• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan akan teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan sejalan dengan bergulirnya zaman mengikuti kebutuhan manusia. Sehingga komunikasi dari masa ke masa yang dulunya hanya bisa dilakukan dengan bertatap muka (face to face) sekarang bisa dilakukan hanya dari genggaman tangan saja. Komunikasi tersebut dipengaruhi oleh terus berkembangnya jaringan internet yang melahirkan dan menciptakan berbagai bentuk media baru (new media) dalam dunia jurnalisme. Dalam artikel yang berjudul Digital Media Ethics, yang ditulis oleh seorang guru besar etika jurnalistik Universitas Wisconsin-Madison, Stephen J. A. Ward, memperhatikan jika dengan adanya internet menuntut para jurnalis profesional saat ini harus berbagi tempat atau ruang dengan sosial media seperti twitter, platform blogger, citizen journalist, dan user media sosial lainnya. (Margianto & Saefullah, 2014:12)

Kemunculan sebuah media baru tersebut tentu juga ikut berperan dalam fungsi dan pemahaman tentang komunikasi massa itu sendiri. Seperti yang dipaparkan oleh Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988), di mana sebuah proses pesan-pesan yang diproduksi secara masal ataupun tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen erupakan pemahaman tentang komunikasi massa (Nurudin, 2013:12). Dan dalam praktiknya, komunikasi massa selalu melibatkan elemen-elemen yang saling berkaitan. Seperti yang dipaparkan oleh Nurudin dalam bukunya yang berjudul Pengantar Komunikasi Massa, elemen-elemen komunikasi massa tersebut meliputi komunikator, pesan, audiens, umpan balik, efek, gangguan, gatekeeper, pengatur dan filter. Komunikator pada komunikasi massa bukanlah individu melainkan gabungan dari beberapa individu yang melembaga dan biasa juga disebut dengan media massa.

Pada era serba modern dan canggih seperti sekarang ini, kebutuhan manusia perlahan-lahan juga akan mengalami pergeseran. Dari awalnya hanya mencari kebutuhan primer berupa sandang, pangan, papan, kini manusia juga membutuhkan

(2)

2

kebutuhan lain yakni berupa informasi. Informasi bisa dikategorikan ke dalam kebutuhan sekunder, karena posisinya yang tidak terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap keberlangsungan hidup seorang manusia.

Namun, kebutuhan akan informasi ini lambat laun bergeser dan bahkan dapat setara dengan beberapa kebutuhan sekunder lain yang posisinya lebih penting. Manusia sebagai makhluk sosial pun juga haus akan kebutuhan informasi. Terlebih di era gempuran media massa seperti sekarang ini, kebutuhan akan informasi bisa didapatkan hanya dengan hitungan detik dan satu sentuhan jari saja.

Media massa memang menjadi sarana komunikasi yang efektif dalam hal menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan.hal tersebut dikarenakan karena banyaknya komunikan yang haus akan informasi-informasi yang didapat dari komunikator atau dalam hal ini adalah media massa. Namun, di tengah gempuran informasi ini, mirisnya juga banyak informasi yang bersifat palsu atau diragukan kredibilitasnya. Maka tidak heran jika semakin lama komunikan ini merasa jenuh dengan informasi yang itu-itu saja, kaku, atau bahkan memancing emosi dan rasa takut.

Untuk mengobati rasa kaku dalam pemberitaan di dunia jurnalistik, kemudian muncul istilah jurnalisme entertainment di awal abad dua puluh. Karya jurnalistik ini sebagai bentuk baru dan sistem pemberitaan untuk seni dan hiburan yang terus berkembang, minat akan berita dan mengomentari semua aspek hiburan mencapai peningkatan baru di awal abad kedua puluh. Munculnya blog dan informasi berbasis internet lainnya untuk berbagi informasi membantu mendemokrasikan jurnalisme hiburan dengan melemparkannya menjadi hal yang terbuka bagi amatir dan semi-profesional. Pada saat yang sama, kritik serius oleh para profesional terlatih tampak menurun, menghasilkan publik yang lebih terobsesi dengan hal-hal sepele dan mengurangi pasar untuk masalah serius dan ulasan tentang bentuk seni tradisional (Sterling, 2009:525).

Pada era globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEK) membuat media massa semakin berkembang dan memiliki kontribusi penting bagi masyarakat. Media massa ini tidak hanya meliputi media-media baru seperti media

(3)

3

berbasis online, namun juga media-media konvensional seperti media cetak juga turut andil dalam membuahkan inovasi berupa kontribusi lain.

Kemudian dari fenomena tersebut mulai banyak media-media konvensional yang melakukan inovasi demi inovasi demi tetap menarik di hati para warga atau peminatnya. Salah satu inovasi tersebut adalah dengan menambahkan unsur hiburan (entertainment) pada salah satu bagian atau segmen tertentu. Selain tujuan untuk memberikan informasi (to inform) dan mendidik (to educate), fungsi lain dari media massa adalah untuk menghibur (to entertain). Dan hal tersebut kemudian mulai diaplikasikan pada produk dan karya-karya jurnalistik baik media cetak maupun elektronik.

Jika melihat ke belakang, tentu banyak dijumpai fenomena pasang surut dari media massa konvensional khususnya media cetak. Seperti fenomena tutupnya Koran Sindo di awal tahun 2017 setelah 11 tahun mewarnai dunia media massa Indonesia. Tak hanya itu, ada pula fenomenan penutupan total ataupun sebagian sejumlah media cetak nasional ataupun regional dari grup besar lainnya dalam kurun waktu beberapa tahun seperri edisi hari minggu koran regional grup Pikiran Rakyat, Galamedia; kemudian edisi hari minggu Koran Tempo; Sinar Harapan; Jakarta Globe; dan Harian Bola. Beberapa media tersebut tutup dan kemudian berkonvergensi menjadi bentuk online dan adapula yang benar-benar tutup. (pwc.com)

Mengutip dari artikel yang terbit 4 Juli 2017 di Harian Kompas, terdapat sejumlah data yang disampaikan oleh konsultan bisnis PWC dalam laporan yang berjudul Perspective from The Global Entertainment and Global Oulook 2017, menyebutkan bahwa laju peretumbuhan koran dalam kurun waktu lima tahun ke depan (dalam hal ini sampai 2022) adalah minus 8,3 persen. Angka ini merupakan angka terendeh karena media konvensional lain seperti radio, majalah, televisi, dan buku, juga mengalami pertumbuhan minus pada angka 3 sampai 4,6 persen saja. Di sini lain, PWC juga memprediksi media berbasis internet akan tumbuh hingga 0,5 persen sampai 6 persen (Harian Kompas, 4 Juli 2017).

Prediksi tersebut realistis karena juga merujuk pada fenomenan beberapa koran di Eropa dan Amerika yang terjun bebas. Hal tersebut juga dialami sekalipun bagi koran seperti The Rocky Mountain di Amerika Serikat yang sudah terbit sejak

(4)

4

1859, namun terpaksa tutup di tahun 2009 lalu. Dari beberapa fenomena tersebut dapat diketahui bahwa semakin berkembangnya zaman, arus aktifitas serta produktifitas media cetak semakin menurun dan mengalami kemerosotan secara berkala.

Sejak masa kemerosotan media konvensional di Amerika, muncul beberapa media berbasis online. Hal tersebut juga ikut mempengaruhi sepak terjang media konvensional di Indonesia. Walaupun memang timeline kemerosotan tersebut tidak sama dengan media konvensional di dalam negeri, tidak menutup kemungkinan media konvensional dalam negeri membuat sebuah inovasi yang berbentuk konvergensi media. Salah satu yang menerapkan hal tersebut adalah Republika, yang kemudian meluncurkan versi online-nya yaitu Republika Online.

Menurut Rene L. Pattirajawane yang dikutip dari situs kompas.com, sejak awal kemunculan Republika Online pada 17 Agustus 1995, Republika Online menjadi pelopor berdirinya porta berita online di Indonesia yang kemudian disusul oleh Kompas Online pada 14 September 1995. Tidak sampai di situ saja, media-media siber lainnya pun terus bermunculan dan kemudian berlomba lomba menjadi yang paling unggul sampai detik ini. Saat ini media massa online memang menjadi salah satu jenis media massa yang populer dan lebih diminati oleh masyarakat dalam mengakses dan mencari berbagai informasi. Kelebihan yang banyak ditawarkan dalam penggunaan internet membuat hampir setiap orang, baik produsen maupun konsumen informasi (berita) tidak bisa menolak untuk beralih dari media konvensional ke media siber. Belum lagi, informasi atau berita yang disajikan pada media siber cenderung lebih beragam dibandingkan dengan media konvensional, hal ini bahkan tidak dipengaruhi oleh waktu ataupun tempat.Audiens juga bebas memilih informasi apa yang dingin dibaca pada media siber, sedangkan pada media konvensional dalam hal ini cetak, audiens hanya dapat membaca informasi yang dipilih oleh lembaga media massa untuk disiarkan atau dipublikasikan.

Fakta dalam riset yang dilakukan oleh lembaga riset global GFK (Growth from Knowledge), dan IDA (Indonesia Digital Association) membuktikan bahwa 96% masyarakat Indonesia menjadi konsumen produk media online. Salah satu

(5)

5

buktinya adalah eksistensi media konvensional sekarang kian tergeser dengan kehadiran media siber.

Hal tersebut kemudian membuat beberapa media konvensional berkonvergensi, dan konvergensi media ini juga menghasilkan fakta lain bahwa jumlah pertumbuhan media siber mengalami kenaikan dan bisa dibilang mulai menjamur dan bahkan tidak terkontrol. Sampai saat ini sudah terdapat ratusan bahkan ribuan media online yang ada di Indonesia, baik yang memiliki legalitas ataupun yang belum berbadan hukum. Mengutip dari Jawapos.com, diperkirakan oleh Dewan Pers bahwa jumlah media massa berbasis online yang sudah ada saat ini mencapai 43 ribu lebih, tetapi hanya ada sekitar 168 media saja yang dinyatakan memenuhi persyaratan perusaahn pers dan dikelola secara professional. Jumlah tersebut hanyalah 0,4% dari keseluruhan jumlah media yang ada. (Riki Candra, 2018, https://www.jawapos.com/jpg-today/09/02/2018/dari-43-ribu-lebih-media-onlinehanya-04-persen-yang-profesional/, 03 Desember 2019)

Sekarang ini yang menjadi sumber utama masyarakat Indonesia dalam memperoleh informasi atau berita adalah media online. Mantan Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, memperikirakan bahwa saat ini di Indonesia saja sudah terdapat sekitar 43 ribu portal berita online. Yang mana kurang dari 100 media online saja yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers (Kominfo, 2018). Hal tersebut berarti ada sekitar 43 ribu portal berita online yang tidak resmi dibanding dengan portal berita online yang resmi. Dari situlah menunjukkan antusiasnya para pelaku dunia jurnalisme, sehingga dapat mencipatakan media baru dengan berbagai keunikan dan jenisnya masing-masing.

Hadirnya teknologi dengan proses kerja junalistik kemudian memunculkan tren baru di dunia jurnalistik yang kemudian disebut dengan jurnalisme hiburan (entertainment journalism). Jurnalisme hiburan merupakan hal baru di ranah jurnalistik. Karena muncul dari sebuah rasa kejenuhan para pembaca dan ingin menghadirkan suatu produk jurnalistik yang baru dan tidak monoton.

Media massa berbasis siber ini kemudian berkembang sangat pesat di era sekarang, karena masyarakat cenderung memilih berita hiburan sebagai informasi yang diingin diakses dibandingkan dengan informasi monoton seputar politik,

(6)

6

berita kriminal, dan pendidikan. Informasi berupa hiburan ini mencakup berbagai aspek seperti kehidupan selebriti, musik, film, video game, dan juga jenis hiburan lain.

Namun, informasi dengan jenis hiburan ini semakin lama tidak diimbangi dengan kredibilitas akan sebuah fakta yang disampaikan. Jurnalisme hiburan ini kemudian menjadi wadah untuk menggiring opini masyarakat tentang suatu informasi yang harus menghibur menjadi informasi yang kurang dapat dipercaya. Dugaan, prasangka, desas-desus dan asumsi turut mewarnai pemberitaan media siber di ranah entertainment. Hal tersebut kemudian memunculkan sebuah gossip atau kabar burung yang bahkan berujung fitnah tidak sesuai fakta yang dibumbui dengan pesan sensasi dan provokasi. Oleh karena itu, masyarakat dituntut untuk lebih melek media dan lebih selektif akan informasi yang mereka dapatkan dari media siber.

Media massa dalam melakukan pemberitaan dituntunt untuk lebih netral dan cover both side. Tidak menyudutkan salah satu pihak atau individu tertentu dalam memberikan informasi seputar dunia entertainment. Menggali terlebih dahulu fakta yang terjadi dan tidak menyebarkan asumsi pribadi dan desas-desus yang kurang pasti akan suatu informasi. Oleh karenanya faktualitas dari produk jurnalisme entertainment dirasa akan sangat dibutuhkan agar informasi yang diberikan benar-benar valid dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Di samping itu, wartawan media massa pun harus memenuhi aspek-aspek tertentu dalam penulisan berita. Seperti contohnya memastikan informasi atau kabar yang diterima apakah sudah valid atau hanya desas-desus belaka, memastikan kredibilitas sumber berita, dan harus apa adanya dalam menyampaikan fakta tanpa ada bumbu-bumbu atau tambahan tertentu yang ada menggiring opini dan asumsi publik.

Berita-berita mengenai dunia hiburan seperti berita seputar kehidupan para artis, public figure, dan tokoh-tokoh penting juga tidak luput dari ranah jurnalisme entertainment. Para public figure ini bisa menjadi sebuah sorotan jika mereka mengalami sesuatu hal. Hal tersebut termasuk wajar, karena artis dan public figure merupakan orang yang menjadi sorotan publik atau khalayak dan dapat mempengaruhi atau meng-influence masyarakat untuk melakukan hal yang sama

(7)

7

atau bahkan ingin menjadi sama dengan public figure tersebut. Hal tersebut bisa dilihat dari sisi cara berpakaian, cara berbicara, gestur, cara berkomunikasi, hingga cara bersikap. Menjadi public figure dengan banyak penggemar tentu akan meng-influence banyak orang.

Maka dari itu, media massa dalam melakukan pemberitaan harus memberikan informasi yang sebenar-benarnya agar para khalayak dapat mencerna suatu informasi dengan benar dan sesuai fakta. Media massa juga harus menjadi wadah edukasi bagi masyarakat untuk dapat menjaring suatu informasi tersebut apakah baik dan bagus untuk diterapkan dan apakah buruk sehingga harus dihindari menjadi suatu pembelajaran dan melakukan berbagai aktifitas sehar-hari.

Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com merupakan media siber yang sama-sama memiliki fokus pemberitaan di ranah jurnalisme hiburan. Keduanya adalah media siber yang memiliki rating yang bagus dalam pemberitaan dunia hiburan tanah air. Dilansir dari situs Comscore.com dengan tajuk Top 10 Multi-Platforms Properties (Dekstop and Mobile) per Oktober 2019 di Indonesia, pada posisi ketiga diduduki oleh Kreatif Media Karya Online (KMK Online) dan Kompas Gramedia di posisi keempat. Seperti yang kemudian peneliti telusuri, KMK Online merupakan perusahaan yang bergerak di industri media. Dan perusahaan ini memiliki saham sebesar 50% pada PT. Kapan Lagi Youniverse yang memiliki salah satu unit usahanya Kapanlagi.com. Sedangkan Tribunstyle.com yang tergabung dalam media Tribunnews.com merupakan unit usaha dari PT. Kompas Gramedia. Kedua media online ini menurut situs Comscore berada di bawah naungan perusahaan multi-platforms terbesar di Indonesia. Sehingga keduanya sama-sama bersaing dalam memberikan informasi seputar dunia entertainment di baik dalam negeri maupun luar negeri.

Sejalan dengan pemaparan di atas, peneliti bermaksud ingin mengetahui seberapa besar persentase perbandingan pada pemberitaan hiburan di media massa siber dan peneliti juga bermaksud ingin mengetahui bagaimana perbedaannya. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi dikarenakan dengan menggunakan metode tersebut, peneliti dapat mengetahui persentase perbandingan serta mengetahui perbandingan dengan jelas dalam bentuk angka. Adapun berita yang

(8)

8

akan diteliti adalah berita-berita dalam lingkup entertainment (hiburan) degan fokus berita selebriti atau artis yang dipublish Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com edisi 1 hingga 30 November 2019.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian, yaitu:

1. Bagaimana komparasi unsur pesan sensasional pada portal media online Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com edisi 1 November – 30 November 2019 berdasarkan aspek judul dan teks berita?

2. Seberapa besar persentase perbedaan dalam penerapan unsur pesan sensasional pada portal media online Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com edisi 1 November – 30 November 2019?

1.3 Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah yang telah dituliskan di atas, maka penelitian ini bertujuan:

1. Untuk mengetahui komparasi unsur pesan sensasional pada portal media online Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com edisi 1 November – 30 November 2019 berdasarkan aspek judul dan teks berita.

2. Untuk mengetahui seberapa besar persentase perbedaan unsur pesan sensasional pada portal media online Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com edisi 1 November – 30 November 2019 berdasarkan aspek judul dan teks berita.

1.4 Kegunaan Penelitian

Sesuai dengan tujuan yang sudah disebutkan di atas, penulis berharap bisa menghasilkan beberapa manfaat dari hasil penelitian, antara lain:

1.4.1 Manfaat Teoritis

a. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai karakteristik perbedaan antara kedua portal media online yaitu Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com.

(9)

9

b. Dapat dijadikan bahan perbandingan atau referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang sejenis.

1.4.2 Manfaat Praktis a. Manfaat bagi Penulis

Untuk mengetahui media dan berita entertainment mana yang lebih kredibel dan dapat dipercaya dari dua jenis portal media online yang diteltiti.

b. Manfaat bagi Tenaga Pendidik

Sebagai referensi untuk penelitian atau bahan ajar, khususnya yang berhubungan dengan menyikapi isu publik figur.

c. Manfaat bagi Masyarakat

Untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat mengenai hal-hal apa saja yang sedang up to date di kalangan anak muda, dan sebagai acuan untuk tindakan controlling terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

Berikut merupakan salah satu contoh pengujian yang dilakukan pada aplikasi ARMIPA yaitu pengujian ketepatan titik lokasi pada peta dan kamera dengan markerless

Konsekuensi yang diharapkan klien dapat memeriksa kembali tujuan yang diharapkan dengan melihat cara-cara penyelesaian masalah yang baru dan memulai cara baru untuk bergerak maju

Komunikasi dan Informatika, yang mencakup audit kinerja atas pengelolaan keuangan negara dan audit kinerja atas pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Komunikasi dan

Apabila terjadi kondisi fuel filter block sehingga terjadi perbedaan pressure yang di deteksi oleh fuel filter, maka defferential switch akan bekerja pada 10-11,5 psi

Hasil dari penelitian ini adalah terumuskan 5 strategi dan kebijakan IS/IT yang sebaiknya diterapkan di FIT Tel-U berdasarkan pertimbangan 3 hal, pertama kebutuhan

Pada Ruang Baca Pascasarjan perlu dilakukan pemebersihan debu baik pada koleksi yang sering dipakai pengguna maupun

Menurut teori hukum Perdata Internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai

Penyusunan LBP Kementerian Keuangan Tahunan Tahun Angggaran 2020 (Audited), mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan