PEMBELAJAAN PUBLIK SEKTOR
PENDIDIKAN
Oleh:
Renaldi Safriansyah, SE, M.HSc, M.PM Unsyiah
1
Disampaikan pada PELATIHAN ANALISIS BELANJA PUBLIK ,23 – 25 September 2013,
Takengon Aceh Tengah
Prinsip Pen8ng dalam
Pengelolaan Dana Pendidikan
•
Efficiency (Tidak Mubazir)
– Efisiensi Internal dan Efisiensi external
– Pendidikan mes? disediakan oleh penyedia yang dapat menyelenggarakannnya secara efisien
•
Equity (Merata)
– ke?dakmerataan antar provinsi semes?nya menjadi tanggungjawab pemerintah nasional, ke?dakmerataan antar kabupaten menjadi
tanggungjawab pemerintah provinsi. Oleh karena itu ke?dakmerataan (inequity) harus mendasari kebijakan pembiayaan pendidikan.
•
Adequacy (Memadai)
– Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota wajib menyediakan pendidikan secara cukup (adequate) dan merata (equitable) untuk menjamin bahwa wajib belajar dapat dibiayai secara memadai dan ?dak ada anak usia sekolah yang seharusnya bersekolah ?dak bersekolah hanya karena orangtuanya ?dak mampu
2 Sumber: TKPPA, 2010
3
USAID, Buku Pedoman Analisis Keuangan Pendidikan Kabupaten/Kota, 2008
Kewenangan Pem. Aceh mengatur Dana Pendidikan
Pemerintah Aceh mempunyai kewenangan dalam
hal :
a)
Pengelolaan tambahan Dana Bagi Hasil minyak dan gas
bumi (TDBH Migas) yang merupakan pendapatan dalam
APBA untuk pendidikan
b)
Pengelolaan Dana Otonomi Khusus (Dana Otsus) yang
merupakan pendapatan dalam APBA untuk pendidikan
c)
Pengaturan alokasi dana pendidikan antara Pemerintah
Aceh dan pemerintah kabupaten/kota
Pasal 17 ayat 1 Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Pendidikan
4
5 5 DANA OTSUS 100 % Kab/Kota 60% Propinsi 40% Minimal 20 % Sektor Pendidikan 80 % sektor lainnya Qanun No.2/2008 Minimal 20% Sektor Pendidikan Qanun No.5/ 2008 80 % sektor lainnya TDBH MIGAS 100% 30% Sektor Pendidikan Minimum Kab/Kota 60% Maksimum Propinsi 40% UU PA & Qanun No.2/2008 Qanun No.5/ 2008 40% Qanun No. 2/2013 60% Sumber: TKPPA, 2010
Perkembangan Dana Otonomi Khusus & TDBH
Migas Aceh, 2008-‐2013
6 Rp 3.5 T Rp3.7 T Rp3.8T Rp4.5 T Rp5.4 T Rp6.2 T Rp1.5 T Rp748 M Rp1.2 Rp681 M Rp726 Rp1.0 T 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Perkembangan Penerimaan Dana Otsus & TDBH Migas, Aceh
Perencanaan & Penganggaran
TUJUAN:
Ø Menganalisis konsistensi antara perencanaan, penyusunan anggaran, dan pola realisasi belanja;
Ø Menganalisis konsistensi antara perencanaan sektoral dan daerah;
Ø Apakah rencana sektor pendidikan mencerminkan permasalahan dan tantangan aktual yang dihadapi Ø Menganalisis kelebihan dan kekurangan dalam proses
perencanaan dan penyusunan anggaran.
Jenis Analisis
1) Analisis prioritas pembangunan.
2) Keterkaitan antara perencanaan dan penyusunan
anggaran.
3) Prak?k yang baik dalam perencanaan dan
penyusunan anggaran
4) Perencanaan dan penyusunan anggaran
pembangunan secara par?sipa?f.
5) Analisis kerangka peraturan perundang-‐undangan.
6) Sistem kinerja anggaran.
Belanja Pendidikan
9
Ø
Sumber anggaran pendidikan kabupaten
Ø
Gambaran belanja pendidikan di Nngkat
kabupaten.
Ø
Analisis komposisi belanja.
Contoh 1. Gambaran Belanja Pendidikan Kab.
Aceh Tengah
Belanja Pendidikan; trend riil vs nominal 10 91 147 169 237 0 50 100 150 200 250 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Rp M ill ia r (r iil = 2 01 0)
Belanja Pendidikan Aceh Tengah
Contoh 2. Perbandingan Belanja pendidikan dari otsus
provinsi
11 Rp 21 miliar 0 5 10 15 20 25 30 35 Rp m ili arBelanja Pendidikan dari sumber otsus provinsi, tahun 2012
Contoh 3. Komposisi Belanja Pendidikan Aceh
Tengah, Tahun 2013
12
Sumber: Disdik & PECAPP
90% 5%
2% 1% 1% 1%
Komposisi belanja Pendidikan Aceh Tengah, Tahun 2013
Gaji Pegawai Pendidikan Dasar Pendidikan menengah Pelayanan perkantoran Mutu pendidik & tenaga kependidikan Lainnya
Contoh 4. Komposisi Belanja Pendidikan
Berdasarkan jenis Belanja
13 91%
2%
7%
Jenis Belanja Pendidikan Aceh Tengah, 2013
Belanja Pegawai Belanja barang Jasa
Belanja modal
Contoh 5. Dana TDBH Migas Menurut Jenis Belanja 2010 (Provinsi) 76% 13% 1% 8% 2% GP 0% GNP 0% MSI 76% MSP 13% MNS 1% OS 8% ONS 2% 14 20 M ; 2%
Contoh 5. Dana Pendidikan sebagian besar
digunakan untuk Gaji
Porsi Belanja Gaji dari Total Belanja Sektor Pendidikan TA. 2010 Menurut Kab/Kota
64% 83% 92% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Subulussalam Gayo Lues Aceh Singkil Aceh Tenggara Aceh Barat Simeulue Sabang Pidie Jaya Aceh Tamiang Total Rata-‐rata Aceh Timur Aceh Jaya Aceh Utara Nagan Raya Langsa Aceh Tengah Bener Meriah Pidie Aceh Barat Lhokseumawe Aceh Selatan Aceh Besar Bireuen Banda Aceh 15 Sumber: TKPPA, 2010
Contoh 6. Belanja Pendidikan Kab/Kota :
Pemerintah kab/kota mengelola
sebagian besar dana pendidikan
16
Proporsi Sumber Belanja Pendidikan 2010 (Disdik Aceh dan DPKKA)
672 M ; 64% 359 M ; 34% 20 M ; 2% Reguler Otsus TDBH Migas 17 Total : 1.052 M
Contoh 7. TDBH Migas dan Dana Otsus
merupakan sumber utama dana pendidikan
(Provinsi)
Analisis Kinerja Pendidikan
1. Analisis input
18
Ø
Apakah terdapat cukup sekolah di kab. Pidie
Jaya?
Ø
Bagaimana kondisi ruang kelas?
Ø
Apakah buku-‐buku yang tersedia bagi para siswa
telah memadai?
Ø
Apakah jumlah guru yang memenuhi syarat
mencukupi (rasio siswa-‐guru, besarnya kelas),
dsb.?
Contoh 1. Mengukur apakah Aceh Tengah telah
memiliki jumlah sekolah dasar yang memadai.
19 0 2 4 6 8 10 Bebesen Lut Tawar Kebayakan Silih Nara Jagong Jeget Pegasing Bies Celala Bintang Atu Lintang Rusip Antara Kute Panang Ketol Linge
Contoh 2. Mencoba mengukur apakah ketersedian
ruang kelas antar jenjang pendidikan memadai antar
kecamatan
20
Sumber: Disdik Aceh Tengah& PECAPP
11,8 21,8 16,5 14,6 23,3 18,4 18,3 16,8 22,3 12,4 21,6 19,2 24,3 13,5 19,2 30,5 32,6 26,9 18,0 25,5 33,5 18,0 33,1 19,3 26,3 22,7 36,0 51,0 19,5 20,4 0 10 20 30 40 50 60 Linge Jagong Jeget
Atu Lintang Bintang Lut Tawar Kebayakan Pegasing Bies Bebesen Kute Panang
Silih Nara Rusip Antara
Celala Ketol
Rasio Siswa per kelas, Tahun 2012
Contoh 3. Mengukur ?ngkat kompetensi guru dari sisi
kelayakan mengajar.
21 54,5 56,1 65,2 65,5 66,7 72,2 73,6 75,8 76,6 78,0 80,4 82,5 84,9 87,2 88,1 0 20 40 60 80 100Contoh 4. Ketersedian fasilitas penunjang mutu di
?ngkat SMA, Aceh Tengah.
22 66,7 50,0 44,0 41,7 40,0 40,0 34,1 33,3 30,3 26,9 25,0 24,8 22,2 21,4 21,1 15,8 15,4 15,4 9,1 9,1 5,3 4,5 0 10 20 30 40 50 60 70
Persentase Ketersediaan Lab. Biologi Milik SMA, Tahun 2010
2.
Analisis output
• Menilai pencapaian output sektor pendidikan dengan menganalisis
berbagai indikator output dari waktu ke waktu dan membandingkannya dengan kabupaten-‐kabupaten lainnya atau rata-‐rata nasional.
• Apakah belanja pendidikan telah mempengaruhi peningkatan output dari
waktu ke waktu.
• Output sektor Pendidikan:
Ø
Angka par?sipasi sekolah kasar dan murni,
Ø
Angka putus sekolah,
Ø
Angka melek huruf,
Ø
Persentase populasi berusia 15 tahun ke atas
yang belum bersekolah (ini dapat dihubungkan
dengan angka melek huruf), dan rata-‐rata tahun
lamanya bersekolah.
Contoh 1: Capaian Kinerja Pemerataan Pendidikan
Tingkat SMP & SM, 2012
24 Sumber: Disdik & PECAPP
3. Analisis Pencapaian
•
Menilai pencapaian pendidikan melalui parameter
prestasi akademis seper? rata-‐rata nilai ujian dalam
mata pelajaran utama.
Contoh 2. Menilai pencapaian pendidikan melalui
parameter rata-‐rata nilai ujian nasional.
26 4,05 4,13 4,70 5,11 5,33 5,40 5,63 5,88 6,05 6,18 6,20 6,21 6,21 6,46 6,65 6,95 7,00 7,00 7,19 7,25 7,29 7,30 7,43 7,50 Subulussalam Aceh Timur Bener Meriah Aceh Selatan Gayo Lues Aceh Barat Aceh Besar Nagan Raya Aceh Tenggara Aceh Tengah Simeulue Aceh Utara Rata-‐rata Aceh Singkil Bireuen Aceh Jaya Pidie Pidie Jaya Aceh Tamiang Sabang Aceh Barat Daya Langsa Banda Aceh Lhokseumawe
Contoh 3. Belanja pendidikan per kapita dan
capaian nilai UAS, 2011
27 Sabang Simeulue Aceh Tengah Bener Meriah Pidie Jaya Pidie Aceh Tamiang 5 5,5 6 6,5 7 7,5 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 Ni la i U A SB N SD
Belanja pendidikan perkapita Ribuan Rupiah Belanja pendidikan perkapita vs nilai UASBN SD, 2011
4.
Analisis perbandingan
• Analisis rela?vitas pada seluruh kabupaten dan provinsi, serta seluruh
sektor strategis.
Ø Besar porsi yang dialokasikan untuk pendidikan dibandingkan dengan sektorsektor strategis lainnya seper? kesehatan dan infrastruktur;
Ø Bagaimana kinerja belanja pendidikan kabupaten dibandingkan dengan kabupaten-‐kabupaten lain atau secara nasional; dan kabupaten-‐kabupaten mana yang memiliki ?ngkat belanja pendidikan per kapita ter?nggi.
Ø Setelah itu, alasan-‐alasan tentang perbedaan-‐ perbedaan yang signifikan juga perlu dijelaskan lebih rinci.
Contoh 1. Perbandingan belanja perkapita pendidikan
29 0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000 3.500.000 4.000.000Rata -‐ rat Rp 1.4 juta
Contoh 2. % APBK untuk Sektor Pendidikan, 2010
30
1.
Analisis Ekuitas dan Efisiensi
• Analisis ekuitas di sektor tersebut memper?mbangkan
distribusi geografis dari input, output, dan pencapaian, serta
distribusi belanja antar ?ngkat pendapatan.
• Dokumen-‐dokumen dasar yang diperlukan: Anggaran
kabupaten (APBD), sta?s?k pendidikan tahunan kabupaten,
dokumen-‐dokumen perencanaan di ?ngkat Dinas, survei BPS
(Susenas, Podes, dll), dan Kabupaten dalam Angka.
Pertanyaan kunci:
Ø Bagaimana perbedaan angka par?sipasi sekolah, angka putus sekolah, dan prestasi belajar berdasarkan sub-‐ kelompok?
Ø Berapa rata-‐rata belanja untuk pendidikan yang dialokasikan rumah tangga di berbagai kuin?l pendapatan?
Ø Bagaimana distribusi guru di daerah perkotaan vs. pedesaan?
Ø Apa saja Program-‐program atau kebijakan-‐kebijakan pemerintah terkait dengan pemberian insen?f
keuangan untuk pendidikan?
Analisis efisiensi
• Menganalisis apakah anggaran tersebut telah dibelanjakan
secara efisien dan efek?f bergantung pada informasi seper?
ketersediaan sistem kinerja, sistem evaluasi tahunan, dan
standar pelayanan minimum.
Ø Apakah belanja pendidikan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan?
Ø Apakah keterkaitan antara kesuksesan di ?ap jenjang pendidikan dengan pekerjaan dan gaji?
Ø Apakah yang menjadi dasar dalam mempekerjakan dan menempatkan guru-‐guru: kebutuhan geografis, jasa, atau senioritas?
Lanjutan…
Ø Apakah kriteria yang dipakai dalam memutuskan untuk membangun sekolah baru dan menetapkan lokasinya?
Ø Bagaimanakah tren-‐tren dalam populasi usia sekolah berpengaruh terhadap input yang diperlukan di kemudian hari?
Ø Apakah kab. Pidie Jaya telah berhasil memenuhi target standar pelayanan minimumnya?
Contoh 1. Rasio siswa per guru, Kab. Aceh Tengah
Tahun 2012/2013
Perbedaan distribusi guru antar kecamatan. Grafik semacam ini dapat juga
diterapkan untuk indikator-‐indikator lain.
35
Sumber: Disdik Pidie Jaya & PECAPP
8,3 13,9 11,1 6,8 11,2 8,1 8,7 7,1 11,4 5,9 11,2 13,3 14,0 8,4 5,9 12,8 14,7 6,0 12,7 2,9 8,5 5,4 6,1 7,2 8,5 5,8 9,4 7,4 7,9 10,7 10,9 13,5 5,8 10,3 10,3 3,0 9,1 3,7 8,4 5,9 8,1 6,8 SD SMP SM
Kelebihan guru kelas terjadi di semua
kabupaten/kota
1.04 1.38 2.02 -‐ 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50Rasio Guru Kelas/Rombel Menurut Kabupaten/Kota di Aceh Tahun 2010
36 Sumber: TKPPA, 2010
Efisiensi
Eksternal
Ø
Sejauh mana belanja di sektor pendidikan
sudah memperbaiki kesejahteraan ?
Ø
Dua indikator utama : kemiskinan dan
pengangguran
Ø
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Perkembangan Tingkat Kemiskinan
38 27,11 26,68 24,41 23,36 21,43 20,1 19,58 0 5 10 15 20 25 30 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011Indeks Pembangunan Manusia (IPM), 2011
39 62 64 66 68 70 72 74 76 78 80Indeks pembangunan Manusia, Tahun 2011
Data – Data Yang dibutuhkan:
Lanjutan…
Lanjutan….
43
Lanjutan….
Sumber: Pedoman Penyusunan Kajian Pengeluaran Publik Pendidikan Tingkat Kabupaten, Bank Dunia
Lampiran 1. Analisis Keuangan Pendidikan
Provinsi
1. Apakah pendidikan mendapat prioritas dalam anggaran
– apa saja prioritas dalam RPJM
– berapa % alokasi anggaran pendidikan, apakah sudah mencapai 20%, – berapa % dari PDRB
– berapa % dari total belanja
2. Apa saja bentuk inefisiensi dalam pemanfaatan anggaran pendidikan
3. Apakah program dan kegiatan dalam dokumen anggaran (DPA) benar-‐benar berkaitan dengan dokumen perencanaan (RPJM, RKPD, PPAS, dll.)
4. Apakah prinsip-‐prinsip MTEF (Medium Term Expenditure Framework) dan Performance-‐Based Budge?ng diterapkan? 5. Apakah penyusunan anggaran sesuai peraturan perUUan dan
apakah sesuai jadwal?
6. Apakah indikator-‐indikator yang tepat digunakan dalam perencanaan 7. Dari mana saja dana pendidikan diperoleh (APBN/DAK, APBA, APBK,
BOS,Kemenag, Donor) dan jenis-‐jenis program yang dijalankan
8. Bagaimana par?sipasi masyarakat dalam pendanaan pendidikan (Susenas atau survey lain oleh BPS, dan kontribusi orangtua kepada sekolah,
termasuk Komite Sekolah)
9. Distribusi geografis dana pendidikan dan input pendidikan di ?ngkat kab/ kota. Dapat dihitung cost per jenis input pendidikan (biaya operasional sekolah, pendidikan dan pela?han guru, pencapaian rasio siswa guru tertentu, dll.)
10. Perlu analisis ekuitas dan efisiensi
11. Apakah di kab/kota sudah ada sistem kinerja, sistem evaluasi tahunan, SPM, dll. Apakah pendanaan pendidikan sudah sesuai dengan sasaran yang ditetapkan dalam dokumen-‐dokumen ini.
Lampiran 2. Analisis Keuangan Pendidikan
Kab/kota
• Porsi bidang/urusan pendidikan (didalam APBD kab/kota dibandingkan dengan bidang-‐ bidang/urusan-‐urusan lain.
• Seringkali dana untuk sektor pendidikan ?dak hanya yang ditetapkan pada dokumen
anggaran dari satuan-‐satuan kerja yang termasuk didalam bidang/urusan pendidikan, tetapi
juga pada dokumen anggaran dari beberapa satuan-‐satuan kerja lainnya yang termasuk
dalam bidang-‐bidang/urusan-‐urusan non-‐pendidikan.
• Sebaliknya, ada beberapa satuan kerja yang termasuk di dalam bidang/urusan pendidikan, namun di dalam menghitung anggaran sektor pendidikan pada apbd kab/kota, anggarannya ?dak dimasukkan
• Anggaran sektor pendidikan dalam APBD kab/kota dipilah-‐pilah berdasarkan jenjang pendidikan/kelompok berikut ini : TKN, SDN, SMPN, SMAN, SMKN, PAUD/PLS, PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN, dan LAINLAIN.
• Anggaran sektor pendidikan dipilah-‐pilah menjadi belanja gaji (dipilah menjadi gaji
pendidikan dan bukan pendidik), belanja modal (dipilah menjadi untuk sekolah dan bukan untuk sekolah), dan belanja operasional (dipilah menjadi untuk sekolah dan bukan untuk sekolah).
• Menghitung dana sektor pendidikan dari apbd kab/kota per murid untuk se?ap jenjang pendidikan.