• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PERBANKAN BUMN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PERBANKAN BUMN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH DAN INFLASI

TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PERBANKAN

BUMN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2016-2020

Tri Rahmawati

1

, Widiastuti

2

Prodi Manajemen, Universitas Pelita Bangsa

E-mail : [email protected]

1

; [email protected]

2

ABSTRAK

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan perbankan BUMN yang terdaftar di BEI periode 2016-2020. Pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampling jenuh sehingga diperoleh sampel sebanyak 4 perusahaan perbankan BUMN. Metode analisis yang digunakan yaitu

uji asumsi klasik, analisis linear berganda dan uji hipotesa . Kesimpulan dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel nilai tukar rupiah terhadap harga saham dengan thitung 2.892 dengan tingkat signifikansi 0,010 yang berarti thitung > ttabel dan sig < 0,05. terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel inflasi terhadap harga saham dengan thitung = 5.150 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang berarti thitung < ttabel dan sig > 0,05. Terdapat pengaruh secara simultan dengan hasil pengujian pada uji f dapat dilihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 dan nilai Fhitung adalah sebesar 13,950.

Kata kunci:

Nilai Tukar Rupiah, Inflasi, Harga Saham pada Perusahaan

Perbankan BUMN.

1. PENDAHULUAN

Semenjak terjadinya pandemi Covid-19 yang mulai masuk Indonesia pada awal tahun 2020, kinerja keuangan badan usaha menurun tajam bahkan banyak diantaranya mengalami kerugian. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi investor untuk melakukan investasi di pasar modal khususnya saham. Selain itu pandemi covid-19 juga menyebabkan variabel-variabel makro ekonomi seperti nilai tukar dan inflasi mengalami perubahan yang cukup tajam. Hal ini membuat banyak perusahaan berusaha untuk memperoleh dana atau tambahan modal melalui pasar modal.

Keadaan ekonomi dan naik turunnya variabel makro di suatu negara dapat mempengaruhi harga saham, termasuk pada sektor perbankan. Bank atau perbankan memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian (Suparmoko, 2006:136). Industri perbankan yang selalu identik dengan nilai tukar dan inflasi adalah

salah satu sektor yang banyak menarik perhatian para investor untuk menginvestasikan kelebihan dananya agar mendapatkan keuntungan, yaitu dengan menabung atau dengan membeli saham yang ditawarkan oleh bank-bank tersebut. Saham adalah suatu investasi kepemilikan suatu usaha/perusahaan. Berinvestasi dengan membeli saham berarti memberikan sejumlah dana (berdasarkan harga saham) yang akan menjadi modal beroperasinya perusahaan tersebut.

Fluktuasi nilai tukar yang tidak stabil dapat mengurangi tingkat kepercayaan investor. Tandelilin (2010:344), menguatnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing merupakan sinyal positif bagi perekonomian yang mengalami inflasi. Hubungan nilai tukar dengan harga saham telah diteliti sebelumnya oleh Simatupang, Sahala P (2014) hasil penelitian menyatakan Nilai Tukar berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

(2)

Tabel 1.1 menjelaskan nilai tukar dari mata uang rupiah ke USD yang diambil dari data time series pada setiap akhir tahun dalam periode 2016-2020, yaitu:

Tabel 1.

Nilai Tukar Transaksi Bank Indonesia - Mata Uang USD

Sumber: Bank Indonesia (www.bi.go.id)

Informasi lain yang harus dipertimbangkan dalam melihat harga saham adalah Inflasi. Inflasi juga termasuk dalam faktor makro ekonomi yang harus diperhatikan oleh investor. Menurut Samsul (2006:201) tingkat inflasi dapat berpengaruh negatif maupun positif tergantung derajat inflasi itu sendiri. Hubungan inflasi dengan harga saham telah diteliti sebelumnya oleh Simatupang, Sahala P (2014) hasil penelitian menyatakan Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

Tabel 2. Laporan Inflasi

Sumber: Bank Indonesia (www.bi.go.id)

Perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar berdampak setiap jenis saham, yaitu saham dapat terkena dampak positif sedangkan saham yang lainnya terkena dampak negatif. Emiten yang berorientasi ekspor akan menerima dampak positif dari

kenaikan kurs US$ tersebut. Ini berarti harga saham emiten yang terkena dampak positif akan meningkat harga sahamnya, sementara emiten yang terkena dampak negatif akan mengalami penurunan di Bursa Efek Indonesia. Selain membawa dampak buruk bagi perekonomian suatu bangsa, inflasi juga dapat mempengaruhi masyarakat dalam aktivitas ekonominya. Bagi masyarakat yang pendapatannya tetap, otomatis akan berkurang seiring kenaikan harga-harga yang berlaku dimasyarakat.

Berdasarkan pengamatan terhadap dua faktor tersebut, maka peneliti akan meneliti hubungan kedua faktor yang telah diamati diatas terhadap harga saham perbankan BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbankan BUMN dipilih karena Bank BUMN merupakan kelompok bank paling berpengaruh dalam industri perbankan Indonesia, dengan berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas mendorong peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Nilai

Tukar Rupiah dan Inflasi Terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan BUMN Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2020”.

2. TINJAUAN PUSTAKA DAN

HIPOTESIS

Harga saham adalah satuan harga yang diperdagangkan di bursa efek, dalam transaksi harian maupun bulanan harga saham sering dicatat berdasarkan perdagangan terakhir atau sering disebut dengan harga penutupan. Oleh karena itu haga saham sangat dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran. Padasaat permintaan saham meningkat, maka harga saham tersebut cenderung akan meningkat, sebaliknya jika para investor yang memiliki banyak saham menjual aset yang dimilikinya secara bersamaan, maka harga saham tersebut cenderung akan mengalami penurunan (Anoraga, 2006). Harga saham menggambarkan penilaian pasar modal atas kemampuan perusahaan memperoleh pendapatan dari waktu ke waktu, besarnya resiko atas kelangsungan pendapatan dan

Bulan/Tahun Nilai Tukar

Dollar AS Desember 2020 Rp. 14,150 Desember 2019 Rp. 13,901 Desember 2018 Rp. 14,481 Desember 2017 Rp. 13,548 Desember 2016 Rp. 13,436 Bulan/Tahun Tingkat Inflasi Desember 2020 1,68% Desember 2019 2,72% Desember 2018 3,13% Desember 2017 3,61% Desember 2016 3,02%

(3)

sekumpulan faktor-faktor lain. Jika bursa efek ditutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa saham adalah tanda kepemilikan seseorang atau badan dalam perseroan terbatas yang berwujud selembar kertas. Sedangkan harga saham dapat ditentukan oleh pasar modal tergantung dari bagaimana kemampuan perusahaan memperoleh pendapatan dari waktu ke waktu. Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham antara lain:

1.

Faktor Internal (lingkungan mikro)

a.

Pengumuman tentang pemasaran,

produksi, penjualan atau pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan produk, dan laporan penjualan.

b.

Pengumuman pendanaan (financing

announcements), seperti pengumuman

tentang ekuitas dan hutang.

c.

Pengumuman badan direksi manajemen (management-board of director announcement) seperti perubahan dan

penggantian direktur, manajemen dan struktur organisasi.

d.

Pengumuman pengambilan difersivikasi, seperti laporan merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan divestasi dan lainnya.

e.

Pengumuman investasi (investment

announcements), seperti melakukan

ekspansi pabrik, pengembangan riset dan penutupan usaha lainnya.

f.

Pengumuman ketenaga kerjaan (labour

announcements), seperti negoisasi baru,

kontrak baru, pemogokan dan lainnya.

g.

Pengumuman laporan keuangan

perusahaan, seperti peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, earning per share (EPS), dan deviden per share (DPS),

price earning ratio, net provit margin, return on asset (ROA), dan lain-lain.

2.

Faktor Eksternal (Lingkungan Makro)

a.

Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.

b.

Pengumuman hukum (legal

announcements), yaitu tuntutan karyawan

terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.

c.

Pengumumman industri sekuritas (securities announcements), seperti laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga saham perdagangan, pembatasan atau penundaan trading.

d.

Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan faktor yang berpengaruh secara signifikan pada perubahan pergerakan harga saham di bursa efek suatu negara.

e.

Berbagai isu- isu positif dan negatif baik dalam negeri maupun luar negeri. (Alwi, 2003).

Nilai tukar Rupiah atau sering disebut kurs adalah selisih nilai harga mata uang Rupiah dengan mata uang lain. Perdagangan antar negara dimana masing- masing negara menpunyai alat tukarnya sendiri mengharuskan adanya angka pebandingan antara nilai suatu mata uang dengan mata uang lainnya atau yang disebut dengan kurs valuta asing (kurs) (Salvatore, 2008). Kurs valuta asing dapat diukur dengan dua cara, cara yang pertama adalah indirect quote fungsinya ialah untuk menunjukkan jumlah mata uang luar negri yang di butuhkan untuk membeli (menukarkan) satu satuan mata uang dalam negeri. Sedangkan cara kedua adalah

direct quote yang berfungsi untuk menunjukkan jumlah mata uang dalam negeri yang diperlukan untuk membeli (menukarkan) kedalam satuan mata uang luar negeri. Nilai tukar merupakan harga di dalam pertukaran dan dalam pertukaran antara 2 macam mata uang yang berbeda,akan terdapat perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan nilai inilah yang disebut kurs/exchange rate. Nilai

(4)

tukar riil adalah nilai tukar nominal yang sudah dikoreksi dengan harga relatif yaitu harga-harga didalam negeri dibandingkan dengan harga-harga diluar negeri. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kurs menurut Sukirno (Sukirno, 2012) adalah sebagai berikut:

1.

Perubahan dalam cita rasa masyarakat Cita rasa masyarakat mempengaruhi corak konsumsinya. Perubahan cita rasa masyarakat akan mengubah corak konsumsinya atas barang-barang yang diproduksi di dalam maupun di luar negeri. Perbaikan kualitas barang-barang dalam negeri menyebabkan keinginan mengimpor berkurang dan juga dapat menaikkan ekspor. Sedangkan perbaikan kualitas barang-barang impor menyebabkan keinginan masyarakat untuk mengimpor bertambah besar. Perubahan-perubahan ini menyebabkan permintaan dan penawaran valuta asing.

2.

Perubahan harga barang ekspor dan impor

Harga suatu barang merupakan salah satu faktor penting yang menentukan apakah suatu barang akan diimpor atau diekspor. Barang- barang dalam negeri yang dapat dijual dengan harga yang relatif murah akan menaikkan ekspor dan apabila harganya naik maka ekspornya akan berkurang. Pengurangan harga barag impor akan menambah jumlah impor dan kenaikan harga barang impor akan mengurangai impor. Dengan demikian perubahan harga barang ekspor dan impor akan menyebabkan perubahan dalam permintaan dan penawaran valuta asing.

3.

Kenaikan harga umum (inflasi)

Inflasi sangat besar pengaruhnya terhadap kurs pertukaran valuta asing. Inflasi yang terjadi pada umumnya cenderung menurunkan nilai valuta asing.

4.

Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi

Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang rendah cenderung akan menyebabkan modal dalam negeri mengalir ke luar negeri Sedangkan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi

akan menyebabkan modal luar negeri masuk ke dalam negeri. Nilai mata uang suatu negara akan merosot apabila lebih banyak modal negara dialirkan ke luar negeri karena suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi di negara-negara lain.

5.

Pertumbuhan ekonomi

Efek yang akan diakibatkan oleh suatu kemajuan ekonomi kepada nilai mata uangnya tergantung pada pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Apabila kemajuan ekonomi diakibatkan oleh perkembangan ekspor, maka permintaan atas mata uang akan bertambah lebih cepat dari penawarannya sehingga nilai mata uang tersebut akan naik. Akan tetapi, jika kemajuan ekonomi menyebabkan impor berkembang lebih cepat dari ekspor maka penawaran atas mata uang akan bertambah lebih cepat dari permintaannya sehingga nilai mata uang tersebut akan merosot.

Inflasi adalah kenaikan harga secara umum, atau Inflasi dapat juga dikatakan sebagai penurunan daya beli uang. Makin tinggi kenaikan harga makin turun nilai uang. Defenisi di atas memberikan makna bahwa, kenaikan harga barang tertentu atau kenaikan harga karena panen yang gagal misalnya, tidak termasuk Inflasi. Ukuran Inflasi yang paling banyak adalah digunakan adalah: “Consumer price indeks” atau “cost of living

indeks”. Indeks ini berdasarkan pada harga

dari satu paket barang yang dipilih dan mewakili pola pengeluaran konsumen. Kecenderungan dari harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang tidak dapat disebut Inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas atau mengakibatkan kenaikan kepada barang lainnya. Definisi singkat dari Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut Inflasi. Syarat adanya kecenderungan menaik yang terus menerus juga perlu digaris-bawahi. Kenaikan harga- harga karena, misalnya, musiman, menjelang hari raya, bencana, dan sebagainya, yang sifatnya hanya sementara tidak disebut

(5)

H1

H2

Inflasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi:

a. Inflasi permintaan

Inflasi permintaan ialah inflasi yang ditimbulkan akibat adanya interaksi antara permintaan dan penawaran domestik dalam jangka panjang. Inflasi dari permintaan akan timbul apabila permintaan agregat berbeda dengan penawaran agregat atau potensi output yang tersedia.

b. Inflasi penawaran

Inflasi penawaran atau yang sering disebut sebagai cost push atau supply shock

inflation. Inflasi penawaran ini disebabkan

oleh kenaikan biaya produksi atau kenaikan biaya pengadaan barang dan jasa.

c. Inflasi Ekspektasi

Inflasi ekspektasi ini biasanya disebabkan oleh ekspektasi para pelaku ekonomi yang didasari pada perkiraan yang akan datang akibat adanya suatu kebijakan pemerintah yang diterapkan oleh pemerintah saat ini.

Hipotesis Penelitian

Hipotesis 1: Pengaruh Nilai Tukar Rupiah Terhadap Harga Saham Perusahaaan Perbankan BUMN

Hipotesis 2: Pengaruh Inflasi Terhadap Harga Saham Perusahaaan Perbankan BUMN

Hipotesis 3: Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi Terhadap Harga Saham Perusahaaan Perbankan BUMN

Gambar 1. Model Penelitian

3. METODE PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh nilai tukar rupiah terhadap harga saham, mengetahui pengaruh nilai tukar rupiah terhadap harga saham, dan juga penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh inflasi terhadap harga saham. Metode digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif . sampel yang digunakan adalah teknik sampling jenuh sehingga diperoleh sampel sebanyak 4 perusahaan perbankan BUMN. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan sumber sekunder

, a

dapun data yang digunakan oleh peneliti yaitu yang diperoleh dari Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia.

Metode analisis yang digunakan yaitu uji asumsi klasik, analisis linear berganda dan uji hipotesa.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 3. Ringkasan Uji Hipotesis Kode Uraian Hipotesis T value Kesimpulan

H1

Pengaruh Nilai Tukar Rupiah Terhadap Harga

Saham 0.010 Diterima

H2

Pengaruh Inflasi Terhadap

Harga Saham 0.000 Diterima

PEMBAHASAN

1. Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi Terhadap Harga Saham

Pengujian hipotesis pertama adalah apakah nilai tukar berpengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan BUMN di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa variabel nilai tukar berpengaruh sebesar 0,460 atau 4,60%, dengan nilai thitung sebesar 2,892 > ttabel 2.100 dan tingkat signifikan 0,010 < 0.05, maka variabel nilai tukar berpengaruh positif secara parsial dan signifikan terhadap harga saham, apabila nilai tukar terapresiasi terhadap dollar US HARGA SAHAM (Y) H 3 INFLASI (X2) NILAI TUKAR (X1) H3

(6)

merupakan sinyal positif bagi para investor yang ingin berinvestasi saham, hal ini akan mengakibatkan para investor untuk membeli saham yang berakibat pada peningkatan harga saham, sehingga hipotesis pertama diterima. Hasil ini mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan Suryadie, Fajar Siddiq (2017), Shabrina, Ruliana dan Dewi (2016), Simatupang, Sahala P.(2014), Kurniawan dan Yuniati (2019) dan Ginting, Topowijono dan Sulasmiyati (2016) yang menyatakan bahwa nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Namun, penelitian tersebut berbanding terbalik terhadap penelitian yang dilakukan oleh Sari, Ratna.(2018) dan Harsuma, Apriadi Kardinaturi (2019) yang menyatakan bahwa nilai tukar rupiah tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

Pengujian hipotesis pertama adalah apakah inflasi berpengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan BUMN di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa variabel inflasi berpengaruh sebesar 0,820 atau 8,20%, dengan nilai thitung sebesar 5,150 > ttabel 2.100 dan tingkat signifikan 0,000 < 0.05, maka variabel inflasi berpengaruh positif secara parsial dan signifikan terhadap harga saham. Nilai thitung positif, artinya berpengaruh positif dimana semakin meningkat inflasi maka semakin meningkat pula harga saham perusahaan perbankan BUMN, sehingga hipotesis kedua diterima. Hasil ini mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan Suryadie, Fajar Siddiq (2017), Simatupang, Sahala P.(2014) dan Kurniawan dan Yuniati (2019) yang menyatakan bahwa nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Namun, penelitian tersebut berbanding terbalik terhadap penelitian yang dilakukan oleh Shabrina, Ruliana dan Dewi (2016), Harsuma, Apriadi Kardinaturi (2019) dan Ginting, Topowijono dan Sulasmiyati (2016) yang menyatakan bahwa nilai tukar rupiah tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

Berdasarkan hasil pengujian secara simultan, penelitian ini memperlihatkan bahwa nilai tukar dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal ini berarti bahwa harga saham pada perusahaan perbankan BUMN yang listing di Bursa Efek Indonesia selama periode 2016-2020 dipengaruhi oleh nilai tukar dan inflasi. Namun jika dilihat dari nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square)

menunjukkan nilai tukar dan inflasi mempunyai pengaruh terhadap harga saham sebesar kecil. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Suryadie, Fajar Siddiq (2017), Simatupang, Sahala P.(2014) dan Kurniawan dan Yuniati (2019) yang menyatakan bahwas secara simultan variabel-variabel bebas yaitu nilai tukar dan inflasi mempengaruhi harga saham

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya dengan menggunakan data sekunder yang telah dilakukan terhadap perusahaan perbankan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020 disertai didukung oleh teori yang melandasi dan hasil perhitungan yang diuraikan pada bab IV, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berkut :

1.

Pengaruh nilai tukar rupiah terhadap harga saham

Nilai tukar rupiah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal ini didukung oleh hasil hipotesis R2 (Koefisien Determinasi) sebesar 0,621

berarti 62,1% variabel nilai tukar rupiah (X1) dapat menejelaskan secara parsial terhadap variabel harga saham (Y). Didukung pula hasil uji t bahwa thitung variabel nilai tukar rupiah lebih besar dari nilai ttabel (2,892 > 2,100) dengan tingkat signifikansi < taraf signifikansi (0,010 < 0,05) menunjukan bahwa variabel nilai tukar rupiah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

(7)

2.

Pengaruh inflasi terhadap harga saham Inflasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal ini didukung oleh hasil hipotesis R2 (Koefisien

Determinasi) sebesar 0,621 berarti 62,1% variabel inflasi (X2) dapat menejelaskan secara parsial terhadap variabel harga saham (Y). Didukung pula hasil uji t bahwa thitung variabel inflasi lebih besar dari nilai ttabel (5,150 > 2,100) dengan tingkat signifikansi < taraf signifikansi (0,000 < 0,05) menunjukkan bahwa variabel inflasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

3.

Pengaruh nilai tukar rupiah dan inflasi terhadap harga saham

Nilai tukar rupiah dan inflasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal ini didukung oleh uji Fhitung lebih besar dari Ftabel (13,950 > 4,38) maka variabel nilai tukar rupiah dan inflasi berpengaruh terhadap harga saham. Dan didukung pula dengan tingkat signifikansi yaitu 0,000 < 0,05 menunjukkan bahwa variabel nilai tukar rupiah dan inflasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis memberikan beberapa saran yang diharapkan dapat berguna sebagai dasar pertimbangan atau masukan bagi peneliti yang akan datang dan bagi perusahhaan sebagai berikut

1.

Penelitian selanjutnya dapat dikembangkan untuk perusahaan yang bergerak di sektor yang lainnya khususnya BUMN go public dan belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya.

2.

Penelitian lebih lanjut sebaiknya menggunakan variabel bebas lainnya yang mempengaruhi harga saham untuk meningkatkan koefisien determinasi mendekati 100%.

Bagi para calon investor dan investor apabila ingin menginvestasikan dananya

pada saham agar memperhatikan variabel makro ekonomi yang mempengaruhi harga saham terutama Nilai Tukar dan Inflasi, karena hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel makro ekonomi tersebut mempunyai pengaruh terhadap fluktuasi harga saham.

Secara umum perusahaan perbankan BUMN yang tercatat di BEI perlu mempertahankan dan mengembangkan harga saham dengan menjaga harga saham tersebut tetap stabil agar calon investor atau para investor memiliki ketertarikan untuk menginvestasikan dananya pada sektor perbankan BUMN

DAFTAR

PUSTAKA

, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

Agus Sartono., 2015, Manajemen Keuangan dan Teori Aplikasi, Cetakan Keempat, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.

Anoraga, Pandji. (2006). Pengantar Pasar Modal. Jakarta: Rineka Cipta. Bodie, Z., Kane, A., & Marcus, A. J.

(2008). Investments (7th Edition ed.). New York: McGraw-Hill. Berlianta, Heli Charisma, (2004), Mengenal

Vakuta Asing, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Center Laboratory an ICT ( CLICT) 2002. “ Panduan Praktik Analisis SPSS untuk Manajemen (Keuangan, SDM & Pemasaran”. Universitas Negeri Malang.

Dahlan Siamat, 2005. Manajemen Lembaga Keuangan. “Kebijakan Moneter dan Perbankan”, Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, edisi kesatu.

(8)

Darmadji, T dan Fakhrudin. 2006. Pasar Modal di Indonesia Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta: Salemba Empat.

Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan SPSS. Semarang: Badan Penerbit UNDIP. Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis

Multivariate dengan program IBM SPSS

19.

Badan Penerbit Undip

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program IBM SPSS. Edisi 7. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.

Husnan, Suad dan Enny Pudjiastuti, (2015), Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi Ketujuh. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Humphrey, D. B. 2001. Payment Systems:

Principles, Practice, and Improvements.

The World Bank, Washington, D. C. I Made Sudana. 2011. Manajemen

Keuangan Perusahaan Teori dan Praktik.

Jakarta: Erlangga.

Muhammad Fajar Marta, (2016, 9 Mei) Kinerja Bank BUMN: Laba Stagnan, Kredit Bermasalah melonjak

http://ekonomi.kompas.com/read/20 16/05/09/072514726/Kinerja.Bank. B

UMN.Laba.Stagnan.Kredit.Bermasa lah.Melonjak.

Mulyanto, Heru dan Anna Wulandari. Penelitian: Metode dan analisis, CV agung, Semarang, 2010.

Nopirin. 2009. ”Ekonomi Moneter”. Edisi Satu. Cetakan ke 12. Penerbit BPFE. Jakarta.

Salvatore, Dominick. 2008. Ekonomi Internasional. Edisi Kelima. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Samsul, Muhamad. 2006. Pasar Modal Dan Manajemen Portofolio. Penerbit Erlangga. Surabaya.

Santoso, Singgih. 2000. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sekaran, Uma dan Roger Bougie, (2017), Metode Penelitian untuk Bisnis: Pendekatan Pengembangan-Keahlian, Edisi 6, Buku 1, Cetakan Kedua, Salemba Empat, Jakarta Selatan 12610.

Silalahi, Ulber. 2010. Metode Penelitian Sosial. Bandung. PT. RefikaAditama. Suad Husnan, 2005Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas

Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukirno, Sadono. 2012. Makroekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga. Jakarta: Rajawali Pers.

Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi: Teori dan Aplikasi. Edisi 1.Kanisius. Yogyakarta.

Utari, Dewi, dkk. 2014. Manajemen Keuangan : Kajian Praktik dan Teori dalam Mengelola Keuangan Organisasi Perusahaan. Jakarta : Mitra Wacana Media.

Widiyanto, Ibnu. 2008. Pointers : Metodologi Penelitian. Semarang: BP Undip

Gambar

Tabel 3.  Ringkasan Uji Hipotesis  Kode  Uraian Hipotesis  T value  Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

pada keadaan terdapat infeksi genetalia karena akan menimbulkan eksaserbasi (kambuh) infeksi, keadaan patologis lokal (furunkel, stenosis vagina, infeksi vagina),

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Sifat larutan penyangga yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan. → Bertanya tentang hal

Asuransi Jiwa Bersama Bumiutera Syariah Banda Aceh agar dapat lebih hati-hati lagi terhadap pengambilan keputusan dalam menanggulangi risiko agar tidak terjadinya risiko

Mengacu pada pemikiran di atas, maka penelitian tentang Analisis Kebijakan Penurunan Luas Hutan di Daerah Aliran Sungai Sentani Berwawasan Lingkungan dengan

• Neraca perdagangan non migas bulan Februari 2017 mengalami surplus USD 2,5 miliar. sementara neraca migas defisit USD 1,2 miliar, menyebabkan neraca perdagangan secara total

kedikbud/index.php, diunduh tanggal 25 April 2012.. membelajarkan siswa.” 12 Guru harus memiliki dan mampu mengetahui pengelolaan kelas, karena dengan pengetahuan

Berdasarkan uraian hal yang melatarbelakagi kebutuhan Lonsum akan pembangunan aplikasi knowledge m anagem ent system berbasis web diatas, maka kami berupaya membangun suatu

Penelitian ini menggunakan metode penelitian survey analitik dengan desain cross sectional, dimana desain mempelajari hubungan faktor obesitas, trauma pada sendi,