35 3.1 Sejarah PT. Pertamina (Persero)
PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT PERMINA. Pada tahun 1961 perusahaan ini berganti nama menjadi PN PERMINA dan setelah merger dengan PN PERTAMIN di tahun 1968 namanya berubah menjadi PN PERTAMINA. Dengan bergulirnya Undang - Undang No. 8 Tahun 1971 sebutan perusahaan menjadi PERTAMINA. Sebutan ini tetap dipakai setelah PERTAMINA berubah status hukumnya menjadi PT PERTAMINA (PERSERO) pada tanggal 17 September 2003 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2001 pada tanggal 23 November 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
Merger ini dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Soeharto. Merger itu datang dari Prof. Sumantri Brodjonegoro, menteri Pertambangan dan Gas ketika itu. Kepada Soeharto ia mengatakan, “saya berkesimpulan jalan terbaik adalah menggabungkan keduanya (PN Permina dan PN Pertamin menjadi Pertamina), daripada yang satu bergerak dibidang produksi dan yang lain dibidang pemasaran dalam negeri. Dengan jalan ini kita bisa memusatkan tenaga, modal, dan sumber daya yang terbatas. Kekurangan tenaga kerja merupakan faktor yang penting. Saya mempertimbangkan pentingnya persaingan, namun hal tersebut tidak meniadakan pertimbangan lain.”
Pertamina juga menjadi salah satu pemimpin dalam teknologi migas dunia. Di tahun 1974, Pertamina dan Atlantic Richfield Company dan Fluor Corporation dari
Amerika Serikat membangun pabrik Liquid Petroleum Gas (LPG) dilepas pantai pulau Jawa. Pabrik yang berkapasitas 75000 barrel per hari ini memisahkan propane dan butana gas alam yang dihasilkan oleh lapangan minyak ardjuna, yang terletak pada area kira-kira 90 mil dari sebelah timur laut Jakarta. Tidak hanya modern, tetapi merupakan pabrik pertama didunia yang dilengkapi dengan seluruh fasilitas pemisahan, penyimpanan, dan pengapalan LPG.
Melalui UU No. 8 tahun 1971, Pertamina malah dijadikan satu-satunya badan usaha yang diatur secara khusus melalui suatu Undang-Undang. UU ini ibarat pedang maha sakti dalam oprasional sehari-hari Pertamina.
Pertamina menjadi satu-satunya institusi atau semacam perusahaan yang mempunyai kuasa penuh dalam tataran strategis maupun teknis oprasional pada industri migas di Indonesia. Menurut Undang-Undang ini, Pertamina bukanlah institusi pemerintah dan juga bukan merupakan persero. Pertamina adalah kepanjangan tangan pemerintah dalam pengelolaan migas. Pertamina tidak dibagi atas saham-saham sebagaimana layaknya sebuah persero, melainkan sebagai sebuah lembaga yang manajemennya diatur dan diawasi oleh dewan komisaris Pertamina yang terdiri dari lima orang menteri. Singkat kata Pertamina adalah segalanya dalam industri migas Indonesia.
PT PERTAMINA (PERSERO) didirikan berdasarkan akta Notaris Lenny Janis Ishak, SH No. 20 tanggal 17 September 2003, dan disahkan oleh Menteri Hukum & HAM melalui Surat Keputusan No. C-24025 HT.01.01 pada tanggal 09 Oktober 2003. Pendirian Perusahaan ini dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero), dan Peraturan Pemerintah
No. 45 tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 dan peralihannya berdasarkan PP No.31 Tahun 2003 "TENTANG PENGALIHAN BENTUK PERUSAHAAN PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI NEGARA (PERTAMINA) MENJADI PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO)"
Sesuai akta pendiriannya, maksud dari Perusahaan Perseroan adalah untuk menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun di luar negeri serta kegiatan usaha lai yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi tersebut.
Adapun tujuan dari Perusahaan Perseroan adalah untuk:
1. Mengusahaan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perseroan secara efektif dan efisien.
2. Memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi beserta hasil olahan dan turunanya.
2. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat pendiriannya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negosiasi dan berhasil menjadi milik Perseroan. 3. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas (LNG) dan
4. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam nomer 1,2, dan 3.
3.1.1 Visi, Misi dan Tata Nilai
Visi
Menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia. Misi
Menjalankan usaha inti minyak, gas, serta energi baru dan terbarukan secara terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat.
Tata Nilai
a) Clean (Bersih)
Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.
b) Competitive (Kompetitif)
Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja
c) Confident (Percaya Diri)
Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa
d) Customer Focused (Fokus Pada Pelanggan)
Beorientasi pada kepentingan pelanggan, dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
e) Commercial (Komersial)
Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.
f) Capable (Berkemampuan)
Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan.
Tabel 3.1 Perubahan Nama PT Pertamina Tahun Peristiwa
Desember 1957 PT PERMINA (Perusahaan Minyak Nasional) didirikan.
Tahun 1961 Terdapat 3 perusahaan minyak dan gas milik negara: PN PERMINA (ex PT PERMINA), PN PERTAMIN, dan PN PERMIGAN.
Tahun 1966 PN PERMIGAN dilikuidasi.
Tahun 1968 PN PERMINA & PN PERTAMIN dilebur menjadi PERTAMINA Tahun 1971 Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1971 PN PERTAMINA berubah
menjadi PERTAMINA (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara)
Tahun 2003 Berdasarkan UU MIGAS No. 22 Tahun 2001 PERTAMINA berubah menjadi PT PERTAMINA (PERSERO)
10 Desember 2005
PERTAMINA dengan logo baru dan tagline “Semangat Terbarukan”
3.1.2 Major Campaign Semangat Terbarukan Internal Campaign:
Sosialisasi dan aktivasi:
a. POS Material: Name tag medal, entry gate sticker, banner, mouse pad, poster, t-shirt, jinglet.
b. Lomba foto 24 jam bersama Pertamina. c. Lomba menulis.
Eksternal Campaign: Sosialisasi dan aktivasi:
a. POS Material: Print Ads, Billboard, TVC.
b. Digital: Lomba Foto Cinta Lingkungan, Lomba Cinta Pertamina, Lomba desain kaos.
c. TV Program.
3.1.3 Sejarah Logo
Tidak banyak masyarakat yang tahu mengenai sejarah dari logo kuda laut kembar. Hal ini dimaklumi karena Pertamina didirikan dalam situasi darurat sehingga pencatatan sejarah logo saat itu dianggap tidak penting.
Logo Kuda Laut Kembar tersebut gabungan dan pengembangan dari logo-logo PN Permina dan PN Pertamin, dua perusahaan yang menjadi embrio kelahiran Pertamina. Logo perusahaan sendiri baru muncul ketika PT. Permina berubah statusnya menjadi PN Permina tahun 1961 (berdasarkan PP No. 198 tahun 1961). Logo itu memiliki unsur-unsur yang kira-kira sama dengan logo kuda laut kembar yang sekarang kita kenal. Bedanya, tidak ada bingkai yang berbentuk simetris empat lengkung. Sedangkan logo PT Pertamina (tahun 1961 berbentuk PN berdasarkan PP No. 3 tahun 1961) adalah berbentuk bintang api segi lima warna merah didalam lingkaran berwarna putih.
Penggabungan logo terjadi seiring dengan mergernya PN Permina dan PN Pertamin pada 20 Agustus 1968. Tanggal ini dianggap tanggal kelahiran resmi logo Kuda Laut Kembar yang memiliki sekaligus dua arti simbolik yaitu :
1. Kedaulatan bangsa Indonesia atas sumber daya alam mineral, minyak, dan gas bumi. Hal ini ditandai berdirinya perusahaan milik pribumi sejak tahuin 1945, 1957, 1960, 1961, 1968, dan 1971 yang merupakan tahun-tahun bersejarah dari perkembangan perusahan minyak bumi.
2. Harapan untuk menjadi perusahaan minyak yang lebih kuat, serta mengingat saat itu bisnis minyak di Indonesia sudah harus berhadapan dengan perusahan-perusahaan kaliber dunia yang bertempat di Indonesia maupun rekanan dari luar negeri, maka disatukannnya PN Permina dan PN Pertamin.
Pada tanggal 10 Desember 2005 sebagai bagian dari upaya persaingan bisnis, logo PT Pertamina (persero) kembali mengalami perubahan, yakni berupa huruf “P” yang merupakan representasi dari bentuk panah. Untuk penjelasannya sebagai berikut :
1. Elemen logo dengan bentuk “P” yang secara keseluruhan merupakan representasi dari bentuk panah, dimaksudkan sebagai Pertamina yang bergerak maju dan progresif.
2. Warna-warna yang berani menunjukan langkah besar yang diambil Pertamina dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis, dimana:
a. Biru melambangkan : Handal, dapat dipercaya dan bertanggung jawab. b. Hijau melambangkan : Sumber Daya Energi yang berwawasan
lingkungan.
c. Merah melambangkan : Keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Penelitian dalam skripsi ini merupakan jenis penelitian kualitatif studi kasus. Data Kualitatif dalam buku Prastowo (2010:13), dipahami sebagai data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung. Data dalam penelitian kualitatif bukanlah berdasarkan atas tabel angka-angka hasil pengukuran atau penilaian secara langsung yang mana dianalisis secara statistik. Data kualitatif adalah data yang berupa informasi kenyataan yang terjadi di lapangan. Penelitian kualitatif pada dasarnya merupakan suatu proses penyelidikan yang mirip dengan pekerjaan detektif.
Sedangkan jenis penelitian studi kasus dalam buku Kriyantono (2010:65) adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi atau peristiwa secara sistematis. Penelaah berbagai sumber data ini membutuhkan berbagai macam instrumen pengumpulan data. Karena itu, periset dapat menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipan, dokumentasi-dokumentasi, kuesioner (hasil survei), rekaman, bukti-bukti fisik dan lainnya.
Lalu menurut Mulyana dalam buku Kriyantono (2010: 66) mengenai ciri-ciri dari penelitian studi kasus yakni:
a. Partikularistik. Artinya studi kasus terfokus pada situasi, peristiwa, program atau fenomena tertentu.
b. Deskriptif. Hasil akhir metode ini adalah deskripsi detail dari topik yang diteliti. c. Heuristik. Metode studi kasus membantu khalayak memahami apa yang sedang
diteliti. Interprestasi baru, perspektif baru, makna baru merupakan tujuan dari studi kasus.
d. Induktif. Studi kasus berangkat dari fakta-fakta di lapangan, kemudian menyimpulkan ke dalam tataran konsep atau teori.
Dengan dasar penjelasan di atas, dari buku Kriyantono mengenai jenis penelitian yang penulis pakai yakni jenis penelitian kualitatif studi kasus, maka penulis memiliki beberapa dokumentasi dan kuesioner (hasil survei) dari perusahaan sebagai bagian dari data sekunder penulis dalam program internalisasi brand. Dokumentasi berupa memorandum dan nota sosialisasi program di makassar tahun 2011, serta buku dari
program tersebut yaitu Corporate Brand Book dan Corporate Identity Guidelines. Selain itu, penulis juga memiliki data mengenai job description dari Corporate Secretary dan fungsi Brand Management yang bertujuan untuk menambah pengetahuan penulis guna keperluan analisis. Semua itu penulis lampirkan pada halaman lampiran.
Penelitian kualitatif studi kasus yang berkaitan erat dengan proses, pemahaman, kompleksitas, dan interaksi maka metode pengumpulan data yang dipakai yaitu diantaranya melalui kegiatan wawancara mendalam, observasi lapangan dan data sekunder yang dilakukan oleh penulis kepada para narasumber yang berkaitan yakni beberapa pihak yang bersangkutan dengan PT Pertamina Pusat (Persero).
3.2.1 Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam (intensive/depth interview) adalah teknik pengumpulan data atau informasi dengan cara bertatap muka langsung dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan frekuensi tinggi (berulang-ulang) secara intensif . Selanjutnya, dibedakan antara responden (orang-orang yang akan diwawancarai hanya sekali) dengan informan ((orang-orang yang ingin peneliti ketahui/pahami dan yang akan diwawancarai beberapa kali). Karena itu, wawancara mendalam disebut juga wawancara intensif (intensive-interview). (Ardianto, 2010:178). Wawancara juga merupakan salah satu cara untuk mengetahui bagaimana persepsi responden tentang dunia secara nyata. Dalam melakukan kegiatan wawancara ini, penting untuk mencari beberapa informan atau narasumber yang memang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas dan mempunyai pengetahuan mengenai informasi-informasi yang dibutuhkan utnuk keperluan penelitian. Kegiatan ini penulis
lakukan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan penulis yakni strategi Branding, pemahaman internal branding dan kegiatan sosialisasi penunjangnya yang terkait dengan proses pemahaman internal branding perusahaan.
Kegiatan wawancara yang dilakukan penulis yakni dengan melakukan pembicaraan informal dan dalam melakukan kegiatan tersebut penulis memilih beberapa pihak untuk diwawancara. Dalam hal pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik nonprobabilitas yakni sampling purposif (Purposive sampling), di mana teknik ini mencakup pengambilan data sampel atau narasumber yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat periset berdasarkan tujuan riset. Pihak-pihak yang diwawancara diantaranya dari pihak Corporate Communication yaitu pada fungsi Brand Management yakni kepada Senior Analyst Brand Strategy Management, Media Internal yakni kepada Media Relations Officer dan Internal Communication yakni kepada Manager Internal Communication. Dan beberapa karyawan internal perusahaan dari fungsi lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan hasil tentang peningkatan pemahaman setelah sosialisasi mengenai internal branding.
Alasan mengapa penulis memilih beberapa pihak tersebut di atas adalah karena:
1. Fungsi Brand Management kepada Senior Analyst Brand Strategy dipilih karena sebagai informan utama yang membuat strategi brand baik secara internal maupun eksternal dan sangat memungkinkan untuk mendapatkan informasi yang kompleks mengenai kegiatan-kegiatan pencitraan perusahaan dan tujuan-tujuannya. Untuk hal ini yang wawancara meilputi kegiatan dan strategi apa yang
dipakai untuk menjalankan program sosialisasi untuk kepentingan internal branding.
2. Fungsi Internal Communication kepada Internal Relation Officer dipilih karena fungsi ini yang memiliki beberapa rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan internal perusahaan dan memungkinkan dalam programnya ada yang berkaitan dengan penelitian yang sedang penulis lakukan.
3. Fungsi Media Pertamina kepada Media (Internal) Relations Officer dipilih karena penyebaran informasi atau yang disebut juga sebagai proses publikasi pada internal perusahaan dilakukan oleh fungsi ini. Termasuk pada penyebaran informasi mengenai segala macam bentuk brand perusahaan seperti misalnya tagline dan logo beserta makna terbaru perusahaan, dan sebagainya. Pada fungsi ini, terbagi atas dua media yaitu media tv dan media cetak yang disediakan dalam dua bentuk yakni media pertamina (mingguan) dan warta pertamina (bulanan).
4. Staff dari fungsi lainnya atau karyawan sebagai penerima manfaat dari sosialisasi dipilih karena mereka adalah informan yang merasakan dampak dari soaialisasi yang dibuat oleh pihak perusahaan. Dengan mewawancara mereka, penulis bisa terbantu untuk mengetahui apakah program sosialisasi untuk kepentingan internal branding sudah dapat meningkatkan pemahaman karyawan atau belum.
3.2.2 Observasi Lapangan
Observasi merupakan suatu kegiatan yang di mana penulis langsung melakukan kegiatannya di tempat penelitian yang dituju dalam hal ini yaitu PT Pertamina Pusat.
Melalui kegiatan observasi ini, penulis akan mengamati dengan cara berinteraksi langsung serta menganalisis strategi-strateginya.
Menurut Kriyantono dalam buku Ardianto (2010: 179), observasi lapangan atau pengamatan lapangan (field observation) adalah kegiatan yang setiap saat dilakukan, dengan kelengkapan pancaindra yang dimiliki. Selain dnegan membaca koran, mendengarkan radio, menonton televisi atau berbicara dengan orang lain, kegiatan observasi (lapangan, Pen.) merupakan salah satu kegiatan untuk memahami lingkungan.
Kegiatan observasi berguna untuk mengetahui dan melihat langsung segala proses yang dilakukan oleh pihak-pihak public relations (corporate communications) PT Pertamina Pusat dalam meningkatkan pemahaman internal branding melalui strategi-strateginya guna menciptakan loyalitas karyawan pada perusahaan sehingga pencitraan pada brand perusahaan semakin baik di dalam dan tentunya akan berpengaruh terhadap pencitraan brand serta pemasarannya keluar.
Observasi dilakukan dengan mengamati kegiatan rutin yang dilakukan oleh public relations (corporate communication) perusahaan. Selain itu, penulis juga melihat bagaimana komunikasi internal yang terjalin diperusahaan. Kedua pengamatan itu penulis lakukan guna untuk mengetahui bagaimana strategi-strategi untuk menjalankan sosialisasi agar terjadi pemahaman internal branding yang lebih baik pada perusahaan.
Jenjang waktu yang dijalankan penulis selama pelaksanaan observasi guna untuk mencari informasi-informasi yang diperlukan untuk melakukan penelitian yakni 3 (tiga) bulan lamanya atau kurang lebih 63 hari dengan jam kerja senin sampai dengan jum’at dari pukul 7 (tujuh) pagi sampai dengan 4 (empat) sore. Serta tanggal penulis melakukan observasi yaitu dari tanggal 1 Maret sampai dengan 31 Mei 2012. Penulis melakukan
observasi yang disertai kegiatan magang dibagian Brand Management yang di mana bagian tersebut berada di bawah naungan fungsi Corporate Communication.
3.2.3 Data Sekunder
Data penelitian naturalistik diperoleh dari sumber bukan manusia, diantaranya dokumen dan bahan statistik. Dokumen terdiri atas tulisan pribadi, seperti buku harian, surat-surat, dan dokumen resmi (Ardianto, 2010: 185).
Dengan menggunakan dokumen-dokumen yang telah ada, penulis mendapatkan tambahan informasi mengenai kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh pihak public relations (corporate communication) PT Pertamina Pusat mengenai upaya dalam internal branding yakni melalui program sosialisasi di Makassar pada tahun 2011 lalu. Setelah itu penulis melakukan pengamatan lebih lanjut dengan menggunakan wawancara untuk mendapatkan pengetahuan apakah program tersebut berhasil membuat mereka (karyawan) paham pada brand perusahaan.
Data kuantitatif yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian kualitatif adalah data statistik yang biasanya dimiliki oleh setiap lembaga, perusahaan atau organisasi. Misalnya tiap sekolah mempunyai data statistik berkenaan dengan jumlah guru, murid, tenaga administratif, menurut jenis kelamin, latar belakang pendidikan, usia, dan sebagainya. Bila dianalisis, data ini dapat memberikan informasi deskriptif (Ardianto, 2010: 186)
Pada penelitian ini Penulis mendapatkan data statistik mengenai hasil program sosialisasi dari upaya internalisasi brand yaitu berupa hasil dari pengisian kuesioner
mengenai pengetahuan dan pemahaman akan Corporate Brand Book dan Corporate Brand Guidelines.
3.2.4 Triangulasi
Menurut Sugiyono dalam buku Prastowo (2010: 289) bahwa Teknik triangulasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.
Penulis menggunakan teknik triangulasi sumber yakni teknik pengumpulan data di mana peneliti menggunakan teknik yang sama untuk mendapatkan data dari bermacam-macam sumber data (Prastowo, 2010:293)
Sumber data yang digunakan penulis yaitu berasal dari hasil wawancara, observasi dan data sekunder. Hal ini dilakukan untuk memperkuat hasil penelitian penulis akan program sosialisasi dalam upaya internalisasi brand di PT Pertamina Pusat (Persero).
3.3 Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini, teknik-teknik analisis data yang dipakai penulis adalah model Miles dan Huberman yang dimana terdapat tiga jenis kegiatan dalam analisis data yaitu:
1. Reduksi. Reduksi bukan sesuatu yang terpisah dari analisis. Ia merupakan bagian dari analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang, menyusun data dalam suatu cara di mana kesimpulan akhir dapat digambarkan. Reduksi data terjadi secara berkelanjutan hingga laporan akhir. Bahkan sebelum data secara actual belum dikumpulkan, reduksi data antisipasi terjadi sebagaimana diputuskan
oleh peneliti (sering tanpa kesadaran penuh). Sebagaimana pengumpulan data berproses, terdapat beberapa bagian selanjutnya dari reduksi data (membuat rangkuman, membuat tema-tema, membuat gugus-gugus, membuat pemisahan-pemisahan, menulis memo-memo).
2. Model data (data display). Kita mendefinisakan model sebagai suatu kumpulan informasi yang tersusun yang membolehkan pendeskripsian kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk yang paling sering dari model data kualitatif selama ini adalah teks naratif.
3. Penarikan/Verifikasi kesimpulan. Dari permulaan pengumpulan data, peneliti kualitatif mulai memutuskan apakah makna sesuatu, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi-proposisi. (Ardianto, 2010)
3.4 Permasalahan yang ada
Permasalahan yang ada adalah bahwa PT Pertamina merupakan perusahaan besar yang tentu saja dikenal masyarakat Indonesia dan mereka tahu bagaimana eksistensinya di pasar minyak dan gas bumi. Kebutuhan akan segala macam bentuk bahan bakar, mulai dari gas dan minyak seperti bahan bakar bensin dan oli menjadi kebutuhan yang high demand. PT Pertamina dulu adalah perusahaan yang dapat melakukan regulasi pasar pada segmen bahan bakar minyak, dalam hal ini yaitu bensin. Di Indonesia hanya terdapat SPBU dari PT Pertamina saja, tidak ada saingan atau kompetitor. Lalu semenjak dikeluarkannya UU Nomor 22 tahun 2001 yang menerangkan bahwa Pertamina tak lagi menjadi satu-satunya lembaga yang mengenai perminyakan dan gas
di Indonesia. Dari kalimat yang terdapat dalam UU tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa PT Pertamina tidak lagi perusahaan yang mengelola bensin secara tunggal dan membawahi segala bentuk brand lain. Akan tetapi, kedudukan brand PT Pertamina disamakan dengan brand dari perusahaan lain. Semua bentuk perusahaan perminyakan yang berada di Indonesia dibawahi oleh BP Migas. Serta tak dapat dipungkiri bahwa dengan keluarnya UU tersebut, dirasa sebagai angin segar oleh para kompetitor PT Pertamina yaitu Shell, Petronas, Total, dan lain sebagaimya. Hal ini membuat PT Pertamina semakin mengembangkan dirinya untuk mampu bersaing dengan para kompetitor asing tersebut.
Oleh karena itu, perusahaan sejenis BUMN seperti PT Pertamina agar tetap dapat bertahan harus mampu memperoleh loyalitas dari para pembeli atau masyarakatnya. Salah satu cara untuk meningkatkan dan mempertahankan loyalitas di luar atau di masyarakat, hal yang terlebih dahulu dilakukan adalah pencitraan dari perusahaan itu sendiri di internal perusahaan. Hal-hal seperti internal branding misalnya yang seringkali luput dari perhatian para pejabat di PT Pertamina. Padahal hal ini sangat penting dilakukan untuk membangun identitas perusahaan dan jati diri perusahaan. Terlebih PT Pertamina mengalami pergantian tagline yaitu “semangat terbarukan” pada 20 Mei 2011 lalu. Hal ini perlu disosialisasikan kepada orang-orang di internal perusahaan sebagai anggota organisasi atau karyawan yang nantinya berhadapan langsung dengan pembeli, mereka dituntut untuk bersikap on brand karena mereka merupakan garda depan atau cerminan perusahaan yang dirasakan langsung oleh konsumen. Apabila karyawan perusahaan mengerti mengenai segala hal yang berkaitan
dengan perusahaan, maka kegiatan pemasaran dan pencitraan perusahaan akan lebih baik lagi.
Oleh karena permasalahan-permasalahan seperti yang telah disebutkan di atas maka tentu dibutuhkan kerja keras bagi fungsi Brand Management sebagai bagian dari public relations atau yang disebut Corporate Communication di PT Pertamina Pusat (Persero) yang didukung dengan bantuan dari fungsi lainnya dalam meningkatkan pemahaman internal branding perusahaan pada karyawan melalui beberapa usaha sosialisasi yang diadakan perusahaan.
3.5 Alternatif pemecahan masalah
Dari masalah yang telah diuraikan di atas, penulis merumuskan beberapa alternatif pemecahan masalah. Dimana alternatif pemecahan masalah tersebut diasumsikan penulis dapat menjadi solusi guna mengembangkan strategi branding dalam meningkatkan pemahaman akan internal branding melalui program sosialisasi-sosialisasi yang telah rutin dilakukan hingga saat ini. Adapun alternatif pemecahan masalah diantaranya adalah:
1. Public relations atau yang disebut sebagai corporate communication di PT Pertamina dapat memanfaatkan kegiatan dari media internal perusahaan untuk melancarkan program sosialisasi dalam hal publisitas. 2. Dari rangkaian kegiatan internal communication yang tersedia, akan lebih
efektif apabila rangkaian kegiatan tersebut disinergikan dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh fungsi brand management.
3. Program sosialisasi tatap muka di Makassar tahun 2011 dalam upaya melakukan internalisasi brand melalui corporate brand book dan corporate identity guidelines ini memiliki kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman internal branding pada pekerja setelah mengikuti program sosialisasi. Akan tetapi, data pertanyaan pada kuesioner tidak meminta pekerja untuk menjelaskan sedikit apa yang mereka pahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan makna dari segala bentuk brand Pertamina. Hal itu perlu dilakukan agar tujuan tercapai dan untuk mengetahui secara pasti bahwa program tersebut berjalan dan memperoleh hasil yang diharapkan atau tidak.