PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK KONVENSIONAL
DENGAN METODE RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance,
Earnings, Capital)
PERIODE 2016-2020
Ika Nur Fatimah N1, Yuki Dwi Darma2 Prodi Manajemen, Universitas Pelita Bangsa
E-mail : [email protected]; [email protected]2
ABSTRAK
Bank merupakan tempat atau sarana yang dipercaya untuk mengelola dana masyarakat. Oleh sebab itu, bank-bank yang ada di Indonesia wajib melakukan penilaian kesehatan bank secara
Self Assesment dan penilaian oleh Bank Indonesia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh dari Profil Risiko, GCG (Good Corporate Governance), Rentabilitas (Earnings) dan Permodalan (Capital) terhadap hasil dari peringkat komposit serta untuk mengetahui apakah yang diteliti termasuk sangat sehat, sehat, kurang sehat, dan sangat kurang sehat. Metode penelitian pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif . Penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk menjelaskan berbagai kondisi, situasi, atau variabel-variabel yang timbul menjadi objek penlitian. Pada penelitian jenis ini, peneliti mengembangkan konsep, menghimpun fakta, dan menggambarkan apa yang ada dalam objek penelitian. Metode ini sebagai metode ilmiah karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Hasil penelitian pada penelitian ini adalah Risk Profile tidak berpengaruh signifikan terhadap Peringkat Komposit, GCG (Good Corporate Governance), Rentabilitas (Earnings) dan Permodalan (Capital) berpengaruh signifikan terhadap Peringkat komposit, hasil tersebut dilihat dari hasil uji analisis diagram jalur pada WarpPLS dengan hasil RP (Risk Profile ) dengan P-Value 0,30, GCG dengan Value P<0,1 , EAR (Earning) dengan Value 0.05 dan CAP (Capital) dengan P-Value 0.04 maka dapat disimpulkan bahwa GCG, EAR dan CAP berpengaruh signifikan terhadap nilai dari peringkat komposit karena nilai dari GCG, EAR dan CAP sama dengan atau kurang dari 0.05, nilai tersebut merupakan nilai tingkat signifikansi sedangkan RP tidak berpengaruh signifikan karena nilainya lebih besar dari nilai tingkat signifikansi.
Kata Kunci : Bank, Good Corporate Governance, Earnings, Capital, Peringkat Komposit.
1. PENDAHULUAN
Bank sebagai lembaga keuangan memiliki fungsi utama yaitu sebagai penghimpun dan penyalur dana dari masyarakat untuk masyarakat yang tercantum dalam UU RI No.7 Tahun 1992 pada Pasal 3 UU Perbankan. Bank sendiri merupakan perantara antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana (Rifka dkk,
2016:3). Salah satu unsur yang sangat diperhatikan oleh bank adalah tingkat kesehatannya. Kesehatan suatu bank adalah kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan
masyarakat, dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan moneter. Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan bank dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat serta bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan (Nur, 2015:1).
Krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 berdampak terhadap semua sektor termasuk sektor perbankan dimana banyak bank yang mengalami kesulitan likuiditas dikarenakan nilai tukar rupiah yang semakin turun. Sektor perbankan Indonesia kembali mengalami krisis pada tahun 2008 dimana tingkat suku bunga terpaksa diturunkan agar konsumsi dan investasi masyarakat meningkat. Dua kondisi ini menunjukkan bahwa bank sangat rentan terhadap penarikan secara besar-besaran oleh nasabah. Karena itu pengawasan Bank Indonesia dilakukan untuk mengetahui kinerja dan tingkat kesehatan bank (Yusnita dan Evelyn,2019:2). Penilaian tingkat kesehatan bank juga dapat menjadi tolak ukur untuk memulai merger atau penggabungan, dimana merger tersebut dilakukan untuk mempereoleh pertumbuhan yang cepat baik dalam ukuran pasar saham maupun diversifikasi usaha. tersebut dilakukan untuk mempereoleh pertumbuhan yang cepat baik dalam ukuran pasar saham maupun diversifikasi usaha.
Pada tahun 2016 terdapat bank yang melakukan merger yang membentuk Bank Sinhan yaitu PT Bank Metro Express dengan PT Centratama Nasional Bank. Bank Shinhan Indonesia tercatat mempunyai 60 kantor di seluruh Indonesia dengan karyawan sebanyak 800 orang. Sebagai catatan, Bank Shinhan di Korea Selatan adalah salah satu dari bank terbesar dengan total asset sebesar Rp 3,159 triliun. Untuk Bank
Shinhan Indonesia kedepannya memungkinkan akan ada tambahan modal inti yang dihasilkan. Pada tahun 2017 juga terdapat bank yang melakukan merger yaitu Bank HSBC dengan PT Bank Ekonomi Raharja Tbk, nilai buku dan asset akan bertambah karena melakukan merger atau penggabungan. Yang kedepannya ingin memfokuskan pada usaha mikro, kecil, dan menengah. Selain itu, juga terdapat bank yang melakukan merger di tahun 2018 yaitu PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI). Area kolaborasi dan sinergi tersebut meliputi pembiayaan untuk rantai pasok otomotif, perbankan ritel, inovasi digital dan kemampuan manajemen risiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode RGEC terhadap penilaian peringkat komposit.
Sepanjang tahun 2020 terjadi peritiwa terkait dengan perencanaan penggabungan perusahaan publik di tanah air yang saat ini ramai diperbincangkan di sosial media dan di perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satunya adalah PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) yang merupakan anak usaha dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (sri PetrochemicalBBRI) yang akan digabungkan dengan PT Bank BNI Syariah (BNIS) dan PT Bank Mandiri Syariah (BSM). Dengan adanya penggabungan maka asset dari ketiga bank syariah tersebut bisa melesat, per Agustus 2020 Bank Syariah Mandiri mencatatkan asset Rp 112,1 triliun, BNI Syariah Rp 49,97 triliun, dan BRI Syariah Rp 51,8 triliun. Penggabungan tersebut akan menciptakan syariah dengan asset mencapai Rp 390 triliun dengan target pembiayaan bisa menembus Rp 272 triliun, dan pendanaan sekitar Rp 335 triliun.
sendiri dapat diukur melalui metode RGEC (Risk Profile, Good Governance,Earnings dan Capital) dan metode CAMELS, namun dalam peraturan Bank Indonesia terbaru dalam menilai tingkat kesehatan bank menggunakan metode RGEC dikarenakan metode RGEC tersebut penyempurna dari metode sebelumnya yaitu CAMELS. Banyak penelitian terdahulu tentang penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan model RGEC. Penelitian terkait mengenai penilaian tingkat kesehatan bank : analisis peniliaian tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Central Asia, Tbk berdasarkan metode RGEC pada tahun 2012-2014, yang dilakukan oleh Dewa dan I Ketut (2017) menunjukkan bahwa hasil penelitiannya sehat. Fokus penelitian ini Risk Profile yang terdiri dari risiko pembiayaan (NPL), dan likuiditas (LDR), untuk Good Corporate Governance (GCG) diukur dengan self assesment dikatakan sangat sehat, sedangkan Earning diukur dengan menggunakan ROA dan NIM, dan Capital (permodalan) diukur dengan menggunakan rasio CAR. Hasil penelitian ini adalah PT. Bank Central Asia, Tbk periode 2012-2014 berada di peringkat komposit 1 yang artinya bank secara umum sangat sehat dan dinilai sangat mampu untuk menghadapi pengaruh negatif signifikan yang berasal dari perubahan kondisi bisnis serta faktor eksternal lainnya.
Sementara itu penelitian Ana dan Husnul (2020) melakukan penelitian menegenai analisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode RGEC pada Bank BJB menunjukkan bahwa penelitiannya mengalami penurunan untuk faktor Risk profile. Bisa dilihat dari faktor Risk profile dengan menggunakan rasio ROA periode 2015-2017 mengalami penurunan, pada tahun 2015 sebesar 1,86% dalam kondisi sangat sehat, tahun 2016 sebesar 1,37% dalam kondisi
sehat, dan tahun 2017 sebesar 0,88% dalam kondisi cukup sehat. Kemudian dilihat dari faktor Earning dalam kondisi stabil dengan menggunakan rasio NIM periode 2015-2017, pada tahun 2015 sebesar 6,24% dalam kondisi sangat sehat, tahun 2016 sebesar 5,94% dalam kondisi sangat sehat, dan tahun 2017 sebesar 7,98% dalam kondisi sangat sehat. Kemudian untuk penelitian yang dilakukan oleh Zeze dan Dewi (2019) melakukan penelitian mengenai analisis tingkat kesehatan bank pada PT Bank Muamalat Indonesia Tbk dengan menggunakan metode RGEC periode 2013-2017 fokus terhadap Risk profile yang terdiri dari risiko pembiayaan (NPF), dan likuiditas (FDR), sedangkan Earning diukur dengan menggunakan rasio ROA,ROE dan BOPO, dan Capital diukur dengan menggunakan rasio CAR. Hasil penelitian ini adalah PT Bank Muamalat Indonesia Tbk periode 2013-2017 berada di peringkat komposit 4 yang artinya bank secara umum kurang sehat dan dinilai kurang mampu untuk menghadapi pengatuh negatif signifikan yang berasal dari perubahan kondisi bisnis serta faktor eksternal lainnya.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Hadi dan Nurul (2020) melakukan penelitian dengan judul analisis penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode RGEC pada PT Bank BRI Syariah (Persero) 2013-2018 dengan menggunakan metode RGEC dan perhitungan nilai komposit akhir yang rata-rata 65,71% atau PK > 61%, maka dapat disimpulkan bahwa dalam kondisi cukup sehat memperoleh peringkat komposit akhir 3, dan dapat dijadikan penilaian bagi nasabah bank dalam memilih dan memutuskan untuk menggunakan jasa perbankan, selain itu PT Bank BRI Syariah dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis serta faktor eksternal lainnya Berdasarkan uraian diatas dan hasil penelitian sebelumnya, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian “Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Konvensional dengan Metode RGEC (
Risk Profile, Good Governance, Earnings, Capital ) Periode 2015-2020”.
2. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
Peringkat komposit merupakan sebuah nilai akhir dari hasil penilaian tingkat kesehatan bank. Peringkat komposit sendiri ditetapkan berdasarkan analisis secara komprehensif dan terstruktur terhadap peringkat setiap faktor-faktor tingkat kesehatan bank yang meliputi Profil Risiko (Risk Profile), Good Corporate Governance, Rentabilitas (Earnings) dan Permodalan (Capital) dengan memperhatikan signifikansi masing-masing faktor serta mempertimbangkan kemampuan bank dalam menghadapi perubahan kondisi di luar atau eksternal yang signifikan. (www.ojk.go.id). Peringkat komposit sendiri dibagi menjadi 5 kategori yaitu peringkat komposit 1 sampai dengan peringkat komposit 5 dimana bank yang mempunyai peringkat komposit 1 dinyatakan bank tersebut sangat sehat, peringkat komposit 2 dinyatakan sehat, peringkat komposit 3 bank tersebut dinyatakan cukup sehat, peringkat komposit 4 dinyatakan bank tersebut kurang sehat dan bank yang mempunyai peringkat kompositnya 5 dinyatakan bank tersebut sangat kurang sehat, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin kecil peringkat komposit bank maka semakin besar bank tersebut dinyatakan sangat sehat.
Menurut surat edaran Otorisasi Jasa
Keuangan (OJK) nomor
14/SEOJK.03/2017 tentang penilaian tingkat kesehatan bank dalam menentukan peringkat profil risiko didasarkan pada hasil penilaian dari delapan (8) jenis risiko yang dinilai oleh bank. Risiko tersebut yaitu risiko kredit, risiko pasar,risiko likuiditas, risiko
operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik dan risiko
kepatuhan. Bank juga
mempertimbangkan signifikansi dan materialitas risiko yang dinilai dalam menentukan peringkat profil risiko. Sebagai contohnya, risiko kredit umumnya merupakan risiko yang paling dominan pada aktivitas bank sehingga memiliki signifikansi yang lebih tinggi dibandingkan dengan risiko lain, dengan demikian peringkat profil risiko bank akan lebih banyak dipengaruhi oleh peringkat risiko kredit sebagai risiko paling dominan pada bank dan setelahnya oleh risiko lainnya yang dianggap signifikan, misalnya risiko pasar, risiko likuiditas, dan risiko operasional. Dalam hal bank memiliki perusahaan anak yang wajib
dikonsolidasikan, bank
memperhitungkan dampak risiko perusahaan anak terhadap profil risiko dan kinerja keuangan bank dengan mempertimbangkan signifikansi dan materialitas perusahaan anak dan signifikasi permasalahan perusahaan anak. Profil risiko yang digunakan pada penelitian ini yaitu mengukur rasio kredit dengan menggunakan rasio Non Performing Loan (NPL) dan rasio likuiditas dengan rasio Loan to Funding Ratio (LFR).
Non Performing Loan (NPL) merupakan kredit bermasalah yang terdiri dari kredit kurang lancar, diragukan dan macet serta merupakan salah satu kunci untuk menilai kualitas kinerja bank. Rasio NPL di hitung dengan rumus :
NPL = Kredit Bermasalah x 100 %
Tabel kriteria penetapan NPL : Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat NPL < 2 % 2 Sehat 2 % ≤ NPL < 5 % 3 Cukup Sehat 5 % ≤ NPL < 8 % 4 Kurang Sehat 8 % ≤ NPL 12 % 5 Tidak Sehat NPL ≥ 12 %
Loan to Funding Ratio (LFR), merupakan salah satu rasio untuk mengukur rasio likuiditas, sebelum Loan to Funding Ratio (LFR) terdapat Loan to Deposit
Ratio (LDR) namun Bank Indonesia membuat peraturan baru no.17/II/PBI/2015 pada tanggal 26 Juni 2015 tentang penambahan formula baru pada LDR yaitu dengan memasukkan surat-surat berharga dalam perhitungan LDR sehingga diganti menajadi Loan to Funding Ratio (LFR). Rasio LFR
dihitung dengan rumus : LFR = Total Kredit x 100 % Dana Pihak Ketiga
Tabel Penetapan kriteria LFR
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat LFR ≤ 75 % 2 Sehat 75 % < LFR ≤ 85 % 3 Cukup Sehat 85 % < LFR ≤ 100 % 4 Kurang Sehat 100 % < LFR ≤ 120 % 5 Tidak Sehat LFR > 120 %
Penilaian terhadap faktor Good Corporate Governance (GCG) dalam pendekatan RGEC didasarkan ke dalam tiga aspek utama yaitu governance structure, governance process, dan governance output. Berdasarkan ketetapan Bank Indonesia yang disajikan dalam Laporan Pengawasan Bank (2012:36). Dewan Direksi serta kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite. Governance process mencakup fungsi kepatuhan bank, penanganan benturan kepentingan, penerapan fungsi audit intern dan ekstern, penerapan manajemen risko termasuk sistem pengendalian intern, penyediaan dana kepada pihak terkait dan dana besar, serta rencana strategis bank. Aspek terakhir governance output mencakup transparasi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG yang memenuhi prinsip Transparancy, Accountability, Responsibility, Indepedency, dan Fairness. Semakin tinggi nilai Good Corporate Governance (GCG) suatu bank, maka semakin baik kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip Good
Corporate Governance (GCG) (Herja dan Vargo, 2015:5).
Rentabilitas (Earnings) merupakan kemampuan suatu perusahan untuk mengahasilkan laba selama periode tertentu dan juga perbandingan antara laba dengan aktiva yang menghasilkan laba tersebut. Rasio rentabilitas dihitung dengan perbandingan laba sebelum pajak dengan modal rata-rata yang digunakan dalam periode tahun yang bersangkutan. Rentabilitas yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan rasio Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE) dan Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).
Return On Asset (ROA) adalah rasio
yang digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan aktiva. Dengan kata lain, semakin tinggi rasio ini maka semakin baik produktivitas asset dalam memperoleh keuntungan bersih. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor, karena tingkat pengembalian atau devisa akan semakin besar. Hal ini juga akan berdampak pada harga saham dari perusahaan tersebut di pasar modal yang akan semakin meningkat sehingga ROA akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan (Herja danVargo, 2015:5).
Return On Equity (ROE) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi para pemegang saham. ROE dianggap sebagai representasi dari kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan (Herja dna Vargo, 2015:6). ROE juga menunjukkan perbandingan antara laba bersih setelah pajak terhadap rata-rata equity untuk mengukur kinerja keuangan dari bank dan NIM yang digunakan untuk menunjukkan perbandingan antara pendapatan bunga bersih dengan rata-rata total aset produktif, adapun rumus
yang digunakan untuk menentukan ROE adalah sebagai berikut :
ROE = Laba Setelah Pajak x 100 % Rata-rata Modal Inti
Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan salah satu rasio yang terdapat di dalam rasio rentabilitas. Keberhasilan bank didasarkan pada penialaian kuantitatif terhadap rentabilitas bank dapat diukur denhan menggunakan rasio biaya operasional terhadap pendapatan pendapatan operasional. Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sering disebut rasio efisiensi digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien yang dikeluarkan bamk yang bersangkutan (Hejar dan Vargo, 2015:4). Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan BOPO adalah sebagai berikut :
BOPO = Biaya Operasional x 100 % Pendapatan Operasional 3. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk menjelaskan berbagai kondisi, situasi, atau variabel-variabel yang timbul menjadi objek penlitian. Pada penelitian jenis ini, peneliti mengembangkan konsep, menghimpun fakta, dan menggambarkan apa yang ada dalam objek penelitian. Metode ini sebagai metode ilmiah karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode analisis
data yang digunakan pada penelitian ini yaitu Partial Least Square (PLS) dengan software WarpPLS 7.0. dimana analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa pengaruh dari Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings dan Capital terhadap nilai Peringkat Komposit dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 . Partial Least Square (PLS) sendiri secara umum sangat sesuai untuk memprediksi aplikasi dan membangun teori, menguji keseluruhan fit model dengan baik serta menganalisis sampel yang berukuran kecil. Partial Least Square (PLS) juga memiliki kelebihan dari pada regresi biasa karena PLS dapat menguji beberapa variabel sekaligus.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini variabel Risk Profile tidak berpengaruh secara signifikan terhadap peringkat komposit tidak berpengaruhnya variabel risk profile tersebut dapat dilihat dari nilai P-value nya yaitu 0,30 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,05. Tidak berpengaruh secara signifikannya risk profile terhadap peringkat kesehatan bank dikarenakan adanya fee base income, dimana bank melakukan berbagai inovasi terhadap produk maupun jasa sehingga pendapatan bank tidak hanya dari bunga atau kredit yang bisa dihitung menggunakan rasio NPL dimana NPL ini merupakan indikator untuk menghitung risk profile dalam penilaian tingkat kesehatan bank.
Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel GCG (Good Corporate
Governance) dengan peringkat komposit, berpengaruhnya variabel GCG dapat dilihat dari gambar 4.1 dimana nilai P-value dari GCG adalah P<,01 artinya lebih kecil dari 0,01 dan lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa GCG berpengaruh signifikan terhadap PK (Peringkat Komposit). Berpengaruhnya GCG
terhadap Peringkat komposit dikarenakan besarnya nilai GCG dapat mencerminkan kualitas penerapan GCG diperusahaan itu baik dan meningkatkan kualitas bank dimata investor karena dirasa dapat meningkatkan potensi untuk memperoleh laba. Ketika laba suatu bank meningkat maka otomatis peringkat kompositnya pun meningkat dan bahkan bisa dikategorikan sehat ataupun sangat sehat.
Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Earnings terhadap peringkat komposit, berpengaruhnya variabel EAR dapat dilihat dari gambar 4.1 dimana nilai P-value dari EAR adalah P=0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa EAR berpengaruh signifikan terhadap PK (Peringkat Komposit). Berpengaruh signifikannya earnings terhadap peringkat komposit dikarenakan jumlah ROA semakin besar dimana rasio ROA tersebut merupakan salah satu rasio yang digunakan sebagai indikator untuk menghitung penilaian tingkat kesehatan bank. ROA sendiri diindikasikan bahwa bank tersebut mempunyai laba atau keuntungan yang besar dan semakin besar pula deviden yang akan diberikan kepada investor maka dari itu kondisi seperti ini yang menjadi daya tarik masyarakat untuk berinvestasi.
Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Capital terhadap peringkat komposit, berpengaruhnya variabel CAR dapat dilihat dari gambar 4.1 dimana nilai P-value dari CAR adalah P=0,04 lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa CAR berpengaruh signifikan terhadap PK (Peringkat Komposit). Berpengaruhnya variabel CAR terhadap penilaian peringkat komposit dikarenakan CAR dapat merefleksikan kecukupan modal untuk melindungi aktiva yang berisiko seperti kredit yang diberikan. Besarnya modal yang dimiliki bank menunjukkan bank tersebut mampu menutupi kerugian yang disebabkan oleh risiko operasional,
jika bank dapat menunjukkan hal tersebut makan akan berpengaruh terhadap nilai dari tingkat kesehatan bank tersebut dimana nilai tersebut dapat menjadi penilaian terhadap peringkat komposit bank tersebut.
5. KESIMPULAN
Kesimpulan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variabel profil risiko atau risk profile tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penilaian peringkat komposit, sedangkan variabel GCG (Good
Corporate Governance), Earning dan Capital memiliki hubungan yang signifikan terhadap penilaian peringkat komposit. Tidak berpengaruh secara signifikannya risk profile terhadap peringkat kesehatan bank dikarenakan adanya fee base income, dimana bank melakukan berbagai inovasi terhadap produk maupun jasa sehingga pendapatan bank tidak hanya dari bunga atau kredit yang bisa dihitung menggunakan rasio NPL dimana NPL ini merupakan indikator untuk menghitung risk profile dalam penilaian tingkat kesehatan bank. Berpengaruhnya variabel GCG, EAR dan CAP pada penilaian peringkat komposit dikarenkan besarnya nilai GCG dapat mencerminkan kualitas penerapan GCG diperusahaan itu baik dan meningkatkan kualitas bank dimata investor karena dirasa dapat meningkatkan potensi untuk memperoleh laba. Ketika laba suatu bank meningkat maka otomatis peringkat kompositnya pun meningkat dan bahkan bisa dikategorikan sehat ataupun sangat sehat. Berpengaruh signifikannya earnings terhadap peringkat komposit dikarenakan jumlah ROA semakin besar ROA sendiri diindikasikan bahwa bank tersebut mempunyai laba atau keuntungan yang besar dan semakin besar pula deviden yang akan diberikan kepada investor maka dari itu kondisi seperti ini menjadi
daya tarik masyarakat untuk berivestasi. Berpengaruhnya variabel CAR terhadap penilaian peringkat komposit dikarenakan CAR dapat merefleksikan kecukupan modal untuk melindungi aktiva yang berisiko seperti kredit yang diberikan. Besarnya modal yang dimiliki bank menunjukkan bank tersebut mampu menutupi kerugian yang disebabkan oleh risiko operasional, jika bank dapat menunjukkan hal tersebut makan akan berpengaruh terhadap nilai dari tingkat kesehatan bank tersebut dimana nilai tersebut dapat menjadi penilaian terhadap peringkat komposit bank tersebut.
Saran
Pada penelitian ini data yang digunakan adalah data tahunan, pada penelitian selanjutnya disarankan menggunakan data triwulan atau quartal sehingga hasilnya akan lebih valid, dapat menambahkan dan memperluas variabel penelitian serta memperpanjang periode penelitian yang belum diteliti pada penelitian ini untuk mengetahui lebih jelas dan lengkap mengenai tingkat penilaian bank dengan menggunakan metode RGEC.
Daftar Pustaka
Abdul, dkk. 2018. “The Effect of Bank Soundness with the RGEC Approach (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, Capital) of Leverage and its Implications on Company’s Value of State Bank in Indonesia for the Period of 2012-2016”. International Journal of Economic Research Volume 15. Number 1, 2018.
Aulia, A., & Khotimah, H. 2020. “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC pada Bank BJB”. Jurnal Penelitian Implementasi
Akuntansi (JPIA), 1(1), 88-94.
Bank Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011
Perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.
Bank Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004
Perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.
Fitriana, N., Rosyid, A., & Fakhrina, A. 2015. “Tingkat Kesehatan Bank BUMN Syariah dengan Bank Bumn Konvensional: Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning dan Capital)”. Jurnal Ekonomi
dan Bisnis, 17(2), 1-12.
Hadijah, Siti. 2016. “Penggolongan Kualitas Kredit dan Cara Menghindari Kredit Macet” https://www.cermati.com/artikel/pe nggolongan-kualitas-kredit-dan-cara-menghindari-kredit-macet Hafiz, A. P. 2018. “Penilaian Tingkat
Kesehatan Bank Syariah Dengan Metode CAMEL dan REGC (Studi Pada Bank BNI Syariah Tahun 2011-2015)”. ILTIZAM
Journal of Shariah Economics Research, 2(1), 66-83.
Hamzah, Z. Z., & Anggraini, D. 2019. “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Pada PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk Dengan Menggunakan Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning & Capital)
Periode
2013-2017”. Economicus, 13(1), 46-56.
Herispon. 2016. Analisis Laporan
Keuangan (Financial Statement Analysis). Pekanbaru: Akademi
Keuangan & Perbankan Riau (Akbar).
Korompis, V. E., Rotinsulu, T. O., & Sumarauw, J. 2016. “Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Metode RGEC (Studi pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT. Bank Mandiri Tbk Tahun 2012-2014)”. Jurnal EMBA: Jurnal
Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 3(4).
Lisa, O. & Hermanto B. 20120. “Analysis of Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, and Capital (RGEC) in Syariah Commercial Banks and Conventional Commercial Banks”. International Journal of
Social and Business Volume 4, Number 1 Tahun 2020.
Montolalu, K., Murni, S., & Van Rate, P. 2018. “Analisis Perbedaan Tingkat Kesehatan Bank Umum Menggunakan Metode Rgec Pada Sub Sektor Perbankan Yang Terdaftar Pada Bei Periode 2012–2016”. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 6(3).
Octafilia, Y., & Wiyaja, E. 2019. “Kajian Pendekatan Simultan Tingkat Kesehatan Bank Konvensional dengan CAMELS dan RGEC”. COSTING: Journal
of Economic, Business and Accounting, 3(1), 160-174.
Paramartha, D. G. D. A., & Mustanda, I. K. 2017. “Analisis Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Pada PT. Bank Central Asia. Tbk Berdasarkan Metode Rgec”.
E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana, 6(1), 32-59.
Paramastri, S. C., Purbayati, R., & Danisworo, D. S. (2021). Pengaruh Penilaian Tingkat
Kesehatan Bank Terhadap Praktik Manajemen Laba Pada Bank Umum Syariah di Indonesia. Journal of Applied
Islamic Economics and
Finance, 1(2), 297-308.Permana, B. A. A. 2015. “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Metode CAMELS dan Metode RGEC”. Jurnal Akuntansi Akunesa, 1(1).
Permana, Y. A. & Sudirman Negara, I. M. S. 2021. “Analysis of Bank Soundness Using the RGEC Method in State-Owned Banks Listed on the Indonesia Stock
Exchange 2015-2018”.
American Journal of Humanities and Social Sciences Research Volume 5.Putra, Ardhansyah &
S. Dwi. 2020. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.
Surabaya: Jakad Media Publishing.
Raturandang, I. F., Rogahang, J., & Keles, D. 2018. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode CAMEL (Capital, Asset Quality, Management, Earnings, Liquidity) Pada PT. Bank Sulut-Go. JURNAL