• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penggerak belajar. Kekuatan penggerak tersebut berasal dari berbagai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penggerak belajar. Kekuatan penggerak tersebut berasal dari berbagai"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Motivasi Belajar

a. Pengertian

Pada diri mahasiswa terdapat kekuatan mental yang menjadi penggerak belajar. Kekuatan penggerak tersebut berasal dari berbagai sumber. Mahasiswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita- cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebut kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi belajar. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar (Dimyati dan Mujiono, 2006). Motivasi sebagai kebutuhan atau keinginan yang berfungsi untuk memberi energi terhadap perilaku untuk mengarahkan ke arah tujuan (Rehman dan Haider, 2013).

Motivasi belajar adalah proses psikologis internal yang menyebabkan pelajar individu untuk memahami tujuan kegiatan pembelajaran (insentif), dan secara spontan mempertahankan aktivitas (kebutuhan, sehingga dapat membimbing kegiatan menuju tujuan yang

(2)

telah ditetapkan, sehingga dapat memuaskan tujuan belajar (prestasi) (Lee, 2010).

Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu (1) kebutuhan, (2) dorongan, dan (3) tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang dimiliki dan yang diharapkan. Sebagai ilustrasi, mahasiswa merasa bahwa hasil belajarnya rendah, padahal telah memiliki buku pelajaran yang lengkap. Mahasiswa merasa memiliki cukup waktu, tapi kurang baik mengatur waktu belajar. Waktu belajar yang digunakannya tidak memadai untuk memperoleh hasil belajar yang baik, sementara mahasiswa membutuhkan hasil belajar yang baik. Oleh karena itu mahasiswa mengubah cara-cara belajamya. Dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan. Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan inti motivasi. Tujuan tersebut mengarahkan perilaku dalam hal ini perilaku belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2006).

b. Jenis-Jenis Motivasi Belajar

Prayitno (2009) menyatakan bahwa secara umum motivasi dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut :

(3)

1) Motivasi Instrinsik

Motivasi intrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan oleh faktor pendorong dari dalam diri (internal) individu. Tingkah laku individu itu terjadi tanpa dipengaruhi oleh faktor- faktor dari lingkungan. Tetapi individu bertingkah laku karena mendapatkan energi dan pengaruh tingkah laku dari dalam dirinya sendiri yang tidak bisa dilihat dari luar.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsik adalah dorongan dari dalam individu, dimana dorongan tersebut menggerakkan individu atau subyek untuk memenuhi kebutuhan,tanpa perlu dorongan dari luar.

2) Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik sebagai motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi ekstrinsik dapat dikatakan lebih banyak dikarenakan pengaruh dari luar yang relatif berubah-ubah. Motivasi ekstrinsik dapat juga di katakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar di mulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang bermotivasi ekstrinsik melakukan sesuatu kegiatan bukan karena ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan pujian, hadiah dan sebagainya.

(4)

c. Ciri-ciri Motivasi Belajar

Motivasi yang ada pada diri siswa sangat penting dalam kegiatan belajar. Ada tidaknya motivasi seseorang individu untuk belajar sangat berpengaruh dalam proses aktivitas belajar itu sendiri. Seperti dikemukakan oleh Sardiman (2010) motivasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).

2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapai).

3) Mewujudkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang dewasa. (misalnya masalah pembangunan, agama, politik, ekonomi, keadilan, pemberantasan korupsi, penentangan terhadap setiap tindak kriminal, amoral dan sebagainya).

4) Lebih senang bekerja mandiri

5) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif). 6) Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan

sesuatu)

7) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu 8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal

(5)

Apabila ciri-ciri tersebut terdapat pada seorang siswa berarti siswa tersebut memiliki motivasi belajar yang cukup kuat yang dibutuhkan dalam aktifitas belajarnya. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam belajar akan menunjukkan hal-hal sebagai berikut: keinginan mendalami materi, ketekunan dalam mengerjakan tugas, keinginan berprestasi dan keinginan untuk maju (Sardiman, 2010).

d. Aspek-Aspek Motivasi Belajar

Terdapat dua aspek dalam teori motivasi belajar yang dikemukakan oleh Santrock (2007), yaitu:

1) Motivasi ekstrinsik, yaitu melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid belajar keras dalam menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. Terdapat dua kegunaan dari hadiah, yaitu sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas, dimana tujuannya adalah mengontrol perilaku siswa, dan mengandung informasi tentang penguasaan keahlian.

2) Motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu. Murid termotivasi untuk belajar saat mereka diberi pilihan, senang menghadapi tantangan yang sesuai dengan

(6)

kemampuan mereka, dan mendapat imbalan yang mengandung nilai informasional tetapi bukan dipakai untuk kontrol, misalnya guru memberikan pujian kepada siswa. Terdapat dua jenis motivasi intrinsik, yaitu:

a) Motivasi intrinsik berdasarkan determinasi diri dan pilihan personal. Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Minat intrinsik siswa akan meningkat jika mereka mempunyai pilihan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka. b) Motivasi intrinsik berdasarkan pengalaman optimal. Pengalaman

optimal kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas serta terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu mudah.

e. Fungsi Motivasi Belajar

Dampak dari motivasi belajar siswa dalam pendidikan itu penting. Tanpa adanya motivasi belajar maka tidak akan tercapai prestasi belajar. Jadi dalam pendidikan peran motivasi belajar siswa efektif. Karena motivasi belajar, maka siswa dapat melakukan tugas apapun dan mencapai tujuan. Motivasi seseorang dapat meningkatkan kecepatan kerja dan melakukan segalanya untuk mencapai tujuan. Motivasi meningkatkan kinerja pembelajaran. Hal tersebut memberikan energi

(7)

bagi siswa untuk mencapai tugas karena motivasi dapat memberikan arah bagi siswa sehingga kinerjanya dapat meningkat (Rehman dan Haider, 2013).

Motivasi dalam belajar sangat penting artinya untuk mencapai tujuan proses belajar mengajar yang diharapkan, sehingga motivasi siswa dalam belajar perlu dibangun. Menurut Nasution (2014) motivasi memiliki tiga fungsi yaitu: 1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak motor yang melepas energi. 2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai dan 3) Menyeleksi perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Seseorang melakukan sesuatu usaha karena adanya motivasi. Motivasi yang lebih baik dalam beajar akan menunjukkan hasil yang baik, dengan kata lain bahwa dengan usaha yang tekun yang didasari adanya motivasi, akan dapat melahirkan prestasi yang baik. McClelland dan Atkinson dalam Nasution (2014) mengemukakan bahwa motivasi yang paling penting untuk psikologis pendidikan adalah motivasi berprestasi, dimana seseorang cenderung untuk berjuang mencapai sukses atau memilih kegiatan yang berorientasi untuk tujuan sukses atau gagal. Intensitas motivasi siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar siswa tersebut.

(8)

f. Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar

Motivasi belajar merupakan suatu dorongan pada diri mahasiswa baik secara intrinsik maupun secara ekstrinsik yang dapat menimbulkan kegiatan untuk belajar lebih efektif. Makin tinggi motivasi belajar yang dimiliki mahasiswa, makin besar pula usaha yang dilakukan mahasiswa untuk mencapai hasil belajar yang tinggi (Upoyo dan Sumarwati, 2011).

Motivasi belajar mahasiswa dapat dipengaruhi dari dua faktor yaitu internal dan eksternal. Faktor dari dalam diri mahasiswa antara lain adalah minatnya terhadap bidang ilmu yang dipelajari serta orientasinya dalam mengikuti pendidikan tinggi. Sedangkan faktor- faktor yang ada di dalam lingkungan belajarnya adalah kualitas dosen, bobot materi kuliah, metode perkuliahan, kondisi dan suasana ruang kuliah, serta fasilitas perpustakan (Pujadi, 2007).

Suryabrata (2006), menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain: a) Faktor Eksternal - Faktor dari luar individu yang terbagi menjadi dua: faktor sosial meliputi faktor manusia lain baik hadir secara langsung atau tidak langsung dan faktor non sosial meliputi keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu, tempat belajar, dan lain-lain. b) Faktor Internal - Faktor dari dalam diri individu yang terbagi menjadi dua: faktor fisiologis meliputi keadaan jasmani dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis dan faktor psikologis meliputi minat, kecerdasan, dan persepsi.

(9)

Menurut Sardiman (2010), ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, antara lain: 1) Memberi angka, yang merupakan simbol dari kegiatan belajar,

banyak siswa yang belajar hanya untuk mendapatkan angka/nilai yang baik. Biasanya siswa yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai dalam raport.

2) Hadiah, hadiah juga dapat digunakan sebagai motivasi, tetapi tidak selalu demikian. Karena hadiah untuk pekerjaan mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat dalam pekerjaan tersebut.

3) Saingan/kompetisi, persaingan dapat juga digunakan sebagai motivasi, baik persaingan individual atau persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

4) Keterlibatan diri, keterlibatan diri ini menumbuhkan kesadaran pada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga kerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang sangat penting. 5) Memberi ulangan, para siswa akan giat belajar apabila mengetahui

akan adanya ulangan

6) Mengetahui hasil, dengan mengetahui hasil apalagi terjadi kemajuan akan mendorong siswa untuk giat belajar.

7) Pujian, sebagai hadiah yang positif yang sekaligus memberikan motivasi yang baik

(10)

8) Hukuman, sebagai hadiah yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.

9) Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar

10) Minat, motivasi muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan motivasi yang pokok, proses belajar itu akan berjalan lancar apabila disertai dengan minat.

11) Tujuan yang diakui, rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.

2. Kemampuan Awal

a. Pengertian

Astuti (2015) menyatakan bahwa kemampuan adalah

kesanggupan, kecakapan, kakuatan kita berusaha dengan diri sendiri. Sedangkan Anggiat dan Hadiati (2010) mendefenisikan kemampuan sebagai suatu dasar seseorang yang dengan sendirinya berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan secara efektif atau sangat berhasil. Kemampuan awal adalah sekumpulan pengetahuan dan pengalaman individu yang diperoleh sepanjang perjalanan hidup mereka, dan apa yang ia bawa kepada suatu pengalaman belajar baru (Trianto, 2007).

(11)

Kemampuan awal diperoleh dari siswa pada kelas sebelumnya dan keberhasilan proses belajar dapat diukur dari hasil yang diperoleh siswa, dan beberapa hal yang dianggap penting dalam proses belajar, yaitu pengalaman belajar, proses berfikir, dan adanya perubahan tingkah laku. Orientasi proses belajar harus dapat memberikan kemudahan bagi siswa untuk menumbuh kembangkan sifat positif terhadap pelajaran ilmu pengetahuan sosial secara terpadu. Pembelajaran terpadu meliputi penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap ilmu pengetahuan sosial secara baik dan benar teliti dan cermat dalam berbagai tujuan, maka proses pembelajaran memerlukan sistem yang dapat memberikan berbagai kemudahan bagi siswa, sehingga dapat mengkomunikasikan dengan sumber belajar dengan lingkungan sosial (Riyanto et al., 2010). .

Kemampuan awal peserta didik adalah kemampuan yang telah dipunyai oleh peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal ini menggambarkan kesiapan peserta didik dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Kemampuan awal peserta didik penting untuk diketahui guru sebelum ia memulai dengan pembelajarannya, karena dengan demikian dapat di ketahui apakah peserta didik telah mempunyai pengetahuan yang merupakan prasyarat untuk mengikuti pembelajaran sejauh mana peserta didik telah mengetahui materi apa yang akan disajikan (Astuti, 2015).

(12)

Berdasarkan beberapa definisi kemampuan awal di atas dapat disimpulkan kemampuan awal adalah bekal pengetahuan yang sesuai yang dimiliki peserta didik dengan memahami konsep awal dengan baik dan mendalam, maka peserta didik tidak akan mengalami kesulitan yang berarti untuk mempelajari dan menguasai serta memahami materi pelajaran selanjutnya.

b. Ranah Kemampuan Mahasiswa

Serangkaian faktor yang memberikan kontribusi belajar pada peserta didik adalah kemampuan yang telah dimilikinya sebelum mengikuti kegiatan belajar baru. Sehingga jika dikaitkan dengan kemampuan awal yang dimiliki peserta didik, kemampuan awal merupakan modal dasar bagi seseorang untuk mempelajari materi selanjutnya yang akan dipelajari. Jika kemampuan awal yang dimiliki seseorang itu tinggi maka peserta didik akan mudah mempelajari materi baru yang akan dipelajari, dan dia tidak akan mengalami kesulitan belajar yang berarti sehingga prestasi belajarnya akan lebih maksimal.

Sudjana (2009) menyatakan bahwa kemampuan-kemampuan peserta didik dibagi dalam beberapa ranah yaitu :

1) Ranah Kognitif

Ranah kognitif merupakan kemampuan peserta didik yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis sintesis dan evaluasi.6

(13)

2) Ranah Afektif

Ranah afektif adalah kemampuan peserta didik yang berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku seperti perhatian dalam belajar (menulis dan mendengarkan), disiplin, motivasi belajar menghargai guru, menghargai teman sekelas dan kemampuan bertanya.

3) Ranah Psikomotorik

Kemampuan peserta didik pada tipe psikomotorik ini tampak pada ketrampilan dan kemampuan bertindak individu, yaitu kemampuan bertindak setelah menerima pengalaman belajar tertentu.

Kemampuan awal, diidentifikasikan dengan kecerdasan seseorang akan memiliki kemampuan dengan baik bila sebelumnya telah memiliki kemampuan dan kecerdasan. Hamalik, (2010), mengatakan mengatakan tiap individu merupakan suatu kesatuan yang berbeda antara satu dengan lainnya, misalnya perbedaan individu dalam aspek mental seperti, tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan, emosi dan sebagainya. Kemampuan sebagai pengetahuan dimasa lalu yang merupakan modal awal dan memegang peranan penting untuk memahami pengetahuan juga baru dan berkembang dalam menguasai konsep awal yang dapat menentukan hasil belajar, khususnya hasil belajar ilmu pengetahuan sosial.

(14)

c. Faktor yang mempengaruhi kemampuan mahasiswa

Faktor yang mempegnaruhi kemampuan mahasiswa berasal dari faktor dalam diri dan dari luar. Menurut Sudjana (2009) faktor-faktor tersebut antara lain adalah :

1) Faktor dari dalam diri peserta didik (internal)

Faktor ini sangat berpengaruh karena berhubungan dengan kondisi maupun mental peserta didik. Faktor internal terdiri dari :

a) Faktor jasmaniah meliputi kesehatan dan cacat tubuh

b) Faktor psikologi meliputi inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif kematangan dan kesiapan.

c) Faktor kelelahan

2) Faktor dari luar peserta didik (eksternal)

Banyak faktor dari luar yang mempengaruhi kemampuan peserta didik diantaranya yaitu :

a) Faktor keluarga yang meliputi cara orang tua mendidik relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. b) Faktor sekolah meliputi model pengajaran, kurikulum, relasi

guru dengan peserta didik, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pengajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

(15)

c) Faktor masyarakat terdiri dari kegiatan peserta didik dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, serta bentuk kehidupan masyarakat.

3. Prestasi Belajar

a. Pengertian

Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu (Ahmadi dan Supriyono, 2004). Winkel (2007) berpendapat bahwa belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Belajar tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja, namun dapat dilakukan dimana- mana, seperti di rumah ataupun dilingkungan masyarakat. Irwanto (2007) berpendapat bahwa belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu.

Menurut Hamalik (2010) hasil belajar adalah bila sesorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Prestasi belajar adalah hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar yang diberikan

(16)

berdasarkan atas pengukuran tertentu (Ilyas, 2008). Prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang dianggap penting yang diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta, dan rasa maupun yang berdimensi karsa (Syah, 2006).

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar setelah mengikuti program pembelajaran yang dinyatakan dengan skor atau nilai. Pengukuran akan pencapaian prestasi belajar mahasiswa dalam pendidikan formal telah ditetapkan dalam jangka waktu yang biasa disebut dengan istilah mid semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS), tetapi dalam prestasi belajar diharapkan adalah peningkatan yang dilakukan dalam materi yang diajarkan.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Dalam usaha untuk mencapai prestasi belajar yang optimal dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Dalyono (2009) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu:

1) Faktor Internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri. Terdiri atas: a) Kesehatan

Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar.

(17)

b) Intelegensi dan Bakat

Bila seseorang mempunyai intelegensi tinggi dan bakatnya ada dalam bidang yang dipelajari, maka proses belajarnya akan lancar dan sukses.

c) Minat dan Motivasi

Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Dan kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilannya.

d) Cara Belajar

Cara belajar seseorang juga mempengaruhi pencapaian hasil belajarnya.

2) Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri. Terdiri atas: a) Keluarga (tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya

penghasilan, cukup atau kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua, tenang atau tidaknya situasi dalam rumah).

b) Sekolah (kualitas guru, metode mengajarnya, kesesuaian

kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan

fasilitas/perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, fasilitas, jumlah murid per kelas, pelaksanan tata tertib sekolah, dan sebagainya).

(18)

c) Masyarakat

Lingkungan sekitar (keadaan lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya).

Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor internal dan eksternal. Adapun penjelasannya dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Faktor internal, yang meliputi :

a) Faktor jasmaniah yaitu meliputi kondisi jasmani seperti pada umumnya kesehatan segenap badan beserta bagian-bagian atau bebas dari penyakit dan cacat tubuh yang mengganggu dalam setiap aktivitas belajar.

b) Faktor psikologis yaitu yang tergolong dapat mempengaruhi belajar, meliputi intelegensi, minat, bakat, motivasi, pribadi seseorang, dan daya ingat atau kognitif.

c) Kecerdasan / intelegensi adalah kemampuan seseorang untuk menangkap sesuatu yang baru dan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara tepat dan cepat, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya. Anak yang intelegensinya rendah akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar.

d) Minat adalah suatu gejala psikis yang didalamnya terkandung perasaan senang yang ditunjukkan adanya perhatian terhadap suatu obyek. Semakin besar minat seseorang terhadap suatu obyek maka akan memberikan hasil yang lebih baik.

(19)

e) Bakat yaitu kemampuan khusus yang dimiliki seseorang di bawa sejak lahir. Seseorang akan lebih berhasil bila yang dipelajari sesuai dengan bakat yang ia miliki.

f) Motivasi, semakin besar dorongan yang dimiliki seseorang ia akan semakin berusaha untuk lebih giat dalam mencapai tujuan yang ia inginkan.

g) Sifat pribadi seseorang

Ada orang yang keras hati, penakut ada yang mudah cemas dan ada yang mudah putus asa. Ini sangat mempengaruhi proses dan hasil belajarnya apabila ia belajar.

h) Daya ingat / kognitif

Semakin kuat daya ingat seseorang akan semakin baik dan mudah dalam belajar

i) Faktor kelelahan yaitu kelelahan jasmani dengan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh, dan kelelahan rohani yang dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Anak yang telah lelah akan mencapai hasil yang maksimal. Sedangkan anak berada dalam keadaan segar dan kuat bertenaga akan mendapat peluang yang lebih besar dalam meraih prestasi yang baik.

2) Faktor Eksternal, yang meliputi :

a) Faktor keluarga yang meliputi : cara orang tua mendidik, hubungan antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan ekonomi keluarga.

(20)

Keadaan keluarga dari orang yang belajar baik keadaan ekonomi, hubungan antar anggota dalam keluarga serta perhatian orang tua terhadap masalah belajar anaknya.

b) Faktor sekolah, yang meliputi : metode mengajar yang digunakan, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, hubungan siswa dengan siswa, kedisiplinan sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, keadaan gedung atau kelas dan sarana pendukungnya.

c) Faktor masyarakat, yang meliputi : kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, masa media maupun bentuk kehidupan dalam masyarakat.

Faktor-faktor di atas saling mempengaruhi satu sama lain. Misalnya: Seorang siswa yang conserving terhadap ilmu pengetahuan biasanya cenderung mengambil pendekatan yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya seorang siswa yang memiliki kemampun intelegensi yang tinggi (faktor Iternal) dan mendapat dorongan positif dari orang tua atau gurunya (faktor eksternal) akan lebih memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar. Akibat pengaruh faktor-faktor tersebut di atas muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi, rendah atau gagal sama sekali.

(21)

B. Penelitian terdahulu yang Relevan

1. Agustiana (2010) dengan judul Hubungan minat dan Motivasi Menjadi Perawat dengan Prestasi Belajar Pada Mahasiswa Program Studi D III Keperawatan di Stikes Hutama Abdi Husada Tulung Agung.. Desain yang digunakan deskriptif analitik dengan rancangan korelasional. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi ganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara minat dengan prestasi belajar 0.02), ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan prestasi belajar ( 0,01), dan ada korelasi yang signifikan secara bersama antara minat dan motivasi dengan prestasi belajar, nilai F hitung lebih kecil dari F tabel (12.035 > 3,07).

2. Awan, et al., (2011) melakukan penelitian dengan judul A Study of

Relationship between Achievement Motivation, Self Concept and

Achievement in English and Mathematics at Secondary Level. Sampel

penelitian terdiri dari 336 siswa (146 laki-laki dan 172 perempuan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi prestasi dan konsep diri secara signifikan berhubungan dengan prestasi akademik.

3. Astuti (2015) dengan judul Pengaruh Kemampuan Awal dan Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Fisika. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Teknik analisis data menggunakan teknik regresi dan korelasi ganda. Besar sampel sebanyak 76 peserta didik yang diperoleh dengan teknik Slovin.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kemampuan awal dan minat

(22)

belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar, terdapat pengaruh kemampuan awal terhadap prestasi belajar dan terdapat pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar.

4. Bael et al., (2014) melakukan penelitian dengan judul Exploring Effects

of Intrinsic Motivation and Prior Knowledge on Student Achievements in Game-based Learning . Sampel penelitian sebanyak 140 siswa kelas

empat dari sebuah sekolah dasar di Korea Selatan. Teknik analisis data menggunakan two way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan awal dan motivasi intrinsik mempengaruhi prestasi belajar. Pengetahuan awal siswa dan motivasi intrinsik mempengaruhi satu sama lain; yaitu, kelompok dengan motivasi intrinsik rendah tetapi dengan pengetahuan awal yang lebih tinggi menunjukkan prestasi siswa yang relatif lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa juga harus dipertimbangkan saat merancang dan mengadopsi pembelajaran berbasis permainan dalam rangka untuk melibatkan siswa dengan berbagai tingkat motivasi intrinsik

5. Yulistri, et al., (2013) dengan judul Pengaruh Pembelajaran Kooperatif dan Kemampuan Awal Terhadap Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Al-Qur an Dan Hadits (Kasus suatu penelitian quasi eksperimen pada kelas 8 mata pelajaran Al-Qur an dan Hadits di MTs Negeri Baturaja). Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode quasi eksperimen dan mengggunakan rancangan eksperimen faktorial 2x2. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 8 dengan teknik penentuan sampel

(23)

purposive sampling. Data dianalisis menggunakan menggunakan two way

anova. Hasil penelitian bahwa terdapat pengaruh antara pembelajaran kooperatif terhadap prestasi belajar siswa, terdapat pengaruh kemampuan awal terhadap prestasi belajar siswa dan terdapat interaksi antara pembelajaran dan tingkat kemampuan awal dalam peningkatan prestasi belajar.

6. Nursamiaji dan Kurniawan (2015) dengan judul Hubungan Motivasi Belajar dengan Prestasi Akademik Mahasiswa Bimbingan dan Konseling 2013 Unnes. Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatna kuantitatif. Populasi penelitian adalah mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling angktan 2014 dengan sampel sebanyak 32 mahasiswa dengan teknik random sampling. Analisis data menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara motivasi belajar dengan prestasi akademik mahasiswa.

C. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi, pembatasan masalah dan landasan teoritis dapat diketahui prestasi belajar mahasiswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik itu faktor internal maupun faktor eksternal mahasiswa. Faktor internal diantaranya adalah motivasi mahasiswa, kemampuan awal yang telah dimiliki yaitu prestasi-prestasi belajar sebelumnya, kondisi intelektual dan kondisi psikologis.

(24)

Motivasi Belajar

Motivasi belajar

Salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi hasil belajar dalam penelitian ini adalah motivasi belajar, hal inid sebabkan motivasi buka saja sebagai faktor pendorong mahasiswa untuk belajar tetapi juga sebagai penentu besar kecilnya aktivitas yang akan dilakukan oleh mahasiswa. Kemampuan awal disamping menggambarkan kesiapan mahasiswa menghadapi pembelajaran lebih lanjut dapat juga memberika n informasi mengenai kemampuan intelektual yang menggambarkan tingkat kecerdasan seseorang. Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Faktor internal - Kemampuan awal - Kecerdasan - Motivasi Belajar - Kebiasaan belajar - Kecemasan belajar

- Minat belajar Prestasi belajar

mahasiswa

Faktor Eksternal

- Lingkungan keluarga - Lingkungan sekolah - Lingkungan masyarakat - Keadaan sosial ekonomi

Keterangan

Diteliti Tidak diteliti

(25)

D. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori di atas, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Ada hubungan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Akademi Keperawatan.

2. Ada hubungan kemampuan awal mahasiswa dengan prestasi belajar mahasiswa Akademi Keperawatan.

3. Ada hubungan motivasi belajar dan kemampuan awal mahasiswa dengan prestasi belajar mahasiswa Akademi Keperawatan secara bersama-sama.

Gambar

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

esehatan merupakan aktor penting bagi tubuh kita. Sehat adalah sejahtera jasmani, rohani, dan sosial. Artinya, bukan hanya bebas dari segala penyakit, cacat, ataupun

a) Kesehatan. Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya/bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang

Ciri-ciri dari larva nyamuk adalah memiliki kepala lebih kecil daripada bagian badan dan dada lebih besar daripada bagian tubuh lainnya. 14 Sedangkan larva serangga lain

Patogen adalah bakteri, virus, parasit, atau fungsi yang dapat menyebabkan penyakit di dalam tubuh. Masing-masing patogen terdiri dari beberapa bagian yang biasanya

esehatan merupakan aktor penting bagi tubuh kita. Sehat adalah sejahtera jasmani, rohani, dan sosial. Artinya, bukan hanya bebas dari segala penyakit, cacat,

Cacat tubuh ialah keadaan kurang sempurna dari bagian tubuh manusia baik dari segi bentuk maupun fungsinya. Contohnya seperti cacat panca indra antara lain tuli,

Sungai bagian hilir umumnya lebih lebar, tebingnya curam atau landai, badan air dalam , kekruh, aliran air lambat, dan populasi biota air didalamnya termasuk banyak,

Menurut Depkes RI (2001), penularan penyakit oleh lalat terjadi secara mekanis, dimana bulu-bulu badannya, kaki-kaki serta bagian tubuh yang lain dari lalat merupakan