang Malaysia masih belum maksimal. harus

ada pembinaan/kemitraan antara petani dengan eksportir melalui

Figur

Memperbarui...

Related subjects :