• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Indonesia merupakan suatu negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km2 dan 75 persen adalah Zona Ekonomi Eksklusif (Dahuri, 1998). Sejumlah besar (lebih dari 10.000 buah) dari pulau-pulau tersebut merupakan pulau-pulau berukuran kecil yang tersebar di Kepulauan Indonesia.

Definisi pulau-pulau kecil disini adalah kumpulan pulau-pulau secara fungsional, baik secara individual maupun secara sinergis dapat meningkatkan skala ekonomi dari pengelolaan sumberdaya (DKP, 2001b). Sebagai kawasan kecil keberadaan pulau-pulau kecil baik dari segi ekosistem pulau itu sendiri maupun keragaman hayati (biodiversity) yang ada di dalam ekosistem sekitar pulau yang sangat rentan terhadap berbagai aktivitas manusia yang terjadi di kawasan daratan.

Pulau kecil juga dapat didefinisikan sebagai pulau dengan luas areanya kurang dari 10.000 km2 dan mempunyai penduduk berjumlah kurang dari 500.000 jiwa (Beller et al 1990 diacu dalam Retraubun, 2001). Sementara itu, menurut Dahuri (1998) pulau-pulau kecil merupakan habitat yang terisolasi dengan habitat lain, keterisolasian suatu pulau akan menambah keanekaragaman organisme yang hidup di pulau tersebut. Keterisolasian ini juga dapat membentuk kehidupan yang unik di pulau tersebut. Selain itu pulau juga mempunyai lingkungan yang khusus dengan proporsi spesies endemik yang tinggi bila dibandingkan dengan pulau kontinen. Pulau kecil juga mempunyai tangkapan air tawar yang relatif kecil. Selajutnya dilihat dari aspek budaya, masyarakat pulau kecil mempunyai budaya yang berbeda dengan pulau kontinen dan daratan.

Dalam suatu wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terdapat sistem lingkungan (ekosistem) dan sumberdaya. Ekosistem tersebut bersifat alamiah atau buatan. Ekosistem alami yang terdapat di pulau-pulau kecil, antara lain adalah : terumbu karang (coral reef), mangrove, pantai berbatu (rocky beach), estuaria,

laguna, delta. Sedangkan ekosistem buatan antara lain berupa kawasan pariwisata,

(2)

Sumber: Pernetta dan Milliman, 1995 diacu dalam DKP (2000)

Gambar 1 Batas wilayah pesisir

Secara umum, sumberdaya alam di kawasan pulau-pulau kecil terdiri dari sumberdaya alam yang dapat pulih (renewable resources), sumberdaya yang tidak dapat pulih (non renewable resources), dan jasa-jasa lingkungan pesisir dan lautan (environmental service). Sumberdaya dapat pulih, terdiri berbagai ikan, plankton,

benthos, molusca, mamalia laut, rumput laut (seaweeds), lamun (seagrass),

mangrove, terumbu karang, dan krustasea. Sumberdaya tidak dapat pulih meliputi minyak bumi dan gas, biji besi, pasir, timah, bauksit, dan mineral serta bahan tambang lainnya. Jasa-jasa lingkungan pesisir dan lautan antara lain adalah pariwisata dan perhubungan laut.

Selama ini potensi sumberdaya alam yang terdapat pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil belum banyak digarap secara optimal. Hal tersebut diakibatkan upaya masyarakat dan pemerintah lebih banyak terkuras untuk mengelola sumberdaya yang ada di darat yang mempunyai luas hanya sepertiga dari luas negeri ini (Kusumastanto, 2000).

Sumberdaya ikan di kawasan pulau-pulau kecil terkenal sangat tinggi. Hal ini karena didukung oleh ekosistem yang komplek dan sangat beragam seperti ekosistem terumbu karang, mangrove, padang lamun. Potensi jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pulau-pulau kecil, seperti: pariwisata bahari dan perhubungan laut, merupakan potensi yang mempunyai nilai tinggi bagi

(3)

peningkatan pendapatan masyarakat sekitar maupun pendapatan nasional. Keanekaragaman dan keindahan yang terdapat di pulau-pulau kecil tersebut merupakan daya tarik tersendiri di dalam pengembangan pariwisata.

Kesesuaian Lahan

Ekosistem pulau-pulau kecil juga memilki peran dan fungsi yang sangat menentukan, bukan saja kesinambungan ekonomi tetapi juga kelangsungan hidup umat manusia. Faktor paling utama adalah fungsi sebagai pengatur iklim global temasuk dinamika lanina, siklus hidrologi dan biokimia, penyerap limbah, sumberdaya plasma nuftah dan sistem penunjang kehidupan lainnya di daratan (Dahuri, 1998). Oleh karena itu pemanfaatan sumberdaya di kawasan tersebut mestinya secara seimbang dilakukan dengan upaya konservasi, sehingga dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan.

Permasalahan umum penggunaan lahan yang sering terjadi di wilayah pesisir adalah degradasi lingkungan seperti degradasi habitat, kerusakan ekosistem pesisir, pencemaran, konflik pemanfaatan ruang sumberdaya dan pemanfaatan ruang wilayah pesisir yang tidak efisien. Diantara penyebab utama timbulnya masalah tersebut adalah karena belum adanya penataan ruang yang komprehensif pada wilayah pesisir dan menyebabkan terjadi penyimpangan-penyimpangan pemanfaatan terhadap tata ruang yang ada (Bengen, 2002).

Evaluasi lahan merupakan bagian dari proses perencanaan tata guna tanah. Inti evaluasi kesesuaian lahan adalah membandingkan persyaratan yang diminta oleh tipe penggunaan lahan yang diterapkan, dengan sifat-sifat atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan yang digunakan. Dengan cara ini, maka akan diketahui potensi lahan atau kelas kesesuaian/kemampuan lahan untuk jenis penggunaan lahan tersebut (Widiatmaka, 2001)

Menurut Widiatmaka (2001), tujuan evaluasi kesesuaian lahan adalah menentukan nilai (kelas) untuk tujuan tertentu, dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial, serta lingkungan dan berkaitan dengan perencanaan tata guna tanah.

(4)

Penataan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Menurut Undang-Undang No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang, konsep ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk hidup lainnya melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Sebagai suatu sistem, ruang wilayah memiliki struktur dan fungsi, dimana struktur wilayah adalah susunan (arrangement) dari berbagai penggunaan ruang (kegiatan ekonomi) dalam ruang fisik. Fungsi wilayah adalah aliran (transport) barang-barang/komoditas (economic goods), orang, dan bahan pencemar antara penggunaan ruang.

Dilihat dari jangka waktu, pelaksanaan rencana tata ruang juga bervariasi. Suatu rencana tata ruang merupakan suatu produk dari kegiatan perencanaan tata ruang yang disusun pada suatu saat tertentu untuk kurun waktu tertentu pula. Jangka waktu perencanaan tata ruang wilayah pesisir terdiri dari beberapa tingkatan menurut UU No. 24 tahun 1992. Untuk rencana tata ruang wilayah pesisir kabupaten/kota, jangka waktu perencanaan adalah 10 tahun.

Tata ruang pesisir dapat dikelompokan melalui pengaturan lahan wilayah ke dalam unit-unit yang homogen ditinjau dari keseragaman fisik, nonfisik, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan keamanan. Wilayah Pesisir paling dikenal sebagai daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan dimana merupakan kawasan di permukaan bumi yang paling padat dihuni oleh umat manusia (Dahuri, 1997).

Perencanaan tata ruang wilayah pesisir adalah lebih komplek bila dibandingkan dengan perencanaan tata ruang daratan, karena (a) perencanaan di wilayah pesisir harus mengikutsertakan semua aspek yang berkaitan, baik dengan wilayah darat maupun wilayah lautan, (b) aspek daratan dan lautan tersebut tidak dapat dipisahkan secara fisik oleh garis pantai, karena kedua aspek tersebut saling berinteraksi secara terus menerus dan bersifat dinamis, seiring dengan proses-proses fisik dan biogeokimia yang terjadi, dan (c) bentang alam (geomorfologi dan fisiografi) wilayah pesisir berubah secara cepat bila dibandingkan dengan wilayah daratan. Hal ini merupakan interaksi yang dinamis antara daratan dan lautan (Dahuri, 1997).

(5)

Pemanfaatan Ruang

Pemanfaatan ruang diartikan sebagai rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Menurut UU No. 24 tahun 1999 Pasal 15 tentang Penataan Ruang, pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaan, yang didasarkan atas rencana tata ruang. Adapun yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk lingkungan secara hirarki dan saling berhubungan satu sama lainnya, sedangkan yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah tata guna tanah, air, udara, dan sumberdaya alam lainnya dalam mewujudkan penguasaan penggunaan, pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumberdaya alam lainnya.

Menurut Sugandhy (1999), permasalahan dalam pemanfaatan ruang wilayah di Indonesia dicirikan dengan jumlah penduduk dan laju pertumbuhan serta permasalahan kependudukan lainnya yang semakin besar karena tanah kehutanan dan tanah pertanian dikonversi untuk pemukiman, industri dan pemanfaatan lainnya. Oleh karena itu kecenderungan merosotnya sumberdaya alam dan lingkungan hidup selain diakibatkan oleh menurunnya kualitas pemanfaatan ruang, juga dipacu oleh kualitas wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. Wujud struktural pemanfaatan ruang merupakan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan buatan yang secara hierarki dan sruktural pemanfaatan ruang tersusun antara lain meliputi pusat-pusat pelayanan (kota, lingkungan, pemerintahan); prasarana jalan; rancangan bangun kota seperti ketinggian bangunan, jarak antara bangunan dan sebagainya. Pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang mengambarkan ukuran, fungsi dan karakter kegiatan atau kegiatan alam. Pola pemanfaatan ini ditandai dengan pola lokasi, sebaran pemukiman, tempat kerja, industri, pertanian serta pola penggunaan tanah pedesaan dan perkotaan.

(6)

Beberapa hal yang terkait dengan pemanfaatan ruang tercantum dalam pasal 15 dan 16, UU. N0 24 Tahun 1992, yang dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Pasal 15

1. Pemanfaatan ruang dilakukan melalui program pemanfaatan ruang beserta pembiayaan yang didasarkan atas rencana tata ruang,

2. Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang.

b. Pasal 16

1. Dalam Pemafaatan ruang dikembangkan :

a. Pola pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumberdaya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam pasal 2;

b. Perangkat yang bersifat insentif dan disentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warga negara.

2. Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumberdaya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a, diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pengaturan pemanfaatan ruang pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat, oleh karena itu dalam penyusunan komposisi pemanfaatan ruang secara optimal selain bertujuan untuk meningkatkan produktivitas juga diharapkan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungannya

Konflik Pemanfaatan

Mitchell et al, 2000 diacu dalam Darwin (2005), juga menyebutkan beberapa penyebab dasar konflik. Pertama, perbedaan pengetahuan atau pemahaman dapat mengarahkan timbulnya konflik. Berbagai kelompok mungkin menggunakan model, perkiraan atau informasi yang berbeda. Perbedaan fakta menimbukan konflik tentang apakah telah muncul persoalan dan penyelesaian persoalan, manakah yang paling tepat. kedua, konflik dimungkinkan muncul karena perbedaan nilai. Dalam hal ini, mungkin ada kesepakatan tentang bentuk

(7)

suatu persoalan serta cara penyelesaiannya, akan tetapi terjadi perbedaan yang pokok pada titik akhir yang dituju. Kelompok lain mungkin meyakini bahwa sejumlah air tertentu harus tetap dialokasikan untuk kepentingan lain, terutama untuk menjamin kehidupan ikan dan berbagai air lainnya. Ketiga, perbedaan kepentingan dapat menimbulkan konflik meskipun berbagai kelompok menerima fakta dan interpretasi yang sama, serta mempunyai kesamaan nilai. Keempat, konflik muncul karena adanya persoalan pribadi atau karena latar belakang sejarah.

Konflik tidaklah sesuatu yang berkonotasi kurang baik, dalam banyak hal, dapat membantu dalam mengidentifikasi permasalahan apabila suatu proses atau prosedur mengalami jalan buntu. Konflik juga dapat merupakan rambu-rambu bagi penganalisa atau manager untuk senantiasa menyadari akan adanya perbedaan, baik pandangan maupun nilai-nilai (Mitchell et al, 2000 diacu dalam Darwin, 2005).

Tata Ruang dalam Pengembangan Wilayah

Pengembangan wilayah adalah suatu upaya mendorong perkembangan wilayah secara mendasar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidup yang berkesinambungan. Upaya tersebut antara lain: (a) meningkatkan kemampuan masyarakat yang meliputi kelembagaan, akses, informasi teknologi dan keterampilan, (b) meningkatkan efisiensi produksi yang meliputi kemampuan teknologi investasi dan trasportasi, (c) pengendalian dampak lingkungan, (d) peningkatan kemampuan pemerintah daerah. Selanjutnya pembangunan dengan pendekatan pengembangan wilayah yang dilakukan selama ini memiliki intensitas tinggi, hal ini seringkali menyebabkan rusaknya kawasan lindung yang pada akhirnya menyebabkan lingkungan di sekitar terancam rusak.

Kerusakan-kerusakan tersebut antara lain: pencemaran, degradasi fisik, habitat, over-eksploitasi sumberdaya alam serta konflik penggunaan lahan pembangunan. Selain itu, di daerah hinterland relatif kurang berkembang akibat keterbatasan akses yang akhirnya menimbulkan kesenjangan wilayah.

(8)

Oleh karenanya perlu dilakukan suatu rencana pengembangan wilayah yang dilakukan secara holistik, sinergis, koordinatif, efisien dan efektif untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat melalui penataan ruang (Deni, 2000).

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem komputer yang mempunyai kemampuan pemasukan. Pengambilan, analisis data dan tampilan data geografis yang sangat berguna bagi pengambilan keputusan. SIG adalah sistem komputer yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak dan personal (manusia) yang dirancang untuk secara efisien memasukan, menyimpan, memperbaharui, menanipulasi, menganalisa dan menyajikan semua jenis informasi yang berorentasi geografis. (ESRI, 1990).

Perencanaan tata ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah lebih komplek bila dibandingkan dengan perencanaan spasial di daerah daratan. Hal ini dikarenakan (a) perencanaan di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil harus mengikut sertakan semua aspek yang berkaitan baik dengan wilayah darat maupun lautan; (b) aspek daratan dan lautan tersebut tidak dapat dipisahkan secara fisik oleh garis pantai. Kedua aspek tersebut saling beriteraksi secara terus menerus dan bersifat dinamis seiring dengan proses-proses fisik dan biogeokimia yang terjadi; dan (c) bentang alam daerah pesisir berubah secara cepat bila dibandingkan dengan wilayah daratan. Hal ini merupakan hasil interaksi yang dinamis antara daratan dan lautan (Dahuri, 1997).

Aplikasi SIG sudah banyak digunakan untuk pengelolaan penggunaan lahan di bidang pertanian, kehutanan serta pembangunan pemukiman penduduk dan fasilitasnya. Hanya dalam beberapa tahun penggunaan SIG telah tersebar luas pada bidang ilmu lingkungan, perairan dan sosial ekonomi. SIG juga telah digunakan di bidang militer, permodelan perubahan iklim global dan geologi.

Proses Hirarki Analisis (AHP)

Salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan pembangunan adalah AHP (The Analytic Hierarchy Process). Metode

(9)

AHP ini dapat menentukan prioritas dari beberapa kegiatan atau proyek. Namun apabila jumlah kegiatan yang akan ditentukan prioritasnya sangat banyak (lebih dari 10 kegiatan), maka perlu ada modifikasi dalam metode AHP tersebut atau yang disebut MAHP (Modifikasi AHP). Sebenarnya dapat saja digunakan metode AHP secara murni, yaitu dibuat jenjang penilaian, misalnya dari seluruh kegiatan tersebut dikelompokan berdasarkan program, dan kemudian dikelompokkan lagi dalam program atau sub program, sehingga jumlah kegiatan dalam sub-sub program tersebut kurang atau sama dengan 10 kegiatan. Kemudian dibuat prioritas proyek atau kegiatan yang ada dalam sub-sub program tersebut. Namun metode AHP dengan banyak hirarki ini akan semakin rumit, sedangkan kita memerlukan metode yang mudah namun secara akademis dapat dipertanggung jawabkan, sehingga pilihan modifikasi AHP ini merupakan salah satu alternatif yang dipilih. Disamping itu dengan menentukan prioritas kegiatan atau proyek hanya dalam suatu sub-sub program, maka kita tidak dapat membandingkan suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dalam keseluruhan kegiatan yang ada dalam suatu departemen atau pemerintah daerah.

Modifikasi AHP ini terletak pada penilaian dengan menggunakan skor (misalnya 0,1,2, dan 3) untuk masing-masing kegiatan dikaitkan dengan misalnya kedekatannya dengan sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan, jadi bukan dengan membandingkan antar kegiatan mengingat jumlah kegiatan yang akan ditentukan prioritasnya sangat banyak. Metode AHP maupun MAHP ini dapat digunakan disamping untuk menentukan prioritas kegiatan juga dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu kegiatan/proyek dari beberapa bahkan ribuan proyek.

AHP adalah salah satu alat analisis dalam pengambilan keputusan yang baik dan fleksibel dengan menetapkan prioritas dan membuat keputusan yang paling baik ketika aspek kualitatif dan kuantitatif dibutuhkan untuk dipertimbangkan.

AHP pada dasarnya didesain untuk menangkap persepsi orang yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan tertentu melalui prosedur yang didisain untuk sampai kepada suatu skala preferensi di antara berbagai set alternatif. Dengan demikian dapat dianggap sebagai model multy objective multy

(10)

berstruktur perlu terlebih dahulu dipecah ke dalam berbagai komponennya. Setelah menyusun komponen-komponen ini ke dalam sebuah urutan hirarki, maka diberikan nilai dalam bentuk angka kepada setiap bagian yang menunjukkan penilaian terhadap relatif pentingnya setiap bagian itu. Untuk sampai kepada hasil akhir, penilaian tersebut disintesiskan (melalui penggunaan eigen vector) guna menentukan variabel mana yang mempunyai prioritas tertinggi.

Asumsi-asumsi yang digunakan oleh AHP adalah sebagai berikut: Pertama, harus terdapat sedikit (jumlah yang terbatas) kemungkinan tindakan, yakni: 1, 2, 3,…,n yang adalah tindakan positif, (n) adalah bilangan yang terbatas. Responden diharapkan akan memberikan nilai dalam angka terbatas untuk memberi tingkat urutan (skala) pentingnya atribut-atribut. Skala yang dipergunakan dapat apa saja, tergantung dari pandangan responden dan situasi yang relevan, walaupun demikian mengikuti pendekatan AHP dipergunakan metode skala angka Saaty mulai dari 1 yang menggambarkan antara satu atribut terhadap atribut lainnya sama penting dan untuk atribut yang sama selalu bernilai satu, sampai dengan 9 (sembilan) yang menggambar satu atribut ekstrim penting terhadap atribut lainnya. Pada Tabel 1 disajikan skala angka Saaty beserta definisi dan penjelasannya.

Tabel 1 Skala angka Saaty Intensitas/

Pentingnya Definisi Keterangan

1 Sama penting Dua aktivitas memberikan kontribusi yang sama

kepada tujuan 3 Perbedaan penting yang lemah antara

yang satu terhadap yang lain

Pengalaman dan selera sedikit menyebabkan yang satu lebih disukai dari pada yang lain

5 Sifat lebih pentingnya kuat

Pengalaman dan selera sangat menyebabkan penilaian yang satu lebih dari yang lain, yang satu lebih disukai dari yang lain.

7 Menunjukkan sifat sangat penting

Aktivitas yang satu sangat disukai dibandingkan dengan yang lain, dominasinya tampak dalam kenyataan

9 Ekstrim penting

Bukti bahwa antara yang satu lebih disukai daripada yang lain menunjukkan kepastian tingkat tertinggi yang dapat dicapai.

2, 4, 6, 8

Gambar

Gambar 1 Batas wilayah pesisir

Referensi

Dokumen terkait

... Pendapat tentang perlunya mempertimbangkan masalah konservasi dalam perencanaan pembangunan pesisir.. Pendapat tentang perlunya penataan ruang wilayah dalam

Reklamasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan kegiatan mengusahakan kembali wilayah pesisir agar lahan tersebut yang tidak berguna atau kurang

Oleh karena itu, dalam pengelolaan wilayah pesisir, daya dukung ekologis perlu juga diperhatikan dalam mempertimbangkan pemilihan teknologi budidaya tambak yang akan diterapkan

Dampak yang ditimbulkan erosi marin di wilayah pesisir Kelurahan Kastela secara fisik yang berupa rusaknya fasilitas rekreasi, berubahnya daratan menjadi

Pengelolaan Wilayah Pesisir adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian sumberdaya pesisir secara berkelanjutan yang mengintegrasikan

Hal inilah yang belum banyak (kalau tidak dapat dikatakan belum ada) dilakukan di Indonesia, di mana perencanaan tata ruang dan pembangunan wilayah masih bersifat parsial.

Untuk itulah maka Pengelolaan wilayah pesisir Kota Ambon sebagai Kota Pantai (Water Front City) yang merupakan isu sentral dalam pedoman Perencanaan Tata Ruang Wilayah

Untuk itulah maka Pengelolaan wilayah pesisir Kota Ambon sebagai Kota Pantai Water Front City yang merupakan isu sentral dalam pedoman Perencanaan Tata Ruang Wilayah Propinsi Maluku dan